Pengaruh Reformasi pada Seni Budaya
Rm. 13:1-4
Vik. Lukman S.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, reformasi Protestan sangat berdampak dalam setiap aspek kehidupan. Reformasi Protestan tidak hanya berarti reformasi agama. Reformasi Protestan bukan hanya juga reformasi gereja saja. Tetapi reformasi yang bukan hanya arahnya secara internal, tetapi juga bersifat eksternal. Termasuk yaitu juga budaya. Kalau minggu lalu kita membahas yaitu tentang bagaimana pengaruh reformasi terhadap pemerintahan. Kalau secara sederhananya yaitu ada yang menyatakan demokrasi merupakan juga bagian pengaruh dari reformasi Protestan. Nah, hari ini kita akan bersama-sama merenungkan pengaruh reformasi Protestan dalam hal seni budaya, secara khusus yaitu musik.
Saudara sekalian, seringkali kita memahami teologi itu sepertinya terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Teologi itu sepertinya hanya urusan “mati masuk surga”, hanya urusan “moralitas belaka”, hanya urusan “saya ke gereja saja”. Itulah artinya teologi. Tetapi Saudara sekalian, di dalam reformasi Protestan, para teolog, para umat Tuhan yang sungguh mencoba menggumulkan terus kebenaran firman Tuhan, itu menyatakan bagaimana pembaruan doktrinal itu juga bertampak pada pembaruan setiap aspek kehidupan.
Saudara sekalian, itu doktrin-doktrin yang secara diringkaskan, itu di dalam reformasi yang mungkin kita kenal, yaitu misalnya lima Sola. Sola scriptura, sola fide, sola Kristus, sola gracia, solus Kristus, soli deo gloria. Itu Saudara sekalian, kita bisa melihat bagaimana itu sebenarnya juga berdampak di dalam kehidupan kita sehari-hari. Walaupun seolah-olah, seringkali kita memahaminya hanya dalam konteks agama saja. Protestan sendiri, Saudara sekalian, itu berarti adalah pro testari. Satu dorongan, satu komitmen untuk berpegang sesuatu yang teguh, kebenaran yang kokoh. Itu artinya Protestan. Walaupun ada juga yang memahami Protestan itu artinya “oh, itu protes-protes,” itu Protestan. Ya bisa juga. Kalau kita searching pemahaman Protestan itu bisa juga protes ya. Di dalam bahasa Inggrisnya. Tetapi ketika kita menggali lagi lebih jauh, pro testari itu artinya seorang atau sekelompok yang berpegang kepada sesuatu yang teguh. Dalam hal ini yaitu kebenaran Alkitab, sola scriptura.
Di dalam sepanjang sejarah umat Tuhan, di dalam sepanjang sejarah gereja Tuhan, gereja selalu memerlukan reformasi. Peristiwa reformasi seharusnya tidak hanya terjadi satu kali di dalam sejarah dunia atau sejarah gereja. Peristiwa reformasi harusnya terjadi setiap saat. Semboyan reformasi yang terkenal Saudara sekalian dalam bahasa Latin; “ecclesia reformata semper reformanda”. Masih ada lanjutannya, ini kita lupa, “Secundum verbum Dei”. Kadang-kadang kita hanya ingat, saya ingat dulu waktu belajar agama, ingatnya sampai umur berapa cuma ingat, “ecclesia reformata semper reformanda”, “ecclesia reformata semper reformanda”. Itu aja. Lalu teman-teman saya kasih tahu, teman-teman hamba Tuhan ini ya, koreksi itu bukan hanya berhenti sampai di situ, bukan hanya “reformanda” itu berhentinya. Tapi ada secundum verbum Dei. Gereja yang sejati adalah gereja yang terus membaharui dirinya menurut kebenaran Alkitab, ya. Secundum verbum Dei itu Firman Tuhan, “Verbum Dei”. Itu menurut kebenaran Alkitab.
Gereja yang sejati adalah gereja yang terus-menerus mereformasi dirinya. Peristiwa reformasi bukan hanya terjadi sekali. Peristiwa reformasi seharusnya terjadi berkali-kali di dalam hidup kita. Ketika kita terus, mau terus mau untuk tunduk kepada kebenaran Firman Tuhan. Dan peristiwa reformasi bukan hanya terjadi secara komunal, tapi juga secara individual kepada setiap pribadi kita. Saudara sekalian, gereja perlu mereformasi diri terus-menerus. Bulan reformasi bukan hanya peringatan masa lampau. Bulan reformasi mendorong kita untuk terus-menerus mereformasi diri kita menurut kebenaran firman Tuhan.
Saudara sekalian, banyak sekali kelemahan dari gereja Tuhan. Nggak ada gereja yang sempurna, selama kita hidup di dunia ini. Dan kita, ya, bisa dikatakan nggak akan pernah bertemu namanya gereja yang sempurna. Selalu banyak hal yang mempengaruhi gereja. Baik zaman dulu sampai sekarang. Baik abad pertengahan di mana Luther itu muncul dan banyak teolog-teolog itu muncul, konteks dari reformasi Protestan sendiri, sampai juga sekarang ini. Gereja Tuhan masih begitu banyak pergumulan, baik pergumulan dalam dosa, baik dari hamba-hamba Tuhan yang bergumul dalam dosa, baik umat Tuhan yang terus-menerus juga bergumul dalam dosa, terus-menerus bergumul tentang keuangan, misalnya. Bergumul misalnya menggantikan Kristus dengan hal-hal yang lain, termasuk juga agama Kristen sendiri. Saudara sekalian maka gereja perlu terus mereformasi dirinya.
Demikian juga Saudara sekalian, konteks dari reformasi Protestan di dalam tahun 1500-an, 1400-1500-an, yaitu di mana gereja Tuhan itu kemudian begitu bobrok, begitu rusak. Rusaknya dalam hal apa? Banyak hal. Tapi paling tidak yang mungkin bisa kita highlight, yang mungkin juga kita bisa terus ingat, yaitu misalnya dalam doktrin keselamatan, misalnya. Di dalam gereja abad pertengahan yang kita sebut dulu yaitu gereja Roma Katolik ya. Ini gereja abad pertengahan kalau saya cerita sejarahnya itu panjang, Saudara sekalian. Abad pertengahan itu tahun 400-an sampai 1400-1500-an gereja di Eropa, ya. Jadi di Eropa. Kalau dulu tahun 400-an sampai 1500-an di Indonesia itu masih zamannya apa? Kerajaan-kerajaan,ya. Belanda itu masuk kapan? 1500-1600-an ya. Itu Belanda masuk, Portugis, Spanyol masuk kira-kira tahun demikian juga. Eksplorasi terhadap dunia itu terjadi, ingat peristiwa Columbus dan seterusnya, itu 1500-an, ya. 1490-an sekitar begitu, ya. Jadi 1400-an menjelang 1500-an mulailah Eropa itu terbuka, untuk mengeksplor lagi dunia.
Nah, ini banyak sekali dasar pemikirannya, ya, mengapa seperti itu. Tapi Saudara sekalian, kita bisa melihat bagaimana kekristenan di Indonesia juga pengaruh, juga ada dampak dari peristiwa reformasi itu sendiri. Bisa dikatakan, bisa dikatakan, mungkin, mungkin ini terlalu, ya, mungkin ada orang yang akan memandang terlalu berlebihan, tapi saya rasa tidak, mungkin kalau tidak terjadi reformasi, tidak terjadi penginjilan ke bangsa-bangsa selain bangsa Eropa. Tidak terjadi terjemahan-terjemahan Alkitab ke bahasa lain. Tapi keren juga, ya, kita di sini nanti jadinya bahasa Latin semua Alkitabnya, ya. Kita sebarin Latin semua, gitu ya. Ya bisa dikatakan demikian. Jadi reformasi juga sebenarnya berdampak pada misi. Nah tapi di sini, di dalam bulan ini kita belum masuk dalam hal itu.
Saudara sekalian, di dalam sejarah gereja di Eropa di abad pertengahan, ada penyimpangan secara doktrinal keselamatan, doktrin keselamatan, yaitu adanya api penyucian. Adanya dosa itu kemudian harus dihukum, dan orang itu nggak bisa langsung “masuk surga” atau memperolah hidup kekal. Tapi melalui yang namanya dulu api penyucian. Nah Saudara sekalian, ini namanya dulu kalau istilahnya yang kita kenal itu purgatori, api penyucian. Di mana menurut gereja Roma Katolik ya, di dalam konteks abad pertengahan dan mungkin juga sampai dengan saat ini, ada tempat di mana mereka masa menunggu untuk masuk surga, masa menanti, apakah berapa lama mereka cepatkah masuk ke surga, atau lebih lamakah masuk surga itu ditentukan oleh perbuatan baik dari orang-orang yang hidup.
Saudara sekalian, kalau ada keluarga kita yang mati di dalam konteks waktu itu, di dalam konsep api penyucian, ada keluarga yang meninggal itu nggak langsung masuk surga tapi masuk namanya api penyucian atau purgatori. Lalu gimana keluarga ini supaya bisa masuk surga? Harus ada keluarga yang hidup yang menolong. Di mana keluarga yang hidup dan menolong itu dengan memberikan persembahan. Saudara sekalian, gereja kemudian memakai ketakutan orang untuk hukuman neraka dan keinginan orang untuk memperoleh hidup kekal atau surga itu dipakai untuk mengambil keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Ini satu pemahaman yang salah, keselamatan menjadi tujuan akhir, tujuan tertinggi. Maka saya harus melakukan apapun untuk mencapai keselamatan itu; termasuk juga perbuatan baik, ritual, membayar sedekah, menolong orang dan seterusnya.
Konsep doktrin yang salah bukan hanya tentang api penyuciannya tetapi memahami keselamatan sebagai tujuan akhir. Bukankah Saudara-saudara kita bisa melihat agama-agama juga seperti itu. Agama-agama melihat keselamatan sebagai tujuan akhir. Agama-agama yang lain ya, selain daripada Alkitab, itu melihat keselamatan adalah sesuatu yang harus kita capai, suatu akhir yang harus menjadi tujuan dari kehidupan manusia semuanya. Maka kita harus bekerja keras, berusaha, melakukan segala perbuatan baik, segala upacara ritual keagamaan kita lakukan untuk mencapai keselamatan jiwa kita. Maka Saudara sekalian, hal ini digunakan secara salah.
Nah apa sih dasarnya? Salah satu ayat yang mendasari pemikiran bahwa dengan saya memberikan harta saya, lalu kemudian itu kita di selamatkan atau kita menjadi sempurna, orang di api penyucian itu bisa masuk surga, dasarnya ayatnya mana? Salah satu dasar ayat yang digunakan oleh gereja Roma Katolik waktu itu Mat. 19:21. Mari kita buka Mat. 19:21, saya akan membacakannya bagi kita sekalian. Mat. 19:21 demikian firman Tuhan, ”Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Wah ayatnya apa artinya? Kalau mau sempurna apa? Jualah hartamu lalu engkau akan sempurna, berikanlah pada orang miskin hartamu itu, engkau akan memiliki harta surga.
Nah ini bener nggak artinya itu, kalau kita baca itu pemahamannya seperti itu ya? Jikalau engkau mau sempurna, jual hartamu berikan orang miskin engkau akan memperoleh harta di surga. Ayat ini ditafsirkan oleh Roma Katolik yaitu maka pakailah hartamu untuk engkau bisa sempurna itu dengan memberikannya kepada gereja Tuhan. Nah arahnya salahnya di situ, bukan ke orang miskin, gereja Tuhan. Padahal gereja Tuhan miskin nggak waktu itu? Nggak. Gereja Tuhan waktu itu nggak miskin. Kenapa Saudara sekalian? Kerajaan, itu para raja, para pemimpin-pemimpin pemerintahan itu banyak mendukung gereja Tuhan. Setiap kali kalau Raja ingin berperang lalu kemudian datang, salah satunya, harus datang kalau orang dulu itu datangnya kepada dukun, atau tanya nih, dewa kita mengijinkan kita berperang nggak, ini hari baik untuk berperang nggak, gitu ya. Datang kepada orang-orang ya itu tadi dukun misalnya. Tapi waktu abad pertengahan akhir, datangnya ke gereja. Lalu datang ke gereja, lalu kemudian Raja, gereja itu bilang, wah biasanya itu selalu kabar baik atau kabar buruk? Biasanya seringnya kabar buruk dulu sih, supaya untung. “Wah sepertinya besok itu bukan hari baik, tapi kalau kalian bisa memberikan ini untuk Tuhan, wah, nanti kami akan berdoa dan Tuhan akan mendengarkan, nanti mendapat kemenangan.” Biasanya begitu sih, nggak kabar baik dulu.
Beda kalau Injil apa? Bukan kabar buruk dulu, tapi baik dulu. Injil itu percaya Yesus masuk surga. Gitu ya kira-kira ya. Percaya Yesus engkau selamat. Kerajaan Allah sudah dekat bertobatlah. Kerajaan Allah sudah dekat, percaya pada Yesus. Itu kan Injil, kabar baik. Tetapi gereja menggunakan ini, untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Ada orang sakit, di dalam konteks abad pertengahan, orang sakit bukan datang misalnya ke dokter, karena dokter dicurigai dulu. Itu ahli kimia dokter itu. Itu dicurigai seperti penyihir, padahal bukan penyihir. Itu sangat dicurigai. Padahal dia mencampur-campur, jadi ada berasap-asap misalnya gitu ya. Lalu ini semua, wah ini ramuan apa ini, ini sesat. Ini bidat. Jadi orang itu pada ketakutan. Akhirnya datangnya ke bukan ke situ tapi ke gereja. Itu mirip praktek-praktek di gereja tertentu. Sakit bukan datang ke dokter tapi ke gereja, minta minyak urapan, minta ditumpang tangan dan seterusnya.
Saudara sekalian itulah abad pertengahan akhir, ketika orang sakit datang lalu minta tolong ke gereja, kembali lagi gereja bilang, ayo berikan persembahan lagi. Ya tentu bahasanya nggak seperti itu, bahasanya halus ya. Saudara sekalian, kita bisa melihat di sini, Mat. 19:21, ini Alkitab ya, tapi ditafsir secara salah. Mat. 19:21, bukan maksudnya seperti itu, maksud Tuhan Yesus engkau sempurna bukan tentang menjual harta, engkau sempurna ketika engkau sungguh mengasihi Allah lebih daripada hartamu. Engkau sempurna ketika engkau sungguh mengasihi sesama lebih daripada hartamu. Jadi persoalan di sini yang Tuhan Yesus tegur adalah tentang berhala dari orang muda ini, dan tidak semua orang dituntut Tuhan hartanya, karena tidak semua orang menjadikan hartanya sebagai berhala.
Saudara sekalian, ada orang yang menjadikan hartanya sebagai berhala maka Tuhan tuntut. Lalu Tuhan menjadikan hartanya sedemikian rupa mengambil hartanya dengan berbagai macam cara. Ada orang-orang yang hartanya adalah anaknya. Abraham, Tuhan nggak tuntut harta kepada Abraham. Abraham kaya tapi Tuhan nggak tuntut. Karena tidak semua orang kaya ilahnya itu adalah hartanya. Abraham berhalanya itu adalah anaknya, maka Tuhan tuntut anaknya, “Berikan kepada-Ku.” Saudara sekalian, ini adalah tentang berhala, bagaimana kita mengasihi Tuhan lebih dari apa pun, mengasihi sesama lebih daripada diri kita dan harta dan kepemilikan kita. Jadi bukan tentang materi apalagi materinya diberikan ujungnya ke gereja lagi. Ini tafsiran yang sangat salah.
Saudara sekalian, gereja abad pertengahan, gereja Roma Katolik abad pertengahan begitu kaya, bahkan bisa dikatakan sampai sekarang begitu kaya. Maka support, dukungan untuk cabang-cabang gereja itu begitu besar. Bagaimana bisa? Saudara sekalian, mungkin ada yang pernah ke Eropa atau misalnya belum, lihat di internet, cari gereja katedral-katedral: begitu megah, begitu mewah. Dan Saudara sekalian, kalau dulu itu misalnya kayak perjamuan kudus, ya, gelasnya itu ada lapisan emasnya, peraknya, semua hal yang begitu mahal. Gereja begitu kaya. Gereja bukan “miskin”. Maka sangat salah kalau dikatakan itu memberi kepada miskin akhirnya kepada gereja.
Seorang bernama Tetzel, ya, ini mengatakan – ini seperti marketing, ya, biarawan tapi marketing, marketing-nya bagus banget lagi, mantapnya– “Ketika engkau memberikan uang – ya, uang dulu, bukan uang kertas maksudnya, tapi uang ini, ya uang logam, ya – Ketika engkau memberikan uang koin, ya kepada gereja. Ketika uang itu jatuh ke dalam kotak persembahan dan berbunyi ‘tring’ maka saat itu juga keluargamu atau temanmu yang ada di api penyucian di purgatori lompat ke sorga!” Wah, marketing-nya luar biasa, ya? Haha, gimana lho, ya? Wah, semakin senang, kan? Kita membayangin, wush! Dia lompat gitu ya, ke surga, wah! Tetzel, Saudara sekalian, ya ini memang seorang orator yang begitu luar biasa. Biarawan yang begitu luar biasa. Sangat menggugah dan menggerakkan orang. Sangat dramatis. Dia menggunakan api, tangannya kebakar dan semua, wah, begitu atraktif Saudara sekalian. Tapi keselamatan? Bukan demikian yang diajarkan Alkitab, keselamatan.
Mengapa sih purgatori itu jadi laku? Api penyucian itu menjadi laku? Karena banyak orang saat itu melihat keselamatan sebagai tujuan akhir! Saudara sekalian salah satu yang di dalam institusi atau lembaga di dunia ini yang begitu banyak menggunakan uang, yang begitu mudah menggerakkan orang, salah satunya yaitu agama! Saudara sekalian lihat! Banyak perang yang terjadi, “agama”. Perubahan-perubahan di satu negara, “agama”, ya. Mengapa sih? Masalahnya bukan hanya soal agamanya salah, itu memang masalah. Masalahnya ini: orang melihat keselamatan sebagai tujuan akhir, itu masalahnya!
Kalau keselamatan sebagai sudah sebagai tujuan akhir, Saudara sekalian, kita, itu seperti satu pencapaian. Maka kita ingin melakukan apa pun untuk mendapatkan piala itu. Seperti kita berlomba-lomba di dalam kompetisi. Mengapa sih kalau nyanyi di paduan suara, di gereja, ya, di gereja saja yang nyanyinya di ibadah minggu biasanya tuh kurang semangat, ya. Biasanya. Oh, kalau paduan suara GRII Jogja sih semangat apalagi yang melatihnya Vik. Lukman, semangat, ya, bercanda. Ini semangat, ya gereja-gereja. Tapi saudara sekalian, coba lihat di gereja-gereja sekitar. Mengapa, ya gereja-gereja itu ada penurunan di dalam paduan suara? Ini sebelum adanya “perlombaan”. Mengapa? Karena seperti nggak dapat piala kan? Nyanyi dapatnya bukan piala, dapatnya apa? Kritikan, ya kan? Nyanyi fals, ya. Nggak dapat tepuk tangan, ya jadi orang tuh kurang semangat. Tapi kalau sudah ada perlombaan, ada pialanya – uang lah, penghargaan lah, kehormatan lah – semangat langsung. Latihannya bisa setiap hari. Ini mengapa? Karena ada pialanya sebagai tujuan akhir.
Segala sesuatu yang kita lihat sebagai tujuan akhir mungkin baik membuat kita semangat tapi bisa manipulatif, bisa dimanfaatkan. Demikian juga ketika kita melihat keselamatan sebagai tujuan akhir, kita bisa melakukan apa pun untuk kita selamat. Agama-agama seringkali seperti itu. Saudara sekalian, ingat Saulus? Dia ingin selamat maka dia mau membunuh, menganiaya agama-agama lain, ya, orang-orang lain. Begitu banyak orang mengatasnamakan agama untuk mendapatkan piala keselamatan, melakukan apa pun: menjual hartanya bahkan sampai – ini hal yang mungkin secara kayaknya positif – sampai bahkan melukai orang lain untuk mencapai keselamatan. Ini masalahnya, Saudara sekalian.
Ketika Martin Luther bergumul, di tengah pergumulannya dia menemukan satu ayat yang menginspirasinya: Roma 1:17. Mari kita buka Roma 1:17, mari kita membaca ayat ini bersama-sama, Roma 1:17. “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman seperti ada tertulis: ‘orang benar akan hidup oleh iman’.” “Orang benar akan hidup oleh iman” ini begitu menggugah Martin Luther. Ketika dia menjadi biarawan, dia terus melakukan banyak hal: berdoa dan banyak hal dia lakukan untuk mencapai, mendapatkan piala keselamatan itu. Tetapi dia terus gelisah dan dia terus menemukan selalu gagal, selalu jatuh dalam dosa. Dan di dalam pergumulannya di antara 1513–1518, dia menemukan ayat ini, Roma 1:17, “Orang benar hidup oleh iman.” Berarti bukan perbuatan baik tetapi iman yang menyelamatkan! Karena iman lah: iman kepada siapa? Yaitu kepada Tuhan Yesus Kristus. Jiwanya begitu penuh sukacita, begitu damai sejahtera, dan kemudian dia belajar dari situ: kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik tetapi karena iman di dalam, kepada Tuhan Yesus Kristus.
Saudara sekalian, ini menjadi titik awal bagaimana kemudian doktrin ini, pembaruan doktrinal ini berpengaruh kepada kehidupan, setiap aspek kehidupan. Ketika kita dengan iman kepada Tuhan Yesus Kristus, kita memperoleh keselamatan. Artinya keselamatan bukan menjadi tujuan akhir lagi, keselamatan justru menjadi titik awal kita menjalani hari-hari kita untuk serupa dengan Kristus.
Saudara sekalian, reformasi begitu menekankan keselamatan adalah titik awal untuk kita hidup sejati: hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Saudara sekalian, kenapa? Karena keselamatan adalah karena pengorbanan Kristus, karya Kristus, bukan karya saya tetapi saya terima di dalam iman kepada Tuhan Yesus yang mati tersalib itu sehingga keselamatan itu dianugerahkan kepada saya di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus untuk saya dapat menjalani hari-hari saya sesuai dengan kehendak Tuhan. Saudara sekalian, mungkin hal ini sepertinya sederhana, ya tapi ini begitu penting. Alkitab menegaskan berkali-kali: keselamatan bukan tujuan akhir tapi titik awal kita untuk serupa dengan Kristus.
Mari kita buka Yoh. 3:3, saya akan membacakannya bagi kita sekalian, “Yesus menjawab, kata-Nya: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”” Tuhan Yesus menggunakan, di sini, istilah “kelahiran baru”. Orang diselamatkan artinya seperti lahir kembali, mengawali hidup lagi, bukan mendapatkan hidup kekal di akhir tetapi justru di awal. Saudara sekalian, kita sangat salah kalau melihat hidup kekal itu adalah di akhir. Ketika Alkitab mengatakan “percaya kepada Tuhan Yesus maka kita akan memperoleh hidup yang kekal”, itu artinya kita sudah peroleh ketika kita titik percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Ketika kita sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan Yesus, itu sudah kita peroleh, hidup kekal itu. Bukan di akhir. Dan apa artinya hidup kekal itu? Hidup bersekutu di dalam Kristus, bersatu di dalam Dia, bertumbuh di dalam Kristus, hidup seturut dengan kehendak-Nya, hidup semakin serupa dengan Kristus. Seperti lagu ketiga tadi.
Saudara sekalian, keselamatan itu adalah titik awal untuk kita menjalani hari-hari kita. Saya ingat ya, ini Pdt. Stephen Tong berkali-kali dulu mengatakan ya tentang alfa poin, omega poin. Jadi diajarkan kalau kita melihat sesuatu, lihatlah 2 perspektif ini, jangan selalu lihatnya omega poin. Kalau kita lihatnya khotbah, kita lagi pelayanan misalnya – ini waktu itu konteksnya bicara dengan ke hamba Tuhan ya – kalau khotbah, itu jangan lihat “akhirnya saya khotbah”. Bukan! Khotbah itu, ketika itu menjadi titik awal, pertama kali khotbah pasti persiapannya sungguh-sungguh banget. Saya ingat pertama kali khotbah itu, pertama kali khotbah saya bukan di GRII tetapi waktu KKR regional di gereja di Sumba yang umur gereja nya 98 tahun waktu itu. Wah ini gereja nya luar biasa, gereja yang senior sekali. Lalu sudah bagi-bagi tugas, lalu kemudian, ya akhirnya nggak ada orang lain lagi ya saya. Jadi pilihannya karena nggak ada orang lain lagi begitu ya. Waduh, saya ini. Bagaimana. Waktu itu yang memimpin juga Vik. Dewi, istrinya Pdt. Jimmy, dan beberapa teman hamba Tuhan. Persiapannya itu wah, sungguh-sungguh banget. Doa, sampai deg-degannya itu sampai sebelum khotbah berapa hari sudah deg-degan. Itu persiapan sungguh-sungguh. Itu awal khotbah ke gereja yang 98 tahun. Khotbah apa. Sudah tahu itu dari Kejadian sampai Wahyu mungkin ya, sudah dibahas. Bagaimana ini. Itu persiapan sungguh-sungguh.
Saudara sekalian, Pak Tong mengatakan ketika kita berkhotbah, khotbah lah seperti titik awal. Persiapannya sungguh-sungguh. Bukan seperti khotbah seperti sudah mau selesai. Tapi ada poin lagi, Pdt. Stephen Tong katakan, omega poin itu penting. Khotbah lah sebagai khotbah yang terakhir. Kalau ini khotbah terakhirmu, kamu katakan apa kepada orang-orang? Ini seperti Charles Spurgeon, khotbah seperti kepada orang yang sudah mau mati. Saudara sekalian, titik awal, titik akhir itu begitu penting. Gereja Roma Katolik dan agama-agama kebanyakan melihat keselamatan sebagai titik akhir tetapi Alkitab menekankan bahwa keselamatan adalah titik awal kita hidup bagi Tuhan.
Saudara sekalian, ini waktu sudah kira-kira hampir 1 bulan saya sudah menikah ya, hidup bersama dengan istri saya, Kurnia Dwijayanti. Masih masa-masa 1 bulan ini, tanggal 14 September. Masih ingat ya, ini 13 Oktober kan. Jadi pas 1 bulan dikasih khotbah. Itu di dalam kedaulatan Allah terjadinya. Tapi saya merenungkan itu, wah ini pas banget ya. Saya masih ingat waktu saya menyampaikan undangan kepada hamba-hamba Tuhan ya. Banyak orang, bukan hanya tahun ini, tapi sebelum-sebelumnya dulu, banyak orang itu tanya saya, “Kapan nikah sih Lukman?” Dari yang senior, sampai teman-teman sebaya. “Kapan nikah man?” Saya selalu bingung jawabnya waktu itu, karena kita nggak tahu masa depan kan. Kok ditanyain kapan nikah begitu ya, “Ya sudah ada sih pasangan, tapi belum tahu kapan nikah.” Sampai akhirnya tahun ini saya undang-undang itu, saya undang teman-teman, hamba Tuhan, “Ini undangan nikah.” Mereka rata-rata bilang, “Akhirnya!” Waktu saya masih ingat, waktu undangan sampai ke Pdt. Stephen Tong. Dengan Nia juga sampaikan undangan. “Permisi Pak Tong, ini saya mau sampaikan undangan.” “Oh, mana istrimu?”, “Ini calon istri.” Doakan dan seterusnya. Ada hamba Tuhan di samping pak Tong, “Puji Tuhan”, maksudnya akhirnya, puji Tuhan.
Saudara sekalian, banyak orang bilang “akhirnya”. Saya selalu kalau saya bisa ngomong, kenapa sih akhirnya? Ada teman hamba Tuhan bilang “akhirnya”, saya bilang kenapa sih akhirnya? “Ya bukan begitu man, akhirnya, maksudnya kami itu banyak doain kamu lho.” Wah saya langsung trenyuh lho, bersyukur ya banyak orang yang doain. Mendoakan untuk bisa nikah. Tapi Saudara sekalian, salah kalau kita melihat nikah itu menjadi akhirnya. Seolah-olah saya sudah studi dari SD, SMP, SMA, kerja, kayanya kalau belum nikah itu ada yang kurang begitu. Lalu sudah nikah, akhirnya dapat piala. Aduh, pernikahan adalah piala bagi saya. Pencapaian bagi saya. Bahayanya apa? Waktu sudah nikah, nggak melakukan apapun. Nggak mau improve diri, kamu harus terima saya apa adanya. Waktu sebelum nikah, ngejar semangat. Sudah nikah, akhirnya dapat, sudahlah, sudah terikat nikah. Jadi saya bisa bebas. Saya bisa kentut sembarangan. Dulu kentut malu-malu. Ya kan. Saya bisa ngomong marah-marahin dia sembarangan. Apalagi nikahnya di gereja, bukan hanya di catatan sipil. Di gereja, ini sakral, ini dosa lho kalau cerai. Nah itu, wah ini salah Saudara sekalian. Kalau kita melihat menjadi titik akhir, maka kita sudah selesai kalau sudah dapat. Nggak mau berjuang lagi.
Saudara sekalian, yang sudah nikah ini bertahun-tahun, lihatnya masih titik awal atau titik akhir ini? Saudara sekalian, demikian juga Gereja Reformed Injili Indonesia di Yogyakarta, itu mempunyai perjuangan begitu panjang ya untuk mempunyai gedung. 28 tahun. Ini nggak sih, dari 2 tahun lalu, tapi baru jadinya kan, kebaktian inaugrasi, dedikasinya itu sesudah umur 28 tahun. Begitu panjang. Waktu saya awal-awal datang, saya masih ingat ini, Pdt. Dawis, waktu itu Pak Veri juga, waktu itu Pak Patria, ada Pak Taufik yang senior-senior, pengurus itu cerita waktu saya datang itu lagi perjuangkan IMB. Lalu lagi berjuang IMB, terus cerita bagaimana sudah mencoba berkali-kali; perjuangan begitu panjang, begitu susah, ya. Lalu, kalau sudah dapat bagaimana? “Akhirnya saya dapat gedung!” Sudah selesai, dong, perjuangan? Eh, kecele kita. Pak Tong bangun kursinya 700 orang, nggak jadi akhirnya, ya. Nggak jadi akhirnya! Waduh, ya! Kenapa? Saya percaya, Pak Tong itu sengaja, lho, Saudara, karena punya gedung itu bukan akhirnya. Punya gedung itu awal perjuangan. Saudara sekalian, sayang sekali, tapi susah karena kita sudah 28 tahun, ya, nggak melihat lagi sebagai titik awal, ya, kan? Sudah dewasa, 28 tahun, nggak bisa titik awal lagi. Sama nikah di umur 30 lebih, nggak bisa awalnya lagi, tapi akhirnya jadinya. Punya gedung gereja bukan akhirnya, tapi awalnya. Saudara sekalian, ini penting.
Demikian juga, ketika reformasi merombak ini, keselamatan adalah titik awal, termasuk juga pembaruan di dalam hal aspek kehidupan. Banyak hal termasuk kebudayaan. Hal sederhana, Saudara sekalian, wujud sederhana pembaharuannya misalnya, dalam hal berpakaian. Sebelum kita masuk ke dalam musik, ya, Saudara sekalian. Berpakaian. Pakaian kayaknya sederhana, ya, tapi para reformator, walaupun dia tidak terlalu menekankan pakaian dan tidak terlalu sering menyebutkan, tetapi sangat memperhatikan juga berpakaian.
Mengapa, sih, warna merah maroon menjadi warna khas dari reformed? Karena Martin Luther ketika pelayanan sering memakai pakaian merah maroon. Ya, itu! Lalu, kenapa dia sering memakai warna merah maroon, merah tua. Mengapa? Karena merah tua itu simbol kehormatan. Kita sebagai seorang yang percaya kepada Kristus adalah orang yang berdosa yang memperoleh kehormatan di dalam Kristus. Itu ada maknanya. Jadi bukan sekedar, Oh, karena Pdt. Stephen Tong suka merah maroon, nih! Nggak! Oh, karena hamba-hamba Tuhannya suka merah maroon, nih! Nggak! Ini hampir mewarnai, ya, merah maroon, ya, semuanya, ya. Itu warna kehormatan, Saudara sekalian. Artinya, kita sudah memperoleh kemenangan di dalam Kristus, penebusan di dalam Kristus melalui iman, maka kita adalah orang-orang yang berdosa yang memperoleh kehormatan di dalam Kristus. Ini warna para-kalau bahasanya-aristokrat pada waktu itu, dipakai oleh Martin Luther. Walaupun dia tidak terlalu menekankan, dia tidak sebut, tapi seringnya khotbah, ya, makai, makai, gitu, ya. Orang jadi mengidentikkan ini juga. Ini gerakan budaya dalam hal pakaian.
Lalu, bagaimana dengan musik? Saudara sekalian, Martin Luther itu adalah seorang yang sangat juga menyukai musik, sangat juga bertumbuh di dalam lingkungan yang “sangat musik,” ya. Saudara sekalian, apa, sih, dasar mengapa dia itu bisa sangat menekankan musik? Mari kita buka Roma 10:17. Roma 10:17. Mari kita baca bersama-sama. Demikian firman Tuhan: “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Maka, Martin Luther melalui ayat ini menyatakan orang Kristen itu ditentukan oleh apa yang dia dengar. Orang Kristen ditentukan oleh apa yang dia dengar karena iman datang dari pendengaran. Fides ex auditu. Iman keluar dari pendengaran. Iman bertumbuh karena dengar apa? Iman semakin hancur karena dengar apa? Pendengaran mempengaruhi iman kita, Saudara sekalian. Pendengaran begitu penting. Martin Luther menyatakan ini. Bagaimana iman itu muncul dari pendengaran. Maka, apa yang kita dengar itu begitu penting.
Waktu zaman itu, Saudara sekalian, ada pergumulan sebagaimana pergumulan kita sekarang. Orang Kristen waktu awal-awal reformasi bergumul. Apa, sih, yang harusnya orang Kristen itu dengar? Musik seperti apa sih yang dibuat? Lalu, musiknya itu dinyanyikan atau dimainkan? Musiknya itu yang di gereja atau di sekolah atau di tempat lain? Musiknya itu dalam bentuk unison, 1 suara atau banyak suara, polyphonic? Musiknya itu misalnya dalam bahasa Latin atau bahasa sehari-hari, lagunya itu? Ini pergumulan yang juga mewarnai baik dulu sampai dengan sekarang ini. Mengapa? Karena pendengaran itu begitu penting.
Maka, Saudara sekalian, gereja sempurna nggak ada, tetapi kita harus mencari gereja yang melaluinya kita mendengarkan sesuatu yang membangun iman kita. Bukan soal gedungnya. Saudara sekalian, jangan datang ke GRII Yogyakarta karena gedungnya, tapi datanglah karena mendengar sesuatu yang membangun iman, Saudara sekalian, membuat kita semakin kagum kepada Kristus, membuat kita semakin berharap kepada Kristus, membuat kita semakin percaya lagi kepada Kristus. Saudara sekalian yang masih suka jalan-jalan, masih bingung cari gereja, tipsnya apa, sih? Saya kasih tahu. Ya, ini. Roma 10:17. Apa yang kita dengar dari gereja itu? Membangun imankah? Sesuai kebenaran firmankah? Membawa kita semakin dekat dengan Kristuskah? 2 hal kita dapatkan ini dari khotbah dan dari nyanyian. Iya, kan? Dari khotbah dan dari nyanyian!
Saudara sekalian, maka Martin Luther dan para reformator sangat menekankan pendengaran akan Firman yang disampaikan melalui khotbah maupun melalui nyanyian. Ada orang-orang yang berpandangan di antara 3 reformator, Martin Luther, Calvin, lalu Zwingli, di antara 3 ini, biasanya orang lihat dari 3 ini yang paling pintar musik itu Zwingli. Dan memang, kalau dalam sejarahnya, dia penyanyi, pemusik, tapi akhirnya jadi nggak suka ada nyanyian di dalam ibadah, ya. Nah, tapi, ternyata kalau pelajari sejarah lagi, Martin Luther juga ternyata adalah orang yang sangat-sangat diwarnai oleh musik hidupnya. Dari kecil, ibunya sering menyanyi bagi dia; ayahnya sering menasehati, “Daripada kamu mabuk-mabukan, lebih baik kamu bernyanyi!” Nah, tapi, masalahnya ada orang mabuk-mabukan sambil bernyanyi juga. Ya, kan, misalnya gitu. Tapi, Saudara sekalian, ayahnya juga menasehati dari kecil seperti itu. Dari keluarga yang sederhana, lah. Keluarga menengah, lah. Lalu, dia masuk ke dalam 1 sekolah yang di mana dulu di sekolah itu terbagi ada kurikulumnya trivium dan quadrivium. Trivium itu ada isinya bahasa, logika, dan juga retorika. Nggak ada hubungannya, ya, dengan nyanyi. Tapi ternyata, di dalam trivium untuk menghafalkan kalimat-kalimat itu menggunakan musik, sehingga ketika dia belajar, waktu masih kecil, ya, itu umur 7 tahun, dia belajar di kurikulum trivium- jadi ada umur sekian itu trivium, lalu umur sekian quadrivium-dia juga belajar baca not, bahkan sight reading, sight singing. Itu kalau lihat not angka langsung bisa baca, nyanyi gitu. Dia belajar dari umur 7 tahun seperti itu dan ketika dia umur 14 tahun, dia juga dikatakan begitu senang bernyanyi sampai, karena dia dari keluarga yang sederhana, dia diizinkan untuk bisa memperoleh uang untuk sekolahnya itu dengan bernyanyi keliling, ya. Kalau bahasa sekarang pengamen, gitu ya. Dia nyanyi diizinkan sekolahnya. Ya, kalau suaranya jelek kan nggak diizinkan karena memalukan sekolah, kan. Ya, jadi diizinkan sekolah nyanyi, “Silahkan nyanyi keliling”.
Sampai suatu ketika ada seorang namanya Ursula, seorang bangsawan, itu mendengar suara Martin Luther kecil umur 14 tahun. Ini laki-laki ya, tapi kalau anak-anak itu suaranya memang masih satu suara, ya, paling banyak dua suara. Dan suaranya itu tinggi. Jadi Martin Luther itu punya suara sopran. Sopran yang halus, yang tinggi. Ya, Bu Ursula ini kemudian begitu senang, lalu kemudian dia mau membiayai — menjadi mengadopsinya ini ya — wali dari Martin Luther. Ya, mendukung biaya sekolahnya. Waktu Martin Luther kuliah, Saudara sekalian, ketika dia umur 18 tahun, dia masuk kuliah. Dia terkenal di kalangan mahasiswa sebagai sang filsuf dan sang musisi. Jadi sudah terkenal, ya, sebagai musisi dan filsuf juga. Lalu kemudian dia masuk ke biara, menjadi biarawan. Dia di situ kemudian belajar lebih lagi tentang musik. Dan dia belajar bagaimana musik secara praktis itu begitu penting. Bukan hanya secara teori.
Jadi di dalam – memang Eropa ya – saya ingat Pdt. Billy dulu menyampaikan kepada kami, di Eropa itu, kalau belajar musik itu ada dua garis besarnya. Menjadi musikolog atau menjadi performer atau penampil dan ini tidak selalu bisa barengan. Itu jarang banget musikolog nyanyinya bagus. Itu hampir jarang, ya. Atau performer atau penampil, penyanyi yang pengetahuan analisa musiknya itu begitu bagus. Itu jarang sekali, ya. Nggak selalu. Musikolog ini memang lebih sarjanawan. Scholar, yang penyanyi atau pemusik, biasanya tidak harus selalu masuk ke universitas. Tapi bisa les, private, dapat guru yang baik, bisa mengeksplor diri, berkembang lebih juga, ya. Jadi selalu ada dua ini seperti terpisah.
Nah, Saudara sekalian, Martin Luther melihat ternyata bukan hanya yang penting musikolog, tapi juga menampilkan musik itu juga penting. Musik itu bukan hanya dipahami secara teoritis, tapi juga dinyatakan secara praktis. Ya, maka itu Saudara sekalian, mengapa sih GRII, Pdt. Stephen Tong, STEMI itu membuat concert hall bukan hanya menyampaikan musik secara konseptual, ya, karena musik praktik itu begitu penting. Dan Saudara sekalian, Martin Luther menyatakan bahwa musik surgawi, dia percaya lebih baik, jauh lebih indah lagi dari musik terindah yang pernah dia dengar di dunia ini.
Saudara sekalian ada enam hal yang kita renungkan hari ini tentang musik dari Martin Luther. Yang pertama, Martin Luther berpandangan music next to theology. Musik itu setelah teologi, ya. Kata-katanya begitu panjang, tapi saya ringkas seperti ini, “Kecuali teologi, tidak ada seni yang dapat disejajarkan dengan musik. Karena kecuali teologi, musik sendiri menghasilkan apa yang hanya dapat dihasilkan oleh teologi. Yaitu ketenangan atau kedamaian, shalom dan kegembiraan.” Artinya apa Saudara sekalian? Artinya Martin Luther di sini melihat bagaimana musik itu mempunyai suatu kuasa dengan kebenaran firman Tuhan. Musik itu menjadi sarana yang baik untuk bisa mengarahkan hati kita tergugah lagi, menggerakkan kita lebih lagi mengenal Allah, lebih lagi kagum kepada Allah. Saudara sekalian Martin Luther menyatakan music is next to theology. Itu bukan merendahkan musik, tapi menyatakan bagaimana musik itu begitu penting dibandingkan seni yang lain. Martin Luther bahkan mengatakan, ya, coba Saudara sekalian lihat di Alkitab. Ketika Allah berfirman, menyampaikan wahyunya, apa yang paling sering Tuhan pakai? Dan seni apa di dalam Alkitab yang paling sering disebutkan? Ya pasti musik, ya. Ada kitab khususnya lagi. Mazmur, bener kan? Ada satu kitab khusus musik.
Maka Saudara sekalian, di dalam pemikiran Luther music is next to theology. Musik itu tidak lebih rendah, ok, di bawah teologi, tapi bukan karena dia lebih rendah akhirnya teologi yang utama. Bukan. Karena musik itu sangat mendukung secara efektif penyampaian teologi. Maka Saudara sekalian, Martin Luther juga mengatakan khotbah itu dua macam. Khotbah dengan kata-kata, dengan khotbah dengan melodi. Orang-orang yang bernyanyi, kita semua bernyanyi, itu juga berkhotbah dengan melodi. Tapi tentu, dengan kita sungguh sadari, ya. Kalau kita nyanyi tapi nggak mikir, nggak mikir kata-katanya apa, yang penting hati saya senang, lagunya enak. Saudara sekalian, ya bukan berkhotbah. Itu bernyanyi biasa saja, ya. Waktu kita menyanyikan lagu satu, dua, tiga tadi, saya begitu terharu. Renungkan setiap kata-katanya. Saudara sekalian bisa melihat, setiap Firman yang diberitakan melalui lagu-lagu tadi. Kebenaran Alkitab yang diberitakan melalui Firman Tuhan tadi yang disampaikan di dalam nyanyian Saudara sekalian. Music is next to theology.
Lalu yang kedua, Saudara sekalian. Musik itu adalah pemberian Allah. Musik adalah pemberian Allah. Hadiah Allah yang tertinggi. Di dalam musik sebagai next dari teologi, setelah teologi, Saudara sekalian kita bisa melihat bagaimana sering kali musik dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan Firman Tuhan. Yang kedua, Martin Luther mengatakan, asal musik dari mana sih? Ini pertanyaan yang sering juga saya dapat, ya. Ada orang-orang yang nanya, “Kak Lukman, asal musik dari mana sih? Asalnya di Alkitab itu di mana?” Ya, maka kalau kita cari di Alkitab, itu Kej. 4:22. Ada Yubal atau keturunan kain yang kemudian itu membuat alat-alat musik, ya. Tapi, kalau di dalam filsafat musik, musik itu awalnya, ya, kalau Yunani, Pitagoras. Yang bilang musik itu awalnya dari Pitagoras itu nggak pernah datang ke Indonesia berarti, ya. Indonesia nggak mengenal Pitagoras tapi bisa bermusik, ya. Orang Yunani kan lihatnya, oh itu karena Pitagoras, karena musik itu sangat identik dengan matematika. Lalu Pitagoras lah yang akhirnya menyusun itu dari teorinya dia lah, secara matematis itu tentang notasi dan seterusnya, ya
Saya pernah menghadiri beberapa tahun yang lalu, waktu awal-awal kuliah S1 musik Gerejawi, itu ada orang bawain seminar S3 disertasinya dia ‘Matematika dengan musik dengan teorinya Pitagoras’. Wah, dia gambar – gitu loh – dia itu begitu rumit sekali. Saya sampai lihat, wah, ini begitu luar biasa, ya. Memang musik mungkin kalau bagi orang Yunani itu dari Pitagoras, teorinya dan seterusnya. Tetapi, asalnya yang terutama dari mana? Martin Luther katakan, dari Tuhan. Ini penaksiran Martin Luther bagaimana, ya? Martin Luther menafsirkan, ketika Adam dan Hawa dicipta, mereka juga menyanyikan pujian bagi Tuhan. Tapi menyanyinya acapella. Belum ada alat musik. Ketika kemudian ada keturunan Habel, Habel itu dilahirkan, dengan Kain dilahirkan, masih ada nyanyian yang mungkin acapella. Sampai akhirnya keturunan Seth, karena Habel itu kemudian dibunuh oleh Kain. Keturunan Seth mungkin tidak bernyanyi seperti keturunanKain. Ya, tapi kemudian keturunannya itu mengembangkan nyanyian vokal, ya. Maka Martin Luther katakan, saya percaya, musik itu sudah ada sejak awalnya. Karena musik diberikan oleh Allah.
Saya pernah menghadiri beberapa tahun yang lalu, waktu awal-awal kuliah S1 musik Gerejawi, itu ada orang bawain seminar S3 disertasinya dia ‘Matematika dengan musik dengan teorinya Pitagoras’. Wah, dia gambar – gitu loh – dia itu begitu rumit sekali. Saya sampai lihat, wah, ini begitu luar biasa, ya. Memang musik mungkin kalau bagi orang Yunani itu dari Pitagoras, teorinya dan seterusnya. Tetapi, asalnya yang terutama dari mana? Martin Luther katakan, dari Tuhan. Ini penaksiran Martin Luther bagaimana, ya? Martin Luther menafsirkan, ketika Adam dan Hawa dicipta, mereka juga menyanyikan pujian bagi Tuhan. Tapi menyanyinya acapella. Belum ada alat musik. Ketika kemudian ada keturunan Habel, Habel itu dilahirkan, dengan Kain dilahirkan, masih ada nyanyian yang mungkin acapella. Sampai akhirnya keturunan Seth, karena Habel itu kemudian dibunuh oleh Kain. Keturunan Seth mungkin tidak bernyanyi seperti keturunan kain. Ya, tapi kemudian keturunannya itu mengembangkan nyanyian vokal, ya.
Saudara sekalian yang ketiga, saya cepat saja Saudara sekalian. Musik membuat hati bersukacita, membangkitkan semangat yang lesu. Saudara sekalian mari kita buka beberapa ayat Alkitab ini, kita langsung saja ke ayat 2 Raj. 3:15. 2 Raj. 3:15. Ini ayat yang mungkin jarang banget kita perhatikan, ya. Ada Elisa, ya, kisah di sini, ada Yosafat, ya. Yosafat itu kemudian memanggil Elisa untuk menyampaikan Firman Tuhan. 2 Raj. 3:15 saya bacakan ayat 14, “Berkatalah Elisa: ”Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan: jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu.” Ya, lalu kita lihat ayat lanjutannya, ayat 15 yang mungkin jarang kita perhatikan “Maka sekarang, jemputlah bagiku seorang pemetik kecapi. Pada waktu pemetik kecapi itu bermain kecapi, maka kekuasaan TUHAN meliputi dia.” Wah, Saudara sekalian, musik itu kemudian mendukung Elisa untuk menyampaikan Firman Tuhan. Yosafat itu mau tahu apa kehendak Tuhan, apa Firman Tuhan, lalu Elisa bukan hanya datang lalu apa ya misalnya, melukis gitu ya, bukan misalnya apalagi berpuisi misalnya begitu, ya, atau seni yang lain, ya memahat, apalagi, ya, tetapi Elisa datang lalu langsung khotbah? Nggak. Panggil dulu pemain kecapi, ya, bernyanyi, bermusik yang menurut tafsiran Luther, pemain kecapinya kemungkinan sambil bernyanyi lalu kemudian Roh Kudus itu bekerja, Tuhan menyampaikan firman-Nya.
Saudara sekalian, musik menciptakan hati yang bersukacita. Musik membangkitkan semangat, letih lesu kita. Maka itu Saudara sekalian dengan berbagai macam, ada orang sering nanya ke saya “Kak Lukman, kalau saya ini lagi galau, lagi susah hatinya, datang ke gereja, lalu kemudian di gereja liturgis nyanyi” “Mari kita menyanyikan lagu nomor 1 dengan sukacita! Terpujilah Allah.” Itu liturgisnya kayaknya berdosa banget lho. Nggak ngerti hati saya kok dipaksa bersukacita?” Salah nggak liturgis ngomong gitu? Nggak salah. Menurut prinsip ini, karena nyanyian itu bisa menggugah, menggerakkan kita. Justru waktu hati kita gelisah, waktu hati kita sedih, waktu kita galau, datang ke gereja Tuhan beribadah, bernyanyilah dengan suara yang indah, dengan suara yang lantang, terpujilah Allah, maka hati yang letih lesu itu diarahkan melihat sukacita sejati di dalam Kristus.
Demikian Saudara sekalian, musik itu begitu penting menyiapkan kita juga mendengarkan Firman Tuhan. Mengapa sih ada nyanyian sebelum Firman Tuhan? Mengapa? Karena peristiwa Elisa ini juga dasarnya. Karena musik mempunyai kuasa yang efektif untuk mengarahkan hati pengkhotbah maupun kita semua untuk merenungkan kebenaran firman Tuhan. Saudara sekalian, bahkan di ayat-ayat Alkitab yang lain menyampaikan, para pemusik itu bernubuat. Jadi, bukan terpisah ya di Alkitab itu. Kita buka 1 Tw 25:1-3, mari kita baca bersama-sama. 1 Tw. 25:1-3 demikian Firman Tuhan “Selanjutnya untuk ibadah Daud dan para panglima menunjuk anak-anak Asaf, anak-anak Heman dan anak-anak Yedutun. Mereka bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap. Daftar orang-orang yang bekerja dalam ibadah ini ialah yang berikut: dari anak-anak Asaf ialah Zakur, Yusuf, Netanya dan Asarela, anak-anak Asaf di bawah pimpinan Asaf, yang bernubuat dengan petunjuk raja. Dari Yedutun ialah anak-anak Yedutun: Gedalya, Zeri, Yesaya, Simei, Hasabya dan Matica, enam orang, di bawah pimpinan ayah mereka, Yedutun, yang bernubuat dengan diiringi kecapi pada waktu menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi TUHAN.” Saudara sekalian, musik sangat erat dengan Firman Tuhan, sangat erat dengan Firman Tuhan, maka Martin Luther melihat begitu penting musik menggugah kita, memberikan kita semangat dan bahkan memampukan kita juga, mendorong kita untuk berkhotbah menyampaikan kebenaran Firman Tuhan.
Saudara sekalian, musik menciptakan hati yang bersukacita. Mari kita buka Mzm. 57:8-9. Mzm. 57:8-9, saya akan membacakan bagi kita sekalian “Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa.” Saudara sekalian ini ada satu, kenapa sih di sini dikatakan “Bangunlah jiwaku.” Melalui nyanyian, melalui kecapi itu membangkitkan jiwa kita untuk mengarahkan kita kepada Tuhan, kepada kebenaran Allah.
Lalu yang keempat Saudara sekalian, next slide, musik mengusir iblis. Nah ini mulai mistik, ya. Kita langsung mikir, waduh Reformed kok ini ada mistiknya, ya. Saudara sekalian, Reformed tidak bisa dipersempitkan, ya, jangan melihat Reformed kepada jatuh kepada rasionalisme, ya, itu berhati-hati. Jangan juga extreme lain, Reformed jadi mistisisme, itu juga jangan, ya. Kita harus melihat kelimpahan kebenaran firman Tuhan secara limpah, maka Reformed adalah semangat untuk kembali lagi kepada Alkitab, melihat kelimpahan kebenaran Alkitab, ya. Kalau kebenaran itu mungkin mengganggu kita dan membuat kita tidak nyaman tapi itu kebenaran, kita harus belajar menerimanya dengan rela hati. Ini poin yang keempat, ini sangat jarang, ya, apalagi konteks orang Barat, ya, peradaban Barat, ini kok musik mengusir iblis.
Saya masih ingat ya, Pdt. Yakub Kartawidjaja, ya, gembala dari GRII Semarang yang pernah khotbah beberapa waktu lalu di sini. Waktu sharing-sharing disertasinya, ya, ke saya, kan Pdt. Yakub memang ada disertasinya tentang teologi musiknya Luther juga ya. Lalu kemudian Pdt. Yakub itu cerita ke saya, salah satu keunikan disertasi saya ini dibandingkan itu teologi musik dari yang ditekankan oleh para pemikir sarjana yang lain, ya, sehingga saya bisa ambil S3 – S3 kan harus ada keunikkannya ya – keunikkannya itu apa? Salah satunya yang saya tekankan adalah ini “Musik mengusir iblis.” Waduh ini, saya langsung denger begitu, “Oh ya, saya pernah ini juga, tahu juga ya bahwa memang Luther menekankan musik itu mengusir iblis.” Jadi dia percaya bahwa musik, dasarnya apa? Nanti kita lihat ya dasarnya apa. Martin Luther mengatakan “Setan pencipta segala kesedihan, kekhawatiran yang meresahkan terbang ketika mendengar suara musik. Hampir sama seperti dia terbang ketika dia mendengar Firman Tuhan.”
Saudara sekalian, di sini setan itu diidentikkan membawa kekhawatiran, kesusahan hati, maka ketika kita menyanyi, kita memperoleh kedamaian. Ketika kita mendengar musik indah yang baik, khususnya dalam hal ini dalam ibadah musik Kristen, hati kita itu menjadi lega, shalom, maka setan itu tidak ada di sana. Saudara sekalian, mari kita buka 1 Sam. 16:23, ini dasar ayatnya. 1 Sam. 16:23, mari kita baca bersama-sama 1 Sam. 16:23 demikian firman Tuhan “Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya.” Saudara sekalian, ketika Saul itu kerasukan roh jahat, beberapa waktu lalu ada yang bertanya kepada saya “Bisa nggak sih Kak Lukman itu kita itu kerasukan? Ada nggak sih memang roh yang merasuki itu?” Memang ada ya, memang ada. Tapi yang kedua bisa juga karena masalah bukan ada roh yang masuk maka kita bertindak aneh bisa aja dalam tanda kutip “imannya ya terganggu”, tidak ada kestabilan rohani di dalamnya.
Nah, Martin Luther menyatakan “Ketika Roh Allah itu roh itu jahat itu ya, roh yang dari Allah itu mengganggu kemudian Saul (itu roh jahat yang memang diizinkan oleh Allah) Daud itu kemudian memainkan musik.” Tetapi Martin Luther tafsirannya begini, bukan hanya memainkan musik, Martin Luther juga percaya Daud juga bernyanyi firman Tuhan ya. Daud juga menyanyikan firman Tuhan sehingga Saul itu kemudian lega, nyaman dan roh jahat itu undur dari padanya.
Saudara sekalian, mengapa musik is next to theology? Karena musik dan teologi memiliki efek yang sama. Bagi Luther, mengapa musik itu next, setelah teologi, berdampingan seperti kalau tata buku, ini teologi next-nya ini musik ya. Mengapa? Karena musik itu mempunyai efek hasil yang serupa dengan teologi, dengan Firman Tuhan. Ketika Firman Tuhan diberitakan, kebenaran itu mungkin menusuk kita, tapi ada damai sejahtera yang kita peroleh, damai sejahtera dari Allah. Ketika kita menyanyikan pujian yang sungguh-sungguh berdasar kebenaran Firman Tuhan, maka nyanyian itu akan menguatkan kita, menggugah kita, membuat sukacita dan membuat iman kita bertumbuh. Musik dan Firman itu sangat terkait, nyanyian dan Firman itu sangat terkait.
Yang kelima saudara sekalian, musik menciptakan shalom, membawa kepada shalom. Ini sama ya ayatnya saudara sekalian, dari ayat 1 Sam. 16:23, 2 Raj. 3:15, memberikan satu kelegaan, ketenangan, damai sejahtera yang sejati. Musik menciptakan kesenangan yang kudus, menghancurkan amarah, menghancurkan ketidak sucian dan excess yang lain dari dosa. Saudara sekalian, Martin Luther menegaskan bagaimana musik itu membawa kita kepada shalom yang sejati, musik menjadi sarana yang baik membawa kita kepada shalom yang sejati di dalam Tuhan Yesus Kristus. Saudara sekalian, maka ketika kita bernyanyi di tengah segala perasaan kita apa pun, ketika kita beribadah bernyanyilah. Bagi yang mungkin sungkan bernyanyi mungkin karena belum bisa lagunya atau belum bisa bernyanyi dengan baik, bernyanyilah pelan-pelan, kita belajar bersama. Saya sendiri percaya setiap orang Kristen saya percaya, besar kemungkinannya bisa bernyanyi semua ya, setiap orang Kristen.
Saudara sekalian saya punya teman, ini teolog ya hamba Tuhan, saya nggak sebut namanya. Nah teolog ini, teman ini, hamba Tuhan ini dia dulu di angkatan yang senior dari saya waktu itu Institute Reformed bukan STTRII, jadi di Sunter ya. Nah itu dia nyanyi itu fals terus, jadi teolog tahu nya kan teologi, nyanyinya fals. Dan tiap paduan suara dan dia teman sekamar saya, jadi karena dia teman sekamar, setiap paduan suara dia selalu bilang sama saya “Lukman, kamu kalau kita paduan suara (jadi pada paduan suara ini ya, STT itu ada paduan suaranya) di samping saya ya.” Jadi dia selalu pesannya begitu, mungkin supaya menutupi suaranya ya. Kenapa? Biar saya dengar langsung nadanya, jadi saya belajar. Lalu saya selalu, setiap itu sampai dua tahun ya kira-kira, nyanyinya sering fals, orang-orang sudah tahu. Waktu itu guru pengajarnya, dosennya Pak Ndaru Darsono tahu kalau ini orang ini pasti fals jadi nggak usah diharapkan banyak lah gitu ya. Itu kalau nyanyi nggak usah di denger lah, agak di pojok aja gitu ya biar yang lain aja keras suaranya. Sampai dua tahun saya di samping terus. Sampai suatu kali Pak Ndaru itu dengar kok fals terus nyanyinya, bass fals terus, tes satu-satu. Waduh di tes satu-satu kan, udah. Kami duduknya di belakang, saya sama dia. Satu orang, OK, benar. Lagi maju, OK, benar. Lagi nyanyi, OK, benar. Lalu dia. Wah, semua orang sudah, dia berdiri nyanyi, benar Saudara-saudara. Ini keajaiban ini, mujizat itu nyata. Benar, sampai semua orang kaget, saking begitunya. Lalu Lukman nyanyi, fals saya yang nyanyinya, jadi saya tertransfer ini, diserap energinya.
Maka saudara sekalian, saya percaya jangan minder, kalau suara kita, kita nggak bernyanyi gitu, kenapa? Karena takut. Pelan, nyanyi pelan-pelan dulu, lalu di samping teman yang pinter nyanyi. Ini ada orang-orang paduan suara, tahu semua kan yang sering di depan kan, minta aja di samping saya kamu ya nanti, biar paduan suara ada tugasnya juga. Nah ini, dengar, nyanyi, pelan-pelan saya percaya kita orang Kristen itu bisa bernyanyi. Mengapa nyanyi itu penting? Karena menyanyi melegakan hati kita. Mengapa sih kita gelisah? Mungkin karena kita kurang menyanyikan pujian bagi Tuhan, bukan karena kita kurang baca Alkitab. Saudara sekalian saya bukan merendahkan Alkitab. Alkitab mungkin kita masih baca ya, tapi kok masih gelisah? Mungkin karena kurang memuji Tuhan. Coba bernyanyi memuji Tuhan, pujilah Tuhan, hati yang gembira, hati yang tenang itu muncul di dalam diri kita ya.
Yang terakhir, Saudara sekalian ya, ini yang penting saudara sekalian, motif Kristus Sang Pemenang ya. Di dalam pemahaman Luther, di dalam nyanyian yang Luther itu buat, Luther itu buat banyak ya lagunya tapi yang kita tahu itu cuma satu ya. Jadi banyak lagunya dia buat, dia compose begitu banyak, yaitu Kristus sebagai Pemenang. Saudara sekalian, waktu kita merenungkan pemahaman Marthin Luther Kristus sebagai Sang Pemenang, ini ada 2 perspektif yang kita harus berhati-hati. Pertama, teologi salib, kedua teologi glori atau teologi kemuliaan. Kristus sebagai Pemenang dalam pemahaman Luther bukan pada teologi kemuliaan tapi pada teologi salib.
Kemarin ya, Vik. Stella memberitakan tentang teologi salib dengan teologi of glory, teologi kemuliaan. Kalau sederhananya teologi kemakmuran. Itu bukan sekarang baru-baru muncul. Dari Luther awal sudah mengkritik itu, teologi of glory. Karena gereja itu menyatakan gereja harus “wah” maka lihat Paus, itu mahkotanya itu berat banget. Sampai Paus itu kalau pakai mahkota itu sampai direndah hati. Karena berat banget. Kenapa? Glory, kemuliaan. Gereja harus megah! Kemuliaan. Dengan pernak-pernik yang begitu banyak, ornamen begitu banyak, hiasan di gereja harus perak atau emas, harus logam-logam yang mulia, barang-barang yang bernilai itu di gereja. Marthin Luther itu katakan ini Kristus Victor, Kristus Sang Pemenang tapi yang salah! Kristus Pemenang yang sejati itu adalah teologi salib. Kristus yang menang adalah Kristus yang disalib.
Saudara sekalian, kemenangan sejati Kristus itu bukan karena kemegahan dari gereja yang dinyatakan, bukan karena logam mulia, emas yang dipakai, bukan pancaran seperti itu. Bukan! Kemegahan-kemegahan kemuliaan Kristus itu di salib. Saudara sekalian, salib itu hina. Ini paradoks bagi Luther. Bagi orang yang belum percaya kepada Kristus, orang berdosa yang tidak beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, salib itu kebodohan, itu hina, itu rendah. Tapi di dalam iman, kita melihat kemuliaan Kristus itu di salib. Saudara sekalian, maka ketika Marthin Luther itu menulis lagu motif Kristus Sang Pemenang, yaitu Kristus yang mengalahkan iblis, yang menang atas kuasa maut, itu sangat identik dengan teologi salib. Kristus yang disalib adalah Kristus yang menang. Orang Kristen merayakan kemenangan Kristus yang telah disalibkan bagi kita yang berdosa.
Maka itu Saudara sekalian, di dalam kebaktian GRII, salah satu kebaktiannya apa? Jumat Agung. Ada 3 kebaktian wajib yang harus kita relay, yang Saudara sekalian harus tahu. Pertama HUT GRII Pusat untuk kesatuan kita, untuk kita bisa update lagi menyatu lagi dengan GRII Pusat. Yang kedua, Natal. Saudara sekalian harus gabung. Jadi kalau nanti jangan bertanya-tanya lagi ya, itu wajib. Karena kita sama-sama puji syukur kepada Tuhan untuk kita bisa memperingati kedatangan Kristus, inkarnasi-Nya. Dan yang ketiga, Jumat Agung. Ini wajib. Dan setiap kali Jumat Agung, Pdt. Stephen Tong dan setiap kita, saya kira, setiap kali kita menjalankan Jumat Agung di ibadah GRII selalu ada yang berbeda. Saya percaya itu. Dan saya sendiri, setiap kali, bukan hanya Jumat Agung, setiap kali perjamuan kudus, Saudara sekalian, perenungan akan Kristus yang disalib, itu adalah kemenangan yang sejati. Kemenangan sejati Kristus itu di salib karena ketika Dia dicoba iblis dengan berbagai macam cara di padang gurun, ketika dengan berbagai macam cara, iblis juga mau menghentikan terus. Bahkan terakhir, mau memakai murid Yesus untuk menghentikan Yesus ke salib, “Jangan sekali-kali itu terjadi padaku” yaitu Petrus, lalu Tuhan Yesus katakan, “Enyahlah engkau iblis!” Saudara sekalian, Tuhan Yesus di taman Getsemani begitu bergumul, dan Dia dengan sungguh-sungguh bisa menyatakan “Kehendak-Mu yang terjadi.” Dia mengambil cawan murka Allah itu, Dia disalib. Inilah kemenangan Kristus yang sejati.
Saudara sekalian, di dalam lagu yang sangat kita kenal, yang berjudul “Allah Jadi Benteng Kukuh” itu sangat ditekankan bahwa Kristus Sang Pemenang. Bagaimana Kristus menang atas kuasa maut, Kristus yang mau mengorbankan diri-Nya. Maka itu Saudara sekalian, sebagaimana John Piper mengatakan “perangilah dosa, bukan sebagai korban dari dosa, perangilah dosa sebagai pemenang di dalam Kristus yang sudah tersalib bagi kita.”
Mari kita menyanyikan “Allah Jadi Benteng Kukuh”. Kita nyanyikan lagu ini. Allah jadi benteng kukuh. “Allah jadi benteng kukuh, perlindunganku yang teguh. Meski banyak susah sukar, pertolongan-Nya b’ri gemar. Meski musuh sigap, senjatanya lengkap, menyusahkan kita dengan tipu daya, Tapi Kristus s’lalu jaga.”, “Jika sandar kuat diri, pasti kita kan kalah. Barisan kita dipimpin Panglima tent’ra Allah. Bertanyakah engkau, siapakah Dia? Yesuslah nama-Nya, dan tetap adanya. Dialah Pemimpin kita.”, “Sabda Allah yang berkuasa. Tinggal tetap selamanya. Roh-Nya jadi milik kita Dan memihak pada kita. Lenyaplah dunia dengan hidup fana, badanku dibunuh, Allah tetap teguh, Takhta-Nya tetaplah kukuh.” Mari kita berdoa.
Bapa kami di surga, kami bersyukur ya Tuhan untuk kebenaran Firman-Mu yang sudah Engkau nyatakan kepada para teolog-teolog di sepanjang sejarah, seperti Martin Luther, untuk mengingatkan kami lagi, menggugah kami lagi tentang nyanyian, tentang musik menurut Alkitab. Kiranya Engkau memberikan kami hati lagi yang bernyanyi ya Tuhan, hati yang terus memuji Tuhan, hati yang memperoleh sungguh kedamaian sejati melalui nyaniyan pujian yang berasal dari kebenaran Firman Tuhan, mempunyai telinga yang kepekaan untuk mendengar mana yang benar, berkenan kepada Allah, mana yang tidak berkenan kepada Allah. Kiranya nyanyian yang kami naikkan berkenan kepada-Mu Tuhan, menggugah hati kami, menenangkan jiwa kami, membangkitkan semangat kami yang lesu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. (HS)
