Doa Yesus Untuk Gereja-Nya, 10 Mei 2026

Yoh. 17:9-11

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, banyak hamba Tuhan yang dipakai Tuhan dengan begitu besar, dengan luar biasa, dengan akhirnya dia menjadi berkat bagi banyak orang dan juga kita bisa katakan dia memiliki pelayanan yang berdampak besar. Mungkin bukan hanya skala daerahnya, bukan hanya skala desa maupun kotanya, tetapi luar kota sampai luar negeri. Nah, banyak-banyak hamba Tuhan ketika ditanya, rahasianya, kenapa pelayanan engkau itu begitu besar dipakai Tuhan? Lalu mereka, hamba-hamba Tuhan tersebut sering memberikan jawaban yang serupa. Ya, mereka katakan bahwa yang terpenting di dalam pelayanan adalah bukan strateginya, yang terutama bukanlah kepintaran seorang pelayan Tuhan, seorang pengkhotbah, yang terutama bukanlah kemampuan bisa bicara secara fasih, secara retorika yang baik tetapi yang utama di dalam pelayanan kepada Tuhan adalah kehidupan doa yang mendalam yang berdasarkan janji Tuhan sendiri. Jadi, yang menentukan pelayanan kita berhasil atau tidak secara dampak yang lebih luas, ya, secara umum, ya, hamba-hamba Tuhan yang dipakai Tuhan dengan luar biasa besar adalah ketika dia memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan, kehidupan doa yang benar dan juga terus memandang kepada Kristus yang memberikan janji-janji-Nya di dalam Firman-Nya. Jadi, bukan soal usaha manusia, bukan soal kepintaran manusia, tetapi soal anugerah Tuhan, soal manusia atau pelayan Tuhan yang bergantung kepada Tuhan sendiri.

Para hamba Tuhan sebagai pelayanan pemberitaan Firman Tuhan ini, percaya bahwa pelayanan yang berkuasa lahir dari persekutuan yang intim dengan Tuhan. Jika ada orang yang sungguh-sungguh berlutut di hadapan Tuhan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, yaitu terus bergumul, berdoa, sungguh-sungguh hidup takut akan Tuhan, bersandar pada Tuhan siang dan malam dalam kehidupannya, terus memikirkan hati Tuhan, mana mungkin sih Tuhan tidak mau pakai dia. Kalau ada orang sungguh-sungguh berlutut, mau terus mencari wajah Tuhan, “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya,” orang tersebut terus mencari, memandang kepada Allah yang sejati, berharap kepada Kristus kita akan sulit membayangkan bahwa orang yang begitu bergantung pada Tuhan tidak dipakai Tuhan, tidak dapat kesempatan melayani Tuhan. Itu mustahil. Tidak mungkin ada orang yang sungguh-sungguh cinta Kristus, sungguh-sungguh memikul salib, mau menyangkal diri, mau ikut Yesus, mau mengasihi Yesus dengan kasih yang begitu besar, tidak mungkin Yesus tidak kasih pelayanan. Pasti Yesus kasih pelayanan, pasti Tuhan Yesus menyertai dia. Nggak mungkin. Tetapi sangat mungkin orang yang jauh dari Tuhan, orang yang berdosa, tidak ada kesempatan untuk bisa dipakai Tuhan dan melayani Tuhan dengan begitu besar.

Perlu diperhatikan juga bahwa bukan berarti, ya, Bapak, Ibu, sekalian, ya, kehidupan doa ini, kehidupan doa yang mendalam, relasi dengan Tuhan, menjadi seolah-olah mantra rohani. Kita tekun berdoa, kita terus mencari wajah Tuhan, akhirnya itulah yang menjadi kunci pelayanan berkembang. Pada dasarnya kehidupan doa yang mendalam ini menunjukkan bahwa orang tersebut bergantung kepada Tuhan dan rendah hati dan sadar bahwa tanpa Tuhan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi, bukan soal bagaimana kita hidup berdoa dengan lebih tekun lagi, terus cari wajah Tuhan, sebenarnya motivasi hati kita adalah untuk supaya kita dipuji orang dan memiliki pelayanan yang besar yang berdampak, bukan. Tetapi ini bicara soal persekutuan yang intim dengan Tuhan. Kita kenal Tuhan kita nggak, ya. Kita betul-betul mengasihi Tuhan kita nggak ya, yang sudah mengasihi kita terlebih dahulu. Kalau kita sudah sungguh-sungguh mengenal kasih Tuhan, pengampunan Kristus, dan juga kita mau sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, pasti dapat pelayanan. Pasti pelayanannya berkembang, nggak mungkin nggak berkembang, sekalipun sesuai dengan talentanya masing-masing. Sesuai dengan kapasitas orang tersebut masing-masing.

Sehingga kita bisa memandang bahwa doa itu sendiri bukanlah alat yang memaksa Tuhan untuk Tuhan itu bekerja sesuai dengan kehendak saya, harapan saya, cara saya, bukan. Kita berdoa itu bukan untuk mengatur Tuhan. Waktu kita berdoa, kita itu minta diatur oleh Tuhan. Ya, Tuhan tetap berdaulat atas segala sesuatu dan juga sejarah menunjukkan bahwa Tuhan memakai dengan luar biasa orang-orang yang sungguh-sungguh mencari wajah Tuhan. Inilah sebabnya para rasul berkata dalam Kisah Para Rasul 6:4, ya, para rasul, para hamba-hamba Tuhan, ya, mungkin kita sekarang bisa lebih kenal sebagai pendeta, penggembala, atau penginjil, para rasul itu mengatakan bahwa, “kami sendiri akan memusatkan pikiran di dalam doa dan pelayanan Firman. Untuk pelayanan kepada sosial, kepada orang-orang jemaat, teknis, hal-hal teknis, ya, hal-hal yang di mana jemaat itu membutuhkan pertolongan, kebutuhan sehari-hari yang mendesak, itu biar jemaat saja yang punya pimpinan Roh Kudus, yang punya kasih kepada sesama. Kami tetap membantu, tetapi pusat pelayanan kami adalah di dalam doa maupun Firman Tuhan.” Itu adalah tanggung jawab hamba Tuhan sebagai pemimpin gereja.

Tetapi, Bapak, Ibu, sekalian, ketika kita memandang kepada Kristus sebagaimana kita adalah pengikut Kristus, kita pun harus fokus kepada doa dan Firman. Siapa yang tidak butuh doa? Siapa yang tidak butuh Firman Tuhan? Kita semua butuh doa kepada Tuhan. Kita semua butuh Firman Tuhan. Gereja mula-mula memahami bahwa doa tanpa Firman itu akan kehilangan arah, tetapi juga Firman tanpa doa akan kehilangan kuasa rohani, sehingga ini ada 2 hal yang terus ditekankan oleh para rasul, oleh para pemimpin gereja, oleh para hamba Tuhan maupun para pengurus, mari kita sama-sama berdoa, mari kita sama-sama cari wajah Tuhan. Mari kita sama-sama mendengar suara Tuhan yang sudah Tuhan sampaikan di dalam Alkitab. Kita terus membutuhkan hal tersebut. Yesus sendiri katakan bahwa kita tidak hidup dari roti saja, tetapi manusia hidup dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.

Sadarkah kita Bapak, Ibu, sekalian, bahwa kita itu manusia rohani? Kita butuh hal-hal rohani dalam hidup kita, bukan hal-hal jasmani saja. Waktu Yesus katakan manusia itu hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah, Yesus mengubah konsep orang-orang bahwa manusia itu memiliki dua kebutuhan. Satu kebutuhan jasmani untuk hidup, satu kebutuhan rohani untuk hidup bersama dengan Tuhan. Ya, hidup mengenal Tuhan. Maka dari itu doa tanpa Firman, itu adalah hal yang salah. Firman Tuhan tanpa doa, itu pun hal yang salah. Ada yang menafsirkan  bahwa kalau doa tanpa Firman, kita hanya mengejar perasaan saja. Doa, doa, doa, doa, kita ingin mengungkapkan perasaan kita, kita jadi emosionalisme, kita hanya mengejar sensasi-sensasi rohani saja. Ya, yang penting doa, yang penting doa, dengan apa pun kita berdoa terus tekun doa, akhirnya fokus hanya kepada diri. Mana Firman Tuhan? Mana penuntun bagaimana kita berdoa. Tapi juga bahaya ketika kita terus dengar Firman, pokoknya kenal kebenaran, kenal Tuhan, dengar terus, tahu kebenaran, ini yang benar dan ini yang salah tanpa pernah bicara sama Tuhan. Itu menjadi suatu kekeringan rohani.

Maka dari itu Bapak, Ibu sekalian waktu kita sebelum dengar firman Tuhan kita berdoa. Itu sudah baik. Tapi waktu kita dengar firman Tuhan pun di dalam khotbah ini pun kita harus berelasi dengan Tuhan. Tuhan, Engkau mau bicara apa kepada saya? Kadang-kadang bapak ibu sekalian, ketika saya dengar khotbah dari seorang pengkhotbah yang saya ikuti, betul kita bisa menilai pengkhotbah itu secara objektif ngomong apa sih? Iya. Tapi waktu kita berdoa kepada Tuhan, “Tuhan Engkau mau bicara apa kepada saya melalui khotbah yang saya dengar ini?” Ternyata banyak poin yang bisa kita tarik dari pemberitaan firman yang A, kita bisa dapat berkat dari pemberitaan Firman tersebut, B, kita tarik ke B. Ternyata itu pimpinan dari Tuhan sendiri, Tuhan mau ngomong apa sama kita. Jadi firman Tuhan itu begitu limpah. Bukan hanya pemberitaan firman dari pengkhotbah yang kita dengar, Oh kita dapat pesan objektif dari pengkhotbah, tetapi bisa juga pesan yang jelas dari Tuhan lewat khotbah tersebut atau lewat turunan dari khotbah tersebut, atau mungkin sampingannya dari khotbah tersebut. Maka dari itu, ketika kita memahami kehidupan doa yang mendalam dari hamba-hamba Tuhan dengan sungguh-sungguh dengan menggunakan lutut, doa itu pun tidak boleh lepas dari firman Tuhan. Ya, Firman dan doa ini tidak boleh dilepaskan.

Sayangnya Bapak, Ibu sekalian, gereja modern saat ini mereka memikirkan bagaimana cara-cara kita mengembangkan gereja khususnya ya fokus kepada banyak metode-metode. Supanya banyak orang yang datang caranya gimana?  Wah, kasih iming-iming, doorprize, kasih iming-iming berkat jasmani, gitu ya. Padahal Tuhan sendiri menyatakan, “Carilah dahulu kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya.” Berarti Tuhan menawarkan berkat rohani jauh lebih penting daripada berkat jasmani. Akhirnya gereja-gereja melakukan banyak program pelayanan untuk mengembangkan gereja, tetapi mereka lupa untuk berlutut di hadapan Tuhan.

Bapak, Ibu sekalian ya, kita tahu sedikit banyak soal pelayanan. Persekutuan Reformed di Karangdowo. Karangdowo itu pinggir Klaten, dan juga kurang lebih 20 km dari Solo, gitu ya. Kemudian ketika saya ngobrol-ngobrol dengan orang-orang di sana, gereja Calvinis sekali pun, ketika kita mau coba doa berlutut terus ada jemaat di sana itu mengatakan, “Oh biasanya gereja kami tidak berlutut. Itu hanya gereja-gereja karismatik yang berlutut.” Wah, saya kaget juga. Ternyata gereja-gereja Calvinis itu tidak suka berlutut. Sukanya apa? Belajar firman, belajar Firman, tidak pernah sujud berlutut di hadapan Tuhan. Maka kita bersyukur ada di suatu tempat bisa berlutut di hadapan Tuhan. Saya baru-baru ini sekalipun dulu ya, saya coba usaha ketika mau khotbah pasti ada hari itu di mana saya berlutut. Nah, sekarang metodenya adalah saya ketika saat teduh, saya coba berlutut. Berarti setiap hari saya coba berlutut di hadapan Tuhan. Sudah berdoa, terus kemudian dengar firman Tuhan. Bukankah itu suatu hal yang indah di mata Tuhan, ketika ada seseorang itu betul-betul sujud di hadapan Tuhan, berdoa, dan tunduk dan juga mendengarkan firman Tuhan.

Gereja lupa untuk berlutut di hadapan Tuhan. Gereja lupa berdoa, padahal gereja sendiri adalah rumah doa bagi segala bangsa. Mana penekanan doanya? Mana ciri-ciri orang yang berdoa? Charles Spurgeon dikenal sebagai Prince of Preacher. Ya, seorang pangeran pengkhotbah. Tidak ada sepanjang sejarah gereja disebut pangeran pengkhotbah. Sekalipun itu adalah Pdt. Stephen Tong ya. Pdt. Stephen Tong pun tidak tahu nanti julukannya akan muncul seperti apa. Ada yang mengatakan Pdt. Stephen Tong adalah Billy Graham of Asia. Ya, Billy Graham dari Asia. Tapi Charles Spurgeon disebut atau dikenal sebagai pangeran pengkhotbah. Karena apa? Khotbahnya sederhana, jelas, membangun, menggerakkan hati jemaat untuk melakukan firman Tuhan. Lewat pelayanannya, ribuan orang, banyak yang bertobat, gerejanya selalu penuh. Ya, gerejanya betul-betul berkembang, khotbahnya bahkan ke seluruh dunia. Bahkan kalau kita mau banyak sekali transkripnya di internet. Banyak sekolah dan pelayanan muncul di  dalam pelayanan Charles Spurgeon. Bisa dikatakan bahwa Charles Spurgeon ini dikenal oleh seluruh dunia. Beda dengan pendeta-pendeta lain yang mungkin tidak terlalu terkenal.

Ketika ditanya rahasia kekuatan rohaninya, Charles Spurgeon berkata bukan teologi, tetapi kneelologi. Kneel tambah teologi. Kneelologi itu apa? Kneel dan theology, lutut dan Firman Tuhan. Kalau bahasa modern Indonesianya adalah bagaimana kunci pelayananmu agar berhasil? Yaitu kuliah dan lutut. Maksudnya belajar firman, teologi di kampus dan juga berlutut Tuhan. Jadi maksud Spugeon adalah pengetahuan tentang Tuhan itu tidak boleh hanya berhenti di kepala kita. Kalau kita hanya dengar firman hanya berhenti di kepala kita, itu bukan penyembahan, itu penambahan pengetahuan tentang Allah. Tetapi penyembahan adalah ketika Firman kita terima, itu teraplikasi dalam seluruh hidup kita dan kita memiliki sikap penyembahan kepada Tuhan. Makanya mengoreksi orang-orang yang datang ke gereja itu hanya ingin dengar firman itu salah. Hanya ingin dengar khotbahnya, itu salah. Ya, ke gereja itu mau menyembah Tuhan ikuti seluruh ibadah dari saat teduh sampai doa berkat. Bukan firmannya yang penting firmanya. Bukan! Yang penting adalah hati kita bersujud di hadapan Tuhan, dengar kebenaran dan hati kita mau menyembah dan berdoa kepada Tuhan. Itu baru penyembahan. Kalau hanya dengar firman, dengar firman, dengar firman, tidak ada aplikasinya dalam hidup kita, kita menjadi orang Farisi. Orang Farisi, ahli Taurat yang ditegur Tuhan Yesus, “Kamu itu ular. Hanya dengar firman, hanya tahu firman, tidak pernah lakukan firman Tuhan, tidak pernah berdoa, ular kamu.” Apakah kita mau ditegur oleh Tuhan Yesus demikian? Ular. Ya, kita nggak mau punya hati berlutut berdoa kepada Tuhan. Kita nggak mau dengar Firman supaya kita tunduk. Dengar firman tuh tunduk. Bukan “ah apalah, khotbah ini sudah tahu semua. Nggak penting. Udah ikuti khotbah ya sudah, tunggu sejam nanti selesai beres, pulang, lupa.” Betapa kita tidak menghormati Tuhan yang sudah berfirman kepada kita. Kita melupakan perkataan Tuhan.

Spurgeon sangat menekankan doa dan dia katakan bahwa di gereja ini ada satu tempat, ya di bagian bawah, ruang bawah tanah, tempat jemaat berdoa sebelum ibadah. Charles Spurgeon katakan, “Ini adalah pembangkit tenaga gereja ini!” Kalau nggak ada orang berdoa, gereja ini akan hancur ditelan zaman, akan hilang. Maka sangat penting kita berdoa kepada Tuhan sehingga kita bisa melihat jemaat, hamba-hamba Tuhan yang dipakai Tuhan atau gereja yang besar yang di dalam kebenaran firman Tuhan ya, tidak kompromi ketika dia bertumbuh semakin besar semakin besar ternyata kuncinya adalah kuasa doa. Roh Kudus bekerja memberikan anugerah, bukan kemampuan manusia, bukan strategi pelayanan kita, bukan kemampuan kita nego sama orang, ngomong sama orang, bukan. Pimpinan Roh Kudus, anugerah Tuhan.

Dan dalam doa Imam Besar Agung ini Tuhan Yesus sudah memberikan teladan. Doa adalah pusat kehidupan dari Tuhan Yesus Kristus sendiri. Sebelum Yesus mengalami pencobaan yang terbesar, sebelum Yesus mengalami kesulitan yang begitu besar untuk menjalankan kehendak Allah dan menyelamatkan umat-Nya, Yesus betul-betul menggunakan lutut-Nya untuk berdoa di hadapan Bapa di surga. Ya, Dia bisa melalui setiap persoalan maupun masalah dalam kehidupan-Nya dengan doa kepada Tuhan. Tuhan Yesus adalah Tuhan yang menjadi manusia. Dan ketika Dia jadi manusia, Dia paling berhasil di mata Tuhan. Sekalipun scope-nya bukanlah scope internasional, tapi Dia berhasil. Tidak semua orang yang berhasil di mata Tuhan itu harus kelihatannya berkembang, besar, hebat, luas, sampai dikenal banyak orang sampai internasional. Nggak. Tuhan Yesus terkenal hanya di dua provinsi saja. Provinsi Galilea, Provinsi Yudea. Itu mungkin kira-kira seperti Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur selesai. Tapi Tuhan Yesus maksimal ya. Dia memiliki kehidupan doa yang baik, pelayanan-Nya juga maksimal. Dia melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa di surga. Dan kita tidak mungkin mengatakan bahwa pelayanan Yesus itu gagal, jelek, tidak berhasil. Yesus tidak pernah berdosa kok. Ya, Yesus tidak pernah berdosa dan seluruh pelayanan-Nya kepada Bapa di surga ketika Dia di bumi ini perfect di mata Tuhan. Seluruhnya adalah sempurna dan kita bisa tanya, bagaimana Yesus yang adalah manusia itu bisa sempurna di hadapan Bapa di surga? Yesus akan menjawab kehidupan yang berdoa, hati yang terus bergantung kepada Tuhan. Kita bisa lihat Yesus 40 hari di padang gurun Dia berdoa kepada Tuhan. Yesus sebelum memasuki salib ya penghukuman yang Dia tanggung bagi kita ya, itu pun Dia berdoa kepada Bapa di surga. Bahkan Yesus ketika tergantung dalam kondisi yang tidak siap untuk berdoa pun Dia berdoa. Dia berdoa siang malam. Dia terus hatinya bergantung kepada Tuhan. Dan Yesus berdoa pada bagian ini yaitu ketika Dia belum sampai ke salib. Ketika Dia akan menghadapi pencobaan yang terbesar yaitu salib. Yesus berdoa kepada Bapa di surga secara khusus. Dia berdoa untuk diri-Nya sendiri untuk melakukan pekerjaan Bapa dan Dia tidak lupa untuk berdoa bagi gereja-Nya juga yang akan kurang lebih menghadapi pencobaan seperti yang Dia alami, yaitu pencobaan akan risiko kematian di dalam mengikut Bapa di surga.

Nah, sekarang kita lihat Bapak, Ibu sekalian. Pertama-tama kita mempelajari bahwa dalam doa Yesus Kristus ini, Yesus berdoa untuk siapa? Kalau dalam bagian yang barusan kita baca, Yesus berdoa untuk gereja-Nya berulang-ulang kali. Kalau pembahasan sebelumnya, Bapak, Ibu sekalian, kita bisa melihat Yesus pernah mendoakan untuk diri-Nya sendiri. Tapi ketika Dia berdoa untuk diri sendiri, selalu ketika Dia berdoa untuk diri itu selalu dalam konteks Teosentris atau berpusat kepada Allah. Kita boleh doakan diri kita supaya sehat. Sehatnya untuk apa? Untuk berbuat dosa atau untuk pelayanan? Kita boleh doakan supaya kita umur panjang. Umur panjangnya untuk apa? Untuk kerajaan Tuhan atau kerajaan diri? Kita boleh doakan supaya kita sendiri bisnisnya lancar, pekerjaan baik, keluarga baik. Untuk apa? Untuk kepentingan Allah. Untuk menjadi kesaksian yang baik di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan sendiri. Kita boleh doakan diri, tapi tidak boleh berhenti pada diri sendiri.

Nah, Yesus sekarang bukan doakan untuk diri, tetapi fokus lagi mendoakan untuk gereja-Nya, untuk kita. Gereja di sepanjang zaman ini adalah doa Yesus bagi kita. Yesus katakan, “Aku berdoa untuk mereka.” Bahkan Yesus katakan dengan clear bahwa, “Aku bukan berdoa untuk dunia. Aku berdoa untuk mereka. Aku berdoa untuk gereja.” Ya. Nah, dalam doa ini Yesus hanya berdoa bagi gereja-Nya dan ini menunjukkan bahwa hati Yesus pada gereja-Nya. Maka orang Kristen yang sungguh-sungguh cinta Yesus pasti sedikit banyak sekalipun kita sedang dalam pengudusan, cinta gereja. Oh, kita punya teladan, Bapak, Ibu sekalian ya. Ada pengurus yang sudah sejak merintis GRII Yogyakarta sudah 30 tahun dia tetap jadi pengurus dari muda sampai sudah tua kayak gitu ya. Itu cinta apa sih? Cinta apa? Pengurus nggak dibayar, pengurus nggak dapat hal-hal jasmani gitu ya waktu melayani sebagai pengurus gereja. Itu cinta apa, Bapak, Ibu sekalian? Itu cinta Yesus, cinta gereja. Hamba-hamba Tuhan pun demikian. Ya, hamba-hamba Tuhan harus punya cinta Yesus dan ketika dia cinta Yesus akan mencintai apa yang dicintai Yesus yaitu gereja-Nya. Dan bahkan Yesus pernah berdoa khusus bagi gereja-Nya, tidak doakan yang lain. Seolah-olah ya seolah-olah di dalam doa yang kita pelajari ini, Yesus tidak berdoa untuk orang yang menolak Dia. Dia nggak berdoa untuk penginjilan ke seluruh dunia. Nggak. Yesus tidak berdoa untuk bangsa-bangsa lain. Tidak. Pada bagian ini khusus Yesus berdoa untuk kita, gereja-Nya. Bukankah itu cinta kasih yang besar Bapak, Ibu sekalian? Kita aja kadang-kadang ya kalau persekutuan doa hari Rabu itu sungkan kalau tidak doakan negara Indonesia. Ya, sungkan tidak doakan Pak Presiden, Wakil Presiden. Di sini Yesus enggak peduli itu semua. Nggak peduli orang yang tidak percaya Kristus, Dia hanya berdoa untuk gereja-Nya. Supaya apa? Supaya gereja boleh sungguh-sungguh dipelihara oleh Tuhan.

Nah, Bapak, Ibu sekalian, ketika kita berdoa, di situlah tanda hati kita ada di sana. Kita mau doakan apa, itu yang menjadi pikiran kita. Ya, ketika kita ditanya pada hari ini mau didoakan apa? Terus kita doakan agar supaya bisa ya menjalani hari ini dengan hikmat Tuhan misalkan ya berarti kita ada pikiran bahwa takut untuk berbuat salah dan mencelakakan banyak orang seperti itu ya. Jadi doa merupakan tanda hati seseorang itu ada di mana dan Yesus berdoa untuk gereja-Nya. Berarti hati Yesus di gereja-Nya. Di dalam bagian ini, ya, mungkin kita bisa kaget juga ya, “Oh, ternyata Yesus pernah di dalam satu persekutuan doa dengan Bapa di surga itu Dia tidak mendoakan yang lain.” Ini –Bapak, Ibu sekalian– boleh, ya. Ya, kita semua saat teduh di hadapan Tuhan. Kita hanya mendoakan –nggak doakan orang lain gitu, ya. Orang yang tidak percaya kepada Kristus– Kita doakan untuk gereja-Nya. Gereja Kristus.

Saya pernah memikirkan, kan, “Mau buat judul apa, ya untuk khotbah hari ini?” Terus saya terpikir adalah judulnya “Berdoa untuk gereja, bukan untuk dunia”. Gitu, ya. Berdoa untuk Gereja, bukan untuk dunia. Terus kalimat ini sebenarnya agak berbahaya. Karena apa? Bisa disalahmengerti orang, kan? “Masa Gereja berdoa hanya untuk Gereja? Masa kita berdoa hanya untuk Gereja, bukan untuk dunia?” Nah, waktu Yesus berdoa untuk gereja-Nya, dan pada bagian ini, bukan untuk dunia, ini bukan berarti Yesus tidak peduli terhadap dunia. Justru ini menunjukkan Yesus peduli terhadap dunia. Unik, ya? Secara tidak langsung. Kenapa? Kalau Tuhan Yesus berdoa agar gereja-Nya ini –yang jadi poin doa-Nya adalah: dipelihara oleh Tuhan, bisa satu hati– mana mungkin gereja-Nya tidak jadi berkat untuk dunia? So simple. Sederhana. Apakah Yesus tidak peduli terhadap dunia? Justru ketika mendoakan gereja-Nya, Yesus sangat peduli terhadap dunia agar gereja-Nya ini bisa mengabarkan Injil kepada seluruh dunia! Jadi, kalau kita fokus kepada doa untuk gereja-Nya, pasti kita juga bisa melihat bahwa gereja akan menjadi saksi yang baik kepada banyak orang.

Waktu Yesus berdoa khusus untuk gereja-Nya, bukan berarti gereja tidak perlu berdoa untuk dunia. Gereja perlu berdoa untuk dunia! Atau lebih parah lagi bahwa ini berarti Yesus tidak mengajarkan, ya, mengajarkan bahwa tidak perlu injili orang yang tidak percaya. Tidak. Itu bukan hati Tuhan. Hati Tuhan adalah hati yang penuh kasih kepada semua orang dan terlebih kasih lagi kepada umat-Nya atau gereja-Nya.

Sadarkah kita –Bapak, Ibu sekalian– bahwa kita itu lebih dikasihi Yesus dibandingkan yang bukan gereja-Nya? Kita ini lebih dikasihi Yesus daripada Yudas! Ya. Kita ini lebih dikasihi Yesus daripada banyak orang lainnya! Kasih Yesus tentu untuk seluruh dunia. Tetapi itu adalah kasih yang umum. Atau kita kenal di dalam teologi Reformed: anugerah umum. Tetapi anugerah khusus, kasih yang khusus itu hanya kepada umat-Nya, gereja-Nya.

Ini adalah doa yang spesial, doa pengantaraan khusus. Dan ini merupakan doa Yesus bagi murid-murid-Nya, umat pilihan-Nya yang masih hidup dalam dunia ini. Lalu kenapa, ya kita bisa berpikir bahwa dalam bagian ini Yesus fokus khusus berdoa bagi gereja-Nya? Kita bisa pikirkan demikian. Kenapa? Di sini Yesus berdoa secara Teosentris tadi, berpusat kepada Bapa di surga, bahwa kenapa Yesus mendoakan gereja? Pertama-tama Yesus katakan, “Karena gereja telah Engkau berikan kepada-Ku. Telah Bapa pilih dan telah serahkan kepada Yesus, maka Aku doakan gereja.” Jadi, karena alasan apa? Pekerjaan Bapa. “Karena pengaturan dari Bapa di surga, ya, Saya nurut.” Ya, karena Bapa di surga telah memberikan Gereja kepada Yesus, maka: “Saya nurut.” Lalu Yesus katakan juga, “Sebab Gereja adalah milik-Mu.” Ya, Gereja ini adalah milik Tuhan. Lalu Yesus katakan, “Segala milik-Ku adalah milik-Mu. Segala milik-Mu adalah milik-Ku juga. Dan Aku telah dipermuliakan di dalam Gereja.” Wah, ini adalah suatu kalimat yang sangat filosofis di dalam Injil Yohanes ini.

Kalau kita baca sekali –Bapak, Ibu sekalian, ya– kalau kita saat teduh saja, ya. Kalau kita saat teduh, kan sering kali kita langsung, “Baca, yang penting habisin berapa pasal, nih.” Gitu, ya. Tapi kalau di dalam khotbah, sebenarnya khotbah ini adalah bagian kita merenungkan firman Tuhan lebih dalam, lebih dalam. Supaya kita mengerti kebenaran Tuhan lebih limpah. Seperti itu, ya. Nah, kalau kita baca sekilas kayaknya, “Ya, gitu lah, ya.” Berarti apa yang dimiliki Bapa dimiliki Yesus. Yang dimiliki Yesus dimiliki Bapa. Lalu Yesus juga dipermuliakan di dalam Gereja, gitu, ya.

Nah, di dalam teologi Yohanes, gereja merupakan aspek yang sungguh-sungguh ditekankan dan juga sangat penting dan berharga. Jadi, kita bisa melihat gereja itu bukanlah sekumpulan organisasi, kumpulan manusia yang sehati, hanya organisasi saja, kumpulan orang yang beragama. Bukan. Tetapi Gereja adalah bagaimana kita sama-sama berespons kepada Allah yang sejati, yaitu Allah Tritunggal. Kita ini dipilih oleh Bapa, diserahkan Bapa kepada Yesus Kristus, dan juga kita dipimpin oleh Roh Kudus. Itu adalah relasi dengan Allah Tritunggal, ya. Gereja itu ada relasi dengan Allah sendiri. Maka kita bisa katakan bahwa Gereja itu lahir dari hati Allah Tritunggal.

Yesus menyatakan Gereja adalah: “Mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku.” Berarti Yesus kaitkan Gereja dengan Bapa di surga. Yesus kaitkan Gereja dengan rencana Bapa menyelamatkan manusia yang berdosa di dalam Kristus. Ini berarti kita, keselamatan kita itu, pekerjaan Allah Tritunggal. Jadi, waktu kita melihat diri kita, siapakah diri kita? Kita adalah pribadi. Kita, kita adalah orang Kristen. Dan kita juga adalah pengikut Allah Tritunggal.

Yang dinamakan gereja adalah orang yang diberikan anugerah Allah. Yang dinamakan gereja adalah orang yang sebenarnya dulunya pasif dan berdosa, tetapi Allah berinisiatif bekerja di dalam diri orang tersebut. Maka kita menjadi seorang yang diperbaharui oleh Allah sendiri.

Yesus tekankan Gereja ini milik Bapa. Berarti kita –Bapak Ibu sekalian, ya– bukan milik manusia, ya. Di dalam relasi yang berbeda tentunya, ya. Tentu kita dimiliki oleh keluarga kita, pasangan kita, atau teman-teman kita. Tetapi maksud Yesus adalah otoritas hidup kita itu adalah yang utama adalah milik Tuhan, ada pada Tuhan sendiri. Kita dimiliki Tuhan, bukan dimiliki oleh manusia. Maka waktu kita bergereja –Bapak, Ibu sekalian, ya– ataupun ada pengurus, hamba Tuhan sekali pun, kita ini tidak dimiliki oleh pendeta. Tidak dimiliki oleh pengurus. Kita manusia yang free.

Maksudnya free bagaimana? Bukan berarti free sebebas-bebasnya tanpa ada hukum, tetapi kita manusia yang free sesuai dengan pimpinan Tuhan, ya. Kita tidak dipaksa untuk melayani Tuhan, sekali pun kadang-kadang kita perlu dipaksa, karena manusia berdosa gitu, ya. Tapi kita boleh menolak pelayanan di gereja, kan? “Ah, saya nggak mau! Pelayanan disuruh-suruh pendeta!” Misalkan, ya. “Disuruh-suruh ikut KPIN! Nggak mau!” Bisa? Bisa. Tetapi hubungannya bukan bicara soal dengan manusia saja. Hubungannya adalah dengan Tuhan. Kalau Tuhan perintahkan kita ikut KPIN lewat –ya, lewat bisikan dari hamba Tuhan, pengurus, atau jemaat– ternyata kita salah merespons, berarti kita salahnya kepada Tuhan, ya, bukan kepada pendetanya. Gitu, ya.

Nah, ini maksudnya Tuhan memiliki gereja, langsung responsnya itu kepada Tuhan. Tapi Tuhan pakai juga orang-orang di dalam gereja untuk menyatakan kehendak Tuhan seperti apa. Ya, kehendak Tuhan seperti apa sih dalam hidup kita? Kita ini milik Tuhan! Ya, bukan milik pendeta. Pendeta tidak boleh memanfaatkan jemaatnya. Jemaat juga tidak boleh memanfaatkan pendetanya. Dan kita langsung berespons kepada Tuhan. Maka dari itu kita hati-hati di gereja, Bapak, Ibu sekalian. Dalam arti apa? Ketika ada suara-suara, ya, ada orang yang mengajak kita pelayanan bisa kita tolak. Kita free. Menolak ajakan orang itu nggak masalah. Tapi kalau itu adalah pimpinan Tuhan, kalau kita tolak, kita berdosa di hadapan Tuhan. Saya bisa salah mengajak orang untuk pelayanan. Ayo ikut paduan suara. Orang itu nggak bisa nyanyi, ya, terus saya ajak, “Ayo ajak nyanyi. Yang penting banyak orangnya.” Kayak gitu, ya. Saya bisa salah. Tolak pelayanan itu kalau pendetanya salah atau orang yang lain yang mengajak kita salah. Tapi kalau kita berespons kepada Tuhan, kita bisa lihat, “Oh, ini ajakan Tuhan. Oh, ini ajakan manusia.” Kalau ajakan manusia sangat mungkin bisa salah. Tapi bisa juga benar sesuai dengan pimpinan Tuhan. Kita gumulkan, waktu datang ke gereja kita tuh sedang berhadapan dengan Tuhan yang secara khusus hadir bersama-sama dengan kita di gereja. Maka di sini kita dibentuk untuk semakin peka terhadap kehendak Tuhan. Apa yang saya harus lakukan? Oh, saya sebagai jemaat yang baik setia. Sudah setia. Oh, sebagai jemaat yang baik saya terus lakukan firman Tuhan, ya. Terus ikuti semua nasihat-nasihat yang baik di dalam ibadah. Terus setia, terus setia. Terus cari wajah Tuhan. Mana mungkin Tuhan tidak pakai, mana mungkin Tuhan tidak panggil, mari melayani.

Tapi banyak orang juga pada akhirnya, ya, satu sisi bukan saja dari orang lain mengajak orang lain melayani, tapi ada juga yang ingin pelayanan. Ingin pelayanan ini juga bahaya, ya. Apakah dari Tuhan itu ingin pelayanannya, terlibat dalam pelayanan atau dari motivasi kepentingan pribadi? Saya pengen eksis di gereja, saya pengen dipuji orang, saya pengen dikenal banyak orang, saya pengen punya posisi di gereja sehingga dihormati. Itu pun kita bisa tolak pelayanan orang tersebut. Jadi bukan hanya jemaat bisa menolak ajakan pelayanan jemaat lain. Ada orang mau melayani pun bisa ditolak kalau tidak sesuai dengan pimpinan Tuhan. Perintah dari Tuhan sendiri. Karena apa? Karena kita milik Tuhan, bukan milik sesama. Kita ini milik Tuhan. Maka kita harus berespons langsung kepada Tuhan dan Tuhan bisa menyuarakan kehendak-Nya lewat Firman Tuhan, lewat umat-Nya yang ada di sekitar kita.

Kemudian segala milik Yesus adalah milik Bapa dan segala milik Bapa adalah milik Yesus. Ini sebenarnya menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Ya, waktu Yesus berdoa kepada Bapak kan semua orang katakan bahwa kalau Yesus Tuhan kan Tuhan Yesus ngapain Dia berdoa kepada Bapa di surga? Ada anak sekolah minggu tanya gitu, ya. Kan Tuhan Yesus, kan Tuhan Yesus kan Tuhan kan? Kenapa Dia berdoa kepada Bapa di surga? Kan Dia Tuhan. Nah, karena anak sekolah minggu nggak terlalu ngerti, ya, dua natur Kristus, Yesus Allah 100% tapi Yesus juga manusia 100%. Tetapi pada bagian ini Yesus berdoa kepada Bapa di surga, Dia bukan saja menunjukkan Aku ini manusia 100% tapi Yesus katakan segala milik Bapa di surga adalah milik-Ku. Segala milik-Ku adalah milik Bapa di surga. Berarti Yesus adalah Allah. Yesus setara dengan Bapa di surga. Kalau Bapa di surga pemilik dunia ini, Yesus pemilik dunia ini. Kalau Bapa di surga pemilik gereja, Yesus adalah pemilik gereja juga. Dan ini menyatakan Yesus adalah Allah pencipta langit dan bumi.

Lalu terakhir Yesus katakan bahwa Yesus dipermuliakan di dalam gereja. Nah, maka dari itu ini menjadi fokus dari gereja Tuhan, Bapak, Ibu sekalian. Ini semua bicara soal memuliakan Yesus Kristus. Kristus akan lebih dipermuliakan ketika umat-Nya hidup kudus, takut akan Tuhan. Injil terus diberitakan di dalam setiap kegiatan ataupun kehidupan gereja-Nya. Umat percaya hidup terus taat. Maka inilah yang kita pegang, Bapak, Ibu sekalian, prinsip gereja yaitu Soli Deo Gloria. Segala kemuliaan adalah untuk Bapa saja, untuk Allah Tritunggal saja.

Nah, prinsip ini menjadi penting mengenai eksistensi gereja di bumi ini, yaitu gereja menjadi sebuah pancaran sinar bagi dunia memperkenalkan siapakah Kristus. Gereja menjadi mercusuar, ya, supaya memperingatkan di mana ada keselamatan, di mana ada keamanan bagi manusia yang berdosa, yaitu hanya di dalam Yesus Kristus saja.

Maka inilah prinsip yang membawa seluruh pelayanan kita. Kenapa kita pada akhirnya KKR regional? Kenapa pada akhirnya kita ada PA, seminar? Kenapa pada akhirnya kita ada persekutuan doa? Ada sekolah minggu, ada ibadah minggu? Karena kita mau mempermuliakan Allah secara komunitas umat pilihan. Tetapi sayangnya ketika kita lihat realita gereja, gereja juga banyak mencuri kemuliaan Tuhan. Inilah kemunafikan dan kesia-siaan, gereja akhirnya jadi untuk mempermuliakan manusia, ya, bukan mempermuliakan Kristus.

Kemudian saya pikirkan lagi sebenarnya kalau memang gereja dibuat atau didirikan untuk mempermuliakan Kristus, berarti lawannya yang setan ingin terus kerjakan adalah gereja itu bukan mempermuliakan Kristus, gitu kan. Tapi bukan mempermuliakan Kristus berarti harus mempermuliakan apa dan siapa? Nah, ini adalah pekerjaan setan di gereja, yaitu tetap umat Tuhan mempermuliakan seseorang atau sesuatu, tetapi seseorang itu bukanlah Pribadi Allah Tritunggal. Maka bisa saja kita mempermuliakan setan, kehendak setan kita lakukan. Terus kita juga bisa mempermuliakan manusia berdosa. Manusia yang berdosa akhirnya kita tinggikan, gereja yang demikian di mana pusat perhatiannya bergeser dari Allah kepada manusia atau kepada setan itu sudah melenceng dari tujuan kenapa gereja didirikan. Contohnya apa, Bapak, Ibu sekalian? Ya, pertama-tama kita bisa lihat kalau gereja akhirnya mengkultuskan pendeta atau pemimpin yang mereka bisa lihat fokus kepada figur tertentu, ya. Seorang pendeta jadinya selebriti. Nah, gereja Reformed pun digoda untuk hal tersebut. Gereja Reformed Injili pun tergoda. Wah, begitu ada Pdt. Stephen Tong, wah, langsung kita seluruh pelayanan tuh langsung jadi rapi, baik, tidak ada yang telat, misalkan kayak gitu, ya. Ini kan mempermuliakan siapa? Manusia. Mau ada Pdt. Stephen Tong, mau tidak ada Pdt. Stephen Tong, kita tetap respons di hadapan Tuhan dong. Dengarkan firman dengan sungguh-sungguh. Ikuti seluruh jalannya ibadah. Pelayanan dengan maksimal. Kadang-kadang kita lemah, ya. Kadang-kadang kita lemah sekali. Kita lihat orang. Kalau orang ini saya mau bekerja sama melayani. Kalau orang itu saya tidak mau. Mau pilih-pilih gitu ya. Padahal di situlah Tuhan mengasah kita. Manusia menajamkan sesamanya.

Kadang-kadang, ya, kalau kita berkomunitas di gereja itu, ada orang yang kita memang jengkel, Bapak, Ibu sekalian, ya. Jangan langsung menoleh ke orangnya, ya. Nanti ketahuan, ya. Ada yang kita jengkel, ya. Tapi sudahlah dia sama-sama percaya Kristus. Puji Tuhan, ya, orang Kristen kita harus mengasihi dia gitu. Karena kita dibentuk sama-sama di ruangan yang sama tapi saya nggak suka sama orang itu. Aneh misalkan kayak gitu, ya. Kita nggak suka tapi kita harus dibentuk manusia menajamkan sesamanya. Itulah pelayanan. Makanya, pelayanan kalau tidak tahan itu banyak gesekan dan akhirnya perpecahan.

Kita ingat, antara Paulus dan Barnabas. Barnabas itu mengasihi Yohanes Markus. Waktu awal-awal perjalanan misi pertama, Bapak, Ibu sekalian, Barnabas kan sepupunya Yohanes Markus. Dia ajak Markus ikut Paulus pelayanan, tetapi setelah 1 kota itu, Markus itu pikir-pikir, “Aduh, kayaknya saya nggak cocok pelayanan.” Saya pun pernah mengalami demikian, ya, sebagai hamba Tuhan itu waktu awal-awal adaptasi untuk bergereja, mengabarkan Injil, ada perasaan tidak layak untuk melayani Tuhan. “Sudahlah, saya nggak bisa. Siapa sih saya?” Minder, begitu, ya. Ya sudahlah, mundur pelayanan. Pernah mengalami demikian, ya. Akhirnya, Markus di dalam kisah itu mengundurkan diri. Paulus jengkel. Kan Paulus itu ketat, keras begitu, ya. “Kamu sudah tinggalkan pelayanan. Kamu itu orang bodoh! Lemah!” Begitu, ya, kurang lebih, ya, mungkin Paulus katakan demikian. Sudah, pelayanan.

Terus, Paulus dan Barnabas melayani di satu kota, terus kembali lagi mau melewati jalur yang sama, terus Barnabas keinget. “Ah, saya mau ajak Yohanes Markus lagi!” Sudah berapa lama, mungkin berapa bulan atau berapa tahun. Mungkin Yohanes Markus sudah semakin dewasa gitu, ya. Terus, Barnabas bilang ke Paulus. “Saya mau ngajak Yohanes Markus, Paulus, ya, dalam pelayanan ini.” Langsung, Paulus marah. Sumbu pendek. Langsung merah mukanya. “Apa-apaan itu! Yohanes Markus sudah tinggalkan pelayanan. Kita nggak usah kasih pelayanan lagi! Sudah tinggalkan pelayanan! Pelayanan misi yang begitu berharga, dia tinggalkan kita jadi berdua saja. Kita padahal sudah bertiga bersama-sama. Sekarang, Yohanes Markus nggak peduli kita, nggak peduli pelayanan, nggak peduli Tuhan. Tidak usah kasih pelayanan lagi!” Paulus katakan demikian, ya. Keras sekali. Barnabas katakan kepada Paulus, “Paulus, syarat aku akan mengikuti kamu adalah ajak Markus. Ajak Yohanes Markus.” Gitu kan? Wah, bertengkar sengit antara Barnabas dan Paulus. Paulus katakan, “Tidak!” “Kalau begitu─” Barnabas katakan bahwa “─kita berpisah saja karena aku mau ajak Yohanes Markus untuk melayani bersama-sama. Paulus, begitu dikatakan demikian tetap katakan, “Pisah saja!”

Akhirnya, Barnabas bersama Yohanes Markus, Paulus bersama dengan Silas. Jadi 2 tim.  Tadinya 1 tim penginjilan, sekarang jadi 2 tim. Karena apa? Selisih, tetapi selisih yang fokus pada Kerajaan Tuhan. Barnabas kan ada penghiburan, dia kasih orang kesempatan melayani lagi. Siapa tahu berubah. Memangnya, orang setahun yang dulu dengan setahun yang sekarang pasti sama? Belum tentu. Memang bisa jadi lebih buruk, bisa jadi lebih baik. Tetapi, Barnabas itu mendampingi Yohanes Markus. Paulus bersama Silas, Barnabas bersama dengan Yohanes Markus. Dan uniknya, di sepanjang sejarah, Yohanes Markus ini yang pernah gagal pelayanan, menjadi penulis kitab Injil Markus. Yang tadinya sudah mundur pelayanan, tetapi karena diajak Barnabas, bahkan jadi kontribusi besar di dalam penulisan Alkitab. Yohanes Markus menulis Injil Markus. Wah, hebat sekali, ya.

Bapak, Ibu sekalian, di dalam pelayanan itu tidak mudah, tetapi yang penting, kita mau melihat Tuhan, berespons kepada Tuhan. Apakah kalau kita tidak cocok sama orang, akhirnya kita tinggalkan Tuhan? Kan aneh! Ya, kita tidak cocok sama orang, tetap setia kepada Tuhan dan melayani bersama-sama di gereja Tuhan.

Yesus kemudian kenapa Dia berdoa untuk gereja-Nya? Karena Yesus menyatakan suatu fakta bahwa, “Aku tidak akan ada lagi di dalam dunia, tetapi gereja ini akan masih dalam dunia.” Yesus sudah naik ke surga 2.000 tahun yang lalu kira-kira, ya. Kita, gereja-Nya masih di dunia sudah kurang lebih 2.000 tahunan. Itulah kenapa Yesus berdoa bagi gereja-Nya. Yesus sudah tidak ada masalah lagi. Yesus dengan tubuh dan darah-Nya naik ke surga. Ia sudah sempurna, tidak mungkin bisa berdosa. Kita masih ditinggalkan Yesus di bumi ini, masih bergumul dengan dosa kedagingan, lingkungan yang berdosa, pergaulan yang buruk. Dan di situlah kenapa Yesus berdoa bagi gereja-Nya. Gereja-Nya ini akan ditinggalkan Yesus. Sekalipun kita tahu, ketika Yesus naik ke surga, Yesus pun mengirimkan Roh Kudus untuk mendampingi gereja-Nya. Orang percaya masih hidup di tengah dunia ini yang berdosa. Yesus mengatakan, “Lihatlah, Aku mengutus kamu seperti domba di tengah-tengah serigala.” Nah, bagaimana domba melawan serigala? Nggak bisa, pasti kalah. Lalu, bagaimana domba itu bisa menang terhadap serigala? Kuasa doa. Kita harus banyak berdoa kalau kita mau menang terhadap setiap pencobaan dan peperangan rohani.

Yang terakhir, Bapak, Ibu sekalian, ya. Yesus memanjatkan permohonan yang begitu indah bagi gereja, yaitu Yesus berdoa: “Ya, Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita.” Yesus berdoa 2 hal, memanjatkan permohonan 2 hal bagi gereja-Nya, yaitu adalah “Peliharalah gereja. Jadikanlah mereka satu.” Satu hati untuk apa? Sesuai dengan firman Tuhan, 1 iman kepada Yesus Kristus, setia untuk melayani Tuhan.

Yesus menyebut Bapa dengan 1 sifat yang unik, yaitu “Bapa yang kudus.” Kalau kita berdoa kan, “Bapa kami yang di surga.” Di surga kudus juga, tanpa dosa, ya, atau kita sebutnya, “Bapa kami yang baik.” Kita bisa sebut Bapa kita, Allah kita itu dengan berbagai sifat-sifat-Nya, tetapi pada bagian ini, Yesus mengatakan, “Bapa yang kudus.” Bapa yang satu-satunya, tidak ada yang lain dan juga Bapa yang tidak ada dosanya. Ini adalah panggilan yang begitu intim dari Yesus kepada Bapa di surga, yaitu Yesus ingin mendekat kepada Bapa dan ingin agar doa-Nya dikabulkan oleh Bapa, yaitu supaya Bapa di surga memelihara gereja-Nya. Bapa surgawi memelihara gereja-Nya.

Kenapa Yesus memohon pemeliharaan ini? Karena gereja itu tidak selalu kuat. Banyak gereja tutup. Gereja tutup karena apa? Karena orang tidak mengerti Yesus Kristus, tidak ada penyertaan juga dari Roh Kudus. Gereja banyak yang sesat. Bukan hanya banyak yang tutup, banyak yang sesat. Banyak yang salah. Banyak yang kompromi dengan dunia. Maka dari itu, bagaimana kita supaya bisa bertahan di tengah-tengah arus zaman yang berdosa ini? Doa. Kita tidak kebal terhadap pergumulan dosa. Kita bisa jatuh dalam dosa. Di dalam 6 bulan ini, ya, ketua sinode memberi tahu bahwa dalam 6 bulan saja, ada 3 hamba Tuhan yang harus diberhentikan di sinode GRII. Dalam 6 bulan. Kita melihat pelayanan Pdt. Stephen Tong sudah 70 tahun. Nah, kenapa bisa 70 tahun? Ini dalam 6 bulan saja, berapa belas tahunlah kalau kita bisa katakan dari orang yang sudah melayani Tuhan, sudah berhenti nggak jadi pendeta lagi, nggak jadi hamba Tuhan lagi karena dosa-dosanya. Ini Pdt. Stephen Tong 70 tahun tetap jadi pendeta, tetap setia mengabarkan Injil keliling dunia. Kuasa apa sih di belakang orang-orang yang terus melayani Tuhan dengan setia? Itu adalah kuasa doa. Hatinya terus meminta pimpinan Tuhan. “Tuhan, saya harus ambil keputusan apa? Tuhan berikan aku firman-Mu sebagai penuntun bagi jalan hidupku.”

Berkali-kali Rasul Paulus katakan bahwa gereja itu agar tetap teguh. Berarti apa? Gereja bisa runtuh. Kalau nasihatnya tetap teguh ya, berarti gereja bisa runtuh. Lalu Paulus pernah mengatakan, “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini.” Berarti apa? Gereja bisa jadi serupa dengan dunia ini. Sekalipun itu gereja, sekalipun itu adalah orang Kristen, kita bisa menjadi serupa dengan dunia ini, maka dari itu ada nasihat demikian, jangan gentar, jangan runtuh, jangan jadi serupa dengan dunia. Gereja lemah. Sekalipun kita ada di dalam hati Yesus Kristus, kita pun begitu berbahaya, karena bisa diterkam oleh setan yang seperti singa yang berjalan mengaum-ngaum, siap memangsa mangsanya itu. Maka dari itu kita harus hati-hati. Kita itu sedang dalam kondisi yang berbahaya. Kita diserang setan, diserang arus dunia, ya. Rasul Petrus pun pernah menyangkal Yesus tiga kali. Siapa kita, Bapak, Ibu sekalian, yang dengan sombong bisa mengatakan, “Aku bisa setia dan pastilah Tuhan pakai saya.” Nggak ya. Kita harus memakai lutut kita untuk berdoa kepada Tuhan agar terus dipelihara oleh Tuhan.

Kita bersyukur untuk pemeliharaan yang Tuhan berikan kepada kita. Kita memiliki Mazmur 23 ya. Tuhan adalah gembalaku. Ada seorang rekan hamba Tuhan ya senior itu mengatakan, “Wah, kalau salaman sama saya ya, Bapak Ibu sekalian sampai saya bingung harus berespons apa gitu ya.” Dia kata, “Wah, ini gembala yang baik.” Saya pikir saya bukan gembala gitu ya. Lalu berkali-kali salaman, “Eh halo gembala yang baik”, terus gitu ya. Saya diam aja, bingung respons apa ya? Harus respons apa coba Bapak, lbu sekalian ya kalau dikasih kalimat demikian. Terus sampai akhirnya saya berespons, “Ya kita semua harus jadi gembala yang baik”, gitu ya. “Kita semua harus jadi gembala yang baik, kita harus dipimpin oleh Tuhan.” Karena sesama hamba Tuhan, sesama pendeta gitu ya. Terus dia katakan satu kalimat yang fresh gitu, “Ya betul kita harus jadi gembala yang baik. Kita hanya bisa jadi gembala yang baik, hamba Tuhan ya. Karena apa? Karena Tuhan Yesus satu-satunya Gembala yang terbaik.” Ya, kita nggak bisa melebihi Yesus. Gembala terbaik dalam hidup kita adalah Yesus Kristus. Dia yang pelihara hidup kita, bukan pendeta. Jangan bergantung pada pendeta. Jangan bergantung kepada pengurus gereja. Kita hanya bergantung, berharap hanya kepada Tuhan Yesus Kristus. Dia sudah mendoakan kita, Dia juga sudah memberikan Roh Kudus-Nya yang memelihara hidup kita dan Dia juga mendorong kita untuk senantiasa memiliki satu hati di dalam pelayanan kepada Tuhan untuk mengembangkan kerajaan Allah.

Maka dari itu, Bapak, Ibu sekalian, bagaimana kehidupan doa kita? Apakah kita sudah puas terhadap kehidupan doa kita? Apa kita sudah sungguh-sungguh memiliki hati yang menyembah Dia, sujud berlutut di hadapan-Nya? Atau malah kita melupakan saat-saat berdoa. Bangun tidur nggak doa, mau tidur nggak doa, menjalani aktivitas sehari-hari tidak berdoa, seolah-olah hidup tanpa Tuhan. Kita agamanya sih Kristen, tapi hidupnya seperti orang ateis. Sungguh memalukan. Kalau kita sungguh-sungguh Kristen, kita terus hati kita mencari pimpinan Tuhan, mencari pertolongan Tuhan. Sudahkah kita memiliki kehidupan doa yang mendalam? Ya, sudahkah kita mendoakan gereja-Nya? Ya, jangan hanya di gereja baru doakan gereja. Berarti hati kita tidak di gereja karena dikondisikan. Tapi di rumah, kita doakan nggak orang-orang yang adalah gereja Tuhan? Kita pernah doakan nggak para pengurus gereja yang sudah puluhan tahun melayani di GRII Yogyakarta misalkan ya. Kita doakan nggak para pelayan Tuhan, hamba Tuhan? Hamba Tuhan perlu didoakan. Bisa jatuh, bisa diberhentikan, bisa melakukan kesalahan yang fatal sekalipun mentornya adalah Pdt. Stephen Tong, sekalipun gerejanya adalah Gereja Reformed Injili, dosa itu terus mengintip di depan pintu. Kalau kita buka pintu, kita akan gagal sebagai gereja Tuhan.

Tapi di tengah-tengah kegagalan itu, Yesus datang sebagai Gembala yang terbaik. Ya, Gembala yang terbaik itu sekalipun kita sudah hancur seperti Petrus yang menyangkal tiga kali kepada Tuhan Yesus, Tuhan Yesus bisa memulihkan kita. Ada pengharapan bagi manusia yang berdosa asal kita mau bertobat di hadapan Tuhan. Ingat bahwa kita adalah milik Tuhan, maka kita langsung berespons kepada Tuhan. Jangan lihat manusia. Kita bukan milik manusia. Kita milik Tuhan. Ya, kita dipelihara oleh Tuhan dan Tuhan inginkan gereja-Nya supaya satu.

Ya, kutipan terakhir dari Dwight Lyman Moody ya, dia pernah berdoa seperti ini, Bapak, Ibu sekalian ya. “Tuhan Yesus gunakanlah aku, Juru Selamatku tolong gunakan aku untuk tujuan apa pun dan dengan cara apa pun yang Engkau kehendaki. Inilah hatiku yang malang, yang miskin, sebuah bejana kosong isilah dengan anugerah-Mu.” Kita datang kepada Tuhan itu berdoa. Berdoa itu seperti seseorang miskin yang betul-betul minta dengan sungguh-sungguh karena butuh Tuhan. Ya, kita butuh Tuhan. Kebutuhan jasmani supaya bisa hidup adalah makanan, minuman, istirahat gitu ya, tempat tinggal tapi kebutuhan rohani kalau kita lihat kebutuhan rohani kita apa, Bapak Ibu sekalian? Allah sendiri. Pengampunan dari Kristus. Itulah kebutuhan rohani kita dan Yesus sudah penuhi kebutuhan kita. Masihkah kita tidak mau berdoa kepada-Nya, mengucap syukur atas setiap berkat anugerah-Nya? Masihkah kita tidak mau menaati kehendak Yesus Kristus untuk tekun dan tidak jemu-jemu berdoa? Kiranya Tuhan terus menolong kita. Mari kita sama-sama berdoa.

Bapa kami yang ada di surga, kami sungguh bersyukur bahwa Tuhan Yesus sudah mendoakan kami terlebih dahulu bahkan sebelum kami ada di dalam dunia ini. Yesus sungguh mengasihi kami. Kiranya kami boleh merasakan cinta kasih Tuhan Yesus yang begitu besar. Ya Bapa di surga, kami mohon supaya kami pun boleh mengucap syukur dengan ketaatan kami kepada Engkau sendiri. Kami mau menyerahkan hidup kami ke dalam tangan Tuhan supaya dipakai Tuhan. Kami mau terus bertumbuh dalam kehidupan doa kami dan kami mau terus diajar bagaimana kami harus berdoa kepada Tuhan. Ajari kami Tuhan untuk menyembah Tuhan. Ajari kami Tuhan untuk bisa berdoa dengan benar sesuai dengan firman Tuhan yang sudah Engkau berikan. Kami berdoa Tuhan supaya hati kami boleh memiliki hati yang menyembah Tuhan saja. Di dalam nama Tuhan Yesus, Penebus dan Juru Selamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin.