Cara Pandang Kita Terhadap Alkitab
Yer. 31:3
Pdt. Yan Wira
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pernahkah Bapak, Ibu, Saudara memiliki sebuah pengalaman ketika, misalkan, Bapak, Ibu, Saudara mengirimkan pesan melalui WhatsApp namun penerima pesan seperti tidak pernah membacanya. Atau bahasa kita mungkin “centang 2 yang masih abu-abu”, begitu ya, bukan “centang 2 yang biru”. Dan lama Saudara tunggu pesan tersebut dibaca tetapi pesan tersebut seperti tidak pernah dibuka. Mungkin Bapak, Ibu, Saudara berpikir apakah dia memang tidak membukanya ataukah ada pikiran lain, mungkin, dia sudah membacanya tetapi sengaja menon-aktifkan notifikasinya, begitu ya. Sehingga ada beberapa kemungkinan. Dan tentu hal itu membuat kita sedih, seperti pesan penting kita tidak dihiraukan. Apalagi jika penerima tersebut tidak pernah membalasnya, sehingga ada 2 tanda tanya yang mungkin kita tidak tahu. Bapak, Ibu, Saudara, hal itu juga mungkin menjadi pengalaman anda juga ketika ada orang berkirim pesan Anda tidak menghiraukannya.
Nah kalau misalkan zaman Bapak, Ibu, Saudara yang lebih lama, seusia saya misalkan, di mana belum ada teknologi seperti sekarang, dulu kami masih bersurat-suratan ketika berkomunikasi. Dan kita juga sangat merindukan bukan, ketika kita mengirimkan sebuah surat kepada seseorang yang mungkin itu adalah orang yang kita kasihi, kita pasti merindukan surat tersebut dibaca. Tetapi ketika kita menanti balasan, ketika sudah kirim surat menunggu balasan, sebulan, dua bulan tidak ada balasan, setahun tidak ada balasan, tentu ada satu rasa sedih di dalam hati; “apakah surat yang aku sudah tulis dengan sebuah perhatian yang penuh tidak mendapatkan perhatian bagi orang yang sudah menerimanya?”
Bapak, Ibu, Saudara, pengalaman-pengalaman seperti ini tentu menjadi pengalaman yang bagi kita, yang memberikan pesan, itu tentu sangat menyedihkan. Pengalaman di dalam gereja pun mungkin sama bagi Bapak, Ibu, Saudara yang sudah terbiasa dengan humas ya, setiap kali ada kegiatan-kegiatan, acara-acara besar oleh Pdt. Stephen Tong, lalu kita ber-humas. Pada saat kita ber-humas, kita mengirimkan brosur, mengirimkan poster, mengirimkan surat pengantar ke gereja. Setelah beberapa gereja kita kirimkan, lalu beberapa waktu kemudian kita baru tahu, ternyata surat yang kita kirimkan hanya ditaruh di meja administrasi, sama sekali tidak dibuka, sama sekali tidak dibaca, apalagi dibahas untuk membawa orang datang ke ibadah. Begitu ya.
Nah Bapak, Ibu, Saudara, tentu hal-hal seperti ini membuat hati kita sedih, terkadang kecewa dan memikirkan kenapa ya mereka yang menerima maksud baik dari kita, entah itu pesan WA, entah itu surat yang kita tulis dengan begitu penuh perhatian, tetapi mereka tidak ada sedikit pun perhatian. Apakah mereka malas? Apakah mereka betul-betul, mungkin, sudah skeptis terhadap kita yang mengirimkan surat? Ataukah sikap bagaimana, kita tidak tahu Bapak, Ibu, Saudara.
Nah maka jika saya sudah memberikan sedikit pengantar bagaimana kita yang menjadi pengirim pesan tetapi pesan tersebut tidak dihiraukan oleh penerima pesan, hal tersebut tentu sangat menyakitkan bagi kita pengirim pesan tersebut. Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, tahukah kita, tahukah anda, bahwa sebenarnya demikianlah hati Tuhan. Demikianlah hati Tuhan ketika pesan yang sudah dinyatakan di dalam Alkitab tidak kita hiraukan. Kita sering sekali mengabaikannya. Maka di dalam kesempatan pagi hari ini, saya hendak mengajak kita untuk menggeser cara pandang kita terhadap Alkitab.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, selama ini pandangan seperti apakah yang Bapak, Ibu, Saudara miliki terhadap Alkitab kita ini? Tadi di ayat pengantar, saya sudah menyampaikan atau membacakan satu dasar yang sangat penting sekali, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal. Sebab itu, Aku melanjutkan kasih setia-Ku padamu.” Itu adalah sebuah ungkapan isi hati Tuhan yang dinyatakan melalui surat cinta-Nya Tuhan. The love letter from God. Surat cinta-Nya Tuhan sudah diberikan kepada anda, tapi bagaimanakah sikap Anda dan banyak orang Kristen lain terhadap Alkitab, terhadap surat cinta-Nya ini?
Saudara, mungkin banyak orang menganggap Alkitab ini adalah buku suci yang menakutkan sekali sehingga kita harus memperlakukan dengan sangat hati-hati sekali. Mungkin juga ada orang yang memandang Alkitab ini adalah buku cerita fiksi di mana banyak orang pun meragukan kebenarannya. Apakah Alkitab ini betul-betul menjadi catatan isi hati Allah? Atau misalkan, apakah Saudara menganggap Alkitab ini adalah buku kuno yang membosankan untuk dibaca? Atau mungkin sebuah buku fisika yang begitu rumit dan memaksa dan memeras otak kita untuk mempelajarinya? Atau mungkin sebuah buku matematika yang membuat pusing kepala pada waktu kita tidak menyukai matematika, misalkan. Misalkan ketika baca Kitab Bilangan, begitu, ya. Atau misalkan Saudara menganggap Alkitab ini sebuah buku biologi. Di saat-saat tertentu mungkin menarik pada saat diperhadapkan dengan sebuah penelitian tentang anatomi tubuh manusia, tetapi di satu sisi menuntut penghafalan-penghafalan istilah-istilah biologi. Atau mungkin Saudara menganggap Alkitab ini adalah sebuah buku biografi yang kita pikir, “Ah, tidak ada relasinya dengan hidup saya! Ini adalah buku kisah biografi umat Israel,” misalkan. Saudara, ataukah Saudara betul-betul menganggap dan memandang bahwa Alkitab ini adalah surat cinta dari Kekasih anda yang setiap waktu, engkau baca berulang-ulang? Sambil engkau membacanya, engkau mengagumi pesan yang dituangkan di dalamnya. Sambil membacanya, engkau mengagumi kecantikan-Nya, ketampanan-Nya? Engkau mengagumi bagaimana Dia menuliskan dengan penuh perhatian kepada anda? Saudara, maka cara pandang inilah yang saya mengajak kita boleh membenahinya.
Tanpa disadari, banyak orang Kristen yang memperlakukan surat cinta dari Tuhan, yaitu Alkitab ini secara demikian, menganggap bukan hal yang penting bagi hidupnya, tetapi menganggap seperti buku-buku yang tadi saya sebutkan. Maka, sebenarnya, Bapak, Ibu, Saudara, waktu kita membaca Alkitab ini adalah satu cetusan isi hati yang di dalam Yeremia dinyatakan sebagai sebuah perjanjian di mana Allah mengasihi kita dengan kasih yang kekal dan Dia melanjutkan kasih setia-Nya secara terus-menerus kepada Saudara dan saya. Di dalam surat cinta Tuhan ini, Allah menyatakan kasih-Nya dan menuangkan isi hati-Nya serta melibatkan anda dan saya dan berulang kali Dia menyatakan, “Aku mengasihi engkau.”
Saudara, mungkin sebagai orang Kristen yang sudah bertahun-tahun, mungkin Saudara lahir dari keluarga Kristen atau Saudara baru menjadi orang Kristen di tengah perjalanan usia Saudara, tapi seberapa banyak Saudara yang terus-menerus mengulang-ulang surat cinta dari Tuhan ini dan mengaguminya? Ataukah mungkin Saudara belum pernah membaca secara utuh keseluruhan dari apa yang Tuhan tuangkan di dalam Alkitab. Saya tidak tahu apakah Saudara sudah pernah membacanya secara keseluruhan isi Alkitab ini. Kalaupun Saudara sudah membaca keseluruhan isi Alkitab, apakah benar-benar Saudara sudah memahami isi hati Tuhan melalui Alkitab ini?
Saudara, padahal Tuhan telah menuliskan cetusan isi hati-Nya ini selama ribuan tahun dan cetusan hati-Nya itu ditujukan untuk anda dan saya karena cinta-Nya, karena kesabaran-Nya. Di dalam cetusan isi hati-Nya, Dia menuliskan kisah-Nya, Dia menuliskan His story and also your story, Dia menuliskan love story to you and me. Saudara, Tuhan mencurahkan isi hati-Nya melalui para Nabi dan Rasul. Untuk apa? Untuk satu tujuan yaitu untuk mengajar Saudara, mendidik Saudara, untuk mendidik orang di dalam kebenaran. Saudara, mengapa banyak orang-orang Kristen mungkin di dalamnya anda masih malas membaca Alkitab? Ketika Saudara malas membaca pesan dari Tuhan ini, ada banyak sebab, mungkin Saudara merasa malas karena Alkitab ini cukup tebal, gitu ya, sangat tebal dan terlalu banyak istilah-istilah yang mungkin kita masih tidak pahami. Atau mungkin Saudara berpikir, “ah baca Alkitab tuh lama sekali. Kalaupun saya mau konsisten, mau rutin, ya, satu tahun lah kira- kira baru menyelesaikan isi Alkitab.” Maka Saudara, jika Saudara sebenarnya tidak mau membacanya, maka sebenarnya Saudara sedang menolak didikan Tuhan. Jika Saudara tidak mau membacanya, Saudara sedang menolak teguran Tuhan dan juga Saudara menolak untuk dikoreksi oleh Tuhan. Saudara menolak didikan Tuhan di dalam kebenaran.
Maka Bapak, Ibu, Saudara, saya sangat menyadari sekali kemalasan-kemalasan orang Kristen ketika membaca firman Tuhan, membaca Alkitab didasari karena sering kali belum memahami pesan utamanya. Ketika pesan utamanya belum dipahami, maka membaca kisah-kisah di dalam Alkitab, membaca tulisan-tulisan di dalam Alkitab serasa membosankan dan serasa membingungkan. Maka, saya memberikan sebuah ilustrasi gambaran yang sangat sederhana sekali. Ketika saya masih kecil, saya senang sekali menyusun puzzle. Dan setiap kali saya membeli puzzle atau orang tua saya membelikan puzzle, maka terlebih dulu saya harus mengamati gambar utama dari puzzle tersebut. Ketika saya sudah mengamati gambar utama dari puzzle tersebut, kira-kira ini gambar apa ya? Ini gambar sebuah pemandangan. Oh ada matahari di bagian ujung dan sungai, jembatan, rumah-rumah dan sebagainya, maka mulai lah saya membongkar puzzle tersebut. Dengan sebuah grand image yang sudah ada di kepala saya maka saya mulai satu per satu menyusun puzzle tersebut. Biasanya di dalam puzzle juga masih ada duplikasi dari image tersebut, dari gambaran tersebut sehingga itulah yang menjadi patron kita menyusun kepingan-kepingan puzzle tersebut.
Ini adalah gambaran Bapak, Ibu, Saudara jika Bapak, Ibu, Saudara belum memahami pesan utama dari isi Alkitab maka sebenarnya Bapak, Ibu, Saudara hanya mendapatkan potongan-potongan kepingan puzzle, sehingga kita sangat susah menyusunnya. Apa gambar besar dari puzzle tersebut? Nah, maka saya ingin menyatakan bahwa sebenarnya Alkitab, Bapak, Ibu, Saudara bisa gambarkan, ini adalah sebuah puzzle di mana bentuk utamanya adalah hati Allah yang menyatakan cinta kasih-Nya, lalu di dalamnya adalah kisah-kisah sejarah dari sejak Kejadian sampai Wahyu. Jadi gambaran hati Allah ini adalah menjadi core, pesan utama yang hendak dinyatakan kepada Saudara dan saya.
Maka Bapak, Ibu, Saudara, pada kesempatan pagi hari ini saya akan membacakan, mengajak kita untuk kita memahami isi hati Tuhan melalui surat cinta-Nya ini. Saya akan membawa kita supaya kita bisa merenungkan isi hati Tuhan melalui surat cinta Tuhan, bahwa Dia mengasihi kita dengan kasih yang kekal dan Dia akan terus melanjutkan kasih setianya kepada engkau dan saya. Bahkan Dia melibatkan engkau dan saya sampai Dia datang kedua kalinya. Di dalam surat cinta-Nya ini, Saudara bisa melihat inilah surat cinta yang seperti dinyatakan dari sejak dunia diciptakan sampai kelak dunia berakhir.
Bapak, Ibu, Saudara, mungkin saya bisa membacakannya ini buat Bapak, Ibu, Saudara. Demikianlah surat cinta dari Tuhan, “Anak-anak-Ku yang kukasihi, engkau telah Kupilih sebelum dunia dijadikan. Aku telah menciptakan engkau menurut gambar rupa-Ku dan Aku meletakkanmu dalam dunia ciptaan-Ku supaya engkau menikmati relasi dengan-Ku dan engkau mengelolanya. Aku merindukan engkau menikmati hidup yang Aku anugerahkan bersama dengan semua makhluk yang hidup di taman ini. Di dalam sebuah harmoni yang sangat indah, engkau bisa menikmati seluruh ciptaan-Ku. Aku merindukan agar engkau mentaati apa yang Kuperintahkan. Inilah kerinduan-Ku sejak pertama kali Aku menciptakan engkau yang adalah buah cinta-Ku. Anak-anakku, rupanya leluhurmu telah mendengar bisikan iblis untuk melawan Aku. Mereka telah melanggar satu larangan yang telah Kutetapkan. Engkau tahu bahwa akibat pemberontakan mereka, mereka dan seluruh keturunannya harus jatuh di dalam dosa. Mereka menuju kematian yang sangat mengerikan, kemuliaan-Ku pun sudah hilang di dalam diri mereka, sehingga engkau pun semua harus menanggung akibatnya. Ketahuilah anak-anak-Ku, setelah mereka melawan Aku, Aku justru berjanji kepada mereka bahwa kelak pada waktu yang telah Kutentukan, Aku akan menyelamatkan umat milik kepunyaan-Ku dari kematian kekal, karena Aku mengasihi umatku. Namun sebagai konsekuensi pemberontakan mereka, Aku harus mengusir mereka dari taman ini. Anak-anak-Ku ketahuilah bahwa dosa yang telah mencemari akan menggerogoti tubuhmu sampai pada waktunya engkau semua harus mati. Bukan saja tubuh dagingmu, tetapi hatimu sudah mengalami kerusakan total akibat dosa. Hatimu selalu menginginkan yang jahat, menginginkan yang menguntungkan dirimu sendiri. Hatimu penuh kebencian, penuh dendam, penuh amarah, tidak ada kasih, tidak ada kebaikan dalam hatimu. Pikiranmu begitu kotor, hanya memikirkan hal-hal yang memuaskan hasrat nafsu kedaginganmu saja. Lihatlah, dari sejak mereka dan seluruh keturunannya telah berlaku sama, yaitu menjijikkan, termasuk engkau.”
“Namun, Aku mengasihimu. Sampai Aku harus memutuskan untuk memusnahkan seluruh isi bumi dengan air bah, dan Aku masih menghendaki ada keturunan-keturunan mereka dan binatang-binatang yang tersisa untuk melanjutkan kembali siklus kehidupan dalam dunia ciptaan-Ku. Namun, engkau lihat, dampak dosa semakin luas dan mengerikan. Keturunan-keturunan manusia tidak lagi bisa mengenali siapa Penciptanya. Mereka justru menyembah berhala-berhala buatan tangan mereka sendiri dengan wujud hasil imajinasi mereka sendiri. Mereka sujud menyembahnya. Ketahuilah, betapa hal itu sangat menyakitkan hati-Ku.”
“Namun, Aku mengasihimu. Maka Aku, Tuhan, harus memilih satu orang beriman yaitu Abram, serta membuat perjanjian dengannya bahwa keturunannya akan diberkati, banyaknya seperti bintang di langit dan pasir dilaut, dan seluruh keturunannya akan disebut Israel, yang berarti Putra Kesayangan Allah. Merekalah yang disebut umat-Ku, dan mereka akan diam di tanah yang Kujanjikan.”
“Anak-anak-Ku, ketahuilah, umat-Ku pernah meninggalkan tanah perjanjian dan tinggal selama 400 tahun di Mesir. Jumlah mereka sangat banyak, tetapi mereka sangat menderita karena diperbudak. Mereka berseru memanggil nama-Ku, dan Aku mendengar seruan doa mereka. Aku mengingat perjanjian-Ku dengan Abraham, Ishak, Yakub, dan melalui hamba-Ku Musa, Aku membawa mereka keluar dari Mesir, dan membebaskan mereka dari perbudakan. Dan dengan tangan-Ku yang ajaib, Aku sudah menuntun mereka. Kutulahi bangsa Mesir, bahkan Aku membawa umat-Ku dengan melewati laut kering saat Aku membelahnya supaya umat-Ku menyeberang dan selamat dari pengejaran pasukan Mesir, dan sekaligus supaya umat-Ku menyaksikan sendiri keajaiban-Ku yang dahsyat dan menceritakannya kepada bangsa-bangsa lain bahwa Akulah Allah yang telah menuntun mereka keluar dari perbudakan.”
“Namun, ternyata umat-Ku tidak henti-hentinya menyakiti hati-Ku. Mereka tidak percaya kepada-Ku, mereka selalu mencurigai Aku. Mereka bahkan membuat patung lembu emas untuk menggantikan-Ku, maka Kubersumpah bahwa mereka tidak akan pernah masuk ke tanah yang Kujanjikan. Anak-anak-Ku, ingatlah bahwa Aku sudah berkenan diam dan tinggal di tengah-tengah umat-Ku. Kemah Suci dan Peti Perjanjian melambangkan kehadiran-Ku untuk memimpin mereka, tetapi mereka benar-benar adalah bangsa yang tegar tengkuk. Mereka terus-menerus melanggar hukum-hukum-Ku. Mereka terus-menerus tidak mempercayai-Ku. Mereka bahkan sering menuruti keinginan mereka sendiri. Hal itu menyakiti hati-Ku.”
“Bahkan setelah mereka masuk di tanah perjanjian pun, mereka terus-menerus jatuh bangun dalam dosa. Mereka terus mengulang-ulang kejahatan mereka. Ketahuilah, kejahatan mereka adalah mereka tidak mau Kupimpin. Mereka mau berkehendak, mereka mau bertindak sekehendak hatinya. Akhirnya ketika mereka meminta raja, Aku menuruti mereka. Kuizinkan mereka mengangkat raja. Mereka memilih Saul, tetapi Aku menghendaki Daud, karena Daud mengenal isi hati-Ku. Demikianlah dampak dosa dan kejahatan umat-Ku, membuat aku harus memecah kerajaan mereka menjadi dua, Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda. Raja berganti, raja silih berganti, tidak membuat umat-Ku sungguh-sungguh kembali kepada hukum-hukum-Ku. Mereka terus jatuh bangun di dalam dosa dan kejahatan yang menyakiti hati-Ku. Raja-raja yang mereka angkat, justru sering membawa mereka menjauh dari-Ku. Sampai Aku harus didik mereka dengan memakai tangan Babel dan Ashur, kerajaan besar yang menaklukkan mereka untuk supaya umat-Ku bertobat.”
“Tahukah engkau anak-anak-Ku, bahwa engkau pun semua juga sama seperti mereka. Mereka semua mewakili engkau. Engkau pun sering kali menolak pimpinan-Ku melalui Firman. Engkau pun sering kali menginginkan apa yang menjadi keinginan hatimu saja. Engkau pun sering kali tidak mau peduli dengan keinginan hati-Ku yang sudah kunyatakan melalui Firman. Tapi ingatlah, Aku mengasihimu. Anak-anak-Ku ketika tiba waktu yang telah Kutentukan, Aku memberikan Anak Tunggal-Ku kepada umat-Ku. Hal ini kulakukan karena engkau tidak mungkin bisa menyelamatkan dirimu sendiri. Dosa yang sudah mencemari hidupmu membuat tubuh dan rohmu mati. Maka Aku mengutus Anak-Ku untuk datang ke dalam dunia supaya Ia menanggung hukuman dosamu. Ia mengajarkan kembali hukum-hukum-Ku. Ia menyatakan kembali kuasa-kuasa mukjizat-Ku. Ia menegakkan kembali kerajaan surga di dalam dunia ciptaan-Ku. Dialah Juruselamat yang telah Aku janjikan, sejak hari di mana manusia memberontak kepada-Ku.”
“Ia harus melakukan misi yang sangat penting, yaitu mati untuk menggantikan kematian jiwamu. Dan Ia harus bangkit dari kematian untuk menyatakan kemenangan-Nya atas kuasa maut. Kuasa maut tidak berkuasa lagi atas jiwamu. Dan jiwamu mendapatkan hidup yang kekal. Ia sudah menebusmu anak-anak-Ku, karena Aku mengasihimu. Kristus Putra Tunggal-Ku telah menyelesaikan karya penebusan terhadap umat-Ku.”
“Setelah Putra-Ku kembali ke Surga, maka Roh Kudus diutus untuk mengubahkan hati umat pilihan-Ku. Roh Kudus menyadarkan umat-Ku tentang siapa Kristus. Tanpa Roh Kudus kalian tidak mungkin mengenal Kristus. Roh Kuduslah yang mencelikkan kembali semua mata hati yang buta. Roh Kuduslah yang menuntunmu untuk mengerti firman-Ku karena Aku mengasihimu. Akulah yang telah mengumpulkan kembali orang-orang pilihan-Ku, memanggil mereka keluar dari gelap kepada terang-Nya yang ajaib. Aku juga yang menggagalkan niat orang-orang untuk menghancurkan umat-Ku.”
“Engkau ingat Saulus? Ketika ia dalam misi menganiaya umat-Ku, Aku justru menyatakan cinta-Ku dengan mengubah hatinya dan kupakai dia menjadi hamba-Ku yang memberitakan kabar keselamatan di dalam Kristus. Melalui pelayanannya gereja-Ku semakin berakar dan bertumbuh di dalam pengajaran yang kuat. Aku terus memanggil hamba-hamba-Ku untuk Aku pakai menjadi alat menggenapkan rencana kekal-Ku di dalam gereja-Ku.”
“Sekarang anak-anak-Ku yang kukasihi, tahukah engkau mengapa engkau sekarang berada di sini? Mengapa engkau berada di dalam gereja-Ku? Mengapa engkau tidak Kukirim ke dalam dunia 100 tahun yang lalu atau 1000 tahun yang lalu di saat situasi dunia masih kelam dan penuh gejolak? Karena Aku tahu, bahwa engkau tidak akan mampu menghadapinya, maka aku memberikanmu kesempatan di zaman ini untuk melakukan pekerjaan yang baik yang telah kutentukan yang telah kupersiapkan. Aku mau engkau hidup di dalamnya. Engkau telah Kupersatukan, engkau Kuajar dengan firman-Ku, engkau Kutegur, engkau Kudidik di dalam kebenaran. Meskipun sering kali hatimu masih menginginkan hidup di dalam keinginan dagingmu. Bangunlah anak-anak-Ku. Bangunlah. Tetapkanlah hatimu selagi Aku masih memberimu kesempatan. Maukah engkau mengenali isi hati-Ku, maukah engkau merenungkan firman-Ku siang dan malam? Bacalah berulang-ulang surat-Ku ini dan kabarkanlah tentang Kristus sampai Dia datang kedua kali karena Aku mengasihimu.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, demikianlah isi hati cetusan Tuhan di dalam firman-Nya. Firman-Nya ini adalah surat cinta-Nya kepada engkau dan saya. Firman-Nya ini adalah satu ungkapan isi hati yang sangat indah yang melibatkan engkau dan saya untuk berbagian di dalamnya. Maka jika engkau sadar kenapa Saudara tidak Tuhan izinkan terlahir 100 tahun yang lalu, kenapa Tuhan mau engkau ada di sini saat ini, kenapa Dia mau engkau berbagian di dalam pekerjaan-Nya? Mungkin ada yang Tuhan panggil untuk menjadi seorang dokter, seorang pengacara, seorang lawyer, seorang businessman, seorang di aparat pemerintahan, maka akankah engkau ingkari, akankah engkau abaikan satu pesan isi hati yang Dia curahkan di dalam Alkitab dengan mengatakan, “Ah Alkitab ini kan tidak ada hubungan dengan hidup saya. Alkitab ini hanya menceritakan masalah kerajaan Israel saja.” Tidak Saudara! Di dalam Alkitab, Tuhan sudah melibatkan engkau dan saya menjadi bagian di dalamnya.
Jika engkau dan saya hidup pada zaman para nabi, mungkin tidak ada ubahnya kita pun sama seperti mereka: bangsa yang tegar tengkuk! Apa arti tegar tengkuk? Kalau tengkuk ini tegar itu berarti wajah kita adalah wajah menantang Tuhan, wajah melawan Tuhan! Bukan wajah yang mau tunduk, wajah yang mau taat mentaati Firman. Bangsa yang tegar tengkuk karena tidak mau dipimpin oleh Firman, karena mereka merasa bahwa hidup mereka, mereka sendirilah yang menentukan. Pilihan mereka untuk menjalani hidup seturut keinginan mereka tanpa sadar adalah seperti penerima surat-surat yang bahkan tidak hanya membuka, bahkan membuangnya!
Saudara, jika Saudara tidak mau diperlakukan demikian oleh orang yang mengirimkan pesan kepada Saudara, maka jangan perlakukan pesan dari Tuhan yang penuh dengan cinta kasih, yang penuh dengan satu kelembutan, yang penuh dengan kepanjang-sabaran. Dia menantikan engkau untuk terus menerus meresponi apa yang Tuhan ingatkan selalu dalam hidup kita supaya kita terus-menerus menyadari bagaimana hidup kita: apakah hidup kita sudah bisa berdampak menjadi terang? Kalau Dia memerintahkan supaya hidupmu menjadi terang, apakah Saudara sudah bisa membandingkan bagaimana hidup Saudara sebelum menjadi orang Kristen dan setelah menjadi orang Kristen? Apakah ada beda yang bisa membuat Tuhan tersenyum?
Saya teringat akan sebuah lagu ketika di persekutuan. Ada sebuah lagu yang mengungkapkan kebanggaan kita mempunyai Allah seperti Tuhan Yesus Kristus, “Sungguh kubangga Bapa, punya Allah seperti Engkau.” Saudara mungkin sering mendengar lagu, itu tapi pernahkah kita juga membuat Tuhan bernyanyi demikian, “Sungguh Kubangga Wira, punya anak seperti engkau”? Ataukah kita justru terus-menerus menyakiti hati-Nya dengan tidak mau mentaati Firman, dengan mengabaikan Firman-Nya, bahkan membiarkan Firman-Nya ini usang, membiarkan Firman-Nya ini berdebu? Membiarkan Firman-Nya ini menjadi buku koleksi yang tidak pernah sekalipun dibuka?
Kecanggihan teknologi: ketika surat cinta-Nya itu ada di dalam seperangkat gawai, maka sebenarnya itu akan menggeser keinginan hati kita untuk menikmati Dia! Percayalah, kalau engkau mengandalkan Firman Tuhan hanya di gadgetmu, maka sebenarnya engkau sedang tidak mau menghiraukan Firman Tuhan! Tapi kembalilah kepada satu prinsip bahwa Firman Tuhan itu indah, Firman Tuhan itu: setiap tulisan bermanfaat untuk hidupmu dan hidup saya sehingga marilah kita mulai menetapkan hati, berkomitmen sampai Dia datang kedua kali. Kita menikmati terus, mengagumi terus akan keindahan-Nya, mengagumi akan karya-Nya yang sudah memilih kita, yang sudah menuntun kita, memimpin kita. Betapa indahnya hidup bersama Kristus. Bahkan kita merindukan kedatangan Kristus segera karena Dia adalah pusat dari cinta kita, karena kita mendapatkan anugerah cinta dari Dia. Kiranya Tuhan memberkati. Mari kita berdoa.
Saya memberi kesempatan kepada setiap kita untuk merenungkan isi hati Tuhan yang dicurahkan melalui Firman-Nya. Mungkin kita selama ini sudah sering mengabaikan Firman-Nya. Kita selama ini sudah sering mengabaikan pesan dari Tuhan. Kita bahkan tidak mau menghiraukan atau mungkin kita setiap kali membaca–Nya tetapi tidak pernah menangkap isi hati-Nya. Maka marilah kita mengakui segala kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita di hadapan Tuhan. Mari kita mengakuinya di hadapan Tuhan. Berdoalah kepada Tuhan yang menuliskan isi hati-Nya di dalam surat cinta-Nya. Marilah kita juga minta anugerah Tuhan supaya kita semakin mengagumi isi hati-Nya, kita semakin mengagumi karya-karya-Nya, kita semakin mengagumi bagaimana cara Dia menuntun hidup kita sehingga hidup kita penuh dengan sukacita dan penuh dengan ucapan syukur. Mari saya undang kita semua bangkit berdiri dan kita akan berdoa.
Bapa di dalam Surga, terima kasih atas cinta kasih-Mu yang kekal yang telah Engkau teruskan dan melibatkan kami di dalamnya. Tuhan, kami tidak ingin mengulang kesalahan-kesalahan umat-Mu yang pernah ada di dalam sejarah. Tetapi kami sebagai umat yang telah Engkau tebus, rindu untuk belajar bagaimana kami memiliki suatu komitmen untuk hidup ke depan yang memuliakan Tuhan yang bersaksi tentang keajaiban Tuhan. Terima kasih, Bapa di Surga. Berkatilah umat-Mu, ya Tuhan, yang saat ini Engkau himpun di dalam komunitas gereja lokal GRII Yogyakarta ini. Berkatilah gereja-Mu ini, berkatilah umat-Mu sehingga umat-Mu, Tuhan boleh pakai untuk menjalankan rencana-Mu yang kekal. Pakailah umat-Mu ini, ya Tuhan, sehingga umatmu tidak jatuh bangun menyakiti isi hati-Mu, tetapi umat-Mu belajar terus menyenangkan hati-Mu, ya Tuhan. Terima kasih, Bapa di Surga, kiranya Tuhan beranugerah kepada setiap kami umat-Mu. Materaikanlah Firman-Mu di dalam hati setiap umat-Mu. Hamba-Mu berhenti berbicara, namun kiranya Roh Kudus terus berbicara kepada hati setiap umat-Mu. Terima kasih, Bapa di Surga, inilah doa syukur dan permohonan kami yang kami alaskan hanya di dalam nama Putra-Mu yang Tunggal, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang Hidup, kami berdoa dan bersyukur. Amin. (HS)
