Kelahiran Yohanes Pembaptis
Luk. 1:5-25
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melihat kepada Injil Lukas, ada satu hal yang sangat menarik sekali bagaimana Lukas mendapatkan Injilnya. Kalau kita bandingkan dengan tokoh-tokoh agama yang ada di dalam dunia ini, maka mereka ada yang mengatakan, “Kami mendapatkan Injil, atau mendapatkan Firman atau wahyu Tuhan, itu melalui penemuan akan satu benda bersejarah,” misalnya. Ada yang berkata, ”Kami mendapatkan wahyu Tuhan, melalui apa yang Tuhan katakan, melalui diturunkannya Firman Tuhan kepada diri mereka.” Tetapi pada waktu kita melihat kepada Injil Lukas, Lukas berbeda sekali. Pada waktu dia mengatakan, “Ini adalah Injil dari Yesus Kristus. Injil yang aku tulis untuk disampaikan kepada engkau.” Maka, selain dari pengertian kita bahwa, semua wahyu Tuhan itu adalah bersumber dari gerakan Roh Kudus, adalah perkataan Tuhan secara langsung melalui para penulis dari Kitab Suci.
Tetapi di sisi lain, kita juga mengerti bahwa Tuhan tidak hanya mendikte para penulis itu. Tuhan tidak hanya meminta para penulis melakukan satu penulisan secara mekanis mengikuti apa yang Tuhan ingin katakan kepada mereka. Tetapi Alkitab juga mengatakan, atau prinsip daripada Firman Tuhan yang kita dapatkan, Tuhan memakai latar belakang, Tuhan memakai hikmat, Tuhan memakai pendidikan yang dialami oleh orang-orang yang menjadi penulis Kitab Suci, untuk bisa dipakai oleh Tuhan menulis apa yang Tuhan ingin sampaikan melalui diri mereka. Contohnya Bapak, Ibu bisa lihat di dalam kitab Yeremia. Pada waktu Yeremia dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi seorang nabi, Tuhan berkata “Sejak dari kandunganmu atau orang tuamu, Aku sudah mempersiapkan engkau untuk menjadi nabi-Ku.” Artinya adalah pada waktu Tuhan ingin memanggil seseorang untuk menjadi penulis dari Kitab Suci, maka Tuhan sudah mempersiapkan sejak dari dalam kekekalan untuk orang itu, dan Tuhan sudah mempersiapkan dia harus lahir dari garis darah siapa, dari keluarga yang seperti apa, dari latar belakang kehidupan yang seperti apa, dari pendidikan yang bagaimana. Sehingga ketika dia sampai pada waktunya untuk dipakai oleh Tuhan menuliskan Wahyu Tuhan, maka segala yang Tuhan ingin nyatakan melalui hamba-Nya itu, itu bisa dituliskan oleh nabi atau rasul tersebut dengan tepat sekali.
Jadi, kita melihat bahwa pewahyuan Firman Tuhan kita adalah bersifat organik. Tuhan menyatakan kebenaran-Nya, penulis juga menyatakan apa yang dia ingin tuliskan, dan itu adalah 100% masing-masing bekerja. Dan ketika setiap penulis menuliskan apa yang menjadi dorongan yang ada dalam hati yang bersumber dari Roh Kudus itu, dia betul-betul menuliskan apa yang Tuhan kehendaki untuk umat dalam mengerti mengenai Firman Tuhan atau wahyu Tuhan.
Dan pada waktu kita berbicara mengenai Lukas, Lukas punya hikmatnya sendiri. Pada waktu dia ingin menuliskan Injil Lukas, caranya bagaimana? Melalui cara interview. Melalui cara mencari orang-orang yang menjadi saksi mata dari Injil, lalu kemudian dia mewawancarai orang-orang tersebut, dan melalui wawancara itu kemudian dia menuliskan Injil Lukas. Jadi ini adalah hasil studi. Ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Lukas.
Dan satu hal yang begitu menarik sekali adalah, kadang-kadang ada orang yang mengatakan seperti ini, “Injil itu nggak mungkin adalah kebenaran. Mungkin ada sedikit kebenaran, tetapi karena itu ditulis oleh manusia, maka pasti banyak mengandung kesalahan. Dan Injil itu adalah karangan manusia sendiri, sehingga kita nggak bisa sepenuhnya mempercayai kebenaran tersebut.” Tetapi pada waktu kita kembali kepada Injil Lukas, maka kita mendapatkan bahwa Lukas ketika menuliskan Injil itu, bukan karena karangan dia, bukan karena ide dia, seperti seorang ingin menuliskan cerita novel atau cerita fiksi di dalam dunia ini. Tetapi dia betul-betul meneliti, dan betul-betul mendapatkan data, dan betul-betul mencantumkan apa yang dia dapatkan di dalam Kitab Suci.
Kalau Bapak Ibu berpikir bahwa Lukas pasti mengandung kesalahan melalui penelitiannya, sejarah sudah membuktikan kalau apa yang dicatat oleh Lukas itu sangat presisi sekali. Baik dari sisi sejarah atau historisitas dari apa yang dicatat oleh Lukas, maupun dari sisi geografi ataupun tempat, ataupun jabatan, ataupun nama seseorang. Dia begitu detail sekali mencatat apa yang dituliskannya di dalam Injil Lukas dan di dalam Kisah Para Rasul. Jadi, di dalam zaman yang berbeda dengan diri kita, di dalam zaman yang tidak ada Google sama sekali, di dalam zaman yang tidak ada koneksi internet yang mendunia, di dalam zaman yang informasi sangat terbatas sekali, di dalam zaman yang mereka masih perlu bergumul berat untuk mencari data karena keterbatasan informasi yang ada, Lukas sudah membuktikan bahwa apa yang dia tulis itu sangat presisi, sangat tepat sekali, sangat benar sekali, berkaitan dengan peristiwa dari kelahiran Yesus Kristus. Dan dia menunjukkan hal yang menjadi tulisannya itu kepada Teofilus, untuk membuktikan bahwa Injil yang dikabarkan kepada manusia, itu adalah satu kebenaran yang sungguh-sungguh terjadi di dalam dunia ini.
Nah, melalui peristiwa yang sudah dicatat di awal ini, latar belakang sedikit mengenai siapa Lukas dan penulisan dari Injil Lukas, Lukas membawa kita masuk ke dalam peristiwa yang berkaitan dengan Zakharia dan Elisabet, orang tua dari Yohanes Pembaptis. Nah ini juga menjadi satu hal yang menarik. Kalau Bapak, Ibu ingin membaca mengenai kisah Yohanes Pembaptis, kita bisa dapatkan di dalam Matius tentunya, Markus, dan juga kalau Yohanes. Tetapi pada waktu kita membaca, Matius, Markus, dan Yohanes, kita akan menemukan penggambaran mereka, atau cerita mereka mengenai Yohanes Pembaptis tidak seperti Injil Lukas. Injil Lukas adalah satu-satunya kitab yang menceritakan bagaimana Yohanes lahir di dalam dunia ini; yaitu seorang yang ditetapkan untuk lahir oleh Tuhan sendiri untuk menjadi pendahulu dari Mesias dan untuk menjadi pembuka jalan bagi Yesus Kristus di dalam pelayanan-Nya di tengah-tengah dunia ini.
Itu sebabnya, ini menjadi satu hal yang kita juga perlu renungkan, dan kita perlu mempelajari berkaitan dengan kelahiran Yohanes Pembaptis ini, menjelang pada hari Natal ini. Kapan Yohanes Pembaptis itu dilahirkan? Lukas mencatat dia dilahirkan pada zaman Herodes, Raja Yudea. Artinya apa? Lukas mau memberitahu kepada kita pada waktu Yohanes Pembaptis lahir, dia lahir pada zaman pemerintahan Raja Herodes. Maksudnya apa? Itu seperti penunjuk waktu di dalam kalender kita hari ini. Jadi kalau misalnya saya tanya, “Agus lahir tanggal berapa?” Maka mereka tidak akan ngomong, “Agus lahir pada zaman pemerintahan, misalnya Prabowo.” Tetapi mereka akan berkata, “Agus lahir,” misalnya, “pada bulan Desember. Mungkin pada tanggal 17 dan tahun 2024 Agus lahir dalam dunia ini.” Tetapi pada zaman waktu itu, Raja menjadi salah satu indikator hari dan tanggal dari seseorang itu dilahirkan, atau dari sebuah peristiwa itu terjadi di dalam dunia ini.
Tetapi selain dari penunjuk waktu, kapan Yohanes Pembaptis lahir dalam dunia ini? Sebenarnya ketika Lukas mencatat pada zaman Herodes, Raja Yudea, Yohanes Pembaptis lahir di dalam dunia ini, maka Lukas ingin memberitahu kita mengenai situasi politik yang ada, mengenai situasi budaya yang ada pada waktu itu, atau keadaan dari orang-orang Yahudi pada saat Yohanes Pembaptis lahir. Dari mana kita tahu? Dari pemimpinnya, yaitu Herodes itu sendiri. Jadi pada waktu kita membaca, Lukas berkata, “pada zaman Herodes”, kita perlu mencari tahu siapa itu yang menjadi Herodes. Dan sejarah menyatakan ia adalah orang yang sangat hebat sekali. Kalau Saudara meneliti, pencapaian-pencapaian yang dilakukan oleh Herodes, maka Saudara mungkin akan kagum sekali berkaitan dengan pemerintahannya. Dia adalah seorang yang bisa membangun atau membuat jadi Bait Allah yang ketiga, yaitu pada zaman Yesus Kristus. Bait Allah yang besar sekali, yang membutuhkan puluhan tahun untuk menyelesaikannya. Menurut catatan sejarah itu kira-kira tahun 64 atau 65 Masehi, maka Bait Allah itu bisa diselesaikan.
Jadi pada zaman itu, di abad pertama, Herodes membangun Bait Allah itu sebelum dari kelahiran Yesus. Yohanes Pembaptis ada, Yesus ada, Bait Allah itu tetap dibangun dan belum mengalami penyelesaian sampai pada tahun 64 atau 65 Masehi baru Bait Allah itu boleh diselesaikan. Selain dari pembangunan Bait Allah yang luar biasa itu, saya pernah pergi ke sana, masuk ke dalam bawah tanahnya lihat pondasi daripada Bait Allah itu yang menggunakan batu yang begitu lebar, panjang sekali, ratusan ton beratnya, itu bisa dibawa ke tempat di mana Bait Allah itu dibangun. Ini adalah gambaran sedikit tentang Bait Allah pada zaman Herodes ya.
Selain dari Bait Allah itu, kita bisa lihat ada Masada, satu kota yang tempatnya di atas gunung. Bagaimana bisa membangun kota yang di atas gunung, kita pergi ke sana saja harus melalui apa itu, keranjang yang ada tali sling-nya lalu dibawa ke atas? Gondola ya? Naik melalui gondola itu. Orang bisa naik melalui darat, jalan kaki ke sana tapi itu berat sekali medannya. Kita pergi naik ke atas itu melalui gondola itu, dia bisa bangun satu kota melalui gunung tersebut. Bagaimana caranya? Ini orang yang luar biasa sekali, dia adalah orang yang besar. Maka dia dikatakan sebagai Herodes yang Agung itu.
Tetapi kalau Saudara perhatikan, jabatan yang dia miliki, dia sebagai orang yang dijuluki si Agung itu, kalau kita bandingkan dengan karakternya, dia adalah orang yang sangat bertolak belakang sekali. Dia agung dalam hal apa? Pengetahuannya mungkin, bagaimana dia memimpin, bagaimana dia mengelola tanah Yudea. Apalagi dia bukan keturunan dari orang Yahudi asli. Dia adalah keturunan dari Edom, dan sebagai orang Edom yang memerintah bangsa Yahudi dia pasti tidak memiliki ketenangan di situ, tetapi dia bisa membuat bangsa Yahudi itu tunduk di bawah pemerintahan dia, tanpa mengalami pemberontakan, salah satunya adalah dengan membangun Bait Allah bagi orang-orang Yahudi ini. Jadi, dia adalah orang yang begitu luar biasa sekali, cerdas. Tetapi ada hal yang bertolak belakang, yaitu karakternya tidak mencerminkan kebesaran yang dia miliki di dalam pengetahuan di dalam kemampuan dia memerintah dan kemampuan dia membangun hal-hal yang bersejarah itu.
Di dalam catatan sejarah dunia, tidak dicantumkan secara spesifik mengenai kejahatan yang dilakukan oleh Herodes ini. Tetapi kita bisa menemukan kejahatan yang dilakukan Herodes ini selain di luar maupun di dalam Kitab Suci. Kalau di luar kita bisa dapatkan apa? Kita dapatkan bahwa Herodes adalah orang yang begitu insecure. Begitu tidak merasa aman sama sekali, terutama saat dia mengetahui ada orang-orang yang ingin merebut takhtanya. Kalau nggak salah, Josemus pernah mencatat seperti ini, “lebih baik menjadi babi peliharaan Herodes, daripada menjadi anaknya Herodes.” Kenapa lebih baik menjadi babi? Karena babi tidak mengancam dia. Babi dia pelihara dengan baik, tapi kalau menjadi seorang anak, suatu hari dia bisa menjadi penerus dari Herodes, suatu hari bisa menjadi seorang yang mungkin memberontak orang tuanya. Lalu apa yang harus dilakukan? Kalau Herodes mengambil satu sikap, bantai anaknya. Binasakan saja. Mungkin karena banyak istri yang melahirkan banyak anak kayak gitu ya, atau mungkin dia nggak pernah berpikir usianya ada batas umurnya. Maka dia berpikir dia harus berkuasa dan bertahan terus menerus. Bahkan istrinya sendiri dia tidak segan-segan karena dianggap sebagai suatu ancaman.
Tapi di sisi lain, Alkitab juga mencatat selain daripada dia membunuh anaknya sendiri, dia membunuh istrinya sendiri, Alkitab memberi kita suatu catatan tambahan, dia adalah orang yang begitu kejam sekali karena dia tidak segan-segan untuk membunuh anak yang berusia 2 tahun ke bawah. Jadi pada waktu Yesus Kristus lahir, orang-orang Majus datang mencari tahu berita kelahiran Yesus Kristus tersebut, karena mereka tidak mendapatkan informasi dan mungkin di istana Herodes mengetahui bahwa mereka mencari informasi bahwa bayi itu lahir, maka Herodes memanggil mereka ke Istana. Pada waktu mereka hadir, Herodes mendapatkan informasi dari mereka berkaitan dengan siapa yang dicari, lalu Herodes mendapat informasi dari para Imam Kepala dan Ahli Taurat berkaitan dengan anak itu dilahirkan di mana. Dan pada waktu itu Herodes sepertinya orang yang baik. Dia berkata kepada orang Majus, “Tolong kasih tahu saya ya, di mana anak itu lahir, kenapa? Supaya saya juga bisa datang dan menyembah anak itu seperti engkau mau datang menyembah anak itu.” Tetapi dalam pikirannya, dia bukan mau menyembah, tapi dia mau mencari informasi di mana anak itu supaya ancaman terhadap kedudukannya sebagai Raja itu bisa dihilangkan. Dan ini terbukti pada waktu orang Majus melalui peringatan dari Malaikat pergi meninggalkan kota Betlehem tanpa kembali ke Yerusalem untuk memberitahukan ke Herodes, Alkitab mencatat, ia begitu marah sekali. Dan kemarahan itu dilampiaskan dengan memerintahkan prajuritnya untuk membunuh anak dua tahun ke bawah; karena diperkirakan Yesus berusia hampir dua tahun pada waktu itu.
Jadi siapa dia? Orang yang kejam, orang yang memiliki pemikiran yang luar biasa, cerdas mungkin, bisa mempertahankan posisinya, tapi secara karakter dia adalah orang yang sangat jahat sekali. Dan bahkan kalau Saudara bandingkan dengan kehidupan orang Yahudi sendiri, kita akan menemukan, Yahudi juga dalam kondisi yang rusak, dalam kondisi yang menjauh dari Tuhan, dalam kondisi yang sepertinya beribadah kepada Tuhan tapi sebenarnya hatinya jauh dari Tuhan. Ini adalah momen di mana Yohanes Pembaptis dilahirkan di dalam dunia ini. Jadi pada waktu itu bangsa yang ada, khususnya di daerah wilayah kekuasaan dari Yudea, itu adalah keadaan kelam, keadaannya gelap. Selain dari keadaan seperti ini, Bapak, Ibu, Saudara, kita bisa telusuri juga di dalam catatan sejarah yaitu peristiwa kelahiran Yohanes Pembaptis itu adalah pekerjaan yang mungkin bisa dikatakan yang terawal, yang pertama kembali dari Tuhan Allah di dalam sejarah penebusan dari umat Allah setelah 400 tahun Tuhan diam terhadap umat-Nya.
Jadi di dalam catatan Kitab Suci, kitab terakhir di dalam Perjanjian Lama, itu adalah kitab Maleakhi. Lalu, setelah itu masuk ke dalam Perjanjian Baru. Perjanjian Baru itu di dalam Injil dimulai dengan Injil Matius walaupun, menurut catatan sejarah, Injil yang pertama itu kemungkinan besar adalah Markus. Tetapi Injil Matius diletakkan di pertama untuk menunjukkan ada kesinambungan dari peristiwa Perjanjian Lama: penantian akan seorang Mesias, masuk ke dalam kelahiran dari Yesus Kristus tersebut. Tetapi sebelum Yesus Kristus lahir, di situ lahir Yohanes Pembaptis. Jadi ada kesinambungan dari Perjanjian Lama menuju ke terhadap Perjanjian Baru.
Kalau kita baca sepintas, seolah-olah itu adalah satu peristiwa yang berkelanjutan. Tetapi, menurut sejarah, peristiwa itu memakan waktu 400 tahun. Begitu Maleakhi selesai ditulis – kira-kira tahun 400-an sebelum Masehi – maka tidak ada seorang nabi pun yang pernah diutus oleh Tuhan kepada umat-Nya. Dan setiap doa yang dinaikkan kepada Tuhan, itu sepertinya tidak pernah dijawab oleh Tuhan selama berapa lama? 400 tahun! Mereka terus datang ke Bait Allah, terus beribadah kepada Tuhan. Tapi Tuhan tidak pernah mengutus seorang nabi untuk berbicara kepada umat-Nya pada waktu itu.
Jadi, Israel ada di dalam kondisi yang betul-betul – mungkin kita bisa katakan – tragis, dalam kondisi yang gelap, dalam kondisi yang kacau, dalam kondisi yang sepertinya tidak ada pengharapan sama sekali bagi Israel karena memiliki seorang pemimpin yang begitu jahat, yang secara moralitas begitu kejam, yang seolah-olah baik tapi sebenarnya mereka ada di bawah ancaman yang menakutkan. Dan yang terutama adalah tidak ada Firman yang menyertai bangsa Israel karena tidak ada satu nabi pun yang muncul pada waktu itu yang diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan Firman Tuhan kepada umat-Nya.
Tetapi di sisi lain, ketika kita melihat latar belakang yang begitu kelam ini, Alkitab mencatat adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Siapa dia? Bapak, Ibu bisa telusuri di dalam Perjanjian Lama mengenai siapa itu Abia. Tapi di sini kita bisa melihat Zakharia adalah keturunan dari imam yang memiliki hak untuk melayani Tuhan di dalam Bait Allah. Dan bukan hanya dia adalah keturunan dari imam itu, tapi dia juga memiliki seorang istri yang bernama Elisabet. Elisabet juga adalah keturunan dari Harun: keturunan dari orang yang memiliki hak untuk melayani di Bait Allah juga.
Lalu ketika kita mengetahui dua nama ini kita juga mendapatkan pengertian bahwa mereka adalah orang yang benar. Mereka adalah orang yang hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Jadi pada waktu kita melihat kondisi yang begitu kelam, ternyata masih ada orang yang memiliki hati yang takut Tuhan. Ada orang yang memiliki hati yang betul-betul mentaati Tuhan. Dan ada orang yang tetap berharap kepada Tuhan Allah di dalam kehidupannya. Atau istilah lainnya, mungkin, mereka adalah orang yang baik, mereka adalah orang yang ramah, mereka adalah orang yang sungguh-sungguh memiliki kasih dalam hidup mereka, bukan hanya kepada Tuhan tetapi juga kepada umat Allah yang lain.
Jadi, maksudnya, kenapa di dalam satu ayat, Lukas mencatat di zaman Herodes, Raja Yudea yang begitu kejam, yang begitu kelam sekali atau begitu gelap di dalam perlakuan moralnya yang begitu jahat, ada satu keluarga yang disebut dengan Zakharia dan keluarga yang disebut dengan keluarga dari Elisabet ini? Mungkin salah satu yang bisa menolong kita untuk mengerti adalah dari arti nama Zakharia dan Elisabet juga. Zakharia memiliki arti “Allah yang menjadi, yang mengingat” atau istilah lainnya adalah, kalau Saudara bandingkan dengan Mazmur 121, di sini dikatakan “Allah adalah penjagamu”. Lalu istilah yang kita dapatkan dari Elisabet itu adalah “Allah yang memiliki sumpah atau janji kepadaku” atau istilah lain adalah “Allah yang selalu mengingat akan janji-Nya atau sumpah-Nya kepada umat-Nya” atau dengan kata lain “Dia adalah Allah yang setia”.
Jadi pada waktu Lukas mau mengatakan kepada kita, pada zaman Herodes itu, zaman yang gelap itu, ada orang yang bernama Zakharia, ada orang yang bernama Elisabet. Mereka adalah orang yang benar. Mereka adalah orang yang taat. Mereka adalah orang yang setia. Orang yang tidak bercacat di dalam ketaatannya kepada hukum Tuhan. Kenapa? Karena di situ mereka mengerti bahwa ada Allah yang selalu menjadi Penjaga Israel dan ada Allah yang selalu setia kepada janji-Nya. Atau dengan kata lain, Lukas mau mengatakan: pada waktu zaman gelap dan kelam – mungkin kalau kita bandingkan dengan keadaan kita: mungkin pada waktu kita mengalami resesi ekonomi, pada waktu kita mengalami kesulitan mungkin karena dianiaya, atau pada waktu kita sepertinya mengalami satu penyakit tertentu yang sebenarnya ndak ada harapan, waktu kita ditinggal oleh keluarga kita misalnya – maka Bapak, Ibu harus seperti Zakharia dan Elisabet yang memiliki iman kepada Tuhan. Karena apa? Mereka tahu walaupun keadaan dalam kondisi yang kelam, Tuhan tetap bekerja di tengah-tengah mereka. Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Tuhan tetap setia kepada janji-Nya kepada umat-Nya walaupun itu mungkin memakan waktu yang ratusan tahun terlebih dahulu, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan janji-Nya.
Saya sendiri percaya kenapa butuh 400 tahun untuk menyampaikan mengenai kedatangan Yesus setelah Maleakhi menyelesaikan kitabnya? Kenapa butuh ribuan tahun untuk menulis Kitab Suci? Salah satu sebabnya adalah supaya kita yang hidup pada zaman sekarang ini, yang memiliki Kitab Suci secara lengkap ini, mengerti bahwa Allah itu setia kepada janji-Nya. Allah itu Maha Kuasa. Allah itu memiliki kuasa untuk menjaga umat-Nya dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Kok bisa? Karena janji yang kepada Adam ribuan tahun yang lalu berkaitan dengan seorang Anak yang akan menghancurkan kepala ular itu, itu digenapi dalam diri Yesus Kristus. Janji-Nya kepada Abraham yang mengatakan bahwa, “Engkau akan menjadi Bapa segala bangsa” itu digenapi di dalam Yesus Kristus. Karena ketika orang percaya kepada Kristus, ketika Yesus datang telah menebus manusia, maka di situ segala bangsa disebut sebagai anak-anak Abraham. Ketika kita melihat kepada peristiwa janji ini saja, ketika kita melihat kepada umat Israel yang ada pada dunia ini sampai hari ini, Kitab Suci berkata, “Karena Tuhan tidak pernah melanggar janji-Nya sendiri”. Dia adalah Tuhan yang setia. Dia sanggup menjaga, sanggup memelihara, sanggup memastikan bahwa semua perkataan yang Dia sampaikan itu pasti terjadi di dalam sejarah dunia ini.
Jadi itu sebabnya pada waktu kita melihat kepada peristiwa kelahiran dari Yohanes pembaptis melalui Zakaria dan Elisabet, orang tuanya, di kondisi pemerintahan dari Raja Herodes yang kejam itu, kita bisa memastikan satu hal: walaupun kondisi sepertinya begitu kelam, Bapak, Ibu jangan kecewa, Bapak, Ibu jangan takut, Bapak, Ibu jangan kehilangan pengharapan dan iman kepada Tuhan karena Alkitab mengatakan, “Tuhan melihat. Tuhan menjaga umat-Nya dan Tuhan setia kepada janji-Nya dan Dia sanggup untuk mengerjakan apa yang Dia janjikan tersebut, termasuk memelihara kita.”
Hal yang kedua adalah kita bisa lihat melalui peristiwa dari Elisabet dan Zakharia juga. Kalau kita lihat, siapa mereka? Mereka memang keturunan dari Harun, mereka adalah orang-orang yang memiliki hak untuk melayani di Bait Allah. Tetapi mereka bukan orang muda lagi. Seorang imam memiliki jabatan ketika dia berusia 30 tahun. Tetapi Zakharia dan Elisabet itu adalah orang yang sudah tua; ada yang mencatat, mungkin usianya kira-kira 60 tahun ke atas paling tidak, ada yang mengatakan Elisabet kemungkinan usianya 80 tahun ke atas, seperti itu. Jadi mereka adalah bukan orang muda, orang yang tua. Mengapa hal ini menjadi signifikan? Karena di sini lah kita melihat bagaimana Tuhan bekerja dengan cara yang tidak mungkin kita bisa bayangkan atau sulit untuk kita bisa mengerti.
Menarik sekali setiap kali kita melihat bagaimana Tuhan ingin bekerja dan memulai pekerjaan keselamatan ada hal-hal yang unik yang berulang yang Tuhan catat di dalam Kitab Suci. Contohnya adalah pada waktu, misalnya, Tuhan ingin mengadakan pembaharuan iman kepada Israel di dalam Perjanjian Lama, caranya bagaimana? Caranya adalah mengutus seorang anak yang bernama Samuel untuk lahir dari seorang perempuan yang bernama Hana, yang mandul. Lalu kalau Saudara mundur lagi ke belakang, pada waktu Tuhan ingin membangun sebuah umat yang didasarkan janji dan bukan didasarkan darah dan daging, maka Tuhan berbicara kepada Abraham, “Pada hari engkau akan lahir seorang anak yang akan mewarisi janji dari Tuhan itu.” Lalu Abraham tunggu, tunggu, tunggu selama puluhan tahun dalam hidupnya, dia nggak pernah memiliki realita di mana anak itu dilahirkan. Lalu ketika dia menunggu dan menunggu, Alkitab mencatat dia mendengar masukan dari istrinya, Sara, “mungkin maksud Tuhan adalah bukan melalui rahim saya, tetapi melalui rahim dari perempuan yang lain. Yang penting dia adalah anakmu bukan?” Lalu itu sebabnya Abraham kemudian mengambil Hagar untuk menjadi istrinya, lalu melahirkan Ismail. Selain dari Hagar, Alkitab juga mencatat, setelah Sara mati, Abraham menikahi Ketura dan melahirkan anak-anak dari Ketura itu.
Jadi kalau kita mau bicara anak Abraham ada berapa banyak? Banyak, bukan hanya satu, yaitu dari Sara saja atau dari Ishak. Tetapi ada anak-anak yang lain. Tetapi kenapa ketika bicara anak-anak yang lain itu, Tuhan tidak “mempedulikan” mereka? Tuhan tetap memelihara mereka karena itu adalah anak Abraham, tapi yang saya maksudkan adalah Tuhan tidak mengikat perjanjian dengan Abraham melalui Ismail, melalui anak-anak dari Ketura. Karena prinsipnya adalah Tuhan ingin membangun sebuah keluarga, umat yang bukan berdasarkan usaha manusia tetapi berdasarkan janji anugerah Tuhan. Caranya bagaimana? Caranya adalah melalui Sara yang mandul itu maka Ishak dilahirkan. Begitu dan seterusnya.
Jadi di dalam Perjanjian Lama, ada satu peristiwa yang berulang kali terjadi untuk mengindikasikan saat ini Tuhan akan bekerja untuk meneruskan pekerjaan penyelamatan bagi manusia berdosa. Melalui cara bagaimana? Melalui orang-orang yang mandul di dalam dunia ini, dan melalui orang-orang yang bukan menjadi pemimpin politik melainkan menjadi pemimpin agama di dalam dunia ini.
Jadi hal ini dan prinsip ini juga tetap terjadi di dalam Perjanjian Baru. Pada waktu zaman yang begitu gelap, orang menantikan Mesias tiba untuk menolong mereka untuk keluar dari kondisi itu, lalu siapa yang menjadi orang tersebut? Apakah Tuhan masih mempedulikan mereka? Masih! Buktinya apa? Tuhan akan mengutus seorang anak lahir untuk menjadi pendahulu bagi Mesias melalui seorang perempuan yang mandul. Bahkan Mesias sendiri ketika lahir, dari seorang perawan yang belum menikah. Jadi melalui peristiwa ini kita bisa melihat bahwa Yohanes Pembaptis lahir itu bukan pekerjaan manusia, itu adalah pekerjaan yang bersumber dari Tuhan sendiri. Dan kenapa saya bicara seperti ini? Karena menurut logika manusia, menurut keadaan kesehatan manusia, menurut kondisi biologis dari seorang perempuan, Zakharia dan Elisabet tidak mungkin bisa memiliki keturunan. Mungkin Zakharia masih bisa, tetapi Elisabet tidak mungkin lagi bisa memiliki keturunan karena dia sudah tua, dia sudah menopause.
Jadi melalui peristiwa ini, Alkitab mau menunjukkan kepada kita Tuhan masih sanggup bekerja lho. Tuhan punya kuasa yang begitu besar. Ketika manusia kehilangan pengharapan, ketika manusia berpikir tidak ada solusi sama sekali dalam kehidupannya, yang bisa menolong dia keluar dari suatu peristiwa tertentu, seperti itu, Bapak, Ibu bisa belajar tetap percaya kepada Tuhan. Karena apa? Dia bisa bekerja melalui hal-hal yang mustahil bagi diri kita karena Dia sanggup mengerjakan segala sesuatu yang mustahil menjadi satu realita, suatu fakta yang terjadi di dalam sejarah dunia atau di dalam kehidupan manusia.
Jadi itu sebabnya pada waktu kita bekerja, sebagai orang yang beriman, jangan terlalu sempit untuk membatasi cara kerja Tuhan dalam hidup kita. Di dalam Kitab Perjanjian Lama ada kalimat, “Berkat Tuhan itu tergantung dari seberapa besar Saudara mau membuka mulut, seperti anak burung yang menyambut makanan dari induknya.” Saya waktu baca ayat ini, dalam pemikiran saya selalu seperti ini, induk burung kalau kasih makan kepada anaknya, dia karena anaknya sangat kecil sekali, biasanya kan pasti ibu itu akan menghancurkan makanannya terlebih dahulu lalu menyuapi seukuran dengan mulut dari burung itu. Karena saya suka binatang, saya pernah melihara burung dari bulu kapas. Kalau saya masukin makanan, saya pasti sesuaikan porsi dari makanan itu dengan mulut dari burung itu. Jadi dalam pemikiran saya, oh, kalau induk burung kasih makan, dia pasti yang menyesuaikan porsi makanan dengan mulut dari anaknya itu. Begitu juga dengan binatang yang lain mungkin.
Tetapi ketika saya tinggal di rumah pastori, di Gang Pandan Wangi, kebetulan di situ ada banyak pohon dan serunya adalah tiap tahun pasti ada burung yang bersarang di pohon itu. Dan saya perhatikan, pada waktu anak burung menetas, maka induknya akan bawa makanan kepada anak burung itu untuk diberi makan. Tetapi pada waktu saya perhatikan, saya terus terang kaget sekali karena induk burung memberi makan yang sangat besar sekali tanpa dikunyah terlebih dahulu atau tanpa dihancurkan seperti burung merpati yang masukin dalam temboloknya lalu dikeluarkan dalam rupa bubur, seperti itu. Tetapi burung ini adalah, kalau burung buah, dia akan ambil buah, kadang-kadang saya jengkel ya, saya tanam buah apa, diambilin oleh burung. Misalnya murbei, ukurannya kira-kira ada 3cm-an, kadang-kadang saya lihat ada buah merah, saya nggak tahu buah itu buah apa, tapi diameternya besar sekali. Lalu caranya bagaimana? Ketika anak burung buka mulut, dia akan usahain masukkan buah yang besar itu ke dalam mulut anak burung itu. Kalau yang satu ini nggak mau, nggak bisa, dia ke anak burung yang lain. Dipaksa masuk, sampai akhirnya buah itu ditelan semuanya masuk ke dalam perut. Habis itu dia tenang karena sudah kenyang.
Nah berkat Tuhan kepada diri kita adalah, menurut Perjanjian Lama, itu seperti mulut dari burung, yang dibuka untuk menerima berkat dari induknya atau berkat dari Tuhan. Seberapa besar kita mau menerima berkat itu? Tapi di sini saya bukan berkata kita beriman buta tanpa perhitungan sama sekali ya. Menyesuaikan antara iman kita dengan kuasa berkat Tuhan dalam hidup kita itu sesuatu yang perlu hikmat, itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan sembarangan seperti itu. Tapi saya mau mengatakan ini karena saya mau mengutip dari Pdt. Stephen Tong kemarin di Semarang. Pada waktu peletakan batu pertama, Pak Tong ada bilang satu kalimat yang membuat saya mengatakan ini adalah hal yang benar. Kenapa gereja itu, yang jemaatnya tidak terlalu banyak, tetapi kita berani membangun gereja dengan kapasitas yang begitu banyak sekali orang di dalamnya? Kalimat yang keluar dari Pak Tong adalah “Kita jangan membatasi kuasa Tuhan untuk bekerja memberkati jemaat-Nya atau umat-Nya melalui gereja ini.”
Jadi kalau kita berpikir kita cuma kapasitas 100 orang, 150 orang, 200 orang, kira-kira menurut logika manusia, berapa besar gereja yang kita perlu bangun? Ya mungkin tambah sedikit lah ya, kalau 200, kita bangun 300 lah, atau 400, seperti itu. Tapi kalau bangun 1000 kapasitas gedung, bagaimana? Itu keterlaluan. Itu adalah kurang hikmat, misalnya. Pak Tong berkata, “Jangan batasi kuasa Tuhan untuk bekerja!” Mungkin pikiran kita yang sempit hari ini berkata kapasitas yang maksimal cuma 300-500 orang. Tapi Tuhan akan bekerja jauh lebih besar daripada cuma 300-500 orang. Cuma kita mau buka hati nggak untuk melihat Tuhan bekerja di dalam ini. Karena apa? Seperti yang Tuhan kerjakan dalam Zakharia dan Elisabet. Dia punya cara kerja melampaui dari cara kerja kita, Dia sanggup melampaui sesuatu yang tidak sanggup kita pikirkan dan kita bayangkan dalam hidup kita. Dan di situlah kita belajar untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan karena kita tahu ini bukanlah kuasaku, ini bukan kemampuanku, ini bukan sesuatu karena bijaksanaku dan kepandaianku. Tapi ini semua adalah Tuhan sendiri yang menjadikan hal itu terjadi.
Salah satu hal yang selalu membuat saya sering kali bersyukur dan sering kali tutup mulut adalah pada waktu kita melayani, kita sering kali berpikir kalau makin banyak orang melayani, itu adalah sesuatu yang luar biasa, baik, pelayanan kita sukses. Tapi di dalam pengalaman saya, saya mengamini kalimat Yesus yang berkata, “ladang sudah menguning, tapi pekerja sedikit. Mintalah pekerja yang lebih banyak karena ladang yang menguning itu banyak.” Ada yang menafsirkan selama kalimat itu ada, pekerja tidak pernah banyak, akan selalu sedikit. Dan saya bersyukur karena apa? Karena ketika melayani, saya menyadari satu hal, ternyata bukan karena kuat kuasa kita maka satu pelayanan itu bisa berhasil dan sukses, tapi karena Tuhan yang memberkati pelayanan itu maka pelayanan itu menjadi sukses.
Bapak, Ibu sadar nggak Pdt. Stephen Tong adalah sedikit dari hamba Tuhan yang sudah sedikit itu, yang ketika melayani Injil, tidak pernah menambahkan embel-embel lain di dalam flyer-nya untuk mengundang orang datang di dalam ibadah Natal atau kebaktian KKR. Kalau saya biasanya lihat, misalnya di YouTube atau di flyer yang disebarkan, ketika orang undang acara KKR tertentu, biasanya ada cantum nama artis siapa yang terkenal sekali untuk bisa berbagian di dalam pelayanan itu. Tapi yang dilakukan oleh Pak Tong adalah apa? Hanya mencantumkan tema. Lalu yang kedua, “STEMI”. Lalu nama Pdt. Stephen Tong. Belakangan ini aja ada foto Pdt. Stephen Tong tampil. Tapi sebelum-sebelumnya, Pak Tong sama sekali nggak mau ada fotonya tampil di situ, dan namanya nggak boleh dicantumkan besar-besar sekali dan menyaingi tema. Namanya hanya kecil saja. Karena apa? Pak Tong ngomong, “Saya ini siapa sih? Orang datang bukan karena saya, tapi orang datang harus mengenal tema itu. Berita itu yang membuat orang datang untuk beribadah.” Karena belakangan para pendamping Pak Tong dan juga hamba Tuhan dan penatua berkata mungkin, orang juga perlu mengenal siapa itu Pdt. Stephen Tong, maka Pak Tong izinkan fotonya ditempel di situ. Tapi Pak Tong ngomong harus kecil, nggak boleh besar.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dalam kondisi kayak gini, apalagi temanya “Bertobatlah. Kenapa harus binasa?”, menarik nggak? Bagi orang Kristen mungkin menarik sekali, tapi bagi orang dunia menarik nggak? Saya kok rasa kurang menarik ya. “Immanuel Dalam Sejarah”, apa itu? Tapi kok yang datang bisa ribuan? Ketika dengar firman, kadang-kadang saya mungkin karena terbiasa dengar ya, atau terbiasa mengkhotbahkan, terbiasa membicarakan, kadang-kadang saya dengar, “Pak Tong ngomong ini saya sudah tahu kok. Dari awal hingga akhir ini sederhana sekali. Saya sudah mengerti semua yang Pak Tong mau sampaikan.” Tapi waktu Pak Tong memanggil “Siapa yang mau bertobat dan percaya kepada Kristus maju ke depan. Siapa yang mau commit-kan hidupnya ulang.” Eh ratusan orang dan ribuan orang maju ke depan. Itu kuasa dari mana?
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita sering kali berpikir dengan cara kita, kemampuan kita, kita bisa untuk memenangkan orang, membawa orang datang, menggerakkan orang, tapi kalau kita mengerti prinsip Alkitab, kita mungkin akan merendahkan diri di hadapan Tuhan, lalu berkata, “Tuhan ini pekerjaan Engkau, Engkau yang memulai, biarlah Engkau yang berkati sendiri. Walaupun kami melihat secara manusia hal itu tidak mungkin, tapi kami serahkan ke dalam tangan-Mu karena kami percaya Engkau berkuasa untuk melakukan hal itu.” Nah ini membuat kadang-kadang saya tutup mulut saya. Saya juga manusia kan. Waktu kita menghadapi kesulitan, waktu kita menghadapi tantangan, kadang-kadang kita bisa menggerutu, kadang-kadang kita bisa ngomel, kadang-kadang kita bisa bertanya mengenai keadaan yang ada atau mempertanyakan, seperti itu. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, peristiwa Zakharia dan Elisabet mau mengatakan bahwa Tuhan tidak mau kemuliaan itu pada kita, Tuhan mau kemuliaan itu pada Tuhan. Itu sebabnya Dia sering kali bekerja dengan cara yang tidak mungkin kita bisa bayangkan. Tugas kita apa? Bekerja. Tugas kita apa? Beriman kepada Tuhan. Itu yang kedua ya.
Jadi pertama, Tuhan sanggup bekerja pada waktu, keadaan gelap, tidak ada satu pengharapan yang kita lihat dengan mata kita. Yakinlah, Tuhan selalu bekerja dan tidak pernah meninggalkan kita di dalam hal ini. Yang kedua adalah Tuhan bekerja dengan cara yang di luar daripada kemampuan kita untuk mengerti dan menerimanya. Dan itu untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan dan bukan untuk diri kita sendiri. Yang ketiga adalah Tuhan bekerja di tengah-tengah kita bekerja. Agak mirip yang kedua sedikit aplikasinya tadi. Tapi yang ketiga ini saya mau tekankan, kapan Tuhan bekerja untuk mulai menyatakan karya keselamatan-Nya bagi manusia? Satu hal yang pasti adalah Tuhan tidak bekerja melalui orang yang tidak bekerja. Tuhan bekerja melalui orang yang bekerja melayani Tuhan. Bagaimana kita tahu? Tuhan menampakkan diri kepada Zakharia pada waktu Zakharia melayani Tuhan di Bait Allah. Jadi, pada waktu itu, malaikat Tuhan diutus oleh Tuhan datang untuk memberitakan mengenai kabar kelahiran dari anaknya. Bahwa doanya sudah didengar oleh Tuhan Allah.
Nah, di mana saat itu Zakharia berada? Boleh tampilin gambar tadi, ya. Saudara bisa lihat, ini adalah gambar potongan dari atas untuk Bait Allah. Di paling bawah itu adalah court para wanita. Di paling bawahnya lagi itu adalah untuk orang-orang bukan Yahudi. Jadi, orang-orang bukan Yahudi hanya ada tulisan east itu, masuk sedikit yang ada kotak. Itu adalah untuk orang-orang bukan Yahudi di situ. Mereka mau menghadap Tuhan hanya sampai di tempat itu. Kalau mau di gereja kita, mungkin sampai pintu gerbang warna hitam itu, lho. Nggak boleh masuk sama sekali. Lalu, yang boleh masuk itu siapa? Wanita. Perempuan boleh masuk ke halaman sebelum mungkin dinding granit yang warna merah itu. Wanita hanya boleh di space itu saja dan itu adalah court of the women. Yang laki-laki bagaimana? Yang laki-laki boleh masuk sedikit ke dalam. Di situ ada pintu gerbang. Saya nggak terlalu terlihat. Bapak, Ibu bisa kebaca, nggak? Nicanor Gate di situ. Lalu, orang laki-laki itu hanya boleh masuk sedikit dan ada di antara Nicanor Gate dengan garis yang di atasnya sedikit. Lalu, di atasnya lagi itu adalah para imam di situ. Jadi, laki-laki akan masuk, bawa korbannya, melihat para imam mengolah korbannya itu di Dukan di situ. Lalu kemudian mereka diam menunggu sampai imam itu memberikan korban persembahan itu kepada Tuhan di situ. Lalu, yang boleh masuk lagi itu siapa? Para imam yang melayani di pelataran ini. Yang boleh masuk ke dalam Bait Allah itu siapa? Imam dari keturunan Harun.
Nah, waktu Imam Zakharia masuk, dia sudah masuk ke dalam bangunan yang ada di dalam garis hitam atau Holy Place tersebut. Nah, di dalam Holy Place itu, Bapak, Ibu bisa lihat di sisi kiri itu adalah tempat Candle stick. Ada tiang lilin yang terdiri dari 7 cabang itu ditaruh di situ dan api di lilin itu harus terus menyala setiap hari 48 jam, nggak boleh berhenti sama sekali, nggak boleh padam sama sekali. Lalu, di seberangnya itu adalah meja tempat roti ditaruh di situ. Ada 12 roti yang ditaruh di situ yang melambangkan Israel. Lalu, yang di depan yang berseberangan dengan Holy of Holies atau ruangan mahasuci, ada tirai di situ yang memisahkan. Di situ ada meja ukupan di mana para imam harus berdoa di depan meja itu dan asap yang dibakar dari dupa yang ada itu tidak boleh padam di situ, harus terus menyala.
Nah, pada waktu Imam Zakharia sedang berdoa di situ, tiba-tiba malaikat Tuhan menampakkan diri di sebelah kanan dari altar doa itu untuk berbicara kepada Imam Zakharia. Jadi, pada waktu kita bicara: kapan Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Zakharia? Yaitu pada waktu Imam Zakharia bekerja melayani Tuhan. Lalu, saya mau tarik sedikit. Kira-kira, apa yang didoakan Imam Zakharia? Kalau Bapak, Ibu ada kebutuhan yang besar, Bapak, Ibu diberi kesempatan untuk menghadap Tuhan dan melayani Tuhan, kira-kira apa yang Bapak, Ibu doakan pada waktu itu? Yang kedua adalah bagaimana Bapak, Ibu melihat pada pengertian pelayanan itu sendiri? Seperti apa itu pelayanan?
Saya jawab yang kedua ini dulu, ya. Ada yang mengatakan seperti ini: Pada waktu seorang imam dipanggil untuk melayani di dalam Bait Suci atau Bait Allah, maka jumlah imam yang melayani di Bait Allah itu ada puluhan ribu. Ada yang mengatakan 10.000, ada yang mengatakan 18.000-20.000, seperti itu. Mana yang benar? Tapi yang paling tidak dicatat oleh sejarahwan Yosefus mengatakan kira-kira ada 20.000 imam yang bisa bertugas di dalam Bait Allah pada waktu itu. Dan pada waktu mereka bertugas karena ada begitu banyak imam yang bisa bertugas di situ, maka mereka akan membuang undi untuk menentukan siapa yang akan bertugas di dalam Bait Allah itu. Dan setelah masa jabatan tugas itu selesai, maka namanya akan dikeluarkan dari undian itu. Nggak boleh dimasukkan lagi supaya imam yang lain bisa mendapatkan giliran untuk melayani di dalam Bait Allah.
Nah, ini membuat kalau kita menghitung, ada yang menafsirkan kayak gini. Kemungkinan seseorang untuk melayani di dalam Bait Allah itu kira-kira seumur hidup berapa kali? Dia ngomong cuma 1 kali. Jadi, kesempatan Imam Zakharia datang ke Bait Allah untuk melayani Tuhan di situ, itu adalah kesempatan seumur hidup 1x dia bisa melayani Tuhan di dalam Bait Allah. Maka, pada waktu kita melayani Tuhan atau Zakharia melayani Tuhan, bagaimana dia melihat kepada kesempatan pelayanan itu? Dia akan ngomong ini adalah satu privilege. Satu hak istimewa yang Tuhan berikan kepada saya untuk bisa melayani di dalam Bait Allah untuk melayani Tuhan di situ.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kemarin waktu saya memimpin Natal pascasarjana UGM-pranatal, ya, mereka bilang-ada kesaksian dari panitia yang lama, ngomong kayak gini: “Saya harap panitia yang baru bisa tetap rajin melayani, walaupun pelayanan itu adalah sesuatu yang sulit.” Amin? Amin, ya. Tetap semangat, tetap melayani, walaupun pelayanan itu sulit. Tapi, setelah itu ada panggil ada 1 ibu datang ke depan. Dia ngomong kalimat kayak gini: “Saya mau kasih perspektif yang berbeda. Tadi, panitia bilang, pelayanan itu adalah sesuatu yang sulit. Sekarang saya mau bicara. Melayani Tuhan itu adalah anugerah, hak istimewa yang Tuhan berikan bagi diri kita.” Saya waktu itu mendengar, saya mensyukuri kalimat itu keluar karena itu adalah kalimat yang sangat benar sekali.
Bapak, Ibu ketika melayani Tuhan, kadang-kadang di dalam realita, makin kecil gereja, makin sering melayani. Makin besar gereja, makin banyak pelayan, mungkin makin frekuensi melayani itu makin berkurang, tetapi paling tidak, kita dalam hidup kita nggak seperti Zakharia yang satu kali hanya dalam seumur hidup bisa melayani Tuhan di dalam bait-Nya. Kalau kita saat ini, mungkin berapa minggu sekali kita bisa melayani Tuhan atau setiap minggu kita bisa dijadwal untuk melayani Tuhan, sehingga kadang-kadang kita berpikir pelayanan itu suatu beban. Pelayanan itu sesuatu yang, yang bukan hal yang utama. Kita bisa singkirkan, bisa alokasikan untuk hal yang lain dalam hidup kita baru setelah hal yang lebih penting itu selesai maka pelayanan baru kita kerjakan dalam hidup kita. Bahkan ada yang mengatakan “Kalau saya dipasangin dengan orang itu, saya nggak mau melayani sama sekali!” Milih-milih lagi.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa bisa seperti itu? Mungkin karena terlalu terbiasa untuk melayani, dijadwalkan untuk melayani, maka kita merasa bahwa nggak terlalu pentinglah kalau kita bisa melayani di dalam gereja Tuhan. Tapi coba kita punya prinsip seperti Zakharia ya. Saya tahu kadang-kadang ada orang yang betul-betul punya hati mau melayani, tapi memang ada urgensi-urgensi tertentu yang membuat dia tidak bisa melayani. Tetapi paling tidak yang saya mau tekankan hari ini adalah, pada waktu kita melayani, tolong uji, saya melayani karena ditugaskan, karena nggak ada orang lain saat itu, atau saya melihat pelayanan itu adalah suatu privilege yang Tuhan berikan bagi diri kita. Bayangkan Zakharia, kalau Bapak, Ibu jadi Zakharia pada waktu itu, yang seumur hidup cuma satu kali bisa melayani Tuhan lalu dapat jadwal itu, Bapak, Ibu akan tolak atau terima? Saya yakin kemungkinan besar kita terima untuk melayani Tuhan pada waktu itu. Itu yang terjadi pada Zakaria pada hari itu. Makanya saya melihat tafsiran yang mengatakan bahwa pelayanan adalah suatu privilege, itu adalah sesuatu yang kita bisa pelajari, dan kita Amin-kan di dalam pelayanan kita.
Lalu yang kedua adalah, yang pertanyaan pertama, pada waktu Zakharia masuk, lalu dia berdoa di hadapan Tuhan, kira-kira apa yang dia doakan? Saudara, ada yang mengatakan, dia berdoa minta anak dan Tuhan mengabulkan anak kepada Zakharia. Kalau saya pribadi setuju dengan para penafsir yang mengatakan doa Zakharia bukan doa mengenai anak, karena saat itu istrinya sudah menopause. Jadi harapan punya anak, itu sudah sirna dari hidup Zakharia dan Elisabet. Awal mula ketika mereka masih muda, mungkin mereka akan doa dengan tekun di hadapan Tuhan minta seorang anak. Tapi setelah menopause datang, mungkin mereka sudah nggak berdoa itu lagi atau mungkin ketika mereka sudah masuk ke usia yang lebih tua, mereka sudah tidak terlalu menjadikan anak itu hal yang utama di dalam kehidupan mereka.
Lalu apa yang mereka doakan ketika malaikat berkata “Jangan takut hai Zakaria sebab doamu telah dikabulkan dan, di situ ada kata dan baru Elisabet istrimu akan melahirkan seorang anak lai-laki”? Kita stop di awal kalimat ya. “Jangan takut Zakaria, doamu telah dikabulkan.” Doa yang apa? Nah ada yang menafsirkan kayak gini, doa yang seperti dinaikkan oleh Simeon di dalam Lukas pasal kedua. “Di mana Simeon adalah orang yang benar dan saleh dan dia menantikan penghiburan bagi Israel”, ayat yang ke-25. Jadi, pada waktu seorang datang di dalam Bait Allah, selain dari dia akan berdoa meminta pengampunan bagi dosa umat-Nya, mereka juga akan berdoa meminta supaya Mesias yang dijanjikan itu tiba, datang seperti yang Tuhan janjikan. Menantikan penghiburan bagi Israel. Itu yang didoakan oleh Zakaria.
Nah, Bapak, Ibu bisa lihat di dalam Maleakhi pasal yang keempat terakhir. Ini juga yang dijanjikan, dan menjadi penutup dari Perjanjian Lama. Maleakhi 4:5-6 “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.” Jadi, selama kitab ini ditutup, orang Israel selalu menantikan kapan Elia itu datang. Lalu kalau Bapak, Ibu bandingkan dengan Maleakhi pasal 3 mereka akan mengetahui, Elia itu adalah pendahulu dari Tuhan sendiri yang akan datang. Jadi mereka berkata “Kapan Tuhan akan datang?” 400 tahun mereka menantikan itu. Dan ketika hari di mana Zakharia melayani di bait Allah, di situ ketika Zakharia berdoa mengenai Mesias itu, Tuhan menjawab doa itu. Tapi jawaban itu bukan istrimu Zakharia Elisabet akan melahirkan Mesias, tapi yang Tuhan katakan adalah: “Anakmu akan menjadi pendahulu bagi Tuhan, untuk membuka jalan bagi Tuhan.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini saya percaya adalah hal yang luar biasa sekali harusnya bagi Zakharia. Dan Alkitab atau malaikat itu mengatakan, anak itu akan tumbuh besar di hadapan Tuhan dan akan membawa suka cita. Di sini ada 2 hal yang penting lagi, kalau Bapak, Ibu mempunyai anak, mendidik anak, Bapak, Ibu lebih suka dia besar di hadapan Tuhan atau di dalam dunia. Alkitab lebih pentingkan dia besar di hadapan Tuhan. Jadi, satu sisi kita mungkin bisa rajin les-in anak kita ini dan itu, tapi hati-hati ya, kalau kita mengejar les-in anak ini dan itu, semua pelayanan gereja, kesempatan bertumbuh dalam gereja kita nomor duakan. Anak kita kejar mati-matian, walaupun susah, capek, lelah, hujan lebat, sakit, pokoknya harus terjadi. Gereja, lelah sedikit, maaf ya saya nggak bisa hadir, dan yang lain-lain. Hati-hati, mungkin kita sedang didik anak kita untuk tidak besar di hadapan Tuhan. Tapi kita mendidik dia untuk besar di dalam dunia karena kita lebih utamakan dan prioritaskan kepentingan dunia. Malaikat berkata “Anak itu akan besar di hadapan Tuhan” Kenapa? Karena itu yang penting bagi Tuhan.
Yang kedua adalah, dia adalah orang yang bagaimana? Dia akan besar di hadapan Tuhan, dia akan menjadi orang yang disebut orang yang tidak memakan atau meminum anggur di situ, dan kita baca aja di sini. Ayat yang ke-16 ya “Dia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka dan dia akan berjalan mendahului Tuhan dalam Roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang durhaka kepada pikiran orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Sebelumnya ada kalimat: “dia akan membawa suka cita bagi banyak orang.” Suka cita bagi banyak orang, itu bukan seperti suka cita kita mendapatkan kelahiran bayi di dalam keluarga kita. Lalu anak-anak berbalik kepada bapa bukan berbicara mengenai satu keluarga dipulihkan kembali oleh Yohanes Pembaptis. Tetapi dua peristiwa ini memiliki pengertian yang berkaitan. Membawa suka cita kepada apa? Kepada bangsa, kepada orang yang durhaka, mereka akan bertobat dan kembali kepada Tuhan. Kenapa dikaitkan dengan bukan anak yang kembali dan keluarga inti dipulihkan? Karena ada perkataan Yesus yang mengatakan seperti ini: “Aku datang bukan untuk membawa damai, tetapi aku datang untuk membawa pedang.” “Kalau anak lebih mencintai orang tuanya, istrinya, suaminya, saudaranya lebih dari Aku, dia nggak layak mengikuti Aku.” Bahkan yang benar adalah, dalam keluarga akan terjadi perpecahan karena yang satu percaya kepada Yesus, yang lain tidak percaya kepada Yesus Kristus.
Saudara, jadi kalau kita berpikir, ketika Yesus datang ke dalam dunia, ketika ada seseorang yang percaya kepada Yesus dalam dunia ini, kita berpikir keluarga itu pasti dipulihkan kembali. Mungkin itu bukan jawaban dari perkataan ini. Yang ada mungkin terjadi permusuhan di dalam keluarga itu, kebencian bukan karena orang Kristennya membenci, tapi keluarga yang memusuhi Kristus itu membenci orang yang percaya kepada Kristus. Jadi maksudnya apa? Maksudnya ketika anak itu datang ke dalam dunia, dia akan dipakai oleh Tuhan untuk membawa pertobatan dari anak-anak kepada bapa-bapanya. Maksudnya adalah, anak-anak kepada pengajaran yang ditinggalkan oleh bapa-bapanya, yang sebelumnya yaitu mengenai Tuhan, mengenai ketaatan kepada Tuhan, mengenai Mesias yang akan datang itu.
Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu akan membawa kepada satu suka cita yang besar bagi umat Allah. Ini panggilan dari Yohanes Pembaptis ketika dia datang ke dalam dunia ini. Saya nggak menampik ada keluarga yang dipulihkan. Misalnya di dalam Perjanjian Baru, ketika kepala penjara Filipi bertobat, Paulus berkata : “Kalau engkau bertobat, engkau dan seisi rumahmu akan diselamatkan.” Ada peristiwa yang lain juga seperti itu. Hal itu bisa terjadi. Tetapi mohon tanya, ada berapa banyak orang yang dari bukan Kristen ketika menjadi Kristen justru diusir oleh keluarganya? Itu juga nggak sedikit. Ada berapa banyak orang Kristen yang sampai mati keluarganya juga tidak percaya kepada Kristus? Ada orang-orang seperti ini. Jadi yang penting adalah kita kembali kepada Tuhan, tugas panggilan dari Yohanes Pembaptis adalah membuka dan mempersiapkan jalan untuk Kristus boleh tiba dan datang. Dan saya percaya itu juga menjadi satu tugas panggilan kita supaya kita membawa orang melihat kepada Kristus.
Kalau kita terlalu berkompromi dengan dunia, ada pengkhotbah yang mengatakan, Saudara pasti ditolak oleh Tuhan. Kalau Saudara sangat mentaati Tuhan, maka Saudara pasti tidak akan terlalu berkompromi dengan tradisi dan budaya dari dunia ini, maka Saudara akan ditolak oleh dunia. Itu adalah panggilan kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan.
Terakhir. Ini menjadi satu penghiburan juga. Kalau tadi kita lihat dari Zakharia dan Elisabet, ini juga masih dari Zakharia dan Elisabet. Siapa mereka? Mereka orang yang percaya kepada Tuhan nggak? Satu sisi dikatakan percaya. Melalui siapa? Mereka adalah orang yang taat, orang yang saleh, orang yang hidup benar, orang yang melakukan segala perintah Tuhan dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat dalam hidup mereka. Tapi, mereka percaya nggak ketika Tuhan bekerja melalui hidup mereka? Tidak. Pada waktu malaikat datang, bicara: “Zakharia, kamu akan melahirkan seorang anak. Dia adalah Yohanes, dan dia akan menjadi suka cita bagi bangsa-bangsa.” Yang keluar dari mulut Zakaria adalah: “Tuhan, bagaimana aku tahu bahwa hal itu akan terjadi? Aku sudah tua, istriku sudah lanjut umurnya.” Maksudnya apa? “Tuhan, ada tanda nggak ya? Supaya aku yakin kalau yang Engkau katakan itu adalah benar.” Artinya adalah, Zakaria nggak percaya dan itu dikonfirmasi oleh malaikat Tuhan, Gabriel di dalam ayat yang ke-20, “Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai pada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.”
Saudara, Zakharia tidak percaya. Kita, ini adalah satu pukulan keras ya. Kadang-kadang kita pikir kita taat kepada Tuhan, kita baik, kita percaya kepada Tuhan, tapi ketika Tuhan meminta sesuatu yang radikal dalam hidup kita, ketika Tuhan meminta kita berbalik arah secara tegas dalam kehidupan kita, meninggalkan kebiasaan kita, meninggalkan kenyamanan kita, saat itu kita mulai goncang. “Saya ragu deh Tuhan ini baik untuk saya. Tolong kasih saya tanda Tuhan karena saya tidak percaya hal itu akan terjadi.” Tapi hal ini ketika terjadi, mohon tanya, itu membatasi Tuhan bekerja melalui kita tidak? Zakharia, ketidakpercayaannya tidak membuat Tuhan tidak bekerja melalui Zakharia dan Elisabet. Elisabet tetap hamil, mengandung dan melahirkan Yohanes.
Nah ini menjadi satu penghiburan kenapa? Kita di dalam melayani Tuhan, kadang-kadang ada di dalam posisi Zakharia. Satu sisi kita kelihatan benar dan saleh, tapi di sisi lain kita sedang meragukan janji Tuhan, meragukan kebenaran Tuhan dalam hidup kita. Tapi satu hal, jangan terlalu cepat menghakimi orang seperti ini karena Tuhan masih bisa bekerja melalui hidup dia. Mungkin Tuhan sedang ingin membentuk dia, dan memimpin kehidupan dia.
Terakhir yang terakhir ya. Kalau orang melawan perkataan Tuhan, dampaknya apa? Zakharia bisu. Dia dihukum oleh Tuhan. Jangan pikir melawan perkataan Tuhan itu nggak ada konsekuensi ya. Ada konsekuensi bagi orang yang melawan Tuhan dan dibuktikan dengan Zakharia. Sekarang saya mau kaitkan sedikit, kalau orang mendengar Injil lalu mengeraskan hati terhadap Injil, kalau orang menerima kabar berita kelahiran Yesus dalam dunia untuk menyelamatkan manusia, lalu dia menolak berita kabar baik itu, ada konsekuensi tidak? Pasti ada. Dia akan ditolak oleh Tuhan. Jangan kira kita akan baik-baik. Selama kita tidak mentaati Tuhan, pasti ada konsekuensi. Anak Tuhan sendiri kalau tidak mentaati Tuhan ada konsekuensinya, Tuhan pasti hajar, apalagi orang yang menolak Kristus dalam hidupnya. Jadi, kiranya Tuhan boleh memberkati kita, melihat kembali bagaimana Tuhan boleh bekerja di kondisi yang gelap, di kondisi yang mustahil, di dalam kondisi yang ketika kita bekerja melayani Tuhan, di dalam kondisi di mana ketika kita tidak bisa memberikan suatu respons yang benar ketika melayani Tuhan, itu tidak pernah menjadi penghalang Tuhan bekerja mewujudkan kehendak-Nya di dalam kehidupan kita dan juga di dalam dunia ini. Mari kita berdoa.
Kami sungguh bersyukur Bapa, tuk Firman yang boleh kami dengarkan hari ini mengenai kuasa Tuhan, janji Tuhan, kesetiaan Tuhan dalam kehidupan kami sehingga kami boleh belajar percaya kepada Engkau dan boleh belajar bergantung kepada Engkau dan meyakini Engkau dan perkataan Engkau dalam kehidupan kami. Biarlah kembali ya Tuhan natal pada hari ini boleh makin memperjelas kami akan kuasa Tuhan di dalam menyelamatkan hidup kami dari dosa kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. (HS)
(HS)
