Pentakosta dan Dipenuhi Roh Kudus, 9 Juni 2019

Kis. 2:1-13

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Yesus Kristus akan pergi meninggalkan umatNya atau murid-muridNya maka Yesus Kristus pernah memberikan dua janji yang penting bagi orang-orang yang merupakan rasul-rasulNya atau murid-muridNya. Janji pertama adalah janji Dia akan mendirikan sebuah gereja di atas dasar batu karang ini, yaitu di dalam Matius 16 ayat 18; lalu ketika Dia telah memberikan janji mengenai gereja itu, Dia juga kemudian berkata, “Aku suatu hari akan pasti meninggalkan engkau dan Aku harus pergi meninggalkan engkau tetapi Aku akan meminta kepada Bapa untuk memberikan Roh Kudus kepada engkau, Roh Penghibur, dan ketika Roh itu akan diberikan Ia akan tinggal di dalam dirimu dan Ia akan menyertai engkau sampai selama lamanya,” itu adalah Roh Kudus yang Tuhan janjikan ketika Dia sudah pergi kepada Bapa di sorga. Dan ketika Saudara membaca Kisah [Para Rasul] pasal 1 ayat yang ke-5, di situ Yesus Kristus berkata, “Yohanes akan membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus, karena itu pergilah dan nantikanlah Roh Kudus sampai tiba Roh Kudus tersebut di dalam kehidupan engkau.”

Dan di dalam pasal yang kedua ini, di dalam Kisah Para Rasul, di situ Roh Kudus dicurahkan dan diberikan kepada orang-orang Kristen atau murid-murid yang kira-kira ada 120 orang yang hadir saat itu. Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kehadiran dari Roh Kudus atau pencurahan dari Roh Kudus ini, itu merupakan suatu tanda di mana gereja didirikan ketika itu. Roh Kudus juga diberikan kepada Gereja Tuhan atau istilah lainnya adalah di berikanNya Roh Kudus atau baptisan Roh Kudus yang diterima oleh seseorang itu adalah bersamaan dengan seseorang itu percaya kepada Kristus. Saya ketika berbicara mengenai Gereja, yang maksudkan itu bukanlah sebuah gedung di mana kita berbakti kepada Tuhan, tetapi adalah pribadi-pribadi dari orang yang percaya kepada Kristus itu adalah Gereja. Jadi yang penting adalah siapa yang hadir, orang-orang yang percaya kepada Kristus, yang beribadah kepada Kristus, yang beriman kepada Kristus. Kita adalah Gereja Tuhan dan Tuhan melihat seperti ini. Dan kapan gereja itu hadir? Kapan gereja itu ada? Alkitab mencatat gereja itu terjadi dan terbentuk pada waktu yang bersamaan ketika kita dibaptis oleh Roh Kudus dalam kehidupan kita, jadi kalau melihat hal ini dasarnya di mana? Dasarnya adalah, Saudara boleh buka 1 Korintus 12 ayat yang ke-13, kita akan ada beberapa ayat bacaaan yang kita buka. 1 Korintus 12 ayat yang ke-13, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Paulus bilang apa, kapan orang Yahudi dan orang Yunani, budak dan orang merdeka dipersatukan di dalam satu tubuh? Satu tubuh ini apa? Gereja. Kapan kita semua dipersatukan? Jawabannya adalah pada waktu kita dibabtis menjadi satu oleh Roh, oleh satu Roh, saat itulah kita menjadi satu tubuh yaitu gereja. Jadi ketika berbicara gereja kapan dibentuk, kapan ada di dalam dunia ini, jawabannya adalah pada waktu kita menerima baptisan Roh Kudus, saat itu kita menjadi orang Kristen, dan saat itu kita menerima Roh Kudus di dalam hati kita, dan kita menjadi gereja.

Dan Saudara pada waktu kita melihat ini, maka Saudara mungkin akan bertanya, “Tapi bukankah ini sesuatu yang berbeda dengan Kisah [Para] Rasul pasal yang kedua dan kisah-kisah yang  lain?” Dan kita akan lihat satu persatu. Di dalam Kisah [Para] Rasul pasal yang dua, terjadi suatu persitiwa dimana Roh Kudus dicurahkan oleh Allah dan hinggap di dalam diri setiap dari pada murid-murid yang 120 orang itu. Dan pada waktu Roh Kudus itu hinggap, dinyatakan dari simbol dari pada lidah-lidah api yang ada pada masing-masing orang itu, itu menyatakan bahwa mereka menerima Roh Kudus dalam kehidupan mereka. Tapi pertanyaannya begini, pada waktu mereka menerima Roh Kudus dalam hidup mereka, apakah mereka sudah menjadi Kristen sebelumnya atau belum? Saya percaya kalau Saudara membaca dari pada keempat Injil, Saudara akan menemukan murid-murid sudah mengenal siapakah Kristus sebelum mereka menerima Roh Kudus di dalam kehidupan mereka, mereka adalah orang-orang yang sudah percaya bahwa Kristus adalah Mesias, mereka adalah orang-orang yang sudah percaya bahwa Kristus akan datang untuk menebus dosa, walaupun pemahaman itu belum sepenuhnya mereka mengerti dan baru mereka mengerti sepenuhnya ketika Yesus sudah bangkit dari kematian pada hari yang ketiga dan selama 40 hari Yesus menampakkan diri kepada murid-murid dan menjelaskan mengenai Kerajaan Allah dan persitiwa yang harus terjadi dalam kehidupan Kristus atau Mesias ketika Dia datang ke dalam dunia ini. Misalnya ambil contoh, pada waktu ada dua murid berjalan ke Emaus lalu di situ Yesus hadir di tengah-tengah mereka dan turut berjalan dengan dua orang murid ini, lalu Ia bertanya, “Ada apa di Yerusalem kok rame-rame begitu rupa?” Lalu dua murid ini berkata, “Masa Kamu tidak tahu? Kamu orang asing ya yang datang ke sini baru mendengar baru melihat peristiwa ini? Tahu tidak, orang-orang itu mempeributkan baru-baru ini ada seorang yang mengaku diri Dia Mesias yaitu Yesus Kristus yang mati dibunuh dan disalibkan.” Lalu dari peristiwa itu Yesus kemudian berbicara kepada mereka selama perjalanan, mereka belum mengerti mungkin karena Yesus tidak mau menyatakan diriNya secara terbuka saat itu sebelum kebenaran mengenai Kerajaan Allan dan pekerjaan Mesias sungguh-sungguh dinyatakan. Lalu sampai ketika mereka sampai di rumah, Yesus memecah roti, baru dua murid ini tersadar bahwa yang berbicara kepada mereka adalah Kristus yang sudah bangkit dari kematian. Lalu saat itu Yesus menghilang dari hadapan mereka dan mereka tidak beristirahat di Emaus tetapi justru mereka segera kembali ke Yerusalem untuk memberitahukan kepada rasul-rasul yang lain kalau mereka melihat Kristus yang bangkit dari kematian. Dan berapa lama Yesus menyatakan ini? Selama 40 hari dari persitiwa kebangkitan Dia, jadi selama 40 itu dia berbicara tentang Dia datang, dan Dia sudah mengajarkan bahwa Dia harus menderita dan mati dan pada hari ketiga Dia bangkit dari kematian yang membuktikan semua kebenaran itu dari Kitab Suci Perjanjian Lama, dan itu membuat murid-murid kemudian percaya kepada Tuhan. Pada hari ke-40 Yesus naik ke atas surga di angkat oleh Tuhan, lalu di situlah Yesus memberi pesan, “Kamu harus menunggu,” dan mereka tidak tahu kapan itu harinya, dan mereka menunggu dan berdoa, dan sampai kapan sampai Roh Kudus dicurahkan pada diri mereka.

Jadi pertanyaannya adalah seperti ini, apakah sebelum Roh Kudus diberikan murid-murid sudah menjadi orang Kristen apa belum? Saya percaya mereka sudah menjadi orang Kristen. Salah satu ayat yang kita bisa lihat adalah pada waktu Yesus Kristus di malam Hari Paskah Dia kemudian mengambil baskom lalu mengikat pinggangNya dengan kain, lalu ingin membasuh kaki dari murid-murid, satu persatu Dia basuh kakinya sampai kepada Petrus. Petrus bilang, “Guru, Kau tidak boleh lakukan itu bagi saya, Kau tidak boleh basuh kaki saya.” “Kalau engkau tidak dibasuh, engkau tidak mendapatkan bagian.” Lalu Petrus bilang, “Kalau begitu seluruh tubuhku Kau basuh saja,” lalu Yesus bilang apa? “Kamu sudah bersih Petrus, hanya kakimu saja yang perlu dibasuh.” Saya percaya inilah ayat yang berbicara mengenai Petrus telah menjadi murid, dia adalah orang Kristen pengikut Kristus, dia sudah percaya di situ. Tetapi Saudara, kenapa? Ketika Petrus percaya, rasul-rasul lain percaya, Roh Kudus baru diberikan 50 hari kemudian setelah Yesus mati di atas kayu salib, jawabannya karena apa? Apakah itu berarti bahwa apa yang diajarkan Paulus di dalam 1 Korintus 12 ayat yang ke-13 itu bertentangan dengan peristiwa Pentakosta? Apakah itu berarti yang benar itu adalah ada satu waktu dalam kehidupan orang Kristen dimana kita bisa percaya kepada Kristus terlebih dahulu tetapi kita belum memiliki Roh Kudus dalam kehidupan kita hingga kita perlu menunggu beberapa puluh hari kemudian baru Roh Kudus turun dan hinggap pada diri kita dan kita dibabtis dengan Roh Kudus, seperti yang terjadi dalam pola Pentakosta ataupun dalam Kisah Para Rasul pasal yang ke-8 kepada orang-orang Samaria, pasal yang ke-10 kepada Kornelius, pada pasal yang ke-19  kepada orang -orang Yahudi yang menjadi pengikut dari Yohanes Pembaptis? Saudara, apakah itu menjadi suatu pola yang harus ditetapkan di dalam gereja sehingga ketika kita berjalan di dalam iman kita, kita menemukan ada beberapa denominasi yang mengatakan kita perlu meminta Roh Kudus dicurahkan kembali, Roh Kudus membaptis diri kita dengan darah, ketika Hari Pentakosta tiba kita berdoa, berpuasa meminta Roh Kudus itu dicurahkan dan hinggap kepada diri-diri orang yang percaya? Saudara, saya percaya jawabannya tidak seperti itu ya. Tapi pada waktu Saudara melihat pada peristiwa di dalam Kisah [Para Rasul] pasal 2 dan peristiwa di tempat yang lain, itu ada jawabannya, kita akan bahas satu per satu.

Tetapi terlebih dahulu ketika Saudara masuk ke dalam Kisah Rasul 2, Saudara harus mengerti satu hal, itu adalah peristiwa transisi, transisi dari Perjanjian Lama menuju kepada Perjanjian Baru. Dan pada waktu berbicara mengenai transisi ini, transisi ini adalah sebuah penggenapan yang Tuhan lakukan dari apa yang pernah Dia nubuatkan di dalam Perjanjian Lama. Sebenarnya peristiwa Pentakosta, Hari Raya Pentakosta, itu bukan suatu hari raya yang baru yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, tetapi sebuah hari raya yang sudah diperintahkan kepada Musa sejak di dalam Perjanjian Lama. Kalau Saudara baca Imamat 23, Saudara akan menemukan ada hari-hari raya dan salah satunya adalah hari raya Pentakosta di dalam Imamat 23. Dan peristiwa itu merupakan, yang dicatat dalam Kisah Rasul pasal 2, Pentakosta itu merupakan penggenapan dari nubuat yang Tuhan nyatakan di dalam hari raya yang dikerjakan oleh orang-orang Yahudi di dalam Perjanjian Lama. Dan ini menarik sekali ya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita melihat sejarah dari pada orang-orang Israel, di dalam Tuhan memberikan nubuat, satu per satu Tuhan genapi dengan waktu yang sesuai dengan waktu Tuhan dan hari yang Tuhan tentukan. Misalnya ambil contoh, di dalam nubuat Perjanjian Lama dikatakan, Mesias akan datang, lalu Dia akan dibantai, Dia akan mati seperti seekor domba yang kelu, tidak bisa berbicara, untuk menghapus dosa dunia. Kapan hari itu dilakukan? Alkitab mencatat, hari itu terjadi persis ketika orang Israel menyembelih domba Paskah, di mana Yesus Kristus mati di atas kayu salib. Dan pada waktu Yesus bangkit dari kematian, itu adalah hari yang ketiga atau hari pertama minggu itu. Hari pertama minggu itu adalah hari di mana orang Yahudi memperingati persembahan sulung pertama yang dibawa ke hadapan Tuhan. Lalu ketika dihitung 50 hari kemudian, hari apa? Itu adalah Hari Raya Penuaian. Jadi bagi orang Yahudi ada dua hari di mana dia akan membawa hasil panen mereka di hadapan Tuhan; pertama adalah yang sulung, yaitu hari pertama minggu itu, yaitu hari ketiga dari Hari Paskah, yaitu ketika mereka memanen hasil dari pada hasil ladang mereka untuk sebagai suatu panen pertama, bukan keseluruhan tetapi contoh, sampel, apakah panen itu baik atau tidak. Dan kalau itu adalah suatu panen yang baik mereka akan menghasilkan panen yang seluruhnya adalah baik lalu hasil panen pertama itu mereka akan bawa ke hadapan imam untuk dipersembahkan pada Tuhan, yaitu kapan? Hari pertama minggu itu, yaitu hari ketiga dari Hari Paskah. Lalu setelah itu hari ke-50 kemudian mereka akan panen seluruh dari pada hasil itu, lalu hasil dari pada panen itu mereka akan bawa dan persembahkan pada Tuhan. Nah Saudara, Kristus ketika bangkit dari kematian di hari ketiga, itu adalah menggenapi apa yang menjadi perayaan yang dilakukan oleh orang Yahudi untuk membawa hasil seluruh pertama itu pada Tuhan, lalu hari Pentakosta itu adalah hari penuaian. Ketika yang sulung itu dibawa kepada Tuhan, maka akan terjadi penuaian bagi Tuhan yang dipersembahkan kepada Tuhan melalui gereja yang terbentuk dari orang Yahudi dan orang non-Yahudi.

Dan kalau ditanya kapan hari itu terjadi? Apakah itu adalah sesuatu peristiwa yang ditetapkan oleh Tuhan atau sesuatu peristiwa yang kita bisa usahakan dan minta kepada Tuhan sesuai dengan keinginan kita? Jawaban Alkitab adalah, hari itu adalah hari yang sesuai dengan ketetapan Tuhan dan bukan gereja punya keinginan. Kalau Saudara baca di dalam Surat Galatia, Saudara akan menemukan pada hari yang sudah ditentukan oleh Tuhan, Kristus lahir ke dalam dunia ini. Dan kalau Saudara teruskan ini, Saudara bisa ngomong, pada hari yang ditentukan oleh Tuhan, Kristus mati di atas kayu salib. Pada hari yang sudah ditentukan oleh Tuhan, Kristus bangkit dari kematian. Dan pada hari yang ditentukan oleh Tuhan, Kristus mencurahkan Roh KudusNya turun dan hinggap di atas orang-orang Kristen. Jadi pada waktu berbicara mengenai Hari Pentakosta, hari dicurahkannya Roh Kudus, jangan berpikir kalau itu adalah satu hari di mana kita bisa berdoa kepada Tuhan untuk meminta Roh Kudus membaptis diri kita. Dan kita harus menunggu beberapa puluh hari kemudian setelah kita percaya baru Roh Kudus akan dicurahkan karena kita berdoa minta kepada Tuhan. Jawabannya tidak seperti itu, tapi jawaban yang benar adalah, memang Tuhan sudah menetapkan 50 hari dari hari kematian Kristus itu, Roh Kudus akan dicurahkan pada Hari Pentakosta. Nah itu yang terjadi dalam Kisah [Para Rasul] pasal 2. Sehingga pada waktu kita masuk ke dalam Kisah [Para Rasul] pasal 2, kita akan berkata itu adalah hari transisi. Transisi dari apa? Perjanjian Lama menuju ke dalam Perjanjian Baru. Dari kehidupan yang merupakan nubuat para rasul menjadi masuk ke dalam zaman anugerah yang Tuhan beritakan, atau zaman gereja yang sudah Tuhan janjikan sejak di dalam Perjanjian Lama. Dan Saudara, itu sebabnya pada waktu kita melihat kepada peristiwa dari pencurahan Roh Kudus, kita tidak bisa menerapkan bahwa, “Oh itu adalah sesuatu yang harus sama dengan 1 Korintus 12:13,” tetapi justru ketika Hari Pentakosta telah tiba, Roh Kudus telah dicurahkan, gereja dibangun, maka kalau itu adalah zaman transisi maka peristiwa setelah Hari Pentakosta itu adalah menjadi suatu peristiwa yang pasti berbeda dengan Hari Pentakosta, yaitu apa? Roh Kudus tidak lagi harus ditunggu kehadiranNya setelah orang percaya kepada Tuhan, tetapi Roh Kudus akan diberikan pada waktu yang sama ketika seseorang bertobat dan percaya pada Kristus.

Saudara paham ini ya saya ngomong? Karena saya tahu ini agak cukup ribet ngomong kayak gini, tapi saya harap Saudara paham dengan baik dengan prinsip ini, karena dari situ saya percaya kita akan memiliki suatu kehidupan rohani yang lebih baik di hadapan Tuhan ketika kita mengikut Kristus, dan kita tidak diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran yang bertentangan satu dengan yang lain, dengan Kitab Suci ya khususnya. Nah Saudara, itu yang akan terjadi ya. Tapi kalau Saudara berkata, atau saya berkata, pada waktu Pentakosta itu adalah suatu peristiwa yang terjadi sebagai masa transisi, bagaimana dengan orang-orang yang dicatat oleh Kitab Suci di dalam Kisah Rasul 8, Kisah Rasul 10, Kisah Rasul 19, bukankah itu adalah peristiwa yang terjadi pasca Pentakosta? Paham nggak? Kalau Pentakosta masa transisi, dan kita bisa terima itu adalah karena masa transisi maka Roh Kudus itu diberikan setelah orang percaya kepada Kristus, setelah Pentakosta harusnya hari-hari yang dijalani oleh gereja itu adalah hari yang biasa kan? Hari yang tidak lagi meniru masa transisi tersebut, karena apa? Roh Kudus sudah dicurahkan, sehingga yang berlaku harusnya adalah 1 Korintus 12:13 di mana ketika orang percaya, di situ Roh Kudus dicurahkan, pada waktu yang sama menjadi milik orang tersebut. Karena di dalam Roma 8:9 dikatakan orang yang tidak memiliki Roh Kristus, dia bukanlah umat Tuhan atau orang yang percaya kepada Kristus. Sehingga pada waktu dia percaya kepada Kristus dia akan diberikan Roh Kudus dalam kehidupan dia. Tapi kalau 1 Korintus 12:13 adalah suatu peristiwa yang terjadi pasca Pentakosta, pertanyaannya adalah, bagaimana dengan orang-orang Samaria yang ketika mereka sudah percaya kepada Kristus mereka belum menerima Roh Kudus dalam hidup mereka? Saudara boleh buka 1 Korintus 8, di situ dikatakan Filipus adalah seorang penginjil, salah satu dari pada majelis yang terbentuk yang dipilih, lalu dia adalah orang yang begitu rindu untuk penginjilan, dia pergi ke Samaria, dia memberitakan Injil di sana, lalu kuasa Tuhan menyertai diri dia sehingga banyak orang yang percaya kepada Kristus melalui pemberitaan Injil dari Filipus, bahkan Simon si penyihir itu pun akhirnya turut dibaptis dan percaya kepada Kristus. Tetapi ketika rasul-rasul di Yerusalem, ayat 14, mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Gimana? Kalau Pentakosta masa transisi, harusnya setelah Pentakosta orang Samaria langsung menerima Roh Kudus ketika mereka percaya.

Lalu kalau Saudara baca 1 korintus pasal yang ke-10, di situ dikatakan setelah Petrus bergumul dan berdoa, dia melihat penglihatan dimana ada kain yang diturunkan dari langit lalu berbagai binatang haram disitu yang diperintahkan oleh Tuhan untuk dimakan oleh Petrus. Ia tidak mengerti itu sampai 3 kali kain itu turun. Lalu ada orang yang datang kepada Petrus dan mencari Petrus untuk membawa dia ke rumah Kornelius. Dan Tuhan berkata kepada Petrus, “Silakan kamu ikuti orang tersebut pergi ke rumah Kornelius.” Sesampai di rumah Kornelius, Petrus bilang, “Kamu tahu tidak Kornelius, kalau seharusnya orang Yahudi tidak boleh masuk ke rumah orang orang non Yahudi tetapi karena Tuhan yang menyuruh aku datang kesini dan aku hadir di rumah ini sekarang, kamu mau apa?” Lalu Kornelius bilang, “Aku juga mendapatkan penglihatan yang sama dari Tuhan suruh memanggil Petrus untuk berbicara disini.” Lalu Petrus mulai menceritakan mengenai Injil Kristus, lalu dari situ ketika dia berbicara mengenai injil Kristus dikatakan kemudian Roh Kudus turun dan hinggap kepada Kornelius. Kalau hal ini mungkin tidak terlalu sulit ya karena dia adalah bukan orang yang tidak percaya, dan dia percaya, pada waktu dia percaya Roh Kudus turun kepada diri dia. Saudara boleh baca Kisah Para Rasul ayat yang ke-44, “Ketika Petrus sedang berkata demikian turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus tercengang-cengang karena melihat bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang orang itu berkata dalam bahasa Roh dan memuliakan Allah.” Lalu kata Petrus, “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka. Jadi Saudara, kalau kita melihat dua peristiwa ini, satu orang Samaria, satu orang yang merupakan keluarga dari Kornelius, mungkin kita mundur sedikit kepada orang Samaria ya. Siapa orang Samaria? Orang Samaria adalah orang Yahudi yang kawin campur. Apakah mereka sudah mengenal Kristus terlebih dahulu? Mereka mengenal pada waktu kapan? Pada waktu Filipus memberitakan injil kepada mereka. Tapi pada waktu Filipus memberitakan injil kepada mereka dikatakan mereka belum menerima Roh Kudus. Sampai kapan? Sampai beberapa hari waktu kemudian Roh Kudus baru turun. Kalau peristiwa di dalam Kornelius adalah peristiwa dimana ada injil diberitakan, Roh Kudus langsung turun kepada mereka.

Pertanyaannya adalah sekarang kalau pada orang Samaria peristiwa dari pada pencurahan Roh Kudus itu terjadi atau baptisan Roh Kudus itu terjadi pasca mereka percaya, bagaimana kita menjelaskan peristiwa ini dikaitkan dengan 1 korintus 12:13? Apakah itu adalah suatu peristiwa yang mungkin bagi orang-orang tertentu bisa seperti itu tapi bagi orang-orang lain itu adalah suatu peristiwa yang  terjadi seketika dalam waktu yang bersamaan? Saya percaya jawabannya adalah karena pada waktu Filipus pergi kepada Samaria maka yang pergi itu bukan rasul tetapi seorang yang percaya kepada Kristus, seorang majelis yang pergi kepada Samaria untuk memberitakan injil. Dan untuk Roh Kudus itu bisa diberikan dan membaptis orang-orang tersebut harus ada saksi mata yang dari rasul sendiri untuk menyaksikan Roh Kudus itu turun kepada mereka. Kenapa bisa begitu? Sebabnya adalah karena orang Samaria, yang tadi saya katakan, mereka adalah kelompok orang Yahudi yang kawin campur sehingga di dalam pemikiran orang Yahudi sendiri orang-orang Yahudi yang kawin campur itu adalah orang Yahudi yang sebenarnya adalah orang yang levelnya adalah level di bawah orang Yahudi. Dan ketika orang berbicara mengenai orang non-Yahudi, levelnya di bawah dari pada orang Samaria lagi, lebih rendah lagi. Sehingga pada waktu Filipus memberitakan injil kepada orang orang Samaria, saat itu Roh Kudus belum dicurahkan. Kalau andaikata Roh Kudus diberikan tanpa ada sesuatu fenomenal supranatural terlebih dahulu dan disaksikan oleh para rasul, apa yang akan terjadi? Saya percaya yang terjadi dalam kehidupan gereja adalah kita akan melihat ada orang Kristen kelas 1 dan orang Kristen kelas 2, dan ada orang Kristen kelas 3. Ada Orang Kristen yang kelas 1, siapa? Orang Yahudi yang Kristen. Orang Kristen kelas 2 siapa? Orang Kristen Samaria. Orang Kristen kelas 3 siapa? Orang Kristen yang bukan Yahudi dan bukan orang Samaria. Itu yang akan terjadi. Makanya kenapa Petrus dan Yohanes harus tiba di Samaria. Kenapa Roh Kudus harus dicurahkan ketika mereka ada disitu dan menjadi saksi mata. Sebabnya itu membuat mereka melihat apa yang terjadi pada orang Samaria itu tidak berbeda dengan apa yang terjadi kepada diri mereka di Hari Pentakosta.

Saudara boleh baca dari Kisah Para Rasul 10 ya mengenai hal ini. Termasuk di dalam peristiwa kepada Kornelius di dalam Kisah Para Rasul pasalnya yang ke-11 setelah peristiwa Kornelius percaya kepada Kristus dan di baptis dengan Roh kudus. Kisah Para Rasul pasal 11 itu Petrus harus mempertanggungjawabkan baptisan Kornelius di Yerusalem. Lalu di dalam pertanggung jawaban itu muncul kalimat seperti ini, kita baca ayat yang ke-12 saja ya, “Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu, dan ia menceriterakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus. Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu. Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?” Jadi tujuan baptisan Roh Kudus pada Kornelius ataupun pada orang Samaria tujuannya untuk apa? Belum dapat? Kalau belum dapat, kita buka 1 Korintus 15. 1 Korintus pasal 15, Sidang di Yerusalem. Inilah sidang dimana rasul-rasul yang ada di Yerusalem bersama-sama dengan orang Kristen yang ada di Yerusalem itu mereka berkumpul dan mereka membahas perkembangan dari pada pemberitaan injil dan kerajaan Allah. Dan mereka sangat bersukacita sekali karena ternyata injil Kristus bukan hanya diberikan kepada orang Yahudi tapi sampai kepada orang orang Samaria dan sampai kepada orang-orang non-Yahudi. Lalu ketika mereka membahas perkembangan dari gereja itu lalu tiba tiba beberapa orang dari golongan Farisi di dalam ayat yang ke-5 itu berkata orang orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa. Lalu akibat dari pada perkataan ini maka di dalam ayat yang ke-6 rasul-rasul kemudian bersidang dengan penatua membicarakan soal itu. Dan setelah beberapa waktu pembicaraan itu berlangsung dan mereka tidak menemukan solusi mungkin terhadap permasalahan itu maka berdirilah Petrus dalam ayatnya yang ke-7 dan berkata kepada mereka, “Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman.” Sekarang, saya tanya, kenapa Roh Kudus harus menunggu Petrus dan Yohanes tiba di Samaria? Kenapa Roh Kudus dicurahkan ketika Petrus berkotbah kepada Kornelius? Tujuannya untuk apa? Supaya orang-orang Yahudi tahu kalau Tuhan tidak pernah mengadakan pembedaan orang Kristen Samaria dengan Yahudi, orang Kristen non-Yahudi dan non-Samaria dengan orang Kristen Yahudi dan orang Kristen Samaria. Tuhan ingin menunjukkan kepada orang-orang Yahudi Kristen kalau orang-orang non-Yahudi pun adalah orang-orang yang setara dengan mereka di hadapan Tuhan, itu tujuan nya. Jadi, pada waktu Roh Kudus itu diberikan dan terjadi suatu peristiwa di mana mereka berbicara bahasa Roh pada hari itu, yang penting adalah bukan perkataan bahasa Roh yang dikatakan, tetapi perkataan bahasa Roh yang dikatakan itu menjadi suatu tanda untuk merujuk pada hari Pentakosta. Dan, pada waktu mereka merujuk pada hari Pentakosta tujuannya untuk apa? Supaya orang-orang Samaria dan orang-orang non-Yahudi, mendapatkan suatu kedudukan yang setara dengan orang Yahudi Kristen.

Saudara paham? Bingung ya? Saya mungkin mundur sedikit. Pada waktu kita melihat pada peristiwa karunia berbicara bahasa Roh, maka mungkin Saudara punya pemahaman seperti ini, atau orang-orang Kristen umumnya punya pemahaman seperti ini, karunia bahasa Roh itu adalah suatu karunia khusus yang Tuhan berikan kepada orang Kristen yang menyertai baptisan Roh Kudus yang dia terima dalam hidup dia sehingga karunia bahasa Roh itu menjadi sesuatu yang penting yang harus dimiliki oleh orang Kristen. Tetapi Saudara, pada waktu kita melihat pada Kisah Para Rasul pasal yang ke-2, pasal yang ke-8 ,dan yang pasal yang ke-10, berbicara bahasa Roh itu, kata-kata yang diucapkan itu bukan unsur yang penting, Saya ngomong bukan unsur yang penting itu bukan berarti bahwa kita tidak perlu tahu apa yang mereka katakan, nanti kita akan bahas itu, tetapi maksud saya adalah, yang penting adalah, pembicaraan di dalam bahasa Roh itu, itu bertujuan untuk membuat orang-orang Yahudi Kristen paham bahwa yang mereka alami sama dengan yang dialami oleh orang [non] Yahudi Kristen. Cuma tujuannya seperti itu, sebagai tanda. Paham ya ini ya? Itu sebabnya pada waktu Petrus kotbah, di dalam Kisah [Para Rasul] pasal 2, kalau Saudara baca setelah peristiwa Pentakosta, Petrus kemudian berkata apa yang terjadi kepada bangsa Israel hari itu, atau murid-murid Kristus pada hari itu ketika mereka berbicara bahasa lain, itu adalah penggenapan dari tanda yang diberitakan oleh Nabi Yoel di dalam Perjanjian Lama. Di dalam Yoel pasal yang ke-2, di situ dikatakan, ketika hari Perjanjian Baru itu tiba, “Maka anak-anak mudamu, teruna-terunamu akan berbicara dalam bahasa lain.” Dan Petrus kemudian ketika melihat peristiwa orang-orang mempertanyakan apa yang sedang terjadi, dia bangkit berdiri dan berkata, “Kamu tahu tidak, inilah yang dikatakan nabi Yoel, mengenai hari di akhir zaman, ketika teruna-terunamu, hamba-hambamu akan berbicara dalam bahasa lain, ini yang terjadi pada murid-murid itu di hari Pentakosta.” Jadi, baik itu orang-orang Kristen Yahudi, orang orang Kristen non-Yahudi, ataupun orang-orang Samaria yang percaya kepada Kristus, mereka menjadi satu tanda bahwa Roh Kudus itu sudah dicurahkan, sekarang masuk ke dalam zaman baru, dan ketika Roh Kudus itu diberikan, Roh Kudus itu bukan hanya diberikan kepada orang Yahudi, tetapi Roh Kudus juga diberikan kepada orang Samaria, dan Roh Kudus itu juga diberikan kepada orang bukan Yahudi. Artinya apa? Artinya adalah, ketika hari Pentakosta terjadi, maka Roh Kudus sudah dicurahkan kepada semua bangsa, tanpa perlu mengulangi peristiwa hari Pentakosta. Atau, ketika orang menjadi percaya kepada Kristus, apapun bangsa dia, suku dia, mereka akan langsung menerima Roh Kudus, persis pada hari mereka percaya tanpa perlu menantikan lagi beberapa hari atau beberapa puluh hari setelah mereka percaya kepada Kristus baru Roh Kudus membaptis diri mereka. Itu yang kita bisa terima di dalam bagian ini ya, karena peristiwa diberikannya Roh Kudus, baptisan Roh Kudus, dan peristiwa berbicara bahasa Roh, itu adalah suatu rujukan kesetaraan dengan hari Pentakosta, pasal 2, dari Kisah Para Rasul.

Dan sekarang saya akan lanjutkan ke dalam ayat berikutnya. Pada waktu mereka menerima baptisan Roh Kudus dan mereka berbicara di dalam bahasa Roh, maka kita perlu membedakan 2 peristiwa ini. Baptisan Roh Kudus, itu adalah Roh Kudus diberikan kepada diri kita dan tinggal di dalam diri kita. Itu yang membuat diri kita disebut dengan Gereja, dan kita bisa berdiri di hadapan Allah di dalam Kerajaan Allah. itu adalah peristiwa baptisan Roh Kudus. Karena, tadi dalam Roma 8 ayat 9 dikatakan, “Orang yang tidak memiliki Roh Kristus, atau Roh Kudus, mereka bukan bagian di dalam Kerajaan Tuhan, atau bukan menjadi milik Kristus. Sehingga setiap orang yang memiliki Roh Kudus, dia akan menjadi milik, itu tanda dia adalah milik Allah.” Tapi ketika berbicara mengenai berbicara bahasa Roh, maka berbicara bahasa Roh itu harus kita lihat sebagai suatu peristiwa yang berbeda dengan peristiwa baptisan, tetapi ini adalah peristiwa yang merupakan pekerjaan Roh Kudus di dalam memenuhi orang dengan Roh. Atau, dia adalah dipenuhi oleh Roh Kudus maka akibat dia dipenuhi oleh Roh Kudus maka dia akan memanifestasikan satu peristiwa supranatural itu, berbicara bahasa Roh dalam hidup dia. Dan kalau Saudara perhatikan, apakah semua orang perlu berbicara bahasa Roh seketika dia dipenuhi oleh Roh Kudus? Maka jawaban nya adalah tidak. Sekali lagi saya ngomong ya, kita sering kali mendengar kalau orang-orang Kristen yang menerima baptisan Roh Kudus, mereka harus berbicara di dalam bahasa Roh sebagai bukti bahwa dia diterima dan dibaptis oleh Roh Kudus. Alkitab bilang, peristiwa baptisan Roh Kudus dengan berbicara bahasa Roh, itu adalah 2 peristiwa yang berbeda. Engkau memiliki Roh Kudus atau tidak, bukan ditandai dengan engkau berbicara bahasa Roh atau bukan, tetapi ditandai dengan engkau percaya pada Kristus atau tidak, dan mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dalam hidup mu atau bukan. Tapi setelah engkau percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, apakah engkau langsung harus berbicara dalam bahasa Roh? Jawabannya juga adalah tidak. Karena apa? Karena berbicara dalam bahasa Roh itu adalah karunia dari Roh Kudus berdasarkan kedaulatan Roh Kudus, pimpinan Roh Kudus, bukan karena keinginan seseorang untuk memiliki karunia Roh Kudus. Saudara boleh membaca ayat yang ke-4, di situ dikatakan, “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” Jadi berkata bahasa lain itu adalah karena Roh Kudus yang memberikan itu, bukan karena mereka meminta, tapi karena mereka dipenuhi oleh Roh Kudus, dan Roh Kudus memimpin mereka berbicara dalam bahasa lain. Itu yang terjadi.

Kalau saya mundur sedikit, saya ngomong kayak gini, dipenuhi Roh Kudus itu maksudnya apa ya? Dipenuhi Roh Kudus sebenarnya itu adalah pengertian kita betul-betul dikuasai dan dipimpin, atau dikontrol oleh Roh Kudus dalam hidup kita. Itu maksudnya dipenuhi oleh Roh Kudus. Seperti seseorang yang misalnya berkata dia dipenuhi oleh kemarahan, maksud dipenuhi oleh kemarahan adalah tidak ada lagi emosi yang lain, perasaan kasih, kesabaran, dan yang lainnya, dia betul-betul dikuasai oleh kemarahan dalam hidup dia dan dia lampiaskan itu dalam kehidupan dia. Begitu juga dengan peristiwa dipenuhi oleh Roh Kudus, dalam pengertian Kitab Suci adalah ketika orang dipenuhi oleh Roh Kudus maka hidup dia bukan milik dia lagi, bukan keinginan dia yang dipenuhi, bukan apa yang menjadi rencana dia yang dia kerjakan, tetapi dia sungguh-sungguh dipimpin oleh Roh Kudus dan melakukan apa yang menjadi kehendak Roh Kudus dalam kehidupan dia. Kalau Saudara baca Efesus pasal 5 ayat 18 mengenai “kamu harus dipenuhi oleh Roh Kudus,” yang paralelnya adalah Kolose pasal 3 ayat 16, maka Saudara akan menemukan paralel Kolose 3 ayat 16 berbicara, orang yang dipenuhi Roh Kudus itu adalah orang yang mentaati Firman Tuhan dalam kehidupan dia, atau Firman Tuhan berkuasa atas kehidupan dia. Maka itu sama dengan dia adalah orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Dan manifestasinya apa seseorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus ? Apakah harus berbicara dalam bahasa Roh ? Jawabannya tidak, karena itu adalah berdasar apa yang Roh Kudus akan berikan kepada orang itu. Dan kita bisa lihat ini dalam 1 Korintus pasal 12, Saudara akan menemukan Roh Kudus memberikan karunia kepada masing-masing orang seturut dengan kedaulatan Roh Kudus, bukan berdasarkan apa yang dikehendaki oleh orang tersebut. Dan yang menariknya lagi adalah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau Saudara baca Efesus pasal 5 ayat 18 dan seterusnya, maka Paulus memberikan ciri-ciri orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Dan ciri-ciri itu tidak satupun berbicara orang itu berbicara dalam Bahasa Roh. Saudara boleh buka ya, ini khotbah kita yang kita belum, teruskan. Efesus pasal 5 ayat 18 dikatakan, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Lalu ketika seseorang penuh dengan Roh, apa yang akan terjadi ? Dia akan berkata kepada yang lain dalam mazmur, kidung pujian, nyanyian rohani, bersorak sorai bagi Tuhan dengan segenap hati, ucapan syukur senantiasa dalam segala sesuatu, merendahkan diri seorang kepada yang lain. Lalu ayat 22, “Suami mengasihi istri, istri taat kepada suami.” Pasal yang ke 6, “Anak-anak taat kepada orang tua, orang tua tidak membangkitkan kemarahan dalam diri anak, lalu hamba taat kepada tuannya, tuan mengasihi hambanya.” Itu adalah ciri siapa? Ciri orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus.

Jadi Saudara, ini adalah hal yang sangat menarik sekali ya. Kalau Saudara bandingkan dengan orang-orang yang mengklaim kehidupan mereka yang dipenuhi oleh Roh Kudus dengan disertai dengan bicara bahasa Roh, coba perhatikan kehidupan mereka, Saudara akan menemukan orang yang mengklaim diri mereka punya Roh Kudus dengan manifestasi bicara Bahasa Roh, pertanyaannya adalah: ada tidak, kasih dari suami kepada istri dengan begitu setia? Ada tidak, ketaatan dari istri kepada suami punya otoritas? Anak, ada tidak, hormat dari anak-anak kepada orang tua? Ada tidak, kasih orang tua yang begitu mengasihi anak dengan tidak membuat anak menjadi emosi, atau ada kemarahan dalam diri anak? Ada tidak, kesetiaan dari seorang pegawai kepada tuannya, bekerja dengan jujur dan dengan setia? Dan ada tidak, kasih dari pada tuannya kepada pegawai mereka? Alkitab bilang, orang yang dipenuhi Roh Kudus harus menyatakan satu kehidupan yang dipimpin oleh Roh dengan hal-hal yang menjadi ciri yang dikatakan dalam Efesus pasal 5 dan seterusnya. Ada kerendahan hati, ada sikap melayani satu dengan yang lain, ada sikap kasih, ada sikap ketaatan, tunduk pada otoritas, dan yang lainnya. Jadi Saudara, saya percaya kita harus melihat pada esensi dari seorang yang dipenuhi oleh Roh Kudus, jangan hanya lihat dari sesuatu yang bersifat superficial, di luar, sepertinya seorang itu dipenuhi oleh Roh Kudus dengan manifestasi supranatural yang terjadi dalam kehidupan dia; tapi dia boleh sungguh-sungguh mengerti bahwa dipenuhi oleh Roh Kudus itu pengertiannya jauh lebih mendalam daripada hal yang bersifat superficial, yang di luar, yang dinyatakan melalui hal-hal supranatural. Dan ini adalah suatu kehidupan yang bisa dikatakan kehidupan yang sehari-hari kita alami di dalam kehidupan kita, tetapi dibalik peristiwa alami yang sehari-hari kita lakukan kita betul-betul melakukan itu berdasarkan pimpinan Roh Kudus, dan kuasa Roh Kudus dalam kehidupan kita, itu namanya dipenuhi oleh Roh Kudus. Jadi itu sebabnya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya berkata dipenuhi Roh Kudus tidak harus berbicara di dalam bahasa lidah.

Selain dari pada itu, sebenarnya berbicara di dalam bahasa lain, di dalam Kitab Kisah [Para] Rasul itu sepenuhnya berarti berbicara dalam bahasa, bukan berbicara di dalam suatu gumaman atau berkata-kata yang tidak dimengerti, tetapi sungguh-sungguh adalah bahasa manusia. Dimana dikatakan? Saudara boleh baca misalnya di dalam ayat 4, ayat yang ke-6, lalu ayat yang ke-8. Di dalam LAI itu diterjemahkan dalam kata “bahasa,” di dalam ayat 4, “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain”; lalu ayat yang ke-6, “Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri”; lalu ayat yang ke-8, “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri,” LAI terjemahkan dalam kata “bahasa” tetapi dalam bahasa Yunaninya ini sebenarnya punya 2 kata yang digunakan, pertama adalah dialektos, yang kedua adalah glossa. Dialektos itu ada di ayat 4 dan 6, sama-sama diterjemahkan oleh LAI menjadi “bahasa.” Glossa itu adalah ayat yang ke-8, “bahasa.” Dialek dan glossa artinya apa? Ya bahasa. Ketika seseorang berbicara ada dialeknya keluar, dialeknya apa, orang Jawa-kah, orang Galilea-kah? Betul-betul ada logat ya, intonasi, gaya bicaranya seperti apa, itu dialek.

Glossa itu adalah bahasa, bahasa manusia. Makanya kalau Saudara baca di dalam ayat 8, di situ dikatakan, “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam glossa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita, kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Jadi pada waktu mereka mendengar orang-orang yang dari berbagai daerah itu datang ke Yerusalem, siapa mereka? Dikatakan mereka adalah orang Yahudi yang takut akan Allah, mereka adalah orang-orang yang percaya kepada agama Yahudi, atau penganut agama Yahudi, yang disebut juga orang proselyte, ketika mereka datang ke Yerusalem untuk beribadah kepada Allah, memperingati dari Hari Paskah sampai Hari Pentakosta, mereka mendengar para rasul ini, 120 orang ini berbicara berbagai bahasa mereka sendiri, dengan logat mereka sendiri. Jadi mereka bukan berbicara bahasa malaikat tetapi mereka berbicara bahasa manusia yang ditujukan kepada manusia untuk mereka bisa mengerti apa yang mereka katakan, dan mereka sungguh mengerti apa yang mereka katakan karena di situ dikatakan mereka berbicara memuliakan Allah atau berbicara mengenai kebesaran Allah yang Allah kerjakan, dan mereka paham itu semua. Jadi Saudara, pada waktu berbicara mengenai bahasa Roh, saya nggak tahu kenapa LAI menterjemahkan menjadi “bahasa Roh,” kemungkinan adalah bahasa yang dikaruniakan oleh Roh, maka jangan kira itu adalah bahasa lain, bahasa yang merupakan kosa kata yang diulang-ulang, bahasa yang tidak punya makna sehingga kita tidak bisa membedakan seperti yang Paulus katakan di dalam 1 Korintus 14 mana suara seruling, mana suara terompet, mana suara-suara yang lain, tapi kalau itu adalah bahasa maka kita bisa mengerti, ada perbedaannya, ada artinya di dalam perkataan yang diucapkan karena memang sungguh-sungguh bahasa Roh adalah bahasa, glossa. Jadi sekali lagi, pada waktu para Rasul berbicara bahasa lain, itu adalah karunia Roh Kudus berdasarkan kedaulatan Roh Kudus. Dan ketika mereka berbicara, mereka bukan berbicara bahasa lain, yaitu bahsa malaikat, tetapi mereka berbicara bahasa manusia yang berbeda dengan bahasa yang biasa mereka katakan. Itu yang dikatakan oleh Kitab Suci.

Dan pada waktu mereka berbicara, kadang-kadang mereka berkata, ketika Roh Kudus berbicara atau memenuhi diri kita dengan  bahasa Roh, maka itu boleh membuat kebaktian dihentikan dan khotbah tidak lagi menjadi unsur yang penting dalam sebuah ibadah. Tapi Saudara, kalau Saudara perhatikan dalam peristiwa itu ada hal yang menarik. Pada waktu murid-murid berbicara bahasa orang-orang lain tersebut, apa yang mereka bicarakan? Dikatakan adalah perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Lalu di dalam pasal yang 2:14 dan seterusnya, baru ada khotbah tentang injil dari Petrus. Maksudnya apa? Saudara, waktu berbicara mengenai bahasa lain tersebut, maka murid-murid itu sebenarnya bukan sedang, ada penafsir yang ngomong, murid-murid itu bukan sedang  berbicara tentang injil Kristus tetapi mereka sedang berbicara mengenai kebesaran perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah dalam konteks Perjanjian Lama. Jadi kalau Saudara baca Perjanjian Lama, Saudara akan menemukan kisahnya dalam Kitab Keluaran. Pada waktu Musa membawa orang Israel keluar dari Mesir lalu menyeberangi Laut Merah, lalu setelah mereka menyeberangi laut Merah lalu Firaun dan prajurit-prajurit mengejar di belakang  ditimpa oleh air yang menutupi mereka dari Laut Merah itu, dikatakan setelah mereka melewati peristiwa itu Musa memimpin orang Israel untuk memuji  kebesaran Tuhan dan perbuatan Allah yang ajaib. Jadi pada waktu orang-orang Yahudi ini, 120 murid ini kemudian berbicara bahasa lain, apa yang mereka katakan? Mungkin mereka sedang memuji pekerjaan penciptaan Tuhan yang dilakukan oleh Allah, mungkin mereka sedang memuji di mana Israel dilepaskan dari perbudakan di Mesir dari kerajaan dari Firaun tersebut. Mungkin mereka sedang berbicara mengenai hal-hal besar yang sedang dilakukan oleh Allah di dalam zaman Hakim-hakim dan zaman-zaman  yang lain. Mungkin mereka seperti Stefanus yang ketika berdiri di depan Mahkamah Agama dan ketika dia berdiri dia berbicara sesuatu mengenai peristiwa dari pembebasan Allah dari orang Mesir sampai di zaman Musa dan seterusnya, itu mungkin yang dibicarakan oleh mereka. Jadi pada waktu mereka berbicara mengenai kebesaran Allah, itu adalah salah satu kebesaran Allah dalam konteks budaya orang Yahudi atau berdasarkan kitab Perjanjian Lama. Jawabannya untuk apa? Jawabannya adalah untuk menjadi jembatan bagi Petrus untuk memulai khotbah penginjilan di dalam ayat 14 dan seterusnya.

Jadi Saudara, signifikansi berbicara bahasa Roh, sekali lagi, itu  tidak lagi menjadi hal yang utama di dalam gereja. Kalau Saudara bandingkan dalam 1 Korintus 12 justru itu adalah karunia yang paling rendah di dalam semua yang karunia Roh Kudus berikan di dalam jemaat. Signifikansi dalam pelayanan yang Roh Kudus berikan adalah pemberitaan injil Kristus, itu yang lebih utama. Saudara jangan menginjili orang dengan berbicara bahasa lidah, orang nggak akan percaya. Yang akan terjadi adalah yang dikatakan dalam 1 Korintus pasal yang 14, yaitu orang-orang tersebut akan berkata, “Engkau gila.” Dan Paulus sendiri akan berkata, “Engkau gila ketika engkau bicara seperti itu.” Tapi yang perlu kita sampaikan adalah pengertian tentang injil karya penebusan Kristus atau  pekerjaan Allah melalui Kristus bagi manusia berdosa secara clear di dalam bahasa yang dimengerti oleh manusia. Yang lain daripada hal ini, mungkin Saudara bisa mengerti dalam perspektif seperti ini ya. Saudara tahu para misionaris yang pergi ke suku-suku yang lain, ketika mereka pergi, mereka pergi punya karunia berbicara bahasa Roh tidak? Nggak kan. Jawabannya mereka harus bagaimana?  Belajar. Belajar berapa lama? Ada yang bulanan, ada yang tahunan untuk menguasai bahasa suku tersebut. Di antara kita ada Sarah, di sini belajar bahasa Indonesia. Untuk apa? Saya dengar untuk pelayanan ya? Persiapkan diri ya. Kenapa Sarah tidak meminta bahasa Roh, glossa? Kan jauh lebih efektif, nggak usah susah-susah. Kita juga ada dua orang lagi, Bapak Ian dan Istrinya, hari ini tidak hadir ya. Mereka pergi ke daerah di NTT itu daerah apa ya? Daerah Soei. Mereka jadi relawan ke daerah Soei dari Australia untuk melayani di sana, lalu untuk bisa menyaksikan Kristus. Lalu untuk pergi kesana mereka harus bisa bahasa Indonesia di Yogyakarta. Kenapa mereka harus belajar? Bukankah itu adalah sesuatu yang tidak efektif? Memang karunia berbicara bahasa Roh itu ada, sampai hari ini ada mungkin, dan itu masih diberikan kepada Tuhan di dalam gereja, dan itu bukan berarti kita cukup meminta karunia berbicara bahasa lain saja. Yang terjadi  realita adalah ketika orang-orang mau melayani ke daerah-daerah tertentu mereka harus belajar berbulan-bulan dan bertahun-tahun untuk bicara berbahasa lain. Dan ketika mereka  mau menerjemahkan bahasa dalam Kitab Suci, mereka harus belajar bertahun-tahun baru bisa menerjemahkan Kitab Suci.

Jadi Saudara, saya harap Saudara bisa mengerti, ketika Tuhan menyatakan peristiwa Pentakosta ini terjadi dalam peristiwa transisi, orang-orang Kristen Yahudi paham bahwa orang-orang Kristen Samaria setara dengan mereka. Itu tujuannya. Dan sebenarnya ada satu peristiwa lagi yaitu di dalam Kisah pasal 19. Tadi saya bilang. Ternyata Tuhan kita, adalah Tuhan yang tidak pernah melewatkan kehidupan dari umat percaya yang ada di dalam Perjanjian Lama. Ketika Saudara perhatikan Kisah [Para] Rasul, ketika Apolos tiba di Korintus, Paulus sudah pergi ke dalam pedalaman Efesus. Dan pada waktu itu mereka menemukan di sana ada orang-orang percaya, ada 12 orang Yahudi yang percaya. Dan pada waktu Paulus bertanya, “Kamu sudah dibaptis belum?” Mereka bilang, “Belum.”  “Dan kamu dibaptis dalam baptisan apa?” Dan mereka berkata, “Kami dibaptis dengan baptisan Yohanes Pembaptis.” Lalu di situ kemudian Paulus berkata, “Baptisan Yohanes pembaptis adalah baptisan pertobatan, tanda pertobatan. Engkau tidak cukup hanya dibaptis dengan itu karena Yohanes Pembaptis memberitakan mengenai Kristus yang adakan datang setelah dirinya. Kamu harus dibaptis atas nama Yesus Kristus.” Dan saya percaya, Paulus sebelum membaptis mereka, Paulus mengajarkan tentang Kristus, apa yang dikerjakan oleh Kristus dari Perjanjian Lama, nubuat yang digenapi dalam diri Kristus. Lalu setelah semua itu diajarkan, di situ dikatakan Paulus menumpangkan tangan atas orang-orang Yahudi yang menjadi pengikut Yohanes Pembaptis dan mereka berbicara dalam bahasa lain. Jadi maksudnya adalah apa? Allah kita adalah Allah yang tidak pernah melewatkan siapa yang menjadi pengikut Dia, umat-Nya.  Saudara nggak perlu kuatir, Saudara yang hidup zaman sekarang, dengan orang-orang yang hidup ketika  Kristus datang kedua kali ataupun orang-orang yang percaya sebelum Saudara yang sudah meninggal, Saudara harus percaya bahwa Kristus pasti akan mengingat mereka dan tidak akan melupakan mereka. Di dalam 1 Tesalonika dikatakan pada waktu Kristus datang kedua kali, apa yang Dia lakukan? Yang Dia lakukan adalah Dia membangkitkan mereka yang sudah mati terlebih dahulu, baru kita yang percaya kepada Tuhan, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu mengingat siapa yang adalah milik Dia dan tidak pernah melupakan sama sekali. Itu yang terjadi di dalam peristiwa Pentakosta ini. Bukan hanya orang Yahudi, bukan hanya orang Samaria, bukan hanya orang non-Yahudi, tetapi bahkan orang Yahudi yang percaya dengan iman Perjanjian Lama pun Tuhan selamatkan di dalam Kristus, dengan tanda apa? Mereka juga turut menerima Roh Kudus dan berbicara dalam bahasa Roh.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya harap kita memiliki pengertian yang benar mengenai Kitab Suci dan peristiwa hari Pentakosta. Dan pada waktu Tuhan bekerja, saya ingatkan satu hal, selalu akan ada 2 respon. Saya setiap kali berbicara mengenai hal ini, melihat hal ini, saya cukup dikuatkan ya. Setiap kali kita memberitakan injil atau Tuhan bekerja selalu ada 2 respon: pertama, orang yang membuka hati untuk mau menyelidiki apakah maksud dari peristiwa Pentakosta, apakah maksud dari injil yang diberitakan; tetapi orang yang kedua adalah orang yang akan mencemooh. Orang yang pertama adalah orang yang ingin menyelidiki, mencari tahu, menundukkan diri di bawah kebenaran melalui pertobatan yang terjadi, 3000 orang, setelah peristiwa Pentakosta dan Petrus berkhotbah; atau orang yang kemudian mulai menganiaya murid-murid. Kalau Bapak-Ibu baca setelah peristiwa di pasal yang ke-2, Bapak-Ibu akan melihat ada sekelompok orang yang tetap tidak percaya, mereka berkata, “Orang-orang ini adalah orang-orang yang mabuk oleh anggur manis,” lalu apa yang mereka lakukan? Mereka menangkap para rasul, mereka menganiaya para rasul, sampai akhirnya mereka membunuh para rasul, itu yang terjadi. Jadi dalam pelayanan kita, sebuah pelayanan itu disertai oleh Tuhan atau tidak saya percaya juga salah satu halnya adalah ada orang-orang yang menentang pelayanan yang kita kerjakan, disamping ada orang-orang yang percaya kepada Kristus melalui pelayanan kita. Ini membuat kita harus mengerti satu hal: yang membuat seseorang itu bisa datang dan percaya kepada Kristus bukan didasarkan kemampuan berbicara kita tetapi karena anugerah dari Allah di dalam Kristus melalui peristiwa kelahiran baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Sekali lagi ya, di dalam kita belajar mengenai penginjilan, kadang-kadang kita diajarkan cara-cara menginjili orang secara benar itu seperti apa, secara baik supaya tidak ditolak oleh orang, tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita melihat peristiwa ini, setiap penginjilan terbaikpun pasti ditolak oleh orang, pasti ada penolakan. Dan kenapa mereka menolak? Bukan karena kita salah, bukan karena gagal, bukan karena kita ceroboh, atau bukan karena kita kurang bijaksana dalam berbicara tetapi karena mereka tidak mendapatkan karunia dari Allah untuk membuka hati mereka mengerti kebenaran.

Kalau melihat peristiwa ini Saudara, coba kita lihat ya, mereka kurang apa yang membuat mereka berkata bahwa mereka mabuk oleh anggur? Mereka kurang apa? Kalau mereka mau melihat fakta, mereka dapat melihat di hadapan mata mereka sendiri ada fakta dimana orang-orang dihinggapi oleh Roh Kudus. Pada waktu mereka ingin melihat fakta, mereka melihat ada suara yang begitu menggelegar atau suara yang begitu kencang seperti angin tapi nggak ada angin sama sekali. Dan pada waktu mereka ingin melihat fakta, mereka melihat ada orang-orang Galilea, murid-murid Kristus yang dikatakan sebagai orang-orang yang rendah, orang-orang yang tidak terpelajar, orang-orang yang mungkin secara berbicara bahasapun mereka tidak sempurna dan kurang di dalam berbicara, justru bisa berbicara bahasa lain dalam kehidupan mereka yang dimengerti oleh orang-orang yang datang ke Yerusalem. Dan pada waktu mereka mendengar itu, orang-orang ini sedang berbicara tentang suatu pekerjaan Allah yang luar biasa. Tetapi apa yang terjadi? Pada waktu mereka mendengar itu semua, mereka melihat fakta mengenai pekerjaan Tuhan yang luar biasa, mereka tetap tidak percaya. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkinkah karena kurang pintar berbicara, mungkinkah karena kita tidak fasih berdialog, mungkinkah karena kita kurang bijak dalam menyampaikan? Satu sisi mungkin ada, bagi saya tetap yang dibalik itu ada pengertian lebih mendalam bahwa orang bisa datang kepada Kristus dan percaya kepada injil kalau dia mendapatkan karunia dari Tuhan Allah dalam kehidupan dia. Maka itu berbicara tentang keselamatan itu adalah karunia Tuhan 100% bukan karena perbuatan kita atau sesuatu yang kita usahakan dalam kehidupan kita, tetapi itu adalah pemberian Allah dalam kehidupan kita. Amin? Saya harap ini menjadi suatu kebenaran yang kita pegang baik-baik.

Melalui peristiwa Pentakosta kita kembali dicelikkan oleh Tuhan mengenai apa makna dari Pentakosta. Saudara kalau sudah percaya kepada Kristus Saudara pasti memiliki Roh Kudus, tetapi yang jadi pertanyaan adalah Saudara dipenuhi Roh Kudus atau tidak? Itu yang harusnya kita gumulkan dalam hidup kita. Dan siapa orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus? Mereka adalah orang yang dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus, atau orang yang menyerahkan diri dia untuk dipimpin oleh Roh Kudus. Itu berarti ketika seseorang hidup sebagai orang Kristen maka kehidupan dipenuhi oleh Roh Kudus itu adalah suatu kehidupan yang tidak terus menerus terjadi dalam hidup kita, tapi Roh Kudus tetap akan tinggal dalam kehidupan Saudara dan tidak akan meninggalkan Saudara. Tapi kehidupan yang menundukkan diri di bawah pimpinan Roh Kudus dan dipimpin oleh Roh Kudus itu tidak selalu ada di dalam kehidupan orang Kristen. Seperti peristiwa ini, bicara bahasa lain, apakah selalu terjadi? Alkitab mencatat tidak seperti itu, mereka hanya menerima di momen itu, sehabis itu tidak lagi mereka miliki dalam kehidupan mereka. Jadi penting tidak untuk hidup dipenuhi Roh Kudus? Saya percaya itu penting. Perlu tidak memiliki kepastian untuk hidup ketika saya percaya kepada Kristus Roh Kudus memenuhi hidup saya untuk saya terus dipenuhi sampai hari depan? Saya pikir Alkitab tidak perlu janji kita akan dipenuhi sampai hari depan, tetapi Alkitab cukup berkata kita perlu dipenuhi oleh Roh Kudus saat ini, itu yang penting. Dan ini adalah hal yang harusnya kita miliki dan kita usahakan untuk miliki dalam kehidupan kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hari depan kita di dalam Kristus sudah pasti, kita pasti ada di kekekalan bersama Kristus, tetapi yang penting adalah ketika Saudara hidup di dalam masa sekarang, waktu sekarang, dimana yang Saudara bisa menguasai hidup Saudara sekarang ini, Saudara mau dipimpin oleh siapa, oleh Roh Kudus kah atau oleh keinginan Saudara sendiri? Saya harap peristiwa Pentakosta boleh membawa kita untuk merenungkan kita perlu dipenuhi oleh Roh Kudus dalam hidup kita, kita perlu dipimpin oleh Roh Kudus, dikuasai oleh Roh Kudus sehingga segala berkat Tuhan, segala manifestasi dari kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus itu boleh termanifestasi dalam kehidupan kita sebagai orang yang percaya di dalam Kristus. Silakan baca Efesus pasal 5 dan seterusnya mengenai ciri-ciri itu ya. Mari kita masuk dalam doa.

Kembali kami bersyukur Bapa untuk firman yang boleh diberitakan. Kami bersyukur untuk kebenaran mengenai hari Pentakosta yang boleh Tuhan nyatakan. Dan kami bersyukur ya Bapa untuk suatu kehidupan yang telah dikaruniakan Roh Kudus, dan kami juga berdoa mohon kiranya kehidupan yang dikaruniakan oleh Roh Kudus tersebut boleh dinyatakan dengan suatu kehidupan yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Mohon pimpinanMu ya Bapa, dan penyertaanMu. Dan sungguh-sungguh Engkau boleh berikan hari ini sebagai suatu hari dimana kami boleh diingatkan kembali, merenungkan kembali pentingnya suatu kehidupan yang sungguh taat kepada apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kami sungguh bersyukur kami sekarang adalah milik Kristus dan kami tidak perlu meragukan bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus dan menyebut Kristus dengan Tuhan dan percaya dalam hati Dia adalah Tuhan dan Juruselamat, bahwa kami adalah orang-orang yang telah memiliki Roh Kudus dalam kehidupan kami. Kami berdoa dan bersyukur hanya dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *