Khotbah Pdt. Dr. Yakub Kartawidjaja, 14 Desember 2025

Kis. 12:1-25

Pdt. Dr. Yakub Kartawidjaja

Bapak, Ibu, kita sedang memasuki bulan Natal, bulan yang sering kita kaitkan dengan masa yang terang, damai, sukacita, tetapi Alkitab mengingatkan kita bahwa natal tidak lahir di tengah dunia yang tenang dan bersahabat. Natal justru hadir di dunia yang gelap, dunia yang dikuasai oleh kekerasan, ketakutan, dan penguasa-penguasa yang menindas kebenaran. Di tengah dunia seperti itulah Kristus datang. Dan ketika Terang itu datang ke dalam kegelapan, dunia tidak selalu menyambutnya dengan pertobatan, justru seringkali kuasa-kuasa yang merasa terganggu oleh kebenaran Injil itu bereaksi dengan penolakan dan penindasan. Itu pola yang kita lihat sejak kelahiran Kristus dan pola yang sama kita lihat juga di dalam bagian yang kita baca hari ini, di Kisah Rasul 12 muncul kembali gelombang penganiayaan yang baru sejak aniaya pertama. Kapan, Saudara, aniaya pertama bagi gereja? Waktu Stefanus mati dirajam batu. Di sini, di ayat pertama dicatat Herodes mulai bertindak keras terhadap gereja, bahkan dia menangkap Yakobus dan membunuhnya.

Yakobus ini siapa, Saudara? Kita harus tahu. Yakobus itu salah satu dari pilar gereja. Ada tiga pemimpin di situ, Saudara, Yakobus, Petrus, dan Yohanes. Itu pilarnya gereja di Yerusalem. Satu dibunuh sekarang sudah, Saudara. Kenapa Herodes membunuh Yakobus? Dia membunuh Yakobus bukan sekedar karena kebencian pribadi semata-mata, dia benci Injil dan sebagainya, Saudara, tapi ini adalah semacam uji coba politik. Jadi dia ingin memenangkan hati para pemimpin Yahudi yang saat itu sudah gelisah dengan pertumbuhan jemaat. Herodes bisa membaca tuh di situ, Saudara, ke mana arah hati para pemimpin dan opini publik ini. Dia melihat bahwa gerakan yang mengakui Yesus sebagai Mesias ini makin terus berkembang. Waduh, mulai insecure dia. Menembus batas-batas tradisi mereka dan dianggap sebagai ancaman bagi identitas religius di Israel. Tapi bagi Herodes, ini justru peluang emas. Dia berpikir, “Kalau para pemuka Yahudi itu bisa membenci gerakan ini, maka aku bisa menjadi pahlawan mereka.” Nah, Saudara, itu sebabnya ketika dia mengeksekusi Yakobus, dia bukan hanya melakukan kejahatan, dia memang orangnya kejam sekali, tapi dia sedang menguji reaksi masyarakat, dan ketika dia mendengar bahwa tindakan kekejaman dia itu membuat para pemimpin Yahudi senang, Saudara, Herodes justru semakin bersemangat melanjutkan kejahatan dia dan target berikutnya adalah Petrus.

Saya ingin mengajak Bapak, Ibu, Saudara merenungkan dua hal di dalam bagian ini. Yang pertama, Tuhan menjawab doa kita di dalam waktu dan cara-Nya sendiri. Ini bagian pertama yang akan kita renungkan. Di ayat 3, Saudara melihat di situ Petrus ditangkap dan jelas Herodes juga sudah merencanakan dia akan dibunuh. Tetapi penangkapan itu, Saudara, terjadinya kapan dicatat oleh Lukas tuh di situ? Di hari raya Roti Tidak Beragi. Itu sebabnya Herodes tidak mau menodai hari-hari yang suci Yahudi dengan semacam eksekusi publik. Jadi Petrus dimasukkan lebih dulu ke dalam penjara, nunggu paskah sampai selesai, lalu di ayat ke-4 keluarkan dia di depan umum, lalu dihabisi sama seperti Yakobus.

Saudara, Herodes itu menempatkan Petrus, dicatat oleh Lukas di mana tuh? Sengaja kalau Alkitab itu mencatat seperti ini, kita harus mulai peka, ya, Saudara. Katakan oleh Lukas itu di bawah empat regu penjaga dan masing-masing regu itu empat prajurit. Saudara bayangkan, ya, Petrus itu seorang rasul, dia bukan buronan. Dia seorang pemberita Injil, dia bukan penjahat. Kok bisa dibelenggu sampai begitu hebatnya dan Saudara, dijaga oleh hebatnya tentara. Dia dirantai, dicatat oleh Lukas, di antara dua prajurit, sementara dua lainnya berjaga di depan pintu penjara. Pengamanan seperti ini hanya menunjukkan satu hal, Saudara, bahwa Petrus tidak diperlakukan sebagai seorang pengkhotbah Injil, tetapi sebagai musuh yang sangat berbahaya. Kenapa, Saudara? Karena hati orang-orang itu dibongkar dosanya. Karena kebenaran yang dia beritakan justru menyingkapkan kebutaan rohani mereka. Mereka takut kehilangan pengaruh dan posisi, itu sebabnya Petrus dicap sebagai musuh. Dia seorang yang merusak sistem religius yang mereka banggakan, dan akhirnya dijebloskan ke dalam penjara.

Tapi Saudara, yang mau dicatat oleh Lukas ini bukan saja itu, tetapi reaksi daripada Petrus ini. Di tengah kondisi seperti itu, Saudara, ayat ke-6 dicatat Petrus justru tidur. Saudara, jawabannya cuma satu. Kita tanya, kenapa dia bisa tidur? Kenapa di dalam kondisi seperti itu, Saudara, dia bisa-bisa tidur? Jawabannya cuma satu, karena dia memiliki damai sejahtera di dalam hatinya yang tidak mungkin bisa dijelaskan oleh manusia. Itu damai yang diberikan Tuhan, damai surgawi. Itu sebabnya bertahun-tahun kemudian, Saudara, ketika Petrus nulis suratnya. Saudara nanti baca, ya, Surat Petrus di rumah. Di bagian akhir surat yang pertama, dia tulis begini, Saudara, “Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada Tuhan.” Dia bukancuma ngajarin kita, Saudara. Dia sendiri sudah ngalamin itu. Serahkan segala kekhawatiran. Kenapa sih, Saudara, Tuhan itu suruh kita serahkan? Karena orang Kristen susah menyerahkan kekhawatirannya. Yang diserahkan sebagian, tangan kanan aja, tangan kiri nyimpan, Saudara, kekhawatiran. Jadi terus saja masih ditakutin. Tapi, Petrus, sekali lagi dia pernah mengalami itu, jadi bukan cuma teori kalimat dia itu. Ini bertahun-tahun setelah dia mengalami penyerahannya itu. “Serahkan segala kekuatiranmu kepada Tuhan, sebab Dia yang memelihara kamu.”

Kalimat ini Saudara sekali lagi adalah pengalaman hidup dia sendiri, bukan sekedar teori. Dia pernah berada sangat dekat dengan kematian, Saudara. Tapi, dia bisa punya damai sejahtera karena dia percaya kepada Allah yang memelihara hidupnya. Kita sering berpikir, Saudara, dalam hidup, kalau masalah saya selesai, hati saya akan tenang, kan gitu, Saudara. Kalau masalah ini beres dulu. Tapi, justru Petrus ngajarin kita kebalikannya, Saudara. Justru hati kita bisa tenang meskipun masalahnya belum selesai. Karena apa, Saudara? Karena Tuhan memelihara hidup kita. Dia percaya kepada Tuhan yang seperti itu. Dia ngajak kita semua juga begitu, Saudara. Serahkan kekawatiranmu kepada Tuhan. Itu sebabnya dicatat Petrus tertidur nyenyak. Saudara bukan cuma tidur, tidurnya pules.  Kenapa, Saudara? Karena rahasianya dia catat bertahun-tahun kemudian, dia sungguh-sungguh tahu bagaimana menyerahkan seluruh kekawatirannya kepada Allah yang memelihara hidupnya. Dan tidurnya begitu nyenyak, dari mana kita tahu, karena di ayat 7, Saudara, sampai malaikat yang datang itu, dia tidak bisa, harus menepuk dulu pundak dia. Jadi ini suatu ironisnya, Saudara. Dia harus ditepuk dulu, dibangunin. “Hei, Petrus! Bangun kamu! Ayo, kita pergi sekarang!” Petrus bangun, Saudara, karena nyenyaknya tidur, dia pasti masih sangat ngantuk, kan Saudara. Nah, banyak orang pules tidur, ya. Dibangunin, dia masih gosok-gosok mata, masih tidak percaya ini tuh beneran apa penglihatan, apa mimpi, apa bagaimana? Jadi, Lukas yang hebat, Saudara mencatat pintu itu terbuka dengan sendirinya. Kesatu, kedua, dan pintu gerbang itu terbuka.

Saudara punya pintu otomatis nggak di rumah? Saudara kalau punya pintu otomatis, ya, gerbang, ya, dipencet begini. Set! Nggak ada yang bukain, loh. Kok bisa, Saudara, kuasa Tuhan itu begitu hebatnya, ya? Dan saya percaya kunci itu ada borgolnya dikunci kembali, Saudara, sama malaikat itu. Jadi, kuasa Tuhan itu, Saudara, nothing is impossible for God, gitu loh. Yang mau dicatat, tuh, begitu. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Semua mungkin di tangan Tuhan. Bayangkan, Saudara-saudara, ketika dia sudah di di luar penjara, Petrus tuh masih nggak sadar, Saudara. Sampai baru dia kucek-kucek matanya, baru dia sadar, “Oh, malaikat Tuhan sudah lepasin saya.” Dia benar-benar baru tahu. Saudara, kisah seperti ini kita tuh jangan pikir, “Oh, Tuhan, malaikat mah cuma kerjanya dulu, sekarang nggak ada.” Nggak, Saudara. Saya percaya malaikat masih sering datang, Saudara menyelamatkan kita, menolong kita. Tapi kita tidak boleh menyembah malaikat, loh. Ya, Saudara-saudara. Tuhan yang harus kita sembah, bukan malaikat. Saudara, zaman covid sudah dilewatin tuh, berapa kali malaikat tolong kita, kita nggak sadar, Saudara.

Kalau ini saya ceritain, ya, satu orang di zaman, bukan di zaman Rasul, Saudara. Tapi ada seorang yang namanya, Saudara tahu penginjil India yang sangat besar saya kira, nama dia, Saudara, Sundar Singh. Saudara tahu nggak? Pernah dengar nama Sundar Singh? Saudara, Sundar Sing ketika berkotbah di Nepal, dia kan pasti dilarang dong ngabarin Injil. “Ngapain kamu nama Yesus ke Nepal?” kan gitu, Saudara. Tapi dia tetap, Saudara dengan semangatnya karena orang itu memang begitu, ya. Kalau hatinya sudah disentuh Tuhan, dia tidak peduli hidup matinya. Injil terus dikabarkan, Saudara di situ. Akhirnya dia ditangkap. Mirip seperti Petrus, Saudara. Dia sudah ditangkap, dia dimasukin sumur. Dimasukin sumur yang kering, Saudara, itu lubangnya gelap lalu atasnya ditutup rapat-rapat, Saudara. Di situ tempat orang-orang semua yang dibiarin mati di dalam situ. Jadi, dia duduk di atas tulang-tulang orang yang sudah pernah mati sebelum dia. Lalu dia Saudara, orang yang percaya kepada Tuhan. Lalu dia berdoa di situ. Lalu di saat doa, Saudara, di tengah dia dengar suara di atas. Tok, tok, tok! Ada suara rebut-ribut, ya. Ternyata penutup sumurnya dibuka, Saudara. Sudah gitu, tali diturunin dari atas. Ada simpul dibikin di ujung talinya, tempat dia masukin kaki dia ke pijakan itu, Saudara. Lalu berpegangan, dia ditarik ke atas. Sudah sampai atas, Saudara, dia lihat sekeliling, kok nggak ada orang. Dan anehnya lagi, Saudara, saat dia melihat ke bawah, itu sumur sudah ditutup lagi. Itu persis sama, Saudara. Memang, Saudara kalau baca kisah Sundar Singh ini, banyak mukjizat di dalam hidup dia. Keesokan harinya dia berkotbah lagi, Saudara, tentu saja dia ditangkap lagi dan sebagainya, Saudara. Tapi para penguasa mengira ada seseorang yang bebasin dia, kan gitu. Jadi ketika mereka perikasa siapa yang pegang kunci, ternyata kuncinya masih terikat di ikat pinggang seorang imam di kota itu, Saudara. Mirip bener sama ini, sama cerita ini. Itu betul-betul, Saudara. Tidak pernah pindah kuncinya ada di situ.

Kalau zaman Herodes, dibunuh semua, saya nggak tahu, ya, yang di Sundar Singh ini. Pada saat itulah, Saudara, si Sundar Singh ini yakin bahwa Tuhan sudah mengutus malaikat-Nya untuk membebaskan dia. Mungkin kita tidak berada di penjara, seperti Petrus atau Sundar Singh, Saudara. Tetapi banyak dari hidup kita dipenjara oleh penjara kita sendiri. Ketakutan kita, pergumulan kita hidup, ketakutan hari depan, segala macam, Saudara-saudara, terasa tidak ada jalan keluar dan sebagainya. Kisah ini mengingatkan kita Saudara, Tuhan sanggup menolong kita. Itu poinnya. Dan kita diminta apa reaksinya? Percaya kepada Dia.

Apa yang bisa kita pelajari, Saudara, dari pembebasan Petrus ini? Paling sedikit saya bisa ambil tiga hal. Yang pertama, Saudara, Tuhan menolong pada waktu-Nya sendiri. Jadi kan, itu Saudara lihat, ya. Petrus itu ditahan sepanjang Minggu Roti Tidak Beragi. Secara manusia kan Tuhan bisa aja lepasin di hari pertama juga bisa. Tuhan bisa lepasin dia lebih awal. Tetapi Alkitab mencatat bahwa malaikat itu baru datang pada malam terakhir, Saudara. Tepat sebelum Petrus dijadwalkan untuk dieksekusi. Saudara, bisa bayangkan ya, pertolongan Tuhan itu. Kalau Petrus lagi doa, jemaat semua kok nggak datang-datang pertolongan Tuhan? Saat terakhir Tuhan datang selamatkan dia. Pertolongan Tuhan itu datang pada saat yang tepat, di mana bagi manusia semua sudah telat. Kita sering berada dalam situasi yang sama. Kita butuh pertolongan Tuhan. Tapi saudara menunggu itu memang adalah hal paling susah buat orang Kristen. Orang Kristen itu seringkali, Saudara, doa langsung jawab dong. Iya kan, Saudara? Saya sakit, nggak sembuh tolong dong, Tuhan. Langsung dijawab ada perubahan cepat gitu. Istilahnya kalau di Petrus, buka pintu itu cepat-cepat, bebasin saya, gitu. Pintu buka sekarang juga. Mungkin saat ini kita sedang menunggu pertolongan Tuhan di dalam area hidup kita. Mungkin dalam kesehatan, mungkin dalam pekerjaan Saudara, keluarga, ada pergumulan rohani, tapi jawabannya belum datang-datang. Saudara, firman Tuhan ingatkan kita, ketika kita belum melihat jalan keluar, bukan artinya Tuhan diam. Tuhan terus sedang bekerja. Karena itu panggilan Firman Tuhan sederhana, Dia menuntut kita percaya kepada Tuhan. Tetap menunggu, kerjakan apa yang seharusnya Saudara kerjakan. Jangan lupa tetap berdoa dan jangan lupa tetap percaya kepada Tuhan yang memelihara kita. Itu semua paketnya di situ.

Petrus berkata serahkanlah kekhawatiran kita kepada Tuhan, bukan setelah masalahnya selesai, Saudara. Tapi sekarang di tengah penantiannya itu, dia tetap percaya. Sebab Allah yang menolong Petrus pada malam terakhir, Allah yang sama juga yang memelihara hidup kita hari ini. Dia selalu bekerja pada waktu-Nya sendiri, sesuai dengan cara Dia sendiri. Terpujilah Tuhan.

Yang kedua, Saudara. Apa selain ngajarin Tuhan bekerja dalam waktunya sendiri. Tuhan itu berdaulat atas hidup dan mati kita. Kita tidak boleh membaca kisah pembebasan Petrus ini tanpa mengingat Yakobus, Saudara. Keduanya adalah rasul yang sama-sama dipakai Tuhan. Rasul yang besar. Pemimpin para rasul zaman itu. Tapi akhir kisah hidup mereka berbeda. Petrus dibebasin dan Yakobus dibunuh. Jadi kita harus seimbang, Saudara mengerti ini. Kenapa bisa seperti itu, Saudara? Karena Kisah Para Rasul itu tidak memberi penjelasan apa pun dengan mendetail. Kita mungkin menduga, ya Saudara, bahwa, “Oh Petrus pasti masih punya tugas dari Tuhan, maka hidupnya ditahan terus. Kalau Yakobus sudah selesai.” Benar, Saudara. Itu memang prinsipnya seperti itu. Tapi Alkitab tidak catat, loh. Alkitab tidak mencatat satu alasan yang khusus yang bisa kita pegang. Justru di sini pelajarannya, Saudara. Allah itu berdaulat penuh atas hidup dan mati anak-anakNya. Dia memanggil sebagian orang untuk memuliakan Dia, Saudara, melalui panjangnya umur dia, panjangnya waktu pelayanannya dia. Dan kepada sebagian anak-anakNya justru melalui kesetiaannya sampai mati. Mungkin masih muda harus dipanggil Tuhan. Keputusan itu sepenuhnya berada di tangan Tuhan, bukan di tangan kita. Itu sebabnya, Saudara panggilan kita bukan mencari-cari alasan. Kenapa jalan hidup seseorang berbeda dengan cara yang lain, ya? Kenapa sih, Tuhan selamatkan kita? Predestinasi Tuhan tidak adil, segala macam. Saudara orang Kristen jangan ya, menanya-nanya seperti itu, Saudara. Pertanyaan itu memang fair. Ya, kita ingin tahu, Saudara secara doktrinal, tapi tidak ada jawabannya, tidak ada. Tuhan mengasihani siapa yang Dia mau kasihani. Itu kedaulatan Dia sendiri, Saudara. Dia memilih kita semua orang yang mau percaya kepada Yesus sebelum dunia ini ada.

Jadi, Saudara. Doktrin predestinasi bukan dipakai untuk penginjilan. Doktrin predestinasi dipakai orang Kristen yang mau bertumbuh. Saudara, penginjilan kasih tahu Tuhan cinta sama kamu, percaya sama Dia. Tuhan mencintai Anda. Itu penginjilan. Jangan kasih tahu, kamu orang pilihan atau bukan? Kalau orang pilihan percaya Yesus. Loh? Wah, Saudara. Jadi Saudara, Saudari dalam hal ini, kita percaya bahwa apa pun jalan Tuhan tetap hidup ataupun mati, semuanya berada di dalam rencana Tuhan yang sempurna.

Firman ini mengingatkan kita, Saudara, bahwa iman Kristen itu bukan hanya percaya ketika Tuhan menyelamatkan. Tapi juga kita tetap setia, percaya kepada Tuhan ketika Tuhan memilih jalan yang lain. Tuhan mungkin tidak sembuhkan penyakit kita. Saudara jangan lupa, loh. Paulus itu berdoa apa, Saudara? “Tuhan cabut duri ini dari daging saya.” Terus menerus dia doa. Istilahnya Saudara kalau Tuhan cabut, saya bisa melayani Tuhan dengan lebih giat. Tapi Tuhan jawab nggak, Saudara? Tuhan jawab, tapi jawabannya tidak di kabulkan, doanya itu. Tuhan pasti jawab doa kita, Saudara. Tapi jawabannya bisa ya, bisa tunggu, bisa tidak, gitu. Jadi kepada Paulus ini tidak dijawab karena Tuhan tahu kalau kamu dijawab kamu akan jadi sombong, dia tuliskan sendiri suratnya 2 Korintus. Itu sebabnya kamu lebih baik tetap seperti itu, Saulus. Justru kasih karunia-Ku cukup bagimu. Di dalam kelemahanmulah kuasa-Ku bekerja dengan sempurna. Oh amin Saudara. Di situ kita percaya kedaulatan Tuhan yang begitu besar. Di situ kita mau percaya bahwa kita mau tetap percaya kepada Tuhan meskipun Tuhan memilih jalan yang lain, jalan yang berbeda dengan apa yang kita doakan. Karena Allah yang sama yang membebaskan Petrus juga Allah yang sama yang juga mengambil hidup Yakobus dan dia tidak pernah salah di dalam keputusannya tu.

Yang ketiga, Saudara. Kita, kisah daripada pembebasan Petrus juga ini menggambarkan sifat pembebasan yang kita terima melalui Injil. Jadi kalau kita melihat sesuatu yang fisik, kita harus langsung menyambungkan kepada yang rohani. Orang Kristen itu diajarkan begitu Saudara. Ya, tadi kita lihat hiasan natal langsung kita kembali ke palungan. Ya, Saudara-saudara. Ini juga sama pembebasan Petrus berupa fisik dibebasin. Kita langsung melihat rohaninya. Apa rohaninya, Saudara? Karena secara manusia keadaan Petrus itu sama sekali tidak punya harapan. Dia dirantai, kirinya dirantai prajurit salah satu, kanannya dirantai ke prajurit kedua. Dia dijaga begitu ketat. Tidak bisa bergerak. Hanya menunggu hukuman mati. Itu gambarannya apa secara makna rohani? Sama dengan keadaan kita sebelum Kristus datang menyelamatkan kita. Dosa dibelenggu, dan siap menunggu hukuman kekal, binasa selamanya.

Bukan hanya kita dibelenggu Saudara, kita bahkan tidak mampu membebaskan diri sendiri dan bahkan tidak sadar bahwa kita sedang dibelenggu dosa. Itu susahnya ketika kita sedang menginjili orang lain. Harus Roh Kudus itu yang bekerja, membangunkan hati itu, disadarkan orang itu, dibangunkan hatinya, baru dia sadar, oh ya saya orang berdosa, saya butuh Yesus. Itu sebabnya di sini Saudara, orang yang sedang tidur dalam penjara, sampai dibangunkan dulu, oleh Malaikat itu, “Bangun Petrus!” baru dia sadar dia tidur di penjara, sampai Roh Kudus datang membangunkan dia. Mematahkan rantai belenggu dosa itu, membawa kita keluar menuju pembebasan.

Di dalam lagu-lagu hymn yang kita nyanyikan, kalau hymn yang bagus itu Saudara, hymn itu penuh dengan kuasa penebusan; darah Kristus, salib Kristus, yang ditinggikan dipermuliakan, Saudara. Itu menggambarkan apa? Jiwa manusia yang gelap, yang dibelenggu dosa, yang tidak berdaya, terang Kristus itu masuk menebus dan menyinari jiwa dan membebaskan jiwa dari belenggu itu. Jadi pembebasan Petrus itu Saudara, gambaran yang begitu indah dari karya keselamatan. Allah yang menerangi kegelapan rohani kita, yang memutuskan rantai dosa kita, yang memanggil kita keluar, supaya kita bisa mengikuti dan melayani Yesus.

Untuk apa sih kita ditebus oleh Tuhan Yesus? Untuk apa Dia harus mengalirkan darah di kayu salib? Supaya kita bisa melayani Dia. Kita sadar kalau Dia adalah Raja di atas segala raja yang harus kita layani. Kapan kita melayani Tuhan? Bukan cuma di gereja Saudara. Di gereja sudah jelas namanya pelayanan. Tapi di luar, sama, melalui setiap profesi kita, kita melayani Yesus yang adalah Raja di atas segala raja. Itu disebutnya apa Saudara? Kita adalah saksi-saksi Kristus. Jadi kita tidak boleh pernah lupa, di dalam setiap profesi kita, apapun itu Saudara, baik sebagai student, baik sebagai arsitektur, baik sebagai dokter, baik sebagai ibu rumah tangga, itu semua cuma profesi, tapi panggilan kita cuma satu, yaitu saksi-saksi Kristus. Garam dan terang. Saudara itu garam dan terang, itu saksi Kristus. Dan Tuhan terus menyebarkan firmannya melalui diri Saudara, di tempatnya, di mana Saudara ditaruh oleh Tuhan, supaya Saudara bisa melayani Yesus, makanya Saudara dibebaskan dari belenggu dosa.

Sekarang Petrus sedang berada di tengah perjalanan Yerusalem, Lukas mencatat seperti itu, dia sudah bebas, tapi dia tidak tahu, dia tidak bisa tinggal di kota itu, dia pasti dicari, ditangkap kembali. Jadi sebelum dia pergi meninggalkan kota itu, dia pikir-pikir Saudara, dia harus melakukan satu hal terlebih dahulu. Apa itu Saudara? Dia harus kasih tahu orang-orang yang sedang kuatir dan mendoakan dia. Ini jiwa yang luar biasa ya. Tadi di ayat 12 dicatat apa di situ? Tadi kita Saudara. Dia sudah sadar, dia kucek-kucek mata, dia pikir sebentar di situ. Ke mana saya harus pergi ya? Dan pilihan terbaik dia itu pergi ke mana Saudara dicatat? Itu pergi ke rumah tempat jemaat biasanya berkumpul. Dan dicatat dengan spesifik, itu rumahnya Maria. Siapakah Maria, Saudara? Ibu dari Yohanes Markus. Jadi rumah Maria ini kelihatannya cukup besar, dan kemungkinan besar di rumah itulah juga, murid berkumpul di hari Pentakosta di mana Roh Kudus dicurahkan.

Nah saat itu Petrus sendiri tidak tahu apakah orang percaya pada malam itu berada di situ, tapi kita tahu sebab sebelumnya Lukas pernah mencatat bahwa mereka sedang berkumpul dan berdoa, dengan demikian kita mengerti, bahwa pembebasan Petrus itu adalah jawaban Tuhan atas doa mereka. Di ayat 5 Saudara, dicatat ini. Petrus ditahan dalam penjara, tapi jemaat dengan tekun mendoakan dia kepada Allah. Itu luar biasa Saudara. Ini mengajarkan apa kepada kita semua? Saudara, ini mengajarkan kita pentingnya doa. Kadang-kadang orang Kristen tanya gini Saudara, “kenapa sih kita harus doa, kalau Allah sudah diajarkan berdaulat, bukankah Dia akan melakukan kehendak-Nya juga? Kalau Allah mau menyelamatkan si A, bukankah Dia akan menyelamatkan juga? Apa gunanya saya berdoa bagi keselamatan si A kalau dia toh akan diselamatkan juga?” Ada juga yang berkata, “bukankah Dia Maha tahu, dan tahu semua kebutuhan kita? Ngapain harus doa lagi?” Pertanyaan-pertanyaan ini wajar Saudara memang, tapi jawabannya juga jelas. Jawabannya begini, meskipun Allah berdaulat, Allah Maha tahu, tapi Dia Saudara-saudara, memilih untuk bekerja melalui sarana-sarana tertentu, dan salah satunya sarana yang paling berkuasa adalah doa.

Dan sarana kedua Saudara, saya sedikit singgung Saudara, di sini ingatkan, itu kesaksian kita. Saudara, Tuhan memang mampu selamatkan siapa saja tanpa libatkan kita, itu sebabnya kalau kita dilibatkan, itu anugerah sebenarnya. Jadi bukannya kita harus mengeluh, tapi itu anugerah sebenarnya, Tuhan bisa selamatkan, tapi sekali lagi, Tuhan memilih untuk menyelamatkan orang-orang melalui kesaksian kita. Jadi karena itu boleh saja kita berkata begini, kalau Tuhan mau menyelamatkan si A, Tuhan pasti menyelamatkannya. Itu bener. Tapi tidak tepat kalau kita ngomong seperti ini Saudara, bahwa Tuhan akan menyelamatkan si A, tanpa kesaksian kita, kalau memang Tuhan mau menetapkan kesaksian kita sebagai sarana-Nya. Kita harus bersaksi. Tapi kembali kepada doa kita. Karena ini konteksnya doa. Itu sarana yang paling powerful, adalah doa.

Yakobus dipasal 4:2 itu bilang begini, “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Jadi ada orang Kristen itu begitu Saudara. Kenapa kamu terus ngeluh-ngeluh tidak dapat ini? Kenapa kamu tidak pernah minta gitu? Jadi, ada hal-hal yang kita tidak pernah terima karena kita tidak pernah memintanya kepada Tuhan. Ada hal-hal lain yang justru kita terima karena kita memintanya. Kenapa bisa begitu Saudara? Karena Allah bukan hanya menentukan tujuan, tetapi Allah juga menetapkan cara untuk mencapai tujuan itu. la menetapkan sebuah jawaban doa dan dia juga menetapkan bahwa jawaban itu akan diberikan melalui doa yang dinaikkan.

Itu yang terjadi di dalam cerita Petrus ini. Jemaat dengan tekun mendoakan dia, lepas Tuhan kirimkan malaikat-Nya tuh. Tuhan memang sudah menentukan untuk selamatkan Petrus dan Dia pasti akan melakukan itu. Tapi cara Allah melakukannya adalah melalui doa-doa orang percaya yang kumpul di rumah Maria itu. Tanpa doa itu Petrus nggak akan dilepakan. Karena Allah telah memilih untuk menyelamatkan Petrus melalui doa-doa mereka. Siapa yang tahu Saudara? Kita tuh harus tekun berdoa Saudara. Kita tidak pernah tahu Tuhan pakai doa kita. Tuhan dengar doa kita selalu. Dia dibebaskan karena itu jalan yang telah Tuhan tetapkan. Di ayat 5 dicatat Petrus dipenjara tapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. Ini jadi teladan buat kita.

Jadi ini saudara ngajarin dua memang ya. Yang pertama ini mengajarkan teladan buat kita. Hei orang-orang Kristen, tekunlah berdoa. Karena meskipun doa itu simpel Saudara, tapi susah. Orang Kristen paling susah tuh doa. Makanya diajarin Saudara, tapi saya tidak masuk ke situ. Tapi juga ini mengajarkan satu sifat yang sejati daripada doa itu sendiri. Jadi gini Saudara, sering kali kita kalau membaca kisah ini kita melihat satu sudut pandang saja yaitu dari sisi baiknya saja Saudara. “Wah ini teladan, kita harus doa seperti ini, tekun. Ia kan contoh doa yang sempurna dari orang-orang kudus.” Tetapi justru ironisnya dari peristiwa ini Saudara, bahwa meskipun doa itu benar-benar tekun, sangat baik Saudara, itu ditujukannya kepada Allah, Allah yang Esa, dilakukan bersama-sama sebagai orang percaya Saudara, itu dilakukan dengan tekun, dengan penuh kesungguhan, dan sangat spesifik lagi doanya Saudara, betul-betul disebutin nama Petrus tuh, tapi tetap saja doa itu dipenuhi ketidakpercayaan. Dan ini membuat kita bertanya Saudara, mungkinkah sebuah doa yang begitu sungguh-sungguh dinaikkan kepada Tuhan tetapi tetap ada unsur tidak percaya? Mungkin! Ternyata bisa Saudara. Buktinya waktu Petrus benar-benar dilepaskan dan datang mengetuk pintu rumah Saudara, tidak ada satu orang pun dari mereka yang percaya bahwa itu Petrus.

Kita bisa membayangkan ya, saya bawa Saudara kepada suasananya pada waktu itu. Mereka kan lagi doa tuh, “Tuhan tolong bebaskan Petrus. Jangan biarkan dia mengalami nasib seperti Yakobus. Tuhan belas kasihan-Mu Tuhan. Kami percaya Engkau berkuasa melepaskan Dia.” Tiba-tiba ada yang ngetok pintu Saudara, kan pintunya dari kayu kedengaran itu. Jadi semua kan mulai lirik-lirikan pasti ini. Ada apa ini Saudara dan pikir kita harus melakukan sesuatu kita dengar pintu di ketok kok, Saudara lagi doa. Jadi Maria yang sebagai tuan rumah kan kita bisa pikir si Rode itu kan pegawainya saudara. Lalu dia lirik, “Rode, kamu bukain tuh” kasih isyarat gitu kan buka pintu. Jadi si Rode dicatatkan sama Lukas, dia pergi katanya bukain pintu. Dia dengar suara Petrus Saudara, dengar dan mengenalinya. Tapi begitu kagetnya Saudara, sukacita sampai dia lari kembali ke dalam tanpa pintunya dibuka. Jadi dia memotong jalannya persekutuan doa itu Saudara. “Eh, Petrus ada di depan pintu.” Orang lagi doa kaget Saudara. Mereka lagi doa. Jadi Saudara pintu terus diketuk, suara Petrus kedengaran, pelayan datang kasih laporan Saudara. Tapi apa respons mereka? Dicatat sama Lukas, “Kamu ngigau kali.” Kalau di zaman ini “Gila kamu” gitu kan Saudara. “Tidak mungkin itu Petrus. Petrus ada di penjara, sudah kembali doa lagi, jangan ganggu doa kami.” Rode bersikeras itu suara dia. Mereka bukan percaya Saudara. Malah dicatat lagi sama Lukas mereka ngomong apa? “Itu malaikatnya. Mana mungkin Petrus. Petrus sudah mati.” Tapi Tuhan lepaskan. Dengan kata lain Saudara, mereka sama sekali tidak percaya di dalam doanya yang sungguh-sungguh itu bahwa Tuhan benar-benar akan menjawab doa mereka. Sementara itu dicatat Petrus masih terus ngetuk tuh Lukas catat Saudara. Itu sudah berdiri terlalu lama di depan kedinginan lagi Saudara. Sampai akhirnya mereka buka pintu dan di situ Petrus berdiri. Mereka dicatat tercengang-cengang, tidak percaya.

Banyak dari kita berdoa seperti itu, makanya ini dicatat Saudara. Kita berdoa tapi tidak sungguh-sungguh percaya Tuhan bisa jawab doa kita. Apa yang menghibur kita adalah ini Saudara. Tetap Tuhan tahu iman kita itu lemah. Tapi yang menghibur kita meskipun iman mereka tuh semua lemah seperti itu, Tuhan tetap bekerja. Tuhan tetap dengar doanya Saudara. Tuhan tetap menjawab dan Tuhan mengabulkan doa mereka meskipun dinaikkan dengan iman yang begitu lemah. Kalau imannya begitu, kalau doa kita tergantung iman kita Saudara, nggak akan dijawab. Kalau Tuhan bisa menjawab doa orang yang imannya begitu goyah, bukankah dia juga sanggup menjawab doa kita juga? Itu pelajarannya. Yakobus bilang begini Saudara. “Elia itu adalah manusia biasa seperti kita.” Artinya Elia juga lemah, ragu-ragu, sering takut Saudara. Berani 450 nabi baal bunuh, satu perempuan Saudara, Ratu Izebel mau bunuh dia. Takut. Dia lari! Jadi, dia tuh manusia lemah seperti kita. Tetapi dia berdoa dengan sungguh-sungguh dan hujan tidak turun selama 3,5 tahun. Jadi itu, Saudara, membangunkan rohani kita.

Firman-firman seperti ini tuh Tuhan tuliskan di dalam Alkitab supaya hati kita tuh bangun, Saudara! Bukan saja doa dengan tekun, tapi percaya yang kamu doakan itu! Tuhan tahu yang terbaik itu. Dan Tuhan pasti kabulkan itu, Saudara, yang terbaik menurut jalan Tuhan dan di dalam waktu Tuhan. Kita tuh harus dibangunkan, Saudara, mengikuti gerakan dari Roh Kudus itu. Berdoa seperti orang-orang yang mengenal Allah yang hidup –Tuhan yang mendengar, Tuhan yang menjawab, Tuhan yang mengetuk pintu hati kita– bahkan ketika kita tidak mengharapkan itu.

Saya kasih contoh, Saudara. Saudara semua di sini sudah baca George Müller? Saudara tahu sebagian George Müller, Saudara, orang kudus yang luar biasa, Saudara. Dia bersandar sama doa itu, Saudara. Dia doa: doain lima sahabat dia. Belum percaya Tuhan, kok, Saudara. Dia catat di dalam diary-nya. Dia mulai mendoakan lima sahabatnya pada tahun 1844. Jadi, Saudara, doa, doa, doa, 18 bulan kemudian, Saudara –bayangkan tuh, 18 bulan itu lama karena doa terus tiap hari, Saudara– bertobat satu. Yang kedua, Saudara. Lima tahun lagi setelah itu, kedua bertobat. Yang ketiga, masih Tuhan kabulkan lagi, Saudara. Enam tahun lagi setelah itu, percaya. Tetapi dua orang lagi belum. Tapi Müller tidak berhenti berdoa selama lebih dari 50 tahun, Saudara, dalam hidup dia untuk lima sahabatnya ini dan anak-anak semua yang yatim itu. Bahkan sampai ketika dia meninggal dunia, Saudara, doanya belum sepenuhnya dijawab oleh Tuhan. Tetapi beberapa bulan kemudian kedua orang itu bertobat, Saudara. Doa itu tidak pernah sia-sia.

Pelajarannya jelas di sini: Tuhan tetap menjawab doa kita meskipun kita tidak melihat hasilnya itu segera. Dalam waktunya Tuhan sendiri. Bahkan doa kita dijawab sering di luar ekspektasi kita. Pertanyaannya untuk kita, tetap kembali kepada yang awal, Saudara. Apakah kita sungguh-sungguh berdoa?

Orang Kristen kadang-kadang lupa doa, Saudara. Dia doa makannya dua kali, Saudara. “Eh, tadi sudah doa belum?” Doa lagi dia. Saudara, apakah kita itu benar-benar –Saudara, doa itu kita tahu– jadi, gimana, ya, Saudara? Begini: orang Kristen harus bikin namanya list doa, ya. Daftar doa itu, Saudara. Ditulis, di daftar doa, 1, 2, 3, ini. Doain! Kadang-kadang kan ngantuk, tuh doa. Saudara ketiduran. Doa, “Oh, ini sudah dijawab sama Tuhan. Ini dicoret”, Saudara. Jadi, itu tuh benar-benar, ya orang Kristen tuh kalau sungguh-sungguh berdoa tuh begitu. Dia tidak lupa mendoakan apa yang dia benar-benar minta. Kayak Saudara sekarang kalau dikasih, divonis penyakit kanker, coba. Lupa, nggak, doa? Nggak. Nggak akan lupa doa. Saudara-saudara, itulah orang Kristen itu, benar-benar doa ditulisin satu-satu. Yang sudah dijawab, dicoret. “Tuhan, terima kasih. Engkau menjawab saya?” Tidak. “Ya, Tuhan tidak kabulkan doa ini untuk kebaikan saya.” Tapi tetap aja dicoret. Kita ganti karena doa kita terus berubah menyesuaikan kehendak Tuhan.

Saudara-saudara, yang kedua, saya ingin membahas adalah bukan saja Tuhan menjawab doa kita sesuai waktu dan cara Dia. Tetapi yang kedua adalah Herodes mati dan firman Tuhan kekal adanya. Aduh, luar biasa ini, Saudara. Firman Tuhan tuh indah sekal, ya, ditulisin. Ini di ayat 19–24. Jadi, pasal 12 dari Kisah Rasul ini membawa kita kepada kisah kematian Raja Herodes. Oh, kita mah bisa aneh, Saudara. Kenapa Lukas memilih untuk mengakhiri bagian ini dengan kematian seorang raja?

Ingat, Saudara, di dalam pasal 1, ya, Tuhan Yesus Kristus memberikan satu mandat, ya, satu amanat yang teragung. Di situ tuh dikasih peta perjalanan Injil, gitu. Injil tidak boleh berhenti di Yerusalem aja, loh, tapi sampai harus sampai ke Yudea dan Samaria bahkan sampai ke ujung bumi, Saudara! Jadi, bagian keduanya itu, Saudara: penyebaran Injil itu kan terus ke Yudea dan Samaria, tuh? Lalu ditutup di sini dengan kematian Herodes. Baru sampai Yudea Samaria, tuh. Dan itu bukan kebetulan, Saudara, karena Lukas itu catat karena dia pengen menunjukkan sesuatu. Apa tuh di situ? “Kerajaan dunia, silakan menahan dan melawan Injil: menindas hamba-hamba-Nya terus-menerus, Saudara. Seperti sekarang varian gereja di mana-mana. Silakan, Saudara. Tetapi firman Tuhan akan terus kekal, dikabarkan di mana-mana. Oh, Amin, Saudara! Puji Tuhan!

Kita jangan takut sebagai saksi-saksi-Nya, Saudara! Karena kita sudah dijanjikan, kok. Dari Kisah Rasul sudah dicatat, Saudara! Silakan orang-orang semua membenci, tapi tidak mungkin Injil bisa ditahan! Injil tidak tertahankan! Itu sudah amanat agung dari Tuhan kita di Kisah Rasul pasal 1! Tapi sebelum kita masuk ke dalam pesan itu, Saudara, kontras itu, ya. Si Herodes mati, firman Tuhan terus kekal. Kita harus tahu dulu siapa sih si Herodes ini, Saudara. Kok bisa-bisanya ini diceritain di sini nama Herodes, gitu, kan?

Nah, Saudara, di dalam Perjanjian Baru itu ada lima Herodes. Semuanya kejam dan jahat. Jadi, saya, Saudara, jangan kasih nama Herodes kepada anak Saudara. Awas, lho, punya anak, Saudara. Mereka itu satu dinasti, satu keluarga besar penuh dengan kekejaman semuanya. Yang pertama itu Herodes Agung. Itu 34-4 SM. Jadi, dia yang memerintah saat Yesus lahir, tuh. DI hari Natal, ya, itu Herodes Agung namanya, Saudara. Jadi, dia raja yang paranoid, Saudara. Bunuh istri dan anak-anaknya sendiri karena dia takut kalah takhta sama mereka. Ini raja yang memerintahkan pembunuhan bayi-bayi itu di Yerusalem, tuh. Lalu, yang kedua: turun kepada Herodes Arkhelaus namanya, Saudara. Dia memerintah di 4-6 SM. Jadi, di situ itu anaknya Herodes Agung. Dia paling kejam di antara semua pengikutnya. Sampai saking kejamnya, Saudara, orang Yahudi itu mengajukan protes kepada Romawi supaya dia dicopot. Ya, makanya cuma 2 tahun. Lalu turun kepada Herodes Antipas, Saudara. Dia 6-39 M. Nah, di situ dia memerintah di Galilea. Ini, dia yang membunuh Yohanes Pembaptis. Ya, kalau Saudara lihat, itu beda-beda semua tuh Herodesnya. Itu bunuh Yohanes Pembaptis dan dia muncul juga dalam sidang Yesus.

Lalu, yang keempat, Herodes Agripa I. Itu tahun 39-44 M. Nah, ini Herodes yang kita baca di Kisah 12. Agripa I namanya, Saudara. Jadi, dia yang bunuh Yakobus dan dia yang tangkap Petrus. Dia menyukai popularitas, senangkan masyarakat, Saudara dan dia ingin menyenangkan orang Yahudi. Lalu, yang kelima, Herodes Agripa II. Itu 50-100 (Masehi). Dia paling lama memerintah, tetapi dia tidak langsung mendapat kekuasaan ayahnya, Saudara, tetapi dia muncul nanti di dalam Kisah Rasul 25 dan 26 saat Paulus berapologetika membela iman dia.

Jadi, Herodes Agripa I-saya kembali, Saudara-itu adalah garis yang panjang dari penguasa yang memusuhi pekerjaan Tuhan. Dan Lukas menutup bagian kedua dari Kisah Rasul ini justru dengan matinya seorang raja yang menghalangi pekerjaan Tuhan. Wah, ini semacam kekuatan rohaniah bagi kita, Saudara, yang mengerjakan pekerjaan Tuhan. Lukas ingin menegaskan kepada kita, kerajaan manusia yang melawan Injil jatuh semuanya, Saudara. Hancur, tetapi kerajaan Kristus terus maju dan berkembang. Amin, Saudara-saudara! Penguasa dunia bisa penjarain rasul. Silakan! Aniaya gereja-gereja Tuhan, Saudara, tidak pernah masuk surat kabar. Saudara-saudara, dia bisa menyuruh membunuh Yakobus, bisa menyombongkan dirinya, tetapi akhirnya mereka sendiri mati semuanya dan dilupakan. Sementara itu dicatat, firman Allah yang terus bertumbuh dan makin tersebar. Itu ayat 24. Itulah cara Lukas menutup bagian kedua dengan begitu indahnya, Saudara. Tetapi, itu bukan kehebatan gereja, Saudara. Tetapi, dengan kejatuhan, sombongnya manusia yang mencoba melawan Tuhan, tidak bisa, Saudara, tidak bisa menang.

Herodes-seperti yang dicatat Lukas itu, Saudara, dicatat di firman itu, saya ambil sedikit dari ceritanya Yosefus. Saudara tahu, Yosefus itu ahli sejarah yang hidup sezaman dengan rasul. Dia orang Yahudi juga. Jadi, saya cerita ini ditambah dari Yosefus, ya, Saudara. Jadi, dia dikatakan di situ-memerintah Yudea itu sudah 3 tahun lamanya dan di satu hari, dia mengadakan 1 pesta yang besar di Kaisarea. Untuk apa, Saudara? Menghormati kaisar. Biasalah, cari muka kan gitu, Saudara. Hormati kaisar. Pada hari kedua, dia masuk ke teater itu. Jadi, pada waktu mataharinya lagi terbit, si Yosefus nulis itu. Jadi, waktu di itu, Saudara, dia memakai jubah apa itu? Jubah kerajaan itu. Dia pakai jubah itu dibikinnya dari perak, sehingga itu sangat berkilauan ketika kena sinar matahari. Jadi, tubuh dia itu begitu berkilauan. Lalu, dia berpidato seperti itu, Saudara. Lalu, orang-orang banyak itu memuji dia. “Engkau adalah allah kami! Selama ini, kami menghormatimu sebagai manusia, tetapi mulai hari ini, kamu adalah lebih dari manusia! Engkau adalah ilah kami!” Waduh, Saudara! Herodes tidak menolak pujian itu. Itu sebabnya, dicatat sama Lukas apa? Dia ditampar malaikat, Saudara, karena kemuliaan itu memang hanya layak bagi Allah saja. Saudara, Yosefus menulis bahwa tiba-tiba Herodes itu melihat seekor burung hantu di atas tiang. Burung hantu itu apa? Pertanda sial, Saudara, menurut kepercayaan mereka. Jadi, seketika juga itu, dia dilanda rasa sakit parah, khususnya di perut dia yang menyiksa dia 5 hari sebelum akhirnya dia mati. Usianya sampai 54 tahun. Jadi, kematian Herodes itu peringatan yang keras. Tidak ada manusia boleh mencuri kemuliaan Allah. Ketika Herodes mencoba melakukan itu, Tuhan sendiri yang datang menghakimi dia. Begitu bagian ini ditutup dan Lukas menyampaikan kontras yang begitu kuat. Raja yang sombong itu mati dimakan cacing-cacing, tetapi firman Tuhan terus bertumbuh dan tersebar. Puji Tuhan!

Saudara, kalau itu kan di PB, kisah si Herodes ini begitu sombongnya raja. Di PL juga ada yang sombong juga, Saudara. Sama, dihukum Tuhan. Siapa? Ingat nggak namanya? Nebukadnezar, benar. Dia waktu itu naik ke atas atap istananya. Dia pikir nggak ada yang dengar, Saudara. “Wah, saya bangun ini Babilonia dengan kuasa saya! Iya kan, semuanya aku ini!” Ngomongnya itu di Daniel 4, Saudara, dicatatnya. Jadi, ini tembok yang besar semua, dia dengan kemuliaan, Saudara, dia naik ke atas. Lalu, dia bicara. Dia pikir nggak ada yang dengar lho, Saudara. Dia bicara dalam hatinya. “Bukankah ini Babel yang besar yang kudirikan dengan kekuatan kuasaku untuk kemuliaan dan kebesaranku?” Wah, semua ku, ku, ku, ku! Tuhan ketawa aja dari surga, Saudara. Dia dengar.

Tetapi yang mau disampaikan di situ, Saudara, dari PL dan PB itu puncak dari humanisme sekuler. Apa, Saudara, puncak humanisme sekuler? Bahwa segala sesuatu asalnya bukan dari Tuhan. Dari manusia. Tuhan boleh diakui di mulut saja, tetapi “saya” yang mengerjakan ini! Iya, kan? Semua kemuliaan nanti kembali kepada “saya.”  Waduh, Saudara, puncaknya itu seperti menara Babel. Persis, Saudara. Jadi, kata-kata itu ketika masih ada di hati dia, Saudara, di mulut dia itu dari surga, Saudara, sudah langsung dengar. Si Nebukadnezar itu diklaim, Saudara, sampai apa, Saudara? Dihukum jadi seperti binatang hidupnya. Dia diambil kewarasannya, Saudara. 7 tahun, dia dihakimi seperti itu oleh Tuhan. Ditawari daging, Saudara, tadinya dimakan. Sekarang, nggak mau daging. Maunya rumput. Saudara bayangkan, raja kukunya panjang, rambutnya sudah seperti burung, Saudara. Dihukum sama Tuhan. Sampai akhirnya, setelah 7 tahun, dia mengakui, “Yang Mahatinggi berkuasa atas semua kerajaan manusia!” Barulah Tuhan mengembalikan kewarasan dia.

Saudara, pesannya jelas bagi kita semua. Tidak ada manusia, tidak ada kerajaan dunia ini  yang bisa menentang Allah dan sukses. Keagungan dunia ini bagaimana hebat dan memesona, Saudara, hanya firman Tuhan dan kuasa-Nya yang kekal. Setelah 7 tahun itu, akal budinya kembali pulih. Tapi dia pulih bukan saja secara intelektual, tapi rohani dia. Dia mengakui Yahweh itu Allah yang Maha tinggi, Allah yang sejati.

Saudara, ini paralelnya sama Herodes jelas sekali, tapi ada satu perbedaan yang besar. Nebukadnezar, Saudara, bertobat dan Tuhan kembalikan kewarasannya, tapi Herodes langsung dihukum mati saat itu juga. Kita mungkin tidak pernah berada pada posisi sebesar Herodes atau Nebukadnezar. Kita juga tidak mengalami hukuman seperti mereka, tapi satu hal yang pasti, Saudara, kecenderungan mengambil kemuliaan itu bagi diri kita sendiri ada di dalam setiap kita yang masih hidup dalam daging. Mungkin ketika orang memuji kita, hati kita bisa tersenyum setengah rendah hati, setengah bangga tanpa menyadari hati tergoda mencuri kemuliaan Tuhan. Di saat seperti itulah kita sedang berdiri di wilayah yang sangat berbahaya. Saudara, itu sebabnya orang Kristen itu selalu dipanggil membiasakan diri Soli Deo Gloria.

Saudara tahu ada seorang komponis begitu jenius ya, selalu nulisin SDG, Soli Deo Gloria di akhir semua karyanya itu Johan Sebastian Bach. Itu komponis bukan biasa-biasa, dia nulis surat, Saudara, satu kata itu nulis musik seperti surat. Luar biasa jeniusnya, Saudara. Pada waktu itu koornya sudah gemeter, Saudara, mau mainin musik dia setiap minggu, baru terus. Tapi dia mengakui semua kejeniusan dia itu dari Tuhan, Soli Deo Gloria. Kalau orang sehebat itu aja, Saudara, bisa mengakui, kita tuh siapa dibandingkan Bach ya kan Saudara. Dia dibandingkan semua, kita harus mengakui semua Saudara kemampuan kita itu pemberian Tuhan. Jangan lupa. Semua keberhasilan kita itu karena Tuhan yang buka jalan, bukan kita yang hebat, Saudara. Semua keberhasilan kita itu karena Tuhan berbelas kasihan dan semua kebaikan yang kita bisa kerjakan itu sumbernya dari Dia sendiri. Sebab itu tugas kita sederhana, kembalikan semua kemuliaan kepada Allah karena memang dia yang layak menerima puji, hormat dan kemuliaan. Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kembali kepada Dia. Terpujilah Allah Tritunggal selama-lamanya.

Nah, di sinilah kita melihat kenapa Lukas memasukkan kisah kematian Herodes, bukan saja terutama untuk mengajarkan bahwa mencuri kemuliaan Allah itu dosa. Itu jelas benar, Saudara, ya, tapi Lukas ingin kita melihat kontras yang kuat bahwa ketika Herodes mati ayat 24, firman Allah terus tersebar. Jadi Herodes itu orang yang paling berapi-api, Saudara, memerangi Injil pada masa dia. Karena pada awalnya penganiayaan terhadap gereja itu masih relatif “ringan”, Saudara, ya. Karena Sanhedrin itu, Saudara, memang tidak suka para Rasul memberitakan Injil, tetapi selama tradisi nenek moyang mereka tidak diganggu, Saudara, para Rasul itu hanya di peringatkan lalu disuruh diam. Tapi Herodes beda, dia jauh lebih kejam, Saudara. Dia bunuh Yakobus, tangkap Petrus dan berniat membunuhnya juga. Jadi dia sungguh-sungguh ingin menghentikan Injil. Tapi lihat bagaimana Tuhan bekerja, Herodes ditampar oleh
malaikat dan Injil terus maju.

Jadi, Saudara, pola yang sama terus berulang sepanjang sejarah. Musuh Injil terus mencoba berbagai cara, dari zaman gereja mula-mula mereka pakai pedang, pakai api, Saudara, bunuhin para martir, tapi darah martir itu justru menjadi benih gereja. Sampai kepada Saudara, di zaman ratusan tahun yang lalu mereka menertawakan kekristenan. Saudara tahu orang yang namanya Voltaire, satu humor Saudara ini dari surga. Voltaire ini pernah berkata, “Nama Yesus akan dilupakan orang 50 tahun kemudian. Tapi
50 tahun kemudian rumah dia jadi tempat percetakan Alkitab, Saudara. Lalu mereka
mencoba memberitakan Injil meskipun agama tanpa Kristus, menciptakan agama tanpa Kristus, tapi firman Tuhan tetap berkuasa menyelamatkan banyak orang.

Tapi saya tutup, Saudara, yang menarik itu Tuhan sering memakai manusia biasa untuk menyebarkan firman-Nya. Tuhan bisa memakai kita semua orang-orang biasa. Itu ada nama Yohanes, Markus di situ di ayat 25. Siapa dia Saudara? Dia sempat mundur dari pelayanan loh. Paulus nggak mau pakai dia kan? Paulus bawa Silas akhirnya. Barnabas yang bawa dia. Tapi dia kembali kepada Tuhan. Ya, dia orang biasa, dia punya kelemahan Saudara. Jadi, jangan takut dan jangan meremehkan diri sendiri. Apapun keadaan kita hari ini, Tuhan tetap sanggup memakai kita. Firman-Nya itu akan terus menyebar dan tidak ada kuasa manusia di dunia ini yang bisa menghentikan Injil Tuhan. Jangan berkata itu tugas hamba Tuhan. Tidak, Saudara. Lukas mencatat kisah Markus ini untuk mengingatkan kita Tuhan memakai orang biasa melakukan hal yang luar biasa. Firman Tuhan tidak mungkin bisa dihentikan. Tidak oleh raja, tidak oleh penguasa mana pun. Firman Tuhan pasti tersebar. Dan pertanyaannya untuk kita, Saudara, apakah Saudara mau dipakai Tuhan menyebarkan firman itu? Apakah Saudara bersedia berkata, “Ya Tuhan, di sini aku. Pakailah aku menjadi saksi-Mu. Ya, melalui profesi-profesiku.” Sampai di sini kiranya Tuhan menolong kita semua. Amin. Mari kita berdoa.

Bapa di dalam surga, kami berterima kasih untuk firman-Mu yang memang sejak awal mulanya ditentang oleh manusia, dilawan oleh manusia, tapi terus hidup sampai sekarang dan akan terus hidup sampai selama-lamanya. Pakailah hidup kami yang sementara ini, ya Tuhan, untuk kami boleh menyebarkan Injil-Mu melalui kesaksian-kesaksian hidup kami di tempat yang Tuhan percayakan. Berilah kami keberanian, iman, dan ketaatan. Janganlah biarkan hidup kami menjadi sandungan, tapi kami ingin menjadi saksi-saksi-Mu di dunia ini Tuhan. Tolong kami belajar bersandar kepada-Mu di dalam doa-doa kami. Ajarlah kami sungguh-sungguh percaya kepada-Mu yang sanggup menjawab doa kami. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa ini. Amin.