Kelahiran Anak Allah dalam Dunia
Yes. 9:1-7
Pdt. Dawis Waiman, M. Div.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai Natal, kemarin di pemuda saya ada mengeluarkan satu kalimat yang ditulis di dalam sebuah kartu Natal dan kalimat ini mengatasnamakan Tuhan yang mengatakannya, seperti itu. Tetapi apa yang Tuhan katakan atau kalimat itu mengatakan atau dikatakan di dalam kartu Natal ini adalah hal yang begitu penting dan begitu benar sekali dan kalimatnya adalah seperti ini : Pada waktu Kristus datang ke dalam dunia ini, dia nggak ngomong seperti itu, ya, tetapi saya mau kaitkan dengan kedatangan Kristus, yaitu pada waktu Kristus datang ke dalam dunia ini, maka sebenarnya Allah sudah memberikan kepada kita hal yang paling berharga pada diri Allah tetapi yang menjadi masalah adalah kita yang menerimanya seringkali menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak terlalu berharga. Kita melihat peristiwa kedatangan Kristus, kita melihat kematian Kristus di atas kayu salib, kita melihat kebangkitan Kristus, kita bisa menyetujui fakta ini dalam hidup kita, kita bisa membenarkan segala sesuatu yang telah dikatakan Kitab Suci dan dikerjakan oleh Kristus dalam hidup kita dan kita bisa mengimani kebenaran itu dalam hidup kita dan mengatakan Amin terhadap apa yang Tuhan kerjakan dan berkata, “Saya adalah bagian dalam kerajaan Allah. Saya adalah bagian di dalam kasih karunia Tuhan yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya”, tetapi sebenarnya, apa yang kita katakan ini, satu penghargaan terhadap segala penebusan yang kita katakan bahwa itu adalah hal yang penuh kemuliaan, hal yang penuh dengan cinta kasih, hal yang penuh dengan kebaikan dalam hidup kita, hal yang paling berharga yang kita tunjukkan dalam hidup justru berbeda, justru bertentangan, justru menyatakan bahwa apa yang menjadi pekerjaan Kristus yang kita ngomong sangat berharga itu tidak terlalu berharga dalam hidup kita.
Kalau kita mau bicara, bagaimana hidup yang sungguh-sungguh menghargai kasih Allah dan pengorbanan anak Allah itu di atas kayu salib untuk diri kita, Bapak, Ibu bisa melihat itu dari respons para rasul yang ada di dalam Perjanjian Baru, Bapak, Ibu bisa melihat itu dari respons mungkin atau ketaatan dari para nabi yang ada di dalam Perjanjian Lama, Bapak, Ibu bisa melihat bagaimana orang Kristen mula-mula ketika menjalani hidup di tengah-tengah dunia ini, misalnya di dalam Kisah Para Rasul pasal 2 dan bagian pasal yang lainnya. Dan dalam kitab-kitab itu atau di dalam pasal-pasal dalam Kitab Suci itu, kita menemukan satu hal, pada waktu mereka melihat pada Kristus, lalu menyadari Dia adalah Anak Allah, Dia betul-betul adalah Juru Selamat, Dia adalah satu-satunya mediator bagi diri mereka, memang semula ketika mereka mengikut Yesus, ada kalanya mereka kemudian menyangkali Yesus, meragukan Dia, bertanya-tanya siapakah sebenarnya Yesus ini, tetapi pada waktu mereka menyadari setiap bukti tanda yang Yesus ajarkan, yang Yesus berikan di dalam kehidupan mereka, satu persatu terbukti dan bisa dipertanggungjawabkan berdasarkan kitab Perjanjian Lama seperti itu, maka di situ mata mereka betul-betul terbuka, ya tentunya karena kasih karunia Tuhan juga dalam kehidupan mereka, dan mulai dari detik itu mereka rela untuk mengorbankan segala sesuatunya yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan demi untuk bisa menaati Tuhan dalam hidup mereka.
Petrus pernah berkata kepada Kristus, Guru, ketika mendengar Yesus berkata, “Lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum daripada seorang kaya masuk dalam kerajaan Allah.” Petrus berkata kepada Yesus “Guru, kami sudah meninggalkan semua harta kami, bahkan mungkin ada yang ditolak oleh keluarganya, bagaimana dengan kami?” Seperti itu. Yesus bilang dengan memberi penghiburan-Nya, “Engkau akan
mendapatkan berkali-kali lipat dalam hidupmu, saudara di dalam Tuhan dan juga segala yang diperlukan dalam hidup ini.” Lalu pada waktu Petrus melihat Kristus yang bangkit lalu memberikan kesempatan bagi Petrus untuk melayani Dia kembali, menggembalakan domba-domba Yesus, mulai hari itu apa yang terjadi pada diri Petrus? Dia betul-betul berkomitmen seumur hidupnya untuk pergi memberitakan Injil dan hidup sebagai seorang yang mungkin bisa dikatakan musafir, seperti itu, bersama dengan istrinya, sampai mati dipaku di atas kayu salib juga walaupun itu dibalikkan.
Lalu Paulus, Bapak Ibu juga bisa lihat, seorang yang begitu berkobar-kobar untuk melawan Kristus yang berusaha membunuh jalan Tuhan, mematikan dan melakukan segala sesuatu untuk hal itu tapi begitu berjumpa dengan Kristus hari itu hidupnya berbalik 180 derajat, dia menjadi orang yang rela untuk menderita, untuk mengalami segala hal kesulitan yang Kristus alami di dalam kehidupan Kristus dan Tuhan ingin dia alami dalam hidup dia. Saya pernah sharing dengan istri waktu baca bagian Kisah Rasul ini, lalu ketika Tuhan mengutus Ananias untuk mendoakan Paulus supaya matanya bisa tercelik lagi, seperti itu. Tuhan bicara kepada Ananias yang merasa takut. “Ananias, nggak usah takut, ini adalah orangku. Aku sudah panggil dia, intinya Aku akan gunakan dia untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Dan pada waktu itu dia akan mengalami apa yang namanya atau mengerti apa yang namanya penderitaan bagi nama Tuhan.” Saya lalu tanya kepada istri saya, “Des, ini Paulus dikatakan seperti ini loh dalam pelayanan. Memang kita tidak dikatakan langsung oleh Tuhan, seperti itu, tapi kalau andaikata Tuhan ingin kita mengalami penderitaan-penderitaan demi nama Yesus itu, yang mungkin nggak melalui perkataan tapi melalui hidup yang kita alami ketika kita melayani, kira-kira kita bersedia tidak?” Istri saya cuma ngomong, “Nggak tahu, ya.” Tapi terus terang, ini hal yang berat, lho.
Bapak, Ibu seringkali kita berpikir bahwa mengikut Tuhan itu menyenangkan. Ya, ada aspek itu, penuh dengan sukacita. Ya, betul kayak gitu, seolah-olah segala sesuatu akan lancar, seperti itu. Nah, kalau kayak gini, saya yakin tidak. Karena pada waktu kita melayani Tuhan, semua tokoh yang ada di dalam Kitab Suci yang ketika diminta Tuhan untuk mengerjakan tugasnya, kalau Bapak, Ibu, Saudara merenungkan lebih jauh, kita akan mengetahui mereka semua harus sangkal diri, mereka semua harus berkorban dalam hidupnya, mereka semua harus mengesampingkan kesenangan duniawi yang dinikmati oleh orang-orang dunia dalam hidup mereka demi untuk menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Itu bukan sesuatu yang gampang, tapi Paulus lakukan itu dalam hidupnya.
Kemudian, kalau Bapak, Ibu lihat misalnya di dalam Kisah Rasul, ada catatan-catatan yang memberi contoh kepada kita bagaimana seorang umat Tuhan, ini bukan pemimpin gereja saja, ya, tapi umat Tuhan ketika mendapatkan kasih Kristus dalam hidup mereka, mereka betul-betul totalitas bagi Tuhan. Salah satu yang diangkat pada waktu kita membaca Kisah Rasul adalah Barnabas dan orang kedua yang diangkat itu adalah Ananias dan Safira. Tapi Ananias dan Safira dihukum oleh Tuhan karena mereka ingin dapat nama dengan manipulasi Tuhan dan manipulasi jemaat Tuhan. Sedangkan Barnabas sendiri ketika melihat kepada pekerjaan Tuhan, dia betul-betul tergerak di dalam hatinya untuk melihat pekerjaan Tuhan harus terjadi dalam dunia ini dan umat Tuhan yang ada, yang ditebus oleh Kristus adalah orang-orang yang mungkin secara ekonomis sangat lemah sekali tapi mereka adalah orang-orang yang dikasihi oleh Kristus, lalu bagaimana dia sebagai seorang yang mendapatkan kasih Kristus bisa berbagian di dalam pekerjaan Tuhan, maka dia kemudian menjual seluruh tanah yang diwariskan kepada diri dia dan uangnya dia bawa dan taruh di bawah kaki Rasul Petrus. Supaya apa? Digunakan untuk pekerjaan Tuhan.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada perubahan total, ada komitmen yang besar, ada kerelaan untuk bayar harga demi untuk mengikut Kristus, dan ini dinyatakan oleh semua orang yang matanya melihat kepada Kristus. Nah, ini yang membuat saya mau bicara seperti ini, ya. Kadang kala, orang suka ngomongkan sama saya kayak gini, “Pak, mukjizat masih ada, nggak? Penglihatan masih ada, nggak?” Saya waktu mendapatkan pertanyaan seperti ini biasanya saya nggak akan menjawab langsung tapi saya akan tanya, “Kenapa?” “Karena,” mereka bilang, “di dalam kesaksian dari orang Kristen ada yang mengatakan mereka melihat Kristus. Itu yang membuat mereka menjadi orang Kristen. Betul, nggak, hal itu? Atau paling tidak hal itu adalah sesuatu yang membuktikan kebenaran bahwa mujizat masih ada dan penglihatan masih ada, kan, Pak?” Saya ngomong biasanya seperti ini, “Saya nggak akan debat soal itu. Taruhlah apa yang mereka alami itu adalah suatu kebenaran, tetapi yang saya akan tanyakan adalah bagaimana hidup mereka setelah bertobat dan/atau setelah melihat Kristus yang mereka katakan lihat segala kemuliaan Tuhan itu yang membuat mereka menjadi orang Kristen, adakah bayar harga? Adakah keberanian untuk mati bagi Kristus? Adakah segala hal yang membuat mereka itu kemudian berani korbankan demi untuk kehendak Allah terjadi dalam hidup mereka? Adakah sikap yang betul-betul komit terhadap kekudusan dan bagaimana menjadikan segala kemuliaan Kristus itu terjadi dalam hidup mereka? Kalau mereka tidak memiliki hal itu, mereka cumamenjadi orang Kristen biasa-biasa yang suam-suam kuku yang cumakarena punya penglihatan yang besar dipanggil ke gereja sini dan gereja situ untuk memberi kesaksian seperti itu, terus terang itu adalah satu tanda tanya besar. Karena Alkitab berkata semua orang yang muka dengan muka melihat kepada Kristus dan bahkan melihat dalam iman kepada Kristus adalah orang-orang yang rela mati demi kehendak Tuhan jadi dalam hidup mereka.”
Makanyasaya kalimat dari kartu natal itu ada benarnya, ya, yang mengatakan bahwa apa yang engkau terima mungkin bukan sesuatu yang terlalu berharga, tetapi apa yang aku berikan kepada engkau itu adalah hal yang paling berharga bagi diriku. Karena pada waktu Yesus Kristus mati di kayu salib, yang Allah Bapa korbankan itu bukan ciptaan, yang Allah Bapa korbankan itu bukan harta milik, yang Allah Bapa korbankan itu satu-satunya Anak yang tunggal yang Dia miliki dalam hidup-Nya, untuk kita. Saya harap dan saya berdoa kita bisa betul-betul mengerti makna natal ini dalam kehidupan kita, ya.
Dan demi untuk menyatakan ini, karya penebusan ini, maka Tuhan sudah mempersiapkan jalan itu terlebih dahulu. Dan jalannya itu melalui nubuat yang para nabinya sampaikan kepada diri kita. Dan salah satunya adalah seperti yang kita lihat di dalam ayat 1 pasal yang ke 9 ini, yaitu, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar. Mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang menarik dari ayat 1 ini? Yaitu, ada kata kerja yang bentuknya adalah past perfect. Pada waktu kita berbicara mengenai kedatangan Kristus, atau kedatangan Mesias dalam dunia ini, maka, kalau kita lihat dari kaca mata Nabi Yesaya, maka itu adalah sesuatu yang dikatakan jauh sebelum Yesus Kristus atau Mesias itu datang ke dalam dunia ini. Ratusan tahun sebelum Mesias lahir dalam dunia ini, terang itu masuk dalam dunia ini, kalimat ini sudah dikatakan oleh para nabi atau khususnya di sini Nabi Yesaya. Tetapi, menariknya apa? Pada waktu kalimat ini dikatakan bahwa terang itu akan datang ke dalam dunia atau terang itu datang ke dalam dunia, kata kerja yang harusnya digunakan itu adalah “terang itu akan datang ke dalam dunia. Mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang itu akan bersinar atas mereka.” Harusnya begitu, kan? Ada kata kerja yang bentuknya future, yang merujuk kepada hari depan yang saat ini belum terjadi. Dan itu yang sering kali dimengerti oleh orang sebagai nubuat. Bicara tentang hal-hal yang akan datang, yang hal-hal yang akan terjadi, seperti itu, tapi juga saya kira ada aspek iman di dalamnya.
Nah, nubuatnya berkaitan dengan apa? Terang. Aspek imannya berkaitan dengan apa? Kalau Bapak, Ibu, perhatikan kata kerja yang digunakan adalah past perfect, past perfect artinya bahwa ada yang menterjemahkan dalam LAI dengan kata “telah”. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Sudah lihat belum? Belum. Tapi kenapa Yesaya berkata telah melihat? Lalu kemudian, “mereka yang diam di negeri kekelaman atasnya terang akan bersinar” seharusnya. Tapi di sini dikatakan, telah bersinar. Padahal terang itu belum bersinar atau belum datang ke dalam dunia ini. Nah, di dalam tafsiran atau di dalam para teolog dan anak-anak Tuhan yang setia kepada Tuhan, ketika membaca bagian ini, mereka mengatakan seperti ini, hal ini mau menunjukkan bahwa pada waktu mereka melihat kepada hari depan mengenai Mesias yang akan datang, mereka memiliki satu kepastian dan satu keyakinan kalau apa yang dikatakan oleh Tuhan walaupun belum terjadi seperti itu, tetapi sudah terjadi dan pasti akan terjadi. Ini yang kalau kita mau tarik ke dalam Injil Yohanes ketika Yesus berbicara pada Tomas. Ia berkata “engkau melihat Tomas baru engkau percaya. Tetapi berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya juga.” Jadi, pada waktu kita melihat perkataan Kristus, memang ada bagian di mana perkataan Kristus merujuk kepada hal-hal yang sudah terjadi, tetapi ada bagian di mana kata-kata Kristus itu merujuk pada sesuatu yang belum terjadi, seperti itu.
Misalnya, kita belum mati, kita masih hidup, tetapi pada waktu kita mati, keberadaan kita di mana? Di neraka atau di sorga? Waktu kita melihat hidup dalam dunia ini, Kristus belum datang kedua kali, tapi pada waktu kita melihat pada kebenaran Kitab Suci, kita yakin tidak, bahwa Kristus pasti akan datang kedua kali untuk menghakimi yang hidup dan yang mati? Dan itu adalah suatu kebenaran yang pasti tidak? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita bisa melihat hal itu ya, dan kita mengaminkan kebenaran itu secara pasti, saya yakin sekali cara hidup kita, cara kita melihat harta, cara kita melihat yang penting, yang berharga bagi dunia ini, kurang penting dan berharga, itu pasti berubah total. Karena kita bukan melihat dari sini menuju ke depan, tapi kita melihat dari depan menuju ke sini. Dan banyak orang Kristen tidak paham hal ini. Makanya dalam hidup ini masih ada kekawatiran, ketakutan, masih ada cinta terhadap uang yang begitu besar, yang seolah-olah uang itu adalah juruselamat dalam hidup dan bukan Kristus yang adalah Juruselamat satu-satunya di dalam hidup kita. Karena kita melihat saya masih dalam proses menuju ke sana dan saya bukan melihat Tuhan yang sudah menjadikan segala sesuatu yang pasti dalam hidup saya, dan pasti tergenapi, dan saya pasti akan mengalami hal itu.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, “telah”, telah, itu menjadi cara Tuhan untuk memberitahu kita dan cara bagaimana anak-anak Tuhan seharusnya melihat kepada hal-hal yang belum terjadi dalam dunia ini. Nah, sebabnya kenapa? Saya mungkin bisa bantu Bapak, Ibu, menjawabnya seperti ini. Sebabnya adalah Tuhan kita satu sisi punya mahakuasa. Kekuasaan-Nya begitu besar, yang tidak bisa dibatasi oleh apa pun juga. Banyak orang nakal yang berkata seperti ini, kalau Tuhan itu Mahakuasa, bisakah Dia membuat suatu batu yang begitu besar yang Dia sendiri tidak bisa angkat atau dorong, seperti itu. Itu pertanyaan mustahil yang nggak mungkin bisa dilakukan. Karena kalau Dia melakukan itu, berarti Dia sedang mencipta tuhan yang lain yang lebih berkuasa dari diri Dia. Sedang Dia adalah satu-satunya Tuhan yang ada di dalam langit dan bumi atau di dalam dunia ini, seluruh alam semesta ini, tidak ada duanya sama sekali. Jadi Dia nggak bisa lakukan itu, dan tidak mungkin juga lakukan itu. Tetapi pada waktu Dia mencipta segala sesuatu dengan segala kemahakuasaan-Nya, yang kita bisa buktikan dengan cara apa? Menikmati hidup di dalam dunia ini. Menikmati segala hal yang berkat, dengan bisa melihat ke segala keindahan dari alam semesta di dalam dunia ini. Kalau orang sampai bisa berkata tidak ada Tuhan ketika dia melihat semua yang dalam dunia ini, dia sangat buta sekali.
Kalau kita bisa melihat semua ini menyatakan kemahakuasaan dari Tuhan Allah, Maka ada aspek kedua yang Alkitab juga katakan pada waktu dia mencipta langit dan bumi ini, Dia sudah punya rencana yang bukan dilihat dari awal saja tetapi Dia punya rencana itu sudah dilihat dari akhir dari dunia ini. Makanya Bapak, Ibu bisa melihat misalnya ketika Tuhan berbicara mengenai kelahiran Kristus, Kristus datang tidak? Datang kan? Waktu dikatakan itu berapa ratus tahun? Itu 700an tahun sebelum Yesus datang. Kenapa bisa datang? Karena apa yang Tuhan sudah rencanakan itu pasti jadi. Lalu misalnya ketika kita melihat dalam Injil atau dalam kitab Wahyu. Di dalam kitab Wahyu berbicara mengenai akhir dari zaman ini. Waktu kita melihat akhir dari zaman ini kenapa Tuhan bisa ngomong dengan begitu pasti ya? Malaikat akan datang, mengalahkan setan, mereka katakan mengumpulkan seluruh manusia yang ada dalam dunia ini, nanti akan ada penghakiman yang terjadi. Yesus akan datang menyatakan tongkat pemerintahan-Nya dan kekuasaan-Nya. Dan Dia akan memimpin segala sesuatu sampai selama-lamanya dalam kekekalan. Semua itu kenapa bisa dikatakan begitu jelas sekali? Karena Tuhan punya kuasa untuk menjadikannya seperti yang Tuhan kehendaki dan segala dunia ini ketika dijadikan itu menggenapi rencana Tuhan dan Kehendak Tuhan. Nggak ada sesuatu yang tidak menggenapi kehendak Tuhan.
Makanya kalau Bapak, Ibu baca Efesus 1:11, di situ Paulus berkata bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita, itu bisa terjadi, saya pakai parafrase, karena kehendak Tuhan. Nah ini kalau Bapak, Ibu mengerti dengan baik maka kita punya cara pandang terhadap hidup dan persoalan yang kita alami dalam hidup pasti sangat berbeda sekali. Semua keputusan dan akibat dari keputusan yang kita ambil, kita akan lihatnya secara berbeda. Siapa yang menjadi pasangan hidup kita dalam dunia ini, kita akan lihat secara berbeda. Dari sisi manusia yang tidak tahu hari depan seperti apa, kita akan ngomong ini kebetulan, ini kesalahan, ini sesuatu yang seharusnya tidak terjadi seperti ini. Saya terlalu keras saat mengambil keputusan yang menentang Tuhan dan ini akibat dari apa yang saya putuskan tersebut. Tapi kalau Bapak, Ibu lihat dari kacamata Tuhan, segala sesuatu yang terjadi dalam dunia ini terjadi karena kehendak Tuhan.
Satu sisi kita bisa lihat semua hal yang kita lakukan adalah hal yang berdosa dan menentang Tuhan. Kalau hal itu kita lakukan, melawan perkataan Tuhan. Tetapi setiap akibat dari peristiwa yang kita kerjakan, yang kita putuskan, ingat baik-baik, tidak pernah lari dari kehendak Tuhan. Artinya apa? Kalau kita gagal perlu bunuh diri nggak? Nggak perlu, karena kegagalan itu ada di dalam kehendak Tuhan yang pasti baik. Karena Alkitab berkata bahwa Tuhan ketika memberi sesuatu maka segala pemberian yang baik itu bersumber dari Tuhan. Pada Tuhan tidak ada bayang-bayang kegelapan. Jadi itu sebabnya kalau segala sesuatu ada di dalam kontrol Tuhan, kuasa Tuhan, saya nggak tahu kita cukup waktu nggak bahas sampai situ ya, kalau segala sesuatu ada di bawah kontrol dan kuasa Tuhan dan segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan, berarti kalau kita gagal, kita kecewa, semua peristiwa yang bisa terjadi itu karena Tuhan izinkan tapi setiap hal yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, kita bisa tahu satu hal, itu pasti baik untuk kita. Tidak mungkin tidak baik.
Tahu dari mana? Gampang. Karena atau kalau sebelum saya bicara ini, tahu dari mana gampang? Dari mana kita tahu, lihatlah pada Kristus? Kenapa Kristus, hubungannya apa dengan hidup kita? Hubungannya di sini. Kalau Allah Bapa rela menyerahkan Anak satu-satunya yang paling berharga bagi diri kita. Mohon tanya, diserahkan untuk apa? Untuk apa? Halo? Bapak ibu Kristen kan? Untuk apa Anak Allah itu diserahkan kepada kita? Menebus dosa kita kan? Istilah lainnya supaya kita nggak masuk neraka kan? Itu baik atau tidak baik? Itu paling berharga atau tidak berharga? Jangan kaya tadi di awal ya, Tuhan sudah berikan segala sesuatunya tapi kita anggap itu bukan suatu pemberian yang berharga bagi hidup kita. Kita lihat itu sebagai suatu yang begitu berharga dalam hidup kita yang Tuhan sudah bagikan dalam hidup kita. Kalau Dia demi diri kita tapi kita sayangkan Anak yang tunggal itu yang sangat berharga bagi mata Dia. Dan bagi Dia untuk kita, kira-kira Dia mungkin tidak setelah kita percaya kepada Dia, tidak membelikan hal yang terbaik bagi kita? Pasti tidak mungkin. Makanya kalau ada orang Kristen sampai bicara “Tuhan jahat sama saya”, dia nggak melihat salib Kristus lho. Kalau dia sampai bunuh diri, ya akibat dari kekecewaan dan patah cinta, dia nggak lihat kasih Kristus dalam hidup dia. Dan apa yang membuat kita bisa melihat dan yakin seperti kepada kebenaran ini? Lihatlah pada Kristus yang telah digenapi segala sesuatu yang berbicara mengenai Kristus sedang digenapi dan dengan iman mengenai hal-hal yang belum terjadi pun pasti Tuhan yang akan genapi karena hal-hal itu sudah digenapi terlebih dahulu di hadapan Allah, cuma Allah masih bekerja di dalam sejarah menurut waktu yang kita lewati hari demi hari di dalam dunia ini. Tapi tujuan akhirnya sudah pasti dan sudah tetap.
Nah ini juga menjadi salah satu cara, pada waktu kita membaca Alkitab, ada yang menafsirkan ke arah situ, atau mengaplikasikan ke arah situ, kadang-kadang kalau saya bicara dengan orang, orang ngomong kayak gini, “Pak, saya pengen baca Alkitab, dari mana ya saya harus mulai membacanya?” saya ngomong, “Selama ini Bapak, Ibu, mulai dari mana?” “Ya seperti Bapak Ibu membaca buku, kita baca kan sudah pasti dari halaman pertama, dari Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan seperti itu.” “Lalu gimana Bapak, Ibu, ngerti nggak?” “Nggak. Makanya saya tanya kepada Bapak, gimana caranya membaca Alkitab, karena saya nggak ngerti gimana caranya membaca Alkitab.” Nah Bapak, Ibu, bisa gunakan prinsip ini ya, “telah” terlebih dahulu, baru proses mundur. Maksudnya adalah kalau kita ingin mengerti semua nubuat di dalam Perjanjian Lama, kita ingin bisa baca apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Tuhan oleh para nabi sendiri yang sebenarnya para nabi tidak bisa menjawab seutuhnya seperti itu. Caranya adalah buka kunci jawabannya, buka Perjanjian Baru, baca seluruh Perjanjian Baru terlebih dahulu, lalu gunakan kacamata Perjanjian Baru untuk membaca Perjanjian Lama. Saya yakin Bapak, Ibu, akan lebih mengerti apa yang dimaksudkan Tuhan dalam Kitab Suci. Dan walaupun ada hal yang sulit, dan semua Pendeta pun ngakui ada hal yang sulit untuk dimengerti, tetapi paling tidak, kita bisa mengerti lebih jelas dan lebih baik akan firman Tuhan. Ya jadi dari kacamata yang lalu, kita lihat ke depan lalu membaca kebenaran firman Tuhan itu.
Bagian ayat satu berbicara bahwa terang Tuhan telah datang ke dalam dunia ini, dan kita bisa melihat kebenaran itu dari mana? Dari beberapa ayat di dalam Kitab Suci, misalnya kalau Bapak, Ibu, lihat di dalam Matius pasal yang ke 4, atau kita boleh baca sedikit masuk ke oh ya, kita baca ayat ke-2 dulu ya, “Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan.” Dan kita mundur di ayat 23 pasal 8, “Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu Tuhan merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain.”
Nah kita boleh lihat dalam Matius pasal 4, apa bukti bahwa terang itu telah datang dan pasti datang, Bapak, Ibu, bisa lihat di Pasal 4 Matius, mulai dari ayat 12. Pada waktu Yesus pergi ke tanah Zebulon dan Naftali, setelah Dia mendengar peristiwa penangkapan Yohanes Pembaptis, maka Yesus pergi ke sana. Tetapi pada waktu Yesus pergi ke sana, Matius kemudian menggunakan peristiwa itu untuk kemudian mengatakan apa yang Yesus lakukan sebenarnya adalah penggenapan terhadap Yes. 8:23 – 9:1. Saya bacakan ya, “Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplahfirman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, — bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorgasudah dekat!””
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita baca 8:23 saja dan 9:1, mungkin kita akan ngomong, sebenarnya ngomong apa sih, “terang itu datang ke sana”, siapa sih yang dimaksud? Tetapi begitu kita baca Mat. 4, kita baca, oh ini bicara mengenai Yesus Kristus. Dan kenapa Dia harus pergi ke tanah Zebulon dan Naftali? Untuk menggenapi Nabi Yesaya punya nubuat. Supaya apa? Supaya pada waktu kita melihat Yesus Kristus, ini adalah tanda yang Yesus lakukan untuk membuktikan kalau diri-Nya lah yang dikatakan oleh Nabi Yesaya bukan yang lain.
Lalu kalau misalnya Bapak, Ibu, lihat di dalam Yohanes pasal 1, ini ayat yang sering kali dikutip. Injil Yohanes pasal 1, ayat yang penting ya, kita boleh bicara dari ayat ke-8, kesaksian Yohanes mengenai dirinya. “Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percayadalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Jadi sekali lagi, pada waktu Yesaya berkata, terang itu berdiam di negeri kekelaman, terang yang besar itu telah bersinar seperti itu, maka yang dimaksud apa? Yang dimaksud adalah Yesus adalah terang. Ketika datang ke dalam dunia, kita jangan berpikir dunia ini ada di dalam terang. Dunia di mana kita berada dan kita sendiri berada atau kita sendiri adalah orang-orang yang ada di dalam kegelapan dan terang itu sudah datang ke dalam dunia ini yang gelap dan kepada diri kita. Dan di situ ada dua respon, siapa yang menolak tetap ada di dalam kegelapan dan siapa yang menerima ada di dalam terang dan punya hak untuk disebut sebagai anak Allah. Tetapi Yohanes berkata, “Ingat baik-baik. Itu bukan karena kita yang sadar sendiri, bukan karena kita yang menghendakinya, tetapi itu karena pemberian dari Tuhan.”
Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hal pertama yang kita bisa lihat yaitu Tuhan sudah berjanji bahwa terang akan datang. Tuhan memberikan pengertian bagi umat-Nya bahwa Kristus pasti datang dan Dia adalah Allah yang menjadi manusia untuk memberi atau menjadi terang di dalam dunia ini. Tetapi ada aspek kedua yang Yesaya juga katakan, pada waktu terang itu datang ke dalam dunia maka kita atau terang itu akan menimbulkan sorak-sorak dan sukacita yang besar. Kita akan bersukacita di hadapan Tuhan seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi jarahan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini adalah hal yang kita juga harapkan dan nantikan dalam hidup kita. Kalau Bapak, Ibu, mau lanjutkan sedikit, mungkin kita bisa bagi seperti ini ya sebelum saya jelaskan supaya nggak berkesan saya melompat seperti itu. Pada waktu kita lihat bagian 1 ayat 1 ini berbicara mengenai sesuatu terang yang Tuhan nyatakan bagi kita. Lalu bagian kedua di ayat kedua adalah berbicara mengenai sesuatu sukacita atau perayaan yang akan kita alami dalam hidup kita pada waktu terang itu datang ke dalam dunia ini. Tetapi pada waktu kita baca ayat 3 sampai ayat yang ke 6 di situ kita diberikan penjelasan kenapa kita bisa mengalami sukacita dan pesta dalam kehidupan kita ketika terang itu datang. Dan kita tahu dari mana? Yaitu dari kata “sebab” yang muncul dari semua ayat dari ayat yang ketiga sampai dengan ayat yang ke enam.
Pertama sebabnya karena apa? “Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat penindas telah Kau patahkan seperti pada hari kekalahan Midian.” Keempat, “sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api.” Kelima, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta” dan seterusnya.
Jadi apa yang membawa kepada sukacita itu? Pertama adalah karena kuk yang membebani pundak kita itu sudah dipatahkan atau dikalahkan. Lalu yang kedua, peperangan tidak ada lagi di dalam dunia ini. Yang ditandai dari mana? Di sini dikatakan bahwa setiap sepatu tentara yang berderap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. Umpan api maksudnya adalah menjadi bahan bakar bagi api. Jadi kalau kita ingin menyalakan api unggun biasanya bahan bakarnya adalah kayu. Nah, di sini dikatakan bahan bakarnya adalah perlengkapan tentara. Dengan kata lain, Yesaya mau mengatakan pada hari Mesias itu datang bukan yang pertama ya kita tahu itu yang kedua, maka di kala itu tidak ada lagi peperangan yang akan terjadi di dalam dunia ini. Lalu yang ketiga adalah kita diberitahu identitas dari siapa yang datang itu dan apa yang menjadi otoritas dari yang datang itu.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan ini saya mau ajak kita melihat terlebih dahulu ya. Apa yang membuat kita mengalami sukacita dalam hidup ini dan bisa bersukacita? Karena segala yang kita rindukan, yang kita harapkan dalam dunia ini, yang kita ingin terjadi dalam hidup kita, itu pasti akan terjadi di dalam Kristus. Nah, kok bisa begitu? Karena di dalam hidup ini kita dicipta oleh Tuhan dengan satu kesadaran bahwa kita membutuhkan hal-hal yang seperti berupa kebahagiaan, damai sejahtera, hilangnya penyakit dan kesedihan di dalam dunia ini yang walaupun mungkin kita nggak terlalu sadar, tetapi itu yang kita kejar dalam hidup kita. Mungkin salah satu contohnya adalah kalau kita nonton film anime ya, film-film yang kayak Moana atau film-film kartun yang kata kita mitologis atau sesuatu yang fiksi seperti itu ya. Mau tanya senang nggak? Senang kan? Kenapa senang? Karena kita kayaknya dibuai. Kita dibuai untuk melihat pada satu dunia yang begitu indah. Dunia yang tenang, dunia yang tidak ada ancaman, nggak ada bahaya. Kalau ada ancaman, kita bisa keluar daripada ancaman itu dan kita masuk ke dalam satu keadaan yang bahagia kembali seperti itu, yang di mana peperangan tidak ada, pemulihan terjadi seperti itu. Tanpa sadar, kita ketika nonton, kita itu merasa bahwa, “Inilah yang seharusnya terjadi! Inilah sebenarnya..” Mungkin para pencipta dari film-film itu sangat mengerti sekali apa yang menjadi pergumulan hati kita. Dan dia tuangkan itu di dalam film-film seperti ini supaya ketika kita nonton, kita tahu kita dibawa keluar dari dunia ini untuk melihat bahwa dunia ini, yang kita pikir menjadi solusi dan menjadi makna dari kehidupan, sebenarnya tidak pernah bisa memberikan pemuasan dan kebutuhan dalam hidup kita. Atau tidak bisa memberi kebahagiaan bagi diri kita.
Dan, memang betul, Alkitab berkata: pada waktu Tuhan mencipta kita, tujuan Tuhan mencipta kita bukan untuk materi dunia ini dan bukan untuk kebahagiaan dalam dunia ini. Maksud saya adalah: kita, kalau betul-betul ingin mendapatkan satu damai sejahtera, ketenangan, lepas dari penderitaan, penyakit, dan segala hal yang membawa kesedihan dalam hidup ini, satu hal yang pasti: Bapak, Ibu tidak mungkin bisa dapatkan dari dunia! Termasuk juga damai antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Dunia yang tanpa kejahatan Bapak, Ibu tidak mungkin bisa dapatkan dari dunia ini. Bahkan agama sekalipun tidak pernah bisa memberikan solusi itu. Dan pendidikan-pendidikan tertinggi pun tidak pernah bisa mengatasi masalah ini.
Siapa yang sekolah hukum dan ahli hukum bisa menjadi orang yang betul-betul jujur? Justru mungkin menggunakan hukum untuk memanipulasi supaya dia tidak tertangkap. Siapa yang sekolah politik menjadi seorang yang begitu ahli di dalam politik dan strategi bisa memimpin bangsa ini tanpa kejahatan dan korupsi dan peperangan? Nggak bisa kan? Makin tinggi derajat pendidikan seseorang, Bapak, Ibu jangan pikir dia adalah orang terpelajar. Pendidikan tidak pernah menyelesaikan masalah moralitas! Pendidikan tidak pernah menyelesaikan masalah dosa yang ada di dalam hati kita! Agama tidak pernah bisa menyelesaikan masalah yang paling esensi dan mendasar dalam diri semua manusia: yaitu manusia sudah memberontak melawan Tuhan! Yang bisa menyelesaikan masalah ini hanya Allah sendiri!
Makanya di sini dikatakan bahwa Allah itu harus datang. Allah sendiri harus menjadi terang. Allah yang harus menghindar atau menyelesaikan masalah hal-hal yang diharapkan ada di dalam hati semua manusia. Tapi manusia yang berdosa, ketika menolak Allah, yang terjadi adalah kita berpikir solusinya bukan pada Allah, bukan pada Kristus, tetapi justru pada materi, pada orang lain, pada kepintaran yang manusia miliki, pada pendidikan, pada usaha yang manusia lakukan di dalam ibadah yang mereka kerjakan.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, semua manusia pasti punya satu kerinduan untuk bebas dari segala masalah dalam hidupnya. Ini dikatakan di dalam Roma 8 –kalau Bapak, Ibu mau buka, ya– Roma 8, termasuk juga lepas dari kematian. Kita bisa baca dari ayat 19. Roma 8. “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tapi oleh kehendak Dia yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, Kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu penebusan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” dan seterusnya.
Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Kitab Suci sudah memberikan kepada kita, ya pengertian bahwa di dalam dunia ini kita ada di dalam kesulitan. Kita ada dalam satu kerinduan untuk ingin dipuaskan seperti itu, ingin dibahagiakan, ingin dijauhkan dari permasalahan-permasalahan dalam kehidupan kita. Dan menariknya adalah: Tuhan katakan “menahan” kita ada di dalam kondisi itu. Apakah Tuhan jahat? Bukan jahat. Karena Tuhan tahu kalau kita dilepaskan, maka kita akan mencari hal-hal yang merupakan materi yang bukan Tuhan untuk menjadi pemuas hal itu dalam kehidupan kita. Dan kita tidak merindukan Tuhan sama sekali. Tapi Paulus berkata dalam Roma, “Tuhan menahan kita itu termasuk –bukan hanya orang dunia, anak Tuhan sendiri yang ada masih di dalam dosa tapi percaya kepada Kristus untuk sadar bahwa pengharapan yang kita miliki dalam dunia ini sebenarnya bukan, jawabannya bukan dari dunia ini, tetapi ada di dalam Kristus.”
Jadi, kalau Bapak, Ibu tanya, “Kenapa, ya ada penderitaan?” Satu sisi kita tentunya nggak bisa menjawab kenapa kita mengalami penderitaan dalam hidup ini. Tapi di sisi lain, mungkin berdasarkan terang Firman, kita bisa jawab: karena dunia ini bukan rumah kita. Karena solusi itu bukan ada di materi dan orang lain atau yang kita sukai. Tetapi dunia rumah kita yang sesungguhnya ada di langit dan bumi yang baru dan solusi terhadap masalah manusia ada di dalam Kristus. Untuk kita bisa melihat dan menantikan itu dan merindukan hal itu, maka Tuhan harus menahan kita ada di dalam satu kondisi yang kita rasa tidak pernah puas dan membuat kerinduan dalam hati kita untuk mengharapkan hal itu terjadi dalam hidup kita. Ini yang dikatakan di sini.
Makanya, pada waktu Kristus datang, ada sukacita. Kenapa sukacita? Karena paling tidak, Yesus mengerjakan 2 hal di dalam hidup kita. Pertama adalah Dia menyelesaikan masalah dosa yang kita miliki dengan cara menyelamatkan kita dari dosa dengan mati di atas kayu salib. 2 Kor. 5:21. Dan yang kedua adalah dengan menjadi pengantara antara kita dengan Allah yang suci. Pengantara bisa dimengerti banyak hal, tetapi ada 1 hal yang kita juga bisa mengerti. Pengantara berarti Dia selalu bersyafaat bagi kita, Dia menengahi kita dengan Allah yang suci dalam kehidupan kita, Dia akan meminta hal-hal yang terbaik dalam hidup kita kepada Bapa-Nya yang ada di surga. Maka, setiap orang yang ada di dalam Kristus, kita bisa punya satu keyakinan bahwa Dia sudah menyelesaikan semua masalah mendasar yang kita khawatirkan, yang menjadi masalah dalam seluruh aspek kehidupan atau sumber masalah dalam seluruh aspek hidup kita ketika kita datang kepada Kristus. Dan terakhir adalah pada waktu Yesus datang, semua beban itu sudah Tuhan taruh di pundak Yesus Kristus. Bahu-Nya.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini saya lihat, kalau kita paham, ya, kita pasti akan belajar beriman dan bersandar kepada Kristus dan mengandalkan Tuhan dan bukan mengandalkan diri. Tetapi, kadang-kadang dosa itu membuat kita merasa kita itu Tuhan. Dengan cara bagaimana? Kalau ada masalah, ingin diselesaikan kan? Menurut bijaksana siapa? Kalau ada kesulitan atau ada kesedihan atau ada jalan buntu, mau diselesaikan kan? Dengan cara siapa? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita sering kali terlalu Ge-eR dengan berpikir, “Saya sanggup. Saya mampu menyelesaikan semuanya.” Tetapi, kalau kita mau jujur, ya, banyak hal yang kita putuskan dalam hidup ini, kita nggak tahu kok hasil keputusannya itu benar atau salah. Banyak penderitaan yang kita alami dalam hidup ini, kita tahu kok itu sangat berat sekali yang mungkin kita sendiri tidak sanggup untuk menanggungnya. Sekarang, Tuhan sudah menawarkan kepada kita pada waktu Dia datang. Tuhan sudah memberitahu kita, semua kuk itu yang menekan, satu-satunya yang berkuasa untuk menahan dan menanggungnya adalah Kristus dan Dia sudah tanggung itu bagi diri kita dan mau menanggung itu bagi diri kita. Masalahnya adalah kita mau nggak melepaskan itu kepada Dia dan meminta Dia untuk menanggungnya bagi diri kita?
Saya kutip ilustrasi dari Pdt. Stephen Tong yang dulu pernah saya kutip, berkaitan dengan doa, ya. Ada seorang bapak tua. Dia pikul beban, jalan berkilo-kilo meter menuju satu kota untuk menjual barang-barang yang dia pikul itu. Lalu, di tengah perjalanan ketika dia pikul dengan kesusahan itu, lewatlah sebuah mobil pick up di sebelahnya. Lalu, ketika mobil pick up itu lihat bapak tua ini memikul beban yang begitu berat, sedangkan mobilnya itu kosong, akhirnya dia tawarkan kepada bapak itu, “Bapak mau ke mana?” “Oh, ke Kota A.” “Oh, saya juga menuju ke kota itu. Ayo, silakan naik ke atas mobil! Saya antar ke sana.” Lalu, bapak itu naik. Mobil ini jalan kembali. Waktu mobil ini jalan, tiba-tiba sopirnya sadar, kok ada suara orang terengah-engah, ya, di belakang? Waktu dia toleh, ternyata bapak itu masih memikul barangnya di atas mobil. Seharusnya yang terjadi adalah taruh kan beban barang itu di atas mobil? Dia duduk di situ. Tetapi, bapak ini masih pikul barangnya itu di atas mobil sambil mobil itu berjalan menuju kota yang dituju. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu gambaran kita. Waktu kita ada masalah, ada pergumulan, kita ngomong, “Saya berdoa kepada Tuhan. Saya serahkan ke dalam tangan Tuhan.” Tetapi, kita terus pegang dan kita tidak betul-betul serahkan ke dalam tangan Tuhan.
Di sini dikatakan, Tuhan punya bahu cukup lebar untuk menanggung beban hidup kita, masalah diri kita. Cuma, masalahnya adalah kita berani tidak memercayakan hidup kita dan segala pergumulan yang kita alami, khususnya berkaitan dengan dosa dan kematian kekal ke dalam tangan Kristus karena Dia sudah menyelesaikannya bagi kita dan Dia punya otoritas untuk menyelesaikannya karena Dia bukan hanya manusia yang sama seperti kita saja, tetapi Dia adalah manusia yang tidak berdosa dan Dia juga adalah Allah yang sejati. Ini kualitas yang harus dimiliki oleh seorang mediator dan seorang Juruselamat dan hanya ada pada pribadi yang namanya Yesus Kristus, bukan pada yang lain. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita, ya. Mari kita masuk dalam doa.
Kami sungguh bersyukur, Bapa, di dalam perkenaan dan kasih-Mu pada pagi ini, Engkau boleh sekali lagi menolong kami dan mengaruniakan kepada kami segala berkat rohani dan hal yang kami perlukan dalam hidup kami, terutama apa yang dikerjakan oleh-Mu di dalam Kristus. Tolong bawa kami untuk bisa melihat kepada kebenaran ini sekali lagi, ya, Tuhan. Tolong bentuk kami seturut dengan kebenaran-Mu. Tolong karuniakan bagi kami satu kehidupan yang menyetujui, tetapi juga menyerahkan diri kami dalam iman karena kami bisa melihat segala kebenaran yang dinyatakan adalah sungguh-sungguh kebenaran yang bersumber dari Tuhan sendiri. Sekali lagi, kami bersyukur dan berdoa hanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.
