Pengaruh Reformasi pada Pernikahan dan Keluarga, 27 Oktober 2024

Pengaruh Reformasi pada Pernikahan dan Keluarga

Vik. Nathanael Marvin, M. Th

Mari kita buka bagian Alkitab dari Kej. 1:28, kita akan baca bersama-sama firman Tuhan ini. Kej. 1:28 dan nanti kita juga akan baca Kej. 2:24 ya. Kej. 1:28 bersama-sama, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”” Lalu kita buka Kej. 2:24, kita baca bersama-sama juga Kej. 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita tahu bahwa pastor Katolik dan suster Katolik tidak boleh menikah atau mereka harus hidup selibat. Seolah-olah kehidupan mereka bertentangan dengan ayat yang baru kita baca. Tuhan memerintahkan beranak cucu, bertambah banyak, penuhilah bumi, laki-laki akan meninggalkan orang tuanya, keluarganya dan bersatu dengan istrinya. Lalu kenapa ada orang-orang yang diharuskan untuk selibat atau tidak menikah? Apa sih yang menjadi dasar, alasan mereka melakukan demikian? Mungkin bukan saja para pastor Katolik atau suster Katolik, di setiap gereja; saya melayani, di GRII Semarang, GRII Solo, GRII Jogja, ada yang selibat, tidak menikah sampai umur yang sudah tua. Ada orang yang tidak menikah meskipun perintah Alkitab adalah beranak cucu bertambah banyak di dalam pernikahan yang kudus, yang baik di dalam Tuhan.

Nah kalau kita lihat dari konteks gereja Katolik sendiri, alasannya adalah aturan gereja Katolik itu sendiri yang menerapkan bahwa setiap pelayan Tuhan, para rohaniwan, para imam, para suster untuk hidup selibat. Kalau mau jadi pastor, kalau mau jadi suster, harus selibat, kalau tidak jangan jadi pastor, jangan jadi suster. Wah aturan gereja Katolik begitu ketat, dan di balik alasan itu ada motivasi dan manfaat yang mendasarinya ya. Nah ini pendapat dari mereka. Pertama adalah teladan Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak menikah dan Dia taat kepada Bapa Surgawi sepenuhnya, Dia melayani dengan sungguh-sungguh, Dia tidak berdosa di hadapan Bapa Surgawi, kalau mau pelayanan kepada Tuhan, sungguh-sungguh mau melayani Tuhan nggak usah menikah. Nah ini alasan mereka ya. Kedua adalah ajaran Rasul Paulus dalam 1 Kor. 7. Di situ dijelaskan bahwa Paulus menjelaskan keuntungan-keuntungan seseorang yang tidak menikah. Mereka bisa punya banyak kesempatan hidup melayani Tuhan melalui komunitas gereja. Saya sendirian berkorban bagi banyak orang, maka dari itu Paulus juga menasihati itu keuntungan dari kehidupan yang selibat, dapat melayani Tuhan tanpa ada gangguan keluarga seperti itu ya.

Nah memang Bapak, Ibu, Saudara sekalian kalau kita lihat juga ada orang yang tidak menikah itu memang banyak waktu sendiri kan. Nah waktu sendiri itu Alkitab atau Paulus mengatakan atau juga pendapat dari gereja Katolik mengatakan itu adalah waktu untuk menyenangkan hati Tuhan lebih banyak. Kalau punya waktu sendiri, menyenangkan hati Tuhan, perkara tentang Tuhan. Orang yang menikah tidak selalu mementingkan pekerjaan Tuhan atau gereja, melainkan perhatiannya terbagi dengan institusi yang lain yaitu keluarga atau pasangan. Tapi kalau orang yang sendiri dia bisa jadi mempelainya Kristus. Kristus kepala gereja, ya udah saya akan fokus di gereja melayani. Nah itu adalah panggilan selibat. Tetapi orang yang menikah, OK saya melayani untuk gereja Tuhan tapi saya juga harus melayani gereja yang lain, institusi yang terkecil adalah gereja atau keluarga saya sendiri. Ibaratnya kita beribadah di GRII. Kita sendiri kita ada keluarga, keluarganya namanya siapa? Keluarga Bapak siapa? Keluarga Ibu siapa? Tapi kita boleh sebut juga kalau kita keluarga Kristen itu gerejanya Marvin misalkan ya. Itu gereja saya loh, gereja kecil terdiri dari istri maupun anak, misalnya demikian. Berarti kan terbagi, harus urus gereja dalam konteks keluarga, gereja juga secara umum seperti itu ya.

Lalu alasannya lagi adalah, gereja Katolik mengatakan pada waktu gereja mula-mula berdiri, kami masih mengizinkan para hamba Tuhan itu menikah, tetapi ketika pastor menikah, suster menikah, misalkan ya, mereka pada akhirnya memiliki masalah dan akhirnya tanggung jawab ber-gereja terganggu dalam pelayanan mereka ketika mereka menikah. Misalkan, para imam atau hamba Tuhan ketika mereka menikah mereka harus urus keluarganya dong, istri, anak-anak, mereka punya keinginan, cita-cita sendiri. Akhirnya si imam ini mengambil uang gereja. Untuk apa? Untuk keluarganya. Korupsi, menipu, cinta akan uang demi apa? Demi keluarganya. Keluarga jadi nomor pertama. Maka dari itu mereka katakan “nggak boleh nikah.” Nanti masalah uang banyak sekali ya. Terus kemudian bukan saja itu, masalah warisan harta juga. Kalau pendetanya atau susternya punya anak, nanti ngurusin warisan lagi. Kita tahu ya, gereja-gereja, hamba Tuhan banyak masalah soal warisan lah, soal uang lah. Maka dari itu gereja Katolik memiliki pendapat bahwa “ya udah, hamba Tuhan itu tidak boleh menikah.” Ini ada baiknya, ya, ada poinnya, ya. Selibat menjadi tanda hidup kekal sebagai mempelai Kristus. Jadi, kalau ada pastor atau suster Katolik yang sudah melayani, kalau tidak salah sampai 30 tahun, sudah pasti mereka disebut sebagai kaum yang kekal. Nggak mungkin menikah maksudnya, ya, sudah umur, sudah tua, dan lain-lain. Itu menjadi sebuah komitmen, “Saya jadi mempelai Kristus seumur hidup saya.”

Bapak, Ibu sekalian, ya, kita bisa lihat ini sebagai pendapat-pendapat seseorang di dalam pelayanan, ya. Nah, Reformasi Gereja membawa kembali orang-orang Kristen untuk memikirkan aturan gereja. Gereja punya aturan karena institusi, organisasi, tapi Reformasi Gereja itu membawa kembali orang-orang yang berada di institusi itu untuk memikirkan, aturan-aturan ini benar tidak? Sesuai dengan firman Tuhan tidak? Sesuai dengan Alkitab tidak? Ini adalah keindahan dari Reformasi Gereja.

Orang Kristen memikirkan bahwa aturan hidup mereka itu sebenarnya bukan aturan manusia yang seharusnya diikuti, melainkan otoritas Alkitab. Apa yang Alkitab ajarkan tentang pernikahan itulah yang harus kita turuti, bukan aturan gereja. Apa yang Alkitab katakan tentang keluarga, nah, inilah yang harus diikuti, bukan apa kata orang, apa kata gereja, yang adalah manusia berdosa yang percaya kepada Kristus. Nah, ini adalah pengaruh Reformasi Gereja untuk memikirkan setiap hal agar disesuaikan dengan kebenaran Alkitab. Nah, itu sola scriptura. Kalau kita mengatakan bahwa diri kita orang reformed, maka kita punya pola demikian. Kita kritis, “Ini tuh sesuai Alkitab atau tidak?” Kalau ada yang tidak sesuai dengan Alkitab, kita bisa memberikan kritik yang membangun.

Martin Luther sebagai pemimpin Reformasi Gereja, pada awalnya memang berfokus pada doktrin Alkitab, ya. Alkitab harus di atas segala sesuatu karena pada waktu itu, di zaman ketika Martin Luther melayani, gereja berada di atas segala sesuatu. Gereja yang menentukan kehidupan semua manusia, dan bahkan Alkitab di bawah gereja. Nah, Martin Luther menyadari bahwa Alkitab itu berada di atas gereja, di atas masyarakat, di atas kehidupan kita, di atas kehidupan keluarga kita. Lalu, ketika berpikir soal pernikahan dan keluarga dengan background yang Katolik, Martin Luther tetap ingin hidup selibat karena dia punya pemikiran bahwa risiko saya waktu menjadi seorang yang mengkritisi secara membangun kepada gereja Katolik itu besar sekali. “Kalau saya punya keluarga, istri saya diancam bagaimana? Saya mau hidup tenang memiliki anak, tapi saya dikejar-kejar, nggak punya rumah, harus mengungsi. Lebih baik saya hidup selibat.” Itu menurut Martin Luther. Balik lagi, ya. Karena apa? Karena kondisi dia sebagai pastor Katolik dan juga sebagai kondisi orang-orang yang dikejar oleh orang-orang Katolik pada waktu itu dia menjadi orang yang tidak memikirkan soal keluarga.

Risiko tinggi yang dialami Luther adalah penganiayaan dan kematian. “Gimana mau berkeluarga kalau saya dianiaya dan juga risikonya adalah mati? Ngapain berkeluarga? Ngapain pikir pernikahan?” Mungkin orang-orang yang sekarang di negara-negara yang sedang berperang ya, baik itu Rusia, Ukraina, Iran, sekarang tambah lagi. Apakah kepikiran mau nikah gitu? Ini aja udah banyak dengar suara roket, suara dentuman, banyak tangisan, rumah sakit penuh, banyak reruntuhan, masih pikir mau nikah? Ya, nggak, lah. Pikir aja bisa hidup sudah puji Tuhan. Itu kondisi orang yang berperang.

Nah, demikian Martin Luther pun merasakan bahwa, “Saya harus mengalami peperangan rohani. Saya cuman menyatakan kebenaran Alkitab, tapi gereja Katolik pada waktu itu ingin membunuh saya.” Nah, tetapi suatu saat ketika dia melayani dengan setia, dia menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin, bahasa asli, ke bahasa Jerman. Suatu saat, pemikiran tentang pernikahan dan keluarga ini berubah ketika akhirnya Tuhan mempertemukan dia dengan seorang biarawati yang bernama Katarina von Bora. Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, siapakah Katarina von Bora ini, yang Tuhan pakai pada akhirnya mengubah kehidupan Martin Luther dari yang selibat? “Saya dididik selibat, saya ingin selibat, tapi akhirnya menikah.” Ini Martin Luther, ya. Katarina von Bora adalah seorang biarawati sejak usia muda. Pada waktu itu, orang-orang itu punya cita-cita. Mungkin di antara kita juga, ya, Bapak, Ibu sekalian, ya, ada cita-cita ketika melihat pastor, biara itu hidupnya tenang, sendirian, ya. Tidak ada masalah, padahal masalah tetap ada, mau sendiri atau bersama-sama dengan orang lain. Nah, pada waktu itu, remaja-remaja itu punya cita-cita, “Ah, saya ingin seperti mereka, melayani Tuhan sepenuh hati.” Dan akhirnya Katarina von Bora sejak usia muda jadi biarawati, dan dia masuk biara juga karena keterbatasan pilihan hidup bagi perempuan pada waktu itu, ya. Pada waktu itu, perempuan tidak terlalu tinggi pendidikannya. Tidak punya banyak pekerjaan, ya, lapangan pekerjaan.

Kemudian setelah dia jadi biara, beberapa waktu biarawati, ya, beberapa waktu dia mendengar ajaran-ajaran Reformasi dari Martin Luther, yang mengatakan bahwa seorang Kristen itu, seorang pelayan Tuhan itu, tidak harus selibat. Seorang hamba Tuhan itu tidak harus selibat, kok, boleh menikah, ya. Dan pernikahan itu tidak dianggap sebagai gangguan untuk melayani Tuhan di gereja. Tidak. Boleh. Kemudian, Katarina von Bora berpikir bahwa, ”Oh, indah ya, kebebasan Kristen itu begitu indah, ya”. Kita ikut Alkitab, apa yang Alkitab katakan, dan kemudian dia terinspirasi dengan kebebasan Kristen dan juga melihat Martin Luther itu begitu kuat ya untuk menegur praktik dari gereja Katolik. Nah, akhirnya dia diskusi dengan teman-teman perempuannya. Ya di gosip lah, gosip-gosip ya, kumpul, ngobrol ya, di biara. Terus kemudian mereka sama-sama kompak, “Yuk, kita nikah aja yuk! Kita cari cowok lah, yang ganteng gitu,” mungkin ya, gambarannya. “Kita tinggalkan biara ini, tapi kita tetap mau melayani Tuhan.” Ya akhirnya mereka merencanakan pelarian dari biara. Dan siapa yang menolong mereka untuk lari dari biara? Ya mungkin memang peraturan gereja pada waktu itu, orang yang sudah masuk biara itu banyak peraturan yang sangat ketat, seperti itu ya. Dan siapakah penolong yang menolong mereka untuk lari dari biara tersebut? Yaitu adalah Martin Luther. Ini biang keroknya ya, jadi para biarawati lari dari biara. Ya, dan akhirnya Martin Luther menolong mereka mengatur waktunya untuk lari dari biara.

Kemudian mereka menetap di Wittenberg, tempat dimana Luther mengajar dan memperjuangkan reformasi. Nah, Luther carikan tempat tinggal, ya. Carikan tempat tinggal untuk perempuan-perempuan ini, untuk bisa melayani tetap. Dan bahkan Martin Luther carikan pasangan hidup untuk mereka, karena bagi perempuan pada waktu itu kalau nggak ada suami, ya susah untuk hidup. Martin Luther carikan pasangan hidup dan mengingat pada masa itu, betul-betul ya, kalau perempuan itu tidak memiliki keluarga, biasanya hidupnya akhirnya ditolong orang, ditampung oleh orang yang lain, ya.

Nah kemudian, setelah dibantu oleh Luther, Katharina ini sebenarnya tertarik bukan kepada Luther, ya. Tertarik kepada cowok-cowok yang lain. Ya mungkin seperti perempuan pada umumnya, ya. Senangnya sama pria yang mungkin tinggi, ya, six pack, ya, mukanya ganteng. Ini Martin Luther kebalikan semuanya, sudah pendek, sudah gemuk, gitu ya. Agak botak, ya, gambar-gambarnya, ya. Nggak tahu aslinya seperti apa, ya. One pack, ya. Kurang ganteng, dan tidak terlalu tinggi gitu. Jadi itu bukan lirikan bagi para perempuan kepada Martin Luther ya. Akan tetapi, ketika Katharina suka sama cowok lain, ya. Akhirnya tidak ada yang merasa cocok dengan Katharina, ataupun Katharina pun tidak cocok dengan laki-laki yang lain itu sendiri. Dan akhirnya dia menyatakan kesediaan kepada dua orang. Ya dia terbuka lah, ya. “Pilihlah aku”, gitu ya. Si Katharina ini kepada satu Martin Luther, satu lagi kepada Nikolaus. Jadi, saya terbuka lah, untuk didekati oleh Luther maupun Nikolaus. Luther kemudian pikir-pikir, ini perempuan masih muda, ya. Terus kemudian dia sempat ragu. Tetapi dia bergumul. Setelah mempertimbangkan manfaat pernikahan bagi kehidupannya, Luther ambil keputusan “Saya mau mendekati Katharina dan menikah dengannya.” Sebagai apa? Sebagai contoh bagi umat Kristen lainnya, ia akhirnya memutuskan pernikahan. “Ya, saya harus menikah untuk menjadi contoh teladan bahwa mengaplikasikan firman Tuhan itu baik. Pernikahan itu bukan hal yang buruk. Pernikahan itu hal yang sangat baik.”

Memilih pasangan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, memang bukan tanpa pergumulan, ya. Jadi Luther pun ketika berpikir tentang Katharina ini, dia itu melalui pergumulan dan diskusi dengan teman-teman Martin Luther, ya. Luther akhirnya menyimpulkan bahwa menikah dengan Katharina itu betul-betul pimpinan Tuhan, dan sebuah pilihan yang tepat bagi Martin Luther. Luther akhirnya menikahi Katharina pada 13 Juni 1525. Sebuah keputusan yang mengejutkan banyak orang yang mengenal Martin Luther khususnya. Baik dari gereja Katolik, maupun juga dari teman-teman Luther, ya. Kristen yang dianiaya pada waktu itu. Karena apa? Luther itu kehidupannya menderita, kok. Bukan waktu yang tepat untuk menikah bagi Luther dan banyak orang. Tetapi mengingat pimpinan Tuhan, Luther mengambil keputusan besar, tetap menikah di masa-masa sulit. Dan dua pasangan ini adalah mantan para biara, ya. Biarawan sama biarawati.

Nah, pernikahan mereka menjadi simbol penting dalam reformasi menunjukkan bahwa kehidupan pernikahan adalah panggilan yang sama mulianya dengan kehidupan selibat pada waktu itu, yang dianggap lebih tinggi daripada kehidupan pernikahan. Ketika Luther menikah, itu menyatakan bahwa panggilan pernikahan ini, ya, seimbang lah. Namanya panggilan Tuhan, masa ada yang lebih rendah, lebih buruk, sih? Lebih tinggi, gitu ya. Ada yang lebih rendah, lebih tinggi. Sama-sama panggilan selibat mulia, panggilan menikah juga mulia. Yang penting apa? Respons manusia untuk menghidupi konteks kehidupan masing-masing apakah sesuai kendak Tuhan atau tidak. Itu yang menunjukkan panggilan itu mulia atau tidak, itu berdasarkan respons kita, ya. Tetapi panggilan Tuhan pasti mulia lah, ya. Pasti sangat baik dan sangat benar, ya. Kita-nya yang seringkali akhirnya menjalani panggilan itu menjadi kurang-mulia atau mulia.

Nah, zaman sekarang malah ada pandangan, ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau selibat malah lebih rendah dari menikah. Ini juga hati-hati ya. Padahal dua-duanya adalah panggilan Tuhan dan bagaimana tanggung jawab seseorang untuk menjalaninya, itulah yang menentukan bahwa pernikahan atau keselibatan seseorang itu mulia atau tidak, yaitu ketika kita meresponnya. Kalau Tuhan panggil saya selibat, ya jalani keselibatan itu dengan takut akan Tuhan. Kalau Tuhan panggilannya pernikahan, kita juga jalani itu dengan takut akan Tuhan.

Martin Luther menikah umur 41 tahun, ya. Katharina berumur 26 tahun, ya. Beda 15 tahun. Apakah bisa punya anak ketika dalam kondisi yang susah, dan berat itu, dianiaya ya? Mereka dikaruniai 6 orang anak. Tetapi ada anak yang meninggal waktu bayi, ada anak yang meninggal waktu SD, tetapi 4 anak yang lain juga masih bisa hidup. Nah puji Tuhan, Katarina terbukti menjadi pasangan yang sangat mendukung dan berdedikasi bagi Martin Luther; dia mengelola rumah tangga, mengurus keuangan, dan memastikan keluarga mereka itu hidup dengan baik. Apalagi ketika Martin Luther sering kekurangan uang. Yang penolong siapa? Istri. Ketika sang suami ya berjerih lelah, sudah bekerja sungguh-sungguh bahkan melayani, tetapi karena kondisinya memang tidak ideal, si istri bukan malah menghakimi suami. “Kamu ini kepala keluarga, berikan kecukupan.” Bukan! Katarina menjadi contoh bahwa Luther sudah sibuk pelayanan sudah lelah, kondisi terbatas, mungkin dalam hatinya sudah tua juga ya, karena beda umur 15 tahun ya. Sudahlah, saya yang akan cari uang gitu, untuk menghidupi keluarga. Keluarga ini adalah keluarga kita bersama, bukan hanya keluarga si suami saja.

Nah akhirnya, Katarina betul-betul ya, mencukupkan seluruh keluarga di samping Martin Luther melayani. Sehingga akhirnya, Luther memanggil Katarina dengan penuh kasih sebagai Herr Kate. Herr Kate itu Bahasa Jerman ya, Nyonya Katarina. Ini bagaimana sang suami begitu mengasihi, menghormati istrinya itu, dikasih sebutan demikian ya. Itu Luther mengakui ketangguhan dan kebijakan dari si istri dalam menjaga keluarga. Dan akhirnya mereka melayani juga bersama-sama. Nah pernikahan Luther dan Katarina juga menjadi inspirasi bagi banyak orang Jerman dan sekitarnya, ini bukan hanya memberi pandangan baru tentang pernikahan dalam konteks Alkitab, tetapi juga mendorong para pemimpin gereja untuk menganggap bahwa pernikahan itu baik juga untuk para pelayan Tuhan, para Hamba Tuhan. Nah Katarina sebagai istri Reformator, memainkan peran yang sangat penting dan menjadi contoh bagi perempuan lainnya untuk ambil peran aktif dalam keluarga maupun kehidupan spiritual dari keluarga tersebut. Betul-betul Katarina itu menjadi penolongnya sang suami, seperti Hawa diciptakan untuk menolong kepemimpinan Adam. Hawa betul-betul menjalankan pertolongan tersebut, dan Katarina juga menjadi penolong yang baik bagi Martin Luther di tengah-tengah segala keterbatasan dan kesulitan Martin Luther.

Pernikahan ini menjadi bukti bahwa Reformasi membawa perubahan dalam banyak aspek kehidupan termasuk pernikahan dan keluarga. Ini Reformasi Gereja ya. Kalau tidak ada Reformasi Gereja, ya maka Hamba Tuhan ini semua single ya. Selibat semua lho. Dan akhirnya tidak bisa menjadi teladan kan bagi gereja, bagi umat Tuhan, bagaimana seorang hamba Tuhan pun hidup pernikahannya dipimpin oleh Tuhan. Tetap melayani Tuhan bukan berarti harus mengorbankan yang lainnya. Luther mengalami perubahan drastis dalam pandangan selibat ini, dan akhirnya dia sepenuhnya menikah dan melayani Tuhan. Dan akhirnya Luther mengajarkan bahwa Alkitab mendukung pernikahan sebagai panggilan yang kudus, dan bahwa hidup selibat tidak lebih tinggi derajatnya daripada pernikahan.

Nah ini adalah pergumulan yang muncul. Dua-duanya baik selibat maupun menikah itu sama-sama mulia, yaitu panggilan Tuhan. Sekali lagi mulia atau tidak mulianya hidup seseorang itu tergantung responnya. Kalau Allah itu pasti mulia. Allah tidak menjadi lebih mulia ketika kita memuji Dia, ketika kita memuliakan Dia. Dia adalah Allah yang mulia. Panggilan-Nya pun mulia. Nah kemudian apa yang beda dengan kita atau orang-orang lainnya yang menjalani panggilan ini? Yaitu respons kita, tanggung jawab kita. Baik baik dalam pernikahan maupun kehidupan yang selibat. Banyak pernikahan Kristen, dimulai dengan takut akan Tuhan, sama-sama seiman, tapi akhirnya bisa berantakan nggak? Lalu kita katakan “Ah panggilan pernikahan berarti buruk!” Nggak bisa gitu. Panggilan pernikahan tetap baik kok, meskipun dijalani dengan berantakan. Berarti yang buruk itu apa? Yang tidak mulia itu apa? Yang menjalaninya. Jangan salahin panggilan pernikahannya, sampai kita anti menikah. Sejak kecil saya tidak mau menikah karena pernikahan itu buruk kok, banyak pertengkaran dan yang lain-lain. Pernikahan itu baik kok, karena Tuhan yang mendirikannya, institusi yang Tuhan dirikan.

Banyak memang yang menikah, sama-sama seiman, pada akhirnya berantakan, perselingkuhan, ada yang KDRT, ini banyak sekali kejadian pertengkaran tidak habis-habisnya, perzinahan, karena apa? Karena tanggung jawab mereka. Mereka tidak menyerahkan kehidupan pernikahan mereka sepenuhnya kepada tangan Tuhan. Ya mereka jarang mendoakan pernikahan mereka. Mereka jarang bersekutu bersama sehingga akhirnya tidak ada kesatuan di dalam pernikahan. Ada satu kutipan ya, Bapak, Ibu sekalian, menikah di luar standar Tuhan, membawa satu konsekuensi yang tidak terhindarkan, tanpa pondasi iman dan ketaatan kepada Allah, kehidupan pernikahan itu dapat menjadi neraka dipenuhi konflik, ketidakpuasan, dan kehilangan makna. Hanya menjadikan Tuhan menjadi pusat hubungan kita, pernikahan baru dapat menjadi refleksi kasih-Nya sejati, penuh damai dan kebahagiaan.

Jadi rencana pernikahan itu baik, panggilan pernikahan itu baik, dan seharusnya semua orang itu menginginkannya karena itu ada kasih Tuhan dan pemeliharaan  Tuhan. Tapi kalau manusia tidak meresponi panggilan ini dengan baik, panggilan Tuhan yang baik itu sendiri akan mereka hancurkan dan akhirnya mereka akan menderita di dalam pernikahan. Ini tentu ya beda dengan hal yang misalkan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita menikah – ini banyak juga kejadian– tetapi ternyata pasangan kita adalah orang yang psikopat, ya. Psikopat – kejam dan mengalami depresi, gangguan jiwa – meskipun itu adalah bagian dari dosa, ya. Orang yang psikopat, kan dia tersenyum ketika orang lain menderita, ya. Dia membunuh tanpa perasaan, melukai tanpa perasaan. Kita nggak tahu, dia –katakan orang Kristen, dia ke gereja juga – begitu kita nikah baru tahu, ya ternyata dia punya dosa yang sangat besar.

Nah, bagaimana solusinya? Nah, ini terlepas dari hal-hal yang tidak ideal, ya. Tetapi kita berdoa supaya waktu menikah itu betul-betul dengan pasangan yang takut akan Tuhan. Nah, maka perlu, ya, perlu persiapan yang matang, perlu pergumulan. Baik seperti Martin Luther maupun Katharina di dalam memilih pasangan hidup tuh nggak bisa sederhana. “Ah, lihat aja medsosnya, gambarnya, ya, bagus, gitu, aplikasi berpacaran.Nggak bisa! Nanti kalau orangnya psikopat, kita yang menderita lho! Orangnya cinta akan uang, orangnya suka selingkuh. Nggak bisa! Mending, sudah paling bagus, ya, sudahlah, lihat yang di sekitar kita, di gereja terutama. Itu pun bisa salah, ya, kita bisa mengenal orang, ya. Maka dari itu perlu pergumulan, doa baik-baik supaya kita menikah dengan pasangan yang tepat yang dari Tuhan yang takut akan Tuhan. Itu dari pernikahan, ya. Ketika menjalani dengan salah, ya pernikahan itu kacau balau seperti neraka di dunia. Tapi kalau dijalani dengan tepat, dengan baik, itu, pernikahan itu seperti surga di dunia.

Lalu kita lihat banyak yang selibat, ya, orang yang dipanggil selibat lah, misalkan, ya, betul-betul dia dipanggil selibat. Ada nggak orang-orang yang selibat ini dipakai Tuhan luar biasa baik? Banyak. Orang yang selibat, hidup sendiri, ya, kalau sudah di rumah, sendiri, masa sendiri terus, ya? Pasti dia ingin PA, PD, ingin pelayanan, ingin ke gereja, ingin ketemu orang, karena manusia memang diciptakan untuk bertemu dengan orang, bukan bertemu dengan diri, ya. Sendiri terus? bukan, tetapi bertemu dengan sesama dan juga sebenarnya bertemu dengan Tuhan.

Nah, orang yang selibat ada yang kalau tidak humas, tidak penginjilan, ya, nanti dia sakit flu, ya. “Harus penginjilan, harus humas, kalau nggak saya yang sakit flu.” Kalau kita kan, aduh didorong-dorong, “Ayo humas! Ayo penginjilan!” Aduh nanti sakit, ya, demam, flu. Kalau mereka kan kebalik. “Justru saya tidak penginjilan, justru saya tidak humas, nanti saya sakit.” Gitu, ya, sakit flu. Nah, ini ada orang-orang yang bisa fokus melayani sesama dengan baik. Tetapi balik lagi, ya, ada orang yang selibat tapi egoisnya minta ampun, keras kepalanya luar binasa gitu, ya. Keras, tidak mau terlibat dalam komunitas apa pun. Jadi balik lagi, panggilan Tuhan itu baik tetapi responnya manusia itu bagaimana? Itu yang menentukan kehidupan tersebut mulia atau tidak, ya.

Nah, reformasi memberikan pengaruh bahwa pernikahan itu kudus, keluarga itu kudus, yang belum menikah pun harus kudus, dan yang selibat pun harus hidup kudus di hadapan Tuhan. Dalam setiap konteks kehidupan, itu adalah panggilan Tuhan yang baik yang harus diresponi dengan tanggung jawab, diresponi sebagai pelayanan kepada Allah yang Maha Tinggi. Baik itu yang masih single, yang mau menikah, yang akan menikah, yang sudah menikah, yang sudah tunangan, apa pun itu semua harus dijalani dengan takut akan Tuhan. John Calvin mengatakan, “Manusia diciptakan menurut gambar Allah dan dengan demikian kita memiliki tanggung jawab moral untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.” Jadi bicara kedaulatan Tuhan tuh bukan Tuhan berdaulat terus kita tidak ada tanggung jawab sama sekali. Ketika Tuhan berdaulat itu menciptakan kita, ya, memberikan anugerah kehidupan, memberikan kita kesempatan untuk hidup, ada tanggung jawab yang harus kita lakukan kepada Tuhan.

John Frame mengatakan, “Tanggung jawab kita di hadapan Tuhan adalah untuk mengenali kehendak-Nya dan mengekspresikannya dalam tindakan kita sehari-hari sebagai bentuk ibadah yang sejati.” Nah, ini adalah suatu tema yang unik, yaitu apa? Responsibility. Apa itu tanggung jawab? Respons kita, ya. Maka bahasa Inggris sangat bagus: re-spon-si-bility, ya. Kemungkinan-kemungkinan kita meresponi terhadap anugerah Tuhan itu apa? Kita jalankan dengan baik. Dan John Frame maupun John Calvin katakan, “Kalau kita sadar kita diciptakan dan dikasihi Tuhan, maka kita harus bertanggung jawab atas pekerjaan Tuhan itu dalam hidup kita dengan taat dan beribadah kepada Tuhan

Nah, sekarang kita lihat, Bapak, Ibu sekalian, ya, beberapa pengaruh yang jelas, ya, dari Reformasi Gereja terhadap pernikahan. Yang pertama: dulu itu sebelum reformasi, pernikahan dianggap sebagai sakramen. Setelah reformasi pernikahan bukan sakramen, ya, tetapi institusi yang diberkati oleh Tuhan, ya. Pernikahan itu, maksudnya sakramen apa? Ya, Bapak, Ibu, sekalian, maksudnya sakramen adalah suatu perintah dari Yesus langsung dan itu di bawah kewenangan Gereja full tanpa di bawah kewenangan institusi yang lain: bukan institusi keluarga, bukan institusi pemerintah, bukan institusi sekolah, ya, bukan institusi apa, mungkin perusahaan dan lain-lain. Tapi namanya sakramen itu adalah kewenangan penuh dari Gereja. Itu definisi yang benar dari sakramen.

Nah menurut Calvin dan Luther, Alkitab hanya mendukung 2 sakramen saja. Yaitu apa? baptisan dan perjamuan kudus. Pemerintah nggak bisa membaptis, pemerintah nggak bisa mengadakan perjamuan kudus. Tapi pemerintah bisa mengadakan pernikahan kan? Agama lain bisa mengadakan pernikahan mereka. Maka bagi Luther pernikahan bukan saja urusan gereja. Gereja tidak mengatur sepenuhnya pernikahan, tetapi juga urusan sipil dan tidak sepenuhnya di bawah juridiksi atau kewenangan gereja. Jadi waktu kita menikah kan ada catatan sipil ya, tanda tangan catatan sipil. Berarti urusan sama pemerintah juga. Pemerintah mengatur pernikahan kita juga; dicatat di Kartu Keluarga, diubah KTP nya menjadi dari “belum kawin” jadi “kawin”. Itu urusan sama pemerintah juga. Maka ini bukan sakramen bagi Luther. Tetapi bagi gereja Katolik, ini masuk sakramen. Yang menentukan pernikahan itu sepenuhnya gereja Katolik, yang bisa mengatur dengan ketat pernikahan.

Otoritas sipil harus terlibat dalam hukum pemerintahan. Maka Luther percaya bahwa negara memiliki peran juga di dalam mengatur pernikahan dan demi kesejahteraan masyarakat. Termasuk apa? Termasuk dalam perceraian dan hak perlindungan anak. Ini kan masuk ranah pemerintah kan? Kalau akhirnya mereka bercerai, ya pemerintah mengakui perceraian. Terus kemudian, pemerintah juga bisa memiliki hak untuk memberikan anak ini diasuh oleh siapa, yang lebih bertanggung jawab; entah itu ibu nya atau bapak nya. Gereja bagaimana ngaturnya? Cuma bisa memberikan nasehat saja kan, firman Tuhan dan yang lain-lain, “Ayo, rujuk.” Tetapi karena kebebalan manusia itu akhirnya ada perceraian ya.

Para Reformator mengatakan bahwa pernikahan itu institusi sendiri yang diberkati oleh Tuhan dan tunduk pada firman Tuhan. Tetapi hukum pemerintah juga mengatur pernikahan yang ada, mendukung pernikahan yang ada. Ada kewenangan pernikahan juga bila pernikahan tidak dijalankan dengan benar. Kalau ada kasus KDRT, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa seorang ayah atau ibu itu atau anak itu lapornya ke gereja? Boleh ke gereja berkeluh kesah, minta didoakan. Boleh. Tetapi kalau sudah urusan kriminal lapor ke polisi, lapor ke pemerintah juga yang punya hukum atau pedang yang bisa memberikan hukuman kepada orang yang melakukan tindak kriminal. Bukan saja polisi, lembaga permasyarakatan pun bisa memberi nasehat. Ada tim konseling nya ya, atau psikologi nya itu datang juga –  bukan hanya gereja – ketika terjadi dalam pernikahan. Nah itu kenapa Luther katakan itu bukan sakramen, itu institusi yang diberkati oleh Tuhan.

Lalu yang kedua, aturan pernikahan yang sangat ketat dan tidak mengizinkan perceraian sama sekali. Ini sebelum Reformasi ya. Jadi kalau orang itu kalau menikah itu di bawah gereja Katolik saja, terus itu nggak boleh cerai sama sekali. Tidak ada kesempatan. “Oh bagaimana dengan pasangan ini yang psikopat? Pasangan saya yang meracun saya, pasangan saya yang mukulin anak saya, bagaimana?”, “Tetap harus bertahan sampai mati.” Gitu ya, oh ketat sekali. Nah sebagai orang Kristen bagaimana Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Kita punya pikiran boleh cerai nggak ya? Nah kita lihat dulu ya, balik lagi ya, Sola Scriptura. Kita lihat dulu Mat. 19, kita baca bersama-sama. Mat. 19:3-9, nah di sini pandangan tentang perceraian pun ada perubahan sedikit lah, bukan perubahan drastis ya. Bahaya sekali kalau pada akhirnya sebelum reformasi tidak boleh cerai, setelah reformasi boleh cerai. Sekarang kita baca bersama-sama Mat. 19:3-9, “Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: ”Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus: ”Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya: ”Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” Kata Yesus kepada mereka: ”Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Jadi jelas, Alkitab mengatakan, Yesus sendiri yang mengatakan ya, Yesus sendiri yang mengajarkan soal pernikahan kepada orang yang bertanya, “Sebetulnya boleh nggak sih cerai itu? Kalau kondisi nya begitu tidak ideal, mengancam nyawa, bagaimana?” Nah ini adalah pertanyaan yang sangat hati-hati, yang harus dijawab juga dengan hati-hati, “apakah boleh bercerai?”. Dari satu perikop yang barusan kita baca, ada 2 jawaban. Jelas yang pertama itu tidak boleh cerai karena pernikahan itu disatukan oleh Allah sendiri. Sudah menikah tidak ada kata cerai, tidak ada merencanakan cerai, harus bertumbuh dalam pernikahan dan kamu akan menikmati pernikahan itu sendiri. Sudah, beres. Sudah. Terus, yang kedua, ini dikasih sebuah jalan yang lain atau prediksi yang lain. Manusia berdosa itu lupa makna pernikahan, manusia berdosa itu lupa bahwa dirinya itu adalah suami maupun istri. Bisa lupa lho. Istri saya beberapa hari saja saja saya sudah seperti orang single. Bisa lupa? Bisa, manusia itu lemah banget dan berdosa sekali. Maka dari itu,

Bisa lupa? Bisa! Manusia itu lemah banget dan berdosa sekali. Maka dari itu, ketika orang lupa makna pernikahan, ketika orang lupa mengasihi, melawan Tuhan, ada konteks di mana pernikahan itu jadi penjara, bukan pernikahan. Penjara yang mengerikan dan sangat menyakitkan, di mana tidak ada kasih dan akhirnya ada evil yang lain yang akhirnya mengeluarkan mereka dari penjara tersebut, yaitu apa? Perceraian. Yesus tidak katakan bahwa, “Kamu boleh bercerai kalau kamu di dalam pernikahan itu ada KDRT!” Nggak. Tetapi yang dijelaskan adalah perzinahan. Salah satu pasangan yang tidak setia melakukan tindakan seksual di luar pernikahan, tidak ada komitmen dalam pernikahan, tidak mau membangun pernikahan, maka necessary evil. Evil yang dibutuhkan apa? Perceraian. Evil, lho! Cerai ini jahat; cerai ini dosa, tapi dibutuhkan kalau akhirnya pernikahan itu jadi penjara yang mengerikan, yang begitu menyakitkan, tetapi dengan apa? Dengan catatan dulu. Apakah ketika pasangan itu berzinah, apa langsung cerai? Nggak, kan? Semua ada prosesnya. Ada pengampunan dulu, ada diuji dulu. Kita berdoa supaya dia bertobat. Itu ribuan usaha kita usahakan pernikahan karena pernikahan itu baik. Kita ribuan usaha sampai kepada keputusan terakhir. ”Wah, udah! Kayaknya saya harus berdosa dihadapan Tuhan supaya saya tidak lebih berdosa di hadapan Tuhan dengan melakukan perceraian.”

Jadi, keputusan cerai adalah setelah semua solusi memperbaiki pernikahan itu sudah dijalankan. Sudah lapor ke keluarga, sudah konseling gereja, sudah lapor ke polisi, gitu, ya. Nyawa pasangan terancam. Wah! Masa mau hidup dengan perampok, pemerkosa, pembunuh setiap hari? Siapa yang pengen? Itu kita aja, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di Solo itu sudah- puji Tuhan- ada pelayanan penjara juga secara rutin, ya, 2 minggu sekali kita layani. Itu saja, jemaat ada yang nggak mau kok! Takut, gitu, ya. “Nanti kita ketemu pembunuh gimana?” Lho, kita ke gereja. Di gereja beribadah saja. Kita ketemu orang-orang di penjara saja takut, kok! Pembunuh, narkoba, dan lain-lain. Sekarang, harus tinggal serumah dengan pembunuh tersebut. Gimana?

Nah, para reformator lihat ya, sebelum reformasi “nggak boleh sama sekali!”, setelah reformasi, para reformator mengizinkan perceraian dalam kondisi yang buruk tadi. Keadaan tertentu, misalnya perzinahan atau kekerasan. Bahkan ditambahkan, kalau ada kekerasan udahlah, tinggalkan saja! Kurang lebih, kasarnya gitu, ya. Tapi, kamu berdosa, bercerai! Memang berdosa! Daripada lebih banyak berdosa. Wah, ini adalah suatu pandangan yang berubah sama sekali. Nggak boleh cerai! Sekarang para reformator, Luther, Calvin katakan kalau pasangan itu berzinah, ke pelacur bertahun-tahun, sudah, keputusannya adalah yang ini. Tapi, ini tidak menutup kemungkinan kalau pasangannya itu bertobat, tetap kita nggak boleh cerai. Ya, kan? Kalau pasangannya sudah bertobat, tetap kita masih mau cerai, kita yang salah, tapi kalau pasangannya bertobat di dalam anugerah Tuhan, kita tetap harus mempertahankan pernikahan.

Ambil contoh, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya. Ada 1 pasangan. Si suami narkoba, berzinah, main perempuan, mukulin istri. Udah lengkap. Istri tahan terus, berdoa terus. Di umur yang sudah tua, ternyata si suaminya bertobat. Dia nggak pernah narkoba lagi, nggak pernah pukul istrinya, nggak pernah main perempuan lagi dan akhirnya, ya, pernikahan mereka membaik di masa-masa tua mereka. Ada yang kayak gitu? Ada! Banyak? Banyak! Bayangin kalau si istri mengambil keputusan, ya, mungkin habis dengar khotbah ini, ya, “Wah, cerai ini! Boleh ini!” Ini gereja yang mendukung perceraian ini! Wah, cerai! Gagal, nggak? Gagal! Toh, si suaminya bakalan bertobat, kok, di waktu Tuhan. Di waktu Tuhan yang begitu lama. Dan bisa juga, lho. Ya, ini satu kasus yang benar-benar terjadi dan ada contohnya.

Tapi, apa ada juga cerita di mana si istrinya mati? Ada! Susah! Yesus saja katakan, Musa aja, Musa kasih surat cerai, kok! Musa, lho!  Nabi pertama! Yesus saja katakan kecuali karena perzinahan. Yesus ngomong, lho! Karena apa? Manusia itu bebal. Manusia bisa membuat pernikahan jadi penjara yang mengerikan. Harus keluar dari penjara mengerikan itu. Dengan apa? Perceraian. Pemerintah saja mengatur perceraian. Tapi, sekali lagi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, jangan berpikir mau cerai. Kalau diajarin kayak gini jadinya pengen cerai. Ini manusia berdosa memang. Harus bertahan, tetap bertahan. Pernikahan itu baik.

Para reformator mengatakan, dalam situasi tertentu, perceraian mungkin terjadi. Karena apa? Perzinahan dan penelantaran berat. Sekarang begini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya. Kalau sudah menikah, si suami pergi, hilang. Itu perceraian, bukan? Hilang tanpa kabar 10 tahun. Tahunya, si suami itu sudah menikah, sudah punya keluarga lagi. “Saya harus menjaga pernikahan saya. Saya akan setia.” Si ibu ini, ya. Si istri ini, dia yang menderita sendiri. Padahal, itu bisa dianggap suaminya sudah mati. Kalau suami saya sudah mati, saya bisa menikah lagi. Mati secara jiwa dan relasi itu. Ya sudah, nikah lagi saja. Ngapain mengambil penderitaan yang tidak perlu. Ya, si pelaku ini malah hidup senang kan? Diberkati, ada pernikahan, punya anak. Si istri ini sudah sendirian, masih muda, ya, sampai umur tua menderita terus nggak punya penghidupan, nggak punya keluarga, nggak punya teman. Kurang lebih, ya, ini balik lagi, ini kasus per kasus. Kalau sudah begitu, ya sudah. Anggap itu sudah mati, sudah cerai. Bisa nikah lagi dong. Masih muda, kan, masih baik. Cari pasangan yang takut akan Tuhan.

Nah, pada waktu itu gereja Katolik betul-betul melarang perceraian itu tidak boleh sama sekali, ya, dan hanya mengizinkan pembatalan dengan syarat terbatas. Jadi maksudnya, “Oh, kamu itu belum menikah sebenarnya secara gereja, pada waktu itu. Dibatalkan saja.” Bagi Luther, pernikahan yang rusak secara mendalam—ya, balik lagi ya Bapak, Ibu sekalian—bagi Luther, pernikahan yang rusak secara mendalam kadang-kadang bisa diakhiri demi kebaikan kedua belah pihak. Ya, demi kedua belah pihak. Nah, kita baca 1 Kor. 7:10-15. Kita baca bersama-sama 1 Kor. 7:10-15, “Kepada orang-orang yang telah kawin aku – tidak, bukan aku, tetapi Tuhan – perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya. Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu. Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus. Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.”

Jadi, prinsip Alkitab sudah jelas, yang sudah menikah tidak boleh cerai. Tetapi, kita bisa lihat juga, salah satu orang Kristen, terus kemudian menikah—anggap dua-duanya bukan orang Kristen, menikah. Diakui nggak pernikahannya? Kita akui mereka itu suami istri, meskipun agama lain. Nah, kemudian salah satu orang jadi percaya, jadi orang Kristen, pengikut Kristus. Nah, pernikahan mereka jadi bagaimana? Satu seiman, satu tidak seiman. Alkitab katakan, tetap tidak boleh bercerai. Karena itu pernikahan dianggap oleh Tuhan. Nah, tapi kalau si orang yang tidak beriman ini, maunya cerai, ya, dengan segala macam, lah; si ini boleh, dia membiarkan, ya udah cerai-cerai aja. Gitu, ya. Tapi dari si orang beriman ini, nggak boleh yang dia mengatakan, “Ah, suami saya tidak seiman, istri saya tidak seiman, saya mau cerai.” Nggak boleh. Tapi, kalau orang yang tidak seiman ini mau cerai, ya udah, let it be. Wah, ini aturan baru lagi ya. Aturan baru lagi, konteks tertentu lagi, ketika ada keluarga yang belum percaya, kemudian salah satu jadi percaya bagaimana? Tetap yang percaya itu harus mempertahankan pernikahan. Karena bisa saja pasangannya itu umat pilihan yang akan percaya kepada Kristus. Tapi, andaipun tidak akan percaya kepada Kristus, nggak apa apa, jalanin saja, sampai mati. Karena kamu menghargai pernikahan yang sudah Tuhan berikan. Tetap tidak boleh cerai. Jadi, ini adalah pandangan yang sangat baik ya. Bahwa, “Ayo, terus bersama.” Kalau sudah menikah itu harus terus bersama. Jangan pikiran untuk pisah. Jangan pikiran untuk cerai.

Jadi, jelas, ya, Bapak, Ibu sekalian, ya, ini adalah Reformasi Gereja yang memberi pandangan yang baru, tapi bahaya, bahaya. Akhirnya orang apa-apa, kalau berzinah, “Wah, saya boleh cerai, nih.” Gitu, ya. Ini sangat bahaya sekali. Nggak, kalau berzinah tetap harus—kan balik lagi—kalau orang berdosa itu ditegur, didoakan supaya dia bertobat, terus diusahakan, sampai titik darah penghabisan. Lalu kalau sudah cerai pun, solusi terbaik adalah tidak menikah lagi. Ini Alkitab ya, 1 Kor. 7 mengatakan, “Anggap sudah cerai, gagal. Pernikahan gagal, terus kalau bisa tidak menikah lagi.” Karena pasangannya masih hidup. Kalau pasangannya sudah mati, nah, itu boleh ya. Lebih jelas. Tapi kalau pasangannya masih hidup, dua, menikah, ya udah, nggak usah menikah. Yang bener, yang ngerti firman, jangan menikah. Yang tidak ngerti firman, mah, pasti pengen nikah lagi, kan. Tapi yang ngerti firman itu, sebaiknya, “Saya sudah seorang duda—seorang janda, ya udah saya hidup begini saja, sudah setia melayani Tuhan.” Sampai tahu mantan suami atau mantan istrinya meninggal, nah, di situ udah lebih jelas. Oh, ya, kalau pasangan sudah meninggal, kan, boleh menikah lagi. Tapi yang paling baik kalau masih hidup pasangannya, nggak usah nikah lagi. Ribet nanti ya. Pusing urusannya.

Nah, lalu selanjutnya, beberapa pengaruh nyata lagi dari Reformasi Gereja terhadap keluarga, yaitu pertama adalah struktur dan peran dalam keluarga, ya. Jadi, keluarga pada waktu itu sangat hierarkis. Kepala keluarga itu betul-betul jadi bos, ya, jadi pemimpin. Semua harus tunduk. Istri, anak, semua tunduk. Dan kemudian akhirnya, sesudah reformasi, ya, reformasi mengajarkan bahwa betul, pusat keluarga itu pemimpinnya adalah suami sebagai kepala keluarga tetapi dengan pemahaman Alkitab yang benar. Suami itu didorong memimpin bukan dengan otoriter. “Karena saya laki-laki, saya suruh-suruh kamu.” Gitu, ya. Saya suruh istri, anak saya taat. Saya laki-laki, saya kepala keluarga, gitu ya. Tetapi, nggak. Suami didorong untuk memimpin dengan kasih dan tanggung jawab kepada istri dan anak. Sehingga membuat mereka, istri dan anak itu tunduk sama suami. Jadi, bukan mengandalkan, ‘Saya laki-laki, saya pencari nafkah, saya kepala keluarga.’ Bukan. Tapi, mengandalkan kasih yang dijalankan oleh suami kepada istri maupun anak-anak supaya anak itu tunduk di dalam kepemimpinan suami.

Luther katakan bahwa pernikahan adalah bagian dari ciptaan Allah yang baik. Hidup berkeluarga adalah cara yang sah untuk melayani Tuhan dan ia menekankan pentingnya kesetiaan dalam pernikahan dan tugas orang tua juga dalam membesarkan anak-anak di dalam iman. Jadi ini perbedaan ya, dari sebelum reformasi, setelah reformasi ada unsur tanggung jawab suami, istri itu dijalankan. Lalu yang selanjutnya, yang kedua adalah kerohanian pribadi dan keluarga itu biasanya terpusat pada gereja. Jadi kalau mau mengaku dosa, ya ke gereja, mau bertobat, ke gereja dulu, gitu ya, padahal tidak demikian. Pendidikan kerohanian itu bukan hanya di gereja, tetapi di keluarga juga. Jadi, gereja tidak menjadi peran yang sentral untuk akhirnya mendidik kerohanian seseorang, hanya satu institusi itu saja, tetapi keluarga juga sangat berpengaruh.

Kita lebih banyak di mana sih waktu kita habiskan di gereja atau keluarga? Di rumah kan? Maka rumah itu harus diubah menjadi gereja kecil bagi keluarga tersebut. Luther katakan bahwa pendidikan kerohanian itu bukan saja di gereja. Gereja tidak boleh mengambil peran besar sampai orang tuh bergantung pada gereja, nggak. Gereja itu harus mempengaruhi seluruh bidang bahkan rumah tangga itu, si laki-laki, si pemimpin atau siapa pun itu yang rohaninya baik harus berpengaruh bagi keluarga. Jadi, para reformator menekankan pentingnya tanggung jawab orang tua, suami istri, ya, di dalam mendidik anak-anak dalam iman yang benar sesuai dengan Alkitab. Jadi, rumah itu adalah gereja kecil. Pemimpinnya siapa? Orang tua, ya. Pemimpinnya siapa? Si suami yang mengikut Yesus Kristus. Kalau si suami tidak mengikut Yesus Kristus, pemimpinnya siapa? Si ibu yang mengikut Yesus Kristus. Kalau dua-duanya tidak percaya, siapa pemimpinnya? Anak yang mengikut Yesus, dia menjadikan rumah itu sebagai gereja kecil.

Jadi kita bisa lihat bahwa Reformasi Gereja memberi pengaruh yang besar kepada pernikahan dan keluarga. Ya, sangat banyak perubahan tetapi balik lagi, ya, Reformasi Gereja mau membawa pernikahan dan keluarga itu sesuai dengan Alkitab. Apa yang diajarkan Alkitab berpusat pada Alkitab, ya, dan pernikahan maupun keluarga ya bisa menjadi gereja kecil yang mendorong kita untuk bisa beriman dan mengikut Yesus.

Nah, Bapak, Ibu sekalian kita adalah gereja di mana pun kita berada. Bukan hanya kita di gedung gereja terus kemudian kita jadi on time, kita jadi rapi, kata-kata kita jadi sopan, ya, tidak kasar dan kemudian tersenyum, bukan. Di mana pun kita taat kepada Tuhan, baik di rumah, baik di jalan raya, baik di mana pun kita bertemu dengan orang, kita adalah gereja, ya, gereja yang mengikut Yesus Kristus, memberikan teladan Yesus Kristus. Kita butuh firman, kita butuh doa, kita butuh ibadah sama-sama, karena kita gereja. Maka dari itu Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, sebagai keluarga-keluarga Kristen di tempat ini, mari hidup penuh kasih satu dengan yang lainnya, ya. Ayo jalankan tugas kita sebagai gereja. Ya, gereja itu tadi ya kaum terpilih yang dipanggil oleh Allah. Kita dipanggil untuk berdoa, dipanggil untuk merenungkan firman dan melakukan firman Tuhan, ya, dan kita juga dipanggil untuk beribadah kepada Tuhan dengan seluruh kehidupan kita.

Jadi hidup kita kan 100% ya, 100%, tapi hidup kita ini di dalam seluruh institusi. Ya, kemarin ada pemuda yang cerita bahwa kita tuh membagi kehidupan kita bagaimana? 60% di kampus, 40% di gereja atau sebaliknya, ya, 60% di gereja, atau 40% di kampus. Jawabannya adalah 100% gereja, 100% kampus gitu ya. Itu betul ya, tapi lebih jelas lagi bahwa hidup kita itu 100%, semuanya kita berikan untuk Tuhan. Baik di gereja, baik di kampus, di keluarga, ya kita semua mau memuliakan Tuhan. Nah itu adalah kehidupan yang teosentris. Jadi Reformasi Gereja membawa semua konsep yang ada di luar dunia ini, yang ada di dunia ini untuk kembali dimengerti secara benar, secara Alkitab. Ya kiranya ini boleh menolong kita untuk bisa memahami lebih dalam lagi kebenaran Firman Tuhan. Mari kita sama-sama berdoa.

Allah Bapa kami yang di surga kami bersyukur, kami boleh mendengarkan kembali penjelasan tentang kebenaran Firman Tuhan soal pernikahan dan keluarga. Ajar kami Tuhan memiliki iman yang takut akan Tuhan. Kami mau memiliki bijaksana Tuhan. Ketika kami menerima kebenaran Tuhan, itu bukan mendorong kami malah menjadi orang yang mau melakukan dosa dengan alasan Firman Tuhan, tetapi menjadi orang yang semakin takut akan Tuhan, dan semakin melihat bahwa kasih Tuhan begitu besar dalam kehidupan kami. Ampunilah dosa-dosa kami Tuhan, segala kesalahan kami, segala kelemahan kami, segala kesombongan kami, segala kelalaian kami. Kami mau Tuhan diperbaharui terus oleh Firman Tuhan dan menjadikan Firman Tuhan sebagai panduan dalam kehidupan kami, sebagai pelita dan terang bagi jalan hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus  kami sudah berdoa dan bersyukur. Amin (HS)