Sesungguh-sungguhnya (10), 3 Mei 2026

Yoh. 10:7-30

Pdt. Dawis Waiman, M. Div

Di dalam ayat 1 sampai 6, kita sudah membahas Yesus berbicara kalau Dia adalah Gembala yang baik. Apa yang dimaksud dengan Gembala yang baik di sini? Tentunya kalau kita mau tanya sedang bicara apa Yesus Kristus di sini, ketika Dia menggambarkan Diri-Nya sebagai Gembala, maka hal itu tidak terlepas dari pasal sebelumnya, di dalam pasal yang ke 9. Pada waktu itu, orang-orang Yahudi berhadapan dengan seorang yang buta. Dia buta sejak lahir. Tetapi ketika mereka menemukan kalau orang buta ini ternyata sudah bisa melihat kembali, mereka menjadi bingung, mereka bertanya tanda tanya, apa sebab hal itu terjadi? Dan pada waktu mereka mengetahui, orang buta ini disembuhkan oleh Kristus pada waktu itu, atau oleh Yesus Kristus, maka yang terjadi adalah, mereka mulai menginterogasi, mereka mulai berulang kali menanyakan bagaimana Yesus Kristus menyembuhkan orang buta ini. Dan pada waktu hal itu terjadi, orang buta ini berusaha berulang kali menjelaskan, bagaimana caranya Yesus menyembuhkan dan siapa yang telah menyembuhkan dirinya. Sampai pada satu titik orang buta ini mungkin jengkel seperti itu, lalu dia bertanya kepada orang-orang ini, “Apakah engkau ingin menjadi murid Dia juga karena engkau begitu ingin tahu bagaimana caranya disembuhkan? Dan betulkah aku adalah orang yang disembuhkan dari buta sejak lahir.“

Nah, pada waktu itu orang-orang Farisi, orang-orang Yahudi ketika mendengar pertanyaan ini, mereka mengejek orang yang buta ini, mereka menghina dia, dan mereka berkata, “Kami anak Abraham, tapi kamu saja yang menjadi murid dari Yesus Kristus karena Dia pasti adalah orang yang berdosa. Sebabnya karena apa? Karena Dia telah menyembuhkan engkau di hari Sabat.” Tapi orang buta ini berkata kepada mereka. “Kalian buta ya?” Saya pakai parafrasa saja ya, “Kalian buta ya? Coba perhatikan, dari sejak Adam sampai hari ini adakah satu orang yang buta bisa melihat kembali? Bukankah tidak ada orang yang bisa memelikkan mata orang buta? Kalau tidak ada orang yang bisa mencelikkan mata orang buta dan sekarang ada Yesus yang mencelikkan mata orang buta? Siapa Dia? Mungkinkah Dia bersumber dari iblis atau dari setan atau dari si jahat? Dia pasti bersumber dari Allah, karena Alkitab sendiri mengerti hanya Allah yang bisa mengerti dan memiliki kuasa untuk melakukan hal itu.” Tetapi orang Yahudi itu dan orang-orang Farisi menghina orang buta ini. Mereka mengejek dia. Mereka mengancam bukan hanya diri dia, tetapi juga orang tuanya supaya orang tuanya tidak ikut mendukung orang buta yang di sembuhkan ini.

Nah, atas dasar ini Yesus kemudian berkata Dia adalah Gembala yang baik. Dalam pengertian apa? Dia ketika dikatakan Gembala yang baik, Dia datang untuk membimbing, menuntun umat Allah untuk berjalan menurut kepada kebenaran Firman Tuhan, dan beribadah kepada Tuhan. Tetapi yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan orang Farisi di dalam pasal sebelumnya, ketika menemukan Tuhan bekerja, yang mereka lakukan adalah justru menghalangi orang-orang untuk datang kepada Yesus Kristus. Ini yang membuat Yesus berkata “Mereka adalah gembala yang tidak baik, mereka adalah gembala upahan dan tujuan mereka bukan untuk membawa orang mengenal Tuhan tetapi untuk kepentingan diri mereka sendiri.” Yesus menggunakan istilah yang cukup keras pada waktu berbicara mengenai ini, yaitu, “Pencuri itu datang untuk mencuri dan membunuh, membinasakan, Aku datang supaya mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

Jadi pada waktu Yesus menggambarkan para gembala sebelumnya, Dia menggambarkan dengan istilah mereka adalah pencuri, pembunuh, yang membinasakan. Nggak ada hal yang baik, yang bersumber dari gembala-gembala upahan ini atau gembala-gembala palsu ini. Lalu kalau kita tanya kemudian, apa yang membuat kita bisa berkata ini adalah gembala yang baik, yang benar, dan yang itu adalah gembala yang palsu. Nah, di sini Yesus mengatakan satu sisi kita mengerti perkataan Yesus sebagai satu kebenaran. Tetapi di dalam bagian ayat ke tujuh yang kita baca, Yesus menggunakan perumpamaan Dia adalah pintu, “Aku adalah pintu itu.”

Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa maksud Yesus berkata, “Aku adalah pintu itu?” Kalau kita perhatikan di dalam Kitab Suci ada paling tidak mungkin 2 bagian yang berbicara mengenai pintu. Satu adalah berbicara mengenai pintu yang sesak itu, di mana orang-orang berusaha untuk masuk ke dalam pintu yang sesak itu sehingga mereka akhirnya tidak dapat masuk atau tidak akan mendapatkannya. Ini dicatat di dalam Luk. 13:24. Lalu yang bagian lain adalah di dalam Kis. 14:27, saat Paulus dan timnya pulang dari perjalanan misionaris atau perjalanan misi, mereka berkumpul kembali di Antioka. Dan pada waktu itu mereka menyaksikan pekerjaannya Tuhan yang Tuhan kerjakan melalui mereka kepada bangsa-bangsa yang lain. Dan di situ kemudian Paulus berkata seperti ini, “Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman.”

Jadi kalau kita bicara mengenai pintu, apa yang di maksud Kitab Suci berkaitan dengan pintu? Kita bisa menemukan pintu itu berbicara mengenai jalan masuk menuju kepada kerajaan Allah. Dan pada waktu kita berbicara mengenai jalan masuk menuju kepada kerajaan Allah itu, bagaimana kita bisa mendapatkannya? Maka jawabannya ada di dalam ayat ke-7 yang baru kita baca. Yesus berkata, “Aku adalah pintu ke domba-domba itu.” Ini adalah satu statement, satu-satunya yang berbicara Yesus adalah pintu oleh diri Yesus sendiri. Atau dengan kata lain, ketika kita bandingkan semua perkataan pintu yang ada di dalam Kitab Suci, maka di tempat-tempat lain tidak pernah ada satu statement yang menyatakan kalau Yesus adalah pintu itu. Tetapi di dalam bagian ini Yesus dengan terus terang berkata, bahwa Dialah pintu itu. Pintu kepada mana? Domba-domba itu. Di mana domba itu berada? Tentunya di dalam kandang domba tersebut. Dan kalau para gembala tidak melalui pintu itu, bagaimana mereka bisa masuk ke dalam pintu itu? Kalau Bapak, Ibu tanya, bagaimana bisa masuk? Itu untuk bisa mengerti jawaban Yesus selanjutnya, kita perlu mengerti bagaimana orang-orang pada waktu itu membuat kandang domba. Kandang domba saat itu bisa dibuat dari kayu, bisa dibuat dengan pagar batu. Tetapi kandang domba di sini bukan berbicara mengenai kandang domba pribadi dari orang-orang tertentu atau keluarga tertentu, tetapi di tempat tertentu mereka membuat satu kandang di mana domba-domba dari para gembala-gembala lain bisa ditaruh di dalam situ untuk bermalam dan terlindung dari bahaya. Dan untuk itu mereka membuat dari pagar kayu atau pagar batu. Tetapi di bagian atas dari pagar itu karena mereka tidak ada kawat duri saat itu atau seperti kita saat ini, maka mereka membuat ada taruh mungkin tumbuhan yang tajam-tajam dan berduri di atas dari tembok itu. Dan Yesus di sini berkata, “Kalau gembala yang asli, bagaimana mereka bisa masuk ke dalam kandang itu?” Ya tentunya melalui pintu. Kalau di dalam ayat 1 sampai ayat 6 tidak dikatakan siapa yang menjadi penjaga pintu itu. Yang pasti ada penjaga pintu yang akan membukakan pintu untuk gembala itu bisa masuk ke dalam kandang tersebut dan mengambil dombanya. Tetapi kalau dia adalah pencuri atau gembala yang palsu, bagaimana caranya? Di situ mereka harus memanjat tembok itu, lalu mereka merusak pagar itu, lalu kemudian mereka baru bisa masuk ke dalam kandang domba itu lalu mencuri domba itu. Itu sebabnya di dalam bagian ini Yesus berkata, “Ketika pencuri datang, gembala yang palsu datang, yang mereka bisa lakukan apa? Yaitu merusak jemaat, merugikan mungkin jemaat dan menghancurkan jemaat Tuhan ketika mereka ada di dalam gereja.”

Lalu kalau kita tanya, kalau begitu bagaimana kita bisa mengetahui mana domba atau gembala yang asli seperti itu? Maka satu-satunya jawaban adalah gembala yang asli adalah gembala yang harus masuk melalui pintu. Itu maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah kalau Yesus Kristus adalah pintu itu, maka setiap gembala yang sejati harus masuk melalui Yesus Kristus kepada gembala-gembala atau kepada domba-domba daripada Yesus Kristus. Jadi ini mau mengatakan bahwa setiap gereja atau setiap pelayan Tuhan atau paling tidak mungkin kalau dari sisi jemaat, setiap jemaat Tuhan harus punya satu pemahaman bahwa tidak semua orang yang berdiri di gereja, di mimbar gereja itu adalah gembala yang baik atau gembala yang asli. Tetapi setiap orang yang berdiri di gereja yang adalah gembala yang asli atau tidak, kita ketahui dari mana? Yaitu dari diri dan kerohanian para gembala itu yang masuk melalui Yesus Kristus. Artinya adalah kalau kita mau tahu dia adalah hamba Tuhan yang sesungguhnya atau tidak, dia adalah orang yang memiliki iman kepada Kristus. Dia adalah orang yang percaya kepada Kristus dan baru dengan begitu dia bisa menjadi gembala yang baik di dalam gereja Tuhan atau di dalam pekerjaan kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Dan setiap orang yang tidak mengalami perjumpaan dengan Kristus, dia tidak mungkin bisa mengerti makna dari penebusan Kristus dalam hidup dia dan membagikan itu kepada jemaat. Yang ada mungkin mereka hanya mencari keuntungan-keuntungan di dalam pelayanan yang dikerjakan seperti itu.

Kita bersyukur di dalam gereja kita ada regulasi-regulasi yang sangat ketat sekali dari Pdt. Stephen Tong atau dari sinode kita atau dari badan konsistori kita. Dan pada waktu mereka menentukan siapa yang pantas untuk bisa menjadi gembala di dalam gereja, syarat pertama dari seorang hamba Tuhan itu dengan satu catatan mereka harus lahir baru terlebih dahulu. Kalau mereka adalah orang yang teruji, memiliki iman yang memiliki kehidupan yang sudah diperbarui oleh Roh Kudus, itu paling tidak menjadi seleksi pertama dari dia bisa ada di dalam gereja dan melayani di dalam gereja. Baru kemarin di dalam gereja kita juga baru terjadi satu hal yang menyedihkan. Ada satu pengumuman salah satu dari vikaris kita atau pendeta kita atau hamba Tuhan kita yang dikeluarkan dari gereja kembali. Sebabnya karena dia melakukan satu perbuatan dosa. Dan itu menjadi satu hal yang diumumkan di antara para pemimpin gereja supaya kita mengerti bahwa di dalam pelayanan gereja bukan hanya dia sudah lahir baru atau belum, tapi dia memiliki satu kehidupan yang kudus atau tidak di hadapan Tuhan. Ini adalah hal yang penting sekali ya. Dan ini adalah sesuatu yang kita bisa katakan bersumber dari pengajaran Kitab Suci sendiri. Karena pada waktu kita melihat siapa gembala yang boleh masuk ke dalam tempat itu, mereka adalah orang-orang yang harus melalui Yesus Kristus. Lalu kalau kita bandingkan dalam bagian yang lain, siapa orang-orang yang percaya dan ada di dalam Kristus? Alkitab berkata, “Mereka adalah orang yang sudah dilahirbarukan.” Dilahirbarukan maksudnya apa? Memiliki hidup yang baru, tidak lagi mengikuti manusia lama, tetapi mengikuti pimpinan Roh Kudus atau perkataan Kristus di dalam kehidupan mereka.

Nah, kita bisa lihat ini dari tentunya Injil Yohanes juga misalnya di dalam percakapan yang Yesus lakukan dengan Nikodemus. Pada waktu Nikodemus orang Farisi datang kepada Yesus lalu ingin mengetahui apa rahasia untuk bisa ada di dalam kerajaan Allah, Yesus dengan satu ketegasan berkata kepada Nikodemus yang menghancurkan seluruh pemahaman Nikodemus sebelumnya. Pikir Nikodemus masuk ke dalam kerajaan Allah adalah seorang yang keturunan Abraham, seorang yang disunat, seorang yang menjaga ketat hukum Taurat di dalam kehidupan mereka. Tetapi begitu dia bertemu dengan Yesus Kristus, Yesus berkata, “Kalau mereka tidak pernah dilahirkan kembali, maka dia tidak akan ada di dalam kerajaan Allah dan melihat kerajaan Allah.” Artinya bahwa seluruh konsep Nikodemus, seluruh pemikiran yang dia pikir itu bisa membuat dirinya ada di dalam kerajaan Allah itu mendadak ditolak oleh Tuhan dengan begitu tegas. Dan Tuhan berkata, “Kecuali dia dilahirbarukan.” Artinya adalah kecuali dia dapat anugerah dari Tuhan, karya Roh Kudus dalam kehidupannya, maka dia tidak mungkin ada di dalam Kerajaan Allah.

Tapi kalau kita bandingkan dengan lain, apa maksudnya dia dilahirbarukan? Kita bisa melihat itu sebenarnya istilah lain dari apa yang Yesus katakan di dalam ayat ke-7 di pasal 10 ini. Atau kita bisa mundur lagi, kalau misalnya, di dalam Yohanes 1. Di dalam perkataan truly truly pertama, Yesus pernah mengajarkan, “Aku adalah tangga itu yang menghubungkan surga dengan bumi. Dan orang akan naik turun dari surga, bumi ke surga, itu adalah melalui Yesus Kristus.” Dari sini maksudnya bagaimana? Yesus mau berkata, “Aku adalah pintu”, dalam pengertian, “Aku adalah satu-satunya jalan itu.” Kalau dalam bahasa Yohanes di dalam pasal yang ketiga itu: kelahiran baru adalah orang-orang yang datang kepada Kristus dan sungguh-sungguh berpegang kalau Yesus adalah satu-satunya jalan itu. Kalau mau lebih jelas lagi adalah di dalam Yoh. 14:6, pada waktu Filipus bertanya mengenai jalan ke surga. Yesus bicara, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang bisa datang kepada Bapa tanpa melalui Aku.” Jadi, pada waktu kita berbicara, “Siapa gembala yang sejati itu?” Atau mungkin juga, “Siapa domba yang sejati itu?” Domba yang sejati adalah domba yang masuk melalui pintu itu. Pintu menuju kepada kandang domba itu. Lalu, pintu itu apa? Di dalam ayat 1–6 nggak dikatakan secara jelas. Tapi di dalam ayat ke-7 dan seterusnya, Yesus dengan satu ketegasan dan kejelasan berkata, “Akulah pintu itu.”

Jadi, kalau kita ingin ada di dalam Kerajaan Allah, para gembala ingin bisa melayani dengan satu kesungguhan dan kebenaran dalam hidupnya, gereja harus mengerti: semua itu tidak mungkin bisa terjadi di luar dari Kristus. Semua itu baru bisa terjadi kalau kita beriman kepada Kristus dan kita ada di dalam Kristus Yesus, atau hanya melalui Yesus Kristus.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita berbicara seperti ini, itu artinya adalah iman Kristen atau keselamatan, itu adalah sesuatu yang eksklusif. Maksud eksklusif adalah bagaimana? Keselamatan itu tidak ada banyak jalan. Keselamatan itu hanya ada di dalam satu jalan. Dan kalau kita berpikir bahwa keselamatan itu ada di jalan-jalan yang lain di luar dari Kristus, maka kita adalah orang yang salah, dan mungkin kita adalah orang yang sudah sangat tersesat sekali. Karena apa? Karena Yesus berkata, “Aku adalah pintu itu yang menuju kepada kandang domba itu atau ke dalam Kerajaan Allah.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah iman Kristen adalah satu kepercayaan yang sangat sombong sekali? Karena pada waktu kita berbicara mengenai bagaimana seorang diselamatkan, kita akan menolak pandangan Hindu, kita akan menolak pandangan Buddha, kita akan menolak pandangan dari pada Islam, kita akan menolak pandangan dari Konghucu, dan yang lain-lain yang menjadi kepercayaan manusia karena kita berkata, “Hanya melalui Yesus Kristus.” Bukankah itu adalah suatu kesombongan, seperti itu? Saya, dalam hal ini, berkata mungkin orang dunia akan berpikir seperti itu. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah seperti ini: pada waktu kita berbicara, “Jalan keselamatan melalui Kristus dan hanya melalui Kristus”, hal pertama yang harus ada di dalam pemikiran kita adalah pernyataan itu adalah satu pernyataan yang mungkin benar atau tidak. Saya yakin kalau kita punya kepercayaan yang lain bahwa ada kemungkinan di lain ada kebenaran, kita pun akan berkata, “Kelihatannya ada kemungkinan kalau jalan satu-satunya di dalam Kristus itu ada kebenarannya.”

Tapi yang kedua, yang lebih penting, adalah pada waktu misalnya saya berkata, “Hanya melalui Yesus Kristus kita akan memperoleh hidup yang kekal”, seperti itu. Pertanyaannya adalah seperti ini: Statement yang saya ungkapan itu adalah statement yang muncul dari diri saya sendiri, pengakuan diri saya sendiri, atau tidak? Banyak orang berpikir ketika orang Kristen mengklaim bahwa hanya melalui Yesus Kristus ada kebenaran, mereka berpikir, “Ini adalah kepercayaan dari orang Kristen.” Dan kepercayaan dari pribadi-pribadi orang Kristen itu menunjukkan kesombongan dan ketidak-penghargaan sama sekali bagi orang yang memiliki kepercayaan-kepercayaan yang lain. Karena mereka punya keinginan sendiri. Mereka punya jalan mereka sendiri. Mereka percaya itu sebagai kebenaran. Dan itu setara dengan apa yang dikatakan orang Kristen, seharusnya, bahwa melalui Yesus Kristus. Tapi tolong hilangkan kata “hanya” nya di situ.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, yang menjadi persoalan adalah seperti ini: pada waktu kita berbicara, “Jalan itu hanya melalui Yesus Kristus”, pertanyaannya adalah siapa yang pertama mengeluarkan kalimat ini? Apakah seorang pendeta? Apakah Dawis? Apakah itu Rasul Paulus? Apakah itu Rasul Petrus? Ataukah rasul-rasul yang lain yang pertama kali mengeluarkan kalimat “Hanya melalui Yesus Kristus” itu? Masalahnya adalah bukan mereka yang berbicara seperti ini. Tetapi yang pertama mengeluarkan kalimat, “Aku adalah pintu. Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Aku adalah tangga itu.” adalah diri Yesus Kristus sendiri. Jadi, pada waktu kita sebagai orang yang mendengar kalimat itu, lalu kita percaya pada kebenaran kalimat itu, dan kita berkata bahwa jalan keselamatan itu hanya melalui Yesus Kristus, ini bukan suatu kesombongan. Tetapi ini adalah satu kebenaran yang eksklusif yang bersumber dari Yesus Kristus sendiri. Apalagi kalau kita percaya bahwa Dia adalah Tuhan, yang telah mencipta segala sesuatu, Penguasa dari segala sesuatu, Allah dari semua manusia yang ada di dalam dunia ini, maka kita tentunya akan setuju dan mengakui bahwa memang jalan kebenaran itu hanya melalui Yesus Kristus.

Sekali lagi: ini bukan kesombongan, tetapi ini adalah satu pernyataan kebenaran yang seharusnya dipegang oleh semua orang Kristen dan dibagikan oleh semua orang Kristen kepada orang dunia. Itu sebabnya Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita masuk ke dalam misalnya pelayanan penginjilan. Tadi saya sharing berkaitan dengan KPIN.“ Kenapa ini adalah satu hal yang kita dukung di dalam pelayanan gereja kita? Dan kalau kita berbicara mengenai kerjaan dari Pak Tong, kenapa dia begitu ngotot sekali untuk pergi ke kota-kota yang ada di Indonesia dan di luar negeri untuk memberitakan KPIN, sesuatu yang menggembirakan tidak? Saya percaya bukan hal yang menggembirakan, tetapi sesuatu yang membawa satu ketar-ketir di dalam hati setiap kita yang akan melayani di bidang itu atau mempersiapkan bidang tersebut. Karena pada waktu kita mempersiapkan yang menjadi tantangan itu seringkali bukan dari orang yang di luar tetapi orang yang di dalam. Lalu kalau kita tanya, kenapa orang yang di dalamnya itu orang Kristen sendiri akhirnya menolak dan mungkin selalu meragukan atau bahkan mungkin berusaha untuk mengetahui secara jelas terlebih dahulu bagaimana pelayanan itu bentuknya. Sebabnya karena mereka punya satu kekhawatiran dan ketakutan kalau orang-orang di luar akan menghakimi, menolak, dan bahkan mungkin menganiaya mereka.

Jadi, pada waktu kita berbicara mengenai pelayanan ini, ini bukan hal yang gampang. Bagaimana kita meyakinkan panitia lokal, bagaimana kita mendorong mereka untuk bisa melihat ini adalah satu pekerjaan yang harus dikerjakan di dalam kota mereka. Karena sebelum kita mengerjakan ini, ada kota-kota paling tidak ada tiga kota yang menolak pelayanan ini untuk dilakukan di daerah mereka. Dan salah satu sebab adalah karena mereka takut kabar yang dikabarkan oleh Pdt. Stephen Tong. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, kalau kita betul-betul mengerti, Yesus berkata, “Aku adalah gembala. Aku adalah pintu itu.” Maka saya yakin kita akan berkata apa yang dikerjakan oleh Pdt. Stephen Tong, gembala utama dari gereja kita dan bagaimana kita mempersiapkan pekerjaan itu, itu adalah hal yang sangat penting sekali, hal yang sangat dibutuhkan sekali oleh orang-orang dunia. Karena jalan satu-satunya itu hanya melalui Yesus Kristus. Kalau mereka nggak pernah mendengarkan berita ini, mereka nggak mungkin ada di dalam satu kehidupan yang ada di dalam keselamatan dan pengampunan dosa dan kehidupan yang kekal. Jalan itu hanya ada di dalam Kristus Yesus. Dan ini yang kemudian kita terus usahakan dan beritakan baik melalui KPIN ataupun melalui KKR regional demi KKR regional yang kita kerjakan di wilayah yang Tuhan percayakan untuk kita kerjakan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sekali lagi saya katakan, Yesus berkata, “Aku adalah pintu itu. Aku bukan hanya Gembala yang baik itu, tetapi Aku adalah pintu itu yang membawa orang bisa masuk ke dalam kerajaan hanya melalui Yesus Kristus.” Nah, menarik sekali adalah pada waktu Yesus berbicara ini, Yesus juga ada mengeluarkan satu kalimat. Kalau kita mengerti Dia adalah Gembala itu dan Dia juga adalah pintu itu, bagaimana dengan gereja? Bagaimana dengan domba-domba Allah yang sejati? Domba-domba Allah yang sejati, Yesus katakan di sini mengerti suara dari gembalanya. Dan pada waktu mereka mendengar suara dari gembala yang lain, maka ada satu sikap yang mereka akan ambil. Mereka nggak akan ngomong, “Eh, saya mau coba deh dengar suara gembala itu kira-kira ngomong apa, ya? Saya pengin coba deh, coba mengikuti mereka satu waktu dalam kehidupan saya dan saya pengin tahu lebih jauh apa yang menjadi pengajaran mereka seperti itu sebagai seorang murid yang mengikuti gembala itu atau domba yang digembalakan oleh gembala tersebut.”

Tetapi di sini Yesus berkata, “Seorang domba ketika mendengar suara dari gembala yang lain, dia tahu, dia bisa membedakan ini adalah suara dari gembala yang baik atau Yesus Kristus atau ini adalah suara dari gembala yang palsu.” Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, saya kira ada hal-hal yang perlu kita uji di dalam kehidupan kita untuk mengikut Yesus Kristus. Hal pertama tentunya kita perlu menguji, adakah saya memiliki iman di dalam Kristus? Karena ketika Yesus datang, di dalam surat Petrus dikatakan ketika Dia datang kedua kali, yang Dia lakukan pertama adalah akan menghakimi gereja-Nya, orang-orang Kristen. Dia bukan datang untuk memisahkan orang Kristen semua yang datang ke gereja dengan orang-orang yang tidak datang ke gereja atau tidak percaya kepada Kristus seperti itu. Tetapi Yesus berkata ketika Dia datang, Dia akan menghakimi siapa? Yang pertama-tama Dia hakimi adalah gereja Tuhan, yang mendengarkan Firman Tuhan, yang mengaku mungkin bahwa mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Kristus. Dan kalau kita tanya, “Lalu kalau mereka sudah percaya pada Kristus, kenapa penghakiman itu terjadi kepada gereja terlebih dahulu?” Ini mau menunjukkan bahwa tidak semua orang yang datang ke dalam gereja memiliki iman kepada Kristus. Tidak semua orang yang datang ke dalam gereja itu adalah orang-orang yang mengikuti Kristus di dalam kehidupan mereka. Itu sebab Yesus berkata, “Hal pertama adalah gereja sendiri yang akan dihakimi oleh Tuhan Allah.”

Nah, ini membuat pada waktu kita mengikut Tuhan seperti yang Paulus katakan di dalam surat 2 Korintus, setiap orang Kristen harus menguji iman mereka. Adakah iman yang percaya kepada Kristus dalam kehidupan kita? Adakah satu penyerahan kepada Kristus di dalam kehidupan kita? Adakah satu pengakuan bahwa apa yang dikatakan oleh Kristus itu adalah satu kebenaran yang kita lihat sendiri sebagai kebenaran juga, tetapi juga adakah sikap yang kemudian mengikuti Kristus di dalam kehidupan kita? Atau dengan kata lain adalah pada waktu kita hidup sebagai orang Kristen, orang Kristen adalah orang yang mengakui otoritas Firman di dalam kehidupan mereka. Mereka tidak akan menggunakan standar lain, nilai lain untuk menilai kebenaran khususnya berkaitan dengan hal-hal rohani dan moralitas dan gaya kehidupan manusia di dalam dunia ini. Tetapi kita akan menggunakan standar perkataan Kristus untuk menguji di hidup kita dan menjadikannya sebagai kebenaran di dalam kehidupan kita.

Tetapi di dalam bagian ini menarik sekali adalah pada waktu Yesus berbicara mengenai domba yang sejati, domba yang baik itu, domba yang benar itu, domba yang sungguh-sungguh digembalakan oleh Yesus Kristus, salah satu pengujinya adalah yang dimaksudkan di sini domba yang sejati mengerti membedakan mana suara yang sejati yang bersumber dari Tuhan dan mana yang bukan. Dan pada waktu kita berbicara mengenai kita mengenal atau mengerti mana suara yang sejati, maka itu akan membuat kita mengambil satu keputusan. Dan keputusan itu bukan menerima suara itu, bukan toleransi terhadap suara itu, bukan menganggap suara di situ ada kebenarannya juga yang kita harus bisa terima dan akui dan gereja itu memiliki perbedaan di dalam penafsiran dan pengertian dan itu ndak apa apa yang penting mereka memiliki iman kepada Yesus Kristus. Tetapi, di dalam bagian ini dikatakan, orang yang memiliki iman yang sejati, domba yang sejati tahu ketika dia mendengar ini bukan suara gembalanya, keputusan yang diambil adalah stop, tidak lagi mengikuti suara itu, pengajaran itu di dalam hidup dia. Jadi, saya lihat, ini adalah cara lain juga untuk kita mengujinya. Bukan hanya bicara, “Oh, saya percaya Yesus saja.” Bukan berbicara, “Oh, saya mengakui Dia adalah Tuhan dan Juruselamat di dalam kehidupan saya,” tetapi “Saya juga mengakui kalau ada perkataan yang berbeda dari Yesus, saya seharusnya tidak mengikuti perkataan itu dan saya tahu untuk menjauhkan diri dari pemimpin seperti itu di dalam kehidupan saya.” Bukan hal yang enak, tetapi saya percaya, ini adalah perkataan dari Yesus Kristus sendiri bagi diri kita.

Nah, saya lanjutkan, ya. Pada waktu kita bisa mengenal Kristus dan kita tahu bahwa Dia adalah satu-satunya pintu itu dan kita juga mengenal dan bisa membedakan mana yang menjadi perkataan Kristus, mana yang bukan merupakan perkataan Kristus. Di sini, Yesus mau mengajak kita masuk lebih dalam lagi untuk mengerti bahwa pada waktu kita menjadi pengikut Kristus, pengikut Kristus itu bukan hanya berbicara mengenai aktivitas yang dilakukan di dalam gereja. Bukan berbicara mengenai hanya penundukan diri kita kepada perkataan-perkataan yang harus kita lakukan di dalam kehidupan kita, tetapi Yesus di sini menarik sekali, berkata mengenai “mengenal.” Siapa yang menjadi domba dari Kristus? Di sini dikatakan, di dalam ayat 14. “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” Lalu, di ayat 15 dikatakan, “Sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” Maksudnya adalah begini, pada waktu kita mengenali Yesus atau mendengar suara Kristus, kita bisa membedakan mana yang benar, mana yang bukan yang bersumber dari Kristus. Hal yang Yesus tekankan di sini adalah bukan hanya bicara mengenai ketaatan di dalam perkataan Tuhan saja, tetapi yang lebih penting adalah setiap orang yang mengikut Kristus diminta oleh Kristus sebagai orang yang mengenal siapa itu Yesus Kristus.

Nah, pada waktu kita mengenal Yesus itu adalah satu anugerah yang besar dalam hidup kita karena di situ, kita belajar menikmati apa yang menjadi relasi antara Bapa dengan Kristus dan Kristus dengan Bapa sendiri. Maksudnya bagaimana? Pada waktu kita mengikut Kristus, seharusnya yang kita lakukan adalah bukan hanya melakukan perkataan demi perkataan, hukum demi hukum dalam hidup kita, tetapi ekspresi hukum itu, ketaatan itu, kesungguhan di dalam mengerjakan perkataan Kristus itu muncul dari relasi yang kita mengenal Kristus dari hati kita dengan Kristus. Ini adalah hal yang saya percaya sangat penting untuk kita pahami, ya, karena pada waktu kita hidup sebagai orang Kristen, kenapa kita kadang-kadang berjumpa dengan orang Kristen yang penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan? Kenapa kadang-kadang kita melihat kepada orang Kristen, ketika harus mengambil satu keputusan, mereka lebih memilih nilai-nilai dan standar dunia daripada mengikuti perkataan Tuhan? Mengapa ketika kita misalnya jatuh di dalam kondisi yang sakit atau hal-hal yang menjadi pergumulan, seolah-olah kita tidak ada satu kekuatan untuk berdiri dalam kehidupan kita dan tetap punya satu kekuatan untuk berjalan maju di dalam kehidupan kita? Kemungkinan besar adalah karena pada waktu kita mengatakan, “Saya percaya kepada Kristus. Saya beriman kepada Dia sebagai kebenaran,” tetapi sebenarnya, kita tidak pernah membangun relasi yang percaya dengan Dia dan mengenal Dia secara pribadi di dalam kehidupan kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sudahkah kita mengenal siapakah Yesus itu? Sudahkah kita mengenal berapa besar kuasa-Nya? Sudahkah kita mengenal berapa besar hikmat dan dalamnya hikmat Tuhan dalam kehidupan kita? Sudahkah kita mengenal berapa tinggi, lebar, panjang, dan dalamnya kasih Tuhan di dalam kehidupan kita? Sudahkah kita mengenal bahwa kalau kita menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan, kita betul-betul mendapatkan satu jaminan kepastian dan pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan kita? Ini adalah hal-hal yang harus bertumbuh di dalam hati kita. Pada waktu kita mengikut Yesus Kristus, kita bukan hanya tahu, Dia mengasihi kita dan kita bukan hanya tahu, kita harus menaati Dia, tetapi kita juga tahu bahwa di dalam Kristus dan hanya di dalam Kristus ada sekuritas yang sejati dalam kehidupan kita. Ada jaminan dan ada pemeliharaan yang Tuhan berikan di dalam kehidupan kita, walaupun Alkitab tidak pernah, atau Yesus tidak pernah mengajarkan kalau mengikut Dia akan ada di dalam kondisi yang baik.

Tadi, saya ambil contoh KPIN. Orang Kristen, ketika dengar khotbah Pak Tong gemetaran kayak gitu. Karena apa? Memang sangat menantang sekali. Itu salah satu contoh. Apakah ada acara hikmat lain yang untuk memberitakan firman? Kita bisa beralasan sih, tetapi kalau kita menggunakan cara yang halus, mungkin orang-orang nggak ngeh untuk bisa mengerti kebenaran Tuhan. Tetapi, kalau kebenaran itu dikabarkan, ada jaminan tidak kalau kita akan aman, dari Yesus Kristus? Kayaknya nggak ada deh. Bapak, Ibu bisa lihat kehidupan dari para rasul di dalam Kisah Para Rasul. Ketika mereka berdiri dengan teguh mengabarkan Injil, menghidupi kehidupan Kristen, mereka kadang ditangkap, mereka kadang disesah, dianiaya. Ada yang dilempari dengan batu seperti itu. Lalu, pertanyaannya adalah seperti ini: Kalau begitu, apakah itu menunjukkan kehidupan dari orang Kristen yang sungguh-sungguh taat kepada Tuhan tidak terpelihara? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya tidak, tetapi apa yang terjadi kepada orang Kristen itu mau menunjukkan hidup orang Kristen itu adalah kehidupan yang ada di dalam pergumulan, ada di dalam kesulitan kadang-kadang, ada di dalam penolakan demi penolakan yang kita alami dalam kehidupan kita. Tapi ada satu hal yang membuat kita bisa yakin dalam hidup kita, yang memelihara kita di dalam iman, yang memelihara kita untuk setia sampai pada akhir, yang menjaga kita untuk bisa tetap setia kepada Tuhan dan memuliakan Tuhan dalam kehidupan kita itu adalah Kristus sendiri, karena dia memiliki kuasa itu. Dan di dalam bagian ini dikatakan, “Aku mati itu bukan karena Aku kalah dengan kuasa dunia, tetapi Aku mati karena Aku sendiri yang memberikan nyawa-Ku kepada untuk mati.” Menurut kehendak siapa? Bukan menurut kehendak Herodes, bukan menurut kehendak dari Pilatus, bukan menurut kehendak dari para pemimpin agama orang-orang Yahudi, tetapi Yesus berkata, “Aku menyerahkan nyawa-Ku menurut kehendak-Ku sendiri, Aku menyerahkannya dan Aku juga berkuasa untuk mengambilnya kembali. Ini adalah tugas yang Bapa serahkan kepada Aku.” Jadi, dari kalimat ini kita bisa yakin satu hal, kalau Yesus punya kuasa itu, Dia, Dia mati bukan sebagai korban, tapi Dia mati karena Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus diri kita dan Dia mengenal siapa yang menjadi domba-Nya. Itu yang menjadi jaminan sekuritas kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita bicara mengenai keselamatan di dalam Kristus, ada satu hal yang mungkin kita perlu pahami dalam hidup kita adalah Yesus tidak pernah memperlakukan kita secara global atau umum. Yesus tidak pernah memukul rata setiap dari kehidupan anak-anak-Nya. Seolah satu orang ngalami A, maka semua anak-Nya pasti akan mengalami hal itu di dalam kehidupan dia. Tetapi ketika kita bicara mengenai Yesus mengenali domba-domba-Nya, di situ kita bisa memahami bahwa tidak ada satu pun orang yang, yang Tuhan tidak kenali jalan hidupnya. Tuhan tahu persis apa yang kita akan alami dalam kehidupan kita dan bahkan Tuhan sendiri yang menuntun kita harus melalui jalan apa di dalam kehidupan kita. Untuk apa? Satu sisi membentuk karakter kita, untuk makin menyempurnakan iman kita, makin menyatakan karakter kita di dalam Kristus atau nyatakan Kristus dalam kehidupan kita, tetapi juga di sisi lain, Tuhan ingin memakai kita untuk menyatakan nama-Nya di dalam dunia menurut pengaruh yang kita bisa berikan di dalam kehidupan kita.

Nah, ini adalah hal yang membuat seharusnya pada waktu kita mengikut Kristus, kita bukan membandingkan diri dengan orang Kristen yang lain. Kita juga bukan merasa bahwa, oh jalan hidupku adalah satu jalan yang tidak diberkati oleh Tuhan. Tetapi kita bisa yakin satu hal selama kita ada di dalam Kristus, selama kita percaya dan kita tahu kita adalah domba-Nya dan kita mengikuti Dia, maka kita bisa yakin bahwa Tuhan pasti menjaga kita dan memelihara kita melewati jalan yang kita harus lalui itu. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, iman seperti ini ada tidak? Pengenalan seperti ini ada tidak di dalam hidup kita? Karena, sekali lagi saya ngomong ini ya, bukan untuk menghakimi, tapi untuk kita menguji diri kita sendiri. Setiap kali kita mengikut Tuhan, kita cuma lihat dari perspektif apa? Checklist. Oh, saya orang Kristen yang baik. Dasarnya apa saya orang Kristen yang baik? Saya datang ibadah, saya melayani Tuhan, saya terlibat di dalam kegiatan kegiatan gereja. Saya memberikan persembahan, kalau ada pelayanan-pelayanan yang memerlukan persembahan lebih, saya turut berbagian di dalam persembahan itu untuk mendukung supaya pekerjaan Tuhan itu bisa jadi di dalam dunia ini. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu benar nggak? Ya, benar. Baik nggak? Baik. Itu salah satu aplikasi atau wujud dari orang yang mengenal Tuhan nggak?  Betul. Tetapi yang saya mau ajak kita lihat di dalam bagian ini adalah, jangan nilai pengenalan dari aspek itu, tapi nilailah pengenalan dari bagaimana kita meresponi semua hal yang ada di dalam hidup kita. Apakah kita meresponinya berdasarkan kebenaran Tuhan, karena kita tahu siapa Tuhan itu dan kita betul-betul ada di dalam tangan pemeliharaan Tuhan. Maksudnya adalah, pada waktu saya mengambil keputusan walaupun itu adalah satu keputusan yang mungkin beresiko besar dalam hidup saya, maka saya berani karena saya tahu Tuhan saya Yesus Kristus dan Dia berkuasa untuk memelihara saya dan apa yang saya lakukan adalah kebenaran dan saya ada di dalam tangan Dia yang baik.

Ini ndak gampang Bapak, Ibu dan ini ndak, bukan sesuatu yang bisa ada di dalam waktu satu malam. Ini bukan pada waktu kita percaya kepada Kristus, kita dibaptis, maka saat itu kita memiliki pengenalan akan Tuhan tetapi ini adalah satu hal yang kita harus jalani dalam kehidupan kita dari jatuh dan bangun yang kita alami dalam kehidupan kita ketika kita berusaha menjalani perkataan Tuhan dalam hidup kita. Baru dari situ kita tahu, “Oh, ini adalah kehendak Tuhan. Ini adalah kebenaran. Ketika saya jalani sulit, nggak papa saya coba jalani. Ternyata saya terlewati daripada ketakutan-ketakutan yang saya alami dalam hati saya. Dan ternyata apa yang Tuhan katakan itu adalah satu kebenaran dan dari situ saya mulai mengerti dan makin percaya dan makin menyerahkan hidup saya ke dalam tangan Tuhan. Tapi kalau kita ndak pernah mau mencoba melangkah di dalam hal itu, khususnya di dalam hal-hal ketika kita ada di dalam lembah kekelaman, dan kondisi yang ada di dalam kekhawatiran dan ketakutan, maka kita ndak mungkin akan bertumbuh di dalam pengenalan kita akan Tuhan.

Tadi sambil pagi-pagi siap-siap saya merenungkan satu hal ya, yaitu kalau kita adalah orang Kristen yang Tuhan tidak pernah izinkan ada pergumulan dalam hidup kita, kira-kira kita akan menjadi orang yang percaya pada Tuhan atau tidak? Kita akan ngomong, “Iya, saya punya iman.” Tetapi saya mau tanya lagi, kalau kita tidak pernah ada dalam pergumulan kita dalam kondisi yang baik, kita ngomong kita percaya pada Tuhan, kira-kira iman kita sama nggak dengan orang Islam punya iman, orang Budha punya iman, orang Hindu punya iman, dan orang-orang lain yang dengan kepercayaan mereka? Saya pikir kita akan terlihat sama. Nggak ada satu keunikan dalam kehidupan Kristen dibandingkan dengan kepercayaan yang lain. Kalau begitu bagaimana orang Kristen bisa dinyatakan sebagai orang yang betul-betul beriman kepada Tuhan dan menyatakan ini adalah iman yang unik? Ini adalah satu kebenaran, sesuatu yang harus dimiliki oleh mereka yang lain juga di luar dari Kristus. Cuma satu cara yaitu Tuhan izinkan kita ada di dalam pergumulan. Itu yang membuat kita akhirnya bisa muncul sebagai orang yang dilihat sebagai orang yang berbeda.

Saya waktu mempersiapkan ini ada satu kesaksian yang dinyatakan juga oleh salah satu pendeta. Dia ngomong kayak gini, “Suatu hari ketika saya melayani satu tempat, ada seorang ibu datang kepada diri dia. Lalu ibu ini bicara, ‘Pak, saya ingin bicara sesuatu yang betul-betul terjadi.’ Apa itu? Dia bilang kayak gini, ‘Saya punya teman Kristen, seorang ibu. Dia betul-betul memilih iman yang kuat di dalam Kristus. Dia adalah orang yang betul-betul percaya kepada Kristus. Tetapi masalahnya adalah dia terserang kanker. Akhirnya, dia harus dirawat di rumah sakit karena kankernya itu. Tetapi, waktu itu suster ketika melihat diri dari ibu ini, dia akhirnya mendapatkan sesuatu yang aneh dari ibu ini. Ibu ini sangat senang, bersukacita, nggak kelihatan ada kesedihan di dalam hatinya berkaitan dengan kanker yang dia alami. Lalu dia tulis di laporan medisnya satu sukacita yang tidak lumrah. Dan ibu ini kemudian cerita kepada temannya hal itu. Dan dia bicara seperti ini, Begitu saya tahu tulisan itu sukacita yang tidak lumrah atau perlu dipertanyakan, mulai dari detik itu saya berkomitmen akan menjadi orang yang selalu dikatakan aneh, dengan sukacita, dengan iman kepada Kristus dalam kehidupan kita.’“

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini adalah sesuatu yang harusnya kita bisa lihat dan ini juga adalah sesuatu yang sebenarnya Tuhan sudah karuniakan bagi diri kita. Dari mana? Dari ayat 10. Saya baca kembali, ya. Di dalam Yoh. 10:10 dikatakan, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan. Aku datang supaya mereka mempunyai hidup bersama-sama dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.“ Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Tuhan bukan hanya memberikan hidup pada kita, tetapi Tuhan juga memberikan hidup yang berkelimpahan. Dia mengatakan seperti ini. Mungkin salah satu hal yang perlu kita perhatikan dalam hidup kita bukan dari sisi saya mengabarkan Injil saja. Saya menantang orang untuk percaya kepada Kristus melalui apa yang saya kabarkan dari mulut saya ini. Tapi yang perlu kita pertimbangkan juga adalah pada waktu kita memberitakan tentang Kristus, seperti itu. Waktu kita mengatakan Yesus adalah Tuhan dan adalah Allah yang benar dan sejati dan hanya di dalam Dia ada hidup yang kekal. Masalahnya adalah ketika orang melihat hidup kita, mereka melihat kita ada di dalam kelimpahan tidak? Apakah kita ada di dalam kelimpahan sukacita? Apakah kita ada dalam kelimpahan kekuatan untuk melewati hal-hal yang menjadi pencobaan dalam hidup ini? Apakah kita ada kelimpahan kasih untuk membagikannya kepada orang lain yang nggak layak untuk menerima kasih dalam kehidupan kita? Mereka lihat ada kelimpahan tidak? Mungkin salah satu sebab mereka menolak Injil bukan karena mereka mempertimbangkan benar-salahnya kabar yang kita kabarkan, tapi karena mereka melihat hidup kita nggak ada kelimpahan sama sekali. Atau yang lebih buruk adalah mungkin hidup kita lebih buruk dan lebih mengenaskan dari mereka. Dalam hal apa? Ya, dalam hal-hal yang mungkin kebaikan, kasih, kekuatan, dan yang lain-lainnya.

Yesus berkata, setiap orang yang mengenal Dia harus mengetahui Tuhan sudah menganugerahkan kita untuk hidup di dalam segala kelimpahan. Saya percaya ini adalah hal yang kita perlu tunjukkan juga di dalam hidup kita supaya orang ketika melihat kita walaupun mereka tahu kita bukan orang yang gampang di dalam melewati hidup ini, ada mungkin pergumulan, kesedihan, dan hal-hal yang menyulitkan dalam hidup ini. Tetapi mereka ketika melihat kita, mereka tahu satu hal, orang Kristen tidak pernah kehilangan pengharapan. Orang Kristen selalu ada kekuatan. Orang Kristen bukan hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi dia masih bisa memberkati orang lain di dalam kehidupannya karena dia sudah berkelimpahan, seperti itu. Atau istilah lainnya adalah Tuhan janjikan kalau kita betul-betul mengikut Dia dengan setia, saya yakin hidup Bapak, Ibu, Saudara nggak akan membosankan, penuh dengan hal-hal yang baik, penuh dengan warna, penuh dengan berkat yang kita bisa bagikan dengan orang lain.

Pak Tong suka mengambil ilustrasi seperti ini, ya. Kalau kita ingin melayani, cara melayani itu bukan cangkir ini terbuka, kita isi air lalu di bawahnya kita bolongi untuk keluar air itu. Tapi kalau kita punya prinsip seperti itu, kita suatu hari pasti exhausted, kecapekan, akhirnya kita mundur. Tetapi, cara orang melayani yang benar adalah ini air penuh, diisi lagi dengan air. Akhirnya air itu meluber keluar. Itu adalah cara hidup orang Kristen. Kita membagikan bukan dari apa yang kita ada dan berusaha menguras diri kita seperti itu, tapi kita membagi dan hidup dari kelimpahan yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita. Tuhan kiranya menolong kita, ya. Kita mengerti bahwa Dia adalah gembala yang baik itu. Jalan satu-satunya adalah melalui diri Dia dalam hidup kita dan Dia ingin kita memiliki hidup yang berkelimpahan. Dan hidup yang berkelimpahan bisa didapatkan dari mana? Dari kita berelasi dengan Dia dan mengenal Dia secara pribadi di dalam kehidupan kita. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita.