Kepenuhan Waktu Sang Juruselamat, 8 Desember 2024

Kepenuhan Waktu Sang Juruselamat

Gal. 4:4-5

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, penciptaan dunia ini bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ketika Tuhan menciptakan dunia, ketika Tuhan menciptakan ruang, Tuhan menciptakan waktu itu sendiri, itu bukan sesuatu hal yang kebetulan, itu bukan sesuatu hal yang salah. Waktu Tuhan menciptakan dunia ini, betul-betul dalam rencana Tuhan yang baik dan indah. Tetapi kenapa pada akhirnya juga, dunia yang begitu baik dan indah ini, masuk ke dalam kondisi maupun status yang buruk yang berdosa? Masuknya dosa ke dalam dunia yang ciptaan ini, kenapa bisa ada? Itu pun sebenarnya bukan tiba-tiba. Tuhan sudah tahu, Tuhan sudah mengizinkan sesuatu yang buruk pun terjadi di dalam dunia. Tidak ada sesuatu yang terjadi dalam dunia ini di luar rencana Tuhan dan kendali Tuhan. Maka waktu kita merenungkan bagaimana Alkitab menjelaskan kepada kita permulaan waktu kejadian, permulaan dosa, kejatuhan manusia dalam dosa bahkan janji keselamatan di dalam Yesus Kristus, itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Itu bukan sesuatu yang kemudian Tuhan rancangkan setelah kejadian yang lain. Itu sudah semua di dalam kedaulatan Tuhan, rencana Tuhan yang Tuhan rancangkan di dalam kekekalan.

Kedatangan Yesus ke dalam dunia, bukan sesuatu yang baru direncanakan Tuhan. Ketika Allah akhirnya, “Oh karena manusia sudah jatuh di dalam dosa. Sudah, kirim Tuhan Yesus.” Tidak! Semua itu sudah dalam kedaulatan Tuhan dan rancangan Tuhan. Tuhan memang mau mengirimkan Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Tindakan Tuhan tidak tergantung ciptaan-Nya. Tindakan Pencipta tidak tergantung ciptaan-Nya. Tuhan tidak bisa kita atur. Kita yang diatur oleh Tuhan. Penebusan Yesus Kristus, kematian di atas kayu salib, itu pun rencana Tuhan, itu pun seizin Tuhan. Kenapa? Untuk menggenapi rencana keselamatan yang Tuhan rancangkan sendiri supaya umat pilihan-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Masa depan saat ini pun Tuhan sudah tahu, Tuhan sudah rancangkan. Masa depan kita pun sudah Tuhan rancangkan. Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya ke dalam dunia ini pun sudah Tuhan janjikan dan waktunya itu tepat. Tidak pernah terburu-buru, tidak pernah terlambat. Itu sudah ada jadwalnya sendiri; kapan Yesus lahir ke dalam dunia ini, kapan Yesus datang ke dalam dunia ini. Di mata Tuhan, Tuhan tidak pernah tidak tahu. Dan sebagai manusia, kita banyak hal yang kita tidak tahu. Dan ketidaktahuan kita membuat kita sebenarnya bergantung dan juga mencari Tuhan semata. Kita mau akhirnya, karena saya tidak tahu, saya mau belajar mengetahui rencana Tuhan. Dan pada saatnya pun ada hal yang kita tidak tahu, kita menjadi bergantung kepada Tuhan yang Maha tahu.

Kita tahu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, betul-betul ya, kalimat ini benar sekali, tidak ada sesuatu pun dalam dunia ini baik hal buruk, hal baik, hal berdosa maupun tidak berdosa itu di luar kendali Tuhan, di luar rancangan Tuhan yang besar, dan di luar kuasa Tuhan. Di dalam Alkitab Bapak, Ibu, Saudara sekalian banyak sekali nubuatan atau janji tentang kedatangan Yesus Kristus yang pertama kalinya. Tapi bukan saja itu, janji kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya pun sudah diberitakan di dalam Alkitab begitu banyak. Kelahiran-Nya dan kedatangan-Nya yang kedua kali, kita sebut dalam istilah teologi adalah inkarnasi, yaitu kedatangan Yesus pertama kalinya ke dalam dunia. Meskipun Yesus adalah Allah yang Maha hadir, tetapi ketika Yesus mau menjadi manusia, itu berarti ada awalnya.

Dan kemudian kita tahu juga, ketika Yesus naik ke surga, sekarang Yesus berada dengan tubuh kebangkitan-Nya, Allah 100% manusia 100%. Dan nanti kedatangan yang kedua kalinya itu berbeda dengan kedatangan yang pertama. Kedatangan yang pertama Yesus mengambil rupa seorang manusia dengan menggunakan rahim Maria. Ya tadi di ayat bacaan Yohanes 1 dikatakan bukan tanpa keinginan Tuhan ya. Itu betul-betul dengan keinginan Tuhan, Yesus ada di dalam rahim Maria. Tanpa keinginan laki-laki. Yesus ada di sana mulai dari benih, setitik debu saja manusia itu ya di dalam rahim. Kalau kita lihat USG seorang Ibu yang hamil ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, itu kita bisa lihat rahim itu hitam bulat terus kemudian ketika ada bayinya itu ada satu titik. Itu betul-betul menggambarkan penciptaan. Creatio ex Nihilo, dari yang tidak ada menjadi ada. Dan itulah Yesus Kristus. Allah menjadi manusia, mulai dari satu titik, menjadi bayi menjadi dewasa dan mati di atas kayu salib.

Tapi kedatangan Yesus yang kedua kalinya, Dia tidak datang sebagai manusia melainkan datang dengan tubuh kemuliaan yang penuh dengan tanda salib. Tanda paku di tangan-Nya, tanda tombak di lambung-Nya, Yesus sengaja membiarkan itu semua supaya tahu bahwa Aku sudah berkorban bagi umat manusia yang mau percaya kepada-Ku tidak binasa, melainkan bisa mengakui bahwa Yesus betul-betul Tuhan dan kita dijemput pulang untuk kita bisa datang bersama Kristus di surga. Ini adalah kedatangan Yesus Kristus, suatu hari nanti. Ini iman kita, kita belum mengalami Yesus yang akan datang kedua kalinya, dengan tubuh kemuliaan, dengan tubuh kebangkitan, semua orang akan berlutut ya, kita akan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Tetapi orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus, tidak akan diberikan kesempatan untuk bertobat karena dia hanya mengaku saja, tidak ada kesempatan untuk menyerahkan hidupnya bagi Yesus dan akhirnya mereka juga dihukum Tuhan di dalam kebinasaan.

Nah Bapak, Ibu, sekalian, kita bisa melihat ya, kalau kita melihat kedatangan Yesus pertama kalinya, ada beberapa ayat, saya akan sebutkan 3 ayat, nubuatan maupun penggenapan ya. Dari Yes. 7:14, ini adalah satu ayat yang biasa kita renungkan di dalam momen-momen Natal. “Karena itu Tuhan sendiri akan memberikan tanda ini: Sesungguhnya, seorang perempuan muda –atau seorang perawan; seorang perempuan yang belum bersuami– akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menyebutkan namanya Imanuel.” Ini dalam Yes. 7:14, nubuatan Nabi Yesaya. Masih bayang-bayang, Perjanjian Lama ya, akan mengabarkan sesuatu yang akan datang. Lalu penggenapannya di mana? Di Mat. 1:22–23. “Semua ini terjadi supaya genaplah yang dikatakan Tuhan melalui nabi: Sesungguhnya, seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menyebutkan namanya Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita.” Ada nubuatan di Perjanjian Lama, ada penggenapan di Perjanjian Baru.

Lalu ayat yang kedua Mikha 5:2, ya. “Tetapi engkau, Betlehem Efrata, yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit bagi-Ku seseorang yang akan menjadi penguasa di Israel, yang berasal dari zaman purbakala, dari masa lampau.” Ya, Betlehem Efrata, akan bangkit dari kaum Yehuda atau suku Yehuda, seorang pemimpin yang akan memerintah Israel yang permulaannya kapan? Dari zaman lampau. Lho, ini lagi nubuatan masa depan tapi permulaannya di masa lampau? Itu maksudnya adalah Yesus Kristus sudah ada sebelum dunia dijadikan. Permulaan Yesus itu, ya kekal, namanya juga Yesus adalah Allah, gitu, ya. Lalu penggenapannya ada di Mat. 2:1–6. Saya bacakan, ya Bapak, Ibu sekalian. “Ketika Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman pemerintahan raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem. Mereka berkata, “Di mana raja orang Yahudi yang baru lahir itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan datang untuk menyembah Dia.

Unik, ya? Kan Firman Tuhan itu kepada bangsa Israel, kok orang majus yang tahu? Itu berarti sekalipun tidak ada Firman Tuhan, Tuhan tetap bisa bekerja memberitakan Firman kepada orang-orang yang tidak punya Alkitab sekalipun. Orang-orang yang jauh, mungkin di pedalaman sana, suku tertentu, Tuhan bisa memberitakan Firman-Nya dengan cara yang ajaib, yaitu apa? Tanda yang supranatural. Bagaimana orang-orang majus, ahli-ahli perbintangan, ya, melihat bahwa, menafsirkan, “Oh, kalau ada bintang ini, berarti ada raja yang lahir.” Dan ketika mereka melihat bintang tersebut, mereka ikuti dalam waktu yang cukup panjang dari Persia ke Yerusalem. Sangat panjang, mungkin berbulan-bulan atau mungkin sampai setahun, ya. Dan mereka betul-betul percaya kepada nubuatan yang bukan dari nabi, ya. Betul-betul Firman Tuhan yang mereka coba pelajari dan Tuhan kasih anugerah kepada orang-orang majus. Mereka datang untuk menyembah raja Yahudi, tepat sekali perkataannya: Raja, Yahudi lagi. Dan sikap orang majus adalah menyembah Dia. Padahal kan manusia, kok disembah? Ini suatu hal yang ajaib. Natal itu betul-betul supranatural.

Sebagai orang Kristen kita memang harus rasional, tetapi kita tidak boleh rasionalisme: hanya percaya yang masuk logika. Iman kita saja tidak masuk logika kita: bagaimana orang berdosa yang sudah mati, bangkit rohaninya? Bagaimana yang kita yang sudah melawan Tuhan, eh kemudian nurut kepada Tuhan? Itu mustahil! Itu supranatural! Yang natural itu adalah manusia berdosa – berdosa terus – tersesat – mati. Itu natural. Tapi dengan kuasa Tuhan yang supranatural, Roh Kudus bekerja, kita menjadi orang yang beriman tetapi juga menggunakan seluruh kehidupan yang ada – supranatural maupun natural itu – di bawah kedaulatan Tuhan dan kita mempermuliakan Tuhan.

Nah, ayat ketiga kita bisa lihat Yesaya juga, ya, Bapak, Ibu sekalian. Yes. 9:6–7. “Karena seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera diberikan untuk kita; pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai.” Lalu di dalam Luk. 1:32–33. “Ia akan menjadi besar dan disebut Anak Allah yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan memberikan kepada-Nya takhta Daud, bapa-Nya dan Dia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Jadi nubuatan tentang Yesus dinubuatkan lokasi lahirnya di mana, gendernya apa, tugas Yesus apa, ya. Itu semua diberitakan. Nama Yesus disebut apa: manusia tapi disebut Anak Allah yang Mahatinggi: lahir, tapi disebut Imanuel. Maka di sini kita bisa lihat bahwa pengenalan Yesus yang sejati bukanlah mempercayai Yesus 100% Allah saja, itu bukan Yesus yang sempurna. Meskipun kita tahu ada waktunya Yesus 100% Allah saja. Tetapi di dalam sejarah kita bisa lihat bahwa pengenalan akan Yesus yang sejati itu adalah 100% Allah tetapi 100% manusia juga. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Yesus itu manusia 100% saja, itu tidak diceritakan Alkitab. Kita juga tidak bisa mengatakan Yesus 100% Allah saja, itu tidak diceritakan Alkitab. Yang diceritakan Alkitab adalah Yesus, sempat, betul Dia Allah 100% saja, tetapi untuk merencanakan dan menggenapi karya keselamatan itu, Yesus mengambil rupa manusia: 100% manusia. Dan saat ini sekarang Yesus di surga: 100% Allah, 100% manusia. Inilah Allahnya orang Kristen, Allahnya yang sejati yang Alkitab nyatakan. Allah yang sesungguhnya Dialah Yesus Kristus, ya. Dia Allah 100%, Dia manusia 100%.

Kenapa demikian? Karena menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia. Dia rela mengambil natur manusia. Itu seolah-olah, ya, Bapak, Ibu sekalian, kita ambil natur hewan. Kita punya rasa suka yang besar kepada hewan, ya. Tadi saya sempat tanya pemuda, “Suka tumbuhan nggak?” “Nggak, lebih suka hewan.” “Hewan apa di rumah?” “Pelihara anjing pitbull”, ya, yang galak, yang kuat. Nah, sekarang kita pengen juga, ya, kita suka hewan, “Saya mau, ah ambil natur pitbull”, yang galak itu, ya. Tiba-tiba gigi kita jadi tajam, ya, tiba-tiba berotot gitu, ya. Kita nggak mau, kan? Orang yang normal itu nggak mau ambil natur anjing, yang lebih rendah daripada dia. Orang yang normal itu tidak mau ambil natur tumbuhan meskipun tumbuhan begitu indah, memberikan oksigen, memberikan kesehatan, ya.

Memang Allah menciptakan manusia itu begitu luar biasa indah. Manusia yang serupa dan segambar dengan Tuhan. Tapi namanya apa? Manusia itu ciptaan. Jauh lebih rendah daripada pencipta. Pencipta rela menembus batas antara ciptaan dengan pencipta yaitu bagaimana Yesus menjadi manusia. Ditembus batas itu. Bagaimana Allah itu merendahkan diri begitu besar kepada kita untuk kita, untuk menyelamatkan kita! Maka dari itu, tidak ada jalan lain manusia yang berdosa bisa diselamatkan dari hukuman neraka, hukuman kekal, maut itu sendiri kecuali dengan jalan dari Tuhan sendiri, yaitu Allah menjelma menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Di dalam ciptaan, tidak ada jalan keselamatan bagi manusia. Allah Pencipta, menembus garis batas antara Pencipta dan ciptaan, untuk menyelamatkan manusia. Bagaimana Allah jadi manusia? Itu nggak mungkin kita bisa masukkan ke otak kita. Kalau kita masukkan ke otak kita, kita akan menolak Yesus Kristus. Lalu bagaimana kita bisa percaya? Karena pekerjaan Roh Kudus semata. Roh Kudus bekerja dalam hati kita sehingga kita tunduk pada Firman Tuhan. Bagaimana, siapakah Yesus Kristus yang dinyatakan di dalam Alkitab.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Allah kita adalah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu. Allah kita adalah Perancang segala sesuatu, Arsitek di atas segala arsitek, Dia adalah Sutradara di atas sutradara, ya. Skenario Allah itu kalau kita dari perspektif Allah, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, skenario di dunia ini itu tidak banyak posibilitas. Skenario di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah dan itu hanya ada satu. ‘A’ ya ‘A’, berjalan sesuai dengan waktunya Tuhan. Kita gabungkan dengan waktunya Tuhan. Di atas kedaulatan Tuhan yang tidak mungkin kita mengerti sepenuhnya. Tetapi di bawahnya kedaulatan Tuhan ada apa? Ciptaan, yang sebenarnya kita pun sulit untuk mengerti. Yaitu apa? Waktu. Ya, ada waktunya. Kapan kita lahir, kapan kita mati, kapan kita percaya Yesus, kapan kita menolak Yesus. Semua ada waktunya kapan Tuhan bekerja. Itu semua ada jadwalnya. Bukan seperti kita yang bingung, “Eh, besok kita ngapain, ya?” Terus lupa. Terus akhirnya terbengkalai. Akhirnya lalai, gitu ya. Nggak. Semua itu kalau kita lihat kedaulatan Tuhan di bawahnya waktu, ciptaan. Waktu kan ciptaan, ya. Semua itu ada jadwalnya yang teratur. Tuhan nggak pernah kaget ada seseorang meninggal misalkan. Nggak. Ya, Tuhan sudah tahu, oh, memang waktunya. Mau setua-tua orang itu, mau semuda-muda orang itu, Tuhan sudah tahu dan Tuhan itu Mahatahu. Ya, Allah tahu Dia akan ciptakan dunia. Tahu. Allah tahu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Dia tahu. Allah itu Mahatahu, kok. Ya, Allah berencana menebus manusia berdosa, sekumpulan orang umat pilihan-Nya dengan Anak-Nya sendiri menjadi manusia. Allah tahu segala sesuatu karena Dia memang Allah yang Mahatahu.

Lalu pertanyaan selanjutnya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang membingungkan banyak orang Kristen sekalipun, kalau Allah Mahatahu kenapaDia tidak cegah manusia melawan Dia? KenapaDia tidak cegah adanya dosa. Nah, kita bisa lihat, ya, mungkin ini adalah pertanyaan yang karena memang tidak tahu tentang Allah. Tetapi bisa juga pertanyaan ini muncul karena mau ngatur Tuhan. Ini bahaya. Kalau orang Kristen mau ngatur Tuhan, ya, kita nggak akan tunduk sama Tuhan. Komplainnya adalah “Tuhan kan Mahatahu, ya, bahwa Adam dan Hawa akan jatuh dalam dosa, kenapaTuhan ciptakan manusia?” Berarti dia tidak bersyukur dia ada di dalam hidupnya, kan? Kalau nggak ada Adam dan Hawa kita nggak ada, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Akan tetapi karena kasih Allah, Allah tetap mau ciptakan manusia meskipun tahu bahwa manusia akan jatuh dalam dosa. Kenapa? Karena Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas. Sayangnya kehendak bebas yang diberikan Tuhan pada manusia, sudah digunakan secara salah dan untuk melawan Tuhan. Inilah dosa. Jadi dosa itu berasal dari ciptaan. Dan efek dosa membawa pada penderitaan, sakit, dan kematian. Dosa membawa pada kemalangan, maka kita tidak cari-cari itu, kan? Tetapi manusia berdosa malah terus melakukan dosa. Ya, kan, itu kelemahan manusia berdosa, ya. Mau lakukan dosa tapi nggak mau efek dosa. Ya, entah itu penderitaan, entah itu kematian, entah itu sakit, nggak ada, kan kita yang mau mati, Bapak, Ibu sekalian? Nggak ada kita yang mau sakit, nggak ada kita yang mau menderita, tapi kita lakukan dosa. Itu logika yang salah. Kalau kita nggak mau sakit dalam arti, ya, kita mau menghindari, ya kita jangan melawan Tuhan. Kita nggak mau mati, ya, jangan lawan Tuhan. Nggak mau menderita, ya, jangan melawan Tuhan. Sudah tidak melawan Tuhan saja bisa saja ada penderitaan. Ya, tapi penderitaan yang kudus, ya. Kita bisa bedakan penderitaan itu penderitaan yang kudus dan di dalam Kristus pun kita bisa melihat ada Tuhan izinkan itu terjadi untuk membentuk iman kita dan supaya kita bisa mengenal diri kita lebih dalam lagi ketika ada sakit, ketika ada kematian, ketika ada penderitaan. Itu cara pandang Kristen yang berbeda. Karena di dalam Kristus, Tuhan sudah menanggung semua hukuman dosa kita, sehingga efek dosa itu kita bisa lihat bukan saja karena kita sudah jatuh dalam dosa, tetapi Tuhan ijinkan ada efek dosa untuk membentuk dan menguji iman kita.

Kenapaya kalau Tuhan Mahatahu tidak cegah dosa? Seolah-olah Tuhan itu jahat membiarkan Adam dan Hawa makan buah pengetahuan dan jahat, tidak percaya Firman Tuhan. Seolah-olah Tuhan itu inisiatif, “Sudah, nggak apa apa lakukan dosa,” seperti itu, ya. Oh, tidak, ya. Jangan lupa natur Allah juga yang lainnya. Meskipun Allah Mahatahu, Dia juga Mahabaik. Allah yang Mahabaik tidak rancangkan dosa. tidak rancangkan kejahatan. Meskipun dosa dan kejahatan pun di dalam kedaulatan Allah yang kita sulit untuk mengerti. Karena apa? Allah Mahabaik. Yang Dia lakukan selalu baik, selalu benar, tidak ada kesalahan, ya. Dia Mahasempurna juga.

Lalu dosa itu dari mana? Ya, lalu dosa itu dari mana? Kita bisa mengatakan bahwa dosa itu, ya, dari ciptaan Tuhan. Karena apa? Definisi dosa adalah melawan Tuhan. Kalau Tuhan melawan diri-Nya, nggak bisa, lah. Ya, Tuhan melawan diri-Nya, tuh, itu bukan Tuhan. Tuhan setuju sama diri-Nya sepenuh-penuhnya dan Tuhan tidak pernah salah dan Tuhan tidak pernah berdosa. Dia kudus, Dia Mahabaik. Nah, sekarang dosa itu munculnya dari mana kalau bukan dari Tuhan? Dari ciptaan Tuhan yang pada akhirnya malaikat melawan Tuhan. Itu dosa. Manusia melawan hukum Tuhan itu dosa. Jadi dosa itu dari mana? Bukan dari Tuhan, tetapi dari manusia maupun iblis yang melawan Tuhan. Jangan salahkan Tuhan kalau ada dosa di dalam dunia ini karena Tuhan Mahabaik. Sumber yang begitu baik.

Dan Allah pun sebenarnya bisa saja mencegah manusia jatuh ke dalam dosa atau dosa masuk ke dalam ciptaan, ya, Tuhan bisa saja mencegahnya. Dengan cara apa? Dia tidak perlu ciptakan manusia. Bisa? Bisa. Dia sudah cukup pada diri-Nya sendiri. Lalu Dia ciptakan apa? Kalau memang Tuhan tidak mau ada dosa di dalam dunia ini, maka Dia ciptakan bukan manusia, atau yang kita sebut sebagai robot yang selalu taat dan menyenangkan Tuhan dan selalu nurut sama Tuhan. Tapi itu bukan manusia.

Nah kenapa Tuhan ciptakan manusia yang pada akhirnya Dia tahu bahwa manusia ini akan memukul Saya? Itulah gunanya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita beranak cucu dan bertambah banyak. Kita sebagai manusia tahu kan kalau seorang ibu memiliki anak, anak itu kan pasti ada risiko, posibilitas untuk melawan dia. Bisa anaknya itu betul-betul jahat, bisa anaknya mungkin bukan anak bukan pilihan Tuhan meskipun lahir dalam keluarga Kristen tapi orang ini malah melawan Tuhan, melawan orang tuanya. Tetapi orang tua tersebut apakah akhirnya, “Sudahlah, kami sudah menikah, kami tidak mau punya anak. Kenapa? Karena nanti anak itu akan menjadi anak perampok, jahat.” Tidak kan? Sebagai orang tua yang Tuhan sudah berikan karunia pernikahan, sudah Tuhan berikan perintah “beranak cucu, bertambah banyak, penuhilah bumi ini”, kita tetap mau punya anak meskipun anak itu akan melawan kita. Nah itu namanya apa itu? Namanya kasih.

Berarti ketika Tuhan mau menciptakan manusia yang tahu Adam dan Hawa akan melawan diri-Nya, Dia tetap ciptakan manusia tersebut. Karena apa? Karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia. Karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia, dosa yang akan dialami manusia tidak menggagalkan kasih-Nya kepada manusia. Dosa itu side effect. Dosa itu side effect dari ciptaan. Maka Tuhan tetap ciptakan manusia, ciptakan malaikat karena Tuhan mengasihi.

Nah ini memang sulit kita mengerti, tetapi kita akan lebih mengerti ketika kita turun lagi ya, dari kedaulatan Tuhan, dari waktu Tuhan, kita turun ke tanggung jawab manusia. Kita bisa lihat bahwa waktu malaikat mau melawan Tuhan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, itu tidak didorong-dorong oleh Tuhan, tidak dikasih kesempatan yang begitu luas “Ayo lawan Aku. Sombonglah pada dirimu sendiri dan akhirnya lawan Aku.” Nggak! Waktu manusia juga, Adam dan Hawa lebih percaya kepada ular dan juga lebih percaya kepada diri dan akhirnya melawan Tuhan, itu juga tidak dipaksa oleh Tuhan. Justru Tuhan sudah kasih tahu, “Jangan! Jangan lakukan dosa! Kamu yang rugi sendiri. Jangan!” Tuhan sudah kasih berkat terus kan, Adam dan Hawa supaya dia mengingat Firman. Tuhan sudah nasihati. Dan pada akhirnya mereka ambil keputusan untuk melawan Tuhan.

Jadi tanggung jawab manusia, waktu manusia itu melakukan dosa adalah karena kehendak dirinya sendiri. Justru ketika manusia jatuh ke dalam dosa kita tahu bahwa manusia itu betul-betul punya kehendak bebas, tetapi kehendak bebas ini diselewengkan untuk melawan Tuhan. Jadi Tuhan tetap ya, mengizinkan manusia jatuh ke dalam dosa. Kenapa? Karena memang kita punya kehendak bebas. Kalau Tuhan tidak izinkan betul-betul, ya tidak akan lakukan dosa, ya berarti bukan manusia tapi robot. Waktu kita bisa melihat kita punya kehendak bebas, dan pada akhirnya kita bisa mengenal Allah lebih dalam maupun diri kita di hadapan Tuhan. Kita ini manusia saja. Dan Tuhan sudah memberikan anugerah yang begitu besar kepada kita.

Kita, Adam dan Hawa, dulu punya kehendak bebas mau taat, mau tidak taat. Mereka ambil keputusan tidak taat. Karena Adam itu artinya manusia dan wakil dari seluruh umat manusia, maka semua manusia yang lahir itu melakukan dosa kecuali Tuhan Yesus. Yesus beda kelahirannya. Semua manusia berdosa, apakah kita punya kehendak bebas, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, seperti sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa? Kita punya kehendak bebas, tapi kehendak bebas untuk terus melakukan dosa. Sebab kita sudah terbelenggu dosa. Akan tetapi, setelah kita dilahirkembalikan oleh Roh Kudus, setelah kita ditebus oleh Yesus Kristus, kita punya kehendak bebas yang mirip seperti sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Yaitu kita bisa taat pada Tuhan, dan bisa juga tidak taat. Kita punya kuasa untuk melawan dosa karena apa? Yesus Kristus sudah lahir di dalam hati kita, Roh Kudus sudah melahirkembalikan kita sehingga kita punya kemampuan untuk taat. Itu kehendak bebas? Kehendak bebas. Maka Paulus katakan ya, di dalam Surat Galatia juga mengatakan, “Jangan kamu, hai orang Kristen, mempergunakan kebebasan kamu dengan sembarangan.” Karena saya bisa taat, saya bisa tidak taat; saya tidak taat karena natur berdosa, saya taat karena ada Roh Kudus, akhirnya saya pilih terus untuk tidak taat. Kamu menggunakan kebebasan yang salah, dan hukuman kamu jauh lebih besar dibandingkan orang-orang yang sudah terbelenggu dosa sebelum mengenal Kristus. Kita lebih menyakiti Tuhan. Kita lebih menyakiti Tuhan karena kita adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak Allah yang melawan atau memberontak orang tua kita, yaitu Allah sendiri. Kita lebih menyedihkan hati Tuhan, membuat Allah itu sedih karena kita itu anak-anak Allah.

Sekarang kita lebih jelas lagi masuk ke dalam tanggung jawab manusia, ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, seorang teolog menjawab pertanyaan tentang kenapa Allah tidak cegah manusia berdosa dengan jawaban seperti ini. Perhatikan baik-baik ya. Dia katakan, “Di surga itu tidak ada seorang pun yang di sana itu bukan karena pilihannya sendiri. Kehendak bebas sangatlah penting bagi Allah. Setiap orang di surga maupun di neraka itu karena pilihannya sendiri, karena dia memilihnya sendiri.” Tentu ini bagi kita, wah berbeda ini, pemahaman Reformed kan mengatakan bahwa surga dan neraka itu karena apa? Tuhan sudah merancangkannya, Tuhan sudah pilih manusia itu atau tidak. Tetapi betul, sebab sebelum dunia dijadikan, Allah telah memilih kita supaya hidup kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya kan? Tetapi waktu kita masuk ke surga, itu karena Roh Kudus memberikan anugerah iman supaya kita memilih Yesus. Maka teolog ini menjelaskan soal tanggung jawab manusia. Kita masuk surga karena pilihan kita. Adil nggak? Adil. Tetapi pilihan yang kita buat itu karena apa? Karena kekuatan dari Roh Kudus.

Nah sekarang, kalau kita ngomong, kenapa Tuhan tidak cegah dosa, karena akhirnya orang berdosa masuk neraka? Sekarang, orang neraka itu, apakah dia masuk neraka itu karena Tuhan menjorokkan dia? “Masuk neraka! Masuk neraka!” Nggak! Orang masuk neraka itu karena pilihannya sendiri. Jangan salahkan Tuhan! Itu karena dia pilih berdosa melawan Tuhan. Ya sudah. Lalu kalau sudah berdosa akhirnya mau mengatur Tuhan. ”Tuhan, cegah, dong, dosa supaya saya nggak berdosa terus masuk neraka!” Nggak! Kamu yang pilih sendiri, kok, untuk melakukan dosa dan melawan Tuhan.

Maka di dalam surga dan di neraka itu adalah suatu keadilan Tuhan yang paling adil yang menyelesaikan seluruh kehidupan manusia di bumi saat ini. Kita nggak bisa apa-apa lagi. Kalau udah masuk surga, ya, masuk surga. Kalau udah masuk neraka, masuk neraka. Kita tidak ada yang percaya bahwa nanti kita meninggal itu di ruang sementara, tidur-tidur, nongkrong-nongkrong, nggak sadar, gitu ya. Terus, karena kamu sudah melakukan dosa, nanti, kamu masuk api penyucian. Harusnya masuk neraka. Kamu dicuci dulu sama api, ya, terus baru masuk surga. Nggak ada! Atau masuk neraka dulu? Ya, silakan cicipi neraka. Sudah puas, Tuhan puas sama kita, masuk surga. Nggak ada! Itu sudah final keputusan Tuhan. Tuhan tidak mengubah keputusan-Nya. Dan keputusan Tuhan itu berdasarkan kedaulatan-Nya, maupun juga berdasarkan pilihan manusia, tanggung jawab manusia. Maka, itu adil, nggak? Adil! Tuhan tidak mungkin salah memasukkan orang itu yang harusnya masuk surga, masuk neraka. Yang harusnya masuk neraka, masuk surga. Nggak mungkinlah! Tuhan itu Allah Yang Mahabenar. Ya, ini bicara soal keputusan maupun tanggung jawab manusia. Kita ini betul-betul diberikan tanggung jawab di dalam hidup ini. Maka, kita tidak bisa mengatakan Tuhan itu salah. Maka, kita tidak bisa juga seharusnya kecewa sama Tuhan atau bahkan membenci Tuhan yang sudah menciptakan kita, memberikan kita hidup. Nggak bisa, ya.

Sekarang, kita masuk ke dalam frasa kepenuhan waktu dalam Gal. 4:4, Bapak, Ibu sekalian, ya. Di situ dikatakan, “Tetapi setelah genap waktunya,” “genap waktunya”. Nah, apa maksudnya “genap waktunya”? Ada beberapa hal yang kita bisa renungkan. Yang pertama adalah secara harafiah, “genap waktunya” berarti itu adalah waktu yang tepat sesuai dengan penetapan Allah sendiri. Maka, tadi saya katakan bahwa ketika Tuhan menciptakan waktu, Tuhan sudah menetapkan segala sesuatunya. Nggak ada posibilitas A, B, C, misalkan, ya. Nggak ada posibilitas manusia itu, misalkan Adam dan Hawa taat terus, nggak akan jatuh dalam dosa. Nggak ada! Di dalam sejarah, kita bisa lihat faktanya adalah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Itu pun sudah Tuhan tahu. Sudah ada waktunya sendiri dan kita bisa memahami bahwa ketika Allah menetapkan segala sesuatu sesuai dengan waktunya sendiri, ya, sesuai dengan waktu yang tepat dari Tuhan, kita bukan akhirnya menjadi orang yang takut sama Tuhan, akhirnya tidak ngapa-ngapain, tetapi justru semakin mengenal Tuhan sebagai Pencipta waktu.

Allah tidak pernah terlambat; Allah tidak pernah terburu-buru; Allah tidak pernah terlalu cepat; Allah tidak pernah terlalu lambat. Tuhan tidak pernah telat, ya, hadir di ibadah Minggu, misalkan, ya. Kalau jam 9 mulai, Tuhan sudah hadir bersama-sama dengan kita untuk disembah. Beaa dengan manusia yang seringkali terlambat, dan lemah di hadapan Tuhan. Akan tetapi Allah kita adalah Allah yang mengatur segala sesuatu sesuai dengan waktunya. Pengaturan Tuhan begitu baik dan bijaksana, Dia menetapkan segala sesuatu dengan tepat pada waktunya sendiri.

Seperti Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini. Zaman apa? Zaman Romawi. Zaman apa? Romawi menjajah orang-orang Yahudi. Zaman setelah apa? Setelah Perjanjian Lama dibukukan, kemudian orang-orang Yahudi menunggu 400 tahun tanpa ada seorang nabi yang memberitakan firman yang baru lagi, sampai akhirnya muncul nabi terakhir yang memberitakan kedatangan Yesus Kristus yang disebut sebagai orang yang mendahului kedatangan Yesus atau yang mempersiapkan jalan bagi Yesus, yaitu adalah nabi terakhir, yaitu Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi Yesus dan itu adalah waktu yang tepat Yesus lahir ke dalam dunia ini dan juga menyaksikan kerajaan Tuhan lewat kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus. Ini adalah zaman yang tepat, yaitu ketika orang Yahudi merasa ditindas dan membutuhkan seseorang yang menyelamatkan mereka, tetapi sebenarnya bukan menyelamatkan mereka dari perbudakan Romawi, melainkan perbudakan dosa.

Tuhan menetapkan waktu yang tepat supaya mereka itu lebih mengerti hal-hal yang rohani, bukan hal-hal yang fisik, tetapi orang-orang Yahudi yang sangat duniawi, mereka pikir bahwa janji Tuhan itu secara fisik. Mesias itu adalah raja yang mengalahkan kekaisaran Romawi, yang akan memimpin bangsa Yahudi, bangsa Israel menjadi bangsa yang melebihi bangsa-bangsa yang lain. Tetapi, tidak. Ketika Yesus lahir ke dalam dunia ini, Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama dan Dia akan menjadi Raja untuk Israel rohani, Yahudi rohani, bukan Israel fisik, maupun Yahudi secara suku, ya.

Dan pada waktu itu pun, bahasa Yunani menjadi bahasa internasional. Bahasa yang sangat baik untuk kemudian akhirnya menyatakan isi hati Tuhan, setelah bahasa Ibrani. Bahasa Ibrani dipilih Tuhan untuk menyatakan siapakah Tuhan. Dan ketika bahasa-bahasa itu muncul, begitu banyak dan akhirnya yang populer pada waktu itu, yang sangat baik untuk menyatakan isi hati Tuhan, Tuhan pakai bahasa Yunani dan di situlah Yesus hidup dan juga menyatakan firman Tuhan kepada orang-orang Yahudi maupun orang-orang Yunani. Bahasa Yunani menjadi bahasa yang baik dan mempermudah komunikasi sehingga Injil Tuhan pun bisa disebarluaskan ke berbagai daerah di momen tersebut. Nah, ini adalah Allah kita yang mengendalikan sejarah. Waktu Allah selalu sempurna dan Dia mengetahui seluruh masa di dalam dunia ini. Masa lalu, masa sekarang, masa depan. Allah itu berkuasa. Tuhan itu betul-betul menetapkan seluruh jalannya sejarah.

Hal yang kedua yang kita bisa renungkan selain Allah itu mengatur waktu yang tepat dalam segala sesuatu, ya, bukan saja kelahiran Yesus Kristus, tetapi semua, tuh, betul-betul tepat sesuai dengan waktu Tuhan. Kita bisa lihat bahwa Allah itu Pencipta waktu. Bukan saja Pencipta waktu, Dia juga Pengatur segala sesuatu. Pengatur waktu juga. Ini Allah kita. Ada jemaat pernah menjelaskan, ya, waktu OSG di Solo itu, dia menjelaskan tentang waktunya Tuhan itu dengan menggunakan ilmu pengetahuan, ya, science. Yaitu ia katakan bahwa air mendidih itu ada waktunya sendiri. Ada kondisi tertentu, barulah air itu mendidih. Setelah dipanaskan beberapa waktunya, baru mendidih dengan suhu berapa derajat baru mendidih. Dengan suhu berapa derajat baru mendidih. Memang bisa berbeda-beda waktunya kan? Entah itu karena tingkat kepanasan apinya, entah itu tingkat tekanan apinya, entah itu penyalur panasnya ya, wadahnya, tapi intinya adalah meskipun waktu-waktu air mendidih itu bisa berbeda-beda karena berbagai variabel, yang menentukan air itu mendidih 100 derajat Celcius itu siapa? Tuhan. Nggak ada yang bisa ngubah itu. Ya, kalau waktunya mendidih pasti mendidih. Kalau belum bisa mendidih nggak akan mendidih. Nah itu adalah kedaulatan Tuhan di dalam waktu-waktu yang ada di dalam dunia ini.

Kalau benih ya, benih itu tumbuh ya sesuai waktunya kan? Meskipun situasi dan kondisi kita bisa berikan supaya benih itu bisa lebih subur, lebih hebat ya. Tapi yang memberikan pertumbuhan siapa? Tuhan. Itu ada waktunya sendiri. Nah, Allah sudah mengatur segala sesuatu ada waktunya masing-masing dan Allah bekerja dengan cara-Nya yang ajaib. Tetapi Allah itu tidak merusak waktu, memanipulasi waktu, ya seperti film-film superhero ya. Dr. Strange ya, dia pengatur waktu ya, membuat lingkaran, trus masuk ke dalam lingkaran tersebut ke masa depan. Trus dia lihat masa depannya “Wah manusia bakalan berdosa nih, saya cegah ah dosanya. Dah cabut, sekarang saya cabut pohon pengetahuan baik dan jahat.” Tuhan tidak seperti itu. Meskipun Dia mengetahui waktu masa depan, tapi Dia tidak ubah semena-mena. Ya, tidak ubah. Dia mengaturnya, dan Dia juga bekerja di dalam waktu. Itu yang sama sekali sebenarnya kita bisa lihat bahwa Allah itu betul-betul Maha Kuasa.

Meskipun Dia mengatur semua ada waktunya, tapi Dia hidup juga dalam ciptaan. Dia intervensi. Ketika kita sedih, Tuhan bekerja, menghibur kita yang sedang bersedih. Ketika kita bersuka cita, Tuhan juga bersuka cita dengan kita. Ketika kita mengalami pergumulan, Tuhan mendampingi kita di momen itu juga. Bukan pada akhirnya ketika kita lihat Allah itu berdaulat, ya sudah semua berjalan sesuai dengan seharusnya dan Allah itu nggak bekerja lagi. Bukan! Allah kita adalah Allah yang hidup, maka yang hidup itu bergerak, yang hidup itu bekerja, yang hidup itu berpengaruh. Maka meskipun kita tahu Allah itu sudah mengatur segala sesuatunya ada waktunya masing-masing, Dia pun hadir di dalam pergumulan kita. Itu hebatnya Allah. Dia tidak memanipulasi waktu, Dia tidak mengubah sejarah seenaknya, Dia tetap membiarkan manusia di dalam hukum alam, di dalam kemampuan makhluk hidup untuk melakukan segala sesuatunya dengan tepat sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kelahiran Yesus Kristus dalam dunia bukan saja ditetapkan oleh Tuhan dengan cara Yesus dikandung dari Roh Kudus dan lahir dari anak dara Maria. Itu waktunya, momennya tepat ya. Tepat 2000 tahun yang lalu, pakai cara yang tepat, seorang perempuan muda belasan tahun, seorang perawan, ya kemudian dikandung oleh Roh Kudus, dari Roh Kudus, dan akhirnya Yesus hidup dalam dunia ini. Yesus menjadi Sang Juruselamat, yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Semua sudah diatur oleh Tuhan secara sempurna dan baik. Kedatangan Yesus Kristus menjadi puncak rencana keselamatan yang telah Allah tetapkan dan waktunya itu tepat bukan secara random ya. Ketika Tuhan mau memberikan jalan keselamatan bagi umat manusia, itu sesuai dengan waktunya.

Dan demikian Bapak, Ibu sekalian kita bisa memahami, untuk apa sih kita pelajari kebenaran ini? Tetapi setelah genap waktunya, Tuhan memakai Maria untuk melahirkan atau mengandung dan melahirkan Yesus Kristus. Gunanya apa? Gunanya adalah supaya kita tidak putus asa dan juga bisa belajar menerima ketika kita mengabarkan Injil, tetapi seolah-olah tidak ada hasilnya. Ya, kenapa? Karena orang itu bisa percaya Yesus itu tidak dipaksa kita. Bukan karena kemampuan kita pintar menjelaskan tentang Injil, bukan karena kita memaksa mereka untuk jadi Kristen atau percaya Yesus, bukan, tetapi semua itu ada waktunya Tuhan sendiri. Orang itu menjadi Kristen. Kalau memang umat pilihan tenang aja, dia pasti jadi Kristen. Tapi bukan berarti kita akhirnya tidak bertanggung jawab terhadap apa yang Tuhan berikan di tangan kita. Orang itu belum Kristen, kita Injili, kita bagikan traktat, kita ajak mereka kebaktian Natal. Kalau Tuhan bekerja, mereka meresponi. Ya sudah kan? Bersyukur kepada Tuhan.

Tetapi orang itu percaya kepada Kristus itu ada waktunya sendiri. Ketika dia, momen tertentu, ya mungkin momen KKR, momen ibadah, momen sendiri, kesepian, ya momen patah hati. Kita tahu juga Mazmur, pemazmur mengatakan, Tuhan itu dekat dengan orang yang patah hati. Tapi bukan berarti ya, ya udah saya patah hati terus gitu ya, nggak, supaya Tuhan dekat, nggak gitu ya. Maksudnya Tuhan itu mengerti penderitaan kita. Tuhan menghibur kita. Maka khotbah Yesus tentang ucapan bahagia adalah berbahagialah mereka yang berduka cita karena mereka akan dihibur, itu janji Tuhan. Ya, kita bisa merasakan kedekatan dengan Tuhan.

Maka dari itu kita bisa menyerahkan kepada Tuhan, misalkan orang tua kita belum percaya Yesus, atau pasangan kita yang sudah terlanjur salah ya. Kita menikahi orang yang tidak seiman, misalkan, sudah terlanjur ya udah. Ya dijalani, itu pun dalam kedaulatan Tuhan kan?  Waktu Tuhan. Kita jalani, Injili, semua ya. Anak kita, misalkan, anak kita sudah kasih firman, sudah ajak ke gereja, masih terus kayak orang yang tidak mengikut Yesus ya. Udahlah, kita lakukan tanggung jawab kita apa. Kita cuman bisa kasih tahu, nasihati ya, tegur mereka kalau mereka salah ya, kasih tahu Injil. Semua itu ada waktunya Tuhan mempertobatkan seseorang dan itu nggak bisa disangkal oleh orang tersebut.

Tapi, kita semua yang dalam dunia ini tidak ada yang betul-betul, betul jadi dipaksa oleh Tuhan, ya dipaksa oleh Tuhan. Ya seolah-olah belum waktunya percaya, Tuhan paksa, percaya! Ya, nggak. Tuhan bentuk pelan-pelan bisa melihat keadilan Tuhan, kasih Tuhan, bisa melihat orang-orang Kristen yang beribadah kepada Tuhan. Itu Tuhan pelan-pelan menata, mempersiapkan seseorang menerima anugerah keselamatan sampai waktunya tiba orang itu pun mengalami kelahiran kembali. Seperti bagaimana Yesus dilahirkan pada waktunya.

Dan yang ketiga Bapak, Ibu, Saudara sekalian, “genap waktunya” berarti apa? Selain tepat sesuai dengan waktu yang ditetapkan Allah, selain Tuhan itu Pencipta waktu dan mengatur segala sesuatu ada waktunya masing-masing, yang ketiga adalah seperti kata Pengkhotbah, semua indah pada waktunya masing-masing. Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Allah kita adalah Allah Alfa dan Omega. Dia penguasa waktu, Dia pengontrol segala sesuatu, Dia bahkan pencipta waktu itu sendiri. Sesuatu yang diciptakan, yaitu waktu dan ruang di mana manusia itu di dalam ciptaan itu sendiri. Ciptaan tetapi ada yang terbatas oleh ciptaan itu sendiri. Kalau Tuhan berkuasa atas waktu dan ruang dan Dia ciptakan itu, maka ciptaan yang di bawah waktu dan ruang atau terbatas waktu dan ruang ini, apa susahnya bagi Tuhan untuk mengaturnya?

Apa susahnya sih Tuhan ngatur manusia? Kalau mau melihat ke-Mahakuasaan Tuhan ya. Apa susahnya Tuhan itu mengerjakan sesuatu? Nggak ada yang susah kan? Kita yang rasa susah ya, mengajak orang itu ke gereja, menasihati dia, kita rasa susah. Tapi bagi Tuhan tidak ada yang susah gitu. Lalu kenapa susah? Itu menunjukkan bahwa kita ini ciptaan saja dan Tuhan bekerja sesuai dengan hukum-Nya dan tidak semena-mena juga terhadap hukum-Nya. Hukum yang sudah Tuhan berikan di dalam ciptaan ini. Maka kita bisa melihat, kita itu nggak bisa menyelami pekerjaan Tuhan. Tuhan Maha kuasa tetapi kenapa tidak melakukan ini? Tuhan Maha tahu tetapi kenapa membiarkan hal tersebut terjadi? Kenapa sih? Kita bertanya kenapa, kenapa, kenapa.

Seorang reformator, Martin Luther mengatakan “There is no why in the heart of believer.” Marthin Luther bukan berarti melarang kita bertanya “kenapa Tuhan?” Bukan! Tetapi maksudnya adalah sebagai orang yang tunduk kepada Pencipta dan sebagai orang yang sadar kita ini ciptaan saja, kita nggak bisa komplain ke Tuhan. “Kenapa Tuhan ciptakan saya sebagai laki-laki? Saya pengennya jadi perempuan.” Nggak bisa. “Kenapa Tuhan ciptakan saya sebagai perempuan? Saya nggak pengen jadi perempuan.” Nggak bisa juga. “Kenapa saya lahir dari orang tua yang ini dan itu? Saya pengen lahir dari orang tua yang Kristen yang baik.” Nggak bisa. Ada sesuatu hal yang nggak bisa kita jawab. Tetapi Martin Luther katakan kalau kita sudah tunduk sama kedaulatan Tuhan, kita akan menjalani kehidupan bahwa ini semua rancangan Tuhan yang baik untuk saya. Kita mengetahui bahwa Tuhan berkuasa atas hal-hal buruk, hal-hal baik, Tuhan berkuasa atas hal-hal yang kelihatannya tidak penting tetapi Tuhan juga berkuasa atas hal-hal besar, hal-hal penting, semua detail Tuhan sudah menetapkan segala sesuatunya.

Indah, Bapak, Ibu, Saudara, bukan sesuatu yang kita “indah” begitu saja, bagus di mata kita. Tidak. Tetapi indah itu berarti apa? Sempurna, sesuai rancangan Tuhan, tepat, cukup, itu juga berarti indah. Nah segala sesuatu kita bisa katakan bahwa segala sesuatu ini terjadi di dalam kedaulatan Tuhan. Indah? Indah. Wah susah ya mengatakan bahwa segala hal buruk, penderitaan, bahkan dosa itu indah. Susah sekali. Kenapa kita bisa katakan ya Bapak, Ibu, sekalian, saya bersyukur atas segala sesuatu. Boleh nggak? Boleh kan. Kalau bersyukur atas segala sesuatu berarti segala hal yang baik dan yang buruk. Nah kenapa kita mensyukuri hal buruk? Mana ada orang Kristen mensyukuri dosa? Meskipun kita pernah ya, ada orang-orang yang bilang “Saya bersyukur ya dulu saya jatuh dalam dosa supaya bisa bertobat.” Nah berarti yang disyukuri itu bukan hal yang buruknya. Tetapi hal yang Tuhan kerjakan setelah hal buruk itu terjadi, nah itu yang disyukuri. Maka segala sesuatu indah pada waktunya.

Bayangin ya, ini kitab Pengkhotbah itu Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Bagaimana Tuhan membuat dosa bisa indah pada waktunya? Bagaimana membuat suatu keburukan, penderitaan, kejahatan itu indah pada waktunya? Nggak bisa ngerti kita. Maka kita bisa lihat bahwa indah itu bukan soal hal yang baik kemudian dibenturkan kepada hal yang buruk, bukan. Tetapi semua itu tepat pada waktunya. Segala sesuatu itu tepat sesuai dengan waktu Tuhan. Itu kita katakan indah. Bukan berarti dosa itu indah ya, dosa itu baik, penderitaan itu kita cari, dosa kita lakukan, bukan. Itu orang tidak percaya Kristus saja tahu nggak usah lakukan dosa. Kita orang Kristen bodoh sekali kalau pikir bahwa kita harus lakukan dosa atau bersyukur bisa lakukan dosa, itu bodoh sekali.

Tapi maksudnya adalah kalau Tuhan tidak ada tetapkan waktu, Adam dan Hawa pun tidak bisa lakukan dosa kok. Lalu kenapa bisa ada dosa? Berarti Tuhan sudah berdaulat atas waktu tersebut dan ada rancangan Tuhan yang baik supaya kita bisa mengenal siapakah Tuhan itu dan kita bisa berlutut di hadapan Tuhan. Saya ini lemah, banyak hal yang saya tidak tahu dan saya hanya bisa bersandar kepada Tuhan, saya menyerahkan hidup saya untuk dipakai Tuhan. Itu maksudnya Tuhan berdaulat. Bukan berarti kita harus tahu segala sesuatu bahkan tahu melebihi Tuhan yang Maha tahu itu, bukan. Ada saatnya kita tidak tahu dan kita tahu bahwa kita harus bersandar pada Tuhan. Itulah kedaulatan Tuhan, itulah waktu Tuhan yang begitu ajaib.

Maka dari itu bagi kita yang tahu bahwa kita ini hidup di waktu yang Tuhan ciptakan, waktu yang sudah Tuhan atur, kita bisa rasa harus terburu-buru atau kita bisa rasa terlambat, tetapi di mata Tuhan tidak ada sesuatu yang terburu-buru maupun terlambat. Kadang-kadang kita bisa lihat ya, sebagai manusia yang menilai sesuatu kita bisa lihat bahwa “Oh GRII Yogyakarta ini lama ya baru ada gedungnya.” Berapa tahun? 29 tahun, ini tahun ke-29. Bagi kita lambat, benar nggak? Kalau mau kita merintis gereja tahun depan langsung gedung baru, besar gitu ya. Bagi Tuhan kecepetan. Bagi Tuhan ini waktu yang tepat GRII Yogyakarta memiliki gedung yang baru. Sudah kan? Atau kita nyesel-nyesel kenapa nggak dari dulu? Itu bagi kita. Bagi kita rasa telat, tapi bagi Tuhan tepat kok. Kalau memang jadi itu jadi, nggak ada yang bisa menghalangi Tuhan kan.

Maka kita bisa melihat, kalau kita mengerti waktunya Tuhan kita bisa tetap bersyukur meskipun hal buruk terjadi. Itu kekuatan orang Kristen. Bukan bersyukur akan hal buruknya tetapi bersyukur itu waktunya Tuhan kok. Mana mungkin kita mau lawan Tuhan ya. Saya menikah itu pengen muda Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya. Pengen umur 25, 26, 27 terus ketika saya melihat kehidupan saya, eh umur 33 baru menikah gitu kan. Siapa yang bisa ubah? Kalau kita mau usahakan pokoknya saya mau nikah muda, nikah muda, nikah muda nggak akan bisa kalau bukan waktunya Tuhan. Saya pengen punya pacar, punya pacar, punya pacar cepat gitu ya, kalau bukan waktunya ya nggak akan punya-punya. Berarti yang diubah itu apanya? Bukan waktunya Tuhan, yang diubah adalah sikap hati kita. Ambil momen kesempatan ini untuk terus meresponi kehendak Tuhan. Sudah lah.

Kok hidup kita kok ribet banget ya dengan keinginan-keinginan kita yang begitu banyak dan aneh dan bisa melenceng dari Tuhan. Memang betul-betul ya, bukan berarti kita tidak boleh memiliki keinginan, tetapi itulah penyangkalan diri kan. Semua ada waktunya, kalau nggak bisa itu nggak bisa. Susah. Jadi yang kita ubah bukanlah waktu Tuhan tapi ubahlah perspektif kita, pola pikir kita, hati kita, respons kita kepada anugerah Tuhan. Jangan sia-sia kan waktu yang Tuhan berikan. Kita bisa berhenti sejenak, jangan mindless scrolling. Kalau kita bisa mindless scrolling lihat HP kita, lihat instagram, lihat story, story gitu ya, apa sih susahnya kita simpan sebentar, terus pikir. Merenungkan sebentar kehidupan kita, terus kita mau meresponi Tuhan itu seperti apa dalam kehidupan kita. Nah dari situ kita bisa semakin bertumbuh dan kita bisa melihat segala sesuatu itu dari perspektif Tuhan. Ini adalah bijaksana tertinggi. Maka susah nggak untuk mengerti hal ini? Sangat susah. Bagaimana melihat sesuatu dari mata-Nya Tuhan. Susah! Kita lebih mudah itu melihat segala sesuatu dari mata kita. Tetapi di mata Tuhan itu sudah genap waktunya.

Setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan taat kepada hukum-hukum Taurat. Yesus lahir dari Maria dan taat kepada 10 hukum Taurat. Dia taat kepada hukum manusia; dengan arti keterbatasan fisik manusia baik terbatas ruang dan waktu. Dan Yesus itu diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat supaya kita diterima menjadi anak-Nya. Inilah Natal Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Natal itu sudah dirancangkan oleh Tuhan sendiri dan digenapi oleh Tuhan sendiri dengan cara-Nya yang ajaib. Supaya apa? Supaya kita menjadi anak-anak Allah. Berarti dulu kita bukan anak-anak Allah. Kita adalah anak-anak dunia, anak-anak gelap, anak-anak iblis, anak-anak keberdosaan, hamba dosa. Keselamatan akhirnya Tuhan berikan kepada kita supaya kita menjadi seseorang yang percaya Tuhan dan juga melihat segala sesuatu dari perspektif Tuhan.

Terakhir, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mari kita sama-sama lebih percaya pada Tuhan, lebih percaya kepada waktu Tuhan itu sendiri. Waktu Tuhan itu selalu baik. Kita tahu bahwa Tuhan itu tidak pernah terlambat, Tuhan itu tidak pernah buru-buru juga. Berarti kita harus betul-betul bergantung pada Tuhan. Semua ada waktunya kok. Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Nasihat yang pada umumnya adalah mari kita belajar menunggu waktu Tuhan. Betul nggak? Ini normal ya. Tetapi sebenarnya mari kita belajar menerima waktu Tuhan juga. Tunggu waktu Tuhan, OK, baik, kita harus sabar kan tunggu waktu Tuhan. Tapi juga menerima waktu Tuhan yang saat ini terjadi. Karena pada waktu kita menunggu, itu pun waktu Tuhan.

Ada seseorang pernah nasihati saya; saya dinasihati seseorang, kita seringnya bilang, “Kita menunggu waktu Tuhan, menunggu waktu Tuhan.” Tapi sebenarnya seharusnya yang benar adalah sebenarnya Tuhan yang menunggu kita untuk meresponi dengan tepat segala anugerah Tuhan. Jangan salahkan Tuhan terlalu lama, Tuhan nggak pernah lama! Kita yang terlalu lama bertobat, kita yang terlalu lama menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Seharusnya Tuhan menunggu kita datang kok. Kita nggak mau datang-datang sama Tuhan. Nah ini adalah suatu refleksi bagi kita juga ya, sebenarnya kita itu menyalahkan Tuhan atau Tuhan yang boleh menyalahkan kita? Seringkali kita lempar semua tanggung jawab kita kepada Tuhan, padahal Tuhan itu tidak pernah salah.

Sekali lagi Bapak, Ibu sekalian ya, Dia adalah Pencipta waktu, Penguasa waktu, Dia selalu tepat waktu, Dia tidak pernah salah. Maka sebagai manusia, yang ciptaan, kita harus sadar kita nggak boleh membenci Tuhan, kita nggak boleh kecewa sama Tuhan, kita nggak boleh menyalahkan Tuhan. Siapa kita berani kecewa sama Tuhan? Tuhan nggak pernah salah, Tuhan nggak pernah merancangkan yang buruk, Tuhan nggak pernah meleset, siapa kita ya bisa kecewa sama Tuhan. “Saya marah, saya benci Tuhan.” Suatu hal yang aneh, karena Tuhan selalu mengasihi manusia yang berdosa, Tuhan tidak mau manusia menderita, sakit atau mati tapi karena keberdosaan kita yang membuat kita sakit dan mati dan lemah. Tuhan juga tidak pernah salah. Apa salah Tuhan mengizinkan dunia ini berdosa, jatuh dalam dosa? Apakah kita berani katakan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa itu salahnya Tuhan? Nggak bisa! Kita nggak bisa nyalahin Tuhan. Kita yang bisa adalah kecewa sama diri kita, nyalahin diri kita. Kita bisa, karena kita berdosa. Kita bahkan bisa membenci diri kita karena dosa-dosa kita.

Tetapi kiranya kita boleh semakin melihat bahwa semakin kita mengenal Tuhan, semakin seharusnya hidup kita pun diubahkan semakin lebih menyerupai Yesus Kristus. Apalagi kita orang Kristen ya, kita harus belajar rendah hati, jangan sombong, tunduk dan takut akan Tuhan. Mari kita sama-sama berdoa.

Bapa kami yang di surga, kami bersyukur boleh kembali merenungkan bahwa Engkau adalah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu, Engkau memerintah seluruh dunia ini dan juga Engkau adalah Allah yang hidup, yang bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kami yang mengasihi Engkau. Ampuni kami Tuhan, jikalau kami seringkali tidak bisa melihat rencana Tuhan yang baik dalam kehidupan kami, seringkali kami menyalahkan Tuhan, seringkali kami membenci Tuhan dan juga kecewa kepada Tuhan. Kami tahu bahwa itu adalah hal yang tidak berkenan di hati Tuhan. Tuhan selalu benar, selalu baik, selalu setia dan selalu mengasihi kami. Kami berdoa Tuhan supaya kami boleh belajar merenungkan waktu-waktu yang ada yang Tuhan sudah berikan kepada setiap kami. Kami bersyukur untuk kelahiran Yesus Kristus ke dalam dunia sebagai permulaan karya keselamatan boleh terjadi dalam kami, kehidupan manusia yang berdosa. Kami bersyukur Tuhan tidak meninggalkan kami, Tuhan juga mengatur segala sesuatu itu indah pada waktunya masing-masing. Ajari kami Tuhan untuk percaya pada waktu Tuhan, bergantung kepada Tuhan. Dan biarlah kami tidak menggantungkan kehidupan kami kepada akal budi kami, kepintaran kami, tetapi kami bisa lebih sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan saja. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan bersyukur. Amin. (HS)