Fil. 1:1-2
Vik. Tommy Suryadi
Bapak, Ibu, semua kota Filipi adalah kota yang memiliki sejarah yang unik. Nama kota ini sendiri, Filipi, itu sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh seorang raja yang namanya juga Philip. Ya, Philip. Mungkin Bapak, Ibu di sini tidak terlalu kenal atau tidak terlalu tahu, ya siapa raja Philip sebenarnya. Mungkin Bapak, Ibu semua di sini sebagian besar lebih tahu nama anaknya. Anaknya raja Philip adalah Alexander the Great. Nah, mungkin di sini Bapak, Ibu langsung “ohh begitu ya”. Alexander the Great atau Iskandar Agung, dia punya papa seorang raja, raja yang menguasai Makedonia yang bernama Philip yang kedua. Dan ketika Philip, raja Philip ini pergi ke kota Filipi, dia melihat kota tersebut, lalu dia memberi nama kota itu sesuai dengan namanya sendiri. Yaitu makanya dikatakan ini jadi kota Filipi. Dan itu salah satu sejarah yang terkenal dari kota ini.
Dan kemudian juga di kota Filipi ini di dalam zaman pemerintahan Romawi, ya jadi pertama Yunani, tadi dari Philip, Alexander the Great lalu kemudian berganti menjadi kerajaan Romawi di kota Filipi ini pun juga terkenal di dalam sejarah. Terjadi satu pertempuran yang dinamakan The Battle of Philipi. Ya, The Battle of Philipi ini kira-kira 42 SM terjadinya. Apa yang terjadi di dalam kota ini pertempuran tersebut? Itu adalah satu pertempuran antara, ini kalau Bapak, Ibu suka sejarah Romawi mungkin tahu nama-nama ini ya, yaitu Brutus, kawan akrab dari Julius Caesar, Brutus dan Casius melawan Mark Anthony dan Octavian. Dan di dalam pertempuran tersebut, Brutus dan Casius kalah, yang menang adalah Octavian dan Mark Anthony. Dan di dalam sejarah ini menjadi satu pertempuran yang besar dan penting bagi kerajaan Romawi.
Dan kemudian Bapak, Ibu semuanya, Kota Filipi sendiri di dalam kerajaan Romawi, ini adalah kota yang sangat strategis Bapak, Ibu. Kalau Bapak, Ibu bawa Alkitab buku, lalu kemudian melihat peta Alkitab ya, di belakang. Peta perjalanan Paulus di peta di belakang. Kota Filipi ada di sini Bapak, Ibu, ya. Jadi ini kan Israel di bawah sini, lalu ini Turki ya, nama modernnya Turki, lalu ke sini itu sudah di Eropa. Dan kota Filipi ini lokasinya strategis karena dia seperti menjadi jembatan yang menghubungi Eropa dengan Asia. Maka tidak heran di zaman Paulus pun, kota Filipi ini sangat berkembang secara finansial, secara ekonomi, karena memang ini jadi seperti jalur strategis untuk perdagangan Bapak, Ibu. Jadi bayangkan ya, waktu Paulus ke sana memberitakan Injil, ini kota yang sangat berkembang.
Tapi selain itu juga ada tantangannya Bapak, Ibu. Karena kota Filipi ini adalah suatu kota utama untuk koloni orang Roma, banyak orang yang berstatus penduduk Romawi tinggal di kota tersebut. Jadi ini kota yang spesial. Dan juga berdasarkan sejarahnya, veteran-veteran perang tentara Romawi, ya yang sudah jadi veteran mereka itu ditempatkan di kota Filipi, jadi ini banyak orang tentara veteran, Bapak, Ibu semua, orang-orang Roma yang pernah mengabdi sebagai tentara. Dan maka tidak heran di kota Filipi ini budayanya itu sangat kuat. Nah inilah yang menjadi tantangan bagi jemaat di sana. Karena bagaimana pun juga budaya Romawi kan pasti berkaitan dengan penyembahan berhala. Dan terutama penyembahan kaisar. Penyembahan kaisar itu terjadi karena ini Bapak, Ibu. Kerajaan Roma itu terlalu besar. Mereka belum punya media komunikasi yang secanggih kita sekarang. Maka untuk mempersatukan kerajaan Romawi yang terlalu besar, terlalu majemuk, terlalu diverse, etnis kulturnya semua banyak yang berbeda, semua disatukan bagaimana caranya? Itu dengan satu penyembahan, menyembah satu kaisar yang sama. Maka dari itu di dalam kerajaan Romawi terjadilah yang namanya penyembahan Kaisar. Ya, sebenarnya bukan masalah kaisarnya pengen didewakan, bukan masalah kaisarnya itu narsis, ya, walaupun ada juga sih kaisar tertentu yang narsis, tapi sebenarnya tujuan utamanya untuk mempersatukan seluruh kerajaan Romawi. Dan kota Filipi ini adalah salah satu kota yang penyembahan kaisarnya itu sangat kental bapak ibu.
Bayangkan ya, misalnya mau kegiatan biasa saja ya. Mungkin mau kumpul, ketemu, makan yuk, sembah kaisar dulu. Mau ketemu, eh kalau zaman sekarang main padel, gitu ya atau main futsal, yuk, doa, sembah kaisar dulu. Nanti mau ngapain sembah kaisar dulu, ini itu sembah kaisar dulu. Bayangkan Bapak, Ibu, bagaimana orang Kristen bisa hidup bersosial, berkomunitas di tengah budaya yang kuat seperti itu? Maka tidak heran kalau jemaat di sana dan juga beberapa kota lain di dalam Kerajaan Romawi, itu jemaat itu atau orang Kristen dianggap orang-orang yang ansos, orang-orang yang tidak mau bergaul dengan orang-orang sekitarnya yang beda kepercayaan. Ya sebenarnya bukan nggak mau bergaul Bapak, Ibu, tetapi problem-nya adalah ketika bergaul, itu juga melibatkan penyembahan kaisar dan penyembahan berhala. Maka orang Kristen nggak mau. Nah itulah juga yang menjadi satu tantangan bagi mereka.
Dan juga Bapak, Ibu semua, kota Filipi ini adalah kota pertama di benua Eropa yang pertama kali menerima Injil dan ada gereja. Kalau kita menelusuri Kisah Para Rasul, setahu saya di sini sudah dibahas oleh Pdt. Dawis ya Bapak, Ibu untuk Kitab Kisah Para Rasul sudah habis. Kalau Bapak, Ibu mengingat Kis. 16, ketika Paulus setelah sidang di Yerusalem pasal 15, dia melanjutkan perjalanan misinya, lalu kemudian dia mengajak Timotius juga untuk berkeliling lagi, pertama-tama di Asia Minor, yang kalau kita kenal sekarang adalah Turki. Lalu kemudian Paulus itu sebenarnya mau melayani beberapa tempat lain, tapi di Kis. 16 itu disebutkan bahwa Roh Kudus menghalangi mereka. Lalu kemudian ada bagian di pasal yang sama, Roh Yesus menghalangi mereka. Mereka mau ke mana, dibelokkan Roh Kudus. Mau ke mana lagi, dibelokkan Roh Yesus, dikatakan. Lalu kemudian malamnya Paulus mendapat penglihatan, dikatakan ada orang Makedonia yang melambaikan tangan minta tolong kepada Paulus. Lalu kemudian Paulus dan rekan-rekannya mengambil konklusi bahwa Tuhan sebenarnya mau memimpin mereka pergi ke Makedonia, yaitu mulai ke Eropa. Dan kota pertama yang dikunjungi di Eropa dalam perjalanan misi Paulus adalah kota Filipi. Maka ini menjadi satu kota yang pertama kali ada gereja di Eropa. Ya inilah satu bagian sejarah dari kota Filipi ini.
Dan juga waktu kita mengingat kembali di Kis. 16, bagaimana Paulus itu diceritakan menginjili di kota Filipi ini juga kisah ini unik Bapak, Ibu. Kita tentu pernah mendengar beberapa tokoh yang terkenal di Kis. 16 itu, yaitu Paulus akhirnya berhasil menginjili Lidia ya, penjual kain ungu itu. Lalu kemudian bagaimana Paulus itu memberitakan Injil, lalu kemudian ada orang-orang yang tidak suka, lalu dia dipenjara. Dan di penjara itu waktu Paulus dan rekan-rekannya menyanyikan pujian, tiba-tiba terjadi gempa bumi. Dan semua pintu penjara itu terbuka, lalu kepala penjaranya pikir, “Wah ini nanti kabur semua, sudah lah, saya pasti dihukum mati. Mending mati sekarang sudah.” Tapi sebelum bunuh diri, Paulus malah berteriak ya kepada kepala penjara itu, “Jangan bunuh diri!” Lalu kepala penjara itu bertanya ya di dalam ketakutannya, “Apa yang harus aku lakukan untuk bisa selamat?” Barulah kemudian Paulus menjelaskan ya, “Percaya kepada Yesus.” Ya, jadi di kota Filipi ini juga banyak kisah-kisah menarik ya, dan bukan hanya sekedar menarik.
Dan Bapak, Ibu semuanya, ketika setelah Paulus mengunjungi kota Filipi itu, 10 tahun kemudian Paulus menulis surat Filipi ini. Dan kemungkinan besar Paulus menulis surat Filipi ini di dalam penjara. Penjara ketika dia berada di Roma, waktu kita mengingat Kis. 28, kan akhirnya Paulus sampai ke Roma tapi kemudian dia menjadi tahanan. Dikatakan dia menjadi tahanan, di house arrest gitu ya, tahanan di rumah. Dan kemudian dia selama beberapa tahun di sana kemungkinan besar dari penjara itulah Paulus menuliskan surat Filipi ini. Maka dari itu tidak heran kalau surat Filipi ini disebut sebagai prison letter, surat yang Paulus tuliskan dari penjara.
Dan apa saja yang sebenarnya menjadi satu tujuan Paulus untuk menuliskan surat Filipi ini? Yang pertama adalah Paulus ini ingin mengucapkan syukur serta mengucapkan terima kasih karena jemaat Filipi ini adalah salah satu jemaat yang sangat rajin membantu Paulus di dalam pelayanannya, termasuk dalam memberikan dukungan materi dan finansial kepada Paulus. Meskipun Paulus tidak meminta. Lalu kemudian juga Paulus, yang kondisinya di penjara, tentu saja banyak jemaat jadi khawatir kan ya, ini orang yang memberitakan Injil kepada mereka, bagi mereka Paulus ini sudah seperti bapak mereka sendiri. Maka mereka mengkhawatirkan Paulus. Maka Paulus menulis surat Filipi ini juga tujuan lainnya adalah untuk memberikan report atau laporan bagaimana sebenarnya situasinya Paulus di dalam penjara. Lalu kemudian tujuan lain, poin-poin yang mungkin agak minor ya, yaitu bagaimana Paulus memperingatkan berhati-hati terhadap beberapa jenis lawan yang dituliskan di dalam surat Filipi ini. Bagi Bapak, Ibu yang pernah membaca surat Filipi ini mungkin bisa mengingat ya, bagaimana dikatakan ada orang yang memberitakan Kristus tapi motivasinya salah. Lalu kemudian ada orang-orang pagan ya yang tadi saya sebutkan orang-orang yang non-kristen yang membully ya menganiaya orang-orang Kristen. Lalu kemudian dikatakan ada di pasal ketiga anjing-anjing ya, anjing-anjing yang mau melawan orang Kristen ini kemungkinan besar maksudnya adalah orang Yahudi ya, orang Yahudi yang masih mau pengaruh orang Kristen kembali ke hukum Taurat. Yesus saja tidak cukup ya. Kurang lebih seperti itu. Lalu juga tentang musuh-musuh salib ya yang ditulis di pasal tiga juga ini kemungkinan besar berbicara tentang orang-orang yang merasa sudah diselamatkan, sudah dapat anugerah, tapi malah menikmati hidup dalam dosa. Mungkin Bapak Ibu pernah mendengar hal-hal seperti itu kan ya? Kan sudah dapat keselamatan dalam Yesus kan, nggak akan hilang kan? Pasti kan? Jaminan kekal kan? Oh, ya sudah berarti saya hidupnya boleh ngapa-ngapain saja dong. Nah, ini kan logikanya salah begitu ya. Itu juga di-counter oleh Paulus di dalam surat Filipi ini.
Lalu ketika berbicara tentang genre atau jenis surat Filipi ini, ada yang mengatakan penafsir yang mengatakan surat Filipi ini adalah satu surat persahabatan ya, letter of friendship. Karena kalau kita melihat surat Filipi, Bapak, Ibu semua, bagi Bapak, Ibu yang pernah membaca mungkin sudah dapat sense-nya, surat ini rasanya pesannya itu apa ya? Sangat friendly, sangat kelihatan relasi dekatnya antara Paulus dengan jemaat Filipi. Beda dengan surat Galatia dan 1 Korintus kan, Bapak, Ibu? Di surat Galatia itu baru masuk salam, setelah salam langsung Paulus katakan, “Aku ini kaget. Kenapa kamu langsung berpaling dari Injil yang sejati? Kenapa kamu mengambil Injil yang lain yang sebenarnya bukan Injil? Kalau ada orang yang memberitakan Injil yang lain yang bukan aku beritakan, terkutuklah dia.” Wah, itu bagian awal surat Galatia sudah kayak begitu, Bapak, Ibu. Lalu 1 Korintus, ya, Bapak, Ibu tahu semua ya, kamu ini perpecahan dalam jemaat. Aku golongan Petrus, aku golongan Paulus. Apa itu gitu ya. Apakah Kristus terbagi-bagi? Oh, langsunglah dicecer habis gitu loh ya di surat 1 Korintus. Jadi di dalam Galatia, 1 Korintus banyak sekali teguran Paulus ya yang sangat keras. Tapi di surat Filipi ini kita justru melihat banyak nuansa friendship, nuansa persahabatan yang Paulus tuliskan kepada jemaat di Filipi.
Maka beberapa tema yang masuk ke dalam letter of friendship ini adalah misalnya tentang kesatuan. Nanti waktu kita membahas surat Filipi ini lebih lama lagi, lebih banyak lagi, kita akan menemukan tema-tema misalnya tentang kesatuan jemaat. Nah, ini sangat penting Bapak, Ibu ya. Lalu kesatuan ini juga berkaitan dengan kerendahhatian ya. Paulus akan banyak membahas tentang kerendahhatian. Makanya di Filipi 2 itu terkenal kan ya, Bapak Ibu waktu Paulus menulis tentang Kristus yang mengambil rupa manusia menjadi seorang hamba. Bapak, Ibu mungkin ingat bagian itu ya karena memang surat Filipi ini temanya salah satunya adalah kerendahhatian. Maka Paulus mengambil contoh Kristus yang dari atas itu turun merendahkan diri, maka kamu juga harus seperti itu. Tuhanmu aja seperti itu. Kamu harus lebih merendahkan diri lagi. Dan tanpa kerendahhatian memang tidak mungkin ada kesatuan. Bapak, Ibu bayangkan saja kalau semuanya di gereja pengen jadi nomor satu ya sudah tinggal tunggu gerejanya bubar kan begitu ya. Tapi malah Paulus berpesan berkaitan dengan kerendahhatian. Kamu saling mengutamakan satu sama lain. Jangan pikirkan dirimu sendiri, pikirkan orang lain. Itulah namanya kamu mengasihi Tuhan, mengasihi sesama. Itulah namanya merendahkan diri baru bisa bersatu.
Lalu juga Bapak Ibu semua, tema yang juga bisa dikatakan besar adalah tema joy, sukacita. Kalau kita melihat semua surat Paulus, hanya surat Filipi yang punya kata sukacita atau bersukacita itu paling banyak dibanding surat-surat Paulus yang lain. Maka tidak heran banyak penafsir yang menyebut surat Filipi ini sebagai letter of joy, surat sukacita. Karena banyak sekali Paulus membicarakan sukacita di dalam surat ini. Padahal Bapak, Ibu semua, padahal Paulus ini waktu menulis surat ini tuh sedang ada di dalam penjara. Jemaat semua mengkhawatirkan Paulus, tapi malah Paulus mengatakan, “Aku bersukacita.” Kenapa? Walaupun di penjara, Injil terus diberitakan! Paulus tidak memikirkan dirinya sendiri. Paulus memikirkan pekerjaan Tuhan. Bahkan ketika dirinya harus menderita di penjara pun, yang dia pikirkan adalah: “Pekerjaan Tuhan masih jalan nggak? Kalau masih berjalan terus, aku sukacita”. Nah, inilah, ya, contoh hidup dari Paulus, Bapak, Ibu. Orang yang sama sekali bukan lihat dirinya sendiri, ya. Tapi melihat bagaimana pekerjaan Tuhan itu, Injil itu, boleh terus-menerus disebarluaskan.
Dan –Bapak, Ibu semua– ini juga tema penting Bapak, Ibu, ya. Ketika ini disebut sebagai “Letter of Joy”, ini juga salah satu hal yang mendorong saya untuk kenapa memilih bagian ini, ya. Dan kenapa Tuhan mencondongkan saya untuk kita bersama-sama membahas surat Filipi ini. Karena ini lagi berbicara tentang sukacita, ya. Sukacita yang tidak terikat pada situasi meskipun di dalam penderitaan. Sukacita itu tetap Tuhan bisa berikan.
Dan ketika berbicara tentang sukacita –Bapak, Ibu semuanya– berapa banyak dari kita yang mengatakan diri –atau bahkan sudah lama, ya– menjadi orang reformed itu benar-benar punya sukacita? Betul, kita sering, ya mendengungkan atau, ya jadi satu prinsip yang baik sebenarnya, ya. Memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan. Itu memang yang utama Bapak, Ibu semua. Itu memang yang utama. Tapi seberapa banyak dari kita yang sungguh-sungguh merenungkan “sukacita kita di dalam Tuhan”? Karena kalau kita mengingat –Bapak, Ibu– katekismus singkat Westminster –yang saya yakin mungkin sering didengungkan, ya atau pernah didengungkan di sini juga– dari pertanyaan pertamanya, ketika ditanyakan: apa tujuan akhir hidup manusia? Ya, saya rasa mungkin sebagian Bapak, Ibu di sini bisa menjawab dengan senada gitu, ya. Yaitu memuliakan Tuhan dan menikmati Dia. Kita sering mendengungkan, “Memuliakan Tuhan! Memuliakan Tuhan! Memuliakan Tuhan!” Tapi apakah engkau menikmati Tuhan? Apakah engkau bersukacita? Atau jangan-jangan sudah lama kita merasa kering. Sudah lama kita merasa tawar. Mungkin mulai terasa pahit. Tapi kemudian kalau nggak pelayanan, kalau nggak tetap berjalan, hidup bersama Tuhan, nanti kurang memuliakan. Kalau kurang memuliakan nanti rasa guilty feeling, rasa bersalah. Akhirnya menjalani hidup Kristen, bensinnya apa? Rasa bersalah. Bukan ucapan syukur. Bukan karena sukacita. Dan ini bahaya, Bapak, Ibu, ya. Karena banyak sekali orang Kristen yang tampak luarnya sangat ikut Tuhan, tampak luarnya sangat rajin pelayanan. Bahkan mungkin setiap acara gereja dia bisa ikuti terus. Tapi ternyata hatinya tetap kosong. Hatinya tidak ada sukacita.
Dulu, waktu awal-awal saya baru jadi belajar reformed gitu, Bapak, Ibu, ya. Memang, ya itu poinnya sangat penting ditekankan: memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan. Bukan memuliakan diri. Tapi kemudian akhirnya menjadi satu hal yang utama tapi yang lainnya dilupakan. Menikmati Tuhannya dilupakan. Akhirnya, saya waktu itu berpikir, “Sudah lah. Nggak apa-apa yang penting memuliakan Tuhan. Yang penting saya mengerjakan pekerjaan Tuhan sampai beres.” Sampai checklist-nya bisa saya tulis gitu, ya. “Ya sudah. Saya nggak merasa sukacita. Rasa tawar, ya nggak apa-apa lah. Semua demi Tuhan.” Mungkin kelihatannya rohani –Bapak, Ibu, ya– Kelihatannya rohani, kan? “Oh, saya nggak mikirin sukacita saya. Yang penting Tuhan dimuliakan. Saya sukacita atau dukacita nggak peduli. Yang penting Tuhan dimuliakan.” Kelihatannya rohani, Bapak, Ibu.
Memang ada kalanya, ada kalanya kita harus sangkal diri. Ada kalanya memang, waktu kita mengerjakan pekerjaan Tuhan, ini tidak sesuai dengan maunya saya, ini tidak sesuai dengan perasaannya saya. Tapi saya tahu perasaan saya nggak boleh jadi Tuhan. Tuhan tetap Tuhan. Perasaan tetap perasaan. Maka saya tetap jalan. Tapi –Bapak, Ibu– kalau ketika hal itu terus berlangsung sampai jangka panjang, kita tidak merasakan sukacita dari Tuhan sama sekali, itu harus jadi tanda tanya, Bapak, Ibu. Harus jadi tanda tanya. “Kenapa, ya kok saya nggak merasakan sukacita? Padahal, buah Roh, ya –Pak Dawis lagi bahas buah Roh di Palembang, ya– buah roh salah satu aspeknya adalah sukacita. Kalau engkau tidak memiliki sukacita, maka engkau harus bertanya, “Apakah buah Roh sungguh bertumbuh dalam hati saya?
Maka, jangan remehkan sukacita, Bapak, Ibu. Waktu kita merenungkan, “Kok saya nggak ada sukacita, ya? itu bukan pertanyaan egois. Sekali lagi –Bapak, Ibu, ya– waktu kita tidak merasakan sukacita waktu hidup untuk Tuhan dan kita mulai bertanya, “Kenapa saya kurang merasakan sukacita?” Itu bukan pertanyaan egois! Itu pertanyaan yang harus kita tanyakan! Harus ditanyakan! “Tuhan, Engkau menjanjikan buah Roh.” Salah satu aspeknya adalah sukacita. “Kenapa saya tidak mendapatkan ini?” Berarti ada something wrong. Ada sesuatu yang salah yang harus saya bertobat, harus saya perbaiki di hadapan Tuhan.
Dan, bahkan John Piper, ya –seorang penginjil dan teolog terkenal di Amerika– John Piper menyatakan lebih radikal lagi bahkan: “Kamu tidak mungkin memuliakan Tuhan setinggi-tingginya kalau kamu tidak menikmati Dia.” Atau ada kalimat lainnya juga dibalik sedikit. “Tuhan itu paling dimuliakan ketika kita paling menikmati Dia.” “God is most glorified when we are most satisfied in Him.” Dan saya rasa, ini hal yang sangat benar, Bapak, Ibu. Banyak orang, waktu dengar kalimat John Piper ini, “Rasanya kok John Piper ini egois kayaknya ini orang. Self-centered begitu, ya. Wah, harus ada kenikmatan dulu. Saya harus menikmati dulu, baru memuliakan Tuhan.” Sebenarnya, bukan egoisnya, Bapak, Ibu, ya, tetapi dia melihat dari Alkitab.
Beberapa kali di dalam Alkitab, bahkan Perjanjian Lama juga, Tuhan itu mengajarkan, “Kamu harus beribadah kepada Tuhan dengan sukacita. Kamu harus ada kenikmatan di dalam Dia.” Tuhan kita bukan hanya Tuhan yang melihat luarnya kita saja, Bapak, Ibu. “Oh, Tommy, sudah khotbah, ya? Sudah taat, ya? Sudah kerjakan ini itu, ya? O, ya, sudah. Bagus, bagus!” Tetapi, dalam hati kering, ya. “O, ya, nggak papa. Yang penting, kamu kerja buat aku.” Itu boss gila namanya, Bapak, Ibu. “Saya nggak peduli keadaan kamu, yang penting kamu kerja buat saya, ngehasilin duit buat perusahaan saya. Kamu mau mati kek, mau nangis kek, mau meratap kek, masa bodoh.” Itu boss gila, Bapak, Ibu. Tetapi, Tuhan kita bukan boss gila, Bapak, Ibu. Tuhan kita Tuhan yang melihat hati lho, Bapak, Ibu. Ingat kan ya? Tuhan itu melihat hati. Tuhan itu tahu, waktu kita hidup buat Dia, kita beneran sukacita atau nggak. Tuhan yang tahu, Bapak, Ibu dan Tuhan memeriksa.
Dan bayangkan, Bapak, Ibu, ya, Paulus kan kasih gambaran di surat yang lain, jemaat dan Kristus itu seperti istri dan suami kan? Relasi pernikahan menggambarkan relasi Kristus dengan jemaat. Lalu, bayangkan misalnya, ya. Ya, Bapak, Ibu di sini sebagian besar yang sudah berkeluarga, sudah menikah, bayangkan misalnya Bapak, Ibu sudah menikah, menjalani pernikahan 50 tahun. Lalu, semuanya baik-baik saja. Nggak ada selingkuh, nggak ada main sama siapa. Semua baik-baik. Konflik di rumah juga minimal. Begitu misalnya, ya. Problem-problem juga, ya, sedikit-sedikit saja, langsung diselesaikan. Lalu, setelah 50 tahun, merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-50, tiba-tiba yang istri berkata, “Pah, aku terus terang, ya, boleh nggak?” “Ya.” Ya, kan suaminya kan lihat istrinya ini setia, sangat sering melayani dia. “Pah, sebenarnya selama 50 tahun menikah ini, ya, aku nggak damai lho, Pah. Aku nggak pernah sedetik pun damai di dalam pernikahan ini. Sebenarnya, ya, Pah, ya, aku cuma takut cerai saja. Aku cuma takut cerai, maka aku melakukan dengan sekuat tenagaku untuk melayani engkau sebagai suamiku, melayani anak-anak supaya tidak terjadi apa-apa. Tetapi, Pah, sesungguh-sungguhnya, hatiku hambar 50 tahun ini.” Kira-kira reaksi suaminya kalau waras, ya, Bapak, Ibu, kira-kira reaksi suaminya bagaimana? Pasti shock kan, ya? Suaminya mulai bergetar kan, ya? “Aku ini salah apa, ya? Kok istriku nggak bisa menikmati pernikahan ini, ya?” Kalau suaminya gila sih, “Oh, ya, ndak papa, yang penting kamu layani aku.” Nah, itu suami gila, begitu kan, ya. Tetapi, kalau suaminya waras, “Ada apa, ya? Harus ada satu evaluasi ini di dalam pernikahan kita. Sudah 50 tahun lho, kamu merasa hambar terus. Nggak bisa kayak begini. Nggak bisa.” Pernikahan itu berarti sungguh-sungguh ada kasih. Suami mengasihi suami, istri mengasihi suami dan kasihnya itu sejati harusnya. Bukan karena terpaksa, bukan yang penting ada bentuk pelayanan, bentuk kasih, tetapi kasihnya dari hati nggak ada. Nggak kan, ya? Tuhan mengundang kita-bukan sekedar mengundang, ya-memerintahkan kita untuk mengasihi Dia dengan segenap, segenap, segenap, segenap, segenap. Seluruhnya. Bukan cuma kita persembahkan uang kita atau perbuatan kita kepada Dia atau hasil pelayanan kita kepada Dia. Tuhan juga meminta kita mempersembahkan seluruh hati kita kepada Dia, Bapak, Ibu.
Maka ketika merenungkan kembali tentang perkataan John Piper, ya benar Bapak, Ibu, kita baru bisa benar-benar memuliakan Tuhan kalau kita sungguh-sungguh bisa menikmati Dia. Kalau kita sungguh-sungguh punya sukacita ilahi itu dalam hati kita, Bapak, Ibu. Sukacita itulah yang menjadi bensin yang paling kuat mendorong kita untuk terus hidup bagi Kristus. Dan sukacita itulah yang terus mendorong Paulus untuk melayani Tuhan. Bahkan ketika dipenjara sekalipun, dia tidak pernah menyerah. Banyak di dalam sejarah itu, Bapak, Ibu semua, banyak orang Kristen yang akhirnya harus menyangkal iman ketika dianiaya, ketika disiksa, ketika diminta, “kalau kamu mau bebas, sangkal Kristus.” Tidak sedikit yang melakukan di dalam sejarah Kristen. Tapi apa yang mendorong Paulus? Bukan saja tidak menyangkal, tapi malah terus melanjutkan pekerjaan Injil ketika dia bebas. Bahkan di dalam penjara pun dia nggak diam-diam saja, dia tulis surat untuk jemaat. Ini orang yang ini ya, Bapak, Ibu ya, kayaknya nggak bisa dihentikan, kasarnya begitulah ya. Mau dipenjara kek, tulis surat.
Lalu kemudian juga Bapak Ibu ya, ketika Paulus berada di penjara rumah di Roma itu, dia juga ambil kesempatan untuk menginjili pengawal- pengawal yang menjaga rumah dia. Pengawalnya kan nggak boleh ke mana-mana Bapak, Ibu, ya. Nggak bisa kan, “Eh, mau diinjili, eh dia menghindar, ya. Eh, aku makan siang dulu gitu, ya.” Nggak bisa, nggak boleh. Langsung dihukum mati sama kaisar begitu ya. Ya, harus diam di sana begitu ya. Ya udah, Paulus ajak aja ngobrol diinjili satu-satu, nanti shift jaga ganti, diinjili lagi. Penjara tidak bisa menghentikan semangat penginjilan Paulus. Dan apa yang mendorong Paulus? Salah satunya adalah sukacita. Sukacita yang banyak Paulus jelaskan di dalam surat Filipi ini. Maka nanti kita mengeksposisi surat ini beberapa kali ya sampai selesai di pasal keempat dan saya berharap kita semua boleh semakin bertambah sukacitanya untuk hidup mengikut Tuhan.
Dan kemudian kita masuk ke dalam bagian salam Bapak, Ibu semua. Dikatakan ini dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus. Ya, Paulus dan Timotius, tentu kita mengetahui Paulus adalah penulis utamanya. Timotius di sini mungkin disebutkan, mungkin karena dia sekretarisnya bisa saja, karena ada beberapa teori memang surat-surat tertentu dari Paulus itu Paulus menggunakan sekretaris untuk menuliskan suratnya. Mungkin Paulusnya sedang sulit untuk nulis sendiri lalu dia minta tolong yang lebih muda untuk menuliskan suratnya. Itu bisa saja. Tapi kita bisa mengetahui dari Kisah Rasul 16 bahwa Timotius ini ikut melayani juga di Filipi di Kisah Rasul 16. Maka tidak heran waktu Paulus kasih salam itu termasuk sama Timotius, orang yang pernah ikut menginjili kota Filipi.
Dan di sini Paulus dan Timotius menggunakan gelar hamba-hamba Kristus Yesus. Di surat yang lain Bapak, Ibu nanti bisa bandingkan ya, salam-salam Paulus di setiap surat Paulus, ada memang surat tertentu yang Paulus harus menegaskan identitas rasulnya, ada. Tapi secara khusus di Filipi di sini Paulus menggunakan gelar hamba. Ya mungkin karena memang jemaat Filipi sudah tahu yang namanya Paulus ya pasti rasul, begitu ya. Tapi juga kita bisa merenungkan di sisi lain Bapak, Ibu, Paulus sengaja memakai gelar hamba karena tadi saya ingat saya mengatakan bahwa surat ini juga ada tema tentang kerendahhatian. Paulus di sini mengingatkan jemaat, saya cuma hamba, kita hamba. Di sini Paulus sama, tidak membedakan dirinya dari Timotius, ya. Oh, saya rasul, saya mentornya Timotius. Timotius mentee saya, murid saya, nggak. Di sini posisinya seperti disamakan. Kami sama-sama hamba di hadapan Tuhan. Kami sama-sama hamba-hambanya Kristus Yesus.
Ini satu identitas yang kita tidak boleh lupa, Bapak, lbu semua. Apapun jabatan pelayanan kita, kita tidak boleh lupa, kita adalah hamba. Ya, kalau saya berbicara untuk diri saya sendiri ya sebagai hamba Tuhan ya, terkadang itu godaan untuk meninggikan diri itu sangat besar loh, Bapak, Ibu, jujur ya. Semakin tinggi posisinya semakin besar anginnya juga. Ya, mungkin Bapak Ibu pernah mendengar statement itu ya. Kadang saya pernah melihat ya, ada hamba-hamba Tuhan memang sudah sangat sukses gitu ya, lama-lama menyebut dirinya hamba Tuhan tapi hambanya dikecilin gitu ya. Font-nya dikecilin ya, Tuhannya digedein. Saya ini hamba Tuhan, wah gitu ya. Pokoknya biar saya tuh dekat sama Tuhan. Yang saya ngomongin adalah kalimat Tuhan maka kamu tidak boleh kata no. Kamu nggak boleh bilang tidak kepada saya, gitu. Saya nih hamba Tuhan, gitu ya. Tapi Paulus mengingatkan ya, kita ini sampai kapan pun, sesenior apa pun, sepintar apa pun, seberpengalaman apa pun, atau setinggi apa pun jabatan kita, ini bahkan Rasul, ya, yang ngomong Rasul, kita ini tetap hamba-hamba Kristus Yesus.
Salah satu bagian dari kerendahhatian adalah menyadari identitas kita sebenarnya siapa. Jangan kita lihat, “Oh, saya nih di perusahaan saya bos, lho, ya. Saya bos,” gitu, ya. “Oh, saya nih di kepolisian saya nih jabatan apa,” gitu, ya. Nggak, yang Paulus katakan justru, “Ingat, identitasmu yang paling core, yang paling pusat adalah di hadapan Tuhan, kamu ini cuma hamba.” Doulos, ya. Hamba kadang terlalu halus, Bapak, Ibu, ya. Terjemahan lebih frontalnya sebenarnya budak. Kami ini budak-budaknya Kristus Yesus. Benar-benar kami terikat sama Tuhan, kami nggak bisa seenak kami. Tuhan kasih perintah dulu, baru kami bisa jalan. Nggak boleh, “Oh, ide kami, ide saya,” nggak. Pokoknya perintah Tuhan apa, ya, baru saya jalankan. Bukan budak-budak yang punya ini, ya, kuasa atas tuannya. Nggak. Ya budak hanya budak.
Dan di sini juga Paulus memberikan dirinya seperti ada satu equality sama Timotius, satu seperti kesamaan/kesamarataan posisi begitu, Bapak, Ibu, ya. Memang kita harus mengingatkan, Bapak, Ibu, ya, bahwa di dalam namanya gereja, di dalam 1 Korintus Paulus menjelaskan bahwa yang namanya kepala gereja itu Kristus. Kita semua ini anggota-anggota-Nya. Kepalanya Kristus, dan kita semua anggota-anggota-Nya, termasuk para pemimpin gereja adalah anggota-anggota tubuh Kristus. Itu baru namanya gereja yang sehat, yang sadar identitasnya.
Lalu kemudian penerima surat ini, “Kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi dengan para pengawas jemaat dan diaken.” Ya, di sini satu salam yang unik, Bapak, Ibu. Biasanya Paulus cuma tulis, “Kepada semua orang kudus di tempat ini,” misalnya begitu. Galatia misalnya, atau kalau Galatia secara khusus, “Kepada gereja-gereja di Galatia.” Di surat yang lain, “Kepada seluruh orang kudus di mana,” begitu, ya. Tapi baru kali ini, di surat ini, di surat Filipi, baru kali ini, “Kepada semua orang kudus di Filipi dengan para pengawas jemaat dan diaken,” jadi para pemimpin gerejanya juga disebut, Bapak, Ibu. Ini kan juga menekankan bahwa semuanya tuh equal, Bapak, Ibu. Secara panggilan, secara pekerjaan, secara jabatan bisa berbeda, tetapi di hadapan Tuhan, levelnya itu atau statusnya itu sama, ya, semuanya adalah penerima surat Filipi ini.
Dan kita tahu surat Filipi ini adalah pimpinan Roh Kudus bagi Paulus, sehingga ini adalah firman Tuhan. Firman Tuhan itu berlaku untuk bukan cuma jemaat awam, tapi juga termasuk kepada para pemimpin gereja. Seluruh firman Tuhan itu diberikan kepada seluruh anggota tubuh Kristus, terlepas jabatan dia apa. Maka ini juga satu bagian untuk mengajarkan kerendahhatian, Bapak, Ibu semuanya, ya. Ya, tidak jarang saya melihat, gitu, ya, gereja-gereja di tempat lain yang di mana para pemimpin gereja itu merasa, “Ya, saya pemimpin. Kamu khotbahnya ke yang awam aja. Oh, tuh, tuh, baru Kristen, tuh. Kamu khotbah ke dia aja. Saya sudah berapa puluh tahun jadi Kristen. Saya ini sudah jadi diaken, saya sudah pernah jadi penatua, udah nggak perlu dikhotbahin saya. Kamu khotbahnya ke yang itu-itu aja, yang baru-baru itu.” Wah, kan, apakah benar demikian, Bapak, Ibu? Ya, tidak, ya. Salah, ya. Kita membutuhkan firman Tuhan seumur hidup kita. Kita membutuhkan firman Tuhan seumur hidup kita, terlepas jabatan kita apa, posisi kita apa, terlepas umur kita berapa. Semua selalu membutuhkan firman Tuhan.
Baru-baru ini saya mencoba menyelesaikan pembacaan Alkitab lagi. Waktu saya sampai di kitab Ulangan, saya membaca lagi, Bapak, Ibu, secara khusus di Ulangan pasal 17, perintah Tuhan bagi raja Israel. Raja itu punya kewajiban, dia harus punya salinan kitab Ulangan dan harus membacanya seumur hidup, harus merenungkan firman Tuhan dari hukum Taurat seumur hidup. Jadi raja Israel itu bukan, “Wah, seenak saya, ya. Saya raja! Suka-suka saya, dong, mau ngapain? Saya raja, kok.” Nggak. Tuhan katakan, “Kamu terikat sama hukum Taurat ini. Kamu harus renungkan seumur hidup.” Saya kebayang Bapak, Ibu ya, waktu baca ayat itu, Tuhan tidak katakan, “Oh, kamu baca saja Taurat 5 kali pasti sudah hafal. Ya sudahlah, 5 kali cukup. Atau kalau belum hafal, ya, 10 kalilah baca ulang-ulang kitab Taurat, ya.” Cukup? Nggak. Tuhan tidak katakan cukup 5 kali atau cukup 10 kali. Tuhan katakan seumur hidupmu kamu harus baca. Dan saya rasa itu berlaku bukan hanya untuk raja, Bapak, Ibu. Zaman dulu kan memang namanya Alkitab itu kan, nggak gampang Bapak, Ibu, ya. Media tulis itu tidak mudah. Zaman dulu itu kan apa-apa semuanya serba verbal. Karena bahan untuk menulis itu semua itu mahal, Bapak, Ibu. Maka, paling sedikit orang Lewi, imam itu harus tahu Taurat. Lalu kemudian raja juga harus tahu Taurat. Tapi, kita sekarang Bapak, Ibu, mendapatkan begitu banyak anugerah. Alkitab begitu gampang. Nggak punya uang pun kalau punya HP bisa tinggal download Bapak, Ibu. Tinggal lihat internet banyak gitu, ya, versi Bahasa Indonesia. Mau Bahasa Indonesia sehari-hari, mau Bahasa Indonesia yang Alkitab yang terbuka, lalu ILT, segala macam, sekarang sudah ada TB2, begitu gampang, Bapak, Ibu. Maka ini juga menjadi satu tanggung jawab kita terhadap anugerah yang Tuhan berikan. Firman Tuhan kita butuhkan seumur hidup kita.
Lalu yang terakhir, salam Paulus kepada jemaat, “anugerah dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.” Ini adalah salam yang umum, Bapak, Ibu, semua. Paulus kebanyakan memakai salam ini. Anugerah atau bahasa TB1-nya, kasih karunia, ya, sama sih, ya, anugerah dan damai sejahtera itu menyertai kamu. Kita membutuhkan dua ini Bapak, Ibu. Anugerah adalah berarti sesuatu yang baik yang Tuhan berikan, yang kepada kita padahal kita tidak layak terima. Itu anugerah Bapak, Ibu. Sesuatu yang kita tidak layak terima tapi Tuhan berikan itu namanya anugerah. Dari anugerah tersebut baru bisa ada yang namanya damai sejahtera, Bapak, Ibu. Damai sejahtera, ya, di sini, Bahasa Yunani-nya, eirene, dan kalau kita kembalikan ke Bahasa Ibrani-nya, berarti, shalom. Shalom. Totalitas dari wellbeing, ya. Kebaikan dari keseluruhan terutama ketika berbicara tentang relasi, saya ada damai dengan Allah, saya ada damai dengan sesama saya, dan saya ada damai juga dengan hati saya sendiri. Itu shalom, Bapak, Ibu, dari segi relasi.
Bagaimana bisa mengalami shalom itu? Pertama-tama harus ada anugerah Tuhan. Dan secara khusus, Injil yang Paulus beritakan kepada jemaat Filipi. Di surat Efesus, Injil itu disebut sebagai Injil damai sejahtera, Bapak, Ibu. The gospel of peace. Karena memang Injil itu adalah anugerah yang membawa shalom, Bapak, Ibu. Shalom yang sejati tidak bisa lepas dari Injil. Karena Injil itulah yang membuat kita bisa berdamai dengan Allah, membuat kita bisa kemudian berdamai dengan manusia dan juga berdamai dengan diri kita, Bapak, Ibu. Tanpa Kristus mati di atas kayu salib nggak ada pengharapan. Harus Anak Allah itu datang menebus kita, menghapuskan dosa kita dan dikatakan Dia memperdamaikan relasi kita dengan Allah dan relasi damai kita dengan Allah itu harus terpancar di dalam relasi kita dengan sesama dan juga kita terhadap diri kita. Maka ini menjadi satu hal yang penting, Bapak, Ibu, semua. Ini menjadi satu salam dan pembuka juga yang menghantarkan kita isi surat ini yang Paulus di mana berbicara banyak tentang Injil, tentang kesatuan, tentang karya Kristus, dan tentang sukacita yang dihasilkan dari anugerah-Nya. Mari kita berdoa.
Bapa yang di surga, kami bersyukur karna kami bukan orang-orang yang Tuhan tinggalkan begitu saja, tapi Tuhan terus menyertai kami, menyertai gereja-Mu Tuhan di sepanjang sejarah sampai Engkau datang kembali. Dan itulah memang janji-Mu, ya, Tuhan, Engkau menyertai kami sampai kesudahan zaman. Ajarlah kami, ya, Tuhan, untuk melihat penyertaan-Mu. Ajarlah kami juga untuk bisa menghargai, menghormati anugerah-Mu, dan menikmati sukacita serta damai sejahtera dari-Mu, ya, Tuhan, ajarkan kami untuk bagaimana bisa hidup di dalam sukacita Tuhan ketika kami hidup untuk Kristus. Ajarkan kami untuk bisa merenungkan bahwa sungguh kami membutuhkan Firman itu setiap hari, seumur hidup kami dan bahwa kami harus terus mengingat identitas kami, bahwa kami hanyalah hamba yang harus tunduk taat sepenuhnya kepada Tuhan kami yang di surga. Terima kasih, ya, Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
