Yoh. 8:48-59
Pdt. Dawis Waiman, M. Div
Kita pada waktu membaca bagian ini, ada terdapat dua kata “truly truly” yang muncul di sini, atau “sesungguh-sungguhnya”. Pertama adalah di dalam ayat 51, di mana Yesus berkata, “Sesungguhnya barang siapa berkata Ia menuruti firman-Ku, Ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Lalu yang kedua adalah di dalam ayat yang ke 58, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”
Nah Bapak, Ibu, yang dikasihi Tuhan, hari ini kita tidak akan masuk ke dalam bagian kedua dari kata sesungguhnya ini. Hari ini kita juga tidak akan masuk terlalu masuk ke dalam bagian pertama dari kata sesungguhnya ini, tetapi yang mau saya ajak kita lihat berdasarkan overall atau overview daripada apa yang Injil Yohanes katakan mengenai Yesus Kristus, yaitu pada waktu kita bicara yang sesungguh-sungguhnya kita harus mengerti ini dari kacamata yang dikatakan oleh Yohanes di dalam Yohanes pasal 20 di mana Yohanes berkata, “ketika aku menulis Injil ini, aku mencatat mengenai tanda-tanda yang dilakukan oleh Yesus Kristus”. Dan tujuannya apa tanda-tanda itu diberikan? “Yaitu supaya kamu percaya Yesus lah Mesias, Yesus Anak Allah, supaya kamu oleh karena imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Pertama kita akan melihat hal ini. Lalu yang kedua adalah kita akan melihat mengenai kenapa Yesus berkata “sesungguhnya barang siapa menuruti firman-Ku, tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Apa yang dimaksud dengan kalimat ini? Tetapi sebelum kita masuk ke dalam kalimat ini, hal kedua yang akan kita bahas adalah berkaitan dengan apa yang menjadi kondisi dari manusia sehingga kalimat ini harus keluar dari mulut Yesus Kristus sendiri.
Nah bicara mengenai kalimat di dalam ayat 51, “Sesungguhnya barang siapa menuruti firman-Ku, Ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Saya percaya ini adalah kalimat yang sangat penting sekali, dan ini adalah kalimat yang sangat berani sekali dari Yesus Kristus. Dan ini adalah kalimat yang beda artinya dengan apa yang dikatakan oleh Yesus dalam Yoh. 6:47. Kalau Bapak , Ibu buka dari Yoh. 6:47, dikatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barang siapa percaya, Ia mempunyai hidup yang kekal.” Jadi pada waktu Yesus berkata, Ia akan hidup selama-lamanya, maut tidak akan dialami oleh orang tersebut, apa yang dimaksud oleh Yesus? Yaitu setiap orang yang percaya kepada Kristus, setiap orang yang mendengarkan perkataan Kristus, kita akan ada di dalam kondisi yang dikaruniakan hidup yang kekal atau mengalami satu kondisi yang tidak pernah akan mengalami kematian sampai selama-lamanya. Nah ini yang membuat saya tadi katakan, ini adalah perkataan yang begitu berani, ini adalah perkataan yang sangat-sangat jelas sekali, dan saya kalau kita bandingkan atau kita bandingkan dengan semua pemimpin agama yang ada di dalam dunia, tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengatakan kalimat ini dari mulut mereka, kecuali Yesus Kristus.
Apa yang membuat Yesus berani mengatakan hal ini? Tentunya kita akan melihat bahwa Dia bukan sekedar nabi, Dia adalah Allah yang menjadi manusia, Dia adalah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup bagi orang yang berdosa. Nanti kita juga akan lihat bagaimana Yesus menyatakan kebenaran-kebenaran ini kepada kita, atau kepada orang-orang yang sezaman dengan diri Dia. Tetapi pada waktu berbicara kebenaran ini, C.S Lewis itu pernah mengatakan satu hal, di dalam bukunya Mere Christianity, dia berkata, pada waktu Yesus mengatakan kalimat demi kalimat yang Dia katakan, maka tidak ada satu orang pun yang tidak akan berespons terhadap kalimat yang Yesus katakan. Semua yang Yesus katakan pasti menuntut pertanggungjawaban, pasti menuntut orang harus bereaksi terhadap apa yang Dia katakan. Dan reaksi yang Dia katakan itu, atau reaksi yang Dia berikan menuntut ada 2 hal, pertama kita mengerti bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus adalah hal yang baik atau kita akan menolak dan berkata bahwa apa yang diajarkan oleh Yesus itu adalah sesuatu yang sesat, sesuatu yang jahat. Ini adalah respon yang bisa diberikan oleh manusia. Tapi sekali lagi pada waktu kita berbicara ini, nanti saya akan kaitkan pada poin kedua yang tadi akan kita bahas, kondisi manusia, tidak mungkin membuat kita menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus itu adalah sungguh-sungguh kebenaran yang akan membuat kita dari diri kita sendiri datang dan percaya kepada Kristus. Tetapi yang terjadi adalah kita tahu bahwa apa yang Dia katakan adalah kebenaran, kita tahu bahwa apa yang dikatakan tidak mungkin disangkali, tetapi di sisi lain ada orang yang mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus adalah sesuatu yang jahat.
Nah ini membuat pada waktu firman Tuhan itu dikabarkan kepada kita, perkataan Yesus diberikan, maka C.S Lewis berkata seperti ini, manusia pasti akan berespons. Tapi respon seperti apa yang manusia akan berikan? Ada tiga hal: Pertama adalah mereka berkata, Ia adalah orang gila. Kenapa Dia bisa gila? Karena Dia mengatakan hal-hal yang tidak mungkin dikatakan oleh manusia. Mungkin kalau di zaman kita, kita berkata dia adalah orang yang kena penyakit waham kebesaran yang mengatakan kalau dia adalah Allah, dia adalah orang yang bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat oleh manusia melalui mata fisiknya. Itu adalah respon pertama. Siapa Yesus? Dia adalah orang gila. Karena kata-kata yang Dia katakan adalah kata-kata yang tidak masuk akal. Tetapi ada yang kedua yang tidak mungkin tidak seekstrem dari orang yang pertama ini, yaitu mereka yang berkata Dia adalah pembohong. Kenapa Dia pembohong? Karena Dia berbicara hal-hal yang sebenarnya bukanlah kebenaran. Kenapa begitu? Karena Dia adalah manusia saja. Kenapa Dia sebagai seorang manusia berani-beraninya mengklaim diri sebagai Allah seperti itu, sebagai sumber kehidupan, sumber kebenaran bagi manusia. Itu sebabnya kelompok kedua berkata, “Kami tidak percaya bahwa Dia adalah seperti yang dia katakan. Dia pasti adalah pembohong.”
Tetapi kalau Bapak Ibu perhatikan di dalam kehidupan Yesus, baik itu dari kualitas karakter-Nya, ketepatan dari pembicaraan-Nya, ketidakmampuan orang untuk menyangga setiap kalimat yang Dia katakan, kemampuan Dia untuk berinteraksi dengan orang lain dalam komunikasi yang ada yang nyambung satu dengan yang lain, itu mau menunjukkan bahwa baik pendapat pertama Dia adalah orang gila ataupun pendapat kedua Dia adalah pembohong itu adalah sesuatu yang kita tidak bisa terima, karena kata-kata yang Yesus katakan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bahkan dunia sendiri mengakui bahwa Yesus Kristus adalah guru yang agung sekali. Moralitas-Nya sangat tinggi sekali. Pengajaran-Nya sangat-sangat tidak ada yang bisa menandinginya. Semua agama, semua yang menyatakan atau mengklaim diri mendapatkan wahyu dari Tuhan tidak pernah bisa menandingi moral dari Yesus Kristus dan pengajaran moral yang Yesus ajarkan kepada diri kita. Jadi itu sebabnya tadi saya katakan dua hal pertama menurut C. S. Lewis tidak mungkin benar, karena manusia ketika berkata Yesus gila, hidupnya tidak menyatakan kegilaan itu. Pada waktu dikatakan Yesus berbohong, semua catatan mengenai Yesus, baik itu yang percaya kepada Kristus ataupun yang di luar dari iman Kristen itu mengaku Yesus tidak bohong. Dia adalah guru moral yang sangat agung sekali.
Nah, ini membuat kita masuk ke dalam poin yang ketiga, yaitu pada waktu kita tanya, respon apa yang diberikan manusia ketika mendengar perkataan Yesus? Yaitu orang-orang yang mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus sungguh-sungguh adalah kebenaran. Kebenaran apa? Bahwa Dia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia sama seperti kita. Dia adalah Allah yang datang ke dalam dunia untuk menebus kita dari dosa. Dia adalah Allah yang ketika mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga, di dalam Dia sungguh-sungguh ada hidup itu. Dan perkataan-Nya adalah perkataan kebenaran. Dan perkataan-Nya adalah perkataan yang bisa membawa kita ke dalam hidup yang kekal.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini yang disaksikan oleh Yohanes ketika dia menulis Injil Yohanes. Dia mau kita sungguh-sungguh mengenal bahwa Dia adalah Mesias. Dia adalah Anak Allah yang hidup itu, Dia adalah satu-satunya Pribadi yang bisa mengaruniakan hidup yang kekal bagi barang siapa yang percaya kepada diri Dia. Tetapi pada waktu Yesus berbicara mengenai kebenaran dan kebenaran ini, sekali lagi, dapatkah manusia sungguh-sungguh menerima Dia? Dapatkah manusia sungguh-sungguh mengerti tentang kebenaran Kristus dari diri dia sendiri? Tadi saya mengutip dari Yoh. 7:12. “Pada waktu Yesus memberitakan itu, ada orang yang mendengar lalu mereka berkata, “Ia, orang yang baik.”” Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, pada waktu mereka berkata, “Dia adalah orang yang baik,” apakah sungguh-sungguh orang-orang ini adalah orang-orang yang mengerti bahwa Yesus adalah orang yang baik seperti yang Yesus inginkan? Apakah mereka sungguh-sungguh mengetahui bahwa Yesus adalah seorang yang betul-betul sempurna di dalam kebaikan? Dan tidak ada seorang pun yang bisa menandingi kebaikan Kristus?
Atau kalau saya pakai contoh daripada orang muda kaya itu. Ketika dia datang kepada Kristus, dia bertanya kepada atau memanggil Yesus dengan kalimat, “Guru yang baik, apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Pada waktu Yesus mendapatkan pertanyaan ini, Yesus berkata, “Mengapa engkau memanggil Aku baik? Bukankah hanya satu yang baik, yaitu Allah sendiri?” Kalimat ini bukan mau mengatakan bahwa Yesus sedang berkata, “Aku tidak sebaik yang engkau kira. Engkau mengatakan Aku yang baik dan engkau berharap bahwa Aku bisa mendidik sesuatu kepada engkau supaya engkau bisa menjadi orang yang baik seperti Aku yang baik ini.” Bukan begitu. Tetapi yang Yesus katakan adalah, “Tahu, tidak? Yang sungguh-sungguh bisa menyatakan kebaikan, yang sungguh-sungguh bisa hidup di dalam kebaikan, itu hanya Allah.” Nah, pada waktu orang kaya ini datang dan mendekati Yesus dan bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus saya lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Dia tidak mengerti. Dia tidak mungkin mencapai standar kebaikan Allah. Dia tidak mungkin bisa mendapatkan kebenaran melalui usaha dan –apa itu?– kebaikan ataupun sedekah yang dia lakukan. Dia tidak mungkin bisa mengasihi Allah dengan sepenuh hatinya, dengan segenap hatinya, jiwanya, akal budinya, dan kekuatannya. Dan itu terlihat sekali pada waktu Yesus berkata, “Sekarang kalau engkau ingin memperoleh hidup yang kekal, maka jual seluruh hartamu, bagikan kepada orang miskin, dan ikutlah Aku!” Dia baru sadar selama ini tuan dia, raja dia, atau tuhan dia, ndak pernah Tuhan, tetapi harta yang dia miliki.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya pada waktu kita berbicara, “Saya adalah orang yang merdeka. Saya adalah orang yang sudah dibebaskan.” Seperti itu. Apa yang menjadi dasar kita berkata “kita sudah dibebaskan”? Ciri atau tandanya itu apa? Ada yang mengatakan seperti ini: orang yang merdeka itu adalah orang yang tidak rugi apa-apa kalau dia kehilangan sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Makanya –atau saya ulangi, ya– orang yang merdeka itu adalah orang yang tidak merasa rugi apa-apa kalau dia kehilangan sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Makanya, kalau Bapak Ibu perhatikan, misalnya Abraham. Pada waktu dia dikaruniakan anak, yaitu Ishak, dan Tuhan berkata, “Abraham, korbankan anakmu ini kepada-Ku!” Abraham besok pagi langsung bawa Ishak pergi untuk dikorbankan. Karena apa? Karena dia tidak merasa terikat oleh anaknya. Dia tahu bahwa Tuhan lebih penting daripada Ishak dan Tuhan lebih berkuasa daripada apa yang dia bisa lakukan atau untuk memelihara Ishak. Tuhan bisa memberikan Ishak kepada dirinya ketika dia sudah tua. Sara mati haid. Itu berarti kalau Tuhan bisa membuat sesuatu yang mati menjadi hidup kembali. Alkitab berkata, “Dia juga percaya bahwa Allah sanggup untuk menghidupkan Ishak kembali.” Tapi, di sini kita tidak melihat hal itu terjadi karena memang tujuan Tuhan bukan untuk itu. Tapi tujuan Tuhan adalah untuk mendidik Abraham. Dia lebih mengasihi siapa? Apakah Allah atau anaknya itu? Dan Tuhan juga ingin mendidik Abraham untuk mengerti. Suatu hari yang akan dikorbankan itu bukan anakmu, bukan domba yang akan menggantikan anakmu. Tetapi adalah Yesus Kristus, Anak Allah, Anak domba Allah yang akan menghapus dosa dunia.
Lalu, kalau kita perhatikan hal yang lain: Rasul Petrus, rasul-rasul yang lain, pada waktu mereka mengikuti Yesus Kristus dan mendengar kalimat Yesus berkaitan dengan orang muda kaya ini, “Lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum daripada orang kaya masuk ke dalam kerajaan Sorga.” Lalu mereka gempar semua dan mereka berkata satu sama lain atau bertanya kepada Yesus, “Guru, bagaimana nasib kami? Kami sudah menyerahkan seluruhnya. Kami tidak lagi bekerja karena kami mengikut Engkau. Kami tidak mementingkan harta. Bahkan ada orang yang ditinggalkan oleh keluarganya demi untuk mengikut Yesus.” Yesus berkata –bukan berarti kalau kita mengikut Yesus, kita akan mendapatkan berlipat-lipat ganda, ya– tetapi di sini Yesus mau membicarakan seperti ini: Pada waktu kita melepaskan segala sesuatu demi Yesus Kristus, kita tidak akan pernah rugi! Yang nggak benar adalah selalu investasinya untung.
Saya ngomong kayak gini bukan berarti, “Oh, kalau saya lepaskan persembahan bagi gereja, maka Tuhan akan membalas berkali-kali lipat kekayaan bagi saya. Oh, kalau saya ditinggalkan oleh keluarga saya, saya pasti mendapatkan saudara yang banyak –seperti itu– teman yang melampaui daripada saudara saya atau keluarga saya.” Saya kira, poinnya bukan di situ saja, ya, tetapi yang lebih inti adalah pada waktu kita melepaskan segala sesuatu demi Yesus Kristus, maka kita harus mengerti bahwa tidak pernah ada yang namanya kerugian kalau kita investasi di dalam Kristus. Maafkan, kalau saya pakai bahasa ini, ya. Seolah-olah ini berbicara mengenai keuangan dan segala macam, tetapi ini melampaui hal yang berkaitan dengan uang.
Bapak, Ibu bisa lihat 1 Kor. 8 berbicara mengenai hal ini. Bapak, Ibu bisa lihat, Ef. 1 berbicara mengenai ini. Yaitu apa? Pada waktu kita investasikan hidup kita, segala yang kita miliki, potensi kita, pemikiran kita, tenaga kita, diri kita, hati kita kepada Tuhan, maka segala berkat rohani yang ada di surga itu menjadi milik kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini artinya adalah mungkin kita mengalami kerugian sementara dalam dunia ini. Mungkin kita dihina sementara waktu dalam dunia ini. Mungkin kita mengalami kesulitan dan penderitaan sementara waktu di dalam dunia ini. Tetapi, dunia yang di mana kita hidup ini adalah dunia yang sementara. Ini adalah tempat yang di mana kita in de kost di dalamnya. Kita hanya sementara waktu hidup di sini. Tempat di mana kita tuju yang sebenarnya itu bukan dunia ini, tetapi langit dan bumi yang baru. Makanya, kalau kita baca di dalam Mat. 5, ketika Yesus berbicara mengenai ucapan bahagia, salah satu poin dari ucapan bahagia yang penting adalah, “Berbahagialah mereka yang lemah lembut.” Saya tafsirkan itu yang memiliki hati yang sungguh-sungguh lembut kepada perkataan Tuhan. Maka, mereka akan memiliki bumi. Artinya adalah kita akan terus ada dan hidup dan tinggal di bumi ini, bahkan masuk ke dalam langit dan bumi yang baru.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tidak ada seorang pun yang menyerahkan hidupnya secara total kepada Tuhan yang bisa berkata bahwa, “Aku mengalami kerugian.” Banyak orang berkata, termasuk salah satunya kalau nggak salah adalah Polikarpus ya, pada waktu dia ditangkap oleh Kaisar Roma, prajurit Roma karena imannya kepada Tuhan, dia ingin dibakar hidup-hidup karena imannya kepada Kristus, pada waktu itu, orang Roma berkata kepada Polikarpus, ”Sekarang, sangkal imanmu. Kalau engkau tidak menyangkal imanmu, engkau akan dibakar hidup-hidup. Tetapi kalau engkau menyangkali Yesus, engkau akan dibebaskan.” Dan Polikarpus berkata, “Selama aku hidup, seumur hidupku…” saya lupa, waktu itu dia usia berapa, tetapi dia berkata seperti ini, “…Yesus Kristus tidak pernah mengecewakan diriku sama sekali.” Padahal, dia mau mati. Padahal dia dianiaya. Padahal dia diikat dan akan dibakar hidup-hidup oleh Tuhan.
Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai Yesus berkata mengenai “baik” itu, maka “baik” yang kita pahami itu menurut apa yang Yesus katakan atau tegakkan atau tidak? Dan kalau kita betul-betul menurut apa yang Yesus ajarkan, yang Yesus tetapkan, termasuk Bapak, Ibu bisa bandingkan ini dalam Mat. 5, di situ, Yesus bukan menentang orang-orang ahli Taurat dan Farisi dan mengajarkan sesuatu yang salah seperti itu, tetapi yang Yesus katakan adalah yang diajarkan orang Farisi dan ahli Taurat itu adalah satu pengajaran yang menurunkan derajat tuntutan dari firman Tuhan. Dan Yesus mengembalikan kepada posisinya yang membuat orang menyadari seperti apa Paulus katakan dalam Roma 3, hukum Taurat diberikan bukan supaya kita bisa menaatinya dan mendapatkan kebenaran di dalamnya, tetapi hukum Taurat diberikan kepada kita supaya kita menyadari kalau kita adalah orang yang berdosa, orang yang jahat, orang yang harus dihukum oleh Tuhan Allah.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tidak ada orang yang sebaik Allah. Tidak ada orang yang sebenar Allah. Tidak ada orang yang sekudus Allah dan tidak ada seorang pun yang sanggup untuk mencapai kebenaran, kebaikan, dan kekudusan dari Tuhan Allah, kecuali Allah sendiri dan Yesus Kristus yang adalah Allah yang inkarnasi menjadi manusia. Itu sebabnya, pada waktu kita mendapatkan perkataan Yesus atau mendapatkan perkataan dari orang-orang mengenai Yesus Kristus bahwa Dia adalah orang yang baik, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan mohon tanya, orang yang mengatakan Yesus baik, di mana mereka pada waktu Yesus berhadapan dengan Pilatus dan pada waktu Yesus naik ke atas kayu salib? Kita mengetahui dari Injil Yohanes dan Injil yang lain itu berkata mereka pun setuju untuk Yesus disalibkan, mereka menghendaki Yesus untuk mati. Jadi dari sini kita ketahui bahwa pada waktu kita berbicara mengenai kebaikan, kebaikan menurut konsep orang-orang ini hanya kebaikan yang mungkin melihat Yesus lebih baik dari semua orang yang lain. Tapi mereka tidak melihat Yesus adalah baik seperti apa yang Tuhan Allah atau seperti Tuhan Allah sendiri yang adalah baik dan tidak ada bayang-bayang kegelapan pada diri Dia. Ini yang membuat tadi saya katakan kita perlu hati-hati.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai hal ini, ada hal kedua yang kita juga perlu perhatikan. Pada waktu Yesus ada dalam dunia, Yesus memberikan tanda itu. Yesus memberikan pengajaran-pengajaran untuk merujuk kepada tanda itu, untuk mengkonfirmasi bahwa apa yang Dia lakukan, apa yang Dia ajarkan sungguh-sungguh bersumber dari Bapa, sungguh-sungguh merupakan penggenapan dari perkataan para nabi. Contohnya apa? Kalau Bapak, Ibu boleh bersama-sama buka dari awal ya, Yoh. 2, ada perkawinan di Kana. Di situ Yesus mengubah air menjadi anggur di perkawinan itu. Lalu pada waktu Yesus masuk ke dalam bait Allah, Yesus mengobrak-abrik Bait Allah, lalu Dia menegakkan kebenaran yang harusnya dilakukan di dalam Bait Allah. Dan di situ Dia katakan, “Ini rumah Bapa-Ku. Kenapa engkau gunakan untuk menjadi sarang penyamun seperti itu?” Nah, ketika Dia ditanya, “Apa hakmu?” Yesus berkata, “Rombaklah Bait ini, yaitu Dirinya sendiri dan hari ketiga aku akan membangunnya kembali.” Mereka nggak percaya dan mereka begitu benci kepada Yesus Kristus. Lalu misalnya pada waktu kita membaca Yesus di pasal yang ketiga, Yesus berada di, bersama dengan siapa ini? Nikodemus. Lalu di dalam percakapannya dengan Nikodemus, Yesus mengutarakan mengenai orang yang harus dilahirbarukan. Tapi masuk ke dalam pasal 4, Yesus berkata Dia adalah air hidup itu kepada perempuan Samaria. Dan setiap orang yang percaya kepada diri Dia akan memiliki aliran air hidup itu yang tidak akan berhenti dalam hidup dia. Dan perempuan Samaria ini kemudian betul-betul menyadari Yesus adalah nabi. Bahkan Yesus mengungkapkan pada dirinya, “Aku adalah Mesias itu.” Dia pergi ke kampung lalu bawa orang untuk mendengarkan pengajaran Yesus dan berkata, “Siapa orang yang mampu menunjukkan kesalahan saya? Siapa orang yang bisa memberitahu saya kalau saya sebenarnya tidak memiliki suami? Kalau dia bukan nabi, siapa dia?” Dan orang banyak datang untuk mencari Yesus dan ingin bertemu dan mendengar pengajaran Yesus Kristus.
Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, di sini saya mau katakan satu hal, ya, pertobatan diawali dengan satu kesadaran kita adalah orang berdosa. Tanpa kesadaran saya adalah orang berdosa, saya adalah orang yang bermasalah, kita nggak mungkin akan lakukan atau mengalami pertobatan dalam hidup kita. Tetapi orang yang menyadari dosa, dia bisa meratap, dia bisa merasa menyesal akibat kelakuan yang dia lakukan. Tetapi penyesalan yang dia lakukan, kesedihan yang dia nyatakan akan perbuatan dia itu bukan pertobatan, itu hanya mau menyatakan dia tahu kalau dia bermasalah. Lalu yang dimaksud pertobatan yang sejati itu apa? Yaitu ketika dia tahu dia salah, dia tinggalkan dosanya itu, perbuatannya itu, dan dia langsung mengikut Kristus. Itu namanya pertobatan. Saya kutip ini kemarin saya katakan di dalam KTB Bapak Ibu. Saya kutip perkataan Spurgen, dia berkata seperti ini, “Semua orang yang berbicara diri dia ada di dalam proses. I am in process adalah orang yang sebenarnya tidak pernah bertobat. Semua orang yang mengatakan dirinya l’m in process itu adalah orang-orang yang ada di dalam kondisi yang berbahaya dalam hidupnya. Kenapa berbahaya? Karena dia menggunakan satu istilah yang kelihatannya rohani, kelihatannya baik untuk membuat dia dihiburkan tetapi sebenarnya dia tidak pernah bertobat dari dosanya. Karena setiap kali dia berkata saya masih di dalam proses. Proses apa? Proses pengudusan? Kalau di dalam proses pengudusan ada tindakan meninggalkan dosa tidak? Kalau tidak ada itu berarti saya masih dalam perasaan saya yang diombang-ambingkan oleh rasa bersalah, rasa penyesalan karena saya terus hidup dalam dosa, tapi saya tidak pernah menyangkal diri mengambil keputusan meninggalkan dosa dan mulai hari ini saya mengikut Tuhan.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu sebabnya Spurgeon berkata penyesalan, pertobatan, kesedihan, dukacita atas dosa itu adalah satu kesadaran tetapi itu bukan pertobatan. Tetapi orang untuk mau masuk ke dalam pertobatan dia harus mengerti kalau diri dia adalah orang yang berdosa atau orang yang bermasalah dengan Tuhan Allah. Itu hal yang kita perlu sadari ya. Baru kita menyadari kita butuh dokter atau butuh Kristus di dalam hidup kita.
Saya lanjutkan ya, Yesus ketika berhadapan dengan perempuan Samaria, Dia menunjukkan dosanya dan perempuan Samaria itu sadar nggak ada orang yang pernah memberi tahu orang asing ini apa yang menjadi dosanya tapi Dia tahu akan dosa dia. Dan dia membuka hal itu kepada seluruh orang di Samaria sehingga kota Samaria berduyun-duyun datang kepada Kristus untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Mungkin saya kasih catatan sedikit. Kalimat “perempuan Samaria memberitahu kota Samaria tentang dosanya” itu bukan berarti kita perlu mengungkapkan dosa kita di semua orang ya. Kecuali kalau dia pemimpin gereja, baik itu hamba Tuhan atau pengurus gereja, penatua gereja, ketika melakukan dosa, Paulus berkata dosa mereka harus diumumkan di seluruh jemaat. Tetapi hal ini bukan berarti setiap orang yang melakukan dosa harus diumumkan. Kenapa perempuan ini umumkan? Mungkin karena seluruh kota itu sudah tahu dosanya maka dia beritahu hal itu.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin saya melebar sedikit ya, Pak Tong itu pernah bicara seperti ini; kalau kita itu bersalah sama satu orang, kita cukup minta maaf kepada satu orang. Tapi kalau kita bersalah kepada 100 orang, minta maafnya sama berapa orang? Satu orang? Nggak! Harusnya 100 orang. Kalau kita salah kepada 1000 orang, kita harusnya minta maaf kepada 1000 orang. Itu adalah hal yang benar ya. Nah, saya kembali ke sini ya, perempuan Samaria itu menyadari dosanya, akhirnya dia mengenal Kristus dan dia percaya kepada Kristus.
Lalu kalau Bapak, Ibu bandingkan lagi ke dalam Yoh. 6, Yesus berkata Dia adalah roti hidup, tapi sebelum Dia memberi tahu kalau Diri-Nya adalah roti hidup yang Dia lakukan adalah Dia membuat 5 roti dan 2 ikan, hal yang tidak mungkin untuk mencukupkan, kira-kira, 15.000 – 20.000 orang itu terjadi. Dan ketika hal itu terjadi, dan murid-murid bisa mengumpulkan 12 bakul sisa dari makanan itu, maka Yesus berkata “Akulah roti hidup itu”. Tapi sebelum itu ada kalimat juga, Yesus berkata bahwa Dia memiliki kuasa untuk membangkitkan orang yang lumpuh atau mengampuni dosa dengan menyembuhkan orang yang lumpuh yang ada di kolam Bethesda itu yang telah lumpuh selama 38 tahun dalam hidupnya.
Bapak, Ibu bisa susurin ini satu per satu ya, dan ketika Bapak, Ibu susuri, kita bisa menemukan satu hal, Yesus tidak pernah tidak jelas di dalam mengajarkan mengenai diri Dia. Yesus Kristus tidak pernah abu-abu dan ngalor ngidul untuk mengatakan kebenaran Allah. Dan Yesus Kristus dengan jelas dan pasti membuktikan bahwa setiap perkataan-Nya itu adalah perkataan yang benar. Waktu Dia berkata, “Anak manusia bisa mengampuni dosa”, Dia bisa buktikan kuasa Dia untuk mengampuni dosa dengan membuat orang yang lumpuh berjalan. Pada waktu Yesus berkata, “Aku memiliki kuasa untuk mentahirkan”, Dia bisa membuat orang yang sakit kusta itu tahir daripada kustanya. Pada waktu Yesus berkata, “Aku adalah terang itu yang bisa mencelikkan mata orang buta”, maka Dia membuat orang buta melihat. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, setiap perkataan Kristus penuh dengan kuasa dan orang harus meresponi perkataan Yesus. Tetapi pada waktu orang mendengar itu, apa yang orang lakukan? Yang terjadi adalah mereka kemudian berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”
Nah mengapa hal ini terjadi? Itu mau menunjukkan satu hal, sebelum kita bahas yang kedua ya, manusia betul-betul ada di dalam kegelapan. Ini hanya mau menunjukkan hati manusia itu betul-betul jahat sekali. Hati manusia itu seperti tangan orang yang kalau push-up itu sudah kapalan, yang nggak ada rasa sakit sama sekali. Ketika dia menaruh tangannya di tanah atau di lantai atau memukulkan tangannya ke tembok. Sekeras apa pun dia pukul, dia nggak akan rasa sakit karena sudah kapalan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab mau mengatakan kondisi manusia ketika jatuh di dalam dosa jangan pikir dengan kesadaran diri akan mampu untuk melihat pada terang, lalu datang dengan kesadaran sendiri kepada terang itu. Tapi Yesus berkata bahwa yang benar adalah walaupun Yesus sudah memberitakan fakta itu, kebenaran itu kepada manusia, nggak ada satu orang pun yang bisa datang dengan kesadaran sendiri kecuali kalau Allah Roh Kudus bekerja di dalam hatinya. Makanya, di dalam Yoh. 3 dikatakan, “Kalau orang tidak dilahirkan kembali, maka dia tidak mungkin akan melihat Kerajaan Allah.”
Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, hati-hati, ya. Jangan cuma berpikir menjadi orang Kristen itu cukup mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Itu tidak membuktikan kita Kristen. Yang membuktikan kita Kristen adalah kehidupan baru yang kita nyatakan dalam diri kita. Dan kehidupan baru itu berbeda dari kehidupan orang Farisi yang hanya menyatakan kehidupan di luar, kebaikan di luar, tetapi hatinya penuh dengan tipu muslihat, penuh dengan kesombongan, penuh dengan penghargaan terhadap diri. Maka Yesus berkata, “Engkau Farisi, luar seperti kuburan yang dilabur putih, tetapi di dalam penuh dengan tulang belulang yang busuk itu.” Bukan seperti itu. Tapi yang Yesus katakan adalah pada waktu kita percaya kepada Kristus, terjadi kelahiran baru dalam diri kita. Maka perubahan itu adalah perubahan dari dalam hati yang menuju kepada kebenaran yang Tuhan katakan dari perbuatan yang kita nyatakan. Tanpa pekerjaan itu nggak mungkin seorang pun yang bisa datang kepada Kristus dan memperoleh hidup.
Nah, ini membuat kita masuk ke dalam 3 aspek terakhir, ya. Pada waktu kita bertanya, kenapa begitu? Tadi saya katakan karena hati manusia berdosa. Apa dampak dari dosa? Dia seperti kulit yang sudah kapalan. Walaupun ada kebenaran yang dinyatakan, tapi dari dirinya sendiri dia nggak mungkin bisa meresponi kebenaran itu. Dari mana kita tahu kita bermasalah dalam hidup kita? Tadi saya ngomong kita nggak bisa berespon, tapi saya urut kembali, ya. Hal pertama kita tahu kita bermasalah dari mana? Karena kita mengalami kematian dalam hidup kita. Saya percaya pada waktu Tuhan mengizinkan manusia mengalami kematian secara fisik, salah satu sebabnya adalah untuk memberi bocoran kepada kita manusia itu bermasalah. Ada kematian. Dan kenapa kematian menjadi masalah? Karena kematian bukan rancangan Allah yang semula bagi manusia. Rancangan Allah yang bagi manusia adalah hidup selama-lamanya. Tapi karena manusia melanggar hukum Tuhan, maka manusia mengalami kematian dalam hidup dia. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kematian bukan hal yang baik. Semua orang yang mengalami kematian, saya percaya pasti tahu kematian bukan hal yang baik. Di situ ada kejelekan, di situ ada keputusasaan dan tidak ada pengharapan. Itu adalah orang yang mengalami kematian dan keluarga yang melihat orang yang mengalami kematian. Tetapi kenapa perasaan itu bisa muncul di dalam diri kita? Sebabnya karena pada waktu Allah mencipta kita, Allah mencipta kita berbeda dari binatang. Allah mencipta kita dengan jiwa yang kekal. Allah mencipta kita dengan satu kesadaran bahwa semua manusia harus bertanggung jawab di hadapan Allah suatu hari di dalam kehidupannya. Dan pada waktu manusia mati, dia sadar ada jiwa yang meninggalkan tubuhnya. Itu namanya kematian pertama.
Jadi, dosa membuat manusia mati. Dan kematian pertama adalah kematian fisik atau jasmani, supaya apa? Kita mengerti bahwa ada masalah dalam hidup manusia. Harusnya manusia mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya dan manusia mencari jalan keluar. Karena ketika manusia mati, ada jiwa dalam diri kita yang akan bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Yang kedua adalah kematian dalam pengertian rohani. Maksud rohani apa? Kalau yang fisik, jiwa meninggalkan tubuh. Tubuh yang terpisah dari pada jiwa itu adalah kematian fisik. Tapi kematian rohani adalah jiwa yang terpisah dari Allah. Itu adalah kematian rohani. Jadi pada waktu kita jatuh dalam dosa, yang terjadi dalam hati kita, diri kita adalah saya tidak menginginkan Tuhan. Saya mau jauh dari Tuhan, dan ditandai dari apa? Sering kali kita malas baca Firman. Sering kali orang Kristen pun yang telah ditebus oleh Tuhan ketika melihat Alkitab, itu adalah obat ngantuk yang paling manjur untuk tidur. Kadang-kadang kita tidak ingat apa yang Firman Tuhan katakan dan kita juga merasa nggak terlalu harus menuntut diri mengerti Firman Tuhan. Tapi saya gunakan ini mau bukan untuk mau mengatakan, oh Bapak Ibu belum bertobat, kayak gitu, tapi saya mau mengatakan seperti ini, orang yang memiliki kesadaran akan kebenaran Tuhan, dia punya kepekaan lebih besar untuk bisa melihat kepada diri, dosa, dan orang yang hidup di dalam dosa. Orang yang hidup dalam dosa tanpa pernah diterangi oleh Tuhan dan kebenaran Tuhan, dia nggak akan merasa perlu pertobatan di dalam hidup dia. Tapi dia terus hidup di dalam dosa dan dia pikir dia adalah orang yang benar. Itu hanya menyatakan dia sudah mati secara rohani, hatinya sudah terpisah dari Allah dalam hidupnya, karena Allah adalah sumber kebenaran dan Allah adalah sumber terang dan kekudusan. Dan orang berdosa tidak menyukai ini. Jadi kalau Bapak, Ibu pikir kenapa orang itu jahat ya? Kenapa dia tidak mengasihi ya? Kenapa dia berbohong seperti itu? Dia merugikan orang banyak? Dia hanya menunjukkan dia berdosa. Dan itu adalah lumrah. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara, kalau terus hidup dalam dosa, di dalam kejahatan, di dalam kebohongan, di dalam penipuan diri, di dalam kesombongan, dan di dalam kehidupan yang tidak mengasihi, itu namanya tidak lumrah. Karena kita adalah orang yang baru, manusia baru, bukan manusia lama.
Jadi, dosa yang diakibatkan oleh dosa yang kedua, adalah ada kematian rohani dalam diri kita, sehingga pada waktu kita dipaparkan dengan firman, sering kali natur berdosa kita masih membuat kita merasa tidak terlalu nyaman untuk mendengar firman atau memilih-milih firman Tuhan dalam hidup kita. Ya ini saya kutip Spurgeon lagi ya, dia berbicara seperti ini, “setiap orang yang memiliki iman yang selektif, adalah orang yang belum bertobat.” Maksud iman yang selektif itu apa? Milih mana yang saya cocok saya lakukan, mana yang nggak merugikan saya, saya taati, tetapi begitu menuntut bayar harga, di situ saya mulai hitung-hitungan dengan Tuhan dan saya coba mencari alasan demi alasan untuk tidak mentaati firman Tuhan. Itu iman yang selektif dan Spurgeon berkata itu bukan pertobatan.
Yang ketiga adalah, dosa mengakibatkan kematian kekal. Kematian kekal ini apa? Yaitu baik jiwa kita, dan tubuh kita, dilempar selama-lamanya ke dalam neraka. Itu kematian kekal. Jadi ada tiga kematian, ya. Kematian fisik bicara mengenai jiwa kita yang terpisah dari tubuh. Kematian rohani berbicara mengenai jiwa kita yang terpisah dari Allah. Kematian kekal adalah jiwa kita dipersatukan dengan tubuh kembali lalu dilempar ke dalam neraka sampai selama-lamanya. Ya, itu adalah kematian yang terakhir, bukan berarti kita tidak sadar, bukan berarti kita musnah, kita tetap ada tapi selama-lamanya dibawah murka Allah dan hukuman dari Tuhan Allah. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini kondisi manusia yang ada di dalam dosa.
Nah, atas dasar ini saya intro untuk masuk ke dalam poin berkaitan dengan perkataan Yesus ya, tetapi nggak hari ini kitra bahas. Kita akan bahas dalam pertemuan berikutnya, yang membuat kita bisa mengerti mengapa Yesus bisa berkata “di dalam perkataan-Ku ada hidup dan siapa yang percaya kepada-Ku, dia tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kiranya Tuhan boleh memberkati kita, kita masuk di dalam doa.
Kami bersyukur Bapa untuk Firman-Mu, untuk kebenaran-Mu. Kami sungguh bersyukur atas segala hal Kristus boleh kerjakan bagi kami, tolong kami Bapa, ketika kami berjalan, kami boleh sungguh-sungguh melihat akan cinta kasih Kristus dan kuasa yang telah Kristus kerjakan dalam diri kami, tapi sebelumnya kami juga boleh melihat akan status kami, kondisi kami, jangan-jangan kami adalah orang yang mengaku Kristen tapi sebenarnya itu adalah penipuan yang kami lakukan kepada diri sendiri supaya kami menenangkan hati nurani kami, padahal tidak pernah ada pertobatan sama sekali dalam hidup kami. Tolong kami Bapa, sehingga kami boleh menjadi orang yang sungguh-sungguh mengalami pertobatan dan melihat Kristus adalah sumber hidup satu-satunya dan kami ada di dalam hidup itu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa, Amin.
