Pengaruh Reformasi pada Gereja
Pdt. Dawis Waiman, M. Div
Tadi saya bicara, ada 4 aspek atau 4 atribut yang dimiliki oleh gereja. Pertama adalah kesatuan, kedua adalah kekudusan, ketiga adalah, masih ingat? Katolik. Dan keempat adalah apostolik. Sebenarnya, ini prinsip dirumuskan oleh siapa? Oleh satu teolog Belanda yang bernama G.C Berkouwer. Ketika dia mempelajari keseluruhan Kitab Suci, dia kemudian menuliskan buku yang ada 25 volume buku. Orang yang sangat besar sekali. Dan di antara volume buku yang ditulis, ada 2 volume yang berbicara mengenai gereja, dan hal itu kemudian dinyatakan di dalam kedua buku ini. Kalau gereja yang sejati atau gereja Tuhan, seharusnya memiliki 4 atribut ini; pertama, kesatuan; kedua, kekudusan; ketiga, katolik; dan keempat adalah apostolik. Nah, apa yang dimaksud dengan gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik? Ini adalah hal yang saya percaya itu akan menolong kita melihat atribut-atribut itu di dalam gereja dan juga di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen.
Hal pertama yang kita akan lihat adalah kesatuan. Pada waktu kita melihat kepada prinsip kesatuan, lalu kita bandingkan dengan adanya gereja di dalam dunia ini, mungkin ada satu hal yang langsung muncul di dalam pemikiran kita, ada satu tanda tanya besar yaitu mungkinkah gereja itu bersatu di dalam dunia ini? Karena di dalam realita sejarah yang kita temukan, gereja itu selalu pecah. Gereja itu ada begitu banyak jumlahnya di dalam dunia ini. Dan bukan satu sinode, tetapi justru ada banyak sekali sinode yang ada di dalam dunia ini.
Kemarin, pada waktu kita membagi undangan gereja sendiri, satu sisi saya cukup kaget karena di DIY ternyata ada 300 gereja. Itu bukan jumlah yang sedikit, jumlah yang cukup banyak. Kemarin, humas bertanya, ”Gimana caranya kita bagi 300 surat ini kepada 300 gereja yang ada?” Tapi mereka sangat bersemangat sekali, dan saya nggak tahu caranya gimana, pokoknya terserah saja gitu. Ada dibagi kepada beberapa kelompok. Tetapi dari 300 gereja itu, apakah mereka berasal dari satu sinode yang sama? Tidak. Ada banyak sekali sinode dari gereja-gereja itu. Dan kalau nggak salah, di Indonesia sendiri ada 300 lebih sinode gereja, ya. Dan bicara mengenai 300 lebih sinode, apakah itu berbicara mengenai kesatuan? Saya percaya, kita yang bergerak di dalam gereja lebih dalam, ketika kita belajar mengenai Firman atau pengakuan iman yang diajarkan di dalam gereja, kita mengerti ada perbedaan-perbedaan yang ada.
Dan sering kali, ketika kita bicara mengenai perkembangan dari gereja, perkembangan dari gereja bukan karena ada orang-orang yang betul-betul menginginkan Injil dikabarkan, ada jiwa yang dimenangkan bagi Tuhan, tapi yang menyedihkan, sering kali adalah pertambahan jumlah gereja itu diakibatkan dari perpecahan yang ada di dalam gereja. Dan kalau ini adalah sesuatu yang menjadi realita yang ada di dalam dunia ini, bagaimana kita berkata kalau gereja itu adalah satu? Memang, di dalam Efesus ada kalimat yang Paulus katakan, ”Kita harus memiliki satu Tuhan, satu iman, satu baptisan.” Tuhan kita satu, betul, sama-sama percaya kepada Kristus. Tetapi di dalam realita yang kita temukan, adalah iman yang dimiliki dalam satu gereja tertentu atau sinode tertentu dengan apa yang dimiliki oleh sinode yang lain, ada perbedaannya di sana. Padahal Yesus atau Paulus berkata di dalam Efesus, ”Ketika kita diberikan rasul, nabi, guru pengajar, dan gembala di dalam dunia ini, tujuannya adalah supaya kita bertumbuh di dalam satu kesatuan, satu pengetahuan yang benar akan Kristus dalam kehidupan kita, menuju kepada satu iman, satu Tuhan, dan satu baptisan itu.”
Dan Yesus Kristus sendiri di dalam Yohanes 17, ketika Dia ada di ruang atas sebelum diri-Nya ditangkap untuk disalibkan, Dia selain menetapkan perjamuan kudus pada waktu itu, Dia juga berdoa di hadapan murid-murid-Nya kepada Bapa. Bapa-Nya di surga, dan salah satu inti dari doa itu adalah Yesus meminta supaya gereja atau anak-anak Tuhan atau orang-orang Kristen itu satu. Satu di dalam Kristus atau satu di dalam Tuhan, satu di dalam Bapa, seperti Bapa satu dengan Kristus, dan Kristus satu dengan Bapa.
Nah, dari aspek-aspek ini, maka kita mungkin bertanya, bukankah Tuhan Yesus berdoa supaya gereja itu satu? Bukankah Paulus berkata, kita perlu bertumbuh di dalam kesatuan? Tetapi realita yang ada di dalam dunia, gereja begitu banyak, gereja sulit sekali satu. Tetapi satu yang dimaksud adalah satu yang bersifat organisatoris. Satu yang berkaitan dengan satu sinode tertentu, seperti yang Katolik miliki mungkin, sehingga banyak sekali dari orang Kristen yang tergoda. Sebenarnya yang dimaksud gereja itu apa ya? Kesatuan itu apa? Apakah itu berarti kita harus bersatu? Berarti secara organisasi, kita tidak boleh terpecah-pecah. Karena kalau kita terpecah secara organisasi, maka itu membuat gereja itu bisa dikatakan tidak bersatu. Tetapi kalau gereja tidak bisa bersatu karena terpecah-pecah, bukankah ini melawan firman Tuhan? Karena itu kita tidak boleh melawan, kita harus satu.
Lalu kesatuan seperti apa yang harus ada di dalam gereja Tuhan? Saya pernah bertemu dulu di Buaran pada waktu saya melayani di Jakarta, di sebelah, kebetulan ada kantornya Gideon. Gideon itu adalah satu organisasi yang membagikan Alkitab secara gratis, seperti itu. Kadang-kadang orangnya suka datang ke kita, ibadah juga. Kebetulan pimpinan Gideon di Jakarta Timur. Tapi kadang-kadang saya juga suka main ke sana. Lalu ketika main, dia juga suka cerita, “Pak, kalau di kami sini, kita suka ada persekutuan doa. Di situ kita bersama-sama memuji Tuhan, lalu kita mendoakan pekerjaan Tuhan, pembagian Alkitab, supaya semua orang lain boleh mendengarkan firman Tuhan. Dan biasanya pada waktu kami mengadakan, maka kami akan membaca Alkitab terlebih dahulu.” Lalu kemudian, “ada yang membagikan firman?” saya bilang. “Nggak, kita nggak membagikan firman. Tetapi kita sharing satu dengan yang lain atau hanya baca firman Tuhan.” Karena apa? Karena mereka terdiri dari orang-orang yang dari berbagai denominasi. Kalau mereka sampai menunjuk seseorang untuk membawakan firman di situ, pasti di dalamnya ada doktrin, kan? Pasti di dalamnya ada pengajaran di situ.
Nah, akibatnya apa? Mungkin ada orang-orang tertentu yang menjadi anggota yang bisa menerima hal itu, ada yang enggak bisa menerima. Akibatnya, bisa terjadi kesatuan? Sulit sekali, ya. Kalau begitu kesatuan yang ada bagaimana? Kesatuan yang ada “harga yang harus dibayar”, yaitu kebenaran firman yang dikompromikan. Kesatuan aktivitas, kesatuan kegiatan yang dilakukan, itu mengakibatkan mereka baru bisa bersatu. Tapi ketika kita bicara mengenai esensi dari iman Kristen, misalnya kemarin di pemuda kita bahas mengenai apa yang mendasari reformasi terjadi, yaitu pertanyaan “Bagaimana seseorang itu bisa diselamatkan? Bagaimana seseorang itu bisa dibenarkan di hadapan Allah?” Kalau berbicara seperti ini aja, nggak usah antara Protestan atau Kristen dengan Katolik, Kristen dengan Kristen sendiri, ada perbedaan di situ. Ada yang mengatakan bahwa keselamatan itu adalah 100% anugerah Allah, itu orang Reformed. Ada yang mengatakan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah 100%, tapi kita nggak perlu taat, kita boleh hidup sesuka kita, kita nggak perlu komit untuk hidup dalam kesucian, karena Tuhan sudah menyelamatkan kita. Kadang-kadang orang mengira ini adalah ajaran Reformed, tapi sebenarnya bukan Reformed. Karena Reformed berkata bahwa karunia keselamatan di dalam Kristus, yang membuat kita dibenarkan, itu akan dinyatakan melalui tindakan ketaatan kita kepada perintah Tuhan.
Lalu ada yang lain berkata, keselamatan itu satu sisi memang anugerah Tuhan, tetapi ketika Tuhan memberikan anugerah-Nya kepada kita, menawarkan anugerah-Nya kepada kita, itu tergantung diri kita mau menerima atau tidak. Kalau kita menolak anugerah itu, maka keselamatan itu tidak menjadi milik kita. Kalau kita menerima anugerah keselamatan di dalam Kristus tawaran Injil itu, maka keselamatan itu menjadi milik kita. Saudara mungkin bisa tambahkan yang lain, tetapi paling tidak dari situ, Saudara sudah tahu, pasti terjadi perdebatan di situ.
Jadi atas dasar apa seseorang diselamatkan? Nah, mungkin nggak kita bisa bersatu di dalam hal ini. Dan sering kali justru hal ini yang mengakibatkan gereja kemudian berpisah dari satu dengan yang lain. Tapi kalau hal ini terjadi, maka pertanyaan kedua adalah, kalau begitu, doa Yesus gagalkah? Bukankah di dalam Yohanes 17, Yesus berkata bahwa, “hendaklah Bapa mengaruniakan adanya kesatuan, yaitu gereja satu. Satu di dalam Tuhan, Tuhan di dalam kita, seperti Bapa yang satu di dalam Kristus”. Ada orang yang berkata, “Ya, realita yang ada di dalam gereja, perpisahan yang ada di dalam gereja, itu menunjukkan bahwa doa Yesus tidak didengar oleh Bapa. Doa Yesus itu gagal.” Tetapi saya tidak setuju dengan prinsip ini. Banyak dari teolog-teolog yang baik, juga nggak setuju dengan prinsip ini karena mereka berkata bagaimana
Tapi kalau hal ini terjadi, maka pertanyaan kedua adalah kalau begitu doa Yesus gagalkah? Bukankah di dalam Yohanes 17 Yesus berkata bahwa Bapa menghendaki kesatuan, yaitu gereja satu. Satu di dalam Tuhan, Tuhan di dalam kita, seperti Bapa yang satu di dalam Kristus. Ada orang berkata, ya realita yang ada di dalam gereja, perpisahan yang ada di dalam gereja, itu menunjukkan bahwa doa Yesus tidak didengar oleh Bapa. Doa Yesus itu gagal. Tetapi saya tidak setuju dengan prinsip ini, banyak dari teolog-teolog yang baik juga nggak setuju dengan prinsip ini karena mereka berkata bagaimana mungkin doa seorang yang suci dan kudus yang selalu melakukan kehendak Bapanya itu tidak didengar dengan Bapa? Yesus selalu berkata, “Aku melakukan apa yang Bapa-Ku inginkan.” Yesus berkata bahwa dari dulu Bapa-Ku mendengarkan yang Aku katakan dan sekarang pun Bapa-Ku selalu mendengarkan Aku. Jadi Bapa selalu mendengarkan Kristus. Kalau Bapa selalu mendengarkan Kristus, bagaimana dengan doa kesatuan di dalam gereja itu? Nah di sini, ada satu pengertian yang penting bahwa kesatuan yang dimaksud itu bukan hanya berbicara mengenai kesatuan organisatoris. Tetapi kesatuan yang dimaksud oleh Yesus di sini adalah kesatuan yang lebih jauh mendalam, yang lebih tinggi daripada kesatuan organisatoris, yaitu kesatuan apa? Di dalam Kristus, dengan Kristus adalah kepala dari gereja Tuhan. Atau istilah lainnya adalah adanya banyak kesatuan mistikal yang terjadi di dalam kehidupan orang percaya dengan Kristus dan ini membuat terjadinya kesatuan di antara orang percaya dengan orang percaya yang lain di dalam Kristus dan Kristus di dalam Bapa.
Saya akan jelaskan ya, maksudnya gimana. Kalau Bapak, Ibu membaca, di dalam Kitab Suci, ketika kita bicara mengenai bagaimana seseorang dibenarkan dan diselamatkan, maka Alkitab sering kali menggunakan satu istilah kita berada di dalam Kristus. Ambil contoh misalnya boleh buka Rm. 6:3, Roma 6:3. Saya baca ayat 1 dan 2, ayat 3 kita baca sama-sama ya, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambahkasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Bersama-sama ayat ketiga, Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptisdalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” Di situ ada kalimat, “Bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus.” Istilah dibaptis di dalam Kristus itu dalam bahasa Yunaninya adalah eis, terjemahan bahasa Indonesia ketika berbicara mengenai di dalam itu ada 2 bahasa kata Yunani yang digunakan, satu adalah eis, satu adalah en. Dan dua ini punya pengertian yang berbeda walaupun diterjemahkan sama-sama di dalam. Eis itu bedanya apa dari en? Eis itu adalah seperti misalnya Saudara sebelumnya ada di luar dari bangunan gereja ini, ketika Saudara melangkah masuk di dalam bangunan gereja ini dan Saudara ada di dalam bangunan gereja ini, karena Saudara melangkah masuk. Itu bicara mengenai eis. Tapi ketika Saudara ada di dalam bangunan gereja ini dan Saudara dikatakan ada di dalam bangunan gereja ini, bahasa Yunaninya adalah en. Ada bedanya di situ ya.
Jadi di sini dikatakan pada waktu seseorang percaya kepada Kristus, maka apa yang dilakukan oleh Allah bagi orang itu? Maka Allah akan membuat orang itu, atau diri kita yang sebenarnya di luar dari tubuh Kristus, atau di luar daripada kerajaan Allah, atau di luar dari Kristus itu masuk, dan ada di dalam Kristus. Itu yang pertama.
Lalu yang kedua adalah ketika ada di dalam Kristus maka ada dua hal yang terjadi di dalam situ. Yaitu kita ada di dalam Kristus yaitu en, dan Kristus berdiam di dalam kita. Jadi ada dua aspek ini yang terjadi di dalam kehidupan orang percaya. Jadi pada waktu saya percaya kepada Kristus, apa yang terjadi? Saya ada di dalam Kristus. Pada waktu Vikaris Marvin percaya kepada Kristus apa yang terjadi, dia ada di dalam Kristus. Pada waktu Tobias percaya kepada Kristus apa yang terjadi? Dia ada di dalam Kristus. Pada waktu kita semua percaya pada Kristus, apa yang terjadi? Kristus menjadi kepala dari Gereja Tuhan dan Kristus berdiam dalam diri kita. Kalau begitu, ada nggak kesatuan antara saya, dengan Vikaris Marvin, dengan Tobias, dengan Bapak, Ibu semua? Ada, yaitu Kristus yang membuat kita ada dalam kesatuan itu.
Nah ini adalah kesatuan yang jauh melampaui dari cuma sekedar kesatuan organisatoris. Karena apa? Pada waktu kita melihat kepada gereja-gereja yang ada di dalam dunia ini, ada perbedaan? Ada. Ada perpecahan? Ada. Tapi mohon tanya, yang pecah itu ada di dalam siapa? Kristus. Yang ditinggalkan ada? Di dalam Kristus. Yang beda denominasi ada? Di dalam Kristus. Ini kesatuan yang dimaksud oleh Yesus, dan saya percaya ini kesatuan yang ditafsirkan secara benar oleh para teolog. Atau Bapa-bapa Gereja yang baik, termasuk G. C. Berkouwer. Dia berkata bahwa, ada kesatuan yang lebih mendalam, yang lebih penting dari kesatuan organisatoris, yaitu kesatuan yang tidak bisa memisahkan kita dari Kristus, Kristus dari kita, walaupun di dalam dunia kita melihat terjadinya perpisahan, dan perpecahan di dalam gereja. Dan bahkan tidak ada orang di dalam dunia pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Itu bicara mengenai kesatuan ini ya.
Yang kedua adalah gereja itu adalah gereja yang kudus. Nah waktu kita bicara mengenai gereja yang kudus ini, mungkin kalau tadi saya intro di awal berkaitan dengan gereja umat Allah yang dipanggil keluar dan kehidupan di dalam dosa, ini adalah hal yang sangat-sangat aneh sekali, kalau kita definisikan gereja adalah gereja yang kudus. Kenapa? Karena di dalam realita definisi gereja, gereja itu adalah terdiri dari orang-orang yang tidak berdosa, tidak bercacat, orang-orang yang benar, atau orang-orang yang berdosa? Makin tua kita saya yakin kita mengamini gereja terdiri dari orang-orang yang berdosa. Karena memang gereja kumpulan dari orang-orang berdosa.
Makanya kalau Bapak, Ibu pikir dalam gereja itu seharusnya tidak boleh ada keributan, tidak boleh ada ketersinggungan, tidak boleh ada gesekan, semuanya harus berlaku baik, penuh dengan hormat, penuh dengan kasih, kita salah mengerti gereja, mungkin. Ya nggak sepenuhnya ya. tapi ada bagian dari pemahaman gereja kita yang salah. Kita pikir semua orang Kristen itu malaikat-malaikat yang tanpa dosa sama sekali padahal kita adalah orang-orang berdosa yang ditebus oleh Kristus, yang Martin Luther berkata dengan istilah simul iustus et –ini yang saya suka– peccator, maksudnya adalah – saya suka salah vikaris, vikator, kayak gitu– peccator. Maksudnya adalah pada waktu kita percaya kepada Kristus, pada saat yang sama kita akan dilihat sebagai orang yang benar di hadapan Allah. Tetapi juga pada saat yang sama kita tetap adalah orang yang berdosa di dalam dunia ini.
Jadi kalau kita bicara gereja: gereja itu kudus, sepertinya gereja itu adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan realita, di mana gereja adalah kumpulan dari orang-orang yang percaya kepada Tuhan tetapi mereka adalah orang-orang yang berdosa yang ada di dalam gereja itu. Lalu apa yang dimaksud dengan kekudusan ini? Nah, bicara tentang kekudusan ini, maka Alkitab ada bicara mengenai dua hal. Tadi di awal kita bicara satu hal berkaitan dengan kekudusan. Tapi ada hal pertama yang mendahului yang kedua tadi, yaitu kekudusan berkaitan dengan sesuatu yang total berbeda dari ciptaan. Misalnya pada waktu kita berbicara mengenai Allah. Mengapa Allah itu disebut sebagai Allah yang Kudus? Salah satu aspek Allah itu disebut Allah yang Kudus karena Dia total berbeda daripada ciptaan-Nya yang lain: Holy other itu, sesuatu yang bukan merupakan ciptaan. Walaupun misalnya ciptaan adalah roh: memiliki roh, Allah adalah Roh tetapi Allah yang adalah Roh itu berbeda dengan roh yang ada pada ciptaan manusia ataupun pada malaikat, karena Dia adalah Allah yang berbeda. Kalau dunia kita terdiri dari hal-hal yang bisa dilihat yang materi, Allah itu tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, tidak bisa dirasakan sama sekali. Itu bicara mengenai hal yang berbeda dari Allah, dari ciptaan ini.
Jadi pada waktu kita berbicara mengenai kekudusan Allah, maka kita bisa mengerti bahwa Allah itu adalah Pribadi yang berbeda dari ciptaan ini. Tetapi selain daripada Pribadi yang berbeda dengan ciptaan ini, Alkitab juga ada menunjukkan dua hal yang lain. Pada waktu Allah berinteraksi dengan ciptaan-Nya maka kekudusan yang berbeda ini bisa dimengerti dari dua aspek: kudus dalam pengertian tempat dan kudus dalam pengertian waktu.
Dalam pengertian waktu terlebih dahulu kita bisa lihat: pada waktu Israel akan dibawa keluar dari perbudakan di Mesir, maka Allah mengutus Musa untuk datang kepada Firaun dan berkata kepada Firaun, “Biarkan umat-Ku pergi dari tempat ini untuk beribadah kepada-Ku”. Lalu Firaun keraskan hati, dia nggak mau izinkan Israel pergi dari Mesir. Lalu akibatnya adalah Tuhan mulai memberikan tulah. Tulah pertama, kedua, ketiga, sampai tulah yang ke-10. Awal mulanya Firaun masih keraskan hati, sepertinya melunak tapi kembali mengeraskan hati sampai akhirnya Tuhan berkata, “Aku akan memberikan tulah ke-10”, yaitu di mana seluruh dari anak sulung Israel akan dimatikan. Lalu Israel harus lakukan apa? Tuhan berkata “Israel harus menahan seekor domba jantan, kurung berapa hari, amati ada cacat atau tidak cacat. Lalu setelah diamati tidak cacat, harus sembelih domba itu. Lalu kemudian ambil darahnya lalu dioleskan di ambang pintu. Dan ketika malam itu tiba, aku akan mengutus malaikat-Ku untuk berjalan melewati setiap pintu rumah orang yang ada di Mesir. Kalau aku melihat ada darah di ambang pintu itu, maka Aku tidak akan masuk ke sana. Tetapi kalau Aku tidak melihat ada darah di situ maka Aku akan masuk dan mencabut nyawa daripada orang-orang itu, anak sulung di sana.”
Malam itu dikatakan ada tangis yang begitu menyedihkan di Mesir dari orang-orang yang tidak mengoles ambang pintu dengan darah. Tetapi Tuhan kemudian memerintahkan kepada Musa juga, selain dari melakukan hal itu, Tuhan berkata seperti ini, “Ini adalah 1 hari yang kau harus catat waktunya. Ini adalah satu peristiwa yang kau harus ingat dan kau harus lakukan terus menerus setiap tahunnya di antara orang-orang Israel. Sehingga ketika anak-anakmu bertanya kenapa kita harus lakukan ini? Makan domba yang dibakar, membuang ragi dari rumah kita?” Engkau harus katakan, ini adalah peristiwa kudus yang Tuhan kerjakan bagi umat-Nya, membawa Israel keluar daripada perbudakan di Mesir.
Jadi pada waktu kita bicara mengenai kekudusan, maka kekudusan itu bicara mengenai ada aspek waktu, ada 1 hari tertentu yang Tuhan tetapkan berkaitan dengan sejarah keselamatan yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan umat-Nya. Tapi ada aspek tempat. Aspek tempat itu seperti apa? Pada waktu Musa melarikan diri dari Mesir, lalu dia hidup sebagai seorang gembala selama 40 tahun dari hidupnya. Dan di akhir dari dia menjelang usia hampir 80 tahun itu, maka dia ketika menggembalakan domba ke satu tempat tertentu, dia melihat ada semak duri yang menyala. Tetapi semak duri itu tidak terbakar. Lalu ketika Musa melihat hal itu, dia tertarik lalu kemudian dia menghampiri semak duri itu. Tapi pada waktu dia mendekat, mendadak ada suara dari dalam semak duri itu berkata, “Musa, tanggalkan kasutmu karena tempat ini adalah tempat yang kudus.” Pertanyaannya adalah apakah tempat itu yang kudus, membuat Musa harus meninggalkan kasutnya? Apakah Yerusalem itu tempat yang kudus? Apakah Mekkah itu adalah tempat yang kudus? Sehingga orang ketika datang harus menanggalkan kasutnya ke sana? Jawabannya adalah bukan! Tempat di mana Musa menginjakkan kaki disebut kudus, sehingga dia harus menanggalkan kasutnya, karena di tempat itu Tuhan Allah hadir. Itu yang membuat tempat itu menjadi kudus.
Nah pada waktu kita berbicara mengenai hal ini, kita bisa melihat dari aspek waktu. Di situ Tuhan menetapkan satu hari untuk dikenang. Perjanjian Baru ada nggak kaitannya ini? Ada, yaitu bicara tentang perjamuan kudus. Pada waktu malam, ketika Yesus akan diserahkan, Dia berkata “Inilah roti. Dipecah-pecahkan Nya setelah Dia mengucap syukur. Dan Dia berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang dipecahkan bagi Engkau.” Lalu dia mengambil cawan dan berkata, “Inilah darah-Ku, inilah anggur yang dimeteraikan oleh darahku sebagai Perjanjian Baru. Lakukan ini selalu. Ajarkan ini selalu kepada anak-anakmu untuk mengenang akan Aku”. Ada bicara aspek ini. Tetapi bicara mengenai tempat itu bicara mengenai apa? Kita bisa katakan kalau di dalam Kitab Suci ada tempat di mana Tuhan hadir untuk menyatakan diri-Nya yang berkaitan dengan sejarah keselamatan maka kita bisa berkata, di dalam Perjanjian Baru, tempat itu adalah gereja. Gereja di mana orang Kristen berkumpul dan beribadah kepada Tuhan. Walaupun kita bisa berkata gereja juga bicara tentang pribadi-pribadi, orang yang dilahirbarukan oleh Roh Kudus dan percaya kepada Kristus. Bukan tempatnya! Tetapi pribadi-pribadi yang disebut Calvin sebagai orang Kristen yang tidak kelihatan. Gereja adalah kumpulan dari orang Kristen yang kelihatan.
Tetapi kalau kita mengerti kekudusan dalam aspek bahwa kudus di dalam tempat, di mana Tuhan hadir menyatakan diri, mungkin kalau kita bicara Musa pada waktu itu harus menanggalkan kasut. Yakub, pada waktu dia tidur, melarikan diri dari Esau, dia sadar ada tangga yang menghubungkan tempat dia tidur itu dengan surga. Dan begitu dia sadar, dia begitu gentar sekali dan dia sadar bahwa semula dia tidak tahu. Tetapi dia sekarang tahu, ini adalah pintu kepada surga. Lalu ketika dia bangun, dia bangun tugu di situ lalu mengurapi tugu situ dan berkata mengubah tempat itu dengan nama Bethel karena di situ Tuhan hadir di situ.
Saudara bisa melihat di dalam kerajaan zaman Salomo ketika membangun bait Allah di situ, Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya. Ada tempat-tempat seperti ini, begitu juga dengan Perjanjian Baru. Gereja menjadi tempat itu. Ketika orang Kristen berkumpul, seharusnya kehadiran orang Kristen, ibadah dari orang Kristen itu menyatakan Tuhan, kemuliaan Tuhan, kehadiran Tuhan, kekudusan Tuhan. Nah ini yang membuat bagaimana kita melihat gereja, ini yang sangat disayangkan sekali. Gereja sekarang berpikir, demi untuk menjangkau orang yang banyak, maka gereja harus menjadi? Menjadi apa? Menarik. Dengan cara? Menjadi seperti dunia.
Begitu Bapak, Ibu masuk ke dalam gereja, Bapak, Ibu nggak bisa bedakan ini dunia atau ini gereja. Tapi kalau Bapak, Ibu mengerti bahwa kekudusan itu dilihat dari aspek tempat, dilihat dari aspek waktu. Waktu bicara mengenai hari Minggu. Orang Kristen harus datang dan berbakti kepada Tuhan karena Tuhan menetapkan hari itu adalah hari di mana semua orang Kristen harus beribadah dan menyatakan Tuhan dalam hidup dia melalui kumpulan dari semua orang Kristen yang beribadah, tetapi juga tempat di mana kita datang. Berarti, pada waktu Bapak, Ibu datang, masuk ke dalam gereja ini, Bapak, Ibu harus mengerti ada batasan. Di luar sana, itu duniawi. Ketika saya melangkah masuk ke dalam gereja ini sakral. Di luar dunia sana itu adalah hal-hal yang umum dilakukan oleh manusia, yang biasa dilakukan oleh semua manusia, mungkin bahkan kita pun sebagai orang Kristen melakukan hal-hal seperti itu, misalnya seperti itu, tetapi begitu kita masuk ke dalam gereja, kita tahu apa yang kita lakukan dalam gereja harus berbeda dari dunia. Dan kalau dunia hidup di dalam dosa atau hidup di dalam kesucian, ketika Bapak, Ibu masuk dalam gereja, Bapak, Ibu harus menyatakan apa? Kekudusan. Bukan justru gereja tidak ada pembedaan dari dunia. Itu hanya menyatakan kita ndak mengerti gereja itu kudus dan Allah itu kudus.
Tapi, ada aspek kedua yaitu aspek yang berkaitan dengan pribadi kita. Gereja berbicara mengenai 1 kehidupan yang dilepaskan dari dosa. Supaya apa? Supaya kita dikuduskan di dalam Kristus melalui Roh Kudus yang diberikan kepada diri kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Allah kita kan disebut Allah Tritunggal, ya. Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Waktu kita berbicara mengenai ketiga Pribadi dari Allah ini, kita tahu bahwa ketiga-tiganya adalah Roh. Kita juga tahu, ketiga Pribadi walaupun berbeda dari satu dengan yang lain, Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, Roh Kudus bukan Bapa, tetapi mereka adalah Allah yang setara. Dan ketika kita bicara kesetaraan mereka, mereka juga mendapatkan 1 pengertian bahwa Bapa adalah Roh yang kudus, Anak adalah Roh yang kudus, Roh Kudus juga adalah Roh yang kudus. Tapi kenapa yang disebut Pribadi ke-tiga itu adalah Allah Roh Kudus? Karena ini berkaitan dengan karya dari Allah pribadi ke-tiga untuk menguduskan kehidupan dari orang yang percaya kepada Kristus. Alkitab berkata, pada waktu kita percaya kepada Tuhan, maka pada waktu itu Roh Kudus diberikan dan tinggal di dalam diri kita sehingga tubuh kita disebut dengan bait Allah yang kudus. Kita adalah bait Allah yang kudus. Maksudnya apa? Kalau Roh Kudus ada di dalam diri kita, ada 1 aspek yang harus dinyatakan dari orang Kristen: Hidupnya adalah hidup yang kudus; Hidup yang meninggalkan dosa; Hidup yang bertobat dari hal-hal yang mendukakan Tuhan. Itu bicara mengenai kekudusan.
Yang ketiga adalahKatolik. Katolik ini berkaitan dengan apa? Kalau kita hanya bicara tentang istilah, maka mungkin kita akan berbicara, “Oh, gereja yang benar itu berarti gereja Katolik!” kaya gitu. Bicara tentang nama, ya. Kemarin, di dalam seminar pemuda, ada kalimat kaya gini. Ada pertanyaan. Ini pribadi, ya. “Pak, saya sebenarnya pengen tanya. Kenapa, ya, gereja ini dinamakan Gereja Reformed?” Pertanyaan menarik, ya. Kita kadang pikir, nama itu cuma sekedar nama, mungkin, tetapi Pak Tong ketika menamai gereja ini Reformed, ada tujuan. Tujuannya itu apa? Tujuannya adalah untuk menyatakan bahwa pengajaran gereja ini berpegang kepada pengajaran reformed. Itu tujuannya. Jadi, kalau gereja ini tujuannya adalah untuk menyatakan pengajaran reformed, itu membuat setiap orang yang mau datang ke dalam gereja ini dan setiap hamba Tuhan yang menyampaikan firman dari gereja ini harus berpegang dengan teologi reformed. Itu tujuannya. Jadi, itu sebabnya gereja ini disebut dengan nama Gereja Reformed
Tetapi kalau kita bicara gereja itu adalah katolik, kalau kita mengerti dari aspek ini, mungkin kita akan berkata bahwa, “Lho, berarti gereja yang sejati itu adalah Katolik, ya? Makanya, orang-orang harus datang ke gereja Katolik dan bersatu kembali dengan gereja Katolik,” seperti itu. Jawabnya, tidak! Katolik di sini berarti am atau universal. Katolik di sini bukan berbicara mengenai gereja Katolik yang sekarang ini ada. Gereja Katolik yang sekarang ini ada, kita bisa mengerti sebagai salah satu denominasi daripada gereja yang am di dalam dunia ini atau gereja yang katolik di dalam dunia ini. Jadi Roma Katolik—kalau kita bicara tentang gereja—Roma Katolik adalah gereja yang katolik. Gereja GRII adalah gereja yang katolik. Gereja GKI, GKJ, dan yang lain-lain, karismatik, itu adalah gereja yang katolik. Kita adalah gereja yang am. Selain dari kudus, kita adalah gereja yang universal. Maksudnya adalah, di seluruh dunia harus ada gereja. Di seluruh dunia, apa pun yang menjadi bangsanya, bahasanya, sukunya adalah umat dari Tuhan atau gereja dari Tuhan.
Nah, ada bedanya nggak dengan katolik di dalam hal ini? Ada satu lagi bedanya. Katolik berkata seperti ini, “Ketika di tempat itu ada bisyop atau pastor, di situ ada gereja.” Tapi orang reformed mengajarkan, di mana ada Roh Kudus di situ ada gereja. Itu beda. Makanya kalau Bapak, Ibu baca di dalam Kisah Para Rasul, di dalam Kisah Rasul itu ada terjadi pentakosta beberapa kali kan? Kisah Rasul pasal 2 itu pentakosta, Kisah Rasul pasal 8 itu pentakosta. Lalu Kisah Rasul pasal berapa? 10. Kisah Rasul pasal 19. Di situ ada terjadi pengulangan seperti yang terjadi pada Yerusalem. Satu di Yerusalem, satu di Samaria, satu di Yudea, satu di ujung bumi atau di Ephesus.
Nah, mengapa terjadi pengulangan seperti itu? Apakah pengulangan ini menunjukkan kalau pentakosta adalah sesuatu peristiwa yang perlu diulangi terus sampai hari ini? Jawabnya nggak. Gereja yang menerapkan doa meminta Roh Kudus hadir kembali, dia nggak ngerti prinsip pentakosta dan tidak mengerti tujuan Kisah Rasul ditulis. Tujuan Kisah Rasul ditulis untuk menyatakan atau esensi ada di dalam Kisah Rasul 1:8. Injil harus diberitakan mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi dan Kisah Rasul menceritakan bagaimana Injil diberitakan mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi yang ditandai dengan Roma. Tetapi—sebelum hal itu—ketika Injil itu diberitakan, Alkitab mencatat di Yerusalem Roh Kudus diturunkan, di Samaria Roh Kudus diturunkan, di Yudea Roh Kudus diturunkan, dan di ujung bumi Roh Kudus diturunkan. Artinya apa? Roh Kudus sudah diberikan di seluruh dunia ini. Kalau Roh Kudus sudah diberikan di seluruh dunia ini, wajar, kan, ada gereja.
Itu makna dari pentakosta, Tuhan bekerja sampai ke ujung bumi, dan Tuhan sudah bekerja saat ini. Kita nggak perlu minta Roh Kudus diberikan lagi dalam pengertian pentakosta. Tapi kita boleh meminta Roh Kudus diberikan supaya terjadi kelahiran baru, terjadi pertobatan, dan terjadi satu karunia iman yang menyelamatkan di dalam hidup dari orang-orang yang mendengarkan Injil Tuhan. Jadi, Katolik berbicara universalitas dari gereja. Gereja harus ada di mana-mana, dan seluruh orang yang percaya kepada Kristus dan ada di dalam Kristus, dia adalah gereja Tuhan.
Terakhir, apostolik atau kerasulan. Kerasulan ini berkaitan dengan apa? Kalau kita lihat di dalam denominasi gereja, ada beberapa pengertian yang muncul. Pertama adalah seperti yang Katolik mengerti, di mana Paus adalah vikarnya Kristus, wakil Kristus. Dengan cara meneruskan kerasulan dari Petrus di dalam dunia ini. Sehingga ketika seorang Paus mengeluarkan satu dekret atau satu perkataan keputusan tertentu, itu bisa dikatakan sebagai suara Tuhan yang berbicara. Jadi, pada waktu kita bicara kerasulan, satu sisi Katolik berbicara mengenai kerasulan itu berkaitan dengan vikarnya Kristus atau wakilnya Kristus di dalam dunia ini. Tetapi ada yang lain berkata kerasulan itu berbicara mengenai satu otoritas rasuli. Satu otoritas rasuli yang bisa ditarik ketika seseorang ditahbiskan jadi hamba Tuhan, dia memiliki otoritas rasul di dalam hidup dia, sampai kepada rasul Petrus. Tapi ada yang ketiga adalah berkaitan dengan satu kuasa yang ada pada rasul. Jadi, apostolik itu berbicara mengenai apa? Bicara mengenai pribadi-pribadi orang yang dikatakan sebagai rasul, yang bisa melakukan mujizat, tanda, seperti yang dilakukan oleh rasul-rasul di dalam perjanjian baru.
Nah, Alkitab mengajarkan seperti itu tidak? Saya percaya tidak, karena Alkitab berkata rasul punya ciri. Cirinya adalah seorang rasul adalah satu pribadi yang harus ditunjuk oleh Tuhan sendiri. Dipanggil oleh Tuhan sendiri untuk menjalankan tugas tertentu yang Tuhan berikan kepada diri dia. Misalnya kalau Bapak, Ibu baca di dalam Kisah Rasul pasal 1, ketika Yudas Iskariot mati, maka di situ Petrus berkata kepada rekan-rekannya lain, Yudas Iskarot memang harus mati. Perjanjian Lama sudah berkata dia akan menjual Yesus dan dia akan mati. Tetapi Alkitab Perjanjian Lama juga ada bicara kalau kita harus menunjuk penggantinya, biarlah posisinya digantikan oleh orang lain. Lalu bagaimana caranya mereka menggantikan posisi orang itu? Pertama, orang itu harus menjadi saksi mata dari Kristus, mulai baptisan Yohanes sampai Yesus naik ke surga. Dia harus melihat itu semua.
Yang kedua apa? Saya langsung aja ya. Dia harus ditunjuk langsung oleh Yesus Kristus. Makanya para Rasul lakukan buang undi. Ketika ada dua nama yang muncul, mereka buang undi supaya Tuhan yang menentukan siapa yang menjadi rasul pengganti Yudas Iskariot. Dan pada waktu Paulus menjadi rasul, dia layak nggak untuk disebut rasul? Mungkin salah satu sebab kenapagereja Tuhan itu kemudian mempertanyakan Paulus karena Paulus tidak hadir ketika Yesus hidup di dalam dunia ini. Dia tidak seperti orang mulai dari Yohanes pembaptis sampai Yesus bangkit dari kematian. Tetapi kenapa dia disebut sebagai rasul Tuhan? Karena ketika dia jalan ke Damaskus, Tuhan memanggil Paulus secara pribadi dan mengutus Paulus secara pribadi.
Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hal ini beda dengan orang-orang di saat ini yang berkata “saya Rasul Kristus”. Bedanya di mana? Nggak ada yang nunjuk, walaupun dia mengaku dia ditunjuk sendiri. Tapi ada aspek yang lain, Paulus ketika ditunjuk rasul oleh Kristus dia berkata “Aku tidak minta persetujuan manusia.” Bapak, Ibu bisa baca di surat Galatia, sama sekali tidak minta persetujuan manusia. Dan, “Berita yang aku terima itu adalah Injil yang sejati karena aku dapatkan dari Kristus secara langsung.” Tetapi semua yang dia ajarkan dikonfirmasi oleh rasul yang lain sebagai kebenaran.
Bapak, Ibu bisa lihat di dalam surat Petrus. Petrus bilang “Apa yang ditulis oleh saudara kita Paulus memang susah, nggak gampang. Tetapi ada orang-orang yang kemudian menyimpangkan pengajaran Paulus sehingga mengakibatkan diri mereka disesatkan dan menyesatkan orang lain.” Jadi, petrus mengakui pengajaran Paulus itu benar dan bersumber dari Tuhan. Rasul-rasul yang lain juga mengkonfirmasi hal itu melalui apa yang mereka tulis. Jadi ketika seseorang dipanggil menjadi rasul, rasul itu adalah otoritas dari Kristus. Rasul itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh Kristus sendiri dan diberi otoritas untuk mewakili Kristus untuk menyatakan kebenaran-Nya. Tetapi setelah semua rasul mati, masih ada rasul tidak? Nggak ada. Siapa yang bisa menyaksikan Kristus? Siapa yang bisa mengkonfirmasi pengajaran dia adalah pengajaran yang berasal dari Kristus? Makanya Alkitab kemudian berkata seperti ini “Pada waktu rasul semua sudah mati, Paulus berkata di dalam 1 Korintus bahwa kita harus membangun gereja itu di atas fondasi Yesus Kristus.” Satu sisi dalam lagu ini yang kita baca gereja adalah, apa ini, di atas satu alas itu ada benarnya, kalau Yesus adalah dasar itu.
Bapak, Ibu mau baca? 1 Kor. 3:11. Saya baca ayat 10, lalu ayat 11 kita baca bersama-sama. 1 Kor. 3:10, “Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.” Ayat 11 bersama-sama “Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” Jadi Paulus bicara, dasar yang utama itu siapa? Kristus. Karena itu bangunan harus dibangun di atas Kristus. Nah, dalam hal ini ada metafora kedua, di mana, maafkan kalau saya bilang, lagu “Di atas satu alas” kayaknya kurang tepat. Nah, metafora kedua itu di dalam Ef. 2:20. Ef. 2:20, saya baca ayat 19, ayat 20 kita baca sama-sama ya. Efesus 2:19 “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah yang dibangun di atas dasar para rasul,” bersama-sama, ya “Yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” Jadi dasarnya siapa? Sorry, coba baca lagi. Dasarnya siapa? Para rasul. Kristusnya di mana? Batu penjuru. Dia fondasi bukan? Bagian dari fondasi. Tapi lebih tepat Dia adalah batu penjuru dan para rasul dan para nabi adalah fondasinya.
Maksudnya apa? Maksudnya kalau Bapak, Ibu ingin berbicara mengenai gereja yang rasuli, gereja yang rasuli itu bukan berbicara mengenai mujizat yang dilakukan oleh para rasul, gereja rasuli itu bukan berbicara mengenai vikar Kristus, gereja rasuli bukan berbicara mengenai otoritas kerasulan yang dimiliki seseorang ketika ditahbiskan seperti itu. Tetapi gereja rasuli adalah gereja yang berpegang kepada pengajaran para rasul, itu adalah gereja rasuli. Makanya kalau kita lihat di dalam Kis. 2, ketika gereja mula-mula itu terbentuk, apa yang terjadi di dalam gereja mula-mula? Boleh buka Kis. 2:41-42, kita baca ayat ini sama-sama ya. Kis. 2:41-42, “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Mereka menekuni pengajaran siapa? Para rasul. Kenapa pengajaran para rasul? Kenapa? Karena para rasul menyampaikan apa yang Kristus katakan, ajarkan.
Bapak, Ibu, kalau mau bicara tentang pengajaran Kristus, satu sisi Bapak, Ibu bisa baca Injil, tetapi Injil sendiri ditulis oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai pengajaran Kristus, hidup sebagai orang Kristen yang tunduk di bawah otoritas dari Yesus Kristus, Bapak, Ibu nggak bisa buang Alkitab. Alkitab justru jadi buku yang sangat penting sekali di dalam kehidupan orang Kristen. Tanpa ini Bapak, Ibu nggak mungkin bisa tunduk kepada Kristus. Nah ini membuat reformator mengeluarkan satu statement kaya gini ya, “Gereja tidak menghasilkan Alkitab, tetapi Alkitab yang menghasilkan gereja.” Ulangi saya sama-sama ya, “Gereja tidak menghasilkan Alkitab, tetapi Alkitab yang menghasilkan gereja.” Betul nggak? Bapak, Ibu percaya Yesus kan? Kenapa percaya Yesus? Karena Dia Tuhan dan Juruselamat? Betul nggak? Tahu dari mana? Saya yang ngomong? Saya pun tahunya dari Alkitab. Bapak, Ibu tahu nggak orang Kristen harus hidup secara kudus? Kehidupan kudus bagaimana? Kalau kita buang ini, kira-kira tahu nggak hidup kudus itu seperti apa? Saya yakin kita nggak ada tahunya.
Maka itu kita harus pegang Alkitab yang menghasilkan orang Kristen, bukan gereja yang menghasilkan Alkitab. Ini bertolak belakang dengan Katolik. Kalau Katolik, gereja yang menentukan mana Firman Tuhan, mana yang bukan atau menghasilkan Alkitab. Tapi reformasi adalah gereja mengenali suara Tuhan-nya. Ini bedanya. Jadi, kita mengerti rasuli bicara berkaitan dengan firman Tuhan, perkataan Tuhan yang disampaikan melalui para rasul-Nya, para nabi-Nya. Kita tidak bisa mengesampingkan itu, kalau kita mengesampingkan pengertian ini maka kita tidak mungkin bisa menjadi gereja yang rasuli. Jadi ada empat atribut ini ya, satu, kudus, katolik dan apostolik. Tuhan kiranya memberkati kita ya. Mari kita masuk ke dalam doa.
Kami kembali bersyukur Bapa untuk firman-Mu, untuk kebenaran-Mu, tolong kami ketika kami mengerti firman kami boleh makin dipersatukan dengan Kristus, ada di dalam Kristus dan kudus, serta katolik, serta apostolik. Tolong semua ciri dari gereja ini boleh dinyatakan di dalam gereja ini dan di dalam setiap kehidupan dari anak-anakMu. Kami sungguh bersyukur ya Bapa karena Kristus telah membawa kami hidup di dalam kebenaran dan mengerti kebenaran dan dalam kekudusan dan juga di dalam keselamatan dan hidup kekal karena kasih-Mu dalam kehidupan kami. Biarlah pengertian ini terus boleh mereformasi kami menjadi anak-anak Tuhan yang membawa kemuliaan yang makin besar dalam kehidupan kami akan Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin (HS)
