Perpisahan Paulus, 14 Juni 2026

Kis. 20:17-38

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, acara perpisahan adalah acara yang umum dalam kehidupan manusia, sekalipun mungkin jarang kita alami dalam kehidupan kita masing-masing. Terjadi perpisahan di mana-mana. Di dalam dunia ini, di belahan dunia ini banyak yang mengalami perpisahan. Tetapi bagi kita sendiri mungkin kita jarang sekali dalam kehidupan kita ada perpisahan. Sekalipun ada ya terjadi perpisahan. Misalkan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, banyak mahasiswa di tempat ini kuliah di Yogyakarta. Bisa ribuan tiap tahun mahasiswa baru kuliah. Tetapi pada waktunya ketika harus wisuda, “wis” “suda”, selesai, gitu ya. Itu harus berpisah dengan kota Yogyakarta. Andai pun harus dipanggil pulang ke kampung halaman atau bekerja di kota lain, kecuali melanjutkan di kota Yogyakarta untuk bekerja atau kuliah lanjutan seperti itu ya. Wisuda adalah acara perpisahan. Setiap kita yang memasuki dunia pendidikan ada wisuda, kita berpisah dengan sekolah tersebut, berpisah dengan teman-teman kita yang mungkin kita tidak akan temui dalam beberapa tahun lamanya. Kita akan mengalami suatu perpisahan. Tetapi perpisahan yang dinamakan wisuda bukanlah perpisahan yang buruk, bukan?

Kalau kita melihat lagi kehidupan di dalam pekerjaan, ada namanya mutasi, ada perubahan atau penugasan ke tempat-tempat yang baru. Ya, Bapak, Ibu sekalian, kalau saya lihat pelayanan saya sebagai hamba Tuhan saja, saya praktik weekend Sabtu Minggu itu ya selama kira-kira satu setengah tahun itu di GRII Pusat. Setelah selesai praktik weekend, langsung masuk ke praktik setahun. Itu pun berpisah. Berpisah dengan para remaja di GRII Pusat, berpisah dengan anak-anak sekolah minggu atau guru-guru sekolah minggu lah. Karena saya hanya mengajar kelas besar pada waktu itu ya. Berpisah dengan guru-guru Sekolah Minggu yang sama-sama melayani. Lalu masuk lagi ke jenjang selanjutnya, praktik setahun di MRII Solo waktu itu. Setelah beres praktik setahun ya harus selesai ya. Bisa saja dilanjutkan, “Ayo melayani lanjut di Solo.” Tetapi buktinya selesai juga, perpisahan lagi, acara kecil-kecilan dengan jemaat Solo. Lalu kemudian setelah itu mengerjakan tugas akhir, lanjut lagi pelayanan di Semarang. Di Semarang pelayanan sebagai vikaris. Dan kemudian setelah menyelesaikannya ya perpisahan lagi. Terus kemudian melayani di Solo dan Jogja. Nah, ini bentar lagi perpisahan lagi. Tapi apakah perpisahan itu adalah perpisahan yang buruk? Apakah selalu kita harus pandang negatif kalau ada sesuatu yang berpisah? Tidak selalu. Ini kan penugasan di tempat yang baru. Berarti Tuhan sendiri yang mengatur pelayanan kita selanjutnya ya, Bapak, Ibu sekalian ya.

Tapi kita juga bisa melihat, nah ini yang mungkin bisa pro kontra ya. Ya itu perpisahan karena kita punya anak, lalu anak kita menikah. Harus berpisah pada umumnya ya. Laki-laki akan meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istrinya. Berarti laki-laki sudah bertanggung jawab dengan kepala keluarga sendiri. Harus minimal punya tempat tinggal sendiri. Sekalipun bukan punya rumah, tapi minimal punya tempat tinggal sendiri, membangun rumah tangga yang kecil bersama dengan istrinya lalu dapat anak lagi. Karena sudah dua institusi yang berbeda. Tapi Bapak, Ibu sekalian, sekalipun ini idealnya, saya juga memaklumi jika ada orang tua yang sudah menikahkan anaknya, anaknya masih harus tinggal di rumah mertua indah ya. PMI ya, Pondok Mertua Indah, kira-kira seperti itu ya. Nggak masalah, asal tahu batasannya. Ini institusi keluarga orang tua, ini institusi keluarga kami. Ada yang beda lantai ya. Orang tua di bawah, terus kemudian anaknya dan keluarganya di lantai dua supaya bisa membedakan ini dua institusi yang berbeda sekalipun tinggal di satu rumah. Ada juga karena kebutuhan-kebutuhan khusus, misalkan orang tuanya sudah sendirian lalu sudah sakit stroke misalkan ya. Ya bagusnya ya tinggal sama anaknya supaya ada yang menjaga. Kira-kira seperti itu ya.

Ada waktunya berpisah. Berpisah dari rumah orang tua yang begitu indah dan nyaman. Ada kesedihan, sehingga waktu pernikahan itu seorang ayah membawa putrinya ke panggung pernikahan itu ya. Kemudian dibawa, diserahkan kan. Diserahkan itu berarti pisah. Ya, ini anakku, betul tetap anakku, tapi sudah pisah organisasi, kira-kira seperti itu ya. Pisah institusi, ini milik si mempelai pria. Maka waktu ayahnya membawa anak perempuannya itu ada perasaan sedih harus berpisah. Tapi ini adalah perpisahan yang baik juga ya, pernikahan. Sekalipun ada yang memandang bahwa, “Ah, kayaknya tidak baik.” Kalau memang menyerahkan anaknya ke orang yang jahat tentu tidak baik ya, tentu buruk. Tapi pernikahan itu adalah gambaran, kalau kita menikah dengan benar itu adalah cicipan surga. Tapi kalau kita menikah dengan orang yang salah itu cicipan neraka. Tapi kita harus jalani pernikahan tersebut karena itu pembentukan kedewasaan rohani juga.

Nah, yang keempat adalah perpisahan yang sedih yaitu adalah kematian ya. Beberapa hari yang lalu saya menghadiri suatu kedukaan yang langka di Solo. Itu ada teman saya ya, seangkatanlah. Tapi dia menjadi seorang penatua di gereja lain, gereja Protestan yang lainnya. Tetapi kami teman baik, kita kadang-kadang ketemu sebatas ngobrol, sharing kehidupan. Dia kemudian sudah menikah juga ya. Saya menikah dulu lalu dia menikah, lalu dia pun akhirnya istrinya hamil gitu ya. Terus kemudian saya harus mendapat kabar yang buruk ketika pada akhirnya istrinya mengalami preeklamsia, yaitu komplikasi dalam mengandung anaknya. Artinya adalah karena mengandung ada komplikasi sehingga si ibu itu harus dirawat karena kondisi tubuh yang tidak stabil, darah tinggi, tekanan darah begitu tinggi, pusing, nggak enak, padahal sudah tidur, sudah istirahat ya. Terus kemudian ternyata ketika dicek ke dokter, jantung si ibunya membengkak. Jadi pilihannya adalah menyelamatkan nyawa siapa? Wah, kita diperhadapkan ya. Teman saya diperhadapkan. Dia seorang penatua awam ya, bukan hamba Tuhan. Diperhadapkan harus menyelamatkan nyawa siapa? Jelaslah, istri lebih dulu. Istri masuk ke ICU dan dokter mengatakan bahwa besok harus operasi caesar bayi tersebut. Dan bayi tersebut memang sebenarnya usianya cukup ok juga ya. Itu masih delapan bulan di dalam kandungan. Kemudian akhirnya sudah dirawat, terus dioperasi caesar, terus kemudian sudah senang. Wah, si ibu menggendong bayinya ya. Terus si ibu juga dirawat pemulihan. Satu hari lewat, dua hari lewat, tiga hari lewat. Bayinya harus masuk ke NICU ya. Terus kemudian akhirnya bayinya tidak bertahan karena paru-parunya tidak bisa untuk bernapas. Meninggal di hari ketiga. 

Wah, bayi meninggal di hari ketiga. Saya hadiri pemakamannya. Hanya satu hari saja di rumah duka. Terus kemudian si istrinya juga izin ke dokter bahwa saya izin untuk ibadah kedukaan. Ya, rumah sakit mengizinkan sehingga itu adalah hari duka. Berpisah dengan bayi umur 3 hari! Terus saya ikut ibadahnya, lalu melihat peti jenazah yang begitu kecil. Terus bayinya itu, ya, 3 hari, kecil sekali. Sedih. Sedih sekali. Berat.

Itu adalah suatu kedukaan yang sedih, ya. Tetapi perpisahan harus dijalankan. Si Ibu tahu bahwa bayinya sudah meninggal, terus kemudian diadakan kebaktian kedukaan. Itu adalah perpisahan dengan tubuh bayi yang sudah mati itu sendiri. Dia mau datang. Dia mau datang ke rumah duka. Untuk apa? Berpisah dengan bayi yang baru 3 hari. Itu adalah perpisahan yang sedih, ya. Ini perpisahan karena kematian orang yang dikasihi. Harus berpisah. Dan siapa yang menentukan hari mati seseorang? Tuhan! Tuhanlah yang memisahkan. Tuhan yang memisahkan orang tua dengan anak yang mau nikah. Tuhan yang memisahkan kita dari komunitas yang buruk. Tuhan yang mengizinkan orang mati. Dan ini adalah perpisahan yang dari Tuhan sendiri.

Nah, Bapak, Ibu sekalian, seringkali, ya, perpisahan itu mengandung air mata, kesedihan, dan juga rasa kehilangan. Sekalipun perpisahan itu merupakan acara yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kita berpikir bahwa: “Apakah Alkitab mengajarkannya? Apakah Alkitab itu juga mengajarkan bagaimana kita memahami perpisahan dengan baik dan benar? Atau kita berpikir bahwa Alkitab itu mengajarkan yang enak-enak saja? Yang nyaman, yang sukacita, yang penuh dengan kecukupan, penuh dengan kedekatan?” Nggak. Alkitab mengajarkan bagaimana kita harus menanggung kesedihan karena perpisahan yang terjadi.

Apakah Alkitab mengajarkan perpisahan dan ada perpisahan? Jelas! Perikop yang barusan kita baca itu adalah perpisahan Rasul Paulus dengan para Penatua di Efesus yang relasinya sudah sangat-sangat dekat. Dan Alkitab mencatat banyak perpisahan –ternyata– dilakukan dengan penuh kesadaran. Saya harus berpisah. Ya sudah, jalani perpisahan dengan maksimal. Jalani perpisahan dengan maksimal. Tidak selalu perpisahan itu dukacita. Ada sukacita, ada pengharapan, ada penyertaan Tuhan, ada pemeliharaan Tuhan di dalam kehidupan kita yang harus berpisah satu dengan yang lainnya.

Acara perpisahan orang percaya itu seringkali lebih mirip wisuda daripada kedukaan, ya. Acara perpisahan yang kita alami itu –maupun kematian, ya– itu wisuda. Sudah, sudahlah. Gitu, ya. Suatu hari nanti bagaimana? Ada kesedihan? Betul. Tetapi ada sukacita. Karena apa? Karena Tuhan senantiasa memimpin kehidupan kita yang mengalami sejarah perpisahan tersebut. Tuhan tetap ada. Tuhan tetap menyertai. Tuhan tidak meninggalkan kita. Perpisahan memang seringkali menyakitkan, tapi tidak selalu negatif.

Seorang dokter bedah kalau mau menyelamatkan pasiennya –operasi caesar bayi misalkan, ya– harus menyakiti ibu tersebut, kan? Tubuh tersebut disakiti dengan pisau bedah. Sakit, ya. Sakit tapi baik. Obat itu pahit tapi baik. Perpisahan itu sedih tapi tidak selalu negatif. Tidak selalu tidak baik. Ada hal kebaikan yang kita bisa lihat dalam perpisahan yang kita lihat di dalam Alkitab. Elia berpisah dengan Elisa. Elia naik ke surga, diangkat ke surga, Elisa ditinggalkan sendirian. Tuhan Yesus naik ke surga, kita ditinggalkan. Berpisah, bukan? Tapi berpisah itu bukanlah hal yang buruk. Itu hal yang baik untuk kita semua.

Nah, di dalam Kisah Para Rasul yang kita bahas ini, perpisahan antara Rasul Paulus dan penatua di Efesus, yaitu Paulus sadar bahwa: “Saya tidak akan bertemu lagi dengan penatua di Efesus atau kota-kota di sekitar itu.” Dan ini adalah bagaimana Paulus itu memberikan pidato perpisahan, ya. Pidato perpisahan kepada para penatua di Efesus. Ini bukan cuma ucapan selamat tinggal. “Sudah, ya. Selamat tinggal. Saya akan bertugas di tempat yang baru. Saya tidak bisa mengunjungi lagi kamu.” Sudah. Baik-baik. Selesai. Tidak. Tidak seperti itu. Tetapi Paulus menyadari bahwa perpisahan ini adalah diatur oleh Tuhan. Perpisahan yang Paulus alami dengan penatua di Efesus itu adalah suatu pengaturan dari Tuhan. Dan bagaimana Paulus menjadi contoh untuk menggembalakan umatnya dan dipimpin Roh Kudus untuk menyatakan cinta kasih sebelum pada akhirnya tidak bisa bertemu lagi kepada penatua dan jemaat Efesus.

Nah, latar belakangnya, ya –Bapak, Ibu sekalian– ini adalah perjalanan Paulus ketika menyelesaikan perjalanan misi yang ketiga di kota Miletus. Ini Paulus akan ke Yerusalem dan sebentar lagi akan ke Roma untuk pada akhirnya juga dipenjara lalu dipenggal oleh Nero, Kaisar Nero. Tapi Paulus belum tahu masa depan hidupnya. Cuman dia pikir –rasa-rasa– sudah diberitahu oleh Roh Kudus bahwa: “Ini adalah perjalananku yang terakhir. Begitu banyak pencobaan, begitu banyak kesusahan yang aku alami. Dan aku juga kelihatannya sudah selesai maksimal di dalam pelayanan perjalanan misi ini. Dan aku harus kembali ke Yerusalem.” Dan Roh Kudus memberi tahu Paulus bahwa ada banyak sengsara dan penderitaan akan menimpa engkau. Maka dari itu Paulus punya perasaan bahwa: “Saya tidak bisa ketemu lagi dengan orang-orang di Efesus, sekalipun kota Miletus itu ya terletak sekitar 50 km di selatan Efesus. Ini kota Efesus. 50 km dari Miletus. Gitu, ya.

Nah, Paulus pada akhirnya bagaimana? Paulus ketika berpikir, hitung-hitung waktu perjalanan, dia nggak bisa pergi ke Efesus. Padahal dia mau perpisahan atau bertemu terakhir kali dengan jemaat Efesus. Bukankah lebih baik Paulus mendatangi jemaat dan para penatua Efesus? Itu lebih baik supaya bisa ketemu dengan banyak orang. Tetapi waktunya sudah tidak sempat. Paulus harus melanjutkan perjalanan. Dan pada akhirnya, ya, Paulus itu malah mengundang para penatua Efesus untuk pergi ke Miletus.

Jadi, ibaratnya, ya –Bapak, Ibu sekalian– saya mau perpisahan dengan para penatua dan jemaat Yogyakarta, tapi saya ada di Solo. Gitu, ya. Saya undanglah para penatua saja untuk ke Solo. Kita berpisah di Solo. Kira-kira kayak gitu, ya. Kesan yang kita baca ketika melihat realita perpisahan ini adalah, “Harusnya Paulus datang ke Efesus, berpisah dengan para penatua, jemaat, dan lain-lain”, ya. Tapi ternyata tidak. Waktunya sudah mepet dan akhirnya Paulus berpisah dengan para penatua saja. Jadi penatuanya ada banyak, ya. Dikumpulkan. Paulus mengutus seseorang untuk pergi ke Efesus, terus kasih pesan kepada para penatua, “Ayo datang ke Miletus. Di situ ada Paulus. Paulus akan melanjutkan perjalanan dan mau berpisah dengan kamu para penatua Efesus.” Langsunglah para penatua Efesus segera datang melalui perjalanan yang cukup panjang, 50 km, ya. Zaman waktu itu belum ada motor, belum ada mobil, ya. Mereka harus melakukan perjalanan yang cukup panjang.

Nah, kenapa Bapak, Ibu sekalian Paulus kok bisa dengan mudah mengundang para penatua itu datang ke Solo? Coba ya saya undang ya. Saya mau perpisahan dengan penatua Yogyakarta. Saya undang ke Solo. Nggak ada yang datang mungkin ya. Mungkin ya. Kenapa? Karena Paulus dan para penatua Efesus itu punya relasi yang dekat, trust-nya tinggi sekali dan ini adalah pelayanan perjalanan misi Paulus yang paling lama ketika Paulus menetap di satu tempat. Paling lamanya berapa lama? Hanya 3 tahun. Yang kita pikir 3 tahun itu singkat. Tetapi bagi Paulus yang kelilingan, pengkhotbah keliling, misionaris keliling, penggembala keliling, bagi Paulus, dia melayani di Efesus itu sangat lama, 3 tahun, dan banyak terjadi pertobatan, banyak kebangunan rohani dan mulai dari kota Efesus, kota yang besar itu, kota yang baik, metropolitan itu. Injil disebar luaskan sampai ke Asia Kecil, ke daerah yang lain. Nah, ini poin penting kenapa gereja itu perlu ada di kota-kota besar. Sebenarnya lewat kota besar pengaruh gereja semakin besar juga kepada bermacam-macam masyarakat.

Nah, di sini Paulus memiliki relasi yang begitu dekat dengan penatua Efesus dan jemaat Efesus. Sehingga pada akhirnya ketika pada akhirnya para penatua Efesus itu datang ke Miletus, mereka bertemu dengan Rasul Paulus dan pada waktu itu juga Paulus sudah langsung harus naik kapal laut langsung berangkat. Ini adalah betul-betul waktu yang sangat singkat. Dan di sini, muncullah pidato perpisahan Paulus kepada para penatua Efesus. Dan di sini kita bisa bagi dalam tiga bagian.

Nah, bagian pertama ya, di dalam ayat 18 sampai 21, di situ Paulus bersaksi soal pelayanannya, pelayanannya bersama dengan jemaat Efesus dan para penatua Efesus. Bapak, Ibu sekalian, ya, yang paling kenal hamba Tuhan itu bukan jemaat, ya. Penilaian jemaat itu tidak terlalu objektif sekalipun bisa objektif. Yang paling kenal hamba Tuhan dalam konteks gereja, pelayanan gereja adalah pengurus. Ya, pengurus itu paling kenal hamba Tuhannya seperti apa; karakternya, teologinya, sifatnya, kebiasaannya. Karena apa? Karena pengurus tiap hari mungkin ya – nah, ini Paulus dalam konteks zaman dulu ya – Paulus dengan para penatua Efesus itu mungkin tiap hari ketemu. Paulus tinggal di mana? Ya di rumah penatua lah. Paulus pelayanannya sama siapa? Ya sama penatua-penatua yang ada. Berdampingan mengunjungi, mengabarkan Injil. Yang paling kenal hamba Tuhannya adalah di dalam konteks pelayanan gereja adalah pengurusnya, penatuanya.

Dan di sini Paulus berani bersaksi bahwa, “kamu lihat kan hidupku waktu di Efesus itu seperti apa?” Nah, ini kesaksian pentingnya ya. “Kamu tahu hidup dan pelayananku, hidupku, perkataanku, perbuatanku, sifatku, kedisiplinanku, ya, ucapan-ucapanku, pemikiranku gitu, ya. Kamu tahu hidupku, kamu tahu pelayananku, gitu, ya. Kita berkegiatan bersama-sama selama 3 tahun.” Ini ibarat seperti Tuhan Yesus dengan rasul-rasulNya. Tuhan Yesus dengan rasul-rasulNya kan 3 setengah tahun hidup bersama. Ini Paulus bersama para penatua di Efesus dan jemaat itu 3 tahun hidup pelayanan bersama-sama berkorban untuk mengabarkan Injil di kota Efesus. Paulus bersaksi bahwa, “dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan.” Ya, sekalipun ya Saudara sekalian ya, kerendahan hati ini adalah hal yang unik. Ketika orang sadar bahwa dirinya sudah baik, sudah rendah hati, di situ ada godaan untuk sombong. Tetapi orang yang rendah hati, kita bisa lihat ya, Paulus sadar dirinya rendah hati dan dia mau menonjolkan kepada jemaat para penatua Efesus bahwa, “dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Aku nggak sombong, aku nggak berusaha cari nama, cari kuasa, cari pujian. Saya itu melayani dengan segala kerendahan hati dan pelayanan yang aku kerjakan, aku banyak sekali mencucurkan air mata.” Jadi Paulus menangis ketika ada penderitaan dan disaksikan oleh para penatuanya. Paulus bersedih, berdoa, menangis, dan juga Paulus menghadapi banyak pencobaan dari orang-orang Yahudi yang bahkan mau membunuh Paulus di Efesus. Sehingga para penatua harus melindungi Rasul Paulus, menyembunyikan Rasul Paulus dari ancaman kematian. “Kamu tahu hidup pelayananku. Kamu tahu pencobaan yang aku terima di dalam kota Efesus ini. Kamu tahu hidupku, kesaksianku.”

Nah, Bapak Ibu sekalian, dari sini kita sedikit belajar, ya. Saya belajar ketika mempersiapkan khotbah ini, saya belajar bahwa waktu kita melayani Tuhan itu kita perlu kerendahan hati. Ini menjadi kesaksian yang baik untuk kita. Waktu kita pelayanan tuh di depan panggung khususnya, ya, di depan panggung itu kita mau cari apa sih? Cari nama, cari pujian dari orang? Kita mau menonjolkan bahwa kita itu lebih hebat, lebih pintar, lebih sempurna dibandingkan dengan orang lain, apakah demikian? Tetapi dari kisah pelayanan Rasul Paulus, Paulus mengatakan, “Aku melayani itu dengan rendah hati. Sekalipun aku rasul, aku rasul layak dihormati. Tapi sekalipun aku rasul, aku tahu juga tidak apa-apa menanggung hinaan, ejekan. Yang penting kerajaan Tuhan boleh diperluas.” Paulus tahu bahwa pelayanan itu bukan unjuk diri, bukan pentas di atas panggung yang akhirnya penonton wah memuji-muji, menyenangi orang yang melayani. Tidak. Paulus katakan, “Kesaksianku adalah pelayanan yang rendah hati, pelayanan yang demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan adalah anugerah Tuhan karena Tuhan mau memakai orang berdosa untuk melayani Dia yang kudus.” Paulus tahu bahwa dirinya berdosa. Kita tahu, ya, Paulus tahu dulunya sebelum rasul adalah teroris. Paulus tetap ingat, “Aku ini teroris dulunya. Sekarang aku mau melayani Tuhan. Tuhan mau terima aku untuk melayani jemaat Tuhan. Aku nggak bisa sombong. Aku harus rendah hati.” Dan Paulus juga bersaksi bahwa sekalipun banyak penderitaan, aku tetap setia, belajar. Ada kesulitan tetap tanggung kesulitan tetap setia melayani Tuhan.

Lalu Paulus juga mengatakan bahwa “Sungguh pun seperti itu aku tidak lalai berguna untuk kamu. Aku beritakan firman baik di muka umum maupun dalam perkumpulan rumah-rumah.” Paulus, sekalipun dia tahu, dia adalah seorang misionaris, tetapi bukan berarti dia hanya kerjakan pekerjaan misionaris, yaitu penginjilan kepada yang belum Kristen, belum ada gereja, belum sungguh-sungguh kenal Kristus. Tidak. Paulus melayani di perkumpulan rumah-rumah. Ini kira-kira jadi OSG atau persekutuan-persekutuan wilayah. Paulus datang ke rumah jemaat. Saya khotbah di situ. Paulus katakan bahwa, “Aku berguna bagi kamu karena aku masih bisa memberitakan firman kepada kamu.” Mau di tempat-tempat umum, ya di tempat-tempat ibadah Yahudi, mungkin pada waktu itu, ya, atau di pasar-pasar ketika pada waktu itu juga konteks budayanya masih ok, ada orang berkhotbah di pasar-pasar. Terus kemudian, “Di rumah-rumah juga aku kunjungi, rumah-rumah jemaat atau penatua. Aku itu berguna bagi kamu.” Wah, ini adalah kesadaran yang luar biasa. “Aku berguna bagi sesama. Hidupku tidak jadi beban untuk sesama, tetapi aku menjadi manfaat buat sesama.”

Di sini, Paulus mengatakan, hidup kita kalau mau bermanfaat untuk orang lain adalah hidup yang sesuai dengan firman Tuhan dan beritakan firman. Itu baru kita bermanfaat untuk orang lain. Lakukan firman. Berbuat baik kepada sesama. Itu bermanfaat karena firman Tuhan mengatakan bahwa, ”Berbuat baiklah seperti Tuhan sudah berbuat baik kepadamu.” Perbuatan baik sebagai ucapan syukur karena kita sudah diselamatkan oleh Tuhan. Itu bagian pertama, Paulus bersaksi. “Hai, para penatua Efesus, lihat hidupku. Aku masih setia.” Kira-kira, Paulus mau katakan bahwa, ”Kamu juga tetap setia, sekalipun kamu harus berpisah dari aku.”

Lalu, bagian kedua adalah Paulus menjelaskan masa depannya. Ini adalah hikmat yang Tuhan berikan melalui Roh Kudus. Bagaimana Paulus akan menjelaskan masa depannya, yaitu dia sedang berjalan menuju ke Yerusalem. Terus kemudian, di bawah pimpinan Roh Kudus dan dia katakan, “Aku ini adalah tawanan Roh. Aku harus ikut ke mana Roh Kudus pimpin aku pergi karena Roh Kudus akan membawa aku kepada Yesus Kristus. Bukankah kita pengikut Kristus? Ikutilah pimpinan Roh Kudus karena Roh Kudus selalu memuliakan Tuhan Yesus Kristus. Dan juga, Roh Kudus itu memimpinku bahwa aku harus pergi ke kota-kota dan ada penjara dan sengsara menunggu aku.” Penjara. Di sini, Paulus belum dipenjara, sudah tahu akan dipenjara. Karena apa? Secara hikmat manusia mungkin, ya, kita bisa lihat track record-nya. Orang Yahudi itu bukan hanya mau penjarakan Paulus, bukan hanya mau tangkap Paulus. Mau bunuh Paulus! Kalau sekiranya hanya dipenjara, ya, nggak masalahlah, dibandingkan dengan mati. Tetapi Roh Kudus memberi tahu bahwa Paulus akan menerima banyak sengsara dan akan dipenjara juga. Berarti kalau dipenjara, ini adalah perjalanan misi yang terakhir dari Rasul Paulus. Kira-kira, Paulus sudah merasa demikian. Paulus sudah kerja bagi Tuhan setengah mati. Sudah mati-matian bagi Tuhan perjalanan misi. Kira-kira, Paulus tahu bahwa masa depannya adalah hal yang tidak mudah. Ada sengsara dan itu Roh Kudus sudah memperingati Paulus berkali-kali. Jadi, Paulus itu kemungkinan besar, secara permanen tidak akan kembali lagi dalam perjalanan misinya. Dia tidak akan kembali ke Efesus maupun Miletus. Maka dari itu, ini adalah momen yang sangat penting bagi Paulus. Paulus panggil para penatua Efesus yang dia kasihi untuk mengucapkan salam perpisahan.

Tetapi, uniknya, ya, Bapak, Ibu sekalian, kalau kita dikasih tahu, ya, dikasih tahu oleh Tuhan bahwa, “Di depan, pelayanan kamu itu akan sulit. Kamu akan menerima sengsara. Kamu akan menerima penjara.” Kira-kira, kita masih semangat melayani atau tidak, ya? Ada risiko dari orang yang tahu bahwa pelayanan akan makin susah. “Aduh, makin susah, ya! Sudah, pelayanannya tidak usah terlalu ngoyo, nggak usah terlalu maksa. Sudahlah, tenang-tenang saja pelayanannya begini. Nanti, kan menderita juga.” Tetapi, tidak. Paulus justru memaksimalkan pelayanannya di hadapan Tuhan. Dia tidak cari jalan yang mudah. Dia tetap hadapi Yerusalem. Dia tetap ke sana, sekalipun dia bisa berpikir, “Udah deh, ke kota lain. Kabur dari panggilan Tuhan seperti Nabi Yunus. Sudah, nggak usah ke Yerusalem! Di Yerusalem banyak sengsara!  Mungkin juga kamu nanti akan dipenjara kalau kamu melanjutkan perjalanan ini.” Tetapi, Paulus tidak menghentikan perjalanannya. Dia tetap maju. “Aku akan terima sengsara, aku terima penjara demi Kristus.” Dia tetap semangat menjalani pelayanannya, sekalipun sudah tahu bahwa dia akan menerima sengsara dan penjara. Di sinilah, pada akhirnya, Paulus mengungkapkan kasihnya kepada para penatua Efesus yang sudah menyaksikan seluruh kehidupannya dan penderitaan dari Rasul Paulus.

Dalam pidato perpisahan Paulus ini, dia tidak bicara soal keberhasilannya, misalkan jumlah jemaatnya atau pelayanan-pelayanan yang terlihat, tetapi yang difokuskan Paulus adalah bagaimana kita tetap setia sebagai orang Kristen terhadap iman kita, sekalipun situasi dan kondisi berubah. Kalau iman kita tergantung situasi, kondisi, maka itu bukanlah iman Kristen yang sejati. Kalau kita berpisah dengan seseorang, akhirnya iman kita luntur, kalau kita kehilangan anak kita, lalu iman kita luntur, berarti iman kita tidak sepenuhnya kepada Tuhan. Iman kita ada pada anak kita, ada pada situasi, kondisi, uang, kenyamanan, keamanan, ya, sesosok orang mungkin, sesosok pendeta. Iman kita itu harus hanya kepada Kristus. Makanya, Paulus tahu bahwa kalau kita fokus kepada Kristus, maka jalani perpisahan. Nggak masalah. Kenapa kita harus menolak perpisahan? Iman kita hanya kepada Kristus. Ada orang itu atau tidak, kita tetap disertai Kristus dan dikasihi Kristus dan kita juga bisa beriman kepada Yesus Kristus, sekalipun gunung-gunung beranjak, bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia Tuhan itu tetap ada buat hidup kita. Maka, Paulus memaksimalkan perpisahannya dengan para penatua Efesus. Bahkan, itu pun sudah menjelang kepergiannya di pelabuhan. Paulus sadar, dia tidak sempurna. Dia juga nggak pengen perpisahan yang besar-besaran. Dia nggak pengen perpisahan yang terlalu mellow-mellow. Nggak! Paulus itu, ya, sudah bertemu, berdoa bersama, saling berpelukan, saling bersalam-salaman, dan mendoakan satu dengan yang lainnya.

Nah, bagian ketiga dari pidatonya ini adalah Paulus menyerahkan jemaat kepada para penatua. Malah, para penatua Efesus ditugaskan tugas yang banyak oleh Paulus, kira-kira begitu, ya. Diingatkan lagi, yaitu Paulus memberikan wejangan hikmat bahwa yang pertama: “Jagalah dirimu dan seluruh kawanan. Gembalakanlah jemaat Allah yang begitu mahal harganya karena harus dibayar dengan darah Kristus”. “Kamu lihat orang-orang Kristen di sekitar kamu, para penatua ya. Ini adalah orang-orang yang mahal harganya. Karena apa? Karena dibayar dengan darah Kristus di atas kayu salib. Kamu layani mereka, gembalakanlah mereka dengan setia, dan bantulah untuk bertumbuh di dalam firman Tuhan.” Paulus juga ingatkan kepada musuh-musuh eksternal. Bukan hanya Paulus mengingatkan terhadap bahaya internal, tetapi Paulus juga ingatkan di luar sana itu banyak serigala-serigala ganas yang ingin mengambil domba-domba Kristus, sehingga domba-domba itu tidak bertumbuh dan akhirnya hidup jatuh dalam dosa yang begitu sering. Ada juga muncul dari antara kamu ajaran palsu, para pengajar palsu yang berusaha memecah belah gereja, menarik sebagian orang untuk ikut ajaran yang salah sehingga gereja terpecah belah. Makalah dari itu Paulus katakan, “Hati-hati para penatua, tugasmu begitu berat. Gereja harus bersatu. Tapi serangan itu bisa dari diri kamu sendiri, bisa dari umat yang kamu layani, bisa juga dari luar terkena serangan.” Maka dari itu Paulus katakan, “Berjaga-jagalah. Siap berperang seperti prajurit yang siap menghadapi musuh.” Paulus menasihati para penatua Efesus demikian.

Dan terakhir, Paulus berdoa kepada Tuhan untuk para penatua, Paulus menyerahkan para penatua Efesus ini kepada Tuhan dan firman kasih karunia-Nya. Paulus menjelaskan motivasi pelayanannya. Jadi setelah menasihati, kasih wejangan hikmat, “Siap sedia ya, gembalakanlah domba-domba Kristus.” Ini seperti ucapan Yesus Kristus kepada Rasul Petrus yang sudah menyangkal Yesus 3 kali. Rasul Petrus ketemu Tuhan Yesus, Tuhan Yesus itu mau berdamai dengan Petrus sekalipun Petrus itu malu sekali dengan Tuhan Yesus. Mau berdamainya dengan apa? Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa, “Sudah. Dosamu Kuampuni.” Nggak ya. Karena Petrus sudah diampuni dosanya oleh Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus pun tahu bahwa Rasul Petrus melihat banyak pelayanan Yesus Kristus kan Yesus Kristus sudah mengatakan, “Dosa mu diampuni.” “Dosamu diampuni.” “Dosamu diampuni.” Petrus tahu bahwa Tuhan Yesus sudah mengampuni dosanya. Tapi Petrus tidak bisa mengampuni dirinya sendiri yang sudah menyangkali Tuhan Yesus. Nah bagaimana Tuhan Yesus memulihkan Rasul Petrus yang tidak bisa mengampuni diri? Yaitu Tuhan Yesus kasih tugas. Tugas dari Tuhan Yesus kepada Petrus yaitu apa? Gembalakanlah domba-domba-Ku. “Apakah kamu mengasihi Aku? Gembalakanlah domba-domba-Ku.” “Apakah kamu mengasihi Aku? Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Sama seperti Tuhan Yesus memerintah kepada Petrus, sekarang Rasul Paulus memerintah kepada penatua di Efesus. “Kalau kamu mengasihi aku, gembalakanlah domba-domba Kristus. Gembalakanlah, kasihilah gereja Tuhan, kasihilah umat Tuhan.” Kemudian Paulus menjelaskan motivasi yang murni untuk pelayanan kepada gereja, yaitu Paulus katakan, “Aku itu melayani itu bukan cari untung untuk diri sendiri. Aku layani khusus untuk umat Tuhan, untuk Tuhan.” Dia bahkan bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sendiri sehingga tidak menjadi beban bagi jemaat. Paulus bahkan harus kerja. Kita tahu ya pekerjaan Paulus itu yang dicatat di Alkitab sebagai pemasang tenda. Dia misionaris, karena jemaat pun belum mengerti konsep menopang pelayanan hamba Tuhan atau misionaris, Paulus tidak mau menerima pertolongan dari yang tidak mengerti. Paulus menolak bantuan. “Kamu nggak ngerti soal pelayanan, jangan memberi. Biarlah aku tanggung hidupku sendiri dengan membuat tenda, dengan capek-capek, memberitakan Injil. Aku nggak mau menjadi beban untuk siapa-siapa.” Paulus itu melayani dengan hati yang murni. Dan teladan Paulus diberikan kepada para penatua Efesus. Paulus sampai katakan ya, “Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.”

Kalau kita lihat hamba-hamba Tuhan sekarang ya Bapak, Ibu sekalian ya, pendeta-pendeta, ataupun penginjil, ataupun bisa misionaris ya, kalau hatinya cinta akan uang, dia begitu ketemu orang yang kaya, orang yang mapan, mampu, ada kecenderungan, “Saya ingin pakaiannya. Saya ingin perhiasannya. Saya ingin uangnya.” Akhirnya mendekati jemaat yang kaya, terus dekat-dekat. Akhirnya kecipratan segala berkat. Itu Paulus tidak pernah melakukan hal tersebut. Dan itu pun tidak boleh dilakukan oleh hamba-hamba Tuhan manapun yang ada di dalam dunia ini, yaitu mendekati orang-orang demi mencari perak, emas, pakaian, perhiasan. Berarti hamba uang, bukan hamba Tuhan. Kalau hamba Tuhan itu dekatnya bukan sama orang, dekatnya sama Tuhan. Dia harus lebih dekat sama Tuhan dibandingkan dekat dengan orang-orang yang lainnya.

Dan Paulus mengatakan ya, kita belajar untuk memberi daripada menerima. Prinsip pelayanan dari Tuhan Yesus terus kemudian disampaikan kepada para penatua Efesus dan disampaikan juga kepada kita semua. Nah kemarin PA Pemuda di GRII Solo, saya sedikit bahas tentang manajemen keuangan. Manajemen keuangan Kristen itu berbeda dengan manajemen keuangan dunia. Orang Kristen itu memiliki prinsip soal finansial adalah seperti ini, adalah lebih baik memberi daripada menerima. Sekalipun kita tahu bahwa kita harus hemat, kita harus bijaksana mengelola keuangan kita. Tetapi ini prinsip yang bagus, ketika ada orang survei, ini survei di dunia Barat itu, ketika kita sering memberi, justru orang itu lebih sehat secara mental. Karena tugas kita sebagai manusia adalah mengasihi, “ngasih”. Tugas kita itu ngasih ke Tuhan, ngasih ke sesama, menaklukkan alam untuk kemuliaan Tuhan. Secara anugerah umum, tanpa perlu Kristus, orang yang non-Kristen, yang tidak kenal Kristus, kalau banyak memberi dia lebih sehat secara mental. Nggak cepat depresi karena ada sukacita.

Jadi Bapak, Ibu sekalian, kalau kita bandingkan memberi dengan menerima, mana yang lebih sukacita? Kalau konsep dunia mengatakan, “Menerima dong lebih sukacita. Kan tangannya begini. Ya kita dapat banyak.” Kira-kira gitu ya. Tapi konsep Alkitab adalah kalau kita memberi jauh lebih sukacita. Wah kita jauh lebih sukacita, kita bisa memberi. Kita ingat Allah Sang Pemberi. Kita bisa murah hati, kita jalankan tugas kita sebagai manusia, murah hati, memberi. Maka kalimat Yesus Kristus ini Paulus katakan bahwa, “Hai para pemimpin gereja belajar memberi hidupmu bagi umat Tuhan, bagi kawanan domba Tuhan. Berilah apa yang kamu bisa beri dengan rela hati.” Tuhan Yesus pernah memuji persembahan dari seorang janda miskin yang tua yang hanya memberikan sedikit uangnya. Tapi sedikit uangnya ini adalah konsepnya berbeda dengan orang yang punya banyak uang memberi persembahan di Bait Allah. Di situ digambarkan, ya, di kitab Injil itu Yesus melihat semua orang masukkan uang di kotak. Terus ada janda yang miskin memberikan berapa? Dua peser uang kira-kira, ya. Terus Yesus katakan bahwa pemberian atau persembahan dari jemaat janda ini, itu lebih besar daripada pemberian orang-orang kaya. Kenapa? Waktu dia memberi dia harus puasa mungkin dua hari atau beberapa hari. Dia memberi untuk Tuhan menghilangkan hal yang bisa dia terima. Maka Yesus katakan adalah lebih baik memberi daripada menerima. Memberi itu lebih sehat, lebih sesuai dengan Firman Tuhan dan lebih berkenan di hati Tuhan. Nah, ini konsepnya, ya.

Nah, di sini dicatat di Kisah Para Rasul. Lalu kalau kita lihat lagi di mana Tuhan Yesus pernah mengatakan hal ini, ya? Di mana? Di kitab mana Tuhan Yesus mengatakan adalah lebih baik memberi daripada menerima? Ini tidak dicatat di dalam Injil. Ini hanya dicatat di dalam Kisah Para Rasul ketika Paulus berpisah dengan para penatua Efesus. Unik, ya. Kita pikir perkataan Tuhan Yesus, ya, di kitab Injil. Tapi ternyata di kitab Injil nggak ditulis di mana-mana, Paulus yang tahu. Paulus akhirnya mengucapkan di acara mana? Perpisahan. Di acara perpisahan malah dapat berkat banyak Firman Tuhan, prinsip kehidupan yang begitu penting untuk kehidupan kita, ya, untuk pelayanan kita semua di dalam gereja Tuhan. Nah, kita baca Bapak, Ibu, sekalian Kisah Rasul 20 ayat 36 sampai 38 bersama-sama, ya, sebelum kita mengakhiri khotbah ini, ya. Kisah Para Rasul 20 ayat 36 sampai 38. Ini penutup dari pidato perpisahan Paulus. Mari kita sama-sama membaca Firman Tuhan ini bersama-sama. “Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal.”

Apa yang dilakukan Paulus? Paulus mengajak berdoa. Dan doanya bagaimana sikapnya? Berlutut. Ya, siapa bilang gereja itu tidak mengajarkan doa berlutut? Gereja tuh mengajarkan doa berlutut, Paulus memberi contoh di momen yang begitu penting kita doa sudah paling bagus. Kita berlutut malah, berlutut bersama-sama, mereka menangis mengeluarkan air mata, mencucurkan air mata, tersedu-sedu sambil memeluk Paulus dan berulang-ulang mencium dia. Alkitab mencatat air mata perpisahan ini. Ini adalah perpisahan yang sehat. Ini adalah perpisahan yang sehat. Karena apa? Kasih sayang antara Paulus dan para penatua Efesus yang menyatukannya adalah kasih Kristus. Mereka berpisah dalam doa dan mereka akan bertemu lagi kapan? Mereka akan bertemu lagi di surga.

Nah, itulah pengharapan terhadap perpisahan. Kita sebagai orang Kristen, kita kehilangan anak, meninggal dunia. Ya, kita nggak tahu juga anak itu umat pilihan atau nggak. Tapi iman kita adalah kalau memang dia umat pilihan, kita bisa bertemu lagi di surga nanti. Kita berpisah di dunia nggak masalah. Kita sebagai orang Kristen pasti bertemu lagi di surga. Nah, kata Yunani yang dipakai untuk kesedihan ini betul-betul mendalam ya, Bapak, Ibu, sekalian. Wah, sedih sekali. Kehilangan kesempatan untuk bertemu lagi dengan Paulus. Mungkin nanti, ya, Pdt. Stephen Tong meninggal juga mungkin ada orang-orang yang sangat sedih sekali sudah melayani bersama-sama dengan Pdt. Stephen Tong bertahun-tahun lamanya. Ada kesedihan yang mendalam bukan sedih yang biasa saja. Ada sedih yang meninggalkan luka karena perpisahan. Tetapi ini adalah perpisahan yang diatur oleh Tuhan dan diizinkan oleh Tuhan sendiri sehingga kita bisa bertumbuh dari luka perpisahan tersebut.

Ya, dalam bagian terakhir ini Paulus memiliki hati seorang gembala ya, dia terus berdoa mengasihi para penatua Efesus ini. Dan akhirnya mereka mengantar Paulus sampai ke kapal dan mengucapkan selamat jalan. Ya, selamat jalan. Farewell. Pelayanan Paulus di Efesus sudah selesai. Tetelestai. Ya, sudah selesai. Paulus melanjutkan pelayanan di Yerusalem dan perjalanan di kota-kota yang lain. Para penatua Efesus di Miletus kembali ke Efesus melayani tanpa kehadiran Rasul Paulus.

Nah, lewat kisah ini, Bapak, Ibu, sekalian, ya, kita belajar bahwa memang perpisahan itu tidak ada yang mudah. Yang namanya perpisahan kok, siapa yang bilang mudah? Apalagi relasinya sudah baik seperti itu, ya. Tetapi pada akhirnya Alkitab juga menunjukkan bahwa tidak semua perpisahan itu adalah hal yang buruk, tidak semua perpisahan juga adalah hal yang gagal gitu, ya. Tidak semua perpisahan juga adalah hal yang harus akhirnya tuh menyedihkan. Tapi lewat perpisahan justru kita bisa lihat Allah itu memimpin umat-Nya memasuki kegiatan maupun pelayanan-pelayanan yang baru.

Bapak, Ibu, sekalian, perpisahan antara hamba Tuhan dan gereja lokal adalah hal yang termasuk kita harus akui adalah dengan ketetapan Tuhan. Itu sudah kedaulatan Tuhan. Paulus memahami bahwa jemaat Efesus ini tidak selama-lamanya ia miliki, tidak selama-lamanya dia harus berelasi dengan jemaat Efesus. Sebab semua gereja, semua jemaat, semua umat Kristen adalah milik Kristus. Yang harus kita terus berelasi adalah dengan Tuhan Yesus. Tidak harus terus berelasi dengan orang-orang Kristen yang lainnya. Ada waktunya berpisah, ya, berpisah. Ada waktunya terus berelasi, ya, terus berelasi. Ya, Tuhan yang mengizinkan perpisahan ada. Perpisahan antara hamba Tuhan dan jemaat lokal yang terjadi mengajarkan gereja tentang apa? Tentang apa yang diajarkan Paulus kepada penatua Efesus. Yaitu apa? Kamu tetap melayani dengan rendah hati. Ini rendah hati. Kamu itu tidak selama-lamanya melayani di satu tempat. Ya, tidak ada seorang pelayan Tuhan yang tidak tergantikan. Terutama hamba Tuhan. Hamba Tuhan boleh tergantikan. Justru boleh. Yang justru kita harapkan tidak tergantikan siapa? Pengurus. Jemaat. Kalau hamba Tuhan bermasalah, pindah cabang lain. Kalau pengurus bermasalah, dia terus bermasalah di kota itu selama-lamanya sampai mati. Kalau hamba Tuhan bisa pindah. Tapi, kalau pengurus saling bermusuhan, berpecah terus selama-lamanya di gereja itu berpecah, musuhan, rusak relasinya. Sayang. Maka Tuhan Yesus ketika mau meninggalkan para muridNya, gerejaNya, kamu harus bersatu.

Hamba Tuhan itu datang dan pergi. Kita sudah alami GRII Yogyakarta puluhan tahun Bapak, Ibu, Sekalian, ya. Ya, saya sempat ngobrol sama pengurus. Hamba-hamba Tuhan sebelumnya itu bertahan berapa lama bertahan kira-kira ya? Bertahan melayani atau ditetapkan Tuhan, diatur Tuhan melayani di GRII Yogyakarta itu berapa lama? Rata-rata semua hamba Tuhan itu 3 tahun ganti, 3 tahun ganti, 3 tahun ganti, 3 tahun ganti, 3 tahun ganti. 5 hamba Tuhan 15 tahun, terus kemudian pendeta Dawis muncul 16 tahun. Kira-kira itulah umur GRII Yogyakarta.  31 tahun, gitu ya. atau 32 tahun. Hamba Tuhan itu silih berganti, ya. Tapi jemaat itu ya di situ terus. Bisa di situ terus. Jarang sekali ya pengurus itu atau jemaat itu bisa berpindah kota, khususnya pengurus. Ya, pengurus gereja ya, atau penatua gitu, ya.

Maka dari itu ya Bapak, Ibu sekalian, kita bisa lihat bahwa waktu ada perpisahan itu, kita belajar rendah hati, pelayanan rendah hati, sebagai hamba Tuhan, pelayanan saya tergantikan. Sebagai kita yang melayani juga, suatu hari nanti pelayanan kita tergantikan, kalau harus pindah kota tergantikan, pasti. Tuhan tidak akan meninggalkan gerejaNya sampai tidak ada yang melayani. Hebat ya. Tuhan itu Maha Kuasa kok. Kita pun sebagai jemaat pun kalau kita nggak ke gereja tergantikan oleh orang lain. Oh, kita jangan sombong. “Ah, malas ke gereja. Nggak usah ke gereja, bisa bolong-bolong.” Kamu itu tergantikan. Kita itu tergantikan semua. Maka waktu kita dikasih kesempatan oleh Tuhan, rendah hati terima pelayanan. Lakukan tugas dari Tuhan, dengan rendah hati. Ya, kita bisa melihat cara Tuhan memperluas kerajaan-Nya dengan perpisahan juga. Paulus pergi, tapi ada pelayan Tuhan yang lain yang Tuhan persiapkan untuk melayani di Efesus.

Abraham meninggalkan Ur Kasdim, sekeluarga untuk pergi ke tanah Kanaan. Harus berpisah. Pergi. Yusuf dipisahkan dari keluarganya selama 13 tahun sampai ketemu lagi keluarganya. Kira-kira seperti itu. Yusuf di Perjanjian Lama. Musa meninggalkan Mesir. 40 tahun di Mesir, pergi dari Mesir ke tanah Midian. 40 tahun di tanah Midian, pergi dari tanah Midian, pergi lagi ke Mesir, dari Mesir memanggil bangsa Israel untuk pergi. Pergi lagi ke Mesir, ke padang gurun, meninggal di padang gurun selama perjalanan itu, 40 tahun. Semua perpisahan itu dipakai Allah untuk tujuan yang lebih besar.

Nah, maka dari itu Bapak, Ibu sekalian ya, ketika kita melihat para hamba Tuhan yang datang dan pergi, gereja lokal harus tetap satu hati, tetap kuat melihat kepada Kristus, jangan melihat kepada manusia. Saat ini kita bisa saja berpisah, tetapi ingat ada pengharapan di dalam Kristus. kita berpisah bisa dengan keluarga kita, sanak keluarga kita. Kadang-kadang saya juga kangen, rindu dengan orang tua, dengan saudara-saudara saya. Tapi kalau memang sudah berpisah ya sudah, kita hanya bisa doakan dengan keluarga kita itu supaya baik-baik saja. Tuhan pelihara keluarga kita, Tuhan mengasihi keluarga kita. Kita bisa berpisah dengan teman-teman dan ada juga kematian yang akan memisahkan kita. Tapi kita sebagai orang Kristen percaya dan berharap bahwa suatu hari nanti di surga kekal kita akan memiliki hak istimewa, kita akan mengalami persekutuan yang tidak henti-hentinya. Mungkin sampai bosan kali kita, ya. Kita akan bertemu, kita sebagai orang Kristen disatukan dalam Kristus, kita akan bertemu di surga terus bisa berelasi tanpa henti-hentinya. Tidak ada perpisahan lagi. Kita akan betul-betul bersama dengan Kristus. Kita akan dapat menikmati surga yang begitu indah dan tidak ada kesedihan lagi. Itu di surga, ya. Tidak ada alasan untuk bersedih. Itu yang dijanjikan Tuhan di surga kekal.

Maka dari itu, kita perlu siap menghadapi realitas dunia ini. Sudahkah kita siap menghadapi perpisahan-perpisahan yang akan terjadi dalam kehidupan kita, Bapak, Ibu sekalian? Ya, kalau sudah terjadi, terjadilah. Itu semua di dalam kedaulatan Tuhan. Dan kiranya kita boleh memiliki hikmat untuk meresponi segala sesuatunya. Mari kita sama-sama berdoa.

Bapa, kami yang ada di surga, kami sungguh bersyukur bahwa Tuhan  mengasihi kami dan Tuhan juga menyatakan anugerah Tuhan di dalam kehidupan kami di dunia ini. Bahwa kami juga sadar bahwa kami tidak selama-lamanya ada bersama dengan orang-orang di sekitar kami. Ada waktunya berpisah, ada waktunya bertemu, ada waktunya melihat, ada waktunya tidak melihat lagi. Dan kami tahu Tuhan bahwa semuanya di dalam pengaturan Tuhan. Kami mau Tuhan untuk meresponi setiap perpisahan yang terjadi dengan hikmat Tuhan. Bukan dengan kebebalan hati kami, tetapi dengan iman bahwa Tuhan berdaulat atas  segala sesuatu. Tuhan juga berdaulat atas setiap perpisahan-perpisahan yang terjadi di dalam kehidupan kami sehari-hari. Berikan kami bijaksana Tuhan untuk bisa melayani Engkau. Sekalipun situasi kondisi berubah di sekitar kami, kami boleh memiliki hikmat dari Engkau. Kami mau memiliki iman yang  tidak tergoncang oleh segala situasi dan kondisi yang terjadi. Kami mau memiliki iman yang berasal dari anugerah Tuhan yang boleh tetap setia kepada Tuhan di dalam setiap kondisi kami. Tolonglah kami Tuhan. Berikan kami kerendahan hati untuk melayani Engkau. Berikan kami juga ketekunan untuk bisa menghadapi setiap kesulitan yang terjadi dalam kehidupan pelayanan kami di hadapan Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.