Doa Rasul Paulus untuk Jemaat Filipi, 29 Maret 2026

Fil. 1:9-11

Vik. Tommy Suryadi

Bapak, Ibu semuanya, kita sudah merenungkan bagian ayat 3 sampai ke-8, di mana Paulus mengucapkan syukur kepada Tuhan karena karya Tuhan di tengah jemaat Filipi. Tuhanlah yang mengerjakan keselamatan bagi mereka dari awal hingga akhir bahkan dikatakan sampai hari Kristus Yesus, Tuhan terus mengerjakan keselamatan di dalam setiap pribadi jemaat Filipi. Ini pun juga berlaku bagi kita, Bapak, Ibu semuanya, di mana keselamatan kita bukanlah hasil karya kita sendiri, tetapi karena Allah sudah terlebih dahulu bekerja di dalam hidup kita sehingga kita bisa percaya, menerima Kristus dan terus-menerus bersekutu di dalam berita Injil. Itu yang kita alami bersama-sama, kita yang percaya.

Dan kemudian Paulus melanjutkan doanya setelah ucapan syukur ada satu doa permohonan yang tadi kita sudah baca bersama-sama di ayat 9 sampai 11. Doanya Paulus adalah “kasihmu makin melimpah”, ini bagian yang pertama. “Kasihmu makin melimpah.” Tidak cukup kita itu sudah mengalami keselamatan lalu kemudian kita katakan, “Oh, ya sudah, selesai kan ya, sudah dijamin masuk surga ya sudah, selesai.” Tidak ada lagi boleh dikatakan peran apa pun dalam hidup kita. Itu pemahaman yang salah, Bapak, lbu. Justru ketika kita sadar, kita diselamatkan, ketika kita mulai percaya kepada Yesus, itu adalah satu titik mulanya justru. Titik mula dari kehidupan yang baru. Kehidupan yang baru ini saya harusnya jalani seperti apa? Perjanjian baru banyak sekali menjelaskan hal tersebut. Tetapi di bagian ini di ayat ke-9 Paulus mengatakan suatu doa, ini harus terjadi di dalam diri jemaat Filipi dan juga kita semua, yaitu supaya kasih kita makin melimpah.

Bapak, Ibu semuanya, jemaat Filipi itu bukankah sudah besar kasihnya? Di dalam doa ucapan syukur yang sebelumnya kita renungkan di ayat-ayat sebelumnya, bukankah Paulus sendiri yang menyatakan betapa jemaat Filipi itu mereka bersekutu dalam berita Injil? Mereka itu setia. Bahkan di dalam surat yang lain misalnya surat Korintus yang kita sudah pernah lihat di 2 Korintus, Paulus mengatakan jemaat Filipi itu bahkan memberikan persembahan untuk mendukung penginjilan itu sangat besar. Dan kalau kita mengingat kalimat Tuhan Yesus, “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu.” Lalu kita melihat dan membaca jemaat Filipi begitu besar memberikan persembahan untuk mendukung penginjilan Paulus. Bahkan Paulus mengatakan di 2 Korintus, ketika kesempatan itu tidak diberikan kepada jemaat Filipi, malah jemaat Filipi itu sendiri yang agak ngotot, “Kami mau kasih, kami mau dukung penginjilan.” Kalau kita tadi memakai formula Tuhan Yesus, “di mana hartamu berada, di situ hatimu juga”, bukankah persembahan yang begitu besar dari jemaat Filipi itu mencerminkan bahwa kasihnya jemaat Filipi itu sudah begitu besar?

Dan jemaat Filipi kalau kita meneruskan bacaannya, mereka sangat peduli terhadap Paulus. Bahkan ketika Paulus dipenjara mereka pun berusaha bagaimana tetap bisa melayani Paulus. Padahal jaraknya mereka itu begitu besar antara Roma dengan kota Filipi. Jaraknya begitu besar dengan keterbatasan transportasi pada saat itu, tapi tetap mereka mau menyatakan kasih mereka kepada Rasul Paulus. Tapi kenapaPaulus di sini malah berdoa “semoga kasihmu makin melimpah”? Kalau kita boleh tanya kepada Paulus, “Loh Paulus bukankah kasihnya jemaat Filipi ini sudah begitu besar? Kok doanya adalah supaya kasihnya makin melimpah? Kenapa nggak doa yang lain saja? Kenapa nggak doa mungkin poin-poin yang jemaat Filipi itu masih kurang?” Misalnya seperti itu ya. Tetapi Bapak, Ibu semua, kita harus merenungkan bahwa sebesar-besarnya kasih kita sekarang kepada Tuhan, selalu ada ruang untuk kita terus bertumbuh. Selama kita hidup di dunia ini dengan kehidupan yang sekarang, tidak mungkin kasih kita itu sempurna. Jadi jangan sampai kita mengatakan, ini banyak orang Kristen pernah mengatakan seperti ini, “Saya rasanya sudah cukup banyak berkorban. Saya rasanya sudah cukup banyak melayani. Saya rasa, saya rasa sudah cukup banyak ini dan itu rasanya tidak perlu ditambah lagi. Malah justru harusnya,” misalnya berkata kepada hamba Tuhan ya, “Bapak Pendeta harusnya ngomongnya ke orang lain yang pelayanannya masih kurang, persembahannya masih kurang, ini itu nya masih kurang. Nah, itu Pak mereka yang harus difokuskan. Saya sudah aman Pak. Saya sudah ok sudah bisa dikasih jempol, sudah bisa dikasih rating bintang lima, Pak. Bapak fokus sama yang masih bintang satu, bintang dua aja, Pak, atau bintang tiga lah, gitu, ya.”

Tapi Bapak, Ibu semua, itu apakah benar? Apakah ketika kita misalnya saat ini sudah banyak memberi, sudah banyak melayani, sudah banyak ini dan itu, apakah itu berarti sudah cukup di mata Tuhan? Kenyataannya tidak, Bapak, lbu semua. Kita tidak boleh berhenti bertumbuh. Seperti Paulus tetap mendoakan walaupun jemaat Filipi kasihnya sudah begitu besar, tetap doanya Paulus adalah kasihmu makin lagi, makin lagi, makin besar lagi, makin melimpah. Kita tidak akan pernah, di dalam dunia ini, tidak akan pernah bisa kasihnya itu cukup kepada Tuhan. Tidak. Kasih kita itu harus terus-menerus bertumbuh di hadapan Tuhan.

Ketika kita diminta untuk menjadi semakin serupa Kristus, itu satu gol yang sangat jauh, Bapak, lbu semua. Sangat jauh, sangat panjang perjalanan kita. Maka jangan kita mengatakan sampai di titik ini, “Oh, ya saya rasa saya sudah cukup baik.” Seringkali waktu kita katakan saya cukup baik, itu berdasarkan kita membandingkan diri dengan orang-orang lain di gereja kan? Apalagi kalau misalnya Bapak, Ibu, misalnya, kita GRII membandingkan diri dengan gereja lain misalnya. Apalagi bandingannya dengan gereja yang malas penginjilan, gitu, ya, malas study Firman Tuhan, kumpul-kumpul cuma happy-happy, senang-senang aja, cuma social club saja. Kita bisa mengatakan “Waduh, kita nih sudah sangat hebat, loh. Progres kita itu sudah jauh lebih besar dari gereja-gereja yang itu, loh. Sudah cukup, kan, ya?” Kita harusnya mengatakan belum cukup. Kita jangan membandingkan diri dengan orang yang lebih buruk daripada kita. Jangan bandingkan diri dengan gereja yang lebih malas daripada kita. Kita harusnya membandingkan diri dengan Yesus Kristus. Kalau kita membandingkan diri terus dengan orang lain, gitu, ya, apalagi kita selektif dengan orang-orang yang lebih buruk, lebih parah daripada kita, ya, kita akan selalu merasa saya sudah cukup baik. Saya sudah jempol, saya sudah dua jempol, bahkan sudah bintang lima. Tapi kita diajak untuk membandingkan diri dengan Kristus, Bapak, Ibu. Dan ketika kita membandingkan diri dengan Kristus, karena target kita adalah Kristus, kita akan baru sadar, “Oh, iya, ya, saya masih jauh.” Sebesar apa pun kasih yang saya nyatakan pada hari ini, tetap itu belum ada apa-apanya, dibanding kasih Yesus kepada saya atau kepada kita semua. Maka dari itu, doa dari Paulus ini adalah doa yang harusnya juga menjadi doa kita, Bapak, Ibu. Semoga kasih kita makin melimpah. Makin melimpah, makin bertumbuh. Tidak akan pernah cukup. Doa ini harus terus kita panjatkan.

Dan Paulus nyatakan, “kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian.” Kasih di sini Paulus tambahkan, ya, dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian. Kita melihat bagian pertama dulu, ya. Dalam pengetahuan yang benar. Ketika Paulus menggunakan kata pengetahuan di dalam Perjanjian Baru, pengetahuan itu sering kali bukan merujuk kepada pengetahuan asal-asalan, Bapak, Ibu, ya. Ya, kita belajar IPA juga pengetahuan, belajar IPS juga pengetahuan, belajar ekonomi, sosiologi, psikologi segala macam itu juga pengetahuan. Secara khusus, pengetahuan yang dimaksud Paulus di sini adalah pengetahuan akan Allah. Dan ketika Alkitab bicara soal pengetahuan akan Allah, itu bukan sekedar pengetahuan secara teori yang levelnya hanya di otak. Tetapi ini berkaitan dengan pengenalan kita secara pribadi dengan Allah. Atau bahasa lainnya relasi kita pribadi dengan Allah. Mengenal Allah secara pribadi, kasih kita harus makin melimpah dalam pengetahuan yang benar tentang Allah.

Kasih itu harus ada pengetahuannya Bapak, Ibu. “Oh, yang penting itu kasih”, siapa yang dikasihi, itu juga pengetahuan. Kita harus tahu siapa yang dikasihi yaitu Allah. Dan namanya kita mengasihi seorang pribadi kita pasti pengen makin mengenal pribadinya. Mungkin Bapak, Ibu, kita sering mendengar frasa, “tak kenal maka tak sayang”, gitu, ya. Harus kenal dulu baru bisa sayang. Ya, itu ada kebenarannya, kalimat itu Bapak, Ibu. Bagaimana mungkin kita bisa mengasihi Allah kalau Allah sendiri kita tidak kenal. Maka dari itu, dalam hal ini, ya, teologi, doktrin itu tetap penting, sangat penting, sangat esensial, sangat krusial, Bapak, Ibu, semuanya. Kita tidak bisa melalaikan doktrin atau teologi. Yang penting kasih, yang penting kasih. Ya, kalau kamu nggak mengenal siapa yang kamu kasihi dan tidak tahu bagaimana cara mengasihi dia, ya, omong kosong kasihmu itu. Omong kosong. Karena mengasihi Allah itu berarti saya harus kenal Dia. Saya harus tahu apa yang Dia mau, kehendak Allah, dan saya harus tahu juga apa yang Dia benci supaya saya hindari itu. Baru kita bisa benar-benar kita mengasihi Allah. Maka, Paulus di sini, doanya tepat, Bapak, Ibu. Kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar. Kalau ditambahkan tentang Allah.

Tapi di sisi lain, Bapak, Ibu, semua. Kalau kita cuma punya pengetahuan, tidak punya kasih itu juga timpang Bapak, Ibu, semuanya. Paulus mengatakan kalau tidak salah di 1 Korintus, kalau kamu punya pengetahuan, aku punya pengetahuan, tapi tidak punya kasih, aku ini bukan apa-apa. I am nothing. Meskipun pengetahuan saya begitu hebat luar biasa, tapi kalau saya tidak punya kasih, saya bukan apa-apa. Itu kata Paulus sendiri. Maka, di sini kasih dengan pengetahuan dengan kebenaran itu harus ada Bapak, Ibu. Tidak bisa kita asal mengasihi tanpa kebenaran dan tidak bisa juga kita punya kebenaran tanpa kasih. Kasih dan kebenaran itu adalah satu padanan yang tidak boleh dipisahkan Bapak, Ibu, semua. Allah mengasihi di dalam kebenaran. Dan kemudian kita juga diberitakan di ayat surat Paulus yang lain, kita harus menyatakan kebenaran dengan kasih. Dua hal ini tidak boleh terpisahkan.

Lalu kemudian bagian yang kedua, tidak hanya dalam pengetahuan yang benar, dikatakan juga dan dalam segala macam pengertian. Memang di sini terjemahan Bahasa Indonesianya agak sulit, ya, Bapak, Ibu. Kalau Bapak, Ibu, membandingkan dengan terjemahan-terjemahan Bahasa Inggris, sering kali kata yang dipakai itu bukan pengertian dalam arti understanding. Kalau kita mau terjemahkan langsung, ya, ke dalam bahasa Inggris, kan, segala macam pengertian. Kalau mau diterjemahkan bebas, all kinds of understanding, gitu, kan Bapak, Ibu. Tetapi di dalam Bahasa Inggrisnya bukan understanding yang dipakai. Bahasa Inggrisnya adalah discerment, ya, discerment. Kata discerment ini memang nggak diterjemahkan ke bahasa Indonesia Bapak, Ibu. Agak susah. AYT, atau versi Alkitab AYT, Alkitab yang Terbuka, memakai kata hikmat. Tapi hikmat itu sebenarnya ada kemiripan dengan discerment cuma nuansanya beda ya, jadi ini susah Bapak, Ibu ya. Akhirnya LAI memakai kata pengertian, tapi kalau bahasa aslinya sebenarnya yang tepat itu discerment. Kasih kita itu harus semakin melimpah juga di dalam discerment.

Lalu pertanyaan kita adalah, discerment itu apa? Ya, tadi AYT menerjemahkan hikmat, yaitu lebih dekat memang bahasa Indonesianya ya Bapak, Ibu, lebih dekat hikmat. Tapi discerment itu secara khusus berbicara tentang satu kemampuan untuk membedakan mana yang benar mana yang salah. Sekali lagi Bapak, Ibu ya, apa itu discerment? Secara sederhananya, discerment adalah satu kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Jadi, kemampuan untuk membedakan Bapak, Ibu. Kemampuan untuk membedakan itu sangat penting Bapak, Ibu.

Orang yang belum belajar, cuma tahu samanya. Semua agama sama, itu kan ya? Kalau ada orang dengan begitu PD, begitu confident, berteriak semua agama sama, saya langsung tahu ini orang nggak punya hikmat, orang ini belum belajar. Saya akan mengatakan semua agama ada samanya betul, ada ya, ada samanya. Tapi kalau mengatakan semua agama sama, berarti dia belum belajar. Misalnya juga Bapak, Ibu ya begini, kalau ada orang mungkin sama sekali nggak ngerti mobil, semua mobil sama, mau itu angkot, mau itu BMW, Ferrari, Mercedes, oh semua disamain, semua sama. Kan rodanya 4 kan, ya sudah. Ada setirnya kan, sama. Ada pintu mobilnya kan, ya iya sama, udah semua sama, cuma beda warna aja mungkin, begitu ya. Beda bentuk aja dikit, begitu ya. Itu orang bodoh Bapak, Ibu. Lalu dikasih kesempatan, “ok silakan kamu pilih gratis, mau ambil yang mana tetapi cuma ambil satu, antara Ferari, BMW, Mercedes Benz sama angkot. Silakan pilih.” Lalu dia bilang, “Oh karena semua sama, saya pilih angkot.”  Kita ngerti kan nangis Bapak, Ibu. Aduh, coba saya yang disuruh pilih ,saya sudah tahulah mau pilih mana, begitu kan ya?  Ya, itu orang yang tidak bijaksana, cuma tahu samanya aja. Semua agama sama, semua gereja sama, semuanya sama. Tapi orang yang berhikmat Bapak, Ibu, dia tahu perbedaannya, dia tidak cuma tahu persamaannya, dia juga tahu perbedaannya. Bahkan dia bisa tahu secara lebih kritis, lebih mendetail bedanya itu di mana.

Contoh kasus Bapak, Ibu ya. Ini waktu itu diceritakan oleh Pdt. Sutjipto Subeno. Anaknya itu penggemar mobil, Bapak, Ibu. Semua mobil itu bahkan anaknya itu, dari kecil anaknya yang  cowok, itu selalu perhatikan mobil setiap detailnya, yakni saya sebut merk Bapak, Ibu, ya, karena kalau nggak nanti awang-awang ya. Avanza itu kan serinya banyak banget Bapak, Ibu ya. Dari pertama kali keluar Avanza sampai hari. Waduh, variannya tuh kalau mau tipe G, tipe apa. Saya nggak ngerti Bapak, Ibu ya. Tipe ini, tipe ini, tahun ini, jenis yang ini, itu ya penggemar mobil lah yang tahulah gitu, ya. Saya nggak tahu detailnya, begitu. Anaknya itu ditanya sama papanya, suatu kali di jalanan macet lagi lampu merah, anaknya duduk di samping kan ya, di depan. Biasa dipanggilnya waktu kecilnya kan Titi gitu ya. Titi, coba kamu lihat tuh di sebelah, Avanzanya yang tahun berapa tipe berapa? Kan anaknya lagi duduk, masih kecil ya, agak pendek gitu pakai seat-belt, trus dia keluarin seat-beltnya sedikit, terus dia syut gitu ya, nengok di kaca sebelah lihat Avanzanya. Dilihat sebentar cuma beberapa detik duduk, oh ini tipe G, pah. Papanya kaget, cuma berapa detik kamu lihat kok bisa tahu? Pah, kalau yang tipe G itu velg-nya seperti ini Pah. Dia jelasin, ya. Kalau tipe ini velg-nya seperti ini, kacanya nggak begini, bla, bla, bla. Langsung tahu bedanya, lihat beberapa detik langsung sadar. Ini tuh yang mana. Dia tahu sekali perbedaannya, kalau saya ditanya ya semua Avanza sama, ya gitu lah Bapak, Ibu ya. Saya nggak ngerti mobil, cuma tahunya ya, merk ini, merk ini, ya sudah begitulah ya. itu aja tahunya, begitu ya. Tapi dia tahu begitu detail, dia tahu perbedaannya sampai yang terkecil itu dia sangat mengerti. Yang paling detail itu sangat tahu.

Kasih kita dikatakan harus makin melimpah dalam segala macam discerment. Satu kemampuan membedakan, Bapak, Ibu. Kita kasih itu nggak menyamakan semua orang loh Bapak, Ibu. Nggak bisa. Kita punya kasih juga harus punya discerment. Mungkin pertanyaannya adalah kenapa kita harus punya diserment ini, kemampuan membedakan. Bapak, Ibu semua, kalau kita bertanya kepada anak sekolah minggu, anak sekolah minggu kan biasanya cara mikirnya itu hitam putih ya. Hitam putih, ya. Pokoknya ini benar ya benar. Ini salah ya salah. Tapi kita orang yang dewasa sudah menghadapi berbagai macam situasi, sudah menghadapi banyak asam garam, mungkin, sering kali kita melihat ada situasi kelihatannya abu-abu kan ya. Tidak segampang, “Oh iya, ini yang benar ini yang salah ya sudah kita tinggal pilih yang ini.” Ya, kalau ada sekolah minggu mikirnya gampangnya begitu kan? Kalau kita orang dewasa kadang waduh ini situasinya kompleks loh Pak. Ada faktor ini, faktor ini, faktor ini, faktor ini. Gimana saya caranya membuat keputusan, Pak? Di sini lah kita butuh deserment. Waktu kita lihat awal misalnya, oh situasinya kok abu-abu ya, Pak ya. Coba telaah, coba teliti lebih dalam, mungkin nggak benar-benar abu-abu. Waktu kita lihat lebih dekat ternyata ada bayang-bayang putih, hitam. Ternyata ada bagian putihnya, ada bagian hitamnya, ada warna lain mungkin. Kita harus bisa membaca, menganalisa situasi lebih detail. Lalu kemudian, bagaimana prinsip-prinsip Firman Tuhan yang sudah selama ini kita pelajari, bukan hanya untuk jadi teori, tapi kita pakai untuk mengenali situasi itu, “Ok, berdasarkan prinsip firman Tuhan ini harus disikapi, seperti ini. “Ok, ini keputusan yang tepat, saya ambil yang ini.” Dan ini butuh kedewasaan, Bapak, Ibu. Orang Kristen harus bertumbuh dalam hikmat, harus bertumbuh juga berarti dalam discernment. Harus, Bapak, Ibu. Kalau nggak kita kayak anak sekolah minggu. “Oh ya, pokoknya ini hitam, ini putih, hitam salah, putih benar, ya sudah saya pilih putih.” Ya sudah, matilah kita di dunia kerja gitu ya. Karena di dunia kerja banyak abu-abu. Waktu bermasyarakat banyak abu-abunya. Kalau kita nggak bisa menganalisa dengan benar. Orang Kristen wajib punya hikmat.

Di dalam satu masterclass, Pak Tong itu sudah lama sekali, sudah berapa tahun yang lalu, Pak Tong mengatakan orang injili itu seringkali menekankan yang penting itu setia baik, setia baik, setia baik. Tapi saya tambahkan satu kata, orang Kristen harus setia, baik, dan berhikmat. Itu saya setuju, Bapak Ibu. Seringkali orang Kristen, oh yang penting baik, yang penting baik, yang penting mengasihi, tapi habis itu bodoh, Bapak, Ibu. Sorry ya. Bukan bodoh kurang edukasi, bukan kurang gelar, tapi bodohnya dalam arti nggak berhikmat, Bapak, Ibu. Contoh sederhana, Bapak, Ibu. Ini contoh sangat sepele. Kalau anak kita batuk terus dia rengek-rengek nangis, minta cokelat, minta gorengan, kita kasih nggak? Kalau kita orang tua yang benar ya kita nggak kasih. “Kamu lagi batuk. Kalau Papa kasih ini ke kamu, kamu makin parah, makin sakit, makin menderita, makin susah sembuhnya.” Justru Bapak yang bijaksana itu dia tahu membedakan mana saatnya saya bisa kasih ini ke anak, mana saatnya jangan. Kalau asal-asalan, oh ya sudah kasihanlah, kasihan kasih saja, ya sudah makin parah dia. Dalam bahasa sederhananya kalau saya waktu itu bicara soal parenting, kasih itu bukan asal kasih. Sekali lagi, Bapak Ibu, kasih yang sejati itu bukan asal kasih. Oh kasihan, kasih tapi nggak mikir, akhirnya situasinya lebih parah.

Satu kali, Bapak, Ibu, ini kasus nyata, bahkan waktu itu saya masih remaja, belum jadi Kristen, saya masih ingat berita ini. Waktu itu lagi hari raya agama seberang begitu ya. Lalu kemudian ada orang yang ingin mengadakan kasih sumbangan gratis, sembako, makanan begitu. Tapi kemudian dia tidak mengatur acaranya dengan hikmat. Dia tidak bikin antrean, tidak bikin keamanannya bagaimana, flow-nya bagaimana, tidak dipikirkan semuanya. Pokoknya yang penting sediakan barangnya brek, yang mau ambil silakan. Bapak, Ibu bisa bayangkan apa yang terjadi, apalagi orang Indonesia, langsung diserbu, dikeroyok. Akhirnya di kejadian itu ada satu nenek-nenek karena sudah nggak kuat mau ambil juga jatuh, keinjak-injak mati di tempat. Siapa yang dilaporkan ke polisi? Yang mengadakan acara. Maksudnya baik ya, maksudnya baik tapi nggak berhikmat, ya sudah kena sama polisi. Dianggap dia yang membuat nenek ini meninggal. “Kenapa kamu nggak atur acaranya baik-baik?” Kalau kita jadi orang Kristen jangan sebodoh itu juga, Bapak, Ibu. Harus punya hikmat, harus punya hikmat.

Salomo menjadi satu teladan dalam hal tertentu, termasuk dalam hal hikmat. Lalu Kristus mengatakan di Perjanjian Baru, “Di sini ada yang lebih daripada Salomo.” Kristus adalah hikmat, hikmat yang berinkarnasi tersebut. Kenapa kita dapat kitab Amsal? Ya harus berhikmat, Bapak, Ibu. Amsal itu bukan barang opsional. Oh boleh berhikmat boleh nggak, bukan. Wajib berhikmat. Maka sekali lagi ini menjadi doa yang sangat tepat, “kasihmu makin melimpah juga dalam segala macam pengertian atau hikmat atau discernment.” Harus punya hikmat, Bapak Ibu.

Lalu hal yang sering sehari-hari, boleh nggak kita kasih uang kepada pengemis di jalan? Ada yang mulai geleng-geleng, ada yang kebingungan melihat saya. Saya nggak tahu mungkin di antara Bapak Ibu ada yang masih kasih, saya nggak tahu. Tapi Bapak, Ibu, yang seringkali saya lihat dan memang sudah jadi anjuran pemerintah jangan kasih. Satu kali pernah di Jakarta saya waktu itu baru mulai kuliah, kuliah S1 waktu itu. Kemudian masih belum ada taksi online, masih pakai taksi konvensional yang berwarna biru itu, burung warna biru itulah. Lalu kemudian saya ngobrol dengan sopirnya. Ngobrol-ngobrol dan kemudian sopirnya cerita suatu kali ada yang pesan taksi berhentiin, yang pesan itu pengemis, Bapak, Ibu. Pengemis pesan taksi pakai argo. Terus kemudian ya sudah yang namanya penumpang ya terima saja, yang penting dia punya uang. Pergi, “Pak, ke sini dulu ya,” ke sini jemput temannya pengemis juga, lalu ke satu tujuan. Sopirnya dengar di belakang mereka ngobrol, “Hari ini lu dapat berapa?” “Hari ini dikit, cuma 300.”  Cuma 300 satu hari, dia bilang dikit. “Wah, hari ini sih gua lumayan 500, 600-an.” Biasanya kalau hari raya ya ngobrol-ngobrol begitu. Lalu pengemis nawarin sopirnya, “Pak, mau join kami nggak? Lumayan loh.” Menggoda juga ya, sehari argo cuma berapa, belum tentu dapat penumpang, dapat pun dapatnya yang kasar segala macam. Tinggal minta di jalan berapa jam sudah 300 minimal, Bapak, Ibu tertarik? Jadi nawarin jadi pengemis begitu. Lalu sopirnya jelas menolak, masih mengantarkan saya. Saya juga beberapa kali melihat, di Bali juga pernah kejadian, ngemis pagi sampai sore. Sorenya dia sudah selesai ke parkiran ambil motornya pulang pakai motor. Keren kan? Mungkin Bapak, Ibu juga pernah lihat headline berita pengemisnya sudah beres, nggak tahu mau pulang gimana, dia menginap di hotel karena cukup uangnya untuk ke hotel, bukan tidur di pinggir jalan, tapi cari hotel untuk tidur.

Lalu juga pernah satu kali saya ada kawan penginjil di Palembang. Saya ngobrol-ngobrol dengan dia. Lalu dia itu sering menginjili tukang becak –gitu, Bapak, Ibu, ya– anak-anak jalanan, pengemis. Dia tuh juga, selain penginjilan, dia juga kadang kasih makanan gitu, Bapak, Ibu, ya. Lalu dia cerita kepada saya. “Anak-anak jalanan yang di simpang –namanya Simpang Caritas di Palembang, kami kami sebutnya, ya– di Simpang Caritas itu ada anak-anak jalanan, saya nggak mau kasih.” “Lho, kenapa, Pak?” “Itu tuh ada mafianya, Pak. Saya kasih apa pun, ujungnya ke tangan mafia, bukan untuk mereka.” “Oh, ok.” Saya makin paham. Berarti makin benar, sih. Maksudnya, apa yang saya pegang selama ini, ya. Kelihatannya kasihan, ya. Sengaja diambil anak-anak –dari mana? Nggak tahu lah, ya– lalu kemudian disuruh minta-minta di jalan. Uangnya ke mana? Bukan ke mereka! Ke mafianya. Ke bosnya.

Suatu kali juga ada teman saya di Jakarta. Ada anak-anak jualan tisu, kan begitu, ya? Anak-anak. Anak kecil, mungkin anak SD jualan tisu. Terus teman saya kasihan. Kan, harga tisunya misalnya Rp10.000, ya. “Saya beli satu.” Beli satu, ambil satu. Dia kasih Rp50.000. “Nggak usah kembalian, ya.” Dia kasihan sama anak itu. Lalu kemudian anaknya langsung ambil empat lagi, dikasih, dimasukin ke dalam mobilnya, gitu ya. Lewat kaca. Teman saya bingung. “Lho? Sudah! Sudah! Kembaliannya kamu ambil aja! Saya cuma butuh satu!”, dia bilang, “Nggak, Pak,” dia bilang. “Yang penting jualan saya cepat habis.” “Oh.” Jadi, dia itu, mafianya itu paksa dia. “Kalau kamu belum habis hari ini, nggak boleh pulang!” Jadi bukan masalah uangnya buat dia. Bukan. Masalahnya dia harus memenuhi target sales, ya. Ini sales ilegal gitu lah, ya. Harus selesai penjualannya hari itu baru boleh pulang, baru dikasih makan. Jadi, bukan masalah dia dapat uang. Uangnya lari ke mafianya, Bapak, Ibu.

Maka –kalau saya boleh sarankan, Bapak, Ibu– yang berhikmat –kalau Bapak, Ibu punya satu belas kasihan: mau kasih kepada anak yatim gitu, ya, anak yang terlantar– kasihlah melalui lembaga yang terpercaya, Bapak, Ibu. Yang Bapak, Ibu tahu: ini urusan keuangannya pasti bisa dipercaya, akuntabel, kredibel. Yang sudah pasti ini uangnya nggak akan dimainin aneh-aneh. Silakan Bapak, Ibu mau kasih banyak ke yang bisa dipercaya itu, silakan, Bapak, Ibu. Itu baru namanya kasih yang berhikmat. Kasih jangan asal kasih, Bapak, Ibu, ya. Jangan asal kasih. Kasih kita harus makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian.

Lalu kemudian apalagi, ya yang kita butuhkan? Kenapa kita membutuhkan discernment itu? Kita melanjutkan ayat ke-10. “Sehingga kamu dapat memilih apa yang baik.” “Sehingga kamu dapat memilih apa yang baik.” Terjemahan LAI di sini agak kurang tepat, Bapak, Ibu, ya. Sebenarnya dalam bahasa aslinya itu bisa kita katakan: “Sehingga kamu dapat memilih apa yang terbaik. Kamu dapat memilih apa yang excellent.” Dalam bahasa Inggrisnya biasa pakai kata excellent. Bukan cuma sekadar good. Bukan. Tapi excellent. Kamu dapat memilih apa yang terbaik! Dan kata memilih di sini, itu dalam bahasa aslinya juga bisa berarti menguji, Bapak, Ibu. Menguji. “Sehingga kamu dapat menguji apa yang terbaik.”Lho, kan kasih, Pak? Kasih itu menerima semuanya. Nggak usah lah lihat ini dan itu.” Oh, salah! Justru Alkitab mengajarkan: kasih kita, yang melimpah dalam pengetahuan dan pengertian, supaya kita bisa dapat menguji apa yang terbaik.

Di dalam bagian Alkitab yang lain, Surat Yohanes, Yohanes mengatakan, “Ujilah segala sesuatu.” Iya, kan? Padahal di dalam surat Yohanes, Yohanes itu banyak sekali berbicara soal kasih. Malah yang menulis ayat, “Inilah tanda kamu murid-murid-Ku, yaitu kamu saling mengasihi.” Siapa yang tulis? Yohanes. Tapi dia juga mengatakan, “Ujilah segala sesuatu.” “Lho, kan kasih? Yohanes: kasih!” Kasih: terima semua orang gitu, ya? Oh, endak, Bapak, Ibu. Endak.

Contoh. Ini contoh bodoh lah, ya. Kalau Bapak, Ibu di rumah ada anak kecil, ya –mungkin anak atau cucu, masih balita, masih main-main– terus kita, “Oh, karena mengasihi semua orang, disuruh di-welcome, semua datang. Orang jahat pun kita welcome, silakan datang!” Gitu, ya. Bahkan child predator, ya, predator anak kecil pun kita, “Oh, datang! karena kasih.” Gitu, ya. “Ini nih, ada anak saya nih,” gitu, ya. Gila kan, ya? Gila. Kasih itu menguji, Bapak, Ibu. Kasih yang mengandung pengetahuan dan pengertian itu menguji. Supaya kita dapat memilih apa yang terbaik. Kalau nggak, kita asal pilih, Bapak, Ibu. Asal pilih. Atau kita nggak benar-benar bisa memilih yang terbaik, Bapak, Ibu.

Contoh sederhana gitu, ya. Saya pernah ngobrol dengan seorang pemuda. Waktu itu di Jakarta. Dia bukan dari GRII, ya. Tapi waktu itu ikut OSG kami, di Pusat. Dan kemudian, ya dia karena waktu itu ada kerinduan jadi hamba Tuhan, dia sering ngobrol sama saya. Dan kemudian satu kali, ya, dia memang pengen main ke rumah. Saya undang, lalu kemudian kami banyak ngobrol. Lalu dia bertanya, ya, karena dia melihat di media sosial ada seorang hamba Tuhan itu sangat giat melayani kaum waria. Memang ini waria-waria yang maksudnya memang mau percaya Yesus, tapi mereka ditolak dari gereja. Akhirnya pendeta ini yang mengunjungi tempat itu, lalu kemudian yang mengadakan kebaktian, persekutuan, segala macamnya begitu, ya. Khusus untuk mereka. Dan kemudian, ya pemuda itu tunjukin videonya ke saya. Itu masuk dalam berita, itu, Bapak, Ibu. Saya lupa, waktu itu channel TV yang cukup terkenal, ya. Masuk dalam berita. Dia tunjukkan kepada saya, “Ko, kenapa GRII belum kerjakan ini?” Wah, gitu, ya. Itu sering kali jadi pertanyaan banyak orang di luar. Gitu. “Kenapa nggak melayani mereka? Kenapa belum kerjakan?” Saya kemudian ajak ngobrol, ya. Buka pikiran dia. GRII sudah mengerjakan ini, ini, ini, ini, dan ini. Banyak. Memang, pekerjaan Tuhan itu sangat banyak. Ladang itu sangat luas. Kita nggak mungkin bisa mengerjakan semuamua-nya  dalam waktu terbatas. Kalaupun nanti GRII berhasil mengerjakan itu, misalnya menjangkau kaum yang LGBT, waria tersebut, nanti, ada yang tanya lagi, “Pak, kenapa GRII belum menjangkau kaum seniman?” misalnya. Di Jogja kan seniman. Kenapa belum menjangkau kaum seniman? Nanti, ditanya lagi, ”Kenapa GRII belum bikin panti asuhan? Kenapa GRII belum bikin ini? Belum bikin itu?” Semua juga bisa ditanya, Bapak Ibu. Kalau kita mau list satu-satu, mungkin ada ribuan, puluhan ribu pekerjaan Tuhan yang belum kita kerjakan dan sebenarnya baik untuk dikerjakan, tetapi persoalannya kan tenaga kita terbatas. Kalau saya mahakuasa, bolehlah saya kerjain semuanya, gitu, ya. Saya nggak mahakuasa! Kita nggak mahakuasa. Kita orang-orang terbatas.

Pada akhirnya, kita harus memilih mana yang kita mau fokuskan, mana yang kita atur prioritasnya atau kita kerjakan duluan sesuai dengan gerakan reformed Injili. Kita nggak bisa kerjain semuanya, Bapak, Ibu. Kita harus memilih di dalam kita bergumul di hadapan Tuhan. “Tuhan, Engkau mau saya kerjakan apa secara khusus?” Harus memilih, Bapak, Ibu dan maka itulah, kenapa Tuhan itu tidak hanya memanggil kita, ya, dalam arti, Tuhan itu memanggil banyak orang percaya kan, ya, di seluruh dunia. Untuk apa? Ya, mengerjakan semua yang ada di seluruh dunia. Bukan kita tanggung semuanya sendiri. Tidak bisa, Bapak, Ibu. Kita harus memilih. Di sinilah kita butuh discernment. Dan discernment itu bukan sekedar hikmat di otak kita sendiri, Bapak, Ibu, ya. Discernment itu juga mencakup bagaimana kita bergumul di hadapan Tuhan. “Tuhan, mana yang terbaik? Mana yang Tuhan pilih untuk saya kerjakan?”

Di dalam Efesus 2:10, Paulus mengatakan, kita itu “Diciptakan Allah di dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.” Pekerjaan baik apa? “Yang dipersiapkan Allah sebelumnya.” Saat kita dipanggil menjadi orang Kristen, orang percaya, Tuhan itu sudah mempersiapkan satu panggilan untuk kita, pekerjaan-pekerjaan tertentu yang untuk kita lakukan sebagai anggota tubuh Kristus. Sebagai tangan, yang dikerjakan adalah yang dikerjakan tangan. Anggota tubuh yang kaki yang mengerjakan tugasnya kaki dan sebagai macamnya, Bapak, Ibu. Tidak bisa kita minta semuanya mengerjakan. 1 orang kerjain semua. Ndak bisa, Bapak, Ibu. Ndak bisa. Kita semua orang-orang yang terbatas, maka kita harus punya hikmat untuk membedakan, untuk memilih mana yang Tuhan itu benar-benar kasih di hati kita. “Oh, ini urgent. Ini yang duluan, ini prioritas. Kita kerjakan.”

Dan ketika kita bisa memilih atau menguji apa yang terbaik, hasilnya apa? “Supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.” Bagaimana supaya kita bisa suci dan tak bercacat menjelang nanti Kristus datang kembali? Yaitu dengan kasih yang makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan segala macam pengertian. Hikmat itu juga barang wajib, Bapak, Ibu. Untuk apa? Supaya kita tidak bercacat dan suci saat Kristus datang kembali. Kasih, pengetahuan, dan pengertian atau hikmat itu adalah satu komponen-komponen yang membuat kita itu makin dewasa, makin siap di hadapan Kristus, Bapak, Ibu. Ini semua yang didoakan Paulus ini barang-barang wajib, kasarnya, Bapak, Ibu. Wajib kita punya karena ini kaitannya adalah nanti, Kristus datang, kita ini seperti apa? Apakah kita benar-benar siap waktu Kristus itu datang? Kita harus punya semua ini.

Dan kemudian dikatakan, “Penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” Kita mungkin sering mendengar, “Jadi orang Kristen harus berbuah.” Betul. Sangat betul. Di sini pun, Paulus membicarakan hal itu, ya. Bagaimana supaya hidup kita penuh dengan buah kebenaran? Ya, berarti kita harus memiliki kasih itu yang tadi, ayat 9. Kasih yang mengandung pengetahuan dan discernment, hikmat itu, baru kita bisa benar-benar bisa berbuah, Bapak, Ibu. Tetapi, setelah semua ini, kemuliaan harus kembali kepada Allah. Waktu kita bertambah kasih, kita bertambah pengetahuan, kita bertambah hikmat, itu bukan untuk diri kita, Bapak, Ibu. Bukan, “Wah, saya lebih hikmat daripada kamu, lho! Saya lebih bertumbuh daripada kamu, lho! Saya ini lebih quality Christian daripada kamu.” Bukan. Pada akhirnya dari doa ini, semuanya, ujung akhirnya adalah soli Deo gloria. Kemuliaan dan pujian bagi Allah. Allah yang mengerjakan Injil di dalam hidup kita, Allah juga yang menyelesaikannya sampai akhir nanti. Semuanya ini untuk apa? Untuk soli Deo gloria. Mari kita berdoa.

Bapa yang di surga, sesuai dengan doa Rasul Paulus di dalam surat ini, kami pun juga ikut berdoa, kiranya kasih kami semakin melimpah di dalam pengetahuan yang benar dan segala macam hikmat. Tuhan yang menolong kami supaya kami semakin bertumbuh dalam semua hal ini sehingga pada akhirnya, kami boleh, bisa menguji, memilih apa yang terbaik sehingga kami penuh dengan buah kebenaran dan pada akhirnya, kami menjadi suci serta tak bercacat ketika Kristus datang kembali dan ketika itu terjadi, semua kemuliaan, semua pujian hanya untuk-Mu, ya, Allah. Kiranya Engkau berkenan mengabulkan doa kami ini. Semuanya untuk kemuliaan-Mu, ya, Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.