Luk. 19:1-10
Pdt. Ardian Santosa
Saudara, hari ini yaitu kita akan membahas satu perikop Saudara, untuk mempersiapkan gereja Tuhan memasuki daripada hari paling penting dalam tradisi iman kita. Dan hari paling penting itu, Saudara, pastinya bukanlah Natal meskipun Natal itu juga penting. Tapi kita orang Kristen harus belajar bahwa yang namanya momen paling penting itu adalah hari Paskah. Dan pada bulan April, sebentar lagi, kita akan merenungkan daripada hari Paskah tersebut. Pertanyaannya Saudara, kenapa kalau kita itu mau merenungkan Paskah, kita itu membahas kitab Zakheus atau peristiwa Zakheus Saudara?
Nah Saudara, tentu ini bukan tanpa alasan Bapak, Ibu yang dikasihi oleh Tuhan. Yaitu adalah karena begini Saudara. Saudara di dalam yang namanya peristiwa Zakheus ini ya, tidak lama sebelum Tuhan Yesus bertemu dengan Zakheus, itu Tuhan Yesus sudah mengatakan satu hal Saudara, kali terakhir, Anak Manusia itu harus menggenapkan yang namanya tulisan, perkataan para nabi. Yaitu adalah diserahkan kepada orang banyak, kehilangan nyawa-Nya dan sebagainya. Dan yang kedua Saudara, di dalam perikop ini juga, secara besar, pasal 18 dan 19, itu dikatakan Tuhan Yesus itu memantapkan, Tuhan Yesus itu kemudian mengarahkan, Tuhan Yesus itu dekat dengan yang namanya Yerusalem Saudara. Lalu kemudian peristiwa Zakheus ini itu ada di tengah-tengah daripada konfirmasi Tuhan Yesus semakin mendekati dari Yerusalem.
Kalau Saudara itu suka dengar SPIK, Saudara itu sering ikut PA, maka Saudara tahu, Tuhan Yesus itu dekat dengan Yerusalem itu dekat dengan apa Saudara? Ya dekat dengan kematian, dekat dengan penyembelihan Saudara. Oleh karena itu, ini adalah gaya tulisan Lukas. Lukas seperti seolah-olah sengaja Saudara, membawa Tuhan Yesus dari yang tadinya jauh dari Yerusalem, pelayanan di Galilea, Nazaret, pelan-pelan Saudara, makin dekat ke Yerusalem, makin dekat, makin dekat. Dan sekarang Saudara, itu sudah di perbatasan dengan Yerusalem dan Tuhan Yesus menjumpai satu kota namanya adalah kota Yerikho.
Nah kalau Saudara ingat kata Yerikho begitu ya, itu Saudara ingat kisah apa? Wah ini kan ibadah Pak, nggak boleh jawab dong Pak? Saudara pasti sudah tahu lah ya, Saudara kalau dengar kota Yerikho, itu ingat cerita sekolah Minggu, yaitu adalah Yosua berkeliling 7 kali, hari ke-7, 7 kali Saudara, lalu kemudian tembok Yerikho runtuh Saudara. Maka Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, ini bukan saja perikop di mana Tuhan Yesus itu dekat dengan Yerusalem, makin tegang relasinya kemudian dengan Yerusalem Saudara, orang-orang Farisi makin benci dengan Dia dan segala macam, tapi di sini Saudara, itu ketika Tuhan Yesus melewati kota Yerikho, tidak heran banyak orang kumpul. Kenapa? Karena bagi orang Israel, yang namanya masuk ke Yerusalem, lalu melalui Yerikho, ini adalah gambaran tentang yang namanya peperangan Saudara. Sebagaimana Yosua memerangi daripada Kanaan Saudara. Pertama-tama itu dengan apa? Merubuhkan tembok Yerikho. Apalagi ini Saudara. Yesus itu adalah nama bahasa Aram. Bahasa Ibrani nya bukan Yesus, bahasa Ibrani nya adalah Yehosua atau Yosua. Jadi kalau Saudara ada di sana atau lewat kota Yerikho, ini ada orang namanya Yosua, Yesus begitu ya, melewati kota Yerikho dan Dia itu adalah orang yang kita anggap itu kemungkinan besar itu adalah Mesias, buat mujizat, khotbahnya itu sangat kemudian yang namanya powerful Saudara, maka Saudara, kalau Saudara di sana, Saudara bayangkannya bagaimana? Saudara punya ekspektasi apa kalau jadi orang Israel? “Ini pemimpin baru militer kita ini, yang akan membebaskan kita dari Roma. Sekarang Dia lewat Yerikho, kita tunggu, Dia mau apa. Kita tunggu, Dia mau kemudian khotbah apa. Dia kemudian ada apa yang kasih retorikal apa.”
Nah nggak heran Saudara ya, kata yang dipakai di sini ketika digambarkan orang banyak berkumpul, kata “banyak” atau kata “orang banyak” itu Saudara, dalam bahasa Yunani nya atau bahasa aslinya yaitu adalah “oklos”. Apa itu “oklos” Saudara? Oklos bukan saja artinya banyak, tapi itu mau menggambarkan kumpulan massa yang kemudian sulit diatur. Oklos yang sama Saudara, itu ada di dalam Lukas 22 dan 23, menggambarkan satu kumpulan massa yang meneriakkan, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Nah itu oklos Saudara.
Jadi ini ada kayak tools di komputer ya Saudara, di program Alkitab begitu ya, oklos itu bahkan ini Saudara, dipakai untuk menggambarkan secara figuratif yang namanya riot atau rusuh. Jadi ini bukan cuma kumpul. Ini adalah kumpul kemudian nuansanya itu tegang, euforia nya itu tinggi sekali. Tuhan Yesus ngomong apa, massa itu bisa tersulut. Misalkan ini kalau kemudian Yesus, ini misalkan ya, Tuhan Yesus kemudian kalau di Yerikho itu Saudara, di Yerikho Dia berkata, “Bakar Roma!” Wah, saya percaya Saudara, itu orang-orang Yahudi yang ketika kumpul di sekitar Tuhan Yesus langsung teriak semua Saudara, “Yahweh hu akbar!”
Nah Saudara, ini, jadi sangat-sangat yang namanya ini Saudara, massa banyak, harapannya itu adalah Yesus ini pemimpin militer, “Dia ucapkan apapun saja, kami akan langsung ikut Dia.” Nah tapi Saudara, tapi di dalam Injil Lukas dan di dalam beberapa Injil, misalkan Yohanes, yang namanya massa yang banyak itu cenderung negatif daripada positif. Yang namanya massa yang banyak Saudara, dalam Injil Lukas itu adalah cenderung mau menggambarkan kesalahan atau kelompok orang yang salah mengenal Yesus. Ini Saudara. Jadi kalau Saudara baca Lukas, “orang banyak”, Lukas selalu kasih gambaran. Kalau sudah orang banyak ikut Yesus, biasanya, bahkan hampir selalu, itu mereka memiliki pengenalan yang salah akan Tuhan Yesus.
Contohnya misalkan begini, Saudara ingat kan ya pernah ada 5.000 laki-laki Saudara, Tuhan Yesus kasih makan. Itu kemungkinan besar 15.000, karena nggak cuma laki-laki ikut kan? Ada laki-laki, ada perempuan ada anak-anak. Maka para penafsir itu mengatakan sekitar 12.000 sampai 15.000. Lalu kemudian Tuhan Yesus berdoa, 5 roti dan 2 ikan, dan kemudian semua orang dapat makan Saudara. Nah di Injil Yohanes itu dikatakan Saudara, ketika mereka ikut Tuhan Yesus Saudara, lalu kemudian Tuhan Yesus itu mengajar dan kemudian Tuhan Yesus itu koreksi pengikutan mereka, Tuhan Yesus koreksi kerohanian mereka. “Kalian semua, 12.000 orang, 15.000 orang, bukan yang namanya cari Aku, engkau sama kayak nenek moyangmu, cari roti. Saudara, kalau Saudara inget begitu kan ya. Lalu kemudian Tuhan Yesus ngomong begini, “Barangsiapa tidak makan daging dari daging-Ku, tidak minum darah dari darah-Ku, dia tidak layak masuk kerajaan Allah.” Tidak lama Saudara, orang-orang itu kemudian pergi, para murid pun juga yang namanya shock sekarang. Sampai Tuhan Yesus mengatakan kepada para murid, “Hei kalian.” Ini saya percaya Tuhan Yesus itu kayak Pak Tong ya. Atau Pak Tong kayak Tuhan begitu Yesus ya, “Hei kalian. Nggak mau sekalian pergi juga? Semua orang pada pergi, nggak mau sekalian pergi juga?”
Kenapa Saudara? Nah ini Saudara, orang banyak Saudara, itu menggambarkan yang namanya kesalahan pengenalan akan Tuhan Yesus. Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, kita memang rindu tempat kursi ini penuh Saudara, tapi sepenuh-penuhnya kursi ini Saudara, tidak lebih banyak kemudian mayoritas kekristenan hari ini. Jangan kira yang namanya jumlah banyak itu otomatis adalah berkat Tuhan. Karena pola dalam Alkitab, yang namanya jumlah banyak itu bisa saja, bahkan berkali-kali menggambarkan kesalah pengertian akan Yesus. Saya sampai sangat heran Saudara, itu kenapa ya pendeta yang kemudian khotbah COVID, nubuat tentang COVID selesai dan segala macam, Saudara, hardik COVID kok jemaatnya nggak sadar-sadar itu. Itu pendetanya salah ngajar, masih saja itu duduk di kursi di situ, Saudara ya. Lalu kemudian yang namanya pendetanya berzinah, ngajar salah, kok masih saja, Saudara. Tapi inilah gambaran kekristenan. Nggak cuma sekarang, dari dulu juga sama.
Gereja, Saudara, itu kemudian menghadirkan yang namanya pengajaran yang menyenangkan manusia, liturgi yang kemudian serupa dengan dunia, Saudara. Lalu banyak orang Kristen itu kemudian datang beribadah. Oh, selalu banyak 12.000, 15.000, Saudara. Tapi menggambarkan Yesus yang salah. Dan ini kemudian sangat ironis. Kenapa? Karena justru, Saudara, masa yang banyak tapi salah kenal Yesus ini kemudian merusak pekerjaan Tuhan. Kenapa? Menghalangi orang-orang seperti Zakeus untuk datang kepada Yesus. Saudara perlu hati-hati ketika kita mengikut Yesus, Saudara. Ini Lukas yang sama itu kemudian ada cerita lain lagi, Saudara, sebelum ini, yaitu adalah tentang seorang namanya Bartimeus. Bartimeus, Saudara, dia mengenal Yesus. Dia ingin datang kepada Yesus. Dan dia berseru, Saudara, “Yesus anak Daud, tolonglah aku. Berbelas kasihan kepadaku.” Tapi Lukas tulis, Saudara, yaitu apa? Orang banyak, Saudara, yang ada di sekitar Bartimeus itu kemudian malah marah-marah kepada Bartimeus. Diam kamu, ya. Nggak usah ngomong keras-keras, Saudara.
Bartimeus itu orang buta, pengemis pinggir jalan, Saudara. Saya percaya kalau ini dia ada di Jogja, Saudara, itu orang banyak itu akan bilang kayak gini, “Wes diam kamu, ngisin-ngisini. Wes elek miskin,” pakai bahasa Jawa, Saudara. Nah, kira-kira kayak gini. Nah, kok kenapa kok banyak orang kayak begini? Ya iya, banyaknya orang malah menghalangi, banyaknya orang mengerumuni Tuhan Yesus, salah kenal Tuhan Yesus, nggak serius ikut Tuhan Yesus, malah menghalangi orang itu datang kepada Yesus. Saudara begini ya, kalau orang Islam, orang Buddha, orang Hindu totally sama sekali nggak ikut Tuhan Yesus, ya itu ya sudah memang sudah jelas tidak ikut Tuhan Yesus. Tapi kalau saudara dan saya setengah-setengah ikut Tuhan Yesus, nggak serius mengenal Tuhan Yesus, kita sangat besar kemungkinan menghalangi orang yang kemudian mau datang kepada Tuhan Yesus. Ini Saudara, poin daripada Lukas. Orang banyak mengikut Tuhan Yesus tapi salah kenal, akhirnya menjadi penghambat orang lain datang kepada Yesus.
David Platt, Saudara – ini buku-bukunya Saudara boleh beli di Momentum ya, di sebelah kanan ada Momentum – itu mengatakan kayak begini, Saudara. Dalam Radical, dalam bukunya Radical, Saudara, dia mengatakan begini “Harga dari umat yang tidak serius mengikut Kristus bukan cuma akan menghancurkan diri mereka, tetapi harganya jauh lebih besar karena juga akan menghancurkan orang lain, bahkan dunia. Karena kita orang Kristen adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk memperkenalkan Yesus, mengikut seperti apa kepada Kristus, kepada yang namanya dunia. Dan kalau Saudara dan saya setengah hati, Saudara, dampaknya itu adalah global.” Maka saya rindu, Saudara, tempat-tempat ini, kursi-kursi ini, Saudara, itu penuh. Bukan hanya sekadar untuk penuh, tapi penuh oleh kita yang boleh kemudian merayakan firman Tuhan yang bertanggung jawab, mengikut Kristus dengan sepenuh hati, Saudara.
Anyway, Saudara-saudara tahu Yosua itu kenapa, Saudara ya sampai yang namanya teriak-teriak sama Kaleb kepada 10 temannya, Saudara, para pengintai itu. Dan Saudara tahu apa kata Tuhan ketika Tuhan membuang mereka, Saudara? Jawabannya adalah satu, dosa mereka yang menjadikan mereka itu tidak masuk tanah perjanjian bukanlah dosa penyembahan berhala. Dosa mereka, Saudara, yang membuat mereka dibuang oleh Tuhan 40 tahun di padang gurun setelah itu, Saudara, generasi pertama bukanlah karena mereka melakukan yang namanya pembunuhan, perzinaan. Tidak, Saudara. Alkitab catat dalam Bilangan, nanti Saudara buka sendiri ya, karena mereka itu tidak sepenuh hati mengikut Tuhan, Saudara. Inilah kenapa orang Israel generasi pertama dibuang mati di padang pasir 40 tahun. Sekali lagi, tidak sepenuh hati mengikut Tuhan. Dan kepada Yosua dan Kaleb, Tuhan mengatakan merekalah yang akan masuk. Mereka berdualah dan generasi kedua yang masuk. Kenapa? Karena mereka berdua, Yosua dan Kaleb, yang kemudian penuh hati mengikut Tuhan.
Saya rindu, Saudara, kita kepada anak-anak kita, para orang tua, termasuk juga saya, saya juga punya anak. Satu hal yang kita boleh kemudian minta Tuhan kita kasih teladan kepada mereka. Kita mungkin jadi orang tua itu nggak sempurna. Kita mungkin kadang-kadang bisa kelepasan marah, nggak sabar, dan lain sebagainya. Tapi satu hal, Saudara, at least, at least ini kata Gary Thomas ya, Profesor Gary Thomas, at least minimal, sangat-sangat minimal anak-anak kita boleh melihat bagaimana kita itu kemudian menikmati, mencintai, mengikut Tuhan dengan sepenuh hati.
Yang kedua, Saudara, ini dicatat, Saudara ya. Lukas menggambarkan Zakeus sebagai bukan cuma pemungut cukai, tapi kepala pemungut cukai, sangat kaya atau orang kaya. Nah, Saudara, kalau Saudara itu pernah ikut PA Lukas ya, Lukas itu biasanya adalah penulis Injil yang sangat-sangat anti orang kaya, Saudara. Kalau kita tidak belajar sampai kepada Zakeus, misalkan Lukas itu menggambarkan lebih sulit orang kaya masuk kerajaan Allah daripada unta masuk lubang jarum, Saudara ya. Nah, tetapi Saudara, ini Lukas seolah-olah mau menjelaskan pengajarannya bahwa Yesus yang ditulis oleh Lukas tidak anti orang kaya. Tapi Tuhan Yesus yang digambarkan oleh Lukas yaitu adalah anti orang kaya yang tidak sadar bahwa dia miskin. Kira-kira begitu, Saudara. Maksudnya begini, Saudara, contoh ya. Tuhan Yesus di sini bahkan menjangkau mencari Zakeus yang adalah orang kaya, Saudara. Dan Tuhan Yesus yang sama, Saudara, itu di bagian Alkitab yang lain itu bahkan dengan muka yang sedih melihat pemuda kaya, pemimpin rohani, pemimpin ibadat yang kaya raya, Saudara, dengan sedih. Kenapa? Karena dia sebentar lagi itu bisa masuk kerajaan Allah. Tapi karena hartanya banyak, orang tersebut kemudian tidak bisa masuk mengikut Yesus.
Nah, Saudara, perhatikan di sini, Lukas mau kasih tahu bahwa Tuhan Yesus tidak anti orang kaya punya uang banyak. Tidak. Yang Tuhan Yesus kritisi, Saudara, adalah bahwa seringkali orang karena kekayaannya tidak sadar bahwa dia itu adalah miskin di hadapan Allah. Ini, Saudara, saudara silakan punya uang banyak, Saudara silakan punya uang sedikit, Saudara silakan punya yang namanya materi, mobil, apa segala macam berapa, Saudara ya. Tapi satu hal, Saudara, yang Lukas itu kemudian mau ajar Saudara dan saya bahwa di hadapan Tuhan kita itu adalah orang-orang miskin. Dan seringkali kemiskinan kita itu kita buta. Kenapa? Karena banyaknya uang kita. Maka jangan sampai, Saudara, uang Saudara, investasi Saudara, aset Saudara, mobil Saudara, rumah Saudara membutakan akan siapakah Saudara. Zakeus di sini, Saudara, itu adalah satu gambaran bahwa yang namanya seorang paling kaya pun, Saudara, itu di hadapan Tuhan harusnya sadar bahwa kita itu adalah orang-orang yang miskin.
Saudara, ini digambarkan kan Zakeus lari kan ya, jalan gitu ya, cari Yesus kan, ingin lihat Yesus kan ya. Betul ya. Lalu kemudian karena dia pendek dia lalu kemudian naik pohon ara, Saudara, untuk melihat Yesus. Tapi kita tahu, Saudara, di bagian yang akhir bukan Zakeus yang cari Yesus. Zakeus cari Yesus karena terlebih dahulu itu Yesus ke Yeriko, Saudara. Sengaja lewat Yeriko adalah untuk cari satu orang yaitu adalah Zakeus. Saudara, oleh karena itu sebelum kita masuk lebih dalam daripada bagian khotbah ini, saya ingin mengajak Saudara merenungkan mungkin ada di antara Saudara yang baru pertama kali datang tapi kemudian mungkin malu tidak bangkit berdiri karena mungkin saudara itu adalah dari kepercayaan lain. Kalau Saudara ada duduk di tempat ini, Saudara, di hari Minggu ini itu bukanlah kebetulan. Atau Saudara itu bergumul dalam yang namanya, “Jadi apa sih Tuhan yang benar? Islam, Hindu, Budha, atau Kristen?” Kalau Saudara duduk di pagi hari ini dengan pergumulan sedemikian, Saudara, saya mau mengatakan: “Bukan Saudara cari Tuhan, tapi Tuhan cari Saudara. Sehingga Saudara bisa duduk di tempat ini, Saudara.”
Saudara, kita membahas isi khotbah ini dalam tiga poin, ya. Tadi bagian introduksi. Yang pertama, Saudara, mari kita sama-sama melihat yaitu di sini adalah yang namanya Zakheus naik pohon ara, ya. Zakheus. Yang pertama adalah apa? Zakheus naik, memanjat pohon ara untuk melihat Yesus.
Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, ya, Alkitab menggambarkan, Saudara, bahwa Zakheus itu adalah orang yang pendek. Gitu, ya. Orang pendek. Nah, Saudara, sampai hari ini, Saudara, bukan cuma zaman dulu, bahkan sampai hari ini –ini mohon maaf, ya, bagi Saudara yang rasa diri pendek, ya. Saya bukan, nggak ada masalah personal dengan Saudara, ya– tapi secara budaya zaman dulu sampai hari ini, yang namanya orang pendek, Saudara, itu ada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Saudara, orang zaman dulu saja, Saudara, kalau yang namanya sudah punya tubuh pendek, mau kerja yang melibatkan tangan, mau kerja yang melibatkan kemudian tenaga, itu juga sulit. Maka, biasanya yang namanya orang-orang pendek, Saudara, itu ada keterbatasan. Bukan cuma keterbatasan kerja, tapi juga keterbatasan harta, tapi juga keterbatasan cinta. Nah, ini dia.
Kalau di Denpasar, Saudara, banyak teman-teman saya yang pendek, Saudara, sampai sekarang ya memang belum ketemu-ketemu, Saudara, ya. Harap nggak di sini, gitu, ya. Tapi ini ironis, Saudara, kenapa? Karena ternyata Indonesia, ya, Indonesia itu ternyata juga nggak beda sama Korea atau Cina, Saudara. Yaitu adalah orang-orang kemudian yang sangat melihat fisik, dan segala macam. Dianggap paling kurang estetik. Gitu, ya?
Dan kalau kita jadi Zakheus, Saudara, itu, ya. Dia orang Yahudi, ya. Lalu kemudian, dia orang pendek. Dia itu sulit dapat kerja. Lalu kemudian, dia sulit, nggak ada harta. Sulit dapat harta, Saudara. Dan apalagi orang-orang pendek kayak gini sulit menemukan cinta, begitu. Maka biasanya terjadi pada orang-orang seperti ini, itu adalah apa, Saudara? Satu hal, yaitu adalah –sama kayak banyak orang di Korea: operasi plastik– minder, minder, Saudara. Semua orang nggak ada yang mau lihat dia! Dan saya percaya gambaran sekolah minggu mungkin sedikit lebih dekat dengan yang namanya Alkitab: mukanya mungkin juga nggak ganteng-ganteng banget, Saudara. Intinya adalah apa? Zakheus, ya, itu kemudian ambil profesi yang paling dibenci oleh masyarakat Yahudi. Jawabannya adalah: “Paling tidak saya dengan cara cepat dapat harta, saya boleh dilihat!”
Saudara –semua kita, Saudara mulai dari jemaat sampai hamba Tuhan– kita itu hati-hati, Saudara, ada satu yang namanya tuh dosa yang kemudian tidak dikatakan, tapi dilakukan, yaitu adalah hasrat untuk yang namanya pengen dilihat, bukan oleh Tuhan, tapi oleh manusia! Hati-hati, Saudara! Saudara, anak kecil –misalnya anak Saudara yang umur tiga tahun ke bawah– itu seperti ada kecenderungan pengen dilihat yang namanya oleh papa mamanya. Ini nggak tentu salah, sih, Saudara, nggak tentu salah, sih, ya. Tapi, ya begitu, Saudara, mereka buat sesuatu, gitu kan, ya, lalu kemudian, “Pa! Ma! Lihat nih!” Lalu kemudian muji-muji diri sendiri, Saudara.
Nah, kita, Saudara –yang kemudian katanya orang Kristen, yang katanya setiap minggu itu mendapatkan doa berkat: “Allah menghadapkan wajah-Nya kepadamu; Allah memancarkan mata-Nya kepadamu, memberikan engkau damai sejahtera”– tapi, Saudara, bagi kita itu nggak cukup. Kita itu kemudian buat segala sesuatu: kita cari kerja, kita cari karier. Kalau di Korea, di Cina, Saudara, itu kemudian operasi plastik, dan segala macam. Untuk apa, Saudara? Jawabannya adalah satu, Saudara: untuk kemudian yang namanya dilihat. Ya ini yang namanya “broken spirituality”, Saudara. Spiritualitas yang kemudian rusak.
Ya, itu adalah Zakheus. Itu, dia berusaha mendapatkan harta, kaya, dan segala macam. Untuk apa, Saudara? Untuk yang namanya dipandang. Hari ini kenapa Saudara itu kemudian kerja? Kerja? Bagus sih, pasti. Punya uang? Oke sih. Tapi kalau Saudara kerja. Saudara punya ambisi. Saudara kemudian yang namanya fitness. Fitness nggak salah. Pasti nggak salah untuk kesehatan. Saudara bahkan kemudian oplas. Saya nggak tahu di sini apakah booming oplas atau nggak. Kalau di Bali sih agak-agak udah mulai biasa gitu, ya. “Oplas”, begitu. Sudah mulai biasa. Sekali lagi saya nggak anti oplas. Kalau Saudara pernah jadi korban kecelakaan atau korban kebakaran, oplas? Silakan! Tapi kalau Saudara oplas adalah hanya untuk semata-mata dilihat oleh manusia, Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, Saudara adalah dalam kondisi yang kasihan! Kalau Saudara kira Saudara kaya baru dilihat oleh keluarga, Saudara adalah dalam kondisi yang kasihan sama seperti Zakheus!
Dan ternyata kekayaannya, Saudara, tidak kemudian menyembuhkan spiritualitasnya, kerohaniannya, jiwanya, hatinya. Dan inilah kenapa dia mau manjat ingin lihat Yesus. Karena yang namanya uang itu ternyata tidak membuat orang-orang di sekitarnya melihat dirinya. Kalau pun orang-orang sekitar melihat dirinya, Saudara, Zakheus juga nggak akan puas, Saudara.
Saudara, Zakheus manjat pohon ara. Saya mau tanya, Saudara: emangnya kalau orang pendek itu serta-merta kalau mau lihat Tuhan Yesus harus manjat? Contohnya gini, lah: Kalau Saudara mau KKR, ikut KKR Pak Tong, lalu Saudara pendek, gitu, ya. Dan kemudian Saudara nggak kelihatan. Emangnya Saudara harus manjat, bridging, gitu? Atau Saudara harus manjat? Kan nggak kan, ya? Saudara bisa, kan bilang permisi? Selip-selip, gitu? Gocek-gocek atau sikut-sikut dikit, ya? Bisa gini kan, ya? Zakheus kan bisa kayak begitu? Tapi kenapa Zakheus nggak bisa kayak begitu, Saudara? Sekali lagi karena jawabannya dia bukan cuma seorang pendosa: pemungut cukai. Tapi dia dia adalah kepala dari pendosa, kepala pemungut cukai. Saudara tahu pemungut cukai? Pemungut cukai, Saudara, ini adalah kayak gini, Saudara: ini adalah kayak antek-antek-nya Belanda tapi warga negara Indonesia ketika zaman penjajahan. Nah, kira-kira kayak begitu. Yang namanya pemungut cukai, Saudara, itu bukan cuma pengkhianat bangsa. Itu adalah pengkhianat agama, Saudara. “Ini adalah para “mualaf” yang kemudian kalau nggak ada prajurit Roma nih, kami akan sikat kepalanya!” Nah, itu yang namanya pemungut cukai, Saudara. Bagi orang Israel, Saudara, pemungut cukai itu adalah parasit. Itu adalah saudara yang kemudian tusuk sesama saudara dari depan dan belakang. Ini adalah kemudian “cicipan Lucifer”. Dan Zakheus, Saudara, itu bukan cuma yang namanya “Iblis”, gitu, ya. Ini kepalanya Iblis! Jadi kalau orang itu kemudian bersentuhan sama pemungut cukai, Saudara, itu, bagi mereka itu adalah sangat memalukan. Najis, ya. Sebagian, bahkan Saudara, kalau kemudian dapat barang dari pada pemungut cukai, itu kemudian mereka harus adakan ritual sama kayak kena dengan orang Samaria.
Inilah kenapa Zakheus, Saudara, itu ketika dia jadi pemungut cukai, dia ada mengalami keterputusan dengan orang-orang sebangsanya. Dan dia nggak bisa masuk untuk mendekat Tuhan Yesus. Kenapa? Dia adalah orang paling dihina, paling memalukan, paling terkutuk. Dan inilah kenapa dia naik kepada pohon ara, Saudara. Jadi, kalau Saudara perhatikan, pohon ara itu harus dia naiki karena statusnya yang begitu memalukan. Berdosa. Hina dina, Saudara.
Tapi bukan cuma itu, Saudara. Saudara, ini ketika saya persiapan perikop ini, Saudara, saya ada baca-baca beberapa sumber yaitu ternyata begini: bagi orang Yahudi, yang namanya naik pohon itu memalukan jikalau dilakukan oleh orang dewasa. Kenapa? Karena yang namanya naik pohon itu hanya lumrah, hanya bisa ditolerir jikalau dilakukan oleh anak kecil. Kayaknya ini dekat dengan kita, deh, orang Indonesia, deh, ya. Yang waktu kecil kita suka manjat pohon mangga, curi mangga tetangga, gitu, kan misalkan? Coba, kalau misalkan, –tadi siapa namanya? Ditungguin siapa? Pak Kevin– Pak Kevin hari ini ada pohon mangga lalu naik pohon mangga. Kayaknya gimana, gitu kan? Udah badan gede kan, ya? Kayak malu sekali. Bikin malu orang tua. Tapi kalau Pak Kevin lagi waktu masih kecil, naik pohon mangga, ya biasa.
Nah, ini mirip kayak begini, Saudara. Mirip kayak yang namanya kalau anak kecil itu banjir-banjiran, pakai kaus kutang, celana dalam doang gitu, ya. Banjir-banjir lalu berenang-berenang, nah itu nggak masalah. Anak kecil, kok! Tapi kalau Saudara: udah gede, pakai kaus kutang, Saudara, berenang di banjir-banjiran, itu kayak: “Ini orang sakit jiwa!”. Nah, Zakheus kayak begitu, Saudara. Dia sudah gede, mukanya tua –ya, pendek sih– tapi naik pohon. Itu adalah gambaran yang sangat memalukan. Gambaran anak, kanak-kanak, Saudara!
Zakheus apakah tidak tahu hal ini? Dia sangat tahu, Saudara, tetapi dia lebih memilih untuk kemudian mendapatkan malu. Toh dia juga sudah ditolak. Dia lebih memilih untuk kemudian diketawain, dipermalukan, daripada tidak bisa melihat Yesus. Saudara, di sini, Zakheus, Saudara, bukan sedang jadi kanak-kanak. Dia, di sini, sedang menjadi anak-anak di hadapan Yesus. Saudara tahu, kenapa yang namanya anak-anak itu kayak senang sekali main di banjir-banjiran yang dangkal, lalu kemudian ciprat-cipratan segala macam? Jawabannya adalah 1, untuk yang namanya hal mengasyikkan begitu, untuk namanya main begitu, mereka nggak peduli opini orang. Mereka nggak peduli yang namanya kemudian cibiran orang. Yang mereka tahu adalah mereka pengen main. Mereka pengen yang namanya senang-senang, meskipun ditertawakanlah, dihina, mereka nggak peduli. Nah, Saudara, anak-anak di hadapan Tuhan Yesus itu juga kayak begini, Saudara. Berbahagialah mereka yang empunya kerajaan Allah adalah mereka yang seperti anak-anak. Yaitu adalah apa? Ya, kayak Zakheus begini. Saya mau dipermalukankah? Saya mau diketawainkah? Nggak peduli! Yang penting, saya bisa lihat Yesus.
Hari-hari ini, Saudara, ada 1 kecenderungan. Orang makin lama makin minder jadi orang Kristen. Hari-hari ini, Saudara, kayaknya sekitar 10 tahun terakhir, saya dapati pemuda-pemudi yang saya kenal itu makin sungkan doa makan di tengah-tengah warteg atau warung bakso, Saudara. Kalau zaman saya dulu, Saudara, itu kita doa, doa saja. Santai, Saudara. “Bapa kami di surga, terima kasih untuk makanan ini, bakso yang enak ini. Amin,” Saudara. Tetapi, hari-hari ini, itu seolah-olah kayak-harap nggak terjadi di Jogja, ya- yang namanya doa di tengah kerumunan restoran itu seperti 1 hal yang bikin malu dan segala macam. Ini bukan sikap hati anak-anak di hadapan Allah. Yang namanya anak-anak itu nggak pernah malu sama orang tuanya. Yang namanya anak-anak itu kemudian mau dicibir kayak gimana, mau orang tuanya tukang bakso, mau orang tuanya kuli, mau orang tuanya tukang sampah- mohon maaf, ya, saya bukan mau menghina profesi ini, ya, tetapi kan profesi ini dihina masyarakat secara umum- anak-anak nggak malu, Saudara. Kenapa? Itu adalah orang tua mereka, bapak mereka. Ini namanya hati anak-anak. Ya, kurang lebih sekitar 5 tahun ke bawah lah.
Zakheus, ketika mau melihat Yesus, dia naik pohon dengan hati anak-anak.
Saudara, biarlah hati ini juga ada pada Saudara dan saya. Saudara, Bartimeus- keadaan gini saya paralelkan dengan Bartimeus- Bartimeus juga nggak malu, Saudara ketika dia disuruh diam, jangan berseru Yesus, Anak Daud. Orang banyak itu marahin dia, Saudara, suruh dia diam dan segala macam, bentak dia. Alkitab catat, Lukas catat, Bartimeus kemudian berkata lebih keras lagi. “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, Tuhan Yesus ada mengatakan, “Barangsiapa itu kemudian menyangkal Aku di hadapan Bapa, Aku juga akan tidak mengindahkan.”
Yang kedua, Saudara, kita boleh sama-sama renungkan di masa pra-Paskah ini, ketika Tuhan Yesus itu kemudian menjumpai Zakheus, Dia cari Zakheus, Saudara, itu dia berkata, “Zakheus, turunlah. Aku hendak menginap di rumahmu.” Saudara, saya mau tanya, ya, kalau hari ini, saya baru kenal sama Saudara, kalau kemudian saya bilang kepada Saudara- ini pakai Pak Kevin lagi -“Pak Kevin!” Salaman. “Siapa namanya?” “Pak Kevin. Kalau Bapak, siapa namanya?” “Kalau saya, Pak Ardian.” Kemudian saya berkata, “Pak Kevin, malam ini saya menginap di rumah kamu, ya.” Saudara, mau kedatangan tamu kayak gini gimana? Saudara dapat gambarannya nggak, ya? Dapat, ya? Contohlah, mungkin ada siapa, ya, Bapak yang di sana mungkin, ya. “Salam kenal, Pak, Pak Ardian.” “O, ya. Dengan Pak siapa, Pak?” Ya, mungkin dengan pak siapa begitu ya. “Ok, Pak. Malam ini, Pak, menginap di tempat Bapak.” Saudara pasti akan langsung telepon Pak Dawis. “Pak Dawis, ini Pak Ardian gila atau apa? Pak Ardian ini kok kayak nggak ada sopan, tiba-tiba pengen nginep di tempat saya. Kan ada pastori di sini,” dan lain sebagainya.
Nah, Saudara, kalau kita itu melihat perikop ini dari zaman kita, ini Tuhan Yesus nggak sopan banget. Ini Tuhan Yesus kok kayak begini, langsung minta nginep kayak begini. Tetapi Saudara, di zaman itu, ini justru adalah tindakan yang sangat terpuji, Saudara. Kenapa? Karena zaman dulu, Saudara, itu adalah zaman yang sangat merayakan hospitality. Zaman yang kalau kemudian ada orang yang mau makan di tempat Saudara itu adalah satu hal yang kemudian bagi yang kasih makan itu sangat berharga, Saudara. Zaman di mana kalau ada orang mau menginap di rumah Saudara, oh, langsung Saudara rasa sumringah , meskipun dia orang asing.
Contohlah, kalau Saudara pernah KKR regional. Saya dengar itu kalau KKR regional di Jogja itu- dulu saya pernah ikut, dulu sekali, Saudara, di Gunungkidul. Saudara, kalau pernah ikut KKR regional-lalu Saudara menginap di tempat orang yang baru Saudara jumpai, apalagi itu kegiatan rohani, itu orang mau kenal nggak kenal gimana Saudara akan langsung diterima. Sangat senang gitu kan, ya. Lalu kemudian, orang tersebut itu kasih makan Saudara begitu dan kalau Saudara kemudian nggak habiskan makanannya, itu kemudian mereka justru akan ter? Ter? Terpukau? Tersinggung! Saudara, kalau dikasih makan di KKR regional, Saudara nggak habisin makanannya, justru orang tersebut malah insecure. Ini makanannya kurang enak atau gimana dan dia akan rasa kurang dihargai. Nah, ini, Saudara.
Tuhan Yesus itu masuk ke rumah orang berdosa, Zakheus. Bagi Zakheus, ini sangat wow. Kenapa? Karena ini bukan cuma mampir. Ini adalah satu bentuk propaganda. Ini adalah satu bentuk pesan. “Zakheus, mulai hari ini, Zakehus, engkau adalah bagian dari hidup-Ku dan hidup-Ku itu adalah bagian dari engkau. Mulai hari ini, orang banyak lihat Aku itu kemudian terkait dengan engkau dan engkau terkait dengan Aku.” Saudara, ini adalah cicipan dari karya penebusan Kristus. Nanti, di bulan Paskah, itu kita cicipi, Saudara, ini.
Saudara, contoh begini, ya. Kalau ada pengedar narkoba lagi dikejar-kejar polisi di Jogja, lalu kemudian ketuk-ketuk pintu rumah Saudara, minta tolong karena dia lagi mau ditangkap, Saudara buka pintu nggak? Kenapa kita nggak buka pintu? Sebagian Saudara geleng-geleng, yang ndengerin khotbah geleng-geleng. Ada yang tidur nggak ya? Yang tidur, bangun. Kenapa geleng-geleng? Ayo, kenapa geleng-geleng? “Nggak mau dong! Nanti gue kenapa-kenapa dong!” Saya itu besar di Priok, Saudara. Di Priok itu banyak tukang palak dan sebagainya dan kadang-kadang tukang palak, tukang begal itu dikejar-kejar polisi, Saudara. Ya, kita sih nggak mau tahu, ya. Tangkap saja, begitu kan, ya? Tetapi, kalau Saudara itu kedatangan penjahat, lalu kemudian penjahat itu kemudian, “Tolong, tolong, saya mau ditangkap!” Saudara memutuskan kan, ya, buka pintu atau nggak. Biasa sih nggak mau buka pintu. Tetapi, kalau Saudara buka pintu, apa yang terjadi, Saudara? Apakah Saudara akan ditusuk? Nggak juga. Saudara sedang menolong dia lho.
Saudara nggak mau buka pintu karena apa? Karena begini. Kriminalnya, kejahatannya, sekarang, menjadi bagian dari Saudara. Kemudian, status Saudara yang bersih, status Saudara yang aman, sekarang, dibagikan kepada si penjahat tersebut. Ini yang terjadi. Inilah kenapa kita nggak mau. Tetapi, exactly inilah yang Tuhan Yesus lakukan kepada Zakheus. Status Zakheus yang jahat, status Zakheus yang bejat, status Zakheus yang hina, sekarang, dibagikan kepada Kristus dan status Kristus yang kemudian jadi idola, status Kristus yang kemudian itu sedang dikagum-kagumi, orang bersih, bahkan teladan dibagikan kepada Zakheus. Tidak heran, Saudara, orang banyak bersungut-sungut, tetapi inilah Kristus bagi Zakheus. Inilah Kristus bagi Saudara dan saya. Zakheus, tidak peduli betapa engkau itu kemudian berdosa, Saya nggak peduli engkau bawa pemungut cukai, terserah. Mau engkau orang pendek, jelek, terserah. Tetapi, kalau kasarnya, Saudara, mohon maaf, saya pakai kata yang sedikit kontroversial, ya. Mohon maaf ini sebelumnya, ya. “Persetan, Zakheus dengan opini semua orang banyak yang rasa lebih salah daripada kamu. Saya ke sini nggak cari mereka. Saya ke sini cari kamu.”
Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, Zakeus itu nggak ada pertobatan loh, Saudara. Belum ada pertobatan loh. Ketika Tuhan Yesus itu bilang, “Aku mau menjadi bagian hidupmu, Zakeus.” Zakeus nggak ada kalimat pertobatan loh, Saudara. Yang terjadi itu adalah acceptance, penerimaan dulu baru terjadi yang namanya repentance. Gereja Tuhan itu bukan tempat orang-orang bertobat, Saudara. Gereja Tuhan itu adalah tempat di mana orang-orang tuh terus senantiasa bertobat. Saudara bukan jadi orang saleh dulu baru boleh masuk ke gereja, diterima di gereja. Nggak, Saudara, gereja terima engkau, Saudara, apa adanya untuk engkau kemudian boleh bertobat di dalam gereja. Karena inilah Tuhan kita. Tuhan kita itu bukanlah Tuhan yang mencintai kita ada apanya; seperti mantan Saudara yang ada dompet dulu baru Saudara cinta dia, yang cantik dulu baru Saudara cinta dia. Saudara dikasihi oleh Tuhan, Tuhan kita itu adalah Tuhan yang bukan cinta kita karena ada apanya, tapi Tuhan Saudara dan saya, Tuhan Zakeus adalah mencintai Saudara apa adanya “koma” dan oleh karena itu, Saudara, sama seperti kasih orang tua yang tulus kepada anaknya, Tuhan kita yang menerima engkau dan saya apa adanya tidak membiarkan engkau apa adanya.
Saudara, inilah yang kemudian Alkitab mau kasih tahu kepada kita, Saudara yang mendahului daripada repentance, pertobatan itu adalah acceptance. Kalau sampai ada orang diterima, Saudara, diterima oleh Tuhan tapi tidak bertobat, tapi terus berkumang dalam dosa, itu artinya dia tidak pernah betul-betul yang namanya mengerti atau merasakan penerimaan Tuhan yang sejati, Saudara. itu mungkin Tuhan yang imajinasi dia aja yang kemudian terima dia. Tapi bukan Tuhan dalam firman. Tuhan terima Zakeus apa adanya. Lalu kemudian diresponi oleh Zakeus pertobatan. Saudara inilah kemudian Injil. Injil yang dialami oleh Zakeus bukanlah Injil yang murah yang terima pendosa beserta dengan dosanya. Injil yang diterima oleh Zakeus adalah ada penerimaan yang mahal. Tuhan mencintai pendosa, Saudara. Tapi kemudian mau mengambil dosa daripada si pendosa itu, Saudara, dengan kemudian harga yang mahal.
Saudara, dalam gereja ini, Saudara, kalau Saudara kemudian coba kita renungkan, ya. Saudara diterima dalam gereja ini, saudara pernah mengalami penerimaan Kristus, tapi saudara terus berkubang dalam dosa, hati-hati sekali, Saudara, hati-hati sekali, jangan-jangan saudara diterima oleh Yesus yang salah. Karena Yesus yang salah, yang sangat mengasihi saudara adalah Yesus yang tidak akan membiarkan Saudara apa adanya, meskipun Dia menerima Saudara apa adanya. Saudara, inilah kenapa, Saudara, ya namanya, apa, injil Lukas mencatat mulai hari ini dia adalah bagian daripada keluarga Abraham, kalau Saudara tadi lihat ayat yang tadi kita baca, Saudara, keselamatan datang kepada rumah ini. Karena orang ini pun adalah anak Abraham.
Saudara tahu Abraham kan ya, Saudara? Abraham itu pernah doa Saudara kepada Tuhan tentang Sodom dan Gomora Saudara. Betul ya? Sodom dan Gomora, Saudara. Tapi kemudian kenapa Sodom dan Gomora itu kemudian tetap dihakimi oleh Tuhan? Saudara, Saudara kalau Saudara perhatikan Tuhan itu menghakimi Sodom dan Gomora karena ada satu kalimat “karena jeritan orang-orang di Sodom dan Gomor sampai kepada Saya.” Nah, kata jeritan ini, Saudara, itu sama kayak jeritan orang Israel di Mesir. Sama kayak jeritan Hagar ya atas kekejaman Sarah. Jadi, dosa utama Sodom dan Gomora ituah itu bukanlah dosa dosa seksual, bukan Saudara. Dosa utama Sodom dan Gomora bukanlah dosa homoseks dan segala macam, Saudara. Tapi dosa utama Sodom dan Gomora itu adalah apa? Penindasan, kekerasan, ketidakadilan sosial, Saudara. Ini terjadi, Saudara. Dan Abraham itu mau menjadi hospitable, mau kemudian bersyafaat, mau kemudian ya menerima orang-orang yang berdosa bahkan seperti Sodom dan Gomora. Tapi kenapa Sodom dan Gomora tetap dibinasakan? Jawabannya adalah sama seperti orang Farisi menolak kerajaan Allah, yaitu adalah mereka tidak hospitable terhadap hospitality-nya Tuhan. Mereka hostile, mereka itu kemudian menolak terhadap penerimaan Tuhan.
Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, orang berdosa susah, eh sorry, hampir semua orang Saudara susah masuk Kristen. Susah diterima oleh Tuhan. Kenapa? Karena justru Tuhan terima apa adanya. Saudara coba deh penginjilan kepada orang Islam, Saudara. Kalau kita tuh apa penginjilan kepada orang-orang bukan yang beragama, orang-orang Hindu kah, orang-orang Budha kah atau orang-orang Islam kah mereka susah masuk. Kenapa? “Hah? Jadi percaya pada Kristus diselamatkan cuma percaya aja.” Saya nggak perlu kemudian ke Mekkah, nggak perlu keluar apa nggak perlu kemudian disunat, nggak perlu kemudian keluar kalimat syahadat, nggak perlu kemudian lakukan perjalanan perjalanan ritual ini dan itu. Cuma percaya saja. Nggak mau saya nggak mau ini apaan kayak begini. Saudara, inilah yang namanya kemudian kesulitan orang itu menerima Kristus karena hostile terhadap penerimaan Tuhan ini, Saudara. Oleh karena itu, Luther mengatakan ya yang namanya Injil itu adalah the acceptance of acceptance, Saudara. Apa artinya? Luther mau mengatakan yang namanya anugerah, Injil itu adalah penerimaan. Atas penerimaan itu kita menerima suatu fakta bahwa kita diterima apa adanya.
Manusia itu demikian sombong, demikian yang namanya sangat-sangat congkak. Saya ini masih ada bolehnya loh. Saya ini masih ada baiknya loh. Jadi Tuhan selamatkan saya bukan karena saya itu yang namanya nggak ada baiknya. Nggak ada saya ya saya memang butuh anugerah tapi nggak segitu butuhnya. Saya ini nggak jelek-jelek banget. Ya, ini orang beragame, Saudara. tapi nggak segitu butuhnya. Saya ini nggak jelek-jelek banget. Ya, ini orang beragama, Saudara. Tapi Tuhan itu berkata kepada saudara dan saya dan kepada kita, Saudara, kebaikan kita yang paling baik pun itu adalah kain kotor. Kain kotor. Dan kita diterima bukan karena apa yang baik dari kita. Kita diterima oleh karena kebaikan Kristus yang sempurna. Tuhan datang kepada orang seperti Zakeus yang helpless kayak begini, Saudara. Sampai naik pohon, Saudara. Dan dia dan dia berkata, “Zakeus, aku akan menginap di rumahmu.” Apa respon Zakeus Saudara? Pertobatan. Tandanya apa? Penggunaan akan uang.
Coba kita lihat Saudara ya. “Mulai hari ini aku akan bagikan yang namanya 50% milikku ya. Sebagian apa? Setengah dari milikku 50% dan kubagikan kepada orang miskin yang kuperas kuk kembalikan empat kali lipat.” Begitu kan ya 50% Saudara, empat kali lipat Saudara. Saudara akan langsung mikir. Jadi saya Pak ini harus kemudian tuh ambil deposito saya 50% lalu kasih ke mana, Pak? Kasih ke tempat pembuangan sampah gitu Pak. Atau kasih ke mana, Pak? Kasih ke gereja atau gimana, Pak?
Saudara, baru-baru ini kan kita lagi booming ya soal teologi ya. Ada sebagian orang tuh mengatakan tidak perlu perpuluhan. Sebagian lagi mengatakan harus perpuluhan dan lain sebagainya. Saudara, saya mau bahas ini sedikit, Saudara. Zakeus itu kasih 50%. Tuhan Yesus tegur nggak? Zakeus dia inisiatif kasih 50%. Tuhan Yesus tegur nggak? Saudara? Berat sekali ya. Jadi maksudnya kalau saya bilang nggak tegur, saya harus kasih 50%. Miss the point, miss the point, Saudara. Tuhan Yesus tidak tegur. Tuhan Yesus fine dengan 50%. Sedangkan pemuda yang kaya, pemuda yang kaya yang lubang unta apa, ee unta pun apa lebih gampang masuk ke lubang jarum daripada orang si pemuda kaya ini masuk apa kerajaan Allah. Tuhan Yesus mintanya apa, Saudara? 100%. Ini bukan masalah persennya, Saudara. Ini adalah masalah kesalahan. Kemudian apa? Ini adalah masalah bagaimana kita melihat anugerah. Saudara yang dikasih oleh Tuhan, jangankan yang namanya 50%, jangankan yang namanya 100%. Kalau Saudara 10% aja susah, omon-omon Saudara, Saudara mau kasih hidup Saudara, Saudara di pekerjaan mau kemudian berdedikasi kepada Tuhan, omong kosong kalau dalam pernikahan Saudara, Saudara pernikahan adalah kemudian mezbah bagi kemuliaan nama Tuhan. Omong kosong kalau cuma 10% aja kemudian Saudara sulit. Ini bukan masalah 10%, 50%, 100%, ini adalah masalah bukan seberapa Tuhan yang harus saya bayarkan. Bukan masalah harusnya Saudara, tapi ini adalah masalah bagaimana kita mengalami anugerah. Tuhan, “Engkau telah begitu memberikan dirimu kepada saya. Engkau bukan kasih kepada saya 50%. Engkau kasih bahkan seluruh hidupmu bagi saya. Sekarang hatiku, Oh, Tuhan berapa yang aku kemudian layak kasih kepada-Mu, ya Tuhan”, ini Saudara harusnya. Bukan saya harus kasih berapa, ya, supaya saya checklist gitu, ya. Supaya saya diberkati itu berapa, ya, berapa, ya, berapa, ya. Bukan, saudara. Saudara, respon dalam perikop Zakheus, ya. Respon pertobatan, karena Zakheus itu tadinya berhalanya adalah uang. Tapi kemudian respon pertobatan adalah apa, Saudara? Uang yang tadinya dia jadikan tuan, pengisi hidupnya, sekarang Zakheus jadikan yang namanya pelayan Saudara. Mau 100 boleh, mau 50% Tuhan juga oke. Mau 40, mau 70, itu adalah respon ucapan syukur bahwa uang hanya jadi pelayan bukan tuan.
Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, terakhir, Saudara, ya. Satu hal yang mau tekankan di sini, yaitu adalah ketika Tuhan Yesus cari Zakheus, Dia datang, Saudara, sebagai orang yang biasa, orang yang miskin, yang ketika orang Saduki, orang-orang Herodes mencobai Dia, “Tuhan, jadi harus kasih kepada Tuhan atau kepada kaisar?” Tuhan Yesus bilang, “Ambil koin, tolong kasih saya koin itu satu.” Artinya apa? Di kantong-Nya Tuhan Yesus sendiri, nggak ada koin sampai Dia harus minta, “Tolong kasih Saya koin. Yang punya kaisar berikan kepada kaisar, yang punya Allah berikan kepada Allah.” Kenapa Saudara, kenapa? Tuhan Yesus kan kaya raya di sorga. Dia lantai-Nya aja emas, Saudara, di sorga. Tapi kenapa Dia itu tetap biasa, sederhana? Karena kemiskinan kitalah yang ditanggung-Nya agar kita, Saudara dan saya, kita kira kita kaya, sejatinya kita miskin. Kita miskin, kita sungguh-sungguh miskin, kita boleh diperkaya, kita boleh kaya, di dalam kemiskinan-Nya.
Apa itu yang namanya kaya dalam Dia, Saudara? Kelimpahan dalam melayani, kelimpahan dalam memberi, orang yang kaya itu bukanlah orang yang punya uang, uang banyak Saudara, orang kaya itu adalah orang yang kemudian banyak memberi, ini orang kaya Saudara. Memberi juga bukan karena supaya selamat, memberi karena kasih Tuhan karena orang yang sungguh-sungguh limpah Saudara. Dan mungkin di antara Saudara berkata “Sulit, ya, Pak. Bapak kok khotbah sulit sekali, ya.” Saudara, bukan masalah sulitnya Saudara. Ya, sulit kalau kita dengar khotbah pada pagi hari ini, ngomong sulit karena kita lihatnya Zakheus, “Oh, jadi khotbah hari ini adalah teladani Zakheus.” Salah, Saudara. Bukan itu Saudara. Saudara bukan dipanggil untuk meneladani Zakheus, tetapi Saudara dipanggil untuk melihat apa yang Zakheus lihat, saudara. Dan apa sih yang Zakheus lihat? Saudara tahu apa yang Zakheus lihat? Zakheus biasanya memandang orang ke atas. Zakheus orang pendek, biasa memandang orang ke atas. Semua orang Saudara, dari dia kecil memandang dia ke bawah, menatap rendah saudara, tapi hanya kali ini Saudara, satu-satunya momen dalam kehidupannya, Zakheus memandang ke bawah dan ada Tuhan Yesus yang baru pertama kali memandang Zakheus ke atas.
Dan ada satu kalimat yang paling indah yang tadi kita baca dua kali, Saudara, yaitu adalah apa? Tuhan Yesus berkata terus menatap Zakheus, kalau Saudara perhatikan Injil Lukas, ya. Ketika Tuhan Yesus menatap Zakheus, Zakheus menatap Tuhan Yesus itu seolah-olah yang namanya orang banyak Saudara itu, udah nggak lagi dapat sorotan kamera. Tadinya, kemudian kamera itu secara zoom out Saudara, ada orang banyak dan lain sebagainya. Tetapi ketika Tuhan Yesus melihat Zakheus, Zakheus melihat ke bawah, Tuhan Yesus, itu seperti zoom in Saudara. Fokusnya antara Zakheus dengan Tuhan dan orang -orang yang kemudian yang meng-exclude Zakheus, sekarang ter-exclude orang-orang yang menyingkirkan Zakheus dalam kaca mata Alkitab sekarang tersingkir. Dan Tuhan Yesus menyatakan satu kalimat yang sangat penting, yaitu apa? “Zakheus, turunlah!”
Saudara tahu kenapa ini penting saudara? Kenapa ini indah? Kita harus flashback saudara. Saudara, saudara ingat kenapa ini Zakheus naik? Zakheus naik itu karena dia hina, karena dia berdosa, karena dia terkutuk, karena dia harusnya kemudian mendapatkan ludah dari semua orang. Inilah kenapa dia harus naik, naik pohon, tapi sekarang Tuhan Yesus menyatakan “Zakheus turunlah!” Kenapa? Karena Tuhan Yesus-lah yang kemudian akan naik daripada pohon tersebut Saudara. Maksudnya apa, Pak? Saudara, Petrus, Saudara, Petrus itu menuliskan, yang terpancang di bukit tengkorak, dia tidak pakai istilah salib, yang tertusuk, yang tertpancang di bukit tengkorak itu adalah pohon Kalvari. Maka, kemudian kepada Zakheus Tuhan Yesus berkata, “Zakheus turunlah!”, kenapa? “Karena nanti sebentar lagi di Yerusalem Aku-lah yang naik pohon kutuk itu. Akulah yang naik daripada pohon yang memalukan itu, Aku-lah yang naik daripada pohon yang kemudian jahat dan mematikan itu.”
Dan kita tahu saudara sebentar lagi kita merayakan Paskah. Memang Tuhan Yesus, Dia itu kemudian tergantung di atas pohon yang terkutuk, pohon kematian, pohon yang namanya kehinaan Saudara, agar Saudara dan saya yang tidak lebih baik daripada Zakheus itu kemudian boleh turun dan kemudian mencicipi, menikmati kehidupan. Tuhan Yesus bukan cuma bayar yang namanya lima roti dua ikan. Tuhan Yesus bukan cuma bayar pajak dan kepada Bait Allah. Di atas kayu salib saudara, Tuhan Yesus itu kemudian membayar dosa kita. Dia bayar semuanya dengan hidup-Nya saudara. Makanya ada satu lagu yang sangat indah kan, ya. Jesus paid it all, all to Him I owe. Our sin is red like a crimson stain, and He make it white as a snow.
Saudara kita tidak dipanggil untuk meneladani Zakheus Saudara, tapi kita dipanggil untuk melihat apa yang Zakheus lihat. Dari mana kekuatan kita memberi? Dari mana kita punya kekuatan untuk mengorbankan apa yang kita punya demi pekerjaan Allah? Dengan melihat pohon yang berdiri di atas bukit Golgota. Saudara lihat lambang ini kan, ya. Ini lambang salib, kan. Saya mau tanya, ini lambang apa bagi saudara? Saya percaya sebagian besar dari pada kita, “Pak, itu adalah lambang keselamatan.” Betul Saudara. Tapi kenapa itu bisa jadi lambang keselamatan? Karena salib ini Saudara, itu adalah pohon kematian. Pohon kematian bagi Kristus yang oleh-Nya menjadi pohon kehidupan bagi Saudara dan saya. Bialah ini boleh mempersiapkan kita saudara memasuki hari Paskah. Mari kita berdoa.
Bapa di surga, di minggu hari ini biarlah Injil sekali lagi boleh kami dengar dan boleh mengkalibrasi kami ulang Tuhan, hati kami untuk kami boleh melayani Engkau demi Engkau. Ampuni kami kalau selama ini kami melayani Engkau demi kami Tuhan, padahal biarlah Injil yang terus kami beritakan sekali lagi juga boleh mengoreksi kami, mengoreksi hamba Tuhannya, yang berbicara, setiap jemaat Tuhan seluruh setiap kami dalam ruangan ini. Untuk kami boleh melihat pada satu hal yaitu adalah Putra-Mu yang tunggal ya Bapa, yang tersalib, yang oleh kematian-Nya kami dihidupkan. Yang oleh pemberian hidup-Nya Tuhan, kami boleh dikuatkan, kami boleh memberi hidup kami bagi pelayanan bagi pekerjaan Tuhan bagi sesama kami sehingga kerajaan Allah itu boleh sungguh-sungguh dirayakan, di tempat ini, Tuhan. Mulai dari pada GRII Jogja sampai seluruh kota Jogja boleh menikmati Injil Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus yang tergantung di atas pohon kematian agar kami boleh masuk ke dalam pohon kehidupan kami berdoa dan kami bersyukur. Amin.
