Mengikuti Pimpinan Tuhan, 28 Desember 2025

Mengikuti Pimpinan Tuhan

Mat. 2:13-15

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, khotbah kita pada hari ini adalah tentang bagaimana kita mengikuti pimpinan Tuhan. Hidup kita senantiasa dipimpin oleh Tuhan. Untuk bisa melewati tahun 2025, kita butuh pimpinan Tuhan, kita butuh penyertaan Tuhan, kita butuh anugerah Tuhan, dan nanti, tahun 2026 yang akan kita hadapi di tahun depan nanti, kita pun kiranya boleh senantiasa mengikuti pimpinan Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ada seorang tokoh teolog yang abad ke-4 boleh hidup, yang bernama Agustinus. Agustinus adalah seorang teolog yang sangat cerdik, sangat pintar, dan dipakai Tuhan untuk melayani gereja-gereja Tuhan yang ada pada saat itu. Dia adalah seorang teolog besar dalam sejarah gereja. Dia hidup tahun 354-430 (Masehi) dan dia adalah-kita bisa sebut sebagai-teolog reformed yang bahkan sebelum teologi reformed sendiri boleh terbentuk dan disistematiskan, dia merumuskan doktrin anugerah. Sebagai orang Kristen, khususnya Kristen reformed, kalau orang Kristen dikenal bagaimana orang Kristen itu mengikut Yesus, tetapi kalau orang Kristen reformed dikenal dengan doktrin apa? Doktrin anugerah. Doktrin anugerah itu disimpulkan di dalam singkatan TULIP. Ya, Total depravity, Unconditional election, lalu Limited atonement, Irresistible grace, dan juga Perseverance of the saints. Kita sebagai orang reformed tidak kaku atau tidak anti, asing dengan TULIP ini, Bapak, Ibu sekalian, tetapi ketika orang mengatakan TULIP, itu juga sebenarnya kesimpulannya adalah doktrin anugerah.

Nah, bagaimana doktrin anugerah ini diajarkan di dalam Alkitab sendiri bahwa manusia sudah jatuh dalam dosa dan rusak total, maka kita hanya bisa diselamatkan itu hanya karena anugerah, di mana orang-orang Kristen di zaman dulu tidak mengenal anugerah Tuhan bahwa kita diselamatkan 50% perbuatan baik dong? Kita kan yang pegang tangan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus ulurkan tangan. Kalau kita nggak mau pegang, ya, nggak selamat. Berarti, keselamatan itu adalah 50% pekerjaan manusia, 50% anugerah Tuhan. Tetapi, di dalam teologi reformed ataupun doktrin anugerah ini tidak demikian. Keselamatan itu 100% anugerah Allah. Berarti apa? Kita itu sudah seperti mayat. Kita sudah mati. Kita mengangkat tangan pun tidak bisa. Itu namanya mati. Mati, ya, mati. Mati rohani. Sudah terputus dengan Allah. Nggak bisa apa-apa. Dan bagaimana kita bisa mengangkat tangan, memegang tangan Tuhan Yesus? Itu karena Tuhan sudah menghidupkan kita terlebih dahulu lewat Roh Kudus yang melahirkembalikan kita. Barulah kita bisa angkat tangan dan meresponi undangan dari Tuhan Yesus Kristus. Maka, ini adalah doktrin anugerah. Sepertinya, orang Kristen itu didasarkan kehidupannya di dalam anugerah Tuhan.

Lalu, Agustinus juga merumuskan doktrin predestinasi. Allah itu  menyelamatkan siapa yang Dia mau selamatkan dan sudah Dia pilih sejak sebelum dunia dijadikan. Allah itu tidak menyelamatkan dengan tiba-tiba ataupun tanpa perencanaan. Tuhan menyelamatkan orang, ya, bisa menyelamatkan di dalam kedaulatan-Nya dan pemilihan ini berdasarkan anugerah Allah yang begitu besar, bukan karena perbuatan, usaha manusia lagi, ya. Lalu, juga dia jelaskan tentang doktrin dosa asal; bagaimana setiap orang yang dikandung dalam rahim ibu sudah memiliki dosa, natur dosa. Sehingga bayi pun, meskipun belum terlihat perbuatan di luar, tetapi di dalam kandungan ibu pun sudah berdosa dan melakukan kejahatan di mata Tuhan. Maka, bayi dalam kandungan pun bisa mati. Upah dosa adalah maut. Maka, setiap orang yang berdosa harus mati, harus dihukum, dan menerima hukuman kekal.

Namun, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kita melihat kehidupan Agustinus setelah pertobatannya itu begitu dipakai Tuhan, begitu pintar, begitu mengajar firman dengan tegas, dengan tepat, seperti itu, ya, bagaimana masa lalunya, sehingga dia bisa dipakai Tuhan untuk mengajarkan doktrin yang begitu penting dalam kekristenan? Ternyata, masa lalunya adalah masa yang mungkin jauh lebih buruk daripada kita. Kehidupannya bukanlah kehidupan yang takut akan Tuhan sejak kecil dididik. Lalu, kehidupan moralnya baik, begitu, ya. Terus akhirnya, melayani, perlahan terus dipakai Tuhan lebih besar lagi, lebih besar lagi. Apakah dia adalah pengikut Kristus yang setia? Ternyata, jawabannya adalah tidak. Dia memiliki masa lalu yang buruk, penuh dengan dosa. Dan bagaimana dia bisa berubah kehidupannya? Hanya karena pimpinan Tuhan yang Tuhan nyatakan lewat firman Tuhan kepada Agustinus sehingga kehidupannya bisa berubah 180°, ya.

Dahulu, di masa mudanya, ya, di masa lalu, Agustinus itu hidup penuh dengan dosa. Dosa hawa nafsu seksual. Dosa pemuda-pemuda. Dia memiliki hubungan di luar nikah dengan seorang perempuan dan hidup bersama dengan seorang perempuan dengan pasangan yang tidak resmi itu selama kurang lebih 13 tahun. 13 tahun berdosa tiap hari di hadapan Tuhan, tidak memiliki hubungan yang resmi. Dia hidup bersama perempuan. Kemudian, dia kecanduan hawa nafsu. Dia tidak bisa memiliki pengendalian diri. Hidupnya mengikuti keberdosaannya. Dia tahu ajaran tentang Kristen. Dia tahu tentang Yesus Kristus, tetapi dia memilih untuk tidak bertobat. Ini adalah keberdosaan manusia. Ia mengatakan di dalam bukunya, Confessions, bahwa, “Tuhan, aku tahu bahwa aku harus murni. Aku harus suci. Jadikan aku murni. Silakan, tetapi jangan sekarang. Nanti saja. Aku tidak mau murni saat ini. Aku mau murninya nanti.” Ini menunjukkan bahwa pergumulan moralnya itu begitu berat di dalam perilakunya, kehidupannya sebagai laki-laki dan dia juga memiliki pengajaran yang salah di dalam pikirannya tentang kebenaran, tentang Allah sendiri.

Dia terjebak dalam manikeisme selama kurang lebih 9 tahun. Dia hanya percaya pada kekuatan yang gelap dan terang, yang baik-yang salah, yang baik-buruk, benar-salah, terus manusia itu ada di tengah-tengahnya. Jadi, manusia itu bisa melakukan yang jahat karena ada pengaruh kuasa tersebut. Bukan berelasi dengan Tuhan sendiri, bukan berelasi dengan hukum Tuhan sendiri, tetapi, ya, sudah, memang kehidupan manusia ada gelap, ada terang, ada salah, ada benar, ada baik dan buruk. Ya, sudah. Biasa saja. Dosa itu bukan kehendak diri, tetapi karena pengaruh-pengaruh yang di luar dia. Dia memiliki pemahaman-pemahaman yang aneh, yang tidak sesuai kebenaran firman Tuhan, dan dia juga menjadi orang yang tidak mau belajar. Skeptis. Tidak percaya pada kebenaran absolut. Dia tidak mau sungguh-sungguh mencari kebenaran dari Alkitab yang dia sebenarnya sudah miliki karena dia hidup dalam konteks keluarga Kristen, tetapi dia memilih untuk melawan Tuhan. Di masa muda, Agustinus moralnya rusak, pemikirannya salah.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, kalau kita berdasarkan hukum tabur tuai, ya, hukum tabur tuai, upah dosa adalah maut. Maut akan dialami oleh semua manusia, berarti memang kita menuai upah dosa, semua manusia itu menuai upah dosa dan harus mati. Bahkan mengalami kematian yang kekal. Nah, sekarang Agustinus moralnya sudah rusak, pikirannya sudah sesat. Apa yang dia bisa tuai di masa tuanya? Ya, masa mudanya bobrok hancur. Yang dia bisa tuai apa? Ya, kebobrokan itu rusak pikirannya, tubuhnya juga rusak moralnya rusak kok. Itu bicara soal hukum tabur tuai. Tetapi anugerah Tuhan itu melampaui segala kebobrokan dosa Agustinus. Agustinus harus memetik buah yang busuk. Tetapi Tuhan bisa membalikkan kehidupan Agustinus. Tetap ada hukum tabur tuai. Tetapi Tuhan pun memberikan anugerah kepada Agustinus untuk bisa dipakai oleh Tuhan. Ini adalah pimpinan Tuhan di dalam kehidupan Agustinus. Oleh apa? Oleh firman Tuhan. Akhirnya di suatu taman di kota Milan di Italia Utara ya kehidupannya mulai berubah di tengah-tengah pergumulan kehidupannya. “Saya ini siapa sih? Orang Kristen atau bukan? Saya sudah dengar Injil dari mama saya, saya sudah tahu gereja. Ya, saya sudah ada kenalan orang-orang Kristen, tapi juga ada kenalan orang-orang bukan Kristen. Saya ini sebenarnya siapa sih?” Ya, dia bergumul tentang dirinya. Sampai di tengah taman itu ketika dia duduk tenang, dia mendengar suara anak kecil yang mengatakan ya “tolelege” dalam bahasa Latin ya. Tolelege berarti apa? Ambil dan bacalah. Ambil bacalah.

Ya, di tengah-tengah keputusasaan hidupnya, bagaimana dia harus tahu bahwa harus hidup kudus, tetapi hidupnya begitu berdosa. Dari situ firman Tuhan muncul ya, tetapi dalam bentuk yang sederhana, yang biasa. Dia dengar suara anak kecil, ambil dan bacalah. Dan dia mengambil Alkitab dan membaca Roma 13:13-14. Mari kita baca bersama-sama Roma 13:13-14. Di sini adalah satu firman yang mengubahkan kehidupannya sejak itu. Ya, mari kita baca firman Tuhan ini bersama-sama, “Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari. Jangan dalam pestapora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu. Jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Ya, Agustinus ketika membaca firman, Roh Kudus memberikan anugerah membuka hatinya terhadap firman Tuhan yang sederhana. Ya, baca 1 menit pun selesai, bahkan kurang dari 1 menit pun. Ya, firman Tuhan yang kita baca barusan menasihatkan, “Ayo hidup kudus ya, tapi bukan dengan usaha kamu, melainkan dengan kuasa Tuhan Yesus Kristus. Kenakan Tuhan Yesus Kristus. Hidup kudus bukan bicara soal usahamu seberapa besar, tetapi bagaimana anugerah Tuhan itu begitu besar dalam hidupmu. Kamu ingat Tuhan Yesus, kamu bergantung pada Tuhan Yesus yang memberikan anugerah. Yesus Kristus sudah memberikan teladan di dalam inkarnasi-Nya, di dalam kelahiran-Nya ke dalam dunia bahwa Yesus Kristus tidak berdosa satu kali pun di dalam seluruh kehidupan-Nya. Maka kita bisa bergantung kepada Dia, untuk apa? untuk melawan dosa, untuk mengurangi dosa, untuk meminimalisir dosa. Kita nggak mungkin hidup sempurna tanpa dosa. Setiap manusia pasti jatuh dalam dosa. Tetapi kita bisa mengurangi kuasa dosa, kita mengurangi frekuensi kita melakukan dosa, kita bisa betul-betul bisa lebih sedikit berdosa hari demi hari di dalam kehidupan kita. Bukan karena perbuatan kita dan kehebatan kita, melainkan karena Tuhan Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juru Selamat kita.” Di situ ayat itu masuk ke dalam hatinya dan dia pegang baik-baik. Harus hidup sopan, jangan berselisih, jangan iri hati, jangan mabuk-mabukan, jangan pestapora. Kenakanlah Yesus Kristus di dalam kehidupan dia. Akhirnya dia jadi bapak gereja yang sangat berpengaruh bagi orang Kristen maupun Katolik sampai saat ini sudah ribuan tahun yang lalu.

Tapi selain firman Tuhan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa yang memimpin kehidupan Agustinus? Ya, Agustinus pun dipimpin oleh doa mamanya sendiri yang bernama Monika. Ya, Monika berdoa untuk anaknya. “Kenapa ya anak laki-laki saya ini kok hidupnya begitu melawan aturan moral yang ada? Dia hidup bersama perempuan tapi tidak nikah, tinggal bersama, berbuat kotor, berbuat dosa.” Monika pernah datang ke uskup gitu ya, tolong doakan anak saya ini. Dia begitu menangis begitu banyak, si uskup itu mengatakan bahwa doa air mata seoran ibu yang seperti ini pasti dijawab oleh Tuhan. Ya, pasti anak itu tidak akan binasa. Ya, si uskup itu menghibur kepada Monika yang bergumul berdoa dengan air mata yang begitu banyak. Si uskup itu mengatakan, “Kamu menangis begitu besar pasti ya Tuhan akan menolong Agustinus.” Dan betul Tuhan menolong Agustinus dengan caranya bagaimana firman Tuhan hidup dalam kehidupan Agustinus.

Nah, inilah kenapa Bapak, Ibu, Saudara sekalian gereja Reformed selalu menekankan apa sih di dalam khotbah, di dalam ibadah yang paling lama kalau bisa itu durasinya tuh bukan puji-pujian kita, bukan kata-kata kita kepada Tuhan. Kata-kata manusia, kata-kata manusia yang bisa salah. Meskipun kita tahu bahwa kita harus berkata-kata dengan firman Tuhan, tetapi kita mau lebih ke arah Tuhan berfirmanlah kepada aku. Berfirmanlah kepada saya. Saya mau dengar pesan Tuhan lewat ibadah pada hari ini. Maka porsi firman Tuhan selalu paling lama ya di dalam gereja Reformed. Itu salah satu ciri atau tandanya ya. Memang bukan berarti kalau firmannya lama pasti selalu lebih efektif. pasti selalu Roh Kudus bekerja nggak ya, tapi kita mau menunjukkan dengan usaha manusia, dengan tanggung jawab manusia, kita tahu yang terpenting adalah yang terlama. Yang terpenting itu yang terbanyak kita habiskan ya di dalam kehidupan kita. Maka firman Tuhan begitu penting karena itu bisa mengubahkan kehidupan kita. Asal apa? Asal hati kita kita buka, tentu ini perlu anugerah dari Roh Kudus dan kita juga menerima firman itu ya yang adalah makanan bagi jiwa kita.

Mazmur 119:105 ini adalah suatu ayat hafalan yang sangat penting kita pikirkan, kita pegang dalam kehidupan kita bahwa “firman Tuhan itu pelita bagi kaki kita.” Kaki kita yang berjalan selangkah demi selangkah. Kita nggak tahu masa depan. Kita nggak tahu 2026 apa saja yang terjadi. 2025 pun menutup tahun kita baru tahu ada banjir yang begitu besar di daerah Sumatera. Kita baru tahu kita melangkah itu setahap demi setahap. Kita baru tahu bahwa kita sebagai gereja juga harus mendoakan dan memperhatikan orang-orang yang sedang mengalami bencana. Kita berlangkah sedikit melangkah tapi dasar kita adalah firman Tuhan. Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki kita dan juga terang bagi jalan kita, supaya kita tidak salah arah ketika kita melangkah dalam kehidupan kita. Maka firman Tuhan itu begitu indah, kita harusnya senang baca firman, kita harusnya senang dengar khotbah. Kita harusnya sungguh-sungguh cari kehendak Tuhan, cari wajah Tuhan di dalam kehidupan kita. Firman Tuhan bukanlah sekedar informasi, tetapi adalah penuntun kehidupan kita, bagaimana kita hidup. Dan firman Tuhan, kita bisa katakan, itu adalah visi dan misi kehidupan kita pribadi lepas pribadi.

Nah sebagai manusia, kita itu hidup di dalam waktu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Masa lalu, masa lalu, tetapi kita tahu masa depan itu kita harus jalani dengan firman Tuhan. Masa lalu sudah tidak bisa kita ubah, masa depan adalah masa depan kita yang kita tidak tahu dan kita akan lalui. Maka kita perlu pimpinan Tuhan. Nah ini signifikansi dari firman Tuhan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bagaimana firman Tuhan itu menopang detik demi detik dari kehidupan kita. Dan itu akan menentukan masa depan kita ke mana; apakah hidup sesuai firman Tuhan ataukah kita menolak firman Tuhan. Itu dimulai dari saat ini.

Nanti kita akan melihat juga bagaimana Agustinus itu adalah seorang teolog juga yang memikirkan soal waktu. Agustinus mengatakan, “Waktu itu apa sih? Waktu itu apakah masa lalu itu waktu? Apakah masa depan itu waktu?” Agustinus mengatakan bahwa, “Waktu adalah masa kini. Kenapa? Karena masa kini adalah masa di mana kita hidup di dalam waktu. Masa lalu tidak bisa diubah, itu menjadi ingatan. Masa sekarang adalah masa depan yang sudah dilalui sekarang. Jadi masa depan adalah masa kini yang kita lalui. Masa depan belum ada, masa lalu sudah lewat, masa kini adalah masa yang terus berlalu.” Maka Agustinus juga mengajarkan bahwa di dalam kehidupannya kita harus menghargai atau memperhatikan saat ini, sekarang. Maka hidup kita memuliakan Tuhan atau tidak.

Nah itulah yang terjadi Bapak, Ibu, Saudara sekalian di dalam kisah Natal. Kisah Natal bicara soal pimpinan Tuhan, kisah Natal bicara soal waktu Tuhan juga. Waktu Tuhan itu genap sesuai dengan waktu dan rencana Tuhan. Bagi manusia adalah hal yang sangat melelahkan karena Maria itu sedang hamil besar, tapi harus melakukan perjalanan begitu jauh dari Nazaret ke Betlehem. Bagi manusia, “Sudah lah, hamil besar nggak usah jalan-jalan jauh. Bahaya di jalan.” Tapi waktu Tuhan adalah sensus penduduk. Di situ, Yusuf dan Maria harus pulang ke kampung halaman. Tapi tahu juga bahwa kita lihat kenapa mereka harus pulang ke kampung halaman? Pimpinan Tuhan. Mesias harus lahir di kota Betlehem.

Natal bicara soal timing yang tepat, waktu Tuhan, sekalipun bagi manusia, “Ah tidak baik waktu Tuhan. Rasanya salah dan yang lain.” Tetapi waktu Tuhan itu waktu yang paling tepat yang kita bisa lihat di situ ada pimpinan Tuhan. Lalu ketika Yusuf dan Maria pun dipimpin untuk setia kepada firman Tuhan menjalankan tugas sebagai orang tua yang tidak mudah; Maria mengandung bayi Yesus, Yesus di dalam kandungannya, dan dia pun dalam kondisi belum menikah, belum memiliki hubungan dengan laki-laki, bagaimana bisa menerima hal yang terjadi demikian kalau bukan karena firman Tuhan. Bagaimana bisa? Malaikat Tuhan datang kepada Maria di Nazaret. Lalu juga Yusuf bagaimana bisa melanjutkan relasi dengan tunangannya, Maria, padahal dia sudah berkomitmen, “Saya harus ceraikan Maria”. Malaikat Tuhan datang memberikan firman Tuhan, memberikan pimpinan Tuhan untuk mengambil keputusan yang tepat. Lalu juga kepada orang-orang Majus dari Timur, bagaimana mereka bisa dari Timur, begitu jauh ribuan kilometer, bisa datang ke Yerusalem. Karena ada pimpinan Tuhan, ada firman Tuhan yang Tuhan nyatakan kepada orang Majus, “Ada Raja orang Yahudi yang dilahirkan.” Mereka dengar, mereka ikut pimpinan, dan dipimpin oleh bintang dari Timur untuk mencapai ke Yerusalem. Lalu dipimpin firman Tuhan juga untuk pergi ke Betlehem. Lalu orang Majus bertemu dengan Maria dan Yesus Kristus di momen yang tepat juga. Di momen yang tepat, ketika pada akhirnya Herodes mau membunuh Yesus, yang pada waktu itu sudah anak kecil, sudah berumur berbulan-bulan. Dan akhirnya diperingatkan di dalam mimpi untuk tidak perlu kembali ke Herodes. Itu semua bicara soal apa sih Natal? Bicara soal pimpinan Tuhan yang pasti dan waktu Tuhan yang tepat bagi anak-anak-Nya, bagi rencana Tuhan yang begitu mulia.

Kita bisa lihat di dalam perikop Mat. 2:13 ini, “Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,” Maka kita bisa lihat Yusuf sudah tenang-tenang di Betlehem, sudah didatangi oleh orang Majus, sudah diberikan persembahan yang adalah persembahan untuk Raja, emas, kemenyan dan mur untuk Yesus Kristus. Orang-orang Majus sudah pergi dari Betlehem, tinggal Yusuf dan Maria dan juga Yesus yang masih kecil. Kemudian pimpinan Tuhan lagi muncul ketika Yusuf dan Maria di Betlehem. Lewat apa? Lewat mimpi. Karena pada zaman itu memang Alkitab belum jadi, Tuhan pakai sarana-sarana yang supranatural. Kemudian di dalam mimpi itu, Yusuf tahu dengan pasti bahwa ini adalah firman Tuhan, adalah pimpinan Tuhan, Yusuf segera bangun. Pada malam itu juga dia taat, dia bangun, entah jam berapa dia bangun, dia langsung melakukan firman Tuhan, yaitu dia membangunkan Maria dan mungkin Yesus Kristus yang masih tidur juga di malam hari. Dia bangunkan, dia jelaskan mimpinya, dia jelaskan firman Tuhan dan juga saat ini juga, kita harus berangkat ke Mesir. Dari Betlehem ke Mesir, perjalanan yang cukup jauh di malam hari atau mungkin di subuh hari.

Yusuf tidak menunggu waktu Tuhan ya, dalam arti “waktunya Tuhan kayaknya bagusnya pagi deh.” Dia tidak menunggu waktunya dirinya sendiri, pemikiran diri sendiri, tapi dia langsung, karena Tuhan sudah begitu jelas memberitakan firman Tuhan, maka ini adalah waktu yang tepat untuk menaati kebenaran firman Tuhan sekalipun dia lelah, ngantuk dan bagi seorang keluarga kecil tidak nyamanlah pergi malam-malam ke tempat yang jauh, ke tempat yang tidak ada siapa pun yang bisa mereka kontak atau kenal di zaman itu. Ya, betul-betul ini adalah perjalanan malam hari yang penuh dengan iman. Ya, Yusuf sebagai kepala keluarga dapat firman Tuhan, sebagai kepala keluarga harus memimpin seluruh anggota keluarganya berdasarkan hidup dalam firman Tuhan supaya tidak salah arah. Dia malam hari itu juga tidak ragu, ia mau taat sesegera mungkin. Ini adalah suatu level rohani yang lebih tinggi lagi. Kita bukan sekedar “Ayo, taat firman Tuhan. Iya, taat.” Tapi kita seringkali seperti Agustinus. “Tapi nanti. Ya, nanti saja taatnya kalau udah mau mati, deh, baru taat.” Ya, kalau bisa ada kesempatan taat, ya, bisa bertobat. Sampai mati pun mungkin nggak ada kesempatan taat, bertobat. “Ya, saya mau taat tapi nanti, deh. Hari ini belum mau.” Ya, belum mau menaati Firman Tuhan, belum mau melayani Tuhan, belum mau mengikut Yesus. “Nanti aja lah, tunggu waktu saya sedang lowong, waktu saya sudah cukup uangnya, cukup waktunya, sehat badannya, baru saya melayani. Masih sakit-sakitan lah. Kita bisa melayani apa.” Kurang lebih kayak gitu, ya.

Seperti Agustinus dari Hipo, dia mengatakan bahwa “saya mau hidup suci Tuhan, tapi nanti.” Tetapi berbeda dengan Yusuf. Yusuf mengatakan meskipun waktunya tidak tepat secara manusia, secara pemikiran dia, malam hari, ya, masih bisa besok lah, besok pagi. Masa Herodes langsung kirim, ya, dari Yerusalem ke Betlehem prajuritnya malam itu juga atau subuh itu juga nggak lah. Pasti bisa berapa hari lagi. Bisa dengan pemikiran manusia demikian, tetapi Yusuf mau taat sesegera mungkin. Ya, taat dengan cepat. Ya, diperintah Tuhan dengan clear, kita langsung lah taat.

Paling sederhana, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, perintah Tuhan tiap minggu adalah ingat dan kuduskanlah hari Sabat. Langsung taat. Hari Minggu nggak ada alasan, “Ah, malas ke gereja. Ah, lagi capek.” Taat, ya, taat. Perintah Tuhan adalah hormati ayahmu dan ibumu supaya lanjut usiamu di tanah yang Tuhan berikan kepadamu. Ya sudah, taat, hormati Papa dan Mama, ya. Hormati ayah dan ibu, gitu, ya. Ini adalah sikap Yusuf ketika berespon terhadap Firman Tuhan, dia sangat mengikuti pimpinan Tuhan. Taat sesegera mungkin. Apalagi kalau bisa. Kalau bisa kita taat.

Nah, tujuan utama Yusuf, Maria, maupun Yesus yang masih kecil itu ke Mesir memang adalah menghindari ancaman pembunuhan dari Herodes. Ya, Herodes mengatakan bahwa bunuhlah bayi atau anak yang berumur di bawah 2 tahun. Nah, ini perkiraan Herodes. Mungkin Yesus umur 8 bulan, mungkin Yesus umur 9 bulan. Nggak ada yang tahu, ya. Mungkin Yesus umur 1 tahun, mungkin Yesus umur 1 ½ tahun. Tapi batas margin dari Raja Herodes yang iri hati, yang mau mengalahkan raja yang baru ini, yang menjadi ancaman bagi takhtanya adalah di bawah 2 tahun saja. Kalau Yesus di bawah setahun, ya, mungkin bisa jadi Herodes katakan di bawah setahun, tapi kalau di bawah dua tahun, berarti marginnya cukup besar. Nah, di sini membuktikan bahwa Yesus tuh bukan waktu dibunuh atau mau dibunuh oleh Herodes itu berumur masih bayi, ya. Jadi kita perlu mengulang kisah Natal kita, menghapus dulu kisah Natal yang salah. Ya, Yesus umur 1 hari dikunjungi oleh para gembala di malam hari. Yesus umur kurang lebih 1 tahun lah kita katakan baru dikunjungi orang Majus. Entah dari mana drama-drama sekarang itu mengatakan bahwa Yesus lagi di palungan umur 1 hari dikunjungi para gembala dan orang Majus pun ada di situ. Nah, itu kan sesat, ya. Salah itu drama-drama yang mengatakan bahwa ada orang Majus waktu Yesus di palungan. Nggak. Yesus itu dikunjungi orang Majus itu waktu di rumah, di Betlehem waktu mungkin kurang lebih setahun. Maka Herodes katakan di bawah dua tahun matikan semua anak laki-laki di Betlehem.

Nah, di sini, ya, menunjukkan apa? Ada peperangan dua kerajaan. Yang sedang berperang siapa? Dua raja. Tapi yang satu raja sudah dewasa, punya power, punya militer, punya politik, punya nama, punya kuasa, punya prajurit. Yang satu baru saja kecil, anak kecil. Nggak punya kuasa, nggak punya politik, nggak punya militer, nggak punya apa-apa. Di sini melambangkan peperangan antara dua kerajaan. Kerajaan Allah atau kerajaan setan. Ya, kerajaan terang atau kerajaan gelap. Dan di sini Yesus tetap dipelihara oleh Tuhan, ya. Bagaimana, ya, Yesus dipimpin oleh Tuhan sendiri untuk pergi ke Mesir. Kenapa ke Mesir? Ya, Mesir adalah negara atau kerajaan yang lain. Ya, Herodes mau cari-cari di Yerusalem, di Israel, ya nggak bisa. Ya, mereka kebingungan, nggak kepikir bahwa mereka akan pergi ke Mesir. Tapi di sinilah pimpinan Tuhan pergi ke luar kota, ke luar negara. Ya, untuk menghidupi panggilan Tuhan.

Nah, Yusuf, Maria, dan Yesus yang masih kecil, ya. Yesus yang masih kecil ini tinggal di Mesir, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, nah ini bisa disebut juga sebagai masa-masa atau tahun-tahun Tuhan menyembunyikan keluarga Yusuf. Ya, dari pusat keagamaan Yahudi, pusat budaya Yahudi itu Yerusalem, Israel, sekarang tiba-tiba di Mesir. Dia hidup, ngomong sama orang Mesir. Dia hidup sebagai pendatang, orang asing. Ini Yusuf dan keluarganya. Dan Yesus sendiri, ya, yang masih kecil itu ada di Mesir.

Nah, beberapa minggu lalu, ya, di rapat penatua hamba Tuhan di Jakarta itu sedang membahas tentang masa persembunyian. Ya, masa persembunyian atau hidden years atau silent years itu bicara bagaimana Tuhan menyembunyikan seseorang untuk Tuhan bentuk akhirnya dipakai Tuhan, dikeluarkan untuk dipakai Tuhan memuliakan Tuhan. Ya, kalau Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa istilahnya Tuhan menggodok seseorang. Tuhan menggodok ke seseorang, dimasukkan ke panci gitu, ya. Tertutup pancinya, dipanaskan, dibentuk sampai matang, baru dibuka, terus kemudian dikeluarkan, dihidangkan bagi banyak orang. Kurang lebih gambarannya seperti itu. Itu pun manusia. Kita pun sebenarnya, Bapak, Ibu, Saudara, sekalian, ada masa-masa kita disembunyikan oleh Tuhan. Disembunyikan oleh Tuhan, dibentuk oleh Tuhan, sampai akhirnya dipakai Tuhan secara publik. Atau secara tidak publik nggak masalah, tapi intinya adalah Tuhan tuh membentuk seseorang. Ya, masa-masa persembunyian, hidden years, tidak muncul di panggung publik, tetapi Tuhan bentuk seseorang itu dengan diam-diam.

Ya, ambil contoh misalkan Paulus, ya. Paulus waktu kita renungkan Paulus, kelihatannya pertobatannya begitu ajaib, begitu hebat, dan langsung Paulus itu melayani sebagai misionaris seperti itu, ya. Tapi sebenarnya untuk menjadi seorang rasul yang diakui oleh rasul-rasul yang lain itu membutuhkan persiapan yang cukup panjang. Jadi ketika Rasul Paulus bertobat mendengar suara Yesus di perjalanannya menganiaya orang-orang Kristen, Paulus bertobat kemudian dibaptis, dia tidak langsung pergi ke gereja. Ya, dia dipimpin Tuhan untuk pergi ke Arab, mungkin mengabarkan Injil kepada orang-orang di Arab. Mungkin juga Tuhan bentuk dia supaya dia itu betul-betul mengintrospeksi diri tentang imannya seperti apa dan masa lalunya bagaimana. Ya, masa-masa perenungan Paulus ketika dia bertobat itu 3 tahun di Arab dan di Damsyik. 3 tahun di sana dan setelah 3 tahun beres, ini waktu Tuhan ya, waktu Tuhan sudah beres, Tuhan pasti pindah orang itu ke tempat yang lain kalau memang tugasnya sudah beres. Ya, waktu Tuhan pasti yang tepat.

Paulus sudah 3 tahun di Arab dan di Damsyik, ya merenungi hidupnya berdoa kepada Tuhan mencoba mengabarkan Injil kepada orang-orang yang di luar sana. Akhirnya dia kembali ke Yerusalem lalu di Yerusalem dia mulai melayani sebagai orang Kristen, dia ketemu orang Kristen, Yahudi, ya. Dan kemudian belajar firman ikut pelayanan bersama dengan orang-orang Kristen lainnya dan akhirnya selama dia melayani itu, dia banyak permusuhan oleh orang-orang Kristen lainnya. Siapa Paulus? Teroris, kok. Yang dulu itu kan terkenal menangkap orang-orang Kristen. Yang menangkap, memenjarakan, membunuh Stefanus di depannya, menyaksikan orang mati di depannya dan dia puas, Stefanus mati di depan matanya sendiri. Dirajam batu oleh orang-orang Yahudi. Orang Kristen mana yang pada akhirnya tidak menolak Paulus? Ketika dia datang kembali ke komunitas gereja. Itu normal, kita juga hati-hati kalau ada mantan teroris ya, datang ke gereja ini, terus pencuri dan perampok aja kita hati-hati, kok.

Nah di sini ini orang-orang Kristen Yerusalem itu anti sama Paulus. Bersyukur Tuhan memimpin satu orang. Ya, namanya Barnabas, anak penghiburan terus menguatkan Paulus, melihat bagaimana Paulus itu sungguh-sungguh bertobat atau nggak. Kalau memang orang boleh masuk ke dalam pelayanan syaratnya adalah pertobatan, maka Barnabas mau melihat ada syarat itu nggak dipenuhi oleh Paulus. Maka bagaimana melihat orang sungguh-sungguh bertobat, adalah betul-betul terus bergaul dengan dia, ya berbicara dengannya, bergaul mengenal, butuh waktu juga. Ini bicara soal butuh waktu juga, butuh waktu mengenal Paulus sampai Barnabas sampai yakin dan orang-orang lainnya tidak yakin bahwa Paulus ini sudah bertobat, ya, Barnabas yakin dia sudah bertobat. Ya, dan akhirnya butuh waktu 7 tahun Paulus diakui kerasulannya oleh para rasul yang lain atau sinode gereja saat itu. Oleh Petrus, oleh Yohannes, gitu ya. Di sini kita bisa lihat ternyata Tuhan menyembunyikan hambanya itu 10 tahun. Tidak terlihat dan barulah Paulus dilepas bahkan perjalanan misionaris 3 kali ke berbagai daerah, berbagai kota. Barulah dia bisa dipakai Tuhan dengan luar biasa.

Nah, sekarang kita lihat kehidupan Yusuf, Maria, dan Yesus Kristus. Sekarang Tuhan menyembunyikan satu keluarga kecil ini dari Israel ke Mesir. Ya, kita bisa lihat bahwa Tuhan mengatur kehidupan mereka itu di Betlehem berarti kurang lebih setahun lalu mereka tinggal di sana. Dan akhirnya Yusuf dan Maria juga di dalam Betlehem, di kota Betlehem itu, setelah melahirkan Yesus menyunatkan Yesus umur 8 hari, lalu juga pada umur 40 hari membawa Yesus ke Yerusalem untuk didoakan di bait Allah. Ini adalah orang Yahudi atau tradisi agama Yahudi yang taat, yang orang tua pokoknya taat. Ini ciri khas dari Yusuf dan Maria, ya. Yang penting taat. Ya, Tuhan ngomong apa, ya, anak laki-laki umur 8 hari harus di sunat, sunat. Nah kalau secara medis kita baru tahu ya, bahwa umur 8 hari yang bayi baru lahir itu barulah dia punya kemampuan untuk memulihkan tubuhnya sendiri. Regenerasi Tubuhnya ketika dilukai. Ya, berarti selama belum 8 hari bayi itu sangat rentan. Dan kemudian kita bisa lihat setelah Yusuf dan Maria tinggal di Betlehem 40 hari, oke. Ya, sebagai orang tua Yahudi yang taat, kita persembahkan atau penyerahan anak di bait Allah. Itu tradisi Yahudi, ya. Kalau kita di Kristen, bukan penyerahan anak tetapi baptis. Ya, baptis anak, menyerahkan anak untuk dipakai Tuhan juga, ya. Lalu mereka kembali tinggal di Betlehem, barulah di situ orang Majus datang, lalu Herodes marah, ingin bunuh Yesus.

Di Mesir, kira-kira mereka berapa tahun Bapak, Ibu Saudara sekalian? Ini bicara soal waktu ya, kita melihat bagaimana kehidupan mereka ya, di Mesir kurang lebih itu 2 tahun. Ya, 2 tahun mereka hidup di Mesir. Di sini tidak ada informasi apa-apa. Alkitab atau Tuhan sendiri mengatakan kita tidak perlu tahu mereka ngapain saja di Mesir. Itu Alkitab ya. Tapi kita perlu tahu bahwa mereka ke Mesir. Kita nggak perlu tahu Yesus ngapain di Mesir umur 1 tahun, umur 2 tahun, umur 3 tahun. Kita nggak perlu tahu Yesus dan Maria ngapain di Mesir. Tapi mereka hidup di Mesir dengan baik sampai pada akhirnya bisa kembali lagi ke Nazaret, ke Israel, gitu ya. Tapi kita bisa rekonstruksi secara logika manusia, orang pergi ke luar negeri ngapain? Orang pergi ke luar negeri untuk tinggal di sana ya harus bekerja, Yusuf sebagai tukang kayu ya bekerja sebagai tukang kayu. Maria sebagai gadis remaja umur 15 tahun punya bayi pertama kali anak Allah, dia sangat gentar bagaimana mengurusi Yesus yang adalah anak Allah yang Maha Tinggi. Maka Maria pun di Mesir itu mengurus Yesus dengan penuh ketakutan, dengan hati yang takut akan Tuhan. Hati yang gentar. Lalu mereka punya komunitas di mana? Nah, di Mesir sendiri ada komunitas diaspora dari orang-orang Yahudi. Mereka nggak bisa ngomong mungkin kesulitan bahasa Mesir. Mereka kumpulnya dengan orang-orang yang se-suku, se-bahasa dengan mereka. Mereka tinggal di sana, betul-betul keluarga kecil yang biasa.

Inilah inkarnasi Yesus Kristus. Yesus inkarnasi Allah menjadi manusia itu bukan jadi manusia tanpa ada pergumulan keluarga, tanpa ada relasi dengan orang tuaNya. Tanpa ada kompleksitas dari kehidupan satu keluarga. Ya, kita di dalam keluarga sering kita pindah-pindah rumah, yang harus pindah ke luar kota, pindah ke sini, pindah ke sana. Itu dinamika dalam keluarga. Yesus alami itu sebagai manusia. Kalau kita capek pindah-pindahan rumah, Yesus lebih capek lagi. Harus pindah, harus terlantar, harus dikejar-kejar raja, prajurit, mau dibunuh sejak masih kecil. Yusuf dan Maria menjadi keluarga yang dikejar-kejar oleh prajurit Herodes. Ada ketakutan dalam keluarga kecil ini. Tetapi itulah pimpinan Tuhan. Pimpinan Tuhan itu menolong menguatkan mereka untuk melalui kehidupan mereka sebagai keluarga yang kecil. Yusuf dan keluarganya ya, betul-betul taat pimpinan Tuhan.   

Ini menunjukkan bahwa Bapak, Ibu, Saudara sekalian, jangan takut taat firman Tuhan. Jangan takut. Kalau taat gimana? Apakah Tuhan tidak akan memelihara hidup saya? Kalau kita mengabarkan Injil bagaimana? Nanti saya dimusuhi orang. Kita lihat bahwa orang yang taat pada firman Tuhan, pasti Tuhan pelihara. Justru semakin kita tidak taat, maka kita semakin mencari masalah kita sendiri. Ya ada, argumen-argumen yang sering kita dengar di dalam kehidupan orang Kristen ya. “Kenapa tidak menaati perintah Tuhan? Menguduskan dan memperingati hari Sabat?” “Karena lagi banyak masalah. Saya tidak ke gereja dulu karena lagi banyak masalah.” Berarti apa? Saat lagi banyak masalah, saya tidak taat Tuhan, ya makin banyak masalah. Ini kan logikanya ya, supaya dipelihara Tuhan, ditolong Tuhan, kita harus taat ya. Nah sekarang kita lagi ada masalah, kita malah tidak taat. Kita menambah masalah. Kita makin banyak masalah ya. Sudah taat saja banyak masalah, apalagi kalau tidak taat. Tapi kalau kita taat, tetap banyak masalah, setidaknya ada kekuatan dari firman Tuhan. Kita sesuai pimpinan Tuhan kok. Tuhan pasti memberikan providensia-Nya, pemeliharaan-Nya dalam kehidupan kita.

Hal yang menarik Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Yesus Kristus sendiri ternyata banyak sekali catatan masa persembunyian-Nya. Nah kita boleh lihat di slide ya, Yesus itu kalau kita simpulkan dari usia-Nya, Yesus sendiri hidup 33.5 tahun sebagai manusia. Allah yang menjadi manusia. 0 – 3 tahun, status Yesus adalah bayi atau anak-anak ya. Dia di Bethlehem, Dia di Mesir, lalu setelah dari Mesir, pimpinan Tuhan muncul kembali, sekarang Kamu boleh ke Israel. Tetapi Yusuf dan Maria itu takut sama pengganti Raja Herodes. Jadi Raja Herodes itu sudah mati, digantikan oleh anaknya. Maka dari itu Yusuf ketika disuruh Tuhan kembali ke Israel, dia nggak mau kembali ke Bethlehem. Dia nggak mau dekat-dekat ke Yerusalem. Dia putuskan kembali ke Nazareth, ya kota kami besar. Maka Yesus unik, lahirnya di Bethlehem, besarnya di Nazareth. Sama seperti orang tua dari Yesus Kristus. Akhirnya umur 3 – 12, Yesus anak-anak, di Nazareth. Nggak ada yang tahu Yesus ngapain, Alkitab tidak ceritakan, karena apa? Nggak perlu tahu. Yang perlu tahu hanya Yesus di mana waktu Dia hidup.

Waktu 12 tahun, Yesus dewasa, bagi orang Yahudi tidak ada anak remaja, tidak ada pemuda-pemudi, adanya adalah anak-anak atau orang dewasa. Kalau sudah orang dewasa, sudah 12 tahun, bukan anak-anak lagi. Dia bisa ambil keputusan, dia tahu hukum, dia tahu tentang vocabulary, bahasa, maka umur 12 tahun, Yesus sengaja dimunculkan oleh Tuhan, muncul, di Bait Allah, sebagai Anak Allah. Waktu itu sedang ada perayaan orang Yahudi ke Bait Allah, dan di situ orang Yahudi, merayakan ibadah di Bait Allah, sudah waktunya pulang, rombongan laki-laki pergi sama rombongan laki-laki, Yusuf, rombongan perempuan Maria pergi sama rombongan perempuan. Satu hari perjalanan sudah lewat, Yesusnya tertinggal di Bait Allah. Bukan tertinggal, tapi Yesus memutuskan saya sudah dewasa, saya bisa memutuskan sendiri. Di situ Dia di Bait Allah, Papa Mama pergi nggak masalah, di situ Dia mau merenungkan firman dan diskusi tanya jawab dengan ahli Taurat dan orang Farisi.

Terus kemudian perjalanan sehari, Maria, Yusuf mungkin, “ayo ketemu yuk.” Ketemu, eh nggak ada Tuhan Yesus, mana anak kita ini? Waduh mereka cari-cari lah, perjalanan sehari lagi kembali ke Yerusalem. Di situ Yesus sudah 3 hari bersama dengan ahli Taurat dan orang Farisi. Nah logikanya ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau ada Pendeta, terus kemudian ada anak umur 12 tahun, kalau kita masih anggap anak-anak, si Pendetanya harus nyari oran tuanya. Betul kan? Mana orang tuamu? Kamu masih anak-anak masih 12 tahun kok. Tapi bagi tradisi Yahudi, anak berumur 12 itu sudah dewasa. Dia kalau mau pulang bisa tanya orang, pulang ke kota sendiri kayak gitu ya, ke kampung halaman sendiri. Ahli Taurat dan orang Farisi nggak problem ya, ngobrol asyik diskusi dengan Tuhan Yesus. Dan akhirnya kesimpulan dari ahli Taurat dan pemimpin agama Yahudi, ini adalah anak kecil atau orang dewasa yang brilliant. Bar Mitzvah ya, anak Taurat yang sangat hebat. Dia sudah dewasa, dia bisa menjadi pemimpin selanjutnya bagi orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Ini tafsiran saya ya, ketika lihat orang Farisi sedang berdiskusi dengan Yesus Kristus terus menerus.

Akhirnya Yusuf dan Maria sedang datang, terus marahin Yesus. Kurang lebih marahin Yesus. “Kenapa kamu itu kok tidak ikut pulang?” Barulah Yesus kasih tahu bahwa Aku harus tinggal di rumah Bapa-Ku. Bapa kamu siapa? Bapak kamu Yusuf. Oh itu ayah angkat saya. Tetapi Ayah Saya sesungguhnya adalah Bapa di Surga. Kurang lebih bahasanya gitu. Tetapi setelah Yesus muncul secara publik, dikenal oleh pemimpin-pemimpin Yahudi, Yesus disembunyikan lagi oleh Tuhan. Dikatakan di Alkitab bahwa Yesus sejak saat itu tetap hidup dalam asuhan Yusuf dan Maria. Hilang lagi. Padahal kalau Dia terus mempertahankan keterkenalan-Nya ya, anak Taurat yang brilian, orang dewasa yang brilian yang baru jadi dewasa yang mengerti firman Tuhan dengan luar biasa, Dia bisa menjadi pemimpin agama Yahudi yang terkenal, melebihi guru besar-guru besar agama Yahudi. Tetapi Dia sengaja hilang, karena bukan tujuannya hidup menjadi memimpin agama Yahudi. Yesus hidup di dunia ini untuk menjadi Juruselamat manusia.

Nah umur 12 – 30 tahun, ini juga menjadi silent years dari Tuhan Yesus, kita juga nggak tahu apa, banyak yang menebak ya, jangan-jangan Yesus pergi ke Arab juga, jangan-jangan ke mana lah. Tapi kurang lebih Yesus hidup di Nazareth karena Dia juga harus mengurus Mamanya yang sudah ditinggalkan mati oleh Yusuf. Mamanya sebagai seorang janda perempuan, Yesus sebagai anak sulung, Dia punya adik-adik cukup banyak, ya ada 4 atau 5 adik. Dia harus bekerja sebagai tukang kayu, untuk menafkahi keluarganya, menghormati orang tuanya dan mengasihi adik-adikNya. Dan akhirnya 30 – 33,5 tahun, Yesus baru pelayan secara publik, hanya 3,5 tahun saja. Inilah Allah kita, inilah Allah yang menjadi manusia, betul-betul manusia biasa, Dia tidak terlalu terkenal, Dia biasa-biasa saja. Tetapi ketika Tuhan mau pakai Dia, Dia bisa dipakai secara luar biasa. Sehingga kita bisa simpulkan public ministry-nya 3,5 tahun, dan hidden ministry-nya kurang lebih 30 tahun.

Nah, kita bisa melihat kehidupan kita juga ya, Bapak, lbu, Saudara sekalian. Ada waktu-waktunya kita boleh disembunyikan oleh Tuhan ya. kita disembunyikan untuk dibentuk oleh Tuhan, bukan lari ya, bukan lari dari tanggung jawab maupun pelayanan, tetapi kita betul-betul dipimpin oleh Tuhan. Maka konsep-konsep kekristenan kan ada namanya retret ya. Retret itu kita disembunyikan oleh gereja gitu ya. Disembunyikan oleh Tuhan untuk belajar firman dibentuk. Nanti 3 hari setelah dari retret ini dilepas Tuhan ya untuk diutus melayani ke seluruh dunia. Maka ini adalah konsep yang begitu indah ya. Kadang-kadang kita perlu merenungkan hidup kita dulu ya. Di malam hari itu tidak bekerja apa-apa, kita mau menghadap Tuhan untuk mengikuti pimpinan Tuhan.

Nah, akhirnya juga kita lihat ya tujuan kedua dari Yusuf sekeluarga ke Mesir itu selain menghindari ancaman pembunuhan dari Herodes, tetapi yang kedua juga adalah bagaimana ini menjadi penggenapan dari Nabi Hosea. Ya kita lihat Hos. 11:1, Bapak Ibu sekalian ya. Hos. 11:1, di sini dikutip oleh Matius ya, Hos. 11:1. Kita baca sama-sama firman Tuhan ini. “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu.” Nah di sini dikatakan supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh Nabi dari Mesir kupanggil anak-Ku itu. Jadi konteks Hosea adalah bagaimana Israel itu  dipandang sebagai bangsa yang diperbudak di tanah Mesir. Ini Israel fisik, bangsa Israel ya. Kemudian bangsa Israel ini digambarkan sebagai tipologi Yesus Kristus atau bayangan dari Yesus Kristus. Yesus Kristus disebut sebagai Israel yang sejati ya, umat atau anak pilihan dari Allah sendiri. Nah maka Israel fisik ya di Mesir, maka Israel yang sejati pun ada di Mesir.

Nah kita boleh lihat ya slide-nya paralel Israel dan Yesus Kristus. Israel itu disebut sebagai anak Allah, itu di Kel. 4:22. Yesus juga disebut sebagai anak Allah, Mat. 3:17, ada paralelnya ya. Paralelnya bagaimana Israel fisik itu adalah sebenarnya bayangan dari Yesus yang adalah Israel yang sejati. Israel fisik keluar dari Mesir diperbudak oleh orang Mesir, Yesus pun ya keluar dari Mesir ya. Israel harus lewat laut. Kurang lebih itu penggambaran orang Israel itu dibaptiskan gitu ya. Yesus pun dibaptis. Ini Israel ya, orang Israel. Kalau 40 tahun orang Israel di padang gurun sebagai penghukuman mereka. Yesus Kristus 40 hari di padang gurun, bukan sebagai penghukuman. Yesus nggak salah kok, tetapi sebagai silent years juga atau silent days. Sebelum memulai pelayanan, dia berdiam dulu di padang gurun. Ngapain di padang gurun? Nggak makan, minum, duduk lihat padang gurun. Apa yang Yesus lakukan di padang gurun selama 40 hari? Dia berdoa, dia dicobai iblis 40 hari itu juga. Ya ini kan gitu ya paralelnya demikian.

Nah, sekarang Israel fisik itu bangsa gagal taat. Yesus sebagai Israel yang sejati itu taat sempurna. Nah di sini menunjukkan bahwa “dari Mesir kupanggil anak-Ku itu.” Ini sesuai dengan perkataan atau tulisan dari Nabi Hosea. Ya memang tidak secara langsung menubuatkan bahwa Yesus itu harus keluar dari Mesir. Tapi kita kalau kita bandingkan Yesus sebagai Israel sejati dibandingkan dengan Israel fisik itu klop. Maka Rasul Matius menulis bahwa sesuai dengan penggenapan Nabi dari Mesir kupanggil anak-Ku ya untuk melayani. Ini adalah pola pola yang kita bisa lihat dari Tuhan sendiri menyatakan providensia Tuhan.

Maka dari itu, Bapak lbu sekalian, ketika kita merenungkan tentang  kelahiran Yesus, tentang kehidupan Yesus sebagai anak-anak gitu ya, dan juga bagaimana penyingkiran keluarga Yusuf ke Mesir ini, kita bisa melihat bahwa Allah itu betul-betul jadi manusia. Betul, manusia biasa yang hidup dalam pergolakan ekonomi, hidup dalam pergolakan rumah tangga, hidup dalam wilayah atau tempat yang terbatas. Yesus harus pindah-pindah dan di sini menunjukkan bahwa Yesus itu dipimpin oleh Tuhan sendiri ya, lewat siapa? Lewat orang tuanya sebagai wakil Tuhan. Maka orang tua-orang tua sangat penting kita mengerti firman Tuhan supaya bisa memimpin anak-anak kita juga mengikuti pimpinan Tuhan. Yusuf dan Maria itu satu pasang suami istri yang sangat taat kepada Tuhan. Yusuf lurus berintegritas, Maria sejak remaja itu mengerti aku orang Kristen itu ya umat Tuhan itu adalah hamba Tuhan. Jadilah kepadaku sesuai perkataanmu. Aku ini hamba Tuhan, nggak perlu masuk STT. Maria tahu aku ini hamba Tuhan. Tuhan berfirman, aku taat. Dia nggak belajar STT, nggak ada sekolah Alkitab, nggak ada. Perempuan Yahudi bagaimana akses firman Tuhan? Sulit kan? Tetapi Maria itu sungguh-sungguh takut akan Tuhan. Ini pasangan suami istri yang melayani Tuhan dan dipakai Tuhan untuk membesarkan Yesus Kristus.

Maka dari itu kita boleh sama-sama kita mengikuti pimpinan Tuhan ya. Kita berjalan bersama dengan Yesus Kristus ya. Masa tahun 2025 akan kita lewati Bapak, Ibu sekalian. Entah seberapa banyak kita ikuti pimpinan Tuhan atau kita mengikuti diri kita sendiri, keegoisan kita sendiri. Kita minta ampun kalau kita maunya melakukan kehendak kita sendiri. Tapi masa depan tahun 2026 ya ada kesempatan bagaimana kita lebih banyak mengikuti pimpinan Tuhan. Pimpinan Tuhan sudah Tuhan nyatakan lewat firman Tuhan. Maka dari itu kita mau senantiasa hidup berpusatkan kepada firman Tuhan dan kita bisa menyadari bahwa hidup kita dipimpin oleh Tuhan. Karena kita fokus kepada pekerjaan Tuhan. Karena kita fokus kepada kebenaran firman Tuhan, maka jangan takut untuk taat Bapak, Ibu sekalian ya karena Tuhan pasti pelihara.

Ya ambil contoh ya, banyak orang takut jad hamba Tuhan ya. Banyak orang takut jadi hamba Tuhan karena alasannya itu salah. Misalkan apa ya? Kalau jadi hamba Tuhan pendeta nanti tidak dipelihara oleh Tuhan. Nanti mau makan apa? Nanti mau jalan-jalan ke mana? Kok sangat duniawi ya jadi hamba Tuhan ya. Pengen makan enak, pengen bisa jalan-jalan, pengen rumah yang nyaman. Alasannya salah. Orang takut jadi hamba Tuhan itu alasannya salah. Karena alasannya adalah materi, hidupnya susah, tidak bisa menikmati kemewahan dunia. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara sekalian, memang seringkali demikian. Tetapi kalau kita taat pimpinan Tuhan, pasti Tuhan pelihara kok. Lebih baik pemeliharaan Tuhan atau seluruh harta dunia tapi tidak ada pemeliharaan Tuhan, tidak ada penyertaan Tuhan? Apakah lebih baik kita itu sehat, kaya raya, nyaman hidup di dunia, tapi tanpa Tuhan? Atau dengan Tuhan cuman kita banyak kesulitan, penderitaan, dan juga banyak pergumulan? Nah, kalau kita bisa pilih: yang penting dengan Tuhan. Maupun segala kondisinya susah, nggak masalah, kan dengan Tuhan. Tuhan itu baik, kok. Allah yang Maha baik pasti juga memelihara kehidupan kita.

Mari menutup tahun 2025 ini –Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya– kita bersyukur untuk Natal yang Tuhan berikan, pemeliharaan-Nya dalam kehidupan kita selama tahun ini, ya. Kita juga belajar meneladani Yusuf yang bukan saja taat tetapi dia segera taat! Kalau memang bisa taat menyenangkan Tuhan, why not? Ya, kenapa tidak? Yusuf mengikuti pimpinan Tuhan. Dia juga menanti pimpinan Tuhan yang selanjutnya. Karena selanjutnya itu bisa berbeda-beda, ya. Yusuf di Betlehem, suruh ke Mesir. Dari Mesir, suruh lagi balik ke Betlehem. Tapi dia takut. Akhirnya Tuhan izinkan bahwa, “Ya sudah, enggak usah di Betlehem.” Ke Nazaret. Kayak gitu, ya. Di situ adalah bagaimana Yusuf itu mengikuti pimpinan Tuhan.

Ketika saya persiapan khotbah ini, ya, saya merenungkan satu kisah, satu ilustrasi, ya. Kalau kita punya anjing, ya –Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya– punya binatang peliharaan anjing. Anjing itu kan kita suruh taat tuh, ya seringkali mudah kalau kita kasih reward kan, ya? Tapi kalau tidak kasih reward bisa juga. Dia taat karena sudah kebiasaan. Tetapi, uniknya juga, kadang-kadang dia minta disuruh oleh majikannya. Dia bawa bola, bawa tulang ke majikannya, suruh lempar, majikannya. Berarti apa? Suruh si anjing itu tuh bekerja. Gitu, ya. Suruh capek, kan? Suruh lari: balik lagi, balik lagi.

Nah, kenapa, ya anjing itu mau capek? Mau lari-lari, mau ambil bola itu sendiri, kasih ke tangan majikan supaya majikannya lempar. Terus anjingnya lari, capek, terus balik lagi, ya. Kenapa, ya anjing itu bisa seperti demikian? Ya, mungkin salah satunya adalah anjing itu memang ingin menyenangkan dirinya tapi juga ingin, ya majikannya juga senang. Gitu, ya. Karena majikannya yang suruh melatih dia lempar-lempar terus, kok, gitu, ya.

Nah, satu sisi –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– bolehlah kita itu meneladani anjing, gitu ya. Ketika majikan kita begitu baik dalam hidup kita, kasih perintah apa, taat! Bahkan kalau kita lagi santai-santai, nganggur, mungkin Tuhan kasih rest, ya, kita cari ketaatan kepada Tuhan. “Tuhan, minta kerjaan, dong! Kasih bola, kasih tulang ke saya supaya saya bisa kerja. Lari untuk majikan saya.” Ya, kadang-kadang kita lihat bahwa ada hikmat-hikmat Tuhan yang Tuhan berikan kepada seluruh makhluk hidup, ya, supaya kita bisa belajar lebih menyenangkan Tuhan dalam hidup kita.

Maka pekerjaan tahun 2025 kita akan selesai semuanya. Tahun 2026, Tuhan pasti kasih kerjaan kepada kita, kasih perintah dan perintah-Nya itu baik dan memberkati kita. Tapi apakah kita berani meminta pekerjaan kepada Tuhan? “Tuhan, aku minta pelayanan dari Tuhan. Apapun itu aku siap! Asal sesuai firman Tuhan, asal sesuai pimpinan Tuhan.”

Ya, kiranya kita boleh terus merenungkan kehidupan kita di tahun mendatang, ya. Dan Agustinus bicara soal teologi waktu. Tadi saya sudah jelaskan: ada tiga dimensi waktu dalam jiwa manusia –ini bicara soal jiwa, ya: masa lalu, masa sekarang, masa depan– namun Agustinus itu membaca waktu itu hanya dalam konteks masa kini, masa waktu saat sekarang yang harus kita hargai. Kenapa? Karena masa lalu adalah ingatannya masa kini, ya. Masa kini penting sekali. Untuk memiliki memori yang baik, jalani masa kini dengan baik. Lalu, masa depan adalah masa kini yang kita harapkan apa, ya. Masa depan bisa ditentukan masa kini. Masa lalu bisa ditentukan masa kini juga. Memori yang lalu itu, 2025, bagus-bagus atau jelek-jelek ditentukan hari ini. Masa depan juga apakah sesuai harapan Tuhan atau tidak, itu ditentukan hari ini. Lalu masa kini bagaimana? Masa kini adalah masa yang harus kita hidupi, masa yang harus kita perhatikan semuanya. Apakah kita sudah berkenan di hadapan Tuhan? Kalau sudah berkenan, memori yang indah terjadi. Terus masa depan bagaimana? Kita hidupi masa kini.

Kiranya kita boleh terus hidup di dalam kesadaran akan waktu, Bapak, Ibu sekalian, ya. Jadikan pelajaran di masa lalu itu menjadi pelajaran yang berarti untuk masa kini. Dan kita juga menjalani saat-saat sekarang dengan penuh perhatian dan mata yang tertuju pada pimpinan Tuhan dan firman-Nya, ya.

Mari kita sambut masa depan –tahun 2026, ya– dengan pengharapan di dalam Tuhan. Dengan mau mengikuti pimpinan Tuhan. Dengan iman yang Tuhan sudah berikan kepada kita dan kita mau terus hidup bergantung kepada Tuhan untuk menjalani masa depan kita. Kiranya masa depan kita bukan banyak ketidaktaatan, tetapi banyak ketaatan kepada firman Tuhan. Mari kita sama-sama berdoa.

Bapa kami yang ada di surga, kami bersyukur kami boleh merenungkan satu kisah 2000 tahun yang lalu. Bagaimana Tuhan boleh memimpin keluarga Yusuf, Maria, maupun Yesus. Tuhan boleh pelihara, Tuhan boleh sertai, Tuhan boleh jaga dan juga terus memberikan pimpinan kepada mereka. Tuhan yang di zaman dulu adalah Tuhan yang sama seperti hari ini. Kami mau, Tuhan, Tuhan pun memimpin kehidupan kami. Tolong, Tuhan supaya kami boleh terus berpaut kepada firman Tuhan. Kami mau memiliki hati yang cinta firman Tuhan, cinta pimpinan Tuhan. Karena pimpinan Tuhan selalu baik, selalu benar, selalu memelihara kehidupan kami. Tolonglah, Tuhan supaya kami semakin bergantung kepada firman Tuhan, bukan bergantung kepada manusia. Pimpin hidup kami supaya kami pun boleh memiliki masa depan yang taat kepada Tuhan. Kami mau taat dengan segera, dengan hikmat Tuhan, supaya Tuhan pun disenangkan melalui kehidupan kami. Berikanlah kami, Tuhan pelayanan demi pelayanan yang sesuai dengan berkat yang sudah Tuhan berikan kepada setiap kami. Kami tidak mau melakukan kesalahan di dalam pelayanan kami kepada Tuhan. Kami mau mengikut Yesus dengan setia, dengan hati dan motivasi yang tulus di hadapan Tuhan. Kiranya Tuhan berkati hidup kami. Kiranya masa lalu boleh menjadi pelajaran buat hidup kami untuk menyambut masa depan dengan lebih memuliakan nama Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, Penebus dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin.