Perjamuan yang Kudus, 4 November 2018

1 Kor. 11:17-34

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai malam Paskah, malam Perjamuan Kudus, maka sebenarnya Perjamuan Kudus itu adalah sesuatu tindakan atau sesuatu yang ritual, yang dilakukan oleh orang-orang Israel untuk mengingat kembali sebelumnya akan hari di mana bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan di Mesir. Kalau Bapak, Ibu melihat, baca di dalam Perjanjian Lama, kita bisa melihat sejarah orang Israel, yang sebelumnya dibawa ke dalam Mesir, lalu ketika mereka ada di dalam Mesir, mereka kemudian diperbudak oleh Firaun dan orang-orang Mesir tersebut, sampai akhirnya mereka begitu menderita sekali, dan mereka berteriak kepada Tuhan untuk meminta pertolongan Tuhan, mengeluarkan mereka daripada perbudakan tersebut. Dan pada waktu Tuhan mendengar permintaan mereka, Tuhan kemudian menolong mereka dengan memberikan tulah-tulah kepada bangsa Firaun atau bangsa Mesir itu. Mulai dari tulah pertama sampai tulah yang terakhir, adalah tulah yang kesepuluh. Dan pada waktu mereka masuk ke dalam tulah yang ke sepuluh, ini menjadi suatu tulah yang terakhir untuk membuat bangsa Mesir tunduk di bawah kehendak Allah dan memberikan kebebasan bagi bangsa Israel. Dan tulah kesepuluh ini apa? Orang-orang Israel dipanggil oleh Musa untuk mengumpulkan satu keluarga satu ekor domba yang berumur 1 tahun, lalu kemudian dikurung domba itu beberapa hari untuk melihat apakah domba itu ada cacat atau tidak. Kalau ada cacat, mereka akan ganti domba itu dengan domba yang baru, yang betul-betul baik, yang tidak ada cacatnya sama sekali. Lalu setelah hari yang ditentukan itu tiba, mereka kemudian akan menyembelih domba itu, mengalirkan darahnya. Bagi keluarga yang mampu, 1 domba untuk 1 keluarga. Bagi keluarga yang kurang mampu, beberapa keluarga dengan 1 domba. Tapi yang penting adalah mereka mengambil darahnya itu, lalu darah itu diambil, mereka oleskan di dinding atau di tiang pintu dari rumah mereka. Lalu dagingnya bagaimana? Mereka bakar dan mereka makan daging tersebut dan tidak boleh sisa daripada daging itu pada hari itu juga.

Lalu setelah itu apa yang mereka lakukan? Alkitab berkata, mereka kemudian menunggu dengan pakaian lengkap, dengan kasut di kaki, dengan tongkat di tangan untuk siap-siap keluar dari Mesir. Dan pada malam itu, Alkitab berkata, Malaikat Tuhan datang ke Mesir, satu per satu pintu itu, rumah, dilewati oleh Malaikat Tuhan. Dan kalau Malaikat Tuhan melihat ada darah yang ada di tiang pintu, maka Malaikat Tuhan akan melewati darah itu, atau rumah tersebut, tetapi ketika Malaikat Tuhan tidak melihat ada darah di tiang itu, dia akan masuk dan mencabut nyawa anak sulung laki-laki dari keluarga itu, dari manusia sampai kepada hewan, sampai kepada anak sulung daripada Firaun. Jadi ini yang menjadi dasar ketika orang-orang Mesir mengalami kematian di dalam keluarga mereka. Semua orang Mesir di dalam semua rumah ada kematian pada malam itu juga, orang Israel boleh keluar daripada perbudakan Mesir, lalu mereka pergi menuju kepada Tanah Perjanjian yang Tuhan janjikan itu. Dan setiap kali, ketika orang-orang Israel ingin mengingat kembali hari pembebasan mereka dari perbudakan, mengingat kembali penebusan yang Tuhan sudah lakukan bagi kehidupan mereka di dalam zaman perbudakan di Mesir, maka mereka akan mengingat kembali pada hari di mana mereka menjalankan Paskah. Atau mereka akan melakukan Paskah setiap tahun satu kali dalam kehidupan mereka untuk mengingat apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam kehidupan mereka sebelumnya, atau orang tua mereka sebelumnya di Tanah Mesir tersebut.

Tapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu malam ketika Kristus akan disalibkan, terjadi suatu peristiwa atau perubahan yang besar sekali terhadap makna daripada Perjamuan Paskah yang dimakan oleh orang Israel. Pada hari ketika Yesus dan murid-murid itu berkumpul, untuk memperingati Hari Paskah, di mana Allah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, Yesus kemudian dikatakan mengambil roti dan memecahkan roti itu dan berkata “Inilah tubuh-Ku, makanlah sebagai peringatan akan Aku.” Pada waktu Yesus kemudian mengambil cawan untuk minum, yang merupakan suatu tradisi dan kebiasan yang dilakukan oleh orang-orang Israel untuk memperingati malam Paskah itu, dia berkata, “Inilah cawan perjanjian baru, darah yang ditumpahkan. Dan ingatlah, perbuatlah untuk mengingat akan Aku.” Artinya apa? Pada waktu kita menjadi orang yang percaya kepada Kristus, menjadi seorang Kristen, pada waktu kita ingin mengingat kembali akan hari di mana Allah membebaskan kita dari perbudakan dosa, Yesus berkata, ingatnya itu bukan kepada peristiwa yang terjadi berapa ribu tahun yang lalu, yaitu di Tanah Mesir, tetapi kita mengingat kepada peristiwa yang terjadi di Kalvari, yaitu pada waktu Kristus mati di kayu salib. Pada waktu kita mengingat apa yang dilakukan oleh Allah, orang Israel mengingat apa yang dilakukan oleh Allah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, kita tidak lagi mengingat pada hari itu, tetapi kita mengingat pada hari di mana ketika Yesus mencurahkan darahNya di kayu salib untuk membebaskan kita daripada perbudakan dosa.

Jadi yang Yesus lakukan itu adalah mengubah satu tradisi yang begitu penting, suatu peringatan perayaan akan apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam Perjanjian Lama kepada apa yang Dia kerjakan di dalam Perjanjian Baru. Saudara, apakah ini adalah sesuatu yang kontra, sesuatu yang perubahan, cara kerja Allah yang membuat Allah, mungkin, berubah pikiran dari yang lama, yaitu membebaskan dengan darah Domba, menjadi sesuatu yang dibebaskan dari darah Yesus Kristus? Saya percaya bukan. Tetapi apa yang diajarkan oleh Tuhan dari Perjanjian Lama, itu merupakan tipologi dari apa yang akan Kristus lakukan untuk membebaskan kita dari dosa. Jadi pada waktu Yesus berkata, “Inilah roti, tubuhku, dipecahkan, makanlah sebagai peringatan akan Aku. Inilah cawan, yaitu perjanjian baru, yang engkau minum sebagai peringatan akan Aku.” Yesus mau berkata, semua hal yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebelumnya, peringatan dengan Paskah, pembebasan daripada perbudakan, itu adalah gambaran dari pembebasan yang akan Kristus lakukan bagi orang-orang yang berdosa, melalui kematian Dia di atas kayu salib, supaya kita tidak lagi diperbudak di bawah dosa tetapi memperoleh suatu kehidupan yang kekal Bersama-sama dengan Kristus. Dan ini menjadi sesuatu ritual, suatu tradisi yang kemudian dilakukan oleh gereja, dari gereja mula-mula, diteruskan sampai pada zaman kita ini.

Kalau Bapak, Ibu mau melihat apa yang menjadi dasar yang dilakukan oleh gereja, pertama-tama mengenai hal ini adalah di dalam Kisah pasal 2. Kita boleh buka ya, Kisah pasal 2, ayat 41-47. Setelah Petrus berkhotbah, tiga ribu orang percaya, bertobat, lalu mereka kemudian berkumpul dan hidup sebagai jemaat mula-mula yang pertama. Dan pada waktu mereka berkumpul, apa yang mereka lakukan? Alkitab berkata, ketika mereka berkumpul para rasul memberikan pengajaran firman kepada orang-orang Kristen yang berkumpul saat itu. Lalu mereka juga, selain daripada berkumpul itu, mereka mengadakan suatu persekutuan. Lalu mereka memecahkan roti dan berdoa pada hari itu. Atau Bapak, Ibu bisa baca dari ayat 46, di situ dikatakan, “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Jadi pada waktu orang-orang Kristen ditebus, percaya kepada Kristus, apa yang mereka lakukan? Satu kerinduan dalam hati mereka, adalah mereka berkumpul bersama orang-orang percaya yang lain. Lalu pada perkumpulan itu apa yang mereka lakukan? Di situ mereka akan memecahkan roti, lalu setelah itu mereka akan makan roti itu. Setelah memecahkan roti dan makan, mereka akan bersekutu bersama, dan disitu ada firman yang diberitakan sebagai dasar pengajaran firman bagi orang-orang percaya itu.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kapan itu dilakukan? Hari apa? Di dalam jemaat ini adalah satu sikap yang dilakukan setiap hari di dalam kehidupan mereka. Dan ada satu hal yang menarik, pada waktu mereka berkumpul bersama untuk makan makanan itu maka yang terjadi adalah mereka menjual harta mereka, lalu dari uang penjualan itu mereka belikan makanan lalu mereka hidup bersama dan membagi kepada orang-orang yang hadir di tempat itu. Saudara, kenapa ini dilakukan? Berdasarkan studi dari sejarah kemungkinan adalah pada waktu orang-orang datang ke Yerusalem, mereka mengenal injil Kristus, orang-orang ini kemudian menjadi percaya kepada Kristus, menjadi orang Kristen dan mereka tidak mau lagi kembali ke tempat dan daerah mereka. Dan mereka ketika ada di tempat yang baru mereka tidak punya pekerjaan, mereka tidak punya suatu penghasilan di situ. Lalu bagaimana mereka bisa hidup? Nah ini yang menjadi hal yang terjadi saat itu, yaitu orang-orang Kristen yang lain yang ada di tempat itu kemudian menjual milik mereka, tanah mereka, harta mereka, untuk bisa menghidupi orang-orang yang ada dan hadir di situ. Saya percaya ini adalah sesuatu yang terjadi di gereja mula-mula tetapi kemudian tidak diteruskan ke dalam gereja selanjutnya ketika gereja makin stabil. Tapi paling tidak di situ ada suatu persekutuan yang begitu indah, perhatian yang saling memperhatikan satu dengan yang lain diantara orang-orang Kristen.

Tapi dengan berjalannya waktu, pertemuan yang mereka lakukan setiap hari itu kemudian kelihatannya mulai berubah bukan lagi setiap hari tetapi menjadi seminggu satu kali, dan dilakukan di awal minggu pertama yaitu seperti kita baca di dalam Kisah [Para Rasul] 20:7, 11. Jadi tradisi yang mereka lakukan di dalam gereja mula-mula yang dimulai dari pertemuan tiap hari, lalu dalam pertemuan itu ada memecah roti, lalu bersekutu, pengajaran firman, berdoa bersama, itu kemudian mulai frekuensinya lebih jarang, lebih jarang, menjadi suatu pertemuan yang dilakukan 1 minggu 1 kali, di hari pertama minggu itu yaitu pada hari Minggu, bukan hari Sabtu. Ini menunjukkan tiap orang Kristen dari gereja mula-mula, ketika para rasul masih hidup, mereka sudah mulai berkumpul dan beribadah tidak lagi di hari Sabtu tetapi di hari Minggu. Lalu apa yang mereka lakukan? Ada orang yang berkata, “Mungkin mereka hanya makan-makan di situ; memecah roti itu adalah suatu tindakan dimana mereka bersekutu bersama, mereka makannya harus bisa dinikmati oleh semua orang Kristen yang hadir di dalam persekutuan tersebut.” Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita mempelajari sejarah gereja, Kisah Para Rasul, pandangan dari para teolog itu berkata, “Pada waktu orang-orang Kristen pada zaman mula-mula itu berkumpul memang ada suatu kebiasaan mereka makan bersama-sama terlebih dahulu. Seperti tradisi kita dimana ketika kita berkumpul bersama kita ada makan sama-sama untuk menikmati suatu persekutuan bersama dengan saudara seiman, atau teman-teman yang kita undang ke dalam perjamuan kita. Tetapi makan ini tidak berhenti di situ, makan ini kemudian dilanjutkan dengan perayaan dari Paskah. Jadi ada 2 hal yang terjadi pada gereja mula-mula, pada waktu mereka berkumpul mereka makan bersama sebagai tanda persekutuan, tapi setelah mereka makan mereka lanjutkan untuk memperingati hari dimana Kristus mati di kayu salib melalui memecah roti dan meminum cawan perjamuan untuk mengingat apa yang Kristus ajarkan kepada murid-murid pada malam sebelum Dia diserahkan. Jadi Bapak-Ibu bisa perhatikan di sini ya, ada suatu tradisi yang biasa dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan orang non-Yahudi ketika mereka berkumpul; tetapi dibalik tradisi itu ada suatu kelanjutan untuk melakukan suatu tradisi yang Tuhan sendiri perintahkan, yaitu perjamuan kudus untuk diterapkan di dalam gereja Tuhan di dalam perkumpulan yang mereka lakukan.

Dan di dalam perkembangannya kemudian kita bisa lihat khususnya di dalam 1 Korintus 11 yang tadi kita baca, tradisi yang kemudian dilanjutkan itu adalah bukan pada makan-makannya tetapi pada perjamuannya. Saudara, ini adalah hal yang saya percaya sesuatu yang penting yang harus kita perhatikan karena banyak gereja sekarang yang mengira bahwa apa yang dilakukan oleh gereja mula-mula, perjamuan yang dilakukan itu hanya sekedar makan-makan yang dinikmati oleh semua orang. Tapi pada waktu mereka melakukan ini ada bagian dimana mereka dengan serius sekali menerima perintah dari Tuhan sendiri. Dan pada waktu kita masuk ke dalam catatan di dalam Korintus maka yang terjadi adalah mereka bukan hanya datang makan bersama-sama tetapi menjadi sesuatu yang sangat fatal sekali adalah mereka jatuh ke dalam dosa kerakusan dan jatuh ke dalam kemabukan. Jadi santapan malam mereka yang menuju kepada perjamuan, yang seharusnya menjadi sesuatu yang begitu sakral sekali, menjadi sesuatu yang justru membawa hukuman Tuhan bagi orang-orang Kristen pada saat itu, karena mereka makan menyantap dengan begitu berhawa napsu bahkan sampai tidak mempedulikan orang-orang Kristen yang miskin, yang kekurangan makan, dan yang kaya hanya makan sendiri dengan menikmati segala makanan yang enak-enak dan tidak mempedulikan mereka yang miskin sehingga ada yang kekenyangan, ada yang kelaparan ketika melakukan perjamuan tersebut. Saudara, ini yang membuat Paulus kemudian berkata, “Kamu kalau lapar kenapa tidak makan di rumah saja? Jangan lakukan dosa. Kenapa diantara kamu ada orang-orang yang sakit, yang lemah tubuh, bahkan ada yang meninggal? Karena kamu berdosa di hadapan Tuhan. Supaya engkau tidak dihukum oleh Tuhan, kenapa engkau tidak makan saja di rumah? Kalau engkau lapar makan dulu baru datang ke dalam ibadah. Lalu kalau engkau memang membawa ke dalam ibadahmu suatu persekutuan untuk makan bersama perjamuan kasih di situ, kenapa engkau tidak sabar menunggu saudaramu yang kelaparan?” Tapi Saudara, saya percaya dibagian ini, apa yang terjadi di dalam jemaat Korintus itu menjadi suatu kontribusi kenapa di dalam gereja kita saat ini tidak ada lagi terlalu sering perjamuan kasih, karena perjamuan kasih, makan bersama itu adalah sesuatu tradisi yang tidak pernah diperintahkan oleh Tuhan. Tetapi yang penting adalah di dalam 1 Korintus 11 ini mengatakan tiap orang Kristen ketika berkumpul mereka harus mengingat suatu peristiwa yang Tuhan sendiri perintahkan kepada mereka untuk dilakukan, yaitu melakukan perjamuan kudus di dalam pertemuan ibadah dari orang-orang Kristen yang ditandai dengan roti dan anggur sebagai cawan yang kita minum dan roti yang kita makan tersebut.

Jadi ini adalah sedikit sejarah dari pada kenapa kita menjalankan perjamuan kudus di dalam kehidupan bergereja kita. Dan sejarah ini bukan suatu sejarah yang dibangun oleh gereja dan para rasul tetapi suatu tradisi yang dilakukan karena Tuhan Yesus sendiri memerintahkan murid-murid untuk melakukan perjamuan kudus ini. Di dalam kehidupan kita seringkali ingin mencari apa yang menjadi kehendak Allah dalam kehidupan kita, betul ya? Dan kehendak Allah itu apakah selalu jelas untuk kita mengerti dan kita ikuti dalam kehidupan kita? Saya percaya tidak. Banyak hal kita hidup di dalam suatu kebingungan untuk melihat apa yang menjadi pimpinan Tuhan dalam kehidupan kita dan kita menantikan untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam kehidupan kita. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, perjamuan kudus, seperti halnya baptisan kudus, ini adalah 2 sakramen yang dilakukan gereja karena Tuhan sendiri yang memerintahkan itu bagi kita untuk kita lakukan. Sehingga kita bisa katakan kalau kita adalah anak Tuhan yang sungguh-sungguh memiliki iman yang takut akan Kristus, saya percaya tidak ada satu anak Tuhanpun, yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan, akan mengabaikan 2 sakramen penting ini dalam kehidupan mereka. Mereka akan menerima baptisan dan mereka akan menerima perjamuan kudus untuk mereka lakukan di dalam kehidupan bergereja. Karena apa? Karena perintah Tuhan, karena kehendak Tuhan untuk kita lakukan di dalam kehidupan kita.

Saya lanjutkan, siapa yang berhak untuk menerima perjamuan itu? Alkitab berkata orang yang menerima perjamuan itu adalah orang yang berkumpul yang disebut sebagai gereja Tuhan. Maksudnya adalah ketika di dalam 1 Korintus 11:18 ini ada kata “jemaat itu berkumpul,” istilah ‘jemaat’ di dalam bahasa Yunani adalah ekklesia atau gereja. Gereja itu siapa? Gereja itu adalah pribadi-pribadi, orang-orang Kristen, bukan suatu tempat dimana orang Kristen berkumpul. Setiap kali Alkitab berbicara mengenai ekklesia maka Alkitab berbicara mengenai orang-orang Kristen yang datang dan berkumpul, bersekutu bersama dan beribadah bersama. Setiap pribadi kita yang berkumpul itu adalah gereja. Jadi pada waktu perjamuan ini diberikan, siapa yang diberikan perjamuan itu? Yaitu orang-orang Kristen. Siapa orang Kristen? Orang-orang yang sudah percaya kepada Kristus, yang menerima penebusan Kristus, dan mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dalam kehidupan dia, dan melalui kematian Dia diatas kayu salib kita boleh mendapatkan kehidupan yang kekal dari pada kematian yang Kristus alami diatas kayu salib tersebut. Bukan gereja dalam pengertian rumah dimana semua orang yang datang ke dalam gereja itu bisa menerima perjamuan kudus, tetapi orang yang sungguh-sungguh percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, merekalah yang berhak untuk menerima perjamuan kudus dalam kehidupan mereka. Itu sebabnya di dalam gereja kita, hanya orang-orang yang telah menerima baptisan dan telah menerima katekisasi untuk diteguhkan iman mereka, atau istilahnya disidi, itu adalah orang yang bisa menerima perjamuan kudus. Ini adalah salah satu pertanggung jawaban gereja untuk bisa menjaga sesuatu yang begitu sakral sekali yang Tuhan berikan dan percayakan kepada gereja untuk kita nikmati bersama di dalam persekutuan perjamuan kudus.

Dan pada waktu gereja menikmati perjamuan kudus ini ada satu hal yang menarik, ini adalah satu perjamuan yang dilakukan secara terbuka, ini bukan suatu perjamuan yang dilakukan secara tertutup, bukan sesuatu yang hanya eksklusif dilakukan oleh orang-orang yang sudah percaya, dibaptis, dan disidi, dan orang luar tidak boleh melihat pada peristiwa ini. Tetapi ini adalah suatu perjamuan yang kita lakukan diantara semua orang yang hadir di dalam gereja, apakah mereka yang sudah percaya, atau mereka yang belum percaya, atau mereka dalam posisi belajar kebenaran firman Tuhan, atau baru pertama kali datang ke dalam gereja. Mereka melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang Kristen. Ini artinya apa? Paulus berkata ini bertujuan untuk menyatakan bahwa perjamuan kudus itu memiliki suatu maksud proklamasi, sesuatu pemberitaan yang dilakukan oleh orang Kristen ketika kita menerima cawan dan roti itu. Kalau kita baca dari pasal yang ke-11 ada 5 kali Paulus menggunakan istilah “gereja berkumpul dalam pertemuan,” dan saat itu perjamuan kudus dijalankan. Jad setiap kali kita menerima perjamuan kudus, apa yang kita lakukan? Paulus berkata, dan Kristus berkata, pada waktu itu kita sedang memberitakan Kristus telah mati di kayu salib, menghancurkan tubuh-Nya bagi kita; kita memberitakan kalau Dia mengalirkan darah-Nya untuk menebus dosa kita, itu makna perjamuan kudus. Jadi setiap kali kita menerima perjamuan kudus, kita sedang memberitakan kematian Kristus dan kebangkitan Kristus bagi dosa-dosa kita supaya kita bisa memperoleh suatu kehidupan yang kekal bersama-sama dengan Kristus di Sorga. Dan hal ini karena itu menjadi sesuatu yang penting, yang harus kita lakukan. Dengan cara bagaimana? Melalui memecahkan roti dan meminum anggur sebagai cawan perjanjian.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, karena itu kalau roti dan anggur ini menjadi suatu berita tentang kematian dan kebangkitan Kristus, bagaimana sikap hati kita ketika kita makan perjamuan ini? Nah ini adalah hal yang tidak boleh kita abaikan. Saya percaya setiap orang Kristen ketika makan dan minum cawan itu, kita bukan hanya memproklamasikan apa yang Kristus sudah lakukan, tetapi kita juga ketika makan roti dan minum cawan itu suatu sikap hati yang harus kita miliki adalah kita mengingat kembali kepada apa yang sudah Kristus lakukan bagi diri kita. Bukan hanya untuk orang, bukan untuk orang berdosa Kristus mati, tapi Kristus mati sungguh-sungguh adalah bagi diri saya. Dan bukan hanya itu saja, kita mengingat kembali bahwa pengajaran iman Kristen, apa yang dilakukan oleh Kristus itu adalah bukan sesuatu mistik, bukan sesuatu dongeng yang diajarkan di dalam Kekristenan  tetapi ini adalah sesuatu fakta sejarah yang terjadi di dalam sejarah manusia. Setiap kali kita menerima perjamuan kudus, makan roti dan minum cawan itu, kita diajak untuk mengenang kembali ke masa lalu, 2000 tahun yang lalu, dimana Kristus pernah datang, Allah yang inkarnasi menjadi manusia, yang mengambil rupa seperti kita yang ada tubuh, ada daging, ada darah yang mengalir yang dipompa oleh jantung yang ada di dada-Nya untuk memberikan suatu kehidupan bagi diri Dia; lalu orang yang hidup ini, yang adalah inkarnasi Allah menjadi manusia itu kemudian naik ke atas kayu salib untuk menebus dosa kita. Ini yang harus kita ingat. Jadi pada waktu kita makan perjamuan kudus kita diajak untuk melihat kembali peristiwa penebusan itu adalah peristiwa yang begitu riil sekali, suatu fakta sejarah yang sungguh-sungguh terjadi dimana Tuhan menyatakan kegenapan dari pada janji-Nya untuk menebus dosa manusia, bukan menyatakan bahwa iblis yang menang tapi Kristus yang menang di atas kayu salib sehingga kita yang ada di dalam Kristus itu boleh mendapatkan suatu kehidupan kekal bersama-sama dengan diri Dia.

Jadi pada waktu kita menerima perjamuan, kenapa kita menerima perjamuan? Pertama karena itu adalah perintah Tuhan sendiri. Lalu pada waktu kita melakukan itu karena apa? Di dalam perjamuan itu ada unsur proklamasi dimana kita memberitakan kematian dan kebangkitan Kristus bagi orang yang melihat itu. Tapi bukan hanya unsur proklamasi, di dalam berita itu ada suatu unsur mengingat kembali ke masa lalu yang Tuhan sudah kerjakan bagi diri kita, yang merupakan suatu peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi dalam sejarah manusia. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, perjamuan kudus tidak berhenti di dalam aspek ini saja. Ada satu aspek lagi yang merupakan makna rohani, suatu kebangunan rohani, atau pertumbuhan rohani, anugerah rohani yang diterima oleh orang-orang Kristen yang menerima perjamuan kudus itu, dan ini tidak diterima oleh orang-orang lain yang bukan orang yang percaya kepada Kristus ketika mereka menerima perjamuan kudus. Pada waktu kita menerima perjamuan kudus, jangan kira ini adalah suatu hal, ritual, yang dilakukan hanya untuk mengenang kembali masa lalu, mengingat, tetapi perjamuan kudus sungguh-sungguh memiliki dampak rohani bagi orang Kristen yang percaya kepada Kristus ketika mereka menerima perjamuan itu. Bukan dalam pengertian mukjizat dan kesembuhan dan lain-lain, tetapi kita sungguh-sungguh mengalami kekuatan dan pertumbuhan iman yang percaya kepada Kristus dalam kehidupan kita setiap kali kita menerima perjamuan kudus itu. Kita sungguh-sungguh mengalami kematian dan kebangkitan Kristus dalam  kehidupan kita setiap kali kita menerima perjamuan kudus.

Jadi istilah lainnya adalah, pada waktu kita makan roti dan minum cawan, itu bukan sesuatu yang bersifat fisik saja, tetapi ada unsur rohani yang menyertai kita ketika kita makan roti dan minum cawan tersebut. Atau istilahnya, kita sungguh-sungguh secara rohani makan tubuh Kristus dan minum darah Kristus. Bukan dalam pengertian bahwa roti itu jadi tubuh Kristus dan cawan itu jadi darah Kristus. Bukan seperti itu. Itu namanya makan secara fisik. Tapi Alkitab berkata tidak seperti itu. Dari mana kita tahu? Ada beberapa ayat. Misalnya kita coba buka 1 Korintus 10 ya. 1 Korintus 10:16, 17 dan 18. “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” Ayat 18, “Perhatikanlah bangsa Israel menurut daging: bukankah mereka yang makan apa yang dipersembahkan mendapat bagian dalam pelayanan mezbah?” Jadi pada waktu kita makan roti dan minum cawan, itu bukan sesuatu yang hanya bicara soal fisik saja, tetapi ada unsur rohani yang menyertai kita ketika makan roti dan minum cawan tersebut. Ada kesatuan yang terjadi antara kita dengan Kristus. Itu dalam aspek apa? Kematian dan kebangkitan Kristus yang sungguh-sungguh menjadi sesuatu yang milik kita.

Coba buka Yohanes 6:48. “Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” Jadi di dalam bagian ini seakan-akan Yesus berkata kamu harus sungguh-sungguh makan dagingku dan minum darahku; buat orang-orang Yahudi frustasi dan mereka kemudian akhirnya menolak Kristus. Tetapi apakah yang Yesus maksudkan sungguh-sungguh adalah makan daging Kristus dan minum darah Kristus? Saudara, kalau kita baca ayat 55 ya, dikatakan, “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Kita lompat ke dalam ayat 35, “Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Maksudnya apa? Ketika kita, Yesus bilang, kamu harus makan daging-Ku, kamu harus minum darah-Ku, karena daging-Ku dan darah-Ku sungguh-sungguh adalah makanan dan minuman, Yesus bukan berbicara mengenai Dia menjadi roti dan anggur itu menjadi darah Kristus; tetapi Yesus mau ngomong, ketika engkau makan dan minum cawan itu, itu sama dengan engkau datang kepada Kristus dan percaya kepada Kristus.

Jadi kita menolak konsep Katolik yang berkata, ketika imam berdoa, mengucap berkat bagi roti dan cawan itu, maka roti itu menjadi tubuh Kristus dan cawan itu menjadi darah Kristus. Kita menerima bahwa roti itu tetap roti, cawan itu tetap cawan anggur; tidak pernah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Karena apa? Karena pada waktu kita mengatakan roti menjadi tubuh dan cawan itu menjadi anggur, itu hanya mengatakan kita membuat Kristus mati dan mati lagi di kayu salib secara berulang kali. Dan ini adalah suatu penghujatan karena di dalam Ibrani 10 dikatakan, Yesus hanya cukup mati satu kali untuk menebus dosa kita sampai selama-lamanya dan dia tidak perlu mati yang kedua dan ketiga kali. Karena itu, apa maskud makan roti, roti itu sungguh-sungguh adalah tubuh-Ku dan anggur itu adalah sungguh-sungguh darah-Ku? Yesus mau berkata, kalau kamu makan itu dengan iman, kamu sedang datang kepada Kristus, dan kamu percaya kepada Kristus, kamu akan mendapatkan kekuatan rohani dalam kehidupanmu melalui kematian dan kebangkitan Kristus yang telah mati 2 ribu tahun yang lalu.

Tapi bukan hanya suatu kekuatan rohani yang kita alami sekarang ini dalam Kristus, tetapi juga suatu kehidupan kekal yang akan kita alami bersama dengan Kristus ketika Dia datang kembali. Jadi ini yang menjadi penguatan bagi kita, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan. Sekali lagi, perjamuan kudus memang mengenang apa yang sudah Kristus lakukan. Perjamuan kudus memang adalah suatu proklamasi yang kita lakukan kepada orang yang melihat kita menerima perjamuan kudus. Tetapi ingat, di balik itu ada unsur yang lebih penting, yaitu ada penguatan iman, ada kesatuan dengan kematian dan kebangkitan Kristus dan kehidupan kekal yang akan kita terima bersama-sama dengan Kristus di sorga pada waktu kita menyantap itu dengan iman. Makanya pada waktu orang-orang Korintus menerima perjamuan kudus dengan sembarangan, mereka mungkin berpikir perjamuan kudus itu sesuatu seperti kita makan ayam goreng, ikan goreng, yang boleh kita makan dengan sembarangan. Tidak. Perjamuan kudus itu adalah sesuatu yang serius sekali, sehingga pada waktu mereka tidak menghargai kekudusan dari perjamuan kudus itu, Tuhan mendatangkan hukuman bagi mereka. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tetapi, hukuman ini bukan sesuatu hukuman yang bertujuan untuk membinasakan. Kalau kita adalah anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan, yang merupakan orang pilihan dan mengalami kelahiran baru, dan kita melakukan dosa ini, Tuhan bisa mendatangkan disiplin bagi kita, melalui apa? Kelemahan tubuh mungkin, melalui sakit, melalui kematian. Tetapi, kematian yang diterima bukan kematian kekal. Disiplin yang kita terima bukan disiplin yang berupa murka Allah bagi diri kita, tetapi adalah disiplin dari Bapa yang mengasihi kita supaya kita tidak sembarangan di dalam menghargai hal yang begitu sakral dan kudus yang Tuhan percayakan untuk gereja lakukan untuk memperingati dan memberitakan kematian dan kebangkitan Kristus bagi hidup kita.

Saya harap ini menjadi dasar kita di dalam menerima perjamuan kudus ya. Saya harap ini menjadi sesuatu yang menguatkan kita di dalam iman ketika kita datang kepada Tuhan di dalam perjamuan kudus ini, sehingga kita melihat, sungguh-sungguh melihat, memang Kristus memang pernah datang ke dalam dunia, mati bagi dosa saya, menebus saya, dan melalui itu saya dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus dan kehidupan kekal bersama-sama dengan Kristus ketika Dia datang kembali ke dalam dunia ini.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *