Yoh. 13:1-38
Pdt. Dawis Waiman
Hari ini kita nggak akan bahas sampai bagian yang terakhir, tapi kita akan fokus sampai ayat yang ke-22 ya. Di dalam pembahasan kita di Yoh. 12, kita sudah melihat bahwa pertama-tama Yesus ketika melayani di dalam dunia ini, ada orang-orang bukan Yahudi atau orang-orang Yunani yang datang kepada Yesus Kristus dan melalui Filipus dan Andreas, informasi itu sampai kepada Yesus Kristus. Dan pada waktu informasi ini sampai kepada Yesus, maka Yesus berkata di dalam ayat yang ke-24 pasal yang ke-12 dari Injil Yohanes, Dia berkata, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Tetapi sebelum membicarakan hal ini, Yesus di ayat 23 berkata, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.“
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sejak mulai daripada waktu itu, maka kita melihat fokus pelayanan dari Yesus Kristus itu mulai bergeser, tidak lagi difokuskan kepada orang-orang umum atau jemaat yang merupakan orang banyak yang selalu datang mengikuti Yesus Kristus. Tetapi fokus pelayanan Yesus Kristus itu mulai dialihkan kepada murid-muridNya sendiri. Mungkin saya katakan secara khusus kepada 12 daripada rasul tersebut. Dan pada waktu kita berbicara seperti ini bukan berarti nanti di dalam pasal 13 dan seterusnya Yesus tidak lagi berinteraksi dengan orang banyak tersebut. Ada poin-poin di mana yang membahas di mana ada persinggungan antara kehidupan Kristus dan apa yang dialami oleh Yesus Kristus bersama dengan orang banyak itu. Tetapi pada bagian pasal 13 dan seterusnya, Yesus seperti secara khusus sedang mempersiapkan murid-muridNya untuk hari kematian yang Dia akan alami segera tersebut. Itu sebabnya pada waktu kita baca di dalam pasal 12 sebelumnya tadi, pada waktu orang Yunani itu datang bertemu dengan Yesus dikatakan sekaranglah waktunya. Sebelumnya Yesus selalu berkata, “Belum waktunya, belum tiba saatnya.” Tapi sekaranglah waktunya atau tiba saatnya untuk apa? Anak Manusia dimuliakan.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai Anak Manusia dimuliakan, apa maksud dari perkataan ini? Saya sengaja masuk ke dalam bagian ini terlebih dahulu karena di dalam pasal yang ke-13 kita baca ada bagian yang mengatakan Yesus juga sudah waktunya untuk dipermuliakan pada waktu itu. Pada waktu kita bicara mengenai apa yang dimaksud dengan Yesus dipermuliakan, mungkin kita akan berpikir bahwa ini adalah sesuatu posisi yang akan segera diterima oleh Yesus Kristus. Satu jabatan, jabatan sebagai seorang raja yang memerintah Israel dan sebentar lagi semua bangsa-bangsa yang lain akan tunduk dan takluk di bawah otoritas dari Yesus Kristus ini. Tetapi kalau kita perhatikan di ayat yang ke-24 setelah Yesus berbicara mengenai sekarang tiba waktunya Dia akan dimuliakan, sepertinya ada kontras yang begitu besar sekali antara apa yang digambarkan, apa yang dipikirkan, apa yang diajarkan oleh orang-orang Farisi, pemimpin agama, kepada orang-orang Yahudi dan diteruskan kepada anak cucu mereka dengan apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Saya lihat ada kesalahpahaman atau ketidakmengertian yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi dan pemimpin agama berkaitan dengan kedatangan Mesias dan tujuan dari kedatangan Mesias yang pertama. Bagi mereka, kedatangan Mesias yang pertama akan memulihkan kondisi dari Israel dan pemuliaan ini terjadi bukan secara rohani tetapi secara fisik atau mungkin kalau kita mau bicara, ya, kedua-duanya seperti itu; yaitu kerajaan Daud akan dipulihkan dan dibangun kembali dan berkuasa kembali dan tidak ada seorang pun di antara bangsa-bangsa dan kerajaan yang sanggup untuk melawan bijaksana dan kekuatan dari Mesias ini.
Tetapi pada waktu kita melihat pada pengajaran dari Yesus Kristus, Yesus tidak berbicara seperti itu. Tetapi Yesus berkata, pada waktu Dia akan dimuliakan, pemuliaan yang dialami oleh Yesus sangat bertolak belakang sekali dengan konsep pemuliaan yang dimiliki oleh orang-orang dunia, yaitu apa? Khususnya orang-orang Yahudi, yaitu Yesus dimuliakan dalam pengertian Dia akan direndahkan sedemikian rupa sampai dipakukan di atas kayu salib. Dan bagi Yesus inilah pemuliaan yang dikehendaki oleh Bapa. Dan ini adalah satu prinsip yang dimengerti oleh Yesus sejak dari mula pelayanan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.
Kalau Bapak Ibu perhatikan di dalam peristiwa Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, saat itu ada tiga pencobaan yang dialami oleh Yesus Kristus. Pertama adalah di saat Dia begitu lapar, Dia diminta oleh iblis untuk mengubah batu menjadi roti. Saat kedua adalah Dia diminta untuk melompat dari atas Bait Allah dan dikatakan ada malaikat Tuhan yang akan menatang kakinya sehingga kakinya tidak terjatuh dan terantuk ke lantai. Tetapi ada poin yang ketiga yang dikatakan bahwa malaikat atau iblis itu meminta Yesus untuk menyembah dia satu kali saja dan seluruh dunia akan menjadi milik Dia. Jadi di dalam pencobaan itu, iblis tahu persis dan ini juga menjadi satu peringatan bagi kita ya, dia sangat tahu apa yang menjadi kelemahan kita, apa yang menjadi posisi atau kondisi di mana kita pasti akan jatuh di dalam dosa pada waktu iblis mencobai diri kita atau pencobaan itu datang. Dan pada waktu itu Yesus dicobai dengan satu pemahaman bahwa “Jika Engkau Anak Allah coba lompat maka malaikat akan menatang Engkau.” Artinya adalah kalau Dia sampai lompat pada waktu itu seluruh dari Yerusalem pasti mengerti Dialah yang dinubuatkan di dalam Kitab Suci. Tetapi Yesus menolak itu. Lalu ada yang pencobaan ketiga tadi dikatakan, “Kalau Engkau sujud pada aku satu kali, seluruh dunia menjadi milikku.”
Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, apa tujuan Yesus datang ke dalam dunia? Alkitab bilang supaya seluruh dunia ditaklukkan di bawah Kristus. Dia yang menjadi Raja, yang menjadi Tuhan atas semua ciptaan, semua manusia di dalam dunia ini. Itu yang menjadi tujuan Yesus. Tapi ada beda sekali. Iblis menawarkan satu posisi dan kemuliaan tanpa melalui penderitaan, tanpa melalui salib. Tetapi Yesus mengerti itu bukan kehendak Bapak. Itu sebabnya Yesus kemudian menolak pencobaan itu dan mengusir setan dan berkata, “Hanya satu yang boleh disembah, yaitu Allah sendiri dan tidak boleh ada yang lain untuk disembah dalam kehidupan ini.” Nah, ini yang menjadi konsep pemuliaan dari Yesus Kristus. Saya tidak akan lanjut terlebih dahulu. Nanti, kita akan lihat aplikasinya di dalam Yohanes 13. Tetapi pada waktu ini, kita akan berbicara mengenai setelah peristiwa itu, maka Yesus kemudian memfokuskan pelayanan-Nya kepada murid-murid-Nya sendiri atau inner circle dari Yesus Kristus.
Nah, untuk apa, Yesus memusatkan perhatian kepada murid-murid-Nya? Karena mereka sendiri belum memahami apa yang menjadi tujuan Yesus datang. Mereka sendiri berpikir bahwa kemuliaan yang akan dialami oleh Yesus adalah persis seperti orang-orang Yahudi pada umumnya. Nah, ini kita bisa kita lihat kalau Bapak, Ibu buka di dalam Lukas 22. Di sini, dikatakan secara lebih jelas mengenai kondisi ketika murid-murid akan melakukan Paskah tersebut. Tetapi, tidak dicatat di dalam Yohanes 13, ya. Pada waktu mereka berkumpul─ Lukas 22 ayat yang ke-24 dst. Ayat 14 bicara mengenai penetapan perjamuan malam, yaitu Paskah itu ─terjadilah pertengkaran di antara murid-murid-Nya, di ayat 24, di mana mereka memperebutkan atau membicarakan siapa yang dianggap terbesar di antara mereka sendiri atau 12 rasul itu. Dan di situlah, Yesus kemudian menggunakan kesempatan ini untuk mengajar kepada murid-murid-Nya bahwa prinsip dari Kerajaan Allah itu berbeda dari prinsip dunia. Tolok ukur yang digunakan untuk mengukur kehidupan dari umat Allah itu berbeda dari tolok ukur yang digunakan oleh orang-orang dunia. Apa yang dianggap oleh orang dunia sebagai suatu kemuliaan, sesuatu yang penting, misalnya postur, penampilan, kekayaan, kesehatan─mungkin, jabatan yang ada di dalam hidup ini, itu menjadi hal yang penting untuk menilai seseorang, tetapi di dalam Kerajaan Allah, Yesus berkata, tolok ukurnya sangat berbeda sekali. Kalau di dalam dunia, yang utama dan penting itu yang memimpin dan yang dipimpin akan tunduk dan menghormati yang memimpin mereka, tetapi di dalam Kerajaan Allah, Yesus berkata, justru yang mulia itu adalah orang yang merendahkan diri untuk melayani sesama saudara seiman atau orang-orang yang ada di dalam dunia ini.
Nah, ini yang menjadi 1 hal yang murid-murid tidak mengerti dan bahkan sampai ketika Yesus naik ke surga sekalipun, di kala di hari Dia akan naik, murid-murid bertanya, “Guru, kapan Kerajaan-Mu akan dipulihkan?” Mungkin di dalam prinsip itu, mereka berpikir kalau Kerajaan Allah dipulihkan, satu sisi, Israel akan kembali di dalam masa kejayaan dan kemuliaannya. Tetapi, mereka juga mendapatkan posisi yang penting di dalam Kerajaan Allah tersebut. Tetapi, Yesus berkata, “Itu bukan urusanmu. Yang penting adalah engkau tunggu di Yerusalem selama 10 hari.” Ini tidak disebut oleh Yesus Kristus, ya, tetapi saya sebutkan selama 10 hari karena kita sudah tahu sebelumnya. Sampai kapan? Roh Kudus diberikan. Ketika Roh Kudus itu diberikan, mereka baru kemudian melayani dengan kuasa.
Walaupun kita juga melihat ada poin-poin di mana Petrus kadang-kadang yang mewakili rasul yang lain tetap jatuh di dalam masalah yang ada di Lukas 22 ini lagi. Kita bisa lihat itu di dalam surat 1 Petrus 5:5. Petrus mengatakan, pada waktu kita melayani, kita perlu melayani dengan kerendahan hati di situ. Kalau mau buka, ya, silakan kita buka 1 Ptr. 5:5. “Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Kelihatannya, pada waktu Petrus bicara seperti ini, mungkin dia teringat kembali atau mungkin dia ketika melihat keributan yang ada di antara jemaat, dia menyadari bahwa, “Ini dulu adalah sesuatu yang kami sendiri alami di antara para rasul. Kami berjuang untuk menentukan siapa yang lebih hebat. Siapa yang lebih penting di dalam gereja. Siapa yang harus lebih dihormati daripada yang lain.” Tetapi, Petrus bicara, itu adalah tolok ukur dunia, bukan tolok ukur di dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah─ coba lihat ─bukan dari posisi, tetapi dari sikap yang melayani satu dengan yang lain. Itu menjadi hal yang utama di sini.
Nah, pada bagian ini, Yesus berbicara mengenai hari dari kematian Dia yang akan datang. Dari mana kita bicara mengenai hari kematian ini? Yaitu misalnya dari kalimat yang dikatakan berkaitan dengan “sesungguh-sungguhnya.” Di ayat yang ke-16, kita bisa melihat Yesus berkata, “Sesungguh-sungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya,ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.” Pada waktu kita berbicara mengenai bagian ini, apa yang dimaksud kalimat ini? Kenapa tadi, saya katakan ini berbicara mengenai kematian dari Kristus atau pemuliaan yang akan segera Yesus alami dalam hidup-Nya? Karena pada waktu kita berbicara seperti ini, mungkin konsep kita langsung masuk ke dalam konteks yang berbicara. Ini kanbicara mengenai pembasuhan kaki. Pada waktu berbicara mengenai pembasuhan kaki, maka Yesus di situ mengambil baskom. Lalu kemudian, mengikat pinggang-Nya dengan kain. Lalu, mulai membasuh satu per satu dari kaki murid-murid-Nya seperti itu. Dan pada waktu Dia membasuh dan tiba pada Petrus, lalu, Petrus bilang, “Engkau mau basuh kakiku, Tuhan?” Yesus bilang, “Iya. Engkau harus dibasuh karena tubuhmu sudah bersih.” Lalu, Petrus bilang, “Kalau itu yang benar, saya nggak mau hanya kaki, tetapi seluruh tubuh saya.” Dan ini sering kali diaplikasikan langsung oleh gereja, oleh orang Kristen sebagai sesuatu yang perlu diterapkan di dalam gereja atau paling tidak sesuatu yang harus diteladankan dari kehidupan Yesus Kristus.
Tetapi, ada 1 poin yang sering kali kita lewatkan pada waktu berbicara mengenai hal ini, yaitu berkaitan dengan kematian yang Yesus akan alami dan persiapan untuk menghadapi kematian itu dalam kehidupan dari murid-murid-Nya. Dan hal ini kenapa bisa dikatakan seperti itu? Karena apa yang dikatakan oleh Yesus berkaitan dengan “sesungguh-sungguhnya” ini menjawab pergumulan yang sedang dihadapi Petrus dan murid-murid yang lain. Maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah seperti ini. Pada waktu Yesus membasuh kaki dari murid-murid-Nya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini bukan hanya berbicara mengenai teladan dari pelayanan atau sikap hati yang harus dimiliki oleh murid-murid ketika melayani satu dengan yang lain saja. Tetapi pada waktu Yesus membasuh, berbicara mengenai pembasuhan kaki, ada yang menafsirkan, ini adalah ilustrasi praktik atau perumpamaan praktik yang Yesus berikan dari pembasuhan rohani atau pembasuhan terhadap dosa yang akan dikerjakan oleh Yesus Kristus. Makanya pada waktu Petrus melihat pada peristiwa Yesus membasuh kaki murid-murid, Petrus berkata, “Aku ingin dibasuh semuanya.” Tapi Yesus bicara, “Nggak, nggak harus semuanya. Kakimu, karena kakimu masih kotor.” Maksudnya apa? Maksudnya adalah engkau masih adalah orang berdosa dan apa yang Aku kerjakan adalah sesuatu untuk menebus dosamu, tetapi engkau belum mengerti pada hal itu saat ini, tetapi Aku akan tunjukkan ini terlebih dahulu. Atau saya pakai istilah, “Aku akan katakan ini terlebih dahulu, Saya akan perbuat ini, praktikkan ini terlebih dahulu supaya engkau tahu persis bahwa apa yang Aku kerjakan adalah untuk membasuh diri engkau, membasuh kakimu, membasuh dosa-dosa yang engkau miliki dalam hidupmu.”
Itu sebabnya pada waktu kita bicara mengenai pembasuhan kaki, tadi ada yang menafsirkan, ini bukan hanya berbicara mengenai teladan yang dilakukan oleh Kristus saja untuk dicontohkan atau diikuti oleh murid-murid, tetapi ini berbicara mengenai satu peristiwa ilustrasi penebusan yang Yesus akan kerjakan. Tetapi pada waktu Yesus melakukan ini, kenapa Yesus lakukan? Karena murid-murid belum memahami apa yang sedang Yesus kerjakan atau akan kerjakan bagi diri mereka sehingga mereka membutuhkan gambaran ini dalam hidup mereka.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita berbicara mengenai hal ini, ada dua hal yang paling tidak kita bisa pelajari mengenai hal ini ya. Pertama adalah dari peristiwa Yesus yang membasuh dan murid-murid tidak mengerti hal itu, tetapi Yesus tetap lakukan ini. Yang pertama adalah berkaitan dengan apa yang memotivasi Yesus datang untuk membasuh murid-murid-Nya atau menebus dosa dari murid-murid-Nya. Nah, ini dicatat di dalam ayat yang pertama dari Yohanes pasal 13. Kita akan runut lagi, tadi tadi saya kasih gambaran garis besar mengenai peristiwa ini. Lalu kita akan mundur dan mulai runut satu per satu, ya. Pada waktu Yesus masuk ke dalam hari raya Paskah, maka Dia mengumpulkan murid-murid-Nya dan Dia kemudian mengerti bahwa inilah saatnya bahwa Dia harus mati, Dia harus kembali kepada Bapa. Tetapi di dalam ayat 1 dikatakan seperti ini ya, “Sama seperti la senantiasa mengasihi murid-muridnya, demikianlah sekarang la mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.”
Bapak, Ibu , Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita bertanya apa yang memotivasi Yesus untuk menebus diri kita dari dosa? Maka alasan yang paling tepat yang kita bisa pegang dari Kitab Suci adalah bukan dikarenakan kita memiliki kelebihan dibandingkan orang-orang lain, bukan karena kita lebih baik, bukan karena moralitas kita jauh lebih tinggi daripada orang-orang di luar dari gereja, bukan karena kita memiliki uang yang banyak, bukan karena kita lebih rela untuk membantu orang lain di dalam kehidupan kita. Tetapi karena apa? Karena kasih-Nya yang Dia tunjukkan bagi kita atau Dia miliki terhadap kita, itu yang membuat Dia menebus diri kita.
Nah, waktu kita berbicara mengenai kasih-Nya kepada kita, sekali lagi kita perlu mengerti konsep ini berdasarkan Kitab Suci, yaitu kasih yang Allah nyatakan itu sangat berbeda sekali dengan kasih yang orang dunia pahami dan kebanyakan orang Kristen pahami dalam hidup mereka, yaitu kasih yang hanya timbal balik membalas budi. Pada waktu orang melakukan satu kebaikan kepada kita, kita membalasnya dengan kasih. Sebabnya karena apa? Karena dia mengasihi saya, maka saya mengasihi diri dia kembali dalam hidup saya. Atau saya mengasihi dia terlebih dahulu, selama apa? Selama dia layak untuk saya kasihi. Tetapi kalau dia tidak layak lagi, maka saya tidak akan membagi kasih saya kepada diri dia. Tapi pada waktu kita membaca dalam bagian ini, menarik sekali di sini Yesus dikatakan ketika Dia akan kembali kepada Bapa, tapi ada satu hal yang dia ingin murid-murid mengerti yaitu Dia mengasihi mereka dan kasih-Nya itu adalah kasih yang tidak pernah berkesudahan. Artinya adalah Dia akan terus mengasihi murid-murid-Nya dan juga termasuk diri kita sampai kepada akhir dari perjalanan hidup kita di tengah-tengah dunia ini.
Tetapi pada waktu berbicara mengenai hal ini, Bapak, Ibu jangan hanya melihat ini adalah satu kasih yang akan Yesus tunjukkan ke depan saja. Tetapi ini adalah satu sikap kasih yang Yesus juga tunjukkan ke belakang yaitu dari kehidupan murid-murid sebelumnya. Yaitu apa? Yaitu pada waktu Yesus mengasihi mereka, ingat baik-baik, sekali lagi ini bukan kondisi kasih yang ada syaratnya dari murid-murid-Nya. Saat itu ketika Yesus memilih murid-murid-Nya untuk Dia kasihi, Dia ajar, Dia pimpin, Dia siapkan untuk menjadi pemimpin atau rasul, pemberita injil kerajaan Allah bagi dunia ini, Yesus tahu tidak siapa yang Dia pilih, apa yang menjadi karakter mereka atau sifat mereka dari masing-masing murid-murid-Nya itu? Saya yakin Dia tahu persis siapa murid-murid-Nya. Petrus orang yang bagaimana? Andreas orang yang seperti apa, lalu Simeon, Filipus siapa mereka masing-masing? Yesus tahu persis. Bahkan Yesus juga tahu ketika Dia memilih dari antara 12 itu, ada satu orang yang akan mengkhianati diri Dia, mengorbankan Dia dan menjual Dia dengan 30 keping uang perak.
Tetapi pada waktu Yesus tahu ini semua, apa yang Yesus lakukan? Yesus tetap milih mereka. Yesus tetap menjadikan mereka murid. Nah, pada waktu mereka menjadi murid, apakah mereka sesuai dengan standar Tuhan atau gurunya? Apakah mereka menjadi murid yang berkualitas? Apakah mereka menjadi murid yang terdepan dibandingkan semua murid-murid yang lain seperti itu? Menariknya lagi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab seringkali membandingkan sikap dari para rasul, sikap dari orang Yahudi dibandingkan dengan perempuan Samaria. Samaria siapa? Samaria adalah orang yang merupakan Yahudi campuran, orang yang bersumber dari Israel Utara, orang yang hidupnya menurut orang Yahudi adalah orang yang nggak layak masuk ke dalam umat Allah karena mereka kawin campur, mereka najis. Orang-orang Yahudi tidak mau bergaul dengan orang Samaria. Salah satu ayat yang berbicara mengenai hal ini yaitu di dalam Injil Yohanes pasal yang ke-empat. Pada waktu Yesus bertemu dengan perempuan Samaria dan Dia berbicara mengenai air hidup, perempuan Samaria bertanya kepada Yesus, “Kau orang Yahudi, kan? Masa Engkau mau berbicara dengan aku? Aku adalah orang Samaria, apalagi aku adalah orang berdosa” seperti itu. Tapi Yesus tidak peduli hal itu.
Dan pada waktu murid-murid melihat pada kehidupan mereka di dalam mentaati Tuhan atau pada waktu kita membandingkan murid-murid ini yang di dalam ketaatan kepada Tuhan dengan orang Samaria, di dalam Kitab Suci menarik sekali dikatakan yang memiliki iman yang besar, yang memiliki rasa syukur kepada Tuhan atas kasih dan pemeliharaan dan kesembuhan yang Tuhan kerjakan bagi mereka, yang betul-betul percaya kepada Kristus, bukan orang Yahudi, tetapi justru sering kali digambarkan atau dinyatakan dari kehidupan orang Samaria. Ya, tentunya ada orang yang Yunani juga atau kepala perwira seperti itu. Tetapi sering kali perumpamaan yang Yesus gunakan adalah membandingkan antara orang Samaria dengan orang Yahudi.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini artinya bahwa pada waktu kita melihat kehidupan dari murid-murid, apakah mereka adalah orang yang paham? Mungkin sebagian, tapi kebanyakan mereka mungkin besar kepala, lamban untuk mengerti kebenaran yang Tuhan nyatakan bagi mereka, dan sering sekali salah paham terhadap Yesus Kristus dan sering kali mungkin membuat Yesus – kalau saya berani pakai istilah ini – kecewa terhadap diri mereka. Saya pakai istilah ini kenapa? Karena saya menempatkan Yesus sebagai manusia dan kalau saya menjadi Yesus yang guru dari murid-murid itu mungkin saya sudah kecewa berat dengan apa yang terjadi dan bagaimana mereka meresponi pengajaran Yesus tersebut.
Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di bagian ini dikatakan walau murid jatuh, apalagi misalnya kita ambil contoh Petrus, di kala Yesus berkata, mulai hari ini Dia akan menderita, Dia akan dipukul, Dia akan dicambuk, Dia akan disesah, Dia akan dipakukan di atas kayu salib dan Petrus menarik Dia ke samping lalu berkata, “Guru, sekali-sekali itu tidak akan terjadi kepada Engkau.” Yesus tetap mengasihi Petrus, loh. Walaupun Petrus adalah orang yang begitu menggebu-gebu dan meluap-meluap, sering kali yang mempengaruhi murid yang lain, misalnya pada waktu Yesus mati, bangkit tidak tunggu di kuburan, tapi kembali menjadi nelayan dengan profesi mereka kembali, Yesus tetap kembali datang untuk memanggil Petrus dan murid-murid yang lain kembali buat melayani.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya lihat ini adalah contoh yang nyata dari seorang Pribadi yang namanya Yesus Kristus yang bukan hanya manusia sejati, 100% manusia, tetapi juga Allah yang 100% itu ketika inkarnasi menjadi manusia untuk menyatakan bagi kita kalau Dia memang adalah Allah yang mengasihi. Dan kasih-Nya adalah kasih yang tidak tanggung-tanggung, tetapi kasih yang sepenuhnya. Sampai kapan? Sampai kesudahan. Ini adalah hal yang saya percaya sangat penting untuk kita pahami ya.
Kemarin di kala KTB pengurus dari pemuda, di situ ada satu hal yang kita bahas yaitu mengenai kasih. Apa yang menjadi ciri kasih dari orang percaya kepada Tuhan? Lalu di dalam pembahasan itu ada berbicara mengenai satu kematian yang dialami oleh Kristus bagi diri kita. Dan di dalam buku Thomas Watson itu dikatakan apa yang mendasari kita mengatakan kalau Yesus mengasihi kita? Mungkin dalam hidup kita, kita masih bisa jatuh dalam dosa, mungkin dalam hidup kita ketika kita bergumul dan kita berdoa, jawaban-jawaban yang kita harapkan datang dari Tuhan tidak kunjung datang dan Tuhan tidak menjawab apa yang kita minta kepada diri-Nya. Mungkin pada waktu kita berjalan dalam kehidupan kita, kita jatuh di dalam pergumulan dan kesulitan, sakit dan penderitaan yang betul-betul membuat kita begitu susah, begitu mungkin menderita, dan begitu mempertanyakan kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita. Nah, pada waktu hal ini terjadi dalam hidup kita, mohon tanya apa yang mendasari kita bisa berkata kalau Yesus adalah Allah yang mengasihi kita, atau apa yang membuat kita punya satu confident kalau kita berkata bahwa Allah tidak pernah berubah dalam kasih-Nya, Dia tetap mengasihi kita dan Dia tetap akan dan pasti memberikan yang terbaik bagi kita anak-anak-Nya. Nah, di situ dikatakan satu hal yang penting, satu kunci yang kita tidak pernah boleh lupakan adalah kematian Kristus. Pada waktu kita melihat Yesus mati di kayu salib, pertanyaan adalah untuk apa Dia mati di atas kayu salib? Alkitab bicara cuma satu tujuan, yaitu untuk menebus dosa manusia. Lalu kalau kita tanya lagi, “Dosa manusia itu siapa?” Ya, kita akan bicara, “Dosa saya dong.” Kalau kita lanjut lagi, kita yang berdosa, Yesus menebus. Pertanyaan adalah layakkah Yesus menyatakan penebusan itu atau melakukan penebusan itu bagi diri kita? Waktu itu mungkin kita kalau kita sembarang berbicara, kita akan ngomong layak seperti itu. Tetapi kalau kita merenungkan lebih jauh lagi mengenai kehidupan kita, mengenai perbuatan kita, melalui kekerasan hati kita kepada Tuhan, mulai dari sebelum Yesus menebus kita, sampai kita mendengar berita Injil, sampai setelah dia menebus diri kita, mungkin kita akan ngomong, “Saya tidak layak dan tidak pantas untuk ditebus oleh Kristus.” Tapi kenapa Dia tetap menebus? Karena Dia mengasihi kita. Dia betul-betul mengasihi kita. Lalu buktinya apa, Dia mengasihi kita? Dia bukan beri 100 juta atau 1 M atau 2 M untuk menolong kita keluar dari kesulitan kita. Tetapi yang dia lakukan adalah memberikan nyawa-Nya untuk kita.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya sekali, ya, kalau kita melihat ada orang yang di depan mata kita hari ini untuk menolong kita, dia rela korbankan nyawanya, nggak usah nyawanya lah, ya. Kalau kita kena sakit, gagal ginjal kayak gitu, kebetulan ada orang yang cocok ginjalnya dengan kita, lalu dia berikan ginjalnya kepada kita. Kita mau bayar uang untuk membeli ginjal, dia nggak mau karena dia tahu kita nggak mungkin bisa lakukan itu dan dia ingin kita bisa meneruskan hidup. Kira-kira kita akan ngomong apa? Ya, cuma satu kan sebabnya. Karena dia mengasihi kita dan tindakan memberi ginjal itu menjadi bukti nyata dari kasihnya kepada diri kita.
Nah, ini yang dilakukan oleh Kristus. Dia mati dengan cara disalibkan. Kenapa Dia mati disalibkan? Karena itu adalah bukti kasih yang Dia miliki atau dia tunjukkan bagi kita manusia yang berdosa ini. Dan kalau kita ada di dalam Kristus, kita bisa meyakinkan diri kita dengan satu kebenaran. “Saya pasti dikasihi Tuhan, Dia pasti tidak mungkin merencanakan yang jahat bagi saya atau yang buruk bagi saya. Dan Bapa di sorga pasti akan selalu mendengar doa yang saya naikkan dan mengerti apa yang saya butuhkan yang terbaik. Dari mana? Karena Bapa sendiri tidak sayangkan Anak-Nya untuk menebus kita. Dan Anak sendiri tidak sungkan-sungkan untuk tunduk di bawah kehendak Bapa untuk menjalankan semua yang Bapa kehendaki melalui penderitaan, penundukan diri, penyangkalan diri di bawah taurat ampai akhirnya harus naik ke atas kayu salib.” Semua itu untuk siapa? Ya mungkin kita bisa bicara untuk kemuliaan Allah, Alkitab bicara seperti itu, tetapi Alkitab juga bicara karena kasih-Nya kepada kita.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tetapi kasih ini adalah kasih yang terbatas tidak? Yesus bilang tidak. Walaupun kita jatuh, walaupun kita menyangkali Tuhan, walaupun kita sering kali menyedihkan hati Tuhan, walaupun sering kali kita lamban di dalam mengerti kehendak Tuhan, walaupun seringkali kita masih menyembah berhala di dalam kehidupan kita karena ketidakmengertian kita atau karena kedagingan kita tersebut tapi Yesus bicara, ada yang membedakan antara kita yang ada di dalam Kristus dengan yang mereka yang di luar Yesus Kristus. Yaitu apa? Yaitu kita akan tetap dikasihi sampai kesudahan.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini kalau kita gunakan istilah dari Paulus mungkin ya, ini namanya doktrin pemilihan. Ketika Tuhan memilih kita, Tuhan akan memelihara kita sampai kepada akhirnya. Kalau kita mau pakai bahasa Yesus, Bapak, Ibu boleh buka kembali Yohanes pasal 6. Di situ Yesus bicara dengan jelas sekali berkaitan dengan hal ini ya. Ini ayat yang seringkali atau beberapa kali saya pernah kutip, ya. Yoh. 6:44 kita baca sama-sama ya, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepadaku jikalau Ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus aku dan Ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Yang kedua, kita boleh baca dari ayat yang ke-65 atau saya baca 64, 65 kita baca bersama-sama, ya. Yoh. 6:64, “Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya. Sebab Yesus tahu dari semula siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia”. Ayat 65 bersama-sama. Lalu ia berkata, “Sebab itu, telah kukatakan kepadamu, tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Ayat ini bicara kalau orang diberikan Bapa kepada Yesus, maka Yesus pasti menerima kita yang datang kepada Yesus Kristus. Dan Dia tidak akan menolak satu pun dari kita. Dan pada waktu kita sudah datang kepada Kristus dan itu menunjukkan kalau kita diberikan Bapa kepada Kristus, maka di Yoh. 13 dikatakan Dia akan menjaga kita, Dia tidak akan menolak kita, Dia akan memelihara kita sampai kepada kesudahan.
Ini adalah satu doktrin yang saya percaya kalau kita sungguh-sunguh mengerti satu sisi kita tidak akan berani untuk menyangkali Tuhan dengan kehidupan yang terus ada di dalam dosa. Tetap di sisi lain, kita terus akan diingatkan kalau yang membuat kita bisa bertahan di dalam iman, di dalam perjalanan hidup kita sampai kepada akhir itu hanya karena pemeliharaan Bapa, pemeliharaan Kristus bagi diri kita. Dan ini akan membuat kita selalu memuliakan Tuhan, selalu bersyukur dalam hidup kita tanpa henti-hentinya.
Kemarin di KTB, Bapak, Ibu juga salah satu pembahasan yang menjadi ciri dari orang yang hidup di dalam kasih Kristus apa? Salah satunya adalah bersyukur senantiasa. Lalu apa yang memotivasi kita untuk bersyukur kepada Tuhan? Mungkin kita berpikir hal-hal apa yang kita coba gali yang membuat kita bisa bersyukur yang baik itu? Dan kalaupun sampai akhirnya kita tidak temukan di hari itu apa yang kita bisa syukuri pada Tuhan, ada satu yang kita bisa syukuri. Penebusan Kristus. Jadi nggak ada alasan sama sekali bagi kita untuk tidak bersyukur di hadapan Tuhan. Dan penebusan Kristus itu bukan sesuatu yang kita bisa satu kali syukuri, lalu kita merasa cukup. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, makin kita menjalani hidup, makin kita mengenal Tuhan, makin kita mengenal kasihNya bagi diri kita, makin kita mengenal siapa diri kita di hadapan Tuhan, saya yakin ucapan syukur itu akan terus keluar dari mulut kita dan hati kita setiap harinya sampai mati. Ini adalah hal yang kita sebagai anak Tuhan harus betul-betul paham dan syukuri dalam kehidupan kita ya karena ini adalah satu pekerjaan penebusan yang hanya bisa dilakukan oleh Allah bagi kita.
Itu sebabnya Bapak, Ibu, Saudari yang dikasihi Tuhan, kalau kita ada di dalam pergumulan, saya pakai bahasanya Paulus di dalam surat Efesus pasal 3 ya. Boleh dibuka nanti saya ajak buka, ya. Di dalam Efesus pasal 3, pada waktu kita di dalam pergumulan dan perjalanan misalnya, khususnya dalam pergumulan lah ya. Kira-kira doa apa ya paling tepat kita naikkan kepada Tuhan? Ya, mungkin kita akan ngomong, “Ya Tuhan beri aku kekuatan untuk melewati pergumulan ini.” Atau apa ya? “Oh Tuhan, tolong singkirkan pencobaan ini dari hidupku.” Boleh nggak? Ya Boleh saja. Tetapi menariknya adalah pada waktu kita baca dari Efesus pasal 3, ayat yang ke 18 ini adalah surat yang Paulus tuliskan di dalam penjara. Dan pada waktu Paulus tulis surat ini, dia bicara seperti ini. Boleh baca dari ayat 14 ya, sampai dengan ayat 21 ya. “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa yang daripadanya semua turunan yang di dalam surga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia menurut kekayaan kemuliaan-Nya menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu. Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus dan dapat mengenal kasih itu sekalipun Ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” Saya minta kita baca bersama-sama ayat 18 ya, Ef. 3:18. “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus dan dapat mengenal kasih itu sekalipun Ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”
Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, yang menjadi motivasi Tuhan menebus kita itu adalah kasih. Kalau mau bandingin, silakan baca Ef. 2:1-4 ya. Ayat 1 sampai 3 itu berbicara mengenai siapa kita: orang yang berdosa, orang yang rusak relasinya dengan Tuhan, orang yang harusnya dihukum mati karena kita sudah mati seperti itu. Tetapi yang membuat Allah yang sebelumnya murka terhadap kita, akhirnya menebus dan memberi hidup kepada kita itu cuma satu. Di ayat 4 bicara karena rahmat-Nya yang besar itu yang diberikan kepada kita, itu adalah kasih. Ini yang menjadi sifat Allah yang penting, yang saya percaya hanya orang Kristen yang berhak untuk mengatakan itu dan pahami itu di dalam perjalanan kita mengikut Tuhan. Kasih yang menebus kita, kasih yang menggerakkan Allah. Tapi pada waktu kita ada di dalam pergumulan, doa kita apa? Kita nggak mikirin Tuhan, kita nggak mikirin karakter Dia, kita nggak mikirin untuk mengenal Dia lebih jauh dalam hidup kita sering kali begitu. Tapi yang kita cuma tahu bagaimana kita bisa lepas dari pergumulan ini secepat mungkin.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, coba ubah ya cara kita berdoa, cara kita melihat Tuhan pimpin kita dalam hidup ini dan melalui hal-hal yang menjadi batu sandungan, kerikil yang kita alami dalam hidup kita. Coba mulai doa, “Tuhan, tolong saya untuk memahami kasih-Mu itu. Betapa tingginya, panjangnya, lebarnya, dalamnya kasih Tuhan itu bagi diri saya.” Nah, itu akan membawa kita atau mendorong kita untuk lebih memuliakan Tuhan dan bersyukur di hadapan Tuhan. Dan ini jauh lebih membangun kehidupan kita, ya, iman kita. Karena kasih Tuhan itu melampaui pemahaman kita. Kasih Tuhan itu begitu dalamnya dan tidak mungkin tercapai dan bahkan saya sendiri berani bicara, sampai di surga sekalipun kita akan tetap mensyukuri kasih-Nya yang begitu lebar, tinggi, panjang, dan dalam itu karena tidak terselami dalam kehidupan kita. Tapi kita makin bertumbuh di dalam kasih itu kepada Tuhan.
Nah, ini harusnya menjadi motif kita di dalam melayani, ini yang harusnya menjadi motif kita untuk hidup di dalam kekudusan, ini yang harusnya menjadi motif kita untuk hidup di dalam ketaatan kita kepada Tuhan. Saya nggak heran kalau orang Kristen ada yang terus hidup dalam dosa, terus terlambat datang ibadah, terus bermain-main saat ibadah kepada Tuhan. Karena apa? Karena mungkin satu faktor, dia nggak kenal kasih Allah di dalam Kristus bagi diri dia sehingga dia nggak mungkin akan meresponi kasih itu secara benar di dalam kehidupan dia. Jadi, Yesus di sini katakan, ingat satu hal, Dia datang karena kasih, Dia datang untuk dimuliakan dalam pengertian menderita menebus dosa kita dan kasih-Nya adalah kasih yang akan terus ada dan bertahan sampai kepada kesudahannya.
Nah, yang bagian kedua yang kita bisa mengerti kayaknya saya nggak akan bisa bahas ini ya. Tapi ya saya mau kutip bagian ini dulu, yaitu pada waktu kita berjalan dalam hidup kita seperti halnya Petrus, dan saya juga yakin bahwa hidup orang Kristen itu sering kali seperti Petrus, yaitu dalam hal apa? Di kala Tuhan bekerja, kita sering kali ada di dalam posisi yang belum mengerti, tidak paham apa yang sedang Tuhan kerjakan bagi diri kita. Itu yang membuat sering kali kita bertanya mungkin, “Tuhan, berapa lama lagi?” Atau kita sering bertanya seperti Ayub, “Tuhan, aku ingin berdiri di hadapan Kau sebagai laki-laki menghadapi laki-laki,” seperti itu, untuk menantang Tuhan dan untuk mempertanyakan apa yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan saya. Sebabnya karena apa? Ya, mungkin kalau Bapak, Ibu mau tarik di dalam kehidupan kita ya, banyak kali yang saya perhatikan ya, kalau pegawai setiap kali menghadapi satu masalah kayak gitu atau Hari Buruh, yang selalu dilakukan adalah komplain ke atas. Komplain ke atas, pengin mendesak yang atas untuk lebih adil, untuk lebih baik dan segala macam seperti itu. Dan dalam pemikiran bawahan selalu akan berpikir, “Saya kurang, saya butuh atasan yang kurang baik, saya perlu untuk menuntut supaya atasan lebih baik memperlakukan diri saya.” Tetapi coba sekali-sekali kita melihat dari perspektif atasannya. Saya yakin ada begitu banyak cela dan kebolongan yang tidak pernah dipikir oleh bawahan terhadap keputusan yang diambil oleh atasan seperti itu. Karena seorang pemimpin harus lebih menyeluruh di dalam mempertimbangkan segala sesuatu dan melihat segala sesuatu, baru dia mengambil keputusan. Bukan hanya pengaduan satu orang dan dua orang karena merasa kurang adil dan segala macam, maka dia mengubah semuanya dan berdampak kepada semuanya yang mungkin adalah hal yang kurang baik.
Kita seringkali ndak paham, begitu juga di dalam relasi kita dengan Tuhan. Pada waktu kita bergumul, kita berdoa kepada Tuhan, “Pokoknya, Tuhan, aku ingin jawabannya sekarang! sesuai dengan keinginanku!” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, orang suka ambil ilustrasi misalnya ada dua kelompok sepak bola. Sama-sama orang percaya. Sebelum bertanding, sama-sama doa. Doa. Doanya minta apa? Kalah? Saya yakin nggak akan minta kalah, kan? Pasti minta menang, kan? Lalu Tuhan harus jawab yang mana yang menang? Susah, kan? Itu salah satu contoh, ya. Tapi pada waktu Tuhan memberikan kemenangan pada salah satu pihak –Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan– apakah itu merupakan sesuatu tindakan yang mengkhianati para pemain yang kalah? Apakah itu adalah sesuatu ketidakadilan dan ketidakbijaksanaan bagi yang kalah? Saya yakin tidak. Kita yang bawah seringkali hanya melihat dari perspektif kita. “Saya, kalau dikasihi, saya harus menang. Kalau Tuhan mengasihi saya, Tuhan mendengar jawaban atau mendengar doa yang saya minta kepada Tuhan! Kalau Tuhan bijaksana, jalan yang Dia tentukan bagi saya adalah sesuai dengan yang saya inginkan!”
Kalau kita pikir kayak gitu –mohon tanya– yang jadi Tuhan siapa? Yang lebih bijaksana siapa? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini yang menjadi sikap hati yang saya percaya kita perlu pertumbuhkan, ya. Kerendahan hati untuk mau mengakui bahwa ada begitu banyak hal yang kita alami dalam hidup ini yang kita tidak mengerti. Dan kita harus mengerti ada hal yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita yang nantinya, mungkin pada waktu kita bertemu dengan Tuhan, itu akan menjadi lebih jelas untuk kita pahami.
Tapi ada satu hal yang mungkin kita juga harus pahami: seperti yang Tuhan kerjakan bagi Abraham dan keturunannya. Ketika Tuhan berjanji kepada Abraham, “Engkau akan mendapatkan tanah perjanjian.” Tuhan tidak bicara, “Abraham, engkau akan mendapatkan tanah perjanjian itu.” Tetapi Tuhan berkata, “Keturunanmu yang akan mendapatkan tanah perjanjian itu.” Tapi “keturunanmu” yang ke berapa? Yang ke-empat. Setelah empat ratus tahun, mereka hidup di perbudakan di Mesir, baru mereka akan mewarisi tanah perjanjian. Lalu kalau ditanya, “Kenapa begitu?” Karena orang Kanaan –saat Abraham hidup, Ishak, Yakub, dan mungkin Israel awal– mereka belum terlalu jahat. Tapi setelah 400 tahun kemudian, mereka baru menjadi orang yang begitu jahat dan kejam. Dan penyembahan yang begitu membuat Tuhan jijik melihat mereka. Baru di situ Tuhan mengizinkan Israel masuk.
Tapi pertanyaan lagi adalah gini, “Kenapa pada waktu itu Tuhan izinkan Israel mengalami kesulitan di Mesir, mengalami pembunuhan anak-anak yang membuat mereka berteriak kepada Tuhan untuk meminta kelepasan?” Dan berapa lama mereka minta? Empat ratus tahun! Kenapa, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan? Mungkin kita akan tanya kalau di posisi Israel, “Tuhan, kapan Engkau bebaskan? Kenapa begitu lama?” Satu generasi mati, belum lepas. Generasi kedua mati, belum lepas. Sampai generasi ke-empat, Musa datang. Mereka pikir Musa adalah orang yang membahayakan mereka. Tapi masih tetap doa minta Tuhan memberikan kelepasan, kayak gitu. Tunda sampai 80 tahun kemudian, baru Tuhan gunakan Musa melepaskan Israel.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu adalah dalam bijaksana Tuhan. Saya yakin sekali kalau Tuhan langsung lepaskan, Israel tidak akan pernah menghargai penebusan yang dikerjakan oleh Kristus. Dan mereka juga tidak memahami ada pekerjaan Tuhan itu bukan hanya Israel dan konteks mereka saja, tetapi seluruh dunia, seluruh umat manusia, itu ada di dalam pimpinan, rencana Tuhan.
Makanya pada waktu kita hidup, jangan cuma pikir dari sisi kita, ya. Coba pikir, “Saya ngalami ini: keputusan saya, respons saya berdampak apa bagi pasangan saya, bagi anak saya, bagi teman-teman saya, bagi keluarga besar saya, bagi orang Kristen yang ada di dalam gereja.” Coba pikirkan itu! Bahkan, mungkin apa yang kita gumulkan, misalnya, ya: tadi pagi kita doakan GMS Bantul, kayak gitu. Apa yang terjadi kepada mereka. Waktu dengar itu Pak Taufik, Pak Patria atau Pak Taufik langsung WA di dalam grup. “Ini yang terjadi pada kita waktu dulu di Jalan Magelang 53.” Tapi, pada waktu kita dengar itu, mohon tanya: apa yang terjadi kepada mereka atau kita berapa belas tahun yang lalu, itu ada signifikansinya atau dampaknya nggak dengan Kekristenan di DIY, misalnya? Paling tidak DIY. Harusnya ada kan? Tapi, kadang-kadang kita cuma pikir, “Itu pergumulan mereka, bukan pergumulan kami.” Pada waktu kita ngalami, mereka juga pikir, “Itu pergumulan mereka, bukan pergumulan kami.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, coba gumulkan, ya. Pekerjaan Tuhan bukan hanya GRII Yogya. Pekerjaan Tuhan bukan hanya sinode atau gereja tertentu saja. Pekerjaan Tuhan ada di seluruh dunia. Dan ketika Tuhan menjawab doa, Dia bukan hanya menjawab doa pribadi kita saja untuk kepentingan diri kita saja, tapi Dia juga memikirkan perjalanan dari hidup dari masing-masing orang percaya untuk menggenapi rencana sejarah penebusan Kristus bagi seluruh umat manusia di dalam dunia ini. Dan ini kita ndak paham, seringkali. Kenapa Tuhan izinkan orang tertentu, kita ketemu? Kenapa Tuhan izinkan keadaan tertentu kita alami? Kenapa Tuhan izinkan kita mengalami satu sakit? Itu juga nggak terlalu penting. Yang penting adalah pada waktu kita mengalami itu semua: saya tahu saya tidak lebih bijaksana dari Tuhan. Dia lebih bijaksana dan saya tahu kasih-Nya tidak pernah berkesudahan bagi saya. Itu sebabnya yang terpenting adalah saya ketika ngalami itu, saya mau tunjukkan saya anak Tuhan atau saya anak Iblis. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita, ya. Mari kita masuk dalam doa.
Kami kembali bersyukur, Bapa. Firman, kebenaran-Mu yang boleh Engkau nyatakan bagi kami. Tolong berkati kehidupan kami. Dan seperti apa yang disaksikan oleh Tuhan sendiri berkaitan dengan kasih-Nya, berkaitan dengan bijaksana-Nya, kiranya itu juga boleh menjadi sesuatu yang kami akui dan kami boleh rendahkan diri dan tundukkan diri di hadapan Tuhan. Sekali lagi kami bersyukur dan mohon Engkau boleh sertai masing-masing kami di dalam perjalanan kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin
