Yoh. 12:20-26
Pdt. Dawis Waiman
Pada waktu kita membaca Yohanes pasal 12 ini, ini adalah satu pelayanan Yesus yang menuju kepada finalnya. Dan waktu Yesus menuju kepada finalnya ini, maka kita menemukan ada ketegangan di antara orang-orang Yahudi dan juga di antara orang─ mungkin saya pakai istilah ini kurang tepat, tetapi saya pakai istilah ini saja, ketegangan di antara orang-orang ─Yunani juga. Maksudnya apa? Maksudnya, pada waktu kita melihat pada kehidupan dari orang-orang Yahudi, khususnya diwakili orang-orang Farisi seperti itu di ayat yang ke-19, pasal yang ke-12, maka kita menemukan kalau orang-orang Farisi itu kelihatannya sudah di dalam posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sehingga pada waktu mereka melihat Yesus dan pelayanan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, mereka menemukan bahwa pengikut Yesus itu makin lama makin banyak dan itu dicerminkan dengan kalimat bahwa, “Lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia.” Tetapi, pada waktu mereka melihat kepada banyaknya orang yang datang, sekali lagi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah hal itu.
Siapa orang-orang yang datang ini dan kenapa mereka sepertinya begitu frustrasi ketika melihat mereka datang atau orang banyak datang mengikuti Yesus Kristus? Salah satu sebab, mungkin, ya, karena di ayat 20 dikatakan, di antara orang banyak yang datang itu ada orang-orang Yunani yang datang mencari Yesus Kristus. Kenapa orang Yunani datang dan mereka sepertinya frustrasi untuk melihat pelayanan dari Yesus Kristus ini? Karena bagi mereka, sepertinya Injil itu adalah sesuatu yang dikhususkan bagi umat Allah atau firman Tuhan, Taurat Tuhan itu adalah satu kebenaran yang diperuntukkan bagi keturunan dari Abraham. Tetapi sekarang, kelihatannya orang-orang dari bangsa lain pun datang kepada Yesus Kristus dan di situ Yesus pun turut melayani mereka.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, lalu, orang-orang dari Yunani ini, siapa mereka? Mereka nggak harus berasal dari Yunani yang datang, mungkin ada yang menafsirkan seperti itu, tetapi ada yang mengatakan, kemungkinan besar, mereka adalah orang-orang yang berasal dari Dekapolis, yaitu Israel sebelah Utara. Dan mereka kelihatannya mendengar pengajaran Kristus, percaya kepada pengajaran Kristus atau mungkin sebagian juga adalah orang-orang yang menjadi orang-orang proselit atau orang yang takut akan Allah yang datang kepada Yesus Kristus. Maksudnya adalah pada waktu mereka datang kepada Yesus, mungkin sebelumnya mereka adalah orang yang sudah mengenal iman Yahudi. Lalu, ketika mereka mendengar Yesus punya pengajaran, akhirnya mereka mengikuti Yesus Kristus. Nah, mereka yang sudah mengenal iman Yahudi ini siapa? Itu orang-orang Yunani yang sudah mengadopsi seluruh dari budaya Yahudi, termasuk menyunatkan diri mereka. Tetapi, juga ada orang-orang yang tertarik dengan agama Yahudi, tetapi mereka belum rela atau belum siap untuk sepenuhnya mengadopsi ajaran dari Yahudi dan tradisi Yahudi di dalam kehidupan mereka.
Nah, beberapa orang ini kelihatannya adalah orang-orang yang belum mengadopsi ajaran Yahudi dan mereka memiliki iman yang takut akan Tuhan menurut apa yang diajarkan oleh orang-orang Yahudi. Mengapa saya katakan mereka memiliki iman yang takut Tuhan? Apa yang menjadi daya tarik tersebut? Karena pada waktu itu, mereka datang ke Bait Allah untuk mencari Yesus Kristus, tetapi mereka tidak bisa masuk ke dalam Bait Allah. Di dalam ajaran dari orang-orang Yahudi, Bait Allah adalah satu tempat yang diperuntukkan untuk orang-orang Yahudi. Ada bagian-bagian serambi seperti itu. Bagian dalam itu untuk para imam. Bagian luar sedikit adalah untuk para laki-laki Yahudi. Bagian luar lagi untuk para perempuan Yahudi dan bagian yang lebih luar lagi adalah untuk orang-orang yang bukan Yahudi yang ingin beribadah kepada Tuhan Allah orang Yahudi. Nah, Yesus kelihatannya ada di dalam serambi dalam, sehingga orang-orang Yunani ini nggak mungkin bisa masuk ke situ. Mereka ingin bisa bertemu dengan Yesus di dalam sana.
Tetapi, tadi, saya tanya, apa yang mendorong mereka untuk datang dan ingin beribadah kepada Allah orang Yahudi dan sekarang mereka tertarik dengan pengajaran dari Yesus Kristus ini? Ada 2 sebab paling tidak. Yang pertama adalah Allah yang disembah oleh orang Yahudi adalah Allah monoteis, sedangkan allah yang disembah oleh orang-orang Yunani itu adalah allah politeis. Jadi, pada waktu mereka melihat ada perbedaan di situ, mungkin mereka menyadari 1 hal. Di situ, yang mereka sembah ada begitu banyak allah, ada begitu banyak wilayah kekuasaan di mana ada dewa-dewa yang berkuasa di situ. Dan dewa-dewa di sana sepertinya saling berperang 1 dengan yang lain dan itu menyulitkan kehidupan mereka dan sepertinya, secara logika, ndak mungkin ada keteraturan seperti itu. Tetapi, pada waktu mereka melihat kepada konsep dari orang Yahudi mengenai Allah yang mereka sembah, di mana Allah itu satu, di situ mereka merasa ada perbedaan yang besar antara dewa-dewa mereka dengan Allah yang disembah oleh orang Yahudi. Itu membuat satu daya tarik untuk mereka datang dan beribadah kepada Allah Abraham, Ishak, dan Yakub tersebut.
Lalu, ada aspek ke-2 adalah Allah orang Yahudi adalah Allah yang suci, Allah yang kudus. 1 konsep yang tidak ada di dalam konsep dari allah-allah atau kepercayaan allah-allah bangsa-bangsa yang lain, di mana dewa-dewa mereka biasanya tidak di dalam kesucian. Mereka masih hidup di dalam hubungan seksual, mungkin antara dewa dan juga dengan manusia, yang kita sering kali dengar akhirnya melahirkan yang namanya demigod, anak yang merupakan kawin campur antara dewa dengan manusia, seperti itu. Tetapi, pada waktu mereka melihat kepada Allah dari orang-orang Yahudi, mereka merasa Allah ini berbeda. Secara moralitas, Allah dari orang Yahudi adalah Allah yang betul-betul menjaga moralitas, menjaga, mungkin etika, seperti itu. Dan kita bisa lihat dari mana? Hukum-hukum yang Tuhan berikan kepada orang-orang Yahudi tersebut.
Kalau Bapak, Ibu lihat di dalam kitab Ulangan, salah satu hal yang dituntut oleh Tuhan yang sangat penting sekali yaitu ketaatan kepada hukum Tuhan tanpa menambahi dan tanpa mengurangi hukum tersebut. Tujuannya untuk apa, hukum itu ditaati dengan begitu ketat sekali? Supaya orang-orang Yahudi memiliki satu standar hidup yang berbeda dengan orang-orang dunia, orang-orang sekitarnya. Di situ, mereka menerapkan ibadah kepada Allah. Di situ, mereka menerapkan kasih kepada sesama mereka berdasarkan 10 hukum yang Tuhan berikan kepada mereka. Di situ juga mereka melakukan satu ritual penyembahan kepada Allah yang berbeda dengan orang-orang non-Yahudi. Salah satunya misalnya kalau orang-orang non-Yahudi beribadah kepada allah, mereka tidak segan-segan mengorbankan anak demi untuk bisa beribadah kepada allah mereka atau mendamaikan situasi yang ada dari murka dewa-dewa mereka.
Tetapi pada waktu kita melihat kepada ibadah orang Yahudi, Alkitab memang pernah memberikan satu perintah yang seolah-olah Allah Yahudi menuntut persembahan anak bagi diri Dia. Dari mana? Dari Abraham yang diperintahkan oleh Allah untuk mengorbankan Ishak, satu-satunya anak tunggalnya. Tetapi pada waktu Abraham akan mempersembahkan anak itu, di detik-detik terakhir, Alkitab mencatat Tuhan mengintervensi peristiwa itu dan Tuhan tidak mengizinkan Abraham mengorbankan anaknya pada waktu itu. Lalu tujuannya untuk apa Tuhan memberikan perintah mengorbankan anak? Supaya Abraham melihat bahwa peristiwa ini merujuk kepada peristiwa hari Tuhan yang akan datang, yaitu di mana Allah akan mengutus anak-Nya sendiri untuk menjadi korban bagi manusia yang berdosa. Bapa mengorbankan anak-Nya sendiri dan ini adalah satu pekerjaan yang hanya Allah Bapa saja dan Yesus Kristus mungkin lakukan untuk memperdamaikan manusia dengan diri mereka atau diri Dia.
Tetapi usaha manusia mengorbankan anak, mengorbankan binatang untuk dapat datang kepada Allah, itu adalah hal yang tidak diperkenan oleh Tuhan dan adalah sesuatu yang dilarang oleh Tuhan karena ini bukan solusi untuk mendamaikan manusia dengan Allah yang suci dan kudus, khususnya dari manusia yang berdosa. Itu sebabnya pada waktu Abraham akan memberikan korban, Tuhan tujuannya bukan untuk mendidik Abraham memberikan korban dan anak-anak keturunan Abraham untuk mengorbankan anak-anak mereka untuk mendamaikan diri dengan Tuhan. Bukan. Tetapi supaya Abraham bisa melihat ke depan pada waktu peristiwa di mana Yesus berbicara dengan orang-orang Yahudi berkaitan dengan keberadaan diri Dia, di situ Yesus mengungkap peristiwa ini, yaitu Abraham telah melihat hari itu, hari-Ku itu dan dia bersukacita atas hari itu. Yaitu hari apa? Di mana Yesus datang sebagai anak Allah untuk menjadi korban penebus dosa. Jadi atas dasar ini mungkin membuat orang-orang Yunani merasa Allah dari Abraham, Ishak, dan Yakub itu adalah Allah yang berbeda, mereka memiliki Allah yang satu dan mereka memiliki Allah yang memiliki moralitas yang begitu tinggi yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain dan umat Allah yang hidup di dalam ketaatan yang sesungguhnya kepada perintah Tuhan tanpa menambahi tanpa mengurangi itu mencerminkan kehidupan moralitas dari Tuhan Allah ini. Nah, ini menjadi satu daya tarik untuk mereka datang kepada Kristus untuk atau datang untuk menyembah kepada Allah dari Abraham, Ishak, dan Yakub.
Nah, pada waktu kita masuk ke dalam bagian ini, Yesus Kristus adalah Allah yang inkarnasi, Allah yang memberitakan kebenaran mengenai apa yang diajarkan di dalam Perjanjian Lama. Dan pada waktu dia datang ke dalam dunia, dia betul-betul memberitakan mengenai kasih Allah ini di dalam kehidupan Dia. Saya dalam hal ini saya mengulangi kembali atau menekankan kembali apa yang dikatakan oleh Injil Yohanes ya. Pada waktu Injil Yohanes ditulis, tujuan Injil Yohanes ditulis untuk apa? Supaya melalui Injil ini kita mengenal siapa Yesus, mengetahui bahwa Dia adalah Mesias melalui tanda-tanda yang dilakukan oleh Yesus Kristus dan akhirnya memperoleh hidup yang kekal di dalam-Nya.
Jadi pada waktu Yesus datang, orang-orang Yunani ini kenapa datang kepada Yesus Kristus? Orang-orang Yahudi kenapa datang kepada Yesus Kristus? Karena mereka melihat ada hal yang unik, yang berkuasa, yang luar biasa, yang berbeda dari semua pemimpin yang lain. Di mana para pemimpin yang lain mengajar tetapi tidak memiliki kuasa. Melain tetapi Yesus Kristus pada waktu mengajar, Dia bukan hanya mengajar kebenaran, Dia bukan hanya memiliki kemampuan untuk menafsirkan kebenaran secara tepat sekali dan Dia juga bukan hanya seorang tokoh yang berani menentang Farisi dan ahli Taurat yang mengajarkan hal yang berbeda dari tafsiran yang sesungguhnya yang Tuhan kehendaki bagi umat-Nya, tetapi Dia juga punya kuasa untuk mengkonfirmasi bahwa ajaran yang Dia ajarkan itu adalah sungguh kebenaran. Orang Yahudi mungkin atau Farisi dan ahli Taurat hanya mampu mengatakan bahwa Allah yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Tetapi Yesus Kristus ketika datang ke dalam dunia, Dia bukan hanya mengumumkan Allah berkuasa mengampuni dosa, tetapi Aku berkuasa mengampuni dosa. Lalu buktinya apa bahwa Aku berkuasa mengampuni dosa? Yaitu membuat orang yang berdosa itu, yang lumpuh itu akhirnya bangkit dan berjalan seperti yang diperintahkan oleh Yesus Kristus sendiri.
Bukan hanya berkuasa untuk mengampuni dosa saja, tetapi juga ya mungkin gambaran lainnya bisa dikatakan Yesus memiliki kuasa untuk mentahirkan seseorang. Bapak, Ibu kalau perhatikan di dalam pelayanan Yesus Kristus ada orang-orang kusta yang datang kepada Yesus Kristus. Pada waktu mereka datang kepada Yesus Kristus, ada yang berkata seperti ini, “Tuhan atau Tuan tolong sembuhkan kami dari kusta ini.” Lalu Yesus menyembuhkan mereka. Tetapi ada orang kusta yang datang kepada Yesus yang berkata seperti ini, “Tuhan bukan hanya menyembuhkan dirinya saja, tetapi tolong tahirkan aku kalau Engkau mau.” Maksudnya gimana ya? Kalau Engkau mau, Engkau bisa mentahirkan aku seperti itu. Maksudnya adalah otoritas untuk mentahirkan seseorang atau menyembuhkan seseorang itu bukan terletak di dalam diri orang atau iman orang kepada Tuhan. Tetapi otoritas seseorang untuk disembuhkan dan ditahirkan itu terletak pada diri Allah sendiri. Dan di sini secara khusus adalah pribadi dari Yesus Kristus. Kalau Yesus berkenan maka Dia akan menahirkan. Tapi kalau Yesus Kristus tidak berkenan walaupun dia meminta Yesus untuk mentahirkan dan menyembuhkan, Yesus juga tidak akan lakukan mukjizat itu dalam kehidupan dari orang tersebut. Jadi orang yang sakit kusa ini sangat memahami otoritas itu, kedaulatan itu ada di dalam tangan dari Yesus Kristus. Makanya dia berkata, “Kalau Engkau mau Tuhan, Engkau bisa dan berkuasa untuk mentahirkan diriku.”
Nah, di sini saya tekankan yang kedua, kenapa orang kusta ini mengatakan tahir dan bukan sembuh? Karena dia memahami hal yang lebih mendalam. Bukan hanya berbicara mengenai kesembuhan fisik tubuh yang eksternal ini saja yang disembuhkan oleh Yesus Kristus tetapi Yesus memiliki kuasa untuk menyucikan dan mentahirkan orang kusta ini sehingga dia bukan hanya disembuhkan dan bisa berada di dalam keluarganya kembali dan ada di dalam masyarakat kembali, tapi dia bisa berhadapan dengan Tuhan dan beribadah kepada Tuhan kembali. Kuasa ini bersumber dari siapa? Kuasa ini bukan bersumber dari pemimpin agama dan ahli Taurat atau orang Farisi itu atau para imam-imam yang ada di bait Allah. Tetapi ini adalah kuasa yang hanya dimiliki oleh Yesus Kristus. Imam-imam memang disuruh Yesus menjadi orang yang kemudian dihadapi oleh orang kusta ini yang sudah sembuh. Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi bahwa orang kusta sudah ditahirkan dan boleh kembali ke rumah mereka, boleh kembali untuk beribadah kepada Tuhan. Tetapi imam-imam tidak memiliki kuasa untuk mentahirkan orang kusta ini. Hanya Yesus Kristus yang memiliki kuasa itu dan Dia nyatakan itu ketika Dia ada di dalam dunia ini.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, dari peristiwa ini kita bisa mengerti satu hal, Yesus berkata bahwa kuasa itu adalah milik Dia. Tetapi orang kusta ini juga menyatakan Dia yang memiliki kuasa itu pasti bukan manusia. Dia adalah Tuhan sendiri yang memiliki kuasa itu. Nah, ini membuat pada waktu Yesus datang ke dalam dunia, kita mengerti satu hal, peristiwa mukjizat yang Dia lakukan itu bukan sekadar mukjizat, tetapi apa yang dilakukan oleh Yesus adalah tanda. Tanda untuk apa? Ketika orang-orang melihat kepada mukjizat yang dilakukan oleh Yesus, kesembuhan yang diberikan oleh Yesus, pemulihan, pentahiran yang dilakukan oleh Yesus Kristus, mereka mengetahui satu hal, di antara semua nabi yang pernah ada di dalam dunia ini, di antara semua bapa rohani yang pernah ada di dalam dunia ini, tidak ada satu pun yang pernah melakukan hal-hal yang Yesus lakukan yang justru yang benar adalah mereka semua berbicara mengenai hari ini, yaitu hari apa? Di mana ada seorang yang akan datang ke dalam dunia yang melakukan semua tanda-tanda itu dalam kehidupan dia. Dan kelihatannya inilah Orang itu dan itu sebabnya banyak orang datang untuk menemui Yesus Kristus. Dimulai dari peristiwa apa? Peristiwa mereka ingin mengalami mukjizat kesembuhan dari Yesus Kristus lalu kemudian akhirnya mereka datang bukan untuk mencari kesembuhan lagi, melainkan mereka ingin mendengar pengajaran dari Yesus Kristus sendiri. Karena mereka sadar bahwa yang penting adalah bukan hanya kesembuhan fisik, tapi mereka sadar yang lebih utama adalah kebenaran Firman yang mereka terima di dalam kehidupan mereka.
Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, saya harap ini menjadi kebenaran yang kita pegang juga, ya. Banyak orang mengikut Tuhan persis seperti orang-orang Yahudi sebelumnya yang datang ingin mendapatkan manfaat keuntungan dari Tuhan bagi diri mereka sendiri. Termasuk juga nanti di dalam bagian ini ada aspek itu sedikit. Tetapi pada waktu Yesus datang, Yesus bukan hanya ingin memberikan keuntungan di dalam dunia ini. Ini adalah dunia yang sementara. Saya yakin sekali kalau Yesus memenuhi semua yang diingini oleh diri kita, maka kita nggak akan punya satu kerinduan untuk berada bersama dengan Kristus di mana Yesus Kristus berada. Ini nanti ada bagian di dalam pelayanan yang Tuhan kehendaki, tapi saya juga lihat adalah berkaitan dengan mungkin tadi lagu yang dinyanyikan The Holy City. Di mana Yesus berada, di kota kudus Allah itu, Yerusalem yang baru, kita nggak akan merasa itu adalah hal yang penting yang harus kita kejar di dalam kehidupan kita. Sebabnya apa? Karena semua kita sudah terima, semua kita sudah miliki. Mau sehat ada, mau makan ada, mau jalan-jalan bisa. Semua hal yang dirindukan oleh manusia yang ada dalam hati untuk menikmati hidup bahagia dan segala hal yang lain semuanya kita terima.
Mungkinkah kita masih ingin berada bersama dengan Kristus? Mungkinkah kita masih ingin untuk berada di dalam kota kudus Allah tersebut? Saya yakin tidak. Karena kita merasa di sinilah surga itu dan di sinilah hal yang paling bahagia itu. Bahkan Tuhan sendiri tidak akan kita pentingkan dalam hidup kita. Tapi kalau kita diizinkan oleh Tuhan mengalami sakit, mengalami penderitaan, mengalami pergumulan dalam kehidupan kita, mengalami hal-hal yang membuat kita frustrasi, sedih, marah, misalnya, merasa nggak nyaman, merasa dunia ini terlalu kejam seperti itu dengan orang-orang yang berdosa, maka mata kita akan tertuju kepada Kristus dan mata kita akan tertuju pada kota Allah yang baru itu dan kita ingin ada di situ. Kenapa? Karena memang dunia ini bukan dunia yang diperuntukkan bagi kita. Alkitab mengatakan kita adalah musafir di dalam dunia ini. Kita hanya sebagai orang asing di dalam dunia ini saja. Dan kota kita yang sesungguhnya atau rumah kita yang sesungguhnya adalah tempat di mana Yesus berada.
Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, Kitab Suci begitu memberikan bijaksana dalam hidup kita, ya. Kalau kita mengerti prinsip ini, saya yakin sekali banyak orang-orang Kristen yang ketika menjalani hidup di tengah-tengah dunia, mereka tahu satu hal, walaupun sulit, walaupun berat, tapi ada satu keberanian untuk hidup di dalam kebenaran mengikuti Yesus Kristus. Ada satu keberanian untuk menjaga diri di dalam kekudusan dan meninggalkan dosa. Ada satu keberanian untuk tetap di dalam iman walaupun ada begitu banyak bahaya dan ancaman yang dialami dalam kehidupan ini. Ada satu kekuatan yang membuat diri kita walaupun mungkin ketika disandingkan dengan orang-orang dunia, mereka sudah jatuh, mereka hancur seperti itu. Tetapi kita masih punya kekuatan dan pengharapan karena kita tahu ini hanya ujian, ini hanya sementara, tujuan final bukan di dalam sini dan aku punya Tuhan memiliki kuasa untuk menuntun hidupku sampai kepada akhir di kota Allah yang baru itu.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah hal yang Tuhan kehendaki untuk kita pahami dalam hidup ini. Dan itu sebenarnya tadi saya katakan kalau kita hanya mengerti kehidupan Kristen hanya dari sisi berkat, sisi penyediaan Tuhan bagi diri kita, sisi di mana Tuhan menyertai kita bukan karena kita melakukan kehendak dari Tuhan, tapi karena kita melakukan kehendak dari diri kita sendiri, maka di situ saya berani katakan kita sebenarnya belum mengenal Tuhan Yesus dan belum diselamatkan di dalam Kristus. Nah, kenapa saya berani bicara seperti ini? Karena di dalam ayat yang tadi kita baca, ya, di ayat yang 25, “Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Jadi, kalau kita berpikir bahwa kita hanya ingin Tuhan menyertai kita untuk melakukan apa yang kita kehendaki, hidup ini adalah milik kita dan apapun yang kita lakukan tidak boleh diintervensi oleh Tuhan dalam kehidupan kita, maka itu hanya berarti kita adalah orang-orang yang begitu mencintai hidup kita, mencintai dunia ini dan bagi Yesus itu adalah ciri dari orang yang sebenarnya sudah kehilangan nyawa mereka.
Bapak, Ibu, saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus datang untuk memberikan pengertian bahwa dunia ini dipenuhi oleh dosa dan kehidupan manusia seharusnya bukan untuk memenuhi apa yang menjadi keinginan manusia tetapi untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Allah dan melayani Allah di dalam dunia ini. Ini adalah satu kebenaran yang saya harap semua orang Kristen pahami ya. Spurgeon berkata seperti ini, ketika manusia diselamatkan oleh Yesus atau hidup di dalam dunia ini atau Tuhan mencipta manusia, manusia itu diselamatkan bukan melalui pelayanan yang di kerjakan oleh diri kita tetapi Spurgeon kemudian berkata, manusia yang sudah ditebus oleh Kristus adalah orang-orang yang ditebus untuk melayani Tuhan. Saya ulangi sekali lagi ya, Spurgeon mengatakan bahwa kehidupan kita, hidup kekal diri kita itu bukan sesuatu yang kita dapatkan melalui pelayanan dan ibadah yang kita lakukan di hadapan Tuhan. Tetapi orang-orang yang ditebus oleh Kristus adalah orang-orang yang ditebus untuk melayani Tuhan. Jadi itu sebabnya Yesus di dalam bagian ini bicara bahwa kalau kita lebih mencintai diri, lebih mencintai dunia ini, atau lebih mencintai nyawa kita, maka itu berarti sebenarnya kita hidup persis bertolak belakang dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Lalu apa yang dikehendaki oleh Tuhan dari orang-orang yang hidup bagi Tuhan? Yaitu mereka yang hidupnya berani menyerahkan nyawanya bagi Kristus dan hidup bersama dengan Kristus. Di mana pun Yesus berada, di situ mereka juga turut berada dan inginkan berada di situ. Jadi bukan kehendak kita lagi yang kita utamakan, tetapi apa yang menjadi kehendak Tuhan. Itu yang kita utamakan di dalam kehidupan kita.
Nah, saya akan lanjutkan dalam bagian ini. Semua kebenaran ini mungkinkah bisa dicapai oleh manusia? Apakah di dalam dunia ini ada orang yang betul-betul bisa mencapai kehendak Tuhan dan dipersatukan walaupun ada di dalam perbedaan itu? Maksud perbedaan itu apa? Dari bangsa apapun di dalam dunia ini yang disimpulkan Alkitab dalam dua kategori yaitu orang yang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita perhatikan di dalam dunia ini peperangan-peperangan yang ada di dalam dunia ini mungkin kita bisa multitafsir ya, satu sisi bisa kita bicara mengenai ini masalah politik, masalah ekonomi seperti itu, masalah kepentingan dari negara tertentu, tetapi seringkali yang kita temukan juga adalah peperangan itu nggak harus bicara mengenai peperangan yang ada di dalam dunia dengan segala persenjataan yang lengkap. Tapi kita bisa menemukan suku yang satu dengan yang lain, agama yang satu dengan agama yang lain itu adalah kelompok-kelompok yang tidak pernah bisa diperdamaikan.
Di dalam dunia ini atau khususnya di Indonesia kadang-kadang kita bertemu para pengurus gereja seperti itu atau persatuan gereja yang berusaha untuk memperjuangkan yang namanya toleransi beragama. Saya bukan menolak toleransi ya. Saya juga menghargai itu, perjuangan itu, dan saya sendiri merasa bahwa hidup antara manusia dengan manusia perlu ada toleransi yang dibangun antara yang satu dengan yang lain. Tetapi yang saya maksudkan adalah seperti ini, mungkinkah toleransi itu terjadi dikarenakan agama Kristen, Islam, Budha dan Hindu dikatakan menyembah Allah yang satu, yang sama itu, yang sedang berjalan menuju ke sorga itu dengan jalan yang berbeda-beda? Ini yang harus kita pikirkan lebih jauh.
Sebagai orang Kristen, pada waktu kita memikirkan hal ini, walaupun orang Kristen berusaha untuk menerima pengertian ini, yang walaupun Alkitab nggak pernah mengajarkan itu dan Yesus sendiri tidak pernah mengatakan itu, tetapi agama yang lain pasti tidak akan setuju. Mereka juga akan merasa bahwa ini jalan kami, jalan kami berbeda dengan jalanmu, bagaimana engkau bisa berkata kita sama? Kita satu tujuan seperti itu. Nggak usah jauh-jauh, allah nya allah Islam siapa? Allah Abraham dan Ismail, Allahnya orang Kristen siapa? Allahnya Abraham, Ishak, Yakub, dan kita sembah di dalam Yesus Kristus. Dan Yesus siapa? Tuhan, Pribadi Allah yang kedua. Islam mengakui nggak kalau Yesus adalah Tuhan Pribadi Allah yang kedua? Sama sekali tidak. Mereka hanya mengakui kalau Yesus adalah seorang nabi. Yoh. 17:3 berkata hidup yang kekal itu adalah bagi mereka yang, yang apa? Boleh dibuka ayatnya. Kalau Islam ada kalimat syahadat. Saya suka ngomong Kristen juga ada kalimat syahadat, loh. Di syahadatnya di mana? Yoh. 17:3. Kita baca sama-sama ya. Tapi konteksnya beda total ya. “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
Jadi, kalau kita ingin memiliki hidup yang kekal, caranya bagaimana? Menurut Yoh.17:3 ini kalimat Yesus sendiri ya, mengenal Engkau Allah yang benar, satu-satunya dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Karena Yesus Kristus ketika ada di dalam dunia selalu melakukan apa yang menjadi kehendak dari Bapa-Nya. Mereka adalah dua Pribadi yang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama. Dan Yesus selalu melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa-Nya. Tapi kalau syahadat Islam apa? Allah itu satu. Allah tidak memperanakkan diri dan diperanakkan. Dan Muhammad adalah nabi Tuhan, rasul Allah. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketemu nggak? Kalau kita ngomong ketemu, ya, maafkan saya pakai istilah ini, orang Kristen naif sekali ya. Alkitab sendiri mengajarkan berbeda. Ini baru Kristen sama Islam. Belum Kristen dengan Hinduisme. Islam dengan Hinduisme. Islam dengan Buddhisme. Hinduisme dengan Buddhisme. Walaupun ada sedikit persamaan, tapi juga ada perbedaan. Nggak usah jauh-jauh. Jangankan Kristen sama Hinduisme, Islam berani nggak atau mau nggak mengatakan di dalam Hinduisme ada kebenaran? Saya yakin mereka nggak akan setuju. Karena di dalam Hinduisme ada begitu banyak dewa yang harus disembah, ada ratusan juta dan Islam hanya mengakui ada satu Allah saja. Jadi, bagaimana mungkin ini semua bisa dipersatukan seperti itu? Dan semua ini sebenarnya sudah dicatat di dalam Kitab Suci mulai dari keberadaan dari orang Yahudi di dalam dunia ini. Alkitab bilang dengan keberadaan Taurat Tuhan tidak mungkin orang Yahudi bisa bersama-sama dengan orang bukan Yahudi dan di dalam kehidupan mereka bukan tidak pernah berusaha untuk hidup di dalam kedamaian. Mereka pernah lakukan itu, tetapi Alkitab mencatat mereka tidak pernah bisa berhasil untuk hal itu.
Nah, di sini kita mungkin bertanya, kalau begitu ada nggak solusi untuk kebersamaan ini atau kesatuan ini? Dan sebenarnya kesatuan ini adalah sesuatu yang sejak kapan munculnya di dalam dunia ini? Kalau kita lihat di dalam pengajaran Yoh. 12, mungkin kita berkata, “Ini adalah sesuatu yang Yesus katakan di dalam pelayananku ada domba-domba yang lain selain dari mereka yang ada di dalam kandang.” Itu kita sudah bahas sebelumnya di dalam Yoh. 10, ya. Maksudnya adalah Yesus mau berkata bahwa Dia datang ke dalam dunia ini bukan hanya untuk mengumpulkan orang-orang Yahudi saja. Walaupun pernah dikatakan oleh Tuhan di dalam Matius yang berkata bahwa ketika Dia utus murid-murid-Nya pergi, “Engkau jangan pergi kepada bangsa lain, tapi pergi kepada orang Yahudi saja. Layani mereka.” Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, menariknya di dalam Yoh. 10, Yesus bicara, “Di pada-Ku ada domba yang lain yang bukan berasal dari kandang ini.” Kandang ini kandang mana? Orang-orang Yahudi. Lalu siapa orang dari domba-domba lain itu? Yaitu orang-orang Yunani atau orang-orang non-Yahudi yang ada. Dan Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah ini adalah satu revolusi atau sesuatu yang baru yang Tuhan ungkapkan yang tidak pernah dicatat dalam Kitab Suci? Jawabannya tidak. Di dalam kitab Yesaya, Tuhan sudah berbicara seperti ini dan Tuhan berkata bahwa ada bangsa-bangsa lain yang turut akan datang untuk beribadah kepada Allah bersama dengan orang-orang Yahudi. Jadi, sejak dari mula sebenarnya Allah sudah merencanakan kesatuan dari semua bangsa dalam dunia ini bersama dengan orang-orang Yahudi untuk beribadah kepada Tuhan Allah.
Mungkin salah satu ayat yang lebih, yang mungkin Bapak, Ibu bisa baca di dalam satu ayat berbicara seperti ini adalah dari surat Efesus, ya. Kita boleh buka Ef. 3. Ini di dalam pelayanan yang Paulus lakukan. Ef. 3 kita boleh baca ayat 8 dan 9. Saya baca dari ayat ke-empat saja ya. Ayat 8 dan 9 kita baca sama-sama ya. “Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui daripadanya pengertianku akan rahasia Kristus yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh, kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi karena berita Injil turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” Ayat 8 dan 9 kita baca sama-sama ya. “Kepadaku yang paling hina di antara segala orang kudus telah dianugerahkan kasih karunia ini untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus yang tidak terduga itu. Dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah yang menciptakan segala sesuatu.”
Ayat 9 secara khusus mau mengatakan sebenarnya keberadaan dari gereja itu bukan sesuatu keberadaan yang ada di antara rencana Allah dengan rencana Allah. Maksud saya adalah gereja punya keberadaan itu bukan ada di dalam kurung kurawal atau interupsi dari rencana keselamatan yang Allah kerjakan bagi manusia yang berdosa. Karena ada orang Kristen mengatakan seperti ini; sebelumnya Allah merencanakan keselamatan bagi orang Yahudi, tetapi karena orang Yahudi menolak Yesus Kristus, maka akhirnya Allah mengubahnya menjadi keselamatan itu ada di dalam gereja bagi orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi yang percaya kepada Kristus. Tapi nanti Tuhan akan bekerja kembali kepada orang-orang Yahudi yang di sini yang menolak Allah, akhirnya semua orang Yahudi diselamatkan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Ef. 3 : 9 mengatakan, “Dari sejak semula sebelum langit dan bumi dicipta oleh Allah, Allah sudah merencanakan keselamatan bagi Yahudi dan bagi orang non-Yahudi.” Mereka siapa? Yaitu gereja. Melalui siapa? Melalui Yesus Kristus atau di dalam Yesus Kristus. Jadi ini adalah satu rencana kekal yang Allah miliki yang membuat Allah mencipta langit dan bumi dan membuat manusia yang ada di dalam dunia ini dan mengizinkan manusia yang ada di dalam dunia itu, manusia pertama, jatuh di dalam dosa sehingga rencana Allah itu bisa berjalan dan tergenapi di dalam pribadi Yesus Kristus.
Nah, kenapa saya bicara seperti ini? Karena di dalam ayat 23, 24 itu adalah esensi dari berita yang tadi saya kabarkan. Pada waktu orang-orang Yunani datang kepada Yesus Kristus dan ingin bertemu Yesus, tiba-tiba di situ Yesus berkata, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.” Bapak, Ibu, Saudara yang di kasihi Tuhan, kenapa ini kalimat muncul? Apakah kalimat ini begitu penting sekali sehingga dicatat di sini? Benar. Ini adalah kalimat yang sangat penting yang mengubah mungkin arah pelayanan Yesus Kristus sejak dari kalimat ini muncul. Kalau Bapak, Ibu bandingkan dari pasal yang ke 2 sampai dengan pasal yang ke 11, Yesus tidak pernah mengeluarkan kalimat ini. Yang terjadi adalah selalu dicatat “waktunya belum tiba”, “waktunya belum tiba”, sampai akhirnya di dalam Yoh. 12:23 Yesus bicara “Waktunya telah tiba” dan mulai dari Yoh. 12:23 seterusnya selalu mulai dengan kalimat waktunya sudah tiba. Tidak lagi bicara waktunya belum tiba.
Lalu kalau kita tanya lagi “Waktu apa sudah tiba itu?” Waktu untuk biji gandum itu harus mati. Saya baca ayat 24 ya, “Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Ini adalah satu perumpamaan yang begitu dimengerti oleh orang-orang Yahudi yang background-nya adalah pertanian. Dan mereka mengerti sekali bahwa untuk sebuah biji gandum bisa tumbuh dan menghasilkan banyak biji, maka biji itu ndak mungkin bisa menghasilkan banyak biji kalau terus disimpan di dalam lumbung. Bagaimana caranya bisa punya banyak biji yang lain? Yaitu harus ditanam atau dikubur, yang merupakan gambaran kalau biji itu mati. Jadi, satu biji yang mati itu akan menghasilkan tanaman gandum yang menghasilkan banyak biji-biji gandum yang lain.
Nah, kalau kita gunakan ilustrasi ini dan ganti dengan kata kerja orang ketiga tunggal, yaitu Yesus Kristus, maka Yesus sedang mau mengajarkan: “Kalau Aku tidak mati, nggak ada gunanya. Aku harus datang. Aku harus mati. Baru dari situ maka bisa menghasilkan banyak nyawa yang diselamatkan. Atau banyak buah yang dihasilkan melalui kematian tersebut.” Jadi, itu sebabnya pada waktu kita berbicara mengenai Yohanes pasal 12 ini –terutama ketika Yesus bicara menggambarkan diri Dia sebagai biji gandum– kita harus mengerti seperti ini: satu-satunya solusi bagi manusia berdosa untuk bisa beribadah kepada Allah yang sejati itu hanya melalui Yesus Kristus. Tetapi saya juga mau mengatakan seperti ini: satu-satunya solusi untuk bangsa-bangsa di dalam dunia: yang berbeda, yang bertolak belakang, yang saling –mungkin– menyalahkan satu sama lain dan tidak mungkin bisa dipertemukan dan duduk bersama untuk beribadah kepada Allah yang sama, seperti itu, baru bisa beribadah kepada Allah yang sama dan sejati kalau mereka ada di dalam Kristus.
Dan pada waktu kita melakukan ini, ini bukan ekspansi gereja! Ini bukan ambisi dari orang-orang Kristen! Tetapi ini adalah ambisi dari Tuhan sendiri dan bagian dari menggenapi kehendak Tuhan yang semula, yang membuat Dia mencipta langit dan bumi dan mencipta manusia yang ada di dalam dunia ini. Atau istilah lainnya adalah: kalau kita menjadi perpanjangan Tuhan untuk mengabarkan Injil kepada orang berdosa di dalam dunia ini, Bapak, Ibu sedang melakukan kehendak Tuhan! Bukan melakukan kehendak gereja, pendeta, atau agenda pelayanan gereja. Tetapi kita sedang menaati Tuhan di dalam hidup kita.
Nah, pengertian ini muncul dari mana? Kalau Bapak, Ibu baca di dalam ayat 26, ya: “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” Artinya adalah: kalau kita betul-betul mengikut Yesus, kita percaya pada Yesus, ada satu keinginan di dalam diri kita, yaitu akan selalu mau berada bersama dengan Kristus. Dan pada waktu kita bicara akan selalu mau berada bersama dengan Kristus, dalam hal apa? Bukan hanya tempat di mana Yesus berada, di situ kita ingin ada bersama-sama dengan Dia saja, tetapi tempat di mana Yesus melalui dan apa yang Yesus kerjakan, kita juga ingin kerjakan itu dalam kehidupan kita. Makanya tadi Spurgeon bicara, “Kita itu dipanggil untuk melayani. Kita bukan dipanggil untuk bekerja bagi keselamatan kita. Tetapi kita adalah orang-orang yang diselamatkan untuk melayani Kristus di dalam kehidupan kita.”
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, bagaimana kita bisa lakukan itu? Nah, di sini, di hari Pentakosta, saya mau bicara sedikit mengenai Roh Kudus, ya. Caranya adalah: Tuhan memberikan Roh Kudus-Nya bagi diri kita. Atau Tuhan mencurahkan Roh Kudus-Nya bagi kita. Tapi pencurahan itu bukan sesuatu yang berulang terus-menerus setiap tahunnya, di mana ketika orang Kristen memperingati hari kenaikan Kristus, maka sepuluh hari kemudian Roh Kudus dicurahkan. Bukan seperti itu. Tetapi peristiwa pencurahan Roh Kudus itu mau memberikan satu pengertian bagi kita: setiap orang yang percaya kepada Kristus adalah orang-orang yang sudah memiliki Roh Kudus di dalam diri kita. Ini di dalam 1 Korintus 12:13 lalu Roma 8:9. Kalau kita ndak memiliki Roh Kudus, maka kita bukan milik Kristus. Jadi, setiap orang yang percaya pada Kristus pasti sudah memiliki Roh Kudus di dalam hidupnya, atau di dalam dirinya.
Nah, untuk apa Roh Kudus itu diberikan kepada diri kita? Di dalam Kisah Para Rasul pasal 1 dikatakan: orang atau para rasul harus tunggu. Tunggu di Yerusalem. Sampai kapan? Roh Kudus diberikan. Kenapa mereka harus tunggu? Karena tanpa Roh Kudus, maka mereka tidak memiliki kuasa untuk melayani Tuhan dan mengabarkan Injil sampai ke ujung bumi. Ini adalah salah satu aspek yang penting dibandingkan aspek-aspek yang lain berkaitan dengan pekerjaan Roh Kudus bagi diri kita, ya.
Ini kalau kita mau bicara apa saja yang menjadi panggilan atau pekerjaan Roh Kudus di dalam kehidupan dari orang-orang percaya, kita mungkin bisa bicara ada dari banyak aspek. Misalnya, Roh Kudus melahirbarukan kita dari orang berdosa yang tidak mencintai Tuhan menjadi orang yang akhirnya mengetahui kalau kita butuh keselamatan di dalam Kristus. Kita adalah orang berdosa. Dan karena itu kita datang dalam iman kepada Kristus. Roh Kudus membantu kita di dalam hal apa? Di dalam hal memberikan kita karunia-karunia untuk bisa melayani di dalam gereja-Nya. Dengan ada karunia untuk menggembalakan, ada karunia penginjilan, ada karunia untuk mengajar, ada karunia untuk menasihati, ada karunia untuk memperhatikan satu dengan yang lain, dan yang lainnya. Ada karunia itu yang Roh Kudus berikan bagi diri kita, ya. Tetapi di antara semua karunia-karunia yang diberikan, ada satu karunia yang mungkin orang Kristen seringkali lupa dan memberikan tanggung jawab ini, atau menyerahkan dan melemparkan tanggung jawab ini, kepada pendeta dan penginjil, yaitu karunia untuk menyertai hidup kita untuk menyaksikan Injil Kristus kepada dunia. Dan dunia ini siapa? Nggak perlu menjadi misionaris. Tetapi kita bisa menjadi saksi Kristus di dalam lingkungan di mana Tuhan taruh kita. Di dalam keluarga, di dalam lingkungan pekerjaan, di dalam lingkungan pertemanan, dan yang lainnya. Dan Tuhan sudah memberikan Roh Kudus bagi diri kita. Artinya apa? Semua orang Kristen punya kemampuan itu. Punya kuasa itu. Yang tinggal diperlukan adalah mau atau tidak.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dan Yesus bicara mereka yang mau mengikut Yesus, dan mau menjadi saksi Kristus, dan melakukan apa yang Yesus lakukan, dengan cara tidak menganggap nyawanya penting, itu adalah orang yang akan menerima hidup. Sekali lagi ini bukan bicara mengenai keselamatan ya, tetapi ini adalah ciri dari orang yang sudah ditebus di dalam Kristus. Salah satu dari kesaksian yang sangat menggugah hati, mungkin Bapak Ibu pernah dengar nama Jim Elliot, seorang yang pergi ke satu suku untuk mengabari Injil, tetapi akhirnya dia sendiri menjadi korban bersama dengan dua temannya yang lain. Tapi di dalam pelayanan itu sebelum dia mati pada waktu itu, dia menulis di dalam catatan agendanya satu kalimat yang sangat-sangat menggugah sekali ya. “Orang yang melepas sesuatu yang tidak bisa dipertahankan itu bukan orang bodoh demi untuk bisa mendapatkan sesuatu yang tidak pernah bisa hilang.” Maksudnya adalah kalau kita mempertahankan hidup misalnya kesehatan, mau tanya siapa yang bisa mempertahankan itu dalam diri dia? Nggak bisa. Nggak ada satu orang pun yang bisa lakukan itu.
Kemarin saya sempat mengunjungi satu bapak, teman baik dari suami dari Bu Titik. Dia bersama dengan suami Bu Titik punya satu komitmen, yaitu kita akan sepedaan sampai tua bersama. Hebat sekali. Usianya sudah 70-an tahun. Mereka naik sepeda suatu hari. Lalu di tengah-tengah jalan yang sepi, ndak ada kendaraan lain kayak gitu. Sisi kanan begitu lebar. Tiba-tiba di belakangnya ada dua anak perempuan muda yang bawa motor nabrak teman dari Bu Titik, suami Bu Titik ini. Dan ternyata perempuan ini mabuk sehingga dia jalan, dia nggak mau jalan di tempat lebar, dia jalan di belakang sepeda kayak gitu nabrak. Lalu teman suami Bu Titik ini jatuh dan kondisinya agak parah. Kakinya, tulang di dekat pergelangan kakinya patah kayak gitu. Bahunya terkilir, seluruh tubuh sakit semua. Ada robekan-robekan di muka yang butuh beberapa jahitan seperti itu. Lalu ketika dia dibawa ke salah satu rumah sakit, maka dia diberi obat katanya anti nyeri. Tapi begitu konsumsi itu akhirnya muntah darah karena lambungnya juga ada luka. Akhirnya dibawa ke satu rumah sakit lagi dan dia dirawat di situ. Dan pada waktu itu saya tengok, dan di situ kemudian dia mengeluarkan satu kalimat ya, pada waktu saya bicara, “Bapak belajar apa melalui peristiwa ini?” Dia bilang, “Ternyata hidup manusia itu hanya satu hembusan nafas. Kalau waktunya tiba, nggak ada orang yang bisa mempertahankan itu dan kita nggak tahu kapan waktunya. Dan manusia itu begitu rentan sekali untuk menghadapi kematian.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah kita pikir nyawa itu begitu penting? Betul sih, penting. Kalau begitu kita bisa pertahankan tidak? Saya yakin semua orang bilang nggak mungkin. Orang yang suka olahraga akan ngomong, “Kesehatan itu adalah yang paling penting dan utama melebihi segala sesuatu. Makanya kita perlu jaga kesehatan kita.” Benar sih kalau kita sudah sakit-sakitan gimana kita mau bekerja, mau melayani dan menikmati hidup? Susah juga. Makanya kita perlu jaga kesehatan. Tapi mohon tanya lagi, orang yang mengejar kesehatan, betul-betul menjaga kesehatan, apakah bisa memperpanjang nyawa? Secara logika kayaknya bisa. Secara ilmu medis kayaknya bisa, dengan ngomong apa? Ada bagian dari kromosom manusia yang makin panjang. Tapi apakah betul orang bisa memperpanjang nyawa dan mempertahankan hidup dengan olahraga? Banyak orang yang suka olahraga juga mati kok. Uang yang banyak, kekayaan, betulkah bisa memperoleh hidup ini? Kenikmatan dalam dunia, betulkah bisa membuat Saudara menikmati hidup di dalam dunia ini dan memiliki segalanya? Saya yakin tidak. Yang justru terjadi adalah kita diperbudak oleh semua itu.
Di sini Yesus bicara satu hal yang penting ya. Barang siapa yang mengerti dan memiliki bijaksana, dia tidak akan menganggap hidup di dalam dunia ini begitu pentingnya sampai dia mengabaikan yang kekal itu bersama dengan Kristus. Saya bukan bicara, “Oh, kita ndak perlu menghargai hidup dalam dunia ini. Kita nggak perlu menjaga hidup dan kesehatan. Kita korbankan diri aja sakit-sakitan dan segala macam,” bukan. Tetapi yang kita perlu lihat adalah cinta kita kepada Kristus itu apakah lebih besar dan begitu mendalamnya sampai membuat orang dunia merasa kita membenci mereka. Kalau kita nggak memiliki sikap hati seperti ini dan hidup seperti ini, saya yakin kita belum memenuhi standar Tuhan.
Ya, bersyukur sekali ada kasih karunia yang Tuhan berikan bagi diri kita, ya. Tetapi ada satu hal yang saya harap kita mulai gumulkan. Kalau standar hidup kita belum sampai pada tingkat ini, saya nggak heran banyak orang Kristen yang nggak pernah bisa menjadi berkat bagi orang lain. Karena kita selalu ada apa-apa mementingkan diri, mentingin hidup kita lebih daripada keutamaan pekerjaan Tuhan. Saya mau tanya, Bapak Ibu, seberapa besar cintamu kepada gereja Tuhan? Seberapa besar cintamu bagi Tuhan yang diwujudkan dalam gereja Tuhan yang membuat engkau rela mengabaikan semua kepentingan diri demi untuk pekerjaan Tuhan bisa jadi? Ini adalah hal yang saya kira, bukan kiralah ya, ini adalah kebenaran yang Tuhan nyatakan bagi kita, ya. Barang siapa yang melayani diri, yang mencintai nyawanya, dia akan kehilangan nyawanya. Dan barang siapa yang mencintai Tuhan atau kehilangan nyawanya bagi Tuhan, maka dia akan menjadi orang yang memiliki hidup yang kekal dan dia adalah orang yang akan selalu bersama dengan Kristus. Di mana Kristus berada, di situ kita berada. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita di dalam pemberitaan firman pada pagi hari ini. Mari kita masuk dalam doa.
Kembali bersyukur Bapa untuk firman yang boleh kami dengar. Kembali bersyukur Bapa untuk segala kebenaran yang boleh Engkau nyatakan bagi kami. Tolong kami ketika kami menjalani hidup, kami boleh sungguh-sungguh menyatakan hidup yang sudah diperdamaikan di dalam Kristus Yesus dan ada bersama dengan Kristus. Berkati kami ya Tuhan. Jangan biarkan kasih karunia-Mu lewat dari hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
