Tanda Kesejatian Gereja, 14 Januari 2018

Mat. 16:13-20

Pdt. Agus Marjanto, M.Th.

Hari ini saya akan berbicara mengenai gereja yang sejati itu apa. Ketika kita bicara mengenai gereja, itu adalah bicara bukan mengenai gedungnya, bukan mengenai lokasinya, bukan mengenai sinode; tetapi ketika bicara mengenai gereja, yaitu bicara mengenai kita, mengenai community-nya, mengenai diri kita, mengenai Saudara dan saya. Alkitab mengajarkan kepada kita setiap kali firman itu dinyatakan, kadang firman itu adalah seperti pelita untuk menerangi jalan hidup kita, membuat kita mengerti dari pada sesuatu yang tadinya kita tidak mengerti; tetapi firman Tuhan itu juga merupakan sesuatu lampu, sesuatu sorot, sesuatu sorot matahari untuk membuat kita itu bukan mengerti saja sekitar kita, tapi kita mengerti arah. Tetapi di tempat yang lain Alkitab juga mengatakan firman Tuhan itu adalah seperti dari pada kaca, sehingga untuk membuat kita berefleksi. Ketika kita melihat, “Oh ada noda di sini,” ketika kita melihat ke kaca itu, “Oh rambut saya tidak beres, Oh ada kotoran di sini, Oh ternyata saya seperti ini.” Maka pada pagi hari ini, ketika kita bicara berkenaan dengan firman ini, maka biarlah hal pertama yang saya minta, Saudara-saudara jadikan ini menjadi satu refleksi Saudara-saudara, apakah benar-benar Saudara dan saya itu adalah orang Kristen yang sejati, dan apakah gereja kita itu, komunitas kita, Saudara dan saya itu benar-benar sejati seturut dengan apa yang Alkitab itu katakan?

Saudara-saudara, hari ini maka saya akan berbicara menekankan mengenai tanda kesejatian dari pada gereja, dari Matius 16. Tiga hal. Hal yang pertama adalah gereja yang sejati adalah gereja yang mampu, yang bisa melihat kemuliaan Kristus lebih dari apa pun saja. Saudara-saudara, gereja yang sejati adalah gereja yang bisa melihat dari pada kemuliaan Kristus melebihi dari pada apapun saja. Kalau Saudara dan saya tidak bisa melihat kemuliaan Kristus melebihi dari pada apa pun saja, Saudara masuk ke dalam ruangan ini berkali-kali, masuk dalam gereja, Saudara melayani, Saudara menjadi majelis, maka saya katakan kepada Saudara-saudara, Saudara tetap anak binasa. Saudara-saudara, gereja yang sejati melihat kemuliaan Kristus. Saudara-saudara, suatu hari maka Yesus Kristus mengajak dari pada seluruh murid-murid-Nya masuk ke daerah, satu daerah, daerah Kaisarea Filipi. Daerah itu adalah daerah yang luar biasa indahnya. Nah Saudara-saudara, Saudara perhatikan Yesus itu berbicara kapan, di tempat apa, pada waktu apa, itu Saudara-saudara akan menemukan konteks dan Saudara-saudara akan menemukan itu menjadi sesuatu keindahan tersendiri. Pada waktu, di mana Yesus itu berbicara, di satu daerah, di Kaisarea Filipi, itu daerah yang luar biasa indah, yang selalu akan didekisasikan bagi seluruh ilah-ilah atau seluruh pejabat-pejabat paling penting, raja-raja yang ada pada waktu itu karena keindahannya. Saudara-saudara, kalau ada satu daerah becek, satu daerah yang kumuh, maka tidak mungkin ada orang pejabat itu mau nama dari pada jalannya itu adalah namanya dia. Tapi kalau tempatnya itu indah luar biasa, maka pejabat yang tertinggi biasanya akan mengklaim, itu tempat kasih tempat saya, nama saya ada di sana. Itu adalah karena memang manusia berdosa selalu akan menginginkan segala sesuatu yang terbaik untuk dirinya. Di dalam Kejadian 4 maka salah satu tanda dari pada anak-anak kegelapan adalah self exaltation, meninggikan diri. Maka daerah Kaisarea Filipi itu pada waktu ribuan tahun sebelum Yesus itu ada di situ, maka itu adalah daerah yang didedikasikan, dipersembahkan untuk dewa Yunani-Pan. Lalu setelah Romawi masuk menjajah seluruh Israel maka kemudian daerah yang indah itu adalah diklaim oleh untuk 2 orang; pertama didedikasikan untuk Kaisar Agustus, yang kedua adalah didedikasikan untuk Herod Philip, Herodes Filip. Itulah sebabnya gabungan dua kata ini menjadi Kaisarea Filipi. Yesus sedang berdiri di satu tempat yang sebenarnya adalah ciptaan-Nya, tetapi didedikasikan untuk manusia.

Tetapi bukan itu saja, Yesus menyatakan itu pada waktu apa? Pada waktu seluruh dari pada popularitas-Nya itu mulai menurun tajam. Pada waktu pertama-tama Yesus itu melayani umur 30, dalam tahun pertama, tahun pertama koma 6 bulan maka itu menjadi satu pelayanan yang naik terus, naik terus, naik terus, naik terus, banyak orang terkesima dengan pengajaran-Nya. Banyak orang melihat karismanya, banyak orang melihat mujizatnya,“Oh aku ditolong, Oh ini Mesias.” Tetapi pada saat ini, adalah titik di mana popularitas Yesus turun terus. Orang mulai meninggalkan Dia, orang mulai tidak suka dengan Dia, orang mulai tidak punya satu kerinduan lagi untuk mencari Dia. Maka turun terus. Di saat seperti itu maka Yesus tanya pada para murid-Nya, menurut engkau, menurut seluruh dari pada orang-orang yang ada, menurut mereka, siapa Anak Manusia? Maka ada yang mengatakan, “Oh ada yang mengatakan Engkau Yohanes pembaptis,” karena Yohanes pembaptis sudah dipenggal. Maka ada orang mengatakan Yohanes pembaptis nanti akan bangkit lagi. Banyak orang yang mulai takut karena dulunya itu mereka adalah membenci Yohanes pembaptis. Ada orang mengatakan, Elia, karena Yesus kristus itu mengadakan mujizat. Elia itu berdoa maka mujizat ada api dari sorga itu turun dan menghanguskan 400 nabi Baal. Ada yang mengatakan “Engkau adalah Yeremia.” Kenapa Yeremia? Karena Yeremia adalah nabi yang meratap, nabi yang terus berdoa, berdoa, dan meratap. Yesus Kristus sering sekali menangis. Yesus sering sekali meratap. Yesus Kristus pernah Dia setelah berkhotbah maka Dia naik ke bukit dan kemudian melihat dari pada Yerusalem, dan kemudian Dia meratap, “Yerusalem, Yerusalem, betapa Aku rindu untuk mengumpulkan engkau seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya, tetapi siapa nabi yang tidak dibunuh oleh engkau?” Yesus terus meratap, meratap, meratap, itulah sebabnya orang mengatakan Dia Yeremia, Dia Yeremia. Setelah itu maka kemudian Yesus tanya, “Sekarang, menurut engkau, siapakah saya?”

Saudara-saudara perhatikan baik-baik, kalimat ini adalah kalimat personal, kalimat ini adalah kalimat yang harus Saudara jawab pribadi lepas pribadi. Dan Saudara tidak bisa lagi bicara menurut mama saya, menurut pendeta saya, menurut dari pada guru saya, menurut dari Pendeta Stephen Tong, menurut dari Pendeta Dawis, menurut ini, menurut ini, menurut ini. Tidak. Yesus tanya, “Menurut engkau, siapakah Aku?” Siapakah Anak Manusia? Maka kemudian Petrus mengatakan,“You are the Messiah, the Son of the living God.” Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Saudara-saudara, perhatikan baik-baik, kalimat ini melampaui seluruh nabi, kalimat ini melampaui seluruh raja, kalimat ini melampaui dari pada ilah dari pada Yunani-Pan. Saudara-saudara, kalimat ini adalah kalimat yang paling ultimate, tertinggi, yang bisa dinyatakan kepada manusia yang pernah kita lihat. Yesus melebihi dari pada seluruh manusia, Yesus melebihi dari pada kaisar, Yesus melebihi dari pada jenderal, Yesus melebihi dari pada ilah-ilah, ilah-ilah, ilah-ilah.Dan Saudara-saudara perhatikan, apa rahasia rohani dalam kalimat ini? Kalimat ini dinyatakan di saat dari pada Yesus Kristus terlihat seperti manusia yang tidak berdaya. Kalimat ini keluar di saat Yesus Kristus itu adalah berjalan-jalan di dalam debu tempat Israel. Kalimat ini keluar di saat dari pada Yesus Kristus itu adalah disalah mengerti sebagai manusia yang tidak ada gunanya. Saudara-saudara, ketika di dalam perendahan diri Kristus manusia bisa melihat kemuliaan-Nya, itu keselamatan. Sekali lagi, di dalam perendahan diri Kristus, lalu kemudian manusia bisa melihat kemuliaan-Nya, itu pasti keselamatan. Maka Yesus Kristus mengatakan, engkau harus tahu, Petrus, itu bukan dari padamu, itu karunia Bapa di sorga.

Suatu hari, seorang dari pada penjahat yang tadi di sebelah kiri dan kanan Yesus pada waktu di salib maka dua-duanya tadinya itu melawan Yesus. Dua-duanya mengolok-olok Yesus. Tetapi kemudian Roh Kudus bekerja. Begitu Roh Kudus bekerja pada salah satunya, dia lihat Yesus kemudian dia mengatakan, “Yesus, kasihani aku. Ingat aku jikalau Engkau datang sebagai raja.” Saya tanya, dari mana Dia bisa tahu itu? Dari mana dia bisa melihat kemuliaan Kristus di dalam perendahan-Nya? Saudara perhatikan seluruh Alkitab, setiap orang bisa melihat kemuliaan Kristus ketika di dalam perendahan-Nya itu adalah tanda kesejatian iman. Itu adalah tanda bahwa Allah itu berkasih karunia. Suatu hari Yohanes pembaptis itu mengatakan, “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Berarti menyatakan ini orang besarnya luar biasa. Saudara-saudara, dari mana dia bisa melihat kebesaran-Nya, padahal pada waktu itu Yesus Kristus itu rela untuk dibaptis oleh Yohanes pembaptis?

Sekarang saya akan jelaskan. Kalimat “You are the Messiah, the Son of the Living God” itu satu sebenarnya itu adalah satu kalimat terdiri dari dua jabatan. Dan dua hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Saya akan jelaskan, the Messiah. Messiah itu artinya apa? Messiah itu artinya diurapi, atau boleh dikatakan di dalam konteks Israel adalah pembebas, penyelamat. Maka Saudara-saudara, sekarang pertanyaannya adalah, kalau Yesus Kristus itu Juruselamat, Penyelamat, saya tanya, diselamatkan dari apa? Dan diselamatkan untuk apa? Sekarang Saudara-saudara, suatu hari R.C.Sproul, teolog Kristen yang luar biasa dipakai oleh Tuhan dan kemudian barusan meninggal, dia suatu hari itu sedang berjalan-jalan di satu tempat yang kemudian ada seorang penginjil yang baik. Orang anak muda mengabarkan injil. “Bapak, Bapak, apakah engkau sudah diselamatkan?” Lalu kemudian R.C.Sproul itu menengok ke tempat dia lalu kemudian dia tanya, “diselamatkan dari apa? Diselamatkan untuk apa?” Jadi Saudara-saudara, saya tanya apakah Saudara sudah diselamatkan, diselamatkan dari apa? Diselamatkan untuk apa?

Sekarang saya akan jelaskan. Diselamatkan dari apa? Dari dua hal. Pertama adalah kuasa dosa. Yang kedua adalah akibat dosa. Saya akan jelaskan. Diselamatkan dari apa? Dari kuasa dosa. Dosa itu bukan perbuatan “Aku mencuri”, “Aku berzinah”, “Aku nonton video porno” , “Aku memaki-maki”, “Aku membunuh”, itu bukan dosa. Itu adalah perbuatan dosa. Dosa itu bercokol di dalam hati. Hati berdosa maka setiap kalimat kita berdosa. Dari hati berdosa maka tangan kita berdosa. Hati berdosa maka mata kita berdosa. Hati berdosa maka telinga kita sangat peka dan sangat ingin untuk mendengar hal-hal yang dosa. Maka di dalam Kekristenan dosa tidak pernah diselesaikan dengan etika luar, dalam Kekristenan dosa selalu dibereskan di dalam hati. Nah, Saudara-saudara, maka dosa itu adalah kuasa yang mengikat, kuasa yang mengikat.

Saudara-saudara saya akan berikan satu contoh, ada satu jenis bunga namanya sundew, itu bunga punya lendir. Lendirnya itu sangat memikat lebah atau serangga yang lain. Kemudian lendir itu sangat lengket. Kalau Saudara perhatikan, maka kadang lebah itu datang dan menempelkan daripada seluruh kakinya ke tempat lendir itu, untuk kemudian dia mau hisap lendir itu. Tapi Saudara perhatikan ada sesuatu yang lucu, begitu dia tarik kakinya baru sadar kalau nggak bisa lepas; kemudian dia berusaha untuk lepas, dia bergerak sedemikian rupa, dia berusaha tetapi pada saat yang sama dia hirup lendir itu dengan nikmat. Dia berusahauntuk terus lepas, tapi terus untuk nikmati. Terus lepas tapi terus nikmati. Jadi ada sesuatu yang terjadi di dalam dirinya persis seperti Paulus mengatakan “Aku inginnya apa malah nggak keluarnya itu. Apa yang tidak aku inginkan malah itu yang aku lakukan.” Maka lebah ini terus seperti itu sampai akhirnya lendir itu menyelimuti seluruh dari dia punya badannya. Kepakkan sayapnya, dan terkena lagi lendir itu. Dan Saudara akan menemukan lebah itu akan begini [peragakan lemas], lalu kemudian lebah itu diam. Lendir itu mengikat dia semuanya. Tapi pada saat dia diam pun dia hirup terus, dia hirup terus.Mari kita jujur. Bukankah itu dosa? Bukankah itu setiap kita? Saudara tahu tapi nggak jijik, Saudara tahuitu mencelakakan, tapi tidak jijik. Saudara tahu itu mencelakakan tapi Saudara-saudara nikmati. Dosa itu kuasa yang mengikat. Itulah sebabnya Alkitab menjelaskan kepada kita, tidak mungkin pendidikan bisa membereskan dosa, tidak mungkin semua daripada usaha manusia, agama, membereskan dosa, karena dosa itu kuasa. Kalau dosa itu kuasa, yang bisa membereskan dosa yaitu kuasa yang lebih tinggi daripada kuasa dosa; dan itu adalah kuasa Kebangkitan Yesus Kristus. Kuasa harus dilawan dengan kuasa. Kuasa tidak bisa dilawan dengan pendidikan. Kuasa rohani tidak bisa dilawan dengan militer. Kuasa rohani tidak bisa dibereskan dengan, dengan agama.

Saudara-saudara, hal yang kedua adalah, Dia adalah Mesias yang diurapi, Pembebas, Penyelamat. Saudara diselamatkan dari apa? Yaitu diselamatkan dari akibat dosa. Akibat dosa adalah murka Allah. Alkitab mengatakan manusia yang sudah berdosa, maka dia akan mati. Mati itu artinya murka Allah timpa pada kita. Saudara-saudara, saya akan beritahu pada Saudara, ada satu hal yang menjadi masalah hidup Saudara dan saya. Masalah hidupSaudara dan saya bukan uang kita tidak punya, bukan kemiskinan, bukan penyakit difteri, bukan penyakit cancer. Masalah hidup manusia adalah Allah. Sekarang, masalah hidup manusia itu adalah Allah. Allah yang Suci itu siap untuk menerkam kita. Allah yang Suci itu siap untuk menghancurkan kita. Alkitab berkali-kali menyatakan hal itu. Tetapi perhatikan baik-baik, orang yang tidak diselamatkan tidak pernah akan mengerti kalimat ini. Tapi orang yang diselamatkan akan mengerti kalimat ini dan mengalaminya. Saya mau tanya kepada Saudara-saudara, jujur pada pagi hari ini, apakah engkau pernah ngeri, ngeri dengan Allah yang Suci itu? Musa itu ngeri. Yesaya itu mengatakan “Celaka aku.” Petrus itu mengatakan “Pergi daripadaku, aku pendosa, Tuhan.” Seluruh orang yang diselamatkan selalu sadar dirinya berdosa. Allah itu Suci dan aku dilawan oleh Allah. Aku mau dimatikan oleh Allah. Sepanjang hal tersebut tidak ada di dalam hidup kita, Saudara mau berkali-kali pergi ke gereja, itu bukan tanda kesejatian.

Saudara-saudara, kesejatian iman itu adalah sungguh-sungguh mengenal Allah. Sungguh-sungguh mengenal Allah, tahu diri siapa, sehingga tahu remuk. Banyak orang menjadi pemimpin gereja, itu tidak pernah mengalami hal ini. Dia punya uang dia bantu, dia punya uang dia bantu gereja. Dia punya pikiran bahwa “Yesus Juruselamat, Yesus Juruselamat,” tapi tidak pernah mengalami keselamatan. Dia cuma tahunya dari mimbar, dari orang lain, dari Pak Tong, dari Billy Graham, dari apa. “Oh, Yesus Juruselamat. Juruselamat,” Saudara-saudara, tapi tidak pernah ada pengalaman diselamatkan. Saudara lihat Petrus, punya pengalaman diselamatkan. Saudara-saudara lihat orang-orang yang dipakai luar biasa oleh Allah pada Perjanjian Lama dan Sejarah Gereja. Martin Luther itu merasa “Aku orang berdosa,” dia pergi ke sana, lalu kemudian baru sepuluh langkah balik lagi ke ruang pengakuan dosa: ” Aku orang berdosa.” Selalu, Saudara lihat ada satu ciri dari orang-orang yang diselamatkan yaitu selalu pernah punya pengalaman akan takut akan hadirat Allah, kebesaran Allah, kesucian Allah, yang melawan dirinya. Sejauh Saudara-saudara tidak punya pengalaman itu, harus dikatakan bahwa saudara-saudara – ini bukan dari saya, saudara lihatlah Alkitab – itu adalah Kekristenan yang palsu.

Saudara-saudara, gereja yang sejati itu, sekali lagi adalah melihat kemuliaan Kristus lebih dari apa pun saja. Petrus mengatakan “You are the Messiah” – tadi saya sudah jelaskan – tetapi di belakangnya ada kalimat “The Son of The Living God” – Allah Anak yang Hidup. Maka kalimat ini mengatakan bahwa Yesus Kristus yang di depanku ini adalah Allah oknum Kedua daripada Tritunggal yang datang ke dunia mengambil tubuh, darah, daging, yang sama dengan manusia; satu tubuh yang kelihatanberpeta teladan dosa tetapi Dia tidak berdosa. Tubuh yang bisa mati, tubuh yang bisa sakit. Tubuh yang bisa mati, tubuh yang bisa sakit, semuanya adalah tubuh yang sudah tercemar dari akibat dosa, tetapi Saudara-saudara, Dia sendiri tidak berdosa. Dia mengambil tubuh itu. Saudara-saudara ketika bicara mengenai The Son of The Living God, kita bicara berkenaan dengan bahwa Dia itu adalah sungguh-sungguh Allah. Allah oknum Kedua dari Tritunggal. Nah Saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang beyond– melampaui. Sekali lagi tadi saya katakan,Saudara-saudara, tidak mungkin mata manusia bisa mendefinisikan sesuatu yang melampaui. Tetapi Alkitab mengatakan “Berbahagialah engkau, karena itu bukan daripadamu.” Engkau tidak mungkin akan bisa mendapatkan dari pelajaran mana pun saja. “Kalau engkau sungguh-sungguh di dalam hatimu, bisa mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Allah oknum Kedua daripada Tritunggal, dari hatimu, keluar daripada mulutmu, maka itu adalah kerjaan dari Bapa, Petrus. Itu pekerjaan daripada Bapa.”

Nah Saudara-saudara, saya akan jelaskan di sini dalam aplikasi. Saudara, ketika konsep Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, ketika bicara berkenaan dengan pengakuan, ini adalah pengakuan iman Petrus. “You are The Messiah, The Son of The Living God” – pengakuan iman. Ketika bicara mengenai pengakuan, zaman itu berbeda dengan sekarang. Zaman itu ketika Alkitab mengatakan Petrus mengakui, itu artinya dari mulutnya, dari hatinya itu sama. Mulutnya dan pengalaman hidupnya itu sama. Saudara-saudara perhatikan apa yang saya katakan di sini. Saya tidak tanya Saudara mengakui Yesus Tuhan atau tidak, karena Saudara mengakui Yesus Tuhan atau Yesus bukan Tuhan itu tidak mengubah apa pun, Dia tetap Tuhan. Yang saya mau tanya adalah apakah Dia Tuhan di dalam hatimu? Apakah Dia Tuhan di dalam hatimu? Ketika bicara mengenai Tuhan, maka ketika kata ini muncul, itu artinya itu adalah Tuan, My Lord, My Master. Ketika bicara mengenai Tuhan, di dalam Alkitab, itu artinya adalah, artinya “Dia adalah Tuanku, aku adalah budak-Nya”. Saya tidak peduli apakah kita itu sudah bicara mengenai Yesus Tuhan atau tidak. Saya tanya di dalam hidup kita sehari-hari; seluruh pengambilan keputusan, apakah Dia Tuhan kita atau tidak? Terlalu banyak orang Kristen mengaku Yesus Tuhan, tetapi hidupnya adalah ateis praktis. Ateis praktis. Kalau pagi, nggak baca firman, mau ketemu sama Tuhan, adalah kalau ada masalah saja. Kalau Saudara-saudara mengambil keputusan-keputusan, seluruhnya, pikirannya adalah pertimbangan ekonomi, jalan paling pintas, dan kemudian Saudara mengatakan bahwa “Saya pergi ke Surga,” kita mimpi. Tidak pernah Alkitab mengatakan demikian. Saudara-saudara, boleh cek seluruh daripada perkataan saya. Saudara boleh cek seluruh buku-buku Reformed. Saudara cek daripada orang-orang Puritan. Zaman ini adalah zaman dari orang Injili itu sudah begitu menyederhanakan Alkitab sehingga apa yang tepat, apa yang dalam, itu sudah tidak ada, seluruhnya permukaan.

Saya musti mengatakan kepada Saudara-saudara sekalian. Saudara dan saya mengakui Yesus itu Tuhan atau tidak, itu tidak merubah apa pun saja, Dia tetap Tuhan. Tetapi pertanyaannya adalah di dalam pengambilan keputusan sehari-hari, di dalam arah hidupmu, apakah engkau dan saya, sungguh-sungguh takluk kepada Kristus atau tidak?Apakah Saudara dan saya pernah mengatakan, di dalam kerelaan, yang di dalam ketulusan, hanya untuk kemuliaan Tuhan, adalah, “Ya Tuhan, aku mau ini lalu daripadaku, tetapi jikalau tidak, biar kehendakMu saja yang jadi.” Kalimat itu, jikalau kalimat itu pernah Saudara dan saya lakukan, maka kita adalah tanda orang Kristen yang sejati. Tanpa ada sesuatu keinginan yang lain kecuali kehendak Allah itu jadi, nama Tuhan dipermuliakan, karena Dia adalah Tuan, dan kita itu adalah budak. Saudara-saudara, kalimat daripada Yesus Kristus di Taman Getsemani itu adalah kalimat daripada Kepala Gereja, dan seluruh daripada anggota tubuh di dalam Gereja tersebut akan bersuara dengan satu suara yang sama,“Your will be done, Lord. Thy will be done, not my will.” Saudara-saudara, C.S. Lewis mengatakan nanti ada 2 jenis manusia, satu adalah di dalam Sorga, kumpulan orang-orang Surga, dan satu kumpulan orang-orang di neraka. Dan C.S. Lewis mengatakan demikian, “apa yang terjadi di sorga? Di sorga ada seluruh kumpulan orang-orang itu, jutaan orang, puluhan juta, kita tidak tahu, maka jumlah orang yang begitu banyak itu, semuanya akan berseru kepada satu Pribadi, yaitu Allah, dengan terbungkuk dan mengatakan, “Your will, Thy will be done.” Itu adalah orang-orang di sorga. Dan orang-orang yang di neraka, seluruhnya dikumpulkan oleh Tuhan dan Tuhan mengatakan, “Your will be done” – engkau punya kehendak sudah jadi, kehendakmu yang jadi, dan bukan Kehendak-Ku, dan itu ada di neraka.”

Sekali lagi Saudara-saudara, jangan bermain-main menjadi orang Kristen, jangan bermain-main menjadi orang Reformed. Jangan Saudara-saudara terus pikir puluhan tahun Saudara ada di sini dan Saudara-saudara terus kemudian datang, Saudara-saudara aktif, maka Saudara-saudara memberi persembahan, Saudara-saudara memberi uang itu sama sekali tidak mengindikasikan apapun saja. Di dalam Alkitab dikatakan, “Engkau pikir, Aku perlu korbanmu, hai Israel? Engkau pikir bahwa Aku membutuhkan daripada kayu-kayu bakar? Bukankah seluruh kayu bakar Libanon Aku yang punya? Bukankah lembu sapi Israel Aku yang punya? Engkau pikir Aku perlu itu? Engkau harus tahu, yang terpenting dari semuanya bukan korban tetapi pengenalan akan Aku.” Saudara-saudara, Petrus itu menyatakan pengenalan akan Allah, “You are the Messiah, the Son of the Living God.”Yang pertama adalah melihat kemuliaan Kristus lebih dari apapun saja. Yang kedua adalah, gereja yang sejati adalah gereja yang ditentukan oleh Tuhan untuk berperang, yang ditentukan oleh Tuhan, diurapi oleh Tuhan, dipimpin oleh Tuhan untuk berperang. Gereja yang sejati, kalau itu sungguh-sungguh ada di dunia ini, maka selalu itu spirit-nya dalam seluruh pelayanan adalah spiritual warfare, adalah perang.. perang… perang.. perang.Setelah Petrus berkata, “Engkau adalah Anak Allah, Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup,” Yesus mengatakan, “Berbahagialah Simon, karena bukan kamu tetapi Bapa di sorga yang menyatakan doktrin yang benar”; kalau itu benar-benar dari hati keluar kepada mulut, itu doktrin yang benar, itu benar-benar anugerah. Saya sudah berkali-kali berkata kepada banyak orang. Ketika orang-orang itu mulai sedikit demi sedikit mengenal daripada doktrin Reformed, maka kemudian dia mengatakan, “Pak, indah ya doktrin Reformed?” Saya katakan pada dia, “Kamu harus tahu, doktrin, kamu bisa kenal doktrin yang benar, itu anugerah; engkau bisa ketemu gereja yang sejati, itu anugerah; engkau bisa ketemu hamba Tuhan yang sejati, itu anugerah; engkau bisa ketemu dengan Tuhan yang sejati, itu anugerah. Dan di antara seluruh banyak tuhan, kau bisa bertemu Yesus Kristus yang sejati, itu anugerah; dari seluruh pengajaran, kau bisa bertemu dengan teologia yang Reformed, yang sejati, itu anugerah; daripada seluruh gereja, engkau bisa ketemu dengan gereja yang sejati, itu anugerah. Banyak gereja ngawur, nggak karu-karuan, dididirkan dengan pikiran cuma uang, popularitas, dan menyenangkan manusia.” Saudara-saudara, maka seluruhnya anugrah, anugrah, anugrah, anugrah.

Setelah bicara seperti itu, maka Yesus mengatakan, “Aku akan membangun jemaat-Ku. I will build My church, gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya.” Wah ini sesuatu yang luar biasa menakutkan, menggentarkan. Saudara-saudara, kata “alam maut” itu bahasa aslinya adalah “pintu gerbang neraka(Hades).” Pintu gerbang, kalau Saudara-saudara pernah nonton film zaman peperangan kuno itu, Saudara-saudara, peperangan Yunani, Romawi, atau bangsa-bangsa yang Asyur atau Babel itu, Saudara-saudara lihat itu ada kota atau negara yang berkubu lalu kemudian ada pintu gerbangnya dan pintu gerbangnya itu selalu dibuat besar kokoh. Sehingga Saudara-saudara, kalau Saudara masuk di dalamnya, itu seakan-akan begitu kecil. Pintu gerbang itu berfungsi 2, pertama adalah begitu dibuka, maka seluruh daripada kekuatan kerajaan itu akan keluar. Saudara akan melihat kebesaran daripada pasukan itu; (suara terompet), lalu kemudian dibuka, buka pintu gerbang, langsung keluar pasukan-pasukan gagah berani, menakutkan, memakai perlengkapan senjata yang lengkap, memakai topeng, memakai perisai yang menakutkan, kuda yang paling hebat, kereta-kereta paling hebat, dan seluruh daripada amunisi, seluruh daripada persenjataan yang paling kuat, dikeluarkan karena mau berperang! Dan kemudian setelah perang, nanti terus kemudian, kalau sudah menang, diambil diseret, dijadikan tawanan, dimasukkan ke tempat kota itu melalui pintu gerbang, yang ditawan itu, dan pintu gerbang itu ditutup, dan tawanan itu akan disiksa sesuka-sukanya, dan tidak pernah akan keluar daripada pintu gerbang itu.

Saudara bisa bayangkan, murid-murid Yesus, itu adalah seorang nelayan, orang rendah, ada pemungut cukai, Matius misalnya seperti itu, dan orang-orang itu adalah orang-orang yang bahkan di tempat yang lain mereka mengatakan orang-orang ini tidak terpelajar, orang-orang ini orang-orang biasa, kelas menengah ke bawah, nggak ada yang menengah, mungkin, bawah! Dan mereka itu, pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib, mereka itu pergi. Petrus itu menyangkal Dia, yang mereka lainnya itu pergi, lari ketakutan, sembunyi. Nah Saudara-saudara, mereka tidak pernah bisa, tidak pernah berani untuk berbantah dengan siapapun saja. Sekarang tiba-tiba Yesus Kristus mengatakan, “Di atas pengakuan ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya.” “Oh, sebentar Tuhan, sebentar… saya ikut Engkau itu mau jadi orang baik saja. Saya ikut Engkau itu, pengen dengar firman saja, menikmati firman. Saya pengen lihat itu mukjizat demi mukjizat, Tuhan. Engkau katakan apa? Alam maut – Hades? Seluruh penguasa kerajaan angkasa, seluruh daripada setan itu, yang menguasai dunia itu, itu tidak bisa menguasai kami? Engkau langsung pertemukan kami, nelayan itu, dengan semua kuasa kegelapan itu? Tuhan, kita bicara ini sekarang! Saya tuh ketemu sama orang Farisi, itu saja takut. Saya ketemu sama orang itu saja, saya nggak berani. Nggak usah  bawa senjata, orang itu lho, cuma bantah-bantahan saja, saya ngumpet, Tuhan. Sekarang kenapa saya musti perang seperti ini? No.. no.. no.. no! You suruh saya menjala ikan, saya menjala ikan, tapi perang? Tidak! Bukan kami, kami tidak punya latihan mental perang, tidak pernah!” Tetapi ini destiny kita, ini “takdir” kita. Ini panggilan kita.

Saudara lihat, orang Kristen yang sungguh-sungguh, gereja yang sejati, pasti akan berapi-api. Gereja yang sejati, pasti, dia akan  tidak akan pernah tenang dengan segala sesuatu di sekitarnya, dia akan maju, menyatakan kebenaran, bahkan [jika] itu artinya adalah dilawan oleh sebegitu banyak orang di depan dia. Gereja yang sejati, adalah tidak pernah akan ada angin sepoi-sepoi. Gereja yang sejati ada api Roh Kudus, yang melawan daripada api-api kenajisan, kehinaan daripada dunia. Saudara perhatikan baik-baik, api dosa, api neraka, tidak pernah akan hilang dengan air. Api harus dilawan dengan api. Dan ini adalah panggilan Kristus kepada engkau dan saya. Engkau jangan pernah berpikir, engkau jadi orang Kristen, dari rumah kau pagi-pagi duduk di sini, mendengarkan khotbah bagus, kadang tulis-tulis, salam-salam, lalu kemudian kau pergi ke luar, makan-makan, terus kemudian kau pulang, kau tidak melakukan apapun saja, itu bukan gereja. Nah Saudara-saudara perhatikan, murid-murid itu cuma ngertinya adalah kota-kota itu saja, Betlehem, pergi ke Kapernaum ikut Yesus; lalu kemudian, Yesus memaksa mereka untuk melihat seluruh dunia, memaksa mereka melihat bukan saja yang terlihat, sesuatu yang tidak terlihat di langit, “alam maut tidak akan menguasai”. “Hah? Nanti dulu, saya pengen jadi orang Kristen baik-baik saja, saya nggak pingin yang lain. Ngurusin dagang saja saya sudah susah, ngurusin anak saya itu sekolah ke mana saja sudah pusing, ngurusin alam maut? Biar saja alam maut di sana.” Tapi Saudara tahu, kalau itu adalah gereja yang sejati, Saudara mau tidak mau dipaksa untuk berperang karena alam maut akan melawan kita. Maka dengan hal seperti ini, Saudara-saudara kalau tidak berlutut mencari wajah Tuhan, mencari kuasa Tuhan, mencari pertolongan Tuhan dan bersiap di dalam kerohanian, berperang, bagaimana mungkin kita bisa menang?

Saudara perhatikan di dalam Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, satu tema yang berkali-kali muncul adalah perang. Saudara, Abraham pernah perang, Ishak Yakub pernah perang, Yusuf pernah perang, Musa pernah perang, seluruhnya perang, perang, perang; dan banyak dari mereka perang fisik sungguhh-sungguh. Dan Saudara-saudara perhatikan, murid-murid Yesus itu pada ending-nya semuanya akan berperang, mereka tidak tahu bahwa apa yang ada di dalam mengikut Yesus itu adalah sesuatu peperangan yang dahsyat. Memang Efesus menyatakan itu adalah peperangan rohani, tetapi Saudara melihat murid-murid Yesus itu semuanya mati secara fisik, dibunuh satu persatu. Saudara harus tahu, kita ditentukan untuk perang, Saudara tidak ditentukan untuk menikmati khotbah, menikmati persekutuan.

Hal yang ketiga, Saudara-saudara, apa itu tanda gereja yang sejati? Gereja yang sejati tandanya adalah memiliki kunci Kerajaan Sorga. Tuhan memberikan kunci Kerajaan Sorga, “Apa yang kau ikat di dunia ini akan diikat di Sorga, dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di Sorga”; ini adalah suatu bentuk dari pada representatif. Gereja yang sejati adalah representatifnya Sorga. Saya suka sekali dengan satu kata “assembly of God,” itu sekarang dipakai menjadi satu nama gereja. Assembly of God atau sidangnya Allah, kalimat itu dipakai ketika seperti Allah itu mencari Abraham sebelum memusnahkan Sodom dan Gomora. Dan Allah bisa saja memusnahkan Sodom dan Gomora, itu adalah haknya Dia, kedaulatannya Dia; tetapi di dalam anugerah Allah yang berdaulat, sekali lagi, di dalam anugerah Allah yang berdaulat, Allah mengikut sertakan umat-Nya untuk memikirkan, untuk berbagian di dalam pelaksanaan dan keputusan. Maka sebelum menghabisi Sodom-Gomora, Dia seakan-akan memanggil Abraham di dalam sidangnya Allah dan mau mendengarkan apa yang ada di dalam hatinya Abraham. Saudara-saudara harus tetap ingat, bukan Abraham lebih cinta Sodom dan Gomora daripada Allah, jelas Allah lebih cinta Sodom dan Gomora daripada Abraham, tapi sekarang dikasih privilege, hak istimewa, Allah mengikut sertakan kita di dalam pekerjaan-Nya. Kita itu representasinya Allah, kita diundang di dalam assembly of God-nya Allah. “Apa yang engkau putuskan di dunia ini akan diputuskan di Sorga,” yang seharusnya adalah “yang di Sorga mutusin apa kita ngikut,” kan begitu? Tetapi tidak. Kalimat ini mau menyatakan bukan kehebatan dari gereja tetapi kalimat ini mau menyatakan signifikansi gereja di tengah-tengah dunia.

Dan apa arti dari “apa yang engkau lepaskan akan terlepas, apa yang engkau ikat akan terikat”? Itu ada 2. “Apa yang terlepas,” Saudara-saudara, saya akan bicara ini dilihat dari sudut pandang Puritan. Maka “apa yang terlepas akan dilepaskan,” itu adalah bicara berkenaan dengan penginjilan, mengabarkan injil. Gereja yang sejati itu adalah gereja yang berjuang untuk mengabarkan injil. Ketika bicara mengenai penginjilan, Saudara bukan ketika Pak Tong datang lalu kemudian Saudara-saudara mengumpulkan orang saja; tetapi ketika bicara mengenai penginjilan adalah Saudara musti bergerak untuk mendapatkan orang-orang, dikabarkan injil, kalau Saudara-saudara tidak sanggup untuk memberitakan injil, Saudara takut memberitakan injil, minimal Saudara bawa ke dalam gereja lokal. Saudara-saudara harus punya spirit mengabarkan injil, Saudara harus punya spirit untuk membagi-bagikan traktat, Saudara harus punya spirit untuk itu. Saudara-saudara, mengabarkan injil, pekabaran injil, adalah satu tanda dari pada kunci Kerajaan Sorga. Injil itu pembuka seluruh berkat Allah di Sorga bagi seseorang, jikalau itu tidak ada nggak mungkin bisa, karena injil adalah bicara mengenai Yesus Kristus. Saudara-saudara, Yesus Kristus pernah mengatakan, “Apart from Me you can do nothing,” itu artinya hanya di dalam Dia sajalah maka Saudara dan saya mendapatkan seluruh berkat-berkat Allah di Sorga, di dalam Kristus; dan Kristus itu adalah inti injil.

Hal yang lain,apa yang menjadi tanda gereja sejati dalam hal ini, kunci Kerajaan Sorga, yang pertama adalah pekabaran injil; yang kedua adalah ketika bicara mengenai “apa yang engkau lepaskan akan dilepas, apa yang engkau ikat akan diikat,” itu adalah bicara mengenai disiplin gereja. Gereja yang sejati adalah gereja yang melakukan disiplin gereja. Saat ini disiplin gereja sudah tidak terlalu umum, tetapi kita harus menjalankan disiplin gereja. Saudara-saudara, orang zaman sekarang kalau didisiplin dari gereja ini maka orang itu akan pindah ke gereja sampingnya dan bahkan mungkin menjadi majelis di sana. Saudara-saudara, karena gereja di satu lorong ini begitu banyak; tetapi pada zaman itu ketika bicara mengenai dikeluarkan dari gereja itu sungguh-sungguh sangat menakutkan, tetapi saya tidak mau bicara berkenaan dengan organisasi, administrasi, ataupun cara, saya akan bicara mengenai sesuatu yang lebih dalam daripada itu. Apa inti disiplin gereja? Mengapa gereja harus mendisiplin dari pada hamba Tuhan atau jemaatnya, seluruh dari pada kita? Adalah karena prinsipnya adalah kesucian Allah ditegakkan. Gereja yang sejati adalah gereja yang menghargai kesucian Allah. Sekali lagi, kalau saya berbicara mengenai gereja, saya bukan berbicara mengenai sinode gereja; saya berbicara mengenai Gereja di tempat ini, yaitu Saudara sekalian, komunitas, dan itu adalah bicara berkenaan dengan kita. Kalau komunitas kita menghargai kesucian Allah, itu artinya pribadi lepas pribadi dari pada kita menghargai kesucian Allah.

Saudara-saudara, kesucian Allah, kesucian Allah; kesucian Allah harus ditegakkan di dalam gereja, kesucian Allah harus ditegakkan di dalam hidup kita masing-masing. Saya akan akhiri ini. Ketika saya berbicara berkenaan dengan kesucian Allah, kita selalu berpikir, “Oh artinya saya tidak boleh lakukan ini, nggak boleh lakukan itu, dosa ini, dosa itu,” tentu betul, karena berbicara berkenaan relasi dengan Allah itu adalah sesuatu yang sifatnya kita musti menghindari kejahatan. Tetapi yang saya mau bicarakan pada pagi hari ini adalah satu saja yang ini terlebih dahulu; ketika bicara mengenai kesucian Allah, Allah yang suci, “Bapa kami yang di Sorga, dikuduskanlah, disucikanlah nama-Mu.” Kata “suci” di dalam bahasa aslinya itu artinya adalah set-apart, dipisahkan, memiliki tempat tersendiri, tempat yang tidak bisa disaingi dengan apapun saja, tempat yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun saja. Allah melihat Israel dan megatakan, “Engkau adalah umat yang suci; engkau adalah umat-Ku yang kudus,” apakah di dalam seluruh dari pada orang-orang Israel tidak ada berdosa? Ada dosa; bahkan Musa pun berdosa. Apakah Israel tidak ada kesalahan-kesalahan? Banyak kesalahan, saking banyaknya Allah itu sampai murka luar biasa, tetapi tetap mereka adalah umat yang kudus. Apa maksudnya itu? Adalah Aku pisahkan engkau tersendiri, di hadapan-Ku engkau tidak bisa dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Suatu hari Allah mengatakan, “Engkau coba pikir, hai Israel; coba lihat, hai Israel, mana ada umat yang seperti engkau diantara seluruh bangsa. Allahnya, Yahweh; dan engkau itu dipilih oleh Allah, engkau disertai, dilindungi oleh Allah. Engkau itu kecil, tidak besar, hai Israel, tidak ada satu elemen dari pada dirimu sendiri yang membuat engkau itu memiliki tempat yang khusus di hati Allah.” Ketika Israel itu dikatakan “umat yang kudus” itu artinya di hatinya Allah dia tidak sama dengan bangsa lain, dia memiliki tempat tersendiri; Allah itu mata-Nya memperhatikan dia, kaki-Nya menuntun mereka, tangan-Nya itu mengurapi mereka, sehingga meskipun mereka kecil mereka bisa menang terhadap bangsa yang terbesar sekalipun.

Arti dari pada kesucian adalah Aku pisahkan engkau di dalam hati-Ku. Saudara-saudara, disiplin gereja maka itu dasarnya adalah kesucian Allah. Dan ketika saya berbicara mengenai kesucian Allah, saya tidak sedang berbicara mengenai perbuatan; ketika saya berbicara mengenai kesucian Allah, saya hanya mau tanya satu hal ini dan coba mau pastikan satu hal ini dalam diri Saudara-saudara: apakah Allah, di dalam Yesus Kristus, sungguh-sungguh memiliki tempat tersendiri di dalam hatimu yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun saja? Apakah engkau menguduskan Dia, engkau membuat Dia set-apart pada posisi-Nya tersendiri, tidak ada yang bisa menyaingi, keluargamu tidak, uangmu tidak, benda-benda kesayanganmu tidak, apapun saja tidak; apakah engkau sudah pernah menentukan di dalam hidupmu bahwa Dia adalah memiliki tempat tersendiri yang tidak pernah bisa dibandingkan dengan apapun saja? Bapa kami di Sorga dikuduskanlah nama-Mu, Engkau memiliki tempat tersendiri dibandingkan seluruh ilah, Engkau tersendiri dan Engkau tidak pernah bisa dibandingkan.

Biarlah firman Tuhan pada pagi hari ini boleh menjadi seperti cermin, Saudara memandang, Saudara merefleksikan diri Saudara, apakah Saudara sungguh-sungguh sejati? Sungguhkah Saudara sejati? Sungguhkah kita sejati? Pertama, apakah sungguh-sungguh kita pernah melihat kemuliaan Kristus lebih daripada apapun saja? Kedua, apakah Roh-Nya itu mendorong kita untuk berperang, adakah Roh-Nya itu di dalam hati kita? Ketiga, apakah kita itu sungguh-sungguh menjadi wakilnya Allah, mengabarkan injil, dan memiliki hati yang di dalamnya ada tempat tersendiri bagi Allah yang tidak bisa dibandingkan dengan yang lain? Kiranya setiap dari pada kita memeriksa diri kita dan berani terbuka di hadapan Allah. Mari kita tundukkan kepala.

Tuhan, kami sekali lagi mengucap syukur untuk seluruh firman-Mu yang tertera di dalam Matius pasal 16 ini. Kiranya Engkau sendiri yang terus membuat kami untuk mengintrospeksi diri, dari hamba-Mu sampai semua orang yang mendengarkan. Kami sungguh-sungguh meminta belas kasihan-Mu. Jadikan kami orang Kristen yang sejati, Gereja yang sejati. Jangan membuat kami itu ditipu oleh Setan sehingga kami berpikir kami sejati tetapi sebenarnya tidak. Kami sungguh minta belas kasihan-Mu. Berkati gereja-Mu di tempat ini, MRII Jogja, dan tambah-tambahkan orang datang berkumpul lebih banyak agar mereka semua boleh bertumbuh bersama dengan kami, semakin mengenal Engkau. Terima kasih Bapa di Sorga. Terima kasih untuk pertolongan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan kami minta belas kasihan-Mu. Amin.

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *