Makna Hidup, 4 Januari 2026

Makna Hidup

Rm. 16:1-16, 8:37-39

Pdt. Andrew Kristanto

Nah, ya, saya akan membawakan satu khotbah yang berharap bisa menjadi satu kekuatan untuk kita memasuki tahun 2026.

Satu kali ketika saya itu membawa salah satu anak saya pergi ke satu tempat. Naik mobil, gitu, ya. Hari itu dia berumur –mungkin sekitar enam tahun– enam tahun. Ini sudah beberapa tahun yang lewat. Dan dia baru saja masuk ke dalam sekolahnya, ya. Jadi, pagi dia harus bangun, pergi ke sekolah, lalu studi, lalu akhirnya jam tiga hari itu pulang ke rumah, dan masih ada kegiatan-kegiatan lain, dan berikutnya, hari berikutnya dia akan ulangi semuanya itu. Nah, pada waktu kami sedang ada di dalam mobil, di dalam perjalanan, maka mendadak anak saya –yang hari itu mungkin sekitar umur enam dan tujuh– dia tanya satu pertanyaan kepada saya. Dia bilang seperti ini, “Daddy, hidup ini buat apa, ya? Kalau saya setiap hari harus bangun pagi, harus ke sekolah, lalu setelah itu pulang, dan setelah pulang saya harus mungkin makan atau mungkin ada les yang lain, dan setelah itu tidur, lalu besok ulangi lagi. Begitu seterusnya selama bertahun-tahun. Buat apa, ya hidup yang harus dijalani seperti ini?” Nah, itu merupakan satu pertanyaan yang mengagetkan saya karena waktu saya umur enam, saya tidak pernah tanya pertanyaan seperti itu. Dan bahkan –Bapak, Ibu sekalian– saya percaya banyak orang yang sekarang itu hidup, tidak peduli usia berapa pun, mungkin mereka tidak pernah tanya, “Hidup ini buat apa? Buat apa bangun pagi? Buat apa kerja? Buat apa kuliah? Lalu setelah itu menyusuri hidup, lalu akhirnya sudah menjelang kematian, dan setelah itu akhirnya pergi. Hidup itu buat apa?”

Nah, sering kali di dalam hidup kita, kita itu hidup, ya hanya sekedar berjalan begitu saja tanpa kita itu pernah tanya, “Buat apa saya mengerjakan semuanya itu? Apa makna hidup saya?” Orang di dalam kesulitan hidup, mereka bisa hidup living from paycheck to paycheck. Hanya hidup dari slip gaji ke slip gaji. Dan itu merupakan satu pergumulan yang sangat berat. Apa artinya hidup kalau hanya untuk bertahan hidup? Tetapi –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– ada orang-orang, yang meskipun mereka itu hidup dengan gaji yang sangat besar, dengan penghasilan yang sangat luar biasa, mereka pun sebetulnya hidup dengan cara yang sama. Mungkin orang-orang ini, yang sudah menerima gaji yang sangat besar, mereka pikir: bersyukur. Mereka tidak perlu hidup living from paycheck to paycheck. Mereka tidak perlu hidup hanya dari satu gaji ke slip gaji yang berikutnya di bulan yang akan datang. Tetapi –Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian– pada waktu kita mau lihat hidup orang-orang yang kelihatannya itu mereka sangat sukses, mereka punya kelimpahan materi, kadang-kadang prinsip hidup mereka itu sama dengan prinsip orang yang hidup living from paycheck to paycheck. Yaitu apa? Mereka hanya hidup living from one holiday to another holiday. Mereka hanya hidup dari liburan yang satu menuju ke liburan yang lain. Saya banyak ketemu orang-orang seperti ini: yang kelihatannya itu mereka sukses, mereka menjadi orang-orang yang sangat terpandang, tetapi di dalam hidup mereka yang mereka kerjakan apa? Mereka, ya cuma itu, kerja dapat uang yang sangat besar, lalu setelah itu pikir, “Kapan liburan berikutnya? Kapan liburan berikutnya?” Dan orang-orang, yang pada waktu kita lihat mereka bergumul di dalam rutinitas seperti itu, kita semua perlu bertanya, “Sebetulnya hidup ini untuk apa?”

Nah, kita akan membahas pertanyaan ini. Kita akan sama-sama memikirkan tentang makna hidup. Dan kita berharap kiranya Tuhan menguatkan kita untuk masuk ke dalam 2026 dengan prinsip dan juga dengan kekuatan serta penghiburan dari Tuhan. Dan untuk itu, Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian, saya mengajak kita untuk membuka dua bagian dari kitab Roma. Dua bagian dari kitab Roma. Pertama-tama kita akan sama-sama melihat Roma 16:1–16. Roma 16:1–16. Lalu setelah itu kita akan melihat Roma 8:37–39. Kita perhatikan dulu Roma 16 1–16, ini adalah satu teks utama kita pada Minggu pagi ini. Kalau sudah dapat, saya akan bacakan untuk Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian.

“Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri. Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus. Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu. Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku. Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan. Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi. Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus. Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan. Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Rufus,orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu. Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka. Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudusyang bersama-sama dengan mereka.Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus.Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.”

Lalu, bagian yang berikutnya, saya akan bacakan dari Roma 8:37-39. Satu ayat yang sangat terkenal sekali. “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang,oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,atau kuasa-kuasa,baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah,yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Saudara-saudara, kita akan merenungkan firman ini di dalam 2 bagian. Bagian yang pertama, saya akan sedikit mengulas nama-nama yang kita sudah baca, tetapi kita tidak akan melihat setiap nama yang ada, kita tidak akan menyelidiki setiap nama yang ada, tetapi kita hanya akan melihatnya secara garis besar saja. Lalu kemudian, bagian yang kedua, setelah kita melihat pola atau pattern yang adadi dalam nama-nama tersebut, kita akan menarik implikasi-implikasi untuk kehidupan kita dan khususnya juga untuk pertanyaan kita tentang hidup ini buat apa, kalau saya harus senantiasa mengerjakan hal yang sama?

Saudara sekalian, pada waktu kita melihat nama-nama di dalam Roma 16, maka kita harus mengetahui bahwa cara orang hari itu memberikan nama, berbeda dengan cara orang sekarang di dalam memberikan nama kepada anak-anak kita. Saya ambil contoh, misalnya, saya itu lahir di Malang dan juga besar di Malang. Dan pada waktu saya lahir dan besar di Malang, orang tua saya itu bisa memberikan kepada saya, nama yang sebetulnya secara kultural itu bukan nama dari Malang. Orang dari Malang, besar di Jawa Timur, mestinya namanya apa? Ya, mungkin Sugeng atau Gatot seperti itu. Ya, memang nama-nama daerah di sana. Tetapi, karena kita itu tinggal di dalam zaman yang berbeda, maka mendadak ketika orang tua saya kasih nama, dia pilih nama dari Inggris, Istana Buckingham, ya. Kasih nama Andrew. Itu meskipun saya tidak ada relasi apa pun dengan kerajaan Inggris atau dengan orang Barat dan seterusnya.

Di dalam hari ini, kita pada waktu kasih nama, kita bebas kasih nama apa pun. Kasih nama Rusia, Natasha atau Ivanovic kepada anak kita. Terserah, karena tidak ada peraturan, tidak ada norma sosial yang membatasi. Tetapi, 2.000 lebih tahun yang lalu, pada waktu orang itu memberikan nama kepada anak-anak mereka, maka nama-nama itu tidak bisa diberikan sembarangan karena semua nama di situ, itu mencerminkan misalnya, dari kebangsaan apa, dari status sosial apa, dari kemudian keluarga apa, dan seterusnya. Jadi, pada waktu kita melihat nama-nama di sini, kita bisa menebak dan kita bisa meraba latar belakang dan juga identitas dari orang-orang tersebut.

Nah, kita akan coba lihat di dalam bagian pertama, 3 kelompok orang, 3 kelompok nama yang disebutkan oleh Rasul Paulus di dalam salam dari Roma 16:1-16. Pertama, kelompok orang yang pertama adalah kelompok orang-orang yang termasuk di dalam high profile. Orang-orang yang sangat penting di dalam masyarakat. Lalu, kelompok orang kedua adalah orang-orang biasa dan nanti, kita akan sama-sama melihat kelompok orang yang ketiga itu adalah kelompok orang-orang yang sebetulnya anonymous, yang namanya tidak disebut tetapi entah bagaimana, Paulus itu mengingat mereka.

Nah, kita akan coba lihat bagian yang pertama, ya. Kita akan hanya sekedar sekilas saja melihat nama-nama yang termasuk di dalam setiap kategori. Kategori pertama, orang-orang yang high profile. Orang-orang yang sangat penting yang disebutkan oleh Rasul Paulus. Nah, nama-nama di dalam kelompok ini, itu bisa Saudara lihat, misalnya di dalam bagian-bagian pertama dari Roma 16. Ada orang yang bernama Febe. Ayat yang pertama yang disebutkan di sana. Febe ini adalah satu orang yang sangat penting sekali kelihatannya. Karena apa? Karena pada waktu Saudara melihat identitas daripada Febe, nyatanya, Febe ini adalah salah satu pemimpin wanita di dalam jemaat di Kengkrea, dan Febe nampaknya adalah orang yang membawa surat Roma yang dituliskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Ya, jadi ini adalah satu orang wanita yang dia adalah pemimpin jemaat dan dia punya banyak resources dan karena dia punya banyak resources, dia bisa menempuh perjalanan yang panjang menyampaikan tulisan surat Roma dari Rasul Paulus sampai kepada jemaat di Roma dan bahkan kita bisa baca sampai hari ini.

Surat Roma itu adalah satu surat yang sangat penting untuk sejarah kekristenan dan surat Roma itu dibawa oleh Febe.  Dan Saudara, hari itu ketika orang mengirimkan surat, itu bukan seperti kita hari ini titip jastip lalu tiki atau apapun gitu, cuman kasih surat dan setelah itu pergi. Tidak. Hari itu kalau Febe sampai di Roma dan dia menyampaikan surat daripada Rasul Paulus, maka kemungkinan besar Febe adalah orang yang juga harus menjelaskan, menjawab pertanyaan jemaat tentang isi surat tersebut. Dan bahkan kadang-kadang si pembawa surat dia harus membacakan
surat itu di depan jemaat. Jadi Febe ini adalah orang yang sangat penting. Dia adalah kemungkinan besar bukan orang Yahudi, dia adalah orang Gentiles dan dia adalah seorang wanita, tapi orang yang sangat penting.

Lalu orang yang penting berikutnya yang kita bisa lihat ya adalah orang yang disebut sebagai Priskila dan Akwila. Saudara perhatikan ayat yang ketiga ya, “Salam kepada Priskila dan Akwila teman-temanku sekerja dalam Kristus Yesus.” Dan Paulus menyebutkan apa yang sudah mereka kerjakan. Priskila dan Akwila itu pasti orang yang sangat penting. Mereka adalah orang-orang yang pernah bersama dengan Rasul Paulus ketika Rasul Paulus baru melayani, mereka bersama-sama bekerja sebagai pembuat tenda. Dan Priskila, Akwila adalah orang yang mengerti firman Tuhan. Sangking mengertinya sampai ketika satu kali ada pengkhotbah muda yang sangat potensial bernama Apollos tetapi Apollos kurang mengerti tentang Kristologi atau siapakah Kristus, maka adalah Priskila dan Akwila yang akhirnya membuat Apolos itu semakin lama semakin bertumbuh di dalam imannya kepada Kristus. Inilah orang-orang awam yang dengan pengertian dan pengalaman mereka akan Kristus, mereka membaktikan diri mereka untuk melayani gereja Tuhan dan Paulus sangat menghargai pelayanan daripada Akwila dan Priskila. Sampai apa? Sampai kemudian Paulus mengatakan orang-orang ini, mereka adalah orang-orang yang sudah meresikokan leher mereka. They risk their neck untuk pelayanan bersama dengan Rasul Paulus.

Lalu saudara bisa melihat lagi nama-nama yang lain, misalnya saya ambil satu lagi nama ya. Saudara lihat ayat yang ke-13. “Salam kepada Rufus orang pilihan dalam Tuhan dan salam kepada ibunya yang bagiku adalah juga ibu.” Rufus ini siapa? Kemungkinan besar Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian, waktu Saudara membaca nama Rufus, Rufus yang dimaksud di sini adalah Rufus yang merupakan anak dari Simon dari Kirene. Saudara bisa membaca kisah Simon Kirene di dalam Injil Markus. Waktu Tuhan Yesus memikul salib-Nya, maka diminta oleh satu orang serdadu Romawi supaya ada Simon dari pada Kirene yang mengikut bersama-sama memikul salib Kristus. Dan Saudara melihat di dalam Injil Markus ketika Simon dari Kirene itu diceritakan, maka Simon dari Kirene dikatakan bahwa dia adalah anak daripada Rufus dan kemudian Alexander. Jadi kemungkinan besar karena Injil Markus itu dikirimkan kepada jemaat di Roma, ini adalah Rufus yang merupakan anak dari Simon Kirene.

Ini adalah orang-orang penting seperti ini. Mereka adalah orang-orang yang mereka adalah high profile di dalam masyarakat bahkan juga di dalam gereja mereka. Ya, dan Paulus itu menemukan bahwa Tuhan menggunakan orang-orang seperti ini di dalam jemaat di Roma. Ok, itu kategori yang pertama. Orang-orang yang sangat terpandang, orang-orang yang bahkan juga punya resources baik secara materi maupun juga secara intelektual ada di dalam gereja, ya.

Lalu yang berikutnya kita akan sama-sama melihat beberapa nama yang sebetulnya adalah nama-nama dari orang-orang yang biasa, orang-orang yang ordinary. Saudara perhatikan misalnya ayat yang kelima. Ayat yang kelima. “Salam juga kepada
jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus
.” Kita tidak tahu Epenetus itu siapa, yang kita tahu adalah dia adalah orang Kristen yang akhirnya bertobat mungkin di bawah pelayanan dari pada Paulus ya. Tapi kita tidak tahu apa yang dia kerjakan. Tapi kita melihat di dalam Roma pasal ke-16 bahwa dia ada di sana ya. Dia tidak sebesar Febe, dia tidak sebesar Priskila, Akwila, bahkan dia mungkin juga tidak sebesar seperti misalnya Rufus.

Lalu Saudara lihat lagi misalnya ya satu lagi Saudara perhatikan ayat yang ke-12. “Salam kepada Trifena dan Trifosa yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis yang kukasihi yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.” Saudara, di dalam ayat yang ke-12, nama Trifena, Trifosa, dan Persis itu adalah nama-nama budak. Waktu kita lihat nama-nama seperti ini, kita bisa melihat mereka dari kelas tertentu. Mereka bukan dari kelas yang tinggi seperti Febe, tapi mereka berasal dari kalangan budak. Dan hari itu yang namanya budak berarti hidupnya sepenuhnya dimiliki oleh tuan atau si pemilik budak. Tuannya minta dia mati, dia akan mati. Tuanya, misalnya mau menggunakan tubuhnya untuk kesenangan-kesenangan tuan itu sendiri, itu budak tidak bisa protes apa-apa. Nah, kita tidak tahu apakah Trifena, Trifosa bersama dengan Persis hari itu mereka masih adalah orang budak ataukah mereka sudah merdeka. Tetapi yang jelas Paulus itu pada waktu dia mengingat orang-orang di Roma, dia bukan hanya ingat orang-orang yang high profile, orang-orang yang resources-nya besar, bukan hanya mengingat orang-orang yang secara intelektual itu sangat, sangat tajam sekali seperti Priskila dan Akwila, tapi dia juga melihat orang-orang seperti ini, orang-orang yang biasa yang meskipun mereka dari kalangan yang paling rendah, tapi Paulus melihat bahwa mereka sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Trifena dan Trifosa, mereka bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Paulus mengingat orang-orang seperti ini.

Tapi Paulus juga ingat satu orang lagi, yaitu Persis, “yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.” Trifena dan Trifosa, mereka melayani Tuhan dengan giat. Persis dikatakan dia sudah melayani Tuhan. Kemungkinan besar, Persis adalah satu orang budak wanita yang karena usia sudah terlalu tua, dia tidak bisa melayani segiat yang sebelumnya ketika dia masih muda, tetapi Saudara melihat di sini bahwa Rasul Paulus itu masih mengingat orang-orang yang dulu pernah melayani di gereja di Roma dan Paulus memberikan yang namanya, salamnya. Inilah orang-orang yang biasa, yang mereka adalah budak, yang hari demi hari mereka hanya bekerja untuk melayani tuannya, tetapi di dalam semuanya itu, mereka masih ada hati untuk terus melayani Tuhan. Ya, itu kategori yang kedua. Kategori pertama, orang-orang yang sangat terpandang, full of resources. Kategori kedua, orang-orang yang biasa.

Lalu yang terakhir, di dalam nama-nama ini, sebelum kita nanti masuk ke dalam aplikasi, adalah orang-orang yang sebelumnya adalah anonymous. Anonymous itu apa? Anonymous itu berarti mereka tidak dikenal wajahnya dan mereka tidak dikenal namanya. Saudara perhatikan, ayat yang ke-10, “Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus.” Kalimat yang berikutnya yang penting, “Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Aristobulus.” “Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Aristobulus.” Aristobulus itu siapa? Aristobulus itu adalah cucu daripada Herodes Agung, Bapak/Ibu sekalian, ya, jadi adalah cucu daripada Herodes Agung dan kemungkinan besar dia bukan Kristen. Tapi waktu Paulus menuliskan Roma pasal yang ke-16 ayat yang ke-10, Paulus itu tidak sedang menyampaikan salamnya kepada siapa? Paulus tidak sedang menyampaikan salamnya kepada Aristobulus karena kemungkinan besar dia bukan Kristen. Paulus itu menyampaikan salam kepada mereka yang ada di dalam isi rumah Aristobulus tersebut. Mereka yang ada di dalam rumah Aristobulus itu siapa? Kemungkinan besar, mereka adalah para budak-budak Aristobulus yang sebagian mereka itu adalah orang-orang Kristen. Paulus, dia tidak tahu wajahnya seperti apa, dia tidak tahu namanya apa, cuma dia tahu tuh, ada orang-orang Kristen di dalam rumah dari Aristobulus yang merupakan seorang yang sangat besar dan seorang yang memusuhi kekristenan, tapi mereka ada di dalam rumah seperti itu dan Paulus, dia memberikan salamnya buat orang-orang seperti ini. Orang-orang yang tanpa wajah, orang-orang yang tanpa nama, yang hari demi hari mereka hanya merepetisi, sebetulnya secara perspektif manusia, tugas mereka seperti budak, tetapi Paulus itu mengenal dan Paulus itu menyampaikan salam dan Paulus mengingat mereka.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saya mau perlihatkan ada satu penemuan arkeologis yang sangat penting, ya, yang kita bisa lihat. Nah, ini merupakan satu ukiran abad kedua yang ditemukan di kota Roma, ya, di satu tempat yang bernama Palatine Hill. Jadi ini abad kedua ditemukan ukiran seperti ini. Nah, Saudara bisa melihat di dalam gambar di sana maka ada gambar seorang sedang beribadah kepada satu sosok manusia yang disalibkan dengan kepala keledai dan di dalam graffiti ini. Ini disebut sebagai Alexamenos Graffito, ini sangat terkenal sekali dan kita orang Kristen harus tahu, maka ada satu tulisan di dalam bahasa Yunani yang mengatakan, “Alexamenos sabete theon” atau di dalam bahasa Indonesia artinya Alexamenos itu menyembah Tuhan-nya.

Dan ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian, merupakan satu di dinding di dalam kompleks yang diperkirakan merupakan rumah daripada budak dari satu orang yang sangat kaya. Jadi di dalam kompleks tempat tinggal para budak ada ukiran seperti ini dan ini menceritakan hal yang sama seperti yang tadi kita lihat dalam Surat Roma. Di dalam rumah orang-orang kaya tersebut, ada budak-budak Kristen dan pada waktu mereka beribadah kepada Yesus Kristus, maka teman-temannya sesama budak yang bukan Kristen itu menghina mereka seperti seolah-olah mereka mengerjakan satu ibadah yang sangat konyol. “Kenapa engkau beribadah kepada orang yang disalibkan?” Dan itu merupakan satu kebodohan, karena itu mereka kasih kepala keledai di dalam tulisan seperti ini.

Nah, Saudara sekalian, pada waktu kita melihat apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Surat Roma pasal ke-16, Paulus memberikan salamnya kepada siapa? Kepada orang-orang yang mereka adalah businessman, orang-orang yang punya resources, yang punya kesibukan dalam bisnisnya seperti misalnya Febe tadi. Paulus memberikan salamnya kepada orang-orang yang ordinary, orang-orang yang mungkin berasal dari kalangan para budak yang pernah melayani Tuhan atau sedang melayani Tuhan, dan mereka ada di dalam jemaat meskipun mereka juga terus kerjakan rutinitas mereka hari-hari. Paulus juga memberikan salam, bahkan kepada orang-orang yang anonymous. Namanya tidak tahu, wajahnya tidak tahu, tapi Paulus tahu mereka adalah anak-anak Tuhan di dalam rumah-rumah perbudakan tersebut. Lalu apa? Waktu kita sudah sama-sama melihat seperti ini, apa maknanya untuk kita? Bagaimana nama-nama ini bisa menolong kita untuk mengerti sebetulnya hidup Kristen itu apa? Sebetulnya yang namanya makna hidup itu apa? 

Nah, kita akan masuk pada bagian yang terakhir, bagian pada waktu kita melihat implikasinya untuk kehidupan kita semua. Saudara sekalian, pada waktu kita lihat bersama-sama, nama-nama seperti ini, maka kita mesti melihat bahwa Paulus ketika dia memberikan salam pada waktu Paulus memberikan perhatiannya itu pasti bukan hanya sekedar pendapat pribadi Paulus saja. Sebagai orang Kristen pada waktu kita membaca Kitab Suci, kita percaya setiap tulisan Paulus itu pasti merupakan gerakan dari pada Roh Tuhan. Jadi pada waktu Paulus itu menyampaikan salam, kita bisa percaya bahwa Tuhan pun sedang menyampaikan salam-Nya kepada jemaat-jemaat tersebut. Saudara sekalian, hal pertama, ya, yang kita bisa tarik dari pengamatan kita dari Roma Pasal 16, yang pertama, orang-orang seperti ini, meskipun mereka punya kesibukan mereka masing-masing, mereka punya tekanan hidup masing-masing, mereka punya yang namanya risiko hidup mereka masing-masing, tetapi yang pertama, orang -orang ini, Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian, mereka pertama, mereka menempatkan identitas mereka itu di dalam Kristus. Nah, ini merupakan suatu sumber makna hidup yang paling penting. Identitas mereka itu mereka letakkan di dalam Kristus. Orang-orang seperti ini yang diberikan salam oleh Rasul Paulus. Mereka adalah orang-orang yang meskipun dari latar belakang berbeda-beda, ada orang Yahudi, ada orang yang bukan Yahudi, ada orang merdeka, ada budak, ada wanita, dan juga ada yang namanya laki-laki, tetapi orang-orang seperti ini, mereka tidak meletakkan identitas mereka di dalam status sosial yang dikerjakan oleh masyarakat hari itu.

Mereka meletakkan apa? Mereka meletakkan identitas mereka itu di dalam Yesus Kristus sendiri. Tuhan yang sudah mengasihi mereka itu identitas mereka yang paling utama. Waktu Paulus tulis salam, dia melihat mereka pertama-tama sebagai orang-orang yang sudah ditebus di dalam Yesus Kristus, dan ini merupakan suatu hal yang penting. Suatu kali ya, Saudara, ada satu orang sejarawan bernama Tom Holland. Ya, dia orang yang namanya sama dengan yang main Spider-Man. Ya, Tom Holland dia mengatakan dia adalah satu orang yang pada waktu dia itu sekolah minggu dia sudah mulai pikir bahwa satu kali kelak dia akan meninggalkan kekristenan. Karena apa? Karena dia lebih suka menyaksikan dan juga lebih suka belajar kisah-kisah kuno tentang Greco Roman Empire. Dia lebih suka belajar tentang apa itu yang namanya kebudayaan-kebudayaan yang sangat kuat dari pada Romawi, Sparta, dan seterusnya dan seterusnya.

Sampai akhirnya, pada waktu dia sudah menjadi besar dan dia tuh  sangat terinspirasi dan sangat suka membaca kegagahan-kegagahan bagaimana kaisar-kaisar zaman dulu itu menaklukkan musuh-musuhnya, dia tiba pada satu pertanyaan yang sangat penting, yaitu apa? Kalau memang dulu kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di dunia Barat itu sedemikian brutal dan sedemikian kejam, kenapa hari ini kita yang ada di dalam dunia Barat kita tidak memiliki kekejaman yang sama dengan orang-orang di dalam zaman lalu? Kenapa misalnya pada waktu ada satu orang menjadi korban pelecahan seksual, anak-anak misalnya menjadi korban pedofilia, kita tuh bisa menuntut pemerintah dan pemerintah langsung ambil tindakan untuk menyelamatkan anak itu lalu kemudian tangkap orang-orang yang melakukan kejahatan-kejahatan seksual misalnya. Padahal di dalam kisah-kisah tentang Kaisar Romawi, tentang Kerajaan Romawi, tidak ada hak untuk budak, untuk pembantu, untuk PRT, atau untuk anak-anak pada waktu mereka dikerjain untuk mereka akhirnya protes. Dan kenapa kita hari ini sangat menjunjung yang namanya pengampunan? Kita sangat menjungjung yang namanya hak asasi. Lalu Tom Holland itu mengatakan bahwa di dalam kebudayaan Barat ada satu peristiwa yang sangat penting yaitu apa? Yaitu kebudayaan Barat itu menerima Injil dari pada Yesus Kristus. Karena hanya di dalam Injil maka ada berita bahwa Allah yang paling tinggi itu akhirnya rela untuk menjadi budak dan akhirnya mati dengan cara yang mengenaskan di atas kayu salib. Nah, sejak itu kata Tom Holland maka seluruh kebudayaan di Barat itu akhirnya mengatakan, mengamini, bahwa yang namanya korban itu punya hak untuk diperhatikan dan dia punya kesempatan untuk akhirnya menang. Karena apa? Karena peristiwa salib.

Saudara sekalian, pada waktu kita bersama-sama melihat bagian ini, sekali lagi, Roma pasal ke-16, kita menemukan orang-orang dari latar belakang berbeda-beda, mereka punya identitas yang sama. Mereka punya identitas yaitu di dalam salib Yesus Kristus. Itu identitas mereka yang sangat penting. Seperti yang tadi Saudara sudah baca di dalam Roma 8:37- 39, Paulus mengatakan dia yakin tidak ada satu pun di dalam dunia ini dari bahkan malaikat-malaikat sekali pun baik hidup maupun mati yang bisa memisahkan kita dari pada kasih Kristus. Ini merupakan anugerah keselamatan. Ini merupakan identitas yang sesungguhnya yang kita bisa miliki sebagai orang-orang Kristen. Kita, harga kita itu tidak ditentukan dari ras kita, tidak ditentukan dari pendapatan kita, bahkan tidak ditentukan dari pergumulan hidup kita. Siapa kita sesungguhnya itu diukur dari apa yang Allah itu sudah kerjakan bagi kita di dalam Kristus dan Dia mengutus Anak-Nya menjadi orang yang akhirnya mati secara mengenaskan di atas kayu salib. Itu apa? Itu siapakah kita di dalam Kristus.

Saudara, beberapa bulan yang lalu keluar satu versi yang baru dari film Superman. Ya, saya nggak tahu saudara nonton nggak. Lalu akhirnya pada waktu Superman 2025 keluar, maka muncul dua kubu. Ada kubunya Henry Cavill yang mengatakan Superman zaman dulu lebih bagus, gitu, ya. Lalu ada kubunya satu lagi David Corenswet, Superman yang baru. Saya nggak tahu Saudara di kubu mana. Tapi kalau Saudara tanya saya, saya di kubunya David Corenswet, gitu, ya, bukan di Henry Cavill. Ya, saya nonton itu bersama dengan anak-anak, dan di dalam film itu Saudara ada satu percakapan yang sangat-sangat menarik antara Clark Kent dengan ayahnya, Jonathan Kent, ayahnya di bumi. Ya, waktu itu Clark Kent, dia merasa sangat kebingungan karena baru akhirnya menyadari ternyata alasan dia dikirim ke bumi itu bukan untuk menyelamatkan bumi, tetapi untuk malah menguasai bumi menjadi orang yang akhirnya memanipulasi manusia-manusia di bumi. Dan dia kebingungan karena selama ini dia pikir saya itu dikirim untuk menciptakan kedamaian di bumi. Tapi saya baru tahu ternyata apa yang saya pikir itu akhirnya salah. Dan di dalam kegamangan identitas tersebut, dia bertanya kepada ayahnya Jonathan Kent. Lalu ini ada jawaban dari pada Jonathan Kent. Jonathan Kent itu berbicara kepada Clark Kent dengan kalimat seperti ini: “Your choices Clark, your actions. That’s what makes you who you are.” Ya, pilihanmu, tindakanmu, itu yang mendefinisikan siapakah sesungguhnya engkau. Kata yang namanya Jonathan Kent kepada anaknya. Lalu akhirnya diceritakan si sana Clark Kent keluar dari krisis identitasnya dan dia akhirnya menjadi orang yang, ya, terus konsisten menyelamatkan isi dunia.

Saudara sekalian, apa yang Saudara baca di sana, itu merupakan satu hal yang juga diajarkan dunia ini. Siapakah engkau, itu engkau sendiri yang tentukan. Siapakah engkau? Itu engkau sendiri yang buat. Engkau buat identitasmu berdasarkan gajimu, berdasarkan status sosialmu, berdasarkan mungkin warisanmu, berdasarkan perusahaan di mana engkau bekerja. Siapakah engkau, itu engkau sendiri yang tentukan. Tapi Saudara-saudara, pada waktu tadi kita melihat kutipan seperti itu, “Your choices, your action, itu yang menentukan siapakah engkau”, kita tahu bahwa ini merupakan satu fondasi yang sangat-sangat rapuh, karena apa? Kalau memang kita, harga kita, itu ditentukan dari perbuatan kita, maka ketika tidak kita tidak akan pernah tahu, kita tidak akan pernah tahu sebetulnya nanti pada waktu saya itu mengakhiri hidup ini saya akan melakukan tindakan-tindakan seperti apa. Hari ini saya bisa memilih yang baik untuk saya, Superman bisa pilih yang baik untuk dirinya, tapi itu semua tidak akan ada artinya, kalau misalnya di dalam beberapa tahun ke depan dia ambil keputusan yang berbeda. Pada waktu kita menyerahkan identitas kita kepada perbuatan kita sendiri dan kita itu tidak bisa menjamin perbuatan kita akan senantiasa konsisten hari ini sampai seterusnya. Itu membuat siapakah kita identitas kita itu menjadi satu identitas yang sangat-sangat berbahaya dan menjadi identitas yang sangat-sangat rapuh.

Ada satu orang, lecturer di Harvard Business School, Arthur Brooks, dia mengatakan “orang yang mendirikan identitasnya di atas kesuksesan, dia sedang mendirikan hidupnya di dalam suatu kebahayaan.” Karena apa? Karena satu kali dia mungkin akan gagal. Satu kali akan ada kompetitor yang lebih besar dari pada dia. Satu kali dia akan pensiun dan dia akan kemudian dilupakan orang. Kalau engkau mendirikan identitasmu, siapakah engkau sesungguhnya, itu di dalam pencapaian-pencapaian di dalam dunia ini, maka apa? Itu semua akan menjadi satu hal yang rapuh. Tetapi kalau pada waktu kita melihat bersama-sama Roma pasal yang ke-16. Kita menemukan orang-orang seperti ini, mereka tidak mendirikan identitas mereka, mereka tidak mencari makna hidup mereka, terutama di hal-hal yang mereka bisa capai, tapi di dalam apa yang Tuhan itu sudah kerjakan buat mereka dan apa yang Tuhan sudah kerjakan buat mereka itu dikatakan apa? Bahkan malaikat pun, maut pun, hidup pun, tidak ada yang bisa pisahkan mereka dari kasih Yesus Kristus.

Saudara, waktu kita memasuki tahun 2026, mari kita sama-sama memikirkan kita punya banyak tekanan, kita punya banyak kesulitan. Tetapi di dalam semua tekanan, kesulitan, atau bahkan kesuksesan, kita sebetulnya menemukan makna kita, kita menemukan identitas kita itu di mana. Apakah di dalam pilihan kita sendiri, seperti yang dikatakan oleh Jonathan Kent ataukah kita menemukan identitas kita itu di dalam apa yang Allah itu sudah kerjakan untuk hidup kita. Identitas dalam Kristus. Waktu kita memikirkan bahwa identitas saya di dalam Kristus, itu bukan hanya sekedar satu hal yang kita bisa nikmati hari ini, tetapi identitas di dalam Kristus itu juga menentukan bagaimana kita melihat yang namanya kematian.

Saudara sekalian, ada beberapa ini ya, data sejarah, Kitab Roma itu dituliskan kira-kira tahun 56 Masehi. Saudara tahu, tahun ke 64 Masehi, maka Kaisar Nero, dia memerintahkan untuk membakar seluruh Kota Roma. Dan pada waktu Nero membakar Kota Roma, maka yang dipersalahkan adalah orang-orang Kristen di Kota Roma tersebut. Mereka adalah orang-orang yang membuat dewa-dewa itu marah dan akhirnya menyebabkan seluruh Roma mengalami bencana. Ada satu orang sejarawan bernama Tacitus, dan dia mengatakan bahwa waktu Nero itu marah, dan dia menggunakan orang-orang Kristen ini sebagai kambing hitam, maka dia melempar orang-orang Kristen itu untuk dimakan anjing, untuk kemudian dipaku di atas kayu salib dan untuk dibakar hidup-hidup. Sampai Tacitus mengatakan siang hari semuanya terang-benderang, di malam hari yang gelap, maka Kota Roma itu diterangi oleh orang-orang Kristen yang terbakar tersebut. Saya pada waktu menyadari kebakaran di Roma itu hanya terpaut 8 tahun sejak tulisan Roma, kitab Roma ini dikirimkan kepada jemaat di sana, saya membayangkan nama-nama yang kita sedang kita lihat pada hari ini adalah mungkin sebagian nama-nama yang akhirnya juga terbakar dan dibunuh oleh Nero.

Tetapi Saudara, pada waktu kita meletakkan makna hidup kita, identitas hidup kita pada Kristus, maka Kristus itu mengubah bukan hanya hidup kita saat ini saja, tetapi Tuhan Yesus juga mengubah cara kita melihat yang namanya kematian. Saudara kalau lihat apa yang dipikirkan orang tentang kematian, sebagian orang akan melihat, waktu kita mati sudah, kematian itu merupakan the end of existence, kematian itu merupakan akhir dari keberadaan. Setelah kematian apa? Setelah kematian ya tidak ada apa-apa lagi, sudah selesai. Nah konsep kematian yang seperti ini menyebabkan orang akan menjadi berusaha setengah mati, mencari kesenangan sebanyak-banyaknya dalam hidup ini, atau orang akan mengalami keputusasaan yang sangat-sangat besar, kalau memang hidup itu selesai setelah kematian, dan setelah kematian tidak ada apa-apa lagi, maka ya sudah buat apa hidup ini. Atau yang kedua, cari kesenangan sebanyak-banyaknya mumpung masih hidup. Itu konsep kematian yang pertama.

Tapi ada juga konsep kematian yang berikutnya, waktu orang mati, yang dianut oleh banyak agama, waktu orang mati, maka itu merupakan momen untuk mereka menghadap yang namanya penghakiman, untuk mereka menghadap kepada yang namanya penghukuman. Itu yang namanya kematian, menghadap yang namanya pengadilan, itu yang namanya kematian. Dan pada waktu kematian itu dihayati sebagai momen yang pada akhirnya orang itu datang di pengadilan untuk ditimbang untuk akhirnya dijatuhi hukuman dan kemudian akibatnya di sini hidup menjadi sangat-sangat berbahaya, hidup yang sangat-sangat berat, hidup yang harus berpacu dengan kesalahan-kesalahan saya sendiri untuk saya boleh mendapat perkenanan dari siapapun yang saya katakan sebagai allah di atas sana.

Tetapi dalam kekristenan, pada waktu kita meletakkan identitas kita di dalam Kristus, maka kematian itu bukan suatu hal yang nothing, kematian itu bukan nothingness, kematian itu bukan suatu hal yang dangerous, tapi kematian menjadi satu hal yang beautiful. Karena pada waktu saya mati, saya berjumpa dengan Juruselamat saya, yang mengasihi saya. Dan pada waktu saya menyadari kematian itu adalah satu hal yang beautiful Bapak, Ibu, Saudara sekalian, maka apa? Maka akhirnya saya boleh menjalani hidup ini sebagai hidup yang meaningful, sebagai hidup yang akhirnya bermakna. Saudara, saudara bayangkan orang-orang yang pada hari itu ditangkap dan dibakar hidup-hidup, seolah-olah mereka itu nothing. Mereka itu nothing.

Ada satu bangunan di Roma, di kerajaan Romawi, yang disebut Koloseum. Di dalam Koloseum itu cuma orang yang menang yang boleh hidup. Orang kalau sudah diberi jempol oleh Kaisar, dia dipersilahkan untuk hidup. Koloseum dan juga kebudayaan Romawi adalah kebudayaan untuk orang-orang yang menang. Hari itu Saudara, orang-orang itu diperlakukan sebagai orang-orang yang kalah. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa pada waktu mereka dihukum mati. Kalau Saudara tahu lagunya Queen ya. We are the champions, “We are the champions. We are the champions. No time for losers cause we are the champions.” Kalau kita menang, nggak ada urusan sama orang-orang kalah, itu persis yang dipercaya sama orang-orang Romawi. Tetapi di dalam tulisan surat Paulus, pada waktu orang itu sudah meletakkan identitasnya, waktu orang itu sudah mendapatkan maknanya di dalam penebusan Kristus, maka mereka tidak menyanyi “we are the champions” mereka menyanyi seperti yang dikatakan Rasul Paulus, kita itu adalah orang-orang yang lebih daripada pemenang. We are more than conquerors. Bukan karena saya lebih hebat, bukan karena kita lebih bisa siksa yang lain, tapi karena Kristus yang mengasihi saya dan tidak ada yang bisa memisahkan saya dari kasih Kristus. Kita more than conqueors. Itu bagian pertama implikasinya. Kita pada waktu melihat nama-nama ini kita menyadari, orang-orang tersebut mendapatkan makna kehidupannya itu dari apa? Dari identitas mereka di dalam Yesus Kristus. Pertama identitas.

Lalu yang kedua, orang-orang itu mendapatkan makna hidup berikutnya dari apa? Yang kedua adalah dari instrumen. Mereka membaktikan diri mereka untuk menjadi yang namanya instrumen. Alat-alat Tuhan. Menjadi orang-orang yang melayani Tuhan. Sering kali kita sebagai orang-orang Kristen, kita itu lebih kepikiran tentang identitas kita dan itu baik. Kadang-kadang kita suka tanya, apakah saya sudah diselamatkan atau belum? Ataukah anak saya sudah betul-betul di dalam Tuhan atau belum. Nah itu pertanyaan baik Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian. Tetapi waktu kita bertanya-tanya dalam Roma pasal 16, mereka adalah orang-orang yang bukan hanya tahu identitas mereka di dalam Kristus, bukan hanya tahu hidup mereka ditebus oleh Kristus, tetapi mereka juga tahu hidup mereka itu adalah instrumen dari Kristus. Identitas dan juga sekaligus yang namanya instrumen. Waktu orang, kita hari ini, bergumul apakah saya sudah di dalam Kristus, apakah Saudara pernah bertanya, apakah engkau sedang dipakai oleh Tuhan? Apakah engkau sedang digunakan oleh Tuhan menjadi instrumen-instrumen-Nya? Pada waktu orang itu tahu bahwa dirinya merupakan properti Kristus, pada waktu orang itu tahu bahwa dirinya adalah milik Kristus, otomatis Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mereka juga akan menyerahkan diri mereka untuk boleh melayani Tuhan.

Hari itu di dalam perjalanan di dalam mobil tersebut, selesai anak saya mengatakan, selesai anak saya tanya, “Daddy, hidup ini buat apa? Kalau pagi sekolah, pulang, makan, berangkat les, besok ulangi lagi, hidup ini buat apa?” Saya kasih penjelasan kepada anak saya, saya bilang seperti ini, hidup itu seperti ini, ada orang menjalani hidup itu seperti goodie bag. Saudara tahu goodie bag itu apa? Goodie bag adalah kantong berisi makanan dan permen. Biasanya kalau anak-anak pergi ke sekolah, ada ulang tahun temannya, mereka pulang membawa goodie bag. Biasanya isinya permen, coklat, wafer, dan seterusnya. Ada orang yang hidup seolah-olah hidup mereka itu seperti goodie bag. Goodie bag itu gunanya untuk apa? Goodie bag itu gunanya adalah untuk menampung. Setiap materi yang akhirnya boleh diberikan oleh orang, setiap materi yang mereka bisa dapatkan, mereka masukkan ke dalam goodie bag tersebut. Pada waktu orang melihat goodie bag itu, kelihatannya sangat bagus, sangat indah, dan juga sangat menarik hati untuk orang itu dapatkan. Ada orang itu memperlakukan hidup mereka seperti goodie bag, untuk mendapatkan semua hal yang mereka pikir baik, untuk mendapatkan semua hal yang dikejar oleh orang. Mereka kumpulkan barang-barang yang kelihatannya mewah, kelihatannya juga sangat baik. Tapi pertanyaannya, setelah goodie bag itu menampung barang-barang tersebut, lalu buat apa? Setelah isinya ada coklat, ada permen, lalu ada mainan mungkin, terus buat apa goodie bag itu? Cuma ditaruh di rumah.

Tetapi ada orang kedua. Saya katakan lagi kepada anak-anak, ada model kehidupan yang kedua, yang dia tidak menjalani hidup seperti goodie bag. Dia menjalani hidup seperti gloves, seperti sarung tangan. Saudara, dibandingkan dengan goodie bag, sarung tangan itu merupakan satu hal yang sangat-sangat biasa, sangat-sangat tidak menarik. Tetapi pada waktu sarung tangan itu digunakan oleh orang yang memiliki sarung tangan itu, pada waktu ada tangan yang masuk dan mengisi seluruh sarung tangan itu, maka sarung tangan yang kelihatannya tidak lebih indah daripada goodie bag, yang tidak pernah dikejar-kejar orang, yang tidak pernah diinginkan orang, pada waktu dimasuki dan betul-betul fit dengan tangan pemiliknya, sarung tangan tersebut bisa mengerjakan banyak hal yang tidak pernah bisa dikerjakan oleh goodie bag yang paling indah sekalipun. Dia bisa melakukan operasi yang sangat rumit, dia bisa memasak masakan yang sangat-sangat indah dan dia bisa mengerjakan apa pun di dalam dunia ini. Asal apa? Asal ada tangan yang mengisi sarung tangan tersebut. Dan pada waktu sarung tangan itu diisi oleh tangan sang pemiliknya, maka sarung tangan itu menjadi sarung tangan yang jauh lebih hidup, yang mampu untuk membuat hal-hal yang sangat-sangat menakjubkan, yang tidak bisa dikerjakan oleh goodie bag yang paling indah sekalipun. Hidup itu cuma dua. Ada orang yang pakai hidupnya untuk jadi goodie bag. Ya, semua hidup seperti itu. Tapi ada orang yang tahu hidupnya itu diserahkan untuk menjadi sarung tangan milik Tuhan.

Nah, Saudara sekalian, pada waktu kita bersama-sama membaca Roma 16 sekali lagi, dan kita melihat nama-nama itu sekali lagi, orang-orang ini mereka sama seperti kita. Ada orang-orang di dalam masyarakat yang mereka punya achievement yang sangat dikagumi orang, sangat dikagumi gereja. Ada orang-orang yang sangat-sangat biasa, yang kelihatannya bakat juga tidak terlalu ada, dan seterusnya. Bahkan ada orang-orang yang wajahnya pun sering kali juga kita abaikan. Tetapi pada waktu mereka hidup di dalam semua pergumulan mereka, mereka itu punya makna hidup. Dan makna hidup itu datang dari dua hal: dari identitas mereka di dalam Kristus dan dari menjadikan hidup mereka sebagai instrumen milik Kristus. Dan biarlah kiranya apa yang kita pikirkan hari ini boleh memberkati kita. Berharap tahun 2026 yang akan datang, pada waktu kita menjalani hidup kita, jangan lupa, jangan lupa untuk bertanya pertanyaan ini: hidup itu buat apa? Kalau saya senantiasa mengulang apa yang saya kerjakan puluhan tahun yang silam, belasan tahun yang silam, lalu saya ulangi lagi di tahun 2026, saudara harus bertanya, “Hidup itu buat apa? Dari mana saya menemukan makna hidup?” Dan sekali lagi, Roma 16, seluruh kitab Roma, bahkan seluruh Kitab Suci, memberitahukan: kalau engkau mau tahu hidup itu buat apa, taruh identitasmu di dalam Kristus Yesus, di mana engkau tidak perlu takut, karena tidak ada apa pun yang bisa memisahkan engkau dari Kristus. Dan yang kedua, serahkan hidupmu untuk menjadi instrumen daripada Kristus Yesus. Serahkan hidupmu bukan untuk menjadi goodie bag, tetapi menjadi gloves, sarung tangan milik Kristus. Mari kita sama-sama tunduk kepala dan masuk dalam doa.

Bapa di dalam surga, kami bersyukur untuk pagi hari ini. Tuhan tolong pakai hidup kami, Tuhan. Hidup kami yang hanya sekali dan kemudian lenyap, kiranya menjadi hidup yang betul-betul penuh makna di dalam mata Tuhan. Ampuni kami, Tuhan, kalau setelah kami menjadi orang-orang Kristen, kami melupakan tentang kisah pengampunan dan cinta Tuhan di atas kayu salib, sehingga kami melekatkan identitas siapakah kami pada hal-hal lain. Kami membuat hidup kami bermakna karena hal-hal yang tidak pernah Tuhan katakan sebagai sumber makna hidup kami. Ampuni kami Tuhan, kalau kami mengukur diri kami dari kesialan kami, kami mengukur diri kami dari kemujuran kami, kami mengukur diri kami dari seberapa banyak uang di dalam bank account kami. Ampuni kami, ya Tuhan, dan tolong kami untuk senantiasa boleh menikmati pengampunan, keselamatan, dan identitas yang baru di dalam Tuhan. Tolong kami agar seumur hidup melayani Tuhan di dalam gereja yang Tuhan sudah anugerahkan kepada kami. Kami menyerahkan tahun 2026 ke depan. Kiranya Tuhan mengubah hati dan mengubah hidup kami menjadi kehidupan yang betul-betul menjadi berkat bagi orang lain, dan kami boleh menikmati damai sejahtera, rasa aman, dan rasa syukur di dalam Tuhan yang sudah mengasihi kami. Hanya di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan kami berterima kasih sedalam-dalamnya. Amin.