Kelahiran Yesus Kristus
Yes. 9:1-7, Gal. 4:4
Pdt. Dawis Waiman, M. Div.
Pada waktu kita masuk ke dalam hari Natal, saya percaya ini menjadi satu hari yang penuh dengan keindahan, hari yang penuh dengan sukacita, hari yang penuh dengan kebahagiaan di antara orang-orang Kristen. Dan bahkan mungkin kalau kita hidup di kalangan dari orang-orang yang memiliki tradisi Kristen di dalam suatu bangsa, maka sukacita ini dan kemeriahan yang ada di dalam peringatan Natal itu juga akan terlihat di dalam kota-kota di mana kita berada. Kemarin, di Solo juga ada satu kesempatan setiap tahun biasanya di suatu daerah jalan tertentu, itu akan memperingati momen-momen hari besar agama tertentu atau peringatan hari besar tertentu yang diperingati di dalam negara kita. Dan salah satunya adalah Natal. Kemarin mereka menyebarkan undangan, tawaran, apa hal-hal yang kita perlu kita berbagian di dalamnya; apakah kita memasang reklame dari gereja kita yang ada di tengah jalan. Apakah kita mempersembahkan suatu acara tertentu di dalam acara Natal itu di dalam hari itu. Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada gereja yang mengambil beberapa hari, kita hanya mengambil kesempatan satu hari di situ.
Tetapi, pada waktu kita melihat pada hal ini, itu berarti suasana Natal mungkin, tradisi Natal, sukacita Natal, itu ternyata bukan hanya ada di dalam lingkup dari gereja atau pun orang percaya sendiri, tetapi juga dari orang-orang yang ada di sekitar gereja, orang-orang yang ada di dalam suatu negara di mana ada kekristenan yang berpengaruh di situ. Mereka juga merasa bahwa ini adalah hari yang meriah, hari yang indah, hari dengan suasana lagu-lagu pujian yang baik yang boleh dikabarkan. Tetapi, masalahnya adalah seperti ini, pada waktu kita melihat kepada segala keindahan itu, dengan cerita, drama, mungkin kelahiran dari Yesus Kristus dalam dunia ini, mungkin kita bisa jatuh ke dalam suatu perasaan yang sentimental yang ada. Oh, ini adalah momen di mana ada seorang bayi yang lahir dalam dunia ini. Dia adalah seorang yang begitu kasihan sekali, karena apa? Ketika Dia mau lahir ke dalam dunia, maka keluarlah satu keputusan dari Raja Herodes, di mana semua orang harus pergi mendaftarkan diri di kampung halamannya. Pada waktu itu, Maria sudah hamil tua, tapi karena Yusuf berasal dari Betlehem, maka dia harus pergi ke Betlehem untuk mendaftarkan diri di sana. Tapi, pada waktu tiba di Betlehem, ternyata saat itu banyak orang yang datang untuk mendaftarkan diri, sehingga ketika Maria membutuhkan satu rumah untuk menginap, di dalam bermalam, dia tidak menemukan. Dan di detik yang sama, Maria harus melahirkan. Karena itu, Yusuf mungkin kita lihat sebagai suami yang setia, yang mengasihi istrinya, pergi dari satu rumah ke satu rumah, mengetok pintu, meminta belas kasih dan menanyakan adakah tempat di mana istrinya bisa menumpang dan melahirkan pada waktu itu. Tapi, singkat cerita berkata tidak ada satu tempat pun yang menerima mereka, tidak ada satu orang pun yang berbelas kasih kepada mereka. Sampai pada satu rumah, mungkin, Yusuf sudah begitu desperate, begitu putus asa, begitu gelisah, mungkin begitu panik, karena istrinya makin berjalannya waktu dan detik, makin merasa waktunya sudah dekat. Akhirnya, pemilik rumah menawarkan ada satu tempat, yaitu di dalam kandang, di mana engkau bisa bermalam di situ. Akhirnya, Yusuf mengambil tempat itu dan Maria melahirkan di dalam kandang domba pada waktu itu.
Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, cerita ini adalah suatu cerita yang sangat menyentuh sekali. Cerita yang sangat-sangat mengerakkan hati kita. Cerita yang mungkin membuat kita melihat, wah, Tuhan kita, Yesus Kristus, ketika datang ke dalam dunia ini, Dia begitu sulit sekali, begitu banyak pergumulan, begitu ditolak, mungkin. Dan akhirnya harus lahir di dalam suatu kandang domba. Tetapi, kita tidak melihat apa yang menjadi esensi di balik kelahiran Yesus Kristus. Kenapa Dia harus lahir pada waktu itu? Kenapa Dia harus lahir di dalam kandang domba? Kenapa Dia harus kemudian menjadi manusia di dalam dunia ini?
Nah, hal ini dikatakan oleh Paulus di dalam surat Gal. 4:4 tadi yang kita baca, ya. Pada waktu kita membaca ayat ini, dikatakan “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada Hukum Taurat.” Paulus mau mengatakan seperti ini, kelahiran Kristus bukanlah suatu kelahiran seperti anak manusia pada umumnya, di mana mungkin papa mamanya ketika menikah, lalu kemudian ada yang merencanakan, ada yang tidak merencanakan, tiba-tiba istrinya hamil, seperti itu, memiliki anak. Dan keberadaan anak itu pun, walaupun sesuatu yang diharapkan ada dalam keluarga, atau mungkin tidak diharapkan terlebih dahulu ada dalam keluarga, mereka tidak bisa menjadi penentu. Jadi, keberadaan kita dalam dunia, di dalam kehidupan atau pandangan dari orang tua, itu adalah satu keberadaan yang mungkin satu sisi disyukuri, mungkin di satu sisi lain adalah mengagetkan karena mereka belum siap kita lahir di dalam dunia ini.
Tetapi, Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melihat kelahiran Yesus Kristus dalam dunia, ini ada makna yang berbeda sekali. Pada waktu Paulus berkata, “telah genap waktunya, maka Dia mengutus Anak-Nya untuk lahir dalam dunia ini.” Maka itu berarti kelahiran Kristus itu adalah satu kelahiran yang bukan kebetulan. Itu adalah satu kelahiran yang bukan merupakan satu imajinasi seseorang. Ini bukan satu kelahiran yang sebenarnya tidak pernah diharapkan oleh Yusuf atau pun Maria atau hanya diharapkan oleh Yusuf dan Maria. Tetapi, ini adalah satu kelahiran yang sudah Tuhan rencanakan jauh hari di dalam sejarah manusia.
Nah, saya pernah berbicara hal ini, tapi saya mau menekankan hal ini kembali. Karena pada waktu kita berargumentasi dengan seseorang, berkaitan dengan siapa Yesus Kristus dan Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Dia datang untuk menyelamatkan hidup manusia, sering kali kita itu atau orang dunia mereduksinya hanya ke dalam iman dari orang Kristen saja. Seolah-olah berkata seperti ini. “Tahu tidak, bahwa Yesus itu adalah Tuhan yang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia?” Lalu orang berkata seperti ini, “Ya, itu kan menurut imanmu, itu kan menurut kepercayaanmu. Tetapi saya tidak percaya kalau Yesus itu adalah Allah yang menjadi manusia yang datang untuk menyelamatkan saya dari dosa.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melihat Gal. 4:4. Pada waktu Paulus berkata, ini adalah momen yang terjadi ketika waktunya sudah genap. Itu berarti bahwa kelahiran Kristus itu adalah satu kelahiran yang memiliki satu tujuan di waktu yang tepat seperti yang Tuhan kehendaki, setelah segala sesuatu yang Tuhan kehendaki untuk dipersiapkan telah dipersiapkan, maka Yesus Kristus lahir dalam dunia ini di dalam sejarah manusia. Sejarah di sini mau mengatakan bahwa kita tidak bisa berkata, “Oh itu imanmu. Oh iman saya tidak seperti itu.” Tetapi pada waktu Yesus berkata, Dia atau Paulus berkata, Dia lahir dalam dunia ini ketika waktunya sudah dekat. Satu sisi kita bisa konfirmasi dalam Kitab Suci mengenai kebenaran ini bahwa Yesus betul-betul lahir seperti yang Tuhan katakan. Tetapi di sisi lain kita juga bisa mengkonfirmasi kebenaran ini menurut sejarah dunia.
Bapak, Ibu, bisa tanya kepada orang-orang Roma yang hidup atau sejarawan yang hidup pada zaman Yesus Kristus. Bapak, Ibu, mungkin bisa bertanya kepada orang-orang Yahudi berkaitan dengan seorang yang namanya Yesus Kristus dalam, yang pernah tidak, ada di dalam dunia ini. Mereka semua akan mengkonfirmasi Yesus pernah lahir, Yesus ada di dalam dunia ini dan Dia mati di kayu salib. Ini bukan peristiwa yang merupakan rekayasa orang Kristen. Ini bukan peristiwa yang merupakan imajinasi atau sesuatu pemikiran dan kepercayaan yang dimiliki oleh orang Kristen yang nggak pernah bisa dibuktikan keabsahan dan kebenarannya. Ini adalah satu kebenaran yang betul-betul terjadi. Ketika waktunya tiba, ketika waktunya genap, Yesus Tuhan utus ke dalam dunia ini untuk lahir menjadi seorang manusia yang ada di tengah-tengah kita.
Bapak, Ibu, Saudara yang di kasihi Tuhan, sejarah bisa membuktikan itu. Tetapi ada satu perbedaan antara iman Kristen dengan dunia, yaitu apa? Sejarah bisa memberitahu kita Yesus lahir, Yesus ada, Yesus pernah lahir tanggal sekian, Yesus pernah mati pada tahun sekian dan tanggal sekian, tapi sejarah tidak pernah bisa memberitahu kita apa yang menjadi tujuan Yesus lahir dalam dunia ini. Kenapa Dia harus lahir dalam dunia ini? Hal apa yang Dia harus kerjakan ketika Dia lahir dalam dunia ini? Dan kenapa Dia harus mati di atas kayu salib? Dan kenapa Dia harus bangkit pada hari yang ketiga? Tapi pada waktu kita ingin mengerti itu semua, kita bisa mendapatkan secara jelas kebenaran-kebenaran ini di dalam Kitab Suci.
Saya ambil contoh seperti ini, pada waktu kita membaca, Yesus ketika genap waktunya, lahir di dalam dunia ini, pertanyaannya adalah, untuk apa Yesus lahir dalam dunia ini? Di dalam Gal. 4:4 dikatakan bahwa, “Dia lahir dari seorang perempuan untuk takluk kepada hukum Taurat.” Lalu ayat 5, “Dia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat supaya kita diterima menjadi anak.” Jadi pada waktu kita melihat kelahiran Yesus Kristus, apa yang menjadi tujuan kelahiran Yesus dari seorang perempuan? Paulus berkata supaya Dia tunduk di bahwa Taurat dan supaya Dia bisa menebus orang yang tunduk dan takluk di bawah Taurat.
Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan ini membuat kita harus atau dipaksa untuk kembali ke masa lalu. Ada seorang perempuan yang melahirkan anak laki-laki. Siapa dia? Yaitu Hawa. Hawa ketika lahir atau ketika jatuh dalam dosa, ada satu nubuat yang Tuhan berikan kepada Hawa yaitu, “dari keturunanmu akan lahir seorang anak laki-laki dan anak itu akan meremukkan kepala ular dan ular itu akan meremukkan tumit dari pada anak itu.” Yang mengatakan bahwa, nanti suatu hari Hawa bisa berharap akan ada seorang anak laki-laki yang lahir dari rahim dia. Walaupun kita tahu ternyata itu bukan dari anak yang dilahirkan dalam kandungan Hawa. Karena Hawa mati tanpa anak ini lahir. Tetapi dari momen itu, di dalam Kejadian 3, Tuhan sudah memberitahu kepada Hawa, nanti ada seorang Anak laki-laki yang punya kuasa lebih besar daripada kuasa iblis, yang memiliki kuasa yang menaklukkan kuasa iblis, menaklukkan dosa, menaklukkan kematian. Dan Dia akan datang ke dalam dunia ini, dan Dia adalah keturunan dari engkau, Hawa. Artinya Dia adalah keturunan dari seorang perempuan, mungkin memang tidak terlalu jelas pada waktu itu, tetapi saya berani menafsirkan, pada waktu Tuhan memberikan janji ini, Hawa belum memiliki anak dari Adam pada waktu itu. Jadi ini adalah anak dari Hawa, karena Tuhan memberikan janji itu kepada Hawa dan bukan kepada Adam dan pada waktu Anak ini lahir, Alkitab juga mengatakan, atau Tuhan mengatakan Dia akan menghancurkan kuasa iblis, kuasa dosa, kuasa kematian tersebut. Dan ini terjadi pada waktu Yesus Kristus lahir.
Alkitab membuktikan bahwa Dia lahir dari seorang perempuan. Perempuan pertama mengakibatkan manusia dalam dosa. Perempuan pertama melahirkan anak-anak yang tidak pernah bisa lepas dari pada kuasa dosa. Tetapi perempuan kedua, yaitu Maria melahirkan seorang Anak yang memiliki kuasa untuk membebaskan kita dari kuasa dosa, dari kuasa kematian, dan dari hukuman kekal. Bapak, ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini mau menunjukkan bahwa apa yang terjadi di dalam cerita kisah kelahiran Kristus, kisah kehidupan Kristus, ini merupakan satu rencana yang Allah rancangkan bahkan sebelum langit dan bumi dijadikan, tetapi Allah kemudian bekerja di dalam sejarah manusia, di dalam ruang dan waktu, untuk membuktikan atau menjadikan peristiwa penebusan yang dilakukan di dalam Kristus itu bisa tetap terwujud di dalam kehidupan kita.
Jadi maksudnya adalah pada waktu Bapak, Ibu, membaca Alkitab, mulai dari Kejadian sampai Wahyu, ada satu hal yang Bapak, Ibu bisa harapkan ada di dalamnya yang tidak mungkin ada di dalam buku-buku yang lain di dalam sejarah dunia, yaitu apa? Kisah penebusan Kristus, kisah dari Allah yang menyelamatkan manusia berdosa, itu dibukakan dengan begitu jelas bagi kita di dalam Kitab Suci. Dan ini adalah salah satu kebenaran yang Bapak, Ibu, bisa buktikan sendiri. Dari sejarah, ada seseorang yang bernama Yesus lahir, Dia adalah anak Maria, ada orang mengatakan Dia adalah anak Yusuf, tetapi kita dari Kitab Suci mengerti, Dia bukan anak Yusuf, Dia adalah anak Maria, Dia adalah Anak Allah, dan Dia adalah Pribadi kedua dari Allah Tritunggal yang lahir di dalam dunia ini.
Nah Saudara bisa mengerti hal ini dari mana? Yaitu dari misalnya Yoh.1. “Pada mulanya adalah Firman, atau pada mulanya adalah Logos. Logos itu bersama-sama dengan Allah, dan Logos itu adalah Allah.” Yohanes menggunakan konsep orang-orang Yunani pada waktu itu, mengenai Allah dan mengenai segala kebenaran Ilahi. Untuk mengatakan, engkau mencari kebenaran? Saya beri tahu, kebenaran yang engkau cari itu adalah Allah, tetapi Allah yang engkau cari itu sebenarnya tidak jauh dari engkau, Dia di ayat 15 dikatakan inkarnasi menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita, tetapi sayangnya adalah ketika Dia datang ke dalam dunia ini, orang yang menjadi ciptaan-Nya itu menolak Dia, tidak mau mengakui Dia, dan akhirnya memakukan Dia di atas kayu salib, padahal Dia sudah memberi begitu banyak bukti dan tanda bagi kita kalau Dia adalah Anak Allah, dan Dia adalah Mesias. Dia adalah keselamatan yang Allah sediakan bagi kita.
Nah Bapak, Ibu yang dikasihi oleh Tuhan, ini membuat Agustinus mengatakan seperti ini ya, di dalam Bahasa Latin, dia berkata: “non mireta nostra sed misera nostra.” Saya ulangi ya, “non merita nostra, sed misera nostra.” Artinya apa? Artinya adalah Yesus ketika datang ke dalam dunia ini, Dia datang bukan dikarenakan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan dalam hidup kita, tapi Dia datang dalam dunia ini justru karena penderitaan kita, kesengsaraan kita yang kita miliki di dalam kehidupan kita atau mungkin bisa ditambahkan, dosa yang kita miliki di dalam kehidupan kita. Jadi Agustinus mau mengatakan begini, solusi terhadap dosa, itu tidak pernah ada di dalam diri manusia berdosa. Solusi terhadap dosa, ada di luar diri manusia berdosa. Kita adalah orang yang berdosa, tidak mungkin bisa mengeluarkan diri, membebaskan diri dari hati yang berdosa. Siapa yang bisa berkata, “Saya dalam satu hari dan seumur hidup saya, saya bisa memikirkan tidak memikirkan hal-hal yang mendukakan hati Tuhan, hal-hal yang membuat saya di bawah kutukan Tuhan, karena saya melanggar hukum Tuhan.”?
Bapak, Ibu, yang dikasihi Tuhan, saya percaya kalau kita mau jujur di dalam diri kita, kita tidak membandingkan diri kita baik dibandingkan orang lain, tapi kita membandingkan diri kita berdasarkan hukum Tuhan, yang Tuhan berikan pada diri kita, maka kita akan berkata, saya tidak mungkin bisa dari diri saya sendiri, melakukan hal yang benar, hal yang baik, hal yang berkenan di hadapan Allah secara sempurna seperti yang Tuhan tuntut. Saya bisa merasa diri saya baik. Ada orang lain yang baik dalam dunia ini, bukan karena saya membandingkan kebaikan yang mereka lakukan di hadapan Tuhan. Tetapi saya bisa melakukan itu karena saya membandingkan orang itu dengan saya. Saya dengan orang itu orang itu dengan orang lain. Orang lain dengan orang itu. Baru di situ kita bisa berkata, bahwa ada orang yang baik dalam dunia ini.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu sebabnya Agustinus berkata, ketika seseorang dilahirkan dalam dosa, nggak mungkin orang yang berdosa itu bisa membuat diri dia diterima oleh Tuhan. Untuk dia bisa diterima oleh Tuhan, Tuhan harus datang. Tetapi ketika Tuhan datang dalam dunia, bukan karena kita baik, bukan karena kita benar, tetapi karena kita adalah orang yang layak diberi belas kasih karena kita adalah orang-orang yang berdosa. Ini adalah satu kebenaran yang sangat Alkitabiah sekali. Dan ini adalah salah satu kebenaran yang sangat bertentangan sekali dengan agama. Agama mengajarkan, apa pun itu ya, kalau kita mau bicara mengenai agama Islam yang sama-sama mengatakan mereka mendapatkan wahyu dari Tuhan, mereka akan berkata seperti ini, kita akan diperkenan oleh Tuhan, atau Tuhan akan datang untuk memberikan satu upah kepada kita, dikarenakan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan dalam hidup kita. Walaupun dalam ajaran mereka ada istilah yang namanya rahmat, di mana mereka menyadari bahwa mereka tidak mungkin bisa benar sepenuhnya kecuali diampuni dan dirahmati oleh Tuhan dalam kehidupan mereka. Tapi Kristen berbeda ya, pada waktu Kristen berbicara mengenai apa yang menjadi penyebab Yesus datang? Karena kita tidak layak, karena kita tidak mampu, karena kita tidak mungkin bisa berkenan di hadapan Allah dan membuat diri kita layak untuk diterima Tuhan sehingga Tuhan nyaman tinggal di hati kita dan di tengah-tengah kita.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin salah satu hal yang kita bisa lihat sebagai bukti bahwa Yesus sebenarnya tidak nyaman tinggal bersama dengan umat-Nya adalah ratapan yang Yesus lakukan, dan tipologi Yesus yang ada pada Yeremia yang meratap. Ketika Dia ada dalam dunia, Dia menggambarkan diri Dia seperti induk ayam yang mengumpulkan anak-anakNya untuk kembali kepada diri Dia, tetapi anak-anak yang Dia ingin kumpulkan kembali justru menolak Dia. Dan bagaimana ketika Dia mengajar di dalam dunia, hal-hal yang rohani yang membawa kebenaran, yang membawa damai sejahtera yang sejati, bukan melalui pedang, bukan melalui pemberontakan, bukan melalui peperangan seperti itu yang tadi Saudara baca di dalam Yes. 9. Tapi orang Yahudi berkata bahwa Dia ketika datang pasti ada peperangan. Yang terang tiba, yang jahat, yang menjadi penakluk dari Israel akan ditaklukkan oleh diri Dia. Mereka berpikir ini bicara mengenai kekuasaan Israel di dalam kerajaan Daud secara fisik.
Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita komparasi ke dalam Perjanjian Baru, kita akan menemukan bahwa sebenarnya Yesus bukan datang untuk melakukan peperangan membela orang Yahudi dan mendirikan negara Israel, tapi Dia mau menggambarkan pada waktu Dia datang ke dalam dunia ini, Terang akan tiba. Tapi Terang ketika tiba, itu akan tiba kepada semua bangsa yang lain juga. Mereka akan melihat pada Terang itu dan penaklukan kepada bangsa-bangsa yang terjadi yang digambarkan pada waktu itu menjadi satu metafora untuk menggambarkan ketika Yesus datang, walaupun memang semua bangsa akan takluk di bawah Dia, tapi ketika Yesus datang, kuasa dosa yang memerangi kita, kuasa dosa yang membuat kita nggak mungkin bisa menaati Tuhan seperti yang Tuhan kehendaki, itu akan ditaklukkan. Dan Dia, Yesus berkata, “Kita ketika ada di dalam Kristus, ingat baik-baik, kita ada di dalam peperangan.” Bukan peperangan melawan orang yang tidak percaya kepada kita. Bukan peperangan secara fisik untuk membunuh dan membantai orang yang melawan kita. Tapi kita ada dalam satu peperangan rohani di dalam Kristus untuk melawan dosa dan kuasa iblis, karena kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus.
Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tanpa Kristus datang, tanpa kekuatan dari luar, tanpa pertolongan dari Allah, maka kita tidak mungkin bisa lepas daripada kesengsaraan demi kesengsaraan yang kita alami dalam hidup ini. Makanya kalau Bapak, Ibu ingin lihat di dalam Rm. 5 itu dikatakan seperti ini, walaupun hukum Taurat itu baru diberikan pada zaman Musa, tetapi sejak dari Adam dan Hawa jatuh dalam dosa sampai hukum Taurat diberikan, bahkan sampai setelah hukum Taurat diberikan, manusia mengalami kematian demi kematian dan tidak ada orang yang bisa lepas dari kematian karena kematian menjadi satu upah bagi orang yang berdosa.
Nah saya kembali ke dalam bagian ini ya. Alkitab menyatakan yang sanggup melepaskan kita hanya Anak Allah. Kita bisa lihat itu di dalam Injil Yohanes yang tadi kita baca. Dia lahir sebagai manusia, Dia bukan manusia saja, tapi Dia adalah Pribadi Allah yang sudah ada sejak dalam kekekalan, yang lahir dalam dunia ini untuk menjadi sama seperti kita, supaya kita bisa ditebus dari dosa kita. Lalu ada hal lainnya yang kita bisa lihat pada waktu kita melihat Yohanes memang bicara Allah yang jadi manusia. Seolah-olah itu adalah sesuatu kebenaran yang baru muncul di dalam Injil Yohanes. Tapi kalau saudara baca di dalam Injil Matius, ada kalimat yang berbeda lagi yang Matius ingin tunjukkan kepada kita. Pada waktu Orang Majus datang ke Yerusalem, mereka mencari bayi itu. Tapi ketika mereka tidak menemukan bayi itu di mana-mana dan kabarnya tidak tersiar di seluruh Yerusalem atau di Yudea seperti itu. Lalu mereka pergi ke istana Herodes dan ingin mencari tahu di mana bayi itu. Mereka ingin melihat, mereka ingin menyembah bayi itu. Tetapi pada waktu Herodes dengar, dia panik, dia bingung karena ada seorang Raja lahir, Mesias, tapi dia tidak tahu kabarnya. Akhirnya dia panggil para ahli Taurat untuk ditanyai di mana Mesias itu datang atau lahir. Lalu para ahli Taurat itu dengan cepat dan sigap mungkin tak perlu cari-cari Alkitab lagi, dia langsung mengatakan di dalam Mika ada kalimat ketika bayi itu lahir, dia akan lahir di Betlehem, kota Daud. Di situlah engkau akan menemukan bayi itu lahir.
Tapi Saudara, ketika mereka bicara ini, mereka juga tidak mau membuktikan kelahiran bayi itu. Mereka pulang ke rumah masing-masing dan orang Majus itu pergi dan mencari bayi dan membuktikan bahwa bayi itu betul-betul lahir. Waktu itu dia bukan bayi lagi, tapi dia sudah menjadi anak. Pertanyaannya adalah kenapa ahli Taurat pulang ke rumah? Kenapa ahli Taurat tidak membuktikan kebenaran dari perkataan Alkitab? Karena mereka bersandar pada kebaikan diri dan mereka mencukupkan diri dengan ritual agama, kebaikan, garis keturunan, sunat dan hukum Musa yang ada pada mereka. Mereka merasa bahwa mereka tidak perlu Kristus. Saya bisa benar, saya bisa baik, karena itu saya tidak butuh Yesus Kristus. Tetapi orang Majus ketika datang, mereka ingin betul-betul mencari. Lalu apa yang mendasari orang Majus mencari? Apa yang mendasari ahli Taurat itu bisa berbicara bahwa bayi itu lahir di Betlehem? Cuma satu, firman Tuhan. Ahli Taurat bisa mengutip karena apa? Ada Alkitab yang diberikan 400 atau 500 tahun sebelumnya mengatakan bayi itu akan lahir di Betlehem. Kenapa orang Maius bisa mencari bintang itu? Karena mereka percaya perkataan yang dikatakan dan diajarkan oleh Nabi Daniel di dalam Perjanjian Lama yang membuat mereka akhirnya menanti kapan bintang itu lahir, anak itu lahir dalam dunia dan mereka pergi mencari anak itu ketika waktunya tiba. Artinya apa? Satu sisi ketika kita berbicara mengenai kelahiran Yesus, kalau kita hanya berbicara dari Perjanjian Baru, Injil Yohanes, mungkin kita langsung berkata, “Oh, Yesus Adalah anak Allah yang lahir dalam dunia ini.” Tapi di dalam Matius kita diajak untuk melihat kelahiran Yesus adalah sesuatu yang genap. Karena apa? Hal itu sudah dipersiapkan sebelumnya, diberitahukan sebelumnya, dan menggenapi apa yang diberitahukan oleh para nabi sebelum Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini.
Jadi, Matius mau mengajak kita lihat kembali ke belakang. Makanya kalau Bapak, Ibu baca di dalam Injil Markus, ada satu kata yang penting, pada waktu Markus menulis Injilnya, dia tidak menceritakan mengenai kelahiran Yesus Kristus itu seperti apa. Dia tidak memberitahukan asal-usul Yesus Kristus itu dari mana. Tapi Markus, ketika memberitakan Injilnya, dia langsung mulai dari Yohanes Pembaptis yang merupakan suara dari orang yang berteriak-teriak untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Tetapi, kemudian setelah dia ditangkap, langsung muncul Yesus Kristus. Dan ketika Yesus muncul, berita apa yang dia katakan?
Boleh buka Markus 1:14–15. Markus 1:14–15. Saya baca ayat 14-15. Kita baca sama-sama, ya. “Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah. –15, baca bersama-sama– katanya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Mungkin satu kalimat yang seringkali kita kutip bahwa “percayalah kepada Injil. Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah!” Tapi di sini, Yesus, yang kita perlu perhatikan adalah Yesus berkata ketika waktunya telah genap, maka Yesus melayani dan mengabarkan Injil dan memberitakan tentang Injil Kristus.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang dimaksud dengan Injil atau waktunya sudah genap? Kalau kita kutip dari Mikha tadi, mungkin kita akan jatuh ke dalam pengertian seperti ini: “Oh, Yesus sedang berbicara mengenai nubuat-nubuat kelahiran Dia atau kedatangan Dia.” Itu sebabnya pada waktu kita merujuk pada kalimat “waktu sudah genap”, kita coba lihat, “Oh, di Mikha Dia lahir di Betlehem. Di Yesaya 7, Dia lahir dari seorang anak perempuan yang masih single”, seperti itu. Lalu kita lihat di dalam Matius, Dia –misalnya– akan naik ke atas kayu salib. Waktu kita mundur lagi kepada Daud, kita melihat bahwa ini adalah keturunan Daud yang dijanjikan oleh Tuhan. Waktu kita mundur lagi ke dalam Kejadian, kita melihat Dia adalah keturunan Daud yang lahir dari Yehuda. Lalu ketika kita mundur lagi sampai Kejadian pasal 3, kita tahu ini adalah janji yang Tuhan berikan kepada Adam dan Hawa ketika mereka jatuh dalam dosa. Lalu dengan begitu kita berkata, “Inilah bukti Yesus Kristus ada di dalam dunia dan Dia sudah menggenapi firman Tuhan.”
Tapi –Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan– kalau kita lihat di dalam Injil Lukas, kita menemukan hal yang lebih menarik lagi. Pada waktu Yesus bangkit dari kematian, maka Yesus kemudian menampakkan diri kepada satu persatu dari murid-Nya. Dan pada waktu Dia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya yang tidak percaya bahwa Dia bangkit, apa yang Yesus katakan? Bapak, Ibu boleh buka Lukas 24, ya, ayat 27 dan Lukas 24:44. Lukas 24:27. Ayat 26 bunyinya: “Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya? –lalu 27– Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” Lalu kemudian ayat 44: “Ia berkata kepada mereka, “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.“
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang Yesus lakukan? Dia membuktikan kalau diri Dia adalah Mesias. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana caranya Yesus membuktikan kalau diri-Nya Mesias? Dia bukan hanya tampil di depan murid-murid dan berkata, “Aku hidup, aku Mesias.” Tapi Dia mulai mengajar mulai dari Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan. Lalu apa? Ulangan. Setelah Ulangan? Yosua, Hakim-Hakim, lalu Samuel, Raja, Tawarikh, seterusnya sampai Maleakhi kalau Dia adalah orang yang dirujuk oleh para nabi. Jadi, maksudnya apa? Maksudnya adalah kalau kita ingin mengerti siapa Yesus Kristus, maka Saudara harus membaca seluruh daripada Perjanjian Lama! Dan Yesus membuktikan kalau Dia adalah kegenapan dari apa? Kegenapan dari segala nubuat yang Tuhan berikan melalui para nabi di dalam Perjanjian Lama yang berbicara mengenai diri Dia.
Itu sebabnya kalau –tadi saya bicara di awal– kalau kita ingin mengerti apa yang Allah kerjakan dalam hidup kita melalui Kristus, caranya adalah baca Kitab Suci. Karena Alkitab berbicara mengenai siapa Yesus dan apa yang dikerjakan Allah di dalam Kristus Yesus. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita membaca Kitab Suci, Perjanjian Lama cukup, tidak? Jawabannya: tidak cukup. Kita butuh Perjanjian Baru untuk mengerti kebenaran-kebenaran Allah sehingga kita menjadi jelas akan hal itu.
Griffith Thomas, dia bicara seperti ini ya: “Perjanjian Lama itu adalah sebuah buku yang menyatakan nubuat yang belum digenapi. Perayaan-perayaan yang tidak ada penjelasannya dan pengharapan yang tidak pernah terpuaskan.” Saya ulangi ya. Griffith Thomas berkata: “Pada waktu kita membaca Perjanjian Lama –atau orang Yahudi membaca Perjanjian Lama– yang mereka temukan adalah nubuat yang belum digenapi, perayaan-perayaan hari raya yang tidak ada penjelasannya sama sekali, dan juga pengharapan yang tidak terpenuhi atau terpuaskan.” Tetapi pada waktu kita membaca Perjanjian Baru, maka kita akan menemukan bahwa nubuat yang tidak tergenapi itu, upacara keagamaan yang tidak ada penjelasan itu, dan pengharapan yang tidak terpuaskan itu, semuanya sudah dipenuhi atau digenapi.” Di dalam siapa? Di dalam Kristus.
Jadi, pada waktu kita melihat kepada nubuat dalam Perjanjian Lama, sebenarnya berbicara mengenai siapa? Yesus Kristus. Saudara bisa buktikan ini dalam surat 1 Petrus 1. Di situ, ada berbicara bahwa para nabi dalam Perjanjian Lama itu melihat ke depan, menyelidiki, mempelajari mengenai apa yang dikatakan mengenai Kristus yang kita sudah alami dan kita lihat dan kita saksikan itu. Jadi, pada waktu mereka meneliti tentang Yesus, mereka hanya bisa melihat bayang-bayang mengenai Yesus, tetapi mereka tidak tahu bagaimana Yesus akan datang dan siapa Dia dan apa yang akan dilakukan secara jelas. Makanya, kalau Bapak, Ibu baca dari peristiwa orang Farisi dan ahli Taurat, mereka merasa bahwa Yesus pasti bukan Allah karena apa yang mereka bayangkan itu adalah sesuatu yang berbeda dengan Kitab Suci atau yang mereka ajarkan itu berbeda dengan Kristus yang dinyatakan dalam Kitab Suci dan sampai hari ini, mereka tidak mendapatkan jawabannya.
Saudara, yang kedua, pada waktu berbicara mengenai perayaan-perayaan dalam Perjanjian Lama, mungkin kita waktu baca, misalnya kitab Imamat, Saudara bingung, nggak? Kenapa, ya, Imamat itu ngajarin motong binatang aja untuk persembahan itu semuanya dirinci dengan begitu detail? Kenapa, ya, Imamat berkata bahwa korban-korban itu tidak boleh bercacat? Semuanya harus dikurung 5 hari. Setelah 5 hari, baru tahu dan diamati tidak ada cacat, baru boleh dipersembahkan. Kita nggak akan ngerti. Mereka cuma lakukan itu dan lakukan ritual-ritual setiap tahun dalam hidup mereka. Tetapi ketika Yesus datang, Yohanes berkata, misalnya, “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Dan ketika kita mendapatkan penjelasan dari Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa Anak Domba itu, Yesus Kristus itu adalah Anak Domba yang tidak boleh ada cacat sama sekali, baru korbannya bisa diterima oleh Tuhan Allah. Jadi, pada waktu kita membaca Perjanjian Lama tanpa ada kacamata Perjanjian Baru, kita ndak akan bisa menemukan jawabannya, pengertiannya, termasuk juga dengan pengharapan yang ada.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mohon tanya, ya, ndak ada satu orang pun dalam dunia ini yang bisa berkata, “Hidup saya baik-baik.” Nggak ada satu orang pun dalam dunia ini yang bisa berkata semua orang lain tidak akan mencelakakan diri kita, tetapi apa yang kita lakukan, kemungkinan besar ada orang lain yang mungkin iri, orang lain yang membenci, dan mungkin mereka bisa mencelakakan hidup kita. Tidak ada seorang pun yang bisa berkata bahwa, “Saya tidak memiliki masalah dalam hidup, dalam keluarga, bersama dengan anak, dalam pekerjaan, dalam kesehatan fisik kita.” Semuanya mengalami itu, termasuk juga orang Kristen. Tetapi, mohon tanya, yang membuat Saudara ketika mengalami itu dan tidak berputus asa di dalamnya dan terus mau bertekun di dalam 1 prinsip yang Saudara pegang sebagai kebenaran-ini kebenaran Kristen, ya, bukan kebenaran yang lain-itu apa? Kenapa orang bertahan untuk tidak bercerai? Kenapa orang tidak bunuh diri ketika seolah-olah apa yang dijalani itu tidak ada pengharapan? Kenapa orang masih bisa memuji dan bersyukur dan memberkati orang lain ketika dia mengalami sakit dan dokter sudah vonis dia tidak ada pengharapan sama sekali? Mungkin orang dunia akan ngomong, “Ya sudahlah, jalani aja lah. Ya, mau gimana lagi?” Tetapi, di dalam Kristus, kita bisa bertahan, kita bisa memuji, kita bisa punya pengharapan, punya kekuatan, bahkan bisa memberkati orang lain. Karena apa? Kita tahu, hidup bukan berakhir di sini. Kita akan dipersatukan dengan Kristus. Kita akan ada di surga bersama dengan Dia. Kita akan berada di dalam suatu kekudusan. Kita akan hidup selama-lamanya. Tidak ada lagi penderitaan, kesulitan karena kita tahu yang ini sementara, yang sana kekal. Yang sementara ini untuk kita jalani memuliakan Tuhan dan seperti Kristus yang mengalami penderitaan, Tuhan izinkan kita mengalami penderitaan untuk membuktikan kalau kita adalah milik Kristus.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada pengharapan itu. Ada jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin orang bisa jawab ketika dia hanya berpegang di dalam Perjanjian Lama. Jadi, kalau kita berpegang pada Perjanjian Lama seperti orang Yahudi, kita akan jalan terus ke arah yang nggak jelas, ndak tahu ujungnya seperti apa, termasuk masuk jurang juga seperti itu. Tetapi, kalau kita hanya berpegang kepada Perjanjian Baru saja, maka kita juga akan mendapatkan ada pertanyaan-pertanyaan ndak ada jawabannya sama sekali. Ndak ada penjelasannya sama sekali dan penjelasan itu hanya ada di dalam Perjanjian Lama dan ketika kita gabungkan kedua hal ini, yang kita dapatkan apa? Baik Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru berbicara mengenai Pribadi Kristus yang akan datang dalam dunia ini. Cuma Pribadi Kristus. Artinya apa, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan? Pada waktu kita melihat kepada Pribadi Kristus, maka kita bisa menemukan 1 hal. Di dalam dunia ini, ndak ada 1 orang pun yang bisa dan layak untuk menandingi Kristus. Pada waktu kita melihat pada pribadi Kristus, itu berarti setelah Kristus datang, tidak ada satu orang pun yang akan melanjutkan pekerjaan Kristus dan mengatakan kalau dia adalah mesias yang belum datang. Maksudnya adalah pada waktu kita melihat pada Alkitab, kita dibawa untuk melihat kalau Bapak, Ibu ingin pengharapan, ingin hidup kekal, ingin punya kuasa untuk mengalahkan dosa, ingin diperdamaikan dengan Allah yang sejati, cuma satu: Lihat pada Yesus, jangan lihat pada yang lain. Karena di dalam yang lain tidak ada jawaban, tidak mungkin ada jalan keluar karena semuanya hanya berbicara mengenai Yesus dan memang Tuhan telah menjadikan Yesus penggenapan dari apa yang menjadi rencana keselamatan yang Tuhan kerjakan dalam sejarah yang Tuhan janjikan pertama-tama kepada Hawa dan Adam.
Jadi ini sangat penting sekali ya. Tetapi untuk mengerti mengenai Kristus, Saudara nggak cukup cuma hafal berapa ayat. Ulangi saya ya. 2, 3. “Untuk mengerti tentang Yesus.” Ayo. 1,2,3. “Untuk mengerti tentang Yesus lanjutannya adalah tidak cukup dengan hanya menghafal beberapa ayat.” Ayo. Perlu apa? Seluruhnya. Karena Yesus sendiri ketika membuktikan diri Dia, Dia membuktikan dari seluruh Kitab Suci. Saudara, ini serius ya. Di dalam Kisah Rasul, Paulus ketika berbicara kepada para penatua yang datang dari Efesus, dia ngomong apa? “Ketahuilah saya tidak lalai di dalam memberitakan apa? Ketetapan Allah kepada engkau.” Artinya adalah semua yang Tuhan percayakan kepada Paulus, semua yang diajarkan di dalam Kitab Suci dia ajarkan kepada jemaat, nggak ada satu pun yang dia tinggalkan atau dia tutupi atau dia lompati supaya apa? Seluruh jemaat mengerti tentang kehendak Allah dan tentang Allah.
Bapak, Ibu, Saudara yang kasih Tuhan, ini sangat serius sekali. Makanya muncul satu kalimat seperti ini, Allah ketika menjadikan satu orang Kristen, dia membutuhkan seluruh dari Kitab Suci. Maksudnya adalah kalau Saudara ingin menjadi seorang Kristen yang sungguh-sungguh mempermuliakan Tuhan, yang mengenal Tuhan, yang mengerti kehendak Tuhan, yang bisa melakukan kehendak Tuhan karena mengetahui apa yang menjadi kehendak dan apa yang disukai Tuhan dan apa yang menjadi rencana Tuhan, tujuan Tuhan dalam hidup Saudara, Saudara harus ngerti seluruh Kitab Suci. Nggak bisa hanya sebagian.
Atau saya ambil contoh kayak gini ya, Saudara nginjili nggak? Tahu kan harus nginjili kan? berapa persen dari kita yang menginjili? Lalu tantangan terbesar untuk penginjilan itu apa? Ketika ikut KIN di Jakarta, ternyata hamba Tuhan GRII juga harus isi kuesioner dan salah satu kuesioner yang diadakan adalah apakah Saudara menginjili dan apa yang menjadi tantangan di dalam penginjilan. Dan ketika saya dapatkan jawaban dari penatua, salah satunya adalah karena takut. Takut menjadi hal yang paling mendasar untuk seseorang memberitakan Injil. Pertanyaan, takut apa ya? Takut ditolak. Ya, mungkin ada, ada takut lain nggak? Takut nggak bisa menjelaskan mungkin. Betul nggak? Kenapa nggak bisa jelaskan? Kenapa? Karena saya tidak tahu. Mohon tanya, jadi selama ini Saudara ikuti siapa? Saudara tahu yang saudara ikuti itu benar atau nggak? Saudara bisa berpegang pada beberapa prinsip tertentu yang ketika orang lain datang dan menguji, “Apa dasar engkau percaya?” Kita nggak tahu sama sekali. Lalu kita ngomong, “Saya mengikuti Tuhan. Saya percaya kepada Tuhan. Saya ada di dalam jalan yang benar. Agamamu salah. Kepercayaanmu nggak benar. Tapi ketika kita ditanya, kita sendiri pun nggak tahu benar kita di mana, salahnya mereka di mana. Itukah Kristen?
Makanyakita bersyukur sekali, ya ini promosi ya. Kita di dalam gereja yang sangat menekankan pengajaran, firman, seminar, pendalaman Alkitab, mungkin organic small group, STRIY supaya kita mengenal Tuhan. Tapi sedihnya adalah Bapak, Ibu bisa hitung dengan jari siapa yang hadir di dalam acara itu. Sebagian besar dari kita ke mana? Merasa nggak perlu. Merasa cukup dengan apa yang kita tahu. Merasa kita adalah orang Kristen yang baik. Silakan pikirkan sendiri ya. Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan. Baca Alkitab pun mungkin bolong-bolong.
Jadi, Yesus adalah puncak itu, Dia adalah satu-satunya jawaban yang Tuhan berikan dalam Perjanjian Lama. Dan dia adalah kebenaran yang Tuhan genapi sendiri. Karena Tuhan sudah sediakan semua itu di dalam Perjanjian Lama untuk merujuk kepada Kristus. Dan itu sebabnya kita bisa mengerti tentang Dia dan percaya kepada Dia, dan kita bisa tahu apa hal yang menjadi kehendak Tuhan. Nah, ini terjadi pada Paulus selama dia hidup, semasa dia belum bertobat, dia berpikir Kristen itu salah. Dia berpikir ini agama atau kelompok orang yang harus dibinasakan, harus disingkirkan dari dunia ini kalau mereka tidak mau bertobat untuk kembali ke dalam agama Yahudi. Sampai kapan? Sampai dia bertemu dengan Kristus di dalam perjalanan menuju Damaskus. Pada waktu dia bertemu dengan Kristus, di situlah Alkitab mengajarkan terjadi pertobatan pada diri Paulus. Mohon tanya, pertobatan itu apa? Mungkin kita bisa definisikan dengan istilah, “Oh, berbalik arah. Saya dulu berjalan ke sini setelah saya bertobat, saya berbalik arah 180 derajat berjalan ke sana.” Itu namanya pertobatan.
Kalau Bapak, Ibu punya konsep seperti ini, mungkin Bapak Ibu akan tersandung dalam hal ini. Saya semula beragama mengikuti ajaran agama ini. Tapi setelah saya bertobat, saya menjadi Kristen, saya mengikuti ajaran agama Kristen dan kita stop di dalam ritual. Kalau Yahudi mungkin Sabtu ibadah di sinagoge, kalauada korban harus berikan korban. Sekarang kalausaya jadi Kristen, ibadahnya geser jadi hari Minggu. Ketika saya beribadah di hari Minggu, apa yang dilakukan oleh orang Kristen, saya lakukan. Saya tidak lagi lakukan apa yang orang Yahudi lakukan. Kalau dulu saya Muslim, saya lakukan apa. Sekarang saya jadi Kristen, saya ndak lakukan itu lagi. Itu namanya pertobatan? Itu bukan pertobatan. Itu berubah perilaku, berubah kebiasaan.
Lalu pertobatan itu apa? Pertobatan itu meliputi tiga hal paling tidak. Pertama adalah perubahan mindset Saudara akan Tuhan. Misalnya kalau Saudara lihat di dalam cerita mengenai orang Yahudi dan Paulus sebagai orang Farisi. Pertama dia merasa bahwa yang bener itu Yahwe, yang bener itu Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Yesus bukan Tuhan. Tetapi pada waktu dia percaya kepada Tuhan, silahkan buka Kolose 1:16. Kolose 1:16 kita baca bersama-sama, “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Semula Paulus punya pikiran apa? Yesus ndak mungkin Tuhan, Yesus bukan Pencipta, Dia bukan Juruselamat. Tapi ketika dia bertobat, dia langsung mengakui yang mencipta langit bumi adalah Yesus Kristus dan segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan untuk Dia dan bagi Dia, dan Dia adalah gambar Allah yang sulung. Itu konsep langsung berubah total, lho, Bapak, Ibu, Saudara.
Yang kedua adalah dia menyadari diri dia adalah orang yang berdosa. Dia menyadari siapa diri dia di hadapan Allah. Jadi kalau Saudara baca di dalam Surat 1 Timotius ada dikatakan, “Aku adalah orang yang paling berdosa di antara orang-orang berdosa. Aku adalah orang paling berdosa di antara para rasul.” Saudara, “Yang membuat saya bisa ada sebagai orang Kristen yang diberikan kepercayaan untuk melayani sebagai rasul yang kemudian memberitakan Injil kepada semua bangsa, ini adalah sesuatu yang saya nggak pernah pikirkan,” Paulus berkata, “karena saya adalah orang yang sangat jahat sekali. Itu adalah kasih karunia yang Tuhan berikan kepada saya sebagai orang yang seperti bayi yang lahir sebelum waktunya.” Artinya dia nggak sama sekali mengharapkan hal itu, tapi dia mendapatkan kasih karunia dari Tuhan. Yang ketiga adalah pandangan dia tentang gereja Tuhan, bagaimana dia bersikap dengan orang-orang Kristen yang lain, dia bersekutu dengan orang-orang Kristen yang lain, dan bertumbuh bersama.
Mohon tanya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, selama kita menjadi orang Kristen, perubahan pola pikir apa dan sudut pandang apa yang terjadi dalam hidup kita? Mohon tanya, seberapa Saudara makin menyadari kebutuhan Saudara akan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat-mu? Dan ketika Yesus menebus dirimu, seberapa besar kesadaranmu bahwa Dia adalah Tuhan dan semua yang Dia kehendaki, Saudara harus penuhi, lakukan tanpa kompromi? Seberapa besar Saudara merindukan bersama dengan orang-orang Kristen yang lain untuk bersekutu bersama dengan mereka, untuk bertumbuh dengan mereka, untuk dibentuk bersama dengan mereka, untuk beribadah kepada Allah bersama dengan mereka? Saudara, itu namanya pertobatan.
Jangan-jangan selama ini kita cuman melihat pertobatan itu sebagai perubahan perilaku. Memang ada perubahan perilaku, tapi perubahan perilaku itu terjadi karena mindset kita berubah, hati kita berubah, yang dikerjakan oleh Roh Kudus bagi kita. Jadi Yesus adalah penggenap dari janji Tuhan, dan ini membuat kita masuk ke dalam poin terakhir. Kalau betul-betul Yesus adalah kegenapan dari janji Tuhan dalam hidup manusia berdosa, maka sekali lagi saya bilang, percaya kepada Kristus itu bukan soal ini adalah kelompok tertentu punya iman. Ini bukan soal kepercayaan dari orang Kristen saja. Kalau Dia adalah Tuhan, bahwa itu berarti Dia adalah Tuhan semua manusia. Kalau Dia adalah Juruselamat manusia berdosa, berarti Dia adalah Juruselamat satu-satunya jalan kebenaran dan hidup yang Tuhan sediakan untuk semua manusia tanpa kecuali. Nggak ada bisa, “Oh, jalanku beda dengan engkau. Kamu kan Kristen, jalanmu yang lain.” Ndak, Dia adalah Tuhan itu sendiri dan Dia adalah satu-satunya jalan yang Tuhan sediakan bagi diri kita, maka itu membuat kita cumaada di dua posisi. Pertama adalah melihat Dia sebagai teman, sebagai jalan damai, sebagai solusi terhadap dosa yang kita lakukan dalam hidup kita, sebagai Pribadi di mana kita bisa bersandar dan berlindung kepada-Nya. Atau yang kedua, batu sandungan kita, seperti orang Farisi yang ketika melihat Yesus tersandung dan batu penjuru itu mereka buang. Tapi ketika mereka buang, mereka akan tersandung lagi oleh batu penjuru itu karena mereka ndak bisa lari dari Yesus Kristus. Saudara, ini adalah hal yang kita perlu renungkan, ya. Pada waktu kita memasuki natal, kiranya Tuhan boleh memberkati kita dan mempersiapkan hati kita untuk memperingati hari kelahiran dari Yesus Kristus. Tuhan kiranya memberkati kita. Mari kita masuk dalam doa.
Kami bersyukur kembali, Bapa, ada firman yang boleh meneguhkan kami. Ada kebenaran yang boleh Engkau singkapkan bagi kami. Ada satu pengertian yang boleh Engkau karuniakan bagi kami, khususnya berkaitan dengan Kristus. Tolong kami, ya, Bapa, untuk hidup di dalam kebenaran-kebenaran yang Engkau telah wahyukan bagi kami dan kami boleh sungguh mensyukuri jalan yang telah Engkau sediakan, kegenapan yang telah Engkau kerjakan di dalam Pribadi Anak Tunggal-Mu, Yesus Kristus. Sekali lagi kami bersyukur. Dan siapkan hati kami, ya, Bapa, untuk masuk ke dalam perjamuan kudus pada pagi hari ini. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
