Kej. 11:1-9
Pdt. Edward Oei
Di dalam Alkitab ada beberapa kali pergeseran masa atau ada beberapa kali dicatat bagaimana adanya satu masa dilewatin dan di masuk ke pada masa yang baru. Dan pasal yang ke 11 Kitab Kejadian ini merupakan salah satu masa transisi ini; masa transisi setelah manusia diciptakan. Manusia jatuh dalam dosa dikatakan, lalu kemudian Allah mengutuk 4 hal. 4 hal di dalam Kejadian pasal yang ke 2, kemudian pasal yang ke 4, kemudian naik ke Kejadian pasal yang ke 9. 4 kali Allah mengutuk di dalam Alkitab dan 4 kali itu dinyatakan sebagai ketetapan Allah bagaimana Allah membagi dunia ini membuat dunia ini nanti manusia terbagi menjadi 2 kelompok. Bagaimana di dalam Kejadian pasal ke 3 setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah mengutuki ular, sang iblis terbuang untuk selama-lamanya dan demikian juga tanah yang Tuhan ciptakan itu Tuhan kutuk sehingga bumi ini harus nantinya dipulihkan dan diubahkan karena ini sudah dibuang oleh Tuhan. Kemudian yang ketiga adalah Kain, ketika dia membunuh Habel, maka Allah mengutuki dia. Kain terkutuk kemudian dikatakan, “Nantinya terbagilah manusia menjadi dua kelompok. Satu keturunan Kain, satu lagi nanti adalah keturunan dari pada Habel atau Set.” Dua kelompok inilah nanti menjadi kelompok yang terus menerus berada di dunia ini sampai nanti kiamat adanya untuk membentuk 2 kelompok yang secara ultimat, yaitu orang yang dikasihi Tuhan, mendapat belas kasihan Tuhan dan orang yang nantinya dikutuki atau dibuang oleh Tuhan. Dua kelompok inilah.
Tapi pada Kejadian pasal yang ke 6 dicatat nanti dengan sangat cepat narasi Alkitab dengan cepat mengatakan nantinya bagaimana manusia itu melupakan penetapan Allah di dalam Kej. 3:15. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah mengatakan, “Aku mengadakan permusuhan”. Sehingga permusuhan yang pertama di dunia ini, ditetapkan oleh Allah, dihadirkan oleh Allah. “Aku mengadakan permusuhan antara engkau dengan perempuan ini”, antara ular dengan manusia. “Antara nantinya keturunanmu dengan keturunannya, keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kalimat ketiga berbicara antara Kristus, keturunan perempuan dengan sang ular atau iblis.
Tetapi kalimat kedua yang ada tengah ini menjadi satu hal yang menarik, “Antara keturunanmu dan keturunannya.” Keturunannya itu keturunan perempuan kita bisa tafsirkan nantinya bisa Kristus, di dalam kalimat ketiga, atau siapa keturunannya? Keturunan perempuan ini karena dikontraskan dengan keturunan ular, bukan si ular tetapi keturunan ular. Siapakah keturunan si ular dan keturunan perempuan yang Tuhan adakan permusuhan ini? Maka kemudian di dalam tafsiran ini, dua yang diadakan permusuhan ini adalah keturunan Kain dengan nanti keturunan Habel atau Set. Dua keturunan ini yang Tuhan adakan permusuhan. Maka tidak heran ketika di Kejadian 3 pasal 6, dua keturunan ini kawin campur dan Tuhan marah dan kemudian menghabisi seluruh bumi. Karena apa yang Tuhan tetapkan, adakan sebagai permusuhan, tidak boleh dipersatukan oleh manusia. Allah habiskan seluruh bumi. Tetapi Tuhan me-recreation, menciptakan ulang dunia di dalam kisah Nuh, bagaimana 3 anaknya kemudian terbagi kembali menjadi dua, Sem dan Yafet yang dikatakan tinggal di kemahnya Sem dengan satu kelompok yang lainnya yaitu Ham yang dikutuk oleh Tuhan sebagai kelompok yang ke 4, dikutuki oleh Tuhan. Merestorasi, mengembalikan keturunan Kain yang Tuhan kutuk itu.
Maka garis keturunan manusia yang terbagi dua kelompok itu kembali terjadi di dalam Kejadian pasal yang ke 9 untuk mencapai puncak yang nantinya ketika Kristus datang kedua kali. Dan kita akan terbagi menjadi dua kelompok di surga dan neraka. Ini menjadi kisah narasi yang sangat cepat sampai kepada tiba-tiba nantinya loncat kepada keturunan bangsa-bangsa dari Sem, Ham, Yafet. Kemudian muncul satu cerita yang nggak ada awal, nggak ada akhir, tiba-tiba ada sekelompok manusia di daerah Timur, daerah Timur dari Eden, daerah Timur yang kemudian dipercaya daerah Babel, daerah Mesopotamina sana. Ada sekelompok manusia yang membangun satu menara untuk mencari nama. Mereka ingin mencari nama dikatakan di ayat yang ke 4, “Mereka berkata marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dan dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita mencari nama supaya kita tidak terserak ke seluruh bumi.” Kisah ini menjadi satu kisah yang tidak ada awal tidak ada akhir. Kisah tentang seakan-akan hanya menceritakan kenapa memberikan alasan kenapa manusia di bumi ini saat ini punya banyak bahasa yang berbeda-beda seakan-akan hanya memberikan alasan. Tetapi kalau kita memasuki bahasa aslinya, maka ini bukan hanya sekedar memberikan alasan kita berbeda bahasa. Kenapa? Karena ini, kisah ini kemudian dilanjutkan dengan meneruskan dengan kisah keturunan Sem.
Panjang lebar kalau kita baca di dalam kitab Kejadian pasal yang ke-11, keturunan Sem disebutkan satu per satu sampai kepada nantinya kepada Terah yang adalah Bapak dari Abraham. Dan loncat ke pasal 12 menjadi satu era yang baru. Maka dari masanya Nuh, sebagai re-creation lalu kemudian pasal yang ke 11 ini yang ada di tengah-tengah lalu memunculkan nantinya kisah Abraham, menjadi kisah nenek moyang dari pada orang Israel. Ini menjadi satu kisah yang menarik ketika kita membacanya bukan hanya sekedar mencari informasi kenapa kita punya bahasa berbeda hari ini, bukan. Karena apa? Karena pembaca mula-mulanya adalah orang Israel yang sedang berjalan di padang pasir dan di padang gurun. Mereka sedang berjalan di padang gurun dan pergumulan mereka adalah kenapa kita musti ke padang gurun? Apa yang kita kerjakan di padang gurun? Apa yang kita cari di padang gurun? Kita baik-baik hidupnya, baik-baik di Mesir, walaupun jadi budak paling tidak, nantinya di Kitab Ulangan dicatat, paling tidak kami masih punya makanan yang proper, makanan yang cocok dijadikan manusia makan, karena di sana masih ada ikan, timun, semangka, daun pre, daun bawang, mereka sebutkan satu-satu yang mereka bisa makan. Sedangkan di padang gurun, mereka hanya makan manna dan tidak ada yang lain. Itulah yang mereka kemudian sungut-sungutkan di padang gurun dan kisah inilah yang kemudian muncul di tengah-tengah sungut-sungutnya mereka.
Dan kemudian Musa menuliskan 5 kitab Musa yang menjadi kemudian dasar buat mereka mengerti kenapa mereka harus ada di padang gurun. Coba bayangkan mereka ada di padang gurun. “Kenapa kita musti ada di padang gurun?” Musa mengatakan, “Tenang, tenang. Kita memang beda bahasanya.” Maksudnya apa, minta ditabokin, gitu ya. Beda bahasa maksudnya apa yang dibicarakan sama orang Israel dengan Musa berbedakah atau apa maksudnya? Seakan-akan ini tidak ada, tidak ada koneksinya. Tetapi kalau kita membaca nantinya di dalam bahasa asli, maka ada sesuatu yang menarik di dalam bahasa asli. Yaitu ketika dikatakan orang Israel yang merupakan keturunan Abraham, keturunan Abraham ini adalah keturunan dari anaknya Nuh dari keturunan Sem. Dan Sem ini dalam bahasa asli, Sem artinya adalah nama. Nama. Maka dicatat di tengah-tengah keturunan Sem ini, ada kisah bagaimana manusia pada zaman itu mencari nama, membangun menara Babel untuk mencari nama. Dan kemudian di pasal ke 12 di ayat yang pertama sampai ke-tiga, saya bacakan. “Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: ”Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”” Inilah maknanya ketika berbicara tentang keturunan Abraham ini. Kami ini siapa, kenapa kami musti ada di padang gurun? Karena engkau keturunan Abraham. Untuk apa? Untuk menyatakan bahwa engkau adalah umat Allah, yang Tuhan akan membuat namamu termasyur ke seluruh bumi. Tuhanlah yang akan membuatkan nama bagi mereka. Tuhanlah yang akan menggarisbawahi kehidupan mereka, memberikan nama ini, masyur. Membuat nama mereka menjadi terkenal dan membuat nama mereka itu menjadi satu berkat bagi bangsa-bangsa sekitar mereka karena mereka adalah keturunan anak Nuh yang bernama Sam yang artinya “nama”. Kelompok ini adalah kelompok ternama, yang di mana mereka bukan mencari nama bagi mereka sendiri tetapi mereka adalah kelompok yang di mana Tuhan memberikan nama kepada mereka. Mereka adalah kelompok yang diberikan makna melalui nama mereka. Nama inilah nantinya kenapa orang Israel sangat bangga dengan nama Israel mereka, karena mereka adalah orang yang diberikan nama oleh Tuhan, diberikan makna di dalam nama yang mereka terima dari Tuhan.
Seorang manusia akan memberikan makna dalam hidupnya. Kita kalau hidup di dalam abad ke-20, 21, hidup kita, kitalah yang memberikan makna, seakan-akan “saya jadi apa, saya merasa hidup saya bermakna karena apa yang saya inginkan saya dapatkan.” Dan itulah juga yang dipikirkan oleh orang yang ada pada zaman itu ketika membangun Babel. “Menara Babel akulah yang bangun supaya kami, kita ini, mendapatkan nama melalui menara ini.” Tuhan tadi katakan “Bukan dari membangun Babel, tetapi karena Akulah yang membangun kamu.”
Inilah hal yang penting di dalam gereja Tuhan, sering kali kita melihat apa yang ingin kita kerjakan, ingin kita besarkan dengan kita mengerjakan A, B, C kemudian kita mencoba untuk melakukannya, untuk membesarkan gereja kita, untuk membesarkan nama kita. Apalagi kalau gedung sudah jadi ada tekanan tertentu gitu ya. Di dalam nantinya pengalaman Pdt. Stephen Tong, kita itu selalu diajarkan ketika gedung gereja jadi maka ada penambahan paling sedikit 50%, itu hukum alam katanya, hukum alam yang pasti terjadi. Kenapa? Karena gedung yang baru itu mempunyai daya tariknya sendiri. Maka semua gedung yang jadi pasti akan penambahan jemaat, itu normal, itu hal yang normal. Tetapi menambah 50% itu tidak cukup, karena gedung yang dibangun di dalam GRII itu selalu dibangun dengan berapa kali lipatnya dari jumlah jemaat yang ada. Kalau di sini jumlah jemaatnya 100 lebih sebelumnya, dibangun gedung ini yang muat sekitar 700-an. Artinya lima kali lipat paling nggak. Kalau nambah 50% itu masih banyak tempat yang kosong, dan ini akan menjadi pressure yang cukup besar untuk masa yang akan datang.
Untuk bulan-bulan pertama, tahun-tahun pertama kita merasa normal ya, memang begitu, kita begitu, masih bisa bertumbuh, masih terus bertumbuh. Tapi di dalam dalilnya pengalaman Pdt. Stephen Tong itu ada hukum-hukumnya, ada dalilnya. Sampai 200 itu adalah suatu masa yang “bisa lewat, nggak bisa lewat.” Itu garis 200 itu kayak kalau sudah mau sampai dia ada remnya, mau lewat, nggak bisa, mundur lagi, Mau lewat mundur lagi, terus 200 itu ribet, itu angka yang susah untuk dilampaui. Nanti sudah lewat 200, maka 300 itu juga suatu angka yang tapi tidak se-sulit 200 tapi suatu angka yang tidak gampang. Angka berikutnya adalah 500, setelah 500 akan cepat, 600, 700, 800, tetapi mau melewati 1000 itu sekali lagi itu kesulitan yang ada. Nanti 1500, 2000 ada angka-angka yang sulit dilampaui. GRII pusat angka 2000 itu yang sudah terus diperjuangkan hampir 20 tahun. Sulit untuk melampauinya. Sesekali lewat 2000 nanti kayak ada penjaga gawang di depan, sudah mau lewat sudah gol ditendang masuk keluar lagi, ditendang keluar lagi mundur lagi 19 berapa. Sudah mau 2000 tendang lagi 18. 2000, wah minggu ini 2000 sudah lewat 2000 nih, berhasil berharap minggu depan tetap dan berharap lewat. Ternyata nggak, 2000 itu menjadi suatu angka yang sulit.
Kita di tengah-tengah pressure atau tekanan seperti ini maka kita akan punya pikiran apa yang musti kita kerjakan. Ini yang nanti akan menjadikan gereja berada di dalam persimpangan akan berhasil atau akan gagal. Ketika seseorang ingin menjadi besar, ketika satu gereja harus menjadi lebih besar itu adalah hal yang wajar dan harus kita kejar. Tetapi bagaimana menjadi besar ini menjadi suatu problematik yang selalu terjadi di dalam gereja Tuhan. Bagaimana menjadi besar? Maka kita mencoba seperti dunia ini, bagaimana mengakomodir yang dunia ini inginkan, apa yang diinginkan oleh dunia ini. Kita atau kami sering kali diajar oleh Pak Tong, gereja bukan tempat bersekutu, gereja bukan tempat berkumpul. Terus kami garuk kepala, bukannya gereja tempat bersekutu? Bukan. GRII bukan tempat bersekutu, GRII didirikan untuk menjadi suatu gerakan di mana tempat terus mengumpulkan orang dan bukan menjadi tempat bersekutu tetapi dikumpulkan untuk diutus, itulah GRII. Maka ada gereja musti bermisi dan melakukan kehendak Allah yang Tuhan inginkan.
Karena itulah ketika manusia ingin membangun nama mereka, Tuhan menyerakkan mereka, mengingatkan kepada mereka dari awal mandat Tuhan kepada Adam adalah menaklukkan bumi bukan memenuhi Eden. Mandat kepada manusia bukan beranak cuculah dan nikmatilah Eden ini, penuhilah Eden, dan nikmatilah, bangun Eden ini, bukan. Usahakan Eden dan penuhi bumi, taklukanlah bumi. Dari taman kepada seluruh Eden, nanti Eden itu ditafsirkan bumi itu sendiri, sedangkan taman Eden itu berbicara tentang taman yang ada di atas bumi. Kalau kita baca di Kej. 2:8 ditulis di sana ada satu penyambungnya “taman di Eden” bukan Taman Eden gitu ya, walaupun tidak salah taman di atas bumi itu taman bumi namanya.
Maka di dalam teologi nanti memakai istilah mandat kepada manusia dalam Kej. 1 dan 2 adalah from garden to city atau from garden to the world. Dari taman kepada kota, dari taman kepada seluruh dunia, itu adalah mandat kepada seluruh manusia. Gereja hari ini gagal bukan karena gerejanya kurang nyaman, kurang bagus, tapi justru banyak gereja gagal karena gereja terlalu nyaman, terlalu bagus. Masa-masa setelah selesai, itulah menjadi masa-masa pertaruhan yang sangat menyulitkan, semua sudah nyaman. Ketika masih dalam kesulitan membangun, masih dalam pergumulan, masih di dalam seperti tadi pagi Pak Taufik kasih tunjuk “Ini dulu kita”. “Oh saya pernah di sini”, saya kasih tahu. Oh pernah di jalan ini. Terus katanya pernah yang di belakang, saya juga pernah. Saya masih ingat, “Itu yang hook bukan rumahnya, saya juga pernah ke sana dulu.” Yang nggak pernah itu yang di Pacific itu belum sempat itu ya. Pernah.
Zaman dulu sulit, pindah-pindah kaya kucing beranak. Begitu baru mulai perpanjang sewa kayanya lega wah lega 2 tahun. Begitu lewat setahun udah mulai stres, tinggal setahun cepat sekali, sudah mulai stres. Kita sudah pindah sana, pindah sini. Kami di GRII Medan juga sama begitu, pindah sana, pindah sini, terakhir di gereja yang tua yang kami sewa sampai sekarang, menunggu gereja yang dibangun jadi. Saya katakan kepengen mempunyai suatu tempat yang menetap yang kita bisa dengan lega meletakkan kepala. Tapi Tuhan Yesus mengatakan Anak Manusia tidak punya tempat meletakkan kepala. Karena itulah mandat kepada manusia, kepada gereja Tuhan. Bukan mencari tempat meletakkan kepala, tetapi mencari tempat untuk diutus keluar ke mana pun kita harusnya berada. Maka GRII Yogyakarta tidak akan pernah menjadi benar, walaupun ada di Jalan Bener, di dalam seluruh GRII, GRII yang paling benar itu GRII Yogyakarta gitu ya, karena terletak di Jalan Bener nomor satu lagi, paling benar. Sudah tidak ada yang lebih benar lagi. Ketika kami di Jakarta mendapat kabar Jogja dapat tanah, “Di mana?” Terus disebutin nama daerahnya, nama jalan “Jalan Bener no 1” Terus semua pada tercengang, wow. Nggak ada yang lebih bagus, bahkan Kemayoran di pusat aja nggak ada nama itu, masih nama Jalan Industri, jelek banget. GRII Medan pernah satu kali mendapat tawaran tanah di Jalan Gereja. Kami itu bangga sekali. “Wah, di Jalan Gereja. Cocok itu! Gereja.” Tapi nggak ada yang lebih benar dari Yogyakarta: Jalan Benar. Gereja musti ada di jalan benar. Yang nomor satu, lagi, paling benar.
Nanti yang menjadi satu pergumulan kita adalah bagaimana kita mengisi tempat-tempat yang kosong. Maka, gereja Tuhan sepanjang sejarah –apalagi dalam sejarah di Indonesia– adalah ketika gereja sudah settle, maka: “Mari kita bersekutu.” Inilah teriakan yang paling berbahaya di dalam sejarah gereja di Indonesia, dan bahkan di dunia. “Mari kita bersekutu! Mari kita menikmati ke dalam! Mari kita membangun nama kita! Kenikmatan ke dalam!” Ini adalah kesalahan besar dalam gereja dari zaman ke zaman. Inilah yang menjadi kesalahan. Kita lupa kita harus keluar nantinya, sehingga kita suatu hari akan menjadi Gereja yang mati karena kita hanya menikmati ke dalam. Karena itulah Tuhan menyerakkan mereka dengan memaksakan mereka untuk pergi. Ketika bahasa mereka tidak lagi bisa dijadikan alat komunikasi, mereka harus pergi. Mereka berpisah satu dengan lainnya. Mereka pergi. Dan akhirnya mereka dipaksakan menjalankan mandat Tuhan: pergi.
Inilah yang menjadi masa yang penting di dalam masa yang akan datang. Setelah gereja ini selesai dibangun, setelah semuanya ini selesai, bukan “Mari kita melegakan diri. Haahh.. sudah bisa lega dan kita menikmatinya setiap minggu, beribadah.” Kalau itu yang kita pikirkan, kita ini akan masuk kepada masa kecelakaan nantinya! Tapi masa yang akan datang adalah masa bagaimana melalui tempat yang makin besar ini, kita boleh mengumpulkan makin banyak orang yang boleh diutus ke tengah-tengah dunia ini. Perputaran: bagaimana berputar dengan semangat yang ada pada kita. Mendidik orang dengan semakin baik dengan satu ciri yang ada pada gereja Tuhan nantinya, yang harus ada pada gereja Tuhan.
Maka kata “nama” ini nanti di “Shem”. “Shem” ini, diapit di dalam perubahan “mencari nama” menjadi nantinya “diberikan nama”. Karena itulah orang Israel bangga sekali mereka adalah “The children of Abraham”. “Kami adalah satu kelompok yang memasuki era baru yang mendapat nama dari Tuhan, di mana kita diberikan nama sebagai umat pilihan! Umat perjanjian!” Orang yang diberikan makna di dalam keberadaannya sebagai sekelompok manusia yang berbeda. Karena itulah orang Israel sangat bangga. Mereka sampai hari ini, bahkan tidak ada kebudayaan di atas muka bumi ini, yang bisa bertahan 3.500 tahun dengan satu kebudayaan. Orang Israel bertahan dari zaman Musa melalui Taurat yang Tuhan berikan kepada mereka. Mereka melakukannya dan sampai hari ini masih terjadi. Mereka masih melakukannya. Salah satunya yang menjadikan mereka tanda anak Abraham, “The Children of Abraham”, adalah mereka, ketika sembahyang, mereka memakai kain sembahyang yang lebar dan mengikatkan empat jumbai di empat sudutnya. Bilangan 15:37–41, Allah menetapkan, “Ketika engkau bersembahyang, ketika kamu menghadap Tuhan, ketika engkau berjalan, ketika engkau hidup sebagai umat Allah, sebagai seorang Israel, pakai jumbai itu sebagai tanda yang ada!” Tuhan tidak mencatat bagaimana harus membuat jumbai itu. Kemudian mereka menafsirkan dari ayat-ayat yang mereka baca –perintah Tuhan– mereka membuat jumbai itu. Dari empat benang yang panjang, dilipat menjadi dua sehingga keluar menjadi delapan benang. Delapan benang ini kemudian disimpulkan, ada lima simpul. Ada lima simpul. Sebagai tanda bahwa mereka adalah keturunan Abraham, di dalam perjanjian Allah, diberikan lima Taurat Musa. Lima simpul –Taurat yang diberikan oleh Tuhan sebagai tanda belas kasihan, tanda kasih Tuhan kepada umat-Nya– mereka buat. Di antara lima simpul itu ada lilitan-lilitan yang mereka lilitkan sebagai satu pengakuan iman mereka. Lilitan pertama, antara simpul pertama dan kedua, ada tujuh lilitan. Antara kedua dan ketiga ada delapan lilitan. Antara tiga dan empat ada sebelas lilitan. Antara empat dan kelima ada tiga belas lilitan. Tujuh, delapan, sebelas, dan tiga belas. Ini adalah pengakuan iman mereka. Kenapa? Karena tujuh dan delapan itu adalah lima belas. Dan lima belas ini adalah jumlah dua huruf pertama dari YHWH. Yod, He, Vav, He. Yod itu adalah huruf yang kesepuluh, He itu huruf yang kelima. Jumlahnya lima belas. Tapi mereka tidak akan melilitkan sepuluh dan lima. Karena Yod, He, Vav, He terlalu sakral bagi mereka. Maka mereka tidak akan melilitkan sepuluh dan lima di situ. Mereka menjumlahkannya kemudian dibagi dua. Maka lima belas ini mereka bagi menjadi tujuh dan delapan. Vav itu enam. He kembali, ada lima. Maka sebelas. Maka lilitan ketiga itu sebelas. Lilitan yang keempat itu tiga belas. Tiga belas itu adalah jumlah dari kata “Ekhad” di dalam Ulangan 6:4, artinya “Esa”. Adonai: Yahweh itu mereka baca Adonai. Adonai Ekhad. Ekhad itu dari Alef, Het, dan Dalet. Satu, delapan, dan empat. Jumlahnya tiga belas.
Maka melalui jumbai itu –dengan lilitan tujuh, delapan, sebelas, tiga belas, yang mereka gantungkan di dalam tali sembahyang mereka atau kain sembahyang mereka itu, di empat sudut– mereka mau menyatakan: ke mana pun mata angin, ke mana pun kami pergi, ke empat mata angin yang ada, kami menyaksikan siapakah Allah kami, yaitu Allah yang Esa! Panggilan mereka sebagai anak Abraham mereka tahu. Mereka lakukan itu masih terus-menerus sampai hari ini. Bapak, Ibu, Saudara sekalian kalau lihat, nantinya kaum Ortodoks Israel maupun di seluruh dunia, termasuk ada kaum Hasidic yang ada di New York City –sekelompok yang sangat-sangat ketat di dalam kehidupan keagamaan mereka– sampai hari ini mereka tidak bergeser!
Lalu kita mengatakan, “Oh, kita orang Perjanjian Baru! Di dalam Kristus kita tidak melakukan itu lagi!” Baca baik-baik Alkitab! Matius 9:20, dikatakan Tuhan Yesus memakai jumbai! Matius 14:36, dicatat Tuhan Yesus memakai jumbai. Dan dua konteks itu, Tuhan Yesus sedang tidak sembahyang! Tuhan Yesus sedang berjalan, mengajar ke mana-mana, bukan sedang sembahyang. Tuhan Yesus pun memakai tanda itu! Bahwa Dia adalah anak Abraham. Tuhan Yesus tidak membuang perjanjian Allah di Perjanjian Lama. Kita yang membuang sebagai orang Perjanjian Baru. “Oh, sudah lewat masa Perjanjian Lama, masuk masa Perjanjian Baru. Maka Perjanjian Lama boleh dibuang semua.” Lalu kitab Perjanjian Baru ngapain? Kita boleh menghidupi dengan kebebasan, kenapa Tuhan Yesus tidak? Kenapa Tuhan Yesus juga tunduk kepada Taurat? Karena Tuhan Yesus konsisten, “Aku datang bukan untuk menghapus Taurat. Tidak untuk menghilangkan Taurat. Bahkan tidak satu iota pun dari Taurat yang akan Kubuang. Tetapi Aku datang untuk menggenapinya.” Ini adalah tema yang jadi suatu era yang baru. Menjalankan Taurat Tuhan dengan perintah yang sebagai hukum, masuk kepada menjalankan Taurat Tuhan sebagai tanda cinta kasih.
Apa bedanya? Bedanya gampang gitu, ya. Gampang sekali bedanya. Waktu kita –mungkin– masih kecil, kita belum tahu namanya sekolah. Saya masih ingat ketika saya sekolah pertama kali masuk TK. Hari pertama mau pergi ke sekolah itu mesti digeret sama mama saya, kayak ditarik kayak narik kerbau gitu, ya. Malas saya, saya nggak mau sekolah. Saya nggak tahu apa itu sekolah? Setelah itu, pergi ditarik sampai ke sekolah, dipaksa duduk ke dalam. Dan saya teriak-teriak. Itu gurunya pegang saya, “Nggak boleh keluar! Akhirnya –mau nggak mau– mama saya duduk di sebelah saya, nemenin saya sekolah hari pertama.
Hari kedua, saya tidak mau sekolah. Beneran tidak mau sekolah. Saya nggak mau lepas dari ranjang saya. Saya pegang ranjang saya. Kalau ada borgol, mungkin saya borgol saya dengan ranjang saya. Nggak mau pergi sekolah. Dipaksa pergi sekolah sampai ke sekolah. Paksa. Itu lah mewarnai tanda-tanda awal ketika saya pergi ke sekolah. Tapi akhirnya, pelan-pelan, terpaksa, sudah terbiasa musti sekolah. Maka saya pergi sekolah. SD: kelas 1, kelas 2. Harus sekolah? Harus! Dipaksa sekolah. Wajib sekolah! Kemudian setiap kali bagi rapor, pulang dari sekolah, rapor saya juara 1, 2, 3, dari belakang. Kalau satu kelas, zaman dulu kan masih ada ranking kan, satu kelas misalnya 40 orang, 30 orang, zaman dulu kelasnya gede-gede gitu, 40 orang, maka saya buka rapor saya ngintip dari belakang, tarik lihat, kayak gude buntut gitu ya, ngintip. Strip 40, itu tandanya satu kelas 40 orang, strip itu di atasnya itu ranking berapa dari 40. Ngintip belakang, 0, celaka. Kalau 0 belakangnya bisa 40 per 40 itu juara 1 dari belakang, celaka saya. Waduh kalau juara 10 itu jarang-jarang, jarang sekali saya bisa juara 10 dari belakang, 34 per 40 itu jarang. Saya tahu kok nilai saya itu bisa hitung pakai jari yang hitam, sisanya merah semua. Maka saya ngintip, kalau ngintip, ngintip, ngintip, 2. Waduh Puji Tuhan. Nggak mungkin 42 per 40 kan, paling jelek 32, berarti saya juara 8 dari belakang itu pencapaian luar biasa. Maka saya setiap kali ngintip 40, lihat dari belakang 0, celaka, 9 lega, pasti bukan yang terakhir. Setiap kali mesti lihat seperti itu.
Sampai saya kelas 3 mama saya panggil, “Lu mau sekolah nggak?” Waktu mau naik kelas 3 SD, “Kalau mau sekolah, sekolah. Kalau nggak mau sekolah, kerja aja.”, “Hah kerja apa kelas 3 SD?” Mama bilang, “Nanti mama pesan kue, itu kue bawa ke tetangga jualan kue aja.” Dalam pikiran saya, muka mau taruh di mana jualan kue. Akhirnya mama cuma kasih satu aturan baru, “Tahun ajaran baru, kalau tidak 3 besar dari depan, tahun depan nggak usah sekolah lagi, berhenti.” Cuma ini aja. Harus ubah dari 3 besar dari belakang, jadi 3 besar dari depan. Karena takut mesti jualan kue, malu, maka dalam satu tahun saya juara beneran. Juara yang terpaksa saya suka sekolah? Tidak. Saya cinta juara? Nggak juga. Yang ada adalah saya takut aturan dari mama itu, karena mama bilang “Kalau nggak, awas!” Apa itu awas? Nggak berani coba, karena itulah saya rajin belajar. Kenapa rajin? Cinta ilmu? Nggak. Jujur kita juga sekolah bukan karena cinta ilmu kan? Coba ilmu yang kita belajar nggak ada gunanya dengan pekerjaan kita dengan cari uang, kita akan sekolah? Nggak bakalan. Kita nggak akan belajar, kita cuma cinta, yang kita takuti adalah takut susah. Karena kalau kita tahu di depan tidak susah, kita tidak akan belajar, kita tidak akan berjuang. Itulah alasannya kenapa anak orang kaya itu, istilahnya Pak Tong, terkutuk di dalam masa depannya. Karena merasa nyaman di masa depan, dia terkutuk dan dia akan meneruskan kutukan dia kepada keturunannya. Berapa keturunan? Nggak tahu, tergantung belas kasihan Tuhan nantinya. Tergantung.
Maka saya berubah. Kenapa berubah? Cinta kepada ilmu? Tidak. Takut kepada hukum mama, takut kepada hukuman dari mama, iya. Maka saya belajar setengah mati. Tiap hari belajar, belajar, belajar, yang belajar sampai nggak bisa masuk otak, maka tiap malam pikir gimana caranya tidak gagal. Maka selain belajar, memaksa diri kalau nggak bisa melatih keberanian. Saya menyontek dengan sangat berani. Saya selalu kalau masuk kelas, kelas yang baru saya selalu paling cepat nge-tag tempat duduk di depan meja guru. Saya nggak akan duduk paling belakang, bagi saya orang bodoh duduk belakang, nggak bisa nyontek itu. Kenapa? Guru itu selalu rabun dekat, liatnya ke belakang. “Itu yang di belakang, tangannya yang mana?” Saya duduk di depan dia, di depan meja dia, buka bukunya dibalik, dicatat, dia duduk di samping saya, nggak pernah lihat. Itulah rabun dekatnya para guru. Maka yang nggak bisa belajar, saya nyontek dengan tenang-tenang. Pernah satu kali ketahuan ada catatan gurunya, soal ada jawaban saya bahkan nggak lihat bukunya, lihat catatan dia langsung isi jawaban semua. Setelah itu saya bagi ke teman-teman sampai satu kelas. Setelah itu guru itu minggu depan masuk, “Saya bangga dengan kelas ini. Hasil ujian kali ini semuanya bagus-bagus, saya bangga kalian memang hebat. Saya doakan supaya kalian boleh terus seperti ini.” Artinya terus nyontek gitu maksudnya dia?
Saya tidak pernah cinta ilmu, saya tidak pernah cinta belajar, saya cuma tahu saya takut mama. Saya takut aturan dari mama, maka saya kerjakan. Dan itulah yang dikerjakan dengan Perjanjian Lama, takut dibuang dari kelompok yang disebut dengan anak Abraham. Yang diberikan nama, diberikan makna, maka istilah anak Abraham ini bagi mereka sangat penting. Sama seperti kita yang dari Sumatera Utara. Nggak Kristen nggak apa-apa asal jangan tidak beradat. Kalau dibilang nggak beradat itu sudah kerak neraka pun sudah lewat itu. Jangan sampai dibilang nggak beradat, tapi generasi baru sudah lain sekarang. Tanya apapun nggak tahu, saya bahkan lebih tahu daripada teman-teman yang Batak kadang-kadang. Saya bilang parah kalian, parah.
Inilah yang kemudian mereka pegang baik-baik. Kami ada di dalam keturunan Abraham, kami mesti pegang nama ini. Maka mereka jalankan. Tuhan Yesus ketika datang mengatakan bukan itu, bukan karena takut, tapi karena cinta. Karena kasih kepada Bapa, maka kamu lakukan, bukan takut. Apa bedanya ketika saya kecil kalau keluar, saya itu waktu remaja pulang sekolah, tas dibuang, makan, mandi, ganti baju langsung keluar. Main sama preman dekat rumah. Mama cuma bilang, “Pulang nggak boleh lewat jam 6!” Maka saya ada satu jam yang dikasih sama om saya, itu saya selalu bawa, taruh di kantong bikin alarm. “5.55” Alarm itu tirit-tirit, lima menit lari pulang sebelum jam 6. Sebelum jam 6 saya mesti pulang. Beda dengan waktu kita baru menikah, pasangan kita, istri kita, suami kita bilang, “Pulang jangan kemalaman ya, kalau bisa jangan lewat jam 6.” Apa kita akan pasang alarm 5.55? Atau kita akan mencoba secepat mungkin pulang? Kita akan secepat mungkin pulang, kenapa? Karena kita memang kepengen pulang, maka saya akan secepat mungkin pulang. Sebelum jam 6 kalau bisa jam 3 saya sudah pulang, kalau bisa jam 2 saya sudah pulang, jam 12 siang habis makan saya pulang. Beda dengan kalau jalankan hukum, “Jam 6 ya!” Ok jam 6 saya 5.55 baru lari pulang, sampai depan rumah buka pagar 5.58, buka pintu 5.59, masuk sampai rumah pas jam 6 kurang tiga detik tutup pintu. Terus mama lihat jam, itu jamnya yang detik masih belum kena ke jam 12 masih tik-tik, langsung lega. “Belum jam 6 kan?” Dua-dua belum jam 6, tapi satu menjalankan karena hukum, satu menjalankan karena cinta kasih.
Tuhan Yesus memakai jumbai karena Dia cinta kepada Bapa-Nya sebagai tanda aku anak Abraham. Tanda daripada jumbai itu ada empat, salah satu di dalamnya yang pertama adalah “Emet”, kebenaran. Kedua adalah “Hesed”, cinta kasih Allah. Yang ketiga adalah “Rahamim”, belas kasihan Tuhan. Yang keempat adalah “Tzedakah”, bagaimana menjalankannya sebagai kesaksian. Empat hal ini sebagai menjadikan mereka tanda anak Abraham. Emet, ketika Kristus datang Dia menunjukkan Aku bukan menjalankan kebenaran, tapi Akulah kebenaran. Akulah kebenaran, karena kebenaran yang dimaksudkan dengan emet dalam Perjanjian Lama adalah kebenaran yang tidak dipertanyakan, itulah tanda anak Abraham. Anak Abraham menjalankan kebenaran tanpa bertanya. Seperti Abraham ketika dipanggil keluar dari tanah Ur, pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dari rumah bapamu, ke negeri akan Kutunjukkan kepadamu. Sebagai seorang Sumeria dia tahu di bawah kolong langit tidak ada yang lebih baik daripada Sumeria, tapi dia pergi. Artinya dia dipanggil keluar dari tempat yang terbaik ke tempat yang jelek. Kanaan dibandingkan dengan Sumeria pada zaman itu, Kanaan itu barbar, tempat barbar. Nggak ada apa-apanya. Nggak ada kebaikan di sana. Kaum barbar yang payah. Beneran payah dibandingkan dengan kaum Sumeria yang mampu menciptakan jam, matematika, astronomi, astrologi, sistem administrasi, irigasi, peternakan modern, tangga sekalipun, gedung tinggi, batu bata, semua mereka ciptakan. Di zaman Abraham bahkan, mereka semua sudah mengenalnya. Pergi ke tempat yang barbar, ngapain? Kalimat ini nggak pernah keluar dari mulut Abraham. Ketika Tuhan perintahkan kepada dia, “Itulah kebenaran bagi aku dan aku jalankan. Aku jalankan.”
Inilah nanti yang menjadi perbedaan di antara 2 nama ini. Satu menjalankan “Apa yang kuinginkan, supaya orang melihat aku.” Di dalam nantinya, anak Abraham cirinya adalah, “Aku menjalankan kehendak Tuhan supaya orang melihat Tuhan.” Maka, gereja ke depan, apa yang kita lakukan supaya kita boleh menjadi besar dan seluruh Yogyakarta melihat GRII Yogyakarta itu adalah yang paling hebat atau menjalankan kehendak Tuhan supaya nama Tuhan boleh dipermuliakan? GRII menjadi suatu masa, nanti memasuki suatu masa yang sulit karena dari masa-masa di mana awal GRII adalah orang-orang yang dikumpulkan melalui SPIK dari tahun ’84. Maka, tahun ’89, GRII itu mulai bisa dimulai itu adalah orang-orang dari belajar. “Kami ingin jadi orang reformed. Kami ingin belajar. Kami ingin mengenal firman sedalam-dalamnya.” Itulah generasi yang pertama. Tetapi, setelah gereja satu per satu jadi, orang-orang yang datang bergeser. Datang ke reformed karena apa? Menjadi orang reformed karena apa? Maka, kami di STEMI mengalami satu pergumulan yang dalam.
Dulu, ketika mengadakan SPIK di Jakarta, “Pengumuman hari ini, SPIK akan diadakan bulan depan, 2 bulan akan datang,” misalnya. “Tanggal 22 Agustus,” misalnya. Maka begitu diumumkan, besok Tanah Abang 3, kantor tempat di mana kita, GRII berkantor dan STEMI langsung diserbu oleh utusan-utusan kampus, datang meminta jatah kampus. Saya dengar cerita ini dari Bapak Johan Murjanto. Waktu itu, dia masih mahasiswa. Utusan dari Trisakti datang, minta jatah 300. Beli putus, bawa ke kampus. Itu direbut tiketnya. Itu bukan gratis. Tiket bayar dari zaman dulu. Direbut di kampus. Hari ini, kita masuk kampus. “Ini ada SPIK, Saudara-saudara. Silakan daftar.” Semua cuma liatin. Selesai kita sharing, kita buat, “Ada yang mau beli tiket?” “Hehehe..” Dulu nggak perlu. Kita nggak perlu pergi ke kampus kasih tahu. Umumkan dari mimbar hari Minggu, hari Senin tersebar ke seluruh Jakarta. Itu semua langsung berkumpul di Tanah Abang. Sudah minta jatah. Urus bus sendiri, datang sendiri. Sekarang mesti sudah kayak gitu, “Bayar?” Memangnya, makan nggak usah bayar? Belum lagi, ada yang komentar, “Mahal sekali, tujuh puluh lima ribu!” Saya kepengen buka─ Saya kalau di Jakarta, ke mana-mana pakai sandal jepit karena pelayanan mahasiswa, berusaha jadi mahasiswa ─sandal jepit, saya tabokin. Plak! Sekalian. Kenapa? Mahal! SPIK generasi yang pertama dari tahun ’84 sampai 2006. SPIK di 2006, seri yang terakhir dari yang pertama itu, itu bayarnya 150.000, saya masih ingat. Sekarang, masih 150.000 itu umum. Bahkan, setengah harga untuk mahasiswa, 75.000. Kok, bayar mahal, ya? 20 tahun tidak bertambah uang pendaftaran. Bahkan, kurang jadi setengah. Masih bilang mahal. Bukan kepengen buka sandal jepit, tabokin?
Inilah pergeseran. Kenapa bergeser? Dan bahkan yang menjawab itu, yang bertanya itu adalah yang beribadah di GRII. Kenapa bisa bergeser? Karena lupa akan mandat yang dari awal. GRII didirikan di dalam konteks reformed dan Injili. Reformed bukan hanya percaya, “Oh, saya percaya teologia reformed. Oh, saya suka teologia reformed.” Nggak ada yang tanya kita suka, kita percaya. Reformed itu berarti artinya kita boleh kembali kepada firman sedalam-dalamnya. Karena itulah dilakukan SPIK itu teologi itu bersifat doktrinal, doktrinal, doktrinal, doktrinal. Kita hampir nggak pernah hanya beberapa kali ada SPIK keluarga, SPIK untuk anak muda beberapa kali, sisanya semuanya doktrinal. Kenapa? Karena ini reformed. Bagi kita, “Oh, sudah lewat masanya.” Maka, kita akan lebih, lebih apa? Lebih rusak?
Di dalam Perjanjian Lama, ada 10 hari raya yang di mana mereka boleh datang ke Bait Allah. Hanya 10. Dicatat di Perjanjian Lama ada 9 ditambah 1 ada penahbisan Bait Allah, Hanukkah. 10x mereka boleh datang kepada Bait Allah. 10x. Nanti, setelah zamannya Kristus, kita dibebaskan, kata Ibrani, dengan keberanian percaya kita, bahkan berani sampai ke belakang tabir. Setelah dibebaskan, kita boleh datang beribadah berapa kali datang menghadap Tuhan? Dibebaskan. Zaman baru. The new name. New era. Kita boleh datang berapa kali? John Calvin menafsirkan, jikalau Perjanjian Lama diikat 10x dalam 1 tahun, maka ketika dibebaskan, harusnya kita mulai datang dengan bebasnya. Dia bikin menjadi 10x seminggu. Yang nggak datang, dikunjungi sama dia. “Kenapa kau nggak datang?” Setiap hari ada PA ekspositori. Belajar firman tiap hari. Sekali mimbar ekspositori itu 3 jam. Kalau yang datang lebih dari kapasitas gereja, dia bikin sesi kedua. Dia bahkan bisa bikin sampai sesi ketiga di gereja Jenewanya. Dia khotbah sampai 10 jam sehari. Nggak papa selama jemaatnya boleh dengar firman. Selama 6 hari, setiap hari ada mimbar ekspositori. Hari Jumat ada mimbar PA khusus. Hari Sabtu ada mimbar untuk persekutuan doa. Hari Minggu 2x ibadah. Bukan pilihan, tetapi 2x ibadah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Artinya, pagi datang, sore datang. Bukan mau pagi atau sore? Silakan pilih. Bukan!
Maka, 6x ekspositori tambah 1 PA khusus, tambah 1 PD, 8. Tambah 2x hari Minggu. 10x. Inilah dia tafsirkan sebagai kebebasan. Sama seperti kalau kita lagi pacaran, calon mertua kita bilang, “Karena baru pacaran, jangan sering-sering datang, ya.” Kan orang zaman dulu kayak gitu, ya. Seminggu cuma boleh sekali di malam minggu dan sebelum jam 9 sudah boleh pulang. Artinya, ya, waktunya terbatas. Nanti, sampai satu hari, kita melamar anaknya. OK, sudah tunangan. Lalu, calon mertua kita bilang, “Sekarang, karena kalian sudah tunangan, kalian sudah bebas. Kamu boleh datang kapan saja. Terus dia bilang, “Uh, sudah bebas! Berarti boleh bebas kan? Saya nggak perlu datang lagi. Kan bebas?”
Ini yang terjadi kepada kita sebagai era baru di dalam GRII. Nanti, orang Yahudi termasuk di dalamnya. Yang mencari Tuhan akhirnya sudah bebas, sudah lega. Sudah, sudah, sudah! Maka, yang lama dibuang. “Kita tidak terikat! Kita tidak mau diikat dengan hukum Perjanjian Lama. Kita tidak mau jadi legalistik!” Akhirnya, kita menjadi antinomian. Apa pun tidak ada. Betapa celakanya kita. Tuhan Yesus tidak membuang seluruh hukum dari Perjanjian Lama. Dia mengubahnya dengan menjalankan seluruh hukum menjadi di dalam cinta kasih. Gereja hari ini, Oh, belajar firman mesti seluasnya di dalam apa saja. Betul, saya setuju! Reformed tidak membedakan belajar firman, wahyu khusus, wahyu umum, kemudian di umum bukan wahyu, bukan! Kita tidak percaya, tetapi juga bukan berarti karena di umum juga adalah wahyu, di luar itu juga adalah kebenaran Tuhan, hidup ini tidak ada pembagian sacred dan sekular, yang sakral dan yang sekular, maka mana aja semua itu adalah untuk Tuhan, karena itulah maka yang sacred saya buang. Nggak pernah ada di Alkitab. Yang ada adalah ditambahkan, dikerjakan menjadi lengkap. Tapi gereja Tuhan cenderung membuang yang baik menggantikan dengan yang salah.
Maka jikalau ke depannya kita kemudian merasa, era baru mari kita kembangkan GRII Yogyakarta. Bagaimana caranya? Jangan terlalu banyak firman, susah cari orang. Lalu bagaimana? Mari kita banyak bersekutu. Perbanyak – lapangan di belakang, lumayan gede lho masih – Nanti dibikin jadi lapangan basket, lapangan badminton, lapangan ini, lapangan ini, terakhir menjadi lapangan buat tinju. Itulah sejarah gereja yang akan terus berulang. Ketika gerejanya tahu berkumpul, berkumpul, berkumpul di dalam, maka akan satu masa di mana kita akan mengeluarkan pedang kita masing-masing dan kita saling membacok. Karena gereja dari awal memang dipanggil untuk pergi, pergi, pergi. Menyerahkan diri di dalam kebenaran Tuhan tanpa bertanya. Abraham keluar dari tanah Ur tidak bertanya. Abraham ketika diperintahkan, dikasih tahu akan punya anak, anak kandung dia, dia tidak bertanya. Alkitab mencatat saat itu dia tidak lagi bisa punya anak, dikatakan sudah mati kuncupnya, itu bahasa orang kuno. Dia tidak lagi bisa berhubungan seks dengan istrinya dan istrinya dikatakan rahimnya sudah tertutup, sudah menopause, nggak bisa punya anak. Tapi karena perintah Tuhan, dia harus melakukannya. 25 tahun memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa lagi, sampai Ishak itu lahir. Ini namanya Emet. Ini namanya kebenaran dari Allah. Ketika Allah berikan, saya jawab iya. Maka Alkitab mencatat kenapa Sarah itu tertawa. “Ah, yang bener aja, lakiku kan udah tua, aku kan udah nggak mungkin bisa punya anak, gimana Dia punya janji punya anak.” Ya ketawa! Mereka adalah orang Sumeria yang tahu banyak hal. Mereka bukan orang bodoh, orang kuno yang bodoh, mereka tahu semuanya itu. Makanya Sarah bisa ketawa, tapi Abraham melakukannya.
Setelah anak ini diberikan ketika dia umur 14 tahun, kira-kira, Tuhan perintahkan, “Bawa anakmu yang kau kasihi, yang satu-satunya itu, bawalah pergi ke atas gunung, persembahkan!” Dia tidak bertanya, dia lakukan. Inilah ciri daripada anak Abraham. Inilah tanda yang dipakai oleh Kristus ketika Dia datang ke dunia ini dan inilah yang Dia teladani ketika Dia naik ke atas kayu salib. Dia tidak bertanya, “Saya kan Anak Allah, kok diperlakukan begini? Di manakah hak Saya sebagai Anak Allah? Kenapa Saya harus jalankan ini?” Dia nggak bertanya, Dia jalankan. Seorang Anak Allah yang menjalankan Emet ini sebagai anak Abraham, keturunan Abraham, the descendant of Abraham, the children of Abraham. Dia diam. Bahkan ketika Dia dicambuk, ketika perempuan-perempuan ada yang menangisi Dia, “Jangan tangisi Aku, tangisilah anak-anakmu.” Yang dicambuk Dia bilang, tangisi anak-anakmu. Bukan Dia yang mesti ditangisi, tangisilah anak-anakmu. Dia menjalankan ini naik ke atas kayu salib, dipermalukan, ditelanjangi, dijadikan orang seperti budak, dijual oleh murid-Nya dengan 30 keping emas, persis seperti penetapan Musa untuk seorang budak. Dia membiarkan diri-Nya hanya seharga seorang budak. Anak Allah Pencipta langit dan bumi, dijual seharga budak, dijadikan penjahat terbesar, dipermalukan seperti manusia tak berguna di atas kayu salib dan Dia menutup mulut-Nya, Dia jalankan. Inilah The Children of Abraham, yang dilanjutkan di dalam Kristus, digenapi di atas kayu salib.
Inilah yang disebut dengan era yang baru, yang lama bukan dibuang, tetapi diubahkan, disempurnakan. Gereja selalu gagal dalam hal ini. Ketika masuk kepada era yang baru, maka yang lama dibuang, menggantikan dengan yang baru. Ketika digantikan dengan yang baru, rusaklah seluruh gereja. Gereja di Indonesia tidak didirikan dengan satu ide, mari kita dirikan gereja. Buat apa? Buat menjadi klub bermain, olahraga, makan-makan? Nggak pernah. Nggak ada sejarah gereja di Indonesia didirikan dengan visi seperti itu. Tapi banyak gereja hari ini melakukannya. Kenapa? Karena melupakan era yang lama, yang harusnya digenapi dengan cinta kasih yang lebih besar, luapan cinta kasih, dilupakan dan digantikan dengan hal yang lain.
Mari kita melihat sekali lagi, Allah menetapkan Sem ini, bukan dicari, Sem ini diberikan, ditetapkan, dan bahkan diarahkan menjadi satu kelompok, satu arah yang baru, satu era yang baru. Kiranya Tuhan memberkati GRII Yogyakarta di dalam era yang baru menjadi satu era yang makin besar, makin dalam, makin dalam. Keberanian belajar firman Tuhan yang makin dalam, keberanian untuk menjalankan firman Tuhan yang lebih makin-makin besar, keberanian untuk bersaksi yang makin berani, bukan makin hari makin enak dan nyaman tinggal di dalam. Kiranya Tuhan memberkati kita dari mencari nama sampai kepada diberikan nama. Kiranya Tuhan memberikan kepada kita satu nama. Di balik itu, nama yang diberikan ini, GRII itu benar-benar menjadi satu nama yang kita boleh nyatakan kepada seluruh Yogyakarta, inilah tempat di mana firman boleh dipelajari sedalam mungkin, di mana firman boleh dikerjakan seketat mungkin, di mana firman boleh disaksikan sebebas mungkin. Mari kita berdoa.
Tuhan berkatilah kami. Kami adalah orang-orang yang bodoh. Kami dengan begitu gampang mencari jalan yang gampang bagi kami dan kami dengan sangat gampang tertipu oleh zaman ini. Bahkan tidak jarang kami tertipu memakai istilah-istilah teologis yang sebetulnya kami plesetkan dan bukan sebagai penafsiran yang lebih baik. Tolong kami ya Tuhan, biarlah kami boleh menjadi orang yang mewarisi visi yang benar, menjadi kelompok dan generasi yang menggenapkan visi dengan lebih baik lagi di tempat ini, sehingga benar-benar nama Tuhan boleh dipermuliakan. Tolong kami ya Tuhan, biarlah kami boleh disadarkan sekali lagi, akan hari-hari depan kami penuh dengan cobaan, hari-hari depan kami yang akan makin sulit, dan hari-hari depan kami yang makin membutuhkan belas kasihan Tuhan boleh memelihara kami. Tolonglah kami ya Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus, kami mengucap syukur, kami berdoa. Amin.
