Pembaharuan, 11 Januari 2026

Yes. 43:14-21

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu sekalian, di dalam kehidupan kita sehari-hari kita tidak asing dengan hal yang lama maupun juga hal-hal yang baru. Ya dalam gereja-gereja tertentu ataupun komunitas-komunitas tertentu, menjelang tahun yang baru mereka ada ide untuk mengadakan satu acara namanya Old and New. Old berarti yang lama, new berarti yang baru. Dan mereka merenungkan tentang masa-masa yang lalu ya, tentang pengalaman yang dulu, tentang kegagalan, tentang keberhasilan di masa lalu atau kebiasaan-kebiasaan. Dan bicara soal tahun lalu bagaimana yang bagaimana mereka melihat tahun yang lalu. Tetapi juga bicara soal new berarti yang baru. Tahun yang datang kita mau menghadapinya bagaimana? Ada pengharapan, ada panggilan yang baru, mungkin ada cita-cita yang baru, ada suatu pembaharuan di dalam kehidupan kita. Mereka membicarakannya, ada kesaksian bagaimana kita menjalani di dalam waktu-waktu kehidupan mereka. Nah, segala pengalaman di masa lampau, segala kesulitan, penderitaan, kegagalan itu pada akhirnya menjadi suatu pelajaran untuk memasuki tahun yang mendatang. Masa depan itu kita boleh lebih baik ketika kita mempelajari sejarah, kita lebih hati-hati dan itu semua supaya kita memiliki kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna lagi di hadapan Tuhan untuk memasuki tahun-tahun kehidupan kita di masa depan. Itu berarti kita memikirkan ada progres, ada kemajuan dalam hidup kita dan kita juga tidak terjebak di dalam masa yang lalu sehingga pada akhirnya kita malah mengalami penurunan di dalam kehidupan kita, kualitas kehidupan kita.

Lalu juga kita bisa lihat ada toko yang namanya toko old and new juga yang menjual produk baru tetapi ada juga produk second ya. Ada produk yang unik, kuno, lama, tapi ada juga produk-produk yang baru yang lebih bermanfaat di zamannya. Dan pada akhirnya kita bisa lihat bahwa hal-hal yang lama, hal-hal yang baru itu saling berdampingan satu dengan yang lainnya. Ada suatu keunikan, keindahan, ada suatu manfaat yang kita bisa lihat baik di dalam yang lama maupun yang baru. Dan sebenarnya ini juga mencerminkan kehidupan rohani kita sebagai manusia, Bapak, Ibu sekalian ya. Alkitab sudah mengajarkan bahwa hidup orang Kristen itu di dalam dua fase kehidupan. Kita itu memiliki sebutan bahwa kita ini adalah manusia lama maupun manusia yang baru. Dulu kita manusia lama. Hidup manusia yang lama itu seperti apa? Jauh dari Tuhan. Sudah jatuh dalam dosa, terpisah relasinya dengan Tuhan. Itu manusia yang lama, manusia yang buruk, manusia yang penuh dengan dosa dan seharusnya kita mengalami kebinasaan. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa ketika kita hidup di dalam Kristus, hidup kita menjadi manusia yang baru. Kita memiliki natur manusia yang baru. Karena apa? Ada Roh Kudus di dalam kehidupan kita, di dalam hati kita. Ada Yesus Kristus dalam hati kita. Maka manusia yang baru ini melakukan sesuatu yang baru yang tidak bisa dilakukan oleh manusia yang lama. Kalau manusia yang lama hanya bisa melakukan dosa, dosa dan dosa, perbuatan baik pun ada ke unsur dosanya, keegoisan diri. Ya, beribadah pun kelihatannya seolah-olah beribadah kepada Tuhan yang mereka kenal, yang kita kenal. Tapi sebenarnya kita tidak mengenal siapakah Tuhan karena rohani kita sudah mati. Berdoa pun tercampur dengan dosa. Berbuat baik pun tercemar dengan kejahatan kita, keegoisan kita. Maka ada hal yang baru yang kita bisa lakukan di dalam Kristus, yaitu kita bisa murni melakukan sesuatu dengan tulus untuk Tuhan.

Maka perintah utama dari Tuhan Yesus Kristus adalah suatu perintah yang begitu agung yang hanya bisa dilakukan di dalam Yesus Kristus, yaitu apa? Mengasihi Allah segenap hati, bukan ada maunya. Saya akan mengasihi Allah kalau Allah pun mengasihi saya. Kalau Allah pun memberikan saya yang saya inginkan gitu ya. Kalau Allah mengabulkan doa saya baru saya mengasihi Allah. Itu tidak segenap hati. Kalau segenap hati berarti apa? Tulus. Karena perintah Tuhan saya mengasihi Tuhan dan karena kasih Tuhan terlebih dahulu maka saya mau mengasihi Dia.

Nah, maka Tuhan Yesus mengajarkan perintah utama yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap kekuatan, segenap jiwa, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Itu adalah perbuatan yang murni tanpa ada tujuan atau agenda yang berdosa, yang jahat. Kita sungguh-sungguh mengasihi orang karena mengasihi Dia. Kita mau memperhatikan dia karena memperhatikan dia. Bukan ada maunya, ada udang di balik batu. Maka ini adalah natur manusia yang baru. Kita mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita karena kita mengasihi Allah.

Di dalam 2 Kor. 5:17 di situ dengan jelas Paulus mengatakan bahwa “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan yang baru. Yang lama sudah berlalu. Sesungguhnya yang baru sudah datang.” Inilah dua jenis kerohanian seseorang. Sebelum dalam Kristus kita hanya punya satu kerohanian, yaitu kerohanian yang mati. Hanya lakukan dosa, tidak pernah murni melakukan ketaatan di hadapan Tuhan. Kerohanian yang lama ya adalah kerohanian yang terputus dengan Allah, tersesat, kita terhilang. Tetapi kemudian kerohanian yang baru adalah kita tersambung dengan Sumber Hidup. Kita tersambung dengan Allah. Kita memiliki kehidupan yang senantiasa diperbaharui oleh Roh Kudus.

Nah sebagai orang Kristen yang sudah lahir baru ya, maka ada sebutan kan lahir baru. Padahal yang lebih tepat adalah ketika Yesus bicara dengan Nikodemus istilahnya adalah lebih tepat lahir kembali karena kita sudah pernah lahir kayak gitu ya. Adam dan Hawa pernah dilahirkan atau diciptakan dalam dunia ini itu tanpa dosa. Nah, maka ketika kita dilahirkan kembali, maksudnya adalah kita dipulihkan kembali seperti kehidupan yang tanpa dosa, memiliki kuasa untuk melakukan yang bukan dosa. Ya, seperti ketika Adam dan Hawa diciptakan pertama kalinya, ya.

Nah, Alkitab mengajarkan bahwa kita dituntut –setelah memiliki kelahiran kembali– kita dituntut untuk senantiasa hidup baru, mengenakan manusia yang baru. Jangan manusia yang lama. Berarti asumsinya –Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya– ketika kita jadi manusia yang baru, manusia yang lama kita di mana? Kalau tuntutan Tuhan adalah, “Kamu sudah lahir kembali, lahir baru, terus kamu harus senantiasa mengenakan manusia baru atau mengenakan Yesus Kristus.” Jadi ada kalanya –sebagai manusia yang baru yang sudah ditebus dengan darah Kristus– ada kalanya kita tidak mengenakan Yesus Kristus. Kita buang Yesus Kristus. Kurang lebih gitu, ya. Kita simpan, kita hidup dengan diri kita sendiri. Berarti ngapain itu? Melakukan dosa.

Alkitab mengajarkan, “Ayo, terus! Kenakan Yesus Kristus! Kenakan manusia baru itu! Natur yang sudah diperbaharui oleh Roh Kudus.” Maka, berarti manusia lama di dalam diri kita, apakah hilang? Jawabannya: tidak hilang. Masih. Kita masih pribadi yang sama, sebelum kita bertobat, percaya kepada Yesus dengan setelah percaya kepada Yesus. Kita orang yang sama! Bukan berarti ketika kita sudah percaya Yesus, kita jadi pribadi yang baru, yang berbeda. Bukan. Tapi kita bertambah natur manusia yang baru.

Jadi, apakah manusia lama itu hilang –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– setelah kita jadi orang Kristen? Yang ada adalah pengalaman kita sendiri, itu adalah manusia lama. Kita ingat dosa-dosa kita di masa lalu. Tetapi bedanya adalah manusia lama itu kalah terhadap manusia yang baru. Jadi, tidak berkuasa lagi, tidak mencengkeram, membelenggu kita. Manusia lamanya masih ada. Bedanya adalah tidak ada kuasanya. Kita bisa kalahkan dengan manusia baru karena kuasa dari Roh Kudus. Masa Tuhan kalah sih sama manusia? Gitu, ya. Maka, yang kalah antara pertarungan manusia lama dan manusia baru adalah kita. Kita yang seringkali tidak gunakan kuasa dari Tuhan. Kita yang seringkali tidak gunakan Yesus Kristus. Manusia lama sudah mati, sudah turut disalibkan. Paulus bilang demikian, ya. Manusia lama sudah tidak lagi jadi identitas kita. Identitas kita adalah manusia baru. Manusia lama itu adalah gangguan-gangguan dalam kehidupan kita yang bisa saja muncul. Dan kita tetap bisa lakukan dosa karena kita tetap manusia yang berdosa. Cuman kuasanya itu kecil bahkan tidak ada. Kita bisa kalahkan dengan kuasa manusia ciptaan baru.

Sebagai orang Kristen, kita didorong Tuhan untuk mengenakan manusia baru, yaitu manusia yang diperbarui di dalam Yesus Kristus. Itulah sebenarnya, ya kenapa kita ada tahun baru, ya. Di dalam kedaulatan Tuhan, Tuhan kan ajarkan bahwa: ya sudah, satu tahun tambah satu tahun, tambah satu tahun, tahun yang baru, tahun yang baru supaya kita diingatkan bahwa kita harus senantiasa memperbaharui diri kita di dalam Yesus Kristus. Kita tidak boleh terjebak dalam manusia lama. Tetapi kita ingat kehidupan kita yang lama dulu. Supaya apa? Supaya menjadi pelajaran buat kita jangan sampai melakukan dosa kejahatan seperti yang dulu lagi. Karena apa? Karena kita bisa melakukannya. Tetap kita bisa melakukannya. Karena kita manusia berdosa, kok. Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh manusia berdosa? Ya, dosa bisa dilakukan.

Sekalipun kita manusia baru, kita tetap bisa lakukan dosa, kok. Kita tetap bisa bohong. Kita tetap bisa memperkosa orang lain. Kita tetap bisa mencuri. Tetap bisa berzinah. Tetap bisa memukul. Tetap bisa membenci. Itu manusia lama. Kita masih bisa lakukan. Maka betapa bahayanya hidup kita, ya kalau kita tidak senantiasa mengenakan manusia baru! Kita harus bertobat! Maka pertobatan orang Kristen itu setiap hari. Memang ada pertobatan yang pertama kali ketika kita percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi tiap hari kita dikuduskan. Harus ingat, “Saya orang berdosa. Saya tidak layak datang dekat-dekat dengan Tuhan. Saya tidak layak hidup. Saya harus hidup dalam pertobatan.” Kita bisa –seiring berjalannya tahun yang baru, seiring berjalannya umur yang baru, waktu yang baru, pengalaman yang baru– kita pun terus mau melakukan ketaatan-ketaatan yang baru juga, yang boleh menyenangkan Tuhan.

Nah, Bapak, Ibu sekalian, prinsip firman Tuhan itu relevan setiap zaman. Sejak Adam dan Hawa, firman Tuhan itu selama-lamanya relevan. Tetapi kita bisa tahu bahwa aplikasinya, praktiknya, caranya itu bisa berbeda-beda di dalam kehidupan kita, ya. Orang menunjukkan pertobatan itu ternyata sangat banyak jenisnya, caranya. Saya pernah ketemu orang yang bertobat, ya. Dulunya dia narkoba, berzinah, masuk penjara. Terus ketika dia bertobat, sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, dia tiap hari tulis ayat selama bertahun-tahun di sebuah kertas. Begitu besar. Dia mau hidupnya kepada firman. Dia baca firman. Terus dia tulis. Ya, ini pelajaran yang berulang, ya. Dia baca, dia tulis, terus kemudian dia baca lagi. Terus kemudian, ketika dia cerita bahwa dia sudah tulis kurang lebih tiga ribu ayat. Oh, itu melebihi hamba Tuhan, ya. Hamba Tuhan nggak nulis Alkitab di kertas selama, sebanyak itu.

Nah, apakah kita harus semuanya seperti itu? Tidak. Hanya orang itu saja. Mungkin satu-satunya di dalam dunia ini yang menulis tiga ribu ayat setelah pertobatannya, supaya dia hidup oleh firman. Di kertas HVS, ya. Ber-rim-rim dia tulis. Dia ingin terus mengenal siapakah Tuhan. Tapi prinsipnya sama, yaitu apa? Hidup berpusat pada firman Tuhan. Ada orang tidak bisa menulis, bagaimana dia harus seperti itu aplikasinya? Aplikasinya bisa berbeda-beda dalam menaati kebenaran firman Tuhan. Karena Tuhan punya panggilan juga yang khusus di dalam kehidupan kita. Sekalipun kita sama-sama orang Kristen, tapi panggilan kita berbeda-beda di dalam menjalankan perintah Tuhan dan memuliakan Tuhan. Ada yang dipanggil sebagai hamba Tuhan, ya memuliakan Tuhan sebagai hamba Tuhan. Ada yang dipanggil sebagai ayah, sebagai istri, sebagai suami, sebagai ibu, sebagai anak. Kita sama-sama dipanggil untuk memuliakan Tuhan, menjalankan firman Tuhan. Aplikasinya bermacam-macam dan kita bisa pikirkan, ya, di tahun baru ini, kira-kira apa hal baru, ketaatan yang baru yang saya bisa lakukan untuk Tuhan? Apakah mau begini-begini saja gitu, ya? Ya, sudah. Zaman sudah berubah, kita masih tetap begini-begini saja.

Ada seorang hamba Tuhan mengatakan bahwa, “Sekarang zamannya instagram. Maka, saya mau masuk pelayanan ke instagram.” Karena apa? Supaya bisa menaati Tuhan dalam konteks yang baru. Bisa saja kan? “Ya, sudah. Saya tidak mau. Maunya taat lewat dunia fisik saja.” Tetapi, itu bukanlah hal yang baru. Semua orang taat kepada Tuhan di dalam dunia yang realitas, ya. Tetapi, di dalam media sosial, kita juga bisa pikirkan menggunakan media sosial untuk memuliakan Tuhan bagaimana untuk mencerminkan hati Tuhan seperti apa.

Di dalam Yesaya 43 ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, ada beberapa poin yang kita bisa renungkan. Di sini introduksinya adalah, “Beginilah firman Tuhan.” Ini adalah suara nabi, ya. Nabi Yesaya sangat dekat dengan Tuhan dan dia juga adalah juru bicara Tuhan. Maka, di dalam setiap firman yang dituliskan atau diberitakan oleh para nabi itu ada permulaan yang begitu kokoh dan tegas bahwa, “Beginilah firman Tuhan.” Berarti, Tuhan sendiri yang bicara melalui Nabi Yesaya kepada bangsa Israel. Di situ dikatakan, “Allah itu Penebus. Allah itu Mahakudus. Allah itu adalah Allah Israel.”  Allah sedang berbicara kepada bangsa Israel yang sedang di pembuangan di Babel, yang sedang dihukum oleh Tuhan 70 tahun di Babel, mengalami suatu perendahan, suatu ketidakbebasan, suatu hal yang membuat mereka menderita. Karena apa? Dihukum, didisiplin oleh Tuhan. Karena apa? Karena mereka sudah menyembah berhala, melakukan dosa terus-menerus, sampai pada akhirnya Tuhan mengizinkan ada penderitaan terjadi dalam kehidupan bangsa Israel dan bangsa Israel kurang lebih mereka sangat dicobai, sangat sulit. Karena apa? Mereka harus tinggal di Babel. Identitas mereka sangat diganggu. “Saya orang Israel. Kok hidup secara Babel, orang-orang yang tidak mengenal Tuhan?” Ya, itulah kamu! Kamu memang mau menyembah berhala kok! Tetapi, Tuhan terus memelihara orang-orang Israel di pembuangan tersebut. Tuhan kirimkan nabi-Nya. Tuhan kirimkan firman Tuhan. Tuhan kasih penghiburan kepada orang Israel di Babel.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa sih yang dirasakan orang Israel ketika dibuang oleh Tuhan selama puluhan tahun kehidupan bangsa Israel? Meskipun bangsa Israel tahu bahwa ada waktu Tuhan, Tuhan menghukum mereka, tetapi waktunya kelamaan. 70 tahun. Siapa yang mau menunggu 70 tahun? Sudah keburu mati dulu kan, sehingga mereka meragukan firman Tuhan. Benar nggak 70 tahun? Ini orang tua saya sudah meninggal di Babel. Saya sudah dewasa. Waktu 70 tahun, mungkin masih 20 tahun lagi. Saya sudah umur 50. berarti saya baru bisa kembali ke Yerusalem itu umur 70. Saya tunggu lagi, tunggu lagi, tunggu lagi. Rasanya, janji Tuhan itu tidak terjadi. Mereka di Babel, sudah hidup secara Babel, diganggu terus, tetapi ada firman Tuhan terus menopang mereka. Mereka merasa bahwa Allah itu meninggalkan mereka. Mereka rasa bahwa mereka tidak bisa lepas dalam kehidupan yang dijajah atau dibuang di Babel tersebut. Rasanya, janji Allah itu gagal. Di sinilah, Nabi Yesaya memberikan penghiburan kepada bangsa Israel yang sedang terpuruk bahwa Babel akan jatuh. Di situ, sudah pasti Tuhan akan membebaskan bangsa Israel.

Di dalam pikiran bangsa Israel, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, “Oh, Allah akan bebaskan kami, ya? Dengan cara apa, ya? Mungkin dengan cara-cara yang hebat.” Mukjizat dan lain-lain seperti Israel keluar dari Mesir kan itu caranya spektakuler sekali. Ada tulah bagi orang yang jahat, orang Mesir yang mengganggu orang Israel dan juga banyak mukjizat yang terjadi di dalam kehidupan bangsa Israel, melewati Laut Teberau, melewati padang gurun, ada manna dari surga, dan lain-lain. Oh, mungkin Tuhan pakai cara mukjizat seperti itu, ya. Membereskan seluruh bangsa Babel, memberikan mukjizat yang begitu besar kepada bangsa Israel.

Di sinilah, Yes. 43:18 ini mengatakan bahwa, “Hai, bangsa Israel, jangan ingat hal-hal yang dahulu. Jangan perhatikan hal-hal dari zaman purbakala.” Ini pengulangan, ya. Nasehat, penekanan, pengulangan, intinya sama. Jangan pikir bahwa Tuhan akan bekerja seperti yang dulu kamu kenal. Jangan pikir bahwa Tuhan akan mengulangi mukjizat-mukjizat seperti itu. Nah, kalau kita baca ayat ini dalam konteks zaman modern kan kayaknya ini bicara soal nasehat. “Jangan ingat-ingat yang dahulu.” Oh, ini bicara soal trauma masa lalu, kegagalan masa lalu. Jangan terjebak di dalamnya. Kita harus maju. Itu betul, ya. Nasehat modern itu betul, tetapi tidak boleh ditafsirkan di dalam ayat ini karena ayat ini bicara soal konteks bangsa Israel yang sedang terpuruk di Babel, sedang dibuang oleh Tuhan. Lalu, berpikiran bahwa Tuhan bisa melakukan mukjizat-mukjizat seperti  yang zaman dulu itu ketika bangsa Israel diperbudak oleh Mesir. “Sekarang, saya diperbudak oleh Babel. Ada mukjizat juga dong! Ada tulah juga dong! Tolong tunjukkan kuasa yang begitu besar!” Gitu, ya. Maka, Allah mengatakan lewat Nabi Yesaya, jangan pikir, Allah itu seperti itu terus, akan melakukan sesuatu yang seperti yang zaman dulu.

Bagi bangsa Israel, Bapak, Ibu sekalian ya, di pembuangan yang tahu sejarah Israel keluar dari Mesir mereka itu pemikirannya demikian. Ada mukjizat yang besar, ada tulah di bisa dikerjakan, dilaksanakan kepada bangsa Babel. Nah, sekarang Tuhan mengatakan sesuatu bahwa jangan ingat yang dahulu, Aku akan melakukan sesuatu yang baru, Aku tidak pakai cara mukjizat, Aku pakai manusia untuk melakukan pekerjaan, membebaskan orang Israel dari pembuangan di Babel. Ya, kita tahu ya nanti ada tiga periode bagaimana bangsa Israel keluar dari Babel. Ya, Babel akan dikalahkan terus kemudian dikuasai oleh Persia dan akhirnya bangsa Israel bisa pulang ke Yerusalem. Maka di sini mengajarkan bahwa jangan membatasi Allah di dalam pola yang dulu, pola yang lama. Kita membatasi. Kalau Tuhan kasih mukjizat kepada orang lain yang sakit cancer jadi sembuh, kita batasi Tuhan, Tuhan pun harus lakukan hal tersebut kepada saya, saya pun harus dapat mukjizat. Kalau orang Kristen yang dulunya miskin, susah itu harus, menderita begitu banyak, terus kemudian dia perpuluhan, dia persembahan, dia giat, terus kemudian dia pelan-pelan bisnisnya naik dan menjadi kaya. Wah, saya pun pengin seperti itu. Ya, lalu kita karena kedagingan kita, karena cinta uang akhirnya menaati Tuhan, itu kan salah juga, ya. Itu ada agenda yang kita miliki, terus kemudian memakai hal-hal rohani untuk mendapatkan agenda kita, itu salah. Justru maka Tuhan tidak mau melakukannya. Ya, kalau kita harapkan hal-hal yang spektakuler terjadi dalam kehidupan kita seperti Tuhan melakukannya kepada orang lain atau zaman dulu seperti itu ya, maka Tuhan bisa melakukan hal yang baru, yaitu Tuhan memakai manusia biasa hal-hal sederhana, hal-hal umum untuk bisa menyatakan pekerjaan Tuhan.

Allah sudah bekerja di zaman sekarang pun dengan cara yang berbeda. Maka jangan terlalu mengharapkan ya Bapak, Ibu sekalian ya, ada danau terbelah menjadi dua di depan kita, gitu ya. Pengin dapat mukjizat yang baru dong, ini tahun baru supaya orang bisa percaya kepada Yesus. Tolong ada mukjizat yang besar. Ini sudah zaman yang baru. Jangan ingat yang lama, lalu mengurung Allah di dalam pola yang lama, perjanjian lama atau perjanjian baru, ya. KalauTuhan Yesus bisa inkarnasi Allah jadi manusia, ya, Yesus bisa datang lagi lah sekarang, padahal sudah diatur bahwa Yesus tidak akan datang lagi kecuali di hari penghakiman. Kedatangan di akhir zaman baru Yesus datang secara fisik. Terus kita harapkan Yesus datang, Yesus datang, bertemu secara fisik dengan kita, muka dengan muka. KalauYesus datang secara fisik ketemu kita, itu sudah kiamat, ya, kita sudah nggak ada lagi melanjutkan kehidupan, ya. Maka kita tuh jangan mengurung Allah di dalam pola-pola yang dulu yang sebenarnya Allah tidak mau lakukan lagi, tidak perlu Allah melakukan lagi.

Ya, Pdt. Eko Aria itu pernah memberikan pertanyaan survei ya soal mukjizat-mukjizat. Sekarang kan banyak gereja-gereja yang terus ingin mukjizat. Kalautahun baru inginnya apa? Mukjizat lebih besar lagi ya, kekayaan lebih besar lagi, kesehatan lagi, kemakmuran lagi. Tahun baru, gitu ya. TerusPdt. Eko Aria tuh pernah survei, ya, bertanya, “Coba sekarang di sini di antara kita semua ada nggak kenalan kita yang sakit begitu parah, cancer misalkan ya, terus sembuh tanpa obat.” Terus kemudian saya pikir-pikir nggak ada tuh. Saya sendiri nggak ada. Tapi kan kenalan satu orang paling bisa cuman tahu 200 orang ya. Satu orang mengetahui paling 100, 200 orang, 300 orang nggak ada. Padahal kita hidup dalam konteks Kristen. Lalu orang lain ditanya, ditanya nggak ada semua yang dapat mukjizat seperti itu. Tapi apakah ada? Mungkin ada, cuman langka kan. Kalau langka jangan dijadikan umum. Itu kan langka khusus untuk dia, ya. Ya udah jangan yang kenalan, jangan akhirnya menjadikan sebuah ajaran yang terus kita jadinya kejar. Wah, hal-hal spektakuler. Mana dari surga gitu ya? Yesus menampakkan diri kepada saya lewat mimpi. Kan Yusuf dan Maria didatangi malaikat. Saya juga mau didatangi malaikat deh. Ya, saya apa bedanya sama Yusuf dan Maria gitu ya. Sama-sama manusia. Nah, itu mengekang Tuhan di dalam masa lampau dibawa ke sini, padahal Tuhan tidak pakai lagi cara demikian.

Ya, coba sekarang tanya ya, apakah ada yang pernah didatangi malaikat, gitu ya? Nggak ada, siapa yang ada? Ya, mungkin ada satu dua tapi kan bukan umum ya, itu hanya khusus dari Allah sendiri. Terus kemudian ada yang tiba-tiba perpuluhan jadi kaya raya. Saya perpuluhan sudah 19 tahun pun nggak jadi kaya ya Bapak, Ibu sekalian, ya. Ya terusperpuluhan-perpuluhan mana jadi kayanya? Ada orang yang tetap miskin, tetap miskin, tapi dia taat kepada Allah. Itu berkenan di hadapan Allah. Itu ya Bapak, Ibu sekalian kita bisa lihat kita itu jangan sampai mengekang Allah di dalam pola lama. Pokoknya harus begini Tuhan. KalauTuhan harus begini ya kitanya kita yang menjadi Tuhan. Tapi kalau kita katakan bahwa Tuhan harus sesuai firman Tuhan, ya, sesuai prinsip kebenaran firman Tuhan ya kita ada ketundukan di hadapan Tuhan.

John Calvin memberikan komentar soal ayat ini, Bapak, Ibu sekalian, ya, yaitu Allah itu terus mengulang kesetiaannya tetapi dengan cara yang berbeda. Allah mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir itu spektakuler. Tetapi Allah membebaskan bangsa Israel dari Babel itu biasa saja, cara yang normal. Bahkan Tuhan pakai orang tidak percaya, Raja Persia untuk membebaskan orang Israel bisa beribadah di Yerusalem. Tuhan pakai orang tidak percaya supaya kita boleh ibadah. Itu hal-hal yang baru bagi Israel. Israel menyombongkan dirinya, “Kami ini bangsa pilihan. Tuhan pasti bekerja dalam hidup kami.” Tuhan pakai bangsa lain untuk menghancurkan Babel dan membebaskan orang Israel.

Kita tentu percaya bahwa Allah itu Maha Kuasa dan dapat melakukan mukjizat, Bapak, lbu sekalian, ya. Tetapi kita tidak bisa mengurung Tuhan harus lakukan mukjizat yang spektakuler dalam hidup kita. Kita harus bersandar hanya kepada firman Tuhan saja. Sekarang di zaman Alkitab, kok. Zaman Perjanjian Lama, Allah bekerja secara berbeda, progresif. Zaman Perjanjian Baru, Allah bekerja secara berbeda juga, progresif juga. Zaman Alkitab sudah ada, itu berbeda juga, yaitu lewat Alkitab, firman Tuhan. Maka kita sungguh-sungguh harus berpusat pada firman Tuhan. Ini perenungan yang pertama, Bapak/Ibu sekalian. Kita tidak bisa mengatur Allah, ya. Allah-lah yang mengatur kita dan bagaimana Allah bekerja dalam hidup kita, kita harus nurut. Kadang-kadang bekerja lewat orang yang non-Kristen, kadang-kadang Allah bekerja bisa lewat alam ciptaan-Nya, dan malah sekarang Tuhan lebih bekerja lewat sesama orang Kristen untuk menyatakan kehendak-Nya, tetapi Alkitab adalah dasar kita untuk bisa hidup. Sola scriptura, hanya Alkitab saja sumber kebenaran hidup kita, maka kita terus renungkan Alkitab.

Lalu poin kedua di ayat 19, saya bacakan, ya. Tuhan mengatakan, “Lihat, Aku membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Aku membuat jalan di padang gurun.” Ya, siapa yang mau buat jalan di padang gurun? Lalu, “sungai-sungai di padang belantara.” Siapa yang bisa buat sungai di padang rumput yang begitu banyak tanah dan tumbuhan? Buat sungai, ya, terus kemudian, “Binatang hutan, serigala, burung unta akan memuliakan Aku karena Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.” Nah, pada bagian ini Tuhan menyatakan bahwa, “Aku mau melakukan sesuatu yang baru, yang mustahil sebenarnya, yang bagi manusia itu mustahil.” Ya, bagaimana bangsa Babel yang begitu besar bisa kalah? Itu mustahil bagi orang-orang zaman itu. Bagaimana pada akhirnya bangsa Israel bisa kembali ke Yerusalem? Itu pun mustahil kalau bukan dengan cara-cara yang spektakuler. Tapi ternyata Tuhan bisa ubah hati orang yang jahat sekali pun jadi orang baik, jadi orang yang dipakai Tuhan sekali pun dia tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan.

Di sini Tuhan menjelaskan bahwa, “Aku tuh bisa pakai apa pun untuk memuliakan Aku. Aku nggak butuh manusia.” Ya, bahkan dari batu-batu saja bisa kok memuji Tuhan. Ya, apakah Tuhan itu butuh manusia untuk mengerjakan pekerjaan-Nya? Tidak butuh. “Sebenarnya Aku bisa melakukan segala sesuatu,” Tuhan mengatakan kepada bangsa Israel, ya, “Seluruh alam ini, ciptaan Tuhan ini bisa memuliakan Aku.” Tuhan pakai bukan hanya orang Kristen saja, tetapi orang non-Kristen juga dapat dipakai Tuhan untuk kemuliaan-Nya. Ini membuat kita apa? Tidak sombong. Ya, jangan pikir, “Wah, kita orang Kristen, kita lebih hebat. Kita punya Yesus. Kita selalu dipakai Tuhan.” Kalau kita tidak mengenakan manusia baru, kita pun bisa dibuang oleh Tuhan, ya.

Dan akhirnya juga kita bisa lihat Tuhan bukan hanya bisa pakai orang non-Kristen, tetapi Tuhan juga bisa pakai binatang hutan. Ini maksudnya adalah binatang yang liar. Ya, kita siapa, sih, yang suka sama binatang liar yang tidak bisa diatur? Kita sukanya hewan peliharaan gitu, ya, jinak, tidak berbahaya, menyenangkan kita, tapi Tuhan bisa pakai hewan liar, hewan yang di hutan untuk kemuliaan Tuhan, ya. Tuhan bisa pakai tumbuhan, bumi, benda-benda langit, bintang, planet, alam semesta untuk mempermuliakan Tuhan.

Nah, ketika saya sedang saat teduh dari kitab Yosua, ya, Bapak/Ibu sekalian, saya membaca satu hal yang unik tentang sebutan Allah di dalam kitab Yosua maupun kitab Samuel. Di kitab Yosua itu disebutkan, “Tuhan semesta bumi berhenti di sungai Yordan.” Jadi seolah-olah Tuhan itu datang, ya, Dia pencipta bumi ini, dia berhenti di sungai Yordan untuk menahan air sungai Yordan jadi bendungan sehingga bangsa Israel bisa lewat sungai Yordan untuk menyerang kota Yeriko. Di situ disebutkan “Tuhan semesta bumi”. Tuhan itu pemilik bumi, Tuhan itu besar. Di kitab Samuel disebutkan bahwa “Tuhan semesta alam”, jadi kita bisa lihat bahwa alam itu bisa juga dipakai Tuhan untuk memuliakan Tuhan, dan memang tujuan Tuhan menciptakan alam adalah mencerminkan kemuliaan-Nya supaya kita bisa memuji Tuhan, sebagai manusia, ya. Jadi science itu dari Tuhan dan menyatakan kebesaran Tuhan.

Mazmur 19:2-5. Mari kita baca, Bapak, Ibu sekalian, Mazmur 19:2-5. Di situ pun ayat yang paling jelas, bagaimana alam itu diciptakan untuk memuliakan Tuhan juga. Mazmur 19:1-5, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.” Sampai sini saja. Nah, di sini kita melihat bahwa ada panggilan yang Tuhan nyatakan kepada seluruh ciptaan-Nya, yaitu adalah memuliakan Tuhan sendiri. Kita berpikir, ya, kalau kita sebagai orang Reformed, ya, kan selalu hafal pertanyaan dan jawaban dari Katekismus Singkat Westminster. Apa tujuan utama manusia diciptakan? Yaitu untuk memuliakan Allah dan menikmati Allah selama-selamanya, manusia.

Tapi untuk apa planet diciptakan? Untuk apa ada hewan kura-kura, gitu, ya. Hewan tupai, merpati, gitu, ya. Di belakang gereja ada hewan-hewan itu. Sebenarnya untuk memuliakan Allah kan. Sama-sama untuk mencerminkan kemuliaan Allah. Hanya, mereka itu tidak memiliki kesadaran seperti manusia bahwa kalau kita tanya monyet, “Tujuan kamu diciptakan apa?” Nggak bisa jawab. Kita yang bisa melihat bahwa, “Oh, ini untuk memuliakan Allah, untuk mengagungkan kebesaran Allah, Allah itu hebat, menciptakan seluruh ciptaan tidak ada yang sama persis satu pun. Daun pun dari pohon, tidak ada yang persis sama. Pohon yang satu dengan pohan yang lain, beda. Hewan yang satu dengan hewan yang lain, beda. Seluruh hewan beda, seluruh manusia beda semua. Allah itu Maha Kuasa.” Jadi, kita bisa lihat bahwa alam untuk memuliakan Tuhan, manusia untuk memuliakan Tuhan. Tujuan kita ada, ya. Maka adalah hak istimewa bila Tuhan memakai kita terlibat dalam pekerjaan Tuhan.

Nah, doa kita, ya, Bapak, Ibu, sekalian harus agak diperbaiki. Kita biasanya, kan, saya mau melibatkan Tuhan dalam kehidupan saya terus-menerus. Nah, harusnya adalah, ya, yang lebih tepat adalah saya mau agar saya terus terlibat dalam kehidupan Tuhan terus-menerus. Kalau Tuhan saya libatkan, saya bosnya. Ya, Tuhan jadi pembantu saya, harus ngikut Tuhan, ngikut saya terus, ya, Tuhan, ya, Tuhan berkati saya, Tuhan berikan hikmat, Tuhan berikan kepintaran supaya tujuan saya terjadi. Itu bahayanya kita berdoa, “Tuhan, saya libatkan Engkau dalam hidup saya terus, gitu, ya. Berdoa terus. Harusnya adalah, “Tuhan, tolong saya agar saya terus terlibat dalam kisahnya Tuhan, pekerjaannya Tuhan.” Ya, Tuhan bosnya, kita ini bawahannya. Maka hak istimewa kalau Tuhan bisa pakai alam memuliakan Tuhan, non-Kristen memuliakan Tuhan, terlebih lagi kita harus mau dipakai Tuhan, “Tuhan pakailah saya untuk memuliakan Tuhan lebih banyak lagi di tahun ini dan tahun-tahun yang mendatang.” Dalam Yesaya dikatakan, Tuhan membuat jalan di padang gurun, Tuhan membuat sungai di padang belantara, Tuhan adalah Tuhan yang mampu melakukan segala sesuatu dan Tuhan adalah Tuhan atas seluruh ciptaan. Ini hal yang kedua yang kita bisa renungkan, Bapak, Ibu, sekalian, ya. Bahwa Tuhan itu atas seluruh ciptaan-Nya, Dia adalah Raja dan semua ciptaan harus memuliakan Tuhan.

Ada lagi, ya, di dalam Mazmur 148 ini lebih jelas lagi, bagaimana alam itu diciptakan untuk memuji Tuhan. Mazmur 148;3-4, ya, boleh kita lihat supaya kita lebih percaya, ya, Bapak, Ibu, sekalian, ya, bahwa alam ini juga diciptakan untuk memuliakan Tuhan meskipun ini gaya bahasa puisi, ya, tetapi kita bisa melihat bahwa alam ini untuk kemuliaan Tuhan. Mazmur 148:3-4, saya bacakan untuk kita semua “Pujilah Dia hai matahari dan bulan. Pujilah Dia hai segala bintang terang. Pujilah Dia hai langit yang mengatasi segala langit. Hai air yang di atas langit.” Jadi, ketika manusia mempelajari sains, mempelajari ilmu pengetahuan untuk bisa menyatakan kebenaran dan akhirnya orang bisa melihat kemuliaan Tuhan atas ciptaan Tuhan. Ya, ini adalah suatu panggilan yang begitu mulia untuk memuliakan Tuhan.

Dan perenungan yang ketiga Bapak, Ibu sekalian, ya, di Yesaya 43:21, di situ dikatakan Allah melakukan sesuatu yang baru untuk umat-Nya bisa minum dan dibentuk untuk Tuhan agar bisa memberitakan kemasyhuran Tuhan. Allah lakukan sesuatu yang baru bagi umat-Nya. Ini bicara tentang Allah bicara kepada Israel di pembuangan dan Tuhan janjikan Bangsa Israel sebagai umat perjanjian itu akan hidup bisa nyaman dipelihara oleh Tuhan dan juga akan Tuhan bentuk supaya bisa memasyhurkan nama Tuhan. Jadi, Bapak, Ibu, sekalian, alam diciptakan untuk memuliakan Tuhan, tetapi alam itu pasif. Orang non-Kristen diciptakan untuk kemuliaan Tuhan, orang non-Kristen juga pasif. Hanya orang Kristen yang diciptakan dan memiliki manusia baru yang pada akhirnya bisa aktif memuliakan Tuhan dari dirinya sendiri.

Nah, ini perbedaannya. Sekalipun seluruh ciptaan Allah diciptakan untuk memuliakan Tuhan, tapi hanya orang Kristen yang dikasih hak istimewa untuk bisa aktif berinisiatif untuk memuliakan Tuhan. Karena apa? Tuhan yang membentuk kita. Ya, Alkitab mengatakan, “Kubentuk umat-Ku, untuk kemasyuran nama-Ku.” Ya, seperti tanah liat yang dibentuk oleh tukang periuk itu, maka kita bisa dibentuk oleh Tuhan juga untuk bisa menyatakan kemuliaan Tuhan.

Nah, secara tidak langsung Bapak, Ibu, sekalian, ya, Allah janjikan pemulihan dan pembentukan atas umat-Nya untuk bisa memuliakan Tuhan ini hanya digenapi di dalam Yesus Kristus. Ya, kalau Tuhan janjikan kepada Bangsa Israel demikian, ya, “akan kuberikan kamu pemeliharaan, air untuk minum dan juga akan Kubentuk kamu untuk memasyhurkan nama-Ku, ketika Tuhan memberikan pekerjaan-Nya atau kuasa-Nya demikian, maka itu hanya bisa dilakukan di dalam Yesus Kristus. Ya, secara tidak langsung Injil diberitakan bahwa di dalam Yesus Kristus, di dalam Tuhan sendiri, kita menjadi orang-orang yang dipelihara dan juga bisa memuliakan Tuhan. Hanya Yesus Kristus, Tuhan yang sejati, bagaimana pada akhirnya menolong kita untuk bisa memuliakan Allah. Ini adalah hal yang baru yang dikerjakan Allah setelah masa Perjanjian Lama. Yaitu, Allah menyatakan Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus yang menjelma menjadi manusia, dan hal itulah yang akan dilakukan Allah di masa depan. Dan Tuhan sudah nyatakan kepada bangsa Israel di Perjanjian Lama, “Aku akan memberikan pemeliharaan dan juga Kubentuk engkau.” Dan itu hanya di dalam Yesus Kristus yang akan dikirimkan oleh Allah Bapa, ya.

Maka bangsa Israel kan tidak tahu nama Yesus. Tidak ada, tidak tahu kejadian bahwa Allah menjadi manusia, ya. Ini adalah suatu hal yang baru bagi orang-orang Yahudi. Maka Allah mengatakan, Aku akan melakukan sesuatu yang baru ya, untuk menggenapkan karya keselamatanNya. Yaitu Allah menjadi manusia, seluruh hukuman dosa ditanggung oleh Yesus, dan tidak ada nama lain kecuali nama Yesus Kristus di mana orang dapat diselamatkan. Ya, hanya di dalam Yesus Kristus. Di Yesaya 43:21 disebutkan bahwa “semua yang disebutkan dengan namaKu yang Kuciptakan untuk kemuliaanKu, yang Kubentuk dan yang Kujadikan juga.” Ini disebutkan di ayat 7 sebelumnya bicara soal bagaimana Tuhan membentuk seseorang itu dengan mengubah kehidupan dia memberikan anugrah manusia baru itu ya. Pada akhirnya Tuhan menyatakan wahyu yang baru di dalam perjanjian yang baru. Yaitu dulu Tuhan bicara lewat para nabi, sekarang Tuhan itu bicara lewat Yesus Kristus anakNya yang tunggal. Sekarang kita bisa katakan di zaman Alkitab sudah ada saat ini. Dulu Tuhan berfirman lewat para nabi, dulu Tuhan bicara lewat Yesus Kristus, sekarang Tuhan pakai cara yang baru, yaitu Tuhan pakai Alkitab yang adalah firman Allah. Prinsipnya sama, firman Allah. Dan tidak boleh mengekang Tuhan di dalam masa-masa yang dulu. Kalau Tuhan Yesus bisa jalan di atas air, saya juga bisa jalan di atas air. Kalau Tuhan Yesus bisa memberi mukjizat 5 roti dan 2 ikan kepada ribuan orang, maka ada kejadian itu lagi terjadi.

Tapi cara yang baru adalah misalkan tetap bisa beri makan 5000 orang tapi dalam arti apa? Memberikan pertolongan belas kasih kepada ribuan orang. Prakteknya beda prinsipnya sama. Ada kasih. Dan kita bisa melakukan memikirkan praktek-praktek baru yang bisa kita lakukan menyenangkan Tuhan tanpa mengkrompomikan firman Tuhan. Ya, Firman Tuhan adalah firman Tuhan yang harus ditepati. Tetapi prakteknya bisa berbeda-beda. Ya, Allah menyatakan jalan keselamatan yang jelas di dalam Yesus Kristus. Bapak, Ibu sekalian di dalam Kristus, yang lama itu sudah sungguh berlalu, sedangkan yang baru sudah mulai, maka kita harus mengingat sebagai orang Kristen kita harus menyalibkan manusia lama kita. Jangan melakukan dosa-dosa yang dulu lagi. Kita terus mau mengenakan manusia baru. Jangan terjebak dalam dosa masa lampau, meskipun godaan itu bisa muncul sewaktu-waktu ya. Kita dulu mungkin sering melakukan dosa begitu banyak, sudah jadi kebiasaan. Terus kita sudah bertobat tapi dosa itu muncul lagi bisa, kadang-kadang ke dalam momen tertentu. Nah kita mau menolaknya, mematikan kedagingan itu karena apa? Karena kita punya manusia baru. Sembari kita menunggu Yesus Kristus datang kedua kalinya, ya kita terus mengenakan kuasa dari Yesus Kristus. Kuasa dari Roh Kudus untuk senantiasa taat. Sementara kita menunggu dunia yang baru di masa depan ya, di hari penghakiman hari kiamat, hari akhir zaman itu sendiri. Ya, kita pun mau senantiasa melakukan ketaatan-ketaatan yang baru. Yang bisa lebih memuliakan Tuhan.

Dalam Wahyu 21:5 di situ dikatakan, “Lihat, Aku menjadikan segala sesuatu yang baru” di akhir zaman setelah dunia ini selesai, Yesus datang kedua kalinya, maka Tuhan akan memulai sesuatu yang baru lagi, yaitu Tuhan akan pulihkan bumi ini dan menjadikan bumi ini langit dan bumi yang baru juga. Kita hidup dalam konsep waktu ya. Kita sudah pernah pelajari konsep ini ada masa lalu, ada masa sekarang, ada masa depan. Di situ ada yang lama, ada yang baru, silih berganti ya. Dari situ kita bisa meminta hikmat Tuhan untuk bisa menjalani hidup hari ini dengan semangat yang baru.

Apa yang kita bisa pelajari, apa yang kita bisa teladani dari orang-orang Kristen di zaman dulu yang begitu berkontribusi secara besar bagi pekerjaan Tuhan? Yaitu adalah mereka senantiasa memiliki semangat pembaruan. Ya semangat pembaruan dari Tuhan sendiri, semangat pembaruan berarti apa? Semangat untuk kemuliaan Tuhan, di dalam konteks zaman ini dalam hidup kita, zaman ini dalam umur kita zaman ini, untuk bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan baru yang memuliakan Tuhan.

Maka, inilah harapan kita Bapak, Ibu sekalian, dan harapan saya buat kita semua, bahwa di tahun baru ini kita mau supaya kita lebih diperbaharui dalam pengenalan akan Tuhan. Jangan puas terhadap pengenalan akan Tuhan yang ini-ini saja. Ya, boleh kita memiliki hati yang terus belajar firman Tuhan, belajar di dalam kelas-kelas doktrinal, alkitab, ya, masih ada waktu untuk terus belajar diperbaharui. Cara-cara menyembah Tuhan yang baru, ya, cara-cara penginjilan yang baru, cara-cara memasyhurkan nama Tuhan yang lebih baru lagi. Itu sudah menyatakan hal-hal baru dalam kehidupan kita untuk melayani Tuhan. Kita pun mau terus melakukan hal-hal baru. Di dalam ratapan 2: 22-23, di situ dikatakan ya, “Tak berkesudahan kasih Tuhan, tak habis-habis rahmatNya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaanMu” Itulah kasih yang baru, anugerah yang baru, hikmat yang baru, ya, kebaikan yang baru buat hidup kita, masa kita tidak mau terus melayani Tuhan dengan hal-hal baru yang baru kita lakukan? Ada hal-hal yang mungkin Tuhan panggil kita melakukannya, tapi kita nggak mampu karena itu hal baru, kita tidak pernah pelajari ya. Tapi kalau jelas pimpinan Tuhan dan ternyata memang kita harus kerjakan, lalu ketika kita kerjakan hal baru tersebut ternyata bisa juga untuk memuliakan Tuhan, why not? Maka sangat penting ya, kita boleh lah ya, kita mencoba, mencoba pelayanan-pelayanan yang baru, bukan hanya konteks gereja, tetapi luar gereja juga ya. Perbuatan baik yang baru terhadap sesama kita. Pernahkah kita sumbang panti asuhan? Pernahkah kita sumbang panti jompo? Puji Tuhan saya pernah gitu ya. Pribadi. Personal. Tidak harus dari ayo gereja, nama gereja kita bawa untuk menjadi kesaksian bagi orang lain. Nggak perlu. Datang sendiri, sumbang, kunjungi orang yang berkekurangan kebutuhan ya.

Pernahkah kita mengabarkan Injil kepada orang-orang di sekitar kita? Pembantu kita misalnya, atau penjual toko di seberang atau sebelah rumah kita misalnya? Tahun baru ini kita diajak merenungkan bahwa hidup saya harus lebih sukses untuk memuliakan Allah. Kita yang cinta uang ya, meskipun cinta uang dosa ya, tetapi orang yang cinta uang itu ambisinya besar. Tidak cukup penghasilan nominalnya segini, dia harus tambah lagi, tambah lagi, tambah lagi, yang baru bisnis baru, kalau bisa diversifikasi. Saya punya bisnis tertentu, ganti yang lain. Masak kita kalah sama orang berdosa, yang cinta akan uang. Mereka sangat berambisi buat yang baru supaya penghasilan mereka bertambah. Masa anak Tuhan tidak berambisi untuk melakukan pekerjaan Tuhan supaya kemuliaan Tuhan bisa dilihat banyak orang. Ya kita mau terlibat di dalam pekerjaan Tuhan. Salah satu bentuknya praktiknya apa? Ya coba pelayanan. Ya coba melayani Tuhan. Melayani Tuhan dengan hati yang murni tulus tanpa mencari-cari keuntungan. Pikirkan hal-hal baru dalam aplikasi firman Tuhan. Yang banyak akhirnya inovasi adalah, saya pikir-pikir ambil contoh ya, saya coba terus tekuni baru-baru ini nggak lama, saya coba penginjilan selain beri traktat kepada orang lain, terus coba ngomong meskipun agak susah ya kalau ngomong, sekarang kalau ikut menggunakan jasa taksi online atau ojek online, ya selain kasih tips, tapi kan di situ di bawahnya tu ada wadah yang disediakan oleh aplikasi tersebut, silahkan kata-kata untuk pengemudi. Mau kasih saran, masukan, pesan, silahkan. Saya akhirnya buat satu kalimat di handphone saya, “Upah dosa adalah maut, tetapi kasih karunia Allah adalah hidup kekal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Tuhan berkati, sehat-sehat selalu.” Jadi di setiap aplikasi saya buka note saya, copy paste kirim. Nothing to lose. Dan saya rasa nggak akan driver nya itu kasih rating penumpangnya jelek gara-gara kasih tulisan itu.

Sekarang coba ya Bapak, Ibu, sekalian, nanti kalau pakai jasa gojek copy paste aja satu ayat lalu doakan dia. Tuhan berkati. Sehat-sehat selalu. Kalau perlu sebut namanya. Saya pernah ya, Bapak ini, saya sebut namanya kasih firman. Kita rutin. Itu hal baru lho. Nggak pernah saya pikirkan, tapi mungkin Bapak, Ibu, sekalian pernah pikirkan dan coba juga. Itu hal baru kok. Tapi prinsipnya sama nggak? Penginjilan nggak? Penginjilan. Ada hal-hal baru yang Tuhan bisa pimpin untuk kita lakukan ya.

Terus misalkan kalau saya sudah kasih traktat sih saya nggak terlalu kasih kalimat lagi di message nya ya. Saya sudah kasih traktat ini renungan bisa baca-baca, biasanya saya kasih introduksi, ini bisa menambah iman kita, siapa tahu iman dia boleh bertumbuh gitu ya. Nah ini hal-hal yang baru yang bisa kita lakukan kepada Tuhan. Apa ya yang bisa saya lakukan untuk Tuhan? Di moment saya ini. Karena waktu hidup kita terbatas kan, belum tentu kita melewati tahun ini, belum tentu juga ada kesempatan kita bisa melewati saat teduh. Maka dari itu butuh kepekaan dari Tuhan. Butuh kewaspadaan. Butuh menjaga hati kita untuk senantiasa melayani Tuhan. Jadi berambisi lebih menyenangkan Tuhan. Itu nggak masalah. Ya, ada pemuda tanya, “Sebenarnya orang Kristen boleh berambisi nggak? Ambisius.” Memang ambisius ini akar katanya memang agak negatif sih, kan untuk diri ya, membesarkan diri, tetapi kalau ambisinya adalah membesarkan Tuhan, justru harus. Kalau kita orang Kristen nggak ada ambisi, ya untuk apa kita hidup ya, kita nggak mau memuliakan Tuhan, kita nggak mau ini, nggak mau itu, nggak mau mandiri, nggak mau mengasihi sesama, ya nggak ada ambisi itu ya, nggak ada hasrat gitu ya. Tetapi kita sangat boleh berambisi untuk membesarkan nama Tuhan, dan jangan sampai kita sombong kalau kita dipakai oleh Tuhan.

Kalau kita dipakai oleh Tuhan, harusnya minta ampun untuk segala dosa kita ya, memohon juga kita mohon juga ya kiranya hidup kita selalu diperbaharui oleh Roh Kudus, kita punya semangat pembaharuan, kalau ada yang kurang, dibaharui. Boleh ya kasih nasihat, saran, kritik, kalau ada yang lemah di dalam konteks gereja misalnya, kurang ini misalnya, boleh umumkan atau diskusikan dulu, siapa tahu bisa memberikan pembaharuan di dalam komunitas gereja. Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki semangat pembaharuan ini dan kita juga boleh semakin mengenal Tuhan di dalam kehidupan kita. Mari kita sama-sama menutup khotbah kita dengan menyanyikan satu lagu yang cocok dengan tema kotbah kita hari ini ya, yaitu dibuat oleh Pendeta Stephen Tong, tadi kita sudah latih lagu ini ya. Agustus tahun 2024, Pendeta Stephen Tong dalam tema Roh Kudus yang memperbaharui hidup dia membuat satu lagu berjudul, “Yang Lama Berlalu, Kini Tiba yang Baru.” Mari kita berdoa.

Bapa di Surga, kami bersyukur Tuhan untuk rahmat Tuhan yang selalu baru, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, kiranya Engkau yang menolong kami terus Tuhan untuk menghidupi dengan penuh syukur dan juga menjalani hari-hari kami seturut dengan kehendak Tuhan, dengan cara, dengan memikirkan, dan melakukan hal-hal yang lebih kreatif lagi dalam hidup kami untuk memuliakan nama-Mu ya Tuhan. Ampuni kami ketika kami masih sering saja untuk memperlakukan Tuhan tidak sebagai Tuhan dan ampuni kami, sering kami juga lalai untuk melakukan kehendak Tuhan di dalam hari-hari kami. Kiranya berikan kami kepekaan, tambahkan kami keberanian, dan Roh Kudus terus menegur kami membimbing kami untuk hidup bagi Tuhan di hari-hari yang sudah Tuhan percayakan kepada kami. Terima kasih untuk hamba-Mu, Pendeta Marvin yang sudah menyampaikan firman Tuhan, kiranya Engkau terus memberkati pelayanan Pendeta Marvin, dan Engkau siapkan ya Tuhan pelayanan Pendeta Marvin dalam waktu-waktu ke depan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.