Mzm. 34
Vik. Lukman Sabtiyadi, S.Th., M.Fil.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Mazmur 34 ditulis di dalam bentuk kesaksian. Maka Bapak, Ibu, Saudara sekalian kita bisa melihat dari bacaan kita tadi, hampir tidak ada menyebut tentang ucapan syukur yang ditujukan kepada Allah. Mazmur 34 dimulai dengan satu niat, komitmen, untuk memuji Tuhan, memuliakan Tuhan dan kemudian mengajak orang-orang lain juga bergabung memuji Tuhan. Lalu pemazmur menyampaikan bagaimana dia berdoa dan bergumul dan bagaimana Tuhan itu mendengarkan dan bertindak. Maka Bapak, Ibu, Saudara sekalian, hari ini saya mau mengajak kita kembali merenungkan apa prinsip-prinsip kesaksian pribadi menurut Mazmur 34 karena salah satu panggilan penting dari orang-orang Kristen yaitu menjadi saksi-saksi Kristus. Hal yang seolah sederhana tetapi betapa sering kita mungkin bingung dan bahkan bukan menyaksikan Kristus tetapi menjadi saksi-saksi yang lain selain dari Kristus.
Yang pertama, kita bisa melihat di dalam Mazmur, khususnya di ayat 2 sampai dengan 4, yaitu satu komitmen untuk meninggikan Allah. Di ayat 2 dikatakan, “Aku hendak memuji Tuhan.” Dan bukan hanya dia sendiri yang memuji Tuhan, dia rindu juga mengajak orang-orang lain memuji Tuhan. Kesaksiannya adalah untuk meninggikan Allah secara pribadi dan mengajak orang-orang lain meninggikan Allah. Bukan meninggikan dirinya, bukan meninggikan umat Tuhan.
Bukan hanya meninggikan Tuhan saat kesaksian itu dilakukan. Tetapi dia mengatakan, “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu”. Segala waktu. “Puji-pujian kepadanya tetap di dalam mulutku.” Artinya dia berkomitmen, bukan hanya waktu dia menuliskan Mazmur 34 atau saat menyanyikan Mazmur 34, atau saat mempublikasikan kesaksiannya di dalam Mazmur 34 ini, dia meninggikan Tuhan. Tetapi dia berkomitmen meninggikan Tuhan setiap saat, sepanjang hidupnya, segala waktu. Dan pujian akan Tuhan itu, tetap dalam mulutnya. Terus menerus berkesinambungan di dalam hidupnya.
Dalam terjemahan Indonesia itu istilah memuji di dalam ayat 2, di dalam istilah aslinya, ini hanya pilihan salah satu saja maknanya, memuji. Tapi di dalam istilah Ibraninya, istilah ini dipakai bukan hanya pujian verbal. Tetapi juga satu ekspresi sujud, tunduk. Artinya ibadah di hadapan Tuhan. Ini bukan hanya pujian verbal, tapi satu pujian yang mengungkapkan beribadah seluruh hidup. Aku mau tunduk, sujud di hadapan Tuhan. Saudara sekalian, pemazmur berkomitmen untuk meninggikan Tuhan bukan hanya secara verbal dengan apa yang dapat didengar oleh orang lain tetapi juga dengan apa yang dapat dilihat oleh orang lain. Kesaksian pemazmur untuk meninggikan Allah bukan hanya secara audible, didengar, tetapi dapat dilihat, visible oleh orang lain. Kita bisa melihat di ayat yang lain, di ayat 14 sampai dengan 15. Pemazmur mengungkapkan betapa pentingnya itu hal yang kelihatan. “Jagalah lidahmu dari yang jahat dan bibirmu dari ucapan yang menipu. Jauhilah yang jahat dan lakukan yang baik, carilah perdamaian dan raihlah dia!” Ini satu ungkapan, ada komitmen untuk meninggikan Tuhan. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata di sepanjang hidup kita.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, seorang hamba Tuhan bernama Alfred Eckley. Dia suatu kali memimpin pertemuan penginjilan. Dan di dalam pertemuan penginjilan ini ada seorang pemuda Yahudi dengan sungguh-sungguh tulus dia bertanya, “mengapa saya harus menyembah orang Yahudi yang sudah mati?” Pemuda Yahudi ini bertanya, “mengapa saya harus menyembah orang Yahudi yang sudah mati?” Yesus maksudnya. “Saya orang Yahudi, kenapa saya harus menyembah Yesus yang adalah orang Yahudi itu, yang sudah mati?” Alfred Eckley menjawab, “karena Dia hidup, Dia nggak hanya mati. Karena Orang Yahudi yang kamu anggap mati itu tidak hanya mati, Dia hidup. Dan hidup-Nya itu dinyatakan di dalam hidupku. Aku dapat membuktikan bahwa Yesus hidup melalui kesaksian hidupku. Dan juga kesaksian hidup banyak orang-orang Kristen di sepanjang sejarah.” Lalu Alfred Eckley ini menuliskan lagu “Kristus Hidup”: Hidup, hidup, ku diselamatkan-Nya. Kau tanya bukti Dia hidup. Dia hidup dalamku.
Apakah sungguh-sungguh hidup kita membuktikan Kristus hidup? Seringkali yang menjadi masalah di dalam kekristenan itu adalah ketidakselarasan, ketidaksinkronan antara kesaksian verbal dengan kesaksian hidup: dengan apa yang kita akui dalam kata-kata kita dan dengan apa yang kita nyatakan secara kelihatan di dalam kehidupan kita. Kita bisa memuji Tuhan, kita bisa mengagungkan nama-Nya melalui mulut kita. Apakah kita sungguh meninggikan Dia di dalam hidup kita? Setelah kita menyanyikan pujian kepada Tuhan di dalam ibadah ini, kita kemudian keluar, selesai dari tempat ini, apakah hidup kita menjadi saksi akan Kristus yang hidup?
Ada begitu banyak tokoh-tokoh di sepanjang sejarah tersandung, karena kesaksian hidup Kristen tidak menyaksikan hidup Kristus. Ada banyak tokoh-tokoh penting di dalam sejarah yang begitu berpengaruh, itu ketika melihat hidup orang Kristen, mereka tidak melihat Kristus hidup di dalam mereka.
Mahatma Gandhi, Saudara sekalian, suatu kali dia datang di Afrika Selatan, ya dia datang ke sebuah gereja, karena dia belum percaya Kristus, dia dianggap kafir dan tidak boleh masuk gereja, dia diusir. Dan di dalam perjalanan hidupnya dia mengatakan dia sangat menghormati Yesus, dia sangat menghormati Yesus. Dia begitu kagum akan khotbah Yesus di bukit, sangat-sangat begitu kagum bahkan dia mengadopsi itu dan memang mencampurkan dengan ajaran-ajaran dia. Tetapi dia menolak orang Kristen, dia tidak mau menjadi Kristen. Mengapa? Karena melihat orang Kristen itu hidup tidak seperti Kristus. Dia mengatakan, “Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka dengan Kristus, tapi saya tidak suka dengan orang Kristen.” Dan dia mengatakan lagi, jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus, seluruh India saat ini pasti menjadi Kristen.
Seorang filsuf Inggris bernama Bertrand Russell. Dia seorang ateis. Tentu Saudara sekalian, tokoh-tokoh yang saya sebutkan ini tidak semua kita itu setuju dan mengimani apa ajaran mereka dan hidup mereka tetapi ada hal-hal yang kita pelajari, Saudara sekalian. Bertrand Russell, seorang filsuf ateis, dia menulis satu buku berjudul Why I am not a Christian. Why I am not a Christian. Dia mengatakan di dalam bukunya itu bahwa dia tidak, dia itu bukan menolak Kristen itu bukan karena menolak doktrinnya, tetapi karena melihat banyak orang Kristen itu tidak hidup sesuai dengan kasih yang diajarkan oleh Yesus, tidak sesuai dengan keadilan yang diajarkan oleh Yesus.
Seorang filsuf Jerman yang sangat terkenal mungkin beberapa kita di sini sangat sering dengar namanya yaitu Friedrich Nietzche. Dia menulis satu buku berjudul Antikristus. Di dalam bukunya yang berjudul Antikristus, Saudara sekalian, dia mengkritik gereja dan salah satu kritiknya karena orang-orang Kristen tidak hidup menurut teladan Yesus Kristus. Baginya, bagi Nietzche Yesus itu figur yang unik, benar-benar menghidupi kasih dan pengorbanan yang begitu luar biasa, tetapi gereja menghidupi narasi yang lain, sistem kekuasaan dan sistem moralitas yang berbeda, tidak mengikuti semangat asli dari Kristus. Dan bahkan dia mengatakan, “Hanya satu orang Kristen dan Ia mati di kayu salib.”
Saudara sekalian, tokoh-tokoh yang saya sebutkan ini, kita tidak semua itu setuju dengan ajarannya, tetapi apa yang bisa kita pelajari, Saudara sekalian? Betapa sering orang-orang itu tersandung pada kekristenan karena apa yang dikatakan oleh orang Kristen diakuinya di dalam kata-katanya tentang Kristus, tentang Alkitab, tidak sungguh nyata di dalam kesaksian hidupnya yang dapat dilihat orang banyak. Pemazmur berkomitmen bukan hanya memuji Tuhan, tetapi sujud di hadapan Tuhan. Bukan hanya memberikan kesaksian secara verbal, tetapi kesaksian yang visibel dapat dilihat oleh orang lain. Saudara sekalian, ada tokoh di dalam Alkitab itu begitu luar biasa. Beberapa waktu lalu itu di masterclass merenungkan tokoh ini, yaitu Yohanes Pembaptis. Tokoh yang begitu luar biasa, tokoh yang juga dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama, akan muncul yang akan mempersiapkan sebelum kedatangan Mesias itu. Tokoh ini akan mempersiapkan terlebih dahulu. Dan bahkan dicatat di dalam Injil tokoh ini yaitu ketika Elisabet itu mengandung dan Elisabet berjumpa dengan Maria yang juga mengandung, Yohanes yang masih bayi, masih kecil di dalam perut ibu, rahim ibunya ini, Saudara sekalian, melonjak kegirangan karena digerakkan oleh Roh Kudus. Tokoh yang begitu luar biasa, Saudara sekalian. Saudara sekalian, kalau ini ibu-ibu yang hamil ya, waktu kira-kira berjumpa dengan Tuhan atau merenungkan Alkitab begitu ya, itu berapa banyak bayi-bayi itu bersukacita luar biasa gitu sampai ibunya juga bersukacita. Ini tokoh yang luar biasa. Dari rahimnya sudah mengenali siapa Kristus, digerakkan oleh Roh Kudus, dan begitu mempunyai banyak pengikut. Dan bahkan orang-orang mengikut dia melihat Yohanes ini begitu luar biasa meninggikan dia. Tapi di dalam pelayanannya dia mengatakan, “Yesus harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Yesus harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Saudara sekalian, ini tokoh yang begitu luar biasa, tetapi mempunyai komitmen meninggikan Kristus begitu luar biasa, Saudara sekalian. “Dia harus makin besar dan aku harus makin kecil.”
Berapa banyak, Saudara sekalian, orang-orang Kristen hanya fokus pada meninggikan diri, membuat diri lebih terkenal, bahkan lebih daripada Kristus? Bahkan orang itu bisa lupa Kristus itu seperti apa, ajarannya seperti apa, tapi sangat ingat hamba Tuhannya seperti apa, kesukaan hamba Tuhannya apa, misalnya, kutipan-kutipan hamba Tuhannya yang terkenal apa, lebih ingat daripada ayat-ayat Alkitab, Saudara sekalian. Yang pertama, kesaksian di dalam Mazmur 34 adalah satu komitmen untuk meninggikan Kristus baik melalui kata-kata dan juga melalui hidup kita.
Yang kedua, saudara sekalian, kesaksian pemazmur didasarkan pada penghayatan hidup bergaul dengan Allah. Pemazmur bergaul dengan Allah di dalam hidupnya kemudian dia nyatakan sebagai kesaksian di dalam Mazmur 34. Kita bisa melihat latar ini di dalam ayat yang pertama dikatakan bahwa Mazmur 34 itu mempunyai latar kisah Daud, kisah hidup Daud ketika ia berpura-pura tidak waras di depan Abimelekh sehingga ia diusir, lalu pergi. Saudara sekalian, ini kisah yang unik sekali, ya. Saudara sekalian, Daud adalah tokoh yang begitu luar biasa di dalam Alkitab. Daud melakukan banyak hal yang luar biasa yang tidak banyak dilakukan orang-orang di Alkitab. Contohnya, Saudara sekalian, ini yang sangat kita kenal. Hanya umur belasan tahun, ini masih remaja, nih, masih remaja. Saya membayangkan, saudara sekalian, ya. Saya melayani di remaja juga. Anak-anak remaja ini kemudian, ya, suatu kali itu seperti Daud menghadapi Goliat. Bayangkan seperti inilah ketika Daud itu menghadapi Goliat. Remaja-remaja, masih remaja. Goliat badannya begitu besar, pengalamannya begitu banyak, ototnya begitu luar biasa, Saudara sekalian. Tetapi Tuhan menyertai Daud dan Tuhan memakai Daud yang masih remaja ini untuk mengalahkan Goliat. Dan di dalam sepanjang Daud berperang, Alkitab mencatat Daud dipenuhi dengan kemenangan-kemenangan karena penyertaan Tuhan. Sampai-sampai orang itu memuji Daud, mereka menyanyikan Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa. Luar biasa sekali.
Orang-orang lain yang takut kepada Daud, orang-orang lain yang gentar kepada Daud. Tapi Saudara sekalian, tokoh yang sama, Daud ini, juga ada ketakutan ketika berjumpa dengan Abimelekh, dia ketemu orang yang begitu menakutkan bagi dia. Mungkin ini konyol sekali, Saudara sekalian. Jadi pura-pura gila. Saudara sekalian, pernah nggak ketemu orang yang Saudara sekalian sangat ketakutan sampai pura-pura gila? Yang adanya seringkali pura-pura lupa, ya. Orang lewat kita nggak suka. Lalu, “Ah, halo saya, eh, kita sudah ketemu.” “Oh, iya ya. Kapan ya?” gitu. Pura-pura lupa. Atau pura-pura sakit, Saudara-saudara. Kalau kita nggak suka, kita lagi bad mood, aduh, bos lagi suruh ini; pura-pura sakit. Ya, aduh, pelayanan ini nggak suka; saya pura-pura sakitlah misalnya, Saudara sekalian.
Oh, tokoh yang sangat disertai Tuhan yang imannya itu luar biasa, Saudara sekalian, luar biasa, menulis Mazmur 23 luar biasa, tapi bisa pura-pura gila. Ini konyol sekali. Dan heran lagi adalah Tuhan menyelamatkan Daud, melepaskan Daud dengan cara itu. Lalu Daud menyaksikan itu sebagai refleksinya dia menuliskan Mazmur 34, bagaimana Tuhan melepaskan. Di dalam penghayatan dia bergumul dengan Tuhan, di Mazmur 34, Daud itu mencatat bagaimana dia bergumul, menderita, apa yang dia alami dengan sungguh-sungguh jujur di hadapan Tuhan.
Kita bisa melihat di ayat-ayat 5 misalnya, “kegentaranku”, dia ungkapkan, dia begitu gentar, dia mengalami kegentaran di ayat 5, Saudara sekalian. Kegentaran itu bukan hanya soal dia mengalami perasaan takut, tapi ada objek yang memang dia takuti, yang real, yang nyata. Bukan halusinasi dia, bukan. Bukan asumsi dia saja, bukan. Tapi sungguh-sungguh ada objek yang dia takuti.
Ayat 7 dan ayat 18 dia mengatakan dia seperti orang yang tertindas dan kesesakan. Dia seperti orang yang begitu lemah tidak bisa berbuat apa-apa selain minta tolong kepada Tuhan. Ayat 19 dikatakan dia seperti orang yang remuk hati dan patah semangat. Ini artinya depresi dan putus asa yang begitu luar biasa. Orang yang begitu hilang harapan, hilang damai sejahtera. Tadi kita membaca ya di ayat bacaan Alkitab kita di Amsal 17, “Semangat yang patah mengeringkan tulang.” Nggak ada lagi harapan. Tulang sampai kering itu artinya mati, Saudara sekalian. Pernah lihat tulang yang kering? Ya, tulang yang sudah mati ya. Di Amsal 18:14 dikatakan, “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya. Tetapi siapa dapat memulihkan semangat yang patah?” Orang yang semangat masih bisa loh menanggung penderitaan. Tetapi orang yang sudah patah semangat, siapa yang bisa memulihkan?
Daud juga menyatakan di ayat 20 pergumulannya, penderitaannya itu suatu kemalangan, hal yang buruk, yang tidak menyenangkan, yang menyakitkan, sesuatu yang jahat yang di luar dari rencananya yang tidak seperti yang diharapkan. Saudara sekalian, Daud begitu bergumul di hadapan Tuhan. Saudara sekalian, uniknya Mazmur ini ditulis di awal kalimatnya itu menggunakan secara struktur itu menggunakan urutan alfabet ya. Alfabet itu kalau kita A sampai Z gitu, ya. Jadi misalnya aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu. Itu awalnya huruf yang digunakan tuh A. Lalu yang ketiga karena Tuhan jiwaku bermegah itu B. Kalau di dalam Ibrani itu Alef ya sampai Taf. Ada penafsir yang menyatakan seperti ini ya, bahwa mengapa Mazmur ini dituliskan secara alfabetis di dalam huruf-huruf di depannya, karena pemazmur mau menyampaikan pesan bahwa pergumulan yang dia ungkapkan di dalam Mazmur 34 ini juga mencangkupi pergumulan setiap orang di dalam kesehariannya.
Seringkali, Saudara sekalian, ketika kita bergumul, kita mengalami kesusahan, penderitaan yang seringkali terjadi adalah kita ada kecenderungan untuk memahami bahwa hanya kita yang bergumul seperti itu. Orang lain nggak ngerti pergumulan itu. Kalau orang lain ngerti, orang lain nggak peduli dengan pergumulan itu. Dan bahkan mungkin saja seperti seolah Allah pun tidak mengerti pergumulan itu. Maka nggak heran mungkin kita bisa datang kepada Tuhan lalu mendengar kebenaran firman Tuhan lalu kita bisa ungkapkan, kita sampaikan, kita nilai bahwa, oh firman itu nggak relate dengan saya, nggak relate, nggak kena dengan pergumulan saya, nggak relevan.
Saudara sekalian, kita bisa lihat Alkitab mengungkapkan begitu banyak pergumulan-pergumulan. Dan saya percaya, setiap pergumulan kita di sepanjang hidup kita tidak ada yang tidak terdapat dalam Alkitab. Nggak ada. Misalnya saja, Saudara sekalian, misalnya kegentaran. Siapa di sini yang nggak punya objek ketakutan? Kita punya objek-objek yang menakutkan kita. Bukan hanya perasaan takut, tapi kita takut pada suatu objek tertentu. Saya misalnya, Saudara sekalian, itu takut ketinggian tapi nggak sampai fobia. Pernah saya mencoba merenungkan dan menelusurinya, kenapa ya saya takut ketinggian, mungkin saja itu karena di Banjarmasin itu tidak ada daerah yang sangat tinggi ya. Nggak ada gunung-gunung seperti di Jawa. Nggak ada jembatan penyeberangan yang seperti di Jakarta misalnya. Jadi, rata-rata semuanya ya rendah saja begitu. Saya ingat waktu saya pertama kali naik ke gedung gereja di Banjarmasin itu saya sampai agak seperti goyang itu. Waktu kecil pernah diajak ke jembatan Barito. Itu penyeberangan dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Tengah. Itu saya sampai gemetar-gemetar, tapi untungnya dipegangin orang tua. Karena sungainya begitu besar, jembatannya itu begitu panjang dan begitu tinggi. Jalan sampai gemetar. Dan waktu pun kuliah di Jakarta naik jembatan penyeberangan itu saya sampai agak goyang. Tapi lambat laun ya puji Tuhan itu selesai ya.
Kita mengalami ini, Saudara sekalian, setiap kita punya objek ketakutan. Ada orang yang pernah mengalami kecelakaan, tabrakan mobil, tabrakan motor misalnya. Sampai ketika dia naik mobil, naik motor itu dia gemetaran. Ada objek ketakutan. Mungkin ada juga Saudara sekalian yang begitu gentar ke gereja, setiap kali masuk gereja kegentaran, ketakutan ditegur hamba Tuhan. Kita punya objek ketakutan kita dan pemazmur juga demikian.
Di ayat 20 misalnya lagi Saudara sekalian, pemazmur mengatakan kemalangan dia alami. Hal yang tidak menyenangkan kita semua mengalami itu kan, hal yang tidak sesuai dengan rencana kita, yang menyakitkan, dan hal itu buruk dan jahat, kita mengalami itu. Suatu kali di dalam pelayanan Rumah Sakit ya, kita biasanya memang ada pelayanan rutin Rumah Sakit. Saya seperti biasanya itu ketemu orang sakit ya, ketemu orang sakit lalu kemudian ngobrol-ngobrol ya. Ternyata Saudara sekalian, dia cerita, “Ini sakit gimana ceritanya?” begitu ya. Lalu dia bilang, “Eh, saya ini sebenarnya ke sini, Pak, saya tidak berencana sakit, Pak. Saya berencana berlibur ke Jogja ya. Tetapi baru satu, dua hari liburan di Jogja langsung masuk Rumah Sakit.” Lalu saya bilang, “Wah Pak, ini berarti liburannya di Rumah Sakit di Jogja ya, Pak?” Ya, gitu ya. Ini nggak direncanakan. Lalu kemudian Bapak ini bilang lagi, “Eh, rencananya kapan pulang, Pak?” “Ini setelah sembuh saya langsung pulang lagi.” Loh, ini beneran berlibur di Rumah Sakit di Jogja ini, Pak. Ini malang Saudara sekalian. Kemalangan, sesuatu yang tidak direncanakan, sesuatu yang buruk kita alami. Kita mengalami itu.
Saudara sekalian, pemazmur mengungkapkan pergumulannya. Setiap istilah-istilah, kiasan-kiasan yang dipakai mencakup setiap pergumulan kita dalam keseharian kita. Tetapi dia tidak hanya berhenti bergumul. Dia melakukan sesuatu terhadap pergumulannya dan apa yang dicatat yang dia lakukan? Dia berdoa. Kita bisa melihat ungkapan-ungkapan yang pemazmur katakan, bagaimana dia datang kepada Tuhan mencari Tuhan di ayat 5, ayat 11, dia mencari Tuhan senantiasa, terus-menerus, dan hanya percaya kepada Tuhan. Tidak mendua hati di dalam pergumulannya. Dia melihat hanya Tuhan saja pengharapannya, Tuhan saja sumber kelepasannya, Tuhan saja sumber keselamatannya. Di ayat 6 dia memandang Tuhan. Harapannya adalah seperti itu. Kita memandang cahaya, suatu sinar. Kita memandang lampu ini yang terang, kemudian terang lampu itu menyinari wajah kita. Dia memandang Tuhan, dia datang kepada Tuhan dengan harapan sinar terang Tuhan menerangi wajahnya yang gelap, yang penuh pergumulan ini. Di ayat 7 dan ayat 18 dia berseru kepada Tuhan. Ini mengatakan dia sungguh-sungguh datang dengan –bukan hanya doa yang biasa– dia sungguh-sungguh dengan gigih datang kepada Tuhan. Dan dia teriak, teriak minta tolong, Saudara sekalian. Dia berlindung kepada Tuhan di dalam ayat 16, 19, dan 23.
Kita bisa melihat di sini –Saudara sekalian– pemazmur itu menggunakan rangkaian metafor, kiasan anatomi, yang begitu kuat. Kita lihat ada kiasan mata, telinga, wajah, hati, tulang. Dan bukan hanya itu saja. Pemazmur mengungkapkan itu bagaimana dia bergantung kepada Allah. Dia berteriak kepada Allah, Saudara sekalian. Dia melakukan sesuatu yaitu dia berdoa. Ini artinya –Saudara sekalian– artinya ada unsur kebertubuhan manusia. Manusia adalah makhluk yang bertubuh. Dan manusia yang bertubuh itu didefinisikan dengan apa yang dia lakukan. Siapa manusia tidak terlepas dengan tubuhnya? Dan itu artinya manusia adalah apa yang dia lakukan.
Nah, ada kecenderungan –Saudara sekalian– ada kecenderungan: kadang-kadang atau bahkan mungkin seringkali ketika kita bergumul, ketika kita menderita, maka kita melihat doa itu seperti bukan tindakan nyata. Doa itu seperti seolah-olah yang pasif. Saudara sekalian, kalau misalnya bergumul, ya, lalu kemudian misalnya susah pekerjaan, gitu ya, atau susah ekonomi, lalu kemudian sharing ke hamba Tuhan. Lalu hamba Tuhan sudah jelaskan firman Tuhan. Lalu, “Kita doa, ya?” Gitu, ya. Sudah doa, gitu, itu kan seperti nggak selesai. “Saya harapnya itu kalau saya nggak dapat pekerjaan: “Ini ada lowongan kerja untuk kamu! Ayo kerja aja di gereja!” Kita melihat doa itu “doang”.
Memang ada ungkapan ora et labora: berdoa dan bekerja. Alkitab juga menyatakan seperti itu, bahwa berdoa disertai dengan bekerja. Tetapi –ini nggak salah begitu, ya, Saudara sekalian– tapi ada kecenderungan doa itu bukan bekerja! Doa itu bukan tindakan langsung atau solusi langsung yang praktis, yang konkret! Doa saja itu nggak cukup! Harus ditambah bekerja! Lakukan sesuatu, dong!
Tapi –Saudara sekalian– coba kita lihat apa yang dinyatakan pemazmur di sini. Kita bandingkan, ya, keseluruhan catatan pemazmur. Di dalam kesaksiannya, kebanyakan yang diungkapkan hanya satu ayat, Saudara sekalian, yang menyatakan apa yang dilakukan pemazmur di dalam selain doa: yaitu dia pura-pura nggak waras. Itu. Pura-pura nggak waras. Dan selebihnya –di dalam Mazmur– doa! Mencari Tuhan! Memandang Tuhan! Berseru kepada Tuhan! Doa itu nggak pernah doa doang, Saudara. Nggak pernah! Maka, jangan pernah kita menganggap doa itu hal yang sederhana, yang begitu remeh. Bukan, Saudara sekalian!
Ada satu kebangunan rohani yang terjadi, yang begitu unik di Korea. Bagaimana kebangunan rohani, banyak orang menjadi Kristen di Korea, Saudara-Saudara? Dimulai –salah satunya– melalui persekutuan doa dan pendalaman Alkitab! Doa dan Bible study! Kadang-kadang, kita pikir, kalau kebangunan rohani harusnya dimulai lewat apa? Banyak orang penginjilan, kan? Pergi. Bermisi. Gitu, ya? Saudara sekalian, sejarah mencatat –dan bukan hanya salah satu, ini yang sangat-sangat besar, ya, Saudara sekalian– di Korea, di Pyongyang –waktu itu– bahkan disebut sebagai Yerusalem-nya Asia waktu itu. Karena ada persekutuan doa, ada Bible study yang kemudian terus-menerus rutin dikerjakan setiap minggunya. Lalu laun semakin banyak orang datang. Semakin banyak orang padahal pemerintah ada penganiayaan, ada pelarangan, bahkan ada masa-masa kemudian itu dikuasai oleh Jepang. Tapi doa itu kemudian membakar api semangat Kekristenan!
Doa nggak pernah doa doang! Kenapa –mungkin– kita itu, doa kita kurang berkuasa? Karena kita mungkin mempunyai pandangan doa itu doa doang! Salah! Ada buku yang baik sekali, ya, Dangerous Prayer, doa yang berbahaya. Doa itu berbahaya Saudara sekalian. Kenapa doa kita kurang berbahaya Saudara sekalian? Ya, karena kita salah memahami doa. Donald Bloesch mengatakan, “Doa bukan sekedar sebuah permohonan, tapi permohonan yang gigih. Doa adalah permintaan yang aktif kepada Allah. Doa tidak hanya berisi refleksi atas segala janji Allah, melainkan keyakinan berpegang pada janji-janji itu.” Berusaha berpaut pada Allah. Doa sungguh-sungguh teriak minta tolong kepada Tuhan. Tuhan bangkitkan kami ya Tuhan! Pemazmur datang kepada Tuhan dikatakan dia teriak minta tolong kepada Tuhan, dia teriak Saudara sekalian. Unik sekali Saudara sekalian, memang kita percaya kedaulatan Allah, kita percaya Allah sanggup melakukan segala sesuatu, dan kita percaya Allah bisa melakukan sesuatu bahkan sebelum kita mendoakannya, ya kan? Kita percaya Allah berdaulat. Nah, ini misteri praktis yang sangat-sangat sulit mungkin dijelaskan, tapi saat yang sama Alkitab juga menekankan ini kebenaran Alkitab bahwa Tuhan memakai doa kita sebagai tindakan aktif untuk Allah itu bekerja.
Suatu kali ada seorang bernama Frances Ridley Havergal, seorang perempuan yang waktu umur 11 tahun itu ibunya sakit parah, sudah sangat kritis. Lalu di ranjang kematiannya, di saat-saat kritis itu Havergal (panggilan kecilnya itu Fanny), Fanny itu di samping ibunya, di samping ranjang itu, lalu ibunya berpesan kepada Fanny dengan suara yang begitu lembut karena sudah sangat kehilangan tenaga. Dia bilang, “Fanny, berdoalah kepada Tuhan supaya Tuhan mempersiapkan engkau untuk dipakai Tuhan seturut dengan rencana Tuhan.” Pesan yang begitu sederhana, tapi pesan ini masuk ke dalam hati Fanny dan dia terus mengingat, merenungkan kata-katanya dan ini menjadi doanya seumur hidup. Dia terus berdoa, “Tuhan siapkan aku untuk dapat Engkau pakai sesuai dengan rencana-Mu, ya Tuhan. Tuhan siapkan aku untuk Engkau pakai sesuai dengan rencana-Mu.” Suatu kali ketika Fanny dewasa, dia berkunjung kepada temannya, kepada rumah temannya yang dia kenal, dan di rumah temannya itu dia ketemu juga ternyata orang-orang lain, ya, orang-orang lain. Lalu ketika ngobrol-ngobrol kemudian dia mengetahui bahwa orang-orang lain ini ternyata belum mengenal Kristus atau belum sungguh-sungguh Kristen. Kemudian dia berkomitmen dalam hatinya, dia berdoa, “Tuhan berikanlah rumah ini sungguh-sungguh untuk percaya kepada Tuhan.” Lalu besoknya dia datang lagi, jadi berturut-turut 5 hari dia datang, dia doa, dia datang, dia doa. Hari kelima mereka semua bertobat. Mereka percaya kepada Yesus. Dan kemudian karena peristiwa ini, refleksi atas peristiwa ini, dia menulis satu lagu “Pakai Hidupku Ini”. Doa itu membakar kita untuk hidup bagi Kristus, untuk bersaksi bagi Kristus.
Yang terakhir, Saudara sekalian, pemazmur bukan hanya bersaksi tentang bagaimana dia bergaul dengan Allah, bagaimana dia menyatakan itu kesusahan, pergumulannya, lalu dia berdoa di hadapan Allah. Dia juga memberitakan, menyaksikan apa yang Allah lakukan, apa yang Allah kerjakan, Saudara sekalian. Dan begitu banyak ayatnya ketika saya merenungkan ini. Bahkan lebih banyak ayat yang pemazmur pakai untuk menyatakan apa yang Allah lakukan daripada ketika dia menyampaikan apa yang dia derita dan apa yang dia doakan bagaimana dia berdoa. Di ayat 5, 18-20 dia mengatakan Tuhan menjawab dan melepaskan. Artinya Dia bukan hanya menjawab dengan kata-kata, tetapi Dia, Tuhan, juga melepaskan dengan riil, dengan nyata objek ketakutan dari pemazmur. Lalu Tuhan mendengarkan, menyelamatkan, ayat 7, Tuhan mengutus malaikatNya bahkan, Saudara sekalian, kepada setiap umat Tuhan, ya, khususnya di sini, pemazmur juga, dalam hal ini, Mazmur 34. Mengutus malaikat-Nya, ada malaikat Tuhan di antara orang-orang percaya. Artinya apa? Kalau di dalam barisan pasukan militer perang, pasukan itu mengelilingi orang yang dilindunginya, khususnya, yang paling penting yaitu raja. Maka, ketika Alkitab mengatakan ada malaikat Tuhan mengelilingi kita, itu Tuhan menganggap kita begitu istimewa seperti seorang raja yang dikelilingi oleh pasukan. Ada kebaikan Allah yang dikatakan bisa dikecap, bisa dilihat secara nyata, secara inderawi. Bukan kebaikan-kebaikan hanya teoritis saja, tetapi yang bisa dialami, yang bisa dirasakan. Kebaikan-kebaikan-Nya yang sungguh nyata, riil di dalam hidup kita. Kebaikan-kebaikan yang bisa dialami secara tubuh jasmani kita.
Seorang penafsir menjelaskan, Saudara sekalian, bagaimana pemazmur itu menggunakan kiasan anatomi terhadap Allah, menyatakan bahwa Allah yang personal itu adalah Allah yang disingkapkan dengan kiasan tubuh. Kita bisa melihat di situ, ada mata yang melihat, mendengar berarti ada telinga. Artinya ini: Tuhan memiliki kepekaan yang sangat besar terhadap kebutuhan manusia. Allah digambarkan dengan kiasan bertubuh. Allah adalah Allah Roh, tetapi Mazmur 34 menggunakan kiasan bertubuh yang mau menyatakan, Allah itu sangat peka dengan kebutuhan manusia. Bukan hanya kebutuhan rohani, tetapi juga kebutuhan jasmani. Maka, Saudara sekalian, tidak heran, di dalam Perjanjian Lama, di dalam Mazmur 34, ungkapan tubuh itu kiasan kepada Tuhan. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus bertubuh.
Saudara sekalian, bagaimana kesaksian Yesus Kristus? Dia datang. Dia bertubuh. Dia menghayati pergumulan manusia. Di Mat. 5:16 mengatakan bahwa ketika orang-orang melihat Yesus, melihat perbuatan Yesus, mengajarkan itu bagaimana ketika melihat perbuatan kita, seharusnya orang-orang itu memuliakan Allah. Di Mat. 15:31, orang banyak itu takjub terhadap mukjizat yang Yesus lakukan dan orang banyak itu memuliakan Allah. Dan di dalam Luk. 23:47, kepala pasukan melihat Yesus dan memuliakan Allah.
Saudara sekalian, Yesus bertubuh. Yesus mengerti segala pergumulan kita. Yesus menghayati setiap kesulitan-kesulitan kita. Dan Yesus yang bertubuh, berinkarnasi mau setiap kita yang percaya kepada-Nya untuk juga hidup bagi Allah, meninggikan Allah sepanjang hidup kita.
Bagaimana kesaksian Kristen, Saudara-saudara sekalian? Ketika orang Kristen itu sungguh-sungguh mengalami perubahan akan Injil yang sejati, perjumpaan dengan Injil yang sejati, kisah hidup kita bukan hanya tentang kita, tetapi tentang Allah. Kita dimasukkan di dalam narasi kisah Allah yang begitu agung, yang mulia dan di situlah, kita dapat sungguh-sungguh mencapai tujuan kita yang terutama, yaitu meninggikan Tuhan. Apakah kesaksian kita sungguh-sungguh meninggikan Tuhan? Apakah kita sungguh-sungguh baik di dalam kata-kata dan di dalam tindakan kita mengagungkan Tuhan, memuliakan nama Tuhan? Kiranya, kita dapat kembali mengevaluasi, merenungkan lagi bagaimana hidup kita di hadapan Tuhan dan kita sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan, kiranya biarlah melalui hidup kita, hidup Kristus yang dinyatakan. Melalui hidup kita, Kristus yang ditinggikan, yang dimuliakan. Mari, kita berdoa.
Bapa kami di surga, kami bersyukur, ya, Tuhan. Kami sudah membaca dan merenungkan Mazmur 34. Bagaimana pemazmur bergumul di hadapan Allah dan juga bersaksi kepada setiap kami. Tuhan, ajar kami sebagaimana pemazmur untuk bersaksi akan Kristus di dalam sepanjang hidup kami, memuliakan Allah bukan hanya di dalam kata-kata kami, ya, Tuhan, tetapi di dalam segala waktu di dalam hidup kami. Tolong kami, ya, Tuhan. Kiranya hidup kami menyatakan hidup Kristus di dalam kami, sehingga setiap orang yang sungguh melihat kami, memuliakan Allah, melihat Kristus, meninggikan Kristus, dan menjadi percaya kepada Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.
