Fil. 1:6-8
Vik. Tommy Suryadi
Bapak, Ibu, semua, kita sudah merenungkan ayat ke-3 sampai ke-5, dan ucapan syukur Paulus ini memang bisa dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama yaitu ayat 3-5, di mana Paulus itu menjelaskan bagaimana dia selalu bersyukur ketika dia mengingat jemaat di Filipi. Dan dikatakan secara khusus di ayat ke-5, Paulus mengucap syukur karena jemaat Filipi itu bersekutu dalam berita Injil, atau dalam bahasa lainnya berpartisipasi dalam Injil. Dikatakan dari hari pertama saat mereka menerima Injil sampai saat Paulus menulis surat tersebut. Sampai di bagian ini, kita bisa melihat teladan yang sangat baik dari jemaat Filipi. Karena memang jemaat Filipi itu dituliskan di bagian lain surat Paulus bahwa mereka itu sangat-sangat dermawan, sangat-sangat mau memberikan persembahan untuk mendukung penginjilan yang dilakukan oleh Paulus. Di dalam surat 2 Korintus, Paulus menyatakan bagaimana jemaat di Makedonia, maksudnya Filipi, itu bahkan memberikan itu sangat banyak. Bahkan mereka waktu nggak diminta pun mereka tahu ini mendukung Injil, mereka malah seperti mau paksa Paulus, “Tolong terima persembahan kami ini untuk mendukung Injil.” Dan Paulus mengucap syukur akan hal itu bukan masalah uangnya atau bukan masalah nominalnya, tapi Paulus melihat mereka begitu gigih, begitu bersemangat ketika dikatakan mau mendukung Injil.
Namun, Bapak, Ibu, semuanya, kalau kita hanya membaca ucapan syukur ini hanya sampai ayat ke-5, kita bisa mendapatkan kesan bahwa semua ini itu adalah hasil karya atau usahanya jemaat Filipi itu sendiri. Meskipun kita bisa melihat, ya, bahwa Paulus itu waktu melihat jemaat Filipi begitu luar biasa, ya, kerohaniannya, Paulus mengucapkan syukur kepada Allah. Tapi kemudian kita bisa mendapatkan kesan seolah jemaat Filipi inilah yang punya jasa atau punya satu kehebatan begitu, ya. Dan memang, Bapak, Ibu, semuanya, kita harus berhati-hati juga, ya, dalam hal ini karena seringkali, ya, seringkali terjadi tidak hanya di gereja-gereja sebenarnya tapi juga tempat-tempat ibadah yang lain, bagaimana orang yang kasih persembahan banyak itu merasa dirinya paling atas di gereja, di tempat ibadah. Merasa dirinya paling berharga, paling kuat, paling hebat, paling dominan. Terkadang seperti itu. Berapa kali saya mendengarkan kisah nyata, ya, dari gereja lain, “Wah, ini gerejanya dikuasai orang-orang kaya.” Kenapa, kok bisa? Ya, karena mereka persembahan paling banyak. Yang persembahan paling banyak punya suara paling banyak. Nah, biasanya begitu, kan, ya. Lalu kemudian, kalau misalnya nanti menyinggung mereka, waduh, nanti persembahannya nggak masuk lagi. Ya, akhirnya gerejanya diikat mamon, gerejanya diikat orang kaya.
Tapi waktu kita membaca bagian ini dari surat Paulus, Paulus itu bukan seperti ini, ya, hamba Tuhan yang kayak, waduh, terima kasih banget sama orang kaya atau jemaat Filipi yang persembahan sudah begitu banyak lalu kemudian, wah, tuh kasarnya itu menjadi hambanya orang kaya. Tapi, Paulus nggak begitu, Bapak, Ibu. Kita mengucap syukur. Paulus di sini mengucapkan bukan terima kasih kepada jemaat Filipi, tapi Paulus terutama mengucapkan syukur kepada Allah. Syukur kepada Allah. “Waktu kamu bersekutu dalam berita Injil, dari hari pertama sampai sekarang, aku bersyukur kepada Allah.” Karena apa? Berikutnya dijelaskan di ayat ke-6 sampai ke-8, mulai dari ayat 6. “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya yaitu Ia, maksudnya Allah, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskan sampai pada akhirnya, pada hari Kristus Yesus.” Di ayat ke-5 kita menangkap kesan jemaat Filipi lah yang berusaha, jemaat Filipi lah yang bekerja, jemaat Filipi lah yang menyatakan bahwa mereka bersekutu dalam berita Injil. Namun, di ayat ke-6 Paulus menjelaskan akan sesuatu yang dia yakini. Yakini apa? Yaitu Dia atau Tuhan yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu. Di sini Paulus mengingatkan kita, waktu jemaat Filipi bisa bersekutu dalam berita Injil itu bukan karena usaha jemaat Filipi sendiri. Itu bukan karena inisiatif atau kehebatan dari jemaat Filipi itu sendiri, tetapi di balik itu semua ada yang mula-mula bekerja di dalam hati jemaat Filipi, yaitu siapa? Allah.
Bapak, Ibu, semuanya, kita memahami doktrin keselamatan. Keselamatan itu bukan hasil karya manusia, tapi semata-mata anugerah Allah. Ketika Allah bekerja di dalam keselamatan tersebut, Allahlah yang membangkitkan hati manusia yang sudah mati, yang sudah membatu untuk boleh hidup secara rohani dan boleh kembali berelasi dengan Allah. Allah memberikan Roh Kudus untuk memimpin kita yang percaya supaya hidup kita senantiasa berjalan di jalan Injil. Dan di sini juga kita bisa melihat bahwa sebenar-benarnya pekerjaan Injil tersebut sudah dimulai oleh Allah terlebih dahulu dan kemudian dinyatakan atau diekspresikan di dalam apa yang jemaat Filipi itu lakukan.
Mungkin Bapak, Ibu, semua pernah membaca satu ayat dari surat Filipi yang seringkali jadi pertanyaan. Ayat itu berbunyi begini, mungkin Bapak, Ibu, pernah mendengar. Paulus berpesan, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu.” Ayat itu bisa bikin bergumul, ya. Untuk orang yang sudah belajar doktrin keselamatan itu, itu dari Allah. “Tetaplah kerjakan keselamatanmu.” Kita jadi bertanya, “Loh, jadi mengerjakan keselamatan itu siapa, ya? Katanya Tuhan. Saya diajarinnya, Tuhan yang mengerjakan keselamatan itu bukan hasil karya saya, bukan usaha saya. Kok di sini dikatakan kepada jemaat diberikan perintah tetaplah kerjakan keselamatanmu.” Kalau kita melanjutkan pembacaan ayatnya kita akan menemukan Paulus menulis setelah, “tetaplah kerjakan keselamatanmu karena Allah lah yang mengerjakan di dalam diri mu.” Frasa yang itu nggak boleh lewat Bapak, Ibu semua. Demikian pula waktu kita baca ayat 3 sampai ke 8 yang tadi. Ayat ke 5 memberikan kesan bahwa jemaat Filipi lah yang punya jasa, yang punya usaha untuk bersekutu dalam berita Injil, untuk setia sampai hari ini. Tapi Paulus melanjutkan segera di ayat ke 6 bahwa yang memulai pekerjaan itu sebenarnya adalah Allah. Jadi jemaat Filipi tidak boleh berbangga diri. “Kami hebat lho, coba dibanding gereja-gereja lain, bukankah kami persembahan paling besar? Bukankah kami yang paling dermawan, bukankah kami yang paling mendukung Paulus di banding gereja-gereja lain? Jemaat Galatia, aduh sudah menyimpang ke Injil yang lain. Jemaat Korintus aduh kacau balau, gitu ya. Ada sekte-sekte, aku golongan Paulus, aku golongan Petrus dan macam-macam dosa lainnya, kami lho, kami lho jemaat yang top, jemaat teladan”, gitu ya. Tapi Bapak, Ibu semua, jemaat Filipi tidak bisa mengatakan hal itu. Kenapa? Karena cara pikir yang benar adalah waktu kamu boleh berbagian, kamu boleh persembahan, kamu boleh bersekutu dalam berita Injil setia sampai kepada hari ini, di belakang itu semua ada Allah yang sudah memulai pekerjaan yang baik itu, maksudnya keselamatan itu di dalam dirimu. Dan tidak hanya Allah memulai, dikatakan Allah juga meneruskannya. Sampai kapan? Sampai hari Kristus Yesus. Ini bicara tentang parosia atau kedatangan Yesus yang kedua kali.
Allah tidak hanya memulai keselamatan. Dia meneruskannya dan Dia yang mengakhirinya. Tidak ada satu pun kebanggan dari diri kita Bapak, Ibu semuanya, waktu kita bisa menjadi orang percaya. Terlebih lagi waktu kita boleh melayani, bahkan mungkin waktu pelayanan kita itu kalau dibandingkan dengan yang lain, pelayanan saya lebih banyak lho, persembahan saya lebih banyak lho dibanding yang lain. Penginjilan saya lebih banyak lho. Kamu berapa? 100 ah saya sudah 500. Kita nggak bisa berbangga, kenapa? Karena di balik itu semua ada Allah yang mengerjakan Injil di dalam hati kita dan meneruskannya. Sampai nanti Kristus datang kembali. Dan kita mengucap syukur Bapak, Ibu semua karena Allah yang mengerjakan. Kita semua mungkin pernah merenungkan dan mempelajari kalau keselamatan itu bergantung pada kita. Aduh, celaka Bapak, Ibu. Kita semua sadar lah ya, betapa kita itu bisa mood swing, hari ini bisa iya, besok bisa nggak. Dan kita semua, saya rasa kalau benar-benar merenungkan, kita akan sadar ya, mungkin ada saat-saatnya pergumulan atau kesulitan tertentu, kita nggak mau ke gereja. Jujur saja dalam hati kita, jujur saja di depan Tuhan. Ada waktu-waktu di mana aduh kok malas ke gereja ya? Kok malas ya pelayanan ya? Rasanya aduh, ngapain sih saya kasih persembahan lagi. Ada rasa-rasanya, aduh ngapain sih saya penginjilan lagi, ngapain sih saya pelayanan lagi? Kalau keselamatan bergantung pada kita, sudah, nggak ada harapan Bapak, Ibu. Kita semua masing-masing, nggak usah tunjuk orang lah ya, kita tunjuk diri sendiri aja. Kita semua tahu lah ya diri kita masing-masing seberapa cacatnya kita, seberapa berdosanya, seberapa gagalnya diri kita.
Tapi kenapa Paulus yakin ya, “akan hal ini aku yakin sepenuhnya”. Dan kata yakin di sini seperti kata yakin yang dipakai oleh pemazmur di dalam kitab Mazmur, ketika pemazmur itu di dalam kesulitan besar lalu dia mengatakan, “Tapi aku mempercayakan hidupku di tangan Allah.” Seperti itulah yakinnya Paulus akan keselamatan dari jemaat Filipi. Lho, kok bisa yakin? Karena bukan jemaat Filipinya yang menjadi sandaran. Bukan jemaat Filipinya yang punya usaha lalu itu jadi jaminan, bukan. Karena waktu nanti kita melanjutkan pembahasan surat ini, kita akan menemukan ternyata jemaat Filipi, meskipun di puji Paulus ada juga kok cacat-cacatnya. Dan saya rasa semua gereja juga sama. Hal-hal yang bisa di puji tapi ya ngomong apa adanya, ada juga hal-hal cacat-cacatnya yang perlu ditegur, yang perlu dikoreksi. Jemaat Filipi juga demikian. Paulus punya keyakinan penuh karena yang mengerjakan itu Allah. Dan sekali Allah memulai, Allah nggak plin plan. Kita mengucap syukur lho, kita punya Allah yang setia Bapak, Ibu. Kalau Allah itu kayak kita gitu ya. Hari ini bisa iya, besok bisa nggak. Ya sudah Bapak, Ibu, ngapain baca Alkitab. Wah ini janji Tuhan, lalu Tuhan katakan, “Iya sih, kemarin Aku ngomong gitu, cuma ya nanti Aku pikir-pikir lagi deh ya, iya atau nggak gitu ya.” Waduh, celaka Bapak, Ibu. Kalau Allah kita seperti berhala-berhala seperti zaman dulu, gitu ya, yang bisa mood swing ya, kalau moodnya pas lagi jelek datangin banjir, gitu kan ya. Kepercayaan mereka begitu kan. Lagi mood swing, oh gunungnya meletus, gitu ya. Waduh, susah ya, susah. Nggak bisa dipegang Allah seperti itu ya, yang seperti berhala itu. Tapi kita mengucap syukur kita punya Allah yang setia, dan Ia setia mengerjakan keselamatan kita. Sampai kapan? Sampai Kristus datang kembali.
Kalau keselamatan itu bergantung kepada kita, kita hanya bisa mengerjakan keselamatan sampai kita mati. Atau mungkin sampai kita, ya sudah sampai satu titik di mana kita di ranjang rumah sakit, nggak bisa apa-apa, ya sudah keselamatan itu saya hanya bisa saya kerjakan sampai sana. Atau nanti sampai kita pikun, sampai kita makin tua jadi lansia lalu ternyata mulai pikun, bahkan anak sendiri pun lupa namanya. Gimana mau ingat nama Yesus? Nggak tahu gitu ya, syukur-syukur kalau ingat. Kalau keselamatan bergantung kepada kita, maka kita hanya bisa mengerjakan keselamatan hanya sampai waktu tertentu saja. Sangat terbatas, sangat terbatas. Tapi karena Allah yang mengerjakan, Allah bisa bekerja melampaui hari kematian kita Bapak, Ibu. Kalau kita bertanya, bagaimana dengan nasib orang-orang Kristen yang sudah di dalam kuburan sekarang atau abunya sudah ditebar ke sungai, ke laut, nasibnya bagaimana? Kan mereka sudah tidak bisa lagi mengerjakan keselamatan mereka. Kita punya kepastian, kita punya keteguhan. Kenapa? Karena Allah-lah yang masih mengerjakan bahkan di dalam kematian mereka. Bukankah orang yang disalib di sebelah Yesus itu yang di saat itu baru mengakui Yesus itu Raja, saat itu dia sudah nggak bisa apa-apa. Yesus berkata kepada dia, “Hari ini juga engkau bersama-Ku di dalam firdaus.” Itu janji Tuhan, Bapak, Ibu. Allahlah yang mengerjakan dari mulanya sampai kepada akhirnya, sampai Kristus datang kembali.
Di ayat ke-7, “Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semuanya, sebab kamu ada di dalam hatiku. Oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan berita Injil.” Bapak, Ibu semua, Paulus juga melihat bagaimana jemaat Filipi itu punya persekutuan yang begitu erat dengan Paulus. Rasa-rasanya tidak ada jemaat lain yang Paulus itu katakan, “Kamu ada di dalam hatiku.” Ini jarang, Bapak, Ibu. Ini kalimat Paulus yang jarang. Kamu ada di dalam hatiku. Sebegitu eratnya relasi Paulus dengan jemaat Filipi, segitu besar cintanya dia kepada jemaat. Dan di sini kita melihat, Bapak, Ibu semua, bahwa Paulus itu bukan rasul yang rasionalis dingin, cold rasionalist, maksudnya adalah yang penting otak. Paulus orang pintar dari golongan Farisi di bawah Gamaliel, lalu kemudian bisa berapologetika berjam-jam pagi sampai sore dengan orang Yahudi. Ini orang sangat amat pintar. Bahkan ketika dia pernah diadili sampai ada orang yang mengatakan, “Paulus, kamu itu terlalu banyak pengetahuan ya. Kamu sampai sinting kali ya, sampai gila kamu.” Sampai ada orang yang berkata begitu, “Pengetahuan kamu terlalu banyak, Paulus. Kamu ini orang gila jangan-jangan ya. Saking banyaknya belajar sampai jadi gila.” Tapi tentu saja itu satu statement yang tidak demikian, tidak benar. Paulus tidak gila, dia waras. Malah dia mungkin orang yang paling waras di antara semua orang yang waktu itu mengadili dia, karena dia percaya kepada Kristus.
Tetapi kita melihat sisi lain yang di dalam diri Paulus juga, Bapak, Ibu. Paulus bukan hanya orang yang pintar, tapi dia orang yang benar-benar hatinya itu sungguh-sungguh untuk jemaat Tuhan. Kalau kita dengar kata reformed kan pasti seringkali kaitannya pintar. Pendalaman Alkitab, banyak pengetahuannya, mengerti istilah-istilah keren di dalam sejarah kekristenan, di dalam ilmu teologi. Bahkan jemaatnya pun bisa ada yang lebih pintar dibanding rata-rata pendeta lain yang ada di gereja lain. Itu seringkali menjadi hal yang dipuji, hal positifnya waktu dengar kata reformed. Tapi seringkali kritikannya adalah kurang panas, nggak cuma kurang panas, dingin. Tetapi waktu kita baca pesan Paulus di sini, Bapak, Ibu, hangat banget, sangat hangat. “Kamu itu ada di dalam hatiku.” Ini mesra banget, Bapak, Ibu. Sangat mesra, segitu eratnya persekutuan orang kudus dan harusnya begitu kan ya. Waktu di dalam pengakuan iman rasuli kita baca poin, “Aku percaya akan juga persekutuan orang kudus,” harusnya kita juga merenungkan persekutuan yang seperti apa ya? Apakah karena saya reform-nya sama dengan kamu maka kita bisa bersekutu? Karena ilmunya saya sama dengan kamu meskipun mungkin bisa beda cara pelayanan atau hatinya kurang pas, sering konflik, tapi nggak apa-apa sama-sama reform. Oh, itu persekutuan orang kudus gitu ya. Kita sangat amat terbatas kalau berpikir seperti itu, cuma melihat persekutuan itu dalam hal, “oh ya, sama-sama doktrin”. Saya tidak mengatakan doktrin itu tidak penting, bukan itu poinnya, Bapak, Ibu. Tapi kita harus melihat dengan lebih holistik. Jangan sampai kita salah membaca Paulus. Paulus bukan hanya orang yang cuma pintar Bapak, Ibu, dia orang yang benar-benar punya hati untuk pelayanan, hati untuk jemaat.
Saya kemarin sempat menyampaikan di pemuda atau di pengurus pemuda, saya katakan waktu kita melayani itu apa yang kita pikirkan, hati kita seperti apa. Banyak orang melayani itu ujung-ujungnya yang penting teknis pelayanannya bagus, tapi kemudian nggak ada hati. Itu bisa terjadi, Bapak, Ibu, karena sudah pengalaman pelayanan. Apalagi sudah bertahun-tahun pegang bidang yang sama, sudah sambil tutup mata pun tahu mengaturnya bagaimana. Baru bangun tidur ditanya pun bisa langsung jelaskan SOP-nya dari 1 sampai 10 lengkap. Tetapi yang saya mau tanyakan adalah apakah waktu kita melayani yang kita pikirkan itu melampaui teknis, yaitu apa? Saya ini sedang melayani Tuhan dan saya sedang melayani sebagai satu bentuk saya mengasihi sesama saya, terutama orang-orang di gereja. Kan pelayanan itu satu bentuk ekspresi kasih, Bapak, Ibu. Pelayanan itu bukan ajang “Saya show, saya bisa”. Apalagi mau aktualisasi diri, begitu ya. “Nih, saya sudah tua, tapi saya masih bisa melayani, ya. Nggak seperti anak-anak muda yang malas itu. Gitu ya. Atau, “Saya lebih rajin daripada yang lainnya.” Bukan itu poinnya. Waktu kita melayani, itu adalah satu bentuk kita menyatakan kasih kita kepada sesama.
Kenapa saya melayani, misalnya, kenapa saya melayani sebagai pianis? Misalnya seperti itu. –Saya nggak bisa piano sih, ya, Bapak, Ibu, ya.– Contohnya saja supaya jemaat itu bisa terbantu waktu menyanyikan pujian. Supaya jemaat bisa fokus, bisa sepenuh hati menyanyikan pujian kepada Tuhan. Jadi, pianis tersebut memikirkan, “Oh, ini, ya. Saya mikir bukan untuk saya show ini skill saya!” Gitu, ya. Wah, bisa naik turun kayak gimana gitu lah, ya. Nadanya, ya. Tapi untuk supaya jemaat yang mendengar ini bisa terbantu untuk bisa memuji Tuhan dengan lebih baik. Yang dipikirkan bukan hanya skill saya saja, yang dipikirkan adalah jemaat. Seluruh jemaat bisa beribadah.
Waktu penyambut tamu melayani, apa yang harus dipikirkan? “Wah, senyum saya harus –ya, itu penting juga sih, ya– senyumnya harus pas. Gitu, ya. Jabat tangannya jangan terlalu keras, jangan terlalu lembek, ya. Misalnya seperti itu lah, ya. Teknis-teknisnya begitu. Tapi kalau bicara hatinya, hatinya harusnya seperti apa? Saya mau menyambut jemaat, apalagi mungkin ada yang baru yang kebingungan ruang ibadah di mana. Saya sambut supaya dia bisa tahu ruang ibadah di mana, supaya bisa beribadah bersama-sama semuanya. Bersekutu bersama-sama. Ada satu visi. Ada satu tujuan yang di mana: “Semua pelayanan yang saya lakukan ini adalah supaya pada akhirnya saya menyatakan kasih saya kepada sesama dan kepada Tuhan.”
Tapi, seringkali hal ironis yang terjadi –Bapak, Ibu semua, ya– ada orang yang sangat pintar teknis pelayanan. Sangat pintar. Semua dia tahu, gitu. Dari A sampai Z. Tapi, konflik sana konflik sini, begitu, ya. Bikin orang nggak betah, akhirnya pergi. Begitu kan, ya? Jago teknis pelayanan tapi hatinya bukan hati pelayan. Jago teknis pelayanan tapi hatinya bukan hati pelayan! Celaka sekali, Bapak, Ibu kalau seperti itu. Celaka sekali!
Mari kita belajar di sini juga dari Paulus, Bapak, Ibu. Benar-benar hatinya: “Kamu ada di dalam hatiku, loh. Kamu bukan cuma sekadar alat di tanganku untuk kasih dana buat pelayananku. Bukan. Kamu di hatiku. Bukan kamu alat untuk bisa kerjain ini dan itu untuk mendukung pelayanan saya. supaya pelayanan saya lancar.” Balik-balik lagi: teknis meng-abuse dan di-abuse. Gitu, ya. Itu yang sangat sedih kadang terjadi di gereja seperti itu, ya. Tunjuk pelayanan atau ditunjuk pelayanan. Untuk apa? Gitu, ya. Semuanya ada politiknya. Semua ada agendanya. Dan ujung-ujungnya adalah, ya bukan kepentingan bersama. Ujung-ujungnya karena, “Ya, saya sudah repot. Saya sudah capek. Ya sudah, saya kasih orang lain.” Begitu, ya. Misalnya seperti itu. Atau ada agenda-agenda tertentu yang untuk meninggikan diri. Itu bisa terjadi.
Tapi Paulus melihat jemaat Filipi itu bukan alat, Bapak, Ibu. “Ini saudara seimanku. Engkau mendukung aku. Engkau melayani aku. Itu pun juga dengan hati, bukan sekadar untuk nunjukin saya bisa persembahan paling banyak.” Bukan. Benar-benar ada ikatan kasih yang begitu erat. Dan dikatakan di sini –bahkan– “Kamu itu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik waktu dipenjarakan, baik maupun waktu aku membela dan meneguhkan berita Injil.” Jemaat Filipi ini begitu setia, Bapak, Ibu. Terkadang, kan terjadi –Bapak, Ibu, ya– bertemannya saat waktu happy-happy saja. Tapi begitu sudah susah, saling tunjuk-tunjukkan. Tapi nanti begitu selesai masalah, happy lagi, bareng lagi. Masalah lagi datang, hilang lagi. Begitu, ya. Harusnya kan nggak seperti itu, Bapak Ibu. Di sini, jemaat Filipi juga memberikan teladan. Mereka mendukung Paulus bukan hanya waktu Paulus itu sedang banyak fans, gitu ya. Banyak pendengar. Bukan hanya saat banyak yang angkat tangan dan menerima Yesus. Waktu Paulus dipenjara pun mereka tetap dukung.
Kalau ngomong sederhananya: dalam susah maupun senang, sama-sama tetap ada hati mendukung pelayanan Paulus. Persekutuan dalam berita Injil. Ini kan mirip-mirip janji pernikahan Bapak, Ibu, ya. Dalam susah maupun senang, gitu, ya. Maupun suka maupun duka. Kadang diplesetin janjinya gitu, ya: dalam waktu suka maupun senang, gitu, ya. Dalam waktu kaya maupun berlimpahan aku setia sama kamu, gitu. Karena kenyataannya seringkali terjadi begitu, ya. Waktu susah? Wah, mulai tunjuk-tunjukan seperti Adam dan Hawa. Gitu. “Perempuan yang Kau tempatkan di sebelahku, itulah yang kasih aku buah itu! Bukan salah saya, Tuhan! Itu loh, Hawa. Terus siapa yang tempatin Hawa? Ya, Kamu, kan? Saya? Oh, nggak ada salah! Yang mesti jatuh ke dalam dosa, tuh Tuhan sama Hawa! Saya aman!” Itu kan, ya? Secara implisit yang mau disampaikan oleh Adam?
Dan itu terjadi kan, ya dalam relasi kita? Baik itu pernikahan, keluarga, relasi dalam gereja. Tapi bagaimana kita boleh belajar seperti jemaat Filipi, ya? Mau susah maupun senang, kamu saudara saya. Saya mendukung pelayanan kamu. Karena memang untuk Injil, saya tetap jalankan. Saya tetap dukung. Keadaan sesulit apa pun, justru di sanalah kemudian kesejatian kasih itu diuji. Kasih itu diuji bukan waktu senang-senang kan, ya, Bapak, Ibu? Makanya, terkadang, kalau ada anak muda konseling atau ngobrol: tanya soal pacaran, ya –saya, salah satu yang saya tanyakan dan biasanya pendeta GRII juga tanyakan– “selama ini, pacaran ada, pernah ada konflik nggak?” Bukan untuk korek-korek masalah, Bapak, Ibu. Bukan. Karena kalau selama ini, “Oh, ya, happy terus.” Bagaikan drama Korea begitu, nggak siap. Nggak siap nikah. Cuma senang, senang, senang, senang. Nanti, lihat di pernikahan, banyak susahnya. Ngatur rumah bagaimana? Ngatur keuangan bagaimana? Nanti tugasnya yang mengurus anak, siapa? Segala macam. Wah, itu kan semua pekerjaan berat, Bapak, Ibu. Kalau cuma mau senangnya saja, nggak mau susahnya, ya, itu namanya bukan persekutuan, Bapak, Ibu.
Berapa kali, saya mendengar, ya, dari gereja tertentu, saya nggak perlu sebut namanya, dapat comment, saya dapat comment, dapat opini. Orang tersebut mengatakan, “Kalau acaranya senang-senang, ramai.” Mungkin, gathering apa. Pokoknya yang banyak games-nya, yang banyak happy-happy-nya. Ramai. Begitu, “Ayo, SPIK. Ayo, seminar!” “Waduh, saya gumulkan dulu.” Kalau gathering, banyak makanan, banyak games, wah, nggak perlu didoakan. “Pasti kehendak Tuhan!” Jalan gitu, ya. Langsung daftar, langsung bayar. Itu terjadi kan, ya, Bapak, Ibu. Tetapi, coba kita belajar lebih dewasa, ya. Kita cari senang. Ke gereja itu, kita cari senang. Saya bukan bilang kita nggak boleh senang, ya, Bapak, Ibu. Setelah ini, saya nggak mau salaman sama saya, senyumnya hilang semua. Nggak boleh senang katanya. Ya, bukan itu point-nya, tetapi apakah kita benar-benar punya hati yang seperti jemaat Filipi di sini? Seperti Paulus? Hati yang sungguh-sungguh untuk Injil. Hati yang benar-benar berdasar pada kasih Injil. Terlepas situasi sulit maupun situasinya baik, mereka tetap punya persekutuan yang begitu erat.
Dan di ayat ke-8 disampaikan, “Sebab Allah adalah saksikubetapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.” Nah, ini ayat yang unik juga, Bapak, Ibu. “Allah adalah saksiku.” Ini seperti satu kalimat untuk menegaskan satu kesaksian Paulus, ya, karena waktu itu kan cuma ada Paulus, cuma ada jemaat Filipi. Kalau mau dibilang, kasarnya, tidak ada yang bisa jadi saksi kan antara mereka berdua, dua pihak ini? Maka, Paulus dengan berani menyatakan, “Allah adalah saksiku.” Saksi apa? “Betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.” Kasih mesra Kristus Yesus. Bapak, Ibu semuanya, di sini, ada penafsir-penafsir yang menyatakan bahwa Kristus itu bekerja dalam diri Paulus, menumbuhkan kasih tersebut sehingga Paulus bisa mengasihi jemaat sebagaimana Kristus mengasihi jemaat.
Saya pernah mendengar pandangan-pandangan atau opini-opini yang mengatakan, “Oh, yang penting kasih Tuhan kepada kamu. Kasih manusia itu nggak penting. Kasih orang Kristen kepada orang Kristen, ya, itu relatif. Itu sekunder. Yang penting itu kasih Tuhan kepada kamu.” OK, di satu sisi atau beberapa sisi, ada kebenarannya. Ada, tetapi yang sering kali dilupakan adalah sisi lainnya, di mana seharusnya orang Kristen juga harusnya bisa jadi perwakilan Kristus untuk menyatakan kasih tersebut. Mungkin, bagi kita bisa abstrak, ya. Apa sih kasih Kristus? Begitu, ya. Bentuknya kayak apa gitu, ya, kalau kita mau mikir abstraknya. Ini apa, ya? Kita mau konkretkan. Salah satu bentuk konkretnya adalah Tuhan pakai saudara seiman menyatakan kasih kepada saudara seiman yang lain. Itu bentuk konkretnya.
Ada orang yang pernah bergumul, cerita kepada saya. “Aduh, Pak, kok rasanya Tuhan kurang mengasihi saya, ya? Saya itu kurang rasa lho, Pak, kasih Tuhan kepada saya.” Dia ngomong gitu secara jujur. Lalu, saya katakan, “Ya, maksudnya bagaimana, Pak? Tolong jelaskan.” Lalu kemudian, dia setelah jelaskan, saya berikan penjelasan kepada dia. “Pak, ketika masih ada saudara seiman yang peduli sama Bapak, mau mendoakan Bapak, mau mendukung Bapak, sebenarnya itu kasih Tuhan.” Terus, dia mulai mikir. “Oh, gitu, ya, Pak, ya?” “Iya. Memangnya, Bapak pikir, kasih Tuhan itu tiba-tiba malaikat datang gitu, ya, bawa apalah gitu ya, kasih, terus pulang lagi ke surga?” Nggak begitu, kan, ya? Kasih Kristus itu secara konkret dinyatakan melalui orang-orang percaya. Melalui kita. Jadi, jangan kita katakan, “Oh, yang penting Tuhan mengasihi kamu. Kasih saya nggak sempurna.” Ya, memang sih nggak sempurna, tetapi sering kali itu jadi kalimat untuk kita melarikan diri kan, ya? “Ya, pokoknya kalau kamu lihat cacatnya saya, ya, sudah. Nggak usah protes. Nggak usah marah, karena saya kan orang yang nggak sempurna. Maksudnya, jangan kritik saya. Saya nggak mau dikritik. Ada apa-apa, kamu urusan sama Tuhan saja,jangan sama saya.” Lho, nggak bisa begitu, Bapak, Ibu. Nggak bisa. Kalau begitu, apa artinya persekutuan? Kalau semuanya masing-masing sama Tuhan aja gitu, ya, ngapain kita ngumpul di sini? Mending, khotbah ini direkam, saya kirim ke masing-masing WA Bapak, Ibu. Silakan nonton sendiri di rumah. Kan begitu, ya? Kenapa harus kumpul di sini? Mau itu orang di sebelah Bapak, Ibu suka, nggak suka atau kenal atau baru kenal, ya, kita berkumpul, kita bersekutu. Di sini, kita harus juga belajar dari Paulus, Bapak, Ibu, ya. Bagaimana kasih Kristus itu melalui Paulus kemudian dinyatakan kepada jemaat Filipi.
Ada seorang hamba Tuhan, ya. Ini sebenarnya hamba Tuhan Lutheran, ya, bernama Johann Bengel. Dia mengatakan bahwa inilah yang terjadi dalam hidupnya Paulus. “Bukan Paulus yang tinggal di dalam diri Paulus, tetapi Yesus Kristus yang tinggal di dalam diri Paulus, maka, perasaan Paulus pun itu sejalan dengan perasaan Yesus Kristus.” Sekali lagi, Bapak, Ibu, kutipan dari Johann Bengel, “Bukan Paulus yang tinggal di dalam diri Paulus, tetapi Yesus Kristus yang tinggal di dalam diri Paulus, maka perasaan Paulus pun sejalan dengan perasaan Yesus Kristus.” Dan ini sebenarnya juga kita melihat satu kemiripan dengan ayat Gal. 2:20. Saya akan bacakan Gal. 2:20, “Namun aku hidup.” Ya, ini Paulus yang mengatakan, “Namun, aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Inilah yang harusnya terjadi dalam diri semua orang percaya, Bapak, Ibu. Jangan katakan, “Ya Tuhan, ya, Tuhan saya, ya saya.” Di satu sisi atau ada benarnya, tapi di sisi lain kita juga harus melihat Kristus itu harus hidup di dalam kita. Kasih Kristus dinyatakan melalui hidup kita, Bapak, Ibu.
Maka di dalam hal ini tadi waktu kita melihat kasih mesra jemaat Filipi di dalam hatiku semua bahasa-bahasa emosional, bahasa-bahasa yang begitu intim itu juga harusnya ada dalam hidup kita, Bapak, Ibu. Sama sekali tidak cukup kita pintar teologi, sama sekali nggak cukup. Tapi bagaimana teologi itu mempengaruhi hati kita, Bapak, Ibu, supaya kita bisa punya kasih mesranya Kristus dipancarkan kepada semua saudara seiman paling sedikit. Maka penting Bapak, Ibu ya, kita tidak cuma mengakui pengudusan rasio, kita juga mengakui pengudusan emosi. Mungkin Bapak, Ibu di sini ada yang pernah lihat bukunya Pak Tong ya, Pengudusan Emosi, habis itu tebal gitu ya dan karena tebal mungkin pada takut beli gitu ya. Kapan selesai bacanya gitu ya. Apalagi Institusio lebih tebal lagi gitu kan pada takut, ya. Tapi itu sangat penting Bapak, Ibu ya. Pengudusan emosi. Bukan cuma kita tambah pintar, cara pikirnya tambah benar, tetapi hati kita, emosi kita itu juga dikuduskan oleh Roh Kudus. Itu juga harus kita miliki, Bapak, Ibu. Dari sanalah kemudian kita boleh dikatakan orang yang semakin dewasa rohani.
Saya mengingat satu kutipan dari seorang hamba Tuhan ya, dia sudah emeritus seingat saya, Peter Scazero. Dia menuliskan buku yang tulisannya Emotionally Healthy Spirituality, Spiritualitas yang sehat secara emosional. Dan ada satu kutipan yang dikatakan : “Kita tidak mungkin dewasa rohani kalau pada saat yang sama kita masih belum matang secara emosional.” Dia mengaitkan kematangan emosional dengan kedewasaan rohani. Tidak mungkin orang itu belum matang secara emosional, tapi kemudian kita katakan, “Oh, ini sudah dewasa rohani.” Itu nggak nyambung, Bapak, Ibu. Kedewasaan rohani itu mencakup seluruh aspek hidup. Bukan cuma, “Oh, saya sudah makin pintar, sudah makin ngerti Calvin, makin ngerti Luther, Bavinck dan lain-lain. Oh, saya sudah makin dewasa.” No. Mau ngerti Calvin, Luther, Bavinck, kalau kesenggol dikit sudah langsung marah-marah, maki-maki kebun binatang, ya itu sama sekali nggak dewasa rohani, Bapak, Ibu. Keluar dari gereja tiba-tiba di wus, wah langsung lah ya. Tapi kalau di Jogja nih saya lihat damai, gitu ya. Lampu hijau pun nggak langsung gerak, gitu ya. Tarik nafas dulu, keluarkan, ah baru gerak. Sayanya yang nggak sabar, gitu ya. Kayaknya ya saya di Jogja ini untuk Tuhan kuduskan kali ya, biar saya makin sabar, gitu ya. Karena kalau di Palembang, di Sumatera itu semuanya gerak cepat, gitu ya. Udah lampu hijau bahkan udah mau hampir hijau tuh sudah gasnya tuh sudah nyala, gitu ya. Sangat mencintai waktu, gitu ya bahasa bahasa positifnya, gitu ya. Sangat mencintai waktu ya, sebenarnya karena nggak sabar aja sih, gitu ya.
Ya, mari kita belajar Bapak, lbu semua ya dari tadi ayat-ayat yang kita sudah renungkan bersama-sama. Kita belajar bahwa Kristus, bahwa Allahlah yang selama ini menopang kita. Bahwa selama ini Allahlah yang mengerjakan keselamatan kita sehingga kita bisa mengekspresikan keselamatan kita. Dan kita juga belajar bagaimana Paulus memiliki kasih yang begitu besar. Jemaat Filipi memiliki kasih yang begitu besar. Mereka memiliki relasi yang begitu erat, bahkan kasih mesra di dalam situasi apa pun mereka saling dukung, mereka tetap bersekutu, tidak meninggalkan satu sama lain. Karena apa? Karena Kristus yang sudah menebus dan menyatukan mereka semua dan kita juga. Mari kita berdoa.
Bapa yang di surga, kami bersyukur karena kami boleh belajar tentang kasih-Mu ya Tuhan melalui surat Filipi ini, secara khusus untuk ayat-ayat yang kami renungkan bersama-sama. Kami mempelajari kasih Tuhan yang dinyatakan di dalam keselamatan. Tuhan yang mengerjakan keselamatan dari awal hingga akhir sampai hari Kristus Yesus. Tuhan juga yang menumbuhkan kasih, bahkan kasih mesra di dalam hati Paulus dan juga jemaat Filipi sehingga mereka dengan begitu luar biasanya menyatakan kasih Tuhan kepada satu sama lain dan juga kepada jiwa-jiwa melalui penginjilan yang mereka lakukan bersama-sama. Kami juga mengucap syukur ya Tuhan, kami boleh belajar bahwa kami masih harus terus dikuduskan. Emosi kami harus terus dikuduskan. Kami harus terus bertumbuh di hadapan Tuhan sehingga kami menjadi orang-orang yang bukan lagi ego kami yang tinggal di dalam diri kami, tetapi sungguh-sungguh Kristus yang tinggal di dalam hati kami. Dan kami berdoa agar orang-orang di luar sana pun bisa semakin melihat bahwa sungguh Kristuslah yang tinggal di dalam hidup kami. Kiranya Engkau menolong kami semua ya Bapa di dalam pertumbuhan rohani kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
