Doa Imam Besar, 1 Maret 2026

Yoh. 17:3-5

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ini adalah doa Yesus Kristus yang paling intim yang boleh dicatat di dalam Alkitab: bagaimana relasi Yesus Kristus sebagai Anak Allah berdoa kepada Bapa di surga. Kita bisa melihat relasi yang begitu indah dan kita juga bisa mempelajari bagaimana kita harus berdoa kepada Bapa di surga lewat doa yang Yesus berikan atau berikan teladan kepada kita semua di dalam bagian ini. Doa Yesus ini sering disebut sebagai High priestly prayer atau doa imam besar: bagaimana Yesus menjalankan tugasnya sebagai Imam Besar Agung satu-satunya. Tidak ada yang lain. Bagaimana Yesus berdoa bagi pekerjaan Tuhan, Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri, Yesus berdoa bagi umat-Nya, dan Yesus juga berdoa bagi kita semua yang hidup sampai sekarang sampai kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Yesus mengasihi umat-Nya. Itulah kenapa Yesus berdoa kepada Bapa di surga. Yesus tampil sebagai Imam Besar Agung yang mempersembahkan diri-Nya untuk berdoa.

Dan kita tahu, di dalam pergumulan kita sebagai orang Kristen, berdoa bukanlah hal yang mudah. Kita senantiasa bergumul bagaimana menikmati doa. Kita juga bergumul bagaimana cara kita berdoa dengan tepat di hadapan Tuhan. Kita bergumul bagaimana kita menikmati masa-masa kita mengungkapkan isi hati kita kepada Tuhan. Ada ilustrasi, ya, bagaimana kita itu susah untuk berdoa sampai para murid itu berkata, “Tuhan ajarkanlah kami berdoa.” Kita sangat mudah menikmati main game, nonton film lima jam tapi terasa seperti lima menit. Tetapi berdoa lima menit terasa seperti lima jam. Ini adalah gambaran bagaimana hati kita itu susah untuk menikmati doa. Kita susah berdoa. Kita tidak tahu cara berdoa.

Tetapi, bersyukur Alkitab adalah Alkitab yang berisi tentang doa-doa kepada Tuhan dan bagaimana kita berdoa secara benar. Bagi Calvin, ini menunjukkan bahwa karya Yesus Kristus itu bukan hanya di atas kayu salib saja, tetapi karya Yesus Kristus bagi kita yang begitu besar adalah ketika Yesus berdoa untuk kita. Kita kalau dikunjungi oleh teman kita, oleh pengurus gereja, oleh orang yang kita kasihi, lalu mereka mendoakan kita, kita ada rasa sukacita, ada bersyukur, ada orang memperhatikan kita. Tetapi yang berdoa bagi kita bukanlah sesama kita umat Kristen saja, tetapi adalah Allah sendiri. Yesus Kristus itu berdoa untuk kita! Kurang apalagi perhatian Tuhan terhadap hidup kita? Dia berdoa. Dia mengunjungi kita. Dia jauh-jauh dari surga datang ke dalam dunia ini di dalam inkarnasi Allah menjadi manusia, menjelma menjadi manusia. Dia datang menghampiri kita dan berdoa bagi kita. Ini adalah suatu bentuk kasih yang begitu besar.

Nah, ketika kita mengasihi Tuhan, kita berdoa kepadanya. Dan ketika kita mengasihi sesama, kita juga berdoa untuk mereka; berdoa kepada Tuhan. Thomas Manton seorang puritan mengatakan, “This prayer is a standing monument to Christ’s affection to the church.” Doa Imam Besar ini adalah suatu monumen berdiri bagaimana cinta kasih Tuhan Yesus itu begitu besar kepada gereja-Nya. Suatu peringatan yang begitu terus kita perlu pelajari dan renungkan dalam kehidupan kita. Ini kasih sayang Yesus Kristus. Suatu afeksi yang besar, Yesus tunjukkan kepada gereja-Nya adalah bukan hanya mati di atas kayu salib, tetapi juga berdoa bagi gereja-Nya. Ingat doa ini, maka kita ingat bagaimana Yesus mengasihi kita. Bagaimana Tuhan sudah menyatakan cinta kasih yang begitu besar ini.

Doa Yesus ini diucapkan setelah Yesus berkhotbah tentang diri-Nya sebagai satu-satunya Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Sehingga ada seorang teolog juga mengungkapkan bahwa doa ini adalah doa yang greatest, teragung, terbesar dan juga dinyatakan setelah firman Tuhan yang teragung juga dan terbesar. Sehingga kita bisa tahu bahwa doa yang benar adalah didasari dengan kebenaran firman Tuhan. Yesus berdoa dicatat begitu panjang di dalam Yohanes 17. Itu adalah doa yang suci yang tidak ada kesalahan sedikit pun. Tidak ada dosa. Tidak ada motivasi yang kotor, yang betul-betul busuk. Ini adalah motivasi yang murni demi Kerajaan Allah, demi gereja-Nya yang Dia kasihi. Maka sangat penting Bapak, Ibu sekalian kita mempelajari Injil Yohanes 17 ini: bagaimana kita seharusnya berdoa. Dan ketika kita ingat bagaimana para murid bertanya, “Bagaimanakah seharusnya kami berdoa? Ajarkanlah kami berdoa.” Tuhan Yesus sudah mengajarkannya di dalam bagian ini bagaimana seharusnya berdoa. Selain Yesus ajarkan doa Bapa Kami. Tetapi Yesus juga menyatakan relasi yang begitu intim dengan Bapanya di surga.

Nah, pada hari ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita akan merenungkan tiga hal dari khotbah ini. Yang pertama adalah di ayat 3. Kita bisa melihat hidup kekal merupakan sebuah pekerjaan. Hidup kekal merupakan sebuah hati yang sungguh-sungguh mengasihi Allah. Di sini definisi hidup kekal, Yesus jelaskan bahwa hidup kekal itu adalah mengenal Allah, satu-satunya yang benar itu, dan juga mengenal Yesus Kristus. Mengenal Bapa, mengenal Yesus itu adalah hidup yang kekal.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa itu hidup kekal? Kalau kita ditanya sebagai orang Kristen, kita menjawab bukan pertanyaan yang sederhana, ya, bukan jawaban yang sederhana, “Hidup kekal berarti, ya hidup selama-lamanya.” “Hidup selama-lamanya itu bagaimana, ya?” “Pokoknya hidup selama-lamanya itu, ya tanpa batas, tanpa batasan waktu, dan lain-lain, ya. Pokoknya hidup setelah kita meninggal dunia, kita hidup kekal.” Dan bayangannya adalah hidup di surga. Pokoknya senang, happy, menikmati sukacita dari Tuhan. Hidup kekal berarti surga di sana. Kita pikir bahwa surga itu satu titik.

Tetapi, berbeda dengan definisi yang Yesus jelaskan. Surga bukan hanya satu titik di sana nanti ketika mengakhiri dunia ini, tetapi surga juga adalah suatu hal yang sudah Tuhan berikan kepada kita dan itu adalah proses kita menjalani kehidupan yang sudah kita miliki dari Tuhan sendiri yaitu kehidupan kekal. Surga bukan hanya satu titik di sana, tetapi sudah diberikan kepada kita, lalu kita hidup berdasarkan aturan surga di dalam dunia ini. Itulah surga. Aturan surga itu apa? Di surga tidak ada dosa. Kita tidak mau tergoda dosa. Kita tidak mau mengenal yang jahat. Di surga kita adalah memiliki aturan yaitu mengenal Sang Allah yang tidak terbatas itu, yaitu Allah Tritunggal. Maka dari itu, surga itu dibawa ke dalam dunia saat ini. Dan kita menghidupi surga itu dengan cara apa? Mengenal Allah dan mengenal Yesus Kristus. Wah, ini adalah suatu pemahaman yang baru yang Yesus jelaskan kepada para murid-Nya pada waktu itu di dalam doa-Nya kepada Bapa di surga. Inilah hidup kekal itu. Dia berdoa kepada Bapa di surga. “Saya tahu bahwa hidup kekal bukanlah semata-mata satu titik surga di sana. Tetapi hidup kekal adalah mengenal Allah yang sejati dan juga mengenal Aku: Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup.”

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kita melihat konsep-konsep di dunia ini tentang hidup kekal, itu sangat bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa, “Tidak ada hidup kekal setelah kematian. Adalah lebih mudah, lebih ringan rasanya kalau hidup kita saat ini selesai di dunia, ya sudah selesai saja. Tidak perlu melanjutkan kehidupan yang kekal yang jauh di sana! Masa hidup kekal yang lama itu ditentukan dengan hidup yang sementara di bumi saja? Musa katakan hidup manusia paling 70 tahun, 80 tahun saja. Masa 70 tahun, 80 tahun ini menentukan hidup yang selama-lamanya? Rasanya tidak adil! Tidak perlu ada hidup kekal! Ya, tidak perlu kita mencari jalan keselamatan. Tidak perlu kita membereskan dosa. Sudah saja! Hidup kekal itu tidak ada. Kita hidup saat ini. Beres!” Nah, itu adalah pandangan manusia berdosa yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

Ini berarti melawan perkataan Yesus sendiri kepada Bapa di surga. Ketika Yesus berkata, “Inilah hidup kekal.” Yaitu mengenal Allah satu-satunya dan juga mengenal Yesus Kristus, Bapa di surga tidak mengoreksi Yesus Kristus. Ini berarti adalah kebenaran dari Yesus dan Allah sendiri tentang hidup kekal.

Ada yang mengatakan bahwa hidup kekal itu juga tidak personal life, tetapi itu adalah suatu pengulangan kepada kehidupan yang lain. Kita mati. Nanti, hidup jadi pribadi yang lain. Nanti, mati jadi makhluk yang lain lagi dan terus berulang, berulang, berulang kehidupan kita. Tidak ada personal diri kita yang selama-lamanya, kekal. Kita berubah-ubah. Dan juga banyak agama mengatakan bahwa hidup kekal diperoleh berdasarkan pekerjaan baik atau usaha maupun jasa manusia. Itu adalah pengertian-pengertian yang muncul dalam kehidupan manusia berdosa.

Kita tahu, ada kekekalan. Kita tahu rasanya roh kita itu sampai kekekalan, tetapi kita tidak tahu bagaimana kita meresponi kekekalan itu, sehingga kita mencari pikiran-pikiran kita sendiri, mencari jalan kita sendiri dan akhirnya, ternyata itu bukanlah sesuai dengan jalan Tuhan sendiri yang menyatakan definisi hidup yang kekal. Yesus memberikan definisi yang begitu indah untuk memberikan kenyamanan dan kepastian kepada manusia yang bergumul tentang hidup kekal. “Ini hidup kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau sebagai satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Berarti, untuk memperoleh hidup yang kekal harus cari Allah yang benar dan Allah yang benar ini ternyata kita bisa menemukannya di dalam Yesus Kristus sebagai Pengantara satu-satunya kepada Allah yang benar.

Dan pada akhirnya, kita menemukan bahwa di dalam kebenaran Alkitab, Allah yang benar itu adalah Allah Tritunggal. Allah yang satu, tetapi memiliki tiga Pribadi yang berbeda. Namanya Allah, ya, Allah itu di luar jangkauan kita dan Allah itu harus kita terima dengan iman. Bagaimana satu, tetapi tiga, bagaimana tiga, tetapi satu. Ini tidak masuk logika manusia karena memang Allah itu melampaui logika manusia. Kalau Allah di bawah logika manusia itu bukan Allah, tetapi Allah kita sudah menyatakan Diri-Nya bahwa Allah yang sejati adalah Bapa di surga, Pencipta langit dan bumi dan juga menyatakan di dalam Yesus Kristus.

Di dalam teologi reformed, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, hidup kekal memang bukan pertama-tama soal durasi yang lama tanpa akhir, selama-lamanya, ya, bukan cuma soal hal tersebut, tetapi ternyata, kita menyadari bahwa hidup kekal itu adalah mengenai bagaimana kita mengenal Allah terus-menerus. Suatu relasi. Waktu kita berdoa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sebenarnya jiwa kita diangkat ke surga. Gambarannya demikian karena kita bertemu dengan Bapa di surga. Waktu kita berdoa dengan sungguh-sungguh, kita naikkan doa syafaat, kita berdoa dengan hati yang sungguh-sungguh, kita sedang merasakan atau mencicipi hidup yang kekal karena Allah itu kekal. Lalu, kita menghampiri Dia yang kekal itu, kita bisa merasakan kekekalan. Suatu janji hidup kekal di dalam Yesus Kristus dan waktu kita memahami hidup kekal ini, maka kita ada suatu perasaan bahwa relasi dengan Allah itu begitu indah, begitu penting. Kita mencicipi kondisi di surga yang akan datang yang akan kita hidupi nanti. Kita mendapatkannya saat ini ketika kita mengenal terus-menerus siapakah Allah. To know God is eternal life. Ini definisi yang Yesus nyatakan di dalam doa-Nya.

James Montgomery Boice itu membedakan 4 tipe pengetahuan atau pengenalan yang tidak membawa kepada keselamatan. Jadi, maksud Yesus adalah pengenalan akan Allah dan pengenalan akan Yesus ini membawa kepada keselamatan atau hidup kekal. Tetapi, ketika kita memahami pengenalan sesuatu, meskipun kita bisa katakan bahwa orang non-Kristen tahu nggak siapakah Allahnya orang Kristen? Secara logika saja. Kita saja bisa tahu, ya. Oh, allahnya non-Kristen itu, agama A itu, dia percaya allahnya misalkan 1 saja. Agama B itu, dia percaya allahnya banyak atau mungkin punya dewa-dewi ratusan juta. Atau tadi, suku di Lombok yang kita doakan, mereka itu tidak percaya allah. Mereka pokoknya sembah roh-roh nenek moyang. Mereka menganggap bahwa ciptaan ini adalah allah itu sendiri, maka mereka sembah. Nah, kita bisa tahu yang salah. Betul, ya, secara logika, yang bertentangan dengan Alkitab. Nah, sekarang, kita gambarkan orang yang non-Kristen yang tidak percaya Yesus deh, bisa tahu nggak kebenaran secara logika? “Oh, Allahnya orang Kristen itu Tritunggal. Mereka percaya ada Bapa, Anak, Roh Kudus, tetapi ketika dijumlahkan tetap 1,” sehingga mereka mengolok-olok atau menghina pengajaran itu. Berarti apa? Mereka mengerti. Tahu lho! Mereka bisa sebut Bapa kok. Mereka bisa sebut Yesus kok. Mereka bisa sebut Roh Kudus kok. Tahu! Mereka tahu Allahnya orang Kristen, tetapi apakah pengetahuan itu menyelamatkan mereka seperti yang Yesus jelaskan di dalam doa-Nya ini? Tidak! Lalu, apa perbedaannya? Maka, James Boice itu membedakan 4 tipe pengetahuan yang memang tidak menyelamatkan. Jadi, ada pengetahuan yang tidak menyelamatkan.

Yang pertama adalah hanya sebatas tahu, aware saja. “Oh, agama orang Kristen itu Allahnya Tritunggal. Dia percaya Yesus yang tersalib, Allah yang jadi Manusia.” Itu semua tahu. Ya, kalau belajar agama, setidaknya dengar Injil, mereka tahu, bisa tahu dan bisa masuk logika. Tetapi, kalau sebatas tahu saja, kita tidak sesuai dengan definisi yang Yesus jelaskan di dalam mengenal Allah dan Yesus Kristus ini. Kenapa? Kita tahu saja. Misalkan, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saat ini, presiden negara Indonesia siapa? Kita tahu kan? Semua orang Indonesia tahulah, yang dengar berita, ya, kecuali yang di pedalaman, ya, nggak tahu. Kita tahu. Oh, Bapak Prabowo presidennya. Wakil presidennya adalah Bapak Gibran. Tahu kan? Tetapi, apakah betul-betul mengenal pribadinya? Kira-kira hobinya Bapak Prabowo apa? Ya, mungkin tahu juga berdasarkan informasi. Nah, nanti itu adalah pengetahuan jenis yang lain kalau berdasarkan penelitian, informasi, riset, dan lain-lain, ya. Itu bukan pengetahuan yang menyelamatkan. Kita cuma tahu negara Indonesia ini dijajah oleh Belanda ratusan tahun. Kita sudah tahu semua, tetapi apakah betul-betul mengalami sungguh-sungguh dan juga mengenal sungguh-sungguh apa yang kita tahu itu? Tidak. Nah, pengetahuan yang sebatas tahu, bukan sebuah pengetahuan yang menyelamatkan.

Yang kedua adalah pengetahuan yang abstrak. Ya, misalkan, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita kalau di sekolah, zaman dulu, masih mau berkenalan dengan teman sekolah, kita tulis biodata kita. Saya masih ingat menulis di kertas loose leaf. Loose leaf, suatu kertas yang bisa kita bagikan, tulis biodata, tukeran biodata. Terus, kita sudah dapat nih. Teman-teman kita banyak biodatanya. Kita tahu, oh, namanya ini, hobinya ini, terus warna favoritnya ini dan lain-lain, ya. Kita sudah tahu biodatanya. Nah, itu adalah pengetahuan yang abstrak. Jadi, pertama adalah sekedar tahu. Yang kedua adalah pengetahuan yang abstrak yang kita tahu dari social media-nya. Nah, biasa ini, ya, kalau para pemuda-pemudi sudah merasa bahwa, “Kayaknya tidak ada pasangan hidup yang cocok di mata saya yang bisa lihat.” Akhirnya, mulai searching-searching social media. Kayak sudah putus asa, ya. Kita nggak ada yang kita cocok. Nggak ada yang kita suka di gereja kita, di rumah kita, di tempat kerja kita, di komunitas kita. Akhirnya, scrolling-scrolling social media. Nah, itu adalah pengetahuan. Kita tahu, ”Oh, ini nih dia follower-nya berapa, dia subscribe apa saja, dan lain-lain, ya. Lalu, bahkan sampai masuk ke aplikasi online berpacaran. Ya, preferensinya ada. Pokoknya cari yang Kristen. Umurnya berapa? Terus, hobinya apa? Tinggalnya di mana nih? Ada range-nya sendiri dan lain-lain, ya. Terus kemudian, ya, kita tahu. Kita kenal orangnya kok, tetapi belum pernah ketemuan. Itu adalah abstrak. Itu pengetahuan yang abstrak dan kalau kita mengenal Allah secara abstrak, kita tahu nih teliti Alkitab, tahu Allah itu Mahatahu, Maha Berdaulat dan lain-lain itu juga tidak menyelamatkan. Banyak pengetahuan tentang Allah yang tidak menyelamatkan. Hanya sebatas tahu, hanya sebatas abstrak. Kita pelajari saja, tetapi tidak menyentuh kehidupan personal karena tidak ada relasi dengan Allah sendiri.

Lalu yang ketiga adalah pengetahuan yang eksistensial. Ini masih lebih mending ya, yaitu berdasarkan apa? Eksistensial berarti eksis kan ada ya, berarti kita mengalami pengenalan akan Allah itu sendiri. Nah, tadi ya kita mendengarkan suatu pujian yang begitu indah, harapannya dari tim paduan suara dari Vikaris Lukman adalah kita bisa melihat keindahan dan keagungan Allah yang mengatur sedemikian rupa bagaimana musik begitu bunyi itu kita rasa harmonis, indah ya, dan juga merasakan ketenangan yang begitu dari Tuhan sendiri. Ada keteraturan, keindahan, kekompakan, kedisiplinan yang kita bisa lihat ketika waktu paduan suara itu memuji Tuhan dan akhirnya mendorong kita juga untuk terus memuji Tuhan karena keindahan Tuhan yang kita boleh alami. Nah, waktu kita mengalami keindahan Tuhan, maka itu adalah pengetahuan eksistensial.

Hari ini ya tadi saya naik KRL dari Solo ke Yogyakarta, tumben sepi gitu ya. Tumben sepi, biasanya ramai terus. Oh iya karena baru berpuasa, terus saya ngobrol sama Gojek ya. Terus dia katakan, “Iya kalau masih ini baru 11 hari atau 10 hari gitu puasa masih sepi. Nanti mulai hari ke-20, nah mulai ramai tuh ya. Hari ke-20 mulai aktivitas semakin rutin semakin biasa.” Dan kalau kita melihat realitas yang demikian, oh berarti orang itu ada suatu adat, kebiasaan, tradisi yang mereka rela untuk tidak pergi-pergi dan akhirnya berdoa. Berpuasa kan berarti berdoa kepada Tuhan, mendekat kepada Tuhan. Oh, itu indah ya. Bagaimana pada akhirnya kita tahu bahwa kita tuh butuh Tuhan. Tapi apakah pengetahuan yang eksistensial itu bisa menyelamatkan juga? Semua orang di Indonesia tuh tahu ada tradisi puasa. Bahkan di dalam kita memperingati kematian maupun kebangkitan Kristus pun ada gereja-gereja tradisi juga ya, Rabu-Abu dan lain-lain berpuasa. Kita tahu semua pengetahuan itu tetapi apakah betul-betul kita hidupi? Apakah betul-betul pada akhirnya mengubah hidup kita? Oh ya saya makin mau mencari Tuhan? Belum tentu.

Waktu kita lihat kebun binatang ya, para pemuda beberapa waktu yang lalu, ayo kebersamaan di kebun binatang di Yogyakarta. Melihat keindahan binatang, hewan, terus bagaimana manusia mengatur habitat dari hewan-hewan yang ada, kita bisa mengatakan, “Oh, ciptaan Tuhan itu indah.” Langit menceritakan kemuliaan Allah. Cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya dan lain-lain, ya, tapi apakah pengetahuan tentang Allah yang secara eksistensial kita alami itu pada akhirnya bisa menyelamatkan kita juga kalau hanya sebatas kita demikian? Tidak juga ya.

Bahkan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, pengetahuan tentang Allah yang akhirnya kita hanya belajar saja ya tentang Allah itu sendiri, OK, pokoknya waktunya belajar firman, kita belajar sudah tahu tentang cerita Alkitab. Nah, waktu pelayanan di sekolah-sekolah di sekitar Solo ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ada seorang guru itu cerita tentang bagaimana dia mengajar anak SMP di sana. Dan guru ini memang agak iseng ya. Agak iseng tuh gini ya maksudnya ya, pengen ngetes anak-anak ini misalkan tahu nggak cerita tentang anak yang hilang ya, anak bungsu, anak sulung tahu nggakNggak tahu, sudah SMP nggak tahu ya. Terus Tuhan kasih tulah di Mesir lewat Musa itu berapa tulah sih? Dua ya atau tiga gitu ya? Nggak tahu juga, banyak nggak tahu gitu ya. Banyak nggak tahu ya, tapi setidaknya anggap dia sungguh-sungguh berelasi dengan Yesus sekalipun tidak tahu cerita itu, ya, dia tetap bisa ya berkenan di hadapan Tuhan. Setidaknya ya mungkin baru awal-awal saja, tapi kalau sudah lama jadi Kristen masih nggak tahu juga berarti kan nggak baca Alkitab. Tetapi kalau kita yang sudah tahu ceritanya, tahu cerita anak bungsu, anak sulung, tentang tulah di Mesir, tentang Daud dan Goliat, tentang apalagi ya, Samuel dan lain-lain, apakah pengetahuan itu kalau betul-betul tahu saja akhirnya membawa kita kepada keselamatan? Ya, realitanya adalah banyak dosen teologi juga ternyata belum lahir kembali, belum percaya Yesus sungguh-sungguh.

Berarti apa, Bapak, Ibu sekalian? Pengetahuan itu kalau hanya kita tahu saja lalu kita tidak meresponinya dengan hati yang menyembah kepada Tuhan, dengan hati yang mau berelasi kepada Tuhan, dengan doa kita kepada Tuhan, itu tidak menyelamatkan. Nah, firman Tuhan ini mengajarkan kita bukan saja kita betul-betul mengalami Tuhan, Tuhan ngomong sama kita. Itu firman Tuhan kenapa menjadi sentral pusat dari ibadah orang Kristen karena kita percaya lewat khotbah dari seorang hamba Tuhan yang baik, yang sesuai dengan Alkitab, kita percaya bahwa Tuhan sedang bicara kepada kita semua masing-masing di tempat ini secara personal bahkan. Gambaran besarnya kita tahu, “Oh, si Bapak Pendeta ini khotbah apa?” Tapi ada personal yang Tuhan ingin ngomong kepada kita. Nah, itulah yang kita cari juga. Dan ketika kita cari apa kehendak Tuhan, apa maksud Tuhan dalam hidup saya, itu kita sedang berelasi dengan Dia. Tapi kalau hanya sebatas sebagai pendengar, saya ini penonton, saya ini dosen penguji misalnya, saya mau dengar saja khotbahnya, nggak akan, nggak ada relasi dengan Tuhan. Itu sia-sia. Itu hanya pengetahuan yang kita tahu saja secara kognitif.

Bukan berarti pengetahuan itu tidak penting, tetapi kalau kognitif saja tidak masuk ke dalam hati yang menyembah, hati yang berelasi kepada Tuhan itu menjadi kurang. Maka ada yang menggambarkan ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, perjalanan terjauh itu bukan dari ujung Timur bumi ke ujung Barat ya atau bagaimanalah ya perjalanan terjauh itu. Perjalanan terjauh adalah dari otak kita ini ke hati kita. Itu paling jauh. Ya, kita bisa tahu banyak hal, tahu firman Tuhan, tahu Alkitab, tapi nggak pernah berelasi dengan Tuhan, nggak pernah mau mengenal Tuhan sungguh-sungguh dan mengenal siapakah Yesus Kristus, kita tidak memiliki hidup yang kekal. Meskipun pengetahuan begitu penting, tetapi kalau pengetahuan itu tidak kita olah atau tidak disertai oleh Tuhan juga sehingga kita boleh semakin memiliki hati yang menyembah, ya, maka pengetahuan itu juga kurang, tidak sempurna.

Lalu yang dimaksudkan dengan hidup kekal itu apa? Mengenal Yesus dan mengenal Allah yang sejati itu apa? Wah, ini adalah suatu hal yang sulit kita pahami. Ini adalah suatu pekerjaan ya, dan kita tahu untuk melakukan pekerjaan mengenal Allah yang sejati dan mengenal Yesus Kristus itu apakah kita bisa melakukannya sebagai manusia berdosa? Kita harus ingat total depravity. Kita tuh sudah mati rohani. Apakah bisa mengenal Allah yang sejati? Apakah bisa percaya kepada Yesus Kristus? Jawabannya tidak bisa! Berarti hidup kekal itu tidak bisa kita usahakan, tidak bisa kita peroleh dengan kehebatan kita, dengan pengetahuan kita, nggak bisa. Jadi apa hidup kekal yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus? Yaitu ketika Roh Kudus bekerja dalam hati seseorang dan akhirnya mengubahkan kehidupan seseorang tersebut, memberikan hidup kekal dan kebenaran dari Allah kepada orang tersebut.

Jadi hidup kekal itu apa? Kita minta Tuhan bekerjalah dalam hati saya yang penuh dengan dosa ini supaya saya menemukan kebenaran tentang Allah dan juga mendapatkan keselamatan. Hidup kekal bicara memohon Allah bekerja dalam hati kita. Tuhan saya ingin sungguh-sungguh mengenal Engkau tapi saya tahu bahwa saya tidak bisa mengenal Engkau dengan usaha saya sendiri. Harus dari inisiatif dan anugerah Allah. Dan di sini Yesus memberikan jalan agar kita menerima pengetahuan tentang Allah yang menyelamatkan, yaitu apa? Minta relasi dengan Tuhan. Minta sungguh-sungguh kita tuh kenal Tuhan. Kita berelasi dengan Tuhan bukan hanya sebatas tahu tentang Tuhan, tapi betul-betul berelasi dan mengalami Tuhan.

Nah, kata mengenal di sini ya di dalam Yunaninya adalah Ginosko, Itu bukan hanya pengetahuan intelektual, tetapi suatu pengetahuan yang menjadi relasi intim dengan Allah sendiri. Maka kita sebagai orang Reformed, kita tahu ya istilah ini, kita diselamatkan itu karena kesatuan dengan Yesus Kristus atau union with Christ. Kenapa kita bisa diselamatkan? Kenapa dosa kita bisa dihapus oleh Yesus Kristus? Karena Yesus menikah secara rohani dengan kita. Karena Yesus kudus, Dia dapat menghapuskan seluruh dosa kita dan ikatan ini yang membuat kita memiliki hidup yang kekal yang pasti di dalam Tuhan. Ini adalah suatu hal yang begitu indah. Mengenal berarti berelasi secara intim. Inilah persekutuan yang mengubahkan hidup kita dan juga menyelamatkan hidup kita. Jadi, ada sebuah relasi yang intim.

Nah, kemudian saya pikir-pikir, ya, relasi yang intim itu apa sih? Harus ada apa sih untuk menunjukkan keintiman? Nah, relasi yang paling intim di antara seluruh manusia kita tahu, ya, yaitu di dalam pernikahan. Karena apa? Karena kita bisa telanjang, tapi tidak malu. Ya, kita bisa telanjang di hadapan pasangan kita, tapi nggak malu karena apa? Jadi, bukan karena telanjangnya, ya, itu membuat intim, ya. Banyak negara-negara yang suka telanjang di depan umum, ya. Tapi apakah membuat mereka itu intim? Akhirnya banyak susah juga, banyak pertengkaran, perceraian juga, padahal sudah telanjang-telanjang gitu, ya, secara fisik. Tapi, kenapa kita telanjang dan tidak malu? Karena saya dan dia itu satu visi. Saya terbuka, saya jujur, saya tidak ada yang ditutupi. Itulah kenapa kita mengatakan itu relasi yang paling intim di antara seluruh manusia, antara orang tua dan anak, ya nggak enak juga kan telanjang-telanjang gitu, ya, tidak terbuka. Tetapi sebagai suami istri itu, ya, karena dua jadi satu, Alkitab mengatakan dari dua visi yang berbeda atau dua pemikiran yang berbeda menjadi satu itu adalah intim, ada kesatuan. Berarti intim apa? Keterikatan yang penuh dengan kerelaan. Ya, kita bisa intim dengan seseorang karena apa? Kita bisa jujur, kita terbuka dengan orang tersebut. Ada trust, ya. Ada trust, secara emosi kita aman, kita ada komitmen, kita ada penerimaan, itu namanya intim. Bukan bicara kuantitas misalkan, ya, kuantitas waktu kita sering ketemu, intim nih sering ketemu gitu, ya? Tidak. Intim itu ada keselarasan dari hati.

Bapak, Ibu, sekalian, saya memiliki beberapa teman itu kayaknya intim sih, ya, tapi tidak selalu ketemusetahun sekali paling ketemu sekali atau dua kali tiga kali, tetapi kita itu punya koneksi. Intinya apa? Setiap berapa lama sekali dia yang kontak saya atau saya yang kontak dia. Dan ujung-ujungnya ngapain? Bukan soal bisnis, bukan soal pelayanan, dia juga beda gereja seperti itu, ya. Hanya ngobrol makan bersama, menikmati hidup, sharing kehidupan. Itu ada suatu hal yang intim. Tapi apakah sering ketemu? Tidak. Susah, ya. Beda visi kan. Dia di gereja lain, saya di GRII. Tapi, ada keseragaman, ada keselarasan, ya. Kita harus back to the Bible, kita harus juga bekerja bagi kerajaan Allah, kita mau saling support, saling mendoakan, dan lain-lain. Itu intim, ya. Tetapi ada juga yang terus bersama bukan intim, bertengkar terus, beda visi dan lain-lain, ya. Itu adalah suatu relasi yang muncul.

Nah, di dalam Alkitab hidup kekal itu menggambarkan relasi yang intim dengan Allah. Kita satu dengan Allah, kita pasti dapat hidup yang kekal. Tapi kalau kita berpisah dengan Allah, pasti tidak dapat hidup yang kekal. Itu suatu logika yang sederhana. Kalau kita tidak bersama dengan Allah, bagaimana kita mau masuk surga? Yang tidak bersama dengan Allah, ya masuk neraka, yaitu setan, Iblis, roh-roh jahat dan orang-orang yang menentang Allah. Itu sudah normal dalam konteks peperangan, ya. Yang tidak bersama dengan komandan, berarti musuhnya komandan, pemimpin perang itu sendiri, ya. Itu dalam suatu hal yang kita bisa lihat bahwa relasi itu penting, ya, bagaimana kita mengenal.

Mengenal juga adalah dalam Alkitab itu suatu bahasa kovenan atau perjanjian, ya, yang merupakan eksklusivitas. Kita kenal seseorang itu berdasarkan pengenalan kita sendiri dengan orang tersebut, ya. Ini adalah suatu ikatan perjanjian dari Allah sendiri. Dan kita lihat bahwa mengenal siapa? Satu-satunya Allah yang benar. Nah, ini, ya, beberapa minggu lalu saya khotbah tentang Allah yang esa, Allah yang esa berarti hanya ada satu. Kalau ada satu Allah, ya, kita pikir kan di dalam konteks pemikiran agama-agama di Indonesia, Allahnya satu, betul. Tapi, jalannya ada banyak. Jadi, agama apa saja nggak masalah, ya, karena sama kok menuju Allah yang sama, ya. Masalahnya, Allah yang satu itu apakah memberikan jalan yang begitu banyak kepada manusia sehingga kita bisa tetap akses Allah itu lewat jalan yang lain atau jalan buatan kita sendiri. Nah, jawabannya adalah tidak, kan. Kalau kita lihat Alkitab, satu-satunya jalan adalah Yesus Kristus menuju kepada Allah yang sejati. Berarti Allah itu hanya bisa diakses oleh Yesus Kristus di dalam Yesus Kristus, ya. Yesus sudah menyatakan khotbah-Nya sebelum doa ini, Dia adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran, dan satu-satunya hidup. Maka dari itu kita bisa lihat, kenal Allah yang sejati itu betul-betul hanya melalui Yesus Kristus saja, bukan melalui jalan-jalan yang kita buat sendiri, yang kita anggap benar. Pokoknya tujuannya sama, cuman caranya berbeda. Tidak! Tujuannya satu Allah yang sejati itu jalannya juga hanya satu Allah yang sejati itu. Jalan yang diberikan oleh Allah, bukan jalan yang dibuat oleh manusia, ya. Maka dari itu kita bisa lihat begitu kental bagaimana tentang hidup kekal yang diungkapkan Yesus Kristus di dalam doa-Nya kepada Allah.

Dan selanjutnya adalah mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Jadi, kehidupan kekal tidak bisa dilepaskan dari Yesus Kristus. Maka pusat dari kehidupan kekal juga adalah Pribadi dan karya Yesus Kristus. Maka dari itu Bapak, Ibu, sekalian, ya, kita harus bersyukur sekali lagi kalau kita mengingat keselamatan yang Tuhan berikan. Kalau keselamatan yang Tuhan berikan itu betul-betul tidak mungkin manusia peroleh, tapi kita bisa terima, wah, itu adalah anugerah yang begitu besar buat kita. Kita nggak mungkin mendapatkannya. Kita pun tanpa kebenaran dari Tuhan sendiri tidak mungkin menemukan kebenaran, kita pasti binasa, tetapi kalau Tuhan Yesus mau menyatakan diri-Nya lewat Roh Kudus yang melahirkembalikan hidup kita sehingga kita mengenal kebenaran Allah, itu adalah anugerah yang begitu besar yang harus kita syukuri setiap hari.

Setiap hari kita bersyukur atas anugerah keselamatan yang Tuhan berikan. Itu adalah ucapan syukur yang tidak akan bisa dicabut atau diambil oleh siapa pun di dalam kehidupan kita. Maka di dalam setiap penderitaan dan kesedihan dan pergumulan hidup kita, Bapak, Ibu, sekalian, ya, ada satu sukacita yang terus bisa muncul dalam hidup kita, yaitu apa? Saya itu punya Yesus Kristus. Saya sudah diikat dengan janji yang begitu kokoh dan tidak bisa dipatahkan oleh siapa pun, yaitu janji keselamatan atau janji hidup kekal di dalam Yesus. Maka kitab Roma mengatakan bahwa tidak ada hal apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Maka ini menjadi suatu penghiburan yang begitu besar ketika kita merenungkan hidup yang kekal.

Nah, pertanyaan bagi kita adalah Bapak, Ibu, sekalian, apakah kita selama ini menjadi orang Kristen, ya? Apakah kita hanya tahu saja tentang Allah atau sungguh-sungguh memiliki relasi yang intim dengan Dia? Ya, di dalam kehidupan kita, perenungan kita, kita selalu berelasi dengan Allah, ngomong dengan Allah. Nah, kita tahu bahwa kita juga tidak bisa sembarangan ketika kita bicara kepada Allah atau pun meresepsi pemikiran yang kita renungkan apakah ini berasal dari Tuhan, ya, apakah sesuai dengan Firman Tuhan. Maka dari itu penting sekali kita betul-betul belajar Firman Tuhan supaya menjaga kita di dalam relasi yang benar dengan Allah. Jangan sampai kita berelasi dengan Allah itu secara salah. Nah, kuncinya dengan apa? Dengan Firman Tuhan. Maka dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen itu, kita sangat disiplin rohaninya tuh melampaui dari orang-orang yang punya disiplin rohani begitu besar. Agama-agama lain maksudnya, ya. Kalau agama-agama lain bisa ketat pokoknya 40 hari puasa misalnya, ya, kemudian sehari doa lima kali, kita juga mungkin bilang kami juga doa lima kali. Doa bangun tidur, makan pagi, makan siang, makan malam, doa sebelum tidur, itu lima kali juga, ya. Tapi apakah dangkal seperti itu, Bapak, Ibu, sekalian? Tidak. Kita itu bisa setiap saat mengakses Tuhan karena Dia satu dengan kita. Kita bisa berelasi dengan Tuhan, kita bisa memikirkan Tuhan, itulah hidup yang menuhankan Tuhan.

Kita terus rasa Tuhan bekerja, dan ketika realitas terjadi, ketika kita bertemu dengan orang, ada subconscious ya, alam bawah sadar kita terus berkoneksi dengan Tuhan. Maka Paulus katakan bahwa berdoalah senantiasa. Jangan berhenti berdoa. Itu berarti apa? Kita terus berelasi dengan Tuhan, ingin tahu rencana Tuhan dan kehendak Tuhan. Ini poin pertama Bapak, Ibu sekalian ya. Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengenal Allah secara intim? Kita punya tindakan-tindakan khusus yang kita lakukan, kita persembahkan kepada Tuhan. Secara personal loh ya, bukan secara komunitas gereja saja. Nah, kiranya kita boleh terus tambahkan ya  kecintaan kita untuk terus memelihara relasi dengan Tuhan.

Yang kedua, ya poin kedua yang kita bahas adalah keselamatan itu berdiri di atas karya Yesus yang sudah selesai. Ini ayat yang keempat, ya Yoh. 17:4 di situ dikatakan “Aku telah mempermuliakan Engkau Bapa di bumi ini dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya.” Kehidupan Yesus adalah kehidupan yang sudah selesai di bumi ini. Dia tidak perlu lagi dibumi ini. Dia cukup 33,5 tahun hidup, living in the presence of God. Sungguh-sungguh taat sepenuhnya kepada Bapa di surga demi apa? Demi kemuliaan Bapa dan kasih-Nya kepada Bapa. Dan selanjutnya yang kedua adalah demi kasih-Nya kepada umat-Nya atau orang-orang yang mau percaya kepada Yesus Kristus.

Ya pertama-tama kita bisa melihat Allah itu ya, mengutus Yesus Kristus dan Yesus Kristus juga yang Pribadi yang kedua yang berbeda dengan Bapa di Surga, Dia mau taat itu, Dia menyelesaikan karya keselamatan di atas kayu salib itu semata-mata yang pertama itu karena Allah sendiri, ya. Nah ini mendorong kita supaya tidak terlalu kegeeran sebagai orang Kristen, ya. Wah, Tuhan Yesus mau mati bagi saya, saya yang utama, tidak. Yang utama tetap Allah karena Yesus mati itu karena ketaatan-Nya kepada Bapa di surga demi kemuliaan Bapa disurga. Itu yang pertama, yang kedua barulah karena kasih-Nya kepada kita. Sehingga kita tidak boleh terlalu kegeeran bahwa kita itu sungguh-sungguh dikasihi Yesus bahkan hidup kita itu lebih penting daripada hidup Yesus maka Yesus mati buat kita, tidak boleh demikian. Yah, kita tidak boleh merendahkan Yesus Kristus dan meninggikan kita karena kita sudah dikasihi oleh Yesus, ya.

Nah baru-baru ini, Bapak, Ibu sekalian ya, saya sedang saat teduh juga dengan buku Pdt. Anton ya, mengenai penderitaan Kristus yang merenungkan penderitaan Kristus selama 40 hari. Nah, dari buku itu saya belajar sungguh-sungguh tentang Yesus Kristus itu, Dia begitu mengalami banyak penderitaan. Lahir saja sudah ditolak banyak orang, mau dibunuh lagi sejak bayi ya, sejak kecil, anak kecil, dan Yesus Kristus itu mengalami kesulitan sebagai manusia ya, karena Dia terbatas, Dia menderita begitu luar biasa. Tapi uniknya, Yesus Kristus itu tidak berdosa. Berarti dia terus taat kepada Bapa di sorga dan kitab Filipi mengatakan Yesus itu menyelesaikan pekerjaan-Nya secara sempurna bahkan mati. Ya, taat sampai mati di atas kayu salib. Jadi Dia punya kehidupan yang terus memuliakan Bapa di sorga. Ya dan Dia taat sampai selesai.

Nah, ini, bukankan ini adalah suatu hal yang agung Bapak, Ibu sekalian, ya? Yesus taat ya, sekalipun menderita. Ini namanya pengorbanan ya. Sekalipun kita punya banyak kesulitan dan penderitaan tapi kita mau taat. Tapi bukan saja Yesus taat dengan penuh dengan penderitaan tapi Dia menyelesaikannya dengan baik, dengan pertolongan dari Bapa di Surga sendiri ya, karena Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Dia begitu banyak menderita. Dia dicobai oleh iblis, Dia dikhianati oleh orang yang dipanggil-Nya sebagai rasul, ya, kemudian Dia tersendiri, Dia begitu sakit menderita di atas kayu salib. Dan kalau kita, ilmu pengetahuan menggambarkan ya, tentang hukuman salib itu betul-betul menderita. Ya, bagaimana seseorang itu digantung, digantung berarti apa? Tidak berdaya. Terus ada yang gambarkan juga, oh mungkin betul-betul secara telanjang tidak ada kain yang menutupinya. Tapi yang pasti, itu adalah dipermalukan di depan umum, ya. Bagaimana kita dipermalukan di depan umum, Yesus sudah mengalami. Bagaimana Yesus sakit sekujur tubuh-Nya, ya, karena menahan berat badan-Nya dan ketika hentakan nafas Dia bernafas, di atas kayu salin itu seluruh badan-Nya juga sakit karena bergerak, ya, karena pakunya juga dan yang lain-lain. Ya, bagaimana Yesus betul-betul menderita tetapi Dia senantiasa taat menyelesaikan seluruh pekerjaan dari Bapa.

Nah, Bapak Ibu, sekalian merasa aneh nggak? Yesus itu berdoa, Dia mengatakan bahwa, “Aku telah mempermuliakan Engkau dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku.” Yesus belum disalib, ini Yesus menjelang disalib. Tapi Yesus dikatakan, “Aku telah mempermuliakan Engkau, Aku telah menyelesaikan semua pekerjaan.” Ini berarti apa? Ini adalah suatu niat, ya kepastian, janji yang Yesus katakan pada Bapa di surga, “Aku pasti menyelesaikan salib.” Sekalipun Dia belum disalib. Ini suatu kepastian, suatu keberanian dari Yesus Kristus bahwa ini nubuatan dari Yesus Kristus, “Aku pasti selesaikan salib itu meskipun salib itu begitu berat Aku akan selesaikan.” Ini adalah kepastian tentang karya keselamatan yang akan diselesaikan Yesus di hadapan Bapa di surga. Karena apa? Ketaatan kepada Bapa di surga dan keyakinan Yesus, Bapa di surga pun akan menolong dan menyertai.

Taat, ya Bapak, Ibu, sekalian ya, ketika kita merenungkan suatu istilah taat ini meskipun cuman empat huruf, pendek ya, tetapi perjalanannya itu seumur hidup dan sulit untuk dilakukan. Kemarin ya, Bapak, Ibu, sekalian di OSG di Solo itu, kita sempat bahas soal prioritas hidup, terus kemudian masuk bagaimana kita akhirnya mengatur hidup kita sampai diskusi tentang hukum Taurat yang ke-empat. Yaitu apa? Mengingat dan menguduskan hari Sabat. Kita bersyukur ya kalau kita di hari Minggu puji Tuhan tidak ada pekerjaan yang mengharuskan kita untuk bekerja sampai meninggalkan ibadah di gereja Tuhan. Kita harus bersyukur, tapi ada kondisi-kondisi tertentu orang-orang lain di sekitar kita itu hari Minggu harus bekerja dari pagi sampai malam sampai menghilangkan waktu untuk menguduskan hari Sabat. Bagaimana kita meresponinya? Mau taat tapi kerjaan dari pagi sampai malam, bagaimana, susah? Susah. Terus kemudian orang itu berpikir, wah, saya cuman bisa kerja ini juga. Ya, saya harus, berarti apa? Tidak bisa mengkhususkan satu hari untuk Tuhan. Nah orang itu juga berpikir “Ya udahlah hari lain aja ada PA, ada persekutuan, itu jadi hari Sabat sama aja lah.” Lho. Kalau semua hari sama, Bapak, Ibu sekalian nggak perlu hukum ke-empat. Hari yang ada dalam seminggu itu ada satu hari yang Tuhan berkati, Tuhan kuduskan di mana Tuhan juga berhenti bukan istirahat ya. Ada juga diskusi ya, di OSG itu, “sudah lah kita tuh hari Minggu tuh nggak usah ke gereja.” “Kenapa?” “Tuhan kan lagi istirahat, nanti kita ganggu lho. Kita ganggu Tuhan loh, kalau kita datang ke gereja, doa ke Tuhan, ngomong ke Tuhan, kita ganggu Tuhan. Tuhan lagi istirahat, capek Tuhan”, gitu ya. Itu saya bilang, wah, itu cari-cari alasan aja sudah supaya tidak menguduskan hari sabat, gitu ya. Karena kita tidak mau ganggu Tuhan yang lagi istirahat. Loh, Tuhan itu selalu bekerja kok, setiap detik itu Tuhan bekerja.

Nah di hari Minggu Tuhan ngapain? Ya, Tuhan mengkhususkan hari ini. Ya ini pekerjaan yang beda. Tuhan kuduskan hari ini, ya sampai kalau secara kalender internasional tanggal merah kan? Kalau kita lihat seminggu ada tanggal merah ini ada tanda-tanda apa ya? Oh Tuhan mengkhususkan hari itu supaya apa? Supaya kita bisa datang beribadah kepada Tuhan. Nah, waktu kita belajar untuk taat saja, hukum Taurat ke-empat banyak alasan. Susah loh taat itu ya. Apalagi hukum-hukum yang lain. Di hukum ke-empat itu Tuhan kasih berkat lebih. Di hukum ke-lima ya hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut usiamu di tanah yang Tuhan berikan kepadamu. Tuhan kasih iming-iming ya. Kasih iming-iming, kasih reward. Kamu taat Aku berkati. Kita nggak taat juga. Kita lupakan orang tua, kita tidak doakan orang tua, kita tidak peduli, kita tidak hormat orang tua. Bapak, Ibu sekalian, taat itu susah. Tetapi kita bisa lihat Yesus selesai taat. Itu betapa besar perjuangan Yesus ya demi kita, Yesus mau taat.

Saya sempat menonton video Bapak, Ibu sekalian ya. Ada seorang ayah mengajarkan anak gadis perempuannya. Nah ayah tersebut itu bilang, “Kamu naik ke atas kursi ini. Kamu naik atas kursi ini.” Terus kemudian kita pegangan tangan, ya. Terus si ayah itu mengatakan, “Tarik saya.” Terus dia coba tarik. Wah, anak gadis perempuannya ini tarik. Wah, nggak bisa, susah, berat. Nah, sekarang giliran saya, saya tarik kamu ke bawah. Langsung jatuh anak perempuan itu, ya, anak remaja perempuan tersebut. Terus pesan moralnya apa? Lebih mudah jatuh ke bawah daripada naik atau membawa orang ke atas. Ya, lebih mudah tidak taat daripada taat. Terus si ayah tersebut mengajarkan bahwa sekarang kami ini sudah didik kamu baik-baik sebagai anak perempuan ya. Dikasih nilai-nilai yang benar, kamu harus jaga kesucian, kamu harus punya pergaulan yang baik, kamu harus menjadi anak perempuan yang mengasihi Tuhan. Anggap gitu ya. Itu menaikkan derajat atau kerohanianlah atau standar pikiran moral yang baik kepada perempuan di atas. Terus ada anak laki-laki hidung belang ya yang bad boys katanya ya karena perempuan sukanya bad boys katanya ya yang kelihatan nakal tengil gitu ya tapi nggak pernah ke gereja dan lain-lain. Ketika berelasi dia akan lebih mudah tarik engkau ke bawah daripada engkau narik dia ke atas.

Wah dari ilustrasi ini sederhana bahwa taat itu susah. Kita bawa kita taat sendiri saja susah kok. Apalagi bawa orang untuk taat kepada Tuhan itu lebih berat lagi. Itu perlu pekerjaan yang lebih ekstra lagi. Tapi Yesus, Dia taat. Ada orang yang menarik Dia ke bawah, iblis menarik Dia ke bawah Dia nggak kalah. Dia bahkan bisa membawa orang untuk taat kepada Bapa di surga. Inilah teladan yang Yesus kerjakan. Dia taat secara aktif, Dia taat juga dengan segala penderitaan yang dia alami. Itulah Tuhan Yesus Kristus kita ya.

Dan poin tiga yang terakhir Bapak Ibu sekalian ya. Tujuan akhir dari segala sesuatu adalah kemuliaan Allah ya. Di ayat yang ke-lima kita lihat. “Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah aku padamu sendiri dengan kemuliaan yang kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” Yesus berarti menyatakan bahwa dirinya sudah ada sebelum dunia ada. Ini pra-eksistensi Yesus Kristus. Yesus juga punya kemuliaan. Dan di sini Yesus mengatakan bahwa “permuliakanlah aku padamu sendiri dengan kemuliaan yang kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” Berarti Yesus sebelum jadi manusia, sebelum dilahirkan di dalam kehidupan di bumi ini, dia sudah ada dan penuh dengan kemuliaan. Kemuliaan Allah adalah bagaimana Tuhan menunjukkan Yesus itu diutus ke dalam dunia ini.

Mau tahu kemuliaan Allah, Bapak, Ibu sekalian? Lihatlah Yesus Kristus. Di dalam Yesus Kristus ada kemuliaan Allah. Kita bergumul apa itu kemuliaan Allah? Kenallah Yesus Kristus. Pasti kita tahu ini kemuliaan Allah. Allah yang telah berkorban bagi kehidupan kita. Sehingga kehidupan kita, Bapak, Ibu sekalian, orientasi hidup kita ya adalah untuk kemuliaan Allah. Jadi waktu kita memutuskan segala sesuatu ya pergumulan ya. Meskipun Pdt. Stephen Tong itu kasih hal yang unik ketika kita bicara soal menggumulkan keputusan masa depan atau kehendak Tuhan masa depan itu apa sih dalam hidup saya? Sederhananya kan teologi reformed mengatakan apakah itu memuliakan Allah atau tidak? Apakah lebih memuliakan Allah atau sedikit memuliakan Allah? Yang kita pilih adalah yang memuliakan Allah, yang lebih memuliakan Allah. Itu yang kita pilih di dalam pergumulan ambil keputusan ya. Tapi Pak Tong itu sangat unik, sangat praktis. Dia katakan bahwa kalau kita bergumul sesuatu, Bapak, Ibu sekalian, ya, dan itu adalah hal yang baik dua-duanya, kita tidak usah bergumul kalau hal itu buruk, ya. Langsung tolak saja yang buruk, ya, terima yang baik. Tapi kalau ada dua-dua hal baik nih, mungkin kita dapat kesempatan beasiswa di China atau di Australia ya, kita ada kesempatan kuliah lagi. Ibarat seperti itu ya. Lalu Pak Tong katakan satu tips bahwa kalau kamu sedang bergumulkan kehendak Allah, cari yang paling susah, cari yang paling berat ya. Supaya apa? Cari yang paling susah, cari yang paling berat, cari yang betul-betul tidak ada unsur keegoisan diri, ya. Wah, berarti kita harus pilih yang paling berat, paling susah gitu ya. Wah, susah sekali ya. Misalkan antara pelayanan A dan pelayanan B, cari yang susah. Bayangkan ya. Itu mungkin kehendak Allah, itu mungkin pimpinan Tuhan.

Kalau kita, Bapak, Ibu sekalian yang dikasih pilihan, cari yang mana? Yang mudah. Karena apa? Karena hati kita itu lemah, gitu ya. Nah, kemudian ketika saya pikirkan, kenapa cari yang susah, yang paling susah, cari yang paling berat gitu ya, cari yang menyenangkan Tuhan lah intinya gitu ya. Supaya waktu kita ambil keputusan itu bukan karena keegoisan maupun demi kesombongan kita. Ya setidaknya itu membuat kita terhindar dari perbuatan dosa. Tapi kalau kita pilih berdasarkan yang saya mau, yang saya rasa nyaman, yang saya rasa senang untuk diri, ya sangat kemungkinan itu mungkin tidak memuliakan Tuhan. Wah, sangat susah ya hidup berorientasi pada kemuliaan Allah.

Nah, dari khotbah ini Bapak, Ibu sekalian, kita merenungkan tiga hal ini ya. Apakah hidup kekal itu? Dan bagaimana hidup kekal didasarkan pada karya Kristus yang sudah selesai di atas kayu salib dan bagaimana pada akhirnya kita hidup untuk memuliakan Allah. Hidup senantiasa memuliakan Allah. Berjuang setengah mati. Justru kehidupan kita yang sementara di bumi ini kita harus habiskan dengan ketaatan demi ketaatan kita di hadapan Tuhan. Ingat ketaatan kita kepada Tuhan itu Tuhan ingat. Tuhan kasih upah ya. Upah kita akan semakin besar di surga jikalau kita terus taat kepada firman Tuhan. Mari kita terus belajar mengenal Tuhan. Jangan jemu-jemu ya belajar firman Tuhan, dengar firman Tuhan, saat teduh jangan jemu-jemu. Itu menjaga kita supaya ketika kita berelasi dengan Tuhan kita nggak salah berelasi. Kita punya sikap hati yang menyembah dengan tepat di hadapan Tuhan dan juga lewat doa Yesus Kristus ini kita diingatkan bahwa doa itu begitu penting.

Ada hamba Tuhan bahkan mengatakan bahwa doa itu ibarat kita itu mengorbankan diri sampai mengucurkan darah. Kalau doa syafaat ya kita doa syafaat tadi ya itu ibarat kita tuh sungguh-sungguh mencurahkan diri untuk melayani Tuhan, mengorbankan diri. Doa itu sangat penting dalam kehidupan kita dan kita harus terus belajar berdoa dan milikilah hati yang senantiasa berkata bahwa Tuhan ajarlah aku berdoa. Ajarlah aku berelasi terus dengan Engkau dan aku ingin memiliki relasi yang intim dengan Engkau. Di dalam relasi yang intim dengan Kristus dan Allah Tritunggal ini, kita sudah pasti dapat hidup yang kekal. Mari kita sama-sama berdoa kepada Tuhan.

Bapa kami yang ada di surga, kami bersyukur untuk teladan dari Tuhan Yesus Kristus yang Tuhan boleh nyatakan di dalam Alkitab. Bagaimana Yesus mengajarkan kami seharusnya berdoa seperti apa. Tuhan Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Kiranya kami boleh merenungkan firman Tuhan, merenungkan bagaimana Tuhan Yesus mengajar kami harus berdoa. Dan Tuhan Yesus juga mempraktikkan doa Imam besar. Bagaimana Yesus bertindak sebagai Imam besar agung kami menjadi Pengantara kami kepada Bapa di surga. Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat kami. Yesus adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran, dan satu-satunya hidup untuk menuju Bapa dan memiliki hidup yang kekal. Ajar kami Tuhan untuk memiliki relasi yang intim dengan Engkau dengan cara-cara yang tepat sesuai dengan kebenaran firman Tuhan saja. Peliharalah iman kami Tuhan. Berikan kami pertolongan. Berikan kami belas kasihan Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, Penebus dan Juru Selamat kami yang hidup, kami sudah berdoa. Amin.