Penantian Simeon, 1 Desember 2024

Penantian Simeon

Luk. 2:21-32

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Luk. 2 ini mengisahkan Yesus sudah lahir ke dalam dunia ini. Dan sebagai orang yang lahir dalam dunia ini, di dalam keluarga yang taat kepada Tuhan, maka ada hukum Tuhan yang diminta untuk dijalankan oleh keluarga tersebut. Dan salah satunya adalah: kalau anak itu adalah anak yang sulung, mereka harus bawa anak itu ke hadapan Tuhan. Sebenarnya nggak harus ke Bait Allah, tapi mereka bisa bawa itu ke rumah Tuhan yang ada mungkin di sekitar tempat mereka dan membawa persembahan bagi Tuhan, ada yang mengatakan seperti itu. Tetapi pada waktu kita membaca Luk. 2 ini, maka dikatakan bahwa Maria dan Yusuf itu bukan membawa bayi Yesus atau Anak Yesus ini kepada rumah Tuhan yang ada di daerah mereka tetapi mereka secara khusus membawa Anak ini ke Bait Allah. Ada yang mengatakan, “Apa yang menjadi penyebab Anak ini dibawa ke Bait Allah?” Karena orang tua mereka betul-betul memahami bahwa Anak ini bukan anak-anak seperti anak-anak yang lain, tetapi Anak ini terlahir karena ada janji Tuhan kepada umat Israel: kepada bapak Abraham, kepada Raja Daud, dan bahkan jauh sebelumnya yaitu kepada Adam dan Hawa. Ini adalah Juruselamat. Dia adalah Mesias. Dia adalah Kristus. Dia adalah Yesus itu, yang Alkitab katakan kepada Maria yang akan lahir dari dalam kandungannya tanpa melalui hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dan kita bisa melihat kesalehan dari Maria ini dari nama yang diberikan kepada Anak ini. Di sini dikatakan: nama itu adalah Yesus. Dia adalah seorang yang disebut dengan sebagai Juruselamat atau itu adalah istilah lain dari nama Yesus itu.

Dan kenapa dibawa ke dalam Bait Allah? Karena mereka betul-betul mengerti ini adalah pekerjaan Tuhan dan mereka ingin berbakti sungguh-sungguh kepada Tuhan dan memberikan lebih kepada Tuhan. Tapi pada waktu mereka tiba di dalam Bait Allah itu, terjadi sesuatu hal, yaitu mereka dikagetkan oleh dua orang yang ada di sana, yang satu adalah Simeon dan yang satu lagi adalah Hana. Siapa orang ini? Kalau Hana dikatakan dia adalah seorang nabiah. Tetapi kalau kita tanya, “siapa Simeon ini?” Maka Saudara akan berkata, atau ketika Saudara mencari di dalam Kitab Suci, maka Saudara tidak akan menemukan Simeon ini.

Memang nama Simeon itu banyak di dalam Kitab Suci, banyak di antara kalangan orang-orang Yahudi, karena nama ini punya pengertian yang baik sekali, yang sangat indah sekali, yaitu: Allah mendengar. Tetapi pada waktu kita bicara mengenai Simeon yang satu ini, yang ada di dalam Bait Suci itu, dan kita tanya, “Siapa dia?” Maka Saudara boleh baca dari Matius sampai Yohanes atau sampai Wahyu, Saudara tidak akan menemukan nama Simeon kecuali di tempat ini. Jadi, ini adalah satu-satunya perikop yang berbicara mengenai Simeon, mengenai Hana tersebut. Jadi artinya apa? Artinya adalah Simeon ini bukan orang yang penting. Dia bukan orang besar. Dia bukan imam. Dia bukan keturunan dari Lewi, mungkin, yang melayani di Bait Allah. Lalu siapa dia? Dia bukan orang kaya. Dia bukan orang yang memiliki kedudukan yang tinggi di dalam masyarakat orang-orang Yahudi. Lalu siapa dia? Ada yang menafsirkan dia hanya orang biasa, orang awam, umat Tuhan yang datang ke dalam Bait Allah – atau ke gereja – sehari-hari untuk beribadah kepada Tuhan.

Tetapi menariknya adalah pada waktu Alkitab mencatat mengenai Simeon, si orang biasa ini, ternyata Tuhan menggunakan Simeon yang biasa itu untuk sesuatu pekerjaan yang luar biasa. Pekerjaan yang luar biasanya di mana? Yaitu Simeon menjadi orang yang Tuhan pakai untuk membicarakan mengenai bayi Yesus ini. Saudara bisa lihat di dalam nyanyian pujian yang dinaikkan itu: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel”. Ayat 33 kita tidak baca tadi, tapi di sini dikatakan: “Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia”. Jadi ada satu kesaksian yang Tuhan berikan kepada Maria, pada Yusuf, kepada kita mengenai Anak ini melalui seorang yang bernama Simeon. Siapa dia? Bukan siapa-siapa. Orang yang biasa, orang yang sederhana, orang yang mungkin kita bisa temui sehari-hari dalam kehidupan kita, bukan orang penting yang harus bikin appointment dulu baru bisa bertemu dengan diri dia. Tapi orang yang ada di depan mata yang sama-sama, yang berada di pasar bersama-sama dengan kita, mungkin seperti itu. Dia adalah Simeon itu.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah cara kerja Tuhan kita. Kalau ketika kita bicara mengenai bagaimana Tuhan bekerja? Tuhan bekerja bukan melalui orang-orang yang penting walaupun Alkitab berkata, “Ada orang-orang yang penting yang Tuhan turut bekerja di dalamnya.” Misalnya di dalam Korintus dikatakan, “Di antara kita tidak banyak yang punya jabatan, tidak banyak yang punya uang yang banyak, tetapi Tuhan bekerja melalui budak-budak yang ada. Orang-orang yang lemah, orang-orang yang kecil, orang-orang yang dipandang rendah oleh dunia ini, Tuhan bekerja melalui mereka untuk sesuatu yang luar biasa yang Tuhan persiapkan bagi umat Tuhan ini.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya kira, ya, pada waktu kita berhadapan dengan Tuhan Yesus nantinya kita akan dibawa atau dibuat membelalakkan mata kita ketika kita masuk ke dalam surga. Karena apa? Karena ketika kita ada di dalam surga, mungkin ekspektasi kita mengenai siapa yang ada di dalam surga bersama-sama dengan diri kita itu adalah hal yang di luar dari dugaan kita dan tidak seperti apa yang kita pikirkan. Kalau kita biasanya melihat siapa orang yang penting, “Siapa orang yang baik itu? Siapa orang yang diperkenan oleh Tuhan di mana Tuhan bekerja? Melalui siapa Tuhan bekerja?” Mungkin dalam pemikiran kita umumnya adalah, “Oh, mereka seperti apa yang dicari oleh orang-orang majus yang datang dari Timur.” Pada waktu mereka melihat bintang dari Anak itulahir atau muncul di langit, mereka pergi jauh-jauh, berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk mencari Anak itu. Tapi pada waktu diamencari Anak itu, ke mana mereka mencari Anak itu? Alkitab tidak mencatat mereka mencari ke kandang domba. Merekatidak mencatat mereka mencari ke rumah yang biasa. Alkitab mencatat mereka pertama kali mencari itu ke dalam istana dari Raja Herodes. Karena apa? Yang lahir seorang Raja. Yang lahir seorang yang diurapi oleh Tuhan, yang dijanjikan oleh Tuhan sejak dahulu kala. Iniorang besar sekali. Orang yang akan memerintah seluruh bangsa dari Israel dan bahkan seluruh dunia lahir ke dalam dunia ini. Mungkinkah Dia lahir di tempat yang hina? Yang membuat diri Dia dihina oleh orang lain? Dalam pikiran kita pasti tidak. Dia akan lahir di tempat yang penting di mana semua orang akan mengenali diri Dia dan kita pun sering kali berpikir Tuhan bekerja melalui orang-orang yang baik, orang-orang yang penting, orang-orang yang bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang besar. Tapi orang-orang yang kecil mungkin kita pandang dengan sebelah mata.

Tapi di dalam bagianini, Tuhan mau mengajak kita melihat pada waktu kita berhadapan dengan Tuhan di dalam surga mungkin yang kita lihat adalah orang-orang yang kita nggak perkirakan ada di dalam surga. Tapi dia ada. Mungkin diaadalah orang-orang yang kita benci, yang kita nggak mau bergaul dengan diri dia. Tapi karena imannya di dalam Tuhan, karena kesetiaannya di dalam Tuhan, maka dia akhirnya ada di dalam surga bersama-sama dengan kita; mungkin menjadi tetangga kita di dalam kekekalan nanti. Tapi orang-orang yang kita hormati di dalam dunia ini, orang-orang yang kita segani, orang-orang yang kita takuti dalam kehidupan kita, orang-orang yang kita anggap penting kehidupan kita, ternyata nggak ada di sana.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Lukas menjadi satu Injil yang ditujukan kepada orang-orang yang rendah. Kalau Bapak, Ibu baca di dalam Injil Lukas, menarik sekali, ketika Anak itu lahir di sana, siapa yang mendapatkan berita pertama dari kelahiran Yesus Kristus? Bukan orang Farisi dan bukan ahli Taurat yang menjadi pendeta atau menjadi ketua sinode. Tetapi yang mendapatkan kabar baik itu adalah justru orang-orang yang dianggap berdosa di dalam masyarakat, orang-orang yang di mana orang-orang suci itu nggak mau bergaul dengan diri mereka, walaupun mereka juga memanfaatkan orang-orang ini untuk, mungkin, menggembalakan kambing, domba mereka. Tapi yang mendapatkan kabar baik pertama itu adalah para gembala yang ada di padang gurun, yang siang malam menjaga domba, yang mungkin jarang sekali memikirkan mengenai ibadah kepada Tuhan. Dan bahkan kalau mereka pun ingin datang ke Bait Allah untuk beribadah, mungkin mereka akan dikucilkan atau disuruh bagian paling hina di dalam gereja atau di dalam rumah Tuhan supaya mereka tidak bersentuhan dengan orang-orang najis ini. Tapi di situ berita kabar baik itu pertama kali diberikan kepada mereka.

Luar biasa tidak? Saya kalau pikir ini, saya rasa ini adalah hal yang nggak masuk akal. Karena seharusnya Tuhan pergi ke Bait Allah, Tuhan umumkan kelahiran Dia di sana, Tuhan umumkan kepada orang-orang yang giat beribadah kepada Tuhan dan mencari Tuhan dalam hidup mereka, bukan kepada orang yang hina seperti ini. Tapi itu yang dilakukan oleh Tuhan melalui malaikat-Nya. Lalu siapa lagi? Saudara bisa melihat di dalam Injil Lukas, kepada anak-anak kecil, kepada para perempuan yang merupakan kelas kedua mungkin, atau kelas ketiga di dalam masyarakat. Di situ Tuhan melayani mereka dan mengabarkan kasih-Nya kepada mereka.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melihat kepada Simeon ini, jangan pikir dia adalah orang yang penting, tapi dia adalah orang yang biasa, biasa sekali, yang kemudian dipakai oleh Tuhan secara luar biasa dengan cara mengerti akan rencana Tuhan dan diberi kesempatan untuk memproklamirkan kelahiran dari bayi itu dan apa yang akan dikerjakan oleh bayi Yesus Kristus ini.

Nah kalau kita tanya, apa yang menjadi rahasianya? Sebelum kita masuk ke dalam rahasia itu, saya mau mungkin tekankan satu ini ya; bahkan ketika dia melihat kepada bayi itu, dia berani berkata bahwa dia sekarang rela mati karena dia sudah menggendong bayi itu. Nah sekarang kita masuk, apa yang menjadi rahasia yang membuat dia menjadi orang yang dipakai oleh Tuhan ketika hari Natal itu tiba? Ada paling tidak 3 hal yang kita bisa renungkan di sini. Semuanya kita bisa lihat dari ayat yang ke-25 dan juga 26 dan seterusnya ya. Pertama adalah Simeon dikatakan adalah “orang yang benar dan saleh”. Maksudnya apa? Maksudnya adalah dia adalah orang yang sepanjang hidupnya berjalan bersama dengan Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, menarik sekali pada waktu kita berbicara mengenai Simeon ini dan identifikasi yang Alkitab berikan pada diri dia, Alkitab nggak berkata bahwa dia adalah seorang Farisi di situ. Alkitab nggak mengatakan dia adalah seorang yang menjadi pemimpin agama di dalam budaya orang Yahudi. Tetapi yang dikatakan di sana adalah dia adalah “orang yang benar dan orang yang saleh”, nggak ada identifikasi lain yang diberikan kepada Simeon ini. Artinya adalah pada waktu Allah melihat kepada manusia, hal yang penting dan utama itu adalah bukan seberapa tinggi posisi kita, bukan seberapa besar kekayaan kita, bukan seberapa penting kita di dalam masyarakat, bukan seberapa banyak orang menerima kita di dalam dunia ini, tapi yang penting adalah apakah kita berjalan di hadapan Tuhan di dalam kebenaran? Apakah kita berjalan mengikuti jalan yang Tuhan pimpin dalam kehidupan kita?

Istilah benar walaupun mungkin kita katakan, “Oh ini berbicara mengenai ada orang yang benar dalam dunianya, dia hidup secara taat kepada hukum Tuhan”, misalnya seperti itu, tetapi kalau Bapak, Ibu perhatikan di dalam Kitab Suci punya konteks, baik di dalam Perjanjian Lama ataupun di dalam Perjanjian Baru, kebenaran seseorang ketika Tuhan katakan, “Dia adalah orang benar,” itu tidak pernah didasarkan kepada apa yang dia lakukan sehingga Tuhan memperhitungkan dia sebagai orang yang benar. Maksudnya adalah kalau dia pergi beribadah, dia nggak pernah bolos dalam ibadah; dia suka menolong orang miskin; dia suka memberi persembahan untuk mendukung pekerjaan Tuhan; dia tidak pernah bolos dalam persekutuan doa; dia selalu setia hadir di mana pun umat Tuhan hadir. Maka, dia adalah orang yang benar di hadapan Tuhan karena ibadah yang dia kerjakan. Bukan seperti itu! Tetapi orang yang benar di dalam Alkitab-saya bukan ngomong hal itu nggak penting, ya. Itu penting, tetapi yang saya mau tekankan terlebih dahulu adalah orang yang benar di dalam Kitab Suci- adalah orang yang mendapatkan kasih karunia dari Tuhan. Nggak pernah didasarkan perbuatannya untuk membuat dia benar di hadapan Tuhan. Tetapi, baik di dalam Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru, orang benar adalah orang yang mendapatkan kasih Tuhan. Belas kasih karunia Tuhan dalam hidupnya. Seperti Abraham, ketika dia diperhitungkan Allah sebagai orang yang benar bukan berdasarkan perbuatan, tetapi imannya kepada Tuhan yang percaya kepada janji yang Tuhan berikan dalam hidup dia. Daud sendiri berkata, “Berbahagialah mereka yang dosanya tidak diingat oleh Tuhan. Yang disingkirkan sejauh-jauhnya dari hadapan Tuhan.” Itu adalah orang yang berbahagia; orang yang benar.

Jadi, pada waktu kita berbicara mengenai Simeon adalah orang yang benar dan saleh itu, apa yang dimaksud dengan “benar”? “Benar” bukan sesuatu yang bisa diusahakan oleh dirinya, tetapi dia adalah orang yang mendapatkan karunia dari Tuhan. Tetapi, mereka yang mendapatkan karunia dari Tuhan akan hidup di dalam kebenaran dan akan hidup di dalam kesalehan. Itu adalah orang yang takut Tuhan. Ada yang menafsirkan, “benar” bicara mengenai relasi horizontal antara saya dengan orang lain. Dan “saleh” berbicara mengenai relasi vertikal antara saya dengan Tuhan. Dan Simeon adalah orang yang seperti ini. Dia memiliki relasi yang baik dengan Allah dan dia memiliki relasi yang baik dengan sesamanya dan dia adalah orang yang hidup di dalam kebenaran yang Tuhan perintahkan untuk dia hidupi.

Jadi, siapa Simeon? Pertama, dia adalah orang yang selalu menjalani satu kehidupan yang Tuhan kehendaki untuk dia lakukan dalam hidup dia. Yang kedua adalah dia bukan hanya orang yang berjalan dengan jalan yang Tuhan pimpin atau yang Tuhan kehendaki, tetapi dia juga adalah orang yang selalu berusaha untuk mengerti kehendak Tuhan dalam hidup dia, selalu mencari apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup dia. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, coba bayangkan seperti ini, ya; di zaman kita saat ini, ketika hari Natal tiba, paling nggak ada pohon Natal di sini. Kemarin ada anak remaja kita tanya, “Pak Dawis, kok, setiap kali Natal ada pohon Natal di situ?” Saya ngomong, “Kamu cari dulu, ya. Setelah dapat, baru bicara dengan saya,” kayak gitu. Sebabnya karena apa? Tetapi, di dalam bulan Natal, kita selalu ada penanda. Pohon Natal berarti bulan Natal tiba. Lalu, apa lagi? Ada dekorasi-dekorasi yang baik di dalam gereja, ada hadiah, ada kemeriahan di dalam jalan-jalan, sehingga orang tahu bahwa hari Natal sudah tiba.

Tetapi, Bapak, Ibu kalau kembali ke dalam Natal yang pertama, Natal pertama itu bukan hari yang penuh dengan keindahan itu, tetapi Alkitab mengajarkan bahwa hari Natal adalah hari yang penuh dengan kekelaman, hari yang penuh dengan keberdosaan, hari di mana umat Tuhan sepertinya mencari Tuhan, beribadah kepada Tuhan, tetapi sebenarnya mereka hanya beribadah dengan mulut mereka tetapi sebenarnya hati mereka jauh dari Tuhan. Itu adalah hari Natal, hari di mana Yesus Kristus lahir di dalam dunia ini. Dan Alkitab mencatat, pada hari ketika Yesus Kristus lahir tidak ada 1 pintu rumah pun yang layak untuk bayi itu lahir di dalamnya yang terbuka untuk Yesus Kristus bisa lahir di dalamnya. Satu per satu pintu rumah diketuk oleh Yusuf dan Maria. “Tolong, istri saya mau lahir, sudah, sudah di ujung tanduk” Tapi mereka bilang, “Maaf ya, tempat kami penuh.” Nggak ada satu tuan rumah pun yang rela memberikan kamarnya untuk dipakai buat kelahiran dari bayi ini. Sampai akhirnya ketika sudah mendesak sekali dan orang pemilik hotel itu mungkin sudah tergerak sedikit, akhirnya dia ngomong, “satu-satunya tempat yang engkau bisa gunakan adalah kandang domba yang ada di sebelah rumah itu.” Tempat yang bau itu, tempat yang orang mungkin kecuali gembala dan suka binatang baru mau masuk ke dalam situ, tapi yang lain nggak mau menyentuh ke situ. Mungkin baru cium sedikit langsung pergi jauh-jauh.

Saya tahu rasanya karena dekat rumah sini, itu ada kandang sapi. Tiap kali kalau saya lewat situ nganter anak sekolah dulu, baunya itu dari berapa meter sebelumnya itu sudah kecium. Saya langsung ngomong “Tahan nafas, kita lewat ke situ.” Walaupun ada yang lucu dari jemaat kita dulu, setiap kali kita pergi ke pedesaan dia ngomongUuh wangi sekali, segar sekali, ini bener-bener bau desa.” Saya ketawa. “Mau tahu nggak itu bau apa?”, “Apa?” katanya. “Itu bau eek sapi.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan itu kandang di mana bayi ini lahir, tempat di mana bayi ini lahir. Dan ketika orang-orang Farisi dan ahli Taurat mendengar ada Mesias lahir dan mereka bisa merujuk di Bethlehem kota Daud, mereka pun tidak pergi ke sana untuk mencari bayi ini. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, sibuk dengan tugas mereka, sibuk dengan kesalehan diri mereka masing-masing. Sampai akhirnya bintang itu menuntun orang Majus untuk pergi dan akhirnya bertemu dengan bayi Yesus Kristus.

Nah, dalam kondisi seperti ini, ya, nggak ada orang yang peduli, nggak ada orang memikirkan tentang Mesias, semua orang memikirkan kebaikan dia, semua orang memikirkan usaha dia, semua orang memikirkan kesalehan dia, semua orang kalaupun, walaupun mendengar berita itu tidak menganggap berita itu sebagai satu yang penting, orang sepertinya beribadah tetapi hatinya jauh sekali dari Tuhan. Ada satu orang yang Alkitab katakan, adalah orang yang benar, orang yang saleh, yang tidak hidup seperti orang-orang ini. Dia terus mencari kehendak Tuhan, dan pada waktu bayi itu datang di hadapannya, dia langsung tahu, inilah bayi yang dijanjikan oleh Tuhan itu.

Nah, berbicara mengenai hal ini, di zaman kita sering kali nubuat itu sesuatu yang bersifat supranatural. “Oh Roh Kudus berbicara kepada kita secara langsung, baru saya tahu suara Tuhan dalam hidup saya.” Tetapi kalau Bapak, Ibu perhatikan di dalam Lukas 2 dan prinsip-prinsip di dalam Alkitab yang lain, Alkitab tidak mengatakan Roh Kudus itu, memang di sini Roh Kudus itu meneguhkan, apa yang dinyatakan oleh Roh Kudus kepada si Simeon itu adalah sesuatu yang kemudian diungkapkan oleh Simeon mengenai bayi ini, tetapi kalau Bapak, Ibu bandingkan dengan pujian yang si Simeon naikkan kepada Tuhan lalu komparasi dengan bagian bawah, di situ ada rujukan ayatnya, di situ ternyata Simeon sedang mengatakan bahwa apa yang dikatakan Roh Kudus itu adalah sesuai dengan firman Tuhan. Itu adalah sesuatu yang sudah dinubuatkan oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Paling tidak Bapak, Ibu bisa buka Maleakhi 4:2, di situ ada kalimat bahwa Simeon selama ini menantikan fajar itu. Terang itu datang, seperti yang Maleakhi 4 ayat yang 1b, ya, lalu ayat ke 2 itu sampaikan kepada umat Israel.

Artinya adalah pada waktu kita bicara, bagaimana saya bisa hidup di dalam ketaatan, bagaimana saya bisa hidup di dalam sesuatu pimpinan Roh Kudus dalam hidup saya, saya peka terhadap apa yang menjadi kebenaran Tuhan, saya selalu mencari kehendak Tuhan. Caranya adalah bukan dengan meditasi, pergi ke tempat-tempat yang keramat itu lalu berdoa meminta petunjuk Tuhan. Atau jam 2 pagi harus bangun dari tidur lalu berdoa, dan bahkan berdoa di lapangan yang terbuka supaya doanya langsung kepada Tuhan, baru kita bisa mendapatkan semua pengertian apa yang menjadi kehendak Tuhan. Saya ngomong ini karena ada orang Kristen yang melakukan ini. Tetapi Alkitab bicara, yang paling utama untuk bisa mengerti kehendak Tuhan dan berjalan di dalam kehendak Tuhan adalah pelajari firman Tuhan.

Saya ajak Bapak, Ibu buka ya, kalau kita bicara para rasul, bagaimana para rasul itu dan para nabi mengerti firman Tuhan? Mungkin kita akan ngomong, “Ya Roh Kudus bicara langsung sama mereka.” Tapi boleh buka surat Petrus. 1 Ptr. 1:10-11, kita baca sama-sama, “Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.” Lalu saudara boleh buka 2 Ptr. 3:15-16. 2 Ptr. 3:15-16, “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.

Kalau kita baca 2 bagian ini, kalau Bapak, Ibu mau bandingkan dengan 2 Ptr. 1:20-21, kita akan mendapat satu pengertian, para rasul dan para nabi sendiri ketika menubuatkan firman Tuhan kepada kita, dia juga harus meneliti nubuat yang disampaikan para rasul dan para nabi yang lain, bukan cuma diri dia dan bukan cuma diri dia dan Roh Kudus saja. Semua kebenaran yang disampaikan oleh Tuhan melalui umat Tuhan, rasul dan nabi yang lain yang dipimpin oleh Roh Kudus mereka harus pelajari, mereka harus teliti, mereka harus dalami karena itu adalah kehendak Tuhan. Jadi kita nggak bisa ngomong “Oh belajar PA nggak penting, Oh dengar firman nggak penting, kalau saya ragu saya nggak usah cari pendeta atau datang ke buku untuk referensi atau datang ke PA atau ke gereja tertentu walaupun gereja itu mengajarkan firman Tuhan secara begitu baik sekali. Yang kita lakukan apa? Cukup berdoa di hadapan Tuhan karena kita punya Roh Kudus. Roh Kudus akan berbicara dalam hati kita untuk menyatakan kebenaran Tuhan.” Saya cuma bicara satu kata ya untuk Bapak, Ibu ya kalau berpikir seperti itu, “sesat lu”. Itu satu-satunya kata. Karena Tuhan ketika memimpin, Dia memimpin melalui orang-orang kudus sebelum kita. Orang-orang kudus memiliki Roh Kudus, pasti Tuhan memimpin mereka. Kalau Tuhan memimpin mereka dan mereka sendiri harus belajar dari orang-orang kudus yang lain yang dipimpin oleh Roh Kudus, siapa kita sehingga tidak butuh orang-orang lain itu dalam hidup kita? Apakah kita lebih hebat dari orang-orang itu? Apakah lebih saleh dari orang-orang itu? Apakah kita lebih benar dari orang-orang itu? Saya yakin tidak.

Jadi, untuk kita bisa mengerti kebenaran firman seperti Simeon, dia meneliti, dia mempelajari, dia tahu Mesias akan lahir, dia tahu Mesias itu akan menjadi Raja, dia tahu Mesias itu akan menyelamatkan manusia dan dia tahu Mesias itu sudah lahir dan dia tahu itu adalah Mesias itu karena dia bergaul bersama dengan Tuhan.

Yang ketiga adalah; yang pertama berjalan di dalam langkah Tuhan, kedua belajar peka terhadap pimpinan Tuhan dalam hidup dia, tapi yang ketiga adalah dia adalah orang yang selalu berhubungan dengan, ya mungkin mirip kedua sedikit tapi ada penekanan, pimpinan roh kudus di dalam hidup dia. Ini dikatakan di dalam ayat 25. “Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu dia yang diurapi oleh Tuhan.”

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang membuat Simeon ini bisa mengerti mengenai Mesias? karena Dia selalu ingin menundukkan diri di bawah pimpinan Roh Kudus dalam hidup dia. Maksud menundukkan diri sebenarnya nggak jauh berbeda dari “Saya mengikuti perkataan Roh Kudus di dalam Kitab Suci dan selalu rela untuk dipimpin oleh Roh Kudus dalam kehidupan kita.” Ini kemudian dimunculkan di dalam pujian yang Saudara baca di dalam pujian Simeon ini. Jadi, apa yang menjadi dasar ini, itu yang dikatakan.

Nah, satu hal yang menarik ketika berbicara mengenai orang ini, yaitu ada satu kalimat yang tadi saya katakan, “pada waktu Simeon melihat bayi itu, dia menggendong bayi itu,” dikatakan bahwa “sekarang hamba-Mu bisa pergi di dalam damai sejahtera.” Nah, pada waktu bicara ini, ada dua hal yang saudara bisa perhatikan. Pertama adalah prinsip hamba. Dari mana? Dari ayat yang ke-29 di situ, “aku, sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi.” Maksudnya apa? Dia adalah orang yang menempatkan diri sebagai hamba Tuhan. Nah, hamba Tuhan ini seperti apa? Hamba Tuhan ini adalah orang yang selalu akan mengikuti, dan menantikan apa yang Tuhan janjikan. Dia selalu memiliki pengharapan di dalam Tuhan, dan selalu menantikan sampai apa yang dijanjikan Tuhan itu terjadi, atau terwujud. Itu adalah hamba. Mungkin kalau nama yang singkatnya adalah budak, kayak gitu, ya. Pokoknya tuannya ngomong apa, dia akan lakukan. Sebelum tuannya bilang silakan ngaso, kita nggak akan ngaso. Kita akan layani Tuhan kita, sampai dia bicara “cukup” untuk dilayani.

Nah, kalau mau bicara contoh di dalam Perjanjian Lama kayak Elia. Elia atau Elisa yang menghadapi nabi palsu di Gunung Karmel? Elia, ya? Elia waktu sudah memberikan korban persembahan, lalu kemudian dia membunuh 450 nabi Baal. Dia suruh Ahab pulang, karena hujan akan segera turun. Lalu apa yang dia lakukan? Dia kemudian naik ke atas gunung, dia berdoa di sana. Lalu setiap berdoa, dia suruh budaknya naik ke atas lagi, “lihat ada awan nggak?” Budaknya turun, kasih tahu “belum”. Dia doa lagi, suruh pergi lagi, “lihat ada awan nggak?” ”Belum,” turun lagi. Doa terus, sampai yang ketujuh kali ada awan. Lalu dia ngomong, “segera suruh Ahab pergi, karena hujan akan segera turun.” Saudara, budak kayak gitu nggak? Ketika Tuhan mengatakan kepada Simeon, “engkau akan melihat bayi itu, dan menatang itu.” Dia tiap hari menantikan bayi itu, kapan bayi itu datang, kapan dia bisa menggendong bayi itu. Dan ketika dijanjikan, “sebelum kau menggendong-Nya, engkau tidak akan mati.” Maka Simeon berkata, “setelah saya menggendong bayi itu, saya rela nyawa saya diambil oleh Tuhan.” Hamba adalah orang yang terus setia, selama Tuhannya berkata, “kerja, hari masih siang.” Kita nggak akan berhenti. Kita akan terus bekerja sampai Tuhan berkata, “Cukup. Mari hamba-Ku, datanglah kemari.”

Yang kedua adalah, ketika bicara mengenai hamba ini, ketika janji Tuhan digenapi, dia rela mati. Bapak, Ibu, Saudara tahu tidak, satu-satunya agama dalam dunia ini yang mengajarkan bagaimana orang mati itu Kristen. Dan pada waktu kita menghadapi kematian sebagai orang yang percaya kepada Kristus, kenapa orang Kristen bisa berkata, “hari ini Tuhan Engkau mau cabut nyawaku nggak apa apa aku rela.” Karena apa? Karena dia tahu maut sudah dikalahkan, kematian sudah dikalahkan di dalam Kristus. Dan dia tahu cara mengatasi maut itu. Itu yang membuat orang Kristen berani menghadapi. Dan banyak orang yang berpikir bahwa Simeon adalah orang tua, karena kalimat mengatakan sekarang saya mau mati pun nggak apa apa. Walaupun mungkin itu adalah hal yang benar. Tetapi Saudara kalau bicara seperti ini, Alkitab nggak ngomong berapa usianya. Nah ini membuat kita bisa menafsirkan dengan lebih bebas, dalam pengertian apa, nggak peduli usianya berapa, mau dia remaja mau dia sudah 70-80 tahun, mau dia masih sehat wal afiat, sudah sakit-sakitan dalam hidup dia, kalau dia sudah mengenal Kristus, dia sudah menerima janji Tuhan dan dia sungguh-sungguh mengalami janji Tuhan, kelahiran Kristus dalam hidup dia, mau dia muda, mau tua, mau dia sehat, mau sakit, dia akan siap kalau dia harus mati bagi Tuhan.

Saudara paham ya. Kita sering kali berpikir bahwa hidup dalam dunia ini yang penting. Mati muda itu sayang. Belum kawin, belum kerja, belum mencicipi kesenangan dunia. Ada benarnya karena dunia dicipta Tuhan untuk kita bisa nikmati, seperti itu. Tetapi Saudara juga harus berpikir ini bukan dunia yang direncanakan untuk kita. Ini adalah dunia sementara yang semua orang akan berlalu darinya. Yang benar adalah, kalau Saudara nonton Matrix itu ya, yang benar itu adalah yang di balik layarnya itu lho. Menarik Matrix bicara dunia ini semua direkayasa, sudah diprogram, seperti itu ya. Original itu adalah diri dia yang bukan tampil di dunia ini. Tapi kalau kita balik iman Kristen, ini real, ini nyata, ini bukan sesuatu yang semu kayak gitu. Tapi di balik dari yang nyata ini, kita diajak untuk melihat ada yang nyata juga. Yaitu satu kehidupan di dalam kekekalan bersama dengan Tuhan. Itu adalah nasib kita yang sesungguhnya. Itu adalah tujuan utama kita hidup dalam dunia ini dan mengenal Kristus.

Nah kalau Saudara tahu yang ada di sana lebih mulia daripada yang ada di sini, yang ada di sana tidak ada penderitaan seperti di dalam dunia ini, yang ada di sana adalah kekekalan tidak ada kematian dan kesedihan di dalam dunia ini, yang ada di sana adalah hal-hal yang baik yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan kita dan keluarga kita yang ada di dalam Kristus, mohon tanya, kalau hari ini Tuhan minta kita untuk masuk ke sana, Bapak, Ibu rela tidak? Itu Kristen. Itu adalah kehidupan yang bisa dialami oleh orang Kristen karena dia telah mengenal Kristus di dalam hidup dia. Ada satu pembaruan yang Tuhan kerjakan. Ada satu keyakinan terhadap janji Tuhan. Ada mata rohani yang bisa membuat kita melihat melampaui dari apa yang kita lihat di dalam dunia ini. Jadi itu sebabnya Simeon di sini bicara, “walaupun Tuhan mau memanggilku hari ini, aku mati, nggak apa apa karena Aku sudah melihat Anak itu.”

Dan pertanyaannya adalah, Bapak, Ibu, Saudara sudah melihat belum Anak itu? Sudah lihatkah? Sudah percayakah kepada Dia? Sudah lihatkah pekerjaan penebusan yang Dia lakukan dalam hidup kita? Karena itu yang menjadi tujuan Dia datang dalam dunia ini. Yang paling utama, mungkin bukan yang paling utama, salah satu dari yang paling utama. Sisanya apa? Datang 13 Desember, kita akan bahas di tempat ini di dalam kebaktian Natal. Mari kita masuk ke dalam doa.

Bapa bersyukur untuk firman-Mu. Untuk kebenaran-Mu bagi kami. Bersyukur atas kelahiran Kristus. Bersyukur atas penebusan yang kau berikan kepada kami. Tolong kami hidup di dalam kesalehan ya Tuhan. Tolong kami hidup di dalam kebenaran. Tolong kami hidup di dalam iman. Tolong kami hidup di dalam perjalanan yang bersama dengan Tuhan. Berkati kami dengan segala hikmat dan bijaksana dan juga kebenaran yang Tuhan telah karuniakan. Di dalam nama Tuhan Yesus kami telah berdoa. Amin. (HS)