Sesungguh-sungguhnya (9), 8 Maret 2026

Yoh. 9:24-10:6

Pdt. Dawis Waiman, M. Div.

Waktu kita ingin mengerti pengajaran Yesus berkaitan dengan truly truly atau sesungguhnya yang kita dapatkan di ayat yang pertama, sekali lagi kita perlu memperhatikan pengertian ini jangan terlepas daripada konteks daripada ayat ini. Kalau kita pernah bahas sebelumnya, pengertian truly truly di dalam setiap perikop yang ada, kita tidak bisa lepaskan dari konteks dari seluruh kitab Yohanes sendiri. Dan kalau kita bicara mengenai keseluruhan kitab Yohanes, hal pertama yang paling penting adalah setiap kalimat dari pengajaran Kristus ataupun tindakan yang Yesus lakukan itu bertujuan untuk membuktikan kalau Dia adalah Mesias, Dia anak Allah dan setiap orang yang percaya kepada Dia akan memperoleh hidup. Tetapi selain daripada keseluruhan konteks ini, kita juga bisa melihat dari konteks dekat daripada perikop yang kita baca. Nah, kalau kita lihat di dalam pasal 10 ayat 1 sampai 6, maka konteks dekatnya itu adalah berkaitan dengan pasal 9. Tapi tadi kita tidak membaca seluruhnya, melainkan dari ayat 24 sampai ayat ke-40 saja. Dan ini cukup mewakili dari pembicaraan yang terjadi antara Yesus dengan orang yang sebelumnya buta maupun orang buta ini dengan orang-orang Farisi untuk kita dapatkan pengertian yang dibahas di dalam pasal yang ke-10.

Nah, sebelum kita membahas bagian ini, ada satu hal yang kita perlu lihat terlebih dahulu. Di dalam bagian ini, Yesus mengibaratkan Diri-Nya adalah Gembala yang baik. Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, kenapa Yesus menggunakan istilah Gembala yang baik untuk menggambarkan Diri-Nya dan bagaimana relasinya dengan umat dari Tuhan sendiri? Sebenarnya ini bukan sesuatu yang baru. Gembala yang baik itu menjadi satu gambaran dari bagaimana Allah adalah Gembala itu sendiri yang menggembalakan umat-Nya. Bapak, Ibu bisa lihat satu per satu di dalam Perjanjian Lama di mana Allah mengibaratkan Diri-Nya sebagai Gembala yang menggembalakan umat-Nya ini. Saya kira kita nggak usah lihat satu per satu dari ayat tersebut. Tapi kalau Bapak, Ibu ingin lihat nanti silakan bisa di-search sendiri ya berkaitan dengan gembala ini.

Jadi Allah menggambarkan Diri-Nya sebagai Gembala dari umat-Nya. Tetapi menarik sekali pada waktu Allah menggambarkan Diri-Nya sebagai Gembala dari umat-Nya di dalam Perjanjian Lama digambarkan juga kalau Allah tersebut kemudian menetapkan ada gembala-gembala lain yang ada di bawah dari Tuhan sendiri. Nah, siapa yang menjadi gembala ini? Alkitab mencatat mereka adalah hamba Tuhan. Mereka mungkin para imam, mereka adalah para nabi mungkin, atau mereka adalah orang-orang yang menjadi pemimpin agama yang Tuhan tunjuk untuk menggembalakan umat-Nya tersebut.

Tetapi pada waktu mereka menggembalakan umat, ada kasus-kasus tertentu yang terjadi kepada orang-orang Yahudi melalui penggembalaan mereka. Yaitu ternyata tidak semua gembala itu adalah gembala yang baik. Ada gembala-gembala yang jahat, ada gembala-gembala yang baik. Gembala yang jahat ketika menggembalakan umat-Nya, mereka bukan membawa umat-Nya untuk hidup di dalam ketaatan kepada Tuhan, tetapi mereka membawa umatnya untuk menyimpang daripada perkataan Tuhan. Sehingga di situ mendatangkan kemarahan Tuhan bagi umat-Nya. Ada yang mengatakan mereka mengajarkan umat-Nya untuk memberikan persembahan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan selain daripada pengajaran yang mereka berikan kepada umat Allah.

Tetapi di sisi lain ada gembala yang baik. Mereka mengajar dengan setia. Mereka membawa umat Tuhan mengenal Tuhan. Mereka mendidik mereka untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan. Tapi di tengah-tengah perjalanan tersebut karena ada yang baik, ada yang jahat, maka Tuhan ternyata punya rencana yang jauh lebih indah. Yaitu pada waktu Tuhan melihat ada Daud yang ditunjuk-Nya menjadi raja atas Israel, Tuhan kemudian membuat satu perjanjian dengan Raja Daud, yaitu dia akan menjadi gembala dari umat Israel dan bukan hanya dirinya, tetapi dari keturunan dari Raja Daud sendiri akan muncul seorang gembala yang baik, yang dengan setia menggembalakan umat dari Tuhan ini.

Nah, kalau Bapak, Ibu bandingkan dengan pasal dari 2 Samuel 5 ini, maka kita akan menemukan bahwa ternyata di situ Tuhan sebenarnya memberikan satu janji kepada Daud bahwa dari keturunannya akan lahir seorang yang merupakan Gembala yang setia itu. Lalu, siapa orang ini? Nah, kalau kita baca di dalam pasal 10 ayat 11 dan ayat 14, maka ternyata Yesus mengatakan diri-Nya lah Gembala yang dirujuk oleh Tuhan kepada Raja Daud tersebut. Kalau Bapak, Ibu boleh buka bersama, kita bisa baca di ayat 11. Di situ dikatakan: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Lalu di ayat 14 juga dikatakan: “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” Jadi, siapa yang Tuhan maksudkan kepada Raja Daud ketika Dia berkata, “Nanti keturunanmu akan lahir seorang gembala yang baik itu.”? Yesus berkata bahwa itu adalah diri-Nya. Dia adalah Gembala yang baik itu. Dan ini membuat pada waktu kita memperhatikan pasal 10 ini, sebenarnya Yesus bukan membicarakan sesuatu yang baru. Tetapi Yesus sedang mengatakan, “Ada kesinambungan dari rencana Tuhan kepada umat-Nya yaitu melalui penggembalaan yang Tuhan berikan kepada umat-Nya.” Awal mula dari Tuhan sendiri, melalui hamba-hamba Tuhan tunjuk, lalu kemudian kepada Raja Daud, lalu keturunan dari Raja Daud, dan itu adalah Yesus Kristus.

Lalu, hal yang kedua: kita juga bisa lihat dari konteks yang lebih dekat sendiri berkaitan dengan gembala ini. Dan itu dicatat di dalam Yohanes pasal 9. Kalau Bapak, Ibu lihat di dalam Yohanes pasal 9, di sini terjadi perdebatan antara orang yang sebelumnya buta yang kemudian mendapatkan kesembuhan dari Yesus Kristus dengan orang-orang Farisi. Lalu orang-orang Farisi ini, sebenarnya siapa mereka? Mereka sebenarnya adalah gembala-gembala juga yang Tuhan harapkan melalui pelayanan yang mereka lakukan, umat Israel dibimbing, dipimpin di dalam kondisi yang taat kepada Tuhan. Tetapi pada waktu mereka menjabat sebagai gembala ini, ternyata yang mereka lakukan adalah sangat sangat –mungkin– menyedihkan hati Tuhan. Karena yang seharusnya membuat umat Israel taat kepada Tuhan tetapi justru membuat umat Israel mempertanyakan Tuhan sendiri, dan bahkan menolak Tuhan sendiri.

Nah, kita bisa lihat di dalam konteks yang terjadi pada waktu itu. Kalau dari ayat 24, di situ dikatakan: orang yang semulanya buta ini sudah disembuhkan oleh Tuhan. Tetapi ketika dia sudah disembuhkan oleh Tuhan Yesus, dia kemudian diperhadapkan dengan orang Farisi. Waktu itu orang Farisi bertanya kepada dia, “Bagaimana engkau disembuhkan? Apa yang dia perbuat untuk menyembuhkan dirimu tersebut?” Nah, orang buta ini berkata Dia mengambil tanah yang sudah dicampur dengan air liur-Nya. Lalu tanah itu kemudian dioleskan di mata dari orang buta ini. Kemudian dia disuruh mandi di Siloam. Pada waktu dia keluar dari air itu, saat itulah matanya menjadi sembuh. Dia bisa melihat kembali. Tetapi pada waktu orang Farisi mendengar cerita ini, mereka bukannya bersyukur. Mereka bukannya memuliakan Tuhan melalui peristiwa tersebut. Tetapi yang terjadi adalah mereka kemudian menghina orang buta ini dengan berkata adalah, “Engkau murid Dia, tapi kami adalah murid dari Musa.”

Nah, apa yang membuat orang-orang Farisi ini mempertanyakan kesembuhan yang dialami oleh orang buta ini? Kenapa mereka tidak bersyukur melihat orang buta ini disembuhkan dan melihat kembali? Alkitab bilang karena pada waktu itu kesembuhan itu terjadi di hari Sabat. Dan hari Sabat ini membuat orang-orang Farisi berpikir, ini adalah satu dosa yang dilakukan Yesus Kristus. Karena bagi mereka, seorang yang mengikut Tuhan, seorang yang diutus oleh Tuhan pasti tidak akan disertai oleh Tuhan dan pasti tidak akan melanggar hukum Sabat yang ditetapkan oleh orang Farisi. Tetapi, pada waktu mereka memperdebatkan ini, ada yang mengatakan juga seperti ini: “Kalau andai kata Dia bukan seorang yang diutus oleh Tuhan, kenapa Dia memiliki kuasa menyembuhkan mata orang buta?” Sehingga ini mengakibatkan terjadi perdebatan di antara pemimpin dari orang-orang Farisi ini. Dan ini membuat mereka akhirnya bingung sendiri dan memanggil orang buta ini untuk ditanyai kembali, “Bagaimana engkau disembuhkan? Apa yang Dia lakukan untuk menyembuhkan engkau? Menurut engkau, siapa Orang ini?”

Nah, di sini ada 1 hal yang menarik dari jawaban orang buta ini. Dia bilang, “Yang aku tahu adalah dulu mataku buta. Sekarang, mataku bisa melihat.” Siapa yang bisa mencelikkan mata orang buta? Tidak ada pernah dicatat dalam Kitab Suci seorang nabi pun yang pernah mencelikkan mata orang buta. Itu sebabnya, orang buta ini mengetahui Dia pasti adalah seorang yang diutus oleh Tuhan. Makanya, pada waktu kita melihat setelah diusir oleh orang Farisi, dia bertemu dengan Yesus Kristus. Lalu, Yesus bertanya, “Kamu tahu nggak, siapa Anak Manusia itu?” Orang buta ini berkata, “Aku tidak tahu,” tetapi ketika Yesus berkata, “Akulah Dia yang berdiri di depan engkau,” orang buta ini kemudian langsung percaya kepada diri Yesus Kristus. Makanya dia kemudian menjadi seorang yang merupakan murid dari Yesus Kristus.

Nah, atas dasar konteks ini, Bapak, Ibu, kita masuk ke dalam pasal yang ke-10. Kaitannya di mana? Kaitannya ada pada 1 kalimat yang muncul dari perkataan orang Farisi dengan Yesus Kristus pada waktu mereka mendengar perkataan yang Yesus sampaikan kepada orang buta ini. Mungkin Bapak, Ibu boleh baca terlebih dahulu bagian ini kembali, yaitu di dalam ayat yang ke-35 sampai ayat 41. “Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya: “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau,Dialah itu!” Katanya: “Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah-Nya.Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat,dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di dalam percakapan ini ada 1 hal yang penting yang kita bisa lihat. Pada waktu orang-orang Farisi mendengar perkataan Yesus yang berkata bahwa, “Seandainya engkau berkata, engkau melihat, maka sebenarnya engkau buta, tetapi kalau engkau berkata bahwa engkau sebenarnya tidak dapat melihat, maka engkau mungkin ada harapan,” seperti itu. Maka di situ, orang Farisi menjadi marah karena mereka merasa Yesus sedang membicarakan mereka karena membandingkan diri mereka dengan orang buta ini. Orang buta ini sebelumnya buta, tetapi kemudian bisa melihat. Tetapi bagaimana orang Farisi ini? Mereka mengatakan, mereka adalah murid Musa. Berarti, mereka adalah orang yang melihat. Mereka mengerti hukum Tuhan. Mereka memiliki kitab Musa untuk menjadi satu penuntun dalam hidup mereka. Itu yang diajarkan oleh diri mereka. Tetapi, pada waktu mereka mengatakan, “Kami memiliki Taurat. Kami adalah murid dari Musa.” Yesus berkata, “Sebenarnya engkau adalah orang yang buta.” Nah, ini membuat mereka menjadi marah terhadap perkataan Yesus Kristus.

Tetapi ada satu hal yang menarik juga pada waktu Yesus berkata seperti ini. Yesus berkata seperti ini, “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi supaya barang siapa yang tidak melihat dapat melihat dan supaya barang siapa yang dapat melihat menjadi buta.” Ini menjadi satu perkataan yang penting untuk kita menafsirkan pasal yang ke-10 ini atau dengan kata lain adalah Yesus mau mengatakan seperti ini, “Karena engkau berkata, engkau adalah seorang yang memiliki hukum. Engkau mengerti apa yang menjadi perkataan Tuhan dan itu membuat engkau merasa engkau melihat. Tahu tidak sebenarnya itu adalah kondisi yang paling, paling menyedihkan sekali. Karena apa? Di tengah-tengah kesombonganmu, di tengah-tengah pemikiranmu bahwa engkau adalah orang yang melihat Tuhan, mengerti tentang Tuhan, mengerti firman Tuhan, tetapi sebenarnya engkau adalah orang yang betul-betul tidak mengerti kebenaran itu.” Atau istilah lainnya adalah mereka adalah orang yang tidak memiliki pengharapan sama sekali. Karena mereka adalah orang yang berpikir mereka mengerti padahal mereka tidak mengerti sama sekali. Dan di sini Yesus kemudian berkata, “Engkau adalah orang yang ada di bawah penghakiman dari Tuhan Allah.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapaYesus berkata mereka adalah orang-orang yang ada di bawah penghakiman? Bukankah di dalam bagian lain dari Kitab Suci ada kalimat yang mengatakan bahwa Yesus datang ke dalam dunia ini tujuannya adalah bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan kita dari dosa. Lalu apa menjadi perbedaan di situ? Kenapa ada dua hal yang sepertinya bertolak belakang? Satu bicara Yesus menghakimi. Satu berbicara Yesus datang untuk tidak menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan manusia dari dosa ini. Nah, di sini menjadi kunci kita memahami pasal yang ke-10 ini. Kalau kita bicara di dalam konteks pasal 9, di situ ada satu pengertian, sebenarnya Yesus bukan datang untuk menghakimi dalam pengertian datang untuk menjadi hakim di akhir dari zaman ini, yaitu di dalam kedatangan yang kedua. Tetapi yang Yesus maksudkan adalah karena engkau berpikir engkau mengerti, memahami firman Tuhan maka Aku katakan engkau buta, engkau tidak memahami. Tetapi orang yang buta ini yang semula tidak melihat tetapi karena anugerah Tuhan bisa melihat. Itu yang menjadi arti di sini, yaitu apa? Yaitu pada waktu Yesus berkata, “Aku datang untuk menghakimi.” Sebenarnya pengajaran Yesus adalah satu pengajaran yang ketika disampaikan bertujuan untuk memisahkan antara siapa yang percaya pada Yesus dengan siapa yang melawan Yesus Kristus. Atau dengan kata lain, setiap kali Firman Tuhan disampaikan, setiap kali perkataan Tuhan diberitakan, Bapak, Ibu harus memahami akan terjadi dua kelompok manusia. Yang satu adalah yang percaya kepada perkataan Yesus. Yang kedua adalah yang menolak perkataan Yesus Kristus atau menentang perkataan Yesus.

Nah, ini yang membuat kita masuk ke dalam pasal yang ke-10 ya, yaitu Yesus berkata, Dia adalah Gembala yang baik dan Dia adalah pintu menuju kepada tempat di mana domba itu ditaruh di situ, yang menunjukkan bahwa di luar dari Yesus tidak ada jalan untuk seseorang masuk ke dalam tempat para domba itu ditempatkan. Tetapi juga tanpa Yesus Kristus, maka tidak ada satu orang pun yang akan mendapatkan satu pelayanan penggembalaan dari Tuhan yang baik itu. Nah, ini membuat kita bertanya seperti ini. Kalau Yesus adalah Gembala yang baik dan Dia adalah pintu itu, maka bagaimana kita bisa berkata bahwa kita adalah seorang yang sungguh-sungguh memiliki domba daripada Yesus Kristus? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di dalam hal ini ada satu cerita yang Yesus sampaikan di sini antara seorang gembala dengan seekor domba atau domba yang digembalakan dia. Ada satu hal yang menarik, yaitu pada waktu domba-domba digembalakan oleh gembalanya, maka domba-domba memiliki kemampuan untuk membedakan perkataan atau suara dari gembalanya. Maksudnya adalah ketika gembala itu memanggil dombanya untuk mengikuti dirinya, maka domba akan datang mengikuti gembala itu karena mereka mengenali suara dari gembalanya tersebut.

Ada satu cerita di mana ketika ada seseorang menuju ke Yerusalem, dia memiliki satu kesempatan untuk melihat tempat di mana orang-orang Yahudi itu menggembalakan domba-domba mereka. Lalu di kesempatan itu dia melihat di satu malam biasanya domba-domba itu ditaruh dalam satu tempat dan mereka dicampur antara gembala yang satu punya domba dengan gembala yang lain punya domba di situ. Nah, ketika orang ini lewat di pagi hari, dia melihat ada gembala yang ingin membawa dombanya untuk digembalakan dan makan rumput-rumputan di padang gurun. Lalu bagaimana caranya dia memanggil dombanya dan memisahkan dari domba para gembala yang lain? Dia katakan seperti ini. Pada waktu itu si gembala ini membuka pintu. Lalu dia berdiri agak jauh dari tempat tersebut lalu kemudian dia mulai memanggil dombanya. Lalu ketika dia memanggil, domba itu mulai kemudian mendengar suara itu dan satu per satu mengikuti gembala ini. Lalu gembala ini mulai menghitung satu per satu apakah seluruh dombanya sudah berkumpul semua atau belum. Dan ketika semuanya sudah berkumpul baru dia kemudian pergi membawa domba-dombanya untuk digembalakan.

Nah, di sini penulis ini kemudian mengatakan seperti ini. Apa yang terjadi di dalam Yohanes 10 itu adalah satu gambaran yang Yesus pakai untuk membedakan kita dari orang yang merupakan domba Tuhan atau bukan. Domba Tuhan adalah gereja Tuhan yang ketika mendengar suara dari gembalanya mengetahui ini adalah suara dari gembalanya. Mereka tahu mana yang bukan suara gembalanya, mana yang merupakan suara dari gembalanya. Dan ketika kita ingin tahu mana yang merupakan suara gembala kita, maka dia berkata seperti ini. Caranya adalah dengan mengetahui apa yang Kitab Suci katakan bagi diri kita. J.I. Packer mengatakan seperti ini, ya. Alkitab itu adalah khotbah dari Tuhan sendiri. Maksudnya adalah pada waktu kita membaca Alkitab, Bapak, Ibu, jangan berpikir bahwa ini adalah tulisan atau spekulasi dari orang-orang atau manusia yang menulisnya. Tetapi segala perkataan dari Kitab Suci ini, Packer berkata, ini adalah khotbah dari Tuhan sendiri. Kalau ini adalah khotbah dari Tuhan dan Tuhan adalah Gembala kita, apa yang harus kita lakukan? Hal yang harus kita lakukan adalah memberikan respon kesungguhan terhadap perkataan dari Gembala kita. Atau yang kedua adalah memberikan percaya total kita kepada perkataan dari Gembala kita. Ini adalah dua hal yang kita perlu berikan, ya.

Jadi hal pertama adalah dari mana kita tahu ini adalah perkataan dari Gembala kita. Alkitab berkata, dengan cara membaca Alkitab, kita mengerti segala perkataan dari Gembala kita. Karena Alkitab adalah khotbah dari Tuhan Allah kita. Tetapi sebagai orang yang ingin mengetahui, dia adalah domba sejati atau bukan, yaitu dengan dua hal. Ketika firman itu dibacakan, ketika firman itu diberitakan, adakah kesungguhan kita mendengarkannya? Yang kedua adalah adakah respon percaya total dari diri kita kepada setiap perkataan dari Gembala kita? Ini adalah dua hal yang membedakan kita dari domba dari Tuhan Allah atau sebenarnya adalah domba dari gembala yang lain.

Nah, dalam hal ini saya mau menyampaikan seperti ini Bapak, Ibu. Pada waktu kita berkata, kami adalah orang yang percaya kepada Kristus, Dia adalah Tuhan dan Juruselamat saya, Dia adalah Gembala saya yang baik itu. Pertanyaannya adalah, dapatkah kita memilah mana yang merupakan perkataan dari Kristus yang sesungguhnya mana yang bukan? Karena ini yang menjadi hal yang utama di dalam kita mengikut Tuhan. Saya sedih sekali karena banyak sekali dari orang Kristen ketika mendengar perkataan dari apa yang diajarkan oleh para pendeta misalnya, satu sisi mereka cuma tahu ini pasti adalah perkataan Tuhan berdasarkan apa mereka datang ke gereja. Yang kedua adalah ada Alkitab yang dibaca dan dikutip seperti itu. Yang ketiga adalah yang menyampaikan hal itu adalah orang yang memiliki gelar sebagai pendeta.

Tetapi kalau Bapak, Ibu kembali ke Alkitab dengan satu kehati-hatian, di sini kita bisa lihat ada gembala-gembala yang menyampaikan katanya Firman Tuhan. Tetapi kenapa Tuhan berkata mereka bukan gembala yang baik? Ada gembala-gembala yang menyampaikan Firman Tuhan. Tapi Tuhan berkata mereka adalah gembala yang baik, yang membedakan itu apa? Saya percaya yang membedakan adalah kesetiaan dari gembala itu di dalam menyampaikan firman Tuhan. Bukan sekedar mengutip, bukan sekedar menaruh ide-ide kita, pengertian kita di dalam firman yang disampaikan tersebut.

Nah ini membuat ada yang mengatakan seperti ini. Pada waktu kita ingin mendengarkan perkataan dari gembala kita, hal yang kita perlu perhatikan adalah apakah pengertian kita itu berdasarkan pemahaman kita sendiri berdasarkan perkataan itu atau bukan, apakah yang kita pahami itu berdasarkan perasaan kita atau bukan? Karena pada waktu kita betul-betul ingin mengerti perkataan itu adalah Firman Tuhan atau bukan. Tidak boleh dimasukkan konsep kita sendiri, pemahaman kita sendiri, ataupun emosi kita sendiri di dalamnya. Tetapi kita betul-betul harus memahami perkataan itu berdasarkan apa yang Alkitab nyatakan bagi diri kita. Dari situ kita baru paham, bahwa ini adalah perkataan Tuhan atau bukan. Dan dari situ kita baru belajar beriman kepada Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan. Ini adalah hal yang saya percaya menjadi satu kebenaran yang kita harus perhatikan baik-baik, ya. Karena pada waktu kita mengikut Tuhan, kita betul-betul harus mengerti siapa yang kita ikuti dan siapa yang kita ikuti itu berdasarkan kebenaran yang Kitab Suci nyatakan. Karena banyak orang yang datang mengikut Tuhan, berpikir mengikut Tuhan tetapi sebenarnya mereka mengikuti Tuhan yang berbeda atau gembala yang berbeda dalam kehidupan mereka. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita dengan pengertian pada pagi hari ini ya bahwa Yesus adalah Gembala kita yang baik. Mari kita masuk di dalam doa.

Bapa kami sungguh bersyukur karena kami memiliki gembala yang baik. Kristus Yesus yang adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Tapi kami juga mengerti bahwa ketika kami mengikut Kristus, ada Firman yang boleh Engkau berikan bagi kami. Ada kebenaran yang Engkau boleh bukakan bagi diri kami, dan kami boleh mengerti dan mengenal Engkau secara benar. Tolong kami, ya Bapa. Ketika kami mengerti kebenaran-Mu, kami boleh sungguh-sungguh menghidupinya, kami boleh sungguh-sungguh mengkomitkan seluruh hidup kami kepada kebenaran Engkau, dan ini membuat kami boleh mengerti bahwa kami adalah domba-domba dari Gembala kami, yaitu Tuhan Yesus Kristus sendiri. Kiranya Engkau boleh pimpin waktu berikut ini ya, Bapa. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa, Amin.