Luk. 7:36-50
Pdt. Budiman Thia
Baik, hari ini kita akan membahas mengenai doktrin dosa dalam narasi yang ada dalam Injil Lukas. Ada empat dosa yang cenderung kita tahu tapi kita jarang sadari. Kalau kita dalam internet kita cari, ya, ada seven deadly sin, ya, ada tujuh jenis dosa yang mematikan. Maka hari ini kita tentu akan mengambil satu saja. Ada empat dosa yang cenderung kita tidak sadari, ya. Kalau kita pun sudah lakukan, kita jarang sadari. Pertama, egois. Siapa di antara kita yang tidak egois? Rasanya tidak mungkin, ya. Setiap anak yang baru dilahirkan itu juga sudah belajar, bukan sudah belajar, sudah egois. Kenapa? Dia mau ini, “weeek” , ya, dia langsung mau ini, “weeek”, ya. Apalagi nanti tiba umur dua, terrible two, dia tidak bisa menyampaikan isi hatinya, maka semuanya pakai teriak, semuanya pakai tantrum. Egois. Maka mulai mengajar, ya, sharing dong, ya. Maka dia belajar memberi, ya, mungkin dia pelit-pelit kasihnya, ya, pelan-pelan memberi. Sampai akhirnya remaja memberikan hatinya untuk pasangan. Sampai sudah dewasa bisa berbagi hidup berkorban, ya. Maka itu dosa pertama egois. Itu pun bukan berarti sudah selesai jadi suami istri bukan berarti sudah selesai.
Kedua, itu iri hati. Semua orang akan rasa tidak enak ketika lihat orang lain lebih baik dari kita atau orang lain lebih mampu dari kita atau anak kita kurang dibanding dengan anak orang lain. Ada satu perasaan tidak enak di dalam. Mungkin kita tidak secara frontal konfrontasi, belum tentu. Tapi dalam hati ada perasaan tidak enak. Ya, Ibu-ibu kalau tanya, anakmu itu dapat berapa nilainya, ya. Itu berarti apa? Ada sesuatu, ya. Itu yang kedua. Ketiga, kesombongan, ya. Jarang orang mengatakan saya sekarang lagi sombong. Orang sudah sombong tidak akan sadar dia sombong, ya padahal sudah membual. Maka itu yang ketiga.
Keempat yang akan kita bahas hari ini yaitu pembenaran diri. Ya, Pak Agus juga akan bahas mengenai soal kemunafikan. Kenapa Tuhan Yesus selalu, ya, atau kerap kali bicara soal kemunafikan, soal pembenaran diri? Karena ini sangat fatal, ya. Setiap kita ketika dapat satu insiden, kita akan cenderung membenarkan dulu kenapa saya benar dan saya itu tidak salah. Ya, maka saya benar, saya jadi victims. Kemudian bagaimana saya itu harus dibenarkan. Termasuk juga kita salahkan keadaan, salahkan orang lain, salahkan apa pun kecuali salahkan diri sendiri. Nah, hari ini kita juga lihat mengenai urusan ini yang Tuhan Yesus juga akan dongkrak dan membawa kita mengerti. Bukan hanya kasus dalam Alkitab, itu juga membawa kita melihat ke dalam hati kita yang paling dalam. Ya, tentu kita sebagai pengkhotbah bukan kita nuding siapapun karena ini pun adalah berbicara kepada saya, ya. Saya juga sering membenarkan diri, ya. Termasuk teks Alkitab seperti itu perlu kita renungkan. Bukan kita tidak tahu soal pembenaran diri, tetapi kita terus membenarkan diri di hadapan Tuhan.
Nah, kita lihat mengenai teks-teks hari ini. Kita lihat perempuan berdosa dan Simon, ya, orang Farisi yang mengundang Tuhan Yesus makan. Ayat 34 sebelum kita masuk ke dalam teks ini, itu sudah membahas bahwa ada dikatakan, “lihatlah ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” Tentu kita stereotyping orang-orang tertentu kita katakan ini orang tidak baik, ini orang suku tertentu tidak baik, ya, atau suku tertentu tidak baik. Apakah Tuhan Yesus itu selalu berbenturan dengan orang Farisi dengan ahli Taurat karena mereka simply adalah orang Farisi dan ahli Taurat? Tidak, ya. Bukan karena mereka adalah guru besar agama maka langsung dibenci. Bukan. Tapi masalah mereka adalah kembali di depan kita sudah bicarakan adalah urusan pembenaran diri mereka. Mereka merasa sudah dalam kerajaan Allah tapi ternyata mereka tidak di dalam kerajaan Allah.
Dan juga termasuk teks 34 ini digagalkan dengan ayat ke-36. Karena apa? Tuhan Yesus datang ke rumah Simon, orang Farisi. Berarti Tuhan Yesus bukan karena dia orang Farisi langsung mencap dia itu bukan teman. Bukan. Ada tidak Tuhan Yesus berteman dengan orang-orang lingkaran agama orang Yahudi, ada tidak? Coba pikir-pikir lagi. Ada tidak? Siapa? Nikodemus. Bahkan Tuhan Yesus mati, pinjam, ya, pinjam kubur Yusuf dari Arimatea. Itu orang-orang agama. Maka kita tidak bisa membayangkan, “Oh karena dia orang Farisi, ahli-ahli Taurat langsung dicap. Ya, itu adalah musuh kekristenan.” Tidak. Karena musuh kekristenan bukan orangnya, adalah dosa, iblis, kematian. Termasuk ada orang mengatakan, “Saya ini bermusuhan dengan rekan di gereja.” Kalau dia pelayanan ini, saya tidak mau muncul. Karena apa? Dia musuh saya. Jangan seperti itu. Karena apa? Nanti ketemu di surga kita jadi sungkan, ya. Kita dulu di dunia berantem-berantem, ya. Waktu saya lihat kamu jalan lurus, saya langsung belok kanan, ya. Nanti ketemu di surga nggak bisa belok kanan belok kiri. Kenapa? Kita saudara seiman. Yesus mati buat saya, Yesus juga mati buat dia. Maka bukan musuh kita adalah orang-orang sesama, ya, sesama orang-orang percaya, bukan. Kita boleh berbenturan, tetapi kita tidak boleh menganggap dia adalah musuh apalagi anggap dia setan.
Nah, maka di sini kita lihat bagaimana orang Farisi anggap semua yang bukan orang Farisi, yang di luar circle mereka itu adalah orang berdosa. Termasuk kisah hari ini lihat seorang perempuan. Dan kita lihat bahwa Lembaga Alkitab Indonesia tidak ada kata “lihatlah”. Behold, ya. Bahasa asli ada “lihatlah”. Lihat perempuan itu. Kira-kira kalau ada orang compang-camping masuk ke gereja kita dari belakang, dia jalan pelan-pelan, jalan ke depan dan duduk di paling depan. Kira-kira mata kita itu bagaimana? Kita lihat nggak? Atau kita biasa saja? Mungkin kita akan lihat bagaimana dia maju, maju, sampai duduk di depan. Lihat. Tapi yang menjadi masalah bukan lihatnya, lihat apanya. Yesus lihat apanya? Yesus lihat sampai kepada akhir teks ini bicara lihat imannya, Yesus juga lihat perbuatannya. Ketika kita lihat seseorang, kita lihat apanya? Kita cenderung bisa lihat, oh, kelebihannya, kita lihat pelayanannya, kita lihat kerohaniannya. Ada cabang-cabang tertentu, ya, ada orang tertentu itu juga sangat jago humas, ya. Jadi, biasa dia adalah champion humas. Apa pun kita menganggap dia itu adalah humas, ya. Kepikir apa pun bicara humas langsung nama itu muncul. Tapi tentu itu sangat mereduksi, karena apa? Orang itu hanya dikaitkan dengan humas gereja. Padahal dia adalah manusia seutuhnya. Dia adalah ayah, dia adalah suami, dia adalah pengurus, dia juga punya kapasitas yang lain. Tetapi kita mempersempit hanya sebagai orang jago humas. Kita mempersempit dia hanya sebagai orang humas.
Maka termasuk ketika kita lihat orang, kita lihat apanya? Mungkin kita lihat keterampilannya, kita lihat kemampuannya, kita lihat kerohaniannya, kita lihat pencapaiannya. Tapi juga jangan lupa kita tidak jarang melihat keburukannya. Kita lihat juga kelemahannya. Kita juga lihat keberdosaannya. Bahkan lebih mudah kita tangkap sisi-sisi negatifnya daripada sisi-sisi positifnya. Ya, betul tidak? Oh, itu orang nggak beres. Padahal betul tidak orang itu seumur hidup dalam hidupnya itu seluruh tidak beres? Tidak mungkin. Ya, buktinya dia bisa hidup sampai saat ini tentu ada anugerah Tuhan, tentu ada berkat Tuhan, tentu ada hal-hal beres juga yang dia lakukan. Tapi karena kita sudah cap ya, maka tidak ada yang beres seumur hidupnya. Betul tidak dia tidak beres? Ya, kita tidak tahu. Kita lihat perempuan ini akhir dari cerita dia dianggap sebagai orang beres, bukan orang berdosa. Karena imanmu menyelamatkan kamu. Bahkan Tuhan Yesus memuji perempuan yang dianggap berdosa ini dibanding Simon orang Farisi.
Maka termasuk ketika kita keluar dari dunia ini atau kita meninggalkan dunia ini, legasi apa yang kita tinggalkan? Kita meninggalkan apa? Uang banyak ya. Kita meninggalkan kerusakan, kita meninggalkan cemooh. Kita meninggalkan pelayanan. Kita meninggalkan nama yang harum. Kita meninggalkan banyak sisi-sisi positif bagi perkembangan gereja. Atau termasuk juga nama Tuhan ditinggikan dengan nama kita disebut. Ya, atau juga nama Tuhan dipermalukan karena nama kita disebut. Kita ingin dikenal sebagai apa. Tentu kita tidak bisa kontrol orang melihat kita seperti apa, tetapi bagian kita adalah kita melakukan yang semaksimal mungkin, yang seharusnya ya di dalam tangan Tuhan sesuai dengan rencana Tuhan.
Maka di satu sisi kita tidak sembarangan men-stereotyping orang, tidak sembarangan mencap siapapun, tapi juga di sisi lain kita juga harus bekerja dengan baik ya menjaga kehidupan yang saleh sehingga kita juga tidak sembarang dicap oleh orang lain. Ya, supaya perbuatan kita yang baik sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Ya, Tuhan Yesus mengatakan itu ya kepada para murid, kepada orang-orang percaya. Maka bagian kita juga melakukan bagian kita yaitu menjaga baik nama Tuhan, bukan menjaga nama baik kita.
Siapa perempuan ini? Dia dikenal viral. Satu kota kenal dia. Ya, tentu dikenal secara tidak baik. dikenal sebagai perempuan berdosa. Ini boleh ditafsirkan dia terkenal berdosa hingga satu kota kenal dia. Atau juga bisa ditafsirkan dia terkenal melakukan dosa di dalam kota. Nah, apapun itu tafsirannya itu tentu orang banyak tahu dia dan tahunya yang buruk bukan tahu yang baik. Ya, sederhananya perempuan ini waktu masuk dilihat orang sudah tidak mungkin membangun tembok-tembok pembenaran bagi dirinya. Kenapa? Sudah kenal dia. Semua orang kenal dia dan kenalnya yang buruk. Maka tidak ada yang bisa ditutupin lagi. Tidak ada topeng lagi. Tidak bisa membenarkan pun ya membenarkan diri pun ya di hadapan siapapun. Tidak ada kebanggaan. Dia datang sebagaimana dia adanya. Bahkan dia datang tanpa diundang.
Peristiwa Nikodemus. Nikodemus orang baik-baik tidak melakukan dosa di kota, tidak juga melakukan dosa sampai terkenal satu kota tapi datangnya diam-diam. Perempuan ini orang berdosa tapi tidak datang sembunyi-sembunyi. Karena apa? Dia mau melakukan hal yang benar. Nikodemus melakukan hal yang benar tetapi pakai sembunyi-sembunyi. Kadang hal-hal yang benar kita sembunyi-sembunyikan. Ya, benar tidak. Kita tahu bahwa di GRII di dalam sinode kita ada tim aksi kasih. Ya, kalau bencana kita memberikan bantuan ya, memberikan pertolongan kemanusiaan, kita perlu ada logo yang jelas. Ada orang mengatakan, “Jangan, jangan kasih logo yang jelas, nanti yang muslim akan serang kita dan sebagainya.” Salah. Justru perbuatan baik kita harus diketahui. Ya, seperti Paulus mengatakan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Bukan untuk membanggakan diri, tetapi untuk mengkonfirmasi apa yang kita lakukan. Kalau tidak misalkan kita bawa beras ya jauh-jauh ya pergi satu kampung, satu daerah kita sudah drop tiba-tiba ya tiba-tiba ada pemkot ya atau orang-orang lain lah ya yang mau mencari pencitraan, dia tinggal datang taruh sablon saja dia taruh nama dia ya untuk dia bisa ya untuk pilkada berikutnya lah ya. Maka yang terjadi adalah kita sudah menggunakan sumber yang Tuhan berikan secara tidak bertanggung jawab. Kenapa? Kita seakan-akan mendukung dia. Ya padahal tidak salah bahkan tidak perlu takut kalau kita melakukan hal yang baik ya. Siapapun tidak akan menyerang kita. Mungkin iri iya, ya kalaupun dia bisa curi iya mungkin juga ya. Tetapi kita melakukan yang benar tidak perlu takut ya. Tidak perlu takut. Termasuk kita lihat bahwa perempuan itu akan melakukan hal yang baik, dia bukan mau datang berdosa, dia tidak takut.
Termasuk kita penginjilan. Ya, dalam konteks di mana pun kita penginjilan tidak usah takut. Saya kan takut dipukul ya, saya takut dianiaya. Betul ya? Itu yang dianiaya. Paling ya dianiaya. Waktu saya pelayanan ya sebulan sekali paling tidak kan ke Medan ya naik Grab atau naik Gocar ya. Paling tidak ada ketemu orang-orang tidak Kristen. Ya, saya injili belum tentu setiap kali bisa sampai kepada Injil. Tapi ada satu kali yang sangat menarik. Saya waktu naik satu Grab itu dengan masuk saja sudah tahu ya atribut-atribut Islamnya itu sudah penuh ya. Kemudian saya lihat dia dahinya hitam ya. Kemudian ya celananya juga agak gantung ya. Sudah ada peci kecil ya. “Pak ini Bapak ke mana?” “Saya pendeta.” Wah menarik ya. Langsung pendeta ya. Ini mungkin ustaz ya. “Pendeta. Wah, ke berarti khotbah ya, Pak?” “Iya, khotbah.” “Saya ada pertanyaan, Pak.” Wah, luar biasa. Langsung ada pertanyaan dia ya. Maka cerita punya cerita ya. Saya mengatakan, “Ya, Bapak boleh saja fair doakan saya. Saya juga harus fair juga doakan Bapak supaya jadi Kristen. Bapak boleh doakan saya dapat hidayah jadi orang muslim. Fair saja ya. Karena yang bisa mengubah hati itu Tuhan. Betul nggak, Pak?” “Betul.” Ya, saya sampaikan lagi ke Injil, Injil buat dia. Jadi bukan pakai pistol untuk todong, nggak mungkin. Kenapa? Misalkan saya katakan anak muda jatuh cinta, kita pakai pistol todong, dia berubah nggak cintanya? Nggak bisa. Sudah jatuh cinta, ya. Sudah jatuh cinta atau cintanya jatuh, ya. Nggak mungkin dia berubah sekalipun mau ditembak. Itu banyak cerita-cerita novel, bahkan real hal-hal yang nyata. Mungkin Bapak juga pernah jatuh cinta. Nggak berubah karena pistol. Nggak. Sama juga dan bahkan lebih lagi soal iman kita tidak bisa diubah hanya karena diancam. Nggak. Justru banyak orang Kristen yang bisa murtad itu bukan sungguh-sungguh Kristen, saya katakan. Nggak benar-benar cinta Tuhannya saya katakan. Jangan juga, bagus juga Bapak biarkan orang Kristen injili orang muslim supaya nyata juga banyak orang muslim yang bukan sungguh-sungguh muslim. Wah dia dengar terkejut juga ya. Berarti memang nggak sungguh-sungguh dia muslim memang harus dikeluarkan, Pak. Dia betul juga ya. Sampai terakhir kita salaman, ya. Luar biasa.
Karena kita lihat bukan memang bukan saya mampu untuk untuk bisa mempengaruhi dia bukan ya. Saya juga pikir mau ngomong apa dengan orang seperti ini tapi Tuhan yang memberikan jawaban maka jangan takut juga ya. Paling ya cuman didrop aja dia taruh di tengah jalan. Oh saya nggak mau antar lagi. Bapak cari lagi. Ya, paling seperti itu atau paling dipukul saja ya. Kita negara demokrasi paling tidak sampai dibunuh. Kalaupun dibunuh sudah pasti kita ke surga. Maka apalagi yang perlu ditakuti? Ya, tapi saya kan masih ada istri, anak ya. Istri, anak juga dipelihara Tuhan. Maka apa yang membuat kita reserve lagi? Justru keengganan kitalah yang membuat kita terkurung, bukan Tuhan tidak buka jalan. Kita menutup jalan penginjilan itu sendiri.
Sama juga kalau kita lihat stereotyping seperti itu juga dibangun oleh Yesus seperti orang-orang Farisi, mungkin tidak perempuan ini dibenarkan? Tidak mungkin. Dan kita lihat bahwa perempuan ini datang membawa sesuatu yang berharga bagi seorang perempuan. Ya, mungkin seumur hidup dia kumpulkan uang untuk, ada yang katakan itu untuk pernikahan, buli-buli pualam berisi minyak wangi. Di dalam bagian ini tidak dicatat alasannya apa dan tujuannya untuk apa. Di dalam Yohanes berbeda dengan kisah ini. Maria dari Betania itu memecahkan dan Tuhan Yesus mengatakan, “Biarkan dia lakukan ini. Ini untuk mengingat hari penguburan Aku.” Tapi untuk hari ini, untuk kisah ataupun untuk cerita hari ini, itu tidak seperti yang dilakukan Maria ya.
Nah, walaupun Tuhan Yesus tidak perlu minyak wangi ini, Tuhan Yesus tidak mencela perempuan ini. Dia tidak mengatakan, “Saya tidak butuh.” Ya, “Kamu tidak lihat, saya lagi bicara hal-hal penting di hadapan pejabat-pejabat. Ya, kamu anak kecil mundur saja.” Nggak. Dia biarkan. Kita bisa menganggap itu jadi vakum ya. Keadaan seluruh ruangan itu mungkin jadi tegang karena apa? Seorang perempuan masuk, ya semua lihat, tiba-tiba mendekat kepada Tuhan Yesus. Mereka duduk itu sambil terbaring ya, selonjoran kaki ke belakang. Tiba-tiba menangis kemudian membasuh dengan rambutnya, kemudian memecahkan lagi minyak wanginya itu, taruh lagi di kaki. Semua peristiwa itu mungkin lima belas menit ke atas itu semuanya cengang dan melihat ya. Seperti itu, tidak bergerak ya, seperti lampu sorot kepada perempuan itu. Dan kita lihat bahwa seluruh narasi ini tidak dicatat perempuan ini bicara. Perempuan ini diam-diam saja terus lakukan, terus lakukan karena dia mengasihi Kristus, dia beriman kepada Tuhan Yesus. Dia tidak bicara. Dan justru yang bicara adalah Tuhan Yesus dan Simon orang Farisi. Dia tidak bicara ya.
Seperti ketika Tuhan Yesus menjawab dua murid dari Yohanes Pembaptis yang tanya, “Apakah Kamu yang kami nantikan itu? Apakah Kamu yang akan datang itu?” Tuhan Yesus mengatakan, “Kamu tidak percaya saya?” Ya, tidak. Tuhan Yesus mengatakan, “Kamu pulang, pergi. Katakan. Katakan apa? Katakan apa yang kamu lihat.” Bukankah Yohanes mengutus kami karena sudah melihat apa yang kamu lakukan? Masa minta kami pulang untuk menceritakan apa yang kami lihat? Di sini Tuhan Yesus tidak memberi mereka data baru, memberi mereka pemahaman baru supaya mereka kembali untuk menyampaikan apa yang mereka lihat, bukan secara fisik tetapi secara rohani, secara perjanjian keselamatan, secara biblika. Bagaimana Mesias itu akan mengerjakan yang sudah dicatat dalam Alkitab. Maka mereka disuruh kembali menceritakan apa yang mereka lihat. Maka di sini bukan cerita baru, cerita lama, tetapi dengan pemahaman yang baru.
Sama, ayat Alkitab kita baca tidak menjadi baru ya. Tafsiran atau terjemahan bisa baru ya, terjemahan kedua dan sebagainya, karena ada perubahan linguistik, perubahan juga perkembangan bahasa, maka memang penerjemahan bisa baru. Tetapi isinya tetap tidak perlu diubah. Kita tahu bahwa sepanjang sejarah tidak pernah diubah isinya ya. Kecuali ya ada daerah-daerah komunis ya, China itu mau melakukan cynicism, yaitu mengubah sesuai dengan kontur budaya China, yaitu diubah. Tapi lain dari itu tidak perlu ya, tidak usah dan tidak bisa ya. Justru itu adalah pekerjaan si jahat. Firman Tuhan diubah.
Dan setelah itu kita lihat mata yang melihat itu maka banyak respons ya. Dan respons itu tidak keluar tapi di dalam hati. Terus lihat, kalau saya misalnya tadi masuk di tengah-tengah kita kemudian mata melihat, kira-kira orang pikir apa? Ya, saya bisa pikir orang pikir apa. Termasuk juga kita masuk, kita lihat orang lihat kita, kita juga bisa pikir orang pikir apa. Tapi tentu ketika perempuan ini masuk kira-kira pikirannya bagaimana? Ya mungkin agak menepi ya, mungkin agak mencibir, mungkin ada banyak hal ya, tetapi tentu hal-hal negatif ya. Tapi sungguh dia tidak takut bahkan tidak malu membiarkan diri yang rapuh ini masuk tanpa diundang. Datang kepada Guru Besar yang sentral itu. Dia datang karena dia mau melakukan sesuatu yang penting bagi dirinya.
Hal-hal penting, jangan pikir kita melakukan hal penting bagi diri kita adalah kita cari duit banyak, kita besarkan anak, maka itu hal penting. Itu memang penting, tapi bukan hal terpenting. Hal terpenting sering kita lewatkan, misalkan melayani Tuhan, misalnya memberi diri, waktu, tenaga kita untuk pekerjaan Tuhan. Itu hal terbaik. Kita anggap itu nanti bisa, nanti anak lebih besar bisa, nanti anak sudah dewasa bisa, saya agak tua bisa. Ternyata semua itu adalah mitos. Kita sehat tidak melayani, nanti tua sakit-sakitan apakah bisa pelayanan? Belum tentu. Harap sih bisa. Kita anak kecil tidak pelayanan, nanti anak besar tuntutan lebih banyak lagi, apakah bisa juga? Tidak bisa. Maka hal terbaik dia pegang, yaitu apa? Ketemu Yesus, Juruselamatnya. Dia tidak buang kesempatan itu. Dia membasuh kaki Tuhan Yesus dengan air matanya. Dia tersentuh. Ya, dia tersentuh dengan Tuhan. Apakah pernah ada insiden sebelumnya? Mungkin juga ada. Tapi dia datang dengan hormat, kasihnya kepada Tuhannya, menyeka dengan rambutnya.
Saya kira ada komentator yang mengatakan, “Karena waktu itu tidak ada kain ya, maka dia pakai rambut.” Kalaupun tidak ada kain, paling tidak dia bisa pakai jumbai jubahnya untuk membasuh. Maka ini dengan sungguh-sungguh, dengan sengaja pakai rambut untuk menyeka kaki Tuhan Yesus. Kemudian berulang kali mencium kaki itu ya, mencium kaki Tuhan Yesus ya. Kita tahu mulut bukan untuk kaki. Tapi dia lakukan itu karena dia mengasihi Tuhan Yesus. Dia meminyaki kaki Tuhan Yesus ya dengan biaya mahal, dengan uang besar ya. Maka termasuk ada orang berkata, “Saya datang ke gereja itu irit ya.” Kenapa? “Saya bisa dapat dua jam, bisa dengar khotbah bagus ya, kasih persembahan kecil, dapat banyak ilmu, sudah pulang.” Ya, kita datang ke gereja bukan untuk dapat sesuatu, tapi juga memberi sesuatu. Lihat ya, Perjanjian Lama ya. Orang-orang Israel itu datang bukan dengan tangan kosong, apalagi dengan hati kosong. Datang dengan seluruh persiapan untuk beribadah kepada Tuhan. Kita bawa hati kita kepada Tuhan. Maka, termasuk juga Tuhan mengatakan, “Aku jijik dengan korbanmu.” Karena apa? “Mulutmu dekat, hatimu jauh.” Tuhan mau hati kita. Tuhan mau kita bawa seluruhnya, seutuhnya, kepada Tuhan. Jadi, datang ke gereja bukan urusan “saya dapat apa”, tapi “saya beri apa kepada Tuhan”. Maka, termasuk Tuhan juga akan memberikan berkat-Nya yang melimpah kepada umat-Nya.
Dia bawa barang mahal, ya, datang kepada Tuhan Yesus. Dan dia memberi seluruh ini. Dia tidak mengatakan, “Kasihlah 1%, ya. Atau lah 10%, ya. Saya sisa 90%. Tutup erat-erat, ya. Nanti bisa pakai kalau saya nikah.” Tidak. Dia berikan seluruhnya. Seutuhnya. Kenapa? Tuhan mau seluruhnya, seutuhnya. Apakah kalau begitu kita tidak boleh ada saving, kita tidak boleh ada tabungan? Apa pun saya berikan kepada Tuhan, maka berarti saya tidak ada lagi tunjangan hari tua? Bukan itu artinya. Apakah memberi kepada Tuhan berarti seluruh-seluruhnya tidak boleh ada sisa? Ya dan tidak. Kenapa? Bicara mengenai Tuhan yang mampu mengelola hidup kita, kita hidup sampai sekarang itu Tuhan yang berikan, Tuhan yang topang. Kita hidup sampai saat ini, ya. Misalkan dari tadi pagi sampai sekarang kalian dengar khotbah sudah tarik napas, buang napas, berapa kali? Ada yang hitung? Berapa kali? Kalau pun harus ingat, ya, mungkin kita sudah lupa dengar khotbah. Apalagi nyanyi, ya, apalagi kasih persembahan, dan sebagainya, sudah lupa. Karena apa? Kita kalau dipercayakan sistem pernafasan ke kita, kita sudah mati dari sebelumnya. Karena apa? Kita banyak lakukan apa pun tanpa ingat bernapas. Betul nggak? Kalau Tuhan mengatakan, “Saya kasih kamu, ya, kamu yang urus sistem pernafasan.” Belum lagi ada 12 sampai 16 sistem di dalam tubuh kita, ya. Sistem pernafasan, pencernaan, ya, metabolisme, dan sebagainya. Itu Tuhan kasih, “Kamu yang urus saja!” Maka kita tidak bisa apa-apa di dunia ini. Kita terus muter otak, terus urusin itu. Kita tidak bisa melakukan apa pun. Maka sudah sangat tepat ketika semua diberikan kepada Tuhan. Tuhan yang kelola. Di tangan Tuhan yang tepat itu tidak pernah salah.
Maka ketika kita memberi, kita pikir kita rugi. Betul nggak? “Kasih ke Tuhan rugi dong!” Kasih ke Tuhan tidak pernah rugi. Kasih ke Tuhan kalau pakai hitung-hitungan justru untung. Tuhan itu tidak pernah dagang rugi. Tuhan itu yang menciptakan kita. Dia tahu kita! Maka taruh di tangan yang tepat tidak mungkin salah. Tapi kalau taruh di tangan kita, celaka hidup kita. Kenapa? Kita tidak tahu satu langkah berikutnya itu seperti apa. Kita tidak tahu. Tuhan yang memiliki hidup kita, yang mengendalikan hidup kita, itu sudah pas. Maka kita berikan kepada Tuhan, tidak pernah dirugikan oleh Tuhan.
Dan kita lihat kepada ayat 39 muncul reaksi dari orang di sana. Pertama-tama reaksi dari Simon, ya. Dalam hati dia bicara, tapi Lukas bisa catat, ya. Tuhan tahu hatinya. “Jika Ia nabi, tentu Ia tahu bahwa perempuan ini yang menjamah Dia. Ini perempuan nggak benar ini. Masa pegang Dia, Dia nggak tahu?” Berarti di sini dia mempertanyakan status Tuhan Yesus. Bahkan dia sudah ada satu standar: kalau seorang nabi tidak boleh disentuh oleh perempuan seperti itu. Dan sekarang Tuhan Yesus disentuh oleh perempuan seperti ini, berarti Dia bukan..? Bukan..? Maka itu proposisi yang dipaksakan kepada Tuhan Yesus. Karena apa? Dia sudah memaksakan apa yang dia percaya dan yakini itu dibaca kepada Tuhan Yesus. Sama juga ketika kita datang pelayanan atau kita datang beribadah. Kita mungkin ada satu set pikiran, maka: “Harus yang kayak begitu. Harus yang kayak gitu. Orang Kristen itu harus begitu. Penatua itu harus begitu. Pendeta itu harus begitu.” Siapa yang tentukan harus begitu? Kita sendiri kah atau Alkitab yang mengatakan seperti itu? Kalau Alkitab mengatakannya, sah. Tapi kalau kita yang memberikan definisi seperti itu, maka itu sudah salah. Sama, Simon itu sudah menentukan satu set, ya, peraturan yang harus ditaati oleh Tuhan Yesus. Benar, tidak? Salah.
Maka Tuhan Yesus mulai membuka simpul dari hati tuan rumah ini. Dia mulai buka hatinya. Dia tidak langsung marah. Dia mengatakan, “Kamu lihat perempuan ini!” Kamu lihat perempuan ini, dan Dia memberikan perumpamaan. Ayat 41–42 adalah perumpamaan. Dua orang berhutang kepada seorang pelepas uang. Satu utang 500 dinar, satu utang 50 dinar, ya. Beda dengan kisah yang Matius, ya. Matius itu kan 10.000 talenta. Satu talenta 6.000 dinar, berarti 60 juta dinar. Kalau 6.000 talenta. 500 dinar, 50 dinar bukan uang besar, ya. 500 dinar, ya berarti 500 hari kerja. Satu tahun setengah bisa dia lunaskan. 50 dinar berarti 50 hari kerja. Dua bulan pun sudah selesai. Sekalipun bukan uang yang besar, ya, sekalipun bukan uang yang besar, dua-dua tidak sanggup membayar. Nggak bisa bayar ya nggak bisa bayar. Satu dinar pun nggak bisa bayar ya satu dinar nggak bisa bayar. Betul tidak? “Saya utangnya nggak banyak. Utang saya itu cuma Rp200.000,-. Cuma Rp200.000,-! Tapi saya nggak bisa bayar. Nggak bisa bayar ya nggak bisa bayar!
Misalnya kita lihat ada satu janda. Dia susah. Ditinggal suami. Tidak ada anak. Dia tinggal sendirian. Maka dia butuh uang memang nggak banyak, ya. Butuh uang hanya untuk listrik, air sehari-hari, ya. Nggak banyak. Tapi dia nggak sanggup ya nggak sanggup. Walaupun –menurut kita– itu bukan uang besar. Tidak sanggup ya tidak sanggup. Sama juga: 500 dinar tidak sanggup, 50 dinar juga tidak sanggup. Sama-sama tidak sanggup. Tidak sanggup bayar itu realitanya. Tidak peduli seberapa besar, seberapa kecil. Tidak sanggup ya tidak sanggup.
Misalnya kita mengatakan, ya, kita itu seorang dewasa, ya. Makan, mandi, ya pasti bisa. Anak yang di bawah 3 tahun tidak bisa makan, tidak bisa minum, masih harus diurus, ya, harus dimandiin lagi. Tidak sanggup ya tidak sanggup. Kita katakan, “Mandi kan gampang.” Ya, usia tiga, ya tidak sanggup ya tidak sanggup. Karena kemampuannya masih tidak sanggup. Tidak sanggup ya tidak sanggup. Maka, sama juga kita lihat kisah ini. Tuhan Yesus mau menunjukkan ketidaksanggupan dari dua orang yang berutang ini. 500 dinar dan 50 dinar.
Termasuk juga kalau kita bawa ke dalam ilustrasi kita memberikan janji iman. Ada satu keluarga –sebut saja keluarga A– dia satu bulan itu cuma bisa dapat penghasilan 10 juta. 10 juta dan ada keluarga, ada anak-anak. Maka setelah semua dia keluarkan, dia itu cuma sanggup simpan 1 juta, ya. Jadi dia harus mengeluarkan 9 juta. Dia hanya bisa sanggup simpan 1 juta. Dari 1 juta itu dia keluarkan 700.000 untuk janji iman. Maka dia hanya simpan 300.000. Tujuh puluh persen dia beri persembahan. Satu tahun itu baru terkumpul 8 juta. Itu keluarga A. Keluarga B berbeda, pendapatan lebih tinggi, Rp50.000.000 1 bulan. Dia setelah spending semua dia itu bisa nabung Rp35.000.000 1 bulan ya. Semuanya potong Rp15.000.000 dia bisa pakai, Rp35.000.000 dia bisa simpan. Kemudian dari 35 yang bisa dia simpan itu dia keluarkan Rp20.000.000 untuk janji iman, masih tersisa ada Rp15.000.000 bisa dia potong bersih dia simpan berarti sekitar 66% dia itu berikan sebagai janji iman. Maka 1 tahun Rp240.000.000. Satu yang A memberikan 70% dari daripada yang dia bisa simpan yang B memberikan 66% dari yang biasa dia simpan. Secara nominal keseluruhan yang satu Rp8.000.000 satu Rp240.000.000. Yang banyak yang mana? Yang banyak, yang mana? Oh, jadi tidak bisa hitungan ya? Yang 240 juta! Tetapi dalam mata Tuhan yang memberi lebih banyak siapa? Yang memberi Rp700.000 itu. Kenapa? Urusannya bukan berapa banyak dia beri, tapi berapa banyak yang dia simpan bagi dirinya sendiri.
Masih ingat Tuhan Yesus melihat bahwa ada satu perempuan tua yang memberikan dua uang kecil dan Tuhan mengatakan dia memberikan seluruh dari apa yang ada padanya. Seluruh. Berarti apa? Satu hari itu tidak makan. Jadi bukan intermittent fasting 18 jam bukan lagi. Itu 24 jam tidak makan. Karena apa? Dengan memberi persembahan itu dia tidak makan. Maka sama juga ketika kita lihat kita pikir kita memberi banyak, maka sekarang kita dikoreksi. Bukan kita sanggup beri berapa banyak, kita simpan berapa banyak untuk diri kita. Ini yang mau Tuhan Yesus berikan, yang Tuhan Yesus mau cerahkan bagi kita. Setiap orang yang diberi banyak akan dituntut banyak. Maka seharusnya kita tidak menilai diri kita dengan rekan yang lain. Kita nilai diri kita di hadapan Tuhan.
Setelah memberikan perumpamaan ini, Tuhan Yesus tanya kepada Simon, “Siapa di antara mereka yang akan terlebih mengasihi Dia?” Dan Simon menjawab, “Aku kira ya” agak hati-hati dia, “Aku kira, aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Dan Tuhan Yesus menjawab, “Betul.” Tuhan Yesus itu jarang memuji. Betul tidak? Dia terus seperti marah-marah murid-Nya. Di bagian ini dia mengatakan “Betul, betul jawabmu. Yang hutang banyak itu akan lebih bersyukur.” Setelah menceritakan perumpamaan ini, Simon mengakui bahwa yang berhutang banyak itu akan lebih bersukacita, yang akan lebih bersyukur. Dan Dia berpaling kepada perempuan itu, Dia bicara kepada Simon, “Dari depan, dari awal sampai belakang, engkau tidak kasih Aku air untuk membasuh kakiKu. Dia pakai air mata. Engkau tidak kasih Aku minyak wangi. Dia terus memberikan minyak wangi. Dia menyeka dengan rambutnya. Engkau tidak cium Aku. Dia mencium kakiKu tidak henti-hentinya. Engkau tidak meminyaki kepalaKu dengan minyak. Dia meminyaki kakiKu dengan minyak wangi. Dia lebih tahu bersyukur. Bukan karena engkau bisa undang Saya.” Kalau kita dalam artian pesta besar ya, dia sudah habisan ratusan juta, undang banyak orang undang Tuhan Yesus. Tapi Tuhan Yesus justru bukan memuji dia. Tuhan Yesus justru memuji perempuan ini. Sebab itu Tuhan Yesus mengatakan, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni. Sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”
Nah, tentu ini seperti dia berbuat sesuatu maka diampuni, lebih tepat adalah lebih tepat ini diterjemahkan sebagai sebab, dosanya yang banyak itu telah diampuni, oleh sebab itu ia banyak berbuat kasih. Bukan karena dia berbuat dia berbuat kasih maka dia diampuni, bukan. Justru karena dia sudah diampuni, dia tahu bersyukur. Dia tahu menunjukkan kasihnya, dosanya yang banyak.
Ini meninggalkan sebuah pertanyaan bagi kita, dosa banyak. Kalau begitu ada orang Kristen yang dosa banyak, ada orang Kristen dosa sedikit. Betul tidak kalau begitu? Oh, saya dosa lumayanlah, middle-middle lah ya. Ini terlalu banyak ya, John K., ah, itu terlalu banyak ya, John K., ya. Herkules, oh, itu lebih banyak lagi, ya. Seperti itukah dosa banyak, dosa sedikit? Karena di sini dikatakan banyak diampuni, sedikit diampuni. Apakah betul bahwa ada dosa dua jenis seperti itu banyak diampuni dengan yang sedikit diampuni? Ada satu anak ya dia setelah tamat apa selesai anak SD, ya, selesai ujian dia tanya ke temannya, “Kamu dapat berapa?” “20?” “Kamu, kamu?” “30.” Terus dua temannya kan ditertawain nggak enak dong ya. “Terus kamu berapa?” “50.” Ketawa dia. Dua-duanya ketawain dia. “50 bangga? Kita bottom line-nya itu 60, kamu juga nggak lewat ya. 20 nggak lewat, 30 nggak lewat, 50 nggak lewat juga ya. Nggak usah happy, kamu juga nggak lewat ya. Minta orang tua datang juga sama kita, ya.” Maka tidak usah happy kita itu di bawah bottom line. Maka tidak ada yang bisa kita banggakan. Kita katakan kita kurang berdosa dibanding dengan orang lain. Berdosa, ya berdosa, urusan dosa Yesus harus datang. Maka urusan dosa jangan disepelekan ada dosa kecil.
Dosa tidak kecil. Saya ulang ya, dosa tidak kecil. Kalau kecil Tuhan mengatakan, “Gabriel kamu datang saja, Mikail kamu datang saja, Kerubim kamu turun aja. Kemudian Serafim, kamu turun aja ya. Jangan nyanyi-nyanyi terus kamu yang turun.” Nggak, nggak, Dia minta siapa datang? Pribadi kedua Allah Tritunggal. Allah sendiri datang karena urusan dosa. Maka dosa jangan dikecilkan, bukankah dosa itu terus membesar? Terus membesar. Orang umumnya tidak langsung narkoba, betul tidak? Mulai dari kecil dulu ya. Vape, ya, vape kuranglah, kretek ya, setelah kretek coba kita ganja itu kan terus terakumulasi, semakin besar. Sama juga tipu itu kan nggak dari langsung besar, ya, tipu orang banyak kan nggak seperti itu, dari tipu kecil, ya, tipu besar, tipu orang tua, tipu pacar, tipu polisi, ya. Tipu dunia kan tipu dari kecil juga. Maka sama dosa itu tidak kecil. Kelihatan dari kecil memang.
Demikian juga kita lihat banyak diampuni, sedikit diampuni. Ini dari perspektif manusia yang lihat. Tetapi dari perspektif Allah, betul tidak, ada yang besar dan kecil? Tidak! Dua-dua berdosa. Maka, yang Tuhan Yesus mau tekankan di sini, bukan dosanya besar, dosanya kecil, tetapi kesadaran akan dosa. Ada orang yang sudah melakukan banyak kejahatan, masih biasa saja. Ada orang melakukan dosa sedikit, dia sangat langsung merasa berdosa. Seperti Calvin katakan, orang rohani adalah orang yang sadar dan peka dengan dosa yang kecil saja. Kalau kita ada beberapa anak, kita lihat, ya, ada anak yang kita lihat saja matanya, kita sudah tahu, dia langsung takut. Dia sudah tahu harus berbuat apa. Ada anak sudah digebukin masih belum tahu. “Ada apa, ya, Pa? kenapa, ya, saya dipukul? Kenapa? Kenapa?” Maka kita lihat, kesadaran inilah harus dari awal harus kita pupuk. Maka, doktrin dosa yang saya sebut di sini, dalam narasi ini adalah kesadaran akan dosa kita. Sadar, tidak, kalau kita tidak penginjilan, kita sudah berdosa? Sadar, tidak, kalau kita tidak melakukan yang baik, kita sudah melakukan dosa by omission. Orang yang tahu melakukan yang baik, tetapi tidak melakukan itu sudah berdosa. Cenderung 2 hal itu, kita tidak rasa kita berdosa. Karena apa? “Ya, saya tidak bunuh orang kok! Saya tidak melakukan penipuan kok! Saya tidak korupsi kok! Saya tidak ikut MBG lagi, tidak ambil proyek-proyek seperti itu. Saya tidak berdosa.” Betul, tidak, kita ngomong dengan anak seperti apa? Kita ngomong dengan istri seperti apa? Kita ngomong dengan suami seperti apa? Kita menghargai mereka, tidak? Kita anggap mereka adalah musuh kita. Apalagi, kalau kita lagi sebel, ya. Betul, tidak, kita tidak berdosa?
Masih ingat 4 dosa di depan saya katakan? Egois, iri hati, sombong, dan membenarkan diri. “Tuhan, gara-gara Tuhan menaruh perempuan ini di sisi saya, maka saya berdosa. Kalau tidak ada perempuan ini, maka saya fine saja!” Betul? “Tuhan, saya itu orang sabar. Gara-gara anak ini, nggak bisa saya kontrol. Tuhan kok kasih anak yang sebel begitu? Kenapa, Tuhan?” Salah siapa? Tuhan yang jadi salah. “Tuhan, kasih yang baik dong! Kalau anak baik-baik, saya nggak akan seperti itu. Saya akan sabar.” Maka, sebenarnya, Tuhan mau katakan, “Kamu itu tidak sabar. Saya tunjukkan kepada kamu, kamu itu tidak sabar dengan memberikan anak seperti itu. Saya kasih kamu kasus seperti itu. Saya kasih kamu rekan kerja seperti itu untuk menunjukkan citramu yang sebenarnya itu apa?” Maka, kita ditunjukkan bahwa kita rentan. Kita butuh Tuhan. “Tuhan, ampuni aku. Tuhan, berbelas kasihan kepadaku.”
Jadi, kita tahu bahwa berbicara mengenai sedikit, banyak itu adalah perspektif manusia meninjau. Kita melihat kita sedikit. Maka, kalau sedikit dosa kita, maka pengampunan kita pun sedikit. Maka, anugerah yang dibutuhkan pun sedikit. Datang kepada Tuhan pun jarang-jarang. Karena apa? “Saya tidak terlalu berdosa kok. Tidak terlalu butuh diampuni.”
Saya pernah pelayanan di Semarang. Kemudian, pelayanan kepada 1 encim-encim tua. Sangat menarik, datang beritakan Injil kepada dia. Dia bilang, “Acim sudah tua. Nenek sudah tua. Nggak usah sering-sering.” “Tetapi, nenek kan perlu Tuhan Yesus untuk diselamatkan?” “Nggak usah, nggak usah! Nggak usah repotin Yesus. Nggak usah! Nenek itu baik-baik saja. Nggak papa. Nggak usah Yesus.” Betul, nggak itu? Mungkin kita dengarnya lucu, ya. Tetapi, itu adalah orang yang sangat membenarkan diri. Orang yang tidak rasa butuh keselamatan. Orang yang tidak rasa berdosa juga, maka tidak butuh Yesus. Kalau dia hari itu benar-benar diperhadapkan dengan kematian dan besok akan seperti apa, dia akan mikir lagi, “Betul, tidak, saya akan bisa melewati kematian ini dan saya ke mana?” Mungkin, dia akan pikir lagi.
Sama juga, belum tentu, orang yang dekat kematian bisa pikir butuh Yesus. Tidak juga. Pernah, saya pelayanan, sudah work darurat, yaitu sudah di ICU, orang sudah tutup mata, sudah pakai semua ventilator, ya. Saya beritakan Injil. Umumnya, kalau diinjilin itu air mata turun, ya, kalau dia benar-benar tersentuh, mau percaya Yesus, walaupun tidak bisa gerak. Ada yang mukanya itu makin keras. Kita lihat dari mimiknya itu, dia tidak mau percaya Yesus. Jadi, jangan pikir, orang kalau sudah rentan, sudah di rumah sakit, sudah gawat, dia bakal terima Yesus. Bukan! Itu hanya pekerjaan Roh Kudus. Anugerah Tuhan tiba kepada orang itu.
Maka, sama ketika kita lihat bahwa kita bisa sadar akan dosa kita, itu pun anugerah dari Tuhan, orang sadar, dia berdosa. Dan kita lihat, tadi saya katakan, dosa itu besar, jangan dipandang kecil dan tidak ada dosa yang tidak perlu diselesaikan. Tidak ada dosa yang tidak perlu diselesaikan. Jangan kita katakan, “Saya itu pelayanan di gereja. Saya kasih persembahan. Maka, dosa ini jangan diotak-atik, Tuhan. Biarkan saja, Tuhan. Jangan kasih tahu banyak orang. Saya simpan saja dosa itu, tetapi saya tetap pelayanan.” Tidak bisa. Tuhan mau kita urus semuanya itu. Dan Martin Luther mengatakan, “Be careful not to measure your holiness by other people’s sins.” Jangan bandingkan kekudusan kita dengan dosa orang lain. Ya itu, kita pun orang berdosa.
Dan dari perumpamaan ini, maka bicara mengenai kesadaran akan dosa, bukan kualitas dosa. Dan paling jelas itu ditunjukkan oleh Paulus. Paulus kurang pelayanan apa? Mendekati akhir hidupnya, dia tulis kepada anak rohaninya, 1 Timotius 1:15. Dia tulis: “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” Dia tidak mengatakan, “Setelah puluhan tahun jadi rasul, saya ini lebih baik dari kamu, Timotius!” Nggak! “Saya paling berdosa. Saya masih kurang dari Timotius, dari banyak orang lagi. Saya paling berdosa.” Supreme. Most. Yang paling. Komparasinya yang paling, most, ya. Paling berdosa.
Maka, makin datang kepada Tuhan, bukan rasa kita itu makin kudus. “Saya makin butuh Tuhan. Saya rentan. Saya butuh Engkau setiap waktu, setiap jam. I need Thee every hour. Saya butuh Engkau selalu. Saya tidak bisa jalan sendiri.” Maka, kita lihat, setelah semua ini, Tuhan Yesus mengatakan bahwa, “Dosamu telah diampuni.” Ini bukan berarti pada waktu itu. Karena itu kan Tuhan Yesus bicara bahwa Dia bisa melakukan banyak kasih karena dosanya sudah diampuni, tetapi ini mendeklarasikan bahwa dia itu adalah orang yang sudah dibenarkan, orang yang sudah diampuni. “Dosamu itu telah diampuni.”
Kita lihat bahwa komentar dari orang Farisi, itu pun tidak segera becermin kepada diri, dia masih lihat “Loh, kenapa Yesus bisa mengampuni dosa?” Urusan pertama belum selesai yang mana yang akan lebih bersyukur itu belum selesaiapi sekarang dia sudah masuk kepada pertanyaan kedua buru-buru mau dijawab. “Loh ini bisa mengampuni dosa. Siapa Dia orang ini?” Dan sama juga dengan peristiwa lain bicara iman, Tuhan Yesus bicara, “Imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat.” Iman. Di depan kita bicara, kita lihat orang, kita lihat apanya? Pekerjaannya, penghasilannya, kepintarannya, studinya, macam-macam. Tuhan Yesus lihat iman.
Lukas 7:1 ya, kita lihat Tuhan Yesus lihat iman perwira Kapernaum. Ketika kita lihat ada lima orang, satu lumpuh, empat teman itu menggotong dia turun, Tuhan Yesus juga lihat imannya. Maka kita lihat manusia itu lihat apa? Parasnya kah? Cantiknya kah? Wajahnya kah? Apanya? Yesus lihat imannya. Kita lihat BCN anak-anak itu lucu-lucu, kita lihat tidak, imannya? Dia butuh Yesus. Kita lihat orang-orang nakal, orang-orang jahat, kita lihat imannya tidak? Dia butuh keselamatan. Kita lihat bahkan orang-orang yang jual gudeg juga ya, kita lihat biasa, kita lihat juga tidak imannya, imannya? Dia butuh keselamatan atau dia sudah beriman atau seperti apa kita lihat imannya tidak?
Justru kita lihat ya, orang-orang yang dekat kepada Tuhan yang melihat jelas apa yang Tuhan Yesus lihat, tapi justru Simon orang Farisi bisa undang Yesus makan mewah, tapi tidak tahu hati Yesus. Kalau hari ini kita bisa ada kedatangan, ya orang-orang terkenal di dunia ya, misalnya datang mau investasi di Jogja, dikatakan kalau kita boleh makan dengan dia itu harus bayar 1 miliar. Tapi paling tidak 1 miliar itu kemungkinan bisa investasi paling tidak 50 miliar atau 100 miliar kita bisa dapat, ya. Apakah kita berani untuk lakukan? Saya kira banyak pengusaha akan lakukan ya, 1 miliar berapa itu? Cuman apa 1/50-nya ya. Saya akan berani investasi ya. Misalnya Jensen Huang lah ya. Siapa tahu Jensen Huang, ya? Bukan penjual bakso ya. Jensen Huang siapa? Nvidia punya bos ya, datang tiba-tiba ke ke Jogja ya. Dia selain makan gudeg, dia putar-putar, dia mengatakan, “Saya akan mengadakan perjamuan malam, ya.” Hanya ada 10 tempat ya, 9 tempat ya yang mau makan itu 1 miliar ya. Tapi paling tidak itu proyek Nvidia lah, airnya lah, coolingnya apa sistemnya, “Saya akan mulai investasi di Jogja” Ya, kira-kira kita investasi nggak? Kita langsung lihat cuannya ya, langsung cuan ya. Tapi kita lihat nggak jiwanya? Kita lihat nggak kebutuhan manusia atau kita lihat oh cuan ya. Belum tentu juga loh makan satu 1 miliar itu dapat proyek, belum tentu juga ya, tapi orang dunia akan lakukan ya, akan, paling tidak kalau tidak cuan dari dia paling tidak 9 orang itu kan kita bisa ngobrol-ngobrol ya, dapat cuan dari samping-samping lagi bisa juga ya, maka bisa tidak kita lihat manusia seperti Yesus lihat jiwanya ya, jiwanya.
Dan Tuhan Yesus mengatakan pergilah dengan selamat ya, formula pamitan yang sangat khusus dari Tuhan Yesus. Pergilah dengan shalom, dengan damai sejahtera. Bukan hanya tubuhnya lepas dari masalah, jiwanya juga damai ya, tatanan dipulihkan, dia relasi dengan Allah dibereskan, relasi dengan diri dibereskan dan juga diharapkan dia relasi dengan orang sekitar juga dibereskan. Seperti perempuan yang di samping perigi, yang di Yohanes 4 itu juga relasi dipulihkan sama Tuhan. Dia langsung beritakan Injil bahwa orang datang kepada Tuhan Yesus, ya.
Maka apa yang bisa kita simpulkan dari seluruh pembahasan hari ini? Pertama, perempuan itu tidak sembunyi-sembunyi, dia tahu dirinya, dia tidak usah memoles, membuat lebih baik, dia datang karena dia mau melakukan hal yang benar. Melakukan yang benar tidak perlu takut, tidak perlu malu, tidak perlu sembunyi, tapi juga bukan membanggakan. Saya lakukan yang baik loh ini loh ya, saya melakukan yang baik loh. Apa beda orang membual dengan memberitakan yang benar? Membual adalah membesar-besarkan ya, menonjol-nonjolkan tapi mengatakan yang benar ya, memang kalau perlu dikasih tahu ya dikasih tahu, ya. Tidak perlu ya tidak usah ya. Misalnya ya, mama beli makanan enak untuk anak ya, “Nak, ini ada makanan enak.” “Siapa yang beli? Siapa yang beli?” “Tidak perlu tahu.” Itu kan agak aneh, nanti anaknya, “Ini kenapa? Ini mama kenapa?” “Mama tidak mau sombong?” Ya. “Siapa yang masak hari ini?” “Tidak usah kasih tahu ya, karena mama tidak mau sombong.” Ah, ini kan jadi aneh ya. Ya, mama dong, mama yang masak ya. Masa tidak ada, tidak ada Mama yang tidak mau sombong ya, nggak usah kasih tahu siapa yang masak ya. Anak juga, takut-takut ya, jangan-jangan ini MBG ini ya, tidak mau makan ya. Ini dari mama, jangan takut, ini dari mama ya, dari mama.
Kedua, kita lihat bahwa perempuan itu bawa sesuatu, kita bawa apa ke gereja? Kita bawa pakaian bagus, kita bawa persembahan, kita bawa hati tidak kepada Tuhan? Selain kita juga bawa pulang berkat dari Tuhan. Berikutnya kita kenal sesama, kenal apanya? Tuhan Yesus lihat imannya. Dan kita mau dikenal sebagai ара? Apakah kita mau dikenal sebagai orang yang mempermalukan Tuhan? Perempuan ini tahu dia berdosa. Banyak orang juga tahu dia berdosa tetapi banyak orang tidak tahu diri mereka berdosa. Kita bisa nuding orang lain berdosa tapi jangan lupa buru-buru kita tuding terlebih dahulu adalah diri kita. Saya orang berdosa. Saya butuh Tuhan. Kemudian kita juga minta Tuhan beri kepekaan kepadaku. Sadar aku butuh Tuhan. Sadar aku orang berdosa. Saya butuh Engkau setiap hari. Dan kemudian kita juga berdoa, Tuhan, biar Engkau atur masa depanku karena Engkaulah yang paling pantas untuk bisa mengatur dan Tuhan mau pakai seperti apa, Tuhan pakai seturut dengan kehendakMu. Ya, kita masuk dalam doa.
Bapa di surga, pada pagi siang hari ini kami datang kepada-Mu. Kami belajar dari seorang perempuan yang dikenal buruk di tengah-tengah masyarakat, tapi sungguh Engkau berkenan. Engkau menerima dia. Dia memberikan legacy yang sangat indah di dalam Alkitab. Dia pulang bukan lagi sebagai orang berdosa yang dikenal orang berdosa sebelumnya, tapi dia pulang sebagai orang-orang benar. Demikian juga kami, kami ingin, ingin dikenang sebagai apa? Kami bawa apa kepada Tuhan? Dan seumur hidup kami bisa dinilai sebagai apa? Apakah kami dengan kehidupan kami memuliakan Tuhan? Apakah kami dan dalam kehidupan kami, kami justru mempermalukan nama Tuhan? Beri kepada kami kepekaan, senantiasa dekat kepada Tuhan. Cari wajah Tuhan, cari kuasa Tuhan, cari perkenanan Tuhan lebih daripada apapun sehingga sungguh hidup kami boleh saleh, hidup kami boleh berbuah, hidup kami boleh memuliakan Tuhan. Kami berdoa memohon di dalam nama Tuhan kami Yesus Kristus. Amin.
