Tuhan Bekerja Melampaui Logika Manusia, 17 Mei 2026

Fil. 1:12-14

Vik. Tommy Suryadi

Bapak, Ibu semua, sama-sama kita mengingat waktu di awal surat Filipi ini saya sudah menjelaskan bahwa Paulus menulis surat ini dari dalam penjara kepada jemaat Filipi, dan penjara yang dimaksud adalah penjara di Roma. Ketika kita melihat Kisah Para Rasul pasal yang ke terakhir yaitu 28, itu Paulus sudah sampai di Roma tapi kemudian sampai di sana sebagai tahanan. Dan dia boleh berada di satu rumah ya jadi tahanan rumah dan kemudian ada penjaga-penjaganya. Dia tidak boleh ke mana-mana tetapi orang-orang boleh datang untuk melayani Paulus. Jadi ada pemenjaraan masih ada sedikit kebebasan. Dan ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi ini, salah satu tema besarnya adalah sukacita. Dan ini hal yang penting bagi kita semua itu adalah merupakan bagian dari buah Roh. Dan kita sampai kepada bagian ini di mana Paulus memberitahu kepada jemaat apa yang terjadi kepada Dia. Dia mengatakan bahwa seperti yang tadi kita baca, apa yang terjadi pada Paulus yaitu pemenjaraannya dia malah menyebabkan kemajuan Injil.

Nah, ini poin yang menarik, sangat menarik untuk direnungkan Bapak, Ibu semuanya. Kemajuan Injil itu sering kali melampaui logika kita, Bapak, Ibu. Dan kita bisa memahaminya dan merenungkannya dari bagian ini. Kemajuan Injil itu sering kali melampaui logika. Kalau kita mau pakai logika semata, bukankah seharusnya waktu Paulus di penjara, ya terhambat dong ya? Selama ini Paulus kok ibaratnya ujung tombaknya, pemeran utamanya di dalam penginjilan. Dan kita tahu dari semua rasul itu Paulus lah yang paling dominan untuk penginjilan ke mana-mana ke luar Israel. Seharusnya ini kalau mau mikir logika, seharusnya waktu Paulus masuk penjara ya sudah, game over begitu kan ya. Atau ya setidaknya pending dulu di- pause dulu acara penginjilannya, ya nggak tahu gereja-gereja bagaimana. Dan apalagi ketika dikatakan Paulus dipenjara itu gara-gara Injil, secara logika mestinya gereja-gereja jadi takut kan ya, “Waduh pemimpin kita dipenjara. Ya kepala kita sudah dipenjara gara-gara penginjilan. Ya sudah deh, kita slowdown dulu lah, pelan-pelan dulu lah ya, kita ya mundur dulu lah ya. Nanti tunggu situasi rada adem atau tunggu Paulus keluar dari penjara nggak tahu kapan bisa keluar atau nggak, nggak tahujuga ya, barulah nanti kita pikirkan lagi tentang penginjilan.”

Tapi dari yang kita baca Bapak, Ibu semuanya yang terjadi malah Paulus katakan kemajuan bukan kemunduran Injil. Ya, ini saja sudah tidak sesuai dengan logika kita begitu ya. Tapi waktu kita melihat kepada sejarah, terutama sejarah gereja, banyak sekali hal yang melampaui logika, untuk itulah saya juga mendorong Bapak, lbu, ya, ada kesempatan belajar sejarah gereja, mari kita belajar. Banyak sekali detail-detail di mana wah ternyata kok Tuhan bisa pimpin kayak begini, ya itu makin pelajari sejarah gereja kita bisa makin amazed, makin takjub ya, waduh Tuhan itu luar biasa loh ya. Dan kita juga semakin sadar ternyata logika saya sangat terbatas.

Setiap kali saya misalnya belajar, ya, setiap merenungkan saya tuh selalu teringat Ams. 3:5, ya, ini ayat yang penting untuk kita sama-sama renungkan ya, apalagi orang Reformed ya. Ams. 3:5 saya bacakan. “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri.” Atau kalau saya pakai bahasa modernnya, jangan percaya atau bersandar pada logika atau rasio kita sendiri. Sering kali kita terjebak kan ya, bahwa apalagi kalau kita orang-orang yang terdidik, orang-orang yang Tuhan anugerahkan logika yang sangat kuat, memang itu anugerah ya dan kita harus mensyukuri itu ketika Tuhan memberikan anugerah itu kepada kita. Apalagi namanya di gereja Reformed, gitu ya, pasti mikir begitu kan ya. Tiap kali datang acara event dengar sesi pasti mikir kan begitu ya. Tapi kemudian Bapak, Ibu semua, kita juga harus mengakui bahwa ketika logika itu atau rasio itu, pengertian itu dianugerahkan kepada kita, di sisi lain kita juga harus ingat semua itu ada batasannya. Kita diminta untuk mengasihi Allah dengan juga seluruh akal budi kita. Betul? Maka kita harus memaksimalkan anugerah Tuhan ini. Kita memakai pengertian kita, logika kita, kita asah untuk kemuliaan Tuhan. Tapi di sisi yang lain, kita jangan sampai jatuh kepada ekstrem di mana semuanya kita andalkan logika. Ini saya melihat sering kali jadi jebakan orang Reformed, gitu ya. Ya, karena logikanya sangat kuat, sangat sering dilatih. Wah, rasio, rasio, logic ya, kepintaran, pengetahuan segala macamnya, jadi kuat, jadi terasah, tapi kemudian secara mungkin tidak sadar jatuh kepada ekstrem logika yang jadi Tuhan, rasio yang jadi Tuhan. Dan Tuhan pun walaupun nggak diomongkan secara verbal, Tuhan pun kayaknya harus tunduk sama logika saya begitu. Atau kita secara tidak sadar jadinya mengurung Tuhan di dalam logika kita. Tuhan harus bisa saya logikakan, gitu ya, semua saya harus pahami, semua jalan Tuhan, cara Tuhan itu harus masuk akal saya, harus bisa saya jelaskan.

Tapi Bapak, Ibu semuanya, Ams. 3:5 mengingatkan kita bahwa Tuhan itu melampaui logika kita. Dan juga kita diingatkan bahwa logika itu sangat terbatas, Bapak, Ibu. Pengertian kita sangat terbatas. Sebanyak-banyaknya, sepintar-pintarnya kita belajar, tetap saja kita sangat terbatas. Maka, pesan Firman Tuhan dari Ams. 3:5 itu terus berlaku sepanjang zaman, Bapak, Ibu. “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, jangan bersandar pada pengertianmu sendiri.” Pengertian kita bukan Tuhan, pengertian kita bukan segalanya, tetapi satu bagian yang Tuhan anugerahkan untuk kita pakai dalam batasan yang bijak, batasan yang jelas untuk memuliakan Tuhan. Dan saya akan menjelaskan dan mengutarakan beberapa contoh, Bapak, Ibu, semuanya. Di dalam sejarah, bagaimana Tuhan itu bisa bekerja melampaui logika-logika kita. Dan saya harap ini membuat kita juga semakin takjub akan Tuhan dan memotivasi kita untuk terus menginjili, memberitakan Firman kepada orang-orang.

Yang pertama, Bapak, Ibu, semuanya, kita mengingat dari Kisah Para Rasul. Ketika Stefanus itu dikatakan penuh dengan Roh Kudus, lalu dia berdebat dengan orang-orang Yahudi dan kemudian ternyata Roh yang memimpin Stefanus itu jauh lebih kuat daripada orang-orang yang mencoba untuk melawan Injil. Saya bacakan Kis. 8:1-4, ini yang terjadi setelah Stefanus itu mati martir dilempar batu. “Saulus juga setuju dengan pembunuhan atas Stefanus.” Saya membaca dari TB 2. “Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua kecuali rasul-rasul tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Namun, Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan keluar dan menyerahkan mereka untuk dijebloskan ke dalam penjara. Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.” Ini juga ada hal yang nggak logis, Bapak, Ibu. Stefanus baru saja mati, dibunuh, jelas-jelas karena Injil. Dan kemudian tidak berhenti sampai di sana, muncullah seorang yang namanya Saulus yang sangat rajin, Bapak, Ibu. Door to door. Cari satu-satu. Kristen? Oh, ya, tarik. Penjarain. Kalau kita mau kembalikan logikanya, gitu, ya, balik ke logika manusia, betul mereka memang pasti kabur, kan, begitu. Atau nggak, cara paling gampang, sangkal saja Kristus, gampang. “Nggak, nggak, bukan Kristen. Saya nggak kenal siapa itu Yesus, saya nggak tahu, gitu.” Kayak Petrus, kan, ya. Ya, sudah, selamat kan, ya. Nggak jadi ditarik sama Saulus waktu itu.

Tapi kemudian yang terjadi adalah mereka tersebar ke seluruh negeri itu. Lalu ada frasa “sambil memberitakan Injil.” Ini nggak logis, Bapak, Ibu. Baru saja salah satu diaken dilempar batu sampai mati gara-gara Injil. Lalu, melihat penganiayaan makin besar, ancaman makin hebat, lalu sekarang punya kesempatan kabur, mereka bisa kabur berhasil kabur keluar dari Yerusalem, terus ngapain? “Oh ya, sudah, kita mulai hidup yang baru. Ini lembaran yang baru. Jangan lagi mikirin Injil. Nanti dilempar batu kayak Stefanus, gimana? Saya masih punya anak, saya masih punya istri yang saya harus kasih makan. Sudahlah. Tuhan paham, kok. Tuhan mengerti, kok.” Logika sekali, gitu, ya. Tapi nggak! Sudah tersebar mereka punya kesempatan untuk hidup dengan lembaran yang baru, lupakanlah Injil. Itu bikin kamu mati. Eh, nggak. Mereka tersebar sambil memberitakan Injil. Waduh. Ini bego atau apa, ya? Logikanya jalan nggak, sih, kalian orang Kristen, gitu, ya. Tapi, Bapak, Ibu, semuanya, inilah luar biasanya Tuhan, Bapak, Ibu. Dunia mungkin menganggapnya sebagai kebodohan, tapi justru melalui penganiayaan ini Tuhan mendorong orang-orang Kristen yang waktu itu terpusat di Yerusalem menyebar memberitakan Injil. Justru yang terjadi adalah kemajuan Injil, seperti yang Paulus katakan tadi di surat Filipi.

Hal ini juga mengingatkan saya kepada Polikarpus, Bapak, Ibu. Seorang tokoh penting di dalam sejarah gereja. Dia adalah seorang yang melayani Tuhan sampai tua, 80 tahun lebih dia melayani Tuhan sampai suatu kali dia masuk masa penganiayaan. Orang-orang Kristen ditangkap. Lalu bayangkan gitu, ya, dia sudah lansia, 80 tahun lebih, orang-orang sudah mendorong Polikarpus, “kamu kabur aja. Kamu kasihan lho, sudah tua kayak gini. Nggak ada kesempatan lagi, lho. Nggak bisa lari lagi kayak dulu, gitu, ya. Sekarang kesempatan kamu kabur Polikarpus, daripada nanti orangnya datang ke rumah kamu, kamu ditangkap, kamu dianiaya.” Tapi kemudian Polikarpus nggak mau, nggak mau. “Panggilan saya di sini, iman saya di sini. Saya harus melayani jemaat.” Akhirnya beneran ditangkap, Bapak, Ibu. Beneran ditangkap, tapi kemudian dari pihak Romawi masih kasih kesempatan terakhir. Polikarpus, “kamu ini bukan orang yang jahat, cuma perlu satu hal kamu lakukan, sangkallah Kristus. Itu aja. Satu kali ini saja. Kamu nggak jadi dihukum mati, kamu kabur, entah kamu ke mana, mulailah mungkin gereja yang baru gitu ya, komunitas Kristen yang baru, yang di mana penganiayaan itu sangan minim. Masih ada kesempatan kok Polikarpus.” Tapi Polikarpus kemudian mengatakan, “80 tahun lebih Tuhan itu setia terus kepada saya. Masa sekarang saya harus menghianati kesetiaan tersebut? Saya mati nggak apa-apa.” Oh, akhirnya beneran ya sudah, dia masih bersikeras, “saya tidak mau sangkal Kristus.” Akhirnya ya sudah, akhirnya mati dibakar. Dan menurut legenda, sebelum dia benar-benar makin terbakar itu dia menyanyikan pujian. Menyanyi. Dan itu jadi kesaksian yang besar pada saat itu. Nggak masuk logika, Bapak, Ibu. Sekali lagi tidak masuk logika tapi itu adalah kemajuan Injil.

Dan kemudian hal yang kedua, waktu kita melihat kepada sejarah gereja, ada satu masa di mana disebut the great persecution. Ketika kaisar itu berganti menjadi Diocletian, nanti Bapak, Ibu bisa silakan Google. Ini orang yang sangat benci kekristenan dan penganiayaan yang dia lakukan pada saat itu begitu sistematis, terstruktur, dan benar-benar serius menjalankannya. Ada masa-masanya orang Kristen itu dianiaya itu bukan karena ini ya peraturan pemerintah, begitu ya. “Ok, kita laksanakan secara global. Semuanya harus dapat konsekuensi kau jadi Kristen”, begitu ya. Terkadang penganiayaan itu sifatnya lokal. Kalau misalnya kita sekarang di Indonesia kan, ada daerah-daerah yang menikmati boleh bangun gereja, boleh ibadah dengan bebas ya misalnya salah satunya di Yogyakarta ini dan kita jangan sampai take it for granted begitu ya. Karena ada daerah-daerah di Indonesia jadi lokal itu benar-benar dihalangin. Jangankan bangun gedung, mau kumpul saja dicurigai. Kalian mau ngapain? Kalau kedengaran ada lagu gitu ya, wah, lagunya muji Yesus. Wah, langsung kena. Sangat bahaya. Tetapi pada saat itu di zamannya Diocletian, ini ada satu persekusi yang sifatnya sistematis yang menyeluruh. Makanya dikatakan the great persecution. Dan mungkin ini adalah persekusi yang pada zaman itu paling besar Bapak, Ibu. Orang Kristen diseret ke arena. Ada yang mungkin mati di bakar. Ada yang di dalam arena itu di jadikan tontonan untuk di makan singa dan hewan-hewan buas.

Bapak, Ibu, bisa melihat lukisan ya, saya lupa judulnya ya. The Last Prayer of Christian Martyr kalau nggak salah lukisannya. Mungkin Bapak, Ibu pernah lihat lukisan ini ya, jadi di sebelah bagian kirinya tuh ada singa lagi mengaum, lalu lubang di bawah tuh ada singa yang antri mau keluar juga ya, sudah kelaparan. Lalu di sebelah kanan itu agak jauh ada orang-orang Kristen lagi kumpul. Mereka sama-sama pegangan tangan, mereka doa ya. Doa terakhir dari para martir Kristen. Dan kemudian di arena itu seluruhnya lagi nonton jadi tontonan. Bapak, Ibu, tidak cuma Kristen itu dianiaya secara fisik, dimatikan, tapi dipermalukan, dijadikan tontonan untuk hiburan orang-orang Romawi yang sudah kesal, yang sudah haus darah, yang sudah pusing pekerjaan dan lain-lain. Cari hiburannya gimana? Oh, lihat orang Kristen lagi dibunuh. Hiburan. Pengganti bioskop pada zaman itu, Bapak, Ibu. Gila, memang gila gitu.

Tapi Bapak, Ibu sekali lagi tidak sesuai logika. Mestinya ketika persekusi itu terjadi kan orang-orang bisa melihat ya semuanya menonton. Wah, ini nih nasibnya kalau kamu jadi orang Kristen. Logikanya kan begitu ya. Ya sudah, jangan jadi Kristen. Kamu mau dimakan singa ya bodoh begitu kan ya. Tapi yang terjadi faktanya Bapak, Ibu yang terjadi adalah, orang-orang itu justru malah jadi kepo. Penonton-penonton itu jadi penasaran kok bisa ya ada orang-orang seperti ini terus pegang Kristus. Padahal siapa sih Yesus? Orangnya mati di atas kayu salib. Kriminal bagi orang Romawi. Ini orang mati di atas kayu salib. Kamu percaya, kamu sembah-sembah. Bahkan kamu rela mati untuk dia, nggak masuk akal. Tapi justru itu membuat mereka penasaran. Kok bisa ya ada orang-orang yang sekuat ini pegang iman.

Dan ternyata Bapak, Ibu semuanya persekusi terhadap orang Kristen itu malah jadi kesempatan untuk bersaksi, kesempatan untuk menyebarkan Injil. Kesempatan untuk menyatakan bahwa Kristus lebih besar daripada nyawa saya. Saya mati pun nggak apa-apa. Yang penting saya tetap dimiliki Kristus. Dan alhasil dari persekusi besar itu malah banyak juga yang jadi orang Kristen. Luar biasa Bapak, Ibu. Sekali lagi melampaui logika kita.

Dan contoh lain Bapak, Ibu semuanya di dalam sejarah gereja adalah ketika gereja itu, ya ini juga jadi renungan yang baik untuk zaman sekarang ya. Gereja pada zaman itu di abad mula-mula mereka itu anti mainstream Bapak, Ibu. Sangat berbeda budayanya dengan orang-orang Romawi di sekitar mereka. Makanya mereka dianggap orang aneh. Salah satu contoh keanehannya adalah ada hal yang dicatat oleh seorang kaisar yang pengen mematikan Kekristenan juga, namanya Julian the Apostate. Nanti silakan di google juga Bapak, Ibu, ya. Julian the Apostate. Ada satu catatannya dia yang menjadi inspirasi ya. Ya, sebenarnya dia mau mengatakan begini. Sebenarnya dia mau menghina kekristenan. Orang Kristen ini aneh gitu ya, kurang lebih. Mereka itu kayak kasarnya pemulung. Apa yang kita buang mereka ambil. Apa yang dibuang ya? Orang-orang Romawi itu orang-orang yang mengidolakan kekuatan Bapak, Ibu. Memuliakan, mengglorifikasi namanya power, strength. Maka pada saat yang sama misalnya ada anak yang lahir cacat, bagi mereka nggak bisa, buang aja, nggak peduli. Mana ada panti asuhan, mana ada itu ya foster home gitu ya untuk orang-orang, “Oh, nanti ada yang ngerawat kok.” Nggak ada. Anak cacat ya buang aja. Susah amat begitu ya. Bisa bikin lagi. Kasarnya begitu. Mengglorifikasi kekuatan. Lalu orang sakit sudah susah sembuh, ya sudah buang aja udah nggak ada gunanya lagi. Apalagi misalnya orang-orang sudah lansia ya, sudah sakit-sakitan cuma bisa menyusahkan, ya sudah buang aja. Tetapi orang Kristen malah berbeda, bertolak belakang. Anak yang cacat itu diambil, diasuh, dibesarkan. Nggak apa-apa cacat, kasih Tuhan untuk anak ini. Ada orang-orang yang sakit yang dibuang malah diambil sama orang Kristen. Dirawat baik-baik, berharap bisa sembuh. Ada orang-orang sudah lansia, sudah nggak bisa apa-apa yang dibuang malah diambil sama orang Kristen. Ayo kini kita rawat, kita nyatakan kasih Tuhan kepada dia. Makanya ada yang menyatakan sebenarnya cikal bakal panti asuhan, panti jompo, rumah sakit itu kekristenan, Bapak, Ibu. Cikal bakalnya dari orang-orang Kristen mula-mula ini yang kelihatannya melakukan hal-hal yang sederhana ya. Anak cacat dipungut dirawat, orang sakit dirawat sampai sembuh, lansia yang dibuang mereka ambil, mereka rawat sampai bisa meninggal dengan tenang. Maka orang-orang Romawi kebingungan. Ini orang Kristen kayak pemulung ya, yang kita buang mereka ambil. Tapi pada saat yang sama juga ada orang-orang yang terkesima. Kok bisa ya kita buang-buangin dengan gampang gitu, tapi orang Kristen ini kok rela ya manusia-manusia lemah tidak berguna ini mereka semua berikan kasih. Akhirnya dari kesaksian itu, Bapak, Ibu banyak orang yang tergerak ya apa sih iman Kristen itu? Siapa sih Yesus itu? Dari tindakan-tindakan kasih ini yang melawan budaya pada saat itu, justru malah Injil itu semakin maju, semakin tersebar.

Beda dengan zaman sekarang gitu ya. Gereja malah pengen ikutan dunia. Oh, sekarang dunia budayanya ini, trend-nya ini loh. Ya, kita ikutinlah, kalau nggak nanti gereja sepi loh, nanti anak mudanya kabur loh. Sudahlah kita ikutin aja lah gitu ya. Yang penting bisa menyampaikan Injil gitu ya. Lalu celakanya ini kan terjadi sudah berapa puluh tahun mungkin Bapak, Ibu ya. Celakanya adalah justru gereja-gereja yang mau ikut-ikutan itu mungkin awalnya tambah banyak kelihatannya tapi kemudian orang-orang di dalamnya juga sadar. Gereja dengan dunia sama kok. Ya sudah, kenapa harus ke gereja kalau gitu kan? Di dunia saja. Akhirnya awalnya memang gereja naik, naik, naik, naik, tapi kemudian mentok. Terus tiba-tiba turun turun, turun, turun, turun, turun terus kemudian gereja bingung lagi gitu ya kelabakan. Aduh gimana nih caranya? Gimana caranya? Ok, mungkin kita harus makin mirip dunia dari musik lalu kemudian mulai tata ruang ibadahnya diubah, lampunya mulai ditambah kelap-kelip segala macam, pengkhotbahnya mulai diubah juga gitu ya. Jangan pakai jas, jangan pakai jas gitu ya. Nih saya beliin yang lebih keren gitu ya. Harus pakai jeans robek begitulah ya. Nanti di Vikaris Lukman pakai jeans robek lah gitu lah ya, biar makin banyak yang datang begitu ya. Jangan lagu-lagu himne lah gitu loh ya, yang agak ini dikit kontemporer dikit gitu loh ya. Lama-lama geser, geser, geser, geser. Mari kita bikin orang itu makin nyaman. Masuk gereja nggak ada beda dengan dunia. Masuk ruang ibadah nggak beda dengan bioskop. Supaya nyaman, supaya orang datang semua dengar Injil.

Tapi kemudian ternyata yang terjadi itu sebaliknya, Bapak, Ibu. Justru ketika gereja itu tidak mempertahankan budaya Kristennya, malah yang terjadi adalah power-nya hilang, Bapak, Ibu. Kekuatannya hilang. Yang ikut-ikutan awalnya makin ramai, tapi kemudian nggak ada power juga sih. Lama-lama akhirnya ya sudah ubah aja semua gitu ya. Sampai akhirnya di gereja, ada gereja di Amerika itu kalau saya dikasih fotonya ya, kalau Bapak, Ibu dikasih lihat fotonya ya, mungkin Bapak Ibu akan mikir ini night club di mana? Beneran ini night club di mana ya? Oh nggak, nggak ini gereja. Gedung gereja dibikin sama persis dengan night club supaya apa ya? Supaya mereka nyaman di sini ya. Tapi kemudian ya orang-orang jadi mikir juga kan sekali lagi ngapain kalau gitu saya ke gereja kan sama aja. Kenapa nggak ke tempat lain? Banyak night club yang lebih asyik kok. Kenapa harus night club yang ini gitu? Bagaimanapun juga dunia pasti lebih asyiklah dibanding gereja, lebih duniawi lah ya dibanding gereja. Pasti kok. Nggak mungkin menang kalau bicara soal kenyamanan dan keduniawian nggak mungkin menang.

Tapi justru harusnya gereja itu menjadi arus yang melawan, anti-mainstream seperti gereja mula-mula. Counter-cultural, budaya yang merusak dilawan oleh gereja, kasih budaya yang baru. Budaya di mana kasih Kristus itu dinyatakan. Budaya di mana Injil itu jadi yang pusat, jadi yang utama dan ajak orang-orang untuk percaya kepada Injil. Itu yang dilakukan oleh orang-orang Kristen di abad mula-mula Bapak, Ibu. Kelihatannya nggak sesuai logika, tapi sejarah menyatakan justru gereja mula-mula itu dipakai Tuhan untuk kemajuan Injil. Dan kalau kita juga mau dipakai Tuhan untuk kemajuan Injil, maka kita tidak boleh kompromi dengan dunia. Kita tidak boleh membiarkan dunia menggarami kita. Justru kita yang menggarami dunia. Banyak tantangan, banyak tantangan. Tapi sekali lagi Bapak, Ibu, jangan bergantung pada logika kita. Karena sering kali kemajuan Injil itu melampaui logika kita.

Dan kemudian contoh yang lain di dalam sejarah, mungkin Bapak Ibu pernah mendengar Saint Patrick’s Day, mungkin pernah, ya. Itu kalau Bapak, Ibu lihat kalender –biasanya Google Calendar ada hari-harinya, Santo Santa begitu, ya– pada bulan Maret itu, sebelum Paskah, ada yang disebut Saint Patrick’s Day. Ya, saya kadang agak gimana gitu, ya. Nama Patrick itu udah dicemarkan oleh kartun SpongeBob gitu, ya. Jadi gini, ya: dengar kata “Patrick” itu kadang, aduh, jadi kepikiran ke sana, begitu ya. Tapi mari kita redeem gitu, ya. Kita ubah gitu, ya. Kita ingatnya Patrick yang orang Kristen aja gitu lah, ya. Jangan ingat Patrick Star gitu, yang lain.

Ada seorang Kristen yang bernama Patrick. Dia lahir di Inggris. Dan kemudian dia itu, ya, dijajah oleh kaum barbar dari Irlandia. Dan dia dijual, dibawa ke Irlandia, dijadikan budak. Dan kemudian satu dan lain hal terjadi. Akhirnya, dalam pimpinan Tuhan, dia berhasil kabur pulang kembali ke Inggris. Tapi kemudian, dalam pimpinan Tuhan –dia ada satu catatan seperti jurnal pribadinya, ya, dia menulis– dia sangat jelas mendapat pimpinan Tuhan: harus kembali ke Irlandia jadi Penginjil. Dan memang sampai hari ini, ya, kalau mereka Katolik, bilangnya Santo Patrick, ya. Santo Patrick menjadi dianggap rasulnya orang Irlandia. Dan kisahnya itu menginspirasi sekali. Bayangkan Bapak, Ibu: dia dari keluarga baik-baik di Inggris. Tiba-tiba diserang. Dijual jadi budak di Irlandia. Bisa bebas akhirnya. Puji Tuhan. Eh, panggilannya ke mana? Balik lagi. Kebayang nggak, Bapak, Ibu, kalau misalnya dalam hidup Bapak, Ibu pernah ada pengalaman traumatis –sangat traumatis– di satu tempat tertentu, itu biasanya orang nggak mau ke sana lagi Bapak, Ibu. Bahkan ada—saya pernah dengar cerita Bapak, Ibu, ya— misalnya ada orang yang akhirnya lepas narkoba. Lalu kemudian –misalnya nih– di satu tempat itu dia itu sering pakainya di sana, narkobanya. Lalu kemudian akhirnya berhasil, dalam pimpinan Tuhan, lepas dari narkoba itu. Belasan tahun, dua puluh tahun berlalu, ini sudah lama sekali. Tapi ketika suatu ketika dia naik mobil, lewat –lewat doang– lewat tempat itu. Dia ngeliat tempat itu: dulu dia pakai narkoba dua puluh tahun yang lalu, tiba-tiba badan gemetaran lagi Bapak, Ibu. Lho? Kan sudah lepas? Sudah dua puluh tahun? Tapi, kuat sekali lho Bapak, Ibu, mencengkeram. Dia lihat tempat itu lagi. Sangat traumatis. Sudah lewat dua puluh tahun pun dia gemetaran lagi lihat tempat itu.

Coba kita bayangkan, gitu ya. Patrick. Dijual jadi budak. Dan jangan pikir, “Oh, jadi budak, ya ada hak-hak budak lah, ya.” Ya, nggak ada lah, ya begitu, ya. Namanya juga dijajah, dijual paksa, kok. Seperti Yusuf kan? Di Mesir? Akhirnya bebas! Tapi pimpinan Tuhan: “Kembali! Beritakan Injil!” Wah, Nggak sesuai logika Bapak, Ibu! Nggak sesuai logika! Kenapa nggak pakai orang lain aja nggak ada pengalaman trauma? Gitu, ya? Mungkin bisa lebih lancar kek atau gimana gitu, ya? Tapi nggak! Tuhan mau pakai dia. “Hadapilah pengalaman traumatis itu!” Demi apa? Demi memberitakan Injil.

Saya nggak tahu di antara kita, Bapak, Ibu semua, apakah pernah ada mungkin pengalaman-pengalaman traumatis waktu memberitakan Injil? Atau waktu melayani Tuhan? Sering –sudah sering lah– saya mendengar itu. Jemaat yang kena trauma gitu, ya. Entah waktu pelayanan di dalam gereja, entah waktu coba melayani ke luar. “Aduh, ketemu ini! Ketemu itu! Aduh, kapok, Pak! Kapok! Udah lah. Nggak mau lagi, lah! Saya pindah bidang pelayanan saja!” Begitu. Ya, itu hal yang lain, begitu, ya. Tapi bagaimana sih kita menyikapinya sebenarnya? Harusnya? Apakah kita sungguh-sungguh melihat panggilan Tuhan? Atau, “Ya sudah. Karena kebawa trauma ya sudah deh. Nggak usah. Ini, ini tutup jalan begitu, ya. Logikanya saya nggak harus ke sana, begitu.” Tapi nggak, ya. Sekali lagi, kemajuan Injil itu sering kali melampaui logika Bapak, Ibu. Pimpinan Tuhan bagi kita juga sering kali melampaui logika Bapak, Ibu.

Saya lupa. Saya pernah cerita nggak, ya, di sini, ya? Waktu saya katakan, “Saya ini introvert Bapak, Ibu.” Waktu saya pertama kali –waktu itu di GRII Karawaci, di Pemuda, cuma berapa belas, berapa puluh orang– saya diminta jadi liturgosnya, gitu. Jadi MC-nya. Saya sepanjang dari awal sampai akhir mimpin itu cuma begini mukanya (menunduk) gitu, ya. Sambil, ya, baca teks gitu lah, ya. Baca lirik lagunya sambil mimpin. Begitu lah, ya. Begini-begini aja sekali-sekali (melirik jemaat sesekali) begitu. Bapak, Ibu, kebayang nggak? Kalau saya khotbah, ya (memperagakan menunduk terus sambil melirik jemaat sesekali): “Bapak, Ibu, mari kita baca Filipi 1:12–14, ya. Kita baca sama-sama. Oke? Cuma, cuma, cuma ngintip aja begitu, ya. Setelah itu terjadi, kemudian saya bicara kepada bagian acara, bagian ibadahnya, “Jangan tunjuk saya lagi, ya!” Simpel: itu pengalaman traumatis. “Jangan bawa saya ke sana lagi. Dari dulu saya sudah nyaman dengan pelayanan belakang layar. Perlengkapan.” Begitu, ya. “Auvi. Angkat-angkat barang. Nggak apa-apa! Justru saya happy!” Begitu, ya. Cuma muncul sebelum ibadah sama muncul setelah ibadah. Gitu, kan? Di tengah-tengah ibadah saya duduk di belakang. Gitu, kan? Sangat simpel, ya? Life was so simple, back then. Hidup itu sederhana, ya? Dulu.

Ternyata, eh, Tuhan panggil: “Kamu masuk STT!” “Yang benar, Tuhan?” Logikanya di mana? Gitu, ya. Tapi, selama saya menjalani panggilan itu, banyak sekali hal-hal yang melampaui logika! Saya yakin, saya sangat yakin waktu itu, ya, –waktu NREC dan kemudian ada panggilan hamba Tuhan dipimpin Pendeta Stephen Tong– saya yakin dari seribu pemuda di sana, banyak yang jauh lebih pintar daripada saya! Banyak yang jauh sudah lebih pengalaman public speaking dibanding saya! Saya logikakan itu waktu doa sama Tuhan. Kan banyak yang lebih baik Tuhan, why me? Saya mau hidup damai saja, nggak apa-apa Tuhan mau perlengkapan ngangkat 100 kilo, 200 kilo, nggak apa-apa. Yang penting saya perlengkapan aja gitu ya. Itulah panggilanku, itulah jalan ninjaku gitu ya, perlengkapan begitu. Tapi nggak. Tapi nggak. Tuhan ternyata berikan yang lain, yang tidak sesuai logika saya. Dan kita memiliki peran adalah taat.

Maka dari itu Bapak-Ibu semuanya, ketika kita merenungkan bahkan cuma beberapa hal saja dari sejarah gereja ini, hal-hal ini harusnya membuat kita itu di satu sisi tidak tawar hati, Bapak, Ibu. Saya yakin ketika kita melayani, ketika nanti Tuhan berikan kita kesempatan besar untuk KKR, KKR Regional, dan lain-lain, mungkin ada saja akan ada tantangan. Ada saja pihak-pihak yang mau menghalangi. Tapi jangan sampai itu membuat kita tawar hati, Bapak, Ibu. Karena Paulus di penjara pun, Injil itu nggak berhenti maju, Bapak, Ibu. Kita nggak perlu takut, “aduh kalau saya, kalau kita GRII Jogja nggak bisa maju, nanti Injil gimana?” Nggak usah khawatir. Tuhan bisa pakai cara aneh-aneh yang kita nggak kebayang, eh ternyata jadi juga ya, kok bisa ya? Nggak tahu, pokoknya tiba-tiba saja begitu jadi.

Dan juga pemahaman ini di sisi yang lain membuat kita tidak sombong, Bapak, Ibu. Terkadang kalau pelayanan lancar itu, “Oh karena logika saya, saya waktu itu sudah pikirkan baik-baik seluruh pelayanan dari A sampai Z, semua berjalan sesuai logika saya, lho kan makanya sukses.” Kita nggak ada tempat untuk menyombongkan diri seperti itu, Bapak, Ibu. Meskipun kita itu sudah rapat, planning baik-baik, semuanya sudah ter-organize secara rapi, semuanya berjalan sesuai rencana, respons kita bukanlah jadi orang sombong harusnya. Justru harusnya kita bersyukur, “Wah Tuhan bisa pakai logika kita semua, Tuhan kasih hikmat dan semuanya bisa berjalan lancar, Puji Tuhan.” Karena rasio logika ini pun, itu pun anugerah Tuhan. Nggak ada celah untuk kita bisa menyombongkan diri. Jadi sekali lagi, di satu sisi kita tidak boleh tawar hati, begitu menghadapi tantangan, di satu sisi yang lain kita tidak boleh menjadi sombong, ketika pelayanan itu sukses.

Hal yang berikut yang kita bisa renungkan dari bagian ini adalah, kita bisa melihat sukacita Paulus di dalam ayat-ayat ini. Meskipun kata sukacita tidak dituliskan secara eksplisit, tapi kita bisa melihat nuansanya. Waktu Paulus mengatakan, “Yang terjadi padaku ini menyebabkan kemajuan Injil.” Sebelumnya, di ayat-ayat sebelumnya, Paulus menyatakan bahwa dia bersukacita, kenapa? Karena Jemaat Filipi dikatakan berpartisipasi dalam berita Injil dari awal sampai sekarang, bahkan sampai Tuhan datang kembali. Paulus bersukacita karena Jemaat Filipi berpartisipasi dalam berita Injil. Mereka menerima Injil, mereka menghidupi Injil, mereka menyebarkan Injil, dan mereka mendukung penginjilan oleh orang lain. Dalam kasus ini secara khusus, Paulus. Dan itu menyebabkan Paulus bersukacita.

Dan kemudian sumber sukacita lainnya adalah dari Paulus ketika dia menyatakan bahwa ternyata apa yang terjadi pada dia justru menyebabkan kemajuan Injil. Dan dia mengatakan, “telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.” Saya membayangkan Bapak, Ibu semuanya. Paulus kan di rumah tahanan, lalu biasanya itu dikasih penjaga Bapak, Ibu, orang Roma juga. Kemudian pasti ini kan ya, prajurit-prajurit itu ada ngobrol, pasti ada kepo-nya juga lah. “Ini jagain siapa?” “Oh si Paulus” “Dia kriminalnya apa? Bunuh orangkah? Memberontakah atau apa?” “Oh nggaknggak, beritain Injil.” “Injil itu apa ya?” Kepo kan pasti. “Injil itu apa?” “Agama-agama itu yang Yesus itu disalib.” Akhirnya secara nggak langsung, secara nggak sadar, Injil itu bisa pass-on terus dari prajurit-prajurit yang kepo ini.

Lalu kemudian bayangkan Bapak, Ibu ya, dia di rumah tahanan, nunggu doang kan, nggak bisa ngapa-ngapain. Paling tulis surat misalnya, seperti surat Filipi. Lalu penjaganya juga nggak bisa ngapa-ngapain, mesti stand by, diam di sana berapa jam. Mungkin saja Paulus bisa saja waktu lagi nyanyi pujian, prajuritnya dengar, dia nyanyi apa sih? Nyanyi Yesus, Yesus. Atau mungkin malah Paulus samperin kali ya, ngobrol-ngobrol, “kamu penjaga dari mana? Asli dari mana?” Begitulah, ngobrol-ngobrol. Dan itu bisa jadi kesempatan bagi Paulus penginjilan. Dan pernah ada satu pengkhotbah ya, dia coba hitung-hitung kalau satu penjaga shift-nya 4 jam misalnya, 4 jam, 5 jam misalnya. Terus ganti lagi, Paulus penginjilan lagi. Ganti shift lagi, Paulus penginjilan lagi, ganti shift lagi, Paulus penginjilan lagi. Mungkin sudah berapa puluh sampai 100 penjaga yang dia bisa penginjilan di dalam penjara. Pemenjaraan itu tidak memundurkan Injil ternyata. Malah justru menyebabkan kemajuan Injil.

Dan tidak hanya itu, Paulus mengatakan malah kebanyakan saudara dalam Tuhan itu beroleh kepercayaan untuk semakin berani berkata-kata tentang firman Allah tanpa takut. Sekali lagi ini melampaui logika, Bapak-Ibu. Paulus dipenjara, pemimpin kamu dipenjara. Masih mau ikutan kayak dia begitu ya? Tapi malah dikatakan oleh Paulus, malah makin banyak orang makin berani untuk memberitakan Allah, memberitakan firman Tuhan. Begitu hebat, luar biasa karya Tuhan Bapak-Ibu semuanya. Tuhan bisa bangkitkan begitu banyak orang yang tidak terduga untuk menyebarkan Injil.

Suatu kali, kami STT kedatangan satu misionaris, saya tidak akan sebut namanya atau di daerah mana karena agak sensitif. Jadi, beliau, waktu itu bercerita, ya, pengalaman dia di satu daerah di Indonesia yang sangat, sangat melawan kekristenan dan kemudian dia berani masuk ke sana sampai ke pedalaman dan pernah dipenjara, diberikan tuduhan, fitnahan. Dia ini, pendeta ini mencuri atau apalah begitu, ya. Dipenjara dan sangat sadis. Penjaranya itu nggak ada atapnya, tetapi temboknya tinggi, Bapak, Ibu. Jadi, kalau kehujanan, ya, dibiarin kehujanan saja. Sampai suatu kali, dia harus menggigil kedinginan, ya. Dan kemudian─ ini pengalaman yang mungkin bagi kita susah diterima, ya─ dia bilang, di momen seperti itu, ya, hujan, nggak bisa ke mana-mana, nggak ada selimut, nggak ada penghangat, kedinginan, kelaparan, kotoran manusia itu jadi terasa sangat enak, dia bilang. Sampai begitu. Maaf, sampai dia BAB hangat kan, ya? Itu dia bilang, “Kotoran ternikmat seumur hidup saya,” dia bilang. Saking kedinginan dan kelaparannya di dalam penjara itu. Dia sama sekali tidak goyah, ya. Dia sama sekali tidak merasa, “Aduh, Tuhan kok begini, ya? Saya bermisi lho untuk Tuhan. Kenapa Tuhan sepertinya kok membalas budinya kayak begini?” Dia nggak mengkhawatirkan itu. Dia katakan, yang dia khawatirkan adalah, “Apakah anak saya akan trauma melihat saya, papanya dipenjara kayak begini?” Itu yang mengganggu pikiran dia. Dia terus berdoa, “Tuhan, saya nggak mau anak saya sampai kepahitan sama Tuhan.”

Tetapi kemudian, ternyata doanya terjawab, Bapak, Ibu. Saat dia sudah boleh dikeluarkan dari penjara, dia akhirnya ketemu lagi sama keluarganya. Dia itu sudah takut, ini anaknya nanti ngomong apa? Begitu, ya. “Kok, papa jadi penginjil, Tuhan kayak perlakukan kayak begitu?” Ternyata nggak. Malah anehnya, anaknya semangat, ya, menyambut papanya. Anaknya terus bilang, “Pa, aku mau jadi penginjil kayak papa!” Wah, dia terharu sekali. Ya, kita balik lagi pikir, ya. Logikanya di mana, coba? Ngelihat papanya dipenjara, diperlakukan kayak gitu sampai makan kotoran sendiri. Terus, malah anaknya tergerak. “Pa, aku juga mau jadi penginjil!” Luar biasa, Bapak, Ibu.

Sekali lagi, kemajuan Injil sering kali melampaui logika. Maka, Bapak, Ibu semua, kita nggak perlu takut gitu, ya. Sering kali ketakutan kita itu karena kita terlalu pintar. Logika kita terlalu kuat, ya. “Oh, nanti kalau saya begini, nanti terjadi begini, terjadi begini!” Oh, sudah bisa memikirkan 50 langkah ke depan begitu, ya, kayak main catur begitu. Tetapi, semuanya isinya kekhawatiran dan ketakutan. Akhirnya, berkata kepada Tuhan, “Sudah, Tuhan, Tuhan! Saya sudah bisa menubuatkan 50 langkah ke depan. Saya akan menderita dan segala macam!” begitu, ya. Ya, kita sudah melawan Ams. 3:5 tadi, ya. Justru malah kita jadinya, “Percayalah kepada pengertianmu sendiri. Jangan bersandar kepada Tuhan.” Kita balik ayat itu, ya. Harusnya kita yang balik, ikut ayat itu kan?

Maka, sekali lagi, kita akui, ya. Kita akui keterbatasan kita. Kita doa. Kita mohon kepada Tuhan supaya kita bisa punya satu optimisme, satu sukacita yang Paulus rasakan itu, Bapak, Ibu karena sukacita itu sendiri juga melampaui logika. Sukacita Tuhan melampaui logika juga dan sukacita itu juga yang terus mendorong Paulus mau sampai garis akhir, Bapak, Ibu.

Seperti saya pernah sampaikan, banyak orang bensin pelayanannya itu apa? Guilty feeling. “Aduh, kalau nggak pelayanan, nanti gimana? Nanti ditanya begini, begitu.” Kenapa melayani? Takut. Kenapa melayani? Khawatir. Kenapa melayani? Ya, rasa nggak enak saja, rasa bersalah. Dan nggak jarang, orang-orang Kristen yang seperti itu ujungnya burnout. Nanti tiba-tiba, 1 titik, “Aduh, Pak. Saya mundur dulu, ya, Pak dari semuanya.” “Lho, kenapa kok tiba-tiba?” begitu, ya. Tetapi, berbeda dengan orang yang dapat sukacita dari Tuhan dan itu yang jadi bensin, jadi pendorong dia pelayanan seperti Paulus. Itu salah satu─ kalau mau dibilang rahasia, ya ─rahasia kenapa Paulus kok nggak ada mati-matinya, ya? Nggak ada mundur-mundurnya begitu. Kenapa? Karena dia sudah punya sukacita itu. Sukacita Ilahi yang melampaui semua logika. Maka, kita berdoa sama-sama Bapak, Ibu agar sukacita itu juga kita punya bukan berdasarkan logika, tetapi berdasarkan firman Tuhan, berdasarkan pimpinan Tuhan sehingga kita boleh didorong untuk taat, untuk terus melayani, dan terus hidup kudus memuliakan Tuhan. Mari kita berdoa.

Bapa yang di surga, kami bersyukur karena kami boleh mendapatkan kesempatan ini sekali lagi untuk merenungkan firman Tuhan. Kami bersyukur untuk ketenangan, juga keamanan yang Tuhan berikan selama kami beribadah dan selama kami merenungkan firman Tuhan. Ya, Tuhan, kami berdoa, memohon kepada-Mu agar kami juga bisa memiliki sukacita Ilahi seperti yang Paulus miliki. Kami juga mau memilikinya. Bukan untuk kesenangan kami sendiri, tetapi supaya kami memiliki satu dorongan, satu semangat seperti yang dimiliki oleh Rasul Paulus sehingga kami dengan satu kekuatan yang besar dari Tuhan boleh terus melayani, boleh terus hidup kudus, boleh terus melawan arus-arus zaman, arus-arus dunia yang merayu kami untuk berkompromi. Ajarlah kami, ya, Tuhan untuk bukan menuhankan logika kami, tetapi sungguh-sungguh melihat firman Tuhan. Tuhan sendiri sebagai Penguasa dan Raja atas hidup kami. Tolonglah kami, ya, Tuhan. Tolonglah kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.