Sukacita Pelayanan, 6 September 2020

Flp. 4:4-5

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Di dalam bagian ini kita menemukan ada suatu ungkapan ya yang diulang-ulang makanya saya sudah katakan sebelumnya, surat ini kita kenal oleh banyak yang para komentator juga mengatakan ini adalah suatu surat sukacita. Surat dari Paulus yang dituliskan di dalam penjara namun dikenal sebagai surat sukacita. Dia mendorong jemaat dan berkali-kali untuk bersukacita ya. Sukacita seperti apakah yang dimaksud di sini? Menarik ya kalau kita melihat di bagian ini, mungkin saya lihat dari saya mengingatkan kita kembali melihat secara strukturnya di dalam secara umum dari surat-surat Paulus, dia selalu mulai dari indikatif baru ke imperatif gitu ya. Jadi mulai dari apa yang harus kita percaya, atau sebenarnya di dalam istilah Reformed tentu apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita, apa yang Tuhan nyatakan, apa yang menjadi dasar iman kita, lalu kemudian apa yang harus kita lakukan dalam kita meresponi kebenaran firman itu. Dan kita kalau sudah masuk di pasal 4 ini kita melihat masuk ke bagian area itu ya, imperatif ya, perintah-perintahnya di dalam bagian itu. Dan di bagian ini kita melihat ada kesinambungan di sini. Karena itulah kita mengerti di dalam pengakuan iman kita, Pengakuan Iman Westmister itu menegaskan bahwa memang kita diselamatkan oleh iman dan hanya iman saja tapi iman itu sendiri bukan iman yang sendiri dalam artian adalah itu bukan cuma iman dalam pengertian cuma statement ya, cuma pengakuan, hafalan oh saya hafal ya, kalau seperti nanti selesai khotbah oh saya sudah hafal Pengakuan Iman Rasuli, tapi itu adalah iman yang hidup yang akan menghasilkan perbuatan-perbuatan. Itu di bagian situ. Di bagian sini tentu mungkin kita akan bilang lalu kenapa kita harus ribet gitu ya ngomong kalau begitu kan ada kaitannya iman dan perbuatan? Tapi kita mengerti kalau kita diselamatkan itu bukan berdasarkan perbuatan kita. Karena kalau berdasarkan perbuatan kita maka berarti ada barometernya, kamu harus mencapai mungkin kalau pakai istilah itu KKM gitu ya, nilai minimum kamu mencapai perbuatan sekian lalu kamu selamat. Tidak, tidak demikian. Karena kita mengerti itu sudah digenapi Kristus dengan sempurna, genap di atas kayu salib. Kristus mengatakan, “Genaplah, tetelestai.” Bukan, “Sudah setengah jalan sisanya kamu kerjakan,” seperti itu. Tapi sudah genap dan karena itu kita mengerti apa yang kita imani itu adalah suatu yang berdasarkan bukan kekuatan iman kita sendiri tapi karena apa yang kita percaya, apa yang sudah Kristus lakukan dalam kehidupan, lalu kemudian setelah dari apa yang dari kita imani itu berlanjut kepada kehidupan, dalam Christan life kalau yang apa yang biasa dikatakan Calvin.

Karena itulah menarik sebenarnya di dalam theologi Calvin gitu ya biasa kita mengerti Calvin itu sangat mendalam, dia memulai di dalam bukunya itu mengenal Allah mengenal manusia. Orang di dalam dia mengenal Allah semakin bertumbuh mengenal Allah maka dia semakin mengenal diri. Tahu diri mungkin kalau mau pakai kasarnya gitu ya, makin mengenal diri dia siapa. Yaitu Allahlah yang Mahatahu, saya tidak maha tahu, Allah itu yang Mahakuasa, saya tidak maha kuasa, Allah itu yang berdaulat, dan saya ini takluk belajar bertanggungjawab menaati perintah-Nya. Bukan saya yang harus menjalankan kedaulatan itu karena kedaulatan itu di dalam Allah dan seterusnya. Jadi mengenal Allah mengenal diri, dan ketika kita bertumbuh dalam pengenalan diri yang benar, kita baru juga bisa mengenal Allah dengan benar juga. Jadi itu ada saling interrelated gitu ya, saling berkaitan, dan biasanya kita lihat wah itu sangat mendalam gitu ya dalam pengertian-pengertian, pemaparannya dan seterusnya. Tapi menarik di dalam pemaparan bahkan yang kalau mau dibilang sangat akademis itu yang bahkan sampai sekarang semua para pelajar ahli-ahli Alkitab thelog itu ya, baik yang senang dengan Calvin ataupun yang against Calvin, tidak bisa menyangkali kontribusi besar di dalam tulisan-tulisan Calvin karena pembahasan yang begitu mendalam. Namun Calvin itu selalu mengingatkan oh semua pembahasan ini bukan cuma sekedar akademik gitu. Ini pembahasan bukan cuma sekedar informasi, bukan cuma sekedar kamu bertumbuh secara knowledge, tapi apa semua pembahasan ini akan membawa kamu kepada piety, kepada suatu kesalehan hidup, kepada Christian life. Sehingga di sini yang kita kadang-kadang mungkin meleset gitu ya, atau gagal mengerti Calvin yaitu semua pembahasan ini itu bukan cuma menjadi ide yang mengawang, abstraksi seperti itu, tapi itu mengacu membawa kita kepada true Christian life, kepada suatu pietas itu, kesalehan hidup. Dan itu diarahkan Calvin. Jadi kalau mau dibilang sederhananya di sini gitu ya, kalau kita bertumbuh semakin mengenal Allah semakin mengenal diri tidak membawa kita kepada suatu Christian life yang bertumbuh, kalau mau dibilang seperti itu, itu ada something wrong di sini ya. Ada yang salah di sini. Ketika orang boleh hafal atau bahkan menjelaskan doktrinnya Calvin dengan sangat baik tapi dia tidak mengarahkan itu kayak kaitan secara kehidupannya personal, dia dalam kehidupannya dan kehidupan kesalehannya yang menjadi saleh gitu ya, itu menjadi akhirnya terjebak cuma di dalam tatanan knowledge gitu, pengetahuan, atau kalau mau pakai istilah lain di mana Gordon Fee mengatakan bahwa bagian sini kita mengerti karena tanpa kesalehan hidup, akhirnya semua pembahasan ini cuma sekedar agama bukan suatu devosi.

Apa sih bedanya di sini ya? Apa bedanya kita bisa paparkan oh agama ini aturannya gini, saya harus mentaati perintah-perintah tuan di sini. Tapi kemudian kalau kita kaitkan kepada devosi itu ada kaitan relasi kita dengan Tuhan karena bukan cuma sekedar masalah saya tahu hal ini dan hal itu, namun bagaimana semua kebenaran itu mendorong saya mendedikasikan hidup saya pada Tuhan. Bahwa Dia sudah begitu baik, begitu mengasihi kita, dan di bagian sini sebenarnya orang yang saleh gitu ya, orang yang benar-benar memiliki kesalehan yang sejati itu benar-benar merindukan kehadiran Tuhan, hadirat Tuhan itu di mana dia menyatakan isi hati dia dalam sukacita, dalam doa, dan di dalam ucapan syukur demikian kata Gordon Fee dan di bagian sinilah dia, dasar inilah dia menjalankan menaati perintah Tuhan itu. Jadi ada korelasi yang berkait dan itu adalah relasi organik. Relasi yang mendalam, semakin kita mengenal Allah semakin itu mengubahkan kita gitu ya. Semakin menumbuhkan dalam kehidupan kita iya. Saya tidak sangkali bahwa kadang ada gap antara apa yang kita tahu dan apa yang kita lakukan itu memang sangat disayangkan. Namun kalau gap-nya itu terlalu jauh ya jangan-jangan kita ini cuma sekedar masalah knowledge aja sih, cuma masalah pengetahuan kognitif saja gitu. Cuma masalah kayaknya kita tahu oh Tuhan itu begini, begini, rumusan, rumusan, rumusan yang mendalam, tanpa ada kaitan dengan kehidupan kita.

Kita jangan lupa ya misalnya kita bisa menjelaskan apa yang Kristus lakukan dan semuanya dan kita bisa percaya itu, kita jangan lupa bahwa ada banyak orang di dunia ini dan bahkan di waktu yang lampau itu juga bisa memaparkan dengan jelas Yesus itu siapa tanpa punya iman kepada Kristus itu sendiri ya. Dalam satu artian kalau saya bisa katakan itu jangan lupa ya kalau kita cuma bilang, “O saya percaya Yesus itu ada, Dia melakukan ini, Dia mati di kayu salib,” dan seterusnya, orang yang sezaman dengan Yesus, orang-orang Yahudi yang tidak jadi Kristen itu kalau saya mau pakai istilah itu, itu juga bisa menjelaskan dengan persis sama lho. Bahkan kalau kita mungkin ya tangkap orang Yahudi yang sezaman dengan Yesus, “Ayo sangkal bahwa Yesus itu tidak disalib!” Gitu, dia bilang, “Saya masalahnya saya lihat sendiri Yesus itu disalib. Itu fakta. Saya nonton kok. Saya teriakin salibkan Dia! Salibkan Dia!” gitu ya. Jadi itupun fakta kebenaran bagi dia. Ya mungkin bagi kita dalam dunia modern mungkin masih bergumul benar-benar Dia disalib dan seterusnya atau nggak. Tapi itu adalah fakta yang dipunyai oleh orang-orang sezaman dengan Tuhan Yesus dan banyak orang-orang lainnya, tapi bedanya adalah mereka tidak beriman kepada Kristus itu sendiri. Mereka tahu faktanya, tahu sejarahnya, saksi mata kok, tapi mereka tidak beriman kepada Dia. Tidak mendevosikan hidupnya kepada Kristus itu sendiri. Dan itulah permasalahannya ya. Sebagaimana saya pernah bahas di sudah di tahun-tahun yang lalu, tahun lalu mungkin dua tahun lalu ya saya lupa kapan, bagaimanapun kita jangan lupa setan itu tahu lho Tuhan itu ada dan ‘dia gentar’ demikian dicatat di dalam Kitab Yakobus. Setan itu tahu Allah itu ada dan dia gemetar menghadapi itu. Namun yang membedakan dengan kita adalah ya tidak ada devosinya. Yang membedakan dengan orang percaya adalah dia tahu Tuhan ada, bahkan doktrinnya itu bisa sangat mendalam, namun tidak pernah dia mendevosikan dirinya kepada Allah.

Kembali lagi saya ingatkan di dalam salah satu kelas yang saya ikuti dari Professor Peter Lillback dia mengatakan theolog terbesar itu menurut kamu siapa? Dan kita bisa menebak mungkin si ini, mungkin Calvin, mungkin Agustinus, mungkin Luther dan seterusnya. Tapi dia menjawab dengan sederhana theolog terbesar itu adalah setan itu sendiri. Di bagian ini tentu bukan bermaksud lalu kita pikir kalau kita semakin belajar doktrin makin mirip setan gitu ya, saya berharap Bapak, Ibu di sini tidak seperti itu, tapi kalau kita cuma sekedar apa ya mengakumulatifkan data informasi ya siapa theolog paling pintar, paling ahli, ya paling ahli setan dong. Karena dia yang tahu sejarah dari awal dan sampai sekarang dan datanya lengkap. Lengkapnya kap kap kap lengkap. Bagaimanapun kita ndak bisa sangkali Alkitab kita bukan ensiklopedia. Ada banyak data-data lain tidak tertulis, ada hal-hal yang secara oral, secara lisan itu ndak tertulis, kita nggak tahu dan seterusnya, tapi setan itu tahu lengkap persis. Kita ndak punya manuskrip asli lho dalam teks Alkitab kita. Tapi setan itu tahu. Paling pertama itu Paulus tulis kayak apa, Musa tulis seperti apa, dan respon jemaatnya seperti apa dia tahu persis. Perkembangannya dan begitu juga penyimpanannya dan seterusnya dia tahu persis. Tapi dia ndak menjadi percaya Tuhan, dia ndak menjadi mendevosikan dirinya kepada Tuhan. Dan di bagian sinilah kita harusnya kalau kita mengerti bagian ini dan dengan gentar melihat seperti apakah kehidupan Kristen itu, itu sangat penting di sini dalam kehidupan kita untuk kita terus gumulkan, renungkan, dan karena itu tidak pernah habis.

Kadang-kadang saya nggak mengerti ya, kadang-kadang orang datang ke GRII lalu dengar suatu khotbah atau ikut PA (Pendalaman Alkitab) terus nanti awalnya ngomongnya bisa selesai itu gimana dapat apa? “Ah udah tahu.” Gitu ya. Udah tahu gitu ya. Maksudnya apa? “Ya nothing’s new. Tidak ada suatu pembahasan yang baru,” mungkin seperti itu. Iya kadang memang kita juga perlu insight yang baru tapi jangan lupa ya kita datang ke gereja itu bukan cari insight. Kita ikut PA itu bukan cuma sekedar cari insight yang baru, oh ada terminologi baru, penjelasan yang baru, ide-ide baru, bukan sekedar itu. Tapi kita datang itu bukan hanya untuk menambah informasi tapi mau mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita. Bagaimanapun di dalam bagian ini kalau kita mengingat di dalam bagian dari Surat Paulus ini katakan, “Iman timbul dari pendengaran, pendengaran akan firman Tuhan.” Yaitu kita mau mendengarkan firman dan itu berbeda dengan membaca firman kalau mau agak kontras di sini ya. Kalau kita membaca itu kita yang subjek. Saya baca teksnya ini tapi kapan kita dibaca? Itu kita berada dalam posisi objek. Kapan kita mendengar dan posisi mendengar itu ya kita posisi sebagai objek yang mendengarkan Dia berbicara. Dan di bagian ini tentu pengertiannya bukan masalah pengkhotbanya siapa, kita dengar siapa ya, tapi terutama kita mengerti melalui hamba Tuhan berkhotbah itu ada Roh Kudus yang berbicara pada kita, yang berbicara dalam hati kita, dan menerjemahkan dalam konteks kehidupan kita masing-masing dan itulah yang kita rindukan. Luther mengatakan itu bahwa, “Setiap kali saya membaca, saya rindu untuk mendengar bukan untuk saya membaca.” Bukan hanya untuk saya baca, saya tahu, sudah hafal ini dan itu, tapi saya mendengarkan nggak suara Tuhan di dalam pembacaan firman itu? Saya sungguh mendengarkan nggak di dalam khotbah itu, di dalam pemaparan firman itu Tuhan berbicara kepada saya? Dan di bagian itulah kita bertumbuh iman kita itu di sana. Kalau kita mau kontraskan dengan sekedar membaca di mana kita yang menjadi subjek.

Lebih lanjut di dalam bagian ini menarik ketika kita menangkap meaning dan secara struktur Surat Paulus dan masuk di dalam banyak pengajaran perintah dan biasanya kita mengerti tentunya biasanya  akhirnya ini aspek sanctification di dalam pengudusan kita yang berproses, maka biasanya kita mengerti pengudusan itu apa sih?  “Oh kita makin kudus secara moral.” Betul itu ada bagian itu. “Oh kita menaati perintah-perintah Tuhan, oh 10 hukum.” Betul ada bagian situ. “Kita bertumbuh dalam berbagai aspek.” Iya itu ada, saya juga pernah singgung bahas itu di beberapa kesempatan yang lain. Tapi menarik di dalam bagian ini Paulus memberikan suatu perintah yang unik, yaitu dia memerintahkan kita untuk bersukacita. Ini adalah bagian yang unik, Bapak, Ibu, Saudara sekalian karena biasanya kita berpikir bersukacita itu bukan sesuatu yang diperintahkan, itu sesuatu yang spontan. Suatu yang instan yang keluar dari dalam hati gitu ya, tidak bisa diperintahkan gitu ya. Kecuali kita masuk dalam pemikiran, mungkin holy laughter gitu ya, pokoknya kamu ketawa kudus ha ha ha. Ketawa nggak habis-habis gitu ya. Tapi saya pikir tentu bukan itu yang dimaksud Paulus, dan Paulus kelihatannya tidak melakukan itu ketika dalam penjara ya. Mungkin teman-teman sepenjaranya itu bisa pikir, “Ini orang kesambet apa?” gitu ya. “Ini orang lagi gila atau apa?” Tentu bukan seperti itu dan di bagian inilah kita menarik seperti apakah kita diperintahkan bersukacita dan apalagi dalam background-nya Paulus itu berada dalam penjara ya.

Di dalam bagian ini ada beberapa orang coba menafsir, ada yang coba menafsir di bagian ini kira-kira ya mungkin berpikir, “Oh Paulus suruh bersukacita ya? Karena apa? Karena mereka jemaat Filipi itu masih bebas meski Paulus sendiri keadaannya susah.” Maksudnya begitu ya. Kamu bersukacita kenapa? Karena kamu bebas, kamu tidak dipenjara. Atau kadang-kadang orang bilang “Saya sakit, karena gitu kamu bersukacitalah karena kamu sehat,” dan seterusnya. Jadi di bagian sini kita mengerti sebagai comparative joy gitu ya. Suatu sukacita yang diperbandingkan. Saya percaya bukan itu maksud Paulus ya karena bagi saya yang kayak gitu itu ndak mengerti, kalau orang mengert itu, ndak mengerti spirit pengkhotbah. Seorang pengkhotbah yang baik itu bukan hanya mengkhotbahkan sesuatu yang dia suruh gitu, tapi itu adalah sesuatu yang benar-benar dia gumulkan dengan sungguh ya. Mungkin di dalam konteks kita biasanya secara umum kalau kita pernah terlibat dalam pelayan khotbah secara awam ya, mungkin dalam beberapa kesempatan, ataupun misalnya dalam pelayanan sekoalah minggu, itu ada kesulitannya tersendiri lho. Karena apa? Karena ada kurikulumnya kan? Nggak bisa pilih-pilih dan ada kesulitannya itu juga saya alami gitu ya, yaitu ada kalanya itu memang materinya kali itu harus menyampaikan sesuatu yang kalau mau kita jujur gitu ya, saya bukan ahli di bagian ini. Saya itu masih bergumul bagian itu tapi saya diperintahkan untuk khotbah di bagian itu. Lalu gimana? Dan itu adalah kita mengerti menjadi pergumulan sebagai pengkhotbah itu? Kenapa? Karena kita mengerti kita bukan cuma memberikan informasi, kamu harus gini, tapi itu adalah suatu dari memang kita gumulkan sungguh-sungguh dan kesulitannya adalah kadang-kadang untuk kita menyampaikan sesuatu itu saya sendiri masih sulit sekali untuk bisa melakukannya apalagi memberitahu kamu dan mendorong kamu untuk melakukannya juga ya. Ada bagian-bagian kesulitan itu dan saya rasa kalau kita pernah terlibat pelayanan dalam misalnya KKR Regional dan seterusnya itu ada kesulitan tersendiri ya. Kadang-kadang ada temanya di-set itu aduh kita juga masih sulit ya di bagian ini kita mengertinya aja masih sulit, apalagi suruh ngajar gitu, apalagi khotbahkan dan seterusnya gitu ya itu ada pergumulannya. Dan kalau kita mengerti dalam kerangka cara berpikir demikian saya percaya itu juga lah yang dialami Paulus gitu. Bisa nangkap disini ya, jadi Paulus itu bukan cuma suruh kita bersukacita tapi dia sendiri muram, dia sendiri sedih. Nggak. Dia sendiri bersukacita dengan sungguh dan dia mendorong jemaatnya untuk bersukacita.

Nah ini yang menarik untuk kita perhatikan sini. Paulus di tengah penjara bisa bersukacita itu seperti apa? Saya di bagian ini saya teringat di beberapa tahun yang lalu mungkin sudah dekade yang lalu lebih tepatnya, yaitu waktu saya sebelum menjadi hamba Tuhan dan saya masih pelayanan menjadi sebagai awam di pelayanan remaja ya, suatu ketika itu ada suatu pembicaraan tentang bagaimana sukacita, bagaimana mengerti kebahagiaan dan seterusnya. Ada pemazmur yang mengalami itu kadang, ada orang yang berpikir, “Oh gimana kamu pelayanan ke remaja?” gitu ya. Kadang-kadang ada orang tua bahkan ya waktu dibilang, ada orang tua berpikir gini, “Oh bawa anak-anak kita itu misalnya ke panti asuhan lalu lihat tuh anak-anak di sana kasihan ya. Susah. Maka kamu bersyukur,” kira-kira gitu katanya. “Kamu bersyukur lho kamu masih punya orang tua. Itu kasihan tuh yang panti asuhan itu nggak punya anak,” gitu ya. “Bersyukur kamu itu masih punya pakaian yang baru, bagus gitu ya, terawat. Anak-anak panti asuhan itu punya bekas,” dan seterusnya seperti itu. Tapi saya ingat lagi di dalam salah satu kami pembinaan remaja itu ya, dia bilang saya ndak setuju kalau kita pendekatannya gitu karena kalau begitu kembali lagi ya, itu sukacitanya atau rasa syukurnya cuma perbandingan, dan berarti kalau begini berarti anak panti asuhan itu semuanya cuma bisa bermuram, tidak bisa kita bilang bersukacita pada mereka. Mereka mau bersyukur apa? Kita cuma bisa mensyukuri mungkin mereka gitu ya, karena kita nggak kayak begitu. Dan di bagian ini ada kita belajar oh iya ya, pembahasannya lebih ke arah memang bersyukur ya, bagaimana kita mengerti bersyukur meski di tengah kesulitan yang ada itu. Bukan karena kita banyak ada orang susah dan seterusnya, tapi kita melihat sebenarnya belajar bersyukur itu sesuai dengan keadaan kita di saat ini yaitu kita bisa lihat apa yang Tuhan berikan dan kita mensyukurinya.

Dan sama di dalam bagian ini juga bersukacita yaitu adalah di titik kita ini bukan karena bani yang lain oh yang lain itu saya bersukacita karena yang lain susah dan saya tidak apalagi musuh saya itu susah wah saya lebih sukacita gitu ya, bukan itu yang diajarkan. Tetapi suatu sukacita yang memang kita dalam I and Thou relationship kalau mau pakai istilah dari Martin Buber itu dalam relasi kita dengan Tuhan yang secara mendalam yang dari situlah mengalirkan devosi-devosi kita dan termasuk menjadi dasar sukacita kita. Kalau kita lihat kondisi Paulus itu secara manusiawi itu Paulus mungkin, sangat mungkin gitu ya dan pasti merasa sedih, marah, ataupun ketakutan, ataupun kecewa, dan seterusnya dalam situasi yang ada lho. Itu manusiawi sekali. Tapi di bagian sini Paulus bisa dalam pergumulan dia dan dia belajar untuk lebih melihat kepada Tuhan dan di situ bisa muncul sukacita, dan bahkan bisa sampai menuliskan surat sukacita, memerintahkan jemaatnya untuk besukacita. Ini yang saya pikir menarik untuk kita renungkan ya di dalam bagian ini. Kalau saya melihat secara umum kadang dalam pembahasan doktrin Alkitab ya kalau masuk dalam kerangka berpikir justification, pembenaran ya. Kita bisa ngikut sini ya saya agak jump sedikit di dalam bagian ini. Kalau kita bicara justification, pembenaran kita yaitu apa yang Kristus lakukan merubah status kita dari orang berdosa menjadi orang benar di hadapan Allah. Ini adalah suatu status terjadi sekali seumur hidup kita dan sempurna dalam selama berada di dunia ini. Kita berproses. Itulah yang di bagian sini kita mengerti sebagai dasar keselamatan kita, sekali selamat tetap selamat, aspek justification, pembenaran. Itu bicara status kita di hadapan Allah. Tapi kemudian di dalam aspek sanctification, proses pengudusan, itu adalah suatu yang berprogres dan ini adalah tidak pernah sempurna selama berada dalam dunia ini. Kita masih bertumbuh jatuh bangun di dalam bagian sini. Nah di bagian sini kalau saya bilang sukacita kita bisa juga lihat di dalam suatu pengertian tertentu itu di sini. Ada bagaimanapun suatu sukacita sejati yang Tuhan hadirkan di dalam aspek justification, yaitu ketika kita pertama kalinya atau kita ditebus diselamatkan oleh pengorbanan Kristus Yesus dan itu memberikan sukacita kan? Ada suatu sukacita yang besar dalam kehidupan kita ketika kita mengerti kita diselamatkan. Wah saya sangat bersyukur. Sukacita surgawi yang Tuhan berikan, hidup kekal yang Tuhan berikan kepada kita, orang-orang yang tidak layak ini. Itu di dalam kalau mau lihat dalam sisi justification itu ada. One time gitu ya kalau mau dibilang. Itu ada stay disitu.

Tapi kalau kita bisa lihat di dalam perspektif yang lain ada juga sukacita di dalam aspek sanctification, pengudusan dan ini memang bagian kita itu bertumbuh, kalau mau dibilang bersinergi dengan Tuhan itu mengerjakannya. Dalam bagian ini doktrin Reformed itu ada di sini loh. Ini ada aspek justification, itu monergism, sepenuhnya itu pekerjaan Tuhan, Tuhan yang sediakan itu kepada kita. Tapi ada juga bagian sanctification, pengudusan yang di mana kita menaati perintah Tuhan, menaati pimpinan Roh Kudus dalam kehidupan kita dan itu kita bergumul menghidupinya. Dan menarik didalam bagian ini termasuk untuk bersukacita. Bersukacita di dalam Tuhan. Suatu sukacita yang di dalam kita mengerti dalam relasi kita dengan Kristus, yang di sinilah ditekankan Paulus disini. Paulus mungkin banyak kali kita kenal sebagai theolog berbicara anugerah, tetapi hal yang sama di bagian sini ia menekankan ia juga adalah theolog sukacita yang menekankan kehidupan spiritual itu yang benar seperti apa. Bukan hidupnya muram gitu ya, kayanya selalu hidup susah gitu ya, seperti itu, tapi memang ada sukacita ya. Kembali lagi bicara sukacita bukan karena ketawa seperti itu, saya juga tidak berharap selesai anda dari sini semuanya ketawa-ketawa gitu ya, ini habis kenapa gitu, tapi ada suatu contentment di situ, ada suatu sukacita karena kenapa? Karena dalam relasi kita di hadapan Tuhan dan ini tidak akan tergantikan dalam situasi apapun. Suatu sisi dalam bagian ini kalau kita renungkan bagi kita ya dalam relasi kita dengan Kristus karena kita tahu dalam berbagai situasi apapun, kita tetap tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Jadi bagian ini sukacita karena kita di dalam Kristus. Karena kita di dalam Tuhan. Dan ini kita mengerti meski kita dalam keadaan dipenjarakan sekalipun, meski dalam kita terisolasi sekalipun, Kristus tidak pernah meninggalkan kita dan itu dasar sukacita kita. Dasar sukacita. Kembali lagi ya itu berarti bicara dalam relasi kita secara personal di hadapan Tuhan, mengerti bahwa di tengah berbagai situasi yang ada, baik atau tidak baikpun keadaannya, Tuhan tidak pernah tinggalkan kita. Dan ini juga lintas ruang dan waktu. Tuhan bukan hanya beserta kita itu ketika berada dalam ruangan ibadah ya, meski ini kita pakai hotel, dan seterusnya, bukan hanya dalam gedung, bukan cuma di Bait Suci, tapi dimanapun kita berada Dia tidak pernah meninggalkan kita. Dan itu harusnya kalau kita terus gumulkan, ingat di dalam banyak situasi, terutama dalam situasi sulit, itu bisa memberikan ada suatu kelegaan, suatu sukacita tersendiri, karena ya Tuhan beserta kita ya.

Kalau konon katanya orang pacaran itu ya orang kalau sudah jatuh cinta itu apa ya dibilang itu kotoran pun seperti coklat gitu ya. Saya juga nggak mengerti mungkin salah lihat gitu ya, dimakan gitu. Apa ya karena sukacitanya itu lho, karena bahagianya dia bersama-sama pacarnya itu sampai yang makan di emperan pun bahagia sekali. Lho kenapa? Karena itu loh, I and Thou. Saya dan kamu makan di emperan ini. Di situ. Dan lebih lagi kalau kita mengkaitkannya itu dalam relasi kita dengan Tuhan. Dalam situasi di emperan pun, dalam situasi sulit pun kita bisa lihat ada sukacita karena saya dengan Kamu. Engkau tidak pernah meninggalkan saya dalam situasi ini bahkan di dalam kesulitan pun, bahkan ketika sampai jatuh dalam dosa pun, keselamatan kita tidak hilang. Bagian ini tentu bukan untuk kita abuse kita berbuat dosa sesuka kita gitu, tapi justru bagian inilah kita mengerti kita ada sukacita kenapa? Karena Tuhan tetap menopang kita. Tuhan tidak tunggu kamu beres baru Saya datangi kamu, nggak. Justru ketika kamu belum beres, Saya datangi kamu. Itu sukacita keselamatan lho. Kembali lagi ya Tuhan bukan mendatangi kita ketika kita sudah layak, beres, orang suci, mulia sudah ada lingkaran halo di atas kepala baru Tuhan datang. Itu Allah Roma Katolik justru. Tapi pengertian kita adalah justru Tuhan menolong orang yang tidak sanggup menolong dirinya sendiri. Tuhan menolong memang datang mencari yang terhilang, Dia memang datang mencari orang berdosa. Dia datang mencari orang yang berada dalam kesulitan yang tidak bisa keluar dari situasi yang ada, dipikat, diikat oleh dosa dan Tuhan menarik kita dari situ dan Dia datang menemui kita di tempat itu. Itulah selalu kita mengerti di dalam gambaran ini ya. Paulus berada di situasi sulit ini, saya percaya di dalam bagian ini justru makin dia bisa bertumbuh dalam sukacitanya, ironis di sini ya kalau kita mau bilang gitu ya. Secara fisik manusianya itu makin-makin susah tapi secara rohaninya justru dia makin bersukacita. Nah ini saya ndak mengerti ini paradoks seperti apa ya tapi kenyataannya dalam kehidupan adalah demikian. Yaitu di tengah kesulitan itulah kita bisa lihat siapakah, mungkin kalau kita mau pakai istilah, sahabat sejati kita yang tidak pernah meninggalkan kita. Teman, sahabat, dan seterusnya itu bisa meninggalkan kita, tapi Tuhanlah yang tidak pernah tinggalkan kita. Dan di bagian situ dia juga mengerti keselamatan kepastian keselamatannya itu yang tidak akan hilang. Kepastian keselamatannya tidak akan hilang dan itu dan dia terus bersukacita.

Bagian sini lalu sukacita seperti apa? Kalau kita bisa melihat dalam konteks besarnya dalam pembahasan Paulus di dalam bagian sebelumnya dia ada mengatakan ada apa, justru dalam pemenjaraanku ini pekerjaan Tuhan terus berjalan. Jadi bagian sini kita bisa lihat ada berapa level sukacita gitu, atau saya ndak mau pakai level ya, beda jenis sukacitanya. Ada sukacita di dalam aspek anugerah umum, common grace yaitu melihat dari Allah Bapa, mungkin kalau mau pakai gitu ya. Dari Allah Bapa ada anugerah umum yang Tuhan masih sediakan dalam kehidupan ini dan itu kita bisa saksikan dalam kehidupan ini. Ada aspek common grace itu suatu yang kita bisa nikmati juga bahwa kehidupan ini masih berjalan. Langit, matahari, masih terbit dan terbenam seperti biasanya kita mengerti itu bukan cuma seperti biasanya tapi itu ada anugerah dari Allah Bapa dalam kehidupan kita. Lalu di dalam Allah Anak yaitu ada anugerah keselamatan yaitu memberikan sukacita dalam kehidupan kita. Ada penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita, kita bisa menikmati keselamatan yang sempurna itu dalam siatuasi apapun. Dan kemudian di dalam Allah Roh Kudus ada suakcita pelayanan, sukacita karena kita bisa berbagian dalam pekerjaan Tuhan dan sukacita bahwa pekerjaan Tuhan itu tidak bisa berhenti ketika sang pekerja itu ndak bisa bekerja. Ya itu dalam bagian situ. Itu adalah bagian sukacita kita lihat pekerjaan Tuhan itu ternyata tidak bergantung pada saya gitu ya, kalau saya melihat dalam aspek Paulus di sini. Dalam banyak hal kita sangat melihat pasti kalau kita hidup sezaman Paulus kita mungkin ya dalam satu sisi akan melihat aduh pelayanan ini sangat bergantung pada Paulus dan para rasul gitu ya. Dan terutama Paulus karena dia ini yang KKR keliling-keliling, kalau mau dibilang gitu ya. Dia yang church planting ya di mana-mana, buka cabang gereja di satu tempat, di kota-kota lain di berbagai tempat buka buka buka dan kirim surat, kirim surat, aduh dia kalau dipenjarakan seperti apa nasibnya nanti kalau dia dieksekusi mati seperti apa. Tapi Paulus ini menyatakan ingatlah pekerjaan Tuhan tidak bergantung pada saya, pekerjaan Tuhan tidak bergantung pada keadaan. Pekerjaan Tuhan itu bergantung pada kedaulatan Tuhan dan bagaimana Dia mau bekerja dan kenyataannya itu bisa tetap berjalan meski ketika sang pengerjanya tidak bisa kerjakan itu. Dan itu menjadi menimbulkan suatu sukacita bagi Paulus. Dan bahkan dia katakan itu, bahkan dalam pemenjaraannnya dia tetap bisa menginjili lagi orang lain. Yaitu para tentara, para serdadu Romawi ya, justru kalau kita bilang ya, dalam program gereja kita tidak akan pikirkan melayani mereka, menginjili mereka, tapi kemudian di dalam pemenjaraannya Paulus itulah, di situ baru titik kontak dia bisa menginjili para serdadu-serdadu itu dan ada banyak tawanan-tawanan lain yang diinjili oleh Paulus.

Dan di situ kita lihat ya, pekerjaan Tuhan itu kalau kita bilang ada shifting, perubahan tapi terus berjalan. Shifting itu sebenarnya secara aspek historisnya kita yang tidak mengerti, kita melihat ini perubahan ini lho, sekarang pelayanan Paulus di mana? Bukan di kota apa, kota ini, tapi di penjara gitu. Tapi dalam kedaulatan Allah memang tidak ada perubahan. Memang sudah step-nya, langkahnya, seturut pimpinan Tuhan begitu. Kembali lagi kita yang bisa lihat ini berubah. Kok jadinya masuk penjara? Kok jadinya ini pelayanan di sini? Tapi di dalam kedaulatan Allah itu memang ndak berubah. Kita yang secara sejarah itu melihat kok ada perubahan seperti ini. Dan itulah kalau kita melihat di bagian ini lebih bisa ada suatu dinamika dalam kita mengikut Tuhan, dan kita mau terus sinkron mengikut kehendak Tuhan. Kita bisa lihat oh ternyata pekerjaan Tuhan tetap bisa jalan di situasi ini.

Saya pikir khususnya menarik dalam konteks mungkin jemaat di Jogja di sini gitu ya, saya ingat di, ya kembali kita berada di situasi pandemi di dalam banyak kesulitan gitu, tapi saya ingat sekali lho saya bagaimanapun saya nggak mengerti history ke belakang sampai apa ya tapi bagi saya, saya kan mulai pelayanan di sini 2018 seperti itu, dan saya sendiri melihat bagaimana kesulitan kita untuk membangun gedung gereja. Bolak-balik di situ dah. Kalau saya melihat gitu ya. Saya yakin Bapak, Ibu sudah lama bergumul di dalamnya juga mempersiapkan ini. Tapi nggak tahu ya terus muncul pandemi seperti ini dan banyak sekali kesulitan, saya percaya kita benar-benar banyak dalam kesulitan yang real dalam pekerjaan kita dalam relasi keluarga dan seterusnya, segela sesuatunya, kehidupan seperti berubah gitu, tapi kok di belakang ini malah dibuka ya. Mulai setahap demi setahap itu untuk izinnya, untuk pengurusannya. Saya garuk-garuk kepala lho terus terang gitu ya. Garuk kepala yang nggak gatal gitu ya. Maksud saya ini kok pandemi baru keluar izinnya gitu ya. Terus mungkin di sisi lain kita ngomong, “Oh mungkin berarti memang butuh pandemi baru puji Tuhan akhirnya kita dapat izin,” gitu ya. Ya saya rasa kita ndak masuk teologi seperti itu ya. Bersyukur karena ada pandemi akhirnya bisa dipersiapkan izinnya itu bisa lebih diperlancar dan seterusnya. Saya percaya bukan bagian itu tapi bagian ini kita melihat bahwa meski di tengah kesulitan yang ada, ternyata pekerjaan Tuhan itu bisa berjalan di dalam waktu Tuhan, rencana Tuhan, dan ternyata dengan cara demikian. Dan kalau kita mau berfokus saja pada bagian itu kita bersukacita ternyata pekerjaan Tuhan tetap akan berjalan meski bentuknya dan situasinya berubah dan segala sesuatunya.

Kembali mungkin urusan desainnya kita, ya rekan-rekan pengurus itu lebih tahu ada perubahan-perubahan dan seterusnya, tapi bagaimana kita melihat pekerjaan Tuhan akan terus berjalan malah di tengah situasi ini. Dan kalau kita mau fokus saja melihat di sana itulah harusnya kita bisa menjadi dasar sukacita kita karena kita lihat ada pekerjaan Tuhan yang terus mau dikerjakan dan Tuhan masih mau memakai kita untuk terlibat dalam pelayanan-Nya di dalam mengerjakan, menyaksikan bagaimana proses pekerjaan itu berjalan. Dan ini dialami Paulus ini. Itu yang dialami Paulus. Mungkin dia sebelumnya sudah set sekian macam konteks pikiannya oh saya akan kerjakan pelayanan di kota apa, misalnya ya mungkin tadinya ya, oh saya akan pergi di kota Efesus saya mau melayani seperti ini, saya akan berbicara gini, saya akan khotbah gini, dia mungkin sudah persiapkan khotbah jauh lebih banyak dari kami, jauh lebih dalam dari kami. Sudah persiapkan semua, eh nggak jadi. Lalu gimana? Tapi akhirnya Tuhan pakai dia menuliskan surat kepada jemaat Efesus, surat kepada jemaat di Filipi, dan seterusnya. Itu berarti ada perubahan di sana tapi yang paling penting pekerjaan Tuhan jalan. Dan kita itu kalau bisa dalam bagian ini kita bergumul relasi dengan Tuhan yang memang dynamic, yang hidup, kita coba belajar peka Tuhan mau pimpin kita ke mana. Dan kita belajar taat di sini. Jangan paksa cara kita. Paulus mungkin pikir saya lebih mau itu sebenarnya pelayanan begini. Tapi kenyataannya ketika Tuhan shift keadaannya dan bagian sini itu ada bagian tentu Paulus bergumul kembali bagian sini, kita tahu juga dia orangnya keras gitu ya, tapi dia bergumul dan melihat oh ternyata Tuhan mau pekerjaan pelayanan sekarang ini dan kalau itu, saya bersukacita. Karena yang penting pekerjaan Tuhan terus berjalan dan tidak berhenti hanya karena ada begitu banyak orang-orang yang membenci dan menahan seolah-olah mereka berpikir bisa mencegah dan menghambat pelayanan pekerjaan Paulus di sini. Dan saya percaya dalam bagian ini kita gumulkan dalam kehidupan kita seperti apakah kita mengerti sukacita itu. Seperti apakah kita mengerti sukacita yang diperintahkan Tuhan pada kita karena ketika Paulus tulis ini, itu bukan cuma suatu surat dari antara sesama jemaat saja tapi ini terutama bagian dari Kitab Suci  yang diperintahkan bagi gereja sepanjang segala zaman juga. “Bersukacitalah, sekali lagi kukatakan bersukacitalah,” dan itu menjadi seruan bagi kita juga terutama di situasi kita di dalam kadang pandemi dalam berbagai kesulitan yang ada.

Lalu poin berikutnya lagi juga dia dikatakan bahwa dalam terjemahan Indonesia itu dikatakan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Ini bicara terjemahan Indonesia itu kebaikan hati, yaitu kalau kita lihat terjemahan di dari ESV-nya (English Standard Version) terjemahannya lain ya karena memang istilah Yunaninya itu epieikís itu sebenarnya ada unsur reasonableness gitu ya, ada suatu memang suatu aspek kesabaran, meekness, kelembutan gitu ya. Tapi terutama itu bicara adalah kita punya kebenaran itu ada reasonableness-nya kita itu bisa kita nyatakan pada sesama kita gitu ya. Ada suatu kebaikan itu yang bukan cuma ngomong baik, baik itu apa ya saya kasih kado gitu ya, saya itu baik ke kamu, kamu pukul saya ndak balas dan seterusnya gitu mungkin ya, seperti itu, bukan cuma sekedar itu, tapi ada suatu logikanya kalau mau dibilang, ada suatu pengertiannya di sini sehingga terjemahan ESV lebih akhirnya pakai istilah reasonableness gitu ya. Kayak kemasukakalanmu. Nah ini kita mungkin rasa heran ya. Biarlah kemasukakalanmu atau logikamu pikiranmu itu diketahui semua orang. Bagian sini kalau kita pikir ini ngapa ya kenapa dia tiba-tiba ngomong sukacita loncatnya kita ke reasonableness di sini. Saya percaya ini sebenarnya bicara the reason of faith gitu ya. Yaitu pengertian iman kita bahwa iman kita itu bukan dasarnya sekedar pokoknya kamu percaya tok, pokoknya percaya, percaya begini. Ndak. Ada suatu dasar pengertiannya, penjelasannya, dan reasonable-nya itu kita jelaskan pada sesama kita. Dan di dalam bagian ini maka masuk ke dalam aspek doktrinal di bagian sini ada penjelasannya dan bagaimana disampaikan itu juga dengan suatu kelembutan karena ada suatu nuasa, kembali lagi ya kita tidak ada persis kata bisa mengungakap epieikís ini tapi ada nuansa gentle forbearance gitu ya. Ada suatu nuansa kesabaran atau meekness. Ada suatu kita bagaimana ketika menjelaskannya itu dengan berhikmat, bagaimana kita jelaskan kepada sesama kita ya.

Di bagian ini kita mengerti ketika dia menjelaskan reasonableness kepada semua orang ini saya pikir terutama adalah Paulus berbicara dari pengalaman dia menginjili orang-orang di sekitaran dia, orang dalam penjara dan orang-orang di tentara Romawi sendiri. Kira-kira ya, kalau kita pengamalam penginjilan gitu ya, kita habis digebukin dan serdadu Romawi gitu ya, kita kira-kira menginjilinya caranya gimana? Itu bahasanya pasti beda. Terus kita ketawa-ketawa gitu ya. Ini orang sedeng atau apa kesambet gitu ya. Ya ndak. Tapi bagaimana melihat dia itu tetap ada ketegarannya di dalam semua itu, keteguhannya menerima kesulitan yang ada tapi tetap ada suatu sukacita, dan mungkin itulah yang membuat jadi serdadu Romawi itu bertanya, “Oh ini orang habis digebukin kok bisa tetap senyum? Kok bisa nyanyi memuji nama Tuhan?” Nyanyi. Itu yang paling banyak di kehidupan jemaat mula-mula gitu ya. Ketika mereka itu banyak dianiaya, dijadikan tontonan untuk pesta gladiator itu ya, menyaksikan bagiamana digebukin  oleh para tentara-tentara, ataupun dijadikan sirkus bagi Kaisar Nero, itu nanti lebih belakang lagi, diterkam oleh singa, dan mereka diterkam satu-satu seperti itu ada yang ditusuk sate dibakar hidup-hidup dan seterusnya, yang mengherankan adalah banyak orang itu adalah Kristen itu lho sudah dikasih gitu mereka malah nyanyi. Nyanyi memuji nama Tuhan. Apa ini? Dan itu yang menjadi suatu tontonan yang lain. Kenapa? Karena di dalam kehidupan kita, kita melihat Kristus pun ketika disalib dia bukan mencaci-maki tapi Dia mengatakan, “Ya Bapa ampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan di dalam bagian ini setidaknya dalam penafsiran Pak Tong katakan, di bagian itulah yang akhirnya mempertobatkan penjahat di samping Dia yang mulanya mencaci-maki Yesus juga tapi dia melihat lain, kok bisa gini? Dan mungkin bagian itulah penjahat itu juga mengingat apa yang sebelumnya dia dengar tentang Kristus, pelayanan Kristus, dan seterusnya, sedang tentu yang terutama adalah Roh Kudus bekerja mempertobatkan dia, dan dia akhirnya bisa bertobat percaya pada Kristus di tengah semua ini.

Kembali lagi, itu bicara reasonableness-nya kita itu. Bagaimana kita itu menyatakan iman kita di tengah situasi ini dan di tengah aneka macam bentuk orang berbeda, bagaimana kita menyatakan iman kita. Dan itulah yang dia ingatkan pada jemaat di Filipi. Kita di tengah kesulitan, ya, tetap kita menyatakan iman kita, kita tetap menginjili, kita tetap mengasihi sesama kita, dan dengan suatu ada kelembutan di sini. Bagaimana pun juga ya, sangat umum memang, kita itu kalau sudah dilukai ya kita akan balas lukai to. Pak Tong itu saya ingat ya, dia itu ngomong di berapa minggu yang lalu ya, sori bulan lalu lah dia ngomong, “Orang itu kadang pikir gitu kan, kamu baik sama saya, saya akan baik sama kamu, kamu jahatin saya, saya akan lebih jahatin kamu, kamu sakitin saya, saya akan sakitin kamu lebih lagi.” Tapi di bagian sini kita mengingat apa, seperti apakah pengertian iman Kristen, dan terutama dari posisi kita ikut Tuhan, yaitu kita itu membalas kejahatan itu dengan kebaikan. Membalas kejahatan dengan kabaikan apa, ya kita nyatakan iman kita, dan itulah wujud kasih itu. Kita menginjili. Lho ini orang yang gebukin kita. Ya iya kita injili dia supaya apa? Oh, supaya dia stop gebukin kita? OK lah bisa, itu satu hal ya, karena sama-sama Kristen to, bisa. Tapi terutama adalah karena kita mengasihi jiwanya itu lho. Bahwa semua jiwa itu sama berharga di mata Tuhan. Baik tawanan yang sesama dengan Paulus, dan kemungkinan besar mereka narapidana, benar-benar penjahat kelas kakap, dan memang pembuat onar, sampah masyarakat, mereka juga butuh Kristus. Dan baik juga pada tentara, serdadu Romawi yang merasa mereka, “Oh saya orang Rome, saya orang Roma, saya bebas, saya punya status warga negara itu yang sangat diakui dan diidam-idamkan orang sejaman itu, saya ini warga negara Roma.” Tapi Paulus ingatkan, ingatlah, ada kewarganegaraan yang lain, kewarganegaraan surgawi, dan itu mungkin dia beritakan. Itu yang dia Injili kepada mereka. Language-nya, bahasanya itu bisa beda, tapi dengan suatu kesabaran diungkapkan sebisanya itu yang diinjili itu bisa sampai kepada mereka.

Dalam di bagian inilah kita melihat itu bagaimana, ya itu ungkapan kasih yang terdalam sih. Ungkapan kasih yang real dan sebenarnya ini itu kita temukan banyak dalam kesaksian yang ada, dalam Kisah Para Rasul dan juga jemaat mula-mula. Ya aneka macam memang bentuk jemaat mula-mula ya, tidak semuanya tentu baik itu kalau mau dibilang ada jemaat seperti di 1 Korintus juga sama bermasalah, problematis, dan seterusnya, tapi kemudian kita temukan bagaimana kesaksian mereka di tengah kesulitannya mereka tetap menyatakan kasih itu lho, yaitu penginjilan pada orang di luar. Dan di bagian ini kan terus terang memang yang sulit. Kenapa? Karena ya kita juga tidak bisa sangkali ya, waktu zaman itu, menginjili itu memang resiko sekali. Tertular COVID? Bukan ya. Bukan masalah tertular COVID. Terutama itu zaman itu, saya kalau orang Kristen, itu adalah agama yang ilegal, saya nyatakan saya injili, oh langsung minimal kan dari orang diinjili itu kan tau, “Oh kamu Kristen to?” Wah saya ditangkap kan. Jadi ini antara orang, kasarnya gitu ya, antara kita meng-convert dia atau kita ini ditangkap gitu. Antara kita berhasil menangkan jiwa dia, atau kalau ndak ya kita ditangkap. Atau jangan-jangan kita sudah tangkap perjalanan sudah masuk penjara, baru orang pikir, “Ih kamu betul lho,” eh baru bertobat, ya telat gitu. Kita pikir coba misal di awal sedikit bertobatnya sebelum saya dimasukin ke penjara gitu mungkin. Tapi itulah realitanya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Dan di bagian itu pelayanan untuk keluar itu sulit sekali dan memang ada tantangan yang real gitu, dan makanya kalau saya merujuk kembali kepada khotbah saya yang lalu, mungkin itu menjadi perbedaan pandangan antara Sintheke dan Euodia dan Sintheke itu, bicara approach pelayanannya karena kita berada bukan situasi yang mudah, ada resikonya.

Kita bisa bayangkan ya misalnya kita pelayanan di satu, kita bayangkan jemaat di satu itu, dia injili seseorang, langsung orang itu tidak terima, “Oh kamu Kristen, kamu di mana tinggalnya? Oh, saya tau kamu tinggalnya.” Langsung di-grebek, ditangkap, bukan ditangkap satu orang lho, sekeluarga, sampai ada keluarga-keluarga lain dan anak-anaknya dijebloskan ke penjara. Kita kalau alami itu kita akan pikir apa? Mungkin kita pikir, “Wah, kalau gini janganlah pelayanan, jangan injili,” gitu ya. Bayangkan kita niat baik kan? Kita penginjilan, eh kita ditangkap, terus ditangkap, kena yang lain, dan dipenjara semua, sampai anak-anak kita, bahkan sampai akhirnya ada yang ditangkap dijadi sirkus untuk dimakan oleh singa. Itu sulit lho, dikala itu benar-benar menginjili di saat itu. Tapi yang kita temukan di dalam berbagai catatan Alkitab, maupun di dalam tradisi, itulah yang mereka kerjakan. Kenapa? Karena itulah yang terus dimengerti oleh para rasul, mereka kerjakan demikian, dan itu juga dikerjakan oleh Yesus sendiri. Pada awalnya memang Kristus datang di era zaman pelayanan yang memang sebenarnya tidak ideal. Kristus sang anak Daud datang di zaman mana? Di zaman yang memang itu mereka lagi ditindas, sehingga ungkapan anak Daud ini, wah itu sangat subversif gitu ya. Kristus datang di zaman yang sangat tidak ideal. Dari kelahiran-Nya saja dikejar-kejar, begitu banyak yang mati, dibunuh oleh Herodes, dan seterusnya. Kenapa ya Kristus tidak memilih datang di, ya udah, misalnya langsung anak Daud saja gitu, atau kalau ndak suka itu di next-nya gitu ya. Kenapa ndak di zaman Salomo misalnya? Atau di zaman anak Salomo mungkin? Mungkin zaman jauh lebih baik. Tapi kenyataannya itulah yang dikerjakan Kristus, karena sudah waktunya Tuhan. Itu tentu dalam kedaulatan rencana Tuhan dan itu menjadi teladan bagi bagaimana para rasul menghidupinya dan bagaimana juga jemaat menghidupinya. Pelayanan tidak tunggu aman. Pelayanan tidak tunggu nyaman. Pelayananan tidak tunggu ada berhenti penolakan dan kesalahpengertian dari luar, tapi kita kerjakan selagi kita bisa. Dan ketika kita kerjakan itu bisa diterima, bisa ditolak, biarlah nanti kita kembali lagi, kita ada reasonableness-nya bicara kita menjelaskan dengan sebaik mungkin, dan dengan kesabaran, ya, dengan kelembutan, kita bicarakan, kita sampaikan, dan di bagian situ lihatlah pekerjaan Tuhan itu tidak bergantung pada usaha kita, tapi pada kedaulatan rencana-Nya, dan kita tuju dan lihatlah, itu terus berjalan, terus berjalan, dan itu menjadi suka cita bagi kita. Dalam kehidupan ini ada banyak yang bisa sangat mengecewakan kita, tapi kalau saja memang kita mau fokuskan melihat bagaimana pekerjaan Tuhan yang masih boleh terus berjalan, dan bagaimana kita masih boleh dipercayakan terlibat di dalamnya, itu harusnya kita bersukacita, bersukacita. Bersukacita karena ingatlah tidak selalu ada kesempatan itu.

Saya ingat sekali dalam satu kesempatan makanya di dalam saya pelayanan penginjilan, PI ke rumah sakit ya, saya penginjilan di beberapa tahun lalu. Lalu pelayanan di salah satu rumah sakit, bukan di sini ya di tempat lain pelayanan itu, lalu setelah ya tanyakan sakitnya apa Ibu, atau Bapak gitu kan, dalam salah satu pasien itu saya temui itu, saya ketemu, sakitnya apa bu, begini begini begini, saya jelaskan, lalu saya sampaikan firman Tuhan, ya, secara sederhana, menyampaikan Injil, lalu berdoa, selesai berdoa Ibunya menangis gitu. Dalam hati saya pikir, “Wah dia mungkin terharu ya.” Ndak sih, ndak terharu gitu, ya mungkin menangis kenapa masih di sini gitu. Ndak, lalu saya tanya dia, “Kenapa Bu?” gitu ya. Terus dia bilang, saya pikir menarik ya, dia ngomong satu, dia bilang, “Iya saya terharu, nangis.” Kenapa? Dia bilang, “Karena dulu saya seperti kamu, dulu saya juga penginjilan, seperti kamu ini, masih muda, tapi sampai satu titik, saya ndak mau lagi pelayanan.” Ada lah gimana gimana cerita, “Terus sekarang saya sudah sakit terkapar gini saya baru ingat, dan saya cuma bisa rasa, ya ndak bisa lagi.” Wah saya waktu itu pikir, “Wah begitu ya.” Dan saya jadi ingat lho meskipun pelayanan itu selalu di-offer ya, maksudnya dibuka, kita selalu gitu ya ditawarkan pelayanan-pelayanan, tapi ingatlah itu juga dalam kehendak ke dalam kairos Tuhan. Akan ada kita mau, ndak bisa. Lain lagi ya kadang bisa, kita ndak mau, itu masalah juga ya. Bagian ini kita belajar lah. Kalau masih bisa itu kita kerjakan saja gitu ya. Tapi saya ingat di bagian itu dan ya sulit ya, ya saya juga ndak bisa ngomong apa gitu ya, memangnya kalau kita alami itu ngomongnya apa ya, angkat, bangkit dan berjalan, angkatlah tilammu bangkit dan berjalanlah, ya ndak bisa ya, saya bukan Tuhan Yesus, saya cuma hamba-Nya gitu. Ya memang ndak bisa. Ya sudah ndak bisa mau apa cuma bisa begitu, menyesal. Saya ndak mengerti bagaimana kemudian ibu itu bergumul ya, karena itu pelayanan PI rumah sakit yang ya kita kalau tahu PI rumah sakit ketemu daftar dikasi dari rumah sakit yang mana yang diinjili, ya ditemui sedemikian, dan seperti apa kemudian hidupnya saya ndak ngerti, tapi saya menjadi satu kesan yang ingat bahwa kadang-kadang berpikir pelayanan itu oh ada kesempatan-kesempatan gitu, tapi ndak selalu ada. Ada situasi tertentu akhirnya kalau memang Tuhan memang tarik, ya sudah, kita menangisinya pun tidak bisa. Ya atau mungkin ya memang kita cuma bisa menangisinya gitu ya. Dan saya ingat itu ketika waktu itu saya masih muda dan ya suruh ajak untuk penginjilan, pergi dan seterusnya ya, saya baru ingat ya, penawaran ini ndak selalu ada, kayak gitu.

Dan di bagian inilah juga, bagian ini, ketika kita kembali ke bagian ini, Paulus, tetap bersukacita apa? Karena kenyataannya dia masih bisa pelayanan, masih bisa pekerjaan, meski bentuknya berubah, dan dia tetap kerjakan itu, dan dia sangat ter-challenge pasti, bagaimana dia menjelaskan injilnya, ya, kalau kita mengerti situasi Paulus itu, dia itu orang Farisi, background-nya itu kalau mau dibilang itu sangat kuat Yahudinya, ya ketemu tawanan-tawanan ini ya mungkin banyak juga orang non-Yahudi, ketemu bangsa Roma, ya pengertiannya beda, presaposisinya beda ini kita mau jelaskannya bagaimana, sulit lho. Tapi Paulus injili, dengan sabar, pelan-pelan menjelaskan pada mereka, gimana masuk ke dalam cara pikir mereka, gimana menjelaskan supaya Injil itu bisa dipahami oleh mereka dan ada kesulitannya, dan itulah yang dilakukan dan kenyataannya banyak orang yang bisa dimenangkan. Dan bagian itulah Paulus bersukacita, bersukacita, itu yang dia sampaikan.

Dan bersukacita juga karena apa? Karena Tuhan juga sudah dekat. Tuhan sudah dekat itu berbicara Tuhan itu sudah dekat, bahwa adanya suatu kepastian kita akan hari depan dan meski di masa sekarang kita tidak ada suatu kepastian, dan makanya di ayat berikut juga bilang, “Jangan lah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,” yaitu dalam kehidupan ini memang banyak kuatir, ya, tapi obat kekuatiran itu bisa melihat kepada ada yang hari depan yang ada kepastian yang Tuhan sediakan, yaitu Kristus akan datang nanti dan Dia sudah dekat, sudah dekat. Kalau kita ngomong, “Wah sudah dekat gimana Paulus ini 2000 tahun belum datang-datang,” gitu ya, tapi itu bicara terutama relasi sih. Relasinya itu yaitu dia melihat Kristus itu sudah dekat yaitu bicara dia itu menantikan Kristus, dan itu adalah suatu kepastian di masa depan, yaitu yang penting dia bersama Kristus. Sebagaimana sekarang dia mengerti sekarang saya berada dalam Kristus dan kelak saya akan bersama Kristus, itu yang mendorong sukacitanya. Dan dia mengarahkan arah kehidupannya itu ke depan. Dia melihat di situ. Kristus sudah dekat dan itu yang terus dia tuju. Dan dalam proses ini dia melihat lebih banyak lagi orang bisa dimenangkan, lebih banyak lagi orang bisa dijangkau, lebih banyak lagi orang bisa diinjili, lebih banyak orang bisa meninggikan Kristus, dan itulah dia melihat bagaimana penggenapan rencana Tuhan itu terjadi dalam kehidupan. Dan bagian itu bisa sungguh-sungguh menemukan sukacita yang Paulus nyatakan kepada jemaat di Filipi.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa yang menjadi hambatan kita untuk memiliki sukacita ini, sukacita Kristen yang sejati ini pada hari ini? Kesulitan mungkin? Masalah pekerjaan, masalah studi, relasi dalam keluarga mungkin, atau ada satu dan lain halnya? Tapi adakah kita kembali lagi diingatkan dalam firman ini kita diajak berfokus kepada Kristus, berfokus pada Tuhan kita, dan melihat dia yang beserta kita di tengah semua ini, dan bagaimana melihat ada pekerja-Nya boleh terus berjalan, meski di tengah situasi yang ada, dan ingatlah Dia pasti akan datang, Dia pasti akan datang, Dia akan datang dan sudah dekat, sudah dekat. Itu ada bicara iman kita yang terus menantikan Kristus dan ada kepastian hari depan.  Kiranya itulah yang kiranya memberikan kelegaan kepada kita, dan menjadi obat penawar bagi segala kekuatiran kita yang kita alami pada hari ini. Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami dalam Surga, kami berdoa bersyukur untuk kebenaran-Mu. Kami berdoa bersyukur melalui kebenaran firman ini, kami boleh diingatkan akan sukacita kekal, kami boleh diingatkan akan sukacita yang Kau sediakan pada kami, umat pilihan-Mu. Kami berdoa bersyukur ya Bapa karena di tengah semua ini Engkau tidak meninggalkan kami. Bahkan di tengah keterpurukan kamilah kami boleh sadar bahwa Engkau sebenarnya begitu dekat dengan kami, dan Engkau menopang kami, dan Engkaulah Tuhan kami yang tidak pernah mengecewakan dan meninggalkan kami. Terima kasih Bapa semua ini. Kami berdoa menyerahkan setiap kami ketika kami dalam pergumulan dan kesulitan, biarlah justru iman kami semakin mendekat, semakin mendekat melihat kepada Engkau, dan melihat Kristus justru semakin mendekati kami, dan menyatakan diri-Nya pada kami pribadi lepas pribadi. Hanya dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *