Jadwal Siaran Khotbah 2012
PDT. DR. STEPHEN TONG
Ever try to send an email to God?
Jimmy D. Brown
I found out something. God doesn't answer e-mail. That's right, you can't just send an email to support@heaven.com and expect God to send you a reply. Don't waste your time trying to reach the Lord at administrator@kingdomcome.com, either. SonofGod@promisedland.com? Nope. In fact, you won't be able to get a response from God at ANY e-mail address.
(more...)
Sikap Hidup Bersyukur
Ev. Paul S. Hidayat, S.Th., M.Th.
Rasa syukur adalah perasaan terindah yang dapat dimiliki manusia. Bersyukur adalah puncak sukacita hidup, melebihi nikmat seks, menang undian atau menyaksikan putri diwisuda menjadi sarjana. Tidak ada hal lain dalam kehidupan yang melebihi perasaan aman, hangat, nyaman, suka, karena berada dalam genggaman kuasa kasih karunia. Dari situlah mengalir keluar ungkapan syukur di dalam orang yang di dalam hatinya kasih Allah berdenyut.
Iman yang Kekanak-kanakan
FIRMAN Tuhan dalam 1 Korintus 13:8-13, menolong kita untuk memahami kemam-puan berpikir manusia secara rohani: masih kanak-kanak atau sudah dewasa. Orang yang berpikir kanak-kanak selalu memerlukan simbol (tanda). Bagi kanak-kanak, apakah dirinya disayang papa atau mama, salah satu indikasinya adalah apakah papa-mama suka beli kue? Karena tingkat pertumbuhan rohaninya belum ada maka dia memerlukan simbol yang konkrit dan harus ada wujudnya, barulah dia memahami itu. Jadi berpikir kanak-kanak itu membuat kita terjebak pada simbol-simbol, atau nilai-nilai yang bisa menyenangkan kita.
Kepemimpinan Biblika
Pendahuluan
Setiap generasi memiliki pemimpin yang dibangkitkan Allah untuk memimpin umat-Nya. Kelihatannya tidak pernah dalam sejarah umat Allah tidak memiliki pemimpin. Setiap generasi umat Allah membutuhkan pemimpin yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan konteks historis. Artinya pemimpin bersifat unik. Keunikan masing-masing pemimpin menyebabkan perbandingan kepemimpinan harus dilakukan dengan memperhatikan konteks historis masing-masing. Ringkasnya, seorang pemimpin muncul dalam konteks dan kurun waktu sejarah tertentu. Kegagalan dan keberhasilan pemimpin terikat unik kepada konteks dan periode kepemimpinan. Keberhasilan seorang pemimpin mungkin dianggap sebagai kegagalan oleh generasi berikutnya. Sehingga perbandingan evaluatif kepemimpinan seseorang sebenarnya sulit dilakukan. Perbandingan evaluatif yang dilakukan tanpa memperhatikan konteks historis akan memberikan penilaian bernuansa penghakiman.
Saat Teduh dari Perspektif Theologi Sistematika
Hari ini kita ingin memikirkan dan merenungkan "saat teduh" dari perspektif doktrinal (systematic-theological). Saat teduh sebagai topik doktrinal? Bukankah ini merupakan suatu kekeliruan kategoris? Saat teduh biasanya selalu dibahas dalam Theologi Praktis atau lebih detailnya dalam wilayah Spiritualitas. Hal yang sama meneguhkan hal ini yaitu: boleh dikatakan tidak ada buku theologi sistematis yang membahas mengenai saat teduh, karena itu bukan dianggap wilayah pembahasan doktrinal. Pendapat-pendapat seperti ini tentu saja memang sesuai dengan realita, bahkan juga dalam batasan tertentu dapat dikatakan ada benarnya. Namun, yang tidak benar adalah keterpisahan (fragmentasi) wilayah doktrinal dan wilayah spiritualitas. Ini yang tidak seharusnya diterima oleh orang percaya. Sekalipun benar, keduanya (doktrin dan spiritualitas) memiliki kekhususan wilayah masing-masing, namun bukan berarti keduanya tidak perlu memiliki interaksi satu dengan yang lain. Tidak ada doktrin yang tidak berdampak bagi spiritualitas, demikian juga tidak ada spiritualitas yang tidak memiliki doktrin di dalamnya.
Mengkritisi yang Diurapi
Mungkin judul di atas dianggap tak lazim oleh sekelompok orang. Bagi yang lainnya, berpikir tentang apa yang dimaksud dalam kata yang diurapi. Tapi mungkin ada juga yang dengan segera akan berkata, "Ini tidak benar!" Setiap pendapat terhadap sebuah judul itu biasa, tapi akan menjadi sangat menyedihkan jika tak membaca tuntas. Mari kita mulai dengan kata-kata "yang diurapi", yang sekarang ini sering kali dipakai dalam lingkungan orang Kristen, khususnya menyangkut hamba-hamba Tuhan yang dianggap hebat oleh dan dengan ukuran umat. Istilah lagi ngetop, naik daun, di kalangan para selebritis, ternyata menyelinap ke dalam dunianya pengkhotbah. Sehingga pengkhotbah kini disorot dari aspek populernya, jumlah undangan khotbahnya, dan tentu saja luas area khotbahnya. Sayangnya semua penilaian tentang pengkhotbah sering kali mengesampingkan asas yang justru terpenting, yaitu kehidupan moralnya, perilaku ekonominya, dan keluarganya. Pengkhotbah kini dijadikan sebagai pengundang masa. Maklum, sebuah ibadah terbilang sukses jika pengunjungnya membeludak. Ibadah adalah kuantitas, bukan lagi kualitas.
Pengkhianatan Kosmik
Rev. R. C. Sproul, Ph.D.Pertanyaan tentang “Apakah dosa itu?” dikemukakan dalam Westminster Shorter Catechism. Jawaban yang diberikan terhadap pertanyaan katekismus ini secara sederhana adalah: “Dosa adalah keinginan untuk menyesuaikan dengan atau pelanggaran terhadap hukum Allah.”
(more...)
Blessed to Bless Others
“The LORD had said to Abram, ‘Leave your country, your people and your father's household and go to the land I will show you. I will make you into a great nation and I will bless you; I will make your name great, and you will be a blessing. I will bless those who bless you, and whoever curses you I will curse; and all peoples on earth will be blessed through you.’ So Abram left, as the LORD had told him...” (Genesis 12:1-4 NIV).
Berpikir Keras, Tetap Rendah Hati
Rev. Francis Chan, M.Div
1 Korintus 8:1-3
Ayat bacaan ini membuat saya merasa tertuduh tentang betapa sering saya akan berbicara tanpa mengasihi orang yang tepat berada di depan saya. Saya sudah berdoa agar Allah menolong saya untuk melihat mata seseorang ketika saya berbicara kepadanya dan benar-benar perhatian. Saya punya tujuh pertanyaan yang saya tanyakan kepada diri saya sendiri sebelum saya berbicara karena demikian mudah pikira saya teralih dan gugup dalam berbicara. Salah satu pertanyaan itu adalah,”Apakah saya khawatir tentang apa yang akan dipikirkan orang mengenai pesan saya, atau apa yang dipikirkan Allah?” Satu pertanyaan lainnya adalah,”Apakah saya mengasihi orang-orang ini dengan tulus?”
(more...)
Merayakan Apa sih di 1 Januari?
Jadi S. Lima
I
Mungkin tidak ada sebuah perayaan yang dirayakan oleh sebegitu banyak orang dari berbagai suku, agama dan latar belakang seperti perayaan tahun baru masehi. Di jaman modern ini, setiap tanggal 31 Desember malam, milyaran manusia melakukan sebuah ritual yang agak aneh. Mereka berkumpul sampai larut malam lalu beberapa dari mereka biasa menghitung mundur, macam mau meluncurkan sebuah roket, 4, 3, 2, 1 … NOL … SELAMAT TAHUN BARU … lalu meniup terompet, menyalakan kembang api atau petasan, atau berciuman, atau apa sajalah. Menyaksikan hal yang sama ini selama bertahun-tahun menghasilkan ragam reaksi dalam benak saya, mulai dari antusias, biasa-biasa saja, bosan, sampai muak dengan keklisean segala hingar bingar ini. Apa sih yang sebenarnya dirayakan dalam segenap hiruk pikuk demikian?
Is it just a money issue?
Burk ParsonsSeveral years after my father’s death in 1992 I found an old shoebox among my father’s belongings. Among the various items in the shoebox, I came across a stack of letters that my father had written just prior to his death. As I began to read the first letter I quickly realized he had written them to me but that he never had the opportunity to give them to me because his cancer consumed his body more quickly than the oncologist had expected. In one of the letters, my father wrote, “Learn to live with a little less”
Allah, Kekerasan dan Pluralisme
Mengenai issue violence yang dilakukan oleh manusia dengan mengatas-namakan agama, mungkin bisa dipikirkan apakah problema ini - dari perspektif theologia sistematis - lebih merupakan hamartiological problem (doktrin dosa) daripada theological problem (doktrin Allah). Di dalam Alkitab sendiri dicatat bahwa orang-orang yang membunuh Yesus itu melakukannya atas nama Taurat. Problemnya tentu saja bukan di Taurat melainkan pada dosa yang memperalat Taurat. Kritik agama yang sehat harus selalu mewaspadai dengan seksama adanya kemungkinan penyalahgunaan Kitab Suci (untuk mendukung kekerasan manusia yang jahat).
ALKITAB: Buku Kuno Yang Relevan
Pdt. Manati Immanuel Zega, S.Th.
Dari sisi usia, Alkitab tergolong buku kuno. Namun, kesan kuno tidak berarti Alkitab tidak relevan. Sejarah mencatat, Alkitab adalah buku abadi yang relevan sepanjang abad. Apa buktinya?
Fakta menunjukkan, tidak ada satu buku pun yang selalu relevan sepanjang masa. Buktinya, banyak buku yang harus diturunkan dari rak karena teorinya dianggap usang—tidak sesuai zaman. Buku yang dahulu dipandang hebat, namun seiring perputaran zaman, buku itu menjadi kuno. Mengapa kuno? Ternyata, telah ditemukan teori baru yang dinilai lebih tepat.
Sudah Saat Teduh hari ini?
Sudahkah kamu saat teduh hari ini? Itulah pertanyaan yang rutin dari kakak rohani saya saat masih dibina di persekutuan siswa Perkantas Medan. Kadang pertanyaan itu bikin jengkel saya. Tetapi perhatian dan bimbingan itu sangat mempengaruhi hidup saya sampai hari ini. Saat teduh, berhubungan dengan Tuhan dengan segala cara, terbukti memperkaya kehidupan rohani atau iman kita. Salah satu motto yang diberi pembimbing saya dulu, agak ekstrim memang, adalah: "No Bible, No Breakfast"
Meski mulanya sulit, saat teduh itu kemudian menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Setiap berangkat ke sekolah (SMA 1 Medan), Firman yang saya baca memberikan kekuatan terutama lewat janji-janji Tuhan. Hal penting lainnya adalah teguran Tuhan membentuk karakter. Puji Tuhan, tamat SMA saya terpanggil menjadi HambaNya penuh waktu. Saya masuk ke STT I3 Malang.
Stephen Tong: Faith and Reason Go Together
Faith and Reason Go Together, Says Int'l Evangelist
Sat, Oct. 09, 2010 Posted: 03:55 PM EDT
Do faith and reason conflict?
Renowned Indonesian evangelist Stephen Tong addressed the age-old debate head-on Thursday at a preaching session at the National University of Singapore. His answer: faith and reason operate in different spheres and actually complement one another. Faith is the more important of the two. True faith is not counter-reason, the Rev. Tong, 70, expressed with the help of his English translator. In fact, faith "improves" reason and "makes it complete."
“True faith will bring your reason that has been lost to be loyal to the truth,” he said. Speaking to a lecture hall filled with students, he highlighted that every person exercises some form of faith in their day-to-day living. He was fielding a question from the audience during a segment designated for that purpose.













