Tanda Pertumbuhan Kerohanian, 23 Desember 2018

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Flp. 1:27-28

Di dalam bagian ini kita menemukan ada di dalam bahasa Indonesia mengatakan hhendaklah hidupmu berpadanan dengan injil Kristus, yang dalam terjemahan bahasa Inggris istilah worthy of the gospel of Christ. Dan sebenarnya kalau kita mau tarik apa artinya worthy ini? Ini bicara layak, ya, berpadanan. Kalau kita ketemu di dalam teks asli Yunani, layaknya itu bukan sesuatu itu hebat atau seperti apa, tapi ini bicara ada suatu nuansa worthy sebagai citizen of the gospel of Christ, jadi ada suatu nuansa citizenship, suatu nuansa kewarganegaraan. Bagian ini saya pikir menarik dan Paulus mengingatkan kita bahwa kita ini adalah orang Kristen, adalah orang yang punya kewarganegaraan bukan saja duniawi tapi juga kewarganegaraan surgawi. Dan di sini kita lihat satu-satunya semacam orang yang justru punya dua citizenship ini. Dua citizenship ini adalah kita punya dua kewarganegaraan ganda, bukan hanya di dunia ini tapi juga di surga. Dan berapa banyak dalam kehidupan kita kita menyadari status kita ini sedemikian. Mungkin dalam bentuk gambaran, seperti dalam suatu lingkaran itu ada irisannya, kalau mau dibilang lingkaran pertama ini komposisinya adalah warga-warga negara dunia, lalu lingkaran kedua ini adalah warga-warga negara surga. Nah kita itu di irisannya. Dan berapa banyak kita sadar kita ini satu-satunya orang Kristen yang punya situasi yang memang berada dalam dua kewarganegaraan ini. Kalau kita punya kenalan atau mungkin kita sendiri pernah punya status kewarganegaraan ganda seperti mungkin orang itu punya warga negara statusnya itu di Indonesia maupun juga di Amerika, kadang-kadang ada orang punya dua kewarganegaraan. Dia akan selalu ingat bahwa saya itu harus memenuhi persyaratan dan tuntutan kehidupan itu dua negara itu, bukan hanya satu. Dan karena itu ada semacam syarat-syarat kalau kamu masih mau menjaga statusmu sebagai warga negara sana kamu harus mengikuti aturan yang ada. Dalam kehidupan kita kadang katanya kalau yang di Singapura atau seperti yang di Amerika itu berapa lama mereka kudu harus balik di sana, demi mempertahankan green card karena itu status kewarganegaraan saya. Jadi di situ kita lihat status kewarganegaraan bukan sekedar hanya status sudah memiliki tapi itu adalah saya harus menjaga hidup saya itu sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada, sesuai memang sistem yang ada disana. Dan di bagian ini kembali kita diingatkan bahwa hidup kita biarlah berpadanan dengan injil Kristus. Diingatkan bahwa kita hidupnya berpadanan dengan status kita sebagai warga negara surgawi, warga negara Kerajaan Surga.

Menarik kalau kita kaitan di dalam konteks ini, konteks Kitab Filipi, Filipi itu sendiri adalah kota koloni, ia adalah koloni dari Kekaisaran Romawi. Karena memang Kekaisaran Romawi itu bergerak, mereka melakukan invasi, mereka melakukan imperialisme, jadi mereka memperluas wilayah kerajaannya lalu mereka akhirnya mengkolonisasi kota Filipi itu. Dan akhirnya kota Filipi setelah menjadi koloni dari Kekaisaran Romawi dengan kaisarnya itu Nero, maka merekapun menikmati support dan dukungan dari Kaisar Roma, yang mana Kaisar Romawi itu sangat menjaga dan berdaulat atas kota Filipi. Jadi kita nangkap ya, konsepnya begitu kan. Ketika orang-orang warga negara filipi, kalau misalnya kita bisa mundur 2000 tahun yang lalu, kita bisa tanya orang-orang Filipi mereka akan mengerti “Oh kami ini wilayah di bawah koloninya Kaisar Nero, kami ini adalah di bawah perlindungan Kaisar Nero,” dan harus menjaga apa yang mereka mengerti sebagai istilah paxromana, yaitu roman peace, kedamaian menurut sistem aturan Roma. Tapi di sini menarik makanya karena Paulus mencetuskan ini untuk mengingatkan bahwa kamu bukan hanya warga negara Roma tapi ingatlah bahwa yang lebih terutama dan yang sampai kekekalan nanti statusmu adalah warga negara Kerajaan Surga. Sebagaimana seorang komentator bernama Bob Mill(?) mengatakan bahwa “church is personal colony of Christ, we are members  of a colony we did not a colony,” bahwa gereja itu sendiri adalah koloninya Kristus, dimana Kristus adalah Tuannya, Dia adalah Rajanya, dan kita adalah anggota-anggota koloniNya di dalam dunia yang koloni ini. Jadi kita itu meng-kolonisasi dunia ini. Meng-kolonisasi apa? Bukan untuk kita itu menjadi imperialisme seperti bayangan zaman antek-antek Belanda dulu, tapi adalah kita mengerti kita menjadi warga negara surga dan kita memperluas koloni itu melalui kehadiran kita. Memperluas wilayah Kerajaan Surga itu menyatakan nilai-nilai, prinsip-prinsip Kerajaan Sorga itu dalam kehidupan kita, bahkan di dalam lingkungan sekitar kita.

Saya pikir ini mungkin sebagai contoh saja untuk kita lebih mudah memahami apa pengertiannya ini, sama saya ingat suatu istilah yang dibilang oleh teman saya, dia mengatakan kepada saya bagaimana caranya membedakan orang Jawa atau bukan? Teman saya pernah bilang seperti ini, silahkan koreksi kalau salah, kalau mau tahu itu orang Jawa atau bukan gampang, kasih dia spidol terus tanya ini apa.  Nah katanya kalau dia bilang, “Oh ini spidol,” itu bukan orang Jawa, kalau orang Jawa itu bilang ini spidhol. Katanya kalau begitu itu baru orang Jawa. Tapi andaikata misalnya ada seseorang mengaku, “Saya orang Jawa,” lalu kita kasih spidol, “ini apa?” “Oh ini spidol,” kita bingung ya, kok orang Jawa ngomongnya flat, dol-nya itu biasa aja. Terus mungkin kalau kita tanya, “Kamu sukanya makan apa, kamu suka makan tahu-tempe nggak?” “Nggak suka.” Atau, “Kamu suka gudeg nggak?” “Nggak suka.” “Terus kamu sukanya apa?” Oh sukanya french fries atau mungkin pizza atau apa, kita akan bingung, kenapa? Karena satu sisi dia mengakunya orang Jawa tapi kok nggak cocok hidupnya itu, gayanya, pandangannya dan cara dia berbahasanya itu tidak mencerminkan orang Jawa. Kita merasa Jawa-nya KW ini, palsu. Dan saya mau tarik ilustrasi ini sebagai contoh untuk kita mengerti apa artinya kita hidup berpadanan, sesuai dengan injil Kristus itu, yaitu adakah kehidupan kita, kosa kata kita, dan cara kehidupan kita itu memang seturut, sesuai dengan prinsip-prinsip dari kehidupan orang Kristen sebagaimana yang dinyatakan oleh Kristus sendiri, sebagaimana sesuai dengan injil Kristus itu. Dan semakin kita klop dan sesuai di sana, sesuai dengan prinsip yang ada, di situlah baru kita dikatakan worthy of the gospel of Christ, kita hidup berpadanan atau layak disebut pengikut Kristus, sebagai warga yang mentaati prinsip dari Kristus itu sendiri. Dalam kehidupan kita berapa banyak kita pikirkan status kita itu demikian? Kembali sama seperti “kamu orang Jawa masak tempe aja nggak suka, kecap juga nggak suka,” kan kita rasa aneh gitu. Ya saya pikir sama, ketika kita mengaku Kristen ya kamu baca Alkitab nggak? Kamu kalau Minggu ibadah nggak, rutin nggak, atau masih rasa ‘yah ibadah ngapain’?” Ini kayaknya nggak cocok. Kadang-kadang ada orang suka tanya, “Oh kita Pak di sorga itu ngapain?” Kita di sorga itu beribadah, memuji Tuhan selama-lamanya. “Begitu ya, selama-lamanya nggak ada kerja lain? Bosan kali ya.” Saya pikir ya sederhana saja, anda kalau datang ibadah aja rasanya susah, kayaknya sengsara, ya di sana nanti, di sorga lebih sengsara lagi selama-lamanya. Mungkin akan merasa saya lebih cocok di pengkolannya, nggak sampai di sana. Tapi biarlah kita mengerti ketika semua yang kita kerjakan, baik dalam pekerjaan kita, dalam pelayanan kita, dalam setiap keputusan-keputusan yang kita lakukan, kita tahu kita lakukan itu untuk berpadanan, untuk menjadi dipandang layak orang yang mengemban injil Kristus itu sendiri, layak sebagai orang yang sudah mengerti dan mengalami injil Kristus itu sendiri. Itu harusnya hidup kita didefinisikan oleh itu, dan bukan menurut definisi dunia. Kembali lagi, kalau kita mau masuk lebih dalam lagi, ini bahasanya agak subversif memang kalau dibilang, karena ini menekankan ada dua ruler, ada 2 raja, atau bahkan di dalam beberapa catatan kuno itu menemukan Nero itu disebut sebagai soter, sebagai saviour, sebagai juruselamat; tetapi kemudian di dalam bagian ini Alkitab menyatakan bahwa ada soter yang lain, ada Juruselamat yang lain, yaitu Yesus Kristus. Ada Tuan yang lain, ada kurios yang lain, yaitu Yesus Kristus. Dan ada good news, kabar baik yang lain. Bukan karena Nero itu menguasai suatu wilayah baru tapi karena kerajaan Allah itu sudah datang ke dalam dunia, that’s good news, itu injil. Ini kita mengerti ini bahasa yang berbeda, kontras sekali dengan apa yang ditawarkan oleh dunia. Berapa banyak kita sadar kehidupan kita itu seperti apa sebenarnya? Dan kembali bukan untuk kita meng-aneh-anehkan berbeda dengan dunia, sok beda dalam artian eksentrik, tapi untuk kita menyadari esensinya kita memang berbeda dari lainnya itu. Dan hidup kita harusnya lebih semakin serupa dengan Kristus, semakin sesuai dengan prinsip injil dan bukan makin sesuai dengan prinsip-prinsip dan konsep nilai dari dunia. Itu baru kita mengerti apa artinya kita hidup berpadanan dengan injil Kristus. Itu poin pertama.

Lalu poin kedua setelah bicara status kita sebagai warga negara sorga, yang kedua itu, dikatakan oleh Paulus ini, dia katakan, “Supaya apabila aku datang, aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar.” Bagian sini saya pikir ini, berbicara apa sih maksudnya – “ketika aku datang aku melihat, ataupun ketika aku tidak datang aku mendengar”? Ini saya mengerti sebagai, poin kedua ini bicara adalah prinsip orang yang hidupnya itu punya faithfulness, punya kesetiaan. Di dalam konteks kehidupan kita kadang-kadang, dan saya juga pernah alami, saya lihat ketika bekerja di kantor, ketika pagi-pagi saya dulu datang ke kantor, sudah datang pagi, terus lihat, sudah jalan, kerja, kerja, terus semuanya kok pada santai, kok nggak ada yang kerja? Terus saya heran ini, kita kan sudah jam mulai kantor, harusnya mulai kerja, kok ini masih… bahasanya tuh ngelencer gitu ya – ke mana-mana jalan kok ngobrol-ngobrol, kok nggak kerja? Terus saya tanya karyawan yang lebih senior bilang, “Ini kok pada santai, pada nggak kerja?” Ya dia jawabnya simple, “Oh bos lagi meeting.” Ah itu. Bos lagi meeting! Kalau bos lagi meeting, nah kita main-main. Nanti kalau bos datang, “Wuih yuk balik, balik, bos datang, bos datang!” – pura-pura sibuk gitu ya. Nah itu sebenarnya ciri orang yang tidak punya apa artinya faithfulness itu. Faithfulness, kesetiaan, adalah baik saya dilihat atau nggak, saya tetap berbuatnya sama. That’s the point! Itu poinnya kesetiaan. Dan kadang-kadang dalam kehidupan kita itu ada suatu masalah kan dalam kehidupan ini. Ada orang itu ketika di hadapan banyak orang dia berlaku seperti apa, tapi ketika sendiri, dia berbeda. Itu tidak setia. Itu tidak setia! Mungkin hari ini kita bisa berkumpul bersama, beribadah seperti ini, kita menyanyi memuji memuliakan Tuhan, tampil seperti baik. Kalau mau dibilang, gitu ya, ada yang bilang: orang kalau di gereja itu seperti malaikat, keluar dari gedung gereja tanduk dan ekornya itu keluar semua. Itu berarti orang yang nggak punya faithfulness, nggak punya kesetiaan itu. Bukan saja karena dilihat karena sesama, tapi ketika, di dalam konteks yang lain, apalagi ketika kita sendiri, masihkah kita menyatakan kehidupan yang setia itu?

Kembali lagi, ujian kesetian itu menyatakan biarlah kita bisa punya integritas, accountable dalam kehidupan kita, baik ketika kita bersama, di publik, maupun kita sendiri. Baik ketika kita ada hamba Tuhan depan kita maupun nggak, kita tetap faithful, kita tetap setia. Itu artinya setia. Karena kenapa? Karena kita selalu ingat, dalam semua yang kita kerjakan, yang terutama, yang selalu tahu dan lihat apa yang kita perbuat, itu adalah Tuhan. Mungkin contoh sederhana saja, misalnya, andaikata gitu, hari ini pas kita ibadah, “Oh Pak Tong itu ada datang ke sini.”

“Datang ke sini ngapain?”

“Oh cuma mampir.”

“Cuma mampir? Nggak khotbah?”

“Oh nggak, cuma datang, duduk dengar.”

Wah kira-kira kita hari ini pelayanan langsung ada berubah nggak ya? Mungkin kita langsung persiapannya lebih gimana gitu? Wah pak Tong akan hadir, kita akan siap latih lebih bagus. Jangan-jangan Vikaris Leo, “Wah kalau gini saya tambah lagi poin khotbahnya ya.” Wah tambah, rubah lagi, oh soalnya Pak Tong datang. Tapi kalau kita pemikiran seperti itu, berarti kita itu melayani siapa? Kita itu berarti, masih berpaku kepada 1 atau 2 orang tertentu, yang akhirnya mempengaruhi kehidupan kita. Adakah kita melihat – ada Pak Tong, nggak ada Pak Tong – yang penting Tuhan ada? Dan karena itu kita sama seriusnya mengerjakan pelayanan itu. Itu poin kesetiaan di sini. Itulah kenapa Paulus mengatakan ini. Entah saya datang dan saya melihat, ataupun ketika saya tidak datang, saya mendengar. Saya pikir bukan suatu kebetulan juga Pendeta Dawis tidak ada, tapi biarlah dia juga bisa mendengar kita sebagai jemaat tetap setia beribadah pada Tuhan, entah ketika ada gembala atau tidak ada, karena terutama kita datang, beribadah kepada Tuhan. Itu artinya kesetiaan itu. Dan ini hal yang sulit, hal yang sulit.

Contoh sederhana, kadang juga dalam kehidupan kita di pekerjaan atau mungkin di toko kita, atau bahkan di rumah kita, misalnya kita punya pembantu yang oh kalau kita liatin, dia bebersih, nyapu-nyapu. Ketika kita tinggal, yah malah dia stel TV. Itu nggak setia. Itu nggak setia! Sama seperti di dalam anak-anak sekolah, oh belajar, ketika gurunya oh dipanggil ke ruang kantor guru atau ke ruang dosen, “Kalian belajar ya!” – wah langsung ribut. Ya itu menyatakan nggak setia. Kehidupan yang berubah tergantung pada situasi, bergantung pada satu dua orang tertentu, itu menyatakan tidak setia. Tapi di sini Paulus ingatkan bahwa meski dia belum bisa sampai ke Filipi: saya berharap kamu tetap setia. Dan itu saya harap ini menjadi gambaran kehidupan kita juga. Biarlah kita tetap menjaga kesetiaan itu dalam situasi yang ada. Apalagi kadang-kadang seperti masuk ke musim seperti ini ya, yang tadi saya sebelum ibadah itu, beberapa sudah ngomong, “Wah pak ini kalau Jogja sudah masuk musim liburan, wah ramai padat. Padat seperti itu, datang dari berbagai tempat.” Ya saya mau tanya aja, ambil contoh misalnya kita lagi berlibur, kita masih ibadah nggak? ada orang itu kalau libur, oh nggak ingat ibadah juga. Sekalian libur, ya sekalian libur ibadahnya. Jadi ibadahnya kapan? Nanti pak kalau sudah masuk kerja, nanti pak kalau sudah masuk kuliah, baru ibadah lagi. Tapi berapa banyak kita pikir itu, meski di tengah liburan, andaikata pun kita keluar kota, dan andaikata pun kita pergi suatu tempat yang tidak ada cabang GRII di sana, misalnya, ya kita bisa, adakah kita berpikir: saya mau cari tempat ibadah yang benar, gereja Tuhan yang benar mana? Yang masih setia memberitakan Injil Tuhan, dan saya beribadah sana. Kita harus punya itu, mental kesetiaan itu di sini. Baik saya di sini, maupun di tempat lain, saya tetap setia. Baik dikumpul banyak orang, maupun sendiri, saya tetap setia. Itu baru punya integritas, itu baru kehidupan yang layak, yang berpadanan dengan Injil Kristus. Karena yang terutama adalah kita lihat bahwa Kristus, dan Tuhan kita terus melihat apa yang kita perbuat.

Contoh sederhana, saya kadang-kadang ada pemuda atau pun remaja itu tanya, “Gimana Ko bergumul menghadapi kadang-kadang ada dorongan nafsu?” Misalnya seperti itu dalam pergumulan mereka. “Ya coba saja kamu pikir ya, ketika misalnya kamu berbuat dosa, kamu pikir kalau misalnya, andaikata di sampingmu, di samping kamu itu lantas ada orang tuamu, kamu masih buat dosa nggak? Jelas nggak! Atau ada saya, gitu ya? Ya, nggak! Tapi saya tidak perlu tunggu saya hadir kan? Tapi ada Tuhan di samping kamu. Dan adakah kamu juga tetap jaga kehidupanmu itu kudus, karena Tuhan terus melihat apa yang kita perbuat. Dan dia terus beserta kita. Dia bukan CCTV atau mata-mata. Tapi kita tahu bahwa Allah Roh Kudus sudah diberikan kepada gerejaNya, yang menuntun gereja, yang memurnikan gerejaNya, dan menuntun kita terus berjalan itu bisa setia.

Justru di dalam doktrin Reformed, seperti 5 pokok Calvinisme itu, TULIP, gitu ya.

Total Depravity – Kejatuhan, kerusakan total, lalu

Unconditional Election – Pemilihan yang tak bersyarat, lalu

Limited atonement – Penebusan terbatas, lalu

Irresistible grace – Anugrah yang tidak dapat ditolak, tapi ada poin terakhir kan? Yaitu:

Perseverance of the saints – Ketekunan orang kudus. Dan di bagian sinilah, makanya kita mengerti, di dalam doktrin kita bukan bicara semua: “Oh Pak kenapa saya buat dosa?” “Yah, dalam ketetapan Tuhan.” Yah apalagi kaya gini, ketetapan Tuhan? Rupamu! Kalau gini, saya gampar kamu, kalau gini saya gampar kamu karena ini juga ketetapan Tuhan, nih saya gampar kamu.

Nggak bisa seperti itu! Di bagian sini kita mengerti, ketika di dalam poin-poin Calvinisme, di dalam poin kebenaran firman, yaitu pertama jelas Tuhan sudah beranugerah dulu. Lalu bagaimana sisa kita beresponnya? Ketika kita gagal mentaati perintah Tuhan, bukan karena Tuhan kurang beranugerah, Dia sudah beranugerah, tapi itu karena kita kurang tekun setia mengikut Dia. Dan justru tanda orang percaya itu nanti secara fenomenanya itu pakai justru di poin P itu, yaitu perseverance of the saints – ketekunan orang kudus. Orang yang percaya sejati, bukan cuma, “Oh saya tahu doktrinnya sejati. Saya hafal semua doktrin-doktrin yang ada!” tapi adakah kamu terus bertekun sampai akhirnya itu. Terus bertekun sampai akhirnya. Dan di dalam poin Alkitab jelas mengatakan bahwa yang memampukan kita juga bisa setia sampai akhirnya adalah dari Allah Roh Kudus sendiri. Allah Roh Kudus yang tidak pernah meninggalkan kita, dan memampukan kita untuk terus setia, terus setia, berjalan. Meski kadang ada jatuh bangunnya dalam kehidupan kita, tapi Allah Roh Kudus tidak pernah meninggalkan kita. Dia terus topang kita, dia terus ingatkan kita, dia terus tarik kita kembali lagi, kembali lagi untuk mengikut Tuhan. Dan situ artinya kita ngerti, ketika kita bergumul dalam kesetiaan, biarlah pertama kita lihat bukan bersandar kemampuan kita, tapi justru kepada Allah sendiri.

Sebagaimana kalau kita membaca Perjanjian Lama, keseluruhan, kita akan menemukan 2 poin ini, yaitu yang jelas-jelas dalam Perjanjian Lama adalah ketidaksetiaan Israel. Dan yang kedua adalah, kesetiaan Allah, meski umatNya tidak setia. Dan itu juga dikatakan Paulus dalam bagian surat lainnya, “Meski kamu, kalau kita tidak setia, tapi Allah itu tetap setia, karean Dia tidak bisa menyangkali diriNya.” Dan itu kita lihat, Allah itu terus setia, menopang kita sampai akhirnya itu. Dan biarlah kita berjuang itu, bukan dengan kekuatan kita, bukan dengan sadar kita rasa bisa setia dengan kekuatan sendiri. Tapi justru kalau kita bergumul, sulit untuk setia, bagian itulah kita berdoa. Bagian itulah kita belajar untuk lebih lagi bersandar kepada Kristus. Tahu bahwa memang kita tidak mampu setia, baru kita bisa belajar: apa itu setia. Di mana dalam kehidupan itu, kadang seperti itu. Ketika kita tahu: tidak mampu. Baru sebenarnya kita bisa belajar apa artinya Tuhan mampukan dalam kehidupan kita itu. Ketika kita tahu, kita itu sulit untuk setia, karena hati kita yang sering serong dan menyimpang, di bagian itulah belajar, kita justru diajar untuk kembali lebih banyak lagi bertekun, berdoa, bersandar pada Tuhan dan minta Tuhan mampukan kita setia. Tapi bagaimana pak kalau tidak bisa berdoa juga? Saya ingat sendiri, apa kalimatnya Agustinus, “Ketika kita tidak bisa berdoa, itu ada bagian bahkan kita berdoa pada Tuhan, minta Tuhan mampukan kita bisa berdoa.” Jadi bisa sampai mundur seperti itu ya? Jadi ada step-nya itu bahkan kalau bilang, itu perkataan Agustinus ya, “Ketika kita tidak merasa suatu keinginan atau kehendak untuk berdoa, di bagian itulah kita bisa berdoa: Tuhan berikan saya kerinduan dan kehausan untuk mau berdoa padaMu.” Itupun doa. Itupun doa. Ada bagian memang kalanya kita berdoa begitu, ketika doa kita mulai kering rasanya, mulai rasanya cuma sekedar basa basi seperti itu, kadang-kadang saya gak suka pakai istilah itu, tapi kadang-kadang seperti itu cuma sekedar umum saja, kita doa cuma sekedar saja. Tapi biarlah di bagian ini kita justru belajar berdoa  dan minta Tuhan memberikan kita suatu kegairahan sendiri kembali untuk bergaul kepada Dia dan termasuk untuk berdoa untuk hal-hal seperti ini, berdoa untuk kita Tuhan mampukan kita setia, karena kita tahu kita tidak mampu setia dengan kekuatan kita sendiri.

Kemudian poin selanjutnya dikatakan bahwa “kamu teguh berdiri dalam satu roh dan sehati sejiwa  berjuang untuk iman yang timbul dari berita injil dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawan mu.” Bagian ini Grant Osborne berbicara bahwa ada empat area dari kehidupan orang Kristen yang menyatakan bagaimana dia bertumbuh secara rohani. Minimal di bagian ini berbicara empat area ketika kita mengukur apakah kehidupan peranan kita itu bertumbuh atau tidak. Yang pertama di bagian ini mengatakan yaitu kita teguh berdiri, stand, stand firm. Ini adalah suatu posisi yang memang tidak mudah karena kita apalagi berada di tengah tarikan dunia, dan apalagi konteks Filipi ini berada di dalam penganiayaan, tapi bagaiamana kita bisa tetap teguh berdiri dan ini juga adalah tanda sesorang itu sudah bertumbuh secara kerohanian. Tanda seseorang bertumbuh dalam kerohanian bukan itu makin bisa membuat sesuatu hal-hal spektakuler, tapi dia makin teguh berdiri di tengah penganiayaan, di tengah cobaan di tengah dunia ini, itu tanda pertumbuhan ke rohanian kita. Sama kan kita juga waktu lahir kecil waktu bayi itu berdiri bisa nggak? Bayi lahir itu cuma bisa tidur, nanti belajar bertahun tahun, nanti bisa duduk. Itu butuh proses supaya tulang punggung nya itu tulangnya itu makin kuat. Dan bukan cuma duduk, nantipun dia bisa berdiri, berjalan dan seterusnya. Dan seperti itulah juga proses naturalnya di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Biarlah kita bukan menjadi orang Kristen yang masih bayi-bayi rohani, yang masih kekanak-kanakan, tua secara umur tapi kekanak kanakan secara mental-karakter. Tapi biarlah kita lihat apa artinya kita bertumbuh secara kerohanian, kita bisa teguh berdiri. Teguh berdiri itu adalah di tengah terpaan anda bisa tetap punya prinsip dan tidak berubah. Ada juga yang mengatakan ini adalah gambaran seperti tentara, tentara itu kalau berbaris berdiri, mungkin kalau kita pernah lihat terutama itu tentara Inggris, tentara di Inggris itu saya tahu nya dari film Mr. Bean sih, itu ya memang jadwalnya itu dia jaga sudah begini, nggak ngapangapain, nggak berkutik, stand, stand by. Itu seperti, sampai tiba waktunya sudah bunyi, prit, Oh sudah ganti shift-nya, baru dia jalan berbaris, itu stand firm, itu dia berdiri terus siaga seperti itu. Mungkin kita pikir, ngapain berdiri seperti itu? Bahwa itulah kesiagaan, dan keteguhan dia terus berdiri, karena memang itu posisi dia itu peranannya dia di sana. Dan berapa banyak dalam kehidupan kita, kita harus ingat kenapa kita belajar banyak tentang firman? Kenapa kita ada seperti kegiatan pembinaan iman yang berbagai macam seperti SPIK, seminar, maupun seperti NREC? Yaitu biarlah melalui makanan rohani itu, menumbuhkan tulang punggung kita untuk makin kuat supaya kita bisa teguh berdiri. dan kenyatannya, entah anda suka atau enggak, entah siap atau enggak, godaan dan terpaan dunia ini itu begitu keras. Dan berapa banyak kita sadar kita sebagai orang Kristen jangan kekanak-kanakan justru mau bisa kuat teguh berdiri dengan prinsip kebenaran firman yang ada dan bukan lagi seperti bayi bayi rohani. Dan itulah tandanya kita punya pertumbuhan, progres dalam kehidupan kita. Tidak langsung instan karena bayipun tidak lahir mendadak langsung berdiri, itu bayi monster mungkin, tapi secara bertahap kita akan makin lama makin teguh, makin teguh, makin teguh. Itulah artinya kita menjalani bertumbuh di dalam secara kerohanian kita, bertumbuh di dalam kehidupan kita mengikut Tuhan.

Dan yang kedua adalah, yaitu untuk kita punya one spirit, satu roh, kesatuan di dalam Roh Kudus. Di bagian sini, itu berbicara Roh Kudus mempersatukan dan memampukan orang Kristen untuk berdiri teguh. Jadi di sini kita makin teguh kenapa? Karena makin dipimpin oleh satu Roh itu, Roh Kudus itu yang memimpin kita, dan makin kita menyatu dengan Dia, makin sinkron mengikut Dia. Dan bicara bahasa sinkron itu selalu kita ingat ya bahwa kita yang mengikut Tuhan, bukan Tuhan yang mengikut kita. Kalau zaman saya dulu ketika kita mau nonton TV, zaman dulu belum ada cabel, adanya itu antena TV. Terus kita kan akan naik “O.. begini ni supaya  gambarnya jelas, O agak ini suaranya kurang jelas,” terus kita geser posisi antenanya baru bisa dapat sinyal nya dengan benar. Kita perhatikan nggak sih itu? Ketika ketemu sinyal dengan gambar jelas, itu tersinkron, synchronized gelombang. Dan selalu di dalam bagian itu kita mengingat, bukan TVRI-nya yang geser, kita yang geser menyesuaikan dengan gelombang saat itu. Dan itu artinya ketika mengikut Tuhan adakah kita belajar itu? Bukan Roh Kudus kita tarik ikut kita tapi kita belajar bertumbuh makin lama makin sinkron ikut Tuhan. Itu artinya kita bertumbuh makin setia ikut Dia. Banyak orang zaman sekarang, apalagi gereja-gereja yang mengaku punya Roh Kudus, semua kelimpahan karena karunia Roh Kudus , tapi makin menjalani kehidupannya justru bukan mencerminkan dia makin sinkron mengikuti Roh Kudus, tapi roh kudis makin mengikut dia. Kita lihat itu secara prinsip terbalik sama sekali, siapa mengikut siapa itu penting. Roh Kudus ikut kita, atau kita ikut Roh Kudus? Itu pertanyaan yang harus kita tahu. Apa itu Roh Kudus? Roh Kudus itu Siapa? Roh Kudus itu bukan pembantu kita, bukan alat kita untuk memberi kita kekayaan, kesehatan, semua yang kita mau, bukan, tapi Roh Kudus memampukan kita semakin sinkron mengikut Tuhan, semakin setia mengikut Dia. Dan ketika ada bagian-bagian dalam kehidupan kita, yang kita tahu tidak sesuai dengan prinsip firman, tidak sesuai dengan injil Kristus, Roh Kudus juga memampukan kita untuk bergeser, makin sinkron, makin sesuai dengan gelombang sorgawi. Itu artinya pertumbuhan rohani. Kalau kita menjelang akhir tahun seperti ini, kita mungkin bisa kadang refleksi, retrospektif, mundur melihat kebelakang, dalam setahun ini kita bertumbuh gimana, kita makin bertumbuh nggak? Kita dalam kehidupan ini ketika kadang memang, kalo cuma sehari-hari kita cukup sulit untuk melihat seperti apa kita bertumbuh, tapi kalo kita refleksi ke belakang, tarik setahun saja itu baru kita bisa intropeksi pikirkan, saya sungguh berubah nggak? Bertumbuh yaitu untuk semakin teguh nggak di dalam iman kita mengikut Tuhan? Dan semakin kita belajar ada bagian bagian dalam kehidupan kita yang makin justru in-tuned, makin sinkron dengan kehendak Bapa, itu artinya kita bertumbuh.

Dan yang ketiga adalah juga bertumbuh di dalam yaitu , ya dia pakai terjemahan Indonesia istilahnya itu “berjuang dan sehati sejiwa, berjuang untuk iman yang timbul dari berita injil.” Di sini dikatakan untuk kita, berjuang bersama-sama bukan untuk melawan satu sama lain, tapi melainkan dengan berjuang bersama-sama untuk iman yang timbul dari berita injil. Dalam kehidupan kita itu adakah kita bertumbuh juga di dalam bagian itu? Justru seorang yang semakin dewasa itu bisa semakin berjuang bersama dengan orang yang lain, kenapa? Karena demi iman yang timbul dari berita injili itu sendiri, yaitu kita berjuang bersama untuk melayani Tuhan. Di dalam bagian ini saya percaya dalam kehidupan kita , justru ketemu dalam pelayanan sering kali itu kan dalam konteks pelayanan apalagi gereja di situlah tempat kalo mau dibilang itu justru kalau kenyataannya paling banyak gesekan kan? Gesekan satu sama lain. Lho kenapa? Karena perbedaan karakter, perbedaan kebiasaan, atau perbedaan pendidikan, dan perbedaan-perbedaan lain. Tapi adakah justru orang  yang semakin bertumbuh itu bukan semakin dia “Ini saya berbeda, kalau gini saya tidak mau pelayanan,” justru meski ada perbedaan, meski ada slack satu sama lain, saya tetap mau bersehati bersama karena kita berjuang demi injil yang sama. Itu tanda orang dewasa. Kalo anak kecil ya apa-apa nggak dapat yang dia mau langsung ngambek kan? Ya memang anak kecil ya begitu ya. Kita sendiri punya anak yang masih kecil tetap kelakuannya begitu, walau kadang-kadang kita lihat di mall, ada anak sedang nangis, muter-muter depan pintu etalase toko, “Kenapa sih gak mau pulang?” “Mau itu, mau mobil itu, kalo nggak dapat mobil saya nggak mau pulang,” ya itu anak kecil, nggak dapat yang dia mau dia ngambek, tidak sesuai dengan keinginan dia, dia mundur.  Kalau bisa dia kekeuh di situ gak mau jalan. Tapi kalo orang dewasa ya nggak begitu, nggak dapat ya sudah, yah karena kehidupan seperti itu, ketika kita nggak dapat yang kita mau, ketika kita juga harus berbenturan dengan orang lain, sebagaimana Alkitab mengatakan itu, sebagaimana besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.

Di bagian ini kita lihat, meski kita bisa ada benturan dengan yang lain, kita lihat itu justru bentukan Tuhan membentuk kita untuk semakin mau berjuang bersama demi Injil itu sendiri. Pelayanan itu justru realitanya seperti itu. Bukan semuanya mulus, bukan semuanya glossy, apa ya, indah seperti itu; tapi justru ketika ada perselisihan yang ada, kalau kita masih mengingat khotbah saya beberapa yang lalu bahkan ada kelompok-kelompok yang kontra dengan Paulus, yang against Paulus, dia tetap berjuang demi Injil. Dan itu tidak mematahkan semangat dia, karena apa? Dia tetap fokus itu saya lihat, saya kerjakan pelayanan ini untuk siapa? Itu harus jelas dari awal. Kalau kita kerjakan untuk menyenangkan sesama atau menyenangkan diri kita, begitu ada benturan pasti kita mundur. Pasti kita mundur. Lho memang kita kerjakan pelayanan itu bukan melayani Tuhan kok, melayani kemauan kita. Tapi justru ketika ada gesekan terjadi, kembali lagi ya, kadang karena memang tak terhindarkan sih. Tiap orang itu ada keunikannya masing-masing, ada karakternya masing-masing, ada bentukannya masing-masing, ada historinya masing-masing. Orang itu unik, itu berarti akhirnya kita akan berbeda satu sama lain. Tapi ketika ada perbedaan itu, tetap nggak kita mau punya, yang penting kita berjuang demi Injil yang sama, kita tetap berjuang. Banyak orang itu cuma mau berjuang bersama itu bukan karena Injil yang sama, tapi justru karena sesuatu kesenangannya sendiri. Mungkin bisa perhatiin, ada masalah. Ya banyak orang itu mau berjuang bersama itu kalau sesuai dengan keinginannya, sesuai dengan kesenangannya. Tapi adakah kita bisa melihat, yang penting kita berjuang demi Injil itu, meski kita mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan dalam kehidupan ini, tetap kita kerjakan. Itu artinya kita tetap fokus kepada Dia dan berjuang demi Injil itu, bukan demi kepentingan kita.

Dan poin yang keempat, ini dari empat area ini, yang kembali pertama itu adalah berdiri teguh, yang kedua adalah bersatu, adanya satu roh, dipimpin oleh roh yang sama, Roh Kudus, dalam kita berjuang bersama-sama; dan “dengan tidak takut, tidak ditakutkan atau tidak ada digentarkan sedikit pun oleh lawanmu,” dalam terjemahan Indonesia. Di bagian sini ada bicara kita itu tidak takut menghadapi tantangan di depan. Istilah ini di dalam Bahasa Yunani, pturo itu adalah kata yang sama dipakai oleh seorang filsuf bernama Plutarch itu bicara kuda itu ketika ketakutan dalam peperangan, dia itu meringkik seperti itu, akhirnya tentara yang di atasnya itu jatuh dan akhirnya mati. Menarik ya istilah itu ya, jadi tentara berkuda, terus ketika kudanya itu ketakutan menghadapi peperangan dia meringkik seperti itu, tentaranya terjatuh kelempar dan akhirnya mati. Itu istilah pturo itu. Jadi, kudanya ketakutan seperti itu. Nah saya pikir ini menarik karena dipakai oleh Paulus di sini sehingga bicara maksudnya tidak ditakutkan adalah, maksudnya apa? Ingat ketika kita mundur, ketika kita takut, yang korban itu bukan cuma diri kita sendiri; sering kali itu kita justru menyeret juga orang sekitar kita. Berapa banyak kita sadar dalam kehidupan ini kita berperang, berjuang bersama-sama sebagai orang Kristen, dan bukan berjuang sendiri-sendiri. Dan kalau kita mundur, itu justru akan memengaruhi semua yang lainnya. Dan dalam kenyataan pelayanan sering kali juga gitu kan? Dalam pelayanan, ketika satu orang mundur, itu bisa mempengaruhi yang lain akhirnya juga ikut mundur, akhirnya ikut mundur. Sehingga berapa banyak kita pikirkan itu kita jangan digentarkan, jangan ditakutkan, pertama-tama tentu karena kita mengerjakan pelayanan itu bagi Tuhan, tapi karena kita sadar, kita sedang berjuang bersama? Ada suatu perasaan itu, sense ini peperangan bersama. Kita jangan mundur. Kita seperti tentara itu di depan, kembali lagi ini analogi yang masih bicara sebagai tentara, yaitu dia berdiri teguh di bawah satu roh yang sama, Roh Kudus tentu, dia berjuang bersama dan dia itu struggling together, berjuang bersama dan tidak takut menghadapi tantangan depan. Tentara itu ya, kalau dia berjuang, dia mundur, itu akan pengaruhi yang belakang-belakangnya. Kita tahu dalam peperangan itu kadang kalau dia mundur itu bisa, ya mungkin dalam tentara sebenarnya nggak ada pikiran gitu ya; dia tahu kalau dia mundur ini akan kalah. Bukan cuma dia thok menyelamatkan dirinya mundur, tapi akan membuat kekalahan dalam peperangan itu sendiri, seluruh batalion itu. Itu perasaan bersamanya, itu berjuang. Dan tentara itu kalau berjuang, mana sih orang kalau misalnya sudah posisi mau pegang senjata sini, “Eh sorry keinjak kakimu,” terus ngambek, “Ah pulang lah.” Nggak ya. Tentara itu nggak gitu. Tentara itu, oh iya maaf, sudah. Kita tetap fokus. Tetap fokus, karena kita tahu kita berjuang itu untuk siapa. Nah berapa banyak kita melihat kehidupan kita juga berjuang ke arah seperti itu, sehingga jangan lagi kita menjadi orang-orang yang sangat mudah kecut, tawar hati, ketika menghadapi peperangan di depan. Kembali lagi, dalam pelayanan kita, kita tidak selalu menghadapi situasi yang mulus dan baik. Kadang ada situasi yang memang tidak mengenakkan bahkan, atau sepertinya juga seperti nggak mungkin. Tapi biarlah kita tetap teguh kerjakan, karena kita tahu kita kerjakan ini yang terbaik bagi Tuhan. Terbaik bagi Tuhan. Bukan menyenangkan manusia, tapi bagi Tuhan saja. Dan karena itu biarlah kita tidak takut dan tidak mundur.

Poin berikutnya, yang keempat adalah bicara, menjadi ada dua tanda di dalam kalau mau dibilang, ayat 28b itu, “Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan,” dan yang kedua, “Tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah.” Dan di sini bicara dua tanda ini, tanda kehancuran dan tanda keselamatan. Jadi keempat hal ini ketika kita miliki, ketika itu bertumbuh dalam kehidupan kita, kita ngerti inilah tanda keselamatan itu. Kadang-kadang orang juga suka bertanya, oh pak bagaimana saya tahu saya ini orang pilihan atau nggak? Dari mana saya tahu? Jangan-jangan saya beribadah pada Tuhan, saya menyebut Tuhan, Tuhan, tapi seperti Matius 7 itu, “Bukan semua orang yang berseru padaKu ‘Tuhan, Tuhan,’ masuk ke dalam sorga”; nanti terakhir dibuang. Loh kalau mau yakin itu ya adakah kita mengalami pertumbuhan ini? Karena ini bicara secara fenomenanya, secara aspek kehidupan realita kita, konkret kita, adakah kita bertumbuh di sini? Dan kalau kita bertumbuh di bagian sini, itu artinya tanda keselamatan kita. Sebaliknya, orang yang menentang hal itu, itu menjadi tanda kehancuran mereka. Dalam pelayanan itu seperti itu. Kadang memang ada seperti irisan, ada orang yang bersama dengan kita melayani, bersama beribadah dengan kita, tapi kenyataannya nggak bertumbuh. Dari mana tahu bayi itu lahir selamat dan memang hidup? Ya contoh sederhana itu dia bertumbuh, iya kan? Kalau misalnya kita kunjungi ada bayi yang lahir terus oh bayinya ini dia cuma begini terus kita coba tuk gitu ya, cucuk gini, terus ibunya bilang, oh the baby is sleeping. Oh tidur ya? Nggak bisa ngapa-ngapain cuma begini. Oke. Bulan depan kita datang lagi, kita coba tuk gini dia diam aja gini, ibunya bilang, oh the baby is sleeping. Oke. Tiga bulan lagi kita datang dia tetap begini. Oh the baby is sleeping. Kita akan tanya, ini the baby is sleeping or dying sebenarnya? Karena kalau hidup, dia akan berespon. Kalau hidup, dia akan menunjukkan tanda-tanda kehidupan itu. Kalau hidup, dia tidak akan selamanya baik, tapi dia akan bertumbuh. Cepat atau lambat dia akan menunjukkan tanda pertumbuhan itu. Dan justru orang yang kelihatan seperti bayi rohani tapi terus bayi seperti itu, itu memang bukan bayi rohani, tapi memang masih mati secara rohani; belum mengalami kelahiran baru, belum sungguh-sungguh mengalami Kristus, belum sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, karena sebab itu dia tidak mungkin bisa hidup berpadanan dengan Injil Kristus itu sendiri.

Dan bagian ini berbicara ini juga menjadi bagian kita bisa mengoreksi dan introspeksi kehidupan kita sendiri, selama setahun ini, adakah kita pertumbuhan? Adakah kita bertumbuh semakin serupa Kristus? Adakah kita justru kedapatan semakin layak dengan Injil Kristus itu atau tidak? Dan itu bagian dari kita bergumul dalam kehidupan ini. Tapi mungkin ketika saya berbicara bagian ini kadang-kadang orang muncul suatu pertanyaan, “Tapi Pak, bagaimana caranya saya melakukan itu? Kayaknya sulit untuk melakukan seperti itu.” Pertama-tama tentu itu adalah semua anugerah Tuhan, dari karya Roh Kudus akan mampukan kita, tapi bagaimana di dalam praktik kehidupan kita. Saya pikir ini menarik ketika saya merenungkan bagian ini saya teringat ada pembahasan tentang habit, kebiasaan. Kalau tahu, kebiasaan orang itu ada yang bilang mengatakan, kebiasaan itu selalu ada start-nya, ada permulaannya. Tidak ada orang terlahir dengan suatu kebiasaan tertentu, ya selain kebiasaan berdosa mungkin. Tapi kebiasaan itu terbentuk dari tindakan dan mental yang berulang-ulang dan terus menerus. Kebiasaan itu bahkan seperti misalnya hari ini kita, ketika hari ini misalnya saya datang, saya pakai jas ini, ayo, saya masukkan tangan kanan dulu atau kiri, itu kan sudah kebiasaan langsung. Saya nggak pakai mikir, saya kanan dulu, kiri dulu, ya nggak. Itu kebiasaan. Nah itu dicatat kebiasaan, dan menarik dalam satu studi mengatakan bahwa 45% dari tindakan kita setiap harinya adalah mengikuti kebiasaan kita ketimbang suatu keputusan secara sadar. Nah ini saya pikir menarik. Dalam kehidupan kita itu kebiasaan itu ya kebiasaan. Dan 45% aktivitas kita sehari-hari ini justru diwarnai hal yang sudah biasa ketimbang kita mikir dulu. Dan saya pikir itu kadang makanya itulah bedanya orang yang kalau sudah mahir menyetir misalnya kendaraan dengan yang belum. Kalau yang belum itu masih pikir, eh pindah giginya gimana, atau ini seinnya bagaimana. Tapi kalau orang sudah biasa, dia jalan sambil seperti otomatis gitu. Kenapa? Karena sudah kebiasaan. Menarik Aristotle pernah mengatakan bahwa, we learn moral virtue primarily through habit and practice rather than through reasoning and instruction. Ya ini memang menarik pernyataan dari Aristotle bahwa kita belajar kebajikan moral itu terutama justru melalui praktik-praktik dan kebiasaan. Mempraktekkannya dan melalui kebiasaan daripada melalui instruksi dan diajar. Memang kita tidak harus 100% setuju dengan Aristotle tetapi ini bicara bahwa kehidupan kita, orang itu bisa karena biasa. Kita itu suka selalu lihat “Oh dia ini hebat, dia bisa gini, bisa gitu,” itu karena dia biasa melakukan itu. Dan memang ada buku The Power of Habit, kita bisa bahas di waktu yang lain, tapi ini menarik bahwa dalam kehidupan kita adakah kita membentuk suatu pola kebiasaan kehidupan Kristen, Christian habit dalam kehidupan kita. Saya pikir menarik, di dalam buku dari van Till, The Foundation of Christian Education, yang ditulis bersama dengan Berkhoff, yaitu dasar pendidikan Kristen. Di dalam pertumbuhan ketaatan itu dia bagi ada 3 fase, 3 tahap. Dia bilang pertumbuhan ketaatan itu pertama mulai dari ketaatan yang spontan, yang spontan dilakukan. Dia katakan di sini seperti waktu Yesus dicobai di padang gurun, Dia spontan langsung menjawabnya, Dia nggak pikir tapi langsung saja Dia spontan menjawab firman Tuhan berkata seperti ini. Itu adalah suatu bentuk spontanitas ketaatan, demikian kata van Till. Dan di sini kita selalu mengerti bahwa seluruh kebenaran Kristus itu memang dipenuhi dengan keinginan spontan untuk mengerjakan kehendak Allah. Jadi selalu muncul konteks baru Dia spontan taat. Kita harus ingat ya bahwa anda tidak perlu ragu dan sungkan untuk menolak dosa, spontan langsung tolak dosa ketika godaan itu datang karena dosapun tidak pernah ragu dan sungkan menolak anda. Jadi ketika godaan datang kita langsung spontan tolak, nggak usah pakai pikir, nggak usah menimbang-nimbang, nggak usah negosiasi; ini jelas dosa, kita tolak. Itu kita belajar spontanitas ketaatan.

Tapi lalu spontanitas ketaatan itu kemudian dilanjutkan, demikian kata van Till di dalam poin kedua itu bicara membbentuk suatu stabilitas, karena spontanitas tanpa stabilitas itu hanya spontanitas yang tanpa arah. Spontanitas itu harus berkait dengan stabilitas untuk kita terus lakukan itu. Orang percaya akhirnya makin lama menjadi semakin, dia pakai istilah self-determinate, kita jangan salah mengerti di sini bukan maksudnya itu menetapkan bagi dirinya sendiri, tapi dia sudah biasa dan mengembangkan kerangka dasar kehendaknya sehingga dalam menentukan keputusan penetapannya sesuai dengan rencana Allah. Kembali lagi ini bicara habit. Kita kalau sudah mulai belajar taat dulu. Sama seperti mungkin kita belajar dulu taat, kita sebagai orang Kristen kudu ibadah, OK kita spontanitas mulai datang ibadah. Tapi habis itu jangan on-off, kalau on-off tidak bisa terbentuk stabilitas ini, tapi stabilkan itu, rutinkan itu terus lama-lama jadi biasa. Lama-lama malah kalau kita bangun, wah hari ini ibadahnya nggak ada misalnya karena kita lagi di tempat lain kita malah heran kok nggak ibadah. Kalau sudah terbentuk stabilitasnya justru kita akan lebih mudah mentaatinya.

Dan akhirnya van Till yang ketiga itu dia katakan adanya peningkatan momentum pribadi. Jadi dari spontanitas ketaatan, ke stabilitas ketaatan, dan masuk ke momentum pribadi. Maksudnya apa? Karena dalam pertumbuhan kepribadian manusia, dalam dia meningkatkan spontan taatnya itu dia akan meningkatkan kekuatan dan kemampuannya untuk mewujudkan Kerajaan Allah sesuai dengan kapasitasnya itu. Mungkin saya pikir untuk memudahkan kita saya ilustrasinya seperti bayi. Bayi itukan dari dia lahir sehat itu kan dia akan spontan bergerak, spontan berdiri. Lalu mau belajar jalan. Mau berdiri eh jatuh lagi, nangis lagi, tapi terus dia coba lagi, coba lagi, coba lagi, sampai akhirnya lama-lama setelah itu dia bisa belajar duduk, belajar berdiri, belajar berjalan dan mulai melatih kestabilan langkahnya, Oh mulai stabil bisa jalan, itu seperti itu. Kembali lagi, dia mulai dari spontanitas gerak lalu dia membentuk kestabilan gerakannya dari stabilitas berjalan lalu apa? Bisa lari kan? Dan setelah dia bisa lari akhirnya dia latih, kalau dia latih sedemikian itu bisa sampai akhirnya dia menjadi pelari, pelari Olimpiade, itu menjadi momentum pribadinya. Kita jangan lupa semua peraih Olimpiade itu mulai dari spontanitas yang sederhana ini, mulai dari titik awal dibiasakan lakukan, akhirnya dia bisa mencapai momentum pribadi itu. Kita kadang suka langsung memimpikan momentum pribadi itu, mau dapat pialanya tapi tidak mau dari ketaatan perkara kecil ini. Kita mulai dari hal yang kecil, kita mau lakukan nggak? Kadang-kadang pemuda tanya, “Gimana ya Ko menggumulkan kehendak Tuhan?” Kamu mau belajar mentaati kehendak Tuhan yang secara umum nggak, mulai dari Alkitab, mulai dari itu dulu. Kalau yang basic ini kamu nggak bisa lakukan, jangan mimpi dapat piala di sana, jangan mimpi mencapai momentum pribadi seperti istilah van Till, kalau kamu tidak mulai dari spontanitas ketaatanmu yang berlanjut pada kestabilan. Tidak ada orang terlahir langsung bisa menjadi pelari Olimpiade, tapi orang yang melatih kehidupannya sedemikian, geraknya dan kestabilannya, baru bisa mencapai momentum pribadi ini. Dan dalam kehidupan kita, saya memikirkan, kehidupan kita di dunia ini hanya sementara, hanya satu kali saja dan kita akan masuk kepada penghakiman Tuhan, baik ada sukacita yang besar bagi setiap kita yang percaya pada Yesus Kristus yang sudah mati menebus dosa kita, yang kita rayakan kelahiranNya di Natal, maupun penghakiman bagi yang tidak percaya, bagi orang yang masih hidup dalam dosa. Tapi ketika kita menjalani semua ini biarlah kita mengingat kalau saya masih diberikan kehidupan sekarang, apa kehendak Tuhan yang saya harus kerjakan? Berapa banyak kita pikirkan dalam kehidupan kita? Dan kalau kita gumulkan kehendak Tuhan, mulailah dari ketaatan yang kecil itu. Kalau kita langgar ketaatan kecil, mulai dari hal yang biasa, kita tidak mungkin bisa kerjakan yang besar itu, karena memang nggak biasa, nggak biasa mengikut Tuhan, biasanya mengikut cuma keinginan diri. Tapi kalau kita belajar stabil mulai ikut Tuhan, belajar beribadah rutin kepada Dia, mulai belajar rutin untuk membaca firman Tuhan, rutin untuk berdoa, rutin di dalam persekutuan yang ada, dan kembali dalam bagian ini tentu kita lakukan secara bersama-sama sebagai satu Tubuh Kristus mengerjakan project pertumbuhan ketaatan ini, di situlah kita bisa mencapai apa rencana Tuhan, momentum Tuhan yang akan diberikan dalam waktuNya. Kehidupan kita ini demikian. Saya pikir ini bukan kebetulan memang, seperti tadi juga di awal diumumkan oleh liturgis, akhir-akhir ini memang banyak terjadi bencana, dan bencana yang terjadi itu memang sesuatu yang menyedihkan, sesuatu yang mengagetkan kita dan memilukan kita ketika kita melihat hal itu terjadi, tapi saya mengingat seperti Pendeta David Tong pernah mengatakan bahwa justru di tengah bencana yang terjadi itu justru mengingatkan kita betapa hidup itu rapuh dan memang hanya sementara, tapi bagaimana kita mengisinya, mempersiapkan sebelum tiba waktunya Tuhan bagi kita itu adalah tergantung mulai dari bagaimana kita belajar taat, spontanitas ketaatan, lanjut kepada stabilitas ketaatan, dan sampai momentum pribadi, ini dicapai dengan membentuk Christian habit, kebiasaan hidup orang Kristen. Ini menjadi life style kita yang baru untuk selalu berpikir bagi kemuliaan Kristus, bagi kemuliaan Tuhan, itu menjadi life style. Semangat orang bilang diet yang sementara itu tidak ngaruh hanya merubah sebentar tapi life style, pola makan sehat itu bisa membentuk orang itu tubuhnya sehat. Sama, kerohanian kita itu juga bukan dibentuk dengan satu cetusan-cetusan, “Oh retreat, Oh ada NREC kita langsung ikut,” kejar seperti itu, karena bukan dibentuk itu. Itu ada tapi kita lihat justru bagaimana sehari-harinya, bagaimana dalam rutinitas itu membentuk iman kita. Bukan cuma, “Oh saya sudah ikut NREC, saya sudah tahu semuanya, NREC saya sudah ikut dari bertahun-tahun yang lalu,” itu belum membentuk kebiasaannya itu. Orang kalau sudah terbiasa, “Oh NREC ya,” otomatis langsung ikut kan, tapi orang kalau belum terbiasa justru, “Oh saya sudah ikut Pak,” itu ya perbedaannya. Kalau orang sudah terbiasa, “Oh NREC, ya ikut.” Orang kalau sudah terbiasa, “Oh Minggu saya datang ibadah,” bukan bilang, “Oh saya sudah pernah dengar kok ibadahnya,” bukan seperti itu tapi dia harus stabil dan membentuk life style yang baru. Life style yang baru ini kita bentuk kenapa? Itulah artinya kita hidup berpadanan dengan Injil Kristus, sebagaimana Kristus sendiri yang sudah merendahkan diriNya dengan datang ke dunia yang berdosa ini untuk mencari kita, mati bahkan di kayu salib untuk keselamatan kita, yang kita rayakan kelahiranNya di dalam ibadah Natal. Biarlah kita melihat apa artinya Natal, Kristus dengan rela meninggalkan takhta-Nya di Sorga, mengunjungi kita, mencari kita yang hilang, agar kita juga membalasnya dengan berespon taat pada Dia, mengasihi Dia yang sudah lebih dulu mengasihi kita. Kiranya inilah yang kita pahami dan kiranya inilah yang terus kita renungkan ketika kita masuk di dalam bulan Natal seperti ini. Ketika kita bertemu satu sama lain dan mengucapkan selamat Natal, biarlah kita mengingat apa artinya Kristus itu yang sudah datang mencari kita dan kita responi dengan sujud menyembah pada Dia sebagaimana orang Majus menyembah pada Dia, sebagaimana para malaikat juga para gembala menyembah Dia. Kita nyatakan itu dalam ketaatan kita menyembah Dia, setia mengikut Dia sampai kita bertemu dengan Dia muka dengan muka.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *