Titik Fokus Kehidupan, 9 Desember 2018

Flp. 1:21-26

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Abraham Kuyper pernah mengatakan bahwa tidak ada satu inci pun di seluruh wilayah kehidupan manusia dimana Kristus yang berdaulat atas semuanya tidak mengatakan, “It is mine, itu adalah milikKu.” Dan inilah satu cetusan yang penting dari Kuyper dan berbicara dari seluruh aspek kehidupan kita itu semuanya adalah milik Kristus. Bagi setiap kita yang sudah ditebus oleh Kristus, bagi setiap kita yang sudah percaya kepada Kristus, kita bukan hanya melihat Kristus sebagai sebuah sarana untuk kita sampai kepada tujuan di Sorga, tapi Dia adalah Tuan atas hidup kita, Dia Tuhan atas hidup kita; dan karena itu Dia yang bertahta dan berdaulat atas seluruh wilayah kehidupan kita. Dan karena itu, penting dalam pengertian ini kita lihat bahwa bukan Kristus yang menjadi penolong kita membawa kita kepada tujuan kita, dalam artian lebih mirip Dia yang bantu kita, tapi kita yang harusnya tunduk kepada kedaulatan dan otoritas Kristus sendiri. Dan di sinilah kalau kita melihat apa yang dikatakan oleh Paulus di sini bahwa hidup adalah Kristus barulah mati itu adalah keuntungan. Kalau kita mengerti bahwa kehidupan ini adalah Kristus berarti apa kehidupan ini semua semata-mata itu ditujukan bagi Kristus. Dan dimana kita melihat tidak ada bahkan satu incipun di dalam aspek kehidupan kita dimana kalau kita melihat “ini milik saya,” nggak, ini semua sudah ada di dalam Kristus, ini semua adalah milik Kristus. Dalam kehidupan kita, kita seringkali meletak-letakkan di dalam iman kita seolah melihat iman itu hanya berlaku di area-area tertentu saja. “Oh saya kehidupan itu ketika masuk di Hari Minggu,” seperti hari ini, “saya ada jamnya ibadah ya saya harus ke gereja.” Tapi harusnya kita melihat kehidupan kita, iman kita itu bukan hanya diwarnai pada Hari Minggu saja. Dan bahkan kalau mau lebih dikerucutkan lagi, bahkan hanya kurang-lebih 2 jam di Hari Minggu ini. Tapi kalau kita melihat bahwa seluruh totalitas kehidupan ini adalah bagi Kristus, itulah artinya kita hidup bagi Yesus itu sendiri. Dalam kehidupan kita berapa banyakkah kita lihat dalam kehidupan ini setiap aspek-aspek area kehidupan ini ini semua adalah milik Kristus, ini adalah milik Kristus. Baik di dalam pekerjaan kita kita lihat yang kita lakukan itu adalah bagi Kristus. Dan ketika kita lihat fokusnya pada Kristus barulah mati itu menjadi keuntungan.

Di bagian sini kita juga melihat penggambaran Paulus ketika dia bilang hidup adalah Kristus ini juga mengatakan kebergantungan kita secara total pada Kristus. Dalam kehidupan ini bagaimana kita mewarnai, mengisinya, yaitu bagaimana kita bertumbuh di dalamnya dan semakin kita justru bergantung kepada Kristus itu menyatakan pertumbuhan rohani kita. Kadang di dalam kehidupan ini, pendeta Romeo itu pernah mengatakan bahwa di dalam kehidupan ini aspek pertumbuhannya itu ada 2 macam, yaitu ada aspek physical dan ada aspek spiritual. Secara aspek physical, secara aspek fisik kita itu bertumbuh kalau Bapak Romeo itu katakan seperti, diagramnya ya, itu seperti mulai dari angka 100 sampai ke nol, kira-kira seperti itu. Maksudnya yaitu di dalam kehidupan, orang ketika lahir pertama kali di dunia ini, bayi itu, dia itu 100% bergantung kepada orang lain, 100% bergantung kepada orangtuanya terutama. Dan bagaimana dia beranjak bertumbuh dewasa, ciri-cirinya adalah semakin berkurangnya kebergantungan itu. Pertumbuhan orang menjadi dewasa, apa sih artinya orang sudah menjadi dewasa? Yaitu dia bergerak semakin lama semakin mandiri. Dari ketika masih bayi 100% sepenuhnya bergantung pada orangtuanya, mulai dari untuk makan, minum, bahkan untuk buang kotoranpun dia sepenuhnya bergantung pada orangtuanya. Tapi semakin beranjak dewasa yaitu mulai ciri-cirinya dia semakin kurang bergantung pada orangtuanya. Jadi dari 100% makin berkurang jadi mungkin 90%, lalu 80%, 70%, ketika kita mulai remaja ataupun seperti di sini banyak yang pemuda, mungkin kita sudah makin kurang bergantung pada orangtua dan kita makin bisa bergerak mandiri. Dan bahkan ketika orang dikatakan dewasa adalah justru dia sudah “mendekati nol,” atau 1-2 persen yang bergantung pada orang lainnya, dan dia bisa mengerjakan dari kemampuan dia sendiri. Di situ kita mengerti dia menjadi dewasa, dia menjadi mandiri, bukan lagi kanak-kanak. Itu secara aspek physical.

Tapi kalau secara aspek spiritual justru bergerak sebaliknya, yaitu kita mulai dari titik nol dan bergerak makin bertambah prosentasenya. Yaitu kita mulai dari bergerak mengandalkan diri sendiri, tapi makin lama pertumbuhan rohani adalah justru bergerak semakin lama semakin bergantung Tuhan, meski memang secara diagramnya kita tidak mungkin 100% sepenuhnya karena kita masih di dunia ini tapi pertumbuhan rohani adalah diwarnai justru semakin lama semakin bergantung pada Tuhan, bukan semakin mandiri. Ini adalah pergerakan yang berbeda, kembali, kalau aspek secara fisik justru kita bertumbuh dari bergantung kepada orang lain dari 100% menuju ke dewasa itu justru makin berkurang prosentasenya, mungkin bahkan bisa sampai nol persen; tapi aspek rohani justru kita mulai bergantung kepada Tuhan dari nol persen bertumbuh makin lama itu, makin dewasa rohani adalah semakin lama semakin bergantung kepada Tuhan, semakin bertambah prosentasenya, dan itulah kita melihat tingkat kedewasaan rohani seseorang. Jadi kedewasaan rohani itu bukan semakin saya ini independen bisa semakin dewasa bisa bergantung dengan kekuatan saya sendiri, tapi justru semakin diwarnai dengan bergantung kepada Kristus, karena memang Kristuslah yang berdaulat atas kehidupan kita dan menjadi fokus dalam kehidupan kita. Inilah kita melihat pertumbuhan rohani itu seperti demikian. Semakin menyadari bahwa ketika saya kerjakan ini sebenarnya saya bergantung kepada Tuhan, itu baru menjadi dewasa. Terkadang kita pikir orang yang dewasa rohani itu seperti seolah dia bisa berjuang dan bergantung sendiri tanpa pertolongan orang lain, bukan seperti itu; itu lebih mirip orang Farisi yang makin lama makin kuat secara dirinya sendiri. Tapi di dalam iman kekristenan kita menemukan bahwa orang yang bertumbuh secara rohani adalah justru dia semakin berpaut kepada Tuhan, semakin dalam setiap langkah-langkah keputusan hidupnya, apa yang harus dia lakukan, dia bergumul di hadapan Tuhan.

Saya pikir menarik juga di dalam salah satu kesempatan saya ketika mengikuti beberapa master class, karena dulu saya memang pelayanan di pusat dan Bintaro sekitarnya. Ketika di dalam rapat-rapat master class itu, rapat yang kumpulan hamba-hamba Tuhan dan juga para majelis, diaken sinode, ada beberapa kali ketika kita rapat sudah membicarakan sesuatu lalu setelah diputuskan atau dipikirkan, tiba-tiba Pak Tong itu bisa kayak kasih jeda di tengah, tiba-tiba, “OK kita sudah ambil keputusan ini, mari kita berdoa.” Terus kita berdoa, doakan apa yang kita sudah bicarakan, habis itu lanjut rapat lagi. Nah ini saya pikir kadang-kadang mungkin kalau kita rasa aneh ya, lho kan sudah doa di awal, kenapa kita doa lagi? Tapi kembali karena kita melihat doa itu bukan cuma sebagai suatu mantra gitu ya, suatu kebiasaan, ritual yang kosong saja. “Oh saya doa di depan, doa di akhir.” Tapi bahkan di tengah-tengah ketika kita menggumulkan sesuatu kita kembali bergantung kepada Tuhan. Di dalam suatu program yang mungkin bahkan sudah berulang-ulang, bertahun-tahun kita kerjakan, pertanyaannya adalah masih tidak kita bergantung kepada Tuhan untuk mengerjakan hal itu? Karena itulah yang menandakan kehidupan rohani seseorang, adalah kehidupan yang semakin bergantung, berpaut kepada Tuhan karena memang itulah tanda rohani yang sejati. Semakin setiap langkah yang dikerjakan justru bukan karena makin bertambah pengalaman jadi mahir, expert dalam mengerjakan segala sesuatu, tetapi justru semakin belajar dalam mengerjakan ini saya makin mengandalkan Tuhan.

Saya pikir menarik makanya seperti yang Pak Tong selalu nasehatkan pada kami hamba Tuhan bahwa ketika kamu kerjakan pelayanan, ketika kamu berkhotbah, ingatlah saat kamu berkhotbah berkhotbahlah dengan begitu semangatnya seperti seolah-olah kamu itu pertama kalinya berkhotbah. Wah pertama kalinya berkhotbah seperti apa? Saya yakin setiap kita yang kalau sudah pernah terlibat dalam pelayanan itu paham hal ini. Pertama kali dipercayakan pelayanan begitu gentarnya, begitu takutnya. Saya sendiri mengalami hal itu dan saya juga mendengar kisah-kisah dari guru-guru saya yang cerita pertama kali dia berkhotbah itu seperti apa, termasuk juga pendeta Stephen Tong, persiapannya seperti apa, sudah diperkirakan khotbah seperti apa. Pertama khotbah kok cepat sekali selesai atau bisa blank, bisa hilang, dan segala sesuatunya. Karena ada suatu kegentaran di situ ketika mengerjakan pelayanan. Kegentaran yang melihat, “Saya tidak sanggup Tuhan, saya tidak sanggup kerjakan sendiri, tolong saya untuk kerjakan.” Dan itu Pak Tong ingatkan, setiap kali kamu khotbah ingatlah hal itu, ketika kamu kerjakan pelayanan ingatlah bahwa kamu tidak sanggup kerjakan kalau bukan Tuhan tolong. Dan juga sekaligus sebaliknya jadikan itu seolah-olah menjadi pelayanan khotbah terakhirmu, semua menjadi satu titik momen ini satu-satunya yang terakhir kita bicarakan. Nah saya pikir itu menarik karena dia mengatakan itu berarti untuk kita sadar bahwa seringkali kadang dalam pelayanan kenyataannya adalah ketika kita sudah lakukan berulang-ulang kita lama-lama malah mengandalkan pengalaman kita, mengandalkan kekuatan kita. Pertama kali ditugaskan mengerjakan ini, “Waduh ini saya nggak tahu bagaimana,” kita bergumul, kita doa tolong, dan kita rasa benar-benar bergantung dan bersandar pada Tuhan. Tapi kalau sudah berkali-kali, pertanyaannya kita masih andalkan Tuhan nggak? Kalau anda sudah berkhotbah sampai ratusan, ribuan kali, anda masih berlutut nggak, berdoa minta Tuhan topang? Itu artinya kita bergantung kepada Tuhan. Kalau anda di dalam usaha anda, anda sudah jalankan usaha itu bertahun-tahun, anda sudah bisa memproyeksikan akan menghasilkan untung sekian banyak, pertanyaannya anda masih berdoa nggak minta Tuhan peliharakan usaha anda dan semua kehidupan kita? Itu tanda kerohanian sejati yaitu kehidupan yang makin bergantung kepada Tuhan, yang semakin melihat memang tidak ada satu incipun dari kehidupan kita itu di luar dari kedaulatan Allah, dan semuanya kita sandarkan, tundukkan kepada Dia saja. Dan itu menjadi tanda kerohanian yang sehat, terus semakin lama semakin bergantung pada Tuhan, bukan karena kita bodoh, bukan karena kita tidak ada pengalaman, bukan karena kita tidak belajar dari apa yang sudah kita kerjakan ataupun kita tidak menambah pengetahuan kita, kita menambah semuanya, tapi kembali itu bukan yang kita andalkan.

Saya pikir ini menarik dalam kehidupan kita kadang-kadang kita dalam dilematis dan selalu dialektis gitu ya, misalnya Reformed dengan Kharismatik yang selalu dianggap “Iya orang kharismatik itu mengandalkan pengalaman,” dan kita selalu ngomong pengalamannya itu harus cross check dengan Alkitab tapi kenyataannya kadang dalam kehidupan kita kitapun tanpa sadar melakukan hal yang sama meski bentuknya lain, iya kan? Ketika kita misalnya kita bertemu dengan orang-orang yang misalnya di aliran-aliran Kharismatik yang ekstrim, yang “Oh saya dapat pengalaman-pengalaman rohani,” dan kita bilang, “Oh harus tunduk kepada otoritas Alkitab, ingatlah Alkitab ini yang berotoritas di atas segala sesuatunya.” Dan kita bisa memangkas pengalaman itu dan kita lebih ikuti Alkitab daripada pengalaman-pengalaman yag ada, semanis apapun kita ingat kita menundukkan semua pengalaman kita itu di bawah terang Alkitab. Sebagaimana Pak Tong juga katakan bahwa kita memakai logika, kita memakai rasio tapi bukan menjadi rasionalist. Kita memakai pengalaman, karena pengalaman itu juga penting, kita memakai empiris  tapi kita tidak menjadi empiricists. Kita memakai tradisi tapi tidak menjadi tradisionalist. Kita memakai semua itu tapi menundukkannya di bawah otoritas Kitab Suci. Tapi permasalahannya di dalam kehidupan kitapun akhirnya berkali-kali melakukan hal yang sama, yaitu sesudah kita mengerjakan segala sesuatu itu berulang-ulang, berkali-kali, lama-lama kita andalkan pengalaman kita itu. Ketika mau kerjakan KKR seperti misalnya yang tadi juga diumumkan, mungkin beberapa dalam benak kita “Oh saya sudah tahu konteksnya apa.” Adakah kita berlutut lagi, bergumul di hadapan Tuhan dan minta pertolongan Tuhan supaya memberkati pelayanan tersebut. Berapa banyak ketika kita kerjakan mungkin pelayanan yang sederhana saja, yang rutin saja, seperti yang kita kerjakan di pelayanan Minggu, seberapa banyak kita sadar kita sepenuhnya bergantung pada Tuhan dalam mengerjakan pelayanan kita seperti ketika pertama kali kita dipercayakan pelayanan itu. Karena di situ baru kita bisa menyadari suatu sense kegentaran di dalam melayani Tuhan, dan kita belajar untuk bergantung sepenuhnya kepada Kristus. Karena kita melihat pelayanan ini bukan bergantung kepada kemampuan logika kita, bukan bergantung pada kemampuan pengalaman kita, ataupun tradisi kebiasaan kita, tapi bergantung kepada Kristus sendiri. Itu baru pelayanan yang memuliakan Kristus, tanpa itu akhirnya pelayanan itu hanya menjadi kemuliaan manusia semata. Tapi di sini kembali diingatkan Paulus bahwa hidup adalah Kristus yaitu fokusnya kembali kepada Kristus.

Pendeta Stephen Tong sendiri mengatakan di dalam seminar yang belum lama ini, dalam seminar pendidikan quo vadis guru sekolah minggu, dia mengatakan bahwa Kristus adalah focal point dari hidup kita. Focal point itu sendiri adalah titik fokus, titik fokus dalam kehidupan kita itu adalah Kristus sendiri. Sama seperti ketika kita misalnya pergi dalam restoran, apa focal point-nya? Focal point-nya ya adalah makanannya kan. Kita pergi ke restoran kan bukan karena “Oh itu pelayannya baik,” ya bukan, “Wah itu piringnya bagus sekali,” bukan, fokusnya itu makanannya, that’s the focal point. Dan sama ketika kita bicara dalam gereja, dalam ibadah, apa yang menjadi focal point-nya? Focal point-nya adalah mimbar; dan pemberitaan firman adalah focal point, fokus dari ibadah itu sendiri. Tapi berapa banyak dalam kehidupan kita focal point kita itu menjadi hal-hal yang lain? Berapa banyak juga ketika kita datang ibadah orang itu bisa fokusnya kepada hal-hal yang lain. Terkadang apalagi kalau muda-mudi ketika datang dalam ibadah itu, sudah datang ibadah, saya sendiri ingat ya, teman saya senggol saya lalu bilang, “Itu ‘jam 9’,” ini sudah jam 10 kok, “Oh itu jam 9 ada yang cakep lho lihat di sana, Oh itu lebih cakep yang arah jam 11,” dan sebagainya. Jadi focal point-nya itu geser kemana? Wah gagal fokus, ibadah malah kena pada hal yang lain. Dan kalau orang gagal melihat bahwa dalam kehidupan kita ini fokusnya adalah Kristus, apalagi dalam ibadah pemberitaan firman, karena Kristus adalah Firman yang menjadi daging. Berapa banyakkah kita akhirnya melihat dalam kehidupan ini harusnya fokusnya kepada siapa? Dan ketika kita geser dari fokus itu, kita mengerti dalam istilah zaman sekarang itu sebenarnya gagal fokus, gagal kepada fokus utama dalam kehidupan, meleset dari sasaran. Itu seolah-olah seperti seseorang yang pergi ke restoran yang cuma datang untuk melihat karena sendoknya bagus, ya ngapain? Itu focal point-nya meleset. Dan berapa banyak dalam kehidupan kita kita juga lupa hal ini bahwa titik fokus kita adalah Kristus itu sendiri karena hidup adalah Kristus, mati menjadi keuntungan. Tapi sebaliknya ketika orang hidupnya bukan bagi Kristus maka sebaliknya juga terjadi yaitu mati adalah kerugian.

Kristus sendiri mengatakan di dalam Matius 16:25-26, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Ini berbicara dalam kehidupan ini kadang orang berpikir dia dapat memperoleh semuanya, tetapi apalah benefitnya, apalah keuntungannya kalau kamu dapat semuanya tapi kehilangan fokus yang utama dalam kehidupan ini, yaitu Kristus sendiri, dan akhirnya menjadi kerugian. Orang ada di dunia ini yang sepertinya pikir, “Oh saya sudah memperoleh segalanya,” tapi akhirnya karena memperoleh segalanya itu dia sudah kehilangan yang paling utama dari kehidupan, yaitu Kristus sendiri. Kadang-kadang ada juga orang Kristen yang dalam realita kehidupan itu menjadi sesuatu yang sangat disayangkan. Saya ambil contoh saja dalam kehidupan ini kadang-kadang ada orang pengikut Kristus, dia itu orang Kristen, sudah percaya kepada Kristus. Lalu dia mulai dari hidupnya sederhana, Oh dia tetap hidup fokus pada Kristus, “Saya hidup sederhana nggak apa-apa tapi yang penting saya hidup fokus pada Kristus.” Tapi perjalanan waktu ketika akhirnya pekerjaannya lebih baik, makin baik, dia naik jabatan, kekayaannya bertambah, bergeser fokusnya dan akhirnya dia fokusnya pada kekayaan. Melihat pada dulunya dia kehidupan itu cukuplah pas-pasan, tapi makin lama matanya itu kok makin fokus pada digit di tabungan itu, “Wah nambah lagi, wah nambah lagi,” dan itu yang terus dilihat, dan itu yang terus menjadi sukacita. Kadang dalam kehidupan itu ya kita bisa bergeser itu sedikit saja dan sebenarnya sudah meleset dari sasaran yang seharusnya.

Pergeseran itu bisa cuma 1 derajat tapi makin lama itu makin jauh dari tujuan. Dan kadang pergeseran yang kecil itu tidak tentu kita sadari. Sama kok, dalam kehidupan juga saya lihat kadang-kadang kalau ada kesempatan saya ke Jakarta misalnya bertemu teman lama, kadang-kadang bertemu orang itu ngomong ke saya, “Oh kamu kurusan,” saya bingung, saya kurusan dari mana? Atau kadang-kadang malah, “Oh kamu gemukan,” saya juga bingung saya gemukan di mana? Kita sendiri tidak tentu bisa menyadari kita itu gemukan atau kurusan kalau cuma beda dikit, kecuali kita yang rajin menimbang setiap hari. Tapi dalam kehidupan biasanya kita nggak sadar ketika kita itu melebar atau mengecil sedikit, tapi biasanya orang lain itu yang akan menyadari kita ini sudah geser dari posisi sebelumnya. Dan berapa banyak kita lihat juga kehidupan itu demikian. Karena orang itu ada yang bisa begitu tekun melayani, rajin dalam ibadah, tapi tahu-tahu misalnya mulai dalam kehidupan ini naksir dengan ada lawan jenis tapi yang beda kepercayaan. “Oh nggak apa-apa nanti bisa dibawa ke gereja. Oh nggak apa-apa nanti bisa diinjili,” rupamu diinjili, kamu yang diinjili. Dia itu geser cuma kecil seperti itu, terus makin lama kita ukur saja dalam perjalanan, tahu-tahu lama-lama mulai mundur dari gereja, mulai mundur dari kegiatan, mulai rasa, “Oh iya nggak apa-apa lah kadang-kadang nggak datang di dalam kegiatan-kegiatan KKR Natal, ibadah, dan segala macamnya.” Itu karena sudah ada geser yang kecil dari dalam hati kita itu bergeser ke arah yang lain dan bukan Kristus, dan akhirnya makin lama makin jauh. Kisah ini bukan hal yang baru. Dan bahkan sangat disayangkan saya juga menemukan beberapa itu dari teman saya sendiri. Oh dulunya bukankah ini rajin, Oh ini bukankah dulunya ketua remaja, Oh bukankah dulunya ini pembina remaja, setelah bertahun-tahun kok meninggalkan Tuhan? Ada yang seperti itu. Atau ada yang akhirnya ya cuma jadi jemaat biasa. Saya tidak salahkan kalau anda cuma biasa, tentu ada hal yang harus luar biasa, tapi maksudnya adalah orang yang tadinya sudah bertekun mengikut Tuhan, melayani, kok bisa mundur? Dan kenyataannya itu karena ada hal yang baru, hal baru yang menggeser fokusnya bukan lagi kepada Kristus tapi kepada yang lain, dan akhirnya yang itu lebih diutamakan, dan akhirnya dia meninggalkan yang utama.

Banyak orang itu tidak sadar bahwa dia telah menggeser hal itu, tidak lagi fokusnya kepada Kristus dan akhirnya ya dia warnai kehidupannya, “Oh ya sudah saya kerjakan saja yang ada,” tapi akhirnya dia gagal melihat bahwa harusnya hidupnya itu fokus pada Kristus. Dan ketika diinjili, ketika diberitahu, “Ayo kembali lagi terlibat dalam pelayanan,” “Oh sudah tahu, sudah tahu.” Apa maksudnya sudah tahu? Kalau sudah tahu kenapa kamu nggak lakukan? Ini bukan hal yang baru dan saya nggak tahu di dalam kehidupan kita berapa kita pernah ketemu hal-hal seperti ini. Orang-orang yang dulunya giat pelayanan, orang-orang yang dulunya komitmen janji setia ikut Tuhan, bertekun dalam banyak hal, belajar firman Tuhan, kok bisa mundur? Itu karena ada hal yang baru, hal yang baru menggeser dari fokus utama, menggeser dari focal point kehidupan ini, dan akhirnya dia makin lama hidupnya jauh dari Kristus. Dan di saat itu kita mungkin bisa bertanya apakah gunanya engkau memperoleh orang ini, mungkin pasangan ini, bahkan kalian menikah dan semuanya tapi akhirnya kamu kehilangan Kristus? Tapi berapa banyak orang akhirnya bilang, “Nggak apa-apa, bisa dibawa ke gereja,” tapi dia sudah geser dari kasih mula-mulanya dan kehilangan kasih mula-mula itu. Orang-orang seperti ini mungkin kalau kita tanya pengertian-pengertian doktrinal dia masih hapal, masih ingat. Dulu ikut STRIS, dulu ikut PA, dulu ikut pengajaran banyak, masih hapal tapi dia tidak lagi sungguh menghidupinya, dia tidak lagi melihat hal itu sebagai kebenaran-kebenaran yang meaningful, yang bernilai dan menjadi pegangan hidupnya. Cuma menjadi suatu data eksternal yang bukan menjadi kebenaran personal. Saya yakin setiap kita yang hadir di sini dan beberapa kita yang sudah berkali-kali mendengar firman, semua juga tahu Kristus itu mati untuk orang berdosa, tapi berapa banyak kita sadar bahwa Kristus itu mati untuk orang berdosa, yang dimaksud orang berdosa itu saya, itu baru menjadi personal knowledge. Itu baru menjadi kebenaran yang secara pribadi kita terima dan menjadi pegangan kehidupan ini dan bukan hanya data di luar. Dan itulah baru kita mengerti punya iman yang sejati, yang melihat hal itu menjadi suatu kebenaran kehidupan kita, yang menopang kehidupan kita.

Jika hari ini saya bertanya apa atau siapa yang mengontrol hidup kita, apa jawab kita? Karena nggak harus jawab di sini, “Oh ya pasti Tuhan pak,” tapi ketika anda pulang sendirian, ketika anda di rumah anda atau bahkan di kamar anda sendiri, apa atau siapa yang mengontrol hidup anda? Kalau mahasiswa, “Dosen pak, ini saya nggak tahu lulus ujian atau nggak,” ataukah kita melihat Kristus yang mengontrol hidup kita, Kristus yang berdaulat atas hidup kita dan bukan yang lain. Siapakah pemilik hidup kita? Pertanyaan yang sederhana, tapi biarlah kita tidak menjawab ini secara klise saja karena untuk menyenangkan hamba Tuhan, ditanya jawabnya Kristus, “Oh bagus kamu dapat 100,” nggak, kamu sungguh pegang itu dan hidupi itu atau nggak, that’s your focal point, itulah titik fokus hidupmu dan dimana semuanya akan difokuskan pada satu ini. Saya kembali ketika misalnya Pak Tong katakan di dalam ibadah itu focal point-nya adalah mimbar makanya kalau kita lihat desain-desain di dalam gedung ibadah yang dideasin Pak Tong itu selalu mengarahkan semua untuk melihat kepada mimbar, kenapa? Karena ini fokusnya dan semuanya diatur sedemikian memutari fokus ini, itulah focal point. Kalau nnanti ada posisinya tidak bisa melihat jelas dari mimbar, ini yang geser, bukan mimbarnya geser, kenapa? Karena ini titik fokusnya. Sama ketika kita melihat fokusnya adalah Kristus dan ada sesuatu yang menghambat kita untuk menyatakan Kristus, berfokus pada Kristus, bukan Kristus-nya yang kita geser, kita yang belajar menggeser diri kita untuk bisa lebih sinkron dengan Tuhan, itu baru kita hidup fokusnya Tuhan dan bukan diri kita. Tapi lebih banyak orang sayangnya di zaman sekarang, terlebih lagi dengan begitu banyak brosur-brosur cerita Natal, aduh saya melihat mau marah, emosi, sedih juga, campur aduklah. Oh acara Natal, lalu apa? Doorprize, aneka macam doorprize, hadiah segala macam, ada yang hadiah handphone terbaru bahkan handphone-nya muncul di situ. Saya bingung, Yesus dulu  lahir itu nggak ada handphone lho, dan nggak ada doorprize apa-apa. Tapi zaman sekarang itu ya, menyodorkan sesuatu yang lain seolah-olah ini menjadi asesoris tambahan supaya bikin lebih menarik, tapi akhirnya menggeser fokusnya sehingga orang datang ibadah itu bukan lagi melihat pada Kristus tapi kepada doorprize yang ditawarkan. “Oh ada artis,” kembali kita bukan anti kalau di dalam ibadah itu ada yang lalu menyanyi baik paduan suara ataupun solois atau duet dan segala macam, kita juga ada. Di dalam kita KKR-KKR kadang dalam kesempatan itu taruh juga orkestra, ada nyanyi sebelumnya, ada pentas sebelumnya, nggak ada soal. Tapi kembali di dalam brosur kita kita nggak mungkin taruh seperti itu, kenapa? Supaya orang nggak gagal fokus. Kembali ya, ketika saya lihat ibadah bukan cari artisnya, ada satu musisi tertentu, atau bukan karena pentas seni, tapi karena mau fokus pada Kristus. Dan ketika semua puji-pujian yang ada itu hanya mendukung, mempersiapkan hati kita untuk berfokus pada mimbar Tuhan, itu focal point, itu fokus. Ini hal yang sederhana sekali tapi zaman sekarang memang kenyataannya orang terus menggesernya dan menggesernya.

Saya pikir menarik di beberapa terakhir ini saya mendengar ada suatu interview yang dilakukan oleh John MacArthur dengan Ben Shapiro, yaitu seorang Yahudi yang orthodoks dan diskusi mereka berbicara mengenai Yesus Kristus. Lalu orang Yahudi itu mengatakan, “Oh iya sebenarnya apa yang diajarkan Yesus itu pada esensinya sama kok dengan yang dikatakan para rabi-rabi Yahudi, bahwa di dalam Perjanjian Baru itu esensinya semua ada di dalam Taurat, dalam Perjanjian Lama, itu Cuma dicetuskan ulang, disusun ulang tapi semua inti pengajarannya ada di sana. Sama kok, apa yang Yesus omong itu ada di dalam rabbi Hilel, ada rabi Shamae, ada para rabi-rabi yang lain, iya sama, ada kemiripannya. Dan menarik di dalam suatu balasan dari John MazArthur yang mengatakan, “Oh iya, I think Jesus is the purest Jewish, gitu ya,” orang Yahudi yang paling murni, seperti itu. Dan saya ketawa, ya jadi Yesus pun Yahudi, seperti itu. Tapi terus John MacArthur mengatakan ada satu kalimat yang penting. Tapi perbedaannya antara Kekristenan dan Yahudi itu bukan masalah pengajaran-pengajarannya saja, bukan oh ada cetusan-cetusan seolah-olah yang berbeda dari Perjanjian Lama, tapi justru ada kesinambungan dari Perjanjian Lama; tapi yang berbeda itu adalah di dalam satu pertanyaan ini, who is Jesus Christ? Siapakah Yesus Kristus itu sendiri? Dan itu titik pembedanya. Itu titik keunikannya yang berbeda dan tidak bisa titik temu dengan Yahudi dan kita tahu itu jadi perpisahan Kekristenan permulaannya dengan orang-orang Yahudi yang masih ketat hanya pegang Perjanjian Lama saja. Dan berapa banyak kita sadar ini inti iman kita? Fokusnya itu pada Kristusnya, bukan hal-hal lainnya. Di dalam satu artikel yang lain juga ketika saya membaca tentang orang debatkan oh antara itu apakah Allah orang Kristen dengan Allah orang Israel itu adalah Allah yang sama; apakah mereka menyembah Tuhan yang sama? Terus ada perdebatan tentang Allah itu tauhid ataukah Dia itu Tritunggal?Trinity dan tauhid atau seperti itu. Debat,debat, debat, tapi sampai akhirnya di dalam kesimpulan artikel dan perdebatan diskusi yang panjang itu secara dengan kepala dingin, dengan secara akademis mereka sampai, oh kenyataannya sebenarnya permasalahannya cuma satu, yaitu permasalahannya mengenai siapakah Yesus itu. Dan memang ini titik pembedanya. This is, inilah titik pembedanya. Apa pembeda kita dengan orang muslim? Itu kalau kita ngomong dengan Islam, “Oh ini lho, Tritunggal,” itu betul memang itu adalah pembedanya, tapi titik paling utama yaitu bicara siapakah Yesus itu sendiri. Bagi orang muslim, “Oh iya ya itu nabi.” Bagi orang Yahudi, “Oh iya dia cuma salah satu seorang rabi aja, salah seorang guru pada zaman itu, yang baru.” Tapi bagi Kekristenan melihat Dia itu Tuhan. Itu menjadi titik pembeda kita. Dan ketika kita ngerti Dia Tuhan, maka Dialah menjadi yang berdaulat, yang menjadi Tuhan atas kehidupan kita dan kita tunduk sepenuhnya kepada Dia.

Berapa banyak kita mengerti titik utamanya ini di mana? Dan bukan hanya melihat oh persamaan-persamaan, oh iya memang ada kemiripan-kemiripan. Tapi kembali kita lihat, inti Kekristenan itu justru di situ, dan kalau kita tidak menangkap inti esensinya ini, kita meleset sama sekali dan gagal melihat semua hal-hal lainnya. Oh bukankah di dalam semua agama juga mengatakan jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri. Itu semua agama sama. Tapi perbedaannya kenapa kita tidak membunuh? Kenapa kita tidak berzinah? Kenapa kita tidak mencuri? Karena Kristus. Karena Kristus sendiri yang sudah menunjukkan teladan kehidupan-Nya dan kita lakukan semua itu hanya untuk menyenangkan Dia. Dalam kehidupan kenapakah ketika misalnya orang itu oh yang beda agama jangan berpacaran? Itu bukan cuma karena, oh nanti ini masalah secara aktenya kan memang tidak bisa secara undang-undang Indonesia. Tapi harusnya kita lihat karena Kristus, karena saya harus lebih mencintai Kristus daripada pasangan yang lain ini. Di dalam saya kalau saya memilih pasangan pun, harus berdasarkan Kristus itu. Dan terlebih bukan karena saya mau mengasihi Kristus lebih daripada pasangan saya, karena Dia sudah lebih dulu mengasihi saya sebelum saya bisa mengasihi Dia. Tanpa kita sadar titik fokusnya dan ini menjadi basis dasarnya, kita akan semua bergeser dan di tengah dunia yang terus menarik kita dengan tawaran-tawaran arus zaman ini. Berapa banyakkah kehidupan kita sadar semuanya diwarnai ini, hidup adalah bagi Kristus, barulah mati menjadi suatu keuntungan.

Mati adalah keuntungan di sini bukan berarti satu escapist, suatu pelarian diri dari kehidupan nyata, tapi ini bicara adalah suatu keuntungan karena artinya kita ketika kita mati kita dipersatukan dalam Kristus. Saya pikir yang menarik ini tulisan Paulus ketika dia di dalam penjara. Ketika mati menjadi mungkin bagi orang Romawi oh ini pun keuntungan Romawi, akhirnya penjahat ini yang berkali-kali bolak-balik masuk penjara, menyusahkan tentara Romawi, akhirnya dimatikan. Orang Romawi pikir yang untung mereka. Lho tapi malah Paulus, kalau saya mati, itu keuntungan. Kenapa? Karena saya seumur hidup sudah hidup bagi Kristus, sehingga kalau saya mati saya untung, kenapa? Di situ saya dipersatukan dengan Kristus. Sebenarnya di dalam doktrin kita dan yang dicetus oleh Calvin sendiri, pengertian melalui union with Christ itu adalah suatu inti yang penting sekali bicara baik dalam kehidupan sekarang mulai orang dari percaya sampai kematianmu juga, sampai selama-lamanya; yaitu kita dipersatukan dengan Kristus. Dan ada suatu mystical union di situ, ada kesatuan secara mystical; bukan takhayul tapi lebih suatu pengertian rohani di sini, dan kita temukan juga sama di dalam surat Paulus yang lain seperti dalam Roma 6:4-6. Saya bacakan, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia,” yaitu Kristus, “oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya,” satu dengan kematiaan-Nya,“kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan,” maksudnya disalibkan bersama dengan Dia, “supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Di sini kita melihat bahwa ketika di dalam kematian itu pun, ya kita mengerti kita mengalami dipersatukan dengan Kristus yang sama, Kristus sudah mengalami penguburan itu. Kenapa ketika di dalam kehidupan kita, kita melihat kematian orang Kristen berbeda dengan kematian orang-orang di luar Kekristenan? Status ini. Karena dalam  kematian kita, kita dipersatukan dengan Kristus sebagaimana di dalam selama kehidupan kita.

Mati itu bukan titik akhir, oh jadi kita berpisah. Nggak. Sebagaimana Kristus juga dikuburkan, kita juga dikuburkan. Dan sebagaimana Kristus kemudian dibangkitkan dalam kematian-Nya, kita dipersatukan dalam kematian-Nya. Dan sama waktu mendengar Kristus dibangkitkan, kita pun dibangkitkan bersama dengan Dia. Inilah menjadi suatu penggenapan yang terakhir, elemen yang mungkin berkali-kali kita rayakan di dalam Jumat Agung dan Paskah, tapi kelak kita pun akan berbagian di dalam persekutuan itu. Dipersatukan di dalam kematian-Nya. Dan berapa banyak kita lihat ini menjadi suatu penghiburan dan dorongan bagi kita hidup bersama, kita melihat itulah menjadi suatu keuntungan. Saya bahkan melihat di dalam kehidupan ini ketika Paulus dia berbicara itu di dalam kehidupannya, dia justru selama hidup dia kan justru seolah itu diseret-seret terus di bawah teror orang-orang romawi kan? Tapi ketika mati dia melihat, ya saya ini bersama dengan Kristus, dan sepenuhnya dalam kedaulatan Kristus. Terkadang ketika saya di dalam kehidupan itu bertemu dengan orang yang sakit, lalu didoakan; ya tentu kita doakan sembuh yakan, orang juga bisaberdoa untuk sembuh kan. Lho iya, bisalah kita berdoa untuk minta kesembuhan baik melalui obat-obatan yang dimakan maupun makanannya, maupun ya kadang-kadang memang Tuhan juga memberikan suatu kesembuhan dengan cara-cara yang tidak terduga juga, tapi selalu menjadi satu pertanyaan penting bagi kita yaitu bukan cuma masalah sembuhnya tapi kalau sembuh, what next? Kalau saya sembuh itu untuk apa? Itu harusnya kita melihat gini, kalau saya sembuh, kalau saya masih hidup, ya hidup itu adalah bagi Kristus. Berarti makna dan tujuan kehidupan kita adalah Kristus sendiri. Dan selagi kita masih diberikan kehidupan, itu berarti kita lihat, kita hidup sebagaimana di dalam ayat ini mengatakan, berarti, tetapi jika aku harus hidup di dalam dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi menjadi kehidupan yang fruitfulitu, yang berbuah; bukan “hidup oh akhirnya saya bisa dapat hidup, oh Puji Tuhan saya dapat kesembuhan, terus akhirnya fokus ke diri.” Nggak. Ingat, focal point kita itu Kristus. Jadi kalau kita masih diberi kehidupan, berarti masih ada kesempatan untuk melayani Tuhan.

Dan ini di dalam bahasa yang dipakai Paulus di dalam ayat-ayat selanjutnya saya gambarkan menjadi suatu istilah living for others, menjadi hidup, menjadi buah pelayanan bagi sesama, karena inilah wujud nyatanya. Sebagaimana juga di dalam Surat Yohanes mengatakan bagaimana mungkin kamu mengatakan kamu mengasihi Allah yang tidak kelihatan kalau kamu tidak mengasihi sesamamu yang kelihatan. Jadi di dalam kita berelasi mengasihi Tuhan, kita mewujudnyatakan bagaimana? Dengan menyatakan mengasihi sesama. Dan ini bentuknya di dalam pelayanan kita pada sesama. Inilah artinya kita berkerja menghasilkan buah. Ketika kita masih hidup berarti masih ada kesempatan, masih ada pelayanan yang masih Tuhan percayakan untuk kita kerjakan di dunia ini. Ini harusnya kita lihat dalam kehidupan ini. Jadi bukan, oh yang penting saya masih hidup; ah yang penting masih hidup. Mungkin padahal kita terlalu mencintai kehidupan dunia ini lebih daripada kehidupan di dunia akan datang. Tapi berapa banyak kita lihat kalau kita masih hidup berarti masih ada kesempatan untuk menghasilkan buah itu. Karena memang di situ focal point kita di dalam kita melayani Tuhan. Di dalam kita melayani Tuhan, makanya juga di dalam pelayanan kadang-kadang orang tidak sadar ya bahwa dalam kehidupan ini ketika kita kerjakan pelayanan mungkin sepertinya kita disaksikan oleh sesama kita dan kadang memang di dalam pelayanan juga kita berada dalam satu pengaturan sehingga kita tunduk pada pengaturan gereja ataupun seperti kami Hamba Tuhan tunduk pada pengaturan sinode, dan sepertinya melayani manusia. Tapi kalau kita melihat kembali fokus kita ketika kita kerjakan memang fenomenanya seperti kepada manusia, tapi esensinya ini kita lakukan bagi Tuhan. Jadi ketika kami Hamba Tuhan pun taat kepada sinode, taat kepada Pak Tong, taat kepada pengaturan di atas kami, kami taat itu bukan cuma untuk sesama manusia, untuk menyenangkan manusia, bukan, tapi karena kita tahu kita lakukan ini sedalam kedaulatan Allah, kita taat kepada Tuhan.

Ini kadang dalam kehidupan orang banyak tidak bisa melakukan hal itu. Dia cuma pikir, oh saya taat kepada Tuhan tapi ketika ada otoritas di atas dia, dia tidak bisa tunduk taat kepada itu. Padahal di dalam kehidupan ini sering kali justru kita itu berada, ada yang mengatakan bahkan kehidupan ini di dalam pekerjaan maupun pelayanan kita, kita lebih banyak itu jadi middle man, orang yang di tengah itu, yaitu ada otoritas di atas kita. Sama kan ketika di sini banyak pemuda-pemudi yang di dalam perkuliahan kalian pun tunduk pada ada otoritas dari dosen itu kan? Tapi biarlah kita lihat secara kerohanian, kita lihat terutama ketika kita mentaati perintahnya untuk melakukan tugas, pekerjaan kita, kita lakukan itu untuk menyenangkan Tuhan sambil kita belajar tunduk kepada otoritas yang ada di dalam institusi yang Tuhan pimpin kita ada bekerja dan hidup di dalamnya. Kita harus melayani di situ. Kadang-kadang ada orang yang terus selalu berpikir seolah-olah dia taat pada Tuhan demi taat pada Tuhan pokoknya selalu berontak lawan kepada otoritas yang ada di dunia ini. Padahal sebenarnya di dalam otoritas yang ada di dalam seperti baik dalam institusi ada atasan kita, bos kita, bahkan kalau kita kembali konteks dalam Perjanjian Baru kita ketemu bahwa bahkan hamba, budak-budak itu, tunduklah kepada tuanmu. Jadi nggak bilang, “Oh hamba, kamu sekarang, kamu budak-budak nggak usah tunduk kepada tuanmu, tunduk saja kepada Tuhan Yesus, berontak lawan tuanmu”? Nggak. Justru kita temukan dalam Kitab Suci tunduklah kepada tuanmu, tunduk kepada atasanmu, tunduklah ke pada pemerintah. Loh kenapa? Karena itu menjadi suatu lambang yang Tuhan lihat itu bagaimana kita mentaati otoritas di atas kita. Dan berapa banyak kita lihat bahkan otoritas itu ketika ditempatkan di atas kita pun itu bagian dari kedaulatan Allah. Dan di situ kita belajar menundukkan diri pada pengaturan Tuhan yang Tuhan memakai semua ini untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Berapa banyak dalam kehidupan misalnya anak-anak yang masih tunduk, yang masih di bawah naungan dari orang tuanya, berapa banyak anak-anak itu, anak ataupun sudah mungkin pemuda, tidak mau taat, tunduk kepada otoritas orangtua. Karena pikir apa? Oh saya lebih pintar, saya lebih taat pada Tuhan. Belajar taat dengan Tuhan dengan tunduk pada otoritas orang tua itu. Karena itulah artinya kita itu hidup menghasilkan buah, menghasilkan buah yang nyata, kita wujudnyatakan di dalam lingkungan dan kepada sesama kita. Dan di situ juga kita dipakai menjadi hidup kita itu bagi orang lain menjadi contoh, teladan, dan kita dipakai juga untuk memajukan iman orang lain. Berapa banyak dalam kehidupan kita, kita dipakai itu jangan hanya berpikir, oh kebenaran firman ini saya dapat, oh saya bersyukur, saya bisa bertumbuh imannya. Tapi kapan kita pikir, saya bisa juga dipakai untuk memajukan iman orang lain. Itu baru hidup menjadi berkat bagi orang lain. Atau bolak balik kita itu pikir,“Yang penting iman saya, yang penting saya dapat kepastian keselamatan, yang penting saya kuat imannya. Yang penting saya bisa menang hadapi godaan.” Berapa banyak kita mau berdoa juga bagi orang lain? Dan bukankah itu pentingnya di dalam kehidupan kita, itu ada bagian untuk berdoa syafaat bagi gereja Tuhan? Di dalam kita ada persekutuan doa misalnya. Maupun di dalam ibadah itu selalu ada bagian memang kita berdoa syafaat. Itu bukan cuma ya suatu yang memang secara formal, memang liturginya ada demikian. Tapi itu sebenarnya menjadi suatu didikan pengajaran bagi iman kita bahwa kita juga mau berdoa bagi pergumulan orang lain.

Sederhana saja. Kalau di sini rekan-rekan ada beberapa yang menghadapi ujian, dan kalian berdoa minta Tuhan tolong saya menghadapi ujian ini. Ada nggak kamu juga doakan untuk temanmu yang lain, juga hadapi ujian kan? Ketika kita di dalam pergumulan relasi, kesulitan mungkin ada dalam relasi pasangan ataupun relasi dengan orang tua, atau mertua, atau ipar dan yang lainnya. Adakah kita juga bergumul bukan hanya berdoa pergumulan kita, kita juga doakan yang lain? Karena kalau kita mengalami kesulitan itu, kita bisa sadar bahwa orang lain pun ada mengalami yang sama, dan kita pun mendoakan mereka. Ketika kita dalam pergumulan finansial misalnya, di tengah zaman yang berat ini, dan ketika banyak orang melihat, “Wah, ini pak, sekarang omset itu begitu turun dan macet PO-PO nya dan segala macam. Yang kita sadar, yang macet itu bukan cuma kita, tapi tempat lain juga. Ada nggak kita juga berdoa bagi yang lain? Ya bagi saya ini, saya mengingat sekali apa yang dinyatakan oleh pendeta yang di dalam pelayanannya itu hidup sezaman dengan George Whitefield. George Whitefield itu adalah seorang pengkhotbah KKR Revival, KKR-KKR itu di Amerika di abad yang lampau. Dia melakukan KKR-KKR keliling, dan terus dilihat wah pengikutnya makin bertambah, makin bertambah, dan makin banyak, pelayanan itu makin besar. Dan ada orang pendeta itu yang hidup sezamannya, yang kurang lebih aduh.. , “Tuhan,” terus dia berdoa bilang, “Tuhan tumbuhkan juga gereja kami supaya bertumbuh lebih besar lagi, lebih besar lagi juga, bisa lebih besar sama seperti George Whitefield.” Tapi kemudian sampai satu titik di dalam pergumulan hamba Tuhan itu, dia mulai sadar: Bukan untuk saya bergumul, saya bersaing berkompetisi dengan dia, tapi biarlah saya melihat, kapan saya mulai doakan untuk pelayanan dia juga. Dan herannya di dalam kesaksian dari hamba Tuhan itu, akhirnya dia belajar mengkoreksi dirinya untuk: “Mari kita doakan untuk pelayanan George Whitefield.”  Dan sembari gereja itu terus mendoakan George Whitefield, terus doakan pelayanan yang dikerjakan George Whitefield, somehow Tuhan tumbuhkan gerejanya. Menarik ya? Kadang kita tuh terlalu fokus ke diri, malah kita nggak tumbuh. Tapi ketika kita fokus pada untuk kemajuan iman orang lain, melalui itu Tuhan tumbuhkan iman kita. Dan berapa banyak kita pikir itu harusnya kehidupan Kekristenan seperti demikian, menjadi saluran berkat, dan memberikan sukacita juga iman bagi orang lain. Bukan hanya bagi diri kita sendiri.

Dan itulah yang dinyatakan dalam Paulus ini, supaya dalam kehidupannya bisa ada kemegahanmu, dikatakan, “sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku apabila aku kembali kepadamu.” Yaitu tentu bukan maksudnya ini bersombong. Tapi itu dia makin, jemaat itu ketika… Paulus melihat ketika saya masih diberi kesempatan hidup, itu berarti saya ada kesempatan untuk mendorong jemaat lebih lagi hidup memuliakan Kristus. Jadi bukan hanya melihat: yang penting saya hidup memuliakan Kristus, yang penting saya hidupnya bisa baik; tapi bagaimana juga orang lain? Dan itulah harusnya kita melihat menjadi gambaran kehidupan kita sebagai orang percaya, bagaimana berfokus bagi pekerjaan Tuhan. Dan mungkin setelah kita membicarakan hal ini, orang mungkin akan dalam benak Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mungkin kita akan bertanya: What about me? Bagaimana dengan saya? Orang terkadang bilang, kalau bukan saya urus diri saya sendiri, siapa yang mau mengurus diri saya? Ya uruslah diri kamu sendiri. Saya percaya ini suatu ungkapan yang tidak Alkitabiah sama sekali, karena akhirnya fokus kepada diri. Tapi di bagian ini, ketika berbicara pergumulan kita, ada bagian yang memang kita let God take care of your life. Biarlah kita memberi ruang untuk memang Tuhan memeliharakan kehidupan kita. Ada bagian dalam kehidupan seperti ini. Semakin kita pikir kehidupan ini kita mau kontrol, kita mau atur, kita mau tata sedemikian, banyak kali akhirnya kita mem-bypass ada bagian Tuhan mau mengontrol kehidupan kita. Itu sama ketika seorang itu di dalam suatu kesempatan itu, ada pendeta kita itu dikasih contoh oleh Pak Tong. Kita tahu Pak Tong itu sangat pandai melukis, lalu dia bilang, “Kamu mau belajar gambar? Sini saya pegang tanganmu untuk gambar.” Jadi Pak Tong pegang tangan ada salah satu hamba Tuhan itu terus coba gambar. Terus sampai mau coba gambar, terus gambarnya kira-kira jadi nggak? Wah nggak jadi, karena tiap mau tarik, dia juga mau tarik, mau tarik. Terus akhirnya pak Tong bilang, “Lemesin tanganmu, lemesin tanganmu!” Tapi dia juga bingung, saya juga bisa gambar.Sampai akhirnya lemesin sedemikian sampai: Ya sudahlah biar pak Tong saja yang handle. Dan setelah dia lemesin sedemikian, dia cuma kaya.. cuma sisa tenaga pun itu cuma pegang kuasnya atau pensilnya itu, dan biar pak Tong yang gerakkan, tapi kan lukisannya jadi.

Terkadang kehidupan kita itu begini. Kita pikir kita mau gambar dan tulis kehidupan kita sendiri. Dan kita akhirnya tidak melihat Tuhanlah yang mau menggambar kehidupan kita, bahwa Tuhanlah yang akan mau mengintervensi dan berdaulat atas kehidupan kita. Dan malah kita mengalami bagian di mana harusnya Tuhan itu bisa berkarya di situ. Ada bagian-bagian dalam kehidupan itu bergerak seperti… semakin kita pikir kita mau tarik kuasnya sendiri, akhirnya ya tentu saya bukan bilang perbuatan Allah gagal di bagian ini. Tetapi semakin kita mau menarik kedaulatan kita, kita akhirnya gagal menundukkan diri kita di bawah kedaulatan Allah. Tapi biarlah kita menundukkan diri kita di bawah kedaulatan Allah dan biarlah Tuhan yang menggambarkan kehidupan kita. Dan bahkan di dalam pergumulan Paulus ini, ya dia melihat kehidupannya: Yang penting saya fokus kepada Kristus. Kalau saya masih diberikan hidup, saya melayani jemaat. Ya Tuhan yang akan peliharakan kehidupan saya. Dan itulah akhirnya hidup yang akhirnya dipakai Tuhan untuk, dipakai demi kemuliaan nama Tuhan, dan bukan kita pakai ide kita sendiri melukiskan sesuatu yang kita pikir, “Oh ini pekerjaan Tuhan.”

Kita tahu sendiri dalam suatu istilah itu, bahwa di dalam istilah dosa, dan saya percaya di sini mungkin sudah berkali-kali dikatakan, istilah dosa dalam Alkitab itu “hamartia” – meleset dari sasaran. Berarti itu sama, ketika orang memanah: Oh memanah pada satu tujuan dan harusnya tepat di tengah itu, eh tidak tepat tengah, meleset sedikit, geser ke samping, oh nggak apa-apalah masih dapat point. Tapi Hamartia itu meleset dari sasaran, itu ketika tidak tepat di situ. Geser sedikit, oh kita pikir: masih dapat point. Bagi Tuhan ini meleset dari sasaran, ini adalah dosa. Tapi kadang ada orang, saya pernah dengar dari hamba Tuhan kita yang lain, itu mengatakan, “Ada suatu ide, kadang-kadang orang itu idenya lebih kreatif zaman sekarang. Dia panah dulu, sudah panah baru gambar lingkarannya itu.” Jadi sudah panah, nah baru gambar lingkaran. Tepat sasaran! Ya kamu panah dulu. Tapi adakah kita melihat, biarlah sasaran itu Tuhan yang tetapkan, Tuhan kita yang tetapkan, dan kita berjuang memanah tepat di yang dituju. Itu baru kita fokus kepada Dia. Dan bukan membuat, mengarang tujuan-tujuan dari ide ambisi kita sendiri.Berapa banyak kita cuma memikirkan apa kehendak Tuhan dalam kehidupan kita? Dan kita lihat biarlah Tuhan yang mengangkat kehidupan kita demikian. Paulus di dalam kehidupannya, dia dipenjara berkali-kali,  disiksa, dianiaya, dia banyak penyakitnya. Dia itu juga ada di dalam catatan, bagian suratnya mengatakan, “Aku sudah 3 kali berdoa biarlah Tuhan cabutlah duri dari dalam dagingku ini. Tapi 3x aku berdoa dan Tuhan katakan, ‘AnugrahKu cukup bagimu’ dan biar Dia tetap menaruh hal ini.” Lah itu ada pergumulan Paulus dan Paulus mungkin bisa bergumul terus di situ. Tapi dia tidak berfokus ke sana, dia kembali fokus pada apa yang Tuhan kerjakan, dan lihat biar Tuhan yang mau pakai hidup dia.

Terkadang memang, seperti Pdt. Billy itu katakan, dalam kehidupan kita ketika kita berdoa untuk suatu pergumulan, terkadang Tuhan tidak terlalu tertarik untuk mengubah keadaan itu. Tapi melalui doa kita, tapi Tuhan itu terkadang lebih tertarik untuk mengubah kita melalui keadaan itu. Dan dalam kehidupan kita ada kadang hal demikian. Dan di situ kita melihat biarlah Tuhan yang menata kehidupan kita sedemikian, sesuai dengan kehendak rencanaNya. Dan juga menjadi, di dalam aspek lain berarti memang ada bagian juga kita memberi diri kita ruang untuk bisa dilayani oleh sesama kita. Saya harap ini kita tidak salah paham di dalam bagian ini. Kita memang tidak berfokus untuk dilayani. Tapi ada kenyataan dalam kehidupan ini, kita juga harus memberi ruang untuk juga memang bisa diurus oleh orang lain. Kadang orang itu maju kedewasaan sedemikian itu seolah-olah, oh saya pokoknya bisa sendiri, bisa sendiri, sampai sedemikian, dia tidak memberi ruang – itu bisa diatur oleh orang lain juga. Tapi, itulah ada bagian akhirnya bolongnya dalam kehidupan kita, ketika kita tidak melihat biar Tuhan yang mengatur hidup kita. Dan terkadang Tuhan mengatur hidup kita melalui orang lain yang dipakai mengatur hidup kita juga.Sama seperti anak kecil yang ketika kecil itu memang tidak suka diurusin, tapi orang dewasa itu suka mengurusi orang lain. Tapi kita ada belajar, ada bagian ini juga kita beri ruang itu untuk memang ya ketika dalam pelayanan itu keindahannya justru saling dilayani. Saling melayani. Dan saling menerima pelayanan orang lain. Saya pikir yang menarik, bahkan di dalam pelayanan kadang-kadang kita bertemu, oh dalam pelayanan ini, orang ini yang melayani, ada kurangnya, ada kurangnya di sini. Tapi tetap kita memberi ruang untuk orang mengerjakan pelayanan itu. Kenapa? Karena memang begitulah indahnya pelayanan. Indahnya pelayanan itu bukan karena satu orang, seperti misalnya pak Tong, yang multi-talented, bisa kerjakan semua. Lalu dia mulai dari liturgisnya, song Leader-nya, kalau bisa juga main pianonya, main semua, sampai khotbahnya, sampai selesai semua sendirian. Nggak. Tapi memberi ruang, kepada bahkan orang yang masih lebih pemula berbagian dalam pelayanan itu. Dan biarlah kita juga melihat ada bagiannya kita menerima berbagian dalam pelayanan itu. Keindahan pelayanan justru demikian. Saya lihat tentu ada hal-hal yang di dalam kehidupan kita kerjakan dengan diri sendiri. Tapi biarlah kita lihat ada bagian kehidupan itu seperti demikian. Sebagaimana Kristus mengatakan bahwa: Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Tapi dengan catatan, Alkitab juga mengatakan: Ada, Dia memberi ruang, untuk ada perempuan-perempuan, para murid-murid yang melayani Dia, dan Kristus pun menerima pelayanan itu.Kenapa? Karena itulah kehidupan kita. Kembali, bukan untuk fokus kamu layani saya, cuci kaki saya, bukan itu. Tapi memberi ruang, kalau untuk orang mau memberikan pelayanan itu pada kehidupan kita. Bukankah Kristus juga menerima bagaimana perempuan itu yang menyeka kaki Yesus dengan rambutnya dan memecahkan buli-buli pualam itu meminyaki kaki Yesus. Itu pun Dia menerima pelayanan itu. Tapi di sini makanya, kalau kita bicara itu, titik fokusnya kita bukan mau mengejar itu. Fokusnya kita melayani Tuhan. Tapi ketika di dalam realita pelayanan bersama itu, ya tetap ada orang sama-sama menerima berbagian pelayanan itu. Karena memang dalam kehidupan itu demikian. Sehingga kembali kita melihat pada akhirnya adalah: Me is not the focal point, but others. Bahwa diriku itu bukan titik fokusnya, tapi orang lain. Dan itulah artinya kita mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama kita. Dan sembari kita memberi ruang, juga untuk melihat orang-orang lain terlibat bersama-sama melayani Tuhan. Dan itulah keindahan dari Kekristenan itu sendiri.

Di Natal seperti ini, di momen-momen bulan Natal, di Desember ini, ini juga mungkin bagi sebagian pemuda, menjelang ujian seperti ini, biarlah kita melihat kita tidak gagal fokus dan tetap hidup memuliakan Tuhan. Dan biarlah kita bersaksi bagi sesama kita, sehingga hidup yang satu kali ini kita pakai demi kemuliaan Tuhan dan bagaimana memperluas kerajaanNya saja.Sampai sini saya khotbah di hari ini. Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami dalam Sorga, kami berdoa bersyukur untuk firmanMu di hari ini. Kami berdoa, ya Tuhan, di dalam kehidupan kami, di dalam banyak tantangan yang kami hadapi, di dalam banyak tarikan yang dunia miliki, yang mendistract kehidupan kami terhadap fokus utama hidup ini. Kiranya Engkau yang mampukan kami, arahkan mata kami untuk tertuju padaMu saja, untuk hidup melayani Kristus saja, yang sudah lebih dulu datang ke dalam dunia ini, lahir, menjadi manusia, untuk menaikkan orang-orang yang terhilang, untuk akhirnya mati di atas kayu salib menggenapi rencana Bapa. Terima kasih Bapa untuk semua ini, biarlah ketika kami masuk ke dalam momen-momen natal itu, kami bukan merayakannya dengan seperti apa yang ditawarkan oleh dunia, tapi kami kembali mengingat, apa makna Natal itu, yang sudah dinyatakan oleh Kristus mula-mula, 2000 tahun yang lalu, biarlah itu juga yang mewarnai, memotivasi, dan mendorong kami dalam menjalankan kehidupan kami di masa kini, di hari ini. Terima kasih Bapa, semua ini, kiranya NamaMu saja ditinggikan dan dipermuliakan. Demi PutraMu yang Tunggal, Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *