Peran Gereja di Dunia, 27 Oktober 2019

2 Kor. 5:18-21

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita baca dari ayat 18 sampai ayat yang ke-21, maka saya percaya begitu kita baca ayat 18 sampai ayat 21 ada satu kata yang begitu sering kali diulang oleh Paulus, yang menjadi penekanan daripada bagian perikop ini. Kata-kata itu adalah apa? Pendamaian. Mendamaikan. Ayat itu artinya adalah ketika kita membahas bagian dari ayat 18 sampai 21, maka Paulus sedang berbicara mengenai peran gereja, atau fungsi gereja yang utama adalah di dalam dunia ini untuk menjadi pembawa berita damai dari pada Allah kepada manusia yang berdosa. Itu adalah yang menjadi tujuan Tuhan di dalam menebus sebuah umat atau sekelompok umat tertentu dan menaruh umat itu di dalam dunia ini. Saya percaya ini berkaitan dengan apa yang Tuhan Yesus doakan di dalam Yohanes pasal 17. Pada waktu Yesus Kristus akan mati di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia, pada waktu itu Yesus berdoa di hadapan Tuhan dan di hadapan murid-muridNya atau para rasul. Dan dari situ di dalam doaNya dikatakan, “Aku berdoa meminta Engkau untuk tidak mengambil mereka di dalam dari dunia ini, tapi menjauhkan mereka dari yang jahat.” Kenapa Tuhan ketika menebus kita datang ke dalam dunia ini, untuk mati di atas kayu salib, lalu kemudian dari kematian-Nya untuk membawa satu kelompok manusia untuk menjadi pengikut Dia di dalam dunia ini, tidak mau turut dibawa oleh Tuhan ke dalam Surga bersama-sama dengan Dia? Kenapa pada hari ke-3 Dia bangkit dari kematian, lalu setelah itu Dia menampakkan diri kepada murid-murid selama 40 hari, dan ketika Dia naik ke atas Surga Dia tidak mau membawa murid-murid bersama-sama dengan Dia terangkat ke Surga? Saya percaya tujuannya adalah disebabkan karena ada tetap suatu pekerjaan Tuhan atau rencana Tuhan yang Tuhan ingin kita genapi sebagai gereja Tuhan di dalam dunia ini. Masih ada tugas yang harus kita kerjakan, dan tugas itu apa? Menjadi pembawa berita damai bagi dunia ini.

Tapi kalau ditanyakan, apa itu berita damai itu? Ini menjadi satu hal yang sering digunjingkan di dalam gereja sampai pada jaman ini. Saya percaya sampai hari ini gereja-gereja masih memperdebatkan apa yang menjadi berita damai yang harus kita kabarkan ke dalam dunia ini. Dan banyakan dari kita berpikir bahwa atau ada bagian dari pada gereja yang berpikir “Oh, berita damai itu adalah bagaimana kita bersikap, kebaikan kita, kasih kita yang kita berikan kepada orang lain yang bukan orang percaya, sehingga mereka juga bisa merasakan damai sejahtera seperti damai sejahtera yang kita terima dalam kehidupan kita dari Kristus bagi mereka,” yaitu mengenai apa? “Berkat materi, mengenai kasih, mengenai satu kehidupan kebaikan yang kita berikan kepada mereka atau pertolongan yang kita berikan kepada mereka, atau keterlibatan kita dengan hal-hal yang ada di sekitar kita untuk menyatakan bahwa kita adalah orang Kristen yang memiliki kasih dalam kehidupan kita.” Saya percaya itu adalah hal yang harus kita kerjakan, saya percaya orang Kristen ketika dipanggil oleh Tuhan, seperti yang pernah kita lihat di dalam Persekutuan Wilayah dan saya pernah singgung di sini, bahwa orang Kristen dipanggil dalam dunia ini untuk menjadi satu kesaksian melalui kehidupan yang mereka berikan. Dan di dalam Surat Yakobus ada kalimat misalnya, “bahwa ibadah yang sejati itu adalah kasih kepada janda-janda miskin dan yatim piatu,” itu yang dikatakan. Berarti pada waktu kita berbicara mengenai kehidupan Kristen yang ditebus oleh Kristus, yang mendapatkan karunia dari pada Tuhan Yesus, hal yang perlu kita perhatikan adalah bukan hanya meng-ekslusifkan diri kita, tidak mau bergaul dengan dunia ini, lalu menarik diri, dan merasa diri kita rohani, walaupun orang-orang yang di sekitar kita tidak pernah mengalami kasih dari pada kehidupan orang Kristen. Tapi kita harus belajar untuk membagi kasih itu melalui perbuatan yang mengasihi mereka, yang kita nyatakan dalam kehidupan kita yang dipenuhi oleh kasih dari orang Kristen kepada diri mereka.

Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, apakah itu berarti bahwa apa yang kita kerjakan sudah membawa damai sejahtera? Apakah itu berarti kita sudah menggenapi apa yang menjadi perintah Tuhan dalam kehidupan kita? Apakah itu berarti kita sudah menggenapi apa yang dimaksud oleh Paulus dalam 2 Korintus 5:18-21 ini, bahwa kita perlu menjadi pembawa kabar damai? Saya percaya kalau Bapak-Ibu melihat dari konteks sebelumnya yang saya ajak untuk kita melihat, maka kabar damai itu bukan hanya sikap dan perbuatan kasih yang kita nyatakan dalam hidup kita, bukan perbuatan yang menolong orang lain saja yang kita lakukan dalam kehidupan kita, tapi yang lebih utama adalah bagaimana kita juga menyaksikan mengenai kasih Kristus yang telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka, ayat 15. Jadi, kenapa Tuhan memanggil gereja? Kenapa Tuhan menebus orang-orang Kristen? Kenapa Tuhan mengaruniakan keselamatan dan hidup kekal bagi orang-orang Kristen? Kenapa Tuhan melahirbarukan kita, untuk memiliki satu kehidupan yang berbeda dari dunia ini? Jawabannya adalah supaya bukan hanya melalui perbuatan kita yang berbeda dari dunia ini, tetapi dari pengakuan mulut kita, kita memberitakan ada kasih Kristus, ada damai sejahtera yang Allah kerjakan di dalam Kristus untuk membawa penebusan bagi manusia yang berdosa atau memberikan damai sejahtera bagi manusia berdosa dengan Tuhan Allah yang kudus. Saya percaya, itu harus dikatakan dari perkataan juga. Itu bukan sesuatu yang kita bisa katakan melalui perbuatan saja, tetapi itu adalah sesuatu yang harus kita katakan dari perkataan kita juga, baru orang lain bisa tahu apa yang menjadi perbedaan yang mendasar, yang esensi dari kehidupan Kristiani dengan kehidupan non-Kristiani, apa yang menjadi kekuatan dari seorang Kristen untuk terus hidup di dalam kasih, yang membagi kasih walaupun begitu banyak cercaan, hinaan yang menimpa hidup dia, dibandingkan dengan orang-orang yang bukan Kristen.

Nah ini yang tadi saya kutip di dalam 1 Petrus 2:11-15, di situ dikatakan oleh Petrus sendiri: Orang Kristen akan mengalami aniaya, Orang Kristen akan mengalami penolakan, Orang Kristen akan mengalami satu kehidupan yang dihina, yang difitnah oleh orang-orang dunia, sebabnya karena apa? Karena kita berbeda dari mereka, kita bukan bagian dari mereka, itu membuat mereka tidak bisa menerima keberadaan dari orang Kristen. Lalu akibatnya apa? Mereka mulai mengatakan hal-hal yang jelek dan buruk mengenai kehidupan orang Kristen, supaya orang-orang dunia turut membenci orang-orang Kristen. Tetapi bagaimana kehidupan orang Kristen? Alkitab berkata, orang Kristen tetap harus berlaku baik, harus berlaku benar. Kenapa? Tahu enggak jawabannya? Supaya dari kehidupan seperti itu kita membungkam mulut orang-orang yang memfitnah kita, supaya dari sikap itu kita membuat mereka tidak bisa lagi bersilat lidah untuk mengatakan orang Kristen salah, supaya dari situ mereka kemudian terbuka pikirannya, hatinya, untuk melihat: “Kok ada orang yang sudah dihina begitu rupa, direndahkan begitu rupa, difitnah, digosipkan, dan yang lain-lainnya, tetapi tetap berlaku secara benar dan memperlakukan kita dengan baik.” Supaya apa? Supaya mereka melihat ada kualitas yang berbeda daripada diri mereka, ada suatu kebenaran yang kita hidupi yang berbeda dari kebenaran yang mereka klaim mereka miliki dalam kehidupan mereka. Sehingga dari situ, mereka kemudian mungkin mendapatkan karunia Tuhan untuk datang kepada Kristus. Jadi itu adalah tujuan daripada kehidupan Kristen, itu adalah tujuan dari kenapa Tuhan membentuk gereja di dalam dunia ini, itu adalah tujuan kenapa Tuhan ingin gereja Tuhan itu bersatu, itu adalah tujuan kenapa Tuhan itu bersekutu satu dengan yang lain dan tidak gontok-gontokan satu dengan yang lain, tidak saling ribut satu dengan yang lain, tidak saling membenci satu dengan yang lain. Saya bukan ngomong tidak perlu bicara mengenai doktrin, tetapi yang saya bicarakan adalah tidak perlu gontok-gontokan untuk masalah egoisme diri kita antara orang Kristen yang satu dengan orang Kristen yang lain. Kalau masalah doktrin itu adalah hal yang mutlak yang tidak boleh ditawar sama sekali karena itu mencerminkan gereja yang sejati atau bukan. Tetapi masalah kehidupan kita yang mengalah satu dengan yang lain, yang mendahulukan satu dengan yang lain, yang sama-sama satu visi untuk menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk terjadi dalam kehidupan kita, itu yang harus diutamakan.

Di Solo kemarin saya ada undang satu pasang orang tua untuk memberikan suatu kesaksian bagi pasangan muda yang akan menjalankan pernikahan. Lalu saya panggil mereka karena saya pikir mereka adalah orang yang paling tua di dalam gereja yang keluarganya masih baik-baik sampai hari ini, dan pernikahan mereka itu sudah hampir masuk ke dalam usia emas tahun depan kalau enggak salah, itu sudah masuk ke usia yang 50 tahun. Lalu pada waktu itu saya kenapa panggil mereka? Karena saya percaya di dalam Kitab Suci ada satu kalimat “perempuan yang tua itu harus mendidik perempuan yang muda di dalam mengikut Tuhan” supaya mereka bisa setia kepada suami mereka dan menjadi istri yang baik di dalam keluarga. Karena itu saya pikir ada baiknya kesaksian mengenai kehidupan dan prinsip kehidupan keluarga itu bukan hanya dari saya semata tapi ada orang yang keluarganya baik-baik dari muda sampai tua, bukan berarti tidak ada masalah di tengah-tengah mereka, banyak sekali masalah tetapi mereka boleh men-share-kan apa yang menjadi kunci dari pada mereka bisa hidup di dalam kehidupan yang baik, di dalam relasi yang saling mengasihi satu dengan yang lain walaupun mereka sudah berusia tua. Lalu apa yang mereka katakan? Hal pertama adalah mereka baca Mazmur 127:1. Ini adalah ayat yang sering sekali saya kutip juga, tetapi saya cukup kaget waktu mereka mengutip bagian ini. Mazmur 127:1, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” Mereka kutip ayat ini lalu mereka mulai berbicara, “Untuk bisa menjaga keluarga tetap utuh, tetap baik adalah dengan cara menjadikan Tuhan untuk menjadi Penjaga di dalam kehidupan keluarga kita,” itu menjadi kunci dia bilang. Lalu setelah mereka sharing itu ada yang tanya, “Om, Tante, emang keluarga Om Tante itu dari dulu sampai hari ini baik-baik?” Tahu apa jawab mereka? “Enggak!” Bahkan Tantenya ngomong, “Wah, dulu dia itu kerasnya minta ampun. Tahu nggak kalau dia lagi marah? Ini lho jalan [tangan dikepalkan, red.]. Bukan  nampar lho,  ini lho jalan.” Lalu mereka tanya lagi, “Lho? Lalu apa yang membuat Om, Tante, tetap  bertahan? Tante enggak pergi? Enggak pisah?” “Oh. Sudah. Berkali-kali saya sudah pergi. Sempet pergi ke orang tua saya dan sempet pergi ke tempat tante saya untuk menghindari, kalau enggak saya bisa mati lho.” Karena apa? Suatu hari ketika dia marah begitu besar dia pukul istrinya sendiri, untung dia hindari istrinya. Lalu pada waktu dia hindar, tangan ini mukul tembok sampai patah dan temboknya retak. Bayangin kalau itu kena pipinya, habis istrinya. Lalu pada waktu itu ditanya lagi, “Lalu kenapa Tante kembali? Kok sampai hari ini kembali?” Tantenya ngomong, “Saya masih cinta dia.” “Kenapa?” Om-nya lalu ditanya, “Om, itu waktu itu sudah percaya Tuhan belum?” “Belum.” “Lalu setelah percaya Tuhan bagaimana?” “Saya waktu percaya Tuhan, saya drastis berubah, saya langsung hilang semua kekerasan itu, perkataan yang jahat dari mulut saya, saya menjadi orang yag berusaha tunduk dan taat pada apa yang menjadi kehendak Tuhan.” “Lalu pada waktu tante pergi bagaimana?” “Ya saya kejar, saya cari. Saya ajak dia kembali. Karena apa? Karena Tuhan minta seperti itu.” Lalu waktu ditanya pada Tantenya, “Tante, kenapa tante masih mau bertahan?” saya tanya pribadi sih. “Kenapa Tante masih mau bertahan?” Dia bilang, “Efesus 5:22-24. Lalu Amsal pasal 31.” Tahu isinya? “Istri-istri tunduklah pada suamimu.” Amsal 31 bicara tentang apa? Istri yang bijaksana itu seperti apa. Itu yang menjadi kekuatan dia untuk  tetap bertahan di dalam keluarga, itu yang menjadi kekuatan dia untuk kembali di dalam suaminya yang sudah berlaku kasar dan jahat kepada diri dia. Jadi di dalam pandangannya ada suatu perubahan baik di dalam suami ataupun dari istri karena sama-sama ingin menegakkan Tuhan dan prinsip Tuhan di dalam kehidupan mereka. Saya percaya itulah menjadi kekuatan kehidupan untuk bisa menghadapi begitu banyaknya masalah yang ada di dalam keluarga.

Dan saya percaya itulah yang menjadi kekuatan untuk bagaimana kita hidup sebagai orang Kristen untuk mempertahankan kebenaran iman kita di dalam  dunia ini walaupun begitu banyaknya pencobaan yang Tuhan izinkan menimpa kehidupan kita dari orang-orang yang tidak mau mengakui keberadaan orang Kristen atau kebenaran dari pengajaran Kristen. Dan kenapa masih Tuhan izinkan? Padahal jahat kan, itu tidak baik kan? Lebih baik saya hidup dalam kondisi yang baik-baik daripada saya di kondisi yang difitnah orang, dicerca orang, dihambat oleh orang dalam pekerjaan saya. Saya kan pengikut Tuhan, saya kan anak Tuhan, lebih baik seperti itu. Itu akan membuat saya efektif di dalam memberitakan injil dan kesaksian Kristus dan sejahtera Kristus. Begitu tidak? Pada waktu Tuhan izinkan sesuatu yang jahat, pertama adalah Tuhan tahu bahwa kejahatan itu ada di dalam kontrol Dia. Alkitab bilang seperti ini, tidak ada sesuatu apapun yang jahat yang tidak ada di bawah kontrol Tuhan, tetapi Tuhan tidak terlibat di dalam kejahatan. Tetapi, hal yang lain adalah pada waktu Tuhan izinkan yang jahat itu kita alami dalam kehidupan kita, itu pasti adalah kebaikan. Tuhan bisa menggunakan yang jahat untuk bisa menjadi sesuatu yang baik. Kalau Tuhan izinkan yang jahat menimpa kehidupan kita, pasti dalam rencana Tuhan itu adalah sesuatu yang baik bagi diri kita. Walaupun yang jahat itu sendiri adalah jahat, per se nya adalah jahat, tapi yang jahat itu bisa dipakai Tuhan untuk menjadi sesuatu yang baik di dalam kehidupan kita. Tetapi yang ketiga Saudara, untuk menjadikan dunia punya mata terbuka lebar untuk melihat apa yang menjadi kekuatan orang Kristen bisa hidup seperti ini, apa yang membuat mereka bisa bertahan dengan begitu gigih sekali? Apa yang membuat mereka rela difitnah begitu rupa tapi tidak membalas orang-orang yang memfitnah mereka? Apa yang membuat mereka tidak membalas dengan sakit hati atau fitnahan atau hujatan atau pembalasan dengan kekerasan pada kehidupan mereka pada orang yang berlaku jahat pada mereka yang berlaku keras pada diri mereka? Ada kuasa Tuhan yang supranatural yang bekerja di dalam  diri kita yang sudah memperdamaikan diri kita dengan Allah yang membuat kita tahu panggilan kita untuk memperdamaikan ornag berdosa dengan Tuhan Allah. Itu tujuannya.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab berkata kita bukan dari dunia ini. Kita ulangi ya, “Saya bukan dari dunia ini.” Kita dari mana? Lahir dari sorga. Orang dunia dari dunia ini. Kalau orang Kristen berlaku seperti orang dunia, kita dari mana? Kita dari dunia ini. Karena apa? Karena perlakuan atau hidup seperti dunia itu adalah normal bagi orang dunia. Normalnya kita adalah perilaku seperti apa? Normalnya kita adalah perilaku seperti apa? Seperti Kristus. Itu yang normal ya. Jadi waktu Kristus ditolak, Dia umpat nggak? Nggak. Waktu Kristus disalibkan, Dia utus malaikat untuk menghancurkan musuhnya, tidak? Tidak! Pada waktu Yesus disalahmengerti, Dia berusaha untuk menuntut, untuk membela diri, dan supaya orang menerima Dia dengan baik, tidak? Jawabnya juga tidak. Dia tetap pegang pada prinsip. Jadi, pada waktu kita hidup seperti Kristus, saya yakin orang akan melihat, Kristus hidup dalam diri kita, dia akan lihat ada unsur kuasa supranatural hidup dalam diri kita. Itu membuat mereka melihat, “Enggak mungkin orang biasa bisa memiliki hidup seperti ini, kecuali ada intervensi Tuhan dalam kehidupan dia, pertolongan Tuhan dalam kehidupan dia. Saya pengen deh, ingin memiliki kehidupan seperti ini.” Tapi kalau orang Kristen suka menipu, orang Kristen bercerai, orang Kristen selingkuh, orang Kristen suka membohongi orang lain, orang Kristen tidak jujur, orang Kristen lebih jahat daripada orang dunia. Ada daya tarik? Saya yakin nggak ada. Tuhan ingin kita menjadi alat pembawa damai bagi dunia ini dan itu berarti kita adalah orang yang terlebih dahulu harus mendapatkan damai di dalam kehidupan kita. Kalau tidak, Tuhan nggak akan bisa pakai kita untuk membawa damai dalam kehidupan kita kepada orang dunia ini.

Makanya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu bukan hanya dari perilaku, saya percaya, itu harus ada kata-kata yang keluar dari mulut kita, yang menyatakan kalau memang kita sudah membawa damai dan Tuhan ingin membawa damai kepada mereka kembali ke Tuhan Allah juga. Dan, pada waktu kita berbicara mengenai damai sejahtera ini, pertanyaannya adalah: Damai sejahtera itu, apakah bisa dipisahkan oleh manusia? Saya percaya di dalam agama-agama, ketika berbicara mengenai Allah, maka ada satu konsep yang mereka miliki, yaitu adalah Allah itu adalah Allah yang menakutkan, Allah itu adalah Allah yang mengerikan, Allah itu adalah Allah yang menuntut ada korban-korban dipersembahkan kepada diri mereka, supaya ada damai di antara manusia. Makanya kalau Bapak, Ibu, Saudara melihat kepada penyembahan dari orang-orang yang memiliki dewa-dewa dalam kehidupan mereka, maka dewa yang tertinggi umumnya adalah dewa yang merusak, bukan dewa yang mencipta, dan bukan dewa yang memelihara tetapi dewa yang merusak. Karena apa? Karena dewa yang merusak jauh lebih menakutkan daripada dewa yang mencipta dan memelihara karena itu kita harus memberikan korban persembahan kepada mereka supaya mereka bisa menjaga dan memelihara kehidupan kita ini. Jadi pada waktu berbicara mengenai kehidupan agama, kehidupan damai yang dimiliki oleh dunia, maka damai itu adalah sesuatu yang diusahakan oleh manusia kepada Tuhan mereka/ilah mereka/dewa mereka, supaya mereka bisa diterima oleh Tuhan Allah.

Tapi pada waktu Allah berbicara mengenai damai, Allah berbeda sekali, Allah Alkitab dengan allah orang dunia. Allah Alkitab kalau kita salah mengerti, mungkin kita bisa jatuh kepada konsep orang dunia. Dalam pengertian apa? Misalnya, kalau kita melihat: Oh ada siapa yang jatuh pertama kali dalam dosa? Itu bukan Adam, tetapi setan yang pertama kali jatuh dalam dosa, pra dari pada Adam, di dalam kekekalan, dia jatuh dalam dosa. Lalu kita lihat lagi dalam kehidupan mereka, kira-kira pada waktu itu mereka jatuh dalam dosa, kira-kira Tuhan ampuni, tidak? Lalu kita lihat: “Oh Tuhan nggak ampuni setan. Tuhan sudah sediakan kerangkeng bagi mereka, tempat untuk mengikat mereka dan membelenggu mereka sampai selama-lamanya.” Kalau kita stop sampai pada tahap ini, mungkin kita akan berpikir: “Tuhan itu jahat, Tuhan itu mengerikan. Tuhan itu tidak ada pengampunan sama sekali.” Karena apa? “Setan tidak pernah diampuni dosanya ketika mereka memberontak melawan Tuhan.” Lalu manusia bagaimana ketika manusia jatuh dalam dosa? Kalau kita stop pada prinsip bahwa Tuhan tidak pernah mengampuni setan, maka mungkin kita juga akan berpikiran: “Oh Tuhan kita itu menakutkan.” Karena apa? Setan tidak diampuni. Lalu saya siapa? Saya kalau dikatakan dari derajat setan, saya itu lebih rendah dari setan lho. Manusia itu kedudukannya, mungkin, tidak lebih mulia daripada setan. Lalu kenapa, apa kepentingan Tuhan untuk menebus kita, mengampuni diri kita? Nggak ada. Dan itu bisa membuat satu ketakutan. Tapi bersyukur Alkitab tidak berkata seperti itu ya. Alkitab berkata, Allah kita itu adalah Allah yang secara natur ingin menyelamatkan manusia yang berdosa. Dan kalau kita bisa lihat di dalam beberapa bagian, misalnya kita buka dari surat 1 Timotius 1:1, “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita.” Lalu 1 Timotius 2:3, “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita.” Yang berkenan kepada Allah apa? Juruselamat kita. Jadi, masih banyak bagian-bagian yang lain ya, tapi saya hanya ajak kita lihat dari Surat Timotius saja. Alkitab mau menyatakan, siapa Allah yang kita sembah? Dia bukan hanya Allah yang adil, yang menakutkan, yang akan menghukum orang berdosa atau setan yang jatuh dalam dosa, tetapi secara natur Dia adalah Allah yang ingin menyelamatkan. Bukan Allah yang ingin membinasakan, tapi Allah yang ingin menyelamatkan orang-orang yang jatuh dalam dosa. Itu adalah Allah kita.

Itu sebabnya pada waktu Adam jatuh di dalam dosa, siapa yang berinisiatif pertama kali untuk memperdamaikan Adam dengan Tuhan Allah? Alkitab berkata bukan Adam tetapi Allah sendiri yang datang ke dalam Taman Eden untuk mencari Adam yang sudah jatuh dalam dosa lalu mengumumkan janji kelahiran seorang Mesias melalui Hawa dan itu kemudian terwujud di dalam diri Kristus secara lebih nyata pada waktu Yesus lahir dalam dunia ini. Jadi pada waktu berbicara mengenai kehidupan dari, natur dari Allah dan relasi antara Allah dengan manusia berdosa, maka di situ terdapat kaitan, Alkitab nyatakan, Allah adalah Allah yang memiliki hati yang ingin menyelamatkan manusia berdosa dan ingin membawa damai kepada manusia yang berdosa. Dan Alkitab selalu berkata, inisiatif itu tidak pernah dari manusia, tetapi inisiatif itu selalu bersumber dari Tuhan Allah. Ini dikatakan dalam 2 Korintus 5 juga ya. Bapak-Ibu boleh baca misalnya 2 Korintus 5:18 tadi, “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.” Ayat 19 dikatakan, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka.” Lalu ayat 20, “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Jadi siapa yang menjadi inisiator? Alkitab selalu berkata, Allah yang menjadi inisiator. Lalu bagian manusia di mana? Meresponi damai yang Tuhan tawarkan pada manusia. Itu adalah bagian manusia.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin bisa membantu seperti ini, agama selalu berpikir orang yang bersalah bisa membuat suatu kondisi untuk membuat orang yang kepada dia ia bersalah itu mengampuni diri dia. Dan itu dibawa kepada Tuhan. Misalnya kayak gini, Vikaris Leo bersalah sama saya, cukup fatal, yang mungkin merugikan saya dengan besar sekali. Lalu pada waktu Vikaris Leo sadar bahwa ia sudah merugikan diri saya, dia ingin melakukan kebaikan-kebaikan dalam hidup dia untuk memperbaiki relasi dengan saya, kira-kira bisa nggak? Baik nggak relasinya? Yang menentukan relasi itu menjadi baik atau nggak di tangan siapa? Vikaris Leo atau saya? Saya kan? Dia mau sebaik apapun, menolong saya dan segala sesuatu, kalau saya tidak pernah mau mengampuni dia, nggak mungkin bisa diampuni kok. Begitu ya. Pada waktu kita berdosa, jangan berpikir bahwa yang berdosa itu Tuhan Allah kepada diri kita. Pada waktu kita berdosa, jangan berpikir bahwa relasi kerusakan yang antara kita dengan Tuhan Allah itu adalah karena ada di dalam tangan kita dan kontrol kita, tergantung kita mau memperbaiki itu atau tidak. Kalau saya mau memperbaiki dan datang kepada Tuhan, Tuhan pasti akan ampuni saya, kalau saya tidak mau Tuhan tidak akan ampuni. Alkitab nggak pernah bicara seperti ini, tapi Alkitab selalu berkata bahwa pada waktu engkau berdosa kepada Tuhan, yang menjadi masalah adalah Allah yang memutus hubungan dengan kita bukan cuma kita yang memutus hubungan dengan Allah, tetapi Allah yang mempunyai inisiatif untuk memutus hubungan diri kita. Karena apa? Yang suci tidak pernah bisa bersatu dengan yang berdosa. Makanya di dalam Perjanjian Lama dikatakan yang menjadi penghalang antara engkau dengan Tuhan Allah itu adalah segala pelanggaran dan dosamu, itu yang membuat doamu tidak didengar oleh Tuhan. Bukan karena tangan Tuhan itu kurang panjang untuk menolong kamu, bukan karena telinga Tuhan itu tidak bisa mendengar apa yang menjadi permohonanmu, tetapi karena dosamulah yang menjadi penghalang antara engkau dengan Tuhan Allah, itu yang membuat Tuhan tidak mengulurkan tangan, tidak mendengar dan tidak menolong engkau. Jadi antara yang dosa dengan yang suci itu ada sesuatu keretakan relasi, kerusakan yang tidak mungkin dibereskan oleh orang yang telah merusak relasi itu, tetapi hanya akan beres kalau orang yang dirusak dan disakiti atau pribadi yang disakiti itu mau memperbaiki relasi itu dengan yang merusak itu. Jadi itu sebabnya pada waktu Alkitab berkata, ketika manusia berdosa, yang disakiti siapa? Tuhan Allah. Lalu apa yang dilakukan oleh Tuhan dalam kondisi seperti ini? Alkitab berkata, Allah memiliki inisiatif untuk datang, untuk mau membuat perdamaian dengan manusia yang berdosa. Kita hanya meresponi perdamaian itu dari Tuhan Allah, tawaran itu dari Tuhan Allah. Saya nggak bicara mengenai kelahiran baru dan segala macam, tapi saya cuma mau bicara mengenai bagaimana kita harus meresponi apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Ini adalah berita, berita damai. Ini adalah sesuatu tugas yang harus disampaikan oleh gereja, bahwa orang yang berdosa itu butuh penebusan dari Allah. Orang yang berdosa butuh perdamaian dari Allah. Orang berdosa tidak bisa mengusahakan perdamaian itu sendiri.

Yang kedua adalah bagaimana caranya Tuhan memberikan damai itu dalam hidup kita? Jawabannya ada di dalam ayat 19, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Dia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.” Sebelum “Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami,” di depannya ada kalimat, “Dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka,” itu adalah caranya. Jadi pada waktu Allah ingin mengadakan damai dengan manusia yang berdosa, caranya bagaimana? Caranya adalah dengan mengumumkan atau dengan tidak memperhitungkan lagi engkau adalah orang yang berdosa atau saya adalah orang yang berdosa, itu cara Tuhan. Jadi saya percaya ini adalah sesuatu yang memang berkaitan dengan apa yang ada dalam memori Tuhan terhadap diri orang yang berdosa. Pada waktu seseorang itu datang kepada Tuhan Allah, ingin minta pengampunan dosa, bisa nggak Tuhan mengampuni dosa orang itu dengan berkata dosamu diampuni? Bisa nggak? Bisa kan? Kalau bisa, kenapa harus melewati Kristus? Kenapa? Agama selalu berkata ndak harus lewat Kristus kok, Allah bisa ampuni kok, Dia pengasih kan? Saya tahu jawabannya ada berkaitan dengan keadilan Tuhan Allah di sini. Tapi saya mau ajak kita melihat melampaui dari pada keadilan Tuhan yang pasti akan menghukum orang berdosa. Kenapa Tuhan menentukan, Tuhan berkata harus melalui Kristus kalau Dia bisa menebus, mengampuni dosa manusia dengan hanya mengumumkan dosamu sudah diampuni? Nah ini R. C. Sproul bilang kayak gini ya, dia ada waktu dia menghadapi dosennya, tanya kenapa saya harus memberitakan Kristus? Kenapa manusia berdosa diperdamaikan dengan Allah harus melalui Yesus Kristus? Itu bukan hanya perintah yang Tuhan berikan kepada orang percaya, tetapi itu adalah ketetapan Tuhan yang berdaulat untuk menentukan bahwa satu-satunya jalan untuk orang berdosa bisa diperdamaikan kepada Allah hanya melalui Yesus Kristus. Maksudnya adalah kita nggak bisa mempertanyakan kenapa harus melalui Kristus. Kita tidak bisa mempertanyakan kenapa pelanggaran dosa saya itu harus dihapuskan melalui darah Kristus. Itu sudah ketetapan Tuhan. Memang di sisi lain adalah ada keadilan Tuhan yang tidak bisa kompromi terhadap dosa. Selain kita berbuat, orang yang berdosa harus dihukum, dan Kristus yang menggantikan orang yang berdosa itu dihukum dan dihapus pelanggarannya karena Kristus sudah menanggung pelanggaran orang berdosa. Tetapi di sisi lain kalau kita ingin telusuri lebih jauh lagi, kenapa harus melalui cara itu? Jawabannya cuma satu, itulah kedaulatan Allah, ketetapan Allah yang berdaulat untuk mengumumkan pelanggaran penghapusan pelanggaran manusia hanya melalui Yesus Kristus, ndak ada jalan lain.

Artinya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika Allah yang berinisiatif untuk mendamaikan manusia dengan diri Dia, tidak boleh ada dosa yang menjadi penghalang antara manusia dengan Tuhan Allah, lalu solusi terhadap dosa dan pelanggaran itu ada di mana? Alkitab berkata solusinya bukan pada diri kita dan usaha kita untuk mendamaikan dengan mengapus pelanggaran itu, tetapi solusinya ada di dalam diri Kristus Yesus. Itu solusi satu-satunya. Kalau kita menolak Kristus, maka itu berarti kita menolak kesempatan untuk pelanggaran-pelanggaran kita di hapuskan oleh Tuhan Allah. Itu saya percaya ini adalah kalau ditanya lagi, “Kok begitu ya Tuhan?” Ya Dia begitulah. Karena Dia adalah Tuhan kok, Dia punya otoritas, Dia punya hak. Dia maunya seperti apa ya Dia yang menentukan aturan mainnya itu harus seperti apa, dan kita tidak punya hak untuk bertanya. Kalau kita bertanya akan hak itu dan kita merasa kita lebih bijaksana dari Tuhan, itu hanya menyatakan kalau kita sudah jatuh dalam dosa. Dan kita ingin hidup seperti Tuhan. Jadi caranya bagaimana? Dosa Saudara, pelanggaran Saudara harus disingkirkan. Kalau tidak pernah disingkirkan, Saudara tidak jangan pernah berharap Saudara sudah diperdamaikan dengan Tuhan karena Tuhan sudah menetapkan cara itu. Lalu siapa orang yang mendapatkan dirinya sudah dihapus pelanggarannya? Saya percaya ini juga berkaitan dengan ayat 20 yang tentunya tadi berkaitan dengan ayat 19 juga “di dalam Kristus itu.” Ayat 20 lebih spesifik lagi adalah, “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasehati kamu dengan perantaraan kami, dalam nama Krisus kami meminta kepadamu berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” “Berikanlah dirimu didamaikan dengan Allah,” artinya adalah pada waktu berita ini injil itu ditawarkan, dikabarkan, dan damai sejahtera itu ditawarkan kepada manusia, manusia harus meresponi, manusia harus menerima. Manusia bukan hanya bertobat meninggalkan kelakuan mereka yang berdosa tapi mereka harus meresponi tawaran kasih Allah di dalam Kristus itu dalam kehidupan mereka, baru dari situ damai sejahtera itu bisa tiba dalam kehidupan kita. Jadi yang namanya iman, iman itu adalah bukan hanya kita meninggalkan dosa, bukan hanya kita melakukan apa yang menjadi perkataan Tuhan, tapi kita harus menerima pribadi Kristus yang menjadi kunci penyelesaian masalah dosa kita. Itu yang menjadi unsur penting. Tanpa itu kita punya dosa juga tidak akan diampuni. Jadi setiap orang yang berdosa dia harus memiliki suatu pengakuan bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamatnya, Kristus adalah Tuhan atas hidup dia, Kristus adalah Tuhan yang memiliki kuasa atas kehidupan dia, kontrol atas seluruh kehidupan dia.

Saya pernah ditanya oleh satu pemuda, “Pak mau tanya, ada batasan enggak Tuhan memiliki hidup kita?” Jawabannya tidak ada, yang Tuhan mau harus kita lakukan, itu menandakan kalau kita adalah milik Tuhan. Jadi Tuhan kita itu bukan Tuhan yang bisa ditawar menawar seperti itu ya. Pada waktu Tuhan menebus kita, Alkitab berkata, kita sudah menjadi milik Tuhan, milik Tuhan. Darah Kristus itu sudah membeli kita secara total, itu membuat kita ndak punya tawaran. Saya pikir itu seperti Gomer terhadap Hosea, selama Gomer merasa dirinya orang merdeka dia bisa cari hidung belang, pelacur laki-laki, dia bisa cari pria-pria idaman lainnya selain suaminya untuk memuaskan apa yang menjadi keiinginan dia. Tapi sampai detik ketika akhirnya dia harus menjadi seorang budak akibat dosa dia, akibat dia sudah menguras seluruh dari pada harta dia dan tidak punya apa-apa lagi kecuali diri dia harus dijual untuk menjadi seorang budak, Allah mengustus Hosea untuk menebus Gomer dengan lelang harga yang tertinggi. Maka mulai hari itu Gomer jadi hamba dari Hosea, dan mulai hari itu Gomer punya hidup milik dia sendiri tidak? Gomer tidak punya hidup miliki dia sendiri lagi, menurut hukum perjanjian dahulu di Timur Tengah, ketika seseorang diperjualbelikan menjadi seorang budak maka dia tidak memilki hak atas hidup dia, tuannya yang memiliki hidup dia, dia harus melakukan segala sesuatu yang menjadi kehendak tuannya, dia tidak punya kehendaknya sendiri untuk dijalankan , dia harus taat kepada apa yang menjadi kehendak tuannya. Itu yang terjadi pada waktu kita ditebus oleh Kristus, bukan berarti kita ndak punya keinginan, ada keinginan tetapi keinginan kita menjadi suatu keinginan baru yang mau merelakan diri kita tunduk di bawah apa yang menjadi keinginan Kristus secara total. Maka Paulus di dalam ayat yang sebelumnya itu dikatakan, ayat 15, “Dan Kristus telah mati untuk semua orang supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Di dalam Galatia 2:20 dikatakan, “Bukan lagi aku yang hidup tapi Kristuslah yang hidup di dalam aku.” Itu adalah orang Kristen, jadi pada waktu kita sudah ditebus oleh Kristus, kalau kita sungguh-sungguh sudah dihapuskan oleh pelanggaran dan kita memilki iman di dalam Kristus, saya percaya hidup kita bukan milik kita lagi. Enggak ada istilahnya batasan dimana “ada bagian milik saya lho Tuhan, yang saya ndak mau serahkan ke dalam tangan Tuhan,” tetapi inilah seluruh diri saya, inilah dan bahkan seluruh hati saya yang harus menjadi milik Tuhan, hidup saya, perilaku saya, pikiran saya, emosi saya, kehendak saya, semuanya harus turut dengan apa yang menjadi  kehendak Tuhan karena Tuhan telah membeli kita secara lunas dengan cara memberikan nyawaNya bagi kita diatas kayu salib melalui kematiannya yang bersifat subtitusi. Dia yang tidak mengenal dosa, telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya kita dibenarkan oleh Allah.

Saudara-saudara, apa maksudnya “Dia yang tidak berdosa telah dibuat menjadi dosa karena kita”? Ada pendeta yang berkata ini berarti pada waktu Yesus dinaikkan di atas kayu salib dia menjadi orang yang berdosa dan dihukum sebagai seorang pendosa, dan Dia dimasukkan ke dalam neraka selama tiga hari untuk dihukum karena dosa-dosaNya, kemudian Dia di hari ketiga baru bangkit dari kematian, betul tidak, karena dikatakan “Dia dibuat menjadi dosa karena kita”? Saya percaya tidak seperti itu ya, pada waktu Yesus di atas kayu salib Dia menanggung dosa kita, bukan karena Dia berdosa tetapi Tuhan Allah memperhitungkan dosa kita itu kepada diri Dia. Pada waktu Dia menanggung hukuman salib, Dia dalam kondisi yang tidak berdosa tetapi yang tidak berdosa ini diperhitungkan berdosa oleh Tuhan Allah karena diri kita, sehingga Dia harus dihukum. Buktinya apa? Buktinya adalah kalimat pada waktu Dia di salib dan Ia berkata, “Eloi, Eloi, lama sabachthani, Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Saya percaya yang bisa berkata seperti itu adalah orang yang benar, yang tahu bahwa Ia tidak bersalah tetapi Tuhan limpahkan hukuman terhadap diri Dia dan Ia berkata, “Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Itulah yang dilakukan oleh Kristus bagi diri kita, Dia tidak perlu dihukum, Dia tidak pantas dihukum, Dia tidak layak dihukum, tetapi karena Dia ingin menebus dosa kita Dia menerima hukuman itu, bukan karena Dia berdosa, tetapi karena Dia menanggung dosa kita, Dia diperlakukan seperti orang berdosa karena Dia tidak berdosa, supaya apa kita bisa diperhitungkan Allah sebagai orang benar. Itu namanya kematian yang bersifat subtitusi, kematian yang menggantikan diri kita yang harus mati, sehingga pada waktu Allah melihat hidup kita, Allah melihat kita sebagai orang yang benar. Apakah karena kita benar? Jawabannya bukan karena kita benar, tetapi karena Kristus yang benar maka kita dibenarkan oleh Tuhan. Pada waktu Allah melihat kita adalah orang yang kudus bukan karena kita kudus tetapi Kristus yang kudus yang membuat kita diperhitungkan sebagai orang yang kudus oleh Tuhan Allah. Kenapa begitu? Saya percaya inilah jaminan kehidupan kekal yang kita miliki di dalam Kristus. Kalau Tuhan menuntut kekudusan itu dari dalam diri kita, kalau Tuhan menuntut kebenaran itu dari dalam diri kita baru kita bisa diterima oleh Dia, saya yakin tidak ada satupun orang Kristen masuk surga. Tapi karena yang Tuhan lihat itu adalah kebenaran Kristus dan kekudusan Kristus maka itu yang membuat kita turut diperhitungkan benar bersama dengan Kristus yang kita terima melalui iman di dalam Kristus. Sehingga membuat Alkitab berkata, “tidak ada lagi penghukuman bagi orang yang berada di dalam Kristus,” Roma 8:1. Jadi ini yang dikerjakan oleh Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tetapi Paulus berkata penebusan ini tidak berhenti di kita ya. Perdamaian ini tidak berhenti di kita, perdamaian ini harus kita teruskan kepada orang lain. Makanya Paulus di bagian ini katakan, “Kami meminta kepadaMu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Saya percaya ini bukan tanggung jawab Paulus saja tapi tanggung jawab semua orang Kristen, Gereja Tuhan. Kita harus menjadi orang yang membawa damai di dalam kehidupan kita. Saya khotbahkan ini tujuannya untuk mengingatkan kita kembali kenapa gereja ini berdiri, kenapa Bapak, Ibu, Saudara berada di dalam gereja ini. Kita sudah 23 tahun ada di tempat ini, sudahkah Bapak, Ibu, Saudara memenangkan jiwa bagi Tuhan? Sudahkah kehidupan Bapak, Ibu, Saudara itu menjadi berkat bagi orang lain untuk mengenal Kristus atau belum? Sudahkah Bapak, Ibu, Saudara sungguh-sungguh mengerti akan penebusan Kristus dalam kehidupan Bapak, Ibu, Saudara? Apakah sungguh-sungguh Bapak, Ibu, Saudara sendiri sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat atau belum? Kalau sudah, bertumbuhlah di dalam kebenaran itu, bertumbuhlah di dalam iman itu menjadi orang yang dewasa di dalam iman. Dan salah satu ciri orang yang dewasa di dalam iman, bukan hanya mengetahui yang benar dan salah tetapi menjadikan hidup dia saluran berkat bagi orang lain dan membawa orang lain kepada Kristus. Saya harap ini menjadi visi gereja kita, mendirikan pengajaran yang benar, tapi juga sekaligus visi gereja kita untuk membawa jiwa ke dalam tangan Tuhan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, jangan terjebak dengan pemikiran “Oh negara sudah mengajarkan tidak boleh menginjili,” jangan terjebak dengan pikiran toleransi kita harus menghargai iman orang lain. Sebenarnya bukan toleransi tetapi kompromi terhadap iman dan kepercayaan. Tapi kita harus berani punya pendirian kalau satu-satunya jalan untuk orang diperdamaikan dengan Allah bukan melalui perbuatan, bukan melalui usaha kita bisa untuk mendamaikan kita dengan Tuhan Allah, tetapi hanya dari inisiatif Allah melalui Kristus karena Kristus bisa menghapus pelanggaran dosa kita dan Dia menanggung dosa kita. Itu satu satunya jalan. Karena itu berita itu harus kita sampaikan apapun konsekuensinya. Saya tau enggak enak, tapi saya percaya upah kita di sorga lebih besar kan dari penolakan manusia. Saya di pemuda kemarin bilang jangan takut ditolak manusia tapi takutlah ditolak oleh Tuhan Allah. Jangan takut tidak disukai oleh manusia tetapi takutlah untuk tidak disukai oleh Tuhan Allah.

Saya harap gereja ini boleh makin menjadi dewasa. Saya harap firman Tuhan yang saudara dengar bukan menjadi suatu alasan untuk membuat Saudara makin mengkeraskan hati, makin tahu celah bagaimana untuk melarikan diri dari Tuhan dan tidak mau tunduk kepada Tuhan. Tetapi lembutkanlah dirimu Saudara, hati Saudara berikanlah itu kepada Tuhan. Saya percaya itu adalah berkat yang tidak bisa digantikan oleh apapun karena tujuan Tuhan menciptakan kita adalah untuk kemuliaan nama Dia, tujuan Tuhan menebus kita adalah untuk kemuliaan nama Dia, menjadikan kita milik Dia. Dan disitu ada berkat sekunder yaitu kita diberikan keselamatan bersama dengan Kristus. Saya harap itu menjadi hal yang kita utamanakan dalam kehidupan kita dan kita utamakan kita di dalam pelayanan gereja ini. Karena itu Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau setiap kali ada kesempatan belajar firman tuntut itu, karena itu akan membuat engkau menjadi orang yang dewasa karena mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidupmu. Tapi setiap kali ada kesempatan untuk memberitakan Injil gunakan itu. Jangan cuma terlibat hanya di dalam penginjilan gereja saja tetapi jadikanlah dirimu sebagai sarana Tuhan secara personal, pribadi, untuk menjadi saluran berkat bagi orang yang ada disekitar kita. Jadi dimanapun kita berada, baik itu secara pribadi ataupun secara kolektif di dalam gereja, selalu Kristus yang ditinggikan. Ingat itu baik baik, baru gereja ini bisa diberkati oleh Tuhan dan boleh makin bertumbuh dan menyatakan nama Tuhan dalam kehidupan ini. Mari kita masuk di dalam doa. Saya minta Vikaris Leo untuk pimpin dalam doa.

Bapa kami dalam Surga, kami sungguh bersyukur untuk kebenaran firman yang boleh disampaikan di pagi hingga siang ini. Kami benar-benar bersyukur ya Tuhan untuk pimpinanMu atas GerejaMu. Dan kami benar-benar bersyukur apabila berita perdamaian itu yang sudah Engkau nyatakan dalam kehidupan kami, menebus kami, menyelamatkan kami melalui pengorbanan anakMu yang tunggal Yesus Kristus, berita perdamaian ini juga Engkau percayakan kepada kami untuk kami beritakan kepada orang-orang di sekitar kami. Bersyukur untuk semua ini ya Bapa, dan biarlah seumur hidup kami sungguh kami boleh dipakai untuk hidup memuliakan namaMu, membawa orang berdamai kembali kepadaMu. Terima kasih Bapa untuk semua ini. Hanya dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *