Sesungguh-sungguhnya (2)
Pdt. Dawis Waiman, M. Div
Di dalam injil Yohanes ini, yang pertama kita sudah melihat bahwa Yesus berbicara bahwa, “Orang-orang akan melihat bahwa ada langit akan terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia,” di dalam pasal yang pertama ini. Dan di situ kita sudah melihat bahwa Yesus sedang mau mengatakan kalau diri-Nya-lah yang menjadi pengantara untuk manusia bisa datang kepada Allah di dalam surga, Dia adalah jalan itu sendiri. Nah, di dalam pasal yang ketiga ini Yesus berbicara kepada Nikodemus berkaitan dengan apa yang dimaksud dengan satu kelahiran baru bagaimana seseorang itu bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dan pada waktu Yesus berbicara kepada Nikodemus, maka Bapak, Ibu harus mengerti konteks di dalam pembicaraan ini sebelumnya, yaitu kalau kita telusuri di dalam pasal yang kedua bagian yang terakhir, maka di situ dikatakan ada begitu banyak orang yang datang berbondong-bondong untuk mengikuti Yesus Kristus.
Dan kenapasebabnya mereka datang untuk mengikuti Yesus Kristus? Yohanes berkata, “Karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya.” Jadi, tanda inimengatakan mengenai Yesus adalah Mesias yang kita bisa lihat dari wujud Yesus melakukan mukjizat menyembuhkan orang sakit ketika Dia melayani dalam dunia ini. Dan itu membuat ada begitu banyak orang yang datang dan ingin mengikuti Yesus Kristus. Tetapi pada waktu kita membaca ayat berikutnya, kita mendapatkan hal yang sangat mengagetkan sekali. Tetapi hal itu adalah hal yang penting sekali untuk kita pahami. Pada waktu orang banyak datang mengikut Yesus, Alkitab mencatat atau Yesus mengatakan bahwa Dia sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada orang banyak itu.
Bukankah ini sesuatu yang aneh? Bukankah ini sesuatu yang mengagetkan? Karena pada waktu kita, misalnya, menarik ke dalam contoh hari ini, kita memiliki gedung yang kapasitasnya adalah 700 orang. Kalau yang hadir 50 orang kita pasti sedih, kan? Gedung begitu besar tetapi orangnya begitu sedikit yang hadir. Lalu apa yang kita lakukan? Kita berusaha untuk menarik orang untuk bisa datang ke dalam kebaktian untuk mengisi gedung ini. Lalu yang datang itu 700 orang, kira-kira Bapak, Ibu bersukacita atau justru mempertanyakan kehadiran dari mereka itu? Saya kira respons yang alami dari diri kita adalah ada begitu banyak orang datang berarti pelayanan kita diberkati oleh Tuhan. Ada begitu banyak orang yang hadir itu membuat hati kita begitu bergembira sekali dan kita merasa bahwa Tuhan menyertai dan mereka adalah orang-orang yang merindukan Firman Tuhan dalam hidup mereka.
Tetapi pada waktu Yesus Kristus dihampiri oleh begitu banyak orang, maka Alkitab berkata Dia justru tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka. Maksudnya apa tidak mempercayakan diri? Yaitu Dia tidak mau atau tidak berelasi dengan mereka, Dia tahu bahwa orang-orang yang datang kepada diri-Nya itu bukan karena melihat kepada tanda tersebut dan mengerti tanda itu yang membuat mereka tahu bahwa Yesus adalah Mesias tetapi yang membuat mereka datang adalah karena mereka menghendaki mukjizat, karena mereka menghendaki kepentingan diri mereka yang dipenuhi oleh Kristus.
Ada satu peristiwa ketika Yesus Kristus memberi 5000 orang makan roti dengan 5 roti dan 2 ikan. Setelah peristiwa itu terjadi, Yesus langsung meminta murid-murid-Nya untuk pergi meninggalkan diri-Nya menyeberangi danau Galilea. Lalu Dia berdoa di situ. Apa yang Dia doakan pada waktu itu? Alkitab memberi satu petunjuk kepada kita karena pada waktu itu orang banyak yang mencari Yesus Kristus setelah melihat peristiwa Yesus memberi 5000 orang makan itudatang ingin menjadikan Yesus sebagai raja. Pada waktu Yesus mengetahui hal ini, apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus? Apakah Dia berkata, “Puji Tuhan, ternyata merekamengerti bahwa Aku adalah Raja itu. Keturunan Daud, supaya sekarang lah waktunya Saya duduk sebagai raja atas Israel.”? Tapi Alkitab bicara, tidak. Pada waktu itu Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di sorga dan setelah Dia berdoa kepada Bapa-Nya di sorga, Dia kemudian pergi meninggalkan orang banyak itu juga. Dia tidak mengikuti orang banyak itu punya keinginan. Sebabnya karena apa? Tidak berbeda dari Yohanes pasal kedua ini. Orang-orang itu datang mengikut Yesus bukan karena mereka tahu siapa Yesus, bukan karena mereka mengerti bahwa merekaadalah milik-Nya, tapi yang merekainginkan adalah supaya Yesus menjadi budak merekayang memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka.
Makanya di dalam Yohanes pasal 2 ini dikatakan pada waktu orang banyak datang, Yesus tidak senang, Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, yang berarti Yesus tinggal bersama dengan mereka, Yesus ada bersama-sama dengan mereka karena mereka adalah milik Yesus dan Yesus adalah milik mereka, melainkan yang Yesus katakan adalah Yesus justru tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka. Karena apa? Yesus tahu apa yang ada di dalam hati mereka. Jadi kalau kita datang beribadah kepada Tuhan, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Bapak, Ibu jangan berpikir bahwa penampilan kita, penilaian yang Tuhan berikan kepada diri kita itu berdasarkan apa yang kita perlihatkan saat kita beribadah. Tetapi pada waktu kita beribadah kepada Tuhan, yang Yesus perhatikan itu adalah apa yang ada di dalam hati kita. Itu yang menjadi concern Yesus, bagaimana sikap kita di dalam beribadah. Tapi tentunya sikap hati itu juga akan dibuktikan dari tindakan yang kita lakukan pada waktu kita beribadah. Contohnya, kalau Alkitab berkata saat kita beribadah kepada Tuhan itu harus dengan hati yang hormat kepada Tuhan, mungkin nggak seorang yang mengatakan diri menghormati Tuhan datang ibadah dengan sandal jepit? Mungkin nggak orang yang datang beribadah kepada Tuhan dengan berkata, “Saya ingin beribadah kepada Tuhan”, tapi main HP, update status, WA orang dan nggak pernah bisa berhenti untuk melihat HP-nya? Bisakah orang yang berkata, “Saya sungguh-sungguh menghormati Tuhan, saya tahu Dia harus ditinggikan dalam hidup saya. Dia adalah Allah yang mulia.”, ketika beribadah tidur di dalam kursi ibadah tersebut?
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya yakin itu bukan bentuk “saya menghormati Tuhan”. Termasuk di dalamnya berbicara tidak berhenti pada waktu ibadah. Jadi kalau kita betul-betul memiliki hati yang takut Tuhan, hati yang takut pasti akan berwujud di dalam sikap kita di dalam menghadapi Tuhan pada waktu kita beribadah kepada Tuhan. Apalagi Mzm. 139, pada waktu PA kemarin kita sudah membahas dari ayat 1 sampai ke-6, Allah dikatakan sebagai Allah yang Mahatahu, Allah yang tahu apa yang kita pikirkan, Allah yang tahu apa yang kita katakan sebelum kita mengatakan hal tersebut, Allah yang mengetahui setiap keputusan yang kita akan ambil dalam hidup kita, Allah yang mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam hati kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu membuat pada waktu kita beribadah kepada Tuhan bukan hanya sikap hati yang dilihat oleh Tuhan, seperti yang dilihat oleh manusia, tetapi Alkitab mengatakan Tuhan tahu sikap yang kita wujudkan itu adalah dari hati yang menghormati Tuhan atau hati yang cuma sekedar ingin dilihat oleh orang, ingin dipuji oleh orang, cuma ingin merasa “saya sudah menjalankan kewajiban saya untuk datang dan berbakti kepada Tuhan setiap minggu”. Tuhan tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Nggak perlu ada satu orang pun yang mengatakan hal itu.
Nah, setelah peristiwa ini, maka Alkitab mengatakan ada seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi yang menghampiri Yesus Kristus. Dan ini membuat kita langsung dibawa untuk melihat di antara banyak orang yang datang menghadap Yesus, ingin mengikut Yesus, dan Yesus mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, Yohanes mau mengatakan Nikodemus sebenarnya adalah orang yang seperti apa. Apakah dia adalah orang yang seperti orang banyak yang datang kepada Yesus Kristus tersebut yang Yesus tahu hati mereka dan Yesus tidak ingin mempercayakan diri-Nya kepada orang banyak itu? Atau Nikodemus adalah kelompok yang lain, bukan dari kelompok itu? Makanya Yohanes mengatakan di antara semua orang itu dia mulai menyorot satu orang yang bernama Nikodemus ketika datang menghadap Yesus Kristus dan mungkin kita bisa katakan “ingin mengikut Yesus Kristus”.
Nah pada waktu dia datang kepada Yesus Kristus, dia mengajukan satu pertanyaan yang penting atau dia mengungkapkan sesuatu yang penting, yaitu “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Jadi kelihatannya Nikodemus setelah melihat tanda-tanda yang dilakukan oleh Yesus Kristus, maka dia berbicara dengan anggota dari pemimpin orang-orang Yahudi yang lain atau teman-temannya paling tidak. Kenapa saya bilang berbicara dengan anggota pemimpin yang lain? Karena Nikodemus adalah salah satu orang dari beberapa orang yang menjadi pemimpin tertinggi daripada orang-orang Yahudi, baik secara iman ataupun secara hukum kenegaraan bangsa Yahudi. Pada waktu mereka melihat apa yang Yesus lakukan, kelihatannya di sini dikatakan mereka membicarakan itu, mereka merasa ada sesuatu yang berbeda dengan diri Yesus Kristus ini. Tapi pada waktu mereka tidak bisa menjawab dengan 100%, walaupun mereka menduga ada kebenaran itu, mereka datang kepada Yesus yang diwakili oleh Nikodemus atau Nikodemus yang datang pribadi kepada Yesus lalu bertanya, “Kami tahu bahwa Engkau pasti datang dari Tuhan karena tanda yang Engkau lakukan itu bukan sesuatu yang bisa dikerjakan oleh manusia”.
Tetapi ketika dia mengatakan ini, dia menggunakan panggilan bukan Tuhan tetapi Rabi, “Rabi, kami tahu Engkau pasti dari Tuhan.” Maksud “Rabi” adalah Dia adalah guru. Dia bukan Tuhan, tetapi Dia adalah manusia. Mungkin Dia adalah imam; mungkin Dia adalah nabi, tetapi yang mengajarkan firman Tuhan. Makanya mereka berkata, ”Dia adalah Rabi itu!” Dan pada waktu Nikodemus datang dan berbicara seperti ini, bagaimana sikap Yesus Kristus? Kalau Bapak, Ibu baca, kelihatannya apa yang dikatakan oleh Yesus itu tidak nyambung dengan apa yang dikatakan oleh Nikodemus, tetapi hal ini bukan berarti Yesus tidak nyambung dengan pembicaraan Nikodemus karena Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yang benar adalah Yesus tahu persis apa yang menjadi tujuan Nikodemus datang menemui diri Dia, seperti halnya pada waktu Yesus berhadapan dengan perempuan Samaria. Yesus berkata meminta air untuk disediakan bagi diri Dia. Perempuan itu berkata, “Yesus, Engkau kan orang Yahudi, bukan orang Samaria dan orang Yahudi tidak berbicara dengan orang Samaria. Kenapa Engkau sekarang meminta aku memberikan Engkau air? Engkau nggak punya timba yang bisa mengambil air itu ke atas. Sekarang Engkau meminta kepadaku.” Tetapi, Yesus berkata, “Kalau engkau tahu siapa Aku, engkau akan meminta air hidup dari Aku.” Tetapi, perempuan itu tidak mengerti hal itu. Kenapa Yesus berbicara seperti itu? Karena Yesus tahu apa yang menjadi kebutuhan yang ada di dalam hati perempuan itu, termasuk ketika Yesus Kristus berbicara, “Panggil suamimu kemari!” Perempuan itu langsung berkata, “Saya tidak punya suami.” Yesus berkata, “Betul, karena engkau punya lima laki-laki dan yang tinggal bersama dengan engkau itu bukan suamimu.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, begitu juga dengan Nikodemus. Pada waktu Nikodemus datang kepada Yesus Kristus, Yesus langsung tahu apa yang ada di dalam isi hatinya; apa yang menjadi pergumulan dari Nikodemus. Yaitu apa? Dia ingin tahu bagaimana seseorang itu bisa masuk ke dalam Kerajaan surga dan itu sebabnya Yesus langsung memberi tahu Nikodemus, “Engkau tanya, kan, bagaimana seorang bisa masuk ke dalam Kerajaan surga?” Seperti halnya mungkin orang muda yang kaya itu yang tanya, “Apa yang aku harus perbuat Tuhan untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan surga?” Dan Yesus berkata, “Sesungguh-sungguhnya kalau seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Maksudnya adalah Yesus mau mengatakan: “Pengharapanmu tentang Kerajaan Allah, Nikodemus, itu sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang engkau akan dengar dari diri-Ku mengenai Kerajaan Allah.”
Orang Yahudi punya satu pemahaman kalau mereka adalah orang yang melakukan hukum Tuhan, kalau mereka menjaga tradisi dalam kehidupan mereka, kalau mereka mendengarkan perkataan Tuhan dalam hidup mereka, maka mereka adalah orang-orang yang ada di dalam Kerajaan Allah. Dan orang Yahudi sendiri punya satu pengertian lagi di dalam mishnah-nya kalau mereka adalah orang yang terlahir dari keturunan Abraham secara fisik. Maka, hal itu membuat mereka secara otomatis ada di dalam Kerajaan surga atau Kerajaan Allah. Jadi, di dalam anggapan orang-orang Yahudi, termasuk orang Farisi, termasuk Nikodemus ini, Kerajaan surga itu bukan sesuatu yang diberikan oleh Tuhan. Kerajaan surga itu adalah tergantung dari kelahiran, Kerajaan surga itu tergantung dari ketaatan yang mereka lakukan kepada hukum Tuhan, apa yang mereka perbuat, korban yang mereka berikan, ibadah yang mereka lakukan di hadapan Tuhan. Lalu mereka juga percaya akan karunia Tuhan dalam hidup mereka. Dan pada waktu dia tanya, “Guru, Engkau bersumber dari Allah?” Dan Yesus berkata, “Sesungguh-sungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa melihat Kerajaan Allah.” -maksud melihat itu adalah masuk ke dalam Kerajaan Allah – “kecuali dia dilahir barukan.” Ini berarti bahwa kelahiran baru itu adalah hal yang sangat penting sekali berkaitan dengan bagaimana seseorang bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Kita sering kalau mendengar kalimat seperti ini: “Apakah engkau sudah diselamatkan?” Lalu, orang berkata, “Ya, saya sudah diselamatkan.” “Apa yang membuat engkau yakin bahwa engkau sudah diselamatkan?” “Saya percaya kepada Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dalam hidup saya.” Betul, nggak kalimat itu? Nggak salah, sih. Alkitab berkata bahwa seseorang yang percaya kepada Yesus, dia adalah orang yang diselamatkan dari dosa. Dia adalah orang yang dikaruniakan hidup yang kekal oleh Tuhan Allah. Tetapi, pada bagian ini Yesus mau mengajak kita melihat lebih jauh lagi, yaitu bukan hanya percaya dengan mulut dan mengaku, “Saya percaya kepada Yesus Kristus,” yang membuat kita diselamatkan, tetapi yang lebih utama adalah apakah kita telah dilahirbarukan atau belum? Itu yang membuat kita memiliki jaminan keselamatan di dalam kehidupan kita. Jadi, kelahiran baru itu adalah sesuatu yang signifikan, bukan sesuatu opsional, bukan sesuatu yang boleh ada dan tidak ada di dalam kehidupan kita, tetapi sesuatu yang harus ada yang menjamin kita adalah milik Kristus. Kelahiran baru bukan pilihan tetapi kelahiran baru adalah satu syarat utama seseorang bisa ada di dalam Kerajaan Allah.
Tapi waktu kita bicara kelahiran baru itu adalah syarat utama, kelahiran baru itu maksudnya apa? Kalau Bapak, Ibu baca di dalam Alkitab, paling tidak ada 2 definisi yang sering kali digunakan. Satu, diciptabarukan. Yang kedua, dilahirbarukan. Diciptabarukan itu ada di dalam Ef. 2:10. Ef. 2:10, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Maka, orang-orang Kristen adalah orang-orang yang merupakan ciptaan baru. Lalu kalau di bagian ini kita katakan, “kecuali kalau orang itu sudah dilahirkan kembali, baru dia bisa melihat kerajaan Allah.”
Sebenarnya ada beda nggak dua istilah ini, diciptakan baru dengan dilahirkan baru? Sinclair Ferguson berkata sebenarnya dua kata ini merujuk kepada hal yang sama, arti yang sama. Tetapi kalau kita ingin bertanya ada beda nggak, paling tidak kita bisa berkata seperti ini, diciptabarukan itu berarti sesuatu kuasa Allah yang bekerja untuk memperbaharui segala sesuatunya. Jadi contohnya kayak gini, ketika kita hidup dalam dunia ini, kita tahu bahwa dunia ini ada di dalam dosa, manusia ada di dalam dosa dan semua umat itu meratap untuk menantikan hari di mana Tuhan menyatakan dirinya itu. Nah, mengapa kita menantikan hari di mana Tuhan menyatakan dirinya? Mengapa di dalam doa Bapa kami kita berdoa “Tuhan datanglah kerajaan-Mu di bumi, jadikanlah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”? Karena kita sadar bahwa akan datang satu hari di mana Yesus akan datang kembali. Kedatangan pertama adalah untuk menebus manusia dari dosa. Kedatangan kedua adalah untuk menegakkan keadilan bagi manusia yang berdosa dan memberikan upah kepada orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Tapi Alkitab tidak berhenti di situ dan kita juga percaya bahwa pada waktu Yesus datang kedua kali, hari itu adalah hari di mana kita masuk ke dalam kekekalan, kekekalan untuk tinggal bersama-sama dengan Kristus. Di mana? Langit dan bumi yang baru. Jadi pada waktu Yesus datang kedua kali, di situlah langit yang baru akan turun dan bersatu dengan bumi yang baru dan ini adalah surga yang sesungguhnya di mana tidak ada lagi kelemahan, tidak ada lagi penyakit, tidak ada lagi kematian di sana, tidak ada lagi kesedihan yang ada, dan tidak ada lagi bencana yang ada di dalam dunia ini karena seluruh dari bumi ini sudah diciptabarukan kembali oleh kuasa dari Tuhan. Jadi pada waktu kita bicara mengenai diciptabarukan yaitu apa? Yaitu kuasa Tuhan untuk menjadikan segala sesuatu yang lama menjadi hal yang baru, itu diciptabarukan. Lalu bagaimana dengan dilahirbarukan kembali? Dilahirbarukan kembali adalah berkaitan dengan kuasa Tuhan yang menjadikan segala sesuatu yang baru itu bekerja di dalam diri kita. Itu bicara dilahirbarukan untuk menjadikan manusia yang baru.
Jadi, bagaimana seseorang bisa masuk ke dalam Kerajaan surga? Bapak, Ibu harus bertanya atau menguji bukan hanya dari perspektif “saya sudah percaya kepada Yesus dengan mengaku dalam mulut saya saja”, tetapi Bapak, Ibu harus bertanya sudahkah saya sungguh-sungguh dilahirbarukan oleh Roh Kudus dalam kehidupanmu? Karena ini syarat utama seseorang bisa masuk ke dalam Kerajaan surga.
Lalu hal yang kedua adalah kita mungkin bertanya kayak gini, lalu bagaimana saya bisa mendapatkan kelahiran baru dalam hidup saya? Apa kelahiran baru itu adalah sesuatu yang diusahakan oleh manusia? Apakah karena keinginan manusia maka kita bisa masuk ke dalam Kerajaan surga tersebut? Nah, di dalam hal ini Yesus memberikan satu pengajaran yang lain, yang juga sangat penting sekali bagi kita di dalam bagian ini. Nikodemus pada waktu mendengar jawaban Yesus di ayat 3, dia bertanya di dalam ayat 4. “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Lalu ayat 5, jawab Yesus “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus bicara, sekarang Aku kasih tahu kamu ya, yang sebener-benernya, yaitu apa? Orang yang lahir dari daging, orang yang lahir secara garis keturunan darah dari Abraham itu adalah orang yang hidup dalam kedagingan. Tidak ada satu orang pun yang lahir dari keturunan manusia, apakah dia dari keturunan Abraham atau bukan, yang bisa membuat kedagingannya itu berubah menjadi roh, sesuatu yang bukan daging. Karena yang daging hanya bisa melahirkan daging, yang dari roh baru bisa melahirkan roh. Artinya adalah ketika kita ingin masuk ke dalam Kerajaan surga, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu bukan sesuatu yang bisa kita doakan, itu bukan sesuatu yang bisa kita kerjakan, itu bukan sesuatu yang bisa kita dapatkan dengan pengorbanan yang kita lakukan dalam ibadah kita kepada Tuhan, itu bukan sesuatu yang bisa kita dapatkan melalui kebaikan-kebaikan yang kita lakukan kepada masyarakat yang ada di dalam dunia kita yang ada di sekitar kita. Lalu karena apa? Karena kuasa supranatural dari Allah yang dikerjakan dalam hidup kita dan didasarkan kepada kedaulatan-Nya.
Maksudnya ketika Tuhan menentukan siapa yang dilahir barukan atau bukan, hal itu bukan karena Dia melihat ada sesuatu yang baik dalam diri kita, Dia melihat bukan karena ada yang menarik, yang berbeda daripada orang-orang yang lain, tetapi karena kehendak Tuhan semata, di dalam kekekalan, yang kita tidak bisa pertanyakan dan ganggu gugat. Atas dasar pilihan Tuhan saja Dia kemudian memilih kita dan melahir barukan kita. Atau istilah lainnya adalah itu semata-mata adalah anugerah, kasih karunia yang Tuhan berikan di dalam kehidupan kita. Karena kita nggak bisa berkata “Tuhan saya layak mendapatkannya.”
Kalau kita bekerja, biasanya perusahaan akan tanya “Mau digaji berapa?”. Oh saya minta misalnya 6 juta, “Kenapa nggak 3 juta saja?” Nggak, karena kualifikasi saya adalah 6 juta. Lalu perusahaan itu ngomong “Ok, deal, saya terima kamu, gajimu sebulan adalah 6 juta bukan 3 juta.” Kira-kira setelah kita mulai bekerja, di dalam bulan pertama, kedua, ketiga mungkin keempat, perusahaan akan melakukan apa? Dia akan memberikan gaji kepada kita seperti yang kita minta, 6 juta, 6 juta, 6 juta. Tapi pada waktu dia berikan gaji, dia juga akan mulai menilai. “Ini orang layak nggak diberi 6 juta? Kualifikasi yang dia katakana dirinya adalah senilai 6 juta itu dia terapkan di dalam perusahaan saya nggak, sehingga saya boleh diuntungkan seperti yang dia katakan keberadaan dia senilai dari 6 juta itu?” Itu namanya saya layak untuk menerima 6 juta itu.
Jadi pada waktu kita datang kepada Tuhan, kadang-kadang kita berkata “Tuhan kenapa Engkau menerima saya? Karena saya layak datang kepada Tuhan, saya layak untuk diselamatkan, saya layak untuk menerima Kerajaan Tuhan. Karena apa? Saya beda loh Tuhan, dari orang yang lain. Karena saya taat kepada Tuhan, karena saya setia menjalankan hukum Tuhan, karena saya rajin beribadah, saya rajin memberikan persembahan.” Tuhan ngomong, “Tidak, semua itu tidak akan membuat engkau ada di dalam Kerajaan surga.” Karena yang menentukan kita ada di dalam Kerajaan surga adalah semata-mata belas kasih Tuhan dan rencana Tuhan dalam kehidupan kita.
Makannya di sini Yesus berkata seorang yang dilahir barukan itu, itu adalah seperti kita mendengar angin. Kita tahu ada angin, tapi kita tidak pernah tahu angin itu bersumber dari mana arahnya datang tetapi kita bisa merasakan kehadiran dari angin itu dan kita bisa tahu bahwa angin itu betul-betul real dan ada. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai kelahiran baru, Yesus mau mengatakan hal itu adalah sesuatu yang merupakan pekerjaan supranatural dari Tuhan Allah sendiri dan itu adalah sesuatu yang misterius yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan manusia. Bukan melalui baptisan, bukan melalui pertobatan dan keinginan kita untuk diselamatkan, tapi karena kehendak Tuhan semata.
Makannya pada waktu Nikodemus bertanya bagaimana mungkin hal itu terjadi, Yesus berbicara dengan bahasa lain mengatakan “Kecuali seorang itu dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ini adalah satu perkataan yang sama dengan ayat yang ketiga “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Ayat 5 bukan berbicara mengenai baptisan, tetapi ayat 5 itu menjadi suatu penekanan yang lebih dalam dari apa yang dimaksudkan dengan dilahirkan kembali dan dasarnya apa. Karena ketika Yesus berbicara mengenai air dan Roh, sebenarnya Yesus sedang merujuk kepada satu ayat yang penting dalam Yeh. 36:25-27.
Bapak, Ibu boleh buka di sana ya. Yeh. 36:25-27 “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” Bapak, Ibu boleh perhatikan di dalam ayat 25 sampai ayat yang 27, ada kata apa yang terus menerus diulang di situ? ”Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih”, lalu kemudian ayat 26, ”Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu. Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu. Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku.” Semua mulai dari ”Aku akan, Aku akan, Aku akan memberikan”, baru di ayat 28 dikatakan, ”Kamu akan diam di dalam negeri yang diberikan kepada nenek moyangmu, yang Kuberikan, dan Aku akan menjadi Allahmu.”
Jadi, maksudnya adalah ketika Yesus bicara “Kecuali engkau dimurnikan atau dilahirkan dari air dan Roh,” Yesus sedang mau merujuk pada Yehezkiel tadi 36, yang mau mengatakan bahwa semuanya itu bisa terjadi karena Tuhan berjanji kepada umat-Nya dan Tuhan mengadakan perjanjian baru dengan umat-Nya. Itu yang dimaksud di sini. Jadi, ketika Nikodemus berpikir, ”Bagaimana saya bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah?” itu bukan sesuatu yang kau bisa dapatkan dari Perjanjian Lama, tetapi itu sesuatu yang bisa terjadi dalam hidupmu karena Aku membuat perjanjian baru dengan engkau. Perjanjian baru itu apa? Perjanjian baru di mana Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus kita dari dosa-dosa kita. Di dalam Kristus, Allah membenarkan diri kita dan memberikan kehidupan yang kekal bagi kita. Tetapi semua itu, sesuatu yang bukan karena kita layak untuk menerimanya, maka Tuhan kerjakan. Tapi semua itu adalah karena kasih Tuhan yang membuat Tuhan mengerjakan semua itu bagi diri kita. Dan ketika kita diberikan kasih itu, baru dari situ kita bisa merespons, baru kita bisa menjadi umat dari Tuhan, baru dari situ kita bisa menaati Tuhan.
Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita tanya, “Apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh Kerajaan Allah?” Jawabannya apa? Jawabannya karena? Jawabannya karena apa? Karena anugerah. Ada yang bisa kita lakukan? Tidak ada. Jadi kalau kita tanya, “apa yang harus aku lakukan?” Jawabannya tidak ada. Lalu kalau tanya, “Apa yang aku bisa lakukan untuk diselamatkan di dalam Kristus?” Jawabannya apa? Percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi, untuk bisa percaya kepada Kristus, di situ ada Roh Kudus yang bekerja terlebih dahulu dalam diri kita untuk melahirbarukan kita.
Di dalam Wahyu, ada satu ilustrasi: Yesus berdiri di depan pintu mengetok pintu. Pintu itu apa? Hati kita. Siapa yang berdiri di depan pintu? Yesus Kristus. Yesus masuk ke dalam diri kita, tinggal di dalam diri kita kalau kita membuka pintu itu kan? Siapa yang membuka pintu itu? Saya. Atas keinginan siapa saya membuka pintu itu? Kalau kaum Injili, biasanya ngomong karena keinginan saya. Tetapi Reformed mengatakan, kalau kita bandingkan dengan Yohanes 3 mengatakan, Roh Kudus yang membuat saya mau membuka pintu itu dan mengizinkan Yesus masuk. Hal itu terjadi karena kelahiran baru.
Jadi, kalau kita belum dilahirbarukan, nggak ada satu orang pun yang akan berkata, ”Saya butuh Kristus, saya butuh untuk diselamatkan.” Kayak seorang bayi ketika dia lahir dalam dunia ini, hal pertama adalah bukan karena keinginan dia. Siapa dari antara Bapak, Ibu pernah berkata pada orang tuanya, ”Pa kenapa saya lahir dalam dunia ini?” Papa, mamanya pasti ngomong, ”Ya, karena papa mama ingin punya anak”, bukan karena kita yang ingin lahir dalam dunia ini. Tapi sebelum kita lahir, bisa nggak kita ngomong, “Pa, kenapa saya lahir dalam dunia ini?” Nggak, kan? Hal itu baru bisa kita katakan ketika kita sudah lahir dari dalam perut Mama. Baru kita bisa teriak nangis, baru kita bisa belajar berbicara, baru kita bisa bertanya.
Jadi pada waktu kita berbicara mengenai kelahiran baru, apa yang mendorong kita dilahirbarukan? Bukan karena kita yang mau, tetapi karena Allah yang mau kita dilahirbarukan, atau dilahirkan ke dalam dunia ini. Tapi setelah kita dilahirkan, baru di situ kita bisa berteriak “Tuhan, saya butuh Engkau. Tuhan, saya mau percaya kepada Engkau karena saya tahu Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat, dan di luar Engkau tidak ada Allah dan Juruselamat yang lain.” Itu maksud daripada yang Yesus ajarkan di sini. Dan Yesus berkata “itu adalah sesungguh-sungguhnya”, maksudnya adalah apa yang Aku katakan itu adalah kebenaran. Kebenaran yang kita harus terima karena ini perkataan yang sesungguhnya dari Tuhan sendiri.
Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, terakhir, pada waktu kita berbicara, semua itu adalah hal yang penting, kelahiran baru. Dan kelahiran baru itu bukan sesuatu yang kita bisa usahakan dalam hidup kita. Tetapi hal itu adalah pekerjaan supranatural dari Tuhan, yang secara misterius diberikan kepada diri kita. Pertanyaannya adalah kalau begitu ada tandanya nggak kalau kita sudah dilahirbarukan? Ada buktinya nggak? Bukankah Itu semua adalah tindakan Tuhan dalam hidup saya? Kalau itu semua adalah tindakan Tuhan dalam hidup saya, peran saya apa? Ada sesuatu yang penting nggak yang harus saya lakukan untuk menyatakan bahwa saya sudah dilahirbarukan?
Nah, ini kembali kepada ayat di mana Yesus berbicara “angin bertiup dari arah mana”. Kita nggak tahu. Tapi kita tahu ada angin di situ. Maksudnya adalah kelahiran baru bukan sesuatu yang kita bisa prediksi. Kelahiran baru itu misterius. Mungkin ada beberapa orang yang tahu kapan dia bertobat, kapan dia dilahirbarukan. Kayak misalnya John Wesley. Dia ketika melayani Tuhan, selama hidup dia, dia melayani dengan hati yang mungkin agak kosong, seperti itu. Dia sudah menjadi pendeta atau penginjil yang pergi ke mana-mana memberitakan Firman. Tapi suatu hari, ya, apakah ini kita bisa ngomong ada satu anugerah yang dia terima, yang membuat dia tersadar akan anugerah Kristus lebih besar, atau dia baru dilahirbarukan di situ, mungkin kita bisa ngomong dia baru dilahirkan baru. Anggaplah seperti itu, karena John Wesley mengatakan seperti itu, ya. Suatu hari ketika dia menghadiri satu ibadah tertentu, dia baru tersadar bahwa dia membutuhkan Kristus, dan ada damai yang ada di dalam hatinya. Ada api yang mulai membara dalam hidup dia terhadap Kristus. Dia menjadi orang yang berbeda.
Kalau Spurgeon, dia seperti ini. Ketika dia di usia 15 tahun, dia ingin pergi ke gereja. Sebelumnya dia sudah pergi ke gereja, dia rajin sekali pergi ke gereja kecuali kalau ada halangan-halangan tertentu yang membuat dia nggak bisa datang. Tapi kalau ada kesempatan, dia pasti ingin pergi ke gereja walaupun angin, bukan angin, walaupun terjadi badai salju sekalipun, dia berusaha untuk pergi ke gereja. Satu hari ketika di usia 15 tahun, dia ingin pergi ke gereja. Tapi dia tidak bisa pergi ke gereja di mana dia tempat biasa berbakti, karena badai salju terlalu hebat. Akhirnya dia pergi, jalan. Dia ketika jalan, dia lihat sebelah kiri ada sebuah gereja. Lalu dia masuk ke dalam gereja itu, dan ketika dia duduk di situ, pendetanya ternyata nggak bisa hadir juga karena badai salju terlalu besar. Lalu berdirilah seorang yang nggak tahu siapa itu, lalu mulai berkhotbah tentang “Lihatlah, pandanglah kepada Yesus. Hanya memandang kepada Yesus.” Dan ketika dia melihat kepada Spurgeon, dia ngomong “Hai anak muda, saya lihat mukamu penuh dengan kemuraman, kesusahan.” Spurgeon kemudian hari catat “Saya punya muka memang dari dulu sampai sekarang seperti penuh dengan kemuraman.” Tetapi pendeta itu, eh, bukan pendeta ya, orang itu kemudian berkata seperti ini, “Kalau engkau ingin mendapatkan damai sejahtera, kalau engkau ingin mendapatkan sukacita, dengar perkataanku, pandanglah kepada Yesus. Kalau tidak, engkau ada di bawah hukuman Tuhan.” Intinya kira-kira seperti itu. Lalu Spurgeon mengatakan “Saat itu juga, saya mendadak melihat Tuhan dan saya dilahirbarukan. Dengan cara apa? Memandang kepada Yesus Kristus.”
Jadi ada orang-orang tertentu yang mungkin bisa merujuk secara spesifik saya lahir baru tanggal berapa. Tetapi kalau kita bicara kelahiran baru itu sesuatu yang misterius, sesuatu yang Tuhan kerjakan, maka kemungkinan adalah mayoritas dari kita nggak pernah tahu kapan kita dilahirbarukan. Tapi kalau kita nggak pernah tahu kapan kita dilahirbarukan, bagaimana kita tahu kita sudah dilahirbarukan atau belum? Nah, ini berkaitan dengan tanda yang ada di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Pertama apa? Kalau kita baca Yohanes 1, di situ dikatakan pada waktu kita percaya, maka Tuhan memberi kita kuasa untuk menjadi? Menjadi apa? Anak-anak Tuhan. Maksudnya adalah pada waktu kita sudah dilahirkan kembali oleh Tuhan, maka hati kita jadi baru. Keinginan kita menjadi baru, kesukaan kita juga menjadi baru, ingin bersama dengan anak-anak Tuhan yang lain.
Saudara bisa perhatikan ini di dalam kehidupan Rasul Paulus. Pada waktu dia belum menjadi rasul, dia melayani sebagai seorang Farisi yang begitu ngotot untuk agama Yahudi. Ke mana-mana dia membawa surat dari Mahkamah Agama untuk pergi dan menangkap orang Yahudi Kristen, menangkap mereka, menyeret mereka, meminta mereka supaya bertobat dari tindakan mereka sebagai orang Kristen. Lalu kembali kepada agama Yahudi. Kalau mereka nggak mau, mereka juga akan dibunuh oleh Paulus. Tidak segan-segan dibunuh. Dia pergi ke mana-mana. Jadi umat Tuhan adalah orang yang dibenci oleh Paulus. Tetapi ketika dia bertobat, apa yang dia lakukan? Bapak Ibu dia nggak ngomong kayak gini lho, “Bapak, Ibu saya itu sudah bunuh orang Kristen berapa banyak ya, saya sudah aniaya orang Kristen dan saya sudah sakiti orang Kristen, maka mulai sekarang saya memang sudah percaya kepada Kristus, tapi saya nggak mau bergabung dengan orang Kristen, itu bahaya!” Nggak. Tapi yang dilakukan oleh Paulus adalah dari detik dia bertobat, dia langsung ada bersama-sama dengan orang-orang percaya, orang kudus.
Nah mungkin yang terjadi yang kaget itu adalah orang-orang kudus yang lain. “Lho siapa dia? Dia adalah Paulus, dia adalah penganiaya kita, kok dia sekarang ada bersama-sama dengan kita untuk beribadah dengan kita?” Tapi itu adalah tanda anak Tuhan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita sungguh-sungguh adalah anak Tuhan, maka hal yang pertama adalah kita senang bersama dengan orang-orang kudus yang lain, kita senang bersekutu dengan orang Kristen, kita senang beribadah dengan orang-orang Kristen. Itu yang akan terjadi dalam kehidupan kita, karena kita adalah anak-anak Allah.
Yang kedua adalah, kita diberikan identitas yang baru. Mirip dengan yang pertama, saya adalah anak Allah, tetapi identitas yang baru ini membuat kita ada di dalam kasih Tuhan dan kita ada di dalam kerajaan-Nya. Misal di dalam Yoh. 3:16, di situ dikatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Bapak, Ibu sudah punya hidup yang kekal? Pernahkah kita bertanya atau berkata kepada Tuhan dengan menggunakan ayat 16 ini, “Karena begitu besar kasih Allah kepada Dawis, sehingga dikaruniakan-Nya anak-Nya yang tunggal supaya Dawis ketika percaya kepada-Nya, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”?
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kematian Kristus di atas kayu salib, itu adalah fakta sejarah, itu adalah kebenaran yang objektif. Mau orang Kristen, mau bukan orang Kristen, harus akui Yesus pernah lahir dalam dunia ini, pernah mati di atas kayu salib untuk mati menebus dosa manusia. Satu hari saat Yesus datang kedua kali semua orang harus mengaku bahwa Yesus pernah datang ke dalam dunia untuk mati untuk dosa manusia. Untuk siapa? Semua manusia. Tetapi pada waktu kita berkata Yesus yang mati untuk semua manusia maka apakah itu berarti semua manusia tidak perlu datang pada Yesus bisa diselamatkan karena Yesus sudah mati bagi semua manusia? Alkitab bilang tidak. Hanya mereka yang datang kepada Yesus dengan hati yang bertobat dari dosa dan mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, dia yang diselamatkan, bukan semua manusia. Semua di situ berbicara mengenai orang yang percaya dan bertobat dari dosa lalu datang kepada Yesus Kristus.
Jadi keselamatan bukan didapatkan oleh semua manusia apa pun agamanya, keselamatan hanya didapatkan dari orang yang keluar dari agamanya apa pun itu, masuk ke dalam iman Kristen, agama Kristen dan mengikut Kristus dalam hidup dia. Itu adalah orang yang diselamatkan. Saya sengaja menggunakan agama Kristen karena ketika kita bicara mengikut Yesus, mengikut itu bukan dari mulut, tetapi dari gaya hidup mempengaruhi kehidupan kita, itulah tanda dari orang itu sudah diselamatkan. Jadi ada kesatuan dari umat percaya, kita senang bersama dengan orang percaya. Yang kedua adalah kita diberikan identitas yang baru dan kehidupan yang baru orang yang ada kekekalan bersama dengan Tuhan. Orang yang ada bersama dengan Tuhan, karena saya memiliki iman kepada Yesus Kristus di dalam hidup saya.
Tetapi yang ketiga adalah hal yang juga penting sekali. Apa tanda orang yang sudah menerima anugerah dari Roh Kudus dan keselamatan dari Kristus? Yaitu dia percaya tapi dia juga memiliki hati yang hancur dan remuk di hadapan Tuhan. Percaya apa? Percaya tindakan Tuhan di dalam menyelamatkan Dia. Bukan percaya pada imannya yang percaya kepada Tuhan, tetapi percaya pada apa yang Tuhan lakukan bagi diri dia. Itu adalah iman. Percaya bahwa Tuhan berkuasa memelihara hidup dia. Percaya bahwa perkataan yang Tuhan katakan itu adalah satu kebenaran di dalam kehidupan dia.
Tetapi di sisi lain, pada waktu dia percaya bahwa apa yang dia terima itu adalah anugerah dari Tuhan, kasih karunia dari Tuhan, maka itu nggak mungkin membuat kita menjadi orang yang sombong. Kalau Saudara berpikir Saudara adalah seseorang yang hebat karena status Saudara, karena pelayanan yang Saudara kerjakan, karena posisi yang Saudara miliki dalam masyarakat, karena banyaknya uang yang Saudara punyai dalam hidupmu, dan Saudara merasa engkau adalah orang Kristen yang baik dan apa yang kau lakukan untuk membantu orang Kristen dan mendukung pekerjaan Tuhan, saya kira itu adalah sesuatu yang mungkin bersumber dari hati yang salah karena orang Kristen ketika datang kepada Kristus, dia nggak mungkin bisa membanggakan semua itu. Yang dia bisa lakukan hanyalah meratap di hadapan Tuhan dan berkata, “Tuhan, kenapa Engkau mengasihi aku? Siapa aku? Layakkah aku menerima anugerah keselamatan di dalam Kristus ini? Aku bukan siapa-siapa. Aku bisa ada di dalam gereja ini pun, bersama dengan orang-orang Kristen disebut sebagai umat Allah, bukan karena keinginanku, tapi karena keinginan Tuhan saja yang diberikan kepada diriku. Dan aku tahu bahwa ketika aku ada di sini, itu adalah sesuatu yang begitu berharga sekali dalam hidupku. Dan mulai hari ini aku nggak akan meninggalkan Tuhan lagi. Saya ingin bersama dengan Tuhan karena kebaikan Tuhan yang begitu besar dalam kehidupanku. Saya bukan siapa-siapa, Tuhan. Dan saya betul-betul ingin hidup mempercayai Tuhan mulai hari ini dan seterusnya dalam kehidupan saya.”
Saudara, orang yang betul-betul mengerti penebusan Kristus, dia akan datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati. Dia akan punya gaya hidup rendah hati. Dia akan datang dan hidup atau menyatakan kehidupan yang penuh dengan kemurahan dan belas kasih. Dan ketika ada orang yang menghina dia, dia akan berkata, “Aku memang bukan siapa-siapa karena aku adalah orang yang memang hina tapi mendapatkan kasih Tuhan di dalam hidupku!”
Banyak dari kita pikir kita melayani Tuhan tetapi saya percaya salah satu hal yang baik di dalam pelayanan adalah Tuhan izinkan kadang kondisi-kondisi yang tidak sesuai dengan pengharapan kita. Orang-orang yang tidak sesuai dengan kriteria kita ada bersama dengan kita supaya kita belajar meluruskan kembali motivasi kita dan menguji kembali hati kita, “Saya sedang melayani siapa? Siapa diri saya sesungguhnya? Adakah kasih Tuhan dalam hidup saya? Adakan kemurahan Tuhan dalam kehidupan saya? Dan keberadaan saya adalah hanya ada bukan karena saya diterima manusia tapi karena Tuhan yang melayakkan saya ada dan ada bersama dengan umat Tuhan”. Saya lihat ini adalah tanda yang harus dimiliki oleh umat percaya.
Jadi, sekali lagi, bagaimana saya masuk ke dalam Kerajaan surga? Itu kasih karunia. Itu pekerjaan Tuhan melahirbarukan saya. Tetapi pekerjaan Tuhan di dalam melahirkan baru saya nggak mungkin tidak disertai oleh tanda. Tandanya apa? Saya mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati kalau Yesus adalah Tuhan dan Dia adalah Juruselamat dalam hidup saya. Ada pertobatan dari dosa dan keputusan untuk datang kepada Tuhan.
Tetapi orang yang datang kepada Tuhan tidak mungkin beribadah secara individu melainkan dia akan nyaman bersama dengan umat percaya. Dia akan belajar untuk hidup di dalam penyangkalan diri karena memang dia bukan siapa-siapa dan, apa? Dia adalah orang yang sudah dikaruniakan hidup kekal, identitas baru. Kalau mau ditarik sedikit, dia punya mental yang berbeda, dia punya cara pandang yang berbeda di dalam melihat segala sesuatu. Dia bukan lagi mengukur segala sesuatu dengan apa yang dia nilai benar, tapi dia mengukur segala sesuatu berdasarkan apa yang Tuhan ingin dia nilai dan Tuhan katakan kebenaran. Itu adalah anak Tuhan. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita, ya. Mari kita masuk di dalam doa.
Kembali bersyukur, Bapa, untuk anugerah-Mu. Kembali bersyukur untuk kebenaran. Kami boleh diajak kembali untuk menguji apakah kami adalah orang-orang yang sudah dilahirbarukan di dalam Kristus atau belum. Tolong kami, ya Tuhan, jika kami belum, biarlah Engkau boleh mencelikkan mata hati kami dan Kau boleh menyatakan kebenaran. Dan kalau kami sudah mendengar hal itu tapi kami merasa masih belum ada sesuatu yang menggerakkan kami, kiranya Engkau boleh membuka telinga kami untuk mendengar dan mengerti. Bukan karena firman-Mu dan Injil-Mu belum dikabarkan, tetapi karena kami mungkin masih berkeras hati untuk melawan Tuhan dan merasa tidak terlalu berguna untuk datang kepada Kristus dan mentaati Kristus. Berikan kami kelembutan hati, ya Tuhan, dan hidup sebagai anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh menyatakan kalau kami sudah menjadi milik-Mu dan kami adalah umat-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus yaitu Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami telah berdoa. Amin. (HS)
