Yesus sebagai Hamba Allah, 21 Maret 2021

Kisah Para Rasul 3:11-26

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita sudah sebelumnya melihat berkenaan dengan apa yang Petrus lakukan di Pintu Gerbang Indah, dan ini merupakan kelanjutan daripada peristiwa yang Petrus lakukan di Pintu Gerbang Indah itu. Dan di situ kita telah melihat prinsip-prinsip yang walaupun kita belum masuk sepenuhnya di dalam apa yang terjadi di pintu gerbang itu, tapi kita sudah melihat kepada prinsip berkenaan dengan apa yang menjadi tujuan mujizat dilakukan oleh para rasul dan apakah di zaman sekarang ini masih ada mujizat seperti yang bisa dilakukan oleh para rasul. Saudara kalau mau lebih mengerti apa yang dibahas di dalam perikop ini, Saudara bisa lihat di dalam ringkasan khotbah 2 minggu yang lalu ya. Saya nggak akan mengulang itu kembali.

Tetapi saya mau tekankan bahwa apa yang terjadi pada zaman para rasul, mujizat dan kesembuhan itu adalah sesuatu yang digunakan untuk meneguhkan pelayanan dari para rasul dan untuk membuktikan kalau mereka adalah rasul Kristus. Jadi pada waktu mereka melakukan mujziat, maka mujizat itu mengkonfirmasi kalau mereka adalah utusan dari Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit dari kematian lalu mengutus mereka untuk memberitakan Injil di tengah-tengah dunia ini.

Dan Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang terjadi ketika para rasul mengadakan mujizat itu? Ada beberapa hal yang bisa kita lihat di sini. Pertama adalah si orang yang lumpuh sama sekali tidak mengira kalau dia akan mengalami mujizat. Dan orang yang lumpuh itu tidak datang kepada satu acara khusus dan kebaktian khusus berkenaan dengan mujizat dan kesembuhan, seolah-olah mujizat dan kesembuhan itu adalah sesuatu yang bisa dipersiapkan dan orang-orang bisa mendaftar atau orang-orang bisa hadir dalam waktu tertentu, jam tertentu, dan kebaktian tertentu, dan mereka bisa mengalami mujizat itu dalam kehidupan mereka.

Pada waktu Petrus berjalan menuju Serambi Salomo dan melewati Pintu Gerbang Indah, dia bertemu dengan si pengemis itu yang dari dulu lumpuh sejak kecilnya, dan pada waktu pengemis itu melihat pada Petrus dan Yohanes, mungkin dia tahu mereka adalah murid dari Yesus Kristus karena bukan pertama kali Yesus dan murid-murid-Nya itu datang ke Bait Allah, dan bukan pertama kali juga setelah Yesus bangkit dari kematian, mungkin yang pertama juga tapi juga mungkin bukan yang pertama bahwa Petrus dan Yohanes datang ke Bait Allah setelah Yesus bangkit dari kematian.

Tetapi pada waktu Yesus datang, Yesus tidak menyembuhkan orang itu. Pada waktu murid-murid-Nya melewati gerbang itu juga, murid-murid-Nya tidak mempedulikan dia atau berpikir bahwa dia adalah orang yang harus disembuhkan. Sampai peristiwa ketika Yesus sudah bangkit dari kematian, dan Petrus dan Yohanes pergi ke Bait Allah untuk bedoa, mereka melewati pengemis ini dan pengemis ini menatap mereka, mereka menatap pengemis itu, dan pengemis itu berharap bukan kesembuhan. Tetapi kemungkinan besar dia berharap mendapatkan uang dari Petrus dan Yohanes. Karena apa? Karena kalimat yang diucapkan oleh Petrus berikutnya adalah, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu.”

Jadi dalam pemikiran Petrus dan Yohanes, kemungkinan adalah orang ini butuh uang. Karena apa? Mungkin kalau kita baca sini kita melihat ada kata-kata yang muncul, tapi kalau kita melihat dari bahasa tubuh, mungkin orang pengemis ini mengulurkan tangannya kah, atau sebuah kaleng kah, atau sebuah kain kah untuk menerima suatu pemberian dari Petrus dan Yohanes. Makanya Petrus dan Yohanes berkata, “Emas dan perak kami tidak punya tetapi apa yang kami punya akan kami berikan kepadamu.”

Jadi pada waktu itu, di situlah Petrus dan Yohanes, atau Petrus secara khusus meminta atau mengadakan mujizat untuk orang lumpuh ini kemudian bangkit dan berjalan. Jadi peristiwa mujizat dilakukan itu bukan suatu peristiwa yang dirancang, bukan suatu peristiwa yang direncanakan, bukan di satu pertemuan tertentu yang kita adakan atau kebakitan tertentu yang kita adakan dengan tujuan khusus agar mujisat dan kesembuhan itu terjadi. Saudara boleh baca semua peristiwa kesembuhan yang dilakukan oleh para rasul, tidak pernah di dalam momen tertentu yang khusus yang diprediksi akan terjadi seperti itu. Tetapi adalah hal yang kalau mau saya katakan terlebih dahulu, dikarenakan mereka digerakkan oleh Roh Kristus untuk melihat ada kemungkinan untuk dilakukan mujizat pada waktu itu. Kita lihat setelah dari peristiwa itu, kita masuk ke ayat 11 di mana Petrus menggunakan kesempatan itu untuk berkhotbah memberitakan Injil.

Jadi ini adalah hal pertama daripada natur sebuah mujizat yang terjadi ya. Lalu yang kedua adalah pada waktu Petrus melakukan mujizat itu, ada suatu mujizat yang sungguh-sungguh terjadi. Maksudnya adalah ada kesembuhan yang total yang seketika terjadi di dalam keadaan atau di dalam tubuh dari orang yang menderita lumpuh ini. Penyembuhannya bukanlah suatu kesembuhan yang bersifat progresif, tetapi penyembuhan yang bersifat instan, seketika itu maka orang lumpuh itu memiliki kekuatan untuk berdiri dan berjalan bahkan melompat-lompat, dan mungkin juga berlari-lari.

Dan Lukas mencatat bagian ini – ini yang menyebabkan kita bisa bicara Lukas adalah seorang dokter, kemungkinan adalah seorang tabib – dia memberikan satu perhatian khusus kepada apa yang terjadi atau kesembuhan yang terjadi kepada orang lumpuh ini. Dia tidak hanya berkata bahwa, “Oh orang lumpuh itu kemudian berdiri dan berjalan lalu berlompat-lompat,” begitu. Tetapi dia berkata kakinya menjadi kuat dan mata kaki orang itu menjadi kuat. Jadi ada semacam satu catatan khusus, spesifik berkenaan dengan kelemahan yang ada pada kaki orang yang lumpuh dan apa yang terjadi ketika kesembuhan itu terjadi dalam hidup dia atau kaki dia itu sehingga dia bisa bangkit, berdiri, dan berjalan. Berarti baik dari pergelangan kakinya, kakinya, semuanya pulih total, dan kalau mau ditanya seperti apa, seperti kita yang berjalan dan tidak ada masalah dengan kaki kita. Saat itu memang Petrus bantu dia untuk bangkit berdiri sebabnya karena dia sudah sekian puluh tahun tidak berjalan dan mungkin juga dia tidak tahu bagaimana berjalan. Tapi satu hal Petrus bantu dia berdiri, begitu dia bisa berdiri, dalam posisi berdiri, kaki dan pergelangan kakinya sudah menjadi kuat seketika itu juga.

Jadi pada waktu kita berbicara berkenaan dengan satu mujiat, mujizat itu merupakan satu hal yang supranatural yang bukan bertahap, terjadinya perlahan-lahan sembuhnya lalu perlu melakukan fisioterapi terlebih dahulu supaya membantu membiasakan menggunakan organ atau bagian-bagian dari tubuh kita, tetapi seketika itu dia bisa berfungsi dengan baik, dan dia bisa berjalan dengan baik, bisa melompat dengan baik seperti manusia normal lainnya tanpa ada kelemahan walaupun mungkin sudah 40an tahun dia tidak berjalan dalam hidup dia.

Dan reaksi yang diberikan bagaimana? Saya percaya ini adalah suatu reaksi yang mungkin saat ini kita tidak mengalami mujizat seperti orang lumpuh itu, tetapi kita mengalami mujizat yang jauh lebih penting dan luar biasa dari orang lumpuh ini, dibandingkan dengan orang lumpuh ini. Mungkin kalau kita pikir apa yang paling berharga? Kalau saya susah dalam hidup ini saya bisa keluar dari kesusahan ini atas pertolongan Tuhan, itu adalah hal yang paling luar biasa dalam kehidupan saya. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sebenarnya hal yang lebih luar biasa dan paling luar biasa adalah bukan kita dibawa keluar dari kesulitan fisik karena akan akan ada kesulitan fisik lagi dalam hidup kita, bukan dibawa keluar dari sakit fisik karena akan ada sakit fisik lagi dalam hidup kita. Semua orang yang tua pasti akan mengaminkan kalimat saya ini ya. Yang muda mungkin berpikir saya masih kuat, masih punya pengharapan yang panjang, karena itu saya ingin punya tubuh yang kuat dan sehat, dan seolah-olah tidak ada kemungkinan saya mengalami sakit dalam hidup saya. Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, usia itu nggak bisa ditipu ya. Rusaknya organ tubuh karena usia itu nggak bisa ditipu ya.

Kemarin ada salah satu jemaat kita yang sakit, saya tanya keadaannya, saya tanya keadaannya, ya dia suka bercanda ya, saya tanya katanya, “Gimana Pak, apakah sudah diperbaiki belum kondisi tubuhnya?” Dia bilang, “Emang saya ‘mobil’ atau ‘alat’ maka harus direparasi tubuhnya?” “Sudah ditemukan nggak kerusakan yang terjadi di dalam tubuhmu?” Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya natur alam ini menunjukkan hal itu adalah kebenaran ya. Usia mobil 5 tahun pasti ada masalah kok. Kenapa orang jual mobil itu di usia 5 tahun ke atas? Karena pasti ada yang diperbaiki. Saya pernah mau pakai mobil itu sampai 11 tahunan, dan bersyukurnya mesinnya nggak ada masalah karena itu yang paling penting, tapi yang lainnya mau soft-breaker-nya, mau karet dudukan mesinnya, atau mau gear box, stir, pernah diganti, pokoknya ada saja hal-hal di dalam waktu tiap kali service yang harus diganti karena usia sudah tua.

Begitu pun juga dengan tubuh kita. Nanti jantungnya nggak sehat lagi, pelan-pelan mulai degenerasi, kemudian ginjal kita mulai berkurang fungsinya, lalu paru-paru kita, pokoknya pasti ada masalah, termasuk mata. Saya sebelum usia 40an, saya baca itu jelas sekali, tapi begitu masuk 40an saya harus pakai +1, sekarang +2 kayak gitu. Lalu saya tanya, “Bisa nggak usia 40 tahun ke atas nggak pakai plus?” Si orang kacamatanya bilang, “Nggak mungkin karena 40 itu pasti orang plus, nggak mungkin bisa dibohongi.” Itu realita.

Kalau kita berharap kalau tubuh kita akan sehat dan selalu sehat, itu bohong, itu tipuan, itu imajinasi, itu adalah satu kehidupan yang menipu diri sendiri. Itu sebabnya kalau kita mengharapkan kesembuhan secara fisik, suatu hari pasti sakit lagi kok. dan ketika kita sakit lagi, mau berdoa, saya yakinkan Bapak, Ibu, Saudara, mau doa sampai mati pun nggak sembuh. Karena meamng tujuannya bukan untuk sembuh kok. Kalau Bapak, Ibu, berpikir tujuannya adalah selalu sembuh dan sehat, saya yakin Bapak, Ibu, akan mencintai dunia ini lebih daripada mencintai Tuhan dan surga.

Karena panggilan kita bukan untuk tinggal dengan tubuh fisik kita di dalam dunia ini. Tujuan hidup kita itu bukan untuk menikmati segala kenikmatan hidup di dalam dunia ini, tetapi untuk menikmati Tuhan di dalam kekekalan untuk selama-lamanya dengan tubuh yang baru yang Tuhan karuniakan bagi hidup kita. Dan itu sebabnya hal yang paling berharga adalah bagaimana Bapak, Ibu, diubahkan secara rohani dari orang yang rohaninya mati menjadi orang yang rohaninya dihidupkan. Dari seorang yang relasinya dengan Tuhan diputuskan menjadi seorang yang menjadi diperbaiki relasinya dengan Allah di dalam Kristus. Nanti kita akan lihat di sini Petrus mengkonfrontasi orang banyak itu dengan satu kalimat dia adalah pemimpin kepada hidup kamu bunuh, kamu serahkan dalam kematian. Jadi hal yang lebih berharga adalah apakah kita mengalami kelahiran baru, apakah kita mengalami penebusan di dalam Kristus atau tidak, apakah kita mengalami satu kehidupan baru atau tidak, itu jauh lebih berharga dan penting daripada saya mengejar segala yang dianggap baik dan menyenangkan dan berkat menurut orang dunia.

Dan Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang terjadi dengan orang yang mengalami mujizat itu dalam hidup dia? Bapak, Ibu, bisa lihat si lumpuh ini langsung memuji Tuhan, si lumpuh ini langsung memberi satu kesaksian akan apa yang dia alami di dalam hidup dia, apa yang Allah lakukan bagi diri dia yang selama puluhan tahun tidak bisa berjalan itu. Dan dia tidak bisa tutup mulutnya untuk memuji Allah.

Kita bagaimana? Kita alami tidak penebusan Kristus? Kita mengalami tidak suatu pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita? Kita bisa lihat nggak kalau keberadaan saya sebagai satu orang Kristen itu satu mujizat, karya mujizat yang begitu luar biasa yang tidak mungkin saya bisa miliki kalau bukan Tuhan yang kerjakan itu dalam hidup saya. Bisa tidak kita melihat kalau semua yang kita alami adalah satu kebaikan yang Tuhan berikan dalam hidup kita termasuk ketika kita masuk ke dalam masa akhir hidup kita, Tuhan pun sudah menyediakan satu hal yang begitu baik bagi hidup kita, bersama Dia selama-lamanya. Lalu pada waktu kita bilang, “Amin, ya benar, saya sudah ditebus, saya sudah diselamatkan dalam Kristus,” pertanyaan saya berikutnya adalah ada pujian syukur tidak? Ada satu kehidupan yang bersaksi bagi Kristus atau tidak? Ada daya tarik tidak untuk orang datang melihat kehidupan kita dan menginginkan Tuhan kita?

Kalau itu nggak ada, ada masalah. Kita perlu uji kembali pertobatan kita. Orang ini menjadi satu alat yang Tuhan pakai untuk membuka kesempatan bagi Petrus berbicara Injil kepada orang yang datang ke Bait Allah saat itu. Waktu orang lihat kehidupan kita, bisa nggak kita melihat kalau hidupku menjadi satu kesempatan atau membuka satu kesempatan untuk orang datang dan mengenal Tuhanku dan gerejaku yang memberitakan firman Tuhan dan membawa orang mengenal Kristus?

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah hal yang harusnya dimiliki oleh setiap orang Kristen yang lahir baru. Tanpa perlu diberi tahu, tanpa perlu disusun program, kita sendiri akan menjadikan hidup kita seperti itu, dan menjadi satu kesaksian. Saya percaya kalau Bapak, Ibu, memiliki pengalaman makan yang enak, nggak usah diminta pemilik restoran untuk menjadi salesnya, nggak usah dijanjikan komisi, kita langsung secara otomatis dengan kerelaan hati ngomong, “Harus pergi ke sana, cicipi makanannya. Enak banget.” Bapak, Ibu, dapat hal yang lebih berharga lho daripada makanan, daripada kesehatan, yaitu hidup kekal dan Tuhan Allah yang sejati.

Kemarin di KTB Bapak ada kita pada bicara seperti ini, “Banyak kali kita sebagai orang Kristen ketika melakukan satu kebaikan, berpikir kebaikan yang betul-betul baik adalah kebaikan yang tidak ada motivasi, embel-embel di belakangnya.” Belum lama saya juga ada berbicara dengan orang, dia bicara, “Saya dipanggil untuk melakukan kebaikan dan ketika saya melakukan kebaikan untuk menolong orang lain, saya merasa hati saya sangat terisi, saya merasa hidup saya menjadi berarti.” Saya bilang, “Kamu lakukan kebaikan untuk apa? Kalau kamu melakukan kebaikan hanya untuk kebaikan menolong orang, saya yakin suatu hari kamu akan kosong lagi dan suatu hari kamu akan kecewa karena kamu tidak ada tujuan dan kamu melakukan kebaikan pada orang yang berdosa, pasti satu hari orang akan meninggalkan kamu dan hanya memanfaatkan kamu dan kebaikanmu bagi diri mereka selama mereka membutuhkan itu. Setelah mereka nggak butuhkan lagi, mereka pergi meninggalkan engkau.” Dia ngomong, “Benar Pak, itu aku sudah alami.”

Jadi pada waktu kita melakukan satu kebaikan, boleh nggak kita berprinsip kebaikan itu adalah suatu kebaikan kalau kebaikan itu tidak pernah disertai embel-embel di belakang yang menyertai kebaikan itu? Embel-embel itu apa? Ya kalau itu adalah motivasi supaya orang memperlakukan kita dengan baik, supaya orang memberikan satu pinjaman kepada kita, supaya orang menghormati kita, supaya orang mengakui diri kita. Itu tidak baik, ya betul saya juga setuju itu. Tapi bagaimana dengan supaya orang mendengar Injil Kristus? Baik tidak?

Waktu itu saya bicara seperti ini, “Bapak, Ibu, kalau Bapak, Ibu, pernah jadi seorang guru di sekolah lalu bertemu dengan murid yang nakalnya minta ampun. Nggak bisa didekati, nggak mau diajar, pokoknya bicara apa nggak bisa masuk kepada dia, nilainya kecil. Tapi karena Bapak, Ibu, mengasihi lalu Bapak, Ibu, approach anak ini, buat baik kepada dia, mungkin mengunjungi rumah dia, memperhatikan dia punya kehidupan, kalau ulang tahun memberikan suatu hadiah kepada diri dia. Supaya ada terbangun relasi kita dengan anak itu. Supaya apa? Supaya saya bisa mendidik anak itu, supaya anak itu bisa mendengarkan pengajaran saya. Saya tanya, baik nggak itu? Baik kan. Kenapa baik? Karena guru itu melakukan hal yang baik untuk anak itu kan?”

Sekarang waktu kita melihat Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan, di luar Kristus nggak ada jalan itu, lalu kita melakukan kebaikan dengan orang dunia yang tidak mengenal Tuhan yang berbeda agamanya dengan diri kita, supaya dia ada membangun relasi yang baik dengan diri kita, supaya dia bisa menyaksikan hidup kita yang baik itu di dalam Kristus dan ada kesempatan bagi kita untuk memberitakan Injil bagi orang itu. Itu baik tidak? Itu baik, itu bukan jahat, itu adalah sesuatu yang harus kita lakukan karena memang ketika kita lakukan itu bukan untuk kepentingan kita tapi untuk kepentingan orang itu diselamatkan untuk mengenal Tuhan yang sejati.

Bapak, Ibu, jangan terpengaruh oleh pikiran orang-orang dunia, kesombongan mereka yang merasa tidak membutuhkan Kristus atau bahkan orang-orang Kristen yang berpikir bahwa di luar kekristenan ada kemungkinan diselamatkan ketika kita menginjili, baik kepada orang, ataupun mendekati orang atau melakukan aksi sosial supaya Kristus dikenal itu adalah sesuatu yang tidak baik. Jangan terpancing dengan pemikiran seperti itu. Karena Alkitab berkata kebaikan yang sejati ada di dalam Kristus. Satu-satunya jalan adalah di dalam Kristus. Tujuan kita ditebus adalah untuk membawa orang kepada Kristus bukan yang lain. Dan ini yang dilakukan oleh Petrus, ini yang dilakukan oleh si orang lumpuh itu. Ketika dia disembuhkan, dia langsung melonjak, dia menyaksikan Kristus, apa yang dilakukan oleh Allah di dalam hidup dia. Dan itu menjadi satu daya tarik besar untuk membuka kesempatan bagi Petrus untuk berkhotbah di Serambi Salomo, memberitakan Injil Tuhan.

Nah pada waktu Petrus berkhotbah, apa yang dia khotbahkan? Yang menarik lagi adalah dia tidak berkhotbah berkenaan dengan kesembuhan yang sudah terjadi. Dia tidak memberi kesempatan kepada orang yang lumpuh itu untuk memberi satu kesaksian akan apa yang Tuhan kerjakan di dalam hidup dia. Itu nggak ada lho. Kenapa? Karena itu bukan Injil. Tetapi yang Petrus kabarkan adalah berkenaan dengan siapa Yesus Kristus. Itu yang dia beritakan. Dan apa yang Yesus lakukan bagi manusia dan apa yang telah manusia putuskan berkenaan dengan Kristus, itu yang dia beritakan. Karena di situlah Injil. Jadi Injil itu bukan bicara berkenaan dengan, “Oh Yesus menyembuhkan orang, oh Tuhan baik sama saya untuk memberkati saya maka kehidupan saya menjadi seperti ini, dulu saya tidak seperti itu,” tapi berkenaan dengan menyatakan Yesus itu siapa. Dan hal paling besar adalah apa yang dilakukan oleh Kristus atau karya keselamatan yang dilakukan oleh Kristus itu jauh lebih penting.

Nah makanya pada waktu Petrus melihat pada orang banyak yang datang pada dia, dia kemudian melihat ada keheranan di dalam pemikiran atau di mana dan pandangan orang banyak itu yang seolah-olah mereka menatap kalau orang yang berdiri di depan mereka itu adalah orang yang memiliki kuasa luar biasa dan orang yang begitu saleh sekali. Seolah-olah mujizat itu bisa terjadi karena kesalehan dari Petrus dan Yohanes, dan ketaatan mereka di dalam beribadah kepada Tuhan yang membuat mereka punya kuasa untuk menyembuhkan orang yang lumpuh itu. Tapi pada waktu Petrus dan Yohanes melihat itu, Petrus langsung berkata, “Kamu jangan kira itu adalah kesalehan kami lho. Itu bukan karena kuasa yang kami miliki dan kemampuan kami untuk menyembuhkan orang itu lho. Tetapi karena Kristus. Atau karena Yesus yang menyembuhkan orang itu.”

Saya lihat ada kerendahan hati dari Petrus dan Yohanes yang mengetahui kalau kuasa itu bukan bersumber atau bukan diberikan kepada diri dia secara permanen menjadi milik dia yang dia bisa atur sesuka dia dan semau dia sendiri untuk mengadakan mujizat dalam hidup dia dan kalau dia nggak mau nggak bisa nggak terjadi kalau dia mau maka pasti terjadi, seperti itu. Tapi dia tahu karena di balik dari peristiwa itu ada kuasa Tuhan yang bekerja dan dia berkata, “Itu bukan karena kesalehan kami sendiri, tetapi seharusnya kamu bisa melihat di balik itu ada siapa yang melakukan itu. Dan kamu tahu tidak sebenarnya peristiwa mujizat itu bukan hal yang baru terjadi sekarang kan? Kalau kita mau runut-runut kembali, kamu sebenarnya begitu banyak melihat karya mujizat yang terjadi pada waktu Yesus Kristus ada di dalam dunia ini. Ketika Ia melayani dalam dunia ini, Yesus sudah mengadakan mujizat begitu banyak, menyembuhkan orang sakit, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang mati dibangkitkan, kenapa kamu masih heran?

Dan dalam riwayat sejarah dari orang-orang Israel atau umat Allah kita bisa melihat mulai dari pada Musa (Keluaran) begitu banyak mujizat yang dilakukan dan bagaimana Tuhan memimpin Israel ketika ada dalam Tanah Perjanjian dan melepaskan mereka dari pada kuasa bangsa-bangsa lain yang berusaha untuk menjajah mereka karena mereka berdosa. Bukankah Tuhan yang memimpin? Dua kali Tuhan membelah, satu kali membelah laut, satu kali membelah sungai, itu semua mujizat. Kenapa kamu masih heran dengan peristiwa itu? Kamu tahu nggak yang melakukan peristiwa itu bukan kami,” Petrus berkata, “tetapi Dia yang diutus oleh Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, atau hamba-Nya yang diutus oleh Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.”

Artinya adalah Petrus mau beritakan, “Kalian tahu tidak, hai orang-orang yang menyaksikan orang lumpuh ini disembuhkan, bahwa peristiwa ini terjadi karena Allah Abraham, Ishak, dan Yakub telah mengutus seorang hamba-Nya dan karena nama hamba inilah maka orang ini disembuhkan.” Artinya adalah pada waktu Petrus berkata dengan peristiwa dan memperkenalkan Yesus yang adalah Hamba Allah itu, Petrus mau berkata, “Kamu tahu nggak Dialah yang dinubuatkan oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, Dialah pribadi yang dijanjikan kepada Allah Abraham, Ishak, dan Yakub yang akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa dan Dialah yang dikatakan Allah melalui Musa kalau suatu hari nanti akan muncul seorang nabi seperti aku dengarkanlah Dia.”

Jadi pada waktu Petrus berbicara berkenaan dengan Yesus, Petrus mau berkata bahwa Yesus itu bukan suatu pribadi baru yang mengajarkan satu ajaran baru dengan kuasa yang bukan bersumber dari Tuhan Allah, tetapi Petrus mau berkata kalau yang dia beritakan Yesus itu adalah pribadi yang merupakan orang yang dijanjikan kepada Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, dan atas kuasa Allah Abraham, Ishak, dan Yakub itulah maka orang lumpuh ini bisa disembuhkan di dalam Nama Yesus Kristus karena Dia adalah penggenapan itu, Dia adalah Hamba Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.

Jadi Kitab Suci kita itu ada suatu kesinambungan di dalam kebenaran yang diajarkan, Kitab Suci kita itu ada kesinambungan berdasarkan janji yang diberikan oleh Tuhan baik dalam Perjanjian Lama sampai ke dalam Perjanjian Baru yaitu berkenaan dengan diri Yesus Kristus. Dan untuk bisa menegakkan itu, Petrus walaupun di sini kelihatannya Petrus tidak mengutip ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama secara spesifik seperti di dalam Kisah pasal 2, kalau Saudara buka kembali pasal yang ke-2 di situ kita bisa lihat ada 3 kutipan Perjanjian Lama yang dilakukan oleh Petrus. Pertama ayat 17-21 itu bicara tentang nubuat Yoel, lalu ayat 25-28 itu adalah berkenaan dengan nubuat Daud yang dikatakan di dalam ini Mazmur pasal 16, lalu di dalam ayat 34-35 itu berbicara mengenai apa yang dikatakan dalam Perjanjian Lama juga Mazmur 110 ayat yang pertama.

Ada satu kutipan spesifik dari ayat-ayat Perjanjian Lama untuk mengkonfirmasi kalau apa yang terjadi pada diri Yesus Kristus itu adalah penggenapan dari Perjanjian Lama. Tapi bagaimana dengan khotbah Petrus di Serambi Salomo? Adakah kutipan itu? Seolah-olah nggak ada di sini, seolah-olah Petrus hanya berbicara berkenaan dengan apa yang Yesus lakukan dan siapakah Kristus itu tanpa ada kutipan. Tetapi Saudara kalau kita perhatikan lebih baik sebenarnya begitu banyak kutipan yang dilakukan oleh Petrus berkenaan dengan Kristus atau Yesus untuk menyatakan bahwa Dia adalah Mesias itu.

Misalnya bicara tentang hamba, Yesus adalah hamba-Nya. Hamba-Nya dari mana ya? Hamba-Nya itu adalah satu penggenapan dari apa yang Yesaya katakan di dalam Yesaya 52. Saudara boleh buka Yesaya 52:13 “Hamba TUHAN yang menderita.” Ini bicara tentang Mesias ya. Ayat 13 dikatakan, “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil,” hamba-Ku itu siapa? Mesias. “Ia akan ditinggikan, disanjung, dan dimuliakan.” yang pertama itu ayat 13 saya yakin semua orang mengharapkan seperti itu, Israel juga mengharapkan seperti itu.  Lalu saya lanjutkan dulu ya, “Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia – begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi – demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?”

Kalau Saudara lanjutkan lagi maka Saudara akan menemukan Dia adalah seperti seekor domba yang kelu, yang dibawa ke dalam pembantaian ayat 7, dari ayat 6 aja ya, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya?” Saudara bisa baca terus itu bicara tentang Hamba Tuhan itu yang mengalami penderitaan dan dibantai seperti seekor domba yang dibawa kepada pembantaian.

Jadi siapa Yesus? Petrus berkata Yesus itu adalah Hamba Allah dan pada waktu dia katakan Yesus adalah Hamba Allah, di dalam pemikiran orang Yahudi yang mempelajari Kitab Suci, kalau kita kan ditanya, “Ada nggak Yesus mengajarkan ini atau ada nggak kalimat ini di dalam Kitab Suci?” Kita mikir dulu kan, “Ada nggak ya, kayaknya saya belum sampai di situ deh belum baca, di mana ya ayatnya?” Waktu kita tunjuk ayat, “Oh iya ada ya ayat itu di sini ya.” Orang Yahudi nggak kaya gitu lho, Bapak, Ibu. Orang Yahudi itu kalau kita bicara ya ayat, dia tahu ayatnya itu di mana karena mereka dari kecil itu dibiasakan untuk menghafal. Jadi pada waktu mereka bicara hamba, maka dalam konotasi mereka itu bicara tentang Mesias. Yesus adalah Mesias karena di dalam Yesaya dikatakan Mesias itu adalah Hamba Allah. Tapi yang menjadi persoalan adalah mereka nggak bisa menerima Mesias yang menderita. Mereka bisa menerima Mesias yang dimuliakan tapi mereka tidak bisa menerima Mesias yang menderita dan kalah, karena mereka punya prinsip sendiri di dalam mengikut Mesias.

Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, ketika kita mengikut Kristus, ini saya bahas di PA ya, kita jangan ada jarak dengan Kristus dan kita jangan buat jarak kita sendiri dengan Kristus. Saudara paham ketika Saudara buat jarak sendiri dengan Kristus, yang terjadi adalah Saudara akan menjadi seperti orang Farisi, orang ahli Taurat, orang Israel yang menyalibkan Kristus. Saudara akan menjadi seperti Petrus yang menyangkali Kristus dalam hidupmu. Kalau Saudara berpikir saya bisa ikut Kristus tapi saya tidak mau terlalu dekat, saya tidak mau terlalu berkorban demi Kristus, saya tidak perlu terlalu taat kepada Kristus, saya tidak mau menjadi seorang murid yang radikal dalam hidup saya, yakinlah suatu hari engkau akan menyangkali Dia dan engkau tidak akan memilih untuk menaati Dia dan firman-Nya ketika engkau diperhadapkan dengan sesuatu yang engkau harus bayar harga demi untuk ketaatan kepada Kristus.

Petrus ketika terancam, merasa terancam, dia menyangkali Yesus 3 kali. Ketika Israel dan ahli Taurat, pemimpin-pemimpin Israel melihat Mesias, Yesus adalah Mesias, tapi Mesias yang diberitakan di dalam pribadi Yesus itu adalah Mesias yang menderita, yang menyembuhkan orang sakit, yang tidak memiliki kekuatan militer mereka bilang nggak mungkin dia Mesias, termasuk ketika yang lebih memprovokasi mungkin adalah ketika Yesus melakukan kesembuhan kepada orang sakit pada hari Sabat dengan sengaja lakukan itu. Di situ langsung mereka punya theologi dibenturkan dengan theologinya yang diajarkan oleh Yesus Kristus, mereka punya doktrin lalu dibenturkan dengan doktrin yang diajarkan oleh Kristus, mereka langsung panas hati, kebakaran jenggot mungkin dan langsung ingin membunuh Yesus.

Saudara, kalau kita tidak membuka diri untuk mendekatkan diri dengan Kristus, kita berpikir kita bisa jadi orang Kristen yang baik tanpa totalitas hidup kita kita serahkan kepada Kristus, jawabannya adalah kita bukan murid yang sejati, mungkin bukan murid yang sejati. Kenapa saya bilang mungkin? Karena ada kemungkinan kita salah seperti Petrus, dan Tuhan pakai untuk mempertobatkan kita. Tetapi Bapak, Ibu ingat baik-baik setelah Petrus bertobat, nggak ada jarak sama sekali. Nggak ada ketakutan dalam diri dia. Apa yang Tuhan inginkan, dia lakukan itu sampai dia mati, tapi sebelumnya dia berjarak. Tetapi banyak ahli Taurat dan orang Farisi, termasuk Yudas Iskariot secara lebih spesifik, itu menjaga jarak itu nggak mengakui dan ketika konsep mereka tentang Mesias itu dibenturkan dan tuntutan Mesias itu dibenturkan dengan hidup mereka, maka dia menyangkali Yesus.

Jangan main-main ya, jadi orang Kristen itu – maafkan saya pakai istilah yang mungkin negatif tapi saya percaya dalam pengertian yang positif – jadi orang Kristen itu nggak mungkin tidak fanatik, harus fanatik. Bukan dalam pengertian negatif ya. Tapi harus mengerti imannya, harus tahu apa yang Tuhannya inginkan, dan harus melakukan apa yang Tuhannya inginkan itu dalam hidup dia walaupun berarti saya harus berkorban hidup demi untuk melakukan itu. Tapi kita bisa jelaskan kenapa saya perlu Yesus, kenapa saya harus taat kepada Dia, kenapa saya harus berkorban demi Dia, kenapa Dia satu-satunya jalan kebenaran dan hidup dan di luar Dia nggak ada yang lain, kenapa satu-satunya nama itu adalah Yesus. Kita bisa kasih itu dan kita bisa berargumentasi dengan satu logika yang begitu kuat yang tidak bisa disangkal oleh dunia ini. Itu Kristen.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus seperti apa yang kita inginkan? Di sini dikatakan Dia adalah Hamba yang melayani. Dan Bapak, Ibu bisa lihat ini adalah satu konfirmasi yang Yesus sendiri ajarkan berkenaan dengan apa yang Dia lakukan dan siapa diri Dia. Misal buka Matius 12:15b “Yesus Hamba Tuhan.” Matius 12:15b, “Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.””

Jadi pada waktu Yesus mengajar dan menyembuhkan orang pada hari Sabat, pada waktu orang banyak itu mungkin mau mendengarkan Dia dan mulai mungkin mempertanyakan diri Dia, dan kalau Bapak, Ibu, lihat ayat 14 di situ, “Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia,” dan ketika Yesus tahu akan maksud rencana dia di situ, Dia menyingkir. Tetapi ketika Dia sampai kepada tempat lain, maka orang banyak mengikuti Dia, Dia mulai mengajarkan siapa diri Dia, Dia itu siapa, Dia berkata, “Akulah yang dikatakan Yesaya dalam Perjanjian Lama 700 tahun yang lalu bahwa aku adalah Hamba Allah.” Ia menggenapi nubuat Yesaya.

Dan pada waktu Bapak, Ibu perhatikan pelayanan dari Yesus Kristus, khususnya di dalam Injil Yohanes, Bapak, Ibu bisa lihat, “Aku tidak berkata-kata dari mulut-Ku sendiri akan apa yang Aku ingin katakan.” Yesus berkata, “Tetapi Aku mengatakan apa yang Bapa-Ku ingin Aku katakan.” Pada waktu Yesus melakukan sesuatu pelayanan Dia berkata, “Aku mengerjakan ini bukan karena Aku ingin kerjakan berdasarkan keinginan-Ku sendiri, tetapi apa yang Bapa-Ku ingin Aku kerjakan itu yang Aku kerjakan dalam hidup-Ku.” Itu namanya pelayanan. Itu namanya menjadi Hamba Allah. Paham ya?

Jadi mungkin nggak orang melayani tanpa tahu kebenaran? Tanpa tahu Alkitab, nggak mau baca, cuma mencukupkan diri datang minggu untuk dengar firman di hari Minggu? Jawabannya nggak mungkin. Dan pertanyaan berikutnya adalah selama ini Bapak, Ibu, melayani berdasarkan prinsip siapa? Dan siapa yang Bapak, Ibu, layani? Tuhan? Betulkah Tuhan? Prinsip siapa yang Bapak, Ibu, pakai untuk pelayanan? Kalau itu bukan prinsip Alkitab, Bapak, Ibu bukan melayani Tuhan. Kalau Bapak, Ibu pelayanan ada suatu gesekan lalu merasa tersinggung, hati-hati loh bukan Tuhan yang dilayani tapi diri dan ego.

Yesus melayani Tuhan dengan cara apa? Mengajarkan apa yang Tuhan Allah ingin ajarkan, Bapa-Nya ingin ajarkan, melakukan apa yang Bapa-Nya ingin Dia lakukan. Itu yang Dia lakukan. Jadi silahkan Bapak, Ibu bisa koreksi diri selama ini apakah saya melayani, selama ini perkataan siapa yang saya ikuti, prinsip siapa yang saya jalankan, dan kehendak siapa yang saya lakukan. Yesus adalah Hamba Allah yang melakukan kehendak Bapa-Nya atau Allah Abraham, Ishak, dan Yakub yang kita tahu bahwa Yesus sendiri adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub itu. Misalnya pada waktu orang-orang Farisi mempertanyakan Dia, Yesus berkata sebelum Abraham ada, Aku sudah ada. Dia berkata kamu belum usia 40 tahun bagaimana kamu bisa berkata Abraham melihat engkau? Yesus mau berkata Dia adalah prbadi yang dilihat oleh Abraham sendiri.

Lalu siapa Hamba itu? Yaitu Yesus. Yesus itu siapa? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita seringkali mungkin sudah terbiasa dengan istilah Yesus ya, nama Yesus dalam hidup kita. Tapi pengertian Yesus sendiri itu apa? Bapak, Ibu bisa lihat misalnya di dalam Injil Lukas 1:28 ya, “Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria itu terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Jadi nama itu bersumber dari Tuhan yang bertujuan untuk menyatakan kalau Dia akan menjadi raja atas umat-Nya ya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Lalu kalau Bapak, Ibu baca sedikit nanti kita ada bagian ini juga ya, ayat 35, “Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Jadi Dia juga disebut sebagai kudus, Anak Allah lalu Bapak, Ibu boleh buka Matius 1:21. Dari Matius 1:20 ya, “Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu,” Yusuf ingin menceraikan Maria, “malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus,” kenapa dinamakan Yesus? “Karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

Jadi pada waktu Petrus memperkenalkan nama Yesus, satu sisi Yesus itu menunjuk kepada pribadi yang namanya orang yang disalibkan, mati di atas kayu salib. Tetapi juga sebenarnya ketika Petrus bicara Yesus ini, nama ini dan dikaitkan dengan Hamba-Nya yaitu Hamba dari Allah, Petrus mau berkata, “Kamu tahu nggak Yesus itu adalah nama yang memiliki arti Juruselamat. Hamba-Nya yang datang untuk menyelamatkan itu Yesus.” Jadi Dia adalah pribadi yang diutus oleh Allah, Dia adalah Hamba-Nya Allah datang ke dalam dunia, kenapa dinamakan Yesus? Karena Allah mempunyai rencana untuk menyelamatkan manusia dari dosanya seperti arti dari nama Yesus itu.

Dan Bapak, Ibu bisa lihat banyak sekali orang-orang di dalam Perjanjian Lama atau nggak usah bilang banyak, ada beberapa orang di dalam Perjanjian Lama yang namanya diubah oleh Tuhan secara pribadi. Abram menjadi Abraham, Sarai menjadi Sara, Yakub menjadi Israel. Kenapa? Karena dibalik itu ada kebenaran yang Tuhan ingin nyatakan melalui nama yang digantikan itu. Jadi nama yang di dalam kehidupan kita itu berbeda dengan nama yang Alkitab nyatakan. Nama dalam kehidupan kita itu menjadi satu pengharapan dari orang tua terhadap anak itu maka dia memberikan nama, tetapi seringkali nama itu tidak sebanding dengan pribadi anak itu atau diri kita karena kita tidak memikul satu kehidupan dengan integritas identitas sesuai dengan nama itu, itu hanya harapan orang.

Tetapi ketika kita bicara tentang nama-nama di dalam Kitab Suci, nama itu menunjukkan pribadinya, karakternya, apa yang dia lakukan, itu nama. Makanya pada waktu Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, responnya adalah manusia mengenal nama-Nya. Karena dari kita mengenal nama-Nya di situ kita mengenal siapa Allah itu dan karakter-Nya, pribadi-Nya seperti apa, tujuannya untuk apa, apa yang Dia lakukan, rencana-Nya bagaimana, kita bisa mengenal itu. Dan Yesus Kristus adalah pribadi yang merupakan Juruselamat yang Tuhan sediakan bagi manusia berdosa yang diutus oleh Allah Abraham, Ishak, dan Yakub dalam dunia ini, dan walaupun kamu serahkan kepada Pilatus, dikatakan, tetapi Pilatus tahu kalau Dia tidak selayaknya dihukum mati. Tapi engkau membuat Pilatus menghukum Dia mati.

Jadi, dari sini kalau Saudara mau baca lagi ya – mungkin kita waktu ndak terlalu banyak, nanti kita akan bahas ya ayat 14 dan selanjutnya, tapi saya mau ngomong di sini – di sini Petrus itu bilang, “Kamu tahu nggak, pribadi yang Allah panggil sebagai hamba Nya, Allah utus untuk bisa melayani engkau, lalu memberitakan tentang kebenaran, tentang Allah seperti itu kepada engkau, justru engkau tolak, justru engkau salibkan dan engkau bunuh.” Atau kita baca 14 sedikit lah ya, “Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu.”

Jadi pada waktu Dia berdiri di hadapan Pilatus, Pilatus ngomong, “Dia nggak salah apa-apa, aku tidak menemukan satu hukuman yang layak kematian untuk Yesus Kristus, gimana aku kasih satu solusi deh kepada kamu, aku cambuk dia dah.” Dan cambukan itu adalah 40 kurang 1 biasanya, 39 kali. Karena takut kalau lebih, justru prajuritnya bisa dihukum mati ya. Jadi biasanya 39 kali cambuk, dan cambukan itu bukan satu cambuk dengan satu untai tali, tetapi dengan ujung yang punya, mungkin, tulang atau besi yang membuat ketika kena ke kulit, kulit itu akan robek. Jadi Saudara bisa bayangkan ya, sekali cambukan berapa luka yang diakibatkan oleh cambukan itu. Tapi pada waktu Pilatus menawarkan itu mereka bilang, “Nggak mau, kami lebih memilih untuk Yesus disalibkan mati.” Lalu pada waktu Pilatus menawarkan juga menurut kebiasaan waktu itu, ada seorang yang bernama Barnabas ya, “Kamu bunuh dia saja deh, saya lepaskan Yesus Kristus,” mereka kemudian berkata, “kami lebih memilih Yesus dimatikan daripada Barnabas yang dimatikan.”

Saudara, ini kalimat yang begitu tegas dan menusuk sekali dari Petrus. Siapa Yesus? Dia adalah Hamba Allah, Dia adalah Juruselamat, Dia adalah orang yang kudus dari Allah – ini Matius 16 – Dia adalah yang kudus itu dan Dia adalah yang benar itu, dan tidak punya dosa. Bapak, Ibu, bisa baca dalam Yohanes 8, orang-orang terdiam ketika Yesus bertanya, “Tunjukkan dosa-Ku di mana, kalau Aku salah dan berdosa,” mereka nggak bisa buktikan itu sama sekali, tetapi justru Dia harus diserahkan ke dalam kematian dan mereka lebih rela melihat Yesus mati daripada Barnabas yang mati.

Jadi ada suatu tuduhan yang Petrus lakukan di dalam khotbah dia. Dan tuduhan itu secara langsung berkata, “Kamu tahu tidak, kamulah yang membunuh Yesus. Hai orang-orang Yahudi, kamulah yang membunuh Yesus.” Dan kalau Bapak, Ibu, baca di dalam bagian lain dari Injil, semua orang yang menolak Kristus itu membunuh Yesus. Artinya adalah pada waktu kita memberitakan Injil, tadi kalau saya bilang Injil itu bukan bicara tentang kesaksian kesembuhan orang, bukan bicara tentang suatu berkat yang mereka terima, tetapi kesan Injil itu pertama bicara tentang siapa Kristus, apa yang Dia lakukan, dan kedua, manusia membutuhkan Yesus karena manusia berdosa. Injil tidak boleh dikurangi bobot tegurannya, kebenarannya, demi untuk membuat orang bisa menerima kita dan nyaman dengan Tuhan. Injil harus bisa menyatakan manusia itu berdosa, dan gereja yang baik dan sehat harus berani untuk menyatakan manusia itu berdosa.

Kalau Bapak, Ibu datang ke dalam gereja dan mendengarkan kabar Injil tetapi Bapak, Ibu, merasa dirimu makin baik, bukan terpukul, maka itu pasti yang diberitakan bukan firman Tuhan. Tetapi kalau Bapak, Ibu mendatang kepada suatu gereja, lalu Bapak, Ibu, merasa dicabik-cabik, kayak gitu ya, ditegur, ditampar pipinya, kayak gitu, merasa marah, mungkin, dengan kata-kata yang sebenarnya ndak ditujukan kepada mereka, tetapi mereka merasa bahwa itu ditujukan kepada mereka, mungkin Tuhan sedang berbicara. Dan memang semua firman Tuhan ketika diberitakan kepada manusia, pasti ada yang namanya pertentangan, benturan, dan manusia diharuskan untuk memilih antara 2: pertobatan atau melawan kebenaran itu. Makanya nanti ketika akhir dari kisah ini, Petrus minta mereka bertobat, dan mereka bertobat, dan orang yang datang ke dalam, gabung dengan umat Tuhan, itu bertambah dari 3000 menjadi 5000an orang. Pasti ada pilihan yang harus dilakukan.

Tapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita ditegur atas dosa itu, teguran itu bukan hanya bicara masalah kesalahan relasi yang kita lakukan dengan manusia, paham ya? Kalau Bapak, Ibu, negur orang karena dalam prinsip kesalahan relasi yang dilakukan dengan manusia, mungkin kita akan merasa tetap baik-baik. Karena apa? Saya cuma bersalah kepada engkau, engkau juga pernah bersalah kepada saya, engkau negur saya, kayak gitu. Ya OK lah saya terima, saya bukan manusia sempurna kok seperti engkau yang tidak manusia sempurna. Ya jadi baik-baik, nggak apa-apa. Tapi kalau Bapak, Ibu, melihat ayat 15, maka di sini dikatakan, “Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi.”

Maka, Petrus mau ngomong, “Tahu tidak ketika engkau berdosa, engkau bukan hanya melanggar etika moral, tetapi engkau melanggar Tuhan sendiri.” Istilah ‘Pemimpin kepada hidup’ itu adalah satu istilah yang dimengerti bahwa Yesus adalah hidup itu sendiri dan Yesus adalah yang bisa memberikan hidup kepada manusia. Dan kalau Dia bisa memberikan hidup dan Dia adalah Pemimpin kepada hidup itu, berarti Dia adalah Allah. Dan di dalam pemikiran orang Yahudi, mereka tahu persis hanya Allah yang bisa membangkitkan orang mati dan memberikan hidup dan kematian kepada manusia.

Saudara bisa buka itu dari Yohanes 1:4, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Dia itu siapa? Yesus Kristus ya. Jadi Yesus adalah hidup itu karena di dalam Dia ada hidup. Bapak, Ibu kalau mau tanya, “Kenapa Yesus bangkit dari kematian?” Di bagian ini ada istilah yang mengatakan Bapa membangkitkan Dia dari kematian, itu benar, sebagai manusia Dia perlu dibangkitkan oleh Allah, tetapi di dalam Injil Yohanes Yesus pernah berkata, “Aku memiliki hidup itu sendiri, kalau Aku mau serahkan hidup-Ku baru hidup itu bisa diserahkan, kalau Aku mau mengambilnya kembali, maka Aku bisa memiliki kuasa untuk mengambil hidup-Ku kembali.” Jadi kebangkitan Yesus bisa dimengerti dalam dua aspek: karena Bapa yang membangkitkan atau karena Dia membangkitkan diri Dia sendiri karena Dia tidak pernah mati, Dia adalah hidup itu.

Dan coba boleh buka juga di dalam Kolose 1:15-16, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Ini mirip dengan Yohanes 1:3, mau berkata bahwa Yesus itu pencipta. Dunia ini dicipta oleh siapa? Oleh Yesus Kristus. Manusia dicipta oleh siapa? Oleh Yesus Kristus. Jadi Dia itu siapa? Dia itu adalah Allah, sumber hidup itu, yang memberi kehidupan kepada dunia, memberi kehidupan kepada manusia, tetapi yang ditolak oleh manusia ciptaan-Nya, itu dosa.

Jadi Petrus mau bilang apa? “Hai orang-orang berdosa, orang-orang yang telah menyerahkan Yesus Kristus untuk mati, kamu tahu tidak yang kamu serahkan itu bukan manusia seperti kamu lho, Dia adalah Hamba Allah, Dia adalah yang kudus dan benar dari Allah. Tetapi Dia bukan hanya hamba Allah yang kudus dan benar dari Allah, tetapi Dia adalah Allah itu sendiri yang kamu serahkan ke dalam kematian. Dan kamu tahu tidak dampaknya apa? Dampaknya pasti ndak ada satupun jalan keluar bagi engkau daripada dosamu itu.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, yang kita serahkan itu adalah Allah dan Hakim segala manusia, dan kalau kita adalah orang yang menyerahkan merasa tidak butuh Dia, kamu tahu tidak atau Saudara tahu tidak satu hari engkau akan berhadapan dengan siapa? Ya itu Dia, finalnya Dia, omeganya itu adalah Yesus Kristus. Masih ada harapan kalau kita tolak Dia? Jawabannya ndak ada harapan. Dan Dia nggak bisa disogok dengan perbuatan kita ataupun dengan uang kita karena Dia adalah Hakim yang adil, yang kudus, yang berbeda dari kita yang berdosa, yang suci itu.

Makanya pada waktu Petrus bicara seperti ini, respons yang diberikan oleh orang-orang, kalau kita bandingkan dengan misalnya Kisah 2, mereka meratap, mereka sadar, mereka nggak ada jalan keluar. Kalau Bapak, Ibu, berpikir masih ada jalan keluar dalam hidup ini dengan cara untuk melihat bahwa tidak perlu memberikan totalitas dirimu kepada Kristus, hati-hati, itu adalah kecelakaan. Orang yang tahu ndak ada jalan keluar, dan jalan keluar itu hanya di dalam Kristus, dia pasti tidak akan menjaga jarak dengan Kristus, dia pasti akan menghargai penebusan yang Yesus lakukan bagi diri dia. Tapi kalau dia masih bermain-main, dia ada berpikir mungkin ada peluang lain selain dari Yesus Kristus, ada kebaikan lain selain daripada kebaikan Yesus Kristus, ada jalan lain selain dari jalan Kristus.

Petrus langsung konfrontasikan dosa manusia bukan dengan manusia, tapi Petrus langsung konfrontasikan dosa itu dengan Tuhan Allah yang suci dan kudus yang tidak bisa dipermainkan oleh manusia. Tapi yang menariknya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu ini dikonfrontasikan, dan kita tahu kalau kematian Kristus itu adalah akibat rencana jahat Yudas dan, OK lah Yudas mungkin ndak terpikir Yesus mati ya, tapi paling tidak, itu adalah rencana jahat dari pemimpin agama Yahudi kan? Dia harus mati, caranya bagaimana Dia harus mati, begitu. Tapi pada waktu Petrus beritakan tentang kebenaran ini, Petrus mengajukan tuntutan final dengan hukuman kematian atau Petrus memberitakan satu kemungkinan untuk bertobat dan diperdamaikan dengan Kristus?

Saudara bisa lihat di dalam ayat, saya lompat sedikit ya, di dalam ayat yang ke 17, “Hai Saudara-Saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu.” Jadi pada waktu Petrus bicara seperti ini, Petrus bilang, “Hai kamu orang Yahudi, kamu serahkan Yesus karena kejahatanmu, kamu sudah rencanakan itu kan? Kamu mau Yesus mati kan? Tahu tidak, ndak ada jalan keluar kecuali kamu menerima hukuman Tuhan, karena yang kamu bunuh itu adalah Allah.” Jadi, apakah ini yang jadi berita daripada Petrus? Jawabannya tidak.

Kalau itu, kenapa saya bilang tidak dan itu seperti apa ya, itu seperti Saudara ketika ada di pengadilan, Saudara bertemu dengan orang yang melakukan kejahatan, lalu kejahatan yang orang itu lakukan ada 2 kemungkinan, pertama adalah kejahatan yang sengaja direncanakan selama bertahun-tahun kayak gitu, dan yang kedua adalah kejahatan yang tidak sengaja dilakukan, pembunuhan misalnya, dampak hukumannya sama tidak? Di hukum kan ada istilahnya first degree murder, pembunuhan yang dilakukan secara berencana, dengan pembunuhan yang tidak dilakukan tidak berencana. Dan pembunuhan yang dilakukan secara berencana, biasanya tidak ada kemungkinan untuk ditebus lagi atau dibebaskan dari hukuman, dia pasti dihukum dan mati, kayak gitu. Tapi kalau yang tidak disengaja, masih ada kemungkinan peluang, dihukum berapa lama, mungkin, atau ada suatu tebusan, uang tebusan untuk bisa dia keluar dari hukuman itu.

Nah pada waktu Petrus bicara kepada orang Yahudi, sebenarnya termasuk kepada diri kita juga ya, Petrus bilang, “Kamu sudah serahkan Kristus, kamu sudah tolak Kristus, tapi tahu tidak, kamu lakukan itu dengan suatu hal yang tidak disengaja.” Maksudnya adalah masih ada peluang kemungkinan untuk bisa diperdamaikan dengan Kristus. Dan peristiwa ini, itu merujuk kepada satu peristiwa yang ada di dalam Perjanjian Lama dari hukum Musa yang berbicara tentang ketika orang melakukan satu kejahatan yang tidak disengaja.

Pada waktu Israel mau masuk ke dalam Tanah Perjanjian, maka Tuhan melalui Musa itu menetapkan ada kota-kota berkubu, kota-kota perlindungan di tengah-tengah Israel, di semua wilayah suku Israel itu ada kota perlindungan. Tujuannya untuk melindungi orang yang melakukan satu kejahatan atau pembunuhan untuk dihakimi oleh rakyat, atau oleh masyarakat, oleh masa tanpa sebelumnya mengalami penghakiman atau keadilan atau pengadilan. Jadi ketika dia membunuh seseorang, maka hal pertama yang harus dilakukan ketika dia sadar dia sudah bunuh orang, dia lari ke kota perlindungan supaya si penuntut darah ndak bisa ulurkan tangannya membunuh orang itu di dalam kota perlindungan. Jadi dia ‘selamat’ suatu waktu untuk apa? Untuk diadili. Dan kalau memang dia terbukti telah membunuh secara berencana, maka tetap dia akan dihukum mati, walaupun dia ada di dalam kota perlindungan. Tetapi kalau dia membunuh tanpa sengaja, Alkitab berkata itu berarti tangan Tuhan yang ingingkan orang itu mati, dan orang itu harus tinggal di dalam kota perlindungan sampai imam besar mati, dan ketika dia ada di situ maka si penuntut darah tidak pernah bisa membunuh orang itu. Dia akan terus tinggal di situ kecuali kalau dia keluar dari situ, dia mati di luar, itu bukan tanggung jawab dari penuntut darah, tapi memang dia lakukan kesalahan. Tapi kalau dia ingin hidup, dia tinggal di situ sampai imam besar mati.

Nah Saudara, istilah di sini adalah, ayat 17 ya, “Hai Saudara-Saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita.” Istilah yang digunakan di sini ya “dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya” lalu ada istilah “Pemimpin kepada hidup” digabungkan dengan ayat 17 ini ya. Pemimpin kepada hidup yang kamu bunuh itu atau kamu diminta untuk berpaling kepada Allah.

Sorry saya miss ayatnya, harus lihat bahasa Inggrisnya mungkin lebih jelas ya, tapi intinya begini ya waktu bicara, “Hai Saudara-Saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita.” Di situ ada satu tawaran, yang seperti orang yang melakukan satu dosa yang tidak disengaja, melarikan diri di dalam kota perlindungan. Atau kamu harus berbalik kepada Allah – ini Indonesianya nggak terlalu jelas di situ – kamu harus berbalik kepada Allah dengan cara seperti kamu lari ke kota perlindungan itu.

Dan ketika mereka ada di dalam kota perlindungan itu dan mereka ada aman di dalam situ, sepanjang imam besar itu hidup, maka Petrus mau bilang, “Kamu tahu tidak kalau kamu berbalik kepada Allah di dalam Kristus, Dia adalah imam besar yang akan ada sampai selama-lamanya.” Artinya adalah ketika kamu lakukan satu dosa tertentu yang tidak disengaja, sekarang saya berikan satu tawaran solusi, kamu mau nggak lari ke dalam kota perlindungan di mana imam besarnya adalah Yesus Kristus? Atau kamu tidak mau lari ke situ, dan berlindung di dalam kota itu dengan imam besar adalah Kristus? Kalau kamu lakukan itu, maka yang terjadi adalah justru penghakiman yang sesungguhnya. Tetapi kalau kamu melakukan itu dengan suatu ketidaksengajaan, kamu sadar kamu sekarang adalah orang yang berdosa dan kamu sudah melakukan satu dosa yang besar terhadap Tuhan Allah, maka kamu ingin berlindung di dalam kota itu atau dengan cara datang kepada Kristus dan berlindung di dalam Kristus yang adalah imam besar yang kekal itu, maka engkau akan mendapatkan hidup, karena Dia adalah Pemimpin kepada hidup. Itu yang menjadi berita yang ditawarkan oleh Petrus ya.

Kita akan lanjutkan ya, yang lain, tapi di sini, saya harap Bapak, Ibu, mengerti, di balik Injil, itu ada berita apa yang disampaikan. Kalau Bapak, Ibu, tanya bagaimana saya harus menginjili, Bapak, Ibu, harusnya sudah tahu, kalau penginjilan itu menyatakan Kristus, apa yang dilakukan oleh Kristus, Dia adalah yang diutus oleh Allah, satu-satunya jalan itu adalah melalui Kristus, kenapa satu-satunya jalan melalui Kristus? Karena manusia adalah manusia yang berdosa, maka itulah berita Injil. Di luar itu bukan Injil. Walaupun kita juga bisa bicara Injil dalam pengertian scope yang lebih luas yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran Tuhan itu adalah Injil, tapi secara spesifik, damai sejahtera yang Tuhan tawarkan itu melalui apa yang Kristus kerjakan bagi manusia yang berdosa. Dan Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ingat sekali lagi, ketika kita mengikut Tuhan, pasti ada konfrontasi terhadap dosa, dan Bapak, Ibu, pilih yang mana? Tunduk dan taat melalui pertobatan? Atau terus menjalankan kehidupan yang berdosa. Mendekatkan diri kepada Kristus atau menjaga jarak terus dengan Kristus? Kiranya Tuhan boleh memberkati kita ya.

Kami kembali bersyukur Bapa, untuk firman-Mu, untuk kebenaran-Mu, untuk kasih-Mu bagi kami yang berdosa ini. Tolong kami untuk melihat kalau diri kami memang tidak layak dan tidak pantas di hadapan Engkau, diri kami memang sepantasnya untuk dihukum dan dimusnahkan di dalam kekekalan, dan bukan diselamatkan. Tetapi kamu juga bersyukur ya Bapa, karena ada Kristus yang telah Engkau utus ke dalam dunia ini untuk menyelamatkan kami, dengan kematian Dia di atas kayu salib dan menjadi satu-satunya jalan, solusi untuk membawa kami ke dalam kehidupan. Bawa kami untuk bisa melihat secara jelas akan cinta kasih Kristus ini dalam hidup kami. Beri kami suatu hati yang bisa menghargai sepenuhnya akan apa yang telah Kristus kerjakan dalam kehidupan kami, dan karuniakan bagi diri kami. Dan tolong kami untuk ketika kami berjalan di dalam iman kepada Kristus seperti pengakuan yang keluar dari mulut kami, biarlah kami tidak membatasi diri kami berdasarkan prinsip kami, pemikiran diri kami sendiri, tetapi karena penghargaan kami akan Kristus kami boleh terus mendekatkan diri kami dan melalui hidup kami, kami menyatakan kasih Kristus, kuasa kebangkitan Kristus, kuasa perubahan Kristus, dan kuasa hidup baru yang telah Kristus berikan bagi kami. Tolong pimpin anak-anak-Mu ya Bapa, satu per satu, karuniakan mereka iman, karuniakan mereka kebenaran-Mu, karuniakan mereka kelembutan hati untuk mau tunduk di bawah kebenaran-Mu, dan selalu mengikuti pimpinan Roh Kudus dalam hidup mereka, sehingga kembali nama Tuhan yang ditinggikan dan dimuliakan melalui kehidupan kami, anak-anak-Mu yang telah Engkau tebus di dalam Kristus, dan mendapatkan kasih karunia dan bukan sesuatu yang kami layak terima. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, yaitu Tuhan dan Juru Selamat kami yang hidup, kami berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *