Ujian sebagai Sarana Membentuk Iman, 2 Mei 2021

Kisah Para Rasul 4:13-32

Pdt. Dawis Waiman, M.Div.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, menjadi orang Kristen menurut Kitab Suci adalah menjadi orang yang perlu mengalami pertumbuhan demi pertumbuhan dalam hidup dia. Orang Kristen tidak pernah bisa menjadi orang Kristen yang stagnan. Orang Kristen tidak mungkin menjadi orang Kristen yang berpuluh-puluh tahun tidak mengerti firman Tuhan, tidak mengenal Allah, atau tidak bertumbuh di dalam pengenalan dia akan Allah dan kebenaran firman Tuhan. Di dalam Kolose 3:10, Paulus berkata ketika seseorang itu dilahirbarukan, maka Roh Kudus akan bekerja di dalam diri dia untuk memberikan pengetahuan akan Allah atau akan Kristus yang makin limpah di dalam hidup dia. Ini adalah saya ucapkan dengan bahasa, kalimat saya sendiri. Bapak, Ibu, bisa buka di dalam Kolose 3:10. Jadi pada waktu kita percaya pada Yesus Kristus maka hal yang akan dilakukan oleh Roh Kudus di dalam setiap orang yang sungguh-sungguh mengalami kelahiran baru adalah ia makin bertumbuh dalam pengenalan akan Kristen di dalam hidup dia atau dia akan makin menjadi orang yang memahami kebenaran firman Tuhan yang membawa dia bertumbuh di dalam karakter Kristus dan bertumbuh di dalam satu pengenalan akan Tuhan Allah di dalam hidup dia.

Nah pada waktu kita berbicara mengenai pertumbuhan ini atau pertumbuhan rohani ini, hal apa yang menjadi dasar seseorang atau menjadi sarana yang Tuhan pakai untuk mempertumbuhkan rohani kita? Alkitab mencatat ada 2 sarana yang Tuhan pakai untuk mempertumbuhkan rohani kita. Pertama adalah firman Tuhan. Saudara bisa lihat itu dalam 1 Petrus 2:2, kita buka beberapa ayat cukup banyak, saya pikir ini baik untuk kita sama-sama bisa melihat bahwa dasar dari pemberitaan firman kita adalah dari Kitab Suci. 1 Petrus 2:2 saya baca dari ayat 1, “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.”

Pengertian dari air susu yang murni dan yang rohani itu adalah bicara atentang firman Tuhan. Jadi di dalam kehidupan dari orang-orang percaya, di sini Petrus menyatakan bahwa kita harus menjadi seperti bayi, bayi yang baru laihir. Kalau bayi, apa yang dia butuhkan? Air susu. Apa yang dia inginkan? Air susu. Apa yang dia teriaki? Yaitu air susu. Jadi setiap hari ia akan nangis untuk meminta air susu dari ibunya. Artinya adalah ia tidak pernah dipuaskan oleh air susu itu, tidak pernah dipuaskan dan dia terus menuntut air susu dan air susu setiap hari dalam hidup dia. Sebagai orang Kristen kita juga digambarkan seperti ini. Pada waktu kita berhadapan dengan firman dan kebenaran Tuhan maka kita akan memiliki satu kehausan di dalam hati kita yang ingin terus mengenal firman, memahami firman, mencari kebenaran Tuhan, dan mengenal Tuhan melalui firman yang kita pelajari, kita gali, dan kita renungkan setiap hari dalam hidup kita. Jadi ini adalah satu aplikasi dari apa yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam kehidupan manusia yang dilahirbarukan kembali oleh Roh Kudus dalam Kolose 3:10, yaitu kita akan bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah.

Dan tentunya pada waktu kita bicara sarana yang digunakan adalah firman Tuhan maka firman itu tidak ada gunanya sama sekali kalau kita hanya menghafalnya semata atau mengetahui perkataan-perkataan di dalam Kitab Suci seperti apa yang dikatakan Kitab Suci semata, atau istilahnya adalah kalau kita hanya berhenti di dalam pengetahuan semata, bukan turun kepada satu kehidupan yang diubahkan oleh firman itu. Karena pada waktu kita berbicara saya megenal Tuhan dalam pengertian pengetahuan, saya percaya ada satu pribadi yang menjadi contoh yang begitu hebat dari Tuhan bagi kita yaitu Ayub. Ia sebelumnya adalah orang yang begitu mengenal Tuhan walaupun dia belum pernah mengalami pencobaan sekalipun dalam hidup dia, dia adalah orang yang begitu mengenal Tuhan dalam hidup dia. Bahkan dikatakan ia melampaui ketiga teman-temannya yang berbicara theologis dengan Ayub. Jadi secara theologis, Ayub mengenal Tuhan, ia tahu karakter Tuhan, dia tahu apa yang menjadi kebijakan Tuhan, dia tahu bahwa Tuhan itu adil, dia tahu Tuhan itu menghukum orang yang jahat, dia tahu kalau kadang Tuhan juga menunda hukuman-Nya bukan kepada orang yang melakukan kejahatan saat itu tetapi pada keturunan dia dan cucu dia, dia tahu segala hal yang tidak diketahui oleh teman-temannya. Tetapi di akhir daripada kitab Ayub itu dikatakan, “Sekarang aku tidak perlu mendengar dari orang lagi berkenaan dengan Tuhan tapi aku mengenal Tuhan secara pribadi di dalam kehidupanku.”

Jadi saya percaya ketika Tuhan memberikan suatu pertumbuhan dalam hidup kita, maka Tuhan tidak ingin kita hanya berhenti di dalam pemahaman theologis di otak kita berkenaan dengan siapa Tuhan dan segala kebijakan atau hikmat yang Tuhan nyatakan di dalam Kitab Suci, tapi Tuhan mau kita memiliki satu kehidupan yang sesuai dengan kebenaran itu yang menyatakan kalau kita sungguh-sungguh mengenal Allah di dalam kehidupan kita. Jadi ada pertumbuhan seperti itu. Ini yang membuat kenapa Yesus Kristus mengecam orang-orang Farisi, karena orang-orang Farisi satu sisi mungkin mereka bisa dikatakan ada bagian doktrin pengajaran yang salah dalam diri mereka khususnya berkenaan dengan Mesias, tetapi di dalam hal lain Yesus tidak mengecam pengajaran mereka. Bahkan Yesus berkata engkau harus mendengarkan apa yang diajarkan oleh orang-orang Farisi itu tetapi engkau tidak boleh mengikuti cara hidup dari orang-orang Farisi tersebut, pada waktu dia mengajarkan kepada murid-murid-Nya berkenaan dengan orang Farisi.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, bahkan di dalam surat Yakobus sendiri pada waktu Yakobus berbicara berkenaan dengan orang Kristen yang punya pengetahuan tapi tidak memiliki hidup, dan membandingkan dengan diri dia yaitu orang Kristen yang memiliki pengetahuan dan memiliki hidup, Yakobus berkata kalau engkau adalah orang Kristen yang memiliki pengetahuan dan tidak memiliki hidup, bagaimana engkau membuktikan kalau engkau adalah orang Kristen? Dengan perkataanmu? Aku akan membuktikan bukan dengan perkataanku saja tetapi dengan hidupku yang sesuai dengan kebenaran firman yang aku ajarkan. Lalu Yakobus berkata kalau engkau hanya mengajarkan berkata bahwa engkau memiliki iman hanya sebatas pengetahuan dan tidak memiliki hidup yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan maka Yakobus bilang engkau sama seperti seorang yang melihat kepada cermin, lalu setelah engkau berbalik engkau lupa wajahmu itu seperti apa.

Dan yang lebih celakanya lagi Yakobus berkata kalau engkau hanya mengerti firman berdasarkan pengetahuan tetapi hidupmu tidak ada penundukan diri di bahwa kebenaran firman, maka engkau tidak lebih baik daripada setan. Karena setan memiliki pengetahuan firman, setan mengetahui Tuhan itu ada, setan tahu dan bahkan membaca Kitab Suci dan mengerti Kitab Suci juga, tetapi di dalam kehidupan setan tidak ada satu penundukan diri untuk mau melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Jadi pada waktu kita berbicara berkenaan dengan pertumbuhan rohani, maka pertumbuhan rohani itu memiliki atau membutuhkan sarana yaitu firman Tuhan, pertama, tetapi firman itu adalah satu kebenaran yang harus kita hidupi dan taati baru kita mengalami satu pertumbuhan rohani dalam hidup kita.

Hal yang kedua adalah ujian. Kita butuh ujian untuk mengimplementasikan atau menerapkan firman di dalam hidup kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini menjadi unsur yang penting yang kita tidak pernah boleh abaikan dari kehidupan orang Kristen. Seringkali kita dalam zaman sekarang berpikir orang Kristen pasti diberkati, pasti berjalan dalam satu kehidupan yang baik, pasti tidak ada persoalan, kalau ada persoalan dalam hidup dia, dia teriak minta tolong Tuhan untuk menyingkirkan persoalan itu dari hidup dia, maka dia akan disingkirkan daripada persoalan itu, dan dia akan memiliki satu perjalanan yang lurus kembali dan tidak ada kerikil yang menghadang kaki dia di dalam perjalanan dia. Maafkan itu bukan pengajaran Kristen.

Kristen justru mengajarkan atau Alkitab mengajarkan kalau engkau ingin bertumbuh di dalam kerohanianmu, fasilitas atau sarana kedua yang digunakan oleh Tuhan mempertumbuhkan rohani kita adalah ujian. Saudara bisa lihat itu di dalam Yakobus 1:2-4 atau digunakan di dalam terjemahan LAI yaitu pencobaan ya. “Saudara-Saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

Jadi kalau kita ingin mengalami satu pertumbuhan, apa yang akan terjadi dalam hidup kita? Alkitab berkata justru Tuhan akan membawa kita masuk ke dalam berbagai pencobaan atau istilah lainnya juga berbagai ujian di dalam kehidupan kita. Kenapa saya gunakan ujian dan pencobaan? Karena kata Yunaninya sama yaitu peirasmos. Yang membedakan itu adalah konteksnya, yang membedakan itu adalah sumber dari ujian atau pencobaan itu tiba, dan tujuan daripada pencobaan atau ujian itu diberikan. Jadi kalau bicara tentang pencobaan, sumbernya adalah dari iblis. Bicara tentang ujian, sumbernya adalah dari Allah. Berbicara mengenai tujuan, iblis bertujuan untuk menghancurkan. Bicara berkenaan dengan ujian, Tuhan berbicara memberikan itu untuk kita mengalami pertumbuhan secara rohani kita.

Jadi pada waktu kita melihat satu keadaan tertentu atau menghadapi satu situasi tertentu dalam hidup kita, Yakobus mau berkata ada 2 kekuatan yang bekerja, pertama adalah kekuatan iblis, yang kedua adalah kekuatan Allah. Ini kita bisa kembalikan kepada apa yang terjadi pada diri Ayub. Kenapa dia mengalami ujian itu atau pencobaan itu dalam hidup dia? Karena Tuhan ketika berkumpul bersama dengan anak-anak Tuhan, iblis datang ke hadapan Tuhan lalu berkata, lalu Tuhan berkata kepada iblis itu, “Tidakkah kamu lihat hamba-Ku Ayub itu? Setelah kamu melalangbuana ke dalam seluruh dunia.” Iblis berkata, “Iya, saya lihat dia.” “Kamu lihat kan dia seorang yang saleh dan benar?” Iblis berkata, “Betul dia adalah seorang saleh dan benar, tetapi persoalannya adalah karena Engkau membuat pagar pada diri dia sehingga aku tidak bisa mencobai dia, menghasut dia untuk dia melawan Tuhan. Kalau andaikata Kamu cabut semua daripada berkat atau yang Engkau berikan kepada diri dia, maka dia pasti melawan Tuhan.” Lalu Tuhan berkata, “Silahkan kamu lakukan itu. Hanya sayangkan nyawanya.” Maka iblis kemudian menghabiskan seluruh harta dia, menghabiskan seluruh anak dia di dalam satu hari.

Jadi pada waktu Ayub menghadapi satu sisi ‘pencobaan’ tujuannya untuk apa? Atau sumbernya dari mana? Yaitu dari iblis, supaya Ayub hancur dan Ayub menyangkal Tuhan. tetapi di sisi lain kita juga tahu ada Tuhan yang bekerja melalui apa yang Ayub alami itu, tujuannya supaya apa? Ayub tidak hancur tetapi supaya Ayub makin bertumbuh di dalam pengenalan dia akan Allah yang benar.

Jadi di dalam kehidupan orang percaya, pada waktu suatu keadaan menimpa, apapun itu kalau kita kembali kepada surat Roma 8:28 dikatakan Tuhan turut bekerja di dalam segala sesuatunya untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, itu berarti segala sesuatu. Di dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, kita tidak boleh hanya melihat dari kacamata daging, kita tidak boleh melihat dari kacamata manusia, kita tidak boleh melihat hanya dari persoalan horisontal yang terjadi antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain atau antara diri kita dengan orang lain, orang lain dengan diri kita semata. Tetapi Alkitab berkata Tuhan turut bekerja di dalam segala sesuatunya untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, supaya mereka menjadi serupa dengan Kristus. Itu berarti ada hal rohani yang Tuhan ingin bentuk dalam kehidupan kita ketika Tuhan mendatangkan suatu situasi yang di luar dari kontrol kita. Dan kita perlu bertumbuh di dalam aspek itu.

Makanya pada waktu Yakobus berbicara pada waktu engkau menghadapi pencobaan, apapun itu bisa bencana alam seperti Ayub, bisa kehilangan seluruh anggota keluarga, bisa kehilangan pekerjaan, bisa dianiaya, bisa ditolak oleh teman, bisa disalahmengerti, bisa terjadi keributan, atau bisa terjadi satu ketersinggungan termasuk di dalam pasangan suami istri, kekecewaan, atau hal-hal lain apapun itu Bapak, Ibu, bisa list-kan semuanya, tujuannya adalah satu yaitu untuk mempertumbuhkan kita melalui itu, dengan cara Tuhan membuat kita makin bertekun mengalami penderitaan ketika kita mengalami penderitaan itu dan pada waktu kita bertekun kita makin sempurna di dalam kehidupan rohani kita.

Itu sebabnya Yakobus berkata kita perlu berbahagia. Kita perlu mengucap syukur di dalam situasi yang Tuhan berikan. Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan di dalam hidupmu karena pencobaan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan itu membawa kita ke dalam kesempurnaan. Saya percaya itu adalah satu kalimat yang benar karena setiap kali kita mengalami suatu tekanan dalam hidup kita, setiap kali kita mengalami satu benturan yang membuat kita rasanya ingin berhenti kayak gitu, setiap kali kita mengalami suatu situasi yang mungkin membuat kita merasa kenapa ya saya hari ini bangun lagi ya pagi ya, saya pengen nggak bangun pagi hari ini karena begitu beratnya tekanan yang kita hadapi dalam hidup kita, saya percaya pada waktu kita beriman kepada Tuhan dalam situasi seperti itu, itu akan membuat satu dorongan yang lebih kuat dalam hati kita untuk terus berjuang selama kita masih diberikan nafas dan kekuatan oleh Tuhan, bukan mengalami kemunduran.

Makanya Alkitab berkata khususnya di dalam perumpamaan benih yang ditaburkan dalam 4 jenis tanah itu, orang yang bertumbuh, kelihatannya bertumbuh ketika terjadi satu pencobaan, dia diibaratkan seperti benih yang ditaruh atau jatuh di tanah yang berbatu karena sedikit tanahnya, maka ketika matahari menyinari tumbuhan itu atau benih itu kemudian layu dan mati. Atau istilah lainnya adalah dia nggak ada pertumbuhan, dia nggak ada ketekunan, dia tidak ada satu perjuangan untuk bisa menerobos batu itu mungkin untuk akarnya masuk ke dalam tanah dan tumbuh di situ.

Saudara, jadi pada waktu kita berbicara mengenai ujian atau pencobaan, maka ujian atau pencobaan itu menjadi sarana kedua yang Tuhan pakai untuk kita mengalami pertumbuhan. Tapi seperti yang pertama tadi sarana firman, tanpa adanya satu penundukan diri untuk melewati pencobaan yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita atau ujian yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita, jawabannya kita juga nggak akan bertumbuh. Jadi waktu firman dikabarkan, kita mengerti firman untuk mengalami satu pertumbuhan, ada penundukkan diri untuk menaati firman. Begitu juga pada waktu kita mengalami ujian dalam kehidupan kita, Tuhan memberikan situasi dalam kehidupan kita atau konteks dalam kehidupan kita yang di luar daripada kontrol kita, waktu itu terjadi yang kita lakukan apa? Kita langsung mencari solusi manusia? Kita mencari pertolongan manusia?

Saya waktu pimpin KTB ada KTB pembacaan firman, waktu itu saya bicara ada yang bertanya seperti ini, “Kita bisa nggak menghilangkan kekuatiran dalam hidup kita?” Saya bilang, “Kekuatiran itu nggak mungkin bisa dihilangkan, tetapi kekuatiran itu ada 2 sisi, sisi negatif dan sisi positif arahnya seperti itu. Sisi negatif itu membuat diri kita makin menjauh dari Tuhan, makin tidak beriman kepada Tuhan, tetapi sisi positifnya adalah melalui kekuatiran itu kita belajar beriman kepada Tuhan. Pada waktu kita mengalami kekuatiran ini, salah satu bentuknya apa? Bicara mengenai mungkin apa yang kita makan hari ini. Lalu ada yang ngomong berkata, saya mengutip kalimat Calvin yang saya baca dari warisan Calvin, Calvin berkata kalau Tuhan tidak menghendaki kita makan hari ini, kita lebih memilih untuk tidak makan daripada saya berdosa.”

Ada satu Bapak yang kaget dengar kalimat itu lalu dia merasa bahwa itu hal yang nggak perlu seperti itu, itu adalah satu opsional untuk kita mengalami ujian seperti ini dalam hidup kita. Lalu bagaimana caranya? Ya kita harus cari teman-teman, kita harus cari keluarga untuk menolong diri kita. Saya bilang, “Oke dalam aspek ini mungkin kita dalam level yang sama di mana kita tidak pernah mengalami satu kehidupan sampai kita tidak punya makanan satu hari untuk kita makan sehingga sulit untuk kita bayangkan itu.” Walaupun di dalam pandemi saya bicara dan ada satu majelis gereja yang bicara, dari pusat, kalau saya pernah mengalami orang-orang di dalam gereja kita yang tidak punya makanan, betul-betul, tapi tidak pernah minta. Tapi akhirnya kita memberi bantuan kepada mereka. Lalu saya ngomong, “Itu bukan hanya bicara soal makanan tapi bicara satu keadaan yang segala macam keadaan yang kita alami yang mungkin bisa membawa kita masuk ke dalam satu kondisi yang kita tidak punya kuasa untuk mengubahnya.”

Saudara pernah ambil suatu keputusan yang Saudara tahu itu salah, Saudara tahu konsekuensinya, mungkin bisa membuat Saudara mungkin masuk ke dalam tuntutan hukum atau membuat Saudara harus membayar satu ganti rugi tertentu yang Saudara tidak mungkin bisa bayar itu, atau Saudara melakukan sesuatu lalu mengakibatkan Saudara akhirnya harus menanggung malu yang begitu besar atau nama baik Saudara itu dirusak oleh orang lain? Ada orang yang pernah bicara sama saya HP dia dipinjam oleh keluarga dia lalu setelah itu ternyata keluarganya itu gunakan HP dia dan nama dia untuk meminjam uang di online tetapi setelah itu dia Saudaranya itu tidak mau bayar lalu dia juga tidak bisa bayar atau nggak mau bayar. Akibatnya apa? Seluruh relasi kontak dari teman-teman yang ada di HP itu di WhatsApp-in orang ini istilahnya nggak becus, gambarnya diambil kayak gitu, pokoknya dia disebarin dengan segala informasi yang jahat berkenaan dengan orang ini. Nama dia betul-betul dirusak.

Saya mau tanya, waktu kita alami, yang kita lakukan apa? Meratapi nasib? Berputus asa? Berusaha mengoreksi memperbaiki nama baik kita ke siapapun, teman-teman kita WhatsApp-in semua, “Kalau ada orang ngomong kayak gini itu salah, saya nggak seperti itu.”? Saya pikir begitu terjadi kesalahpahaman, kita mau bicara yang baik pun tetap disalahpahami. Nggak ada gunanya untuk mengubah keadaan. Lalu yang kita perlu lakukan apa? Cuma satu sih, datang ke Tuhan, berdoa, menyerahkan persoalan kita ke dalam tangan Tuhan, lalu jalan sebisa yang kita mampu lakukan, yang sebaik yang kita bisa lakukan sambil meyakinkan diri kalau Tuhan pasti memelihara, yang kita alami adalah satu kebaikan dalam hidup kita. Yang lain bisa nggak? Nggak bisa. Ada situasi-situasi tertentu yang Tuhan akan izinkan menimpa hidup kita di mana kita nggak bisa ubah keadaan itu dengan kekuatan kita, dengan kemampuan kita, dengan uang kita, dengan perkataan pembuktian yang kita lakukan. Kecuali sampai waktunya baru hal itu mungkin terbukti. Tetapi itu tidak menjadi satu soal lagi.

Saya juga pernah alami itu dan waktu itu istri saya marah-marah besar sekali – ini bukan dengan orang kita ya tapi orang yang di luar dari kita – marah sekal, saya ngomong, “Sudah lah nggak usah dilawan, nggak usah bela diri. Kita mau bela diri juga seperti apa? Nggak bisa kok dalam situasi seperti itu. Ya kita terima saja lah orang mau fitnah bagaimana ya kita terima.” “Tapi nama kita rusak?” “Ya kalau mau rusak ya sudah terserah, nanti waktu Tuhan bisa buktikan sendiri kok kalau kita nggak seperti itu.” Saudara tahu, di informasi di luar, saya dapat kabar ternyata orang ini juga sebarkan segala fitnahan terhadap kami. Ke gereja ini dia sebarkan, ke gereja itu dia sebarkan, ke teman yang lain dia sebarkan kayak gitu. Saya tahu dari siapa? Dari teman saya yang dia sebarkan informasi itu. Lalu saya cuma tanya ke dia, menurut engkau itu informasi benar atau tidak? Dia cuma ngomong kalimat seperti ini, “Sudahlah Pak Dawis, ngapain sih mau dipusingkan orang seperti itu. Kita tahu kok karakter dia bagaimana.”

Jadi waktu seseorang menyebarkan satu informasi berkenaan dengan diri kita atau keadaan yang kita tidak bisa ubah sekalipun, orang tidak buta kok. Tuhan bisa gunakan orang-orang lain untuk membuktikan atau melihat realita siapa yang benar siapa yang salah tanpa kita perlu membela diri kita dan membuktikan kalau diri kita benar. Kalau kita lakukan itu, yang terjadi justru kita yang akan dijauhi dan dianggap yang salah. Jadi yang kita harus lakukan apa? Saya percaya pada waktu Tuhan izinkan satu ujian atau pencobaan terjadi dalam hidup kita, kalau kita ingin belajar bertumbuh, kita belajar berserah. Kalau kita ingin belajar bertumbuh melalui situasi itu, kita belajar menundukkan diri masuk ke dalam situasi yang Tuhan pimpin itu. Bukan komplain sana sini, bukan memberontak, bukan menjadi kecewa dan mengundurkan diri atau bukan menjadi seorang yang akhirnya meninggalkan Tuhan. Tetapi coba jalani, coba belajar percaya Tuhan berdasarkan janji yang Dia berikan di dalam Kitab Suci. Coba nantikan waktu yang Tuhan sudah siapkan bagi diri kita untuk memproses diri kita dan setelah memproses diri kita melewati waktu itu apa yang terjadi. Coba belajar untuk ikuti hal itu.

Saya percaya Saudara yang belajar menundukkan diri dan melewati situasi itu, Saudara akan menjadi orang yang lebih dewasa di dalam iman, lebih percaya kepada Tuhan, lebih dewasa di dalam karakter Kristus yang ada di dalam hidup Saudara. Tentunya itu adalah sesuatu yang bukan karena dosa kita, kalau Saudara berdosa untuk melakukan sesuatu situasi yang mengakibatkan Saudara berada di dalam ujung tanduk, yang perlu kita lakukan adalah bertobat dari dosa itu. Tetapi pada waktu kita bertobat, seringkali kita tidak bisa mengubah konsekuensi dari pada dosa itu kalau ada konsekuensi bagaimana? Ya belajar menghadapi itu kalau Tuhan pimpin kita masuk ke dalam konsekuensi itu.

Contohnya pada waktu Daud. Daud berzinah dengan Betsyeba lalu pada waktu Daud berzinah dengan Betsyeba, Tuhan mengutus Natan untuk menegur Daud. Begitu Daud dapat teguran, dia tidak banyak alasan, dia langsung bertobat dari pada dosa dia, tetapi apa yang terjadi? Dia harus mengalami suatu hal yang begitu menyakiti hati, anak hasil perzinahan harus mati lalu keluarganya tidak pernah lepas dari pada pedang dan darah. Tapi Daud bagaimana? Dia tidak jadi kecewa kepada Tuhan, dia tidak memberontak melawan Tuhan, melainkan dia menjalani itu termasuk ketika dia harus pergi meninggalkan istananya karena anaknya Absalom memberontak, dia lebih rela memilih tidak mempertahankan istananya, dia pergi menjadi seorang pelarian sampai Tuhan memulihkan keadaannya kembali dan kembali ke Yerusalem untuk bertakhta.

Jadi ada suatu penundukkan diri di dalam keadaan yang menimpa hidup dia akibat dari pada dosa yang dia lakukan atau ketika Tuhan mendatangkan suatu hukuman bagi diri dia. Tapi kalau Yusuf bagaimana? Yusuf adalah seorang yang tidak mengalami suatu yang berdosa walaupun saya tetap lihat ada satu kesombongan dalam hati dia yang sehingga membuat dia harus direndahkan begitu rupa baru dia boleh mendapatkan posisi yang begitu tinggi kalau nggak dia mungkin akan hina semua saudaranya. Tetapi kita bisa ngomong dia bukan berdosa juga karena apa yang dia sampaikan bisa disampaikan sebagai wahyu dari Tuhan. Pada waktu dia mengalami itu apa? Dia belajar menundukkan diri. Dari mana kita tahu? Dari dia berusaha untuk menjadi orang yang dipercaya oleh Potifar dan kepala penjara. Dia berusaha seperti itu. Kalau dia adalah orang yang memberontak saya pikir dia kerja asal-asalan dan bahkan mungkin dia mau mati untuk situasi yang tidak punya pengharapan sama sekali. Tapi akhirnya dia menjadi orang nomor dua di Kerajaan Mesir, orang yang begitu terpandang sekali.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini adalah dua sarana yang akan Tuhan gunakan untuk membentuk iman kita seperti yang Kitab Suci nyatakan. Nah apa yang terjadi di dalam pelayanan Petrus dan Yohanes? Itu juga menjadi suatu sarana yang saya percaya satu sisi adalah menjadi sarana untuk menyebarkan Injil lebih luas lagi. Tetapi di sisi lain itu juga menjadi suatu sarana untuk menggenapkan firman Tuhan di dalam kehidupan pelayanan mereka dan membentuk mereka. Itu sebabnya pada waktu Petrus ditangkap oleh orang-orang Sanhedrin, kepala pengawal dari Bait Allah ketika mereka mengabarkan tentang Kristus yang mati dan bangkit dari kematian itu, maka mereka tidak memberontak tetapi justru mereka menyerahkan diri untuk ditangkap dan ditahan satu malam sebelum mereka diadili, keesokan harinya.

Kita sudah bicara soal ini sehingga saya tidak terlalu akan bahas lagi. Tapi kita bisa lihat bahwa akibat dari Petrus dan Yohanes menundukkan diri maka besok harinya mereka punya kesempatan untuk mengabarkan Injil kepada Sanhedrin 71 orang itu yang sebenarnya mungkin tidak ada kesempatan untuk bisa memberitakan Injil secara komplit kepada petingginya orang-orang Yahudi atau pemerintah orang Yahudi tertinggi pada waktu itu. Saya percaya ini adalah satu hal yang kita perlu belajar. Dan Alkitab banyak berbicara berkenaan dengan hal ini. Salah satu contohnya yang luar biasa sekali itu adalah Paulus dan Silas nanti kalau kita sampai ke dalam pasal di belakang, kita akan bisa membahas tentang hal ini. Paulus dan Silas dikatakan seorang yang begitu giat mengabarkan Injil lalu ketika dia mengabarkan Injil ada satu penyihir yang selalu mengikuti dia dari belakang lalu berkata inilah hamba Tuhan yang maha tinggi. Paulus pusing menghadapi situasi itu lalu dia usir setan itu dan ketika dia usir, tuan dari pada hamba perempuan ini sadar kalau dia tidak punya lagi kuasa untuk menenung akibatnya mereka marah karena penghasilan nggak ada, dan yang terjadi adalah mereka kemudian menangkap Paulus dan Silas lalu mencambuk mereka dan memenjarakan mereka di Kota Filipi.

Saudara pada waktu itu anehnya adalah Paulus dan Silas tidak melawan. Kalau Saudara perhatikan di dalam hukum Romawi, ada satu peraturan orang yang merupakan warga negara Romawi tidak pernah boleh dihukum secara sepihak tanpa ada pengadilan. Jadi mereka harus diperhadapkan di pengadilan Romawi lalu dipanggil saksi-saksi untuk membuktikan mereka bersalah atau tidak, kalau mereka bersalah baru dihukum, kalau mereka tidak bersalah mereka harus dibebaskan tetapi tidak pernah boleh dilakukan pengadilan sepihak, main hakim sendiri. Nggak boleh main hakim sendiri untuk menghukum. Tapi pada waktu itu Paulus dan Silas nggak teriak, “Tunggu, Tunggu Stop! Kami warga negara Romawi loh. Ketika kamu lakukan ini kepada diri kami, kamu melanggar hukum Romawi!” Dia nggak teriak itu loh. Dia hanya baru berkata itu setelah kepala penjara Filipi ingin melepaskan mereka dan pada waktu Kepala penjara Filipi ingin melepaskan mereka secara diam-diam, Paulus bilang, “Kok kamu lepaskan kami secara diam-diam? Kamu tahu tidak kami ini adalah warga negara Romawi. Kalau kamu ingin lepaskan kami, kamyu harus panggil petinggi musuh yang memenjarakan kami datang ke sini, minta maaf kepada kami, melepaskan kami dari penjara, mengantar kami keluar dari penjara.” Waktu itu kepala penjara Filipi kaget, dia cepat-cepat lapor kepada petinggi-petinggi dia yang memenjarakan Paulus, mereka juga ketakutan langsung datang kepada Paulus lalu melepaskan dan minta maaf kepada Paulus dan Silas.

Saudara, kenapa itu dilakukan setelah mereka mau dibebaskan dan bukan sebelum mereka ditangkap dan dianiaya? Saudara, tahu ceritanya justru pada waktu itu Tuhan gunakan kesempatan itu untuk memenangkan kepala penjara Filipi dan satu keluarga dia. Jadi pada malam itu Paulus dan Silas memuji Tuhan di tengah malam ketika tangan dan kaki terbelenggu lalu Tuhan mengirimkan gempa bumi yang dahsyat mengakibatkan pintu penjara terbuka semua. Dan pada waktu kepala penjara Filipi masuk ke situ lihat semua pintu penjara terbuka dia pikir semua penjahat dalam penjara sudah melarikan diri lalu dia mencabut pedang ingin bunuh diri tapi pada waktu itu Paulus langsung teriak, “Tahan! Kami semua masih ada di dalam penjara, kamu jangan bunuh diri.” Kepala penjara Filipi langsung lari, sujud di depan Paulus lalu tanya apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup atau diselamatkan? Disitu Paulus berkata kamu harus percaya kepada Yesus Kristus maka kamu dan seluruh keluargamu akan diselamatkan.

Saudara, penundukkan diri di dalam situasi yang diluar kendali kita, penundukkan diri ketika kita taat kepada firman Tuhan, dan Tuhan ingin bawa kita masuk ke dalam satu ujian atau pencobaan atau penganiayaan. Kenapa saya gunakan ujian, pencobaan, dan dikaitkan dengan penganiayaan? Karena salah satu wujud dari pada penganiayaan itu adalah ujian pencobaan atau penganiayaan itu adalah bagian dari pada ujian atau pencobaan yang kita alami dalam hidup kita. Di situ baik Petrus, Yohanes, Paulus, dan Silas menundukkan diri untuk melewati keadaan di mana Tuhan pimpin mereka masuk di dalamnya. Dan itu membuat di sini dikatakan mereka dengan begitu berani sekali berbicara di hadapan para petinggi Sanhedrin berkenaan dengan Yesus Kristus dan mereka tidak kompromi sama sekali akan berita yang mereka kabarkan itu.

Dan itu yang membuat akhirnya di dalam ayat yang ke-13 orang-orang Sanhedrin itu terheran-heran kepada Petrus dan Yohanes. Kenapa mereka terheran? Karena mereka tahu bahwa Petrus dan Yohanes itu adalah murid Yesus dan ketika mereka tahu bahwa Petrus dan Yohanes adalah murid Yesus, hal yang lebih mengagetkan adalah mereka adalah orang yang tidak terpelajar. Orang yang merupakan nelayan yang ada di Galilea, yang tidak pernah menempuh studi theologi di STT orang-orang Sanhedrin atau di Yerusalem. Tetapi pada waktu mereka tidak pernah menempuh studi seorang imam atau seorang theolog, di bawah bimbingan dari pada imam-imam yang ada di Yerusalem, mereka kaget karena orang ini bisa berbicara dengan begitu meyakinkan dengan begitu berkuasa dan bisa memberitakan firman Tuhan dengan begitu jelas sekali, menafsirkan firman Tuhan dengan begitu tepat. Itu yang membuat mereka kaget.

Saudara, saya percaya sebabnya adalah selain dari pada ada Roh Kudus yang menyertai mereka dan memenuhi hidup mereka dan mereka tunduk di bawah pimpinan dan kuasa Roh Kudus itu dalam hidup mereka, tapi mereka juga adalah murid-murid yang mengalami atau pernah mengikuti pendidikan dari sekolah STT yang tidak ada duanya di dalam dunia ini yaitu di bawah bimbingan Tuhan Yesus sendiri secara pribadi selama 3,5 tahun hidup Dia. Itu sebabnya mereka sangat mengerti firman Tuhan, mereka bisa menjawab orang-orang Farisi dan Sanhedrin itu, mereka bisa mengutarakan Injil dengan begitu clear dan begitu jelas di hadapan mereka, dan mereka begitu berani untuk menyatakan kebenaran itu. Walaupun konsekuensinya adalah orang-orang Farisi begitu marah terhadap diri mereka. Tetapi saya percaya inilah yang menjadi satu kelebihan dari orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus.

Jadi, orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus itu memiliki suatu keberanian untuk memberitakan Injil, itu menjadi tanda, tanda yang tidak pernah bisa disangkal kalau dia memiliki Roh Kudus. Kalau Saudara menggunakan karunia menjadi satu tanda bahwa Saudara memiliki Roh Kudus, itu adalah satu argumen atau satu pembuktian yang sangat lemah sekali karena Alkitab berkata orang-orang di dalam Korintus yang begitu lengkap karunianya justru adalah orang-orang yang dikatakan bayi rohani yang tidak dewasa secara rohani dan bahkan ada yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus Kristus atau tidak memiliki iman, tapi tetap memiliki karunia. Kalau Saudara menggunakan karunia untuk menjadi dasar pembuktian, Saudara juga boleh lihat kepada Yudas Iskariot yang memiliki karunia seperti semua rasul yang lain tetapi adalah orang yang dibuang oleh Tuhan. Jadi, siapa yang memiliki Roh Kudus? Siapa yang dipenuhi oleh Roh Kudus? Buktinya apa? Yaitu memiliki satu keberanian untuk berdiri di hadapan orang memberitakan Injil Tuhan tanpa kompromi, tanpa dikurangi, tanpa ditambahkan.

Saya pernah mengalami pengalaman seperti ini pada waktu kita menyiapkan KPIN di Klaten. Waktu itu terjadi satu peristiwa yang tidak biasa. Kapolres itu menulis surat ke panitia katanya kita akan mengadakan forum diskusi. Intinya adalah Kapolres berinisiatif mengumpulkan orang FKUB semuanya lalu Ormas Islam yang menolak KPIN kita yang di Klaten lalu wartawan. Sebelumnya dia siapkan jamuan. Saya baru kali itu lihat Kapolres siapin jamuan untuk kita duduk situ makan enak lagi makanannya lalu lama sambil makan mungkin dia baca situasi ya. Waktu itu ada kepala ormas di situ lalu saya ajak dia berbicara, saya sempat kaget waktu saya tanya, “Anak bapak berapa?” Dia bilang, “Anak dari istri yang ke berapa?” Tapi di situ suasana menjadi agak cair lalu ketika itu kayaknya Kapolres baca itu lalu dia kemudian, “Ayo kita mulai diskusi kita.” Itu pintar sekali orang itu kayaknya kepekaan.

Waktu diskusi, dia mulai bicara sebagai moderator. “Silahkan kepada kalian dari ormas-ormas kalian mau tanya apa yang kalian tolak? Apa yang kalian beratkan?” Lalu dia pertama tanya, “Apa maksud pertobatan di situ?” Kita punya KPIN terakhir di Klaten itu temanya ‘Bertobatlah! Kenapa harus binasa.’ Lalu dia tanya, “Maksud bertobat itu apa?” Waktu itu terus terang saya mikir mau bicara apa ya? Saya mau bicara pengabaran Injil gitu kepada orang-orang bukan Kristen pasti langsung ditutup. Tapi bersyukurnya Tuhan kasih bijaksana waktu itu saya bicara, “Ini kan kita bicara untuk kebaktian bagi orang Kristen tentunya ini adalah suatu kebaktian bagi orang Kristen yang diadakan oleh Pdt. Stephen Tong,” walaupun di belakangnya ada orang-orang non-Kristen mau datang ya silahkan tapi yang pasti tahunya ini adalah kebaktian orang Kristen jadi kalau mereka datang ke situ mereka harusnya mengakui bahwa ini adalah acara orang Kristen, mereka nggak bisa komplain kalau mereka datang.

Lalu kedua saya bilang, “Di antara orang Kristen sendiri ada orang-orang yang tidak sungguh-sungguh mengalami pertobatan, tidak percaya kepada Kristus.” Lalu dari situ saya coba bicara masukan Injil saya ngomong sama manusia berdosa semua manusia butuh keselamatan di dalam Yesus Kristus, sempat saya nggak mau ngomong loh. Sempat saya pikir bagaimana ya caranya untuk melunakkan situasi agar keadaan itu menjadi satu keadaan yang mendukung kita dan bukan justru menentang kita. Kalau saya bicara terlalu frontal mungkin pada waktu itu yang terjadi adalah orang akan menolak acara kita. Tapi bersyukur waktu itu Tuhan kasih bijaksana setelah bicara semua sampai selesai hampir selesai dikit lagi yang nggak terlalu signifikan, Kapolresnya mungkin sadar lalu dia ngomong, “Ya cukuplah. Kita sudah dengar maksudnya apa,” lalu ganti tema yang lain kayak gitu. Dan akibat dari itu pertemuan itu kita bisa mengadakan KPIN di Klaten tanpa ada suatu pertentangan dari ormas. Dan yang saya sangat bersyukur sekali dan juga cukup kaget ormasnya itu bolak balik keluar masuk dari tempat kebaktian jalan sana, jalan sini tanpa buat masalah tapi dengar firman Tuhan. Seluruh anggota FKUB duduk di depan dengar Pak Tong khotbah dari awal sampai akhir. Itu suatu pengalaman yang luar biasa yang Tuhan boleh pimpin ya.

Pada waktu kita diberi kesempatan itu, saya yakin sekali Saudara harus biarkan dirimu ditundukkan kepada pimpinan Roh Kudus, dipenuhi oleh Roh Kudus, bicara apa yang ingin Tuhan pimpin tanpa perlu takut. Itu yang dilakukan oleh Rasul Petrus dan Rasul Yohanes. Dan pada waktu mereka mendapat kesempatan itu, yang menjadi reaksi bagaimana itu tidak terlalu menjadi soal. Saudara nggak terlalu perlu pusingkan hal itu, karena apa? Karena hal apa yang paling jahat yang paling mengerikan yang bisa dilakukan oleh orang-orang itu kepada diri kita? Apa kira-kira? Mau tanya, kira-kira Saudara bayangin apa kejahatan yang mereka bisa lakukan bagi diri kita yang paling ditakuti? Paling mati kan?

Saya waktu bahas tentang salib Kristus, saya baru tahu kenapa orang Romawi itu menggunakan salib sebagai hukuman terhadap pemberontak dan orang jahat. Karena di dalam pemikiran orang Romawi, kematian apakah itu penggal kepala atau gantung itu adalah bukan hukuman bagi penjahat. Itu adalah kematian yang terlalu gampang bagi diri mereka. Jadi kalau mereka sudah melakukan kejahatan yang begitu luar biasa sekali dalam dunia ini, mereka layak untuk mengalami hukuman yang sangat kejam dan sangat menderita sekali dalam dunia ini sebelum mereka mati. Kalau mati ya sudah selesai kayak gitu, kita nggak bisa buat apa-apa kepada mereka dan itu adalah satu solusi bagi mereka untuk jalan keluar terbaik bagi mereka kalau mereka langsung mati. Itu sebabnya pemerintah Romawi itu menggunakan salib yang diadopsi dari pada orang Persia karena di dalam hukuman salib itu orang nggak mati walaupun mereka mau mati. Dan mereka harus menunggu berhari-hari baru mereka bisa mati sampai mereka tidak punya kemampuan untuk mengangkat tubuhnya ke atas dengan menggunakan kaki untuk menghirup udara, menghembuskan udara, dan menghirup udara karena cairan yang sudah keluar begitu banyak yang membuat mereka dehidrasi dan mereka lemas dan itu memakan waktu sampai 2-3 hari dan bahkan ada yang 1 minggu.

Bisa bayangkan ya tiap kali mereka mau hirup nafas, mereka harus angkat tubuh supaya diafragmanya bisa bergerak untuk membuang nafas dan menghirup nafas. Kalau mereka tidak bisa mengangkat tubuhnya maka mereka tidak bisa bernafas dan bayangkan pelan-pelan karbon dioksida akan menguasai pembuluh darah mereka, mereka menjadi lemas dan baru mereka mengalami kematian, tetapi sebelumnya begitu menderita sekali, belum terhitung kalau burung-burung pemakan bangkai atau pemakan daging hinggap dan mematuki mereka. Saya kemarin buka Youtube sebentar ada sepintas ada satu orang anak dikubur di atas tanah, kepalanya sendiri di atas permukaan tanah lalu burung gagak hinggap di sekitar dia. Langsung matukin pala orang itu. Masih hidup loh. Saya lihat sebentar aduh nggak tega saya langsung ganti, kayak gitu. Bayangkan ya orang disiksa seperti itu di atas kayu salib. Makanya Yesus mengalami penderitaan seperti itu.

Tapi, Saudara itu bisa membawa rasa takut nggak? Saya yakin bisa sih. Tetapi perlu kita takuti nggak? Petrus seorang yang mulanya melarikan diri akhirnya memilih untuk disalibkan terbalik karena dia merasa bahwa dia tidak layak untuk disalibkan seperti Kristus, kepala di atas dan kaki di bawah. Karena dia lihat akan cinta kasih Kristus itu dalam hidup dia, kesaksian yang dia bisa berikan melalui penyaliban itu. Nah saya kembali ya. Hal apa yang paling kejam yang paling kita takuti ketika kita menyaksikan tentang Kristus yang bisa diperlakukan orang bagi diri kita? Siksa? Ya mungkin sementara waktulah sakit, tapi ujung-ujungnya juga mati ya.

Karena itu saya percaya sebenarnya itu juga nggak perlu terlalu kita khawatirkan atau kita takutkan karena Tuhan pernah berkata di dalam Kitab Suci, kamu harus lebih takut kepada Dia yang bisa membunuh atau membinasakan baik tubuhmu atau jiwamu di dalam neraka. Tapi kamu jangan takut kepada mereka yang hanya bisa membinasakan atau membunuh tubuhmu saja, tetapi tidak bisa membinasakan jiwamu. Saudara, maksud saya adalah Tuhan sudah memberikan semua jaminan itu untuk kita bisa menjalani hidup ini, untuk bisa memiliki keberanian memberitakan Injil. Bahkan hal yang paling ditakuti orang yaitu hukuman kematian selama-lamanya Tuhan juga sudah berikan jaminan kalau kita akan dipersatukan dengan Kristus ketika kita mati di dalam iman kepada Yesus Kristus. Itu yang saya percaya menjadi satu dasar Petrus dan Yohanes juga memiliki keberanian untuk menyuarakan dengan terang-terangan berkenaan dengan Injil yang mereka saksikan dengan mata mereka sendiri, kebenaran yang mereka terima dari Yesus Kristus. Dan bahkan ketika orang-orang Farisi ini dan Ahli tahurat yang merupakan kelompok Sanhedrin dan Saduki kemudian berkata kepada mereka, kalian tidak boleh bicarakan tentang Yesus lagi, mereka berkata, kami harus taat siapa? Tuhan atau kamu?

Saudara, di dalam hal ini Francis Schaeffer itu pernah menulis suatu buku yang membuat banyak orang Kristen, Injili khususnya, itu tidak senang karena di dalam tulisan Francis Schaeffer itu berkata seperti ini, pemerintah memang adalah otoritas yang mewakili Tuhan. Di dalam Roma 13 itu dikatakan kalau pemerintah itu wakil Tuhan di dalam menegakkan keadilan dan kita sebagai umat Allah pun harus tunduk dan taat kepada pemerintah. Kalau Saudara perhatikan di dalam Surat Petrus juga pasal 1:18-19 di situ dikatakan kita harus tunduk kepada pemerintah yang kejam sekalipun. Tetapi di dalam tulisannya, Francis Schaeffer berkata ada hal-hal di mana kita boleh menentang pemerintah di mana kita tidak perlu tunduk kepada pemerintah. Dalam hal apa? Di dalam hal di mana pemerintah mengeluarkan suatu peraturan yang bertentangan dengan perintah dari Tuhan yang disampaikan kepada umat-Nya.

Jadi, pada waktu kita berbicara berkenaan dengan keadaan seperti ini, saya mundur sedikit lah ya, ada 4 kemungkinan yang dihadapi oleh orang, pertama adalah menarik diri dari keadaan, dari dunia yang jahat dan berdosa ini, makanya ada yang namanya Monastery atau biara, orang-orang menarik diri dan tidak mau bergaul dengan pemerintahan atau dunia yang jahat ini. Lalu yang ke dua adalah sekularisme, yaitu pada waktu kita melihat kepada dunia ini kita meninggalkan Tuhan dan mengabaikan Tuhan lalu kita masuk ke dalam dunia lalu hidup seperti orang dunia, nggak ada bedanya, kita berkompromi. Lalu yang ketiga kita percaya ada otoritas Tuhan dan otoritas daripada pemerintah dunia, tapi kita lebih memilih pemerintahan dunia ketika itu dibenturkan dua aspek ini, dan kita lebih meninggikan dan tunduk kepada pemerintahan dunia daripada pemerintahan Tuhan, itu adalah orang-orang yang takut biasanya. Lalu yang keempat adalah pada waktu kita percaya pada otoritas Tuhan dan pemerintahan dunia, dibenturkan, kita lebih memilih taat kepada Tuhan daripada taat kepada pemerintahan dunia.

Apa yang ditunjukkan oleh Petrus dan Yohanes di sini adalah ketika otoritas, dua otoritas, ini dibenturkan, maka mereka lebih memilih taat kepada Tuhan daripada taat kepada pemerintah tertinggi saat itu. Kenapa? Karena di dalam prinsip Kitab Suci, setinggi-setingginya sebuah pemerintahan, tetap mereka adalah pemerintahan yang menjabat karena Tuhan memberi wewenang atas diri mereka, kuasa kepada diri mereka. Nah, ini dikatakan Yesus Kristus pada waktu Dia berdiri di hadapan Pilatus juga, waktu Pilatus berkata kepada Yesus Kristus, “Kamu nggak mau kasih jawaban, Kamu tahu tidak aku memiliki kuasa atas hidup dan matimu,” waktu itu Yesus jawabnya apa? Apakah Dia menolak perkataan itu dan mengatakan itu salah? Jawabannya tidak, Yesus mengakui perkataan Pilatus adalah kebenaran. Yesus bilang tapi tidak secara langsung, benar kamu memiliki kuasa atas Aku, tetapi Yesus berkata apa? “Kalau bukan Bapa-Ku yang memberi kuasa itu kepada engkau, kamu nggak mungkin bisa bunuh Aku.”

Saya percaya orang Kristen harus melihat prinsip ini ya. Pada waktu kita melihat pemerintah, selama pemerintah itu nggak mengeluarkan satu perintah yang mengakibatkan kita harus menyangkal iman kita dan kita berdosa, taat dan tunduk kepada pemerintah itu. Tetapi ketika pemerintah mengeluarkan sesuatu perintah yang mengakibatkan atau kebijakan yang mengakibatkan kita harus melanggar perintah Tuhan, di situlah kita boleh berdiri dengan keberanian untuk menentang dengan cara tetap menjalankan perintah Tuhan daripada tunduk kepada pemerintah. Saudara, saya percaya ini yang membuat kenapa Injil Tuhan itu bisa sampai kepada kita sampai hari ini.

Coba bayangkan kalau Petrus dan Yohanes, Paulus, Barnabas, Silas, dan semua rasul yang lain itu berkata, “Kita harus tunduk kepada pemerintah, karena pemerintah itu adalah wakil Tuhan, dan apakah dia jahat atau baik kita harus tunduk, kalaupun dia melarang kita untuk mentaati Tuhan kita harus tunduk kepada pemerintah,” akibatnya apa? Saya percaya Injil nggak sampai ke Indonesia dan Injil nggak sampai kepada diri kita, dan Injil nggak tersebar ke seluruh dunia. Karena kita lihat para rasul itu menyebar keluar dari Yerusalem ke bangsa-bangsa lain, kepada pemerintahan-pemerintahan lain yang rata-rata menolak keberadaan dari Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat, mereka menentang. Saudara bisa baca dari Kisah Rasul, terjadi penganiayaan karena mereka menolak Yesus dan melarang para rasul untuk memberitakan hal itu. Tetapi mereka tetap beritakan, karena mereka tahu, karena otoritas Tuhan jauh di atas pemerintah, dan pemerintah sendiri harus bertanggungjawab kepada Tuhan ketika mereka melawan Tuhan di dalam keputusan dan kebijakan yang mereka ambil.

Jadi ini adalah satu prinsip yang kita harus pegang dan kita harus, saya percaya, tundukkan diri di dalamnya, khususnya di dalam zaman sekarang, saya lihat, orang-orang itu justru berkata kita tidak perlu memberitakan Injil kepada orang di luar gereja atau kepada anak-anak bukan anak-anak orang Kristen. Tetapi yang perlu kita lakukan adalah kita melakukan satu pemberitaan Injil atau firman secara ekslusif bagi orang-orang Kristen saja, tetapi di luar kenapa nggak perlu? Karena mereka punya agama mereka, mereka punya Tuhan mereka, mereka punya ajaran agama mereka, di mana mereka melakukan itu dan itu membawa mereka kepada satu kehidupan sorga juga, seperti halnya dengan diri kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sayangnya itu bukan ajaran Kitab Suci ya. Ajaran Kitab Suci berkata yang mencipta alam semesta adalah Tuhan Yesus Kristus. Dan Tuhan Yesus Kristus yang menjadi pencipta alam semesta itu harus diakui, dan juga pencipta seluruh manusia. Dan itu membuat seluruh manusia yang mau mengakui keberadaannya ataupun tidak mau mengakui keberadaannya, nantinya ketika hari penghakiman tiba, harus mengakui Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan pencipta mereka juga dan hakim mereka. Dan kalau Yesus Kristus yang adalah pencipta manusia, seluruh dunia, dan juga alam semesta ini berkata, “Satu-satunya jalan kebenaran dan hidup itu adalah melalui Aku dan di luar Aku tidak ada keselamatan,” itu berarti memang satu-satunya jalan itu adalah melalui Yesus Kristus. Dan saya percaya ini membuat kita harus tunduk di bawah kebenaran ini.

Dan satu hal yang kontras sekali antara gereja mula-mula dengan orang Kristen saat ini adalah gereja mula-mula harus dilarang buka mulut, sampai orang dunia harus melarang mereka buka mulut memberitakan Injil, tetapi orang Kristen saat ini harus didorong-dorong untuk buka mulut memberitakan Injil. Siapa yang menyuruh Petrus dan Yohanes memberitakan Injil? Tuhan. Ada nggak orang lain di antara sesama rasul itu yang ngomong sama mereka, “Kamu harus beritakan Injil, jangan hanya kepada orang Yahudi, ayo beritakan Injil, pergi, jangkau sebanyak mungkin orang”? Nggak ada, Alkitab nggak pernah ngomong seperti itu. Bahkan yang terjadi di dalam sidang Yerusalem mereka salah paham dengan tindakan Petrus kenapa buka kemungkinan orang non-Yahudi untuk percaya kepada Tuhan, dan Petrus di situ bicara, “Tuhan menghendaki itu,” dan mereka lakukan itu.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ketika kita betul-betul menyadari kasih karunia keselamatan di dalam Yesus Kristus, maka hal itu akan menimbulkan satu sukacita di dalam diri kita yang tidak bisa ditahan, kegembiraan yang meluap-luap di dalam hati kita. Saya sebelum menjadi orang yang studi theologi, saya bukan ngomong ini karena saya jabatannya pendeta ya. Ada orang yang ngomong kepada saya, “Kamu bisa ngomong kayak gitu bukan kan karena kamu sekolah Teologi, dan kamu karena kamu sekolah teologi kamu punya depan Pdt kaya gitu, belakang mungkin M. Th, atau M. Div, atau S. Th kayak gitu, maka kamu kayaknya punya wewenang lebih besar untuk bicara kayak gitu di saya,” seolah-olah kalau saya nggak punya gelar Pdt, atau gelar studi S. Th saya nggak akan bicara seperti itu. Maafkan, saya sendiri sebelum saya menjadi hamba Tuhan dan sekolah theologi, saya suka sekali kabarkan Injil kepada teman-teman saya, baik itu di dalam lingkungan kerja saya, atau di tempat kuliah saya. Saya dulu kuliah di UNSRI di mana teman-teman saya mayoritas orang Islam.

Saudara, kenapa begitu? Karena ada keinginan itu dalam hati, dan keinginan itu nggak bisa ditahan. Ditahan maka akan membuat kita rasa bersalah, nggak bisa tenang tidur. Semalam saya bersyukur Tuhan kasi kesempatan PI satu orang lagi, orang yang nggak diundang mendadak mengundang kita untuk PI, yang nggak pernah di sadar. Tapi saya bersyukur untuk bisa PI orang itu. Dan itu membuat saya percaya seperti halnya Petrus, kita akan menyampaikan tentang Injil Kristus.

Jangan lihat jabatan, tetapi yang pasti adalah kita mengerti nggak bahwa keberadaan kita sebagai orang Kristen itu adalah bukan karena kebaikan kita tetapi karena pemberian Tuhan. Yang pantas kita terima itu adalah hukuman, bukan keselamatan. Kalau kita mengerti ini, kita akan berbicara seperti Rasul Paulus, “Aku berhutang Injil kepada orang Yahudi dan bukan orang Yahudi, kepada orang terpelajar dan bukan orang terpelajar, kepada orang Yunani dan bukan orang Yunani.” Saudara, itu akan menjadikan kita berkomitmen di mana pun Tuhan tempatkan kita, kalau kita ada peluang untuk memberitakan Injil, kita nggak usah didorong-dorong kita akan beritakan tentang Yesus Kristus.

Saudara kalau punya makanan enak saya yakin Saudara nggak perlu didorong-dorong untuk promosi kan? Saudara pasti akan beritakan itu. Saudara kalau dapat makanan yang menarik, Saudara ngomong nggak? Saya sering kali dapat informasi makanan dari Cik Eli sama Ko Edo, kalau pergi ke mana-mana, “Pak, ini makanan enak lho, boleh dicoba,” kayak gitu. Pernah dibayar Cik? Nggak pernah. Saudara ketika mendapat Injil Kristus, keselamatan, itu adalah hal yang jauh lebih menarik dari makanan yang paling enak. Itu jauh lebih menarik dari statement yang paling menarik dan paling membuat pikiran kita terpacu. Saudara diam, atau Saudara kabarkan itu? Saya yakin kita harus punya hati yang mau memberitakan itu ya.

Selain itu, apa yang kita akan alami melalui satu penganiayaan atau ujian di dalam kehidupan kita? Di bagian sini dikatakan bahwa pada waktu itu, Petrus dan Yohanes, “Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.” Lalu kalau Saudara baca di dalam ayat 32, dikatakan “Adapun kumpulan orang-orang yang telah percaya itu mereka sehati dan sejiwa.” Titik, sampai “sehati dan sejiwa.”

Saya percaya ini adalah dampak dari penganiayaan. Kenapa gereja sering kali ribut secara internal? Saya percaya karena gereja fokus pelayanannya itu ke dalam. Kalau Saudara memiliki fokus pelayanan ke luar, dan di situ begitu banyak tantangan yang Saudara harus hadapi di dalam pelayanan itu, saya yakin di dalam gereja akan terjadi satu kesatuan untuk mendoakan dan mengerjakan pelayanan yang di luar. Tetapi begitu Saudara mulai mempertanyakan pelayanan di luar, saya yakin akan ada masalah di dalam pelayanan di dalam gereja. Ini adalah satu prinsip yang, saya percaya, karena pada waktu kita melayani, energi kita, fokus kita, itu tidak lagi ditujukan kepada kepentingan diri kita sendiri, tetapi kita sungguh-sungguh memikirkan apa yang menjadi kepentingan Tuhan yang harus kita kerjakan di dalam pelayanan kita. Nah itu akan membuat terjadinya sedikit friksi di dalam gereja internal, karena kita semua fokus ke luar.

Saya percaya kalau kita dianiaya oleh orang lain, kita semua pasti akan bersatu untuk memikirkan pelayanan gereja lebih baik lagi. Itu menjadi satu hal yang saya percaya kita juga perlu pikirkan itu di dalam pelayanan kita ya. Saya sering kali bertemu orang yang nggak melayani biasanya bikin masalah di dalam gereja, khususnya kalau dia bisa dekat dengan hamba Tuhan, pasti ada aja yang dia akan ngomong untuk jadi masukan ini dan masukan itu, kalau dia nggak didengar dia akan kecewa dan mengundurkan diri. Bahkan ada yang memberi ultimatum, seolah-olah dia adalah orang yang paling penting sekali, kita harus dengar dia punya perkataan, kalau kita tidak dengar, kita rugi karena dia mengundurkan diri dari gereja. Saya cuma kasihan dengan orang-orang seperti ini ya, tetapi satu hal yang pasti, kita harus fokus kepada jiwa. Kalau kita fokus kepada jiwa dan Injil, itu akan membawa kita kepada satu kesatuan di dalam melayani Tuhan. Dan itu menjadi satu hal yang Tuhan berkenan di dalamnya.

Dan Saudara, hal lainnya adalah yang kita baca di sini, pada waktu kita mengalami satu penganiayaan, hal yang menarik juga adalah, kalau kita melihat ada orang Kristen yang mengalami penganiayaan, yang kita lakukan bagaimana rasanya? Kita biasanya doa kan? “Tuhan, tolong Engkau singkirkan aniaya ini, Tuhan, tolong Engkau buat mereka buat mereka bisa memiliki kesempatan untuk beribadah kepada Tuhan secara lebih baik lagi. Tuhan, tolong Engkau beri kekuatan di dalam iman mereka untuk tetap percaya kepada Kristus.” Tetapi di dalam bagian ini, pada waktu mereka mengalami aniaya, dan Petrus, Yohanes bertemu dengan orang Kristen, yang mereka lakukan adalah mereka bersyukur. Mereka memuji Tuhan, mereka mengutip kalimat di dalam Kitab Mazmur, yang berbicara berkenaan, “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.” Lalu ada kalimat yang penting, Saudara bisa baca dari ayat yang ke 28, “untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.”

Kutipan mereka kepada Perjanjian Lama, yang ditulis kira-kira 1.000 tahun sebelum peristiwa Yesus Kristus ada, dan kutipan yang menyatakan atau kalimat yang menyatakan bahwa ini adalah menggenapi apa yang menjadi ketentuan dari Tuhan sebelum segala sesuatunya atau dari semula mau menyatakan bahwa para rasul tahu dan orang Kristen tahu bahwa penganiayaan itu adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Dan Tuhan jauh-jauh hari sebelum Dia lahir ke dalam dunia, dan bahkan ketika Dia ada di dalam dunia Dia sudah berkata kalau orang Kristen pasti mengalami aniaya di dalam hidup mereka bagi Injil. Dan Saudara, kalau itu adalah satu kepastian, kita bagaimana? Saya percaya yang ada adalah bersyukur kepada Tuhan melalui aniaya itu, bukan kemudianmungkin menghujat atau mempertanyakan kasih Tuhan di dalam hidup mereka.

Lalu apa kedua? Berdoa, tapi berdoanya minta? Saudara boleh baca sama-sama ayat yang ke 30, dari 29, “Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.” Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.”

Mereka minta apa? Mereka minta keberanian untuk beritakan Injil. Mereka bukan minta supaya penderitaan dan penganiayaan disingkirkan. Kita kalau mengalami sakit sedikit, saya waktu pernah bahas firman di radio ya, setiap pagi, sekarang sudah nggak lagi sejak yang bawa acaranya meninggal, waktu itu tiap kali habis membawakan firman biasanya ada doa, ada tanya jawab, ada doa di situ. Saya sampai nggak tahu lagi mau ngomong apa, tiap kali saya isi, dan bukan tiap kali, tiap hari orang yang sama minta doa yang sama, supaya keluarganya, temannya, suaminya atau istrinya disembuhkan dari sakit. Tiap hari minta doa yang sama. Sampai saya sebelum saya doa saya ngomong mungkin kita perlu mikir kalau Tuhan tidak ingin kita sembuh, kita harusnya ganti doa kita untuk apa yang bisa saya lakukan untuk Tuhan, kesaksian apa yang harus saya berikan untuk Tuhan melalu situasi saya yang ada di dalam keadaan yang tidak bisa disembuhkan ini, bukan terus minta doa disembuhkan. Itu bukan iman kalau saya bilang, itu memaksa Tuhan untuk menuruti apa yang dia mau.

Saudara, rasul-rasul ini tahu ancamannya itu bukan sakit lho, tetapi kematian, penganiayaan. Kalau kaisar Nero buat manusia Kristen itu menjadi tiang lilin, lalu dibakar hidup-hidup demi untuk menerangi jalan di kota-kota. Ada orang-orang Kristen yang dijahit dengan bulu binatang lalu diadu dengan binatang buas, supaya diterkam mati, kulitnya dijahit dengan kulit binatang. Begitu kejam sekali. Tetapi pada waktu mereka mengalami kekejaman itu, itu tidak membuat mereka surut di dalam iman, justru mereka berdoa, “Berikan kami keberanian untuk memberitakan Injil lagi,” dan Tuhan menyertai doa mereka tidak perlu tunggu lama, langsung Tuhan jawab hari itu, mereka diberikan kepenuhan Roh Kudus dan mereka pergi lalu memberitakan Injil dengan berani kembali. Ini anak Tuhan yang ada di dalam gereja mula-mula.

Saudara, saya pernah tadi semalam, saya bicara sama istri saya kira-kira gimana ya, ini juga saya nggak tahu jawabannya terus terang, terus saya gumulkan ini, mungkin kita juga boleh gumulkan ini, waktu saya renungkan bagian ini saya ada tanya, sekarang kan masa pandemi ya, di dalam masa pandemi banyak orang yang bersembunyi, bagaimana ya kalau kira-kira suatu hari Tuhan izinkan terjadi penganiayaan di Indonesia ini. Orang Kristen gimana? Masih mau datang berbakti bersama-sama dengan orang Kristen lainnya? Atau menggunakan fasilitas online untuk beribadah di rumah masing-masing? Istri saya nggak bisa jawab, saya juga nggak tahu mau jawab apa, saya juga nggak berani ngomong terlalu cepat, kayak gitu, karena kita nggak mengalami hal itu, cuma istri saya ngomong satu hal, “Kayaknya kamu boleh coba sekali-sekali melayani di China. Ada teman kan di sana? Bagaimana rasanya mengalami di gereja bawah tanah, was-was tiap hari, takut digerebek,” tapi satu hal saya sangat kagum dengan teman ini dan hormati dia, dia mau lakukan itu, dan walaupun digerebek, mereka tetap mau berkumpul dan berbakti kepada Tuhan. Walaupun konsekuensinya adalah kalau ketangkep mereka harus dipulangkan ke Indonesia. Kita bagaimana?

Ini adalah satu sikap yang para rasul teladankan bagi kita, orang gereja mula-mula teladankan bagi kita untuk hidup di dalam Kristus. Saya harap, dan saya berdoa, kita terus boleh bertumbuh, pada waktu Tuhan izinkan segala sesuatu terjadi, kita lihat bukan sebagai satu hal yang menghalangi kita datang kepada Tuhan, tetapi justru harusnya menjadi satu sarana untuk kita makin bertumbuh semakin mengenal siapa Tuhan kita di dalam Kristus Yesus. Dan kiranya Tuhan boleh berkati kita ya. Mari kita berdoa.

Kembali kami berdoa bersyukur Bapa untuk firman-Mu, untuk perkataan-perkataanmu yang kekal, yang tidak pernah dilekang oleh waktu. Kami berdoa kiranya Engkau boleh pimpin setiap kami ketika melihat pada perkataanmu ini bukan suatu kesaksian yang hanya berlaku 2000 tahun yang lalu, tapi ini adalah suatu kebenaran yang masih berlaku sampai pada hari ini. Tolong pimpin kami, tolong berkati setiap anak-anak-Mu, tolong berikan kepada kami suatu keberanian untuk menyaksikan Injil Kristus dalam kehidupan kami. Mohon belas kasih-Mu ya Bapa untuk gereja-Mu ini, kiranya Engkau boleh makin pertumbuhkan iman kami dan kasih kami kepada Kristus dan kerelaan kami untuk menyaksikan Kristus dan bahkan kami boleh belajar melalui dua sarana yang Engkau boleh berikan untuk kami boleh makin terus bertumbuh di dalam kasih kepada Tuhan. Berkati kami semua ya Bapa, dan berkati waktu berikutnya. Dalam nama Tuhan Yesus kami telah berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *