Memuliakan Tuhan, 18 Juni 2017

Ibr. 13:21

Pdt. Dr. Stephen Tong (VCD)

Kita telah membicarakan tentang berkat yang terakhir dari buku Ibrani. Saudara-saudara, semua rasul setelah mereka menulis surat umumnya mereka menyelesaikan surat itu dengan memberikan berkat kepada yang menerima surat. Sebagaimana kebaktian-kebaktian sudah menjadi tradisi, kebaktian selesai dengan ucapan selamat atau dengan berkat dari pada hamba Tuhan di dalam kebaktian-kebaktian. Demikian di sini kita melihat, ucapan berkat yang keluar dari pada tangan penulis Ibrani begitu berbeda dengan semua tulisan dalam buku-buku yang lain. Dan Saudara-saudara, disini dia mengatakan dikonsentrasikan berkat Tuhan melalui Yesus Kristus. Saudara-saudara, karena Kristus yang sudah mencurahkan darah perjanjian yang kekal, yang sudah mengalami kematian dan bangkit maka Dia dijadikan Gembala yang Agung bagi seluruh umat yang dipanggil, yang ditebus, yang dijadikan kaum yang dimiliki oleh Tuhan Allah sendiri. “Dan biarlah Yesus Kristus memberikan kekuatan kepada kamu dengan melengkapi engkau di dalam segala perkara yang berbuat baik, melengkapi engkau dengan kebajikan,” ini pertama. Lalu kedua, “sehingga engkau bisa melakukan kehendak Allah.” Saya sudah berkata kepada Saudara, banyak orang kira saya sendiri bisa berbuat baik, saya sendiri bisa menjalankan kehendak Allah. Itu tidak mungkin. Karena di dalam Kekristenan, kebajikan belum pernah adalah antroposentris. Kebajikan belum pernah bersumber pada yang dicipta, kebajikan hanya bersumber pada yang mencipta, Tuhan Allah satu-satunya sumber dan esensi kebajikan itu sendiri.

Bukan saja demikian, setelah kita dilengkapi dengan kebajikan oleh Tuhan, baru kita mengerti bagaimana menjalankan kehendak Tuhan. Saudara-saudara, mengetahui isi hati Tuhan, inilah satu hak istimewa karena manusia yang berada di bumi yang dicipta, yang terbatas, yang terjerumus di dalam dosa, yang ternoda oleh pengaruh kejatuhan Adam, kita hanya bisa hidup di dalam kesesakan, di dalam antroposentris, egois sehingga segala sesuatu dipandang dari pada sudut apa yang menjadi keuntunganku. Saudara-saudara, Jonathan Chauw(?) satu kali berkata kepada saya dengan menggelengkan kepala, “Saya tidak sangka seorang Profesor Theologi yang saya kenal sudah 10 tahun, berani mengatakan satu kalimat di dalam rapat dosen: “Seumur hidup ini saya tidak mengerjakan apapun yang tidak menguntungkan diriku sendiri.”” Nah itu cara orang berdagang, cara orang dunia, mengapa bekerja? Mau cari profit. Mengapa bekerja? Mau cari untung. Itu tidak salah tetapi di dalam kerajaan Tuhan tidak boleh keluar mulut seperti ini. Saudara-saudara di dalam melayani Tuhan tidak boleh mempunyai pandangan seperti ini. Segala sesuatu yang saya kerjakan bukan karena ada untung bagiku, bukan karena memberikan profit bagiku, bukan karena ingin sangat memfaedahkan aku maka aku kerjakan. Jikalau orang Kristen mempunyai sikap melakukan segala sesuatu hanya berdasarkan egosentris maka kita belum pernah mengerti isi hati Tuhan. Saudara sekalian, justru kita melakukan segala sesuatu sesuai dengan dorongan dari Tuhan, itu sebab ayat-ayat ini keliatan gampang, tidak ada sulit, tidak perlu cari kamus langsung mengerti, tetapi mengandung unsur-unsur yang begitu Kristiani. Melalui Yesus Kristus, Gembala yang baik, Dia melengkapi engkau dengan segala kebajikan, bukan dari dirimu engkau bisa mengerjakan kebajikan, melalui Kristus melengkapi engkau dengan segala kebajikan, melalui Kristus menjadikan engkau mengerti bagaimana melakukan kehendak Allah.

Saudara-saudara, kita melakukan kehendak Allah karena kita mengetahui terlebih dahulu apa isi hati Tuhan Allah. Mengerti isi seseorang itu tidak gampang. Suami kadang-kadang tidak mengerti apa maksud istri, istri kadang-kadang tidak tahu apa yang dimaui oleh suaminya. Anak-anak sulit mengerti isi hati bapa. Bagaimanakah manusia yang sudah tercemar dalam dosa bisa mengerti isi hati Sang Pencipta, Sang Penebus, Sang Pem-wahyu, kecuali melalui apa yang Dia nyatakan di dalam kebenaran yang diwahyukan kepada manusia. Saudara-saudara, dengan mengerti isi hati Tuhan, maka kita mengetahui bagaimana kita seharusnya melakukan sesuatu, dan mengerti isi hati Tuhan tidak mungkin di luar mengerti Yesus Kristus. Saudara-saudara, itu sebab kunci untuk mengerti Tuhan Allah adalah Kristologi. Mengerti bagaimana Kristus rela menyerahkan diri, rela datang ke dalam dunia, rela berkorban, rela menyangkal diri, rela pikul salib, rela menjalankan kehendak Tuhan, disitu rahasia kita mengetahui isi hati Tuhan. Setelah kita mengetahui isi hati Tuhan, lalu kita mempunyai ketaatan kepada Kristus yang adalah contoh teladan setiap manusia yang menjalankan kehendak Tuhan, baru kita mungkin melakukan kehendak Tuhan. Sekali lagi melalui mengerti Kristus maka kita mengetahui isi hati Tuhan dan melalui ketaatan kepada Kristus baru kita mungkin melakukan kehendak Tuhan. Saudara-saudara, di dalam Ibrani pasal ke-5 dengan jelas dikatakan ketaatan kita ditujukan ke dalam ketaatan Kristus, lalu ketaatan Kristus menjadi sumber ketaatan kita. Kristus yang taat kepada Tuhan menjadi kekuatan menjadi teladan kita taat kepada Tuhan melalui ketaatan Dia. Sebagaimana Adam yang tidak taat kepada Allah dijatuhkan hukuman sebagai orang berdosa yang harus binasa, maka Kristus yang taat kepada Allah menjadi satu contoh, menjadi satu pintu dimana ketaatan kita diterima oleh Tuhan. Melalui ketaatan Adam yang tidak taat, semua kita menjadi manusia yang berontak. Melalui ketaatan Kristus semua kita di dalam Kristus menjadi orang yang diterima. Itu dua wakil manusia, dua wakil umat, di dalam Adam dan di dalam Kristus. Nah Saudara-saudara, melalui Kristus yang taat kita belajar taat, melalui Kristus yang taat, taat kita diterima. Taat kita masuk ke dalam ketaatan Kristus dan ketaatan Kristus yang mewakili ketaatan seluruh umat yang dipilih itu menjadi syarat kita diterima oleh Tuhan, itulah menjadi dasar dari from faith to faith. Kristus mewakili semua orang yang beriman dan taat dan itu menjadi sesuatu kekuatan yang mendorong kita belajar menjadi orang yang beriman dan bertaat; dari iman Kristus mewakili manusia di hadapan Tuhan kepada iman kita yang menjadi manusia yang taat kepada Kristus. Saudara-saudara dengan demikian kita mengerti, melalui Kristus apa artinya isi hati Tuhan. Melalui taat Kristus, melalui contoh Kristus kita mengerti bagaimana taat dan bagaimana menjalankan kehendak Tuhan. Ini adalah kedua.

Ketiga, yang diuraikan pada minggu yang lalu, yaitu kita melakukan sesuatu yang berkenan kepada Dia, bukan berkenan kepada kita. Bedanya orang-orang dalam agama lain yang tidak mengerti isi hati Tuhan adalah kalo mereka percaya adanya Allah, mereka mengharapkan Allah mengerjakan segala sesuatu sesuai apa yang mereka inginkan. Saudara-saudara saya melihat di satu toko di Malaysia itu ada satu tempat dewa yang ditaruh di bawah tanah dan disitu tulis huruf-huruf percaya dan menyembah kepada dewa apa, lalu disitu kasih jeruk, kasih pisang, lalu kasih kemenyan. Lalu saya mulai mikir, apa ini artinya? Berarti dia takut kepada dewa karena dia percaya dewa itu menentukan mati hidup, menentukan untung rugi, menentukan segala sesuatu di dalam usaha dan hidupnya. Maka dia berusaha memberikan makanan berupa buah-buahan, berupa pisang, jeruk dan sebagainya untuk menyenangkan dewanya. Tetapi yang dia inginkan adalah apa? Dewa itu memberikan kekayaan kepada dia. Kalau begini saya pikir, dewa itu bodoh sekali ya, memberikan kekayaan banyak kepada seseorang hanya menerima berapa pisang dan jeruk. Kalau demikian itu suapan yang paling gampang. Kalau engkau mau minta ijin dari jenderal, engkau minta ijin dari gubernur, engkau pakai berapa banyak uang. Manusia yang kecil saja mintanya banyak baru kasih ijin, kok dewa makan pisang bisa kasih kekayaan? Itu suapan, itu perdagangan yang paling gampang. Saudara-saudara, kasih sedikit makanan buah, buahnya itu akhirnya juga tidak dimakan, makan sendiri lagi. Saudara-saudara, jadi dengan cara demikian itu manusia beragama. Beragama apa? Beragama yang rendah, beragama yang menyeleweng, beragama yang melawan kehendak Tuhan Allah. Karena yang dicari bukan Allah yang sejati, tapi dewa di dalam bayang-bayangan. Yang diberi adalah makanan-makanan yang dicipta oleh Allah, lalu menyuap dewa-dewa yang dijadikan pengganti Allah, sesudah itu dari sana dia coba mendapat keuntungan yang lebih besar. Saudara-saudara, “oh god please do something to accomplish my will, oh dewa-dewa silahkan kerjakan sesuatu sesuai kehendakku, memuaskan ambisiku, untuk memenuhi keinginanku, oh dewa saya memberikan kepada engkau kemenyan, memberikan engkau uang, memberikan engkau sedikit sesuatu untuk menyenangkan kamu,” itu agama. Tetapi orang Kristen tidak seharusnya begini. Melalui Kristus, Dia akan menjadikan engkau mungkin mengerjakan hal yang diperkenan oleh-Nya, ini yang ketiga.

Saudara-saudara, jadi bukan di dalam diriku, aku minta Tuhan menyenangkan sesuatu memuaskan keinginanku, tetapi di dalam Kristus mengerjakan seuatu aku bisa mengerjakan melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan-Nya. Ini sama sekali terbalik. Saudara-saudara, kalau engkau tidak mengerti bedanya teologi Reformed, engkau baca Alkitab-pun tidak mengerti apa titik berat yang harus ditekan. Engkau baca untuk membuktikan engkau sudah banyak baca Alkitab, engkau baca untuk bersaing dengan orang lain, engkau lebih kenal kitab, bahkan engkau baca untuk persiapkan khotbah. Saudara-saudara, saya dengar khotbah seseorang, di dalam satu khotbah 120 lebih ayat yang dipakai. Saya kagum, dia sangat hafal ayat-ayat seperti dia mengulangi pengertian yang sudah dimasak matang lalu disajikan kepada orang. Tetapi pada waktu saya dengar di dalam satu jam khotbah itu, saya tidak menemukan pengertian yang sejati dan satu garis yang membawa semua ayat menjadi satu berita yang betul-betul sudah matang, hanya mengatakan, mengutarakan kalau dia seolah-olah dia sudah pintar belajar teologi dan mengerti ayat saja. Saya takut. Setelah dengar khotbah itu saya takut, karena saya takut saya menjadi orang seperti itu. Saudara-saudara, dilihat dari kutipan tidak ada yang salah, dilihat dari fasih, lancar luarbiasa, dilihat dari pada ayat-ayat yang dipakai begitu banyak tersusun dengan baik, tapi di dalamnya tidak ada berita yang menyangkut ayat dan ayat dengan arti  pengertian yang sesungguhnya apa yang dinginkan oleh Tuhan. Nah Saudara-saudara, itu adalah berita di dalam berita, kadang-kadang kita mendengarkan satu khotbah tapi kita tidak menemukan esensi dan center of the message dimana. Apa yang Tuhan mau, apa yang merubah hidup kita, khotbah itu dan kebaktian itu, seolah-olah boleh ada boleh tidak ada.

Saudara-saudara, saya ingin sekali menciptakan existential movement yaitu saat-saat engkau sadar, engkau sedang menghadapi Tuhan Allah, to be exist, to be one self alone before God, ini kalimat dari Søren Aabye Kierkegaard. Jikalau satu kebaktian didalam satu kebaktian yang memakan waktu satu jam, ada satu detik engkau sadar sekarang sedang saya menghadapi Tuhan Allah, dan saya tidak peduli orang duduk di sebelah saya pakai apa, dia mengerti berapa banyak, saya tidak peduli pengkhotbah maksudnya apa. Saya mengerti saat ini saya sedang dihadapan Tuhan Allah, itu bagi saya, saya memberikan istilah sebagai existential movement, you conscious of your existence, you conscious of your existence before God, and you conscious of your relativity before you as creation and God The Creator. Jadi engkau sadar, engkau seorang yang dicipta sedang menghadap Sang Pencipta. Jikalau kebaktian-kebaktian selalu terjadi saat yang mebawa engkau kesadaran seperti itu, engkau sedang dalam kebaktian menikmati melampaui waktu menikmati sifat kekekalan. Saudara-saudara, saat engkau di dalam waktu dan engkau menemukan kekekalan itulah saat-saat khairos yang membentuk rohanimu menjadi maju. Saudara-saudara sekalian, saya sangat mengharapkan setiap kebaktian yang saya pimpin ada sesuatu perubahan dimana pendengar menemukan sekarang saya berada di dalam khairos, saya berada di dalam relativisasi, saya berada di dalam satu penghadapan dengan Tuhan Allah sendiri.

Nah Saudara-saudara, sekali lagi ayat ini mengandung empat hal, pertama Tuhan melalui Kristus, Gembala yang baik, menggenapi segala kebajikan di dalam hidup. Kedua, Tuhan melalui Kristus mengajar kita, setelah melakukan kebangkitan mengerti bagaimana menjalankan kehendak Allah. Ketiga melalui Kristus Dia bekerja di dalam hati kita, sehingga kita bisa melakukan hal-hal yang memperkenan Dia, bukan memperkenan kita. Sekali lagi saya mengulangi, di dalam agama keinginanku berdoa, menyembah, memberikan uang, berbakti, beriman kepada dewa supaya dewa mengerjakan sesuatu menurut keinginanku, memuaskan ambisiku, untuk memenuhi sesuatu egoisme yang ada di dalam diriku. Itu agama yang lain, tetapi di dalam Kristus, saya tidak katakan di dalam semua gereja karena banyak gereja yang mengajar theology of prosperity, teologi kesuksesan, teologi kemakmuran, sama seperti agama yang lain. Saudara-saudara, sekali lagi, melalui pengertian teologi Reformed yang betul-betul engkau baru mengerti berapa dahsyatnya dan berapa tajamnya permintaan Alkitab. Nah engkau menemukan melalui Kristus Allah bekerja supaya aku mungkin melakukan hal yang memperkenan hati-Nya, bukan hatiku. Jadi kita selalu harus tanya: “selama aku hidup, semua yang saya kerjakan sudah berapa banyak yang berkenan kepada Tuhan? Apakah Tuhan menyenangi apa yang aku kerjakan? Apakah hidup yang saya kerjakan menyenangkan diriku bahkan menggeret Tuhan, “Turun, senangkan aku,” atau menaikkan aku, “Oh Stephen Tong, biar engkau menyenangkan Tuhan.”” To please God or to please yourselves? You should do everything to please Him, in His will, or you pray so fervently in religious emotions to ask God to please you, to satisfied your ambitions? Ini berbeda sekali. Mari kita memutarkan ini, hidup adalah minta diriku sesuai kehendak-Nya, bukan minta Tuhan melakukan segala sesuatu untuk mengisi kemauan saya sendiri. Dengan sifat seperti ini maka engkau akan bertumbuh imanmu, rohanimu, dan hidupmu. Ada orang yang pada permulaan masuk gereja kelihatan hebat sekali, beberapa tahun lagi sombong luar biasa. Baru menjadi majelis rendah hati, dua tahun lagi merajalela. Apa sebab? Karena dia tidak mengerti prinsip-prinsip ini, dia cuma melihat dari pada masyarakat, “Nah saya majelis gereja yang penting, saya berada di dalam suatu tempat yang sangat dihormati oleh orang maka saya bangga,” di situ Tuhan tidak bertakhta, Tuhan tidak bertempat, tapi diri sendiri bertakhta, bertempat, dan Tuhan diturunkan daripada dia. Saudara-saudara, secara lahiriah engkau beragama, engkau beribadah, engkau suci, engkau begitu kelihatan orang yang beribadah kepada Tuhan, tetapi Tuhan Yesus Kristus melihat semua orang Farisi-Farisi yang duduk di tempat yang tinggi mereka mempunyai hati yang begitu bobrok seperti kuburan yang dikapur, kelihatan luar bagus, dalamnya tengkorak. Saudara-saudara sekalian, to please God or to please myself? Hidupku menyenangkan Tuhan atau minta paksa, memperalat Tuhan untuk menyenangkan aku? Dua macam orang ini.

Kalau ketiga hal ini sudah mengerti maka dari ayat ini ada unsur kalimat keempat: “supaya engkau memuliakan Tuhan.” Saudara-saudara, pagi ini saya mengatakan akan membicarakan kepada Saudara tentang mengapa manusia harus memuliakan Tuhan. Why human being, we have to glorify God? Saudara-saudara, dan apa artinya memuliakan Tuhan? Mengapa Tuhan kok tidak malu minta manusia memuliakan Dia, bukankah Dia sangat ambisi? “Hayo muliakan Aku, ayo muliakan Aku!” Kenapa sih? Kenapa Tuhan minta manusia memuliakan Dia? Kalau seorang pendeta mengatakan, “Hei, engkau mesti memuliakan aku ya, selalu memuliakan Stephen Tong ya karena aku pendetamu,” engkau akan rasa sedikit ganjil bukan? Kenapa pendetaku terus minta aku memuliakan dia, lalu dengan pikiran yang sama, refleksi kepada Tuhan, “Why God ask me to glorify Him? Kenapa Allah minta saya memuliakan Dia?” Kita semua sudah mengerti, memuliakan Tuhan, memuliakan Tuhan itu indah sekali. Pernah diadakan satu angket statistik dari Jawa Tengah: apa artinya memuliakan Tuhan? Lalu sebagian orang mengatakan menyanyi, memuji, itu memuliakan Tuhan, ikut koor itu memuliakan Tuhan, sebagian; yang lain kalau berbakti di dalam kebaktian setiap minggu itu memuliakan Tuhan; nah ada sebagian kecil yang mengatakan kalau berbuat baik itu memuliakan Tuhan. Dengan tema yang sama, kalau saya menguji dan memberikan kesempatan engkau mengekspresikan reaksimu kepada Tuhan sebagai akibat sudah begitu lama engkau mendengar firman Tuhan, maka angket-angket yang diterima akan menunjukkan seberapa dangkal dan seberapa salah yang selalu terjadi di dalam konsep kita. Maka unsur keempat di dalam berkat ini adalah supaya kamu memuliakan Tuhan.

Hal yang pertama yang kita mau bicara yaitu mengapakah Tuhan minta kita memuliakan Dia. Saudara-saudara, muliakanlah Tuhan, muliakan Tuhan, “muliakanlah Aku.” Ayat-ayat seperti ini, kalimat-kalimat yang sama seperti ini terus muncul dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Sekarang kita mau masuk ke dalam “mengapakah harus memuliakan Tuhan?” Pertama-tama, Tuhan adalah diri-Nya dan Sumbernya kemuliaan itu sendiri. Saya selalu memakai satu istilah yang saya anggap sangat penting untuk menjelaskan semua lingkup yang ada di dalam hal ini, yaitu God as the subjectivity of the truth, God as the subjectivity of the righteousness, God as the subjectivity of holiness. Saudara-saudara, orang biasa cuma mengatakan, “Oh harus obyektif dong, harus ada suatu kebenaran obyektif,” maksudnya yang kita terima semua. Nah itu yang diperjuangkan oleh Socrates, oleh Plato, dan Aristotle, yaitu kebenaran bukan bersifat tafsiran individu, kebenaran bukan pengertian secara subyektif dirimu sendiri, kebenaran harus mempunyai obyektifitasnya sehingga semua orang harus mengaku ada kebenaran secara universal, itulah perbedaan Socrates dan Sophists. Sophists adalah orang-orang sezaman Socrates yang menganggap diri pintar, menganggap diri mempunyai kebenaran lebih dari orang lain, menganggap diri mereka memonopoli kebenaran sehingga mereka boleh mengajar orang lain dengan kebenaran lalu pasang tarif untuk yang mau kebenaran yang mereka mengerti harus bayar berapa kepada mereka. Nah Saudara sekalian, maka kebenaran dimengerti seperti ini menjadi sesuatu yang diserang oleh Socrates, tidak ada orang monopoli kebenaran, tidak ada orang yang menganggap diri mempunyai kebenaran lalu dia berhak menarik uang karena dia menjual kebenaran sebagai menjual komoditi. Saudara-saudara, itu perjuangan Socrates seumur hidup, supaya manusia mengetahui ada kebenaran universal sehingga melawan Sophists, melawan orang-orang yang anggap diri pintar lalu menghina orang lain. Saudara-saudara, kalau kebenaran itu bersifat universal maka akhirnya menemukan suatu istilah ‘objectivity,’ yaitu ada satu obyektif kebenaran yang semua harus terima.

Tetapi yang saya mengerti dan saya memberikan adalah terbalik, bukan subjective interpretation tetapi subjectivity of the truth Himself, berarti Tuhan Allah itu sendiri bukanlah kebenaran yang dicari, tetapi Dia adalah kebenaran yang mewahyukan diri sehingga diri-Nya Tuhan Allah itu adalah kebenaran itu sendiri, keadilan itu sendiri, kesucian itu sendiri, kasih itu sendiri, dan juga adalah sesuatu kebajikan itu sendiri. Subjectivity of truth, of righteousness, of goodness, of glory, of everything glorious in Person, di dalam Pribadi. Jadi Dia berkata, “I Am Who I Am.” Dia adalah subyektifitas itu sendiri. Nah istilah yang saya pakai ini tidak muncul di buku apapun, baik di Barat maupun di Timur. Ini adalah suatu kesimpulan yang ditarik dari seluruh Kitab Suci sehingga berbeda dengan pikiran-pikiran yang umum dipakai di dalam dunia filsafat. Saudara-saudara, Allah sendiri adalah kebenaran, dan kebenaran di dalam diri Allah ada di dalam diri Pribadi Allah yang beroknum, in Person, sehingga yang dibicarakan oleh Aristotle, yang dibicarakan oleh Kongcu(?), dibicarakan Lao Tze itu satu pembicaraan tentang kebenaran sebagai refleksi dari imajinasi mereka tapi bukan kebenaran itu sendiri. Tetapi Allah yang menyatakan diri adalah Allah yang sendiri adalah hidup, adalah Pribadi yang berkata memperkenalkan diri, “I Am.” Seperti kita semua bisa bicara tentang Megawati, Megawati begini, begini, Megawati istrinya siapa, Megawati Presiden Indonesia, Megawati adalah Ketua dari partai apa, Megawati tahun berapa naik ke takhta menjadi presiden, Megawati kapan dia akan menjadi apa, dan sebagainya. Kita boleh bicara tentang dia, yang kita bicara adalah bahan pembicaraan tetapi yang kita bicara bukan pribadinya yang bicara sendiri tetapi kita pribadi yang bukan Megawati bicara tentang satu pribadi, tetapi di dalam diri kita itu menjadi pembicaraan. Tetapi pada suatu hari bukan kita bicara tentang Megawati, Megawati sendiri berdiri di sini dan berkata, “aku Megawati.” Watu dia mengatakan, “aku Megawati,” sama engkau membicarakan tentang Megawati lain karena yang bicara itu pribadinya sendiri, ngerti maksudnya? Nah itulah wahyu Tuhan. Pada waktu Allah memperkenalkan diri, Dia lain dengan semua konsep dan semua teori Allah yang dibicarakan oleh semua filsuf, karena semua yang dibicarakan oleh filsuf hanya bahan pembicaraan tentang Allah saja. Itulah sebabnya Cornelius van Till mengatakan Allah di dalam Barat, dari Aristotle sampai sekarang semua filsafat, hanya membicarakan tentang bayang-bayang Allah tetapi mereka belum pernah membicarakan atau mengerti apa itu Allah secara Pribadi. Waktu Allah mewahyukan diri maka Allah secara subyektifitas, Pribadi diri-Nya Allah, berbicara untuk memperkenalkan diri siapakah Dia. Dan di situlah menjadi satu kemungkinan, menjadi landasan, menjadi pondasi manusia membentuk pengertian tentang Allah.

Dan hari ini dengan konsep yang sama saya masuk ke dalam istilah kemuliaan. God is the subjectivity of the glory Himself. Maka Allah adalah kemuliaan itu sendiri, maka Allah yang berhak, yang lain tidak berhak “muliakanlah aku,” kecuali Allah. Saudara-saudara, mengapa sih Allah minta orang memuliakan Dia? Karena Dia adalah subyektifitas kemuliaan itu sendiri maka hanya Dia yang berhak memerintahkan manusia memuliakan Dia. Saudara-saudara, semua yang berusaha menjadi allah atau berusaha memalsukan diri menjadi allah, menjadi diktator. Pada waktu Mao Tze Dong memalsukan diri sebagai allah maka pikiran dari pada Mao Tze Dong itu untuk long life, selama-lamanya, tidak mungkin tidak menang. Dia memalsukan diri sebagai allah seluruh rakyat Tiongkok, lebih dari 1 milyar, harus memperdewa dia. Itu adalah manusia yang memalsukan diri sebagai allah, merebut kemuliaan dari Tuhan Allah yang betul-betul, satu-satunya yang berhak mengatakan, “Glorify Me, worship Me, other than Me there is no god,” itu adalah Allah sendiri. Saudara-saudara, maka manusia tidak megerti Dia adalah Allah, lalu mendengar kalimat ini manusia mulai mengkritik Tuhan Allah. Salah satu kritik yang paling tajam di dalam sejarah filsafat yaitu dari Friedrich Nietzsche. Nietzsche seorang Jerman abad ke-19 yang sezaman dengan Karl Marx, sezaman dengan Ludwig Feuerbach, sezaman dengan Søren Aabye Kierkegaard yang ada di Denmark, sezaman dengan Hagel, sezaman dengan orang-orang yang sangat melawan Tuhan. Maka Friedrich Nietzsche di dalam buku atau syair yang berjudul Thus Spoke Zarathustra, Demikian Berbicara Zoroaster, itu istilah, di dalamnya mengatakan dengan satu antipati terhadap Allah yang berani mengatakan “I Am the only God, beside Me there is no god,” dia memberikan singgungan, ironis, memberikan kritikan yang paling tajam di dalam syairnya dengan kalimat-kalimat seperti berikut.

Nietzsche berkata: “Semua dewa mengadakan musyawarah di sorga. Di atas angkasa, awan-awan yang begitu tinggi, dewa-dewa semua berkumpul lalu mereka mulai berunding. Di tengah-tengah perundingan dari dewa-dewa itu, mereka ngomong, mereka ketawa, mereka diskusi, mendadak di tengah-tengah dewa-dewa yang banyak itu ada satu yang paling GR, paling sombong, mengumumkan, “Aku adalah satu-satunya Allah, diluar Aku tidak ada Allah yang lain.” Sombong, GR, dewanya banyak tapi yang satu ini yang paling sombong. Setelah dia mengatakan kalimat itu lalu yang lain tidak mau setuju, tidak mau terima, mereka kira, “gila loe, menang-menang sendiri, GR loe, hanya kamu yang dewa, yang Allah, yang lain bukan?” Semua mentertawakan dia, hahahaha, ketawa. Lalu karena dewa itu gede, berkuasa, dan dewa-dewa yang banyak semua goyang, semua ketawa, ketawanya sampai ke kanan, ke kiri, sehingga seluruh sorga goncang, bukan gempa bumi, gempa sorga. Tetapi ketawanya mereka karena terlalu jengkel sama dewa yang sombong ini, mereka terus ketawa tidak habis-habis, tidak bisa berhenti karena mereka tidak setuju kalimat itu, terus ketawa sampai akhirnya semua dewa mati, semua dewa ketawa sampai mati.” Kalau kamu ketawa terus tidak berhenti bisa mati lho, kalau tidak percaya, coba. Semua dewa mati. Maka istilah itu muncul, God is death. Istilah Allah itu mati pertama kali dibicarakan bukan oleh Nietzsche, dibicarakan oleh Nyonya Martin Luther, lalu 400 tahun kemudian diulangi oleh seseorang namanya Friedrich Nietzsche, lalu 100 tahun kemudian dilakukan suatu upacara mengkebumikan Allah oleh seorang Perancis yang bernama Jean-Paul Sartre. Nah Saudara-saudara, saya sedikit mengatakan filsafat, sudah lama saya tidak singgung filsafat di atas mimbar ini. Tapi kenapakah saya mengupas Kitab Suci harus menyinggung filsafat? Nah ini metode saya yang berlainan dengan semua pendeta dan teolog yang lain, karena di dalam kita kaitkan berita dari Tuhan dan apa yang menjadi hasil pikiran manusia, kita melihat bagaimana cara berontaknya otak yang dicipta oleh Tuhan Allah kepada Allah yang menciptakan otak. Ini perbandingan kadang-kadang dari kuno, dari modern, dari Timur, dari Barat, dari Kongfucu, dari Socrates, semua metode ini tidak ada di dalam cara tafsir dan cara komentar, cara teologi apologetika di Barat. Saya harus bertanggung jawab akan hal ini, dan ini menjadikan engkau lebih cerdas dan mengerti bedanya Kristus dan Firman Allah dibanding semua pemikiran manusia yang bobrok, yang rusak tetapi menganggap diri akademis dan pintar.

Saudara-saudara, pada waktu Martin Luther mengadakan sesuatu perjuangan untuk mengembalikan gereja kepada Alkitab, itu namanya Reformasi. Reformasi bukan menciptakan golongan, dengar ya, Reformasi bukan hasil dari perjuangan ambisi pribadi, Reformasi adalah dorongan Roh Kudus untuk menggugah seluruh Gereja kembali kepada seluruh Kitab Suci yang diwahyukan oleh Tuhan. Saudara jangan terjebak. Orang bilang, “Oh Gereja Reformed ya? Begitu banyak gereja, engkau salah satu yang paling sombong,” engkau terjebak, karena Gereja Reformed bukan salah satu diantara sekian banyak gereja, Gereja Reformed adalah sesuatu kehendak Tuhan untuk mengajak seluruh Tubuh Kristus kembali kepada Alkitab, itu keunikan engkau, engkau harus tahu. Gerakan ini engkau harus tahu, kalau tidak engkau akan menghina diri, menganggap diri seperti gereja-gereja yang pokonya berani pasang ‘gereja’ lalu mereka kira mereka sudah gereja. Yang diajarkan berlawanan dengan Alkitab tidak peduli karena mereka maunya mendirikan gereja dapat uang, mendirikan gereja dapat massa, mendirikan gereja dapat kedudukan agama, itu motivasi seperti itu bukan motivasi gereja. Gereja yang sejati adalah mau memelihara ajaran yang diturunkan dari pada para rasul, gereja yang sejati adalah mau mengabarkan Injil supaya seluruh dunia kenal Yesus Kristus. Gereja yang sejati adalah tidak menghiraukan untung-rugi sendiri, berjuang untuk kebenaran, dan dengan api untuk membawa manusia kepada Tuhan sampai berani menyangkal diri, sampai berani mati untuk Tuhan. Itu gereja yang sejati. Saudara-saudara, begitu banyak gereja, gereja Reformed salah satu denominasi, salah semacam golongan di antara begitu banyak, semua sama? Saya berkata sekali lagi, mengulangi kalimat minggu lagi, tidak sama! Dari Martin Luther, dari Calvin, dari Bucer, Bullinger, dari pada Theodore Beza, dan semua orang tokoh-tokoh reformasi, hanya satu motivasi: back to the bible, be faithful to the revelation of God, and worship Him, give all the glory to Him. Itu yang menjadi sesungguhnya.

Martin Luther pada waktu berjuang untuk reformasi, dia begitu kecewa karena musuhnya terlalu berat. Waktu itu Katolik sudah mempunyai kuasa lebih besar dari pada zaman dulu di dalam Kerajaan Romawi. Katolik mempunyai kuasa mengontrol semua raja-raja, baik di Jerman, baik di Hongaria, baik di Belgia, baik di Eropa, baik di Inggris, baik di Skotlandia, baik di Perancis, di Spanyol. Katolik mempunyai kuasa begitu besar, lalu seorang anak petani, seorang orang Jerman yang namanya Martin Luther mau melawan seluruh kerusakan dari pada gereja. Dari mana kekuatan? Sehingga dia mau ditangkap, dia mau dibunuh, dia mau dipenjarakan, dia mau diculik, dia mau diadili, dia dihina, diejek. Saudara-saudara, tetapi Martin Luther mempunyai satu moto, kalimat yang sampai sekarang harus dihormati sampai selama-lamanya: Here, here I stand before God. I stand on the bible, the word of God. I will never withdraw what I have written, except it is proven contradictory to the word of God and contradictory to my conscience. Di sini aku berdiri, di atas firman Tuhan. Aku tidak akan menarik kembali apa yang saya tulis kecuali terbukti yang saya tulis melawan Alkitab dan berlawanan dengan hati nuraniku. Berarti aku jujur, sungguh-sungguh, dari hatiku saya setia kepada Alkitab. Kalau engkau melawan, silahkan buktikan yang saya tulis itu salah, yang saya tulis melawan Alkitab. Kalimat itu menjadi tantangan semangat reformasi. Kalimat itu menjadi tantangan kepada semua bidat. Kalimat itu menjadi satu semangat diturunkan kepada semua orang yang mengatakan Reformed. Saudara-saudara, jikalau pendeta-pendeta di gereja ini mengerti teologi Reformed, tapi tidak mempunyai jiwa pembelaan kebenaran dan tidak ada jiwa mau mati untuk Tuhan, gerakan ini tetap akan menjadi suram. Banyak orang kuatir kalau Stephen Tong mati, gereja Reformed jadi apa. Saudara-saudara, anda-anda bukan datang hanya mau dengarkan khotbah yang enak. Anda bukan datang hanya untuk mencari pergaulan di sini lalu memperalat kekristenan untuk Tuhan menyenangkan dirimu. Anda di sini belajar apa itu firman, belajar apa kehendak Tuhan, bagaimana hidup memuliakan Tuhan, hidup berkenan kepada hati-Nya. Nah ini perjuangan Martin Luther.

Pada waktu dia satu kali terlalu kecewa karena kekuatan melawan dia begitu besar, dia pulang, dia sudah tidak mau lagi meneruskan reformasi. Dia menemukan istrinya di rumah sedang pakai pakaian putih. Untuk orang Jerman itu orang yang kematian, orang baru pakai itu. Lalu di situ suram sekali. Martin Luther tanya dia, “Kenapa you pakai pakaian seperti ini?” Dia bilang, “ada yang mati, maka saya pakai pakaian ini.” “Siapa yang mati? Beri tahu kepada saya dong.” “Allah yang mati.” “Hah? Kurang ajar kamu. Allah mati? Allah tidak mungkin mati. Jangan mengatakan kalimat seperti itu.” Maka Allah sudah mati, mulai dari pada mulut nyonya Martin Luther, Nyo-ter, Saudara-saudara, Nyonya Martin Luther mengatakan, Allah sudah mati. Martin Luther marah dan berkata, “Kenapa katakan kalimat itu? Allah tidak mati.” Langsung dijawab nyonyanya, “Jikalau Allah tidak mati, mengapa engkau kecewa? Jikalau Allah tidak mati, mengapa reformasi engkau sekarang sudah kecewa mau berhentiin?” Woh, melalui kalimat itu, Martin Luther dibangunkan kembali, “Kalau demikian, saya berjuang terus.” Nah, Saudara-saudara, nyonya yang baik adalah terus mendorong suaminya menjalankan kehendak Tuhan. Nyonya yang jelek, “jangan cinta Tuhan, cinta aku saja.” Barang siapa tidak mencintai Tuhan lebih dari istri atau suami, tidak layak mengikuti Tuhan. Ini sekarang sudah kurang diajarkan di dalam teologi barat. Saudara-saudara, seolah-olah keluarga adalah paling utama dan Tuhan disingkirkan. Saudara-saudara sekalian, hari ini saya khotbah seperti ini, saya jalankan ini. Sebelum saya nikah, saya tulis surat pertama mengatakan ini, “utamakan Tuhan lebih dari hubungan suami istri, baru kita nikah.” Dan besok istri saya harus ke Singapura dan besok lusa diadakan operasi rahimnya dan semua itu akan dikeluarkan, akan dioperasi. Tetapi saya tetap minta anak perempuan saya mendampingi dia, saya pergi khotbah. Saya harus ke Kuala Lumpur, ke Singapura, dan sebagainya. Saudara-saudara, istri Martin Luther mengatakan, “God is Dead.” No. “If God is not dead, why you are disappointed? Why you stop your work?” Martin Luther berkata, “kalau begini tidak usah debat, saya teruskan.” Barulah 500 tahun kemudian sampai hari ini kita masih melihat ada orang yang setia kepada Firman Tuhan.

Saudara-saudara, di Jakarta dengan matamu sendiri, engkau melihat berapa gampangnya gereja menyeleweng. Engkau coba keliling mulai minggu ini, satu bulan tidak usah  datang, keliling  gereja yang lain, mendengarkan khotbah yang dikhotbahkan itu apa, melihat bagaimana banyak yang menyebut diri pendeta, yang pasang plang gereja, bagaimana memberitakan hal yang menyimpang dari Alkitab. Saya memberikan tantangan ini supaya menggugah, menggugah hati nurani anda. Jangan kira anda datang mendengar khotbah enak-enak dari Stephen Tong, silahkan kritik saya, benci saya, silahkan. Tapi hati nurani saya tetap mengatakan satu kejujuran, you harus kembali kepada firman, harus setia kepada Tuhan. Saudara-saudara, kalimat itu dikatakan 400 tahun kemudian oleh seorang yang bernama Nietzsche, Allah mati, tapi konotasinya lain, seluruh definisinya lain. DIa mengatakan, allah-allah semua mati. Berarti tidak usah percaya Allah, tidak usah dewa. Di dalam filsafat dari pada Nietzsche, antroposentrik, man is the center of the universe. Sudah mencapai sesuatu keadaan radikalisme yang mutlak dan ekstrim, dan Nietzsche mengatakan kita menunggu datangnya superman. Kalau superman yang sebelum datang perlu seorang perintis. Dan perintis yaitu siapa? Yaitu Nietzsche sendiri. Sama seperti Yesus sebelum datang perlu seorang perintis namanya Yohanes Pembaptis. Maka Nietzsche adalah Yohanes Pembaptis yang anti-Kristus. Anti Kristus nya adalah superman. Berarti superman contradict with God. Allah yang supranatural itu harus mati. Manusia harus bangkit. Kalau manusia sudah bisa kerjakan segala sesuatu sendiri, kita tidak perlu Allah lagi. Itulah dasarnya atheisme. Itulah dasarnya manusia melawan Tuhan. Itu dasar anti-Kristus. Saudara-saudara abad ke-21 kita lihat, tidak usah Tuhan kan? Orang-orang boleh apa saja. Dari kantor sampai malem tidur sama pelacur, tidak apa-apa kok, semua bisa kerja sendiri kok. Berzinah pun ndak apa-apa, ada penisilin. Sakit apa pun ada obatnya. Maka Tuhan membiarkan penyakit makin keras datang ke dunia, manusia berusaha mencari obat yang lebih hebat lagi, seolah-olah manusia sudah bisa tanpa Tuhan kerjakan segala sesuatu berdasarkan kepinteran sendiri. Tapi mereka tidak mengerti apa yang disebut oleh teologia Reformed, common grace. Pintermu menemukan obat apa pun itu pinternya dari Tuhan Allah. Tetap dari Allah. Orang yang mengerti semua ini, kembalikan mulia kepada Allah. Orang yang tidak mengerti hanya memperalat Allah untuk bermain-main, untuk membuang hidupnya sembarangan.

Saudara-saudara, Nietzsche mengatakan, dewa-dewa bermusyawarah, di antaranya satu yang sombong mengatakan, “I am the only God. Beside me there is no God.” Maka dengan kalimat itu dia mau mengkoyak, merobek Kitab Suci, menghancurkan Kekristenan. Saudara-saudara sekalian, maka yang lain tertawa, berarti dewa sama dewa, agama sama agama berantem, sudah berantem akhirnya hancur semua, mati semua. God is dead. Seratus tahun kemudian, orang ketiga, Jean-Paul Sarte dari Perancis mengadakan satu upacara, mari kita mengebumikan Allah. Dia keduk tanah lalu dia bikin upacara Allah dikuburkan dan dunia tidak perlu Allah lagi. Saudara-saudara, pada satu pihak, orang seperti atheisme jujur, langsung mengatakan tidak ada Allah. Di satu pihak, orang yang memakai teori-teori, menguburkan, mengumumkan kematian allah, di satu pihak orang Kristen yang hidupnya lebih rusak dari orang belum Kristen, menyatakan seolah-olah Allah sudah mati, tidak bisa robah hidupmu dan hidupku. Satu pihak lagi, adalah orang macam keempat, teolog-teolog dari Walthamian(?), dari pada itu Al Kaiser(?), dari pada Hamilton, dan dari pada orang-orang di Chicago School mengatakan God is dead melalui sekolah teologi. Sekolah teologi sendiri mengajar Allah itu mati. Saudara-saudara sekalian, kalau kita membayangkan semua mengulangi sejarah kita takut, inilah keadaan manusia. Manusia menganggap Allah itu sudah mati dan diumumkan oleh Nietzsche salah satu pemikir yang mempunyai kekuatan syair dan mendorong emosi yang paling besar, bukan Calvin, bukan Kierkegaard, tetapi Nietzsche. Nietzsche merupakan orang yang paling kuat, paling dinamis di dalam merobah pikiran filsafat menjadi ransangan emosi. Dia adalah orang yang paling kuat di dalam mengekspresikan dinamika literatur untuk menggoncangkan pikiran manusia. Nah, Saudara-saudara, itu sebab manusia tidak mau memuliakan Allah. Kalau tidak memuliakan Allah, i am god, there’s no god. Allah singkir, aku naik di takhta.

Saudara-saudara, pada waktu manusia menaikkan diri di atas takhta dan tidak mau Tuhan Allah, akhirnya adalah Tuhan membiarkan dia mempermainkan satu lelucon akhirnya mempermalukan diri. Jadi kembali, God has the glory, and only God has the right to ask you to glorify Him. Waktu Mao Zidong masih hebat luar biasa ,mulia, seluruh dunia siapa sih mempunyai kekuatan politik lebih besar dari dia? Semua yang dipilih oleh rakyat, dia tidak. Dia yang mengatur seluruh rakyat. Dia tanpa dipilih dan tanpa mungkin dimundurkan, “saya menentukan nasib seluruh negara.” Dan negara yang populasinya paling besar, Tiongkok, lebih 1 milyar orang semua takluk di bawah dia. Dia mau apa itu apa. Dia sebut dia Allah. Pada waktu Mao Zidong memperankan diri seperti Allah, sama seperti Picasso memperankan diri seperti Allah. Maksudnya apa? Waktu Picasso menggambar sesuatu, dia menciptakan dunia sendiri di atas kanvas. Dia menciptakan dunia, dia adalah allah-nya dunia kanvas yang dia ciptakan. Mengenai hal itu, dalam seni saya tidak banyak bicara. Setiap orang pada waktu menyeleweng dari pada apa yang ditetapkan oleh Tuhan, dia berusaha memperankan diri menjadi Allah. Sesudah engkau mengakui diri adalah Allah, Allah itu tidak banyak bicara, Dia tidak mau diskusi. Saudara-saudara, kadang-kadang saya tidak mau ambil bicara sama pemuda yang maunya sendiri. Kalau pemuda-pemudi yang tidak tahu banyak tapi anggap diri maunya sendiri, saya biarin aja. Allah demikian membiarkan manusia berperan sebagai Allah sampai pada suatu hari, “Are you God? Okay. You are a dying god.  Allah yang mati.” Di mana Mao Zidong? Mati. Di mana Hitler? Mati. Di mana Hirohito? Mati. Di manakah diktator-diktator dunia? Mati. Waktu mereka hidup, mereka kira mereka infinite, mereka adalah yang tidak terbatas, setelah waktunya sampai Tuhan bilang, “Oh, sekarang tahu ya, you bisa mati ya.” Nietzsche mati umur berapa? Nietzsche mati umur 35.

Saudara-saudara, Nietzsche seorang yang melawan Tuhan Allah, akhirnya sebelum mati gila luar biasa, meledak. Dia punya pikiran nggak karu-karuan, dan dia tidak bisa menguasai diri, dia mati gila. Mati karena gila. Jadi setiap orang melawan Tuhan, Tuhan bilang, “Oke, silahkan, engkau tidak usah Saya? Ya sudah, jalan sendiri.” Akhirnya mati. Sudah mati, dipamerkan di dalam dunia ada allah yang bisa mati. Sekarang Mao Zidong di mana? Mao Zidong ada di dalam kuburan kaca. Di dalam peti kaca itu tubuhnya mulai rusak sini rusak situ karena fana. Karena mortal. Sehingga setiap minggu harus tutup satu hari untuk tembel-tembel jenazahnya. Itulah manusia. Jangan kita anggap diri sombong. Jangan kita anggap diri mulia. Allah adalah satu-satunya yang berhak mengatakan, glorify Me, you should glorify Me. Engkau harus memuliakan Aku, satu-satunya oknum yang berhak menuntut orang memuliakan Dia, Allah, yang lain tidak. Jangan memuliakan siapa pun. Jangan mengkultuskan pendeta, jangan memuliakan pemimpin politik, jangan mengkultuskan siapa pun karena mereka adalah manusia yang fana, manusia yang bisa mati, bisa rusak. Manusia hanya hidup berapa puluh tahun saja. Alkitab berkata, hei raja, yang ada padamu hanya sehembus napas saja, kalau Aku memanggil engkau, “Pulang, kembalilah,” engkau kembali ke tanah. Engkau tanah, engkau kembali ke tanah. Engkau dibikin dari debu, engkau kembali kepada debu. Who are we? Siapakah kita? Kita hanya debu saja. Semua, kita hanya debu saja. Maka jikalau engkau hidup berapa puluh tahun bisa memuliakan Tuhan, itulah istimewa, hak yang diberikan oleh Tuhan. We are given privilege to be able to glorify God.

Sekali lagi, katekismus dari Westminster: what is the greatest purpose of man living on this earth? Is to glorify God and to enjoy Him. Saudara-saudara, bisa memuliakan Tuhan dan bisa menikmati Tuhan itulah tujuan tertinggi kita hidup di dalam dunia ini. Saudara, kedua, manusia adalah satu-satunya yang dicipta untuk memuliakan Tuhan dan untuk boleh mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan. Seluruh dunia dicipta untuk kemuliaan Tuhan, tapi manusia adalah satu-satunya dicipta untuk memuliakan Tuhan dan sanggup mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan. Saudara-saudara, waktu engkau melihat kucing, engkau lihat apa? Saya lihat kemuliaan Tuhan. Waktu engkau lihat gunung, engkau lihat apa? Saya lihat kemuliaan Tuhan. Gunung yang begitu agung, kucing yang begitu lincah, itu lalat yang begitu tangkas. Saya setiap kali liat laler saya lihat hebat. Itu lebih hebat dari Boeing 747. Betul tidak? Kapal terbang kalau turun berhentinya 10 menit, 5 menit, larinya 3 kilometer baru berhenti. Laler berhenti, berangkat lagi, langsung berangkat. Ada kapal terbang kayak begini? Tidak ada. Ada nggak kapal terbang [seketika] berhenti? Tidak ada. Itu F-18 itu apa itu, Sukhoi atau Rusia atau Amerika, tidak ada. F21, 25, sampai 37 juga tidak bisa. Saudara-saudara, langsung. Dipukul, pergi, datang lagi. Beraninya luar biasa. Itulah mulia Tuhan. Engkau lihat laler lihat apa? Engkau lihat kotor, saya lihat kemuliaan Tuhan. Engkau lihat nyamuk, saya lihat kemuliaan Tuhan. Engkau lihat gunung, saya lihat kemuliaan Tuhan. Engkau lihat segala sesuatu, lihat anak kecil, kecil, lagi mberangkang, itu kemuliaan Tuhan. Everything is created for glorifying God. Allah menciptakan seluruh alam semesta demi kemuliaan Dia. Tetapi selain manusia, tidak ada yang bisa memuliakan Tuhan. Mereka hanya secara pasif dengan bijaksana yang tersimpan di dalam, mencerminkan kemuliaan Tuhan. Tapi manusia mengatakan, “Oh, Puji Tuhan, Haleluya, mulia bagi-Mu,” itu hanya manusia. Itu sebab, manusia adalah satu-satunya dicipta untuk bisa mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan.

Dari poin kedua saya berkata kepada Saudara bahwa seluruh umat manusia hanya dibagi 2 macam, satu macam adalah manusia yang terus memuliakan Tuhan, sering, senantiasa, suka dan betul-betul, mempunyai keinginana mempermuliakan nama Tuhan; kedua, manusia yang selalu mempermalukan nama Tuhan, begitu dia berada Tuhan dipermalukan, begitu dia ngomong Tuhan dipermalukan, begitu dia kerja sesuatu Tuhan dipermalukan. Hanya 2 macam. Saya berkata kepada Saudara, gereja ini sudah terbentuk dari 2 macam anggota. Anggota pertama, anggota yang memuliakan Tuhan, macam kedua, anggota yang memalukan nama Tuhan. Kamu yang mana? Kamu ingin menjadi yang mana? Kamu sudah mencapai yang mana? Kamu sadar atau tidak sadar, engkau dimana? to  glorify God, to give glory to Him, atau engkau menjadi seorang yang mempermalukan nama Tuhan, mencela nama Tuhan, memberikan kesempatan kepada orang kafir untuk menghujat Tuhan karena segala kerusakan, karena segala penipuan, karena segala kejahatan yang kau lakukan. Mari kita koreksi sendiri.

Ketiga, poin yang ketiga, Allah tidak pernah mengizinkan kemuliaan-Nya diselewengkan kepada ilah yang palsu. Nah, ini yang tidak di setujui oleh Nietzche, tapi ini yang dicatat dalam Alkitab, “I’ll never give My glory to the false God.” Jangan engkau menyembah dewa yang palsu, karena engkau menyembah dewa yang palsu pada saat yang sama engkau telah merangsang, engkau telah mengimitasi, engkau telah membikin Allah marah. Saudara-saudara, jangan menimbulkan kemarahan Tuhan, Allah kita adalah Allah yang tidak memperbolehkan kemuliaan Dia diberikan kepada dewa yang palsu. Itu sebab God is God of Jealous, Allah adalah Allah yang iri hati, adalah Allah yang cemburu. Sebagaimana seorang perempuan melihat suaminya bersetubuh dengan perempuan yang lain, dia tidak bisa tahan, dia marah luar biasa, itu suatu kemarahan yang suci. Demikian Allah tidak mau manusia mengkembalikan kemuliaan kepada dewa yang lain, karena Allah adalah Allah yang cemburu, itu cemburu yang suci. Cemburu yang suci tidak berdosa, cemburu yang suci wajar karena cemburu yang suci memelihara keluarga berada di jalur yang benar, memelihara etika terjamin di dalam keamanan. Demikian kecemburuan Allah menjadikan manusia hidup di dalam kebenaran. Saudara-saudara, karena Aku Allahmu adalah Allah yang cemburu, jangan engkau menyembah dewa, jangan engkau memberi ilah yang dicipta, jangan engkau menjadikan manusia allahmu, I am your God so you only worship God, only serve Him, hanya menyembah kepada Dia, hanya kembalikan kemuliaan kepada Dia dan hanya melayani Tuhan, bukan yang lain. Biarlah semua hamba Tuhan, pendeta, majelis, waktu engkau mengerjakan sesuatu, ingat only serve God, not serving my own glory, my faith, my reputation, no, kita memuliakan Tuhan. Dengan demikian, Tuhan dipuaskan. Saudara-saudara, ini poin yang ketiga, Allah tidak pernah memperbolehkan kemuliaan-Nya direbut oleh orang lain, Allah tidak pernah memperbolehkan kita memberikan kemuliaan kepada dewa yang palsu mengganti Dia, karena Dia adalah satu-satunya Allah yang sejati.

Keempat, poin yang keempat, Kristus adalah wujud kemuliaan Allah yang terbesar, tersempurna, tersuci dan terakhir. Ini dicatat khususnya di dalam buku Ibrani 1: 1-3, “Dia adalah cahaya kemuliaan Allah yang memancar di dalam sejarah, Dia adalah cahaya yang iluminasikan kita semua, kemuliaan Tuhan Allah yang berwujud, the manifestation of the glory of God in Christ is so full, so glorious and so absolute.” Saudara-saudara, “engkau melihat Aku, maka engkau melihat Dia yang utus Aku. Engkau mengenal Aku, engkau mengenal Dia yang mengutus Aku. Barang siapa percaya kepada-Ku, bukan percaya kepada-Ku, percaya kepada Dia yang mengutus Aku.” Kalimat ini tidak keluar dari orang-orang yang lain di dalam bidang agama, hanya keluar dari mulut Yesus Kristus. When you see Me, you are seeing God; When you believe ini Me, you believe the One who send Me, God; When your worship Me, you worship God. Engkau melihat Aku, melihat kepada Tuhan Allah, maka pandanglah Kristus, renunglah Dia dan mengikuti Dia.

Saya mempaparkan 3 hal ini, Look upon Jesus, think about Him, and follow Him. Pernahkah engkau baca buku dalam sejarah ada seorang mengatakan, “datang, ikuti aku”? Tidak ada. Come and follow Me, follow My life, follow My model, itu satu-satunya, yang lain cuma mengajar kebenaran yang mereka tahu, tapi tidak pernah mengenai “ikutlah aku, ikutlah teladanku,” kecuali Yesus Kristus. Pada waktu Paulus mengatakan “ikutlah teladanku” dia tambah satu kalimat “sebagaimana aku sudah, megikuti teladan Kristus.” Jadi, dia bukan sumber. Paulus yang berani mengatakan hal yang sama, tambah satu kalimat, membuktikan dia bukan sumber. Tidak ada orang seperti Kristus. Kristus adalah suatu pernyataan wujud dari kemuliaan Allah yang kongkrit, yang mewahyukan, yang memanifestikan dalam dunia ada kemuliaan Allah, dimana? Bukan di dalam pendiri yang lain, di dalam Kristus. Maka, di dalam Buku Ayub mengatakan, “di antara begitu banyak kaum yang kudus, kepada siapakah Kau berpaling? You should turn to whom among those all the saints?” Begitu banyak orang klaim dia orang suci, orang suci, diantara semua orang suci ini kepada siapa, yang mana kau berpaling kepada dia? Aku langsung aku jawab, “to Jesus Christ.” Yesus Kristus mengatakan, “engkau juga pergikah?” Petrus menjawab, “kepada siapa kita pergi? Hanya kepada-Mu, karena Engkau mempunyai firman yang kekal. Karena Engkau mempunyai firman yang kekal, itulah sebabnya kami percaya dan kami ikut hanya kepada-Mu saja.” Yesus Kristus satu-satunya menyatakan kemuliaan Tuhan Allah, ini poin keempat.

Dan kelima, bagaimanakah kita bisa menjadi orang yang memuliakan Tuhan? Saya kira ini saya tidak akan mendetailkan, ini perlu 1 jam lagi, dari semua ayat-ayat yang paling penting. How to glorify God, bagaimana memuliakan Tuhan? Saya tadi mengatakan di Jawa Tengah pernah ada suatu angket dan saya baca memuliakan Tuhan itu ikut koor, tidak tentu. Waktu menyanyi pakai jubah yang bagus, setelah jubah turun banyak yang tidak karuan. Saudara-saudara, memuliakan Tuhan, menjadi pendeta? Tidak tentu. Di dalam abad ke-18, ada orang Perancis mengatakan “begitu banyak dosa yang ditulis di belakang  jubah pendeta, jubah kardinal, jubah bishop, jubah pemimpin-pemimpin gereja.” Waktu mereka pakai jubah, kelihatan suci tapi di belakangnya banyak yang tidak beres. Beberapa tahun ini engkau sudah mendengar banyak yang di-molest oleh orang-orang, pastur yang tidak bertanggung jawab. Ada child abused, ada sex abused dari pada homeseks, dan sebagainya yang terjadi di Amerika sampai mengehebohkan seluruh dunia, tapi pada waktu mereka menjalankan Perjamuan Suci, pakai jubah, kelihatan orang suci. Saudara-saudara, “sia-sialah kamu menyembah Aku dengan bibir mulutmu karena hatimu jauh daripada-Ku.” Yang Tuhan tuntut adalah hati yang bersih, motivasi yang suci dan kesungguhan untuk memuliakan Dia. Saudara-saudara, siapa memuliakan Tuhan? Bagaimana orang Kristen memuliakan Tuhan? Mari kita dengan serius, sekali lagi mengintrospeksi diri kita sendiri. Kalau saya melayani motivasinya apa? Supaya orang tahu saya? Supaya orang kenal saya? Supaya saya terkenal di seluruh gereja? Pendeta menyelidiki diri, majelis menyelidiki diri, semua yang melayani Tuhan menyelidiki diri, semua yang memberikan persembahan menyelidiki diri. Saudara-saudara, bagaimana kita memuliakan Tuhan? Disamping memuliakan Tuhan ada motivasi atau tidak sekaligus memuliakan diri? Kalau ada, setan sedang bekerja. Tidak gampang menjadi orang Kristen yang murni, yang sungguh-sungguh, tidak gampang kita menjadi orang yang suci seluruhnya di hadapan Tuhan, tetapi paling sedikit itulah tujuan, itulah sesuatu sasaran yang kita berdoa terus, “Tuhan, kerajaan-Mu dan kemuliaan-Mu, kerajaan-Mu dan kebenaran-Mu, itulah yang saya tuntut.” Jikalau engkau cari dulu kemuliaan kerajaan dan kebenaran Tuhan, maka yang engkau perlu akan ditambahkan kepadamu, demikian firman Tuhan. To glorify God.

Saudara-saudara, saya akan berbicara beberapa hal. Memuliakan Tuhan di dalam berbakti, glorify God in worshiping Him. Saudara-saudara, di dalam hal ini engkau bilang ‘Oh, kalau saya sering ikut kebaktian itu memuliakan Tuhan’? Tidak tentu. Saudara-saudara, dengan kesucian engkau menghias diri, lalu menyembah Tuhan, ini ayat ya. Banyak orang kalau ke gereja pakai yang paling bagus, tidak apa-apa, bagus. Setiap minggu pakai baju baru, yang beli dari pada Lafayette di Prancis, silahkan. Atau setiap kali you pakai yang paling baru Ferragamo atau pakai apa Versace, silahkan, tapi itu tidak penting, yang paling penting hias dirimu dengan kesucian, itu yang penting, holliness. Saudara-saudara, pakaian yang mahal itu bisa jutaan, bisa puluhan juta, tapi yang lebih mahal dari itu adalah kesucian. Hidup yang suci menjadi dasar engkau menyembah Tuhan. To worship Him with your holliness, amin? Menyembah Tuhan dengan kesucian, hidup suci lalu dengan kesucian engkau memberikan worship kepada Tuhan. Orang yang hidup dengan suci dan hidup menyembah Tuhan itu orang yang indah sekali. Saudara-saudara, perempuan yang merah, hijau, kayak kucing tidak terlalu cantik, tapi perempuan yang hidup suci itu cantik, meskipun tidak terlalu kelihatan bintang film tapi bintang film kalah jauh sama dia. Saudara-saudara, kadang-kadang saya lihat orang Kristen yang hidupnya suci, saya lihat indah sekali,  dibanding sama Elizabeth Taylor, jelek sekali. Elizabeth Taylor yang sudah nikah 7 kali, cerai mungkin 10 kali, tidak tahu cerai sama siapa yang tidak kelihatan, kayak begini cantiknya untuk apa? Itulah orang dunia, sangat menarik orang dunia. Tapi orang suci menarik perhatian malaikat-malaikat. Bahkan malaikat di Sorga akan menghargai kalau engkau menyembah Tuhan dengan hidup yang suci. Kita tidak secantik bintang film, kita tidak sekaya orang konglomerat yang dapatnya uang dari pada penipuan dan sebagainya, tapi paling sedikit kita punya hati yang suci, motivasi yang bersih menyembah Tuhan, itu suatu kemuliaan bisa kita kembalikan kepada Tuhan. Kemuliaan kepada Tuhan, to glorify God with your holliness in worship, ini pertama.

Kedua, memuliakan Tuhan dengan hidup sehari-hari, melalui karekter yang meneladani Yesus Kristus, to imitate Christ’s chraracter in your daily life to glorify. Bagaimana saya memuliakan Tuhan? Memuliakan Tuhan melalui hidupku yang mengikuti, meneladani Yesus Kristus di dalam karakterku. Yesus hidup keadilan, hidup kebajikan, hidup penuh dengan kemurahan, hidup dengan cinta kasih, hidup dengan kejujuran, hidup dengan sangat merendahkan diri dekat dengan orang yang memerlukan Dia, itulah cara memuliakan Tuhan. To glorify God in worship, to glorify God in ehtics, di dalam hubungan engkau dengan manusia, di dalam karakter sehari-hari, di dalam kebajikan. Kalau bisa tolong orang, tolong orang, tapi jangan diperalat; kalau bisa bantu orang, bantu orang, jangan memanja; kalau engkau bisa mengkorbankan diri menjadi berkat bagi orang, korbankan diri, tapi jangan merusak karekter orang lain. Saudara-saudara, segala kebajikan dikerjakan demi membangun bukan merusak, jika masih punya unsur secara tidak sadar merusak, engkau harus henti bantuan. Saudara-saudara, dan harus berbijaksana, membantu orang perlu bijaksana, memberikan uang, pertolongan kepada orang lain miskin perlu bijaksana, karena ada orang miskin yang akan dibantu uang akan menjadi makin miskin karena mereka tahunya menerima bantuan, tidak mau berjuang, tidak mau bekerja, bantuanmu akan melumpuhkan mereka, jangan bodoh. Saudara-saudara, jikalau orang dibantu tetap tidak sadar, makin lama makin malas, berhenti bantuan. Berbuat baik itu baik, berbuat baik tanpa bijaksana menjadi tidak baik. Saya heran, kenapa banyak orang yang agung dulunya miskin, tetapi banyak orang miskin tidak jadi orang agung? Kenapa banyak orang keturunan orang yang kaya sekali banyak yang rusak? Tidak semua. Dan, kenapa juga sebagian orang yang dilahirkan di yang kaya akhirnya sukses luar biasa dan baik sekali? Itu bukan kondisi yang menentukan akibat, tetapi sifat motivasi dan sesuatu niat perjuangan karakter yang menentukan. Bagaimana dia sandar kepada Tuhan, bagaimana dia sadar? Yang dilahirkan dari keluarga kaya, jangan sombong, jangan membanggakan kekayaan turunan, tapi biar engkau belajar bagaimana berjuang, bagaimana setelah berjuang tetap mengert kesulitan orang yang di dalam kesulitan. Saudara-saudara sekalian, melalui karakter sehari-hari, engkau mengikut teladan Kristus, engkau memuliakan Tuhan.

Ketiga, melalui pertuturan, kesaksian, perkataan, bahasa, engkau menjadikan kesaksian kebenaran untuk memuliakan Tuhan. To glorify God with your speech, which is teaching and manifesting the truth of God. Mengabarkan injil, memberitakan firman Tuhan, memberikan kalimat-kalimat membangun orang lain itu penting sekali. Dimana saja engkau berbicara, bicara kalimat-kalimat yang membangun. Jikalau engkau menegor, menegor dengan dengan cinta kasih bukan karena jengkel. Jikalau engkau mengkritik, kritik dengan konstruktif, bukan menjatuhkan. Jikalau engkau mengabar, kabarkan Kristus dan kebenaran-Nya, bukan mengkabarkan kebesaran dirimu. Jadi, ini beberapa poin yang besar yang memuliakan Tuhan, yaitu pertama, di dalam berbakti kepada Tuhan, di dalam bersekutu dengan orang lain, di dalam memberitakan kebenaran memuliakan Tuhan, dan terakhir di dalam apa yang kau kerjakan. Setelah engkau mati tetapi tinggalkan di dunia sebagai orang di dalam sejarah membuktikan pernah engkau mengerjakan sesuatu memuliakan Tuhan. To lives something beyond you, to iluminate the history, to teach in the generations to come, what are you doing is glorify God. Saudara-saudara, seumur hidup ini saya ingin sekali mengerjakan hal yang bisa bertahan, untuk apa? Untuk orang mengetahui bahwa Tuhan itu Tuhan yang setia, sehingga melalui iman kepada Dia, Dia sanggup memberkati pekerjaan yang bertahan. Semua orang bisa mati, kita semua akan pergi, apa yang kita kerjakan dengan tangan kita harap dipelihara oleh Tuhan, itu yang menjadi doa terakhir dari Mazmur 90, “yang ku kerjakan, kuatkan ya Tuhan.” Jikalau yang kita kerjakan adalah hal untuk diri kita sendiri, itu akan dirombak, dirobohkan; jikalau yang kita kerjakan adalah untuk memuliakan Tuhan, maka akan dipertahankan oleh Tuhan di dalam sejarah. Paulus sudah lama tidak ada, Petrus sudah mati, tetapi apa yang mereka kerjakan sampai sekarang masih kokoh, karena apa? Mereka mengerjakan hal yang memuliakan Tuhan. Saya sangat terharu dengan satu kalimat dikatakan oleh Pendeta Andrew Gih. Jadi tahun 25 mulai melayani Tuhan, tahun 86 dia mati, dia melayani Tuhan kira-kira 60 tahun dan dia mengatakan, “Selama aku hidup, aku membuktikan Tuhanku adalah Tuhan yang setia, sehingga melalui pelayananku, orang melihat, Allah yang setia hidup di dalam zaman kita.”

Mari kita kerja bersama-sama, mari kita membangun pekerjaan Tuhan sama-sama, mari kita membangun doktrin, iman, injil, menjadi gereja yang menyatakan our God is a faithfull God, our God is God of truth, God of love, God of righteousness through our ministry. Kiranya Tuhan memberkati kita. Hidup memuliakan Tuhan. Mari kita berdiri, membaca lagi 20,21 dan minggu depan saya tidak ada di sini, dan minggu satunya lagi kita akan mengkhotbahkan khotbah terakhir dari Ibrani ke-13 untuk menyelesaikan 4 tahun pentafsiran buku ini.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *