Kel. 19:1-25, Luk. 24:19
Pdt. Dawis Waiman, M. Div
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai kebangkitan Kristus, ada banyak usaha untuk membuktikan kebangkitan Kristus, mulai dari argumentasi misalnya, kubur yang kosong, lalu, mungkin hal-hal lain, kain kafan yang tertinggal yang masih ada sampai hari ini tersimpan. Orang sering kali mengatakan, “Oh, kain kafan Turin adalah kain kafan yang membalut Yesus Kristus pada waktu Ia dikuburkan setelah Ia disalibkan dan mati tersebut.” Tetapi dari semua usaha pembuktian-pembuktian yang dilakukan oleh orang Kristen untuk membuktikan Yesus bangkit dari kematian atau usaha-usaha untuk membuktikan bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian oleh orang-orang bukan Kristen, semua itu mendadak bisa ditepis, semua itu bisa diselesaikan dengan 1 peristiwa yang di mana semua orang tidak perlu lagi berargumen apakah Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian atau tidak bangkit dari kematian. Yaitu apa? Kebangkitan Kristus sendiri yang menampakkan diri di hadapan murid-murid yang lain.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab mencatat bahwa yang menyaksikan kebangkitan Kristus itu bukan hanya 1 orang saja, bukan 2 orang, bukan 3 orang, tetapi ada 500 orang yang menyaksikan kebangkitan Kristus dan dari antara orang-orang yang menyaksikan kebangkitan Kristus ini, Alkitab dengan sangat menarik sekali mencatat peristiwa itu bukan dinyatakan pertama kali kepada murid-murid yang 12 rasul itu, tetapi justru kepada seorang perempuan. Perempuan yang begitu hina, perempuan yang dulunya terlibat di dalam pelacuran, perempuan yang dianggap sebagai orang yang berdosa di zaman tersebut dan mungkin juga masih di zaman kita saat ini. Tetapi, pada waktu Yesus bangkit dari kematian, Yesus justru menampakkan diri di hadapan perempuan ini.
Nah, kenapa hal itu terjadi? Pertama adalah tentunya kita akan bertanya karena perempuan adalah seorang yang mungkin bisa dipercayai. Tetapi di zaman itu, kita akan melihat perempuan bukan seorang yang dipercayai. Pada zaman itu, perempuan adalah seorang yang kesaksiannya mungkin paling terakhir untuk didengarkan. Kalau mereka ingin mendapatkan pengakuan atau memberikan kesaksian yang jelas, yang benar seperti itu, mereka akan cari saksi mata yang betul-betul bisa dipercayai dan seorang laki-laki untuk memberikan kesaksian itu. Kalau Yesus bangkit dari kematian, seharusnya menurut logika orang pada waktu itu, yaitu Yesus menampakkan diri kepada 12 murid, memberi kesempatan kepada 12 murid untuk menjadi yang pertama melihat Yesus bangkit. Lalu, memberitakan kepada semua bangsa. Tetapi, kenapa pada waktu Yesus bangkit, Yesus tidak menampakkan kepada 12 murid ini, tetapi kepada perempuan yang hina ini, yang berdosa ini? Ini hanya mau menyatakan bahwa pada waktu peristiwa ini dicatat, ini bukan sesuatu yang dikarang. Ini bukan hasil rekayasa, tetapi ini adalah sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi. Yesus sungguh bangkit. Siapa yang melihat? Perempuan yang dulunya adalah seorang pelacur. Lalu, dari perempuan ini, kabar itu disebarkan kepada murid-murid yang lain.
Tetapi, murid-murid kemudian bukan hanya percaya kepada perkataan perempuan ini, lalu mengumumkan kepada semua dunia bahwa Yesus sudah bangkit dari kematian. Murid tidak seperti itu. Pada waktu itu dikatakan, ada Petrus dan Yohanes yang lari langsung ke arah kubur. Yohanes tidak berani masuk ke dalam kubur itu, tetapi Yohanes dari luar, lihat ke dalam. Sedangkan Petrus, ketika tiba, masuk ke dalam. Dan pada waktu dia masuk ke dalam, dikatakan, dia melihat, dia mengamati. Dan kata yang digunakan untuk melihat itu bukan “blepo” di dalam bahasa Yunani yang artinya dia memandang saja, tetapi kata Yunani yang digunakan adalah dia melihat, dia meneliti, betulkah Yesus sudah bangkit dari kematian? Betulkah kain kafan itu mungkin yang telah membungkus Yesus Kristus atau ini adalah sesuatu yang merupakan rekayasa seperti itu? Pada waktu Petrus meneliti apa yang terjadi, melihat situasi yang ada di dalam kubur tersebut, dia kemudian percaya bahwa Yesus sudah sungguh-sungguh bangkit.
Tetapi, apakah ini yang menjadi dasar orang Kristen percaya kalau Yesus sudah bangkit, yaitu dari kesaksian seorang perempuan berdosa? Dikabarkan kepada murid-murid yang merupakan murid Yesus Kristus? Lalu, dari situ mereka percaya dan mereka kemudian mengabarkan kepada semua orang lain? Alkitab tidak berhenti di situ, tetapi Alkitab berkata bahwa murid-murid Yesus sendiri melihat dengan mata kepala sendiri, memegang dengan tangan mereka sendiri, mendengar dengan telinga mereka sendiri kalau Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian. Ini yang kemudian dikabarkan ke seluruh dunia.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita mendengar cerita kebangkitan dari Kristus, satu hal yang kita perlu catat baik-baik, ini bukan suatu pemberitaan yang tanpa bukti, tetapi ini adalah satu pemberitaan yang disertai dengan bukti dan saksi mata sendiri di dalam sejarah manusia kalau Yesus sungguh-sungguh telah bangkit dari kematian. Itu sebabnya saya tadi katakan, mau orang berdebat bagaimanapun mengenai kebangkitan Kristus, apakah Dia sungguh-sungguh bangkit atau tidak bangkit, semua itu bisa dipatahkan dengan satu hal, yaitu Yesus muncul di depan dari para murid dan Dia menunjukkan dirinya kalau Dia telah bangkit dari kematian itu.
Nah, salah satu peristiwa penampakan diri ini yaitu kepada murid yang pergi menuju kepada Emaus. Ada dua orang di situ, satu adalah Kleopas yang satunya tidak dicatat tapi ada yang menafsir mungkin itu adalah istrinya. Di dalam perjalanan menuju ke Emaus apa yang membuat mereka pergi ke sana? Kelihatannya mereka sedang berputus asa. Mereka ada di dalam kondisi yang sedih, karena Mesias yang mereka harapkan untuk menjadi pemimpin atas Israel telah disalibkan, telah mati, dan dikuburkan seperti itu. Mereka bukan dalam kondisi yang percaya Mesias akan bangkit atau Yesus bangkit. Mereka punya pengharapan, tetapi semua pengharapan mereka itu telah menjadi sirna seperti itu. Itu sebabnya mereka pulang menuju ke Emaus. Tapi pada waktu mereka berjalan menuju Emaus, Yesus atau Kitab Suci menyatakan, Yesus kemudian menampakkan diri di hadapan kedua murid ini.
Nah, pada waktu Yesus menampakkan diri di hadapan kedua murid ini, Yesus tidak langsung menyatakan dia adalah Yesus itu. Kita ndak tahu kenapa sebabnya. Alkitab juga tidak memberitahu kita, apakah karena penampilan Yesus berbeda daripada penampilan sebelum dia bangkit dari kematian sehingga murid-murid tidak mengenalinya. Tetapi melalui peristiwa itu, kita tahu satu hal, Yesus berkesempatan untuk mendidik murid-murid kembali, untuk memberi mereka pengertian kalau apa yang terjadi kepada Yesus itu adalah suatu penggenapan dari kitab para nabi, yaitu seluruh Perjanjian Lama dari Kejadian sampai dengan kitab Maleaki berbicara mengenai Yesus akan tersalib dan Yesus akan bangkit dari kematian. Jadi pada waktu Yesus bangkit, dia menggunakan catatan Kitab Suci Perjanjian Lama untuk membuktikan pengajaran Yesus sendiri akan apa yang akan terjadi pada diri Yesus Kristus dan ini pengertian ini diberikan kepada murid-murid.
Lalu hal yang kedua adalah melalui peristiwa sakramen yang Yesus lakukan di depan kedua murid ini. Jadi sebelum Yesus mati, Yesus memberikan satu perintah untuk menjalankan sakramen dengan memecah roti dan berkata, “Inilah tubuh-Ku yang dipecahkan bagi kamu. Perbuatlah ini untuk mengingat akan Aku. Inilah darah-Ku.” Dia mengambil sebuah cawan lalu berkata, “Inilah perjanjian baru yang Aku ikat dengan kamu. Aku akan meminumnya kembali ketika kita semua berkumpul dengan Tuhan seperti itu. Lakukan ini untuk mengenang akan Aku.” Jadi, pada waktu Yesus menuju ke Emaus bersama dengan murid-murid ini, hal kedua yang membuat murid-murid ini sadar kalau itu adalah Yesus Kristus adalah peristiwa Yesus memecahkan roti itu. Pada waktu Yesus memecahkan itu, mengucap berkat atas roti itu, di situlah terbuka pikiran mereka, mata mereka. Dan di situ pada waktu mereka terbuka, tiba-tiba Yesus pergi meninggalkan mereka atau menghilang dari hadapan mereka.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu peristiwa ini terjadi, apakah itu adalah halusinasi dari orang yang memiliki kerinduan yang begitu besar terhadap orang yang dicintai atau yang diharapkan seperti itu? Alkitab memberi bukti lagi, hal itu tidak mungkin halusinasi karena yang melihat peristiwa ini bukan hanya dua orang ini, bukan hanya Maria Magdalena saja, tetapi seluruh murid Yesus dan 500 orang melihat dengan mata kepala sendiri kalau Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya heran kalau semua catatan sejarah ini betul-betul dicatat, betul-betul berusaha untuk membuktikan kalau Yesus sungguh-sungguh bangkit, Dia betul-betul datang, Dia betul-betul mati di atas kayu salib, Dia betul-betul dikuburkan, dan hari ketiga bangkit dari kematian itu sudah begitu jelas dinyatakan bagaimana ada orang yang masih sulit untuk mempercayai kebenaran ini di dalam hidupnya. Saya lihat satu-satunya kemungkinan adalah dia bukan cukup bukti yang atau kurang bukti yang diberikan tentang hari kebangkitan Kristus ini tetapi yang benar adalah mereka tetap mengeraskan hati untuk tidak mau menerima bukti-bukti yang sudah dengan begitu jelas dinyatakan Kitab Suci berkaitan dengan kebangkitan dari Yesus Kristus.
Nah, saya nggak mau berpanjang lebar berbicara mengenai hal ini karena waktu kita yang terbatas, tapi saya mau ajak Bapak Ibu lihat pada waktu murid-murid melihat atau menyadari itu adalah Yesus Kristus yang berdiri di hadapan mereka, apa yang mereka kemudian katakan? Kleopas dan temannya ini ngomong kayak gini, “Hati kita berkobar-kobar kah?” Pada waktu Dia berbicara dengan kita, hati kita itu begitu berkobar-kobar. Artinya apa? Pada waktu mereka berbicara dengan Kristus, ada sesuatu yang meluap dari hati mereka. Ada api yang membara di dalam hati mereka ketika mereka berbicara dengan Kristus. Saya percaya ini adalah sesuatu yang harusnya ada di dalam setiap hati dari orang Kristen yang betul-betul menerima Kristus, yang diselamatkan Kristus, dan yang beribadah kepada Yesus Kristus dalam kehidupan kita. Hati yang berkobar itu, hati yang betul-betul menyadari kehadiran Tuhan dan peristiwa dari penebusan yang Kristus kerjakan bagi diri kita.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, lalu apa kaitannya dengan Keluaran pasal 19? Peristiwa kebangkitan Kristus dengan apa yang dicatat di dalam Keluaran 19, yaitu, orang-orang Israel yang dibawa keluar dari tanah Mesir, perbudakan, lalu berdiri di depan Gunung Sinai untuk menghadap pada Tuhan, seperti itu. Ada satu hal yang kita bisa pegang, yaitu, pada apa yang Kitab Suci katakan, kalau Allah yang disembah orang Kristen itu adalah Allah yang tidak berubah. Salah satu karakter dari Allah orang Kristen yang kita selalu pegang, yang membuat kita bisa punya pengharapan, kepastian, bahwa di dalam Kristus ada kebenaran, ada keselamatan, yaitu kesetiaan dari Tuhan Allah. Maksudnya apa? Setiap perkataan Tuhan itu tidak bisa berubah, setiap perkataan Tuhan, kita bisa pegang dengan segenap hati kita. Tuhan tidak akan mengatakan kebohongan kepada umat-Nya. Semua perkataan-Nya yang Dia katakan itu adalah perkataan yang benar.
Jadi, pada waktu kita melihat peristiwa yang dialami di dalam Perjanjian Baru mengenai Kristus, kebangkitan Kristus atau melalui penebusan Kristus ada penyembahan kepada Allah setiap orang yang hidup di dalam Perjanjian Baru, harus menyadari satu hal, Allah yang kita sembah dalam Perjanjian Baru itu sama dengan Allah yang kita sembah dalam Perjanjian Lama. Atau, Allah yang kita sembah dalam Perjanjian Baru, itu sama dengan Allah yang disembah oleh umat Israel yang ada di dalam Perjanjian Lama. Karena pada waktu kita berbicara mengenai penyembahan khususnya dalam Perjanjian Baru, kadang-kadang orang-orang Kristen itu berpikir, Allah Perjanjian Baru itu penuh dengan cinta kasih, Allah Perjanjian Lama itu penuh dengan ketegasan, keadilan, kemarahan, seperti itu, sehingga banyak orang yang melakukan salah pasti langsung dihukum. Tetapi di dalam Perjanjian Baru, coba lihat, apakah Allah seperti Allah dalam Perjanjian Lama? Apakah Allah murka kepada orang-orang Kristen yang datang dan beribadah kepada Tuhan sehingga mereka berkata “kayaknya beda, ya.”
Di dalam gereja kita mengenal kasih Allah, di dalam Kristus Yesus, itu membuat pada waktu kita menghampiri Tuhan, kita bahkan tidak mengerti ada perbedaan antara dunia menghampiri Tuhan dengan orang Kristen seharusnya menghampiri Tuhan. Kita berpikir bahwa “Oh, kalau dunia senang-senang dengan apa yang mereka kerjakan, mereka dipuaskan dengan cara yang mereka lakukan, maka itu tidak apa-apa dibawa masuk ke dalam gereja dan itu diterapkan di dalam ibadah kepada Tuhan.” Karena apa? Mereka merasa Allah-nya beda. Allah sekarang penuh dengan cinta kasih, Allah sekarang penuh dengan kemurahan dan kebaikan di dalam kehidupan manusia khususnya umat-umat Tuhan. Maka, kita ndak perlu seperti orang-orang dalam Perjanjian Lama yang begitu takut dan gentar berdiri di hadapan Tuhan.
Tapi, Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, saya mau ajak kita terlebih dahulu, ada satu ayat, ya. Yaitu, di dalam Ibrani pasal 12. Di dalam Ibrani pasal 12 ada satu ayat atau kita baca dari ayat 28-29, ini mengatakan bahwa Allah yang disembah oleh orang Kristen sama dengan Allah yang disembah oleh umat Israel yang ada di dalam Perjanjian Lama. Ibr. 12:28-29. ”Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” Siapa Allah orang Kristen? Kita suka ngomong, ”Oh, Yesus Kristus. Penuh dengan cinta kasih. Allah Tritunggal.” Tapi Allah Tritunggal adalah Allah yang kasih, kah? Tapi menarik sekali pada waktu penulis Ibrani mengatakan, bagaimana orang Kristen harus menyembah kepada Tuhan. Di sini penulis Ibrani bukan hanya berbicara mengenai kasih Allah, tetapi secara khusus berkata Allah kita adalah api yang menghanguskan. Karena itu pada waktu kita menghadap Allah, kita harus dengan hormat dan takut di dalam menghadap Allah.
Dan kalau Bapak, Ibu, baca dari ayat 18, catatan dari ayat 28-29, yang merupakan kesimpulan dari perikop itu berbicara mengenai peristiwa yang terjadi di dalam Keluaran pasal 19. Jadi, pada waktu penulis Ibrani sebelum menulis Allah orang Kristen adalah Allah yang merupakan api yang menghanguskan, karena itu kita harus datang kepada Allah dengan hormat dan takut, penulis Ibrani berkata, ingat lho, dulu umat Israel ketika menghadap Tuhan, mereka menghadap Tuhan di Gunung Sinai. Dan pada waktu mereka menghadap di Gunung Sinai, apa yang terjadi? Mereka melihat ada api yang menyala-nyala. Ada kekelaman yang begitu gelap. Ada angin badai, ada gempa yang terjadi. Pada waktu itu apa yang terjadi? Mereka begitu gemetar sekali, berdiri di hadapan Allah. Mereka nggak berani dekat-dekat, ada batas yang membatasi mereka dengan gunung tersebut, sehingga mereka tidak boleh masuk ke dalam wilayah itu. Lalu Musa di sini juga dikatakan, pada waktu Musa melihat hal itu – Bapak, Ibu bisa baca di ayat 21 ya – Musa dikatakan sangat ketakutan dan sangat gemetar melihat peristiwa itu. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan. Kita bisa bayangkan itu sendiri ya, bagaimana kalau kita adalah umat Israel yang berdiri di hadapan Tuhan di Gunung Sinai? Nggak usah jauh-jauh, mungkin di Gunung Merapi saja, waktu kita berdiri di Gunung Merapi, lalu saat itu, Gunung Merapi kan ada, apa itu namanya? Awan panas dan itu tergantung dari, apa itu, bahaya satu, dua, tiga itu apa? Siaga, siaga 1, 2, 3 misalnya. Kalau siaga 1 berani nggak ke sana?
Saya pernah siaga satu pergi sana tanpa sadar itu adalah siaga 1. Itu karena nggak sadar itu adalah siaga 1. Lalu saya pernah pergi juga pada waktu Merapi sedang mengepulkan awan yang begitu tebal sekali. Saat itu cuma dalam pikiran satu, wah celaka ini. Kalau awan panasnya itu menuju ke tempat jalur mobil yang sedang dikendarai nggak ada jalan putar balik. Karena itu cuma satu mobil, mobil nggak bisa mutar sama sekali. Cuma satu jalan menuju ke depan. Kalau awan panas menimpa kita, gimana kita bisa melarikan diri? Saat itu dengan gentar menjalani perjalanan itu. Bapak, Ibu bayangkan ini ya. Saat itu, umat Allah berdiri di Gunung Sinai. Saat itu mereka melihat halilintar menyambar dengan begitu hebat sekali. Saat itu mereka melihat awan yang kelam yang begitu gelap menutupi gunung itu. Saat itu mereka melihat halilintar atau suara geledek atau gempa yang ada, saya yakin sekali, kegentaran, gemetar rasa takut yang begitu hebat. Itu adalah wajar sekali pada waktu itu.
Tetapi ini yang Tuhan ingin perlihatkan kepada umat Allah. Ini yang Tuhan ingin umat Allah itu memahami ada waktu menghampiri Tuhan, ada batasan di mana mereka tidak boleh melewati batasan itu karena Allah itu begitu menakutkan, begitu kudus, begitu tidak terhampiri sama sekali. Tetapi juga sekaligus terhampiri. Kok bisa terhampiri? Karena pada waktu peristiwa Tuhan turun ke Gunung Sinai, di saat itulah Tuhan menghampiri umat-Nya, berbicara kepada umat-Nya. Tapi peristiwa ini sebenarnya satu peristiwa yang merujuk kepada peristiwa ketika Allah inkarnasi ke dalam dunia juga, di mana Yesus Kristus, Pribadi kedua dari Allah Tritunggal datang ke dalam dunia, masuk dalam sejarah manusia. Tetapi bedanya apa? Bedanya ketika ada di dalam Perjanjian Lama, manusia diperlihatkan segala kemuliaan, kesucian, kengerian yang ada pada Tuhan Allah, tetapi pada waktu Allah Pribadi kedua inkarnasi menjadi manusia, Dia betul-betul menampakkan diri sebagai manusia yang sama seperti diri kita yang tidak ada bedanya dengan diri kita karena Dia menanggalkan kemuliaan-Nya yang di sorga tersebut. Ini yang membuat banyak orang yang berpikir Yesus manusia biasa. Dan mungkin juga ini yang membuat banyak orang Kristen berpikir, oh Yesus itu penuh dengan cinta kasih, hidup di tengah-tengah kita, mengerti kita, melayani umat-Nya, menyembuhkan orang sakit, mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan Firman Tuhan. Dia adalah Allah yang terhampiri seperti itu. Sehingga kita nggak ada satu rasa segan, takut ketika kita menghampiri Tuhan di dalam ibadah kita.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan. Dia bisa terhampiri karena apa? Dia inkarnasi. Dia melepaskan kemuliaan-Nya, walaupun dia tidak melepaskan ke-Allah-anNya tersebut. Jadi pada waktu kita menghadap Tuhan, saya harap kita dengan persepsi atau pemikiran seperti ini. Allah yang kita hampiri itu tidak beda dengan Allah yang menyatakan diri di dalam Perjanjian Lama. Yang membedakan apa? Di dalam Perjanjian Lama, ada mediator. Mediatornya siapa? Musa. Dia adalah seorang yang berdosa juga. Walaupun dia bisa menghadap kepada Tuhan pada waktu itu, tapi dia adalah orang yang berdosa yang tetap ada halangan yang membuat umat Allah tidak bisa menghampiri Tuhan dengan sepenuhnya. Tetapi pada waktu kita menghadap Tuhan di dalam Kristus Yesus, kita tahu satu hal. Ini adalah Imam Besar Agung kita, Dia adalah Mediator yang sempurna. Sehingga pada waktu kita datang menghadap Allah di dalam Kristus, kita bisa datang menghadap Allah di dalam atau di hadapan kemuliaan Allah, dalam kekudusan Allah dalam kehidupan kita, di hadapan Allah.
Bapak, Ibu bisa baca, kita nggak punya cukup waktu, tapi kalau Bapak, Ibu baca bisa baca Ibr. 12:22. Ayat 18 sampai ayat 21 itu berbicara mengenai peristiwa yang dicatat di Gunung Sinai. Tetapi begitu masuk ayat 22, penulis Ibrani berkata, “Kita bagaimana sekarang kalau mereka Israel dulu di Gunung Sinai dengan ketakutan seperti itu, kita akan masuk ke dalam gereja. Lalu pada waktu kita masuk ke dalam gereja, ada nggak yang melihat kemuliaan Allah?” Nggak ada kan? Yang lihat siapa? Ya cuma Dawis yang berdiri di depan sini atau pendeta lain yang berdiri di depan sini. Sehingga pada waktu kita beribadah, kita beribadah di hadapan siapa? Waktu kita mendengar firman, firman siapa yang dikabarkan? Ya kita bisa ngomong, “Oh itu firman Tuhan,” tapi bukankah Dawis yang mengabarkan Firman atau pendeta yang mengabarkan Firman di dalam gereja ini? Dan kita nggak melihat kemuliaan itu sama sekali. Kita nggak melihat ada awan kecuali lampu sorot yang begitu terang yang menyinari mimbar ini.
Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, tapi di sini penulis Ibrani mau membawa kita melihat kepada hal ini. Pada waktu kita datang ke gereja, saat itu sebenarnya kita bukan datang ke tempat yang dibuat oleh manusia yang ada di dalam dunia ini saja. Tetapi saat itu ketika kita datang di dalam Kristus, kita datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.
Jadi pada waktu kita beribadah kepada Tuhan, penulis Ibrani mau mengatakan apa Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan? Kita bukan hanya di dalam dunia ini. Kita berdiri di hadirat Tuhan Yesus Kristus bersama dengan orang-orang kudus yang lain, bersama dengan para malaikat yang ada di surga. Maksudnya apa? Maksudnya adalah Bapak, Ibu ada bersama dengan Musa, Bapak, Ibu bersama dengan Bapak Abraham, Bapak, Ibu bersama dengan mungkin Yosua, Paulus, Petrus, dan semua orang kudus yang lain. Mungkin kalau mau ditambahkan Calvin, Martin Luther, dan yang lainnya. Kita berdiri di hadapan Allah bersama-sama dengan mereka. Maksudnya apa? Maksudnya adalah pada waktu orang Kristen beribadah di hadapan Tuhan, sebenarnya ini adalah cicipan keindahan surgawi yang akan kita nikmati kemudian hari bersama dengan Kristus.
Tapi di dalam dunia ini, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, masalahnya adalah seperti ini. Kita lihat nggak semua kemuliaan itu? Saya sedihnya adalah kita seringkali tidak lihat itu. Dari hal yang sederhana, yang simple yang seringkali ditunjukkan oleh orang Kristen. Misalnya datang ibadah bisa tidur, datang ibadah bisa ngobrol, datang ibadah dengan mengenakan pakaian yang tidak hormat, datang ibadah bisa terlambat, datang ibadah nggak konsentrasi untuk mendengar Firman. Bapak, Ibu semua yang dikasihi Tuhan, atau datang ibadah mengharapkan ibadah yang bisa memuaskan diri dan tidak bedanya dengan dunia. Lalu kita pikir, “Oh dengan begitu kita sudah menyembah kepada Tuhan, beribadah kepada Tuhan.” Tapi semua konsep ibadah tidak pernah ditujukan untuk kemuliaan nama Tuhan. Orang-orang dulu di dalam Perjanjian Lama mengerti saat ibadah mereka nggak bisa sembarangan. Mereka dengan takut dan gentar berdiri di hadapan Tuhan. Orang-orang Kristen mungkin pada zaman reformasi, setelah zaman reformasi, mereka mengerti ibadah dan liturgi ibadah itu disusun supaya kita bisa menghadap kepada Tuhan dan mengakui kekudusan Tuhan, kemuliaan Tuhan, dan memberikan hormat kita kepada Tuhan. Tapi sekarang semua itu berbeda, jauh daripada apa yang dirancang sebelumnya oleh Tuhan sendiri ataupun oleh orang-orang Kristen yang memiliki hati yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan.
Bapak, Ibu, Saudara, yang kasihi Tuhan, semua ini kita dapatkan dari mana? Contohnya misalnya pada waktu Israel mau menghadap Tuhan, mereka disuruh menguduskan diri tiga hari sebelumnya. Loh maksudnya bagaimana menguduskan tiga hari? Yaitu cuci pakaian, tidak boleh tidur dengan istri, selama tiga hari mereka harus menguduskan diri. Berarti pada waktu mereka menghadap Tuhan, mereka harus dengan pakaian yang paling baik yang mereka miliki dalam hidup mereka. Tapi di kita sering kali nggak seperti itu kan? Yang kedua, pada waktu mereka mau menghadap Tuhan, Tuhan bilang, “Kasih pagar! Pagar yang membatasi ini adalah wilayah umat Allah, Israel. Yang sana, sesuatu yang tidak boleh dilanggar atau dilalui. Bahkan binatang pun, sekalipun, kalau dia berani melintasi pagar itu, dia harus mati seperti halnya manusia: apakah dilempari batu atau dipanahi sampai mati. Artinya apa, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan? Pada waktu kita mau menghadap Tuhan, Bapak, Ibu harus mengerti satu hal: ada batas pemisah. Batas pemisah yang tidak boleh dilalui oleh umat Allah menuju kepada Allah.
Nah, apa yang menjadi penyebab? Salah satu sebabnya adalah karena umat manusia atau umat Allah sekali pun masih ada di dalam dosa. Tetapi ketika menghadap Allah yang kudus, yang berdosa itu tidak mungkin bisa menghadap Allah yang kudus. Karena kalau sampai terjadi, itu pasti mati. Tapi ketika kita ada di dalam Kristus, semua itu sudah diselesaikan oleh Kristus di atas kayu salib dan di dalam kebangkitan-Nya sehingga kita bisa menghadap Tuhan secara langsung. Tetapi yang saya mau tekankan adalah: walaupun kita bisa menghadap Tuhan secara langsung, waktu kita masuk ke dalam gereja dan kita ada di hadapan Tuhan –seperti itu– tetap batasan itu tidak boleh hilang, loh, Bapak, Ibu! Yang mengatakan apa? Begitu Bapak, Ibu menginjakkan kaki dari luar masuk ke dalam gereja, harusnya Bapak, Ibu menanggalkan hal-hal yang berdosa, hal-hal yang sekuler, hal-hal yang duniawi, dan tidak boleh masuk ke dalam gereja. Ini prinsip! Prinsip yang harusnya kita pegang sebagai orang yang memiliki hati yang takut Tuhan dalam hidup kita.
Tapi pertanyaan saya seperti ini: pada waktu Bapak, Ibu datang, bisakah melihat kemuliaan Tuhan? Pada waktu Bapak, Ibu datang, bisa nggak melihat Allah itu adalah Pribadi yang begitu harus dihormati, disegani, ditakuti dalam kehidupan kita? Pada waktu Bapak, Ibu memuji Tuhan, bisakah Bapak, Ibu melihat pujian itu bukan untuk menyenangkan diri, tapi untuk memuliakan Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan? Pada waktu Bapak, Ibu masuk ke dalam gereja, bisakah Bapak Ibu lihat bahwa tujuan kita datang bukan untuk bersekutu?
Saya bukan ngomong tidak boleh bersekutu. Tetapi yang saya mau ngomong: tujuan utama kita datang ke dalam gereja bukan karena ada teman! Bukan untuk berteman! Bukan supaya kita punya relasi bisa lebih dikuatkan atau diperbanyak, seperti itu. “Ya, kalau saya nggak merasa ada teman di dalam gereja, saya nggak mau datang ke dalam gereja!” Tujuan utama kita datang ke dalam gereja setiap minggu untuk beribadah kepada Tuhan. Atau setiap minggu adalah untuk beribadah kepada Tuhan. Itu tujuan yang paling utama! Dapatkah kita melihat kepada kebenaran ini?
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ibadah itu bukan urusan horizontal. Ibadah itu adalah urusan yang vertikal: antara saya yang berdosa berdiri di hadapan Allah yang suci dan kudus. Kalau tidak ada Kristus yang menjadi Pengantara, saya nggak mungkin bisa berdiri di hadapan Allah. Tapi karena saya memiliki Kristus, karena Kristus telah datang, mati, dan bangkit dari kematian, itu yang membuat saya bisa datang dan menghadap Tuhan Allah yang suci itu. Tapi sikap hati kita tidak boleh meremehkan kesucian Allah. Hormat kita kepada Tuhan itu tetap harus dijaga, ya. Saya harap pada waktu kita memperingati kebangkitan Kristus ini, hati yang berkobar bagi Tuhan di dalam Kristus itu terjaga baik-baik di dalam hidup kita dan di dalam ibadah yang kita naikkan kepada Tuhan. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita, ya. Mari kita masuk dalam doa.
Kembali bersyukur, Bapa, untuk kebenaran yang boleh Engkau berikan bagi kami. Tolong kami ketika kami menjalani hidup kami, kami tidak menyia-nyiakan kebangkitan dari Kristus. Kami boleh makin menyadari cinta kasih Tuhan, tetapi juga sekaligus kesucian dan kekudusan Tuhan dalam hidup kami. Sehingga, ketika kami menghampiri Tuhan, kami boleh sadar satu hal: bahwa kami menghampiri Allah yang suci dan kudus yang telah memberikan belas kasih-Nya kepada kami di dalam Kristus Yesus. Dan ini membuat kami boleh meresponi kasih Tuhan dengan benar dalam kehidupan kami dengan rasa syukur, dengan rasa hormat, dan dengan kehidupan yang sungguh-sungguh memuliakan Tuhan. Tolong kami ya Bapa, berkati kami semua. Khususnya di hari Paskah ini kami boleh lebih mengagumi tindakan karya penebusan dan keselamatan yang telah Engkau kerjakan di dalam Kristus. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
