Kebangkitan Kristus : Jalan Menghapus Tangisan Dunia Dengan Sempurna, 12 April 2026

Wahyu 21:4

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ketika kita mempelajari doktrin manusia dan dosa, kita tahu bahwa manusia semua sudah jatuh dalam dosa dan efek dosa itu begitu besar, begitu kacau, dan begitu buruk. Ketika kita mempelajari kehidupan manusia yang berdosa ini, kita bisa lihat bahwa tidak ada manusia yang tidak mengalami sakit, tidak ada manusia yang tidak mengalami penderitaan, manusia melihat kejahatan di sekitarnya bahkan di dalam keluarga mereka sendiri. Dan kita bisa katakan bahwa setiap kesedihan karena kejahatan atau karena dosa ini kita bisa sebut itu adalah suatu hal yang gelap, suatu hal yang suram yang bukan berasal dari Allah. Kita tidak bisa mempelajari kaitan Allah dengan dosa, tetapi kaitan manusia dengan dosa itu sangat erat. Kita dilahirkan di dalam dosa. Maka kita pelajari dan kita percaya juga original sin atau dosa asal.

Setiap manusia sudah jatuh dalam dosa, sudah mendapatkan murka Allah, mendapatkan kesengsaraan, mendapatkan kecelakaan. Karena apa? Karena kita sudah melanggar hukum-hukum Allah. Tapi ketika kita membandingkan diri manusia yang berdosa dengan Allah yang kudus, kita mendapati bahwa Allah itu kudus tanpa dosa dan Dia selalu baik. Allah adalah Allah yang Maha baik. Allah tidak pernah melakukan kejahatan. Allah tidak pernah merencanakan kejahatan terjadi dalam diri hidup manusia atau berinisiatif agar manusia itu jatuh ke dalam dosa dan senang ketika manusia itu melawan dirinya sendiri. Allah bukanlah Allah yang jahat. Allah bukan pengarang dosa. Dia juga bukan orang atau Pribadi yang menciptakan dosa. Dia adalah Allah yang suci, Allah yang Maha baik sepenuhnya.

Lalu ketika kita tanya, “Dosa berasal dari mana kalau begitu? Bukankah Allah itu sumber segala sesuatunya? Bukankah Allah yang menciptakan kita sebagai manusia?” Nah, waktu Allah menciptakan manusia, ingat bahwa Allah itu tidak menciptakan manusia yang berdosa atau malaikat yang berdosa. Allah menciptakan manusia yang suci tanpa dosa dan juga malaikat yang tanpa dosa juga. Jadi, dosa itu berasal dari mana? Dosa itu bukan berasal dari Tuhan. Dosa itu berasal dari ciptaan-Nya yang melawan hukum-hukum Tuhan, yang melawan perintah-perintah Tuhan.

Sehingga kita dapat simpulkan, Bapak, Ibu sekalian, ada tiga hal yang menjadi efek dosa di dalam kehidupan manusia. Yang pertama adalah kematian fisik. Kematian fisik adalah suatu bentuk efek dari dosa. Bukan hanya kematian fisik, kita bisa lihat bahwa ada tiga jenis kematian di dalam kehidupan manusia, yaitu kematian rohani dan juga kematian kekal. Itu semua karena kita sudah lakukan dosa. Upah dosa adalah maut. Upah dosa adalah mati. Maka kematian bukanlah hal yang natural di dalam kehidupan manusia. Bukanlah hal yang biasa yang tidak efeknya bukan dari dosa. Bukan. Ya, kematian ini adalah efek dari dosa. Sehingga kematian Alkitab menjelaskan itu adalah musuh. Itu adalah sesuatu yang asing bagi manusia. Sesuatu yang manusia tidak inginkan terjadi di dalam kehidupan manusia.

Allah berkata kepada Adam ketika akhirnya Adam kalau melakukan dosa, maka upah dosa adalah maut. “Pada hari kamu sombong, pada hari kamu tidak beriman kepada firman Tuhan, pada hari kamu memakan buah pengetahuan baik dan jahat, kamu pasti mati.” Allah katakan demikian. Pasti mati karena apa? Karena Tuhan adil, Tuhan kudus, dan itu efek dosa yang begitu besar yaitu mengalami kematian. Adam dan Hawa seharusnya mengalami tiga kematian ini. Kematian fisik ketika dia melawan Tuhan. Kematian rohani ketika dia pada akhirnya terpisah relasinya dengan Allah, menjadi musuh Allah, bukan sahabat Allah. Dan juga kematian neraka atau keterpisahan dengan Allah selama-lamanya. Keterpisahan dengan kasih Allah selama-lamanya. Alkitab mengatakan orang yang mengalami kematian tubuhnya akan menjadi debu kembali, ya, akan mengalami kerusakan dan juga kefanaan. Alkitab katakan bahwa orang yang lakukan dosa akan menghadap penghakiman Allah yaitu mendapatkan upah dosa yaitu maut. Sehingga kita merasakan bahwa efek dosa itu adalah suatu kematian.

Nah, Bapak, Ibu sekalian, Agustinus dari Hippo mengatakan bahwa dosa itu membuat kita terputus dari sang sumber hidup. Ya, ketika kita berdosa, kita sudah mati. Kita sudah terlepas dari Allah sendiri. Ya, bukan tanggung jawab Allah juga untuk memelihara kehidupan manusia yang berdosa. Manusia sudah selayaknya mati, ya, pasti mati. Ini adalah bicara soal keadilan Tuhan. Tetapi kita bisa juga ibaratkan seperti pohon yang memiliki batang yang begitu besar. Lalu itu ibaratnya itu Tuhan, ya, Bapak, Ibu sekalian. Kemudian ranting-rantingnya adalah kita. Nah, ketika kita lakukan dosa, ya, ranting itu terputus dari batang pohonnya sehingga sementara ranting itu jatuh ke tanah, ranting itu masih hidup, daunnya masih hijau, batangnya masih kuat. Tetapi lama-kelamaan efek dari terputus dari sumber kehidupan itu, lama-lama daun itu akan menjadi layu, menjadi kering, dan sudah mati kalau tidak ditancapkan kembali kepada sang sumber hidup, kalau tidak ditancapkan kembali kepada tanah, misalkan seperti itu, ya. Maka Bapak, Ibu sekalian, inilah efek dosa yang pertama yaitu kematian.

Yang kedua, ketika kita melihat dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini, kita bukan hanya melihat keindahan dunia Bapa. Inilah duniaku. Oh, ini dunia Bapa yang begitu indah. Ada alam ciptaan, ada manusia. Tetapi ini juga dunia Bapa yang sudah kita rusak dengan dosa-dosa kita. Sehingga kita lihat sana penderitaan, kita lihat sini ada peperangan, ada kesakitan, ada kelaparan, ada wabah, ada kejahatan, kriminalitas, ada korupsi, ada penipuan. Di mana-mana ada kejahatan dan dosa, dan ada penderitaan. Sehingga kita bukan saja menganggap bahwa dunia ini dunia yang beautiful, dunia yang indah betul. Tetapi dunia ini juga adalah dunia yang menderita karena kita yang berdosa.

Siapa di sini, Bapak, Ibu sekalian, di dalam dunia ini yang tidak kebal terhadap sakit penyakit? Siapa yang tidak kebal terhadap tekanan dalam kehidupannya? Siapa yang tidak pernah ada kondisi di dalam kehidupannya itu stres, sakit, juga berkonflik dengan diri maupun sesama. Siapa juga kita yang tidak tahu bahwa di dalam dunia ini ada rumah duka. Ya, rumah duka ini kenapa manusia buat? supaya manusia mendapatkan penghiburan, kekuatan, tetapi juga menyadarkan bahwa kita ini manusia yang berdosa. Kita menderita ada kematian itu karena kesalahan dan dosa kita. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa membawa kepada kekacauan dan kehancuran sehingga ada penderitaan.

Kalau tanpa pertolongan Tuhan, dunia ini tidak bertahan ribuan tahun dalam silsilah sejarah Adam dan Hawa dan sejarah manusia. Kalau Tuhan tidak kasih anugerah kepada Adam dan Hawa, tetap hidup supaya dapat kesempatan bertobat, tetap memiliki hati nurani sekalipun hati nurani pun sudah tercemar oleh dosa, dunia ini sudah sejak kapan tidak ada? Karena manusia sudah melawan Tuhan dan juga merusak seluruh dunia ini. Maka, kalau kita lihat bahwa kalau hidup kita masih bertahan hari demi hari, Bapak, Ibu, sekalian, ya, kalau dunia ini saja masih bertahan hari demi hari, itu semua karena anugerah umum yang Tuhan berikan kepada semua manusia. Allah adalah kasih. Allah memberikan kasih-Nya, kehidupan-Nya di dalam seluruh dunia ini supaya manusia pada akhirnya juga bisa mengenal Tuhan.

Nah, efek yang ketiga, Bapak, Ibu sekalian, yaitu kerusakan dan kehancuran. Ini adalah efek dari dosa. Bukti adanya sakit penyakit sehingga membuat tubuh manusia mati dan kemudian rusak menjadi debu itu menunjukkan bahwa itu efek dosa terhadap tubuh, tetapi juga ketika kita melihat manusia memiliki 2 aspek di dalam kehidupannya, yaitu bukan saja tubuh, melainkan roh, roh ini juga rusak, seluruh kehidupan dari roh tersebut. Pikiran kita semakin bobrok. Perasaan kita juga tidak peduli perasaan Tuhan. Kehendak kita juga adalah kehendak yang egois, bukan kehendak yang teosentris. Kita tidak peduli terhadap moralitas yang diajarkan oleh orang-orang lain di sekitar kita. Kita tidak peduli terhadap kebenaran. Karena apa? Manusia lemah, rohnya lemah, sehingga pada akhirnya sudah tercemar oleh dosa sehingga manusia sangat mudah untuk melakukan dosa. Kita kalah terhadap musuh-musuh dari Tuhan sendiri, yaitu godaan iblis, kedagingan, maupun juga keduniawian.

Maka dari itu, Paulus di dalam salah satu suratnya di kitab Roma itu mengatakan bahwa, “Seluruh ciptaan, seluruh makhluk, seluruh manusia telah ditaklukkan kepada kesia-siaan.” Semua manusia yang sudah jatuh dalam dosa ini ada keluhan di dalam kehidupannya dan sama-sama merasakan sakit, sehingga kita bisa lihat kerusakan dan kehancuran ada di dalam diri manusia yang berdosa. Hati kita, roh kita bisa menjadi licik sekali. Alkitab mengatakan demikian. Hati kita bisa menipu. Hati kita bisa keras. Hati kita tidak peduli terhadap kebenaran dan terus melawan kebenaran dari Tuhan sendiri.

Nah, Bapak, Ibu sekalian, peperangan yang terjadi antar bangsa ini, ketika kita melihat situasi yang buruk, ya, kalau kita pelajari doktrin akhir zaman, ketika ada tanda-tanda zaman, yaitu entah hal-hal yang buruk yang kita dengar, peperangan, kemiskinan, kelaparan, sekalipun peperangan, kemiskinan, kelaparan, dan bencana itu sudah terjadi juga sejak zaman dulu, kita bisa melihat bahwa ini adalah suatu peringatan yang Tuhan berikan kepada manusia yang berdosa bahwa,”Kamu harus sadar diri kamu berdosa dan harus bertobat. Kedatangan Tuhan sudah dekat.” Kita harus lihat bahwa Tuhan sabar dan Tuhan suatu hari nanti akan menghakimi seluruh dunia.

Tanda-tanda zaman ini menunjukkan apa? Menunjukkan bahwa memang dunia ini penuh dengan dosa dan penderitaan. Kabar-kabar yang kita dengar, kabar-kabar buruk itu menunjukkan bahwa kita ini lemah. Kita butuh Tuhan. Kita butuh pertolongan dari Tuhan sendiri. Dan waktu Tuhan sudah terus berjalan dan kita menanti kedatangan Yesus kedua kalinya kalau di zaman saat ini. Orang-orang Perjanjian Lama ketika ada dengar peperangan, ada kabar air bah, ada kabar hujan belerang, api di Sodom, Gomora itu mereka itu diingatkan bahwa kedatangan Mesias juga akan pasti terjadi.

Jadi, dunia ini dibagi di dalam kedatangan Yesus Kristus. Sebelum Yesus datang, Allah jadi Manusia, orang-orang Perjanjian Lama itu menanti kedatangan Tuhan juga, menanti kedatangan Mesias sehingga ada peperangan, ada kerusakan, kekacauan itu terjadi supaya kita sadar dunia ini bukanlah dunia yang kita akan hidup selamanya. Ya, Mesias akan datang. Itu kedatangan pertama kali. Sedangkan ketika kita lihat sudah Yesus menyelesaikan karya keselamatan-Nya, Yesus sudah naik ke surga, sekarang, kita pun menanti kedatangan Yesus kedua kalinya. Dan ketika ada kabar perang itu membuat kita apa? Membuat kita sadar bahwa ini tanda-tanda zaman bahwa Yesus pun pasti akan datang kedua kalinya, entah kapan waktunya. Itu membuat kita semakin bergantung kepada Tuhan dan hidup kudus di hadapan Tuhan.

Sehingga ketika kita melihat dunia ini penuh dengan dosa, penuh dengan air mata atau kita sebut adalah penuh dengan tangisan karena setiap dosa-dosa itu, kita tahu sebagai orang yang kenal Tuhan, sebagai orang yang adalah pengikut Kristus, kepada siapakah kita bisa bersandar dan melepas semua tangisan maupun penderitaan dunia ini? Kita bisa katakan bahwa siapa yang bisa menyelesaikan masalah universal dunia akibat dosa ini? Jawabannya satu-satunya adalah Tuhan Yesus Kristus. Maka, Yesus mengatakan di dalam kehidupan pelayanan-Nya, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Datanglah kepada-Ku. Aku memberikan kelegaan. Aku memberikan pertolongan, penghiburan kepada kamu semua.” Ini adalah undangan universal.

Yesus mengundang semua orang, mau umat pilihan, mau bukan umat pilihan, “Datang kepada-Ku. Aku memberikan kelegaan.” Kenapa? Karena semua manusia memang letih lesu dan berbeban berat. Karena apa? Karena efek dosa. Ya, ketika kita lakukan dosa, hati nurani menegur. Ada perasaan tidak enak. Ketika orang lain melakukan kejahatan, kita pun terganggu. Kita bisa terancam bahaya akibat kejahatan orang sehingga kita semua itu sedang bergumul karena dosa ini. Kita sedang mengalami efek dosa ini, tetapi ada pertolongan yang Tuhan berikan yang bukan dari dunia, tetapi dari surga.

Kalau kita mau cari pertolongan dari dunia ini, Bapak, Ibu sekalian, dunia hanya menyelesaikan masalah itu sementara saja, baik penderitaan maupun tangisan. Nah, orang-orang di dalam dunia ini mencoba berusaha menghapus tangisan dunia dengan hukum-hukum, aturan, budaya supaya kejahatan itu ditekan dan tidak merajalela. Tetapi, apakah kejahatan itu akan hilang dengan aturan yang begitu ketat dari pemerintahan atau dari budaya? Tidak, kejahatan tetap ada, bahkan sembunyi-sembunyi, bahkan lebih licik lagi. Orang tetap lakukan kejahatan tanpa diketahui oleh hukum.

Lalu yang kedua, manusia berusaha untuk menyelesaikan tangisan, kesulitan, penderitaan dunia dengan mencoba terus mengatur perekonomian, bisnis yang maju, tetapi Yesus sendiri sudah mengatakan bahwa, “Kemiskinan atau orang-orang miskin pasti selalu ada di sekitar kamu.” Kenapa? Karena dunia ini sudah jatuh dalam dosa. Bukan berarti kita tidak mengusahakan agar orang hidup sejahtera dan kemiskinan itu bisa dikurangi, tetapi ini menunjukkan bahwa efek dosa itu begitu parah sehingga di seluruh dunia ini pasti ada orang yang miskin, pasti ada kriminalitas, pasti ada kejahatan. Itu menunjukkan kebobrokan dari dunia yang berdosa. Kita berusaha mengobati dunia yang sedang menderita dengan medis. Ya, medis-medis yang baik, ilmu kedokteran, ada klinik, ada rumah sakit, ada obat yang ampuh, tetapi apakah itu semua dapat menyelesaikan masalah sakit penyakit dan kematian? Sekalipun ada orang yang ingin hidup abadi, dia ingin hidup selama-lamanya, tetapi tidak ada obat-obatan ataupun hal-hal yang bisa membuat manusia hidup selama-lamanya.

Maka dari itu kita bisa tahu bahwa siapakah yang bisa menghapus tangisan yang ada di seluruh dunia ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Bukan jawabannya di secara horizontal di dunia. Jawabannya adalah di atas, di surga, hanya Allah yang mampu menyelesaikan masalah dosa ini sendiri. Kita tidak mampu menyelesaikan masalah dosa. Kita tidak mampu menyelesaikan masalah efek dosa. Hanya di dalam Yesus Kristus kita bisa mendapatkan penghiburan, bahkan sekalipun kita masih hidup di dalam dunia yang berdosa.

Yesus katakan, “Marilah datang kepada-Ku, Aku akan memberi kelegaan sekalipun kamu hidup di tengah-tengah dunia yang penuh dengan dosa.” Surat Petrus mengatakan bahwa, “Serahkanlah seluruh kekawatiranmu kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara kamu.” Penghiburan datangnya dari surga, bukan dari dunia. Kalau kita cari penghiburan dari dunia, biasanya penghiburan yang duniawi, bukan penghiburan yang dari Tuhan sendiri. Maka bagaimana Yesus menghapus dosa dunia? Ini yang pertama yang kita boleh lihat, Yesus menyelesaikan permasalahan dosa dunia ini dengan cara Dia sendiri menanggung seluruh efek dosa. Yesus tanggung sakit penyakit, Yesus tanggung kehancuran tubuh, Yesus tanggung upah dosa, yaitu maut. Ini adalah logika yang sangat fair, yang sangat adil. Meskipun ada orang yang mengatakan bahwa, “Bagaimana mungkin Yesus itu mampu menghapus dosa dunia di dalam penderitaan yang begitu singkat, satu hari dalam proses penyaliban itu; penangkapan sampai penyaliban-Nya di atas kayu salib. Bagaimana mungkin Yesus satu orang dapat menghapus seluruh dosa umat yang mau percaya kepada Yesus Kristus? Apakah itu adil?” Tapi kemudian ada seorang pendeta, bernama Paul Washer mengatakan, “Yesus itu jauh lebih berharga daripada seluruh orang Kristen yang ada di dalam dunia ini.” Yesus itu jauh lebih berharga dari kita. Yesus itu jauh lebih berharga dari semua orang Kristen yang ada di dalam dunia ini, maka ketika Yesus mati menanggung hukuman dosa kita, Yesus mampu menyelamatkan semua orang yang mau percaya kepada Yesus Kristus. Yesus jauh lebih berharga, Dia tidak berdosa, Dia senantiasa taat ketika hidup-Nya di dalam dunia, menaati Bapa menjadi misionaris yang terbesar sepanjang sejarah. Dia merelakan diri-Nya mati bagi kita. Dan Dia adalah Sang Juruselamat kita. Yesus mau menyelesaikan tangisan dunia ini dengan datang ke dalam dunia, menanggung tangisan dunia supaya kita bisa lega. Maka Alkitab mengajarkan bahwa kita dulu itu mati rohaninya, sekarang hidup. Kita dulu miskin rohaninya, sekarang kaya. Kita dulu tersesat, sekarang di jalan yang benar. Itulah berkat dari Yesus Kristus yang begitu limpah.

Maka yang pertama kita bisa lihat bahwa bagaimana Yesus menghapus tangisan dunia? Yaitu dengan cara via dolorosa. Via dolorosa ini apa? Via berarti The Way, Dolorosa berarti suffering; dengan mengambil jalan penderitaan supaya bisa menanggung efek dosa itu sendiri. Fil. 2:7-8 mengatakan bahwa Yesus dengan kekuatan-Nya, Dia tidak memegang hak-Nya sebagai Tuhan tetapi, “melainkan Dia telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama seperti manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Ini Fil. 2:7-8, bagaimana Yesus menghapus tangisan kita, dan juga menanggung seluruh tangisan dari efek dosa ini.

Maka kalau kita katakan Yesus adalah Hamba yang menderita, Hamba yang menderita, Dia alami penderitaan yang seharusnya Dia tidak terima tetapi yang seharusnya kita alami. Atau kita mendapatkan kematian kekal, mendapatkan neraka, Yesus tanggung itu semua demi kita supaya kita tidak mengalami kematian kekal. Kenapa Dia alami penderitaan? Karena Dia hidup dalam dunia yang berdosa dan hidup-Nya bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan dosa. Itulah kenapa Yesus menderita. Bukan karena Dia berdosa, bukan karena Dia salah, Dia tidak pernah salah tetapi karena Dia bertujuan untuk menanggung efek dosa yang kita harus alami, sehingga Dia mau tanggung seluruh penderitaan itu.

Yesus ditolak. Sejak hari kelahiran-Nya Dia sudah ditolak banyak orang, Dia difitnah, Dia dipukuli, Dia diludahi, Dia disakiti, Dia dikhianati atau dijual oleh Yudas Iskariot, Yesus betul-betul dibenci oleh banyak orang, Dia betul-betul mau dibunuh orang, ditangkap seperti penjahat, mengalami begitu banyak penderitaan dari Taman Getsemani Dia betul-betul mengalami pergumulan yang begitu besar karena pada akhirnya harus menanggung hukuman dosa yang paling berat, yang seharusnya Dia tidak terima tapi Dia rela. Maka kemudian Yesus ditangkap, Yesus dijatuhkan hukuman mati, yaitu hukuman salib setelah sebelumnya Yesus disesah, dicambuk dengan cambuk yang begitu keras dan tajam. Ada cambuk yang ada talinya, yang kemudian di ujung-ujungnya ada serpihan tulang maupun serpihan kaca, Dia tanggung secara fisik dosa tersebut. Dia tanggung juga hukuman dosa itu secara roh-Nya, dan di atas kayu salib Yesus dipakukan baik tangan maupun kaki-Nya. Dan kemudian Dia menyerahkan hidup-Nya kepada Bapa di surga dan mengatakan bahwa itu semua sudah selesai. Seluruh hukuman dosa yang seharusnya ditanggung oleh manusia itu sudah selesai ditanggung oleh Yesus Kristus. Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa di surga dan mempersembahkan diri-Nya sebagai korban penebusan bagi banyak orang.

Maka ketika kita di dalam Kristus, kita mendapatkan keselamatan yang begitu indah ini. Yesus menderita, Dia menghapus dosa dunia. Dan ketika kita mengingat, seruan dari Yohanes Pembaptis, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Kita tahu bahwa sebenarnya seluruh penderitaan kita yang terlampau besar itu sudah ditanggung oleh Yesus Kristus di atas kayu salib melalui kematian-Nya. Yesus adalah korban persembahan yang hidup, dan Yesus adalah jalan pengampunan bagi manusia yang berdosa.

Nah Bapak, Ibu sekalian, Yes. 53 mengatakan bahwa Yesus tanggung penyakit kita, Yesus pikul kesengsaraan kita, Yesus ditikam oleh pemberontakan kita, Yesus diremukkan oleh karena kejahatan kita. Sehingga, hidup Yesus adalah hidup yang bukan untuk diri-Nya sendiri. Hidup yang bukan egois, tetapi hidup yang menggantikan penderitaan kita. Hidup yang demi ketaatan-Nya kepada Bapa di surga dan demi kasih-Nya kepada umat-Nya yang sudah jatuh ke dalam dosa. Itulah kehidupan Yesus Kristus. Inilah cara pertama bagaimana Yesus menyelamatkan kita yang berdosa, kita yang punya tangisan, kekhawatiran, tentang hidup yang akan datang, “Apakah saya masuk surga atau neraka?” Yesus sudah tanggung neraka. Sekarang kamu yang di dalam Kristus, pasti masuk surga. Apakah kita masih menangis lagi? Kalau kita meninggal dunia, “Wah, nanti saya masuk neraka, saya takut, saya tidak yakin masuk surga.” Tidak ada tangisan itu bagi orang Kristen yang sungguh-sungguh kenal dan percaya kepada Yesus Kristus. Yesus hapus tangisan itu dengan sempurna. Tapi, bagi orang-orang yang menolak Kristus dan tidak percaya Kristus dan tidak tahu Kristus, mereka ada tangisan itu. Mereka khawatir nanti ketika meninggal dunia saya akan ke mana? Tapi bagi kita, kita sudah tahu Yoh. 3:16, “barang siapa percaya kepada Yesus Kristus tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yesus mengatakan bahwa Akulah kebangkitan dan hidup. Barangiapa percaya kepada-Ku tidak akan mati. Dia akan memperoleh kehidupan. Dan Yesus menanggung hukuman kita itu menghasilkan keselamatan yang begitu sempurna. Tidak ada yang bisa menggagalkan keselamatan yang Yesus kerjakan dan berikan kepada kita. Kalau ada yang bisa menggagalkan, berarti Yesus bukan Allah. Yesus menghapus neraka di dalam kehidupan yang percaya kepada Yesus Kristus.

Bukankah ini sukacita yang tidak bisa diambil oleh apapun di dalam dunia ini, Bapak, Ibu, sekalian? Bukankah ini sukacita yang tidak bisa diambil oleh penderitaan, peperangan, kemiskinan, sakit penyakit, kekhawatiran hidup kita, Bapak, Ibu, sekalian, ini sukacita kekal. Kitab Roma mengatakan tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Entah itu pemerintah-pemerintah, entah itu kuasa-kuasa, roh-roh jahat, dosa sekalipun ketika Yesus sudah menyelesaikan seluruh karya keselamatan-Nya di kayu salib. Itu cara pertama.

Cara kedua, bagaimanakah Yesus menghapus tangisan dunia adalah 1 Kor. 15: 3-4, saya akan bacakan, ya. “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu yaitu apa yang telah kuterima sendiri ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci bahwa Ia telah dikuburkan dan bahwa Ia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga sesuai dengan Kitab Suci.” Yesus menghapus tangisan dunia atau penderitaan efek dosa itu dengan cara apa? Kebangkitan-Nya dari kematian. Betul Yesus menanggung hukuman dosa kita dengan kematian-Nya. Tetapi, Alkitab mengatakan bahwa Yesus tidak hanya mati di atas kayu salib kemudian dikuburkan dan dibiarkan di kuburan begitu saja, tetapi pada hari yang ketiga Yesus bangkit dari kematian. Inilah Injil yang lengkap.

Paulus katakan kalau Yesus hanya mati lalu tidak bangkit, maka itu bukanlah Injil. Itu adalah kesia-siaan. Itu adalah iman yang tidak menyelamatkan kalau Yesus tidak dibangkitkan dari kematian. John Owen mengatakan, “The death of Christ purchased all salvation. His resurrection applied it.” Kematian Kristus itu membeli keselamatan kita. Kebangkitan Kristus itu menerapkan keselamatan di dalam kehidupan kita. Yesus menghapus tangisan dunia dengan apa? Dengan kebangkitan-Nya. Kalau kita ingat, ya, kalau kita bayangkan bahwa diri kita seperti para murid ketika Yesus mati di atas kayu salib, perasaan kita pun akan seperti Rasul Petrus. Kita pun sangat kemungkinan besar akan menyangkal seperti Petrus menyangkal Yesus 3 kali. Kita akan menjadi orang yang sedih, kita menjadi orang yang takut. Yesus mati, tidak ada pengharapan sama sekali. Mereka hidup di dalam kekecewaan, kekhawatiran. Tetapi pada hari yang ketiga Yesus bangkit, ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut. Dan Alkitab mengatakan bahwa kebangkitan Yesus itu adalah kebangkitan yang sulung yang berbeda dengan kebangkitan-kebangkitan yang pernah ada di dalam dunia ini maupun kehidupan kita selanjutnya di bumi ini, yaitu kebangkitan Yesus adalah kebangkitan dengan tubuh kemuliaan, tubuh kebangkitan yang tidak bisa rusak, yang dibangkitkan dalam kekuatan, yang tidak bisa berdosa, yang sempurna tanpa dosa. Ini adalah kebangkitan sulung dan tidak bisa mati lagi.

Sedangkan kebangkitan-kebangkitan kalau kita lihat di sepanjang sejarah Alkitab, orang-orang yang dibangkitkan dari kematian itu mati lagi, mati lagi, mati lagi, itu menunjukkan bahwa itu bukanlah kebangkitan yang seperti Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus Kristus adalah kebangkitan yang pertama dan nanti di akhir zaman barulah kita akan mendapatkan kebangkitan tubuh seperti tubuh Yesus. Kita adalah pengikut-pengikut-Nya. Kita adalah orang yang mendapatkan janji kebangkitan tubuh seperti kebangkitan tubuh Yesus Kristus dari kematian yang di mana tubuh itu tidak akan mengalami kematian lagi.

Nah, Bapak, Ibu, sekalian, kita saat ini menderita sakit penyakit. Sedih? Sedih. Sakitnya pasti tidak enak kalau kita sakit tubuh kita, ya, kemudian sakit penyakit yang terminal yang begitu parah seperti itu, ya. Kita menderita di bumi ini, ya. Sekalipun ada orang tua yang sehat sampai umurnya lanjut usia ibarat seperti Pdt. Stephen Tong, ibarat ya. Sekalipun Pak Tong pun pernah sakit jantung, pernah operasi dan lain-lain, ya. Pernah ada penyakit juga yang keras seperti itu. Tapi, lama kelamaan orang pun akan tua, organ tubuhnya lama kelamaan akan berhenti dan juga akan mengalami kematian. Ada kesedihan bagi orang-orang yang masih hidup ketika anggota keluarganya meninggal dunia. Tetapi, ketika kita di akhir zaman Bapak, Ibu, sekalian, ketika Yesus datang kedua kalinya atau yang kita sebut bahasa populernya adalah kiamat itu sendiri, akhir zaman itu sendiri, kita akan menerima tubuh kebangkitan, tubuh yang tidak bisa sakit, tubuh yang tidak bisa berdosa, tubuh yang akan sempurna dibangkitkan dalam kekuatan sehingga kita bisa lihat kita nggak akan pernah menangis karena tubuh kita yang sakit lagi atau tubuh kita yang bisa mati. Bukankah kebangkitan Kristus itu menghapus tangisan yang kita alami di dalam tubuh ini dengan sempurna? Bukan hanya tubuh, roh kita pun akan disempurnakan, ditransformasikan, di akhir zaman. Itu yang dijanjikan Yesus Kristus. Aku bangkit pada hari yang ketiga, Aku memberi damai sejahtera kepada kamu. Aku bangkit pada hari yang ketiga, Aku mengenal kamu. Aku berkuasa, Aku pun bisa memberikan tubuh yang sekarang Aku miliki kepada kamu di akhir zaman. Bukankah ini sukacita yang begitu besar, Bapak, Ibu sekalian?

Nanti ketika kita masuk surga bersama-sama, kita, tubuh kita adalah tubuh yang sama hanya saja berbeda kualitas. Tuhan akan transformasikan tubuh kita menjadi tubuh yang sempurna, tubuh yang tidak ada kelemahan. Sehingga dari tafsiran ini di dalam 1 Korintus kan di katakan bahwa kita itu dibangkitkan dengan kekuatan bukan kelemahan. Maka dari tafsiran ini yang meninggal di dalam Kristus, waktu mereka masih bayi ataupun lansia, itu akan berubah di transformasikan menjadi tubuh yang paling sempurna, paling kuat, paling sehat. Sehingga ada teolog menafsifkan kalau Yesus adalah kebangkitan yang sulung. Yesus umurnya waktu itu umurnya 33,5 tahun. Dia mati di atas kayu salib kemudian bangkit pada hari yang ketiga. Mungkin kebangkitan kita pun mengikuti umur Yesus, yaitu 33,5 tahun semua. Meskipun tidak ada informasi yang jelas dan pasti dari Alkitab, tetapi yang pasti adalah dibangkitkan dalam kekuatan, bayi itu lemah, lansia itu ada kelemahan secara tubuhnya. Tapi Yesus tidak ada kelemahan, kita akan mendapatkan tubuh yang seperti demikian, tubuh yang cocok untuk hidup di dalam surga yang begitu kekal tidak ada ratap tangis, tidak ada perkabungan, tidak ada dukacita karena efek dosa. Kita akan di transformasikan supaya kita cocok hidup di dalam surga atau bumi yang Tuhan berikan itu bumi yang baru itu sendiri. Oh ini loh suka cita yang besar. Kita sudah pasti masuk surga, kita sudah pasti mendapatkan tubuh kemuliaan yang disempurnakan ditransformasikan oleh Yesus Kristus. Bukankah ini suatu pengharapan yang membuat kita bisa bersukacita sekalipun dunia ini penuh dengan masalah dan penderitaan. Justru kita berjuang untuk semakin taat kepada Tuhan sekalipun kita harus menderita berbagai hal.

Yang ketiga, bagaimana kah Yesus menghapus tangisan dunia? 2 Kor. 1 ayat 3-4, di situ dikatakan, “Terpujilah Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan, dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” Nah, sehingga kita bisa melihat yang ketiga bagaimana cara Yesus menghapus tangisan dari dunia ini atau efek manusia yang berdosa ini, yaitu Yesus itu memberikan penghiburan dengan mengutus Roh Kudus, ya. Yesus mati, Yesus bangkit pada hari yang ke 3, Yesus naik ke surga, Yesus mengatakan bahwa Aku akan mengutus penolong yang lain. Penolong yang lain berarti Yesus Penolong dan Yesus utus penolong yang lain. Penolong yang sama dengan Penolong yang pertama, yaitu Allah sendiri Roh Kudus adalah Allah. Roh Kudus itu bukan kuasa. Ya, Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang penuh dengan kuasa dan itulah yang diberikan Yesus kepada kita saat ini. Sembari kita menunggu kedatangan Yesus kedua kalinya. Kita sebagai orang Kristen bukan hidup sendirian dengan roh kita saja dengan penuh dosa. Tetapi roh kita pun sudah diperbaharui, sudah dibenarkan dalam Kristus, maka hidup kita menjadi hidup yang baru di dalam Kristus. Karena apa? Karena ada Roh Kudusnya.

Ketika Roh Kudus ada dalam hati kita, kita tidak jadi pribadi yang lain. Pribadi kita tetap pribadi kita. Yang ingat masa lalu yang buruk kita. Hidup yang lama itu kita ingat, tetapi ada pribadi yang baru yang memenuhi hati kita yaitu pribadi Roh Kudus dan Roh Kudus juga adalah roh sumber penghiburan. Maka Bapak, Ibu sekalian, kalau kita lihat apa sih anugerah terbesar yang sudah Tuhan berikan pada kita? Kita bisa jawab, “Oh ya, Yesus Kristus.” Oh, keselamatan, tetapi kalau niat terbesar yang Allah berikan bagi kita juga adalah Allah Roh Kudus yang diam di dalam hidup kita dan tidak akan pergi, selama-lamanya di dalam kehidupan kita.

Yoh. 14:16-18, Yesus janjikan, “Aku akan memberikan penolong yang lain supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh kebenaran.” Kita ada sense of truth sekarang. Sense of truth nya adalah kebenaran yang khusus yaitu dari Alkitab, bukan kebenaran umum seperti ilmu pengetahuan ya. Tetapi kita punya kebenaran khusus yang dari Alkitab. Apa itu kebenaran? Roh kudus menyatakan tentang kebenaran dari Allah sendiri yaitu dari firman Tuhan. Yesus katakan bahwa ketika Aku pergi ke surga, Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian. Aku tidak membiarkan kamu sebagai yatim piatu. Itu berarti apa? Yesus anggap diri-Nya sebagai orang tua rohani kita. Orang tua rohani kita yang senantiasa menjaga membimbing kerohanian kita supaya kita bisa terus berjuang di dalam kehidupan yang tidak mudah ini. Yesus memberikan penghiburan secara pribadi, yaitu dengan mengutus Roh Kudus dan Roh Kudus itu tinggal dalam diri kita sampai kita di sebut sebagai tubuhmu adalah Bait Allah.

Bait Allah menyimbolkan apa? Ada kehadiran Tuhan, berarti Roh Kudus ada di dalam hidup kita. Waktu kita ada sendirian sekalipun kita tidak pernah sendirian karena ada Roh Kudus mendampingi hidup kita. Bukankah itu penghiburan? Ketika kita menjalani sakit penyakit ada pendamping yang tidak terlihat yang mau terus menguatkan dan menghibur kita. Ketika kita bergumul seorang diri di kamar kita, kecewa terhadap segala sesuatu yang dunia ini, ada Roh Kudus memberikan penghiburan kepada kita. Dan Roh Kudus ini dikatakan oleh Paulus bahwa Roh Kudus ini adalah materai, ada jaminan sampai nanti kita mendapatkan surga dan tubuh kemuliaan dikedatangan Yesus kedua kalinya.

Sehingga kehidupan kita Bapak, Ibu sekalian bukanlah hidup yang menangis. Nangis terus, sedih terus, berduka terus, tidak. Kehidupan kita sekali pun dunia menderita betul, sekalipun ada tangisan, betul kita alami kesedihan, tapi kita tidak kalah terhadap setiap penderitaan karena dosa. Tidak sedih berlarut-larut, kita ada penghiburan dari Roh Kudus. Kita ada janji yang menguatkan kita dan ada keselamatan yang sudah Tuhan berikan. Inilah penghiburan dari Allah, kita tidak bisa mendapatkan penghiburan ini dari dunia. Dunia tidak bisa janjikan kamu pasti masuk surga, kamu pasti dapat tubuh kemuliaan yang baru. Kamu pasti dapat Allah sendiri. Dunia tidak bisa janjikan itu, tetapi Allah sendirilah yang menjadikan itu semua, maka dari itu Allahlah yang memberikan penghiburan paling efektif kepada manusia yang penuh dengan tangisan karena dosa ini.

C. S. Lewis menulis dalam bukunya Bapak, Ibu sekalian, di buku Mere Christianity, dia katakan bahwa penghiburan adalah satu-satunya hal yang tidak dapat diperoleh dengan mencarinya. Ya, penghiburan adalah suatu hal yang kita tidak bisa peroleh dengan cari penghiburan. Penghiburan dari surga ya, dari Allah sendiri kita nggak bisa mendapatkannya. Ya, C. S. Lewis katakan jika kita cari kebenaran kita akan menemukan kebenaran, dan mungkin akan menemukan penghiburan pada akhirnya kalau kita cari kebenaran. Karena apa? Roh Kudus adalah roh kebenaran. Kalau kita cari kebenaran, mungkin kita dapat penghiburan. Tapi kalau kita cari penghiburan, nggak dapat. Adanya adalah hiburan yang palsu, yang sementara, yang fana, yang duniawi. Jika cari penghiburan, kita tidak akan mendapat penghiburan maupun kebenaran. Itu adalah angan-angan yang kosong.

Maka Bapak, Ibu sekalian ya, penghiburan itu datangnya dari Tuhan. Tuhanlah yang mampu menyeka air mata kita yang terdalam. Manusia tidak dapat menyeka air mata kita. Ya, manusia bisa menghibur, iya. Tapi penghiburan manusia itu sementara ya, dan tidak kekal. Sumber penghiburan adalah dari Allah sendiri dan bukan dunia. Maka dari itu kita bisa lihat Bapak, Ibu sekalian ya, kita perlu meminta penghiburan dari Allah ketika kita di masa-masa penderitaan ini. Ya, ketika kita di masa-masa mungkin bagi kita hidup rasanya masa depan itu tidak ada kejelasan, tidak ada kelancaran, tapi di dalam Tuhan kita bisa menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Maka kita waktu di dalam kehidupan ini pencarian kita itu bukanlah pencarian terhadap penghiburan. Pencarian hidup kita adalah terhadap kebenaran dan kerajaan Allah. Maka Alkitab mengatakan, “Carilah kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Kebenaran rohani itu akan ditambahkan kepadamu. Kalau kita cari penghiburan dari dunia, pokoknya saya lagi capek cari hiburan dari dunia ya, dari hal-hal yang berdosa atau hawa nafsu kita, kita akan terus lelah, kita akan terus berletih lesu dan berbeban berat. Tetapi kalau kita cari penghiburan di dalam Allah, Allah mampu memberikannya kepada kita semua.

Dan di sini ya di dalam 1 Kor. itu dikatakan dengan suatu hal yang luar biasa bahwa kita pun mampu menghibur orang-orang yang lainnya di dalam penderitaan mereka. Bukan berarti kita mampu memberikan penghiburan, tetapi itu karena Tuhan sudah menghibur kita terlebih dahulu. Lalu kita estafetkan penghiburan dari Tuhan sendiri kepada orang lain di sekitar kita. Maka penghiburan yang sejati itu datangnya dari firman Tuhan, bukan dari kata-kata kita yang pintar, yang lembut, yang baik, hikmat manusia seperti itu ya. Maka waktu kita di rumah duka, Bapak, Ibu sekalian ya, kita kalau di dalam tradisi ibadah Kristen, kita adakan terus empat jenis ibadah. Herannya empat ibadah itu pasti kita coba usahakan ya. Empat kali ibadah mulai dari ibadah penutupan peti, kemudian ibadah penghiburan, lalu ibadah pelepasan jenazah, lalu di pemakaman ibadah lagi. Empat kali langsung ibadah untuk orang yang sedang berduka. Kenapa? Karena kita tahu bahwa sumber penghiburan itu dari Firman Tuhan, dari Injil itu sendiri. Injillah yang mampu memberikan penghiburan bagi manusia yang berdosa. Yesus di surga akan menggembalakan kita senantiasa dan juga menghapus segala air mata kita. Roh Kudus jaminan bagi kita sampai kedatangan Yesus kedua kalinya. Yesus menjamin penghiburan itu pasti ada di dalam Roh Kudus, di dalam Allah sendiri.

Nah, Bapak Ibu sekalian, di website Desiring God itu ada artikel tentang seorang penulis ya. Dia menuliskan suatu tema tentang penghiburan seperti itu, ya. Dia katakan bahwa dia menghadiri suatu pemakaman seorang wanita muda yang cantik, yang baik. Dia Kristen juga dan itu adalah suatu pemakaman yang sangat menyedihkan. Karena apa? Karena ibunya masih hidup ya, tetapi anaknya sudah dipanggil duluan oleh Tuhan. Dan kemudian ketika si penulis ini datang ke pemakaman, dia melihat ibunya yang sedang bersedih. Dia memeluk ibu itu yang kehilangan anak. Tetapi uniknya, ya uniknya ibu ini tidak memaki-maki, tidak meraung-raung, tidak kesal, tetapi dia berbisik kepada si penulis artikel ini, yaitu dia katakan, “She is safe, anak perempuanku ini sudah aman.” Padahal ya pergumulan si ibu ini itu begitu berat. Ketika tahu anak perempuannya itu meninggal dunia, dia sampai tidak bisa tidur berhari-hari. Karena ini adalah suatu pengalaman, salah satu pengalaman yang sangat menyedihkan dalam kehidupan manusia, di dalam kehidupan keluarga manusia. Ya, banyak hari-hari sulit dan juga ketika dia berusaha menguburkan jenazah putrinya itu sangat berat sekali. Ini adalah pergumulan yang berat yaitu ketika orang tua kehilangan anaknya ya. Anaknya masih muda, orang tua sudah berumur kayak gitu ya. Kenapa Tuhan panggil anaknya? Tetapi di dalam pergumulannya itu dia dihibur oleh Tuhan sendiri. Dia dapat firman Tuhan dan firman Tuhan menyatakan bahwa orang-orang yang sudah meninggal dunia saat ini yang di dalam Kristus sudah bersama dengan Tuhan di surga, sudah di rumah Tuhan ya bersama dengan Tuhan dan dia aman dalam pemeliharaan Tuhan. Itulah yang menghibur si ibu yang kehilangan anak ini.

Nah, kemudian si penulis artikel itu membuat satu topik yaitu kalimat penghiburan. Dia katakan bahwa ada enam kata yang dapat menjadi kekuatan di dalam kehidupan kita ketika kita menghadapi efek dosa, suatu penderitaan yang terjadi dalam hidup manusia, yaitu dia katakan, “I can trust God with this.” Ya, I can trust God with this. Aku bisa mempercayakan kepada Allah terhadap segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupanku maupun kehidupan dunia ini. Aku dapat mempercayakan kepada Allah tentang waktu maupun cara kematian diriku sendiri, maupun juga anggota keluargaku yang meninggal. Hidup mati di tangan Tuhan kok. Kita lahir karena Tuhan, kita mati pun sudah di dalam kedaulatan Tuhan, di dalam waktu Tuhan. Maka aku dapat mempercayakan kepada Allah tentang waktu dan cara kematian diriku sendiri maupun orang yang dikasihi. Aku dapat mempercayakan kepada Allah tentang masa depanku yang aku tidak tahu. Ya, aku tidak tahu masa depanku bagaimana. Toh buktinya kita sudah hidup berapa tahun, Bapak, Ibu sekalian? Kita masih meragukan penyertaan Tuhan dalam tahun-tahun kehidupan kita. Kita sudah hidup 50 tahun kok, 60 tahun kita masih meragukan Tuhan tidak bisa menyertai kita 50 tahun, 60 tahun ke depan kita sungguh imannya kecil. Ya, aku dapat mempercayakan kepada Allah tentang pertanyaan-pertanyaanku yang membingungkan dan belum terjawab.

Ada pemuda Kristen itu yang datang ibadah, datang PA supaya apa? Bukan untuk menyembah Tuhan, supaya pertanyaan dalam pikirannya itu dijawab. Itu secara ibadah yang salah. Ya, cara ibadah yang salah berarti apa? Berfokus pada pertanyaan saya dijawab. Egois sekali ya. Ibadah itu datang untuk sujud menyembah Tuhan, menyenangkan Tuhan. Kalau tidak mengerti, ya kita minta Tuhan mengertikan. Tetapi itu bukan jadi utama kenapa kita datang beribadah kepada Tuhan. “Yang penting ngerti. Yang penting dapat sesuatu dari Tuhan.” Kita datang ibadah nggak dapat apa-apa pun nggak masalah kalau kita menyembah Tuhan. Yang penting apa? Tuhan senang. Tuhan dimuliakan.

Kalau kita datang kepada Tuhan ingin dapat sesuatu, ingin kita dipuaskan, kita egois dalam ibadah kita! Maka, solusinya apa? “Aku bisa mempercayakan kepada Tuhan segala pertanyaanku, di pikiranku yang aku bingung, dan belum terjawab. Aku bisa serahkan kepada Tuhan.” Ya, Tuhan pasti kasih penghiburan. “Aku dapat mempercayakan kepada Allah tentang sakit penyakit, kekosongan hidupku, dan pemulihan sukacitaku. Aku bisa serahkan semua kepada Tuhan.” Allah itu baik, kok.

Nah, sering kali kita yang tidak menyerahkan segalanya itu kepada Tuhan. Kita pegang sendiri. “Kalau saya ada uang, baru saya tenang.” “Kalau saya sehat, baru saya rasa tidak kuatir.” Kita yang konsep penghiburan kita dari dunia. “Kalau ada uang, sehat, punya keluarga yang baik, nama baik, baru saya nyaman.” Apakah Yesus demikian, Bapak, Ibu sekalian? Yesus tidak punya uang. Yesus tidak punya nama yang baik juga di hadapan banyak orang. Yesus nggak punya hak untuk bisa sehat selalu. Dia lelah, sering kali lelah, dan juga bahkan menderita di atas kayu salib.

Maka dari itu, Bapak, Ibu sekalian, di dalam merenungkan tentang Yesus Kristus ini, kita bisa lihat bahwa Yesus itu bisa menghapus segala tangisan dunia atau tangisan efek dosa ini dengan sempurna. Dan itu menurut kedaulatan Yesus sendiri. Di atas salib, dosa kita sudah dibereskan, ya. Di dalam kebangkitan Yesus Kristus, maut sudah dikalahkan. Melalui Roh Kudus, hati kita dihiburkan. Kurang apalagi sih, ya? Kurang apa lagi kita tuntut ke Tuhan? “Tuhan, berikan saya ini, itu, ini, itu!” Kalau bisa, Bapak, Ibu sekalian, sebagai orang Kristen, kita nggak usah minta lagi ke Tuhan. Sudah cukup. Justru kita yang bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, Tuhan minta apa dari saya?” Kita nggak perlu minta lagi apa pun kepada Tuhan. Kalau perlu, ya. Tapi bukan berarti kita jadi orang sombong dan tidak memohon lagi, ya. Di dalam “Doa Bapa Kami” pun, ya, “Doa Bapa Kami” mengajarkan kita minta hal-hal rohani, hal-hal jasmani, karena kita tahu sumber kebaikan itu asalnya dari Tuhan.

Tapi satu sisi, kalau kita sudah mendapatkan anugerah yang terbesar, kita tidak perlu menuntut Tuhan lakukan ini dan itu dalam kehidupan kita supaya menyenangkan kita, ya. Kita mohon supaya kita justru dipakai oleh Tuhan. Maka dari itu, Bapak, Ibu sekalian, mari kita sama-sama semakin beriman kepada Tuhan. Semakin mengasihi Tuhan. Percaya kepada Tuhan. Dan mempercayakan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan. Kita akan memperoleh penghiburan yang sejati. Kita akan menyadari tangisan-tangisan yang sudah dihapus oleh Yesus Kristus sendiri.

Paskah berarti apa, Bapak, Ibu sekalian? Yesus menghapus tangisan umat-Nya. Tangisan akibat efek dosa yang begitu besar. Yesus janjikan keselamatan. Yesus janjikan tubuh kemuliaan. Yesus berikan Roh Kudus. Itu suatu penghiburan yang berasal dari surga. Dan pada akhirnya, ketika kita melihat kebangkitan Kristus, kita boleh memiliki semangat untuk bangkit bagi Tuhan, untuk menaati firman-Nya dengan hati yang tulus mau menyembah Dia.

Kiranya kita boleh berdiri teguh dan tetap setia sekalipun kita pun tentu tidak akan hidup dalam jalan yang mudah. Kita ada kesulitan, Bapak, Ibu sekalian, tetapi kekuatan Injil lah yang memberi kekuatan kita untuk senantiasa memuliakan Tuhan. Ada ayat yang saya dapatkan ya, Ams. 10:25. Itu dikatakan: “Bila taufan melanda, lenyaplah orang fasik, tetapi orang benar adalah alas yang abadi.” Ini suatu ayat yang menguatkan kita, ya. Taufan itu bisa kita katakan itu penderitaan. Tetapi ada penafsir mengatakan, “Taufan adalah penghakiman Tuhan.” Final judgement, yaitu di akhir zaman, Tuhan akan menghakimi seluruh orang, baik yang hidup dan yang mati, Kristen dan non-Kristen, Tuhan akan hakimi dengan adil dan kekudusan-Nya. Orang fasik akan terhapus, akan lenyap, masuk ke dalam neraka yang sudah Tuhan sediakan. Tetapi orang benar adalah alas yang abadi. Orang benar tetap berdiri dengan tegap menghadap Tuhan dan mendapatkan janji dari Tuhan sendiri untuk memperoleh hidup yang kekal. Alas yang abadi akan berdiri selama-lamanya di hadapan Tuhan yang penuh kasih. Ini adalah janji Tuhan.

Maka dari itu, Bapak, Ibu sekalian, jangan sampai kita dikalahkan oleh godaan Iblis. Jangan sampai kita menyia-nyiakan anugerah Tuhan, padahal Tuhan sudah kasih penghiburan-Nya begitu limpah. Janganlah cari hiburan dari dunia ini. Dunia tidak bisa menghibur kita. Carilah penghiburan dari Allah sendiri. Dan kita juga mau dipakai untuk menjadi alat penghiburan bagi sesama kita. Bukan karena kita mampu atau hebat, melainkan karena kita sudah terima penghiburan dari Allah sendiri. Kita nyatakan firman Tuhan kepada sesama kita di dunia ini. Mari kita sama-sama berdoa kepada Tuhan.

Ya Bapa kami yang ada di surga. Allah sumber penghiburan. Allah yang sudah menyeka setiap air mata kami semua. Terima kasih, kami yang bergumul di dalam dosa-dosa kami boleh menemukan solusi hanya di dalam Yesus Kristus. Di salib Kristus, dosa-dosa kami dibereskan. Di dalam kebangkitan Kristus, kuasa dosa dan maut sudah dikalahkan. Dan Yesus yang sudah naik ke surga pun sudah memberikan kami karunia yang terbesar, yaitu Roh Kudus. Ajar kami, Tuhan, untuk bersyukur atas pemberian yang begitu besar yang Tuhan berikan kepada setiap kami. Kami berterima kasih atas keselamatan. Kami berterima kasih atas janji Tuhan: di akhir zaman kami akan memperoleh tubuh kemuliaan. Kami juga bersyukur bahwa kesetiaan Tuhan begitu sempurna di dalam kehidupan kami. Sekarang kami mau, Tuhan, kami yang sudah diselamatkan ini, kami kemudian setia melayani Tuhan. Setia mengikut Yesus. Kami mau menyangkal diri. Kami mau memikul salib. Kami mau ikut Yesus ke mana pun Yesus memimpin kehidupan kami. Karena hidup kami adalah Kristus, dan kami juga mengakui bahwa kematian kami pun adalah keuntungan karena kami pun bisa bertemu dengan Yesus dengan lebih cepat. Kami berdoa, Tuhan, supaya di waktu kehidupan kami saat ini, kami bisa terus mengikut Yesus dan juga dipakai Tuhan untuk mengembangkan seluruh talenta yang sudah Tuhan berikan kepada kami. Berkatilah, Tuhan, bermurah lah kepada setiap kami semua. Dalam nama Tuhan Yesus kami sudah berdoa dan bersyukur. Amin.