Fil. 2:1-18
Pdt. Dawis Waiman
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita membaca surat Filipi, mungkin ada satu kalimat yang kita bisa simpulkan dari apa yang kita baca di sini: yaitu Paulus sedang menuliskan suratnya kepada jemaat Filipi. Nah, pada waktu dia menuliskan surat kepada jemaat Filipi, tujuannya adalah untuk menggembalakan jemaat tersebut. Atau istilah lainnya adalah Paulus sedang menempatkan diri sebagai seorang gembala yang baik untuk menggembalakan jemaat yang ada di Filipi tersebut. Kalau Bapak, Ibu pengen tahu dari mana asal mula jemaat Filipi, silakan mundur ke dalam Kisah Para Rasul pasal 16. Di situ Paulus mulai pelayanan ke daerah Eropa. Dan salah satu dari pelayanan itu adalah kepada jemaat yang ada di Filipi ini. Dan dia betul-betul concern sekali memperhatikan apa yang ada di dalam kehidupan dari jemaat. Nah, mungkin salah satu persoalan yang ada –karena di bagian ini disebut mengenai melakukan segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan seterusnya, seperti itu– lalu, kalau Bapak, Ibu baca di dalam pasal yang ke-4 ayat yang ke-2, di situ ada perempuan-perempuan yang bernama Euodia dan Sintikhe yang ditegur oleh Paulus, kemungkinan di antara jemaat dari Filipi ini ada persoalan saling, mungkin, ribut satu dengan yang lain, atau cekcok satu sama lain, bersungut-sungut satu dengan yang lain, sehingga Paulus ingin menggembalakan mereka dan memberi tahu bagaimana hidup sebagai orang Kristen di tengah-tengah dunia yang jahat ini. Atau di tengah-tengah dunia di mana orang Kristen berada.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, menarik sekali, pada waktu Paulus menggembalakan mereka, ada satu hal yang Paulus, atau catat, di dalam kitab Filipi ini. Tentunya kalau kita bicara bagaimana menggembalakan yang baik, mungkin di dalam konsep kita sendiri sudah ada pemikiran, “Oh, gembala yang baik itu adalah gembala yang mengunjungi jemaatnya. Gembala yang baik adalah gembala yang memberi teladan di dalam kehidupannya bagi jemaatnya untuk tunduk kepada Firman dan kebenaran firman.” Saya akui itu adalah kebenaran. Pada waktu kita menjadi pemimpin, ada satu hal yang penting yang kita harus perhatikan: bagaimana seorang pemimpin itu akan menentukan siapa yang dipimpin dan bagaimana orang yang dipimpinnya.
Ini adalah satu hal yang saya pernah bahas dulu pada waktu di Purworejo dan diminta untuk mengisi pembinaan hamba Tuhan atau seminar hamba Tuhan di Purworejo. Pada waktu itu saya mengambil satu catatan peristiwa dari Raja Saul sendiri. Pada waktu Raja Saul hidup di dalam dunia, maka terjadilah peperangan antara Israel dengan orang-orang Filistin. Pada waktu itu, Raja Saul merasa terjepit, terdesak. Akhirnya dia mengambil satu keputusan untuk memberikan persembahan mendahului Samuel yang seharusnya datang dan memimpin ibadah persembahan tersebut. Tetapi apa yang membuat Saul mengambil keputusan itu? Karena dia merasa musuhnya terlampau besar, terlampau kuat. Dia saat itu juga begitu ketakutan sekali. Tubuhnya gemetar melihat musuh yang begitu besar. Dan ini berdampak kepada umat Israel yang mengikuti diri dia. Akhirnya umat Israel cerai-berai, pergi meninggalkan diri dia. Dan ini membuat dia tambah stres lagi. Akhirnya dia mengambil satu inisiatif untuk memberikan persembahan, untuk mempersatukan –mungkin– Israel itu kembali.
Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa sebab orang-orang Israel mundur meninggalkan Saul? Apakah karena Samuel belum tiba pada waktu itu maka tidak ada yang mempersatukan? Apakah karena korban persembahan belum diserahkan atau dipersembahkan kepada Tuhan sehingga umat Israel tidak memiliki satu keberanian untuk bersandar kepada Tuhan dan menyadari ada pimpinan Tuhan di dalam kehidupan mereka?
Tapi kalau kita perhatikan dari: siapa Saul tersebut? Dimulai dari pengurapan yang Samuel lakukan kepada diri dia sebagai seorang raja, lalu pemilihan dari setiap suku Israel untuk menunjuk dirinya sebagai raja atas Israel, kita tahu Saul bukan orang yang berhati besar. Kita tahu Saul adalah seorang yang bukan pemberani, sebenarnya. Tapi dia adalah seorang yang penakut dan berhati sempit. Nah, kita tahu dari mana? Saat ia dipilih untuk, atau ditunjuk, bahwa dia adalah Raja Israel, dia bersembunyi. Dia mungkin takut pada waktu itu. Atau mungkin dia malu, pada waktu itu, menampilkan diri. Tapi yang Alkitab catat: dia bersembunyi dan tidak berani menampilkan diri dia di antara orang-orang Israel. Sampai akhirnya ketika ditanya ke Tuhan, “Saul hadir, tidak?” Dan Tuhan menjawab, “Saul hadir.” Dan Tuhan menunjuk di mana tempat Saul bersembunyi, baru akhirnya dia keluar dan menunjukkan diri.
Lalu, hatinya yang sempit dari mana? Dari peristiwa ketika dia mengetahui penggantinya adalah Daud. Maka mulai dari hari itu hidup Daud tidak pernah ada di dalam ketenangan lagi. Dia terus diburu oleh Saul. Dan bahkan, mungkin, kalau Bapak, Ibu lihat di dalam cerita “David”, maka kemungkinan juga Daud itu difitnah oleh Saul supaya dia dibenci oleh para pengikut Saul. Mungkin salah satunya adalah ada satu pengikut Saul yang begitu setia, yang ketika melihat Daud –namanya Simei– dia mengutuki Daud dan dia tidak pernah mau tunduk di bawah pemerintahan dari Raja Daud pada waktu Daud menjadi raja. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hatinya begitu sempit. Hatinya nggak bisa melihat ada pemimpin baru yang Tuhan urapi untuk menggantikan dirinya. Dan dia selalu ingin membuat kecelakaan bagi Raja Daud ini.
Tapi Daud berbeda. Daud adalah seorang yang pemberani. Dari kecil dia sudah dilatih oleh Tuhan sebagai seorang gembala untuk menggembalakan domba-domba. Dia tahu bahaya menghadapi serigala. Dia tahu bahaya menghadapi harimau. Dia tahu bahaya menghadapi beruang, seperti itu. Dan dia menjadi gembala yang baik, yang walaupun itu berarti dia harus mempertaruhkan nyawanya untuk menjaga domba-dombanya, dia akan melakukan hal itu! Dan ternyata mentalitas ini adalah didikan Tuhan bagi Daud sejak dia masih kecil. Sehingga pada waktu dia berhadapan dengan Goliat sebagai seorang yang begitu besar, tinggi, kuat, tidak ada seorang Israel pun yang sanggup melawan dia, tapi dia berani berdiri teguh menghadapi Goliat tersebut. Dan pada waktu dia berbicara kepada Saul untuk berperang melawan Goliat —padahal mungkin dia mungkin masih kecil, belasan tahun, seperti itu— dia ditanyain, “Kamu punya pengalaman perang apa?” “Nggak ada.” Tapi Daud menyebutkan ada dua hal yang penting sekali. Pertama: Ada Tuhan yang dihina Filistin. Tuhan ndak akan biarkan Israel dihina. Ini adalah peperangan antara Tuhannya Israel dengan dewanya Filistin. Yang kedua adalah tahu tidak walaupun saya kecil tidak pernah menghadapi musuh, tidak pernah menghadapi ahli-ahli bela diri dari orang Filistin, tapi Tuhan melatih saya menghadapi binatang ganas, binatang hutan yang membahayakan domba saya. Dan itu membuat Daud pergi menghadapi orang-orang Filistin.
Nah, ini adalah dua karakter pemimpin yang berbeda sekali. Akhirnya pada waktu Saul menghadapi orang, ini kisah yang lain, ya, dia punya kepemimpinan kelihatannya terlihat dan terpancar di dalam kehidupan orang Israel. Itu sebabnya pada waktu Israel merasa terancam menghadapi ribuan orang atau puluhan ribu orang yang datang memerangi mereka, dia menjadi ciut, Israel juga menjadi ciut. Akhirnya pergi meninggalkan dan di situlah Saul melakukan dosa yang sangat besar yang membuat akhirnya dia ditolak oleh Tuhan sebagai penerus atau keturunannya sebagai penerus dari kerajaan Israel.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, menggembalakan menjadi seorang pemimpin tentunya adalah hal yang penting. Bagaimana pemimpin itu bersikap begitu juga menjadi domba yang dia gembalakan seperti itu. Tetapi menariknya adalah di dalam bagian ini dan di surat-surat Paulus juga, pada waktu Paulus menggembalakan jemaat Filipi, dia tidak berbicara mengenai kehidupan seperti itu yang menjadi yang utama. Walaupun di sini ada berbicara jangan bersungut-sungut, tetapi yang dimaksudkan adalah Paulus kemudian memberitahu jemaat Filipi bagaimana seharusnya menjadi seorang yang hidup di dalam iman Kristen yang baik. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai penggembalaan, satu hal yang mungkin orang-orang Kristen lupa atau satu hal yang mungkin orang-orang Kristen anggap kurang penting yaitu adalah pentingnya mengerti firman, pentingnya pemberitaan kebenaran di dalam gereja supaya kita sebagai umat Tuhan bisa menjadi seorang yang hidup di dalam pengertian yang benar dan takut akan Tuhan.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya sendiri di dalam pengalaman penggembalaan akhirnya menyadari satu hal yang penting. Jemaat tidak pernah bisa dipaksa oleh gembala. Jemaat punya keinginannya sendiri, seringkali seperti itu. Jemaat punya kehidupannya sendiri. Jemaat punya pergumulannya sendiri. Lalu sebagai hamba Tuhan, bagaimana? Apakah jemaat menjadi milik hamba Tuhan? Saya juga belajar satu hal, jemaat bukan milik dari gembala atau hamba Tuhan yang dipercayakan untuk menggembalakan satu gereja, tetapi jemaat adalah milik Tuhan. Kalau jemaat milik Tuhan, bagaimana seorang gembala sidang atau hamba Tuhan seharusnya menggembalakan? Nah, Paulus memberitahu kita satu-satunya jalan yang paling penting atau kebenaran yang tidak pernah boleh diabaikan, disingkirkan, diremehkan, atau dianggap boleh menjadi satu hal yang dikompromikan dari mimbar, yaitu firman Tuhan. Firman Tuhan harus menjadi yang utama karena pada waktu firman Tuhan diberitakan, di situ jemaat diajak untuk melihat kepada karakter Allah di dalam kehidupan mereka. Jemaat diajak untuk melihat akan kasih Allah dalam kehidupan mereka. Jemaat diajak untuk melihat pada kehendak Allah untuk mereka hidupi dan taati dalam kehidupan mereka, dan jemaat diajak untuk melihat seberapa jauh diri mereka sudah menyimpang daripada kebenaran Tuhan dan sifat Allah dalam hidup mereka, dan itu seharusnya membuat mereka bertobat dan kembali kepada Tuhan.
Tapi kalau mereka tidak mau bertobat, mereka berkeras, mereka ingin menempuh jalan mereka sendiri, maka ada satu hal yang membedakan orang yang menjadi percaya kepada Kristus dengan orang dunia, yaitu apa? Tuhan akan menghajar, Tuhan akan mendisiplin, Tuhan akan menggunakan tongkat-Nya yang ada kail untuk mengkait dari diri kita untuk kembali ke dalam jalur yang benar. Ini adalah hal yang Tuhan sendiri nyatakan di dalam Kitab Suci untuk kita bisa pahami ini. Dan itu semua adalah satu proses yang tidak bisa diambil alih oleh manusia lain. Tapi itu adalah satu proses yang Tuhan akan izinkan dialami oleh dalam kehidupan kita sehingga kita mau nggak mau akan diproses untuk bertumbuh di dalam kebenaran Tuhan.
Nah, berkaitan dengan firman ini maka kemarin di Pemuda saya ada bahas sedikit, waktu itu saya mengutip R. C. Sproul punya perkataan. Dan di situ dia ditanya, “Apa sebab manusia yang berdosa itu sangat jauh dari Tuhan dan tidak mau kembali kepada Tuhan?” Lalu R. C. Sproul bilang seperti ini, “Jawabannya adalah gampang atau sederhana. Karena itu disebabkan oleh kerusakan dosa yang begitu mendalam atau begitu jauh di dalam hidup dari manusia. Jadi akibat dosa yang merusak diri kita, maka efeknya adalah apa? Kita akan menjauh dari Tuhan. Tetapi pada waktu kita menjauh dari Tuhan, ada satu hal yang aneh, yaitu kita tidak merasa diri kita berdosa. Kita merasa diri kita mungkin ada dosa, ada yang salah, ada yang macam. Tetapi kita akan merasa bahwa yang penting itu adalah bagaimana saya mencari kesenangan diri saya, bagaimana saya menentukan sendiri apa yang benar menurut diri saya dan itu yang dikejar oleh manusia. Dan pada waktu mendapatkan itu dan mengejar itu, mereka akan berpikir inilah yang benar, inilah kebahagiaan itu, dan inilah yang seharusnya dikejar dan dicapai oleh manusia.”
Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, di dalam kondisi seperti ini, bagaimana kita bisa tahu kalau kita sudah terhilang dari Tuhan? Bagaimana kita bisa tahu kalau kita sudah sangat jauh sekali dari Tuhan? Nah, R. C. Sproul berkata seperti ini, “Jalannya adalah satu, yaitu melihat kepada karakter Allah. Lihatlah pada karakter Allah. Pada waktu kita melihat pada karakter Allah, di situ kita akan tahu kita sudah begitu jauh menyimpang dari Tuhan.” Contohnya gimana? Kalau kita melihat bahwa dosa itu merasuk di dalam tiga aspek masyarakat di dalam dunia ini. Misalnya di dalam masalah seks, di dalam masalah keluarga, di dalam masalah pernikahan seperti itu. Kita tidak setia di dalam keluarga, kita merasa bahwa ada simpanan mungkin dengan keuangan yang banyak atau mungkin juga mepet, itu bukan sesuatu yang berdosa mungkin atau dosa tapi kita merasa yang penting saya dipuaskan, saya disenangkan seperti itu atau saya tidak setia di dalam masalah seks di luar dari pernikahan juga. Mungkin kita akan merasa bahwa itu adalah hal yang fine-fine saja di dalam tradisi kita hari ini. Mungkin secara etika, secara moralitas, secara budaya kita bisa disebut sebagai orang yang berbudaya. Mungkin salah satu dari kota-kota yang ada di Indonesia, Jogja adalah salah satu yang paling berbudaya. Tetapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, bisakah budaya itu menyelesaikan masalah seks? Bisakah budaya itu menyelesaikan masalah ketidaksetiaan di dalam pernikahan? Bisakah budaya itu menyelesaikan masalah iri hati, kedengkian, kemarahan, kebencian, permusuhan? Satu keegoisan di dalam diri yang manusia miliki dalam kehidupan mereka? Realita yang kita dapatkan adalah itu tidak mungkin. Mereka tidak pernah bisa menyelesaikan masalah ini. Tetapi, ketika manusia hidup di dalam kondisi seperti ini, apakah mereka merasa perlu dikoreksi? Perlu diubah? Saya percaya, tidak, karena kalau itu menjadi sesuatu yang perlu diubah, seharusnya budaya sudah bisa mengusahakan hal itu dan mengajarkan untuk tidak setia kepada hal itu, bukan mengajarkan kontrasepsi.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah realita yang terjadi. Lalu, pada waktu kita terlahir dalam kondisi seperti itu atau di dalam lingkungan seperti ini, mohon tanya, ketika kita dididik dan diajarkan, apakah kita akan dididik dan diajarkan itu adalah dosa? Menarik, pada waktu saya coba search berkaitan dengan apa yang menjadi dosa anak-anak di dalam kehidupan mereka, maka muncul yang namanya gambar mengenai “hati-hati atas dosa orang tua yang tertular kepada anak-anak.” Dan hal yang pertama adalah dikatakan seperti ini: “Tidak mengajarkan agama. Anak tumbuh tanpa arah iman.” Ini menjadi hal yang menempatkan posisi pertama di dalam kehidupan keluarga dan di dalam mendidik anak. Nah, akibatnya apa? Pada waktu orang tua sendiri tidak melihat ini sebagai sesuatu yang penting untuk diajarkan kepada anak, saya yakin pendidikan di dunia masuk. Film-film di Youtube masuk atau buku-buku yang lain, pelajaran yang dibaca itu masuk dan mempengaruhi diri kita. Akibatnya apa? Kita merasa, inilah hidup yang benar. Inilah masyarakat yang berbudaya. Inilah satu kehidupan yang sebenarnya normal untuk dijalankan oleh manusia di dalam dunia ini.
Lalu, dalam kondisi seperti ini, bagaimana kita bisa memahami yang benar itu apa? R.C. Sproul bilang cuma satu, beritahu mereka, kabarkan kepada mereka, tunjukkan kepada mereka karakter Allah. Karakter yang bagaimana? Yang tentunya kudus, yang suci, yang adil, yang bijaksana, yang penuh dengan kasih dan kemurahan dan kebenaran. Itu ditunjukkan kepada mereka. Pada waktu mereka melihat kepada karakter Allah itu misalnya, maka mereka mulai menyadari satu hal, ”Kok saya tidak setia, ya? Saya punya kehidupan jauh sekali dari kesucian Allah. Saya pikir, apa yang saya lakukan adalah satu kebenaran dalam hidup ini karena masyarakat pada umumnya hidup di dalam kebenaran, tetapi kok ketika saya mengerti kebenaran Tuhan, saya merasa hidup saya jauh sekali dari kebenaran itu. Pada waktu saya melihat dari sikap keadilan, saya merasa adil itu ditentukan misalnya oleh uang; siapa yang berkuasa, siapa yang punya kekuatan, dia punya keadilan untuk ditegakkan di dalam dunia ini. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa keadilan tidak seperti itu. Keadilan tidak bisa dipermainkan. Seberapa pun besar uang yang kita miliki, kita tidak mungkin bisa membeli keadilan Tuhan di dalam kehidupan kita.” Atau mungkin tidak cocok bicara keadilan, ya, tetapi membeli kemurahan Tuhan di dalam kehidupan kita. Yang kita akan alami tetap keadilan karena kita adalah orang yang begitu jauh dari Tuhan.
Jadi, pada waktu kita merenungkan karakter Tuhan dan tentunya pada waktu kita tanya lagi, “Dari mana kami mendapatkan karakter itu?” Yaitu dari firman Tuhan. Apa yang Alkitab nyatakan. Dari situ, kita mulai mengenal Tuhan, mengerti kehendak Tuhan dalam kehidupan kita, apa yang disukai Tuhan dan apa yang tidak disukai Tuhan. Maka, dari situ, kita mulai menyadari, “Kami sudah terlalu jauh dari Tuhan.” Itu sebabnya, tadi saya katakan, kalau kita mementingkan penggembalaan di dalam gereja, penggembalaan yang paling utama adalah di dalam pemberitaan firman. Nah, pada waktu kita memberitakan firman, di situ jemaat diajak untuk mengenal karakter Allah, mengenal kehendak Allah, mengerti kesucian Allah dan keadilan Allah di dalam kehidupan yang mereka jalani.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, penting tidak? Penting sekali. Apalagi, jemaat malas sekali ikut PA. Malas sekali ikut kelas STRIY dan ikut persekutuan yang lain. Kapan bisa dapat firman? Kalau diserahkan kepada diri, mungkin baca Alkitab pun seminggu cuma 1x dan 2x, yaitu di Minggu dan mungkin di hari lain. Lebih rohani sedikit. Maafkan saya bicara agak keras, Bapak, Ibu, tetapi terus terang, ini adalah sesuatu yang ada di dalam hati saya sejak 16 tahun lalu ketika saya menggembalakan di tempat ini. Ada 1 doa yang terus saya doakan sampai hari ini, yaitu supaya kita semua boleh bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah di dalam Kristus supaya kita boleh bertumbuh di dalam kasih Allah yang dinyatakan di dalam Kristus dalam kehidupan kita. Dan firman menjadi hal yang utama.
Itu sebabnya, R.C. Sproul bilang kayak gini: Pada waktu kita mengerti firman itu utama, pada waktu kita mengerti, melalu firman maka kita mengalami pembaharuan di dalam akal budi kita dan juga mulai mengerti apa yang menjadi kehendak Allah untuk kita jalankan dalam hidup kita, iblis pasti tidak suka. Bukan hanya natur berdosa kita saja yang membuat kita ingin berjalan menurut jalan orang dunia ini, tetapi di balik dari tindakan itu, ingat baik-baik di dalam Efesus 2 ada kalimat: Ada kuasa iblis yang bekerja menaklukkan kita, menundukkan kita, dan iblis tidak ingin kita untuk hidup di dalam ketaatan kepada Tuhan di dalam transformasi dari akal budi kita, tidak ingin kita mengerti permasalahan yang ada di dalam budaya manusia, tidak ingin kita mengetahui bahwa itu adalah satu dosa yang dibenci oleh Tuhan. Caranya bagaimana? Caranya adalah buat kita malas baca firman. Caranya bagaimana? Buat kita merasa lebih penting bekerja, bermain dengan teman, makan, dan yang lain-lain daripada datang PA. Caranya bahkan membuat kita merasa ibadah itu cukup 1 kali dalam 1 minggu. Hanya Minggu saja mungkin.
Bapak, Ibu boleh teruskan di dalam list yang lain, tapi pada waktu kita berpikir semua itu cukup, apa yang terjadi? Kita nggak ngerti firman. Kemarin saya ada kutip salah satu ayat di Amsal ya. Boleh kita buka Amsal pasal 1. Amsal pasal 1 kita baca ayat 24 sampai dengan ya boleh sampai 33 ya. Amsal 1:24, “Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok apabila kedahsyatan datang ke atasmu, apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tapi tidak akan kujawab. Mereka akan bertekun mencari aku, tapi tidak akan menemukan aku. Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan Tuhan, tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka dan menjadi kenyang oleh rencana mereka. Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya. Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, bagaimana kita menafsirkan ayat 29? “Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan Tuhan.” Mungkin kita akan berkata, “Oh, ini bukan berbicara mengenai orang Kristen, ini berbicara mengenai orang dunia. Mereka tidak dengar firman, mereka tidak pedulikan firman seperti itu.” Oh, tunggu dulu. Kitab Suci ditulis untuk siapa? Untuk siapa? Orang Kristen. Siapa yang baca? Orang Kristen. Jadi pada waktu Tuhan memberikan peringatan ini, peringatan ini untuk siapa? Orang Kristen. Peringatan apa yang diberikan? Perhatikan baik-baik. Pengetahuan, didikan. Maksudnya apa? Ini bukan bicara ilmu biologi, ini bukan bicara ilmu sains, ini bukan bicara ilmu matematika dan ilmu dagang, tetapi didikan untuk mengerti hikmat kebenaran Tuhan dalam kehidupan kita. Dan Amsal bilang kita, kalau mereka benci kepada pengetahuan itu, mereka tidak memilih takut akan Tuhan, artinya adalah mereka tidak utamakan firman, tidak utamakan untuk mengerti kehendak Tuhan, tidak utamakan untuk mengejar kebenaran itu dalam hidup mereka, ingat baik-baik, pada waktu kecelakaan tiba, hari malang tiba, engkau mau teriak kepada Tuhan, minta pertolongan, Dia diam. Dia akan tidak menanggapi.
Mungkin kita pikir yang utama itu adalah hal supranatural terjadi, tapi kalau kita ada di dalam kecelakaan, kita berdoa, hal supranatural itu terjadi nggak? Kalau tidak terjadi berarti Tuhan diam. Saya ajak kita lihat lebih dalam. Pada waktu kita mengalami kemalangan, kita berdoa, hal supranatural tidak terjadi, itu satu hal. Tapi yang lebih menakutkan adalah tidak ada firman yang menuntun pikiran kita, hikmat kita di dalam menghadapi kemalangan itu. Ini adalah penghukuman, karena apa? Kita ndak mengerti, kita nggak mau bergumul, kita nggak mau mempersiapkan diri menghadapi hal-hal yang menjadi hal yang dibenci oleh Tuhan, atau kita tidak mau bergumul untuk mempersiapkan diri menghadapi pencobaan-pencobaan di dalam dunia ini. Pada waktu kita membutuhkan firman dan terang, Yesus bicara, “Aku adalah terang dunia ini. Siapa yang hidup di dalam Aku dan percaya kepada-Ku, dia tidak akan hidup di dalam kegelapan.” Maksudnya apa? Apakah saya percaya Yesus, maka saya sudah ada di dalam terang? Alkitab ndak pernah bicara seperti ini. Memang percaya pada Yesus itu adalah satu hal yang akan membuat kita diselamatkan. Kita percaya kepada Kristus karena Dia adalah kebenaran itu, adalah terang sendiri. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika Yesus berbicara percaya kepada Dia ini bukan hanya bicara Dia adalah Tuhan dan Juruselamat saja, tapi kita juga percaya setiap kebenaran yang Allah katakan, Kristus katakan itu adalah terang.
Saya sedih sekali, orang Kristen seringkali cuma tahu satu hal, Yesus Tuhan dan Juruselamat. Apa yang Dia lakukan? Menyelamatkan saya. Apalagi? Dia minta kita mengasihi. Ada yang lain nggak? Datang ke gereja dan berbakti. Yang lain? Melayani dengan karunia yang Tuhan berikan. Yang lain? Bingung. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, muncul bingungnya di mana tahunya? Waktu masalah tiba. Orang Kristen mungkin ya ketika masalah tiba, dia merasa pijakan kakinya itu bukan dari batu. Mungkin dia sedang berdiri di pasir pantai dan ombak datang menerpa diri dia mendadak pijakannya itu menjadi kehilangan kekuatan, keseimbangan. Dan kalau ombak itu lebih kuat lagi, dia akan jatuh dan terseret. Sebabnya karena apa? Nggak pernah ada dasar, nggak pernah ada kebenaran yang ditanam dan dipelajari, ditulis di dalam hati kita mengenai firman Tuhan. Kalau kita ada di dalam kondisi seperti ini, bagaimana kita akan menghadapi dunia? Alkitab berkata pada waktu Paulus menulis surat Filipi, ini adalah surat yang ditulis berdasarkan apa? Berdasarkan orang kudus ada di dalam Kristus dan yang kedua adalah di Filipi.
Saudara kalau mau baca bisa buka dari Filipi 1 ayat 1. Di sini di dalam salam pembukaan Paulus, Paulus bilang, “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken.” Di situ ada kalimat salam kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi. Maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah Paulus ketika menulis surat kepada jemaat Filipi, dia menekankan 2 hal. Ini 2 hal yang penting sekali, pertama, dia menulis bukan kepada orang dunia tetapi dia menulis kepada setiap dari orang yang mendapatkan kasih karunia dari Allah dalam kehidupan mereka, yaitu di dalam Kristus. Jadi pada waktu Paulus menulis hal ini, Paulus tahu satu hal, dia sedang menulis kepada anak-anak Allah. Dia sedang menulis kepada orang-orang yang merupakan warga negara dari kerajaan Allah. Bapak, Ibu bisa lihat itu di dalam ayat yang tadi kita baca ya. Silakan baca sendiri dan cari sendiri, ya. Pokoknya di Filipi ada yaitu kita ditulis, dinyatakan sebagai anak Allah. Lalu memang satu lagi kawan sewarga itu ada di dalam pasal yang ketiga yang kita tidak baca ayat 20. Jadi pada waktu Paulus menulis kepada jemaat Filipi, dia tahu satu, dia ingatkan jemaat Filipi. “Ingat baik-baik, loh jemaat Filipi. Kalian itu adalah orang-orang yang datang mengikut Tuhan bukan karena keinginan kalian sendiri. Tahu tidak? Ini adalah karunia Tuhan.” Contohnya di mana? Di Kisah Rasul ada satu peristiwa. Pada waktu Paulus melayani, maka di situ ada seorang perempuan yang dengan begitu perhatian mengamati, mendengarkan apa yang diajarkan oleh Paulus. Dan perempuan ini siapa? Namanya Lidya. Nah, pada waktu dia fokus dan memperhatikan apa yang Paulus katakan, Alkitab mencatat karena Roh Kudus bekerja di dalam hatinya dan memberikan membuka hatinya. melembutkan hatinya sehingga dia bisa fokus kepada apa yang Firman Tuhan katakan. Ini menunjukkan kalau kita bisa datang ke gereja, kita tidak main HP pada waktu gereja, kita tidak tidur pada waktu khotbah diberikan, kita nggak mikirkan yang macam-macam, tapi kita punya hati yang ingin menuju kepada firman dan mendengarkan pengajaran yang diberikan, itu berarti Roh Kudus bekerja di dalam hati kita. Tapi kalau kita tidak memedulikan itu, itu berarti mungkin Roh Kudus tidak bekerja di dalam diri kita. Ya, mungkin kurang tidur, ya di malam sebelumnya, maka kita kecapekan. Tapi kalau kita mengerti ibadah itu bukan sesuatu untuk memuaskan kita, tapi ibadah adalah sesuatu untuk menyembah Tuhan, saya yakin kita akan konsentrasi dan berusaha untuk menampilkan diri dengan kesegaran, dengan hati yang sungguh-sungguh tertuju kepada Firman Tuhan dan kepada Tuhan.
Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, siapa orang Kristen? Paulus bilang, orang Kristen adalah orang yang dapat kasih karunia. Dari mana kita tahu? Dari cara orang Kristen mendengar, fokus pada firman, memperhatikan apa yang Tuhan katakan itu bukan sesuatu yang bisa muncul dari diri, tapi itu adalah pekerjaan yang Tuhan kerjakan di dalam hati kita. Jadi, istilah lainnya adalah itu adalah kasih karunia. Karena dunia punya prinsip sangat bertolak belakang dengan apa yang Tuhan katakan di dalam kerajaan Allah. Kalau di dalam kerajaan Allah ada yang namanya ordo, ada namanya keteraturan, ada namanya kelembutan hati untuk menundukkan diri di bawah kebenaran. Tapi di dalam dunia apa? Dunia mengatakan yang penting perasaanku dipuaskan, yang penting keinginanku yang diikuti, yang terjadi, yang penting rancanganku itu yang utama dan harus dikejar. Bukan rancangan Tuhan yang harus kita utamakan, kita kerja dalam kehidupan kita. Bagaimana dua hal ini bisa sinkron? Kecuali ada Roh Kudus yang bekerja di dalam diri kita untuk menyatakan kebenaran itu di dalam hati kita.
Jadi satu hal pada waktu Paulus membicarakan mengenai kebenaran untuk menggembalakan jemaat Filipi, Paulus mau berkata, “Ingat satu hal Filipi, bahwa engkau adalah warga negara Allah, warga negara surga, dan engkau adalah anak-anak Allah berdasarkan kasih karunia.” Saya percaya ini adalah satu prinsip yang berlaku sampai hari ini. Siapa orang Kristen? Siapa kita yang hadir di dalam gereja ini? Siapa orang-orang Kristen yang ada di dalam gereja-gereja yang lain? Kalau mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kasih karunia Tuhan, mereka layak untuk disebut sebagai anak Allah, mereka layak untuk disebut sebagai orang-orang yang memiliki warga negara surga. Tapi sekali lagi itu bukan karena kemauan kita, bukan karena usaha yang kita bisa kejar dan lakukan dari dalam hati kita, karena kita sadar dari diri kita sendiri, tapi itu adalah hal yang Tuhan inginkan. dan kerjakan di dalam diri kita.
Mungkin kalau kita bicara mengenai hal ini, satu hal yang kita perlu singgung adalah yaitu sudahkah kita, saya dan Saudara dilahirbarukan? Sudahkah kita betul-betul menyandarkan hidup kita ke dalam tangan Kristus? Baik di dalam penebusan dan juga di dalam segenap kebenaran yang memimpin kehidupan kita. Sudahkah hal itu kita tuntut dalam diri kita? Itu yang membedakan kita dari dunia. Tapi selain daripada hal ini, Paulus juga bicara orang kudus itu di mana? Di Filipi. Arti Filipi artinya apa? Artinya mereka bukan di surga. Mereka ada di dalam dunia ini. Warga negara kita memang surga. Artinya adalah pada waktu kita percaya pada Kristus, nama kita sudah tertulis di dalam kitab kehidupan dan akhir hidup kita adalah pasti, yaitu kita akan hidup bersama dengan Kristus. Tetapi menarik sekali Paulus bilang kita atau mereka ada di Filipi, kita ada di Jogja, kita ada di Jakarta, kita ada di Solo, kita ada di kota-kota lain yang ada di Indonesia. Itu berarti walaupun kita adalah warga negara surga, anak Allah, tapi kita hidup di dalam dunia ini.
Saya pernah kutip ayat dari Yohanes pasal 17, Yesus di dalam doanya berkata kepada Bapa, “Bapa, aku berdoa bukan untuk meminta Engkau memanggil mereka. Aku berdoa supaya mereka tetap ada di dalam dunia ini pada waktu percaya. Tetapi kuduskanlah mereka di dalam kebenaran sehingga dunia bisa melihat kalau mereka satu di dalam Aku seperti Aku satu dengan Bapa.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah rencana Tuhan. Di dalam kehidupan siapa? Jemaat Filipi. Di dalam kehidupan siapa? Setiap kita yang percaya pada Kristus di dalam dunia ini dan khususnya di dalam kota atau Provinsi Yogyakarta ini. Ini adalah panggilan kita.
Nah, kalau kenapa Paulus bicara hal yang pertama itu penting dalam Kristus lalu baru yang diikuti kedua, di Filipi ini mau menunjukkan ada pertentangan besar, ada satu konflik yang akan terjadi antara mereka yang hidup di dalam kerajaan surga dengan mereka yang hidup di dalam dunia ini. Tapi pada waktu kita melihat kehidupan terjadi pertentangan itu. Pertentangan itu antara siapa? Mungkin kalau di sini kita bisa terapkan orang-orang Filipi saat itu tunduk di bawah kerajaan Roma. Walaupun saat itu mereka tinggal di tempat yang jauh dari Roma, tetapi pada waktu mereka ada di situ, mereka harus tahu satu hal, otoritas tertinggi dalam hidup mereka adalah kaisar. Dan mereka juga di dalam kondisi yang begitu nyaman dan menyenangkan di kota itu. Ada yang mengatakan Kota Filipi adalah kota yang begitu indah dan menyenangkan sekali. Tapi pada waktu Paulus bicara. “Hai, Filipi, ingat baik-baik, engkau adalah anak Allah atau orang di dalam kudus di dalam Kristus“, ini artinya apa? Artinya adalah, setinggi-tingginya otoritas dari pemerintah yang ada di dalam dunia ini, sebesar-besarnya kuasa yang ada di dalam pemerintahan dari pada kerajaan dunia ini, satu hal otoritas Tuhan jauh lebih besar dan lebih utama, lebih penting dari pada kerajaan dunia.
Ini satu hal yang saya lihat ya, sulit sekali untuk kita jalankan. Apalagi kita adalah minoritas, di tengah-tengah mayoritas yang tidak percaya kepada Kristus. Tapi kalau Bapak, Ibu, bicara seperti ini dan menjadikan ini alasan untuk kita hidup seperti dunia, Filipi punya jemaat juga minoritas. Dan konsekuensi tidak menyembah kaisar apa? Ya, mungkin kematian, aniaya dalam hidup mereka. Dan kalau mereka memilih untuk hidup menurut orang-orang Filipi, itu jauh lebih menyenangkan, nggak ada konflik, nggak ada pertentangan, mereka bisa menikmati hidup ini benar-benar mungkin dengan segala fasilitas yang disiapkan di Filipi. Tapi Paulus bilang, “Ingat, engkau adalah Anak Allah, engkau adalah orang kudus, engkau adalah orang kudus yang ditempatkan di Filipi, itu sebabnya engkau harus mengerti otoritasmu siapa, prinsip hidupmu berdasarkan kebenaran siapa? Regulasi siapa? Di dalam hidupmu di kota Filipi.” Dan kalau kita terapkan dalam hidup kita, otoritasmu ada di bawah sultan, presiden Indonesia, atau di bawah Allah. Gaya hidupmu seperti orang dunia yang hidup di dalam pergaulan bebas yang hidup mengejar apa yang menjadi keinginan hati, kemauan diri, kesenangan diri, ataukah apa yang Tuhan kehendaki.
Dan kalau saya lanjutkan, mungkin ada satu hal yang menyedihkan. Pada waktu kita melihat gereja, prinsip gereja pelan-pelan bergeser. Bergeser di mana? Mereka merasa bahwa ibadah itu kurang menarik kalau ditujukan kepada Tuhan. Kalau ingin menarik bagaimana? Menarik dengan mengkrompromikan liturgi yang bersikat transenden atau vertikal. Lalu membuatnya jadi apa? Imanen. Maksud imanen bagaimana? Membuat supaya kita nyaman, membuat kita senang, membuat kita merasa diri kita dipuaskan, dilegakan melalui liturgi yang dilakukan. Membuat orang dunia bisa merasa bahwa bahasa mereka dengan bahasa gereja itu sama. Maka itu membuat mereka mau datang ke gereja berbakti pada Tuhan. Dimulai dari apa? Lagu. Lalu apa lagi? Mungkin segala aksesoris yang ditambahkan di dalam gereja.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita pikir ini adalah penginjilan, mungkin ini adalah penjangkauan yang dilakukan oleh gereja terhadap dunia. Saya terus terang bertanya ya, sebenarnya dunia menjangkau dunia atau gereja yang menjangkau dunia? Karena pada waktu kita bicara mengenai di dalam Kristus, bahasa Yunani itu menggunakan dua istilah. Satu adalah “eis”, satu adalah “en”. Di dalam “en” itu bicara di dalam, tetapi “eis” itu berarti masuk ke dalam. Seperti misalnya kalau Saudara sebelumnya ada di luar dari gereja, lalu Saudara dikatakan di dalam, “eis”, Kristus, lalu Saudara melangkahkan kaki masuk ke dalam gereja ini. Nah, ketika Saudara ada di dalam gereja tujuannya untuk apa? Beribadah kepada Tuhan kan? Kalau beribadah kepada Tuhan yang disenangkan itu siapa? Saudara atau Tuhan? Tuhan. Kalau Tuhan disenangkan, saudara senang nggak? Senang? Yakin? Perlu penyangkalan diri nggak untuk senang? Atau otomatis sinkron? Saya yakin tidak. Emosi kita mungkin ya saya ambil contoh musik ya, orang musik mungkin merasa himne terlalu kaku. Tetapi di dalam gereja kira-kira Bapak, Ibu, lagu yang bertahan ratusan tahun itu apa? Cuma satu himne. Kedua, coba nyanyi baca himne. Susah nggak baca-baca ayatnya? Susah kan. “Bukakan Mataku Tuhan Untuk Lihat Kebenaran”, ini gampang ya. Lalu, nomor dua, “Seluruh Umat Oleh-Nya Dikenal.” Kayak gitu. “Seluruh umat Tuhan oleh-Nya dikenal besar, kecil, semua sekarang dan kekal.” Lalu lagu nya; sol fa mi re re do do re re re do re mi mi fa re do si do sol mi fa re do si do. Bagus nggak? Bagus ya, kebetulan Vikaris Lukman milih lagu yang bagus-bagus. Tapi ada lagu yang susah loh, ada lagu yang kalimatnya nggak bisa kita sekedar rasakan. Kita harus konsentrasi. Kita harus pikirkan, kita harus renungkan, dan kadang-kadang melodinya juga nggak menarik.
Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu lagu yang baik atau lagu yang boleh disingkirkan dan diganti? Saya tetap percaya kita harus pertahankan. Kenapa kita pertahankan? Karena di situ ada didikan teologi, ada kebenaran firman, ada prinsip yang kekal yang Tuhan tanamkan. Ada kedalaman pengenalan dan pengajaran yang diberikan lagu itu bagi diri kita. Coba bandingkan dengan lagu sekarang. Satu bait cukup. Yang penting apa? Menyentuh emosi, rasa kehadiran Tuhan. Nyanyi lagu himne, di mana kehadiran Tuhan? Padahal di situ dinyatakan Tuhan sudah memberitakan fiman-Nya dan mendidik kita untuk memuji Dia berdasarkan kebenaran. Ini liturgi gereja loh, Bapak, Ibu. Tapi bagi orang Kristen sering kali ini bukan sesuatu yang bisa dikatakan Tuhan hadir dan mengurapi kita. Lalu dasarnya apa? Dasarnya kalau emosi kita bisa dibangkitkan, diluapkan, digerakkan. Tapi bukankah itu menyatakan kalau kita adalah orang yang moody, bukan orang yang stabil di dalam kebenaran firman.
Banyak sekali hal-hal yang saya lihat kita pikir kita sedang melayani Tuhan di dalam kebenaran, tapi sebenarnya kita sedang membawa gereja dan umat Tuhan menyimpang daripada kebenaran Tuhan dan tidak mempersiapkan mereka untuk hidup di dalam ketaatan yang memuliakan Tuhan dalam hidup kita. Nah, kalau dalam kondisi kayak gini, mungkinkah kita bisa menang terhadap dunia? Mungkinkah kita bisa menang terhadap orang Jogja? Mungkinkah kita bisa berdiri dan mengerti filosofi mereka yang berbeda dengan Alkitab?
Di Petrus itu ada kalimat kita harus siap sedia. Ketika orang meminta pertanggungjawaban dari kita, kita tahu bagaimana membicarakannya. Kolose ada kalimat jangan kau ditipu oleh filsafat dunia yang kosong. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita tahu tidak ini filsafat dunia? Kita tahu nggak itu adalah pengajaran yang berbeda daripada Alkitab? Kita tahu nggak itu adalah doktrin yang berusaha mencuci otak kita? Tapi firman Tuhan adalah doktrin untuk menerangi hidup kita. Ini adalah satu hal yang kita perlu gumulkan. Apalagi mungkin salah satu contoh kita nggak siap menghadapi dunia adalah seperti yang di Filipi katakan di ayat 14 dan seterusnya, yaitu apa? Hal yang dilarang justru kita lakukan. Apa yang dilarang? Bersungut-sungut, berbantah-bantahan. Hidup tidak beraib, tidak bernoda, tidak bercelah. Hidup di dalam kondisi yang tidak sesat, di dalam cahaya terang dari Tuhan. Tapi pada waktu kita lihat ternyata orang Kristen pun nggak beda dari orang dunia. Sama-sama bersungut-sungut, sama-sama hidup dalam dosa, sama-sama berpikir bahwa memuaskan nafsu kedagingan itu nggak apa-apa. Sama-sama cara berbicara dan cara bercanda tidak beda dengan orang dunia, masih suka bicara yang jorok. Gimana? Ini yang penting ya. Paulus bilang pada waktu kita melihat jemaat Filipi, Paulus bilang, “Engkau adalah orang kudus tapi di Filipi.” Pada waktu kita terapkan ini dalam hidup kita, kita boleh tanya satu hal. Apakah kita adalah orang kudus di dalam Kristus yang Tuhan tempatkan di DIY ini dan sekitar? Atau sebenarnya kita adalah orang dunia yang kebetulan ada di dalam gereja dan tinggal di DIY?
Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, ada prinsip hidup yang Tuhan ingin kita lakukan. Tapi gampang tidak? Saya percaya tidak gampang. Apalagi kalau kita sendirian di dalam menghadapi dunia, di mana kita bekerja, di mana kita berelasi dengan teman kita, dan mungkin pengaruh dari dunia jauh lebih kuat untuk menyeret kita ke dalam situ dan kita merasa bahwa ini adalah sesuatu yang berbeda dari gaya hidup pendeta. Pendeta cuma temu jemaat, menyampaikan firman, tapi kalau kami harus berhadapan dengan orang dunia, cara dagang mereka, cara mereka berelasi, cara mendapatkan pekerjaan dari mereka ini, kalau kami nggak ikuti, bagaimana kami bisa menghidupi kehidupan ini? Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, ingat satu hal, kalau sendirian kita pasti akan sulit. Tapi Paulus di sini bilang satu hal yang penting yaitu apa? Yaitu kita sambil berpegang pada firman, kita bersama-sama untuk menghadapi angkatan yang bengkok ini. Ini bukan satu hal yang bisa dikerjakan sendiri, tapi ini adalah sesuatu yang kalau kita kerjakan secara proyek bersama, saya yakin kita bisa menangkan dan ada orang dunia yang akan bertobat dan kembali kepada Tuhan. Tapi cuma dengan satu prinsip, ya. Satu prinsip itu apa? Bukan kesatuan organisatoris gereja, bukan kesatuan dalam hal mungkin segala pengajaran presisi, persis sama, tetapi yang esensi harus sama ya. Tetapi esensi itu bicara mengenai apa? Bapak, Ibu boleh buka ayat 27 sampai 28 pasal 1 dari Filipi ya. “Hanya hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya apabila aku datang aku melihat dan apabila aku tidak datang aku mendengar bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil dengan tiada digentarkan sedikit pun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tapi bagi kamu tanda keselamatan. Dan itu datangnya dari Allah.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dengan khotbah ini saya berdoa supaya pada waktu kita menghadapi apa pun dalam hidup ini, apakah itu pekerjaan, rekan bisnis yang ingin membawa kita menyimpang dari kebenaran Tuhan, atau pergaulan keluarga, atau mungkin perselisihan yang ada di dalam kehidupan suami istri, cara menghadapi anak, cara menghadapi sesama saudara seiman, satu hal: setiap ada kasus, Injil yang ditinggikan, Injil yang dinyatakan, Kristus yang ditinggikan atau aku yang dinyatakan dan ditinggikan. Kalau kita bersama-sama meninggikan Kristus dan mengutamakan Injil, saya yakin semua yang kita baca di ayat 14 dan seterusnya itu bisa dikesampingkan. Bukan hal yang kita akan lakukan dalam hidup kita. Dan dengan begitu hidup kita akan menjadi satu kehidupan yang sungguh-sungguh berpegang pada firman, bermegah pada hari Kristus, dan betul-betul hidup dalam sukacita demi kemuliaan nama Tuhan dan kita bisa berbangga di dalamnya. Dan saya yakin semua hamba Tuhan yang melayani, termasuk mungkin saya yang berdoa, saya juga akan sangat bersukacita karena melihat apa yang dilakukan pelayanan yang selama ini dikerjakan ada buah yang Tuhan berikan. Kiranya Tuhan boleh dimuliakan ya. Mari kita masuk dalam doa kita. Dengan hormat, Vikaris Lukman boleh pimpin dalam doa.
Bapa kami di surga, kami bersyukur ya Tuhan untuk kebenaran firman Tuhan yang Kau kembali nyatakan kepada setiap kami. Biarlah kebenaran ini boleh sungguh kami simpan di dalam hati kami ya Tuhan. Dan kiranya Engkau terus tolong kami hidup di tengah-tengah dunia ini untuk bukan menjadi serupa dengan dunia, tapi hidup di tengah-tengah dunia dengan semakin serupa dengan Kristus. Kiranya Engkau tolong kami, gereja-Mu di tempat ini ya Tuhan, untuk bertumbuh ke arah Kristus, semakin mencintai Kristus dan mencintai sesama, semakin berani untuk menegakkan kebenaran Kristus dan semakin juga Tuhan pakai untuk memuliakan nama-Mu di bidang-bidang di mana pun Tuhan menempatkan dan memanggil kami. Kami bersyukur untuk Pendeta Dawis yang sudah Tuhan pimpin di Jogja ini. Kiranya Engkau juga terus sertai Tuhan untuk pelayanan-pelayanan di mana Tuhan memimpin. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
