Doa Bapa Kami (12)
Vik. Nathanael Marvin, M. Th
Albert Barnes menjelaskan bahwa kata “yang jahat” di dalam doa ini maksudnya adalah kepada iblis atau setan atau roh-roh jahat. Ya, Barnes menjelaskan 4 hal yang dilakukan iblis sebagai yang jahat. Iblis itu disebut sebagai yang jahat atau si jahat. Dia mengatakan 4 hal yang dilakukan iblis yaitu dengan apanya dia menggunakan hal yang bagaimana dia menyampaikan kejahatan itu, yaitu adalah dengan kuasanya. Iblis punya kuasa bahkan kuasa iblis melebihi kuasa kita. Ya, manusia itu di bawah malaikat kok. Kita ini lebih lemah dari malaikat. Dan dengan kuasanya iblis bisa membawa kita kepada kejahatan dan juga dia melakukan kejahatan kepada kita. Bukan saja dengan kuasa tapi dengan jerat-jeratnya, ya, dengan perangkapnya sehingga kita terjebak, terluka dan tidak bisa lepas dari kuasa iblis. Bukan saja dengan perangkap-perangkapnya tetapi dengan perkataan-perkataan manis dari iblis dengan tipu daya iblis membuat kita merasa bahwa yang benar itu salah, yang baik itu buruk dan yang sebaliknya, yang salah itu benar, yang buruk itu baik. Ini adalah tipu daya iblis dan juga iblis senantiasa menggoda kita supaya pada akhirnya kita menjauh dari Tuhan. Ini adalah 4 hal yang dimiliki oleh iblis untuk melakukan kejahatan dan membuat kita jatuh dalam dosa; kuasanya, jeratnya, ya, tipu daya dan godaan dari iblis sendiri.
Nah, Bapak, Ibu sekalian memang iblis punya kuasa, bahkan kuasa yang sangat besar bisa mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia untuk melawan Tuhan. Kita tahu mulai sejak manusia diciptakan, Adam dan kemudian Hawa, kemudian sudah ada iblis di situ. Iblis berarti sudah menjadi penentang Tuhan. Dan ketika iblis diperhadapkan dengan manusia di taman Eden, situasi dan kondisi ini sebenarnya mendukung manusia untuk taat kepada Tuhan. Taman sukacita, Eden itu sukacita. Kepenuhan jasmani tercukupi, kepenuhan rohani tercukupi oleh Tuhan. Adam dan hawa itu cukup. I shall not want kalau bisa Adam dan Hawa mengatakan, ya, saya rasa cukup kok. Tiba-tiba ketika iblis diperhadapkan dengan manusia, yang kalah siapa? Yang menang siapa? Kita tahu jawabannya. Kita lemah, kita manusia berdosa yang ikut jahat juga, seperti iblis yang jahat itu.
Iblis datang dalam rupa ular. Tentu kalau ularnya menakutkan seperti sekarang kita pasti akan teriak-teriak lari, ya, coba ada ular dilempar, gitu ya, wah kita langsung lupa ibadah ya, lupa ini lagi ibadah. Tapi ularnya itu zaman dulu, Adam dan hawa itu begitu menarik, ya, sampai tidak takut. Adam dan Hawa mendekati ular itu. Apa ini? Binatang apa? Di pohon tertentu ular itu ngomong sama Adam dan Hawa. Ular adalah jelmaan iblis, ya, pada waktu itu, dalam rupa yang bagus, tidak menakutkan bagi manusia, tidak berbahaya bagi manusia. Dan di situ iblis dalam bentuk ular itu menggoda Adam dan Hawa. Dan iblis punya strategi. Godanya siapa? Hawa dulu, ngomongnya ke Hawa. Karena apa? Karena Hawa adalah kelemahan Adam. Ini adalah teknik yang begitu kejam, ya. Bagaimana kalau dalam politik, Bapak, Ibu sekalian ya, bagaimana mau menjatuhkan lawan yang berkuasa, raja yang berkuasa? Serang apa yang dia kasihi, paling dia kasihi. Istrinya, anaknya diancam, raja nggak bisa apa-apa. Wah, iblis punya strategi seperti ini sejak awal penciptaan. Iblis menyerang Hawa dulu, yang begitu dikasihi oleh Adam, yang bagaimana Adam itu memuji Hawa dengan luar biasa, “inilah tulang dari tulangku, ya, daging dari dagingku.”
Kemudian Hawa digoda iblis juga bukan karena dia dicintai oleh Adam tetapi juga karena Hawa ini mendengar firman Tuhan yang diteruskan oleh Adam. Ya, Adam mendengar firman Tuhan secara langsung dari Tuhan, tetapi Hawa mendengarkan firman Tuhan itu diteruskan oleh si Adam. Jadi, sudah ada, apa, transisinya ya, transmisinya. Iblis menggoda Hawa dan Adam untuk meragukan firman Allah dengan kata-kata yang begitu indah, dengan kata-kata, dengan penglihatan. Jadi bukan saja dengan penglihatan, “nih rupaku begitu indah, dekatilah aku.” Ya ini ular kan? Terus dengan kata-kata yang begitu indah juga, iblis tanya dengan ramah. Jadi jangan pikir iblis tidak ramah ya, Bapak, Ibu sekalian, ya, iblis tuh ramah loh, “permisi saya mau tanya” ya kurang lebih kayak gitu ya. “Apa benar Hawa, firman Tuhan mengatakan kamu ini nggak boleh makan semua buah dari pohon di taman ini?” Ya kalau tanyanya galak-galak nggak dijawab sama Hawa, “ih, iblis nih galak” gitu ya. Tapi Hawa itu jawab iblis “oh nggak iblis” ya, nggak tahu ya ini Hawa itu, nggak tahu iblis atau nggak, ya. “Semua buah dalam taman ini boleh dimakan kok. Semua boleh dimakan. Hanya buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat saja tidak boleh dimakan, kalau makan maka akan mati.” Kita ingat bahwa Adam itu di sebelah Hawa, ya, Adam ini menjadi pendiam, ya ketika ada diskusi antara iblis atau ular dengan si Hawa itu ya, diam saja. Hanya bisa mendengar pembicaraan, ya ini juga sikap yang sopan juga ya Adam mendengar pembicaraan antara ular dan Hawa.
Iblis balas Hawa, “Hawa, kamu itu tidak akan mati, tenang saja. Ya, tenang saja. Tapi kalau kamu makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat itu justru kamu akan seperti Allah yang tahu pengetahuan yang baik dan jahat.” Dikasih pengharapan, pengharapan palsu. Dikasih keramahtamahan, dikasih pengharapan, maka dari itu Hawa berpikir dan juga Adam berpikir juga ya. Kok bisa ada suatu diskusi yang menarik ya, dan berbeda dengan perkataan Tuhan sendiri. Mungkin Adam hanya bisa mengerenyitkan dahi saja, “kok rasanya beda nih, ini perkataan yang asing buat saya. Karena saya dengarnya firman Tuhan dan dengarnya adalah perkataan dari istri saya.” Tetapi ini adalah perkataan yang baru yang mereka dengar bahwa boleh makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat dan juga kamu akan jadi seperti Allah. Wah pengharapan yang bagus sekali, yang tahu baik dan jahat.
Nah pada akhirnya pemutar balikan firman Tuhan oleh iblis, oleh ular itu sendiri dan pengalaman baru ini tidak bisa ditahan oleh Adam dan Hawa, dan mereka akhirnya berdosa di hadapan Tuhan. Dosa itu apa? Lebih percaya perkataan si jahat dibandingkan perkataan Tuhan. Akhirnya Hawa dan Adam atau Adam dan Hawa itu jatuh dalam dosa. Hawa mengambil buah pengetahuan baik dan jahat itu lalu makan, lalu juga memberikannya kepada Adam, suaminya yang di sebelahnya itu. Adam pun makan.
Nah inilah kelicikan iblis, dia mendekati manusia dengan cara yang penuh “kedamaian”, dengan cara yang baik, tidak berbahaya, tetapi pada akhirnya justru menyakiti dan melukai manusia, Adam dan Hawa itu sendiri dan juga akhirnya Adam dan Hawa melawan Tuhan. Bukan hanya itu Bapak, Ibu, sekalian, cara iblis ini tidak pernah berhenti bekerja sampai sekarang. Jangan pikir iblis itu galak, jahat gitu ya, iblis bisa ramah loh, dengan dialog kepada Hawa maupun Adam, iblis itu bisa halus sekali. Dan dia terus bekerja sampai sekarang, dan dia bukan saja mempengaruhi orang untuk melakukan dosa, melainkan juga mempengaruhi orang untuk mempengaruhi orang lain berdosa kepada Tuhan bersama-sama, menjerat orang dalam pergaulan yang buruk dan akhirnya orang ingin coba-coba dan akhirnya orang jatuh ke dalam dosa. Ini adalah pekerjaan iblis yang tidak kelihatan, sangat powerful. Kita manusia lawan iblis pasti kalah, sudah dicontohkan Adam dan Hawa ya. Kita jangan pikir bahwa kita tuh kuat, tanpa Tuhan kita mampu melawan godaan untuk melakukan dosa, nggak bisa! Meskipun di dalam 1 Kor. 10 dikatakan “pencobaan yang kamu alami itu adalah pencobaan yang umum yang dialami semua manusia dan tidak akan melebihi kekuatan kamu”, itu karena apa? Itu karena Allah yang memberi kekuatan. Kalau tanpa Tuhan itu setia, Tuhan itu baik memberikan kekuatan kepada kita, kita pasti jatuh ke dalam dosa.
Bukan saja itu Bapak, Ibu sekalian, iblis juga dengan seizin Tuhan, dapat membuat hal yang besar seperti membuat penderitaan, menghilangkan harta, membuat bencana alam, dan memberi sakit-penyakit. Ini yang jelas-jelas negatif meskipun kita tahu juga iblis bisa saja ya, Tuhan memberikan kelancaran, diizinkan kelancaran, kemudian digoda, dijerat, manusia tersebut akhirnya melupakan Tuhan karena kelancaran atau kekayaan atau kebahagiaan itu sendiri ya. Tetapi pada kasus ini kita lihat, Ayub dicobai iblis dengan segala yang negatif. Pertama-tama Allah bangga terhadap Ayub, tidak ada begitu saleh dan takut akan Tuhan seperti Ayub. Ayub itu dipuji-puji oleh Allah dan iblis tentu akhirnya tertantang dan tidak ingin Ayub itu senantiasa dipuji oleh Allah dan Ayub itu tenang-tenang saja dalam kehidupannya. Iblis ingin mengganggu Ayub dan juga ingin melawan Tuhan yang begitu bangga kepada Ayub. Nah kemudian iblis menuduh Ayub bahwa Ayub itu bisa taat kepada Tuhan, hidup saleh, hidup benar dan juga hidup betul-betul berkenan di hadapan Tuhan itu karena Tuhan memberkati dia dengan hal yang materi. Ya karena dia ada uang kok, makanya dia pelayanan. Dia cukup kok hartanya, dia punya keluarga kok makanya tidak berzinah. Dia punya istri yang baik, makanya dia tidak selingkuh gitu ya. Dia punya uang makanya persembahan kayak gitu kurang lebih ya. Dia punya 10 anak, makanya hidupnya tidak sedih, tidak iri hati dan lain-lain. Itu yang membuat Ayub itu tidak mencuri dan tidak kecewa kepada Tuhan. Ayub punya segala-galanya dan bagi iblis itulah kenapa Ayub bisa taat, bukan karena cintanya pada Tuhan tapi cinta karena pemberian Tuhan, itu yang membuat dia bisa taat.
Nah pada akhirnya ya iblis menantang, kalau tidak ada berkat materi itu pasti Ayub akan melawan Tuhan. Iblis menantang Tuhan sendiri. Maka dari itu iblis izin kepada Tuhan, pokoknya hilangkan segala berkat materi itu, maka kita bisa lihat Ayub itu apakah masih memuji Tuhan atau tidak. Uniknya ya, Tuhan yang berdaulat itu mengizinkan Ayub mengalami penderitaan yang begitu banyak ya. Tapi Tuhan katakan, “jangan renggut nyawa Ayub.” Syaratnya itu aja. Iblis dengan bersemangat pada akhirnya dengan seizin Tuhan, mencobai Ayub dengan merenggut segala hal yang dapat membuat Ayub menderita dan akhirnya mengutuk Tuhan. Menurut pemahaman Iblis, ya, “Kita renggut semuanya.” Pertama-tama, kita tahu, ya, apa saja yang direnggut dari Ayub, ya, segala berkat Tuhan itu. Pertama-tama, harta benda dirampas, dengan ada musuh-musuh, tentara yang mengambil harta benda Ayub dan juga memusnahkannya. Bukan saja itu, pelayannya dibunuh, ya. Ini gara-gara siapa? Iblis. Iblis yang bekerja menghilangkan harta Ayub, pelayan Ayub dibunuh juga. Bukan saja itu, dengan angin yang begitu keras merobohkan rumah di mana 10 anak Ayub sedang berkumpul. Anak-anak Ayub mati semua. Memang kita tahu bahwa hidup mati di tangan Tuhan, betul. Tapi Tuhan bisa pakai iblis untuk bunuh orang juga, ya, dengan cara fenomena-fenomena yang natural seperti itu. Wah mengerikan, ya, iblis. Bukan saja angin menimpa rumah yang dipenuhi 10 anak Ayub sampai mati semua, tetapi juga iblis punya kuasa untuk memberi penyakit kepada Ayub dengan penyakit kulit yang begitu gatal. Dan kesimpulannya, ya, ini juga menjadi bisikan halus dari iblis kepada istri Ayub. ”Sudah, tinggalkan Tuhan. Nggak usah taat sama Tuhan, nasihati suami kamu itu, jangan melayani Tuhan. Jangan setia sama Tuhan. Kutuki Tuhan saja.” Dan akhirnya, istrinya juga mengatakan ”Sudah, mati saja. Kutuki Tuhan lah. Tuhan itu tidak ada,” karena memberikan begitu banyak penderitaan, mengizinkan begitu banyak kesulitan besar di hadapi oleh Ayub dan keluarganya.
Tapi Bapak, Ibu sekalian, uniknya di dalam pencobaan Ayub ini, Roh Kudus bekerja terus. Ayub bisa menerima, ya, ”Dengan telanjang aku lahir, dengan telanjang juga aku mati kok” ya. Ayub mengatakan ”I shall not want,” ”Aku sudah puas dengan tubuhku ini, dengan hidupku ini; mau kaya mau miskin nggak papa. Aku tidak akan menyangkal Tuhan dan aku beriman kepada Tuhan.” Dan puji Tuhan, memang Ayub terus taat kepada Tuhan dan dia betul-betul menjadi teladan bagi banyak orang.
Nah, Albert Barnes mengatakan bahwa sebagai orang Kristen, kita harus berdoa, doa Bapa Kami seperti ini ya: ”Bebaskan kami dari kuasa iblis. Bebaskan kami dari jerat-jerat iblis, tipu daya iblis, ataupun godaan iblis.” ”Deliver us from his power, his snares, his arts, his temptations.” Ini adalah permohonan yang sangat agung dan muncul dari hati yang mau hidup kudus di hadapan Tuhan. “Kami tidak mau dipengaruhi si jahat, sehingga kami melakukan yang jahat di hadapan Tuhan.” Yang jahat di sini mengacu kepada iblis. Tetapi secara umum, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita juga bisa mengerti bahwa yang jahat ini bukan saja mengacu kepada pribadi si iblis, tetapi secara umum yaitu segala kejahatan atau keburukan di mata Tuhan.
“Lepaskanlah kami daripada yang jahat”, ya, kemudian ditafsirkan iblis yang pertama. Yang kedua adalah segala jahat, segala yang jahat atau yang buruk di mata Tuhan, berarti apa? Segala hal yang dapat membuat kita itu melawan Tuhan atau segala hal yang dapat membuat kita itu jauh dari Tuhan. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa yang sering kali menjauhkan kita dari Tuhan? Sering kali kita salahkan iblis. Ya, boleh salahkan iblis, ya, memang salah dia ya. Dia juga nggak merasa rendah diri karena disalah-salahkan. Kalau kita kan, nyalahin orang lain, merasa orang dilawan, diserang terus rendah diri, merasa nggak nyaman. Iblis disalah-salahkan juga nggak masalah, memang salah gitu ya. Tapi, sering kali kita juga menyalahkan orang-orang di sekitar kita. “Orang yang salah. Situasi dan kondisi yang salah, bukan saya. Saya sudah benar.” Nah, inilah artinya melepaskan hak, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Meskipun saya sudah benar, toh hasilnya tidak sesuai yang saya kurang lebih kita pikirkan, “Yang saya tabur, kok saya tuainya jelek?” Nggak masalah. Yang penting, kita sudah taat dan berkenan di hadapan Tuhan. Masalah tabur tuai pun kita tidak harus mengaturnya. Itu Tuhan yang mengaturnya. Tuhan kan adalah Allah yang Maha Adil. Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Pasti. Kita tidak bisa mengobrak-abrikkan keadilan Tuhan, dan kita tidak bisa memaksa Tuhan untuk melakukan apa yang kita mau karena kita sudah menabur yang baik, misalkan ya.
Ini juga kita bisa liat, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sering kali kita waktu melihat situasi dan kondisi di sekitar kita, kita itu menyalahkan sesama ataupun situasi dan kondisi. Padahal, seharusnya manusia tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi ataupun orang sekitar di dalam relasinya dengan Tuhan. Maka Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa, ”Manusia itu bukan apa yang dia makan, bukan apa yang kita pakai ya, bukan apa yang dia miliki atau kerjakan, tetapi manusia adalah bagaimana dia merespons kepada Tuhan.” Maka waktu kita lihat situasi dan kondisi buruk, kita tetap bisa hidup berkenan di hadapan Tuhan sekalipun kondisi di sekitar kita itu buruk. Karena kita tidak menyalahkan situasi dan kondisi, tetapi pertama-tama, ketika kita lihat bahwa ada yang menjauhkan kita dari Tuhan itu, kita lihat ke diri kita dulu, bukan ke sesama. Ya, maka satu sisi OK, ada orang mengeluhkan, “Ah, saya nggak mau ibadah hari ini.” Karena apa? Karena orang tertentu, karena gereja tertentu, karena saya sedang sakit misalnya, karena saya sedang malas. Kita salahkan situasi dan kondisi. Tapi pada dasarnya adalah kita yang bertanggung jawab atas perbuatan kita kok. Kita akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita di hadapan Tuhan, bukan situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita. Karena situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita, orang di sekitar kita, atau bahkan iblis yang ada di sekitar kita pun, itu adalah bagian dari kita diuji atau dicobai oleh Tuhan untuk bisa mengenal diri kita sebagaimana kita yang sebenarnya.
Kenapa Tuhan mengatakan, ya, di dalam Yakobus, “berbahagialah kamu kalau kamu menderita banyak pencobaan atau mengalami banyak pencobaan”? Bukan karena pencobaan itu sendiri, karena pencobaan itu buruk ya, dari iblis, tetapi karena hasil yang diharapkan ketika kita melalui pencobaan itu. Yaitu apa? Kita diuji. Kita semakin mengenal diri kita. Iman kita diuji ketika ada situasi dan kondisi yang buruk, apakah kita tetap setia kepada Tuhan karena firman Tuhan, ataukah setia kepada Tuhan karena situasi dan kondisi di sekitar kita. Maka dari itu sekali lagi Bapak-Ibu sekalian, ketika ada hal yang buruk yang terjadi, pertama-tama kita introspeksi diri kita dulu.Kita salah, lemah di hadapan Tuhan bagaimana.
Seperti Ayub, Ayub itu ketika hilang harta bendanya, ketika pelayannya dibunuh, ketika anak-anaknya mati karena angin begitu besar, bencana alam itu, dan juga istrinya jahat sama dia, dan dia mengalami sakit tubuh, Ayub tidak menghakimi yang lain, dia introspeksi, “Saya ada salah apa di hadapan Tuhan? Saya ada dosa apa?” Dan ternyata ketika dilihat-lihat, kayaknya tidak ada, deh. Tidak ada sebuah kesalahan yang di mana dia harus kena segala hal yang buruk. Misalkan bapak ibu sekalian kalau kita lihat, “Kenapa sih saya tidak dipercaya orang?” Ya kita bisa nyalahin karena orang lain susah percaya sama saya. Padahal kalau kita introspeksi, karena kita nya suka nipu kok, suka bohong, nggak jujur. Kerjaan nggak beres, ya orang nggak percaya sama kita, kan. Tapi Ayub ketika merenungkan dirinya ternyata tidak ada dosa yang membuat dia itu seharusnya seperti itu. Ya, menderita seperti itu.Nah, ini adalah poin penting bagaimana ketika kita menghadapi situasi di sekitar kita, hal-hal yang mungkin membuat kita jauh dari Tuhan itu, kita balik melihat diri kita.
Nah, segala yang jahat dan buruk di mata Tuhan berarti segala sesuatu yang dapat menjauhkan manusia dari Allah, ini termasuk menyeluruh segala sesuatu itu, baik natur yang memang jahat atau berdosa di hadapan Tuhan, maupun juga natur yang baik. Apa yang natur yang baik itu? Kesehatan misalkan, pelayanan, kemampuan, pemberian Tuhan. Bila pada akhirnya natur yang baik itu membuat kita semakin menjauh dari Pribadi Allah, berarti kita sebut juga itu adalah sesuatu yang jahat di mata kita, dan juga kita harus berespons secara tepat terhadap hal yang naturnya baik itu sendiri. Yaitu apa? Tidak memberhalakan hal yang baik itu sampai melebihi Tuhan. Karena itu adalah sesuatu yang menjauhkan kita dari Tuhan.
Banyak orang memberhalakan kesehatan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, sehingga akhirnya hidupnya adalah lebih mudah, ya, lebih mudah berolahraga daripada beribadah kepada Tuhan. Lebih mudah, pokoknya, pikirin vitamin, sayur, itu bagus, ya. Tetapi pada akhirnya kalau melalaikan tanggung jawab di hadapan Tuhan, kita sudah memberhalakan hal yang baik tersebut. Yang sering kali kita bisa jatuh dalam dosa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, adalah ketika manusia itu dapat waktu luang. Tanggung jawab semua sudah dibereskan. Kita sudah, mungkin sudah saat teduh, sudah baca firman, sudah kerjakan tugas kita, terus ada waktu luang yang di mana kita tidak harus melakukan apa-apa. Kurang lebih ya. Karena semua sudah dikerjakan. Ini yang menggoda kita juga, hati-hati, jangan sampai kita menggunakan waktu luang kita, sehingga menjauh dari Tuhan. Kita semua ada waktu luang. Sesibuk-sibuknya kita pasti ada waktu luang, saya percaya. Pasti ada waktu kosong di mana kita nggak ngapa-ngapain, terus ngapain? Nah, itu yang menunjukkan jati diri kita. Itu pun kita diuji dengan waktu luang yang ada, waktu kosong kita. Kita gunakan untuk apa? Apakah untuk Tuhan? Apakah kita semakin dekat dengan Tuhan? Apa malah semakin jauh dari Tuhan? Nah, itu kita harus bijaksana di dalam hal tersebut ya.
Lalu kita bisa lihat, ya, Bapak, Ibu sekalian, ada seorang teolog juga, teolog Reformed mengatakan, Octavius Winslow, menjelaskan bahwa doa “lepaskan kami dari yang jahat” ini, itu berarti berdoa untuk jauh dari tiga hal. Pertama adalah jauh dari dosa. Kita tahu dosa ini adalah masalah yang terbesar ya. Bukan masalah yang terbesar itu adalah misalkan, ya, peperangan itu besar juga, atau bencana alam itu besar juga, tetapi sebenarnya sebagai orang yang rohani, yang bisa melihat apa yang dilihat Tuhan, merasa apa yang dirasa Tuhan ya, memikirkan apa yang dipikirkan Tuhan, masalah paling besar itu adalah dosa di hadapan Tuhan. Ini adalah kesedihan yang terbesar, masalah yang terbesar. Yaitu ketika manusia itu terpisah dari Allah. Ya kita melawan Allah memberontak kepada Allah. Bapa gereja Agustinus katakan bahwa dosa adalah kehilangan kemuliaan Allah dan juga self love. Nah ini berarti apa? Kalau kita hilang kemuliaan Allah, kalau kita mencintai diri kita atau egois, ya Bapak Ibu sekalian, itu berarti apa? Kita jahat. Kita itu mengikuti si jahat. Kita berbuat jahat kalau kita tidak ada kasih kepada Tuhan maupun sesama. Hanya kasih kepada diri saja gitu ya.
Nah ini adalah harapan Tuhan atas hidup kita, yaitu supaya kita jauh dari dosa, jangan melakukan dosa. Alkitab menyatakan bahwa bersahabat dengan dunia yang berdosa itu berarti kita bermusuhan dengan Allah. Dan sebaliknya, ketika kita bermusuhan dengan dosa, itu berarti kita sahabat Allah. Maka, jangan lakukan dosa ini adalah suatu peringatan yang sangat penting bagi orang Kristen. Kita bisa nasihati anak itu jangan lakukan dosa. Wah itu berarti kita mengerti itu dosa. Bukan cuman soal kesalahan atau kelemahan gitu ya sebagai anak, tapi kita ngerti bahwa dia itu sedang melawan Tuhan. Dan kita juga nasihati diri kita bahwa jangan lakukan dosa. Kita tidak ingin melakukan dosa maka kita berdoa “Tuhan lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”
Nah ini membutuhkan apa, Bapak, Ibu sekalian? Membutuhkan anugerah Tuhan untuk membuat kita peka mana yang dosa mana yang bukan dosa. Kalau kita tidak peka bahwa itu dosa ya kita lakukan terus kok. Itu namanya kita buta secara rohani. Tetapi ketika kita berdoa seperti ini, itu berarti kita berdoa juga minta kepekaan bahwa saya itu sudah melawan Tuhan atau tidak? Atau kita malah justru taat kepada Tuhan? Nah itu kita bisa melihat demikian ya. Itu yang pertama. Jadi doa “Tuhan jauhkan saya dari dosa.” Dosa pribadi, dosa yang kita lakukan sendiri, itu kita berdoa demikian. Jangan sampai saya lakukan dosa. Itu tentu dengan pertolongan Roh Kudus ya.
Yang kedua adalah doa untuk menjauhkan dari keduniawian atau dunia yang berdosa ini ya. Nah kita tahu bahwa dosa itu membuat malu manusia ya. Kalau berdosa itu malu, jangan jadi sombong ya. Tetapi ada dosa yang saat ini akhirnya begitu dibanggakan orang, sehingga manusia berdosa pun tidak malu melakukannya, bahkan mempromosikannya. Nah kita lihat ya Bapak, Ibu, Saudara, Adam dan Hawa ketika jatuh ke dalam dosa, mereka merasa malu dengan tubuh mereka yang mereka tahu oh ini telanjang, dan mereka punya pikiran yang kotor, pikiran yang jelek tentang Tuhan maupun tentang ciptaan. Mereka malu ketika akhirnya melihat diri mereka yang begitu berdosa ya. Tapi sekarang malah nggak malu. Saya berdosa nggak papa, melawan orang tua fine, kita hak kebebasan yang setara misalnya. Melawan nasihat guru yang baik, wah kita lawan. Atau yang saya mau ambil contoh adalah LGBT ya Bapak, Ibu sekalian. Dalam Perjanjian Lama dosa ini bahkan sampai dikatakan keji di hadapan Tuhan ketika sesama jenis ya, kemudian saling menyukai sesama jenis tersebut. Begitu jahat di mata Tuhan. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, Bapak, Ibu, sekalian, LGBT ini diterima. Bahkan gereja Tuhan pun tidak lepas dari serangan ini, pendeta pun menikahkan pasangan yang sesama jenis. Bayangin dinikahkan berarti itu kan itu adalah berkat Tuhan. Dosa jadi berkat? Dosa jadi sesuatu yang benar. Dosa itu jadi sesuatu yang dipromosikan. Ini keduniawian. Dunia yang tercemar oleh dosa dan gereja kalau tidak kuat akan tercemar oleh pengaruh dosa ini sendiri.
Ada parade LGBT terbesar itu Bapak, Ibu sekalian ya, yang terbesar itu kumpulin semua orang LGBT itu paling besar di Brazil, Sao Paulo, itu 3 juta orang kumpul. Dan itu rutin dilakukan setahun sekali, sudah kayak natalan aja ya. Setahun sekali mereka kumpul di bulan Juni. Bahkan jutaan ya. Kita Seminar Kebangunan Pemuda aja ngumpulin orang setengah mati ya, ini mereka langsung jutaan. Mungkin mereka bukan cuman 3 jam, ini seharian. Parade. 3 juta berkumpul di Sao Paulo, Brazil. Di New York bisa sampai berkumpul 2,5 juta orang itu besar-besaran ya. Itu yang setahun sekali. Belum lagi yang kecil-kecil, mungkin mereka lebih rajin daripada kita ya. Kita seminggu sekali ke gereja, mereka setiap hari kumpul. Wah. Ini adalah parade LGBT diperingati setiap bulan Juni, itu dikarenakan peristiwa di Stone Wall Riot ya, ada serangkaian kerusuhan di tanggal 28 Juni 1969 di New York di bar gay. Ya. Ada bar gay juga bernama Stone Wall Inn di kawasan Greenwich village. Sehingga ketika ada kerusuhan di bar gay tersebut, sudah lah moment ini dipakai sebagai parade memperingati orang-orang yang LGBT.
Waktu kita berdoa untuk jauh dari dunia yang berdosa, Bapak, Ibu sekalian, kita tentu bisa memandang, “Oh, itu salah – oh, itu benar. Oh, itu dosa – oh, itu tidak dosa.” Nah, sekarang kalau kita anggapannya itu benar, “Ya udah kita ikut aja, ya. Setahun sekali lumayan, ya bisa punya baju pelangi dan lain-lain gitu.” Kita –ada yang punya baju pelangi?– kita, bahkan orang Kristen pun tidak punya baju pelangi yang sebenarnya itu tanda janji Tuhan: Tuhan tidak akan menurunkan air bah. Kita aja nggak pakai tanda pelangi, orang Kristen, itu dari Alkitab, ya. Tapi semua diubah maknanya menjadi, “Ini beragam! Gender itu beragam kok! Boleh. Kita harus saling mengasihi dan menerima orang-orang yang LGBT.” Waktu kita berdoa, “Tuhan jauhkan aku dari dunia yang berdosa”, ya bukan berarti kita akhirnya memusuhi orang-orang LGBT atau dunia yang berdosa tetapi menjauhi sikap dan perbuatan mereka yang berdosa itu sendiri. Kita tetap, sikap kita sebagai orang Kristen sederhana, kok terhadap orang LGBT itu kita merangkul, mengasihi orang LGBT ya: mengabarkan Injil supaya mereka bertobat dan terima firman Tuhan.
Ada, ya pengkhotbah-pengkhotbah Kristen itu ketika ada LGBT sengaja dia datang. Terus kan kalau di barat tinggal pasang speaker, ya, terus langsung khotbah saja. Yohanes 3:16, terus mengasihi gitu, ya. “God love you all” gitu, ya. Ketika dikasih tahu, dia benci. Orang-orang LGBT itu benci, ngomong kasar. Padahal kan Injil kan. Karena apa? Karena bagi orang LGBT orang Kristen itu memusuhi orang LGBT, ingin mempertobatkan mereka dan menghakimi mereka. Maka ketika ada pengkhotbah khotbah gitu tuh mereka sebel sekali ya, membenci para pengkhotbah terus menghina seperti itu, ya. Tapi, ya pengkhotbah itu harus sabar, ya. Kalau dia emosi juga jadi pertengkaran lagi, ya. Dia sabar tetap beritakan Firman eggak peduli lah pokoknya beritakan Firman di parade tersebut gitu, ya meskipun dia tidak mengikuti parade tersebut. Itu dunia yang berdosa, bisa mempromosikan dosa.
Bukan saja itu Bapak, Ibu sekalian ya, kita tahu lah, ya dunia ini sedang perang. Perang Rusia Ukraina sejak tahun 2022. Kalau kerugiannya saja, ya akibat perang itu bisa dihitung itu bisa 500 miliar US Dolar ya. Itu kerugian akibat perang. Orang lebih suka perang daripada menggunakan uang itu untuk kesejahteraan rakyatnya sendiri. “Bapak, Ibu, perang! Ayo, danai! senjata dan lain-lain” Rusia 600.000 korban mati dan luka, ini Rusia, ya. Ukraina 100.000 mati dan luka. Kurang lebih, ya hitungannya demikian.
Bapak, Ibu sekalian kalau kita ada orang marah, ya, tiba-tiba marah, ini ambil contoh, ya. Marah mukanya sampai merah, bertengkar, teriak, kan malu kan, ya. Maksudnya kita anggap, “ini apa sih?” Memang emosi marah itu kan emosi yang jarang ya. Tetapi ketika ada kemarahan terjadi itu, kita semua menjadi fokus ke situ; marah. Orang marah teriak itu membuat orang itu sebenarnya malu, apalagi di depan umum. Nah, sekarang diberitakan di seluruh dunia, “Ini sedang perang nih negara Rusia dan Ukraina”. Mereka nggak rasa malu! Bunuh orang tuh nggak rasa malu. Ya, membuat buat orang mengungsi menderita itu tidak rasa malu. Para siswa kalau tawuran saja, ya ditangkap polisi. Ditangkap supaya tidak perang kan? Dan itu juga malu orang tuanya. “anak-anak saya ikut tawuran” bayangkan, ya, malu sekali kan? Ini sekarang perang antarnegara, pemimpin berperang itu tidak malu. Konflik Israel–Hamas juga sejak Oktober 2023 itu juga banyak kematian dan lain-lain, ya. Dan sekarang pun Israel melakukan serangan terhadap target yang terkait dengan Iran, ya. Karena Iran itu dikenal mendukung kelompok Hamas dan lain-lain akhirnya perang juga, ya.
Nah, Bapak, Ibu sekalian waktu kita berdoa, “Tuhan, lepaskanlah kami daripada yang jahat” berarti kita doakan juga dunia yang sedang melakukan dosa, ya. Kita doakan orang-orang yang belum mengenal Kristus, ya di pedalaman – itu juga sebenarnya “lepaskanlah mereka dari si jahat”– mereka belum kenal Kristus. Kita doakan peperangan supaya berhenti, supaya damai. Kita doakan supaya parade-parade yang salah itu jangan sampai terus ada dan dianggap baik. Nah, itu juga suatu hal yang kita doakan di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen.
Lalu yang ketiga, selain jauh dari dosa, selain jauh dari keduniawian, yang ketiga adalah jauh dari orang-orang yang betul-betul berdosa di hadapan Tuhan. Nah, ini maksudnya apa? Maksudnya adalah orang-orang yang betul-betul tidak mau bertobat, betul-betul terjebak dalam dosa. Dan dikatakan ya oleh Octavius Winslow itu mengatakan “Ini adalah agennya setan”. Agennya setan, marketing kerajaannya setan, ya. Contoh-contohnya apa? Bisnis yang tadinya baik kan? Kesibukan dalam pekerjaan untuk memuliakan Tuhan: itu bisnis, ya seharusnya definisinya demikian. Kita berbisnis tapi bisnisnya bisnis apa? Bisnis narkoba. Terus kita baik-baik sama mereka? Nggak bisa! Harus langsung polisi aja, ya untuk menegakkan keadilan. Bisnis prostitusi: perempuan-perempuan muda, diculik bahkan, ya terus dijadikan orang yang melacur. Klub malam juga yang betul-betul, wah, berdosa gitu, ya. Penculikan dan penjualan manusia, itu adalah suatu bisnis-bisnis manusia berdosa: melakukan kejahatan. Perbudakan, kalau zaman dulu ya, beberapa ratus tahun yang lalu, perbudakan orang; orang jadi property. Itu juga orang yang jahat ya, melakukan bisnis perbudakan. Ini juga adalah perbuatan yang merusak banyak orang dan juga masyarakat. Itu kita hindari. Masa kita dukung sih, para pebisnis narkoba? Kita dukung prostitusi? Nggak kan? Kita justru ingin membersihkan. Makanya ada seminar kebangunan pemuda ya, memerangi kecanduan, salah satu bentuk kita nggak setuju terhadap komunitas yang jelas-jelas dengan kesadaran penuh, dengan talenta yang Tuhan berikan untuk lakukan dosa. Mencari uang dengan perbuatan dosa.
Di sini kita bisa melihat Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bahwa kejahatan itu begitu mengerikan. Yang jahat itu, si iblis dan pengikut-pengikutnya, terus bekerja di antara kita semua, di dunia yang berdosa ini, mengembangkan kerajaan kejahatan. Bukan saja itu, kita sebagai manusia berdosa pun, orang yang berdosa, sebenarnya adalah pengikut iblis. Di mana kah pengharapan manusia kalau akhirnya iblis bekerja, kerajaan setan bekerja, kemudian manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, semua manusia jatuh dalam dosa, pada akhirnya bisa juga menjadi orang yang betul-betul berdosa dan melakukan kejahatan dan mempengaruhi orang-orang lain untuk melakukan kejahatan. Apakah manusia mampu melawan si jahat? Di pertandingan pertama sudah kalah kok. Adam dan Hawa melawan ular itu sudah kalah! Apakah manusia memiliki kebaikan dalam dirinya sehingga bisa melawan kejahatan dan dosa? Jawabannya kita harus lihat Alkitab bahwa kita itu tidak bisa. Tidak bisa dengan usaha kekuatan kita sendiri untuk melawan kejahatan. Dosa ini harus dikalahkan oleh Tuhan dan kuasa-Nya.
Akan tetapi, bahkan orang Kristen sekalipun ya, sering kali melupakan untuk bergantung dan berharap kepada Tuhan. Orang Kristen akhirnya mencoba atau berusaha melawan dosa dan kejahatan itu dengan apa? Dengan usahanya sendiri, bukan dengan pertolongan Tuhan semata ataupun kuasa Tuhan. Ambil contoh, Bapak, Ibu sekalian ya, misalkan asketisme. Asketisme adalah usaha manusia untuk menjauhi kejahatan dan dosa, betul, melatih tubuh. Tapi dengan usaha dan cara yang salah. Yaitu dengan melatih apa? Isolasi kenyamanan fisik. Misalkan ambil contoh Amish people, orang-orang Amish itu mengatakan bahwa “kami ini orang yang eksklusif, menjauhi dunia luar, teknologi dan eksklusivitas secara negatif.” Mereka menolak listrik, mereka menolak teknologi, mereka bahkan menolak perangkat digital. Karena bagi mereka itu meningkatkan individualisme dan menjadikan manusia penyembah berhala. Jadi mereka tolak itu; nggak ada listrik, kalau sudah waktunya malam tidur, jangan begadang. Kurang lebih begitu ya. Kalau kita ada listrik jadi begadang kan? Nggak sehat juga. Ada poin nya, tetapi pada akhirnya tidak menggunakan segala creation, segala kreativitas manusia untuk memuliakan Tuhan juga.
Lalu bagi orang Amish juga mengatakan, “Sudah nggak usah sekolah tinggi-tinggi. Nggak usah S1, S2, S3, cukup SMA saja.” Karena apa? Karena nanti kamu jadi sombong, punya ambisi kesombongan.” Tidak boleh pakai pakaian yang mewah-mewah, barang yang mewah-mewah nggak boleh dipakai. Semua harus yang murah, sederhana. Supaya akhirnya tidak jadi sombong. Bahkan mereka isolasi terhadap dunia luar, sekalipun yang dari dunia luar itu baik. Nah ini kan salah ya. Asketisme adalah perbuatan yang OK, mau hidup baik, menjauhi dosa tapi dengan cara yang salah juga.
Bukan saja itu, orang-orang Farisi pun demikian ya, legalisme. Dia ketaatan ketat terhadap hukum sebagai dasar utama untuk mencapai keselamatan dan kekudusan. Maka kalau bisa taat hukum, berarti itu mereka sudah lebih baik. Itu dengan motivasi yang salah juga, ketika mereka mentaati hukum demi mencari pujian, demi mencari kebaikan bagi diri dia sendiri, dipuji orang dan yang lain-lain, sehingga dia begitu sombong dan menghakimi bahkan menganggap diri benar dan baik karena bisa taat hukum dan akhirnya menghina yang lain.
Orang-orang itu berusaha menjauhi kejahatan dan dosa, tetapi pada akhirnya dengan cara yang salah semua; legalisme, asketisme, bahkan armenianisme, yang mengatakan bahwa manusia tidak sepenuhnya berdosa, masih ada kebaikan di mana manusia itu bisa memilih yang baik dari Tuhan. Padahal kita sudah mengerti bahwa manusia itu total depravity, jatuh ke dalam dosa, tidak bisa melakukan kebaikan karena kita sudah kehilangan kemuliaan Tuhan. Nah ini adalah usaha-usaha orang. Kalau manusia itu berusaha dengan kekuatan sendiri, pasti nggak bisa melawan dosa. Itu adalah suatu fakta. Dan di sini lah kita bisa melihat bahwa orang Kristen justru harus bergantung kepada Tuhan, kita dipanggil bukan berusaha dengan kekuatan sendiri untuk melepas dari dosa atau yang jahat tetapi kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan Injil Kristus, berpadanan dengan Injil Kristus, hidup yang Alkitabiah. Maka dari itu ketika kita melihat dunia ciptaan Tuhan itu begitu baik dan indah, kita harus bawa seluruh ciptaan Tuhan itu untuk memuliakan Tuhan. Kita bukan menjauh dari dunia tetapi justru kita hidup sesuai dengan kebenaran Alkitab dan juga kita mengasihi Allah segenap hati dan mengasihi sesama kita yang berdosa juga, dengan kekuatan dari Allah.
Maka kita bisa melihat bahwa yang jahat ini sebenarnya hanya bisa dibereskan oleh Allah sendiri. Manusia berdosa sudah tidak ada pengharapan, orang Kristen kalau pola pikir nya adalah seperti manusia berdosa, tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, tidak ada harapan juga, kita akan menjadi orang yang asketisme, legalisme, armenianisme. Maka dari itu kita harus melihat cara Allah membebaskan kita dari yang jahat itu dengan bagaimana? Kuncinya di Allah sendiri, dan cara Allah itu bagaimana? Nah saya mau membagikan ya secara doktrin sistematika Bapak, Ibu, sekalian. Untuk menyelesaikan masalah dosa ini, diselesaikan dengan 2 doktrin sistematika; yaitu bicara soal doktrin keselamatan maupun juga doktrin pengudusan. Orang yang mati rohaninya hanya bisa kemudian melakukan yang baik, yang berkenan di hadapan Tuhan ketika Roh Kudus melahirkembalikan dia, menang atas kuasa dosa, memiliki kuasa kebangkitan Yesus Kristus. Itu sudah jelas, clear. Sederhana, ya. Itu betul-betul kedaulatan Tuhan lah. Orang dipilih Tuhan, kemudian dilahirkembalikan oleh Roh Kudus, bisa percaya Yesus Kristus, beriman, ya.
Tapi, yang kedua adalah pengudusan. Pengudusan adalah tahap selanjutnya dari keselamatan. Kalau keselamatan anugerah Tuhan 100%, pengudusan juga adalah anugerah Tuhan 100%. Pasti, karena itu tahap selanjutnya, kok. Ya, setelah keselamatan, dikuduskan, ya. Tetapi, pengudusan ini adalah hal yang unik juga karena Roh Kudus tidak merasuki manusia, membuat manusia itu menjadi robot yang hanya taat kepada Tuhan, tetapi Roh Kudus begitu besar kuasa-Nya dan pengaruh-Nya yang menuntun kita untuk menaati firman Tuhan. Maka, itu butuh apa? Roh Kudus bekerja mempengaruhi kita, memulihkan kita, dan akhirnya menuntut respons kita supaya kita betul-betul ikut pimpinan Roh Kudus.
Jadi, ada respons kita dalam meresponi anugerah Tuhan dalam pekerjaan Roh Kudus. Kalau Roh Kudus tidak bekerja, kita tidak bisa hidup kudus. Ya, itu kebenaran, ya. Kalau Roh Kudus tidak bekerja memberikan anugerah-Nya 100%, kita mau hidup kudus pun nggak bisa. Maka, kalau setiap ada pekerjaan Roh Kudus bekerja, nah, Roh Kudus itu memberikan kesempatan kepada kita untuk taat firman Tuhan. Nah, itu menuntut respons kita terhadap anugerah dari Roh Kudus.
Nah, beberapa hal yang kita dapat lakukan untuk meresponi anugerah Tuhan yaitu adalah dengan memiliki pemahaman firman Tuhan yang benar tentang hukum Tuhan. Ya, makanya kita belajar teologi, kan, ya. Makanya, teologi bukan hanya dimiliki oleh gereja atau hamba-hamba Tuhan atau pemimpin gereja, tetapi teologi pun harus disebarkan kepada semua orang. Supaya apa? Supaya kita punya pemahaman firman Tuhan dan itu menolong kita untuk hidup kudus di dalam pertolongan Roh Kudus.
Martin Luther menjelaskan hukum Tuhan ya. Itu dengan menjelaskan 2 fungsi. Ini perlu, ya, Bapak, Ibu sekalian, kita perhatikan bahwa waktu kita memandang firman Tuhan yang adalah sebagai hukum Tuhan, 10 perintah Tuhan itu, Martin Luther kemudian membedakan jenisnya di dalam 2 fungsi. Pertama adalah theological use of the law, yaitu hukum Tuhan itu adalah berfungsi sebagai cermin. “Jangan membunuh.” Kita tidak membunuh fisik, tetapi membunuh secara emosi. Kita membenci sesama itu pun membunuh. Perjanjian Baru mengatakan demikian. Waktu kita lihat hukum, oh, kita tahu bahwa fungsi hukum Tuhan ini adalah untuk menunjukkan kita itu berdosa. Saya lemah. Maka dari itu, cari Tuhan, butuh Tuhan, minta pertolongan Tuhan. Ini fungsi yang pertama, sehingga kita bisa lihat bahwa kita harus menjauhi kejahatan itu hanya dari Tuhan saja.
Lalu, yang kedua, civil use of the law. Hukum Tuhan itu dipercayakan kepada pemerintahan supaya pemerintah ini mengekang kejahatan. Adanya hukum Tuhan itu di dalam pemerintahan supaya manusia itu tidak semakin sewenang-wenang dan berdosa di hadapan Tuhan, supaya manusia tidak melonjak, tidak makin kurang ajar, maka ada hukum Tuhan secara pemerintahan. Itu fungsi pertama dan kedua. Sadar saya berdosa, terus kemudian Tuhan memelihara kita dengan pemerintahan supaya kita taat kepada hukum pemerintahan yang baik tentunya, ya.
Dan yang ketiga, Calvin menambahkan 1 fungsi yang lain, yaitu pedagogical. Pedagogical ini adalah moral use of the law. Jadi, bagi orang Kristen yang sudah diselamatkan, maka waktu kita melihat hukum Tuhan atau menjalankan hukum Tuhan itu bagian dari pendidikan rohani kita atau disiplin rohani kita. Nah, waktu kita melihat firman Tuhan dalam 3 fungsi ini, maka kita akan terus memenuhi hidup kita dengan firman Tuhan. Kita akan mencari firman Tuhan karena firman Tuhan itulah yang membuat kita bisa menjauhi yang jahat, membuat hidup kita kudus di hadapan Tuhan dengan anugerah dari Roh Kudus Tuhan juga.
Jadi, hukum Tuhan adalah instruksi bagaimana bisa hidup menyenangkan Tuhan. Itulah kenapa kita pelajari firman Tuhan, kenapa kita fokus merenungkan firman Tuhan karena banyak manfaatnya dan manfaatnya adalah pengabulan dari doa ini, yaitu “Tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat.” Dengan cara apa? Selain karena anugerah Tuhan, kedaulatan Tuhan, kita juga meresponi anugerah Tuhan di dalam fungsi hukum Tuhan ini, firman Tuhan ini. Itu secara sistematika, ya, Bapak, Ibu sekalian. Secara sistematika, kita bisa lepas dari yang jahat itu : satu, doktrin keselamatan. Dua, doktrin pengudusan.
Nah, kalau secara biblika, ada 3 hal yang menyucikan kita dari yang jahat atau dari dosa, ya. Yang pertama adalah firman Tuhan. Alkitab atau Yesus juga menjelaskan bahwa firman Tuhan itu bisa menguduskan kita. “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran. Firman-Mu adalah kebenaran.” Itu adalah firman Tuhan. Yang kedua, Roh Kudus. Roh Kudus menyucikan hidup kita. Yang ketiga adalah darah Kristusatau darah Yesus, membersihkan kita semua dari kejahatan. Nah, kita bisa lihat, ya. Alkitab itu begitu indah, begitu jelas. Dengan ada ajaran seperti ini, kita bisa melihat kunci di mana kita bisa lepas dari yang jahat dan bagaimana juga kita mempengaruhi orang yang lain untuk lepas dari yang jahat. Sadar tidak sadar Bapak, Ibu, Saudara sekalian, waktu kita tekun beribadah kepada Tuhan, ya, tekun untuk mencari Tuhan, mencari firman Tuhan, kita akan semakin lama dibiasakan untuk hidup kudus, menghilangkan yang jahat, pengaruh-pengaruh jahat itu dibersihkan. Dengan apa? Dengan firman Tuhan itu. Maka dari itu kita betul-betul butuh pimpinan Tuhan dan anugerah Tuhan.
Yesus juga berdoa, ya, di dalam Yoh. 17:15, mari kita baca bersama-sama. Yoh. 17:15, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.” Sejahat-jahatnya dunia tidak membuat kita itu harus bunuh diri. Allah saja tidak mengambil kita dari dunia. “Wah, dunia begitu berdosa, saya ingin anak-Ku dekat dengan Aku hidup kudus gitu ya. Tinggal cabut nyawanya, masuk surga,” gitu, kan? Nggak. Tuhan tetap membiarkan kita hidup di dunia yang berdosa ini supaya kita menjadi agennya Tuhan, mengabarkan Injil, memberitakan firman, dan menyatakan kekudusan Tuhan, ya. Justru apa? Yesus berdoa, “lindungi mereka dari yang jahat.” Yesus mengajarkan, kamu berdoa, “lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Dari kuasa Iblis, meskipun kuasa Iblis pun bisa saja menggoda kita, kita ingin menang dari godaan yang jahat. Kita ingin lepas dari pengaruh yang jahat. Itu seperti kita membersihkan oli di tangan kita, ya. Kita nggak suka tangan kita kotor, kita pengen bersihkan. Ya, bersihkan supaya apa? Supaya bisa digunakan dengan baik. Maka dari itu, Bapak, Ibu sekalian, mari kita sungguh-sungguh berdoa akan hal ini.
Dan ada kutipan dari John Bunyan yang mengatakan, “It is better to have a heart without words, than words without a heart.” Ya, ini maksudnya apa? Kita itu berdoa kan sering buka suara. Ya, doa yang sering buka suara itu cuma gereja reformed lah, ya. Semuanya ikut gitu, ya, ikut pemimpinnya. Tetapi, John Bunyan mengingatkan bahwa, “Lebih baik kita punya hati tanpa suara, daripada suara tanpa hati.” Itu berarti apa? Berarti waktu kita berdoa kepada Tuhan itu bukan lip service. Kita betul-betul menggumulkan, “Aku ingin betul-betul lepas dari si jahat. Aku ingin lepas dari kecanduanku. Aku ingin lepas dari pengaruh yang buruk. Aku ingin tidak salah lagi mengambil keputusan.” Betul-betul berdoa, nggak bersuara nggak apa-apa. Tapi hatinya betul-betul mendoakan doa ‘Bapa Kami’ ini. Daripada cuma bersuara, kata-katanya bagus, ya, lancar, begitu indah, nggak ada hati, nggak ada kesungguhan. John Bunyan mengatakan, “It is better to have a heart without words, than words without a heart.”
Hari ini apa sih yang bisa kita lakukan Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Mari kita berdoa lebih sungguh-sungguh lagi. Ya, kita mendoakan doa, “lepaskanlah kami dari pada si jahat.” Kita berdoa agar kuasa Tuhan boleh dinyatakan, dan kita bisa melawan godaan dari si jahat. Kita minta juga kekudusan. Kita tahu bahwa kekudusan itu, hidup yang kudus itu, anugerah Roh Kudus. Maka pertama-tama untuk bisa hidup kudus, harus meminta kepada Roh Kudus. “Tuhan, berikan aku kesempatan untuk dikuduskan oleh Tuhan. Berikan aku kesempatan untuk melayani Tuhan. Sebanyak-banyaknya dosaku di masa lalu, aku tahu bahwa Roh Kudus itu menguduskan aku. Maka aku minta Roh Kudus memberikan anugerah, dan aku siap untuk meresponi anugerah hidup kudus di hadapan Tuhan.”
Maka kesempatan-kesempatan untuk hidup kudus itu, sering kali Tuhan nyatakan lewat gereja-Nya, ya, lewat teman-teman kita, mengajak seminar, mengajak ibadah, itu anugerah. Tapi kalau kita responinya dengan salah, kita tolak, kita nggak akan hidup kudus. Dan Roh Kudus selalu menyatakan banyak anugerah untuk hidup kudus, sering kali kitalah yang tidak mau hidup kudus. Kiranya Tuhan mengampuni kita.
Mari kita sama-sama berdoa. Tuhan Allah Bapa kami yang di surga, kami bersyukur Tuhan boleh memberikan kami kesempatan kembali untuk merenungkan firman Tuhan. Ajar kami Tuhan memiliki hati yang sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan. Kiranya Roh Kudus memberikan pertolongan supaya kami boleh memiliki anugerah Tuhan untuk bisa hidup kudus dan meresponi segala anugerah Tuhan ini dengan tepat. Tolonglah kami yang lemah ini Tuhan, supaya kami bisa betul-betul dilepaskan dari si jahat. Andaipun Tuhan izinkan setiap pencobaan ada di dalam kehidupan kami, itu menolong kami supaya bisa melihat bahwa Tuhan sedang menguji iman kami, dan bagaimana kami juga bisa mengenal siapakah diri kami di hadapan Tuhan. Tolong kami Tuhan untuk bisa mampu berespons secara tepat terhadap orang-orang di sekitar kami, ataupun situasi dan kondisi yang terjadi. Kami mau dikuduskan oleh Tuhan, kami mau betul-betul lepas dari pengaruh yang jahat. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami yang hidup, kami sudah berdoa. Amin. (HS)
