Yoh. 9:24 – 10:6
Pdt. Dawis Waiman, M. Div
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita membahas mengenai perkataan Yesus di dalam pasal yang ke-10, khususnya berkaitan dengan ayat 1: “Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok. Tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.”, pada waktu kita membaca bagian ini, mungkin secara singkat kita bisa berkata, “Oh, yang dimaksud dengan domba itu adalah Gereja Tuhan atau orang Kristen. Lalu yang dimaksud dengan gembala itu adalah Yesus Kristus, atau pintu itu juga adalah Kristus.” Kenapa dua hal ini bisa bersamaan? Satu sisi bicara Yesus adalah Gembala, yang satunya adalah Yesus adalah Pintu, seperti itu? Karena ini bicara mengenai satu perumpamaan, ya. Makanya kita tidak bisa menafsirkan, “Kok ada dua hal ini? Seolah-olah Yesus berkontradiksi sendiri?” Tapi ini hanya sebuah gambaran yang menyatakan Yesus adalah Pintu dan Yesus adalah Gembala dari para domba itu. Tetapi pada waktu kita mengatakan Yesus adalah Pintu dan Yesus adalah Gembala itu, atau paling tidak, Yesus adalah Pintu, dan kita adalah Gereja Tuhan, atau domba itu adalah Gereja Tuhan, mungkin kita akan berkata, “Oh, ini berbicara mengenai Yesus adalah satu-satunya Jalan itu. Keselamatan Itu. Sehingga pada waktu kita percaya kepada Kristus, kita masuk ke dalam kandang domba itu. Atau di dalam surga.” Seperti itu.
Tapi pada waktu kita membaca bagian ini, ada hal yang perlu kita perhatikan, yaitu apa yang dibahas di dalam bagian ini berkaitan dengan pasal sebelumnya. Ini adalah kontinuitas dari percakapan yang Yesus lakukan dengan orang yang sebelumnya buta dan Yesus sembuhkan. Dan juga percakapan antara orang yang buta itu dengan para pemimpin agama, dan juga mungkin orang-orang Yahudi yang ada. Jadi, ini ada sangkut-pautnya dengan pasal yang ke-10. Itu sebabnya pada waktu kita membaca pasal yang ke-10 ini, kita nggak bisa langsung masuk ke dalam pasal 10 lalu menafsirkan pengertian dari kandang domba, ataupun pintu, dan juga gembala itu, secara langsung. Tapi kita harus melihat dari terang konteks yang dekat daripada ayat ini.
Tapi sebelum kita masuk ke dalam pasal 9, saya ingin bicara terlebih dahulu. Pada waktu Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai Gembala, ini bukan sesuatu yang baru. Ini adalah satu konsep yang sebenarnya sangat dimengerti oleh orang-orang Yahudi semasa mereka hidup di zaman Yesus Kristus. Apa yang membuat mereka sangat mengerti kalau, mengenai perumpamaan bahwa Yesus adalah Gembala ini? Karena di dalam Perjanjian Lama, kita melihat ada satu pemahaman dari orang-orang Yahudi bahwa Allah itu adalah Gembala dari umat-Nya.
Itu sebabnya pada waktu Yesus berbicara mengenai Dia adalah Gembala, satu sisi mungkin kita akan bertanya, “Ada lompatan.” seperti itu, sepertinya. Tetapi sebelum kita masuk ke dalam bagian itu, kita boleh melihat terlebih dahulu. Orang Yahudi sangat mengerti sekali: Allah adalah Gembala dia. Allah adalah Allah yang memimpin, memelihara, mungkin menuntun kehidupan dari umat-Nya. Itu sebabnya Dia digambarkan sebagai Gembala. Seperti itu.
Tetapi pada waktu Allah itu digambarkan sebagai Gembala, mungkin kita tanya, “Di mana Gembala itu dinyatakan oleh Kitab Suci?” Paling tidak, kalau Bapak, Ibu mungkin, paling, ingat, ya, ada Mazmur 23 yang berkata: “Tuhan adalah Gembalaku, tak kekurangan”, itu. Itu adalah gambaran di mana Allah itu menyatakan diri-Nya sebagai Gembala. Tetapi, menariknya adalah pada waktu Allah menyatakan diri-Nya sebagai Gembala, Allah juga menyatakan bahwa sebenarnya Dia ada menunjuk gembala-gembala lain yang ada di bawah diri Dia. Dan siapa yang jadi gembala-gembala ini? Yaitu orang-orang pemimpin dari umat Allah, atau pemimpin agama dari pada umat Allah. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk Allah untuk menjadi gembala bagi umat Israel.
Tetapi sedihnya adalah pada waktu mereka ditunjuk sebagai gembala dari umat Israel, ada gembala yang baik, ada gembala yang tidak baik. Gembala yang baik adalah gembala yang memimpin, membina, mengajar, menuntun umat Allah di dalam kebenaran yang Tuhan kehendaki untuk mereka lakukan. Tetapi ada juga gembala-gembala yang tidak baik. Pada waktu mereka memimpin umat Allah, apa yang mereka lakukan? Alkitab berkata mereka tidak membawa umat Allah untuk setia kepada Tuhan, tetapi mereka kemudian membawa umat Allah untuk menyimpang dari pada kebenaran yang Tuhan minta umat Allah untuk lakukan.
Pada waktu itu, apa yang akan terjadi kepada mereka? Alkitab berkata bahwa Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban dari gembala-gembala ini. Mungkin Bapak, Ibu bisa membuka, misalnya dari Yeremia pasal yang ke-23. Yeremia 23: 1–2 ini berbicara mengenai hal ini: “Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!” –demikianlah firman TUHAN. Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: “Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat, demikianlah firman TUHAN.”
Jadi, pada waktu Tuhan menunjuk para gembala, siapa mereka? Orang-orang yang merupakan manusia yang ada di dalam dunia ini. Orang-orang yang memiliki kedudukan di dalam kehidupan dari umat Allah. Apakah dia adalah raja atau dia adalah pemimpin agama, imam, seperti itu, untuk menggembalakan umat-Nya. Maka Tuhan berkata ternyata tidak semua gembala itu adalah gembala yang baik.
Mungkin Bapak, Ibu, kalau ingat membaca di dalam kitab Raja-Raja atau Samuel, seperti itu, kita bisa melihat kebenaran ini. Israel terbagi dua: Israel Utara memimpin sepuluh suku, seperti itu, tetapi semua rajanya jahat yang mengakibatkan seluruh umat Israel akhirnya menyembah kepada berhala. Tetapi di dalam Israel Selatan ada raja-raja yang baik, mereka ada yang tetap setia kepada Tuhan, tetapi juga ada yang tidak setia kepada Tuhan. Kalau Bapak, Ibu baca di dalam Kitab Maleakhi ternyata ada pemimpin agama pun yang mendorong supaya umat Allah tidak setia kepada Tuhan, dengan misalnya mengizinkan korban persembahan yang ada cacatnya, korupsi, dan yang lain-lain di dalam ibadah, itu adalah orang-orang yang dilawan oleh Tuhan atau dikatakan Tuhan sebagai orang yang celaka seperti itu.
Nah, kalau kita tanya apa sebab Tuhan izinkan gembala-gembala seperti ini ada di dalam umat-Nya atau di tengah-tengah umat-Nya? Tentunya ini berkaitan dengan apa yang dijanjikan Tuhan sebelumnya, kalau Bapak, Ibu mundur ke dalam kitab Samuel, 1 dan 2 Samuel di situ ada satu peristiwa yang penting sekali. Semula Israel menolak Tuhan dengan cara mereka meminta seorang raja untuk memimpin Israel, mereka merasa mereka tidak perlu Tuhan yang memimpin mereka secara langsung akibat dari permintaan mereka itu, Tuhan memberi mereka Saul untuk memimpin bangsa Israel. Tetapi pada waktu Saul dikasih jabatan sebagai seorang raja, Alkitab berkata hatinya berubah, dia bukan memimpin rakyat untuk takut kepada Tuhan, tetapi dia punya ambisi pribadi untuk mengokohkan kerajaannya yang lebih mementingkan mukanya sendiri dan kedudukannya sebagai raja dan penerimaan dari bangsa Israel.
Nah, ini membuat Tuhan marah, pada satu peristiwa ketika Saul memimpin Israel melawan orang-orang Filistin, saat itu Saul merasa bahwa dia ada di dalam kondisi genting. Setiap hari dia menunggu kedatangan Samuel untuk memberikan korban persembahan, ternyata Samuel tidak kunjung tiba sampai hari yang dijanjikan oleh Tuhan kepada Saul, Samuel atau Samuel kepada Saul, Samuel pun tidak datang ke situ. Akhirnya Saul mengambil satu inisiatif untuk menjadi pemimpin ibadah untuk memberikan korban persembahan kepada Tuhan Allah. Pada waktu itu, Samuel muncul lalu Tuhan melalui mulut Samuel menegur Saul dan berkata kepada dia “Kamu bodoh Saul, apa yang kamu lakukan itu tidak seharusnya engkau lakukan, karena engkau sudah mengambil alih jabatan sebagai seorang Imam, seperti itu, dan kau tidak mau menantikan waktu Tuhan untuk memberikan korban persembahan melalui Samuel pada waktu itu”, maka Tuhan tidak lagi akan mengokohkan kerajaan dari Saul, dia tidak akan ada anak dan keturunan yang lahir untuk duduk di atas takhta sampai selama-lamanya.
Lalu Tuhan berkata bahwa janji itu sudah dialihkan kepada orang lain, lalu siapa yang menjadi orang lain itu? Yaitu Daud, Daud pada waktu itu ditunjuk dan diurapi menjadi raja menggantikan Saul dan pada waktu dia memerintah, dia betul-betul menjalankan pemerintahan seperti yang Tuhan katakan. Dia memiliki hati yang seperti Tuhan, hati yang takut Tuhan, walaupun kadang kala mungkin bukan kadang kala, ya, sering kali dia lakukan kesalahan dan kesalahan yang paling fatal yang dia lakukan adalah mengambil istri orang lain untuk menjadi istri dia. Tapi pada waktu itu dia ada pertobatan, ada kesadaran, memohon pengampunan dari Tuhan, tidak seperti Saul. Nah, pada waktu itulah Tuhan kemudian memulihkan kerajaannya kembali. Dan ketika satu hari Daud merasa dia sudah menetap di satu tempat yang nyaman untuk istananya, dia berpikir dia akan mendirikan Bait Allah untuk Tuhan atau Rumah Tuhan, tetapi pada waktu dia ingin mendirikan Rumah Tuhan itu, Tuhan melalui Nathan berkata kepada Daud, “Daud, rumah itu bukan didirikan oleh engkau, tetapi rumah itu akan didirikan oleh anakmu”, tetapi pada waktu Daud mendengar janji itu, pikirannya bukan hanya tertuju kepada Salomo yang akan mendirikan rumah itu saja.
Tetapi dia sadar satu hal, bahwa di dalam janji Tuhan itu akan lahir seorang yang akan menjadi raja yang memerintah umat Israel sampai selama-lamanya dan takhta pemerintahnya adalah di dalam kebenaran dan keadilan. Dan siapa yang dimaksudkan itu? Kita kalau baca Kitab Suci satu per satu, kita akan tahu kalimat nubuat itu adalah ditujukan kepada Yesus Kristus, maksudnya apa? Maksudnya adalah di dalam seluruh keturunan Israel kita bisa melihat ada raja, betul, siapa mereka? Keturunan Daud. Tetapi pada waktu kita melihat kisah hidupnya, tidak ada satu pun dari keturunan Daud itu yang sungguh-sungguh menegakkan kerajaannya dengan keadilan dan kebenaran, tetap ada cacatnya seperti itu, dan bahkan terus merosot sampai kepada satu peristiwa mereka dibuang semua.
Janji itu seolah-olah belum tergenapi, tetapi ketika kita masuk ke dalam Perjanjian Baru, muncul yang namanya Yesus Kristus, Dia adalah keturunan dari Daud dan Dia adalah seorang yang hidup dengan satu kebenaran dan Dia mengatakan dirinya adalah gembala dari umat-Nya itu. Jadi pada waktu kita melihat kepada janji Tuhan kepada Daud itu, janji ini bukan hanya bicara kepada Salomo, janji ini bukan pada keturunan Salomo saja, tetapi janji ini berbicara mengenai satu Pribadi yang akan datang yaitu Yesus Kristus di dalam dunia ini. Dia adalah Gembala itu, Dia adalah satu Pribadi yang betul-betul merupakan keturunan Daud dan Dia adalah Raja Israel dan Dia adalah gembala yang menggembalakan umat-Nya dengan setia.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah konteks dari keseluruhan Kitab Suci, berbicara mengenai gembala atau kenapa Yesus berkata kalau dirinya adalah gembala? Dia mau mengatakan Dia adalah penggenapan dari janji yang Tuhan ucapkan kepada Raja Daud di dalam Perjanjian Lama tersebut, tetapi juga sebenarnya sekaligus kalau kita mau bicara, Dia sedang berkata Dia adalah Gembala dalam pengertian Allah atas umat-Nya yang menggembalakan umat-Nya itu. Tapi pada waktu kita membaca pasal ini juga, ada konteks dekat, konteksnya berbicara mengenai apa? Seorang buta yang disembuhkan oleh Yesus Kristus. Nah, pada waktu orang buta ini disembuhkan oleh Yesus Kristus, ia harus berhadapan dengan para pemimpin agama dan juga orang-orang Yahudi yang melihat pada peristiwa itu dan pada waktu mereka melihat pada kondisi orang buta ini, terjadilah percakapan di antara mereka. Percakapannya adalah bukan hanya berkaitan dengan, “Bagaimana caranya engkau disembuhkan?” Bukan berbicara mengenai bahwa, “Ini adalah suatu kebenaran yang sungguh-sungguh terjadi kepada orang buta ini, mukjizat yang seharusnya kami syukuri di dalam kehidupan kami karena ada orang yang sudah cacat, buta dari sejak lahir selama bertahun-tahun dalam hidupnya, tidak pernah bisa sembuh. Hari ini, kita melihat pekerjaan Tuhan yang luar biasa melalui kehidupan dari orang muda ini.” Itu bukan menjadi percakapan yang ada, tetapi yang menjadi percakapan adalah mereka mempertanyakan penyembuhan itu. Mereka menanyakan, bagaimana hal itu bisa terjadi, bukan untuk mengetahui ini adalah kuasa dari Tuhan, tetapi mereka mempertanyakan, “Siapa orang yang menyembuhkan orang buta ini?”
Karena itu, di dalam percakapan yang kita baca dari ayat 24, di situ, orang buta ini dipanggil oleh orang-orang Yahudi ini. Lalu, mereka ditanyai oleh pemimpin agamanya, “Bagaimana caranya engkau sudah disembuhkan?” Lalu, orang buta ini ngomong, “Bukankah aku sudah ngomong berkali-kali kepada engkau?” Paling tidak 2x, ya. “Bahwa Dia yang menyembuhkan aku. Dia mengambil tanah, mengusap mataku, menyuruh aku mandi di Kolam Siloam dan di situ, aku menjadi sembuh.” Tetapi, orang Yahudi tetap tidak mau menerima. Mereka bertanya lagi. Akhirnya, membuat mungkin orang buta ini menjadi jengkel dan berkata, “Kamu mau jadi muridnya Yesus, ya?” Tetapi, di situlah keluar suatu pernyataan dari mereka bahwa mereka bukan murid Yesus. “Engkau murid Yesus, tetapi kami adalah murid dari Musa.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mengapa hal ini dipercakapkan dan apa kaitannya dengan gembala? Sebelum kita masuk ke dalam kaitan dengan gembala, tetapi pada waktu kita membaca percakapan ini, di sini mau menunjukkan orang-orang Yahudi itu, para pemimpin itu sama sekali tidak memiliki ide mengenai siapa Yesus Kristus. Di dalam pengertian mereka adalah Yesus bukan orang yang benar. Yesus bukan seorang yang pasti diutus oleh Tuhan, tetapi Dia adalah orang yang pasti berdosa. Kenapa berdosa? Karena penyembuhan yang Yesus lakukan kepada orang buta ini dilakukan pada hari Sabat dan menurut orang-orang Yahudi dan para pemimpin agama itu, seorang yang bersumber dari Tuhan tidak mungkin melakukan penyembuhan di hari Sabat.
Apakah ini adalah perintah Tuhan? Kalau Bapak, Ibu lihat dari pengajaran Yesus Kristus, kalau Bapak, Ibu lihat dari prinsip-prinsip yang Kitab Suci nyatakan, ini bukan pengajaran dari Tuhan, tetapi ini adalah tafsiran dari orang Yahudi terhadap Taurat Musa. Jadi, demi mereka untuk menjaga kesucian dari orang-orang Yahudi, demi mereka menjaga supaya orang-orang Yahudi tidak melakukan dosa yang melawan Tuhan lagi, akhirnya mereka merumuskan hukum-hukum supaya bisa dilakukan oleh orang Yahudi, sehingga ketika mereka melakukan hukum itu sebagai suatu pagar terhadap hukum Tuhan, maka mereka berpikir, “Dengan begitu, kita bisa menjaga kesucian umat Allah dan dengan begitu, umat Allah tidak akan dihukum oleh Tuhan dan dibuang oleh Tuhan lagi.” Dan apa yang menjadi hukum itu? Salah satunya adalah di hari Sabat, engkau tidak boleh menyembuhkan orang. Di hari Sabat, engkau tidak boleh bekerja. Lalu, pada waktu mereka mengajarkan ini, mereka kemudian mengatakan, “Maksud bekerja itu apa, ya?” Yaitu bagian dari misalnya mengangkat barang yang berkaitan dengan pekerjaan yang mereka lakukan sehari-hari. Menyembuhkan itu apa, ya? Menyembuhkan itu adalah hanya bagi orang yang betul-betul desperate yang mengancam nyawa mereka, baru boleh disembuhkan. Kalau tidak, bagaimana? Ya, tidak boleh. Tunggu sampai esok. Setelah Sabat berlalu, baru boleh menyembuhkan orang itu.
Tetapi, Yesus justru mengatakan Sabat itu adalah untuk manusia. Sabat itu adalah hari di mana belas kasih dan kemurahan Allah itu harus dinyatakan. Nah, itu yang Dia tunjukkan di bagian ini. Tetapi, orang Yahudi tidak menerima itu. Mereka marah. Mereka menuduh Yesus sebagai seorang yang bidat. Seorang yang pasti bukan bersumber dari Allah dan ini juga dicerminkan oleh umat Allah. Dari mana? Kalau Bapak, Ibu baca dari Yoh. 8 dan Bapak, Ibu baca dari Yoh.10:31, setelah Yesus mengajar, ada respon yang penting yang dinyatakan. Mereka marah terhadap Yesus dan mereka ingin merajam Yesus sampai mati, tetapi saat itu, karena waktunya belum tiba, maka mereka tidak bisa menyentuh Yesus Kristus.
Tetapi, sekali lagi, maksudnya apa, Yesus berbicara seperti ini? Yesus mau mengatakan kepada mereka melalui orang buta ini bahwa yang menyembuhkannya itu pasti Mesias. Dia bukan orang berdosa, tetapi Dia adalah orang yang pasti disertai oleh Tuhan. Tetapi, orang-orang Yahudi tidak percaya hal itu dan terus menuntut pengertian itu dan pembuktian dari orang berdosa ini. Sampai akhirnya, dia berkata kepada orang-orang ini, “Sudah, tidak usah banyak bicara lagi. Buktinya apa bahwa peristiwa ini sungguh-sungguh terjadi merupakan mukjizat dari Tuhan? Coba lihat diriku. Aku orang yang buta, tetapi sekarang, aku adalah orang yang bisa melihat. Ini kan bukti yang jelas dari pekerjaan Tuhan?”
Tetapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, orang yang menjadi pemimpin agama ini tetap tidak bisa menerima fakta tersebut di dalam diri mereka. Pertanyaannya adalah: Kenapa begitu, ya? Apa yang membuat mereka tidak bisa menerima hal itu? Karena mengerti kehendak Tuhan dan apa yang menjadi pekerjaan Tuhan itu bukan sesuatu yang bisa dicapai oleh pengertian manusia. Kebenaran tentang Tuhan, kehidupan iman di dalam Kristus itu bukan sesuatu yang merupakan usaha dan hal-hal yang dikerjakan oleh diri kita untuk menaati hukum yang Yesus katakan tetapi itu adalah satu pekerjaan Tuhan yang supranatural dalam hidup kita. Maksudnya adalah, ketika kita menjadi orang Kristen, itu bukan berbicara mengenai peristiwa dulu saya bukan orang Kristen, sekarang saya menjadi orang yang pergi ke gereja. Oh dulu saya adalah orang yang memiliki agama yang lain seperti itu, sekarang saya mengadopsi agama yang disebut dengan agama Kristen. Tetapi pada waktu kita menjadi Kristen, kalau kita bicara, itu semua adalah seperti orang buta ini. Maksudnya adalah, dari seorang yang tidak melihat, sekarang menjadi melihat. Melihat apa? Kebenaran Kristus tentunya, kuasa Allah di dalam Kristus, penyelamatan yang Yesus lakukan di dalam kehidupan kita, tetapi untuk hal-hal ini, itu adalah sesuatu yang Tuhan kerjakan. Jadi, Bapak, ibu harus paham ya, kita ini adalah orang-orang yang bagaimana? Bukan orang yang jadi Kristen karena keinginan kita sendiri, tetapi karena Tuhan sudah membukakan pengertian itu, memberikan pengertian mengenai kebenaran yang ada di dalam Kristus bagi diri kita, baru kita kemudian bisa percaya dan memiliki iman kepada Kristus.
Orang-orang yang menjadi pemimpin agama tidak dalam kondisi seperti ini. Makanya mereka ada di dalam kondisi yang terus mempertanyakan dan terus menentang Yesus Kristus dan orang buta ini. Tapi dari sini kita juga bisa mengerti satu hal, pada waktu seseorang itu percaya, kita harus melihat seperti halnya orang buta ini yang disembuhkan. Maksudnya adalah, kita hidup di dalam konteks hidup kita. Kita hidup di tengah-tengah lingkungan kita. Ada keluarga, ada teman-teman kita yang ada di sekitar kita. Pada waktu mereka melihat pertobatan kita, jangan pikir mereka akan mensyukuri iman yang kita miliki kepada Kristus tapi yang mungkin terjadi adalah, mereka menggunakan keluarga kita, atau mereka menggunakan teman-teman kita, atau mereka menggunakan komunitas di mana kita tinggal untuk mempertanyakan dan menekan iman kita tersebut. Seperti yang terjadi pada orang buta ini.
Jadi, pada waktu kita percaya, di sini juga Yesus mungkin memberi satu peringatan, hati-hati. Mungkin kamu melihat kebenaran itu. Orang dunia tidak melihat itu. Tetapi pada waktu hal itu terjadi, bagaimana sikap kita? Kadang-kadang saya melihat ada orang Kristen yang mulai menciut, lalu mulai tidak memunculkan imannya, atau bahkan tidak berani mengaku diri sebagai orang Kristen. Akhirnya dia tetap menyatakan diri sebagai orang yang bukan orang Kristen. Tetapi di dalam bagian ini, Tuhan berkata, orang buta ini menyatakan bahwa Yesus lah yang telah menyembuhkan diri dia. Bahwa dia adalah seorang yang mendapatkan pekerjaan Tuhan atau kuasa Tuhan di dalam kehidupannya. Sehingga orang-orang itu tidak bisa menampik daripada kebenaran itu.
Nah ada satu hal lagi yang kita juga perlu perhatikan sebelum kita masuk ke dalam Yohanes pasal 10, yaitu bagaimana dengan nasib dari orang-orang yang menentang orang buta ini dan menentang Yesus Kristus tersebut. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus berkata, ini bukan masalah yang sepele ya. Ini bukan masalah yang hanya berbicara mengenai perbedaan sudut pandang saja tetapi pertentangan yang terjadi itu adalah berbicara mengenai HIDUP dan MATI atau masalah KEKEKALAN. Kita bisa baca itu di dalam ayat 39. “Kata Yesus, Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barang siapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barang siapa yang dapat melihat, menjadi buta. Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang farisi yang berada di situ, dan mereka berkata kepada-Nya, apakah itu berarti bahwa kami juga buta? Jawab Yesus kepada mereka, sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa. Tapi karena kamu berkata kami melihat, maka tetaplah dosamu.” Yesus bicara di sini seperti ini ya, Saudara, kalian pikir itu adalah sesuatu yang atau apa yang kalian katakan itu bersumber dari otoritas kalian, pengertian terhadap firman Tuhan. Tahu tidak, sebenarnya ketika kalian menolak Aku, menolak pekerjaan Allah yang terjadi kepada orang buta ini, engkau adalah orang yang sudah dihakimi oleh Tuhan Allah. Dihakimi di sini maksudnya apa? Bukankah di dalam kalimat yang Yesus pernah ajarkan, Dia datang bukan untuk menjadi hakim, tapi dia datang untuk menyelamatkan manusia. Tapi kenapa di sini Yesus bicara mengenai penghakiman? Maksud Yesus adalah bukan datang sebagai penghakim, seperti kedatangan-Nya kedua, tetapi Yesus datang dan mengajar. Pada waktu Dia mengajar kebenaran, maka kebenaran itu otomatis akan memisahkan orang menjadi dua kelompok. Apakah dia adalah orang yang menerima perkataan Kristus, ataukah dia adalah orang yang menolak kebenaran Kristus. Tetapi pada waktu dia menolak kebenaran Kristus, maka Yesus katakan, sebenarnya engkau sudah ada di bawah penghakiman dari Tuhan dan itu hanya menunjukkan bahwa engkau adalah orang yang buta. Ini adalah konteks dekatnya.
Jadi pada waktu kita mau masuk ke dalam pasal 10, jangan cuma melihat, oh, kandang domba bicara mengenai gereja mungkin, gembala bicara mengenai Kristus, pintu bicara mengenai Kristus. Berarti satu-satunya jalan untuk dapat diselamatkan adalah melalui Yesus Kristus. Kelihatannya konteks dekat tidak berbicara seperti ini. Tapi kalau gitu apa yang dikatakan oleh konteks dekat? Kita boleh lihat dari tafsiran sedikit ya, atau gambaran dari apa yang Yesus ajarkan ini sebelumnya. Pada waktu Yesus bicara, kandang domba, maksud kandang domba itu apa? Ya betul-betul adalah kandang domba. Jadi, maksudnya gimana? Maksudnya adalah Yesus menggunakan satu gambaran yang umum terjadi pada zaman itu. Di mana orang Israel adalah para gembala seperti itu. Di rumah-rumah biasanya ada kandang domba di situ. Tetapi juga bukan hanya di rumah-rumah ada kandang domba, mungkin di tempat tertentu ada satu kandang yang besar lalu di situ domba dari para gembala atau beberapa gembala yang ditaruh di dalam kandang itu dalam malam hari, dan di sini Yesus katakan yang bisa masuk ke dalam kandang itu adalah gembala yang sejati, sedangkan gembala yang palsu bagaimana? Dia nggak akan masuk melalui pintu, tapi dia akan masuk melalui lompatan pagar atau tempat-tempat yang lain dari pada jalur utama untuk masuk ke dalam kandang tersebut.
Dan pada bagian ini Yesus sebenarnya sedang berkata, “Hai, orang-orang Farisi, pemimpin agama, kamu tahu tidak, kamu itu bukan gembala yang sejati, tetapi kamu adalah gembala yang palsu itu.” Ini saya stop di sini dulu, ya. Jadi, pada waktu Yesus bicara mengenai kandang domba, Yesus betul-betul mau bicara, “Oh, ada kandang, ada domba di dalamnya. Lalu ada para gembala. Gembala ini ada gembala palsu, ada gembala yang sejati.” Lalu, Yesus kemudian bicara seperti ini, “Apa yang menjadi beda daripada gembala yang palsu dengan gembala yang asli?” Bedanya adalah, pertama, gembala yang asli datang masuk melalui pintu yang tersedia. Tapi, ada aspek yang kedua, gembala yang asli adalah gembala yang mengenali domba-dombanya, dan domba-dombanya mengenali dirinya. Maksudnya gimana? Ya, ini kembali kepada tradisi para gembala pada waktu itu, ya. Orang-orang Yahudi, ketika mengembalakan hewan peliharaannya, kelihatannya mereka memberikan nama kepada satu per satu dari hewan peliharaannya. Dan pada waktu malam hari mereka mungkin ketika ada di tempat yang jauh dari rumah mereka, mereka bisa kumpulkan dombanya di dalam satu tempat bersama-sama. Lalu, di pagi hari mereka akan membawa dombanya untuk keluar dan digembalakan ke padang lagi. Lalu, pada waktu mereka mau memisahkan dombanya, bagaimana caranya? Mereka akan berdiri agak jauh dari kandang itu, lalu mereka kemudian akan memanggil satu per satu dari dombanya, dan dombanya akan meresponi suara dari suara dari gembalanya, dan mereka akan keluar menuju kepada gembalanya tersebut. Sampai akhirnya, ketika seluruh dombanya sudah keluar dan gembalanya menghitung ternyata seluruh dombanya sudah complete, baru mereka membawa dombanya turun untuk digembalakan.
Dan menarik sekali lagi ya, Bapak, Ibu, pada waktu gembala ini pergi membawa dombanya, Alkitab juga berkata, gembala itu bukan berdiri di belakang, tetapi gembala itu berdiri di depan yang memimpin para dombanya pergi ke padang rumput tersebut. Maksudnya gimana? Sekali lagi, maksudnya adalah, ketika gembala sejati itu tiba, maka domba-dombanya akan mengerti apa yang menjadi perkataan atau suara dan mereka mengenalinya, dan mereka akan mengikuti suara itu. Memang para gembala itu pegang tongkat dan pegang gada, tetapi Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, tongkat dan gada itu digunakan untuk apa? Gada mungkin untuk membela diri dari binatang buas, tetapi tongkat kadang-kadang digunakan untuk menuntun domba yang nakal untuk kembali ke dalam jalurnya, di dalam pimpinan gembala itu. Tetapi, menarik sekali adalah, hal itu sepertinya seolah-olah tidak digunakan di sini. Tetapi yang dikatakan oleh Yesus adalah, pada waktu gembala itu pergi, dia akan berjalan di depan dan dombanya akan mengikuti mereka dari belakang. Nah, ini adalah hal yang penting.
Di sini Yesus mau berbicara dan membandingkan diri-Nya dengan pemimpin agama itu. Yesus mau berkata, “Hai, engkau pemimpin agama, engkau bukan gembala yag sejati.” Kenapa bisa begitu? “Karena yang Engkau lakukan adalah, ketika melihat orang yang buta ini, dia mendapatkan karunia Tuhan, bisa melihat, ini mukjizat yang besar, Tuhan bekerja di dalam hidupnya untuk menyatakan kebenaran itu, tetapi apa yang engkau lakukan? Engkau bukan membawa orang ini dan Israel untuk melihat pada kemuliaan itu, lalu kemudian datang kepada Kristus lalu memuji Tuhan–seperti itu, tetapi yang kau lakukan adalah justru menjauhkan orang buta ini dan keluarganya dan teman-temannya dari pada Yesus Kristus. Engkau nggak ngerti suara Tuhan, engkau nggak ngerti pekerjaan Tuhan yang sedang terjadi di hadapan engkau.” Tetapi, orang buta ini berbeda, pada waktu dia mendapatkan pengalaman penyembuhan itu, dia betul-betul tahu ini adalah pekerjaan Tuhan, dan ketika Yesus bertemu dengan diri dia, dan Yesus berkata, “Kamu mau tahu nggak, siapa Anak Manusia itu?” Dia bilang, “Saya mau tahu.” Lalu Yesus bilang, “Akulah Anak Manusia itu, kamu mau percaya nggak?” Dia bilang, “Aku mau percaya kepada Yesus Kristus.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah hal yang kita perlu perhatikan, ya. Pada waktu Yesus bicara, “Aku adalah gembala, dan engkau adalah domba”, siapa domba itu? Domba itu adalah gereja Tuhan, umat Tuhan. Gembala itu siapa? Yesus Kristus. Apa yang menjadi esensi dari pada gembala yang sejati? Gembala sejati akan mengutarakan isi hatinya kepada umat-Nya, tetapi umat-Nya akan mengenali apa yang menjadi perkataan dari Gembala-Nya, atau dari Yesus Kristus, sedangkan yang bukan gembala, mereka akan tahu dan mereka akan melarikan diri dari pada-Nya. Dan ini adalah hal yang kita harus betul-betul mengerti karena inilah yang membedakan antara kita yang merupakan domba yang sejati dari domba yang palsu.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tapi kalau kita bicara domba yang asli mengenal suara dari Tuhan, domba yang palsu tidak mengenal suara dari Tuhan atau gembala Tuhan, maka mungkin kita bertanya seperti ini, “Dari mana kita tahu suara Tuhan? Bagaimana kita bisa mengerti suara Tuhan itu, atau mendapatkan suara Tuhan itu?” Ada seorang pemuda yang berpikir seperti ini, ya. “Pak, saya itu bingung karena saya merasa ada suara-suara yang berbicara kepada saya. Saya susah sekali untuk membedakan mana yang benar, mana yang salah. Dan suara itu begitu intimidatif untuk mendorong saya untuk mentaati perkataan itu.” Lalu saya tanya kepada dia, “Itu suara siapa?” “Saya nggak tahu, Pak itu suara siapa?” “Kamu tahu nggak, suara Tuhan yang mana?” Dia ngomong, “saya nggak tahu, Pak suara Tuhan itu yang mana.” “Maksudmu gimana engkau tidak tahu suara Tuhan itu gimana?” Dia bilang, “ya karena saya nggak bisa bedakan, suara itu ada di dalam otak saya dan meminta saya untuk melakukan sesuatu. Jadi saya nggak mengerti mana yang merupakan suara Tuhan, mana yang bukan.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya sangat mengaminkan perkataan dia. Kalau dia bilang, saya nggak mengerti mana suara Tuhan, karena cara kita mengenali suara Tuhan bukan dengan cara seperti itu. Walaupun banyak dari orang Kristen sekarang berfikir bahwa kalau dia adalah orang yang dekat dengan Tuhan, dia adalah orang yang rohani maka dia bisa mendengarkan Tuhan berbicara kepada dia secara langsung. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan saya percaya itu bukan apa yang dimaksud oleh Tuhan di sini. Lalu bagaimana kita bisa mengerti suara Tuhan? Mengertinya adalah, mungkin kalau kita baca adalah konteks Alkitab. Paling tidak ada 3 cara. Pertama adalah secara wahyu umum. Maksudnya adalah seperti di dalam Mazmur 19. Pemazmur berkata “Langit menceritakan pekerjaan tanganNya, cakrawala memberitakan apa? Ya itulah ya, pekerjaan TanganNya seperti itu. Jadi pada waktu kita melihat kepada alam, paling tidak Tuhan berbicara kepada kita bahwa ada Allah, ada yang mencipta dunia ini, dan kita perlu bertanggung jawab kepada Tuhan Allah.” Itu aspek pertama.
Lalu aspek kedua adalah, dari hati kita sendiri. Pada waktu kita berjalan di tengah-tengah dunia ini. Pernah nggak kita berpikir di dunia ini, oh kita tidak boleh lakukan ini. Itu boleh, ini tidak boleh. Dan sepertinya semua manusia memahami ada hal-hal yang tidak boleh dilanggar di dalam kehidupan ini. Makanya kita masih bisa hidup bergaul dengan orang-orang lain, yang berbeda iman dengan dari kita. Karena paling tidak di dalam hati ada satu kesadaran, kebenaran, atau hukum yang membuat dia tidak boleh melakukan sesuatu dalam hidup dia. Di dalam Roma 1 itu dikatakan bahwa ini adalah satu kebenaran tentang Allah, atau kekekalan Allah yang di tanamkan di dalam hati manusia. Dan siapa manusia itu? Semua manusia yang ada di dalam dunia ini, semua manusia tahu ada pencipta, semua manusia tahu ada norma-norma moral yang harus dilakukan dalam hidup ini. Tapi mereka tidak bisa melakukan hal itu.
Tetapi ada aspek ketiga yang menarik juga, ini kita bisa lihat baik itu di dalam Mazmur pasal 19 atau mungkin Ulangan 29 ayat 29, ya. Di mana dikatakan di dalam Mazmur 19, ketika bicara tentang pekerjaan Tuhan dan kebenaran Tuhan, Mazmur 19 dimulai dari pemberitaan mengenai pekerjaan Tuhan yang ada di dalam Allah. Tetapi kemudian lompat ke yang namanya Taurat Tuhan. Boleh buka ya, Bapak, Ibu ya. Mazmur 19. Mazmur 19, kalau mau boleh baca dari ayat 1 tapi kita lompat saja secara cepat ya. Tadi saya kutip, Mazmur 19, Langit menceritakan kemuliaan Allah, kemudian cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya dan seterusnya kalau Bapak, Ibu baca, itu cerita tentang alam dan semuanya. Tetapi begitu masuk ke ayat 8, di situ bicara mengenai Taurat Tuhan sempurna, menyegarkan jiwa, peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman dan seterusnya. Ada lompatan di situ orang yang mengatakan kita bisa mengenal Allah melalui alam. Tetapi kalau kita betul-betul mau mengenal Allah, yaitu melalui Taurat Tuhan. Itu kebenaran yang bisa kita dapatkan. Nah ini Bapak, Ibu bisa bandingkan dengan Ulangan 29:29. Ini di katakan, hal-hal yang sembunyi bagi Tuhan. Allah kita. Tetapi hal-hal yang kita katakan adalah bagi anak-anak kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya. Supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat.
Jadi pada waktu Tuhan memberikan hukum Taurat tujuannya untuk apa? Atau mau memberikan Kitab Suci bagi kita, tujuannya untuk apa? Supaya kita mengerti kehendak Tuhan. Dan pada waktu kita mempelajari Kitab Suci, Alkitab bicara, ini adalah perkataan Tuhan yang sempurna untuk menutup kehidupan kita. Jadi kalau kita tanya, bagaimana saya mendengar suara Tuhan, atau mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tadi ada 3, dari alam, bisa nggak totalitas? Nggak bisa, tetapi paling tidak mengerti bahwa Allah mencipta semua ini adalah bersumber dari Tuhan Allah. Dari hati nurani kita paling tidak mengerti hukum moral, seperti itu. Tetapi kalu kita sungguh-sungguh ingin mengerti apa yang kita kerjakan, apa yang Tuhan ajarkan, apa yang Tuhan lakukan. Maka kita harus kembali kepada Alkitab. Karena Alkitab adalah perkataan Tuhan. Jadi maksudnya adalah pada waktu Yesus berkata, “Aku adalah gembala yang baik, dan domba-dombaku mendengar suaraku.” Satu sisi kita mengerti sebagai gembala yang baik, dia akan mengutarakan, memberitahukan hal-hal yang dombanya perlu di ketahui tetapi sebagai domba yang baik, kita mengerti ini adalah perkataan dari Gembala kita atau Tuhan kita, atau istilah lainnya adalah kita tahu, pada waktu kita membaca Kitab Suci, ini adalah perkataan dari gembala kita mau pada waktu kita membaca kita. Dan sebagai domba yang baik. Domba yang sejati, kita harus bagaimana? Kita bukan hanya tahu. Kita bukan hanya mengenali dari suara gembala kita atau siapa gembala kita, tetapi ada hal yang lebih penting, kita mengakui otoritas perkataan-Nya dalam hidup kita dan kita mentaati perkataan itu dalam hidup kita.
Tadi saya ucapkan ini dengan cara yang berbeda berulang kali, tetapi kenapa saya ucapkan ini dengan suara yang berbeda berulang kali? Karena sering kali orang Kristen merasa ya, pada waktu kita membaca Alkitab dan membicarakan Alkitab, itu hanya salah satu tafsiran dari kelompok sinode tertentu. Ini adalah satu tafsiran atau pandangan dari “Oh pendeta tertentu” seperti itu atau orang Kristen tertentu dan kita nggak merasa bahwa Alkitab itu adalah otoritas mutlak yang seharusnya menuntun kehidupan kita. Tapi kalimat Yesus ini berbicara berbeda sekali, pada waktu domba itu mendengar suara Tuhan dan mengikuti suara itu, berarti domba ini tahu mana yang merupakan suara Tuhan yang sungguh-sungguh merupakan suara Tuhan. Artinya adalah di dalam perkataan Alkitab ada kebenaran yang mutlak yang kita bisa mengerti, ada kebenaran yang objektif di mana semua domba Tuhan harus mengakui inilah arti yang benar dari perkataan gembalanya tersebut. Tapi sedih sekali kadang-kadang kita merasa bahwa “Oh ini cuma sekedar beda tafsiran, beda pendapat, beda kepercayaan.” seperti itu.
Sekali lagi saya bilang, setiap domba Tuhan tahu persis mana yang merupakan perkataan Tuhan, apa yang menjadi arti dari perkataan itu dan mereka menundukkan diri di bawah otoritas dari perkataan itu. Itu namanya kita adalah domba yang sejati, tetapi saya ulangi sekali lagi ada bagian yang juga penting. Domba yang sejati bukan hanya mengenali dan mengikuti suara dari gembalanya saja, tetapi domba yang sejati juga tahu membedakan mana yang merupakan suara gembalanya dan mana yang bukan dan pada waktu mereka tahu itu suara bukan dari gembalanya maka mereka nggak mau dekat. Mereka pergi melarikan diri dari suara itu. Maksudnya gimana? Yang tadi saya contohkan, anggaplah ada gembala yang satu, ia bernama Yonathan. Lalu ada gembala yang kedua, ia namanya mungkin si Lewi misalkan. Lalu domba-domba Yonathan ini ketika mendengar suara Lewi, dia akan datang nggak kepada Lewi? Dia pasti tidak akan datang, tapi begitu dia dengar suara Yonathan gembalanya dia akan lari ke situ. Nah, sekarang saya anggap ilustrasi kayak gini, bagaimana kalau di saat yang bersamaan dua orang ini memanggil dombanya, apa yang terjadi? Yang domba Yonathan pasti lari menuju Yonathan dan dia nggak akan lari menuju Lewi. Ini yang menjadi hal yang perlu kita pegang baik-baik ya, Bapak, Ibu. Karena kadang-kadang kita sebagai orang Kristen kita merasa “Oh yang penting adalah kita hanya berbicara mengenai yang benar saja, yang baik saja tetapi yang berlawanan dengan yang baik kita tidak boleh sentuh sama sekali, karena itu bisa menyinggung perasaan orang lain, kepercayaan orang lain.” seperti itu. Tetapi Yesus di sini bicara domba yang baik bukan hanya mengenali suara gembalanya tapi bisa membedakan mana yang benar mana yang salah. Untuk membedakan mana yang salah bagaimana? Ya kita perlu tahu yang salah kan, baru kita bisa membedakan dan kita juga tidak mau ikut-ikut dan main-main dan dekat-dekat kepada yang salah.
Jadi, pada waktu kita bicara mengenai bagian Yoh. 10, apa yang dimaksud di sini bahwa Yesus berkata “Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok.” Yesus mau bicara seperti ini, hati-hati Bapak, Ibu. Ketika kita mendengar suara dari gembala, mungkin yang berbicara saat itu bukan gembala yang baik, tapi mereka adalah para perampok, para penyamun itu yang menyamar sebagai seorang gembala untuk menggembalakan Bapak, Ibu. Padahal dia tidak pernah masuk melalui pintu itu. Maksud masuk dari pintu itu bagaimana? Maksudnya mereka sendiri tidak pernah berjumpa dengan Gembala yang sejati di kehidupannya atau Yesus Kristus, tetapi mereka berani berdiri di mimbar lalu mengkhotbahkan Alkitab dan seolah-olah mereka menyuarakan perkataan dari Gembala yang sejati. Ini menjadi peringatan Tuhan, kita harus bisa membedakan hal ini dalam kehidupan kita. Saya akan akhiri khotbah di sini, mari kita masuk di dalam doa.
Kami kembali bersyukur Bapa, karena kami boleh diberikan Firman Tuhan, Kitab Suci-Mu, kebenaran-Mu yang boleh menjadi satu penuntun dalam kehidupan kami untuk kami boleh mengenal siapa yang menjadi gembala kami yang sejati, karena kami tahu perkataan-perkataan yang dinyatakan dalam Kitab Suci adalah bersumber dari Engkau sendiri. Tolong kami ya Bapa, ketika kami menjalani hidup kami bisa berjalan sungguh-sungguh mengikuti apa yang menjadi pimpinan Engkau sendiri dalam kehidupan kami. Kami tidak melihat lagi perkataan-Mu sebagai pilihan untuk ditaati atau tidak ditaati, tapi kami boleh sungguh-sungguh mengerti bahwa firman-Mu adalah perkataan yang berotoritas dalam kehidupan kami. Dan sebagai domba Allah yang sejati, kami harus menundukkan diri dan mengikuti setiap perkataan kebenaran-Mu dalam kehidupan kami. Sekali lagi ya Bapa, kiranya Engkau boleh pimpin tiap hidup kami anak-anak-Mu pada hari ini. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
