Sesungguh-sungguhnya (7), 1 Februari 2026

Yoh. 8:51

Pdt. Dawis Waiman, M. Div

Di dalam kotbah kita terakhir berkaitan dengan ayat ini, kita sudah melihat bahwa ketika manusia jatuh di dalam dosa, manusia akan mengalami yang namanya kematian. Lalu, kematian seperti apa yang manusia alami dalam hidup ini? Alkitab mengajarkan ada tiga kematian yang manusia akan alami. Pertama adalah kematian secara fisik. Pada waktu kita jatuh dalam dosa, maka tidak ada satu pun dari manusia yang tidak mengalami kematian di dalam hidupnya. Memang Alkitab mencatat ada dua orang di dalam Perjanjian Lama yang sepertinya tidak mati seperti Henokh atau pun Elia yang diangkat Tuhan ke surga. Tapi itu adalah sesuatu pembahasan yang lain yang merupakan pengecualian, ya. Tetapi, yang saya mau katakan di sini adalah pada waktu manusia jatuh di dalam dosa, Alkitab menyatakan semua manusia mulai dari Adam sampai kepada kita zaman ini, bahkan bisa dikatakan sampai ketika Yesus datang kedua kali atau sebelum Yesus datang kedua kali, itu pasti akan mengalami kematian. Dan kematian ini adalah kematian fisik di mana jiwa kita itu akan terpisah dari pada tubuh jasmani kita dan tubuh kita akan membusuk di dalam kuburan atau mungkin dikremasi dan yang lainnya. Tetapi, jiwa kita jangan pikir itu adalah jiwa yang akan musnah atau hilang seperti halnya tubuh kita yang binasa. Tetapi, jiwa kita akan tetap ada dan akan memiliki kesadaran selama kita masih terpisah dari pada tubuh jasmani ini. Itu aspek pertama, ya.

Pada waktu manusia jatuh di dalam dosa, apa bukti kita sudah jatuh di dalam dosa atau kita ada di dalam dosa? Berdasarkan Rm. 6:23, Paulus berkata “upah dosa ialah maut, tapi kasih karunia Allah, yaitu hidup yang kekal di dalam Kristus Yesus Tuhan kita.” Berarti pada waktu kita berjumpa dengan kematian fisik, kita bisa tahu satu hal, ini bukan natural. Ini walaupun dialami oleh semua manusia di dalam dunia ini, tetapi kematian fisik bukan sesuatu yang alami yang harus dialami oleh semua makhluk yang terlahir di dalam dunia ini. Itu adalah upah akibat dosa yang kita lakukan dan diwakilkan oleh Adam atau manusia pertama di Taman Eden waktu yang lalu. Kita percaya ini bukan sebagai sesuatu mitologi. Kita percaya peristiwa ini bukan sebagai satu peristiwa untuk menjelaskan kenapa ada masalah dosa di dalam dunia ini sehingga orang mulai mengarang cerita di Taman Eden seperti itu. Tapi, kita percaya apa yang terjadi di Taman Eden itu adalah satu realita historis atau sejarah di dalam kehidupan manusia dan semua manusia bersumber dari satu pasang orang ini yaitu Adam dan Hawa yang telah jatuh di dalam dosa.

Karena saya cukup prihatin ketika melihat kabar belakangan ini, khususnya kemarin di dalam grup hamba Tuhan dan penatua juga ada satu informasi ada seorang apologetik terkenal di Amerika yang dirinya sangat didengar, yang sangat membela keberadaan Allah seperti itu, bahkan mempertanyakan manusia itu sebenarnya nggak semuanya berasal dari Adam dan Hawa, mungkin hasil dari evolusi seperti itu. Tapi, kita percaya bahwa manusia pertama itu adalah manusia yang dicipta Allah sesuai dengan gambar Allah. Lalu kemudian mengambil keputusan untuk melawan Allah dengan makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Akhirnya, jatuh dalam dosa dan kemudian melahirkan keturunan-keturunan yaitu manusia-manusia berdosa sampai kepada kita zaman ini. Dan buktinya apa kita berdosa? Tidak ada satu pun dari manusia yang hidup, semuanya mati. Walaupun Hukum Taurat yang menjadi dasar untuk menuntut hidup kita, untuk mengadili kita, untuk menyatakan kita adalah orang yang berdosa di dalam dunia ini baru kemudian hari diberikan oleh Allah, yaitu ketika Israel keluar dari Mesir, perbudakan itu, lalu di Gunung Sinai, di situ Hukum Taurat diberikan. tetapi, di dalam Roma 5 dikatakan, sebelum Hukum Taurat diberikan untuk menyatakan manusia berdosa, manusia membutuhkan Juruselamat, tetapi sejak dari Adam sudah ada kematian demi kematian yang terjadi di dalam dunia ini. Itu menunjukkan kalau kita adalah orang yang ada di bawah kuasa dosa, ada di bawah hukuman dari Tuhan Allah. Dan Hukum Taurat itu mau menyatakan bahwa ketika manusia berdosa, manusia harus dinyatakan berdosa karena ada pertimbangan hukum yang menjadi dasar untuk menjadi penentu status kita benar atau berdosa di hadapan Tuhan Allah. Jadi, bukan sembarangan Tuhan menjatuhkan hukuman ini.

Lalu, yang kedua adalah bukan hanya manusia mengalami kematian jasmani saja pada waktu kita jatuh dalam dosa, tetapi manusia juga mengalami yang namanya kematian rohani. Kematian rohani ini dinyatakan di dalam Ef. 2:1, “kamu dahulu sudah mati oleh pelanggaran-pelanggaran dosamu.” Ini mau menunjukkan bahwa pada waktu Paulus menulis surat kepada Efesus, jemaat di Efesus itu adalah jemaat yang masih hidup, jemaat yang sekarang beribadah kepada Tuhan dalam iman kepada Kristus. Tetapi, Paulus berkata, “ingat, kamu dahulu adalah pendosa. Kamu adalah pelanggar-pelanggar Hukum Tuhan dan kamu adalah orang yang sudah mati.” Maksud mati di sini apa? Alkitab mencatat kematian di sini bukan berbicara mengenai kematian fisik, tetapi kematian di sini berbicara mengenai kematian rohani, yaitu terputusnya relasi antara manusia dengan Allah dan manusia tidak merasa mereka membutuhkan Allah di dalam kehidupan ini dan manusia berusaha menentukan standar hidup benar dan jahat, baik dan tidak baik berdasarkan otoritas diri dan pemikiran sendiri atau standar diri dan bukan dari standar Tuhan Allah.

Bapak, Ibu, bisa melihat aspek ini dari kehidupan manusia sendiri. Adam dan Hawa ketika jatuh dalam dosa, mereka bersembunyi dari hadapan Yesus Kristus pada waktu Dia datang di taman itu. Saya menafsirkan langkah kaki Tuhan di situ bukan berbicara mengenai Pribadi Pertama atau Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal, tetapi itu adalah Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal yang menyatakan diri sebagai Teofani pada waktu itu untuk berbicara kepada Adam dan Hawa. Nah, pertanyaan yang menyatakan, “Di manakah engkau Adam?” itu bukan berbicara mengenai Allah tidak tahu lalu Allah mencari tahu di mana Adam dan Hawa bersembunyi. Karena jawaban Adam tidak menunjukkan kalau pertanyaan itu bertujuan untuk menentukan lokasi dari pada Adam dan Hawa. Jawaban Adam dan Hawa itu menunjukkan kalau Allah sedang bertanya, “Adam, kamu kenapa tidak bertemu dengan-Ku? Adam, kenapa kamu bersembunyi?” Lalu Adam berkata, “Kami takut karena kami tahu kami adalah orang yang telanjang seperti itu. “Dan kami bersembunyi dari hadapan Tuhan.” Dari situ ada satu pemahaman, sebelumnya mereka tidak pernah bersembunyi dari hadapan Tuhan. Tetapi setelah kejatuhan dalam dosa, mereka bersembunyi dari hadapan Yesus Kristus. Sebabnya karena apa? Karena relasi itu sudah rusak akibat dari dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa.

Lalu kalau kita bicara sekarang, adakah bukti kalau kita juga adalah orang-orang yang telah rusak secara rohani atau relasi dengan Tuhan Allah sendiri? Jawabannya Bapak, Ibu, bisa lihat dari prioritas hidup kita. Pada waktu kita menjalani hidup, mohon tanya kepentingan siapa yang pertama kali kita jalankan dan utamakan dalam hidup kita? Lalu yang kedua adalah kemuliaan siapa yang kita cari di dalam kehidupan kita setiap kali kita mengambil satu keputusan di dalam hidup ini? Umumnya manusia tidak akan memikirkan kepentingan dari Tuhan, manusia akan memikirkan kerajaan dia sendiri, kepentingan dia sendiri dalam kehidupannya dan dia yang menjadi penentu sendiri apa yang benar, apa yang tidak benar termasuk mempertanyakan apa yang Kitab Suci katakan kepada diri kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini semua mau menunjukkan kalau kita adalah orang yang secara relasi sudah rusak dari Tuhan Allah. Alkitab sebenarnya tidak hanya bicara seperti ini saja. Tetapi Alkitab juga mau menyatakan bahwa ketika manusia jatuh dalam dosa, karena manusia tidak bisa tidak menyembah yang namanya Allah dalam hidupnya, maka manusia mengganti Allah yang sejati dengan ilah-ilah di dalam dunia ini. Siapa yang dikatakan ilah? Yaitu diri manusia sendiri, atau  ciptaan-ciptaan yang Allah cipta di dalam dunia ini. Lalu mengatakan mereka adalah allah. Siapa ciptaan itu? Mungkin bisa uang, mungkin bisa anak, mungkin bisa pasangan kita di dalam keluarga, mungkin bisa pekerjaan, mungkin bisa hobi kita, dan mungkin segala hal lain yang kita bisa temukan yang kita pikir bisa memberi kebahagiaan, bisa memberi keamanan dalam hidup kita, bisa memberi kenyamanan dalam hidup ini tanpa perlu datang kepada Tuhan Allah. Itu adalah berhala di dalam hidup kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan ternyata Alkitab tidak berhenti di sini. Pada waktu berbicara mengenai kerusakan yang ada di dalam relasi antara kita dengan Tuhan Allah, Paulus juga mengatakan, coba lihat, pikiran kita dipenuhi dengan kekudusan, kebenaran, kebaikan, atau keegoisan, kepentingan diri sendiri, kejahatan, kerugian bagi orang lain, segala dosa yang ada di dalam pikiran kita atau tidak? Semua ini mau menunjukkan pada waktu kita berjalan, kita sebenarnya tidak menginginkan yang kudus, yang benar dari Tuhan, tetapi kita lebih rela hati kita dikuasai, dan dipenuhi dengan sifat-sifat atau nafsu yang jahat, nafsu yang hanya mementingkan diri sendiri, dan bukan kepentingan Tuhan dan orang lain. Termasuk kecelakaan dari orang lain, itu juga menjadi pemikiran kita seringkali terutama pada waktu kita merasa saya mengalami ketidakadilan di dalam hidup ini.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, semua itu muncul dari apa? Alkitab berkata dari relasi kita dengan Tuhan yang rusak, dari hati yang tidak takut akan Tuhan, itu membuat kita ada di dalam kondisi seperti itu. Dan kita tidak bisa berkata, itu kan urusan Adam, Adam yang jatuh, kenapa kami yang harus menanggung hukuman itu? Kerusakan relasi itu? Buktikan saja Bapak, Ibu. Bapak, Ibu bisa lebih baik tidak dari Adam ketika menghadapi ujian atau kesempatan untuk melakukan dosa? Ada seorang yang berkata seperti ini, “semua manusia itu pasti melakukan dosa di dalam hidupnya.” Dan dasarnya apa? Pasti kalau dia terpenuhi di dalam tiga hal ini, pertama adalah ada keinginan untuk melakukan dosa itu, yang kedua adalah ada kesempatan untuk melakukan dosa itu, yang ketiga adalah ada pencobaan yang datang. Kalau tiga hal ini ada kita pasti jatuh di dalam dosa. Tapi kalau salah satu itu tidak ada, mungkin kita masih bisa bertahan.

Dan ini memang di katakan di Galatia 5, ketika kita bicara mengenai dosa, mengenai kejahatan, hal itu bukan sesuatu yang kita bisa katakan semua manusia akan melakukan kejahatan yang sama, semua, semua kejahatan dengan tingkat kejahatan yang sama semua seperti itu. Tidak. Ada orang yang berzinah, ada orang pendendam, ada orang yang mungkin menipu orang lain, ada orang yang melakukan kejahatan yang lain dalam hidup mereka. Masing-masing mungkin berbeda, tetapi yang pasti adalah, ketika tiga hal ini ada di dalam kehidupan kita, mungkin kita bisa berkata, saya bukan pembohong, atau saya bukan pencuri, tetapi Bapak  Ibu, Saudara sekalian, karena mungkin salah satunya tidak terpenuhi, tetapi ketika tiga hal ini terpenuhi dalam hidupmu, misalnya seorang penjudi, ada kesempatan untuk berjudi, ada kemampuan untuk berjudi, ada godaan untuk berjudi, pasti berjudi atau tidak? Saya yakin dia pasti berjudi. Nah ini mau menunjukkan sebenarnya tidak ada satu orang pun dalam dunia ini yang terbebas daripada yang namanya dosa dalam hidup ini. Kalau dia tidak melakukan bukan berarti baik, bukan berarti dia benar, bukan berarti dia suci di hadapan Allah. Mungkin Tuhan masih beranugerah dalam hidup dia, untuk dia memiliki kekuatan untuk menghadapi satu hal yang dia pikir itu tidak berdosa atau melanggar tradisi dari masyarakat atau hukum dalam dunia ini, tetapi sebenarnya, dia pasti akan jatuh di dalam kondisi kelemahan dan dosa yang dia miliki.

Saya bicara ini mau mengatakan bahwa pada waktu kita berdosa, jangan hanya lihat dosa itu dari aspek perbuatan saja. Oh, saya lakukan, saya berdosa, saya tidak lakukan, saya tidak berdosa, seperti itu. Tetapi pada waktu kita melihat pada perbuatan dosa, lihatlah dari sisi standar Tuhan, lihatlah dari sisi kacamata dari Tuhan sendiri. Ketika Tuhan menuntut manusia untuk menjadi sempurna, sama seperti Allah adalah sempurna, maka di situ kita harus melihat perbuatan kita, kebaikan kita, motivasi kita, tujuan kita melakukan satu kebaikan dalam hidup kita, betul-betul harus sempurna. Yaitu untuk siapa? Kemuliaan Allah, bukan untuk kepentingan diri, kasih kepada orang lain, bukan keegoisan diri. Dengan motivasi yang benar, dengan tujuan yang benar, dengan standar yang Tuhan tetapkan di situ baru Tuhan berkata, ini adalah orang yang benar.

Nah, di dalam dunia ini satu-satunya orang yang benar hanya Yesus Kristus. Mungkin saya sebutkan di awal dulu. Apa yang menjadi dasar kita berkata Dia adalah satu-satunya yang benar, baru kita masuk ke dalam poin berikutnya ya. Apa yang membuat kita bisa berkata Yesus adalah satu-satunya orang benar, bukan hanya di hadapan manusia tetapi juga di hadapan Allah? Alkitab memberikan bukti yang jelas sekali bagi diri kita, pertama adalah, satu-satunya orang di mana Allah sendiri intervensi untuk menyatakan kalau Dia mengasihi manusia, dan bukan dari mulut manusia, tetapi dari mulut Allah sendiri yaitu Yesus Kristus. Di dalam dunia ini, adakah orang yang ketika berjalan dalam hidup tiba-tiba langit terbuka lalu suara dari sorga berkata “inilah AnakKu yang Ku kasihi.” Saya yakin nggak ada, tetapi Yesus Kristus, pada waktu dia dibaptis, keluar dari baptisan itu, kenapa Dia dikonfirmasi “inilah anakKu yang Ku kasihi, dengarkanlah Dia, atau kepadaNyalah Aku berkenan.”? Kemungkinan salah satu adalah karena baptisan Yohanes Pembaptis itu adalah baptisan yang menyatakan pertobatan dari dosa. Baptisan Yohanes Pembaptis itu adalah baptisan yang mengatakan saya menyesali kehidupan saya berdosa, saya ingin kembali kepada Tuhan karena itu, saya menyatakan diri saya dibasuh atau pertobatan saya dengan cara dibasuh di dalam air itu, sehingga ketika saya telah dibasuh, saya menyaksikan saya adalah orang yang sudah disucikan, dimurnikan oleh Tuhan di dalam kehidupan saya, tapi sebelumnya dia adalah orang yang berdosa. Tetapi sebenarnya baptisan hanya simbolisme dari pemurnian juga. Dan manusia tetap setelah dibaptis pun hidup di dalam dosa.

Tetapi pertanyaannya adalah seperti ini, pada waktu semua orang berdosa, dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, kenapa Yesus turut ngantri di situ untuk dibaptis? Apakah itu mau menyatakan Dia juga tergerak oleh khotbah Yohanes Pembaptis? Yang menyatakan manusia berdosa dan harus bertobat karena kerajaan Allah sudah dekat, seperti itu? Di dalam Injil Yohanes kita mendapatkan jawaban tujuan Yesus dibaptis bukan karena Dia berdosa, tetapi tujuan Yesus dibaptis adalah untuk menggenapi kehendak Bapa. Dan kehendak Bapa itu apa? Ya, mungkin kita bisa berkata untuk membuat Yesus itu disamakan seperti orang-orang yang berdosa tetapi sebenarnya Dia tidak berdosa. Istilahnya adalah diperhitungkan sebagai orang berdosa. Yang kedua adalah untuk memberitahu kepada Yohanes Pembaptis sebagai satu konfirmasi bahwa berita yang dia katakan tentang Yesus Kristus adalah Mesias, Anak Domba Allah, Penghapus dosa dunia, itu adalah sesuatu yang benar. Karena Yohanes memberi kesaksian di dalam Injil Yohanes, pada waktu Dia keluar dari air, “Saya melihat langit terbuka. Roh seperti burung merpati turun dan hinggap kepada diri Yesus Kristus. Dan pada waktu itulah aku tahu bahwa Dia adalah Anak Domba Allah penghapus dosa dunia.”

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Yesus Kristus dibaptis, tujuannya bukan untuk menyatakan Dia bertobat dari dosa-Nya. Ada konfirmasi bahwa Dia adalah Mesias. Tetapi saya juga melihat ketika Dia keluar dari air itu, ketika Dia berlutut dan berdoa di hadapan Allah, konfirmasi dari surga itu menjadi sesuatu yang penting. “Dia Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Yang menyatakan apa? Di antara semua orang yang bertobat, tidak ada satu pun yang seperti Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang berdosa, tetapi yang berkenan di hadapan-Ku hanya satu, yaitu Yesus Kristus. Saya percaya ini mau menyatakan bahwa Yesus bukan orang yang berdosa. Dia adalah seorang yang benar di hadapan Allah dan karena Allah menyatakan Allah mengasihi Dia.

Tapi kalau Bapak Ibu berkata, “Tapi semua manusia juga dikasihi oleh Allah, kan?” Bukankah Yoh. 3:16 berkata bahwa Allah mengasihi seluruh dunia ini atau semua manusia ini? Betul sih Allah mengasihi kita, tetapi Allah mengasihi kita bukan karena kita berhak menerima kasih Allah itu. Allah mengasihi Yesus karena Dia berhak untuk menerima kasih itu karena Dia bukan orang berdosa yang mendapatkan belas kasih dari Tuhan Allah, tetapi Dia adalah seorang yang benar yang memang harus dibenarkan oleh Tuhan Allah berdasarkan apa? Penundukan Diri-Nya kepada Taurat Tuhan. Ini adalah hal yang penting sekali. Kadang-kadang kita menyamakan Yesus seperti orang lain, dan kadang-kadang kita menyamakan apa yang dikerjakan oleh Yesus dan yang bisa dicapai oleh Yesus bisa kita capai juga dalam kehidupan kita. Kadang-kadang kita berpikir seperti orang muda yang kaya itu pada waktu dia datang kepada Yesus dan bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk bisa memperoleh hidup yang kekal?” Seolah-olah dia pikir Yesus adalah guru yang paling penting, yang paling berharga, yang bisa menuntun dia mencapai standar yang Yesus miliki dalam hidup-Nya sebagai orang yang baik itu. Tapi Yesus berkata, “Nggak. Itu bukan sesuatu yang bisa engkau capai. Kau harus tahu yang betul-betul baik itu adalah Tuhan sendiri.”

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hal pertama adalah kenapa kita berkata Yesus tidak berdosa? Karena Dia adalah seorang yang dikasihi oleh Allah dan dinyatakan oleh Allah sendiri bahwa Dia adalah Anak Allah yang dikasihi oleh Allah. Tapi yang kedua adalah Dia adalah seorang yang membuktikan kalau Dia tidak berdosa dengan cara apa? Dengan ditundukkan kepada Taurat. Dan pada waktu Dia ditundukkan kepada Taurat, kita tahu tidak ada satu dosa pun yang Dia lakukan di dalam hidup Dia. Nah, tahu dari mana hal ini? Pertama adalah dari pada waktu orang menentang diri-Nya, Dia berani berkata seperti ini, “Kalau Saya berdosa, tunjukkan di mana dosa Saya.” Yohanes 8. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, adakah di antara kita yang berani mengatakan hal ini kepada satu orang? Saya yakin kita nggak berani. Karena orang itu akan dengan senang hati memberitahu apa yang menjadi kesalahan dan dosa kita. Tapi Yesus berani ngomong ini. Dan ketika Yesus berbicara demikian, Dia bukan berbicara kepada murid-murid-Nya, tetapi Dia berbicara kepada orang-orang yang ingin menjebak Dia, ingin menjatuhkan Dia, dan ingin mencari segala kesalahan yang Dia lakukan dalam hidup Dia. Tetapi mereka nggak bisa menemukan.

Jadi pada waktu kita berbicara apa dasar Yesus berkata bahwa Dia adalah orang yang benar? kalau pengakuan itu dari diri-Nya sendiri, saya yakin kita nggak akan bisa terima karena itu adalah pengakuan sepihak dari Yesus Kristus. Tetapi Alkitab memberikan kepada kita dua saksi yang menyatakan kalau Dia adalah orang yang benar selain dari Allah Bapa sendiri, yaitu siapa? Musuh-musuh-Nya. Pada waktu Yesus masuk ke Yerusalem untuk dikorbankan, di atas kayu salib. Saat itulah ujian tiba pada diri Yesus Kristus. Saat itulah Dia diuji atau dicobai untuk melihat apakah ada celah, ada dosa yang Dia lakukan yang membuat Dia layak untuk dihukum dan mati karena melawan Tuhan Allah, baik dari sisi hukum Taurat, baik dari sisi kehidupan-Nya, baik dari sisi politik yang ada pada waktu itu. Tapi mereka sama sekali tidak bisa menemukan satu dosa pun atau satu kesalahan pun yang dilakukan oleh Yesus Kristus.

Tapi bukan cuma musuh saja. Menariknya, Alkitab juga menyatakan murid-murid Yesus sendiri mengakui bahwa Dia tidak berdosa sama sekali. Kalau misalnya Bapak Ibu lihat di dalam surat Petrus, ada dikatakan bahwa di dalam mulut-Nya tidak ada dusta sama sekali, yang mau menyatakan bahwa Dia adalah sepenuhnya orang yang benar. Dan Paulus mengakui itu. Yakobus mengakui hal ini. Rasul-rasul ini adalah orang-orang yang seperti apa? Alkitab katakan mereka hidupnya bukan seperti musuh dari Yesus Kristus, bukan seperti orang Farisi, bukan seperti ahli Taurat yang hanya berjumpa kala Yesus melayani, Yesus mengajar, dan mengonfrontasi Yesus pada waktu itu. Tetapi mereka adalah orang-orang yang mengikuti Yesus, tinggal bersama Yesus, hidup bersama dengan Yesus, melayani bersama Yesus, makan bersama Yesus, dan beristirahat bersama Yesus Kristus.

Saya sangat bersyukur sekali karena di dalam Injil Yohanes ada kalimat seperti ini. Pada waktu Yohanes Pembaptis melihat Yesus Kristus lewat di depannya, Yohanes berkata, “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Lalu dua murid ini pergi mengikuti Yesus. Lalu ketika Yesus tahu ada dua murid yang datang mengikuti Dia, ingat nggak siapa namanya? Satu adalah Andreas, satunya adalah Yohanes. Mereka datang mengikuti Yesus. Ketika Yesus berbalik melihat mereka hal pertama yang mereka katakan waktu Yesus bertanya, “Mau apa?” mereka menjawab, “Kami pengin tahu Engkau tinggal di mana, Yesus.” Lalu mereka mengikuti Yesus dan tiba di situ. Dan di situlah mereka mengetahui Dia adalah Mesias.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa kalimat ini penting? Karena kalimat ini mau menunjukkan bahwa pengenalan dan pengakuan murid itu bukan dari sesuatu yang tidak mereka kenali, tetapi pengakuan yang mereka katakan mengenai Kristus yang tidak berdosa itu adalah sesuatu yang merupakan kesaksian mata dan pengalaman relasi pribadi antara murid-murid dengan Yesus Kristus. Mohon tanya dalam hal ini, ada nggak yang berani ngomong ini kepada orang yang dia kenal, yang betul-betul mengetahui siapa diri dia, dan berkata, “Aku tidak salah. Aku tidak berdosa. Kalau aku berdosa, tolong tunjukkan aku dosanya di mana.” Bapak, Ibu, bahkan dengan teman saja kita nggak berani. Tapi saya mau ngomong begini, suami-suami silahkan tanya istrinya, “Saya ada dosa nggak, Ma?” Saya yakin mamanya, istrinya pasti dengan senang hati ngomong kali itu. Asal jangan ribut saja ya. Tolong tanya anak-anak. tanya orang tuanya, “Ma, saya ada dosa, tidak?” Mungkin kita bisa tampilkan diri di hadapan orang: kita orang yang baik. Tapi begitu di hadapan pasangan kita, nggak ada yang berani ngomong, “Saya orang yang 100% benar dan baik.” Tapi murid Yesus Kristus beda. Pada waktu mereka hidup bersama dengan Kristus, mereka melihat hidup Yesus, mereka melihat pengajaran Yesus, mereka melihat apa yang Yesus lakukan. Mereka menemukan ada kekonsistenan antara perkataan Yesus dengan hidup Yesus dan dengan apa yang ada di dalam hati Yesus Kristus. Itu yang membuat mereka berkata, “Ini adalah Orang yang tidak berdosa sama sekali.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini yang membuat tadi saya berkata: pada waktu kita bicara mengenai kasih yang Allah berikan bagi diri kita. Kasih itu bukan sesuatu yang kita dapatkan seperti yang Yesus dapatkan. Nggak ada seorang pun yang memiliki hak untuk berkata, “Bapa, Engkau layak untuk mengasihi diriku karena aku adalah orang yang sempurna, benar di hadapan Engkau.” Tapi Yesus adalah Orang yang betul-betul benar di hadapan Allah karena Dia memang betul-betul benar. Dia bukan mendapatkan kebenaran melalui belas kasih, bukan melalui anugerah, tapi Dia mendapatkan kebenaran itu karena Dia adalah betul-betul Orang yang benar dan mampu melakukan kebenaran itu dalam hidup-Nya. Maka Allah mengasihi diri Dia. Allah mengkonfirmasi kalau Dia adalah: “Anak-Ku yang Kukasihi.”

Jadi, hal kedua adalah ketika manusia jatuh dalam dosa, kita bisa yakin bahwa manusia itu adalah orang berdosa dari hal apa? Ada relasi yang terputus dari Allah. Ada keinginan, kecondongan hati, motivasi, pemikiran, perilaku yang didorong oleh hati yang berdosa yang dinyatakan dalam perbuatan. Karena perbuatan kita, keinginan kita menyatakan kita tidak menyetujui atau tidak membenarkan apa yang Tuhan katakan. Mungkin secara pengakuan kita bisa ngomong, “Apa yang Tuhan katakan baik.” Tapi apa yang kita lakukan menyatakan hal yang bertentangan dengan hal itu.

Lalu yang ketiga adalah pada waktu manusia jatuh dalam dosa, Alkitab juga mengatakan manusia akan mengalami kematian. Tetapi kematian ini berbeda dari kematian pertama di mana jiwa terpisah dari tubuh. Kematian ini juga berbeda dari kematian kedua di mana jiwa terputus relasi dengan Allah. Tapi kematian ini berbicara mengenai kematian kekal yang akan dialami oleh manusia di mana manusia akan dilempar ke dalam neraka sampai selama-lamanya sebagai suatu hukuman bagi manusia yang berdosa.

Saya nggak akan perpanjang bagian ini, tapi saya akan masuk ke dalam poin yang kedua. Pada waktu manusia ada di dalam dosa ini, Alkitab tadi katakan dalam Roma 6:23, “Sebab upah dosa ialah maut.” Lalu Roma 3:23 juga berkata, “Sebab manusia telah kehilangan kemuliaan Allah ketika manusia jatuh dalam dosa.” Ini mau menunjukkan bahwa ketika kita berbuat sesuatu, maka ada konsekuensi daripada perbuatan itu. Ketika kita melakukan dosa dalam hidup kita, maka ada bayaran upah yang harus kita tanggung dalam hidup kita karena dosa yang kita lakukan itu. Dan upahnya apa? Seperti halnya orang yang bekerja, ada perjanjian dengan kantornya, “Kalau saya bekerja, saya mendapat gaji berapa?” Kalau dia bekerja memenuhi tuntutan dan keinginan dari kantor atau bosnya, maka dia berhak untuk menerima gaji bulan itu. Kalau bosnya tidak memberi gaji, berarti bosnya yang salah. Kalau bosnya memotong gajinya, berarti bosnya adalah orang yang mungkin tidak mempertimbangkan perjuangan dan susah payah yang dilakukan oleh anak buahnya, seperti itu. Kalau bosnya memberi, itu adalah anugerah tentunya. Tetapi upah berbicara mengenai: kalau kita bekerja kita berhak mendapatkan upah itu, gaji itu dalam hidup kita.

Nah, begitu juga dengan manusia. Pada waktu kita jatuh di dalam dosa, jangan pikir kita bisa terlepas daripada upah dari dosa itu. Dan upah itu apa? Alkitab berkata: maut, kematian. Kita ketika menerima kematian, itu adalah satu hukuman atau satu upah yang sewajarnya kita terima dalam hidup ini. Karena itu hanya membuktikan kalau kita memang layak untuk mati karena kita adalah orang yang berdosa dalam diri kita. Ini adalah hal yang membuat kita harusnya punya satu rasa gentar, satu rasa takut ketika melihat kepada kematian. Martin Lloyd Jones itu mengatakan seperti ini, “Kalau andai kata saya tidak bisa membujuk engkau, mengiming-iming engkau untuk percaya kepada Yesus Kristus, maka yang saya akan lakukan adalah membuat engkau takut akan hukuman Tuhan supaya saya bisa memenangkan engkau bagi Kristus!”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Saya lihat ini adalah satu kalimat yang menarik, ya, yang mungkin ada bijaksananya juga. Kenapa begitu? Karena pada waktu kita mengabarkan Injil, sering kali kita berpikir bahwa itu adalah dosa! “Saya ngasih tahu Yesus itu adalah satu-satunya Juruselamat manusia. Saya ngerasa itu tidak menghargai iman orang lain. Itu bukan bagian dari toleransi beragama.” Seperti itu. Makanya saya merasa, “Saya nggak perlu share mengenai siapa Yesus. Kalaupun saya share, saya ngerasa malu untuk men-share-kan kebenaran di dalam Kristus itu.” Tapi Martin Lloyd Jones berkata seperti ini, “Kalau dia tidak bisa aku bujuk, aku akan bikin dia merasakan ketakutan yang besar akan neraka supaya dia bertobat dari dosanya!”

Saya lihat ini mau menunjukkan begini: pada waktu kita memberitakan tentang Kristus –seperti perkataan Yesus sendiri di sini, ya– “Barang siapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kita sebagai orang Kristen harus melihat ini adalah satu perkataan yang benar. Dan ini adalah sesuatu yang menjadi satu-satunya solusi bagi manusia berdosa. Lalu apa yang harus kita lakukan kalau kita mengerti ini adalah solusi satu-satunya? Bagaimanapun juga kita akan berusaha untuk membuat orang itu mengenal Kristus dan percaya kepada Kristus! Itu bukan dosa! Itu bukan sesuatu yang perlu dimalukan! Tetapi itu adalah satu kebenaran yang kalau orang itu menolak, dia bukan menolak diri kita, tapi dia menolak Tuhan dan dia mencelakakan hidup dia sendiri!

Saya ulangi ya, Bapak, Ibu: kalau kita injili orang, jangan pikir kita mengajak orang meninggalkan dan murtad dari agama mereka, masuk ke dalam agama kita untuk kepentingan diri kita. Kabar Injil bukan untuk itu. Kabar Injil diberitakan supaya orang itu bisa memuliakan Tuhan di dalam hidupnya. Dan yang kedua adalah supaya orang itu sendiri terlepas daripada hukuman kekal karena dosa yang dia lakukan.

Jadi, untuk kebaikan siapa? Kebaikan Allah. Untuk kebaikan siapa, selain Allah? Diri orang itu. Ada nggak untung rugi untuk diri kita? Mungkin yang ada adalah kerugian, bukan keuntungan. Karena apa? Karena pada waktu kita mengabarkan Injil, biasanya kita akan dicaci maki, ditolak, dicerca, atau bahkan mengalami penganiayaan akibat dari ketidakompromian kita terhadap kebenaran ini. Tetapi, pada waktu kita menerima itu semua –tetap sekali lagi– untungnya bagi orang yang kita kabarkan Injil.

Jadi, saya kira kalau kita sungguh-sungguh mengerti hal ini, kita akan melihat, “Saya ketika mengabarkan Injil, itu betul-betul adalah satu motif yang dasarnya kasih kepada mereka. Saya betul-betul ingin melihat mereka diselamatkan. Saya betul-betul ingin melihat mereka tidak binasa akibat dosa yang mereka lakukan dalam hidup mereka.” Tapi pertanyaannya adalah: bagaimana, kenapa ketika kita berbicara mengenai Injil, Yesus Kristus, itu bisa menjadi solusi bagi dosa? Kenapa ketika kita berbicara mengenai kehidupan manusia yang berdosa, kita tidak berkata, “Silakan berjuang dengan sekuat tenaga, dengan sebaik mungkin untuk menaati perintah Tuhan, maka engkau akan diselamatkan,” seperti itu. Kalau pertanyaan kedua ini, jawabannya adalah tadi. Bagaimanapun manusia berjuang untuk hidup di dalam ketaatan kepada Tuhan, ujungnya adalah mati.

Tetapi, Yesus Kristus ketika hidup dalam dunia ini, selain dari konfirmasi Allah, konfirmasi dari musuh-musuh-Nya, konfirmasi dari murid-murid-Nya bahwa Dia adalah orang yang benar dan tidak berdosa, sebenarnya ada 1 kesaksian lagi yang Alkitab nyatakan kepada kita atau dualah, kalau Dia adalah orang yang diperkenan oleh Allah, yaitu kebangkitan Dia dari kematian dan duduknya Dia di sebelah kanan Allah Bapa. Kita nggak bisa menampik itu atau menyangkali itu karena Alkitab berkata ini peristiwa yang disaksikan oleh 1.000 mata, melihat Yesus yang naik ke surga, bangkit dari kematian, dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Ada 500 orang yang menyaksikan hal ini.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, jadi, pada waktu kita berbicara, apa yang membuat kita tidak bisa menyelamatkan diri dari dosa? Karena buntutnya adalah mati. Lalu, kenapa solusinya itu ada di dalam Kristus? Karena Dia adalah satu-satunya orang yang benar dan Dia sudah diterima oleh Bapa dan dikonfirmasi oleh Bapa tindakan penebusan-Nya itu adalah sesuatu yang benar dan membuat Bapa bisa menerima. Kenapa bisa menerima? Karena Dia tidak berdosa. Lalu, kenapa Dia mati? Cuma 1 tujuan: Untuk menggantikan kita yang berdosa.

Saya pernah khotbah di Natalnya pengadilan, ketika saya menggunakan ilustrasi mengenai substitusi. Pengadilan Indonesia, sekarang, belum menerapkan prinsip substitusi. Baru yang baru ini akan menerapkan seperti itu. Di Indonesia, ketika kita membayar uang jaminan, sebenarnya uang itu bukan untuk membuat dia terbebas dari hukuman penjara, tetapi tujuannya untuk sementara waktu sebelum hukum dijatuhkan atau keputusan pengadilan dijatuhkan, maka dia bisa bebas dulu. Tetapi, kalau hukum itu sudah dijatuhkan, dia tetap harus masuk ke penjara, kalau dia-kalau nggak salah- kalau sudah selesai hukuman dibalikin semua, ya. Dibalikin lagi. Di Amerika, hukumnya adalah kalau saya melakukan dosa, saya kemudian dijatuhi hukuman, selain dari lamanya waktu dihukum, ada uang tebusan yang bisa diberikan untuk menebus kita, sehingga kita tidak perlu dihukum dalam penjara. Tetapi, kelihatannya informasi yang saya dapat, di tahun ini, hukum itu akan berlaku di Indonesia juga. Tetapi, ada hal yang menarik juga pada waktu kita melihat hukum di Indonesia, ya. Uang tidak bisa menebus kita dari tuntutan hukum penjara. Saya menggunakan itu sebagai ilustrasi.

Bapak, Ibu, berapa banyak pun uang yang Bapak, Ibu persembahkan untuk Tuhan, ya, berapa banyak pun kurban yang Bapak, Ibu bayar untuk Tuhan, saya kasih tahu, ya, tetap nggak akan bisa melepaskan Bapak, Ibu dari hukuman. Saya bicara ini, karena ada informasi yang saya dapat juga kayak gini: Kita korupsi itu nggak apa apa. Kita lakukan dosa itu adalah hal yang kita nggak perlu khawatir dan takutkan. Kenapa? Kan ada Lebaran. Ada kurban yang bisa menghapus dosa kita semua, yang membuat kita dinolkan kembali seperti itu. Kebenaran kita di hadapan Tuhan. Saya kasih tahu, ya, Alkitab berkata: Itu tidak berlaku di hadapan Allah yang sejati yang kita kenal di dalam Kristus Yesus. Karena semua orang yang menyogok Allah adalah orang berdosa dan Allah tidak bisa disogok. Sekarang, saya mau tanya seperti ini. Ketika kita ada di dalam Kristus, itu seperti ketika kita datang ke gereja pagi ini dalam kondisi hujan. Tetapi, pada waktu kita jalan ke gereja ini dalam kondisi hujan, kita ada payung yang menahan kita dari hujan, sehingga kita nggak kehujanan. Tetapi, orang yang datang ke Tuhan tanpa melalui Kristus, itu seperti orang yang datang ke gereja tanpa membawa payung dan hujan-hujanan.

Sekarang, saya mau tanya. Bapak, Ibu, kalau menghadapi Tuhan, yang Tuhan sudah nyatakan dalam hidup kita, kita adalah orang berdosa dan membuktikan bagi kita, kita adalah orang yang berdosa melalui kematian yang dialami dalam hidup kita, masih maukah datang menghadap Tuhan dengan diri sendiri atau lebih bijaksana, kita mendapatkan perlindungan di dalam Kristus? Ini yang Alkitab ajarkan bagi kita. Kalau kita datang kepada Tuhan yang suci itu, yang adil itu, yang tidak pernah bisa disogok oleh kegiatan keagamaan kita, pelayanan kita, kurban persembahan yang kita berikan kepada Tuhan, saya yakin, hal pertama yang harus kita lakukan adalah bertobat dari dosa, datang kepada Kristus, supaya Dia menjadi payung kita untuk menghadapi Allah yang suci. Tanpa itu, kita cuma akan dilibas oleh Allah dan kita akan hancur oleh kemarahan Dia dan murka Dia atas dosa yang kita lakukan.

Jadi, pada waktu kita berbicara mengenai kondisi manusia, apa yang dikerjakan oleh Kristus dalam hidup kita? Alkitab mau menyatakan, itu adalah satu pekerjaan yang sangat penting, sangat berguna, sangat-sangat menyatakan kasih Allah dalam hidup kita dan menawarkan anugerah keselamatan dalam kehidupan kita yang seharusnya kalau manusia berdosa mengerti hal ini, dia akan mengalami perubahan dalam hidup ini. Dia akan mendapatkan hidup dalam kehidupan dia. Dia akan mendapatkan pembaruan dalam hidup dia. Dia akan mendapatkan damai sejahtera yang sejati di dalam hati dia dan dia akan memasuki kematian dengan satu kondisi, walaupun mungkin dia takut memasuki pintu kematian itu, tetapi dia tahu, ada ketenangan, ada jaminan, ada kepastian di dalam hidup dia bahwa dia adalah orang yang sudah pasti diterima oleh Allah di dalam Kristus Yesus.

Dan ini bukan sesuatu yang ada masa antaranya. Ini adalah sesuatu yang pasti, langsung seperti itu. Alkitab tidak pernah mengajarkan manusia berdosa bisa masuk ke dalam purgatori terlebih dahulu atau kondisi penyucian terlebih dahulu, baru masuk ke dalam kekekalan, seperti itu. Alkitab menyatakan, manusia berdosa cuma ada di dalam 2 kondisi. Pertama adalah dia akan kembali kepada Tuhan, tetapi pada waktu dia kembali kepada Tuhan, saat itu, penghakiman Allah langsung dijatuhkan kepada  manusia. Kita boleh buka, pertama, dari Pengkhotbah 12:7, ya. Kita baca bersama-sama ayat ini. “dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.” Jadi pada waktu mati, roh manusia ke mana? Kembali ke Allah kan? Lalu pada waktu kita berbicara kembali kepada Allah, apakah itu berarti kita diterima oleh Allah? Tapi sebelum menjawab ini, saya mau ajak Bapak Ibu buka satu bagian lagi ya, Ayub 19:26, “Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah.” Jadi, ini dua ayat yang menyatakan ketika manusia mati, tubuh fisiknya akan hancur, rusak, tidak berbentuk lagi, melebur menjadi satu dengan tanah atau debu ini. Tapi jiwanya bagaimana? Jiwanya nggak melebur dengan alam. Jiwanya tetap ada. Jiwanya akan kembali ke Allah. Tetapi pada waktu jiwanya kembali kepada Allah, tujuannya untuk apa? Kembali kepada Allah.

Nah, dalam hal ini, Bapak, Ibu bisa lihat di dalam Yoh. 8:21-23, “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, “Aku akan pergi dan kamu akan mencari aku. Tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat aku pergi tidak mungkin kamu datang.” Maka kata orang-orang Yahudi itu : “Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakannya, “Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” 24, satu lagi kita baca, “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Lalu ada satu ayat lagi yang saya mau ajak kita baca yaitu dari 1 Kor. 15:25-26, “Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bila Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan.” 25, “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.” Ayat-ayat ini mau menunjukkan, pada waktu Yesus datang, mati di kayu salib, maka tujuan Dia datang untuk mati di kayu salib adalah untuk menaklukkan musuh yang terakhir, yaitu maut itu atau kematian itu. Tapi Yesus berkata ketika Dia datang untuk menaklukkan musuh yang terakhir itu, maut, untuk apa? Supaya orang yang percaya kepada Dia mendapatkan hidup yang kekal. Tetapi di dalam Yoh. 8 dengan jelas sekali Yesus juga berkata, bagaimana dengan mereka yang menolak Yesus Kristus? Bagaimana mereka yang tidak mau datang kepada Yesus dan percaya kepada Yesus Kristus? Yesus katakan cuma ada satu hukumnya, yaitu mereka pasti mati atau kita pasti mati.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mati ini bukan berbicara mengenai kebinasaan dalam pengertian membuat kita musnah atau jiwa kita tidak ada lagi, tapi kematian ini mau menyatakan kita pasti dihukum oleh Tuhan, pada waktu roh kita kembali kepada Tuhan, kita mendapatkan penghakiman itu dalam kehidupan kita. Ada ayat lain nggak untuk mengatakan ini? Ada. Misalnya kalau Bapak Ibu buka Lukas 23, ini berbicara mengenai penyaliban yang Yesus alami dan dua penjahat yang ada di sisi kiri dan kanan Yesus Kristus. Yang satu mengolok-ngolok Yesus Kristus dan mengatakan kalau Dia adalah orang yang tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri, Dia adalah orang yang berdosa. Tetapi penjahat di satunya lagi berkata, “Dia tidak sama seperti kita. Dia tidak berdosa” dan mungkin Tuhan memberi anugerah dan membuka matanya pada waktu itu dan membuat dia mengerti, Yesus adalah Mesias yang akan datang di dalam Kerajaan-Nya. Makanya dia berkata, “Ingatlah akan aku kalau Engkau datang kembali.” Lalu Yesus berkata apa? “Pada hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di Firdaus.”

Lalu yang kedua adalah dari Lukas 16. Ini satu ayat yang beberapa kali saya kutip ya. Lukas 16 itu cerita mengenai orang kaya dan Lazarus yang miskin, dari ayat 19. Pada waktu itu Yesus menceritakan ada orang yang kaya mati, ada orang yang bernama Lazarus yang miskin mati. Pada waktu itu orang yang kaya hidup sebelum mati dalam kejahatan, kepentingan diri sendiri tapi Lazarus yang miskin digambarkan sebagai orang yang beriman kepada Tuhan. Pada waktu mereka mati, sama-sama kembali kepada Tuhan, iya, tapi pada waktu mereka kembali kepada Tuhan, apa yang diterima oleh Lazarus? Hidup kekal. Apa yang diterima oleh orang kaya ini? Hukuman kekal.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah ayat-ayat yang mau menyatakan bahwa kalau kita menolak Kristus, nggak ada yang namanya kebaikan. Tidak ada yang namanya sesuatu hal yang membuat kita bisa terlepas daripada hukuman, tetapi yang ada adalah kebinasaan. Tapi kalau kita menerima Kristus, di situ sudah ada satu janji bahwa kita pasti akan menerima hidup yang kekal. Lalu kenapa kita bisa yakin bahwa jiwa kita tetap ada? Dawis adalah Dawis. Orang lain misalnya Agus adalah Agus ketika menghadap Tuhan. Tetapi pada waktu kita menghadap Tuhan, kita ada di dalam kondisi ini, apakah di dalam kekekalan ataupun di dalam hukuman kekal, salah satu sebab atau salah satu dasarnya adalah karena itu bukan akhir dari semuanya. Maksudnya gimana bukan akhir dari semuanya? Itu hanya masa antara, antara kita yang mati dengan kedatangan Yesus yang kedua kali. Artinya apa pak? Artinya adalah ini adalah satu masa di mana kita akan menunggu, tetapi penantian kita itu ada di surga atau di dalam neraka. Sampai kapan? Sampai hari terakhir yang final yang Tuhan tetapkan itu datang dan terjadi, yaitu Yesus datang kedua kali untuk menghakimi seluruh manusia yang jiwanya sudah dipersatukan dengan tubuhnya yang baru.

Jadi, baik orang yang sudah percaya akan bangkit dari kematian, dipersatukan dengan tubuh yang baru. Orang yang tidak percaya akan bangkit dari dalam neraka, dipersatukan dengan tubuh yang baru. Untuk apa? Dinyatakan dia masuk ke dalam surga selama-lamanya bersama dengan Kristus, kalau dia ada di dalam Kristus, dan dia akan masuk ke dalam neraka selama-lamanya dengan tubuhnya karena jiwanya sudah dipersatukan dengan tubuh di dalam neraka.

Makanya pada waktu kita berbicara mengenai kematian, Bapak, Ibu, kematian itu bukan solusi masalah. Jangan pikir bunuh diri itu membebaskan kita dari masalah. Bunuh diri akan membuat kita berhadapan langsung dengan Allah yang suci dan kudus. Dan pada waktu itu, Bapak, Ibu mau mati pun nggak bisa mati lagi. Kita bisa mati karena kita punya tubuh ini, tapi jiwa kita akan terus ada di hadapan Allah. Apakah di dalam berkat keselamatan atau di dalam berkat hukuman sampai selama-lamanya. Ada yang mengatakan jiwa kita itu dengan istilah immortal; Tuhan ketika mencipta kita tidak mungkin mati lagi di dalam kondisi tubuh rohani kita sampai selama-lamanya. Mungkin ini yang membuat neraka itu begitu menakutkan. Karena pada waktu kita begitu menderita di dalam neraka, kita terpisah dari Allah, kita ada di bawah murka Allah, kita betul-betul ada di dalam kondisi yang sangat-sangat menderita sekali, mau mati pun nggak bisa mati sampai selama-lamanya. Itu adalah hukuman selama-lamanya.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hal pertama adalah kalau kita mengerti paska kematian kita ada penghakiman, berarti bahwa apa tadi yang pertama? Setelah kematian ada pemisahan, langsung ada penghakiman dari Tuhan Allah. Nggak ada orang yang bisa lepas dari itu. Tapi yang kedua adalah pada waktu kita mengalami kematian, Alkitab juga menyatakan tidak ada masa antara untuk menyucikan dosa kita ya. Purgatori itu nggak ada. Neraka sementara itu tidak ada. Yang ada cuma 2 posisi itu.

Nah sekarang, saya kembali ke dalam ayat ini. Pada waktu Yesus berkata, “Dalam Aku ada hidup, Firman-Ku, siapa yang mendengarkan perkataan-Ku, dia mendapatkan hidup.” Saya boleh bandingkan dengan Yoh. 11, ketika Lazarus mati, Yesus berhadapan dengan keluarga dari Lazarus, Marta dan Maria. Pada waktu itu mereka meratap, mereka menangis karena saudara mereka meninggal. Tapi Yesus mengajukan satu pertanyaan kepada mereka, “Bahwa Aku lah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya-Ku dia akan hidup walaupun dia sudah mati. Apakah engkau percaya akan hal itu?” Tetapi sebelum menjawab hal ini, saya mau tanya gini, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, bukankah orang tidak percaya yang berdosa ujungnya maut kan? Bagaimana dengan orang Kristen yang sudah percaya kepada Kristus, ujungnya apa? Mati juga kan? Kalau begitu ada nggak bedanya orang Kristen dengan orang bukan Kristen? Apakah itu mau menyatakan bahwa perkataan Tuhan itu nggak bisa dipercaya? Karena Yesus bilang orang yang percaya kepada-Ku nggak akan binasa. Dia akan hidup. Tapi realitanya kita mati.

Nah dalam hal ini kita harus ngerti Alkitab ada mengajarkan seperti ini, pada waktu kita percaya kepada Kristus, hal itu tidak meniadakan penderitaan, hal itu tidak meniadakan sakit, hal itu tidak meniadakan kematian. Karena perkataan Yesus yang mengatakan, “Barang siapa percaya kepada-Ku tidak mati tetapi hidup.” Ini bukan untuk bertujuan mengatakan pada waktu kita hidup dalam dunia ini kita tidak akan mengalami kematian lagi, tapi kalimat ini mau mengatakan bahwa pada waktu kita percaya kepada Kristus maka kuasa kematian akibat dosa yang dimiliki oleh manusia itu sudah dikalahkan oleh Yesus Kristus, walaupun kita mati kita tidak akan tunduk kepada kematian itu, kita akan hidup bersama-sama dengan Kristus. Ini pengertiannya.

Makanya manusia masih ada dalam dunia ini, manusia masih mengalami kematian, tetapi juga pada waktu kita mengalami kematian dan Tuhan memberikan sedikit bocoran akan bagaimana kita akan hidup kelak. Tetapi Tuhan juga banyak sekali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang paska hidup ini. Contohnya, di surga ada apa ya? Saya akan masuk ke sana dengan tubuh yang berusia berapa? Kalau saya di dalam dunia cacat, di surga saya cacat nggak ya? Surga seperti apa? Nggak tahu kan. Tapi Tuhan cuma kasih tahu, kalau kita percaya Kristus, kita akan hidup. Di 1 Kor. 15 dikatakan pada waktu kita percaya Kristus, di surga akan tidak ada lagi kelemahan, tidak ada lagi penyakit dan segala macam seperti itu. Tetapi diri kita seperti apa, bagaimana kita hidup, apa yang kita akan alami di situ, apakah kita masih bekerja atau tidak dan yang lain-lainnya, Alkitab nggak bocorkan itu. Mohon tanya, untuk apa ya? Kenapa ya? Dalam hal ini cuma satu, supaya kita belajar percaya kepada Tuhan. Kita bukan hanya percaya dan dibuktikan Yesus bangkit. Kita bukan hanya percaya melalui pembuktian kalau di dalam Kristus ada hidup, tapi kita juga percaya kepada Kristus akan hal-hal yang belum terjadi tetapi sudah dikatakan dan dijanjikan oleh Tuhan. Itulah arti hidup orang beriman. Itulah arti hidup dari orang yang sudah dihidupkan di dalam Kristus.

Saya lihat, kita belajar mengenai teologi, sistematika dan bicara tentang kematian, para teolog itu mengatakan seperti ini, kematian itu perlu nggak bagi orang yang percaya kepada Tuhan? Dia jawab, perlu. Kenapa perlu? Karena itu adalah bagian dari ujian iman kita yang percaya kepada Kristus. Makanya di dalam 1 Tes. 4 ada kalimat dari Paulus, “Saya mau kamu jangan gelisah, jangan kuatir, jangan takut seperti halnya orang-orang dunia yang nggak punya pengharapan. Tapi saya ingin kamu tahu bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, orang yang mati terlebih dahulu di dalam Kristus akan dibangkitkan. Tuhan nggak pernah lupakan mereka. Tapi kita yang masih hidup akan diubahkan seketika untuk menyongsong Tuhan yang datang untuk menghakimi manusia dan kita hidup selama-lamanya di dalam kekekalan.”

Tapi semua itu kita bisa hadapi, kematian kita bisa hadapi dengan satu keberanian, dan ketenangan jiwa karena apa? Karena kita belajar percaya di dalam Kristus semua ketakutan kita semua itu sudah Tuhan selesaikan dan Tuhan pastikan kita ada bersama Dia di dalam kekekalan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya lihat Kitab Suci kita begitu limpah, begitu kaya, begitu penuh dengan kebenaran yang kita bisa yakini di dalam hidup kita. Ingat, jangan menghadap Tuhan tanpa payung, hadapilah Dia dengan Kristus yang menjadi payung kita sehingga kita tidak berhadapan dengan murka Allah karena semuanya sudah diselesaikan di dalam Kristus Yesus. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita ya.