Solus Christus, 18 Oktober 2020

Yohanes 14:6-7; Kisah Para Rasul 4:12

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Kalau kita melihat dari 5 Sola yang ada ya, jadi dari kita bilang Sola, menarik ya sebenarnya kalau mau dibilang urutan nya ini di-set nya, jadinya mulai dari Sola Gratia, lalu Sola Fide, ini Solus Christus, nanti di minggu depan membahas Sola Scriptura ya. Biasanya sebenarnya mungkin sebagian orang berpikir lho bukannya Sola Scriptura harusnya di awal ya? Tapi memang sebenarnya secara historis ya, secara sejarahnya sebenarnya memang Sola Scriptura itu lebih ditegaskan di belakang gitu ya, Sola Scriptura, lalu terakhir Soli Deo Gloria. Kalau kita lihat dari 5 Sola ini, sebenarnya keunikan dari ke-5 ini poinnya itu apa? Keunikan dari 5 poin ini apa? Ya Sola itu sendiri. Ya Sola-nya itu lho yang unik kalau mau dibilang gitu ya. Ya itu penekanan  bahwa the only way itu adalah satu-satunya, dan sebenarnya di dalam bagian ini kalau kita mau fair apa ada nya, kalau kita bilang mulai dari Sola Gratia ya, terutama perbedaannya karena konteksnya ini beda dengan Roma Katolik, dan sebenarnya sampai sekarang masih tetap perbedaannya ya ndak bisa titik temu di situ kok. Ya itu Sola Gratia misalnya, apakah kalau bicara by grace alone, apakah orang Katolik itu menolak grace? Ndak, mereka juga mengerti. Mereka lebih pakai istilah itu Gratia Prima ya, bahwa grace first, bahwa memang kita membutuhkan anugerah, tapi kemudian setelah anugerah, ada perbuatan baik. Setelah anugerah, ada kebebasan manusia bisa memilih bagaimana dia bisa diselamatkan, ada kooperasi manusia untuk bisa dia mengerjakan keselamatan itu. Jadi apakah Roma Katolik itu menolak anugerah? Mereka terima anugerah, tapi bukan hanya anugerah. Bisa nangkap ya? Poinnya justru di Sola nya itu, by grace alone.

Lalu kemudian bicara Sola Fide, apakah Roma Katolik itu, ataupun di dalam pengajaran yang lain, itu menolak pentingnya adanya iman? Ndak, mereka juga mengerti sangat penting iman. Tapi bagaimana iman itu – bagi di dalam pengertian mereka – tidak cukup, karena harus plus perbuatan baik. Iman itu, atau dalam bahasa mereka yang lebih sophisticated, bahwa iman itu harus menjadi wujud perbuatan baik. Ini di-accompany dengan perbuatan baik, dengan charity dan love dan semuanya, baru itu lengkap. Kalau tidak, tidak cukup untuk keselamatan. Jadi apakah mereka menolak iman? Bukan. Mereka terima iman, tapi bukan iman saja. Dan terutama ini konteksnya tentang keselamatan gitu ya. 3 Sola pertama ini penekanan khususnya tentang keselamatan, apakah kita diselamatkan oleh anugerah saja atau ada perbuatan baik ya. Di dalam penekanan doktrin Reformed: hanya melalui anugerah. Yang pertama itu bukan karena perbuatan manusia, bukan karena kehendak bebas manusia; lalu kemudian kalau iman, itu dikontraskan dengan perbuatan baik; lalu kemudian oleh Kristus saja, yaitu tidak ada perantara yang lain, tidak melalui jalan yang lain. Dan ini yang kita jadi – kalau kita tajam di sini ya – itu akan berbeda dengan Roma Katolik. Apakah Roma Katolik mengakui pentingnya Kristus? Oh ya pasti, mereka sakramennya bilang itu selalu – mereka sebutnya ekaristi ya, dalam ekaristi itu – oh itu menjadi setiap kali itu menjadi tubuh, darah Kristus. Mereka itu mengerti pentingnya Kristus. Tapi di dalam doanya, di dalam pelaksanaannya, semuanya kenyataannya bukan Kristus saja. Jadi pemahamannya itu, itu yang penting. Dan kita harus nangkap kuncinya itu di sini ya. Dan nanti selanjutnya ketika kita bicara juga – ya bukan saya bahas ya – tentang Alkitab, orang Roma Katolik itu mau mengakui Alkitab tapi mereka menambah plus tradisi. Selain ada Aprokrifa dan seterusnya, dan banyak hal-hal lain yang mereka tambahkan. Jadi bukan Alkitab saja ya, dan sampai akhirnya nanti, bukan kemuliaan bagi Allah saja.

Sehingga ketika kita melihat di dalam pembahasan ini kita harus mengerti kuncinya itu perbedaannya di sini. Dan bagaimana doktrin kita itu sampai se-detail di sini, ini kenapa? Ini karena memang dari Alkitab sendiri. Kenyataannya adalah dari statement Yesus sendiri Yohanes 14:6-7 yang kita bacakan bersama, bahwa Kristus sendiri yang mengatakan bahwa, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Lalu Dia katakan apa? “Banyak orang mau datang kepada Bapa. Boleh sih, tapi lewat Saya juga boleh,” begitu ya? Ndak ada. Kalimatnya langsung ekslusif sekali bahwa, “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Ini kita melihat terjemahan yang mana pun gitu ya, mau diperhalus bagaimana pun memang aslinya memang seperti ini, bahwa tidak ada seorang pun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Kristus. Jadi memang hanya melalui Kristus dan tidak bisa ada yang lain. Dan di sinilah kita mengerti satu-satunya cara, satu-satunya jalan keselamatan itu melalui Kristus, bukan karena statement dari Bapa-Bapa Gereja, bukan karena statement dari pendeta, bukan karena adanya orang-orang Kristen yang fanatik cuma mau sembah kepada Tuhan Yesus, tapi karena dari statement Tuhan Yesus sendiri. Jadi di sini kita mengerti bahwa by grace alone, by faith alone, and Solus Christus, bahwa melalui Kristus saja itu kenapa? Bukan karena fanatisme dari orang Kristen, bukan orang-orang Kristen itu yang mengelu-elukan agamanya paling utama, ndak, tapi karena masalahnya dari Kristus sendiri yang mengeluarkan statement demikian, statement yang ekslusif. Dia tidak membuka celah itu bagi yang lain. “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Jadi, melihatnya itu padanannya itu lewat Kristus ini, dan memang berkaitan dengan keilahian Dia dan seterusnya.

Dan bagian sini kita mengerti ya, jadi ketika kita tegaskan bahwa hanya satu-satunya jalan itu melalui Kristus, kembali lagi kita ini dasarnya, statement kita ini bukan kita ngotot gitu, nangkap ya? “Pokoknya begini, pokoknya ini yang saya imani..” lho bukan, bukan berdasarkan – kalau saya bilang itu iman itu kan ada dua aspek yaitu ada objektifnya lalu ada subjektifnya atau lebih tepatnya personalnya gitu – bukan hanya masalah personalnya karena ini yang paling kita percaya, tapi adalah karena objektifnya memang itu statement dari Tuhan Yesus sendiri, masalahnya statement dari Alkitab itu sendiri ya. Dan itu juga kita temukan di Kisah Rasul 4:12 yang tadi saya bacakan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam nama siapapun juga selain di dalam Dia,” lho memang statement-nya seperti itu, yaitu, “..sebab di bawah kolong langit tidak ada nama lain diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Dan ini adalah satu argumentasi dari para rasul ketika masuk ke dalam perdebatan, dipertanyakan, diminta – kalau mau dibilang – apologetika, pertanggungjawaban imannya, dia menjawab demikian, ya memang keselamatan hanya ada di dalam Kristus, dan itu yang mereka percayai, itu yang mereka imani, kita setuju ndak setuju itu lain hal tapi objectively, inilah diajarkan di dalam Alkitab.

Ekslusivitas keselamatan itu, satu-satunya jalan keselamatan itu melalui Kristus, dan karena itulah kita mengerti ini yang kita pegang. Dan ini ketika kita pegang, bukan bersandarkan kepandaian teologis kita, atau ke seberapa kekuatan karakter kita mungkin, kalau ada mau pakai ke sana gitu, untuk menekankan apa yang kita percaya conviction kita, tapi karena memang Alkitabnya ngomong begitu. Karena dari Yesus sendiri mengatakan demikian. Dari para rasul, dari awal-awal Yesus naik, mereka juga statement mengertinya demikian, dari jemaat mula-mula mengerti seperti itu.

Dan kalau kita bisa lihat dari bagian sini, itulah kenapa mereka mati-matian, kalau mau dibilang, sampai rela ‘mati konyol’, sampai dimatikan, itu karena masalah di sini. Karena masalah di sini. Kalau saja ya orang Kristen itu dari awal itu, “Oh kamu sembah Tuhan Yesus,” terus ndak apa-apa, habis itu sembah juga ada yang lain, oh mereka ndak akan soal, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Mereka tidak akan ribut. Atau kalau kita mau konteks sedemikian mundur, saya pernah jelaskan, kalau mereka percaya Tuhan Yesus, ya, diselamatkan, plus ada tambah sunat, tradisi yang lain, oh ndak apa-apa kan ok. Sudah dari dulu, Abraham juga disunat dan seterusnya. Kalau memang mereka mau stay seperti itu, ya, mereka ndak akan dianiaya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian.

Ini kalau masi ingat pembahasan di berapa bulan yang lalu ya, kalau mereka mau ikut itu, ya ‘toleran’ lah, ndak apa-apalah campur ini itu jadi jangan terlalu ekslusif lah, seperti itu, ya mereka tidak akan dianiaya, mereka tidak akan ribut, tidak akan ribut dengan orang Yahudi, dan tidak akan sampai ditendang keluar sama oleh orang Romawi karena lihat ini adalah agama ilegal. Dan itu permasalahannya. Tapi kenyataannya mereka bela-belain itu mati-matian, bukan hanya mereka saja – bagi saya itu satu hal itu kita bilang ya saya rela mati karena saya percaya – tapi hal itu sampai mereka lihat, keluarganya, pasangannya, istrinya, anaknya, dimatikan, dan mereka tidak mau tetap sangkal iman, itu mereka bayar harga di situ. Dan kalau kita bisa lihat di dalam, secara datanya mungkin, seperti mati konyol gitu tapi kenapa mereka lakukan? Karena mereka mengerti itulah yang benar. Dan kenapa mereka bela? Karena itulah yang Kristus katakan. Dan memang kenyataannya keselamatan itu hanya melalui Kristus. Dan karena itulah mereka willingly, mereka dengan suka rela, dengan setulusnya mereka lihat itu pantas itu dijalani gitu ya, bukan karena mereka benci bangsanya, bukan karena mereka sudah bosan hidup dan seterusnya, tapi adalah karena mereka mengerti masalahnya inilah kebenaran iman itu sendiri. Ini mereka percaya. Dan mereka ndak bisa sangkali iman itu pada Tuhan kita Yesus Kristus sendiri. Kenapa? Karena Kristus sudah mengatakan demikian dan para rasul sudah mengatakan demikian sehingga tidak ada kompromi di sini. Itu adalah memang suatu yang mereka jalani, dan ketika terjadi penganiayaan seberat itu, mereka lihat itu sebagai konsekuensi dari ketika mereka menjalankan, menaati perintah Tuhan, sesuai prinsip kebenaran iman yang sejati itu di situ. Bisa nangkap di sini ya? Jadi mereka itu bukan sengaja ini cari gara-gara seperti itu.

Orang Kristen mula-mula itu bukan sengaja jadi pembuat onar gitu ya. Dalam satu artian, sebenarnya kalau kita mau bandingkan dengan orang-orang Yahudi, ada sekte-sekte Yahudi, seperti orang Zelot itu memang ‘sengaja’ cari buat onar gitu, dan memang ada suatu agenda politisnya itu ingin melakukan pemberontakan dan seterusnya. Tapi kalau kita baca, kita sebenarnya malah tidak terlalu ada nuansa untuk melawan pemerintah gitu ya. Selain statementstatement-nya itu ya bahwa Kristus itu adalah Soter, Dia adalah Juruselamat. Dan di zaman itu, kaisar itu adalah Soter, dia adalah juruselamat. Kaisar itu disebut anak Allah. Dan ini mereka mengklaim ada anak Allah yang lain, dan itu jadi masalah. Oh, ini kelompok ini apakah mau memberontak? Oh ndak kami tidak lawan pemerintah karena Tuhan Yesus mengatakan yang milik Kaisar berikan kepada Kaisar, yang milik Tuhan berikan pada Tuhan, ya, tau cerita tentang poin itu. Dan para rasul seperti kayak rasul Paulus sendiri mengatakan tidak percuma pemerintah menyandang pedang, dan mereka tetap menaati di dalam sejauh mana batas mereka bisa menaati.

Orang Kristen di zaman awal mula-mula itu ya, paling awal, mereka pun harus membayar pajak kepada pemerintah Roma. Dan di dalam mereka membayar pajak, kalau kita bisa bilang itu dalam satu artian, oh dipakai untuk tindas lagi mereka. Iya, tapi mereka menaati itu. Kenapa? Sesuai dengan prinsip yang ada, tidak bertentangan dengan iman di dalam bagian ini. Tapi yang bertentangan itu ketika dikatakan oleh Romawi, “Ndak kamu ndak boleh sembah pada Yesus,” maka di situ mereka ndak bisa kompromikan. Jadi isu keselamatan itu begitu sentral dari awal, dan karena itulah mereka rela mati di situ. Ini bukan isu sekunder. Ini bukan cuma oh ini mah urusan-urusan teolog, ini mah orang yang suka belajar itu teologi baru mengerti. Nggak. Masalah nya mereka itu mati-matian di situ. Dan bahkan ini dari ‘awal sekali’ – kalau kita bilang dari statementstatement ini – sebelum satu pun kitab Perjanjian Baru ditulis, ini sudah mereka percaya. Bisa ngikutin di sini ya? Secara sejarahnya kan penulisan Perjanjian Baru itu di kemudian hari. Jadi sebelum menuliskan ada satu pun kitab Perjanjian Baru, mereka sudah mengerti ini sudah digenapi Mesias, dan Dialah jalan keselamatan itu. Apa yang mereka dapatkan dari pengajaran Kristus – secara langsung tentunya, secara oral, belum tertulis – tapi mereka sudah mengerti, ini yang mereka jalani.

Dan memang ekslusivitas keselamatan itulah yang menjadi permasalahan, kalau mau dibilang, dan menjadi titik kontranya dengan bagaimana orang sekitar. Dan kita mengerti akhirnya ini yang – entah bagaimana di dalam sejarah itu ya saya tidak memasuki detail – akhirnya semacam di-downplay oleh dari Roma Katolik, akhirnya oh terungkap oh bisa yang lain, oh ada juga para santo santa yang lain. Dan inilah kita bersyukur di dalam bagian ini, akhirnya pada tahun 1500an gitu ya, di waktu era Reformasi, akhirnya mengingatkan kembali poinnya dari awal ini apa sih? Yang mereka perdebatkan dari gereja mula-mula ini apa sih? Yaitu keselamatan yang melalui Kristus, tidak ada jalan lain memang. Karena itulah tidak ada mediator yang lain, tidak ada perantara yang lain, dan kita tidak berdoa kepada orang-orang yang lainnya. Hanya melalu Kristus, hanya melalui Dialah kita bisa datang kepada Bapa, bukan melalui yang lain. Kalau dari dulu ada celah sedikit, bisa melalui yang lain, aduh, kita tidak akan dianiaya seberat itu. Para misionaris tidak akan mati konyol untuk pergi pelayanan sampai ke dusun-dusun, pelosok-pelosok. Kenapa? Oh boleh kok sembah Yesus, oh tambah lagi kamu ada sendiri, sembah arwah-arwah, oh kepada leluhur oh ndak apa-apa gitu. Kalau memang dari dulu boleh ya mereka ndak akan mati konyol.

Tapi mungkin di dalam satu artian tertentu, mungkin gitu ya, ada kepahitan dalam Paus-nya mungkin ya, aduh ini kita kirim misionaris bolak-balik mereka akhirnya mati konyol. Sudahlah, kompromi, kompromi, supaya apa? Supaya tidak dianiaya. Karena memang kemudian hari gereja established dan akhirnya mau lebih mengkompromikan dengan situasi, konteks beda, kota beda, oh itu kan kondisi di sana kalau kota ini beda Pak, atau mungkin – saya nggak tahu ya jemaat di sini – “Oh itu di Jakarta Pak, kalau ini Jogja beda. Ada konteks sendiri, beda,” gitu ya. Tidak seolah-olah keselamatan atau kebenaran itu ndak bisa berlaku universal gitu. Tapi kalau kita lihat di dalam bagian ini, itu diperjuangkan di mana pun, kota mana pun, tempat mana pun, ini tetap ini satu-satunya jalan, dan satu-satunya mediator, dan sepanjang sejarah kekristenan akan jalan harus demikian.

Dan ini ditegaskan di sini, Solus Christus, hanya melalui Kristus itu, seberapa banyak kita mengerti bahwa memang hanya Dia satu-satunya. Ini dasar keselamatan kita. Dan kembali lagi ini bukan masalah seberapa kita itu semacam yakin, ngebet-nya di sana – kalau mau bilang kasarnya itu, itu aspek subjektif atau personal – tapi memang objectively, memang datanya ngomongnya gitu, memang Yesus-nya ngomong gitu, itu masalahnya. Itu kalau misalnya kita pakai ngomong, “Oh ndak lah, bisa lewat yang lain,” suatu saat kita bertemu Yesus kita akan jawab apa? Ketika suatu saat kita bertemu Sang Anak Allah itu yang mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku,” kita akan jawab apa? “Oh Kamu salah? Oh Engkau ini penafsirannya putar, begini begini,” gitu ya? Ndak bisa, ndak bisa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Dan sebenarnya saat itu baru kita tahu kita cuma bisa speechless gitu. Ya kalau kita memang melawan, ya mungkin selama di dunia ini ya, pada akhirnya nanti kita ndak bisa ngomong apa sih. Dan statement ini masalahnya ada gamblang jelas di dalam Alkitab gitu.

Saya lanjut lagi ya, baca di dalam bagian lain ya, seperti di dalam 1 Timotius 2:5, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Bagian sini menarik ya, statement ini, satu ini dari Paulus gitu ya yang kadang-kadang orang bilang oh ini yang bikin Kristen itu jadi tritunggal gitu ya dan seterusnya, tapi kita lihat di bagian sini dia menegaskan Allah itu esa, jadi dia melihat dari aspek satu-nya itu. Ya memang tritunggal gitu ya, dan tapi dia tekankan hanya ada Allah, hanya ada satu macam Allah, the only, the only God, gitu, dan hanya ada satu juga perantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus. Bagian sini ketika bicara kok dia sebut manusia Kristus Yesus ya? Kita jangan terganggu teks ini terus bilang oh Yesus itu, dari Paulus juga ngomong Yesus itu cuma manusia gitu ya. Itu kayak orang itu kayak cari teks itu maunya tulis selalu lengkap gitu ya ‘Allah itu Esa’ misal, harus ‘Allah itu Tritunggal’ gitu ya. Kita bisa nangkap ya? Tidak harus teksnya itu sebegitu saklek-nya kayak gitu karena memang dia bisa ngomong esa itu ambil aspek unity-nya, kesatuannya ya, lalu kemudian manusia Kristus Yesus dia bicara aspek kemanusiaannya Kristus ya. Di bagian-bagian lain Paulus tentu mencatat bahwa jelas Kristus Yesus itu adalah Tuhan kita, ya.

Nah tapi menarik karena dia sebut Dia itu manusia Kristus Yesus, ini bicara Dia aspek perantara kita secara Dia itu aspek manusianya. Yaitu Dialah satu-satunya wakil kita antara dunia ini dari yang datang kepada Allah. Dan makanya tidak heran nanti di dalam kitab Roma seperti bilang akhirnya itu bilang kita itu di dalam Adam atau di dalam Kristus, cuma ada 2 macam perwakilan. Nah ini yang dia maksud di sini. Dan secara representasi manusia, entah cuma ada pilihannya itu kita di dalam Adam – dan akhirnya dengan segala kegagalannya dia jatuh dalam dosa dan seterusnya kita menerima dosa asal itu dan seterusnya – atau kita dalam Kristus. Dan melalui Kristuslah kita mengerti Dia menjadi perantara kita datang kepada Bapa. Kita tidak butuh perantara yang lain ya. Karena perantara kita hanya satu ya, dan karena itulah kalau kita mau lihat dalam teksnya ini, tanpa saya masuk lebih dalam ke dalam konteks kitabnya, tapi itu dia kenapa tegaskan Allah itu Esa itu untuk supaya pandangan gampang orang ini bahwa Allah itu cuma satu macam dan satu macam perantara ini. Tidak ada perantara lain.

Kalau kita kadang, ya namanya di Indonesia itu ya, kalau misalnya urus SIM bisa pakai calo gitu ya. Urusan ini urusan ini pakai calo gitu ya. Tidak ada calonya untuk ke surga, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Kita mau pakai calo siapa? Hanya ada satu perantara Allah dan manusia yaitu manusia Kristus Yesus. Itu sudah digenapi oleh Kristus, hanya Dialah menjadi mediator kita, Dia jadi perantara kita. Di dalam Ibrani 7:25 mengatakan, “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.” Ini bicara bahwa Kristus itu sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Jadi hanya melalui Kristus. Kristus itu sanggup menyelamatkan kita dengan sempurna tidak butuh plus tambah santo santa yang lain. Tidak perlu tambah lagi yang lain-lain. Karena apa? Kristus itu sanggup menyelamatkan kita dengan sempurna. Dia memberikan kita perfect salvation itu. Keselamatan yang sempurna.

Dan memang kembali lagi ya kalau di 3 Sola ini sebenarnya lebih banyak penekanan di keselamatan dan khususnya di dalam aspek penekanannya di justification-nya gitu. Bagaimana kita menjadi status orang benar, bagaimana kita itu dapat initial salvation, kalau mau dibilang seperti itu, bagaimana kita pertama kalinya dapat menjadi selamat, dan bagaimana itu menjadi dasar kepastian keselamatan kita ya. Dan nanti tentu ada bagian lain lagi, kita tidak bahas ini, bagaimana keselamatan tidak bisa hilang karena dijamin oleh Kristus sendiri. Karena keselamatan sempurna ya. Di dalam bagian ini ada teolog yang mengatakan, membedakan begini, kalau misalnya kita bedakan justification dengan sanctification, justification itu bicara pembenaran, kita dibenarkan oleh iman. Ya itu sudah dibahas – saya percaya – oleh Vikaris Lukman pada minggu yang lalu ya, bagaimana kita status dibenarkan oleh iman ini bicara status kita dan kepastian keselamatan kita. Ini beda dengan pengudusan.

Kembali lagi ya kenapa Alkitab bahas begitu? Ini seperti dari Agustinus itu pernah mengatakan gitu ya, itu jangan pikir doktrin-doktrin yang kita buat ini kita sengaja, jangan kamu menyangka kita ini membuat doktrin ini rumit itu kami sengaja buat rumit gitu ya. Nggak. Kalau ini, dia pakai istilah itu, kalau doktrin-doktrin yang ada ini itu memang buatan kami, pasti kami buat mudah. Tapi karena masalahnya ini dari Allah dan memang ada kompleksitas dan keindahan dan besarnya keluarbiasaannya Alkitab itu sendiri, sehingga memang akhirnya waktu kita menjelaskannya itu sulit gitu. Jadi ada kesulitan dalam doktrin bukan karena disengaja dibuat sulit. Bisa nangkap sini ya? Atau kalau orang Indonesia itu kalau bisa sulit kenapa dipermudah. Bukan gitu gayanya. Bukan gitu gayanya. Sebenarnya ada karena memang ada kompleksitas yang ada, dan karena itu dalam doktrin Alkitab kita coba paparkan di sini supaya orang tidak keliru nangkapnya.

Nah kembali lagi di dalam aspek pembenaran ini, itu ada suatu yang status dan satu kali langsung sempurna. Status kita di hadapan Allah sebagai orang benar ya. Tapi kemudian ketika pengudusan, ini tidak sempurna karena kita berproses dalam dunia dan tidak ada sempurna selama di dunia ini. Ini kita perlu membedakan ya di dalam bagian ini. Kembali lagi dalam aspek justification status kita sebagai orang benar apa dasarnya kalau kita bisa masuk surga itu adalah karena pembenaran yang dikerjakan oleh Kristus, bukan karena perbuatan kita. Dan itulah sebabnya penjahat di samping itu kenapa bisa selamat, dia hidup kudus kayak apa? Nggak ada dia, cuma jalan sekian jam itu nggak sempurna memang. Kita yang dalam kehidupan ini mungkin bisa berjalan pengudusan, berproses masih lebih baik, lebih ‘banyak’ daripada penjahat di samping Yesus, itu mungkin betul ya kalau mau dibilang secara aspek pengudusannya, bertumbuh lebih baik daripada penjahat di samping. Tapi dasar keselamatan kita adalah status pembenaran di hadapan Allah dan itu digenapi sempurna, dikerjakan oleh Kristus Yesus. Ini sempurna dan sama bagi semua orang.

Jadi kalau bilang justification, pembenaran sama bagi semua orang. Serius lho tidak ada bedanya kita, anda, kami hamba Tuhan, atau even kayak Pak Tong yang sudah kerjakan pelayanan sebesar apa, kalau mau dibilang seperti itu, status pembenaran kita sama di sini. Tapi kalau bicara aspek pengudusan ya memang kenyataannya berbeda. Ada orang sudah kerjakan giat pelayanan sekian, ada orang bisa ya kalau mau dibilang misalnya memberikan perpuluhan, janji iman lebih telaten, lebih rutin, lebih sungguh, lebih banyak dibandingkan yang lain, itu memang beda. Tapi kembali dasar keselamatan kita itu dari pembenaran ini. Dari apa yang dikerjakan Kristus dan di initial salvation-nya itu. Dan di bagian lain nanti tentu ada dibahas bahwa itu adalah sesuatu yang tetap dan tidak akan hilang karena Tuhan yang topang.

Tapi kita kembali sini sehingga seperti dari Ibrani ini katakan dia sanggup menyelamatkan mereka dengan sempurna, semua datang kepada Dia. Tidak perlu pakai tangan yang lain sebab Dia hidup senantiasa menjadi pengantara mereka. Berarti Kristus itu terus menjadi perantara kita, kita tidak butuh perantara yang lain. Kita tidak butuh Maria, ya santo santa yang lain, karena memang kita sudah punya Kristus. Tidak butuh yang lain. Lalu Ibrani 9:15, “Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.” Ya di dalam konteks pasal 9 ini saya mengkaitkan antara Perjanjian Lama Perjanjian Baru, kenapa ada 2 ini, dan setidaknya saya singkat dari bagian sini mau mengatakan bahwa bahkan orang dari Perjanjian Lama, dasar keselamatannya adalah Kristus. Jadi tidak ada pengantara yang lain memang. Kita jangan pikir oh orang Perjanjian Lama itu selamat kenapa? “Itu Pak, mereka rajin itu lho, sembelih domba, potong kambing, oh banyak banget itu dipotong jadi mereka selamat. Atau karena menjalankan hukum Taurat?” Nggak. Sebagaimana kita mengerti dari Perjanjian Lama itu, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bedanya apa? Ya cuma bedanya sedikit di sini, yaitu Perjanjian Lama melihat ke depan kepada Kristus yang akan datang, sedangkan Perjanjian Baru melihat, beriman pada Kristus yang sudah datang. Tapi fokusnya sama kepada Kristus.

Kembali lagi ya orang Perjanjian Lama itu beriman, mengadah kepada, beriman mengarah kepada Kristus yang kelak akan datang ya. Kemudian kita – Perjanjian Baru – beriman pada Kristus yang sudah datang. Meski lebih lengkapnya nanti dan juga yang akan datang pada kedua kalinya lagi. Jadi fokusnya kembali kepada Kristus dan memang hanya Dia perantara kita. Di dalam Perjanjian Lama masih dalam bentuknya pakai persembahan korban, mereka makanya sembelih domba, kambing, dan seterusnya, itu harus persembahan yang terbaik lho. Persembahan terbaik. Yang terbaik yang mereka pelihara kambing dombanya itu yang paling baik cuma untuk apa? Untuk dimatikan menghapus dosa mereka. Dari dulu mereka lakukan ini, tapi kemudian setelah baca di Alkitab kita mengerti ya ini nggak cukup. Pengorbanan kambing domba ini tidak cukup memberikan keselamatan pada kita.

Saya tidak mengarang ya tapi di beberapa yang lalu saya pernah lihat ada suatu spanduk gitu ya. Gambar sapi terus diedit Photoshop gitu ya, panjang jadi kunci. Tahu tulisnya apa? Kunci ke kerajaan surga: berkurbanlah. Gitu ya. Itu ya kita rasa mungkin agak terlalu norak atau apa tapi anyway, memang pemikirannya gitu. Kurbannya sapi, dikurbankan ini untuk kamu itu bersedekah gitu ya. Mungkin memang akar katanya dari sedeq itu sendiri righteousness. Dari situ kamu bisa hidup benar dan ini kamu diterima Tuhan, kamu memberikan kurban, kurban, kurban, seperti itu memang. Selain memang ada banyak kelemahannya dan sebenarnya Alkitab sendiri sudah memberikan indikasi ini sebenarnya tidak cukup menyelamatkan kamu ya, tapi minimal kalau kita masuk di bagian ini saja, saya bisa argumen sederhana sih gini ya, misalnya suatu saat Bapak, Ibu, Saudara, saya bawa kendaraan ya seperti misalnya dari tadi Solo datang ke sini (Jogja) bawa mobil, bawa kendaraan, terus karena pagi-pagi gitu ya mungkin setengah ngantuk gitu ya, agak oleng sedikit eh tabrak anak kambing gitu ya. Waduh ketabrak anak kambing. Kenapa ini? Berdarah. Waduh, terus kami berhenti terus lihat ini gimana? Keluar pemiliknya, “Wah ini si Bleki ini kesayangan saya, aduh sampai mati, aduh kenapa Bapak tabrak?” “O ya maaf ya, kami namanya baru pagi gitu ya apa masih setengah ngantuk terus nggak lihat. Maaf ketabrak ya.” Lalu pasti kami akan diskusi gimana penyelesaiannya. O iya kami akan ganti mungkin ganti dengan kambing yang sama atau kalau nggak mungkin ganti bayar. Ya kira-kira begitu kan. Terus kita akan nego berapa harganya, dan mungkin kalau saya bilang harga sekian, mungkin sampai saya datang sini ada yang bilang, “Bapak di-charge kemahalan, harusnya cuma begitu senilai sekian,” gitu ya, dan seterusnya. Kita bisa negosiasi berapa yang pantas harganya gitu ya. Karena apa? Karena yang mati anak kambing. Coba andaikata misalnya ya, saya tabrak anak manusia? Saya tanya, saya masih di sini nggak? Saya ndak sampai sini lho. Kenapa? Urusan di kepolisian panjang. Terus saya ngomong ke orang tuanya, “Oh nggak apa-apa Pak, saya ini kebetulan bawa 2 ekor domba. Tak ganti ya.” Mau nggak dia terima? Nggak ada lho. Satu sisi dia mungkin bisa ngamuk lho. Kamu kira yang mati ini anak domba? Kamu kira yang mati ini anak kambing? Ini anak orang! Anak saya! Kamu kira bisa ganti dengan binatang?

Saya pernah lihat ada suatu klip ya tentang adegan di dalam persidangan ini di luar negri ya, di Amerika sana, dikasih lihat klipnya itu tentang ada seorang bapak, dia duduk, dia menantikan persidangan itu bahwa dia ini keluarga dari anaknya yang dibunuh gitu ya. Lalu dan dia sambil tunggu dia tenang, tunggu, terus di dalam urutan itu dia sudah keluarga sudah masuk, terus muncul dari belakang pintu itu oh inilah pelakunya. Datang pelan-pelan. Si bapak itu dari dia tenang, dia lihat-lihat, langsung lihat langsung loncat dia. Ngamuk lho. Kenapa? Karena nggak bisa terima ya. Sampai dileraikan oleh para petugas gitu ya. Polisi dan seterusnya. “Oh jangan langsung ambil tidakan, Pak.” Karena apa? Karena yang dibunuh ini bukan anak anjing, bukan anak domba, bukan anak kambing, tapi anak manusia. Dan di situlah kita mengerti dan tidak bisa kita tolak paling esensinya: nyawa manusia itu yang bisa menggantikan cuma manusia lainnya. That’s the point. Itu kuncinya memang.

Dan karena itulah kita mengerti selain tentu kita bisa ya kita tanggung sendiri, tapi kita tahu bukan itu yang kita mau jalani, akhirnya makanya Kristuslah yang menanggung dosa kita, dan Dia menjadi korban itu yang sempurna bagi orang di sepanjang segala zaman karena Dialah wakil yang baru, Dialah representasi yang baru. Karena itu tidak bisa pada santo santa yang lain ya. Kenapa para santo itu nggak cukup? Karena mereka juga orang berdosa. Iya lho. Karena mereka juga orang berdosa, mereka juga ada kelemahannya, tidak ada yang qualified seperti Yesus, hanya Yesus sendiri yang bisa mengatakan – bahkan di hadapan musuh-Nya – siapa di antara kamu bisa menunjukkan dosa-Ku? Coba ya statement ini kita berani nggak ngomong itu di hapadan misalnya lawan kita gitu ya? Musuh kita? Dan ini bukan cuma mungkin kadang cong-congan gitu ya antara sama teman mungkin kadang-kadang gitu ya. Tapi ini benar-benar musuh yang benar-benar di garis depan kira-kira gitu. Kalau mau dibilang mungkin ya kalau kita berhadapan, sorry ya, misalnya contoh misalnya dengan FPI gitu ya, atau mungkin ormas-ormas yang ekstrim gitu ya kita ngomong, “Ayo tunjukkan kesalahan saya mana?” Kita berani nggak ngomong gitu? Mereka akan bilang kesalahanmu apa gitu. Apalagi orang Farisi sudah lihat Yesus itu sudah bertahun-tahun, bersama-sama karena mereka itu ya scope-nya di situ-situ saja kira-kira gitu ya. Jadi lihat keseharian orang ini seperti apa. Dan ketika Dia mengajukan tantangannya itu, “Siapa di antara kamu bisa menunjukkan dosa-Ku?” Tidak ada yang bisa ngomong. Memang nggak ada salahnya. Sampai terakhir akhirnya untuk supaya bisa Dia disidangkan oleh Pilatus dan dijatuhkan hukuman, itu Pilatus sendiri ngomong saya tidak menemukan kesalahan pada orang ini. Tapi yang dipakai kadang-kadang pokoknya suara rakyat ya, demokrasi gitu ya. “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Ya sudahlah Pilatus cuci tangan. Kamu yang minta, tak kasih. Memang nggak ketemu salahnya. Dan nanti juga memang di kitab Ibrani juga menjelaskan Dia mengalami berbagai pencobaan tetapi Dia itu tidak berdosa. Ini mau menyatakan sinless, apa ya, sinlessness-nya Kristus gitu ya. Bahwa Dia itu tidak berdosa sehingga Dia bisa menjadi, Dia yang layak menjadi pengantara kita.

Kalau orang berdosa ya dia juga harus bayar dosanya sendiri dulu. Itu sama seperti kalau misalnya kita ini kena hutang ya. Kita berhutang sekian, katakanlah $100.000 gitu. Ke bank, waduh saya nggak bisa bayar ini gimana? Terus kita misalnya minta bantuan ke siapa, oh ini ada teman saya, bantuin dong. Terus teman kita ngomong, “Saya juga ada hutang $50.000 nggak bisa bayar.” Terus dia bantuin kita? Ya nggak bisa. Yang bantuin kita bisa itu siapa? Yang tidak ada hutang. Sederhana kan. Yang tidak ada perlu bayar, dan terutama ini kita bicara tentang dosa. Dan karena itulah kita mengerti pentingnya bahwa Kristus tidak berdosa, akhirnya Dialah satu-satunya yang tak bercacat itu yang bisa menjadi perwakilan kita untuk menjadi perantara kita. Kenapa hanya melalui Kristus? Karena memang Dia juga bukan hanya manusia. Nanti kalau kita melihat dalam keseluruhan pembahasan dalam Alkitab maka kita temukan karena memang Dia juga adalah Allah. Dia adalah Sang Anak Allah itu atau Allah Anak. Seperti dalam 1 Yohanes 2:1 “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.” Yaitu pengantara kita kalau kita berbuat dosa kita minta ampun itu tidak butuh ada yang lain lalu dari yang lain ini ngomong ke Tuhan Yesus. Langsung kepada Kristus.

Ini akhirnya breakthrough dalam banyak hal, di dalam Reformasi. Itulah sebabnya Bapak, Ibu, Saudara sekalian kalau anda jatuh dalam dosa, bukan anda datang ke kami hamba Tuhan terus masuk bilik, ada kotak-kotak. “Vikaris Leo,” “Kenapa?” “Saya ada buat dosa begini begini..” “Oh begini..” terus konseling gitu ya. Ya sudah habis itu didoakan, saya ampuni dosamu. Anda tidak butuh kami. Langsung, directly ke Kristus. Kenapa begitu? Karena memang dari statement Alkitab sendiri. Kita lihat tidak ada bedanya gitu ya, dan kita bisa bayangkan bagian sini itu kita punya direct access gitu. Ini bukan kita buat menjadi begitu karena untuk covenient gitu ya, supaya nyaman. Nggak, karena memang pasalnya Alkitab menyatakan begitu. Jelas perantaranya itu memang hanya Kristus, tidak pakai santo, santa, juga tidak pakai hamba Tuhan yang menjadi perantara. “Waduh, saya sudah berdosa,” kita kadang suka begitu kan. Kalau kita sudah jatuh dalam dosa, “Aduh saya butuh perantara supaya damai, siapa ya?” Ndak bisa direct, ndak bisa langsung gitu ya. Tapi kalau di bagian ini, jelas sekali dituliskan kalau kita jatuh dalam dosa, perantara kita langsung pada Kristus, dan dari Kristus itu datang kepada Bapa. Dan kita lihat kenapa melalui Kristus? Karena Dia sudah mati untuk dosa-dosa kita dan termasuk dosa yang barusan kita lakukan itu, yang barusan kita akui itu, Dia mati untuk itu juga. Kita tidak butuh perantara yang lain.

Dalam bagian ini kita mengerti keimaman Kristus biarlah – nanti kalau ada pembahasan Calvin bahwa – kita tidak membutuhkan raja yang lain, tidak membutuhkan nabi yang lain, tidak membutuhkan imam yang lain karena Kristus sudah memegang ketiga jabatan ini. Dialah Sang Raja yang dinantikan itu. Dia Sang Imam dan bahkan Dia menjadi domba itu sendiri untuk dipersembahkan – yaitu banyak dibahas dalam Kitab Ibrani – dan Dia adalah Sang Nabi itu yang menyatakan Tuhan, menyatakan Bapa itu siapa. Ketika kita melihat Kristus, kita melihat Bapa. Melalui Dia. Itulah sebabnya dalam Yohanes dikatakan tidak ada seorangpun melihat Bapa selain dari Anak. Itu bicara hanya Dialah yang menyatakan, mengungkapkan Bapa itu seperti apa dan melalui Dia itu penekanannya. Tentu bagian ini bukan menyangkali kenyataan dalam Perjanjian Lama ada pakai para nabi, tapi menyatakan inilah pengantara utama itu dan kegenapan klimaks dari semua sejarah Perjanjian Lama digenapi dalam Kristus. Karena itu kita tidak butuh imam yang baru, kita tidak butuh Paus, yang disebut sebagai Vicar of Christ (wakil Kristus). Itu beda dengan saya, saya Vikaris, saya wakil gembala gitu ya. Itu beda. Paus itu mengatakan dia adalah wakilnya Kristus di dunia dan ini jadi perbedaan kontras kita yang tajam dengan katolik adalah di situ.

Saya bahas lebih lanjut lagi disini, kalau bahas tentang mereka itu ya argumennya saya ada pelajari juga karena tidak mau argumennya itu cuma yang dimasa lampau tetapi masih pakai zaman sekarang, di-update lah kalau mau dibilang. Kalau kita tanya, “Kenapa sih mereka itu berdoa kepada orang yang sudah mati? Kepada santo atau santa?” Saya nggak tahu kenapa. Orang Katolik itu coba memperhalus dia punya ungkapan, “Itu kan seperti kamu minta orang lain doakan. Oh sama kan dalam kehidupan.” Misalnya ya saya minta di sini, “Yudha tolong doakan saya.” Umum kan? Bisa kan? Ataupun sebaliknya Yudha minta saya doakan. Umum kan? Dia bilang, “Oh itu sama kita berdoa kepada orang-orang kudus itu ada minta mereka mendoakan kita,” gitu ya. Dan mereka tarik argumen itu, “Dan memang kan di sorga mereka hidup jadi mereka mendengar doa kita.”

Tapi saya rasa argumen ini banyak sekali masalahnya selain memang dalam Alkitab itu melarang kita mencari petunjuk dari arwah dan seterusnya – itu ada dalam Perjanjian Lama – tapi minimal saya bahas dari ini saja. Kalau misalnya saya mau minta Veri doakan saya (pengkhotbah memperagakan berbisik-bisik dari mimbar) “Veri doakan saya ya.” Dia bisa dengar nggak? Dia akan ngomong, “Deketan dong!” Tapi kalau saya sampaikan doa itu ada masalah space lho. Karena ngomong itu komunikasi ya, atau setidaknya pakai mikrofon ini baru kedengaran. Lalu kita pikir kita doa di tempat kita rumah sendiri apalagi komat kamit dalam hati terus Maria dengar gitu? Nggak kedengaran. Jangankan itu, saya khotbah ini saja nggak kedengaran oleh jemaat yang di Solo, ya iyalah jauh sekali. Ini cuma Jogja-Solo dengan jarak berapa kilo. Berapa jarak dari dunia kita ke sorga? Terus bisa kedengaran gitu ya? Kalau astronot ke luar angkasa terus kedengaran, “Oh banyak orang doa,” gitu ya? Ya kita nggak bisa dengar. Kenapa? Kejauhan. Itu ada batasan jarak. Dan bagi saya dalam bagian ini, orang kalo bilang berdoa kepada orang mati atau bahkan ke kuburan ngomong gitu ya, itu emang dia masih di situ atau ngintel gitu ya? “O eyang ini saya hidup susah,” hati-hati ya nanti dia muncul gitu ya. “O tadi kamu ngomong apa, Cu? Kurang dengar.” Gitu ya. Tapi kalau dia sudah di surga ya nggak kedengaran.

Tapi ada 1 pribadi, actually 3 pribadi yang bisa mendengarkan doa-doa kita karena Dia tidak dibatasi oleh ruang, yaitu Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus. Hanya Allah yang bisa mendengarkan doa kita yang komat kamit, yang dalam hati, yang volume-nya tidak sejauh itu pun Dia bisa dengar, bahkan di dalam tempat tersembunyi kita, Dia bisa dengar. Sehingga bagi saya ketika bilang orang mati itu bisa dengar doa kita, berarti dia harus di samping kita, berarti gentayangan. Kasihan ya cuma untuk mendengar doa kita dia harus gentayangan. Belum lagi minta barengan, ada di sini doa kepada Santa Maria, terus di sana juga doa Maria, Maria keliling-keliling setiap hari terus kapan doanya. Saya juga bingung.

Dan bagi saya hal-hal yang lain itu juga bukan cuma limit of space, tapi juga limit of time. Coba saja kita andaikan hitung ini saya cek data dari saya search terakhir 2018 itu jumlah orang Katolik di seluruh dunia diklaim 1.3 miliar. Oke besar ya. Lalu mereka kan ada praktek doa Rosario yang butuh waktu sekitar 15-30 menit. Sekitar situ. Ada yang bilang sampai satu jam. Doa Rosario itu kan diantaranya ada doa kepada Maria. Tapi kita ambil misalnya 10 menit aja deh untuk berdoa kepada Maria. Saya tanya ya, Maria butuh waktu berapa lama untuk mendoakan itu? Nangkap ya. Kalau saya minta doa kepada Yudha, “Yudha ini pokok doa saya.” Terus Yudha doakan karena saya sendirian. Kalau saya ngomong satu menit, Yudha berdoa satu menit juga. Kalau orang Roma Katolik 1.3 miliar ini berdoa selama 10 menit kepada Maria, dia butuh berapa waktu untuk mendengarkan dan mendoakannya? 1.3 miliar berarti kalau dikali 10 menit, ini sederhana sih saya buat kalkulasinya sekitar 13 miliar menit. Sekali semua Roma Katolik berdoa cuma 10 menit itu menjadi 13 miliar menit dan berarti 24.733 tahun. Sekali berdoa ya. Ini belum hitung orang Roma Katolik yang sudah berabad-abad lalu dan yang sudah mati terlebih dahulu. Sekali orang Roma Katolik kompak ayo semua doa Rosario, semua doa kepada Maria, sekali doa 10 menit, langsung 247 abad untuk didoainnya. Gila. Mungkin ketika Kristus sudah datang kedua kali, kita sudah di sorga bertemu Maria masih doa, kenapa karena hutang yang lalu, terus doakan yang lalu. Ada satu perempuan di pojokan masih berdoa kenapa karena hutang doa dari abad-abad yang lampau.

Di sini kita lihat itu suatu hal yang absurd, ridiculous, tidak bisa masuk, dan kalau kita lihat disini itu sebenarnya, basic saja, hanya ada satu, actually tiga yang bisa melakukan itu, mendengarkan sekaligus karena Dia tidak dibatasi ruang dan waktu, yaitu Allah. Sehingga kita ramai-ramai doa, Dia dengar sekaligus. Dan itu juga bicara aspek lain ngomong rame-rame gitu ya. Kita kalau kayak PA (Pendalaman Alkitab), kalau misalnya pas kebetulan rame, “Oh saya mau tanya, Pak. Saya mau tanya.” Kita kan suruh gantian. Tapi hanya Allah yang bisa mendengar bersama-sama. Kita tadi ada doa syafaat bersama-sama, hanya Allah yang bisa mendengar satu per satu masing-masing kita itu ngomongnya apa. Kalau manusia ya terbatas memang nggak bisa mendengar, karena dia tetap manusia yang terbatas. Kecuali diasumsikan mereka itu ilahi, nah itu masalahnya selalu di situ. Kalau diasumsikan orang setelah mati terus menjadi seperti dewa, ya dia memang tidak terbatas ruang dan waktu tapi akhirnya kita mengerti itu berarti menduakan Allah, ada yang kita anggap sebagai suatu ilahi yang lain. Dan di bagian ini kita mengerti sebenarnya praktek doa kepada Maria itu muncul abad belakangan, itu kita bisa tanya kenapa sebelumnya tidak ada. Tapi bagi Roma Katolik pokoknya keputusan Paus nggak pernah salah jadi Paus ngomong demikian tidak ada di Alkitab pokoknya dijalankan. Itu memang satu permasalahan yang saya lihat menjadi momok bagi Roma Katolik.

Tapi di bagian ini kita bisa mengerti setiap kita dalam pergumulan kita langsung datang kepada Kristus lho, langsung direct access. Itulah kalau kita mengerti dalam satu bagian kenapa ketika Kristus mati kemudian tirai bait suci itu terbelah dua itu bicara supaya kita ada direct access kepada Kristus. Menarik kalau kita baca dalam Perjanjian Lama, kemarin saya sempat singgung sedikit di pemuda gitu ya, kalau kita lihat para imam itu hanya para imamlah yang boleh masuk di dalam ruang yang suci lalu kemudian ada lagi ruang maha suci itu hanya boleh imam besar, itupun masuk hanya setahun sekali. Iya kan. Dan itu untuk orang bisa jadi imam itu kalau baca di dalam kitab Imamat kita tahu itu diberikan prasyarat-prasyarat itu yang harus sempurna, tidak boleh ada cacat celanya. Termasuk juga yang timpang, yang cacat, y ang buta tidak boleh. Itu kira-kira ngomong apa? Ini kira-kira barisan imam ini superhuman. Manusia nggak ada cacatnya kira-kira begitu ya. Itu yang boleh jadi imam dan dari semua orang yang tidak ada cacatnya itu, maksudnya cacat fisik, itu nanti cuma dipilih dari antara mereka siapa yang menjadi imam besar dan itu yang cuma boleh datang ke hadirat Allah setahun sekali.

Tapi apa yang dilakukan Mesias? Kita lihat Dia melakukan mujizat-mujizat yang memutarbalikkan hal itu. Yang timpang disembuhkan, yang buta melihat. Itu bicara apa? Mereka yang tadinya tidak boleh datang menghadap Allah, mereka yang tadinya hanya bisa di luar tidak boleh masuk karena kami bukan kelompok elit, sekarang melalui mujizat itu mau mengindikasikan kamu bisa datang kepada Allah. Demi datang bukan karena mereka yang beranikan sendiri mau maju masuk ke sana, tapi karena Tuhan yang membuka aksesnya itu sendiri. Bisa nangkap ya? Itu bisa baca sendiri dalam kitab Imamat, yang timpang, yang ada cacat tidak boleh masuk. Yang berikan persembahan, dombanya juga tidak boleh ada cacat cela. Jadi yang matanya belek dikit tidak boleh, keplecok, patah kakinya, atau nggak bagus kakinya, keseleo, itu nggak boleh dibawa. Jadi yang tidak bercacat cela.

Tapi kemudian yang timpang disembuhkan, dan ini bagian bukan untuk kita mengerti cuma sekedar, “Oh itu mujizat, mujizat,” tapi mau menyatakan bahwa inilah tanda Mesias. Mesias datang bukan untuk sembuhkan orang yang batuk-batuk, flu gitu ya, bukan kasih vaksin, bukan. Tapi mau menunjukkan mujizat yang Dia lakukan ini menunjukkan siapa Dia. Dia sedang menggenapi apa, menyelesaikan masalah urusan manusia berdosa itu boleh datang kembali kepada Allah; dan sampai akhirnya ketika Dia mati, genaplah itu terbelahlah itu tirai Bait Suci. Akhirnya yang menjadi pemisah antar ruang yang suci dengan yang maha suci itu terbuka. Ada yang bilang tirai itu terbelah mungkin ada imam kaget, terus penasaran lalu mengintip ada apa di dalam. Terus mengintip, eh tidak mati. Pemisahnya ini ternyata sudah dihancurkan. Yang hancurkan siapa? Dari Allah sendiri. Dari Allah sendiri, karena melalui kematian Kristus, tirai yang begitu beratnya yang tidak bisa dibuka dengan satu dua orang saja tapi akhirnya dibelah Allah menyatakan genaplah, pemisahan itu akhirnya sudah tidak ada lagi karena kita sudah dipersatukan melalui Kristus. Melalui Kristus pengorbanan yang sempurna, dan Dia sudah menggenapi semua sistem upacara-upacara dalam Perjanjian Lama. Sehingga itulah kita tidak membutuhkan korban yang lain lagi karena kita sudah punya korban yang sempurna yaitu Kristus. Dan melalui Kristus inilah setiap kita pergumulan, kita datang kepada Dia. Dia bisa mendengarkan doa kita setiap saat, kenapa? Karena Dia Allah, bukan hanya manusia. Itulah kenapa juga Kristus banyak sekali statement, “Kalau kamu percaya, mintalah dalam nama-Ku maka kamu akan terima.” Itu statement-statement yang kalau kita lihat itu memang Dia Allah baru bisa begitu itu. Bisa nangkap ya.

Coba saya ngomong misalnya, “Veri, kalau kamu makan di restoran itu terus nggak ada duit bilang dalam nama saya muncul,” gitu ya. Beres. Itu juga bingung memang dalam nama Vikaris Leo ini siapa gitu, saya cuma manusia biasa gitu ya. Memang saya owner atau apa? Tapi kenapa kita doa itu minta di dalam nama Kristus? Kenapa kita berdoa menutup dalam nama Yesus Kristus? Karena kita mengerti Dia ini Allah, Dia sanggup memberikan – kalau memang itu seturut kehendak Dia juga tentu – tapi Dia sanggup memberikan dan Dia mendengarkan doa itu. Karena itulah di dalam nama Kristus, tidak nama yang lain. Kita tidak berdoa pakai dalam nama para santo santa yang lain karena mereka tidak maha hadir, mereka tetap terbatas dalam ruang dan waktu meski mereka di kekekalan – mereka di surga – tapi mereka terbatas dan mereka tidak bisa mendengarkan doa kita sekaligus dan bersama-sama, tetapi Kristus yang mendengar dan Dia terus menjadi pengantara kita kepada Bapa. Inilah yang kita mengerti dalam bagian ini bagaimana keutamaan Kristus dalam kehidupan kita dan kalau kita terus benar-benar menggumulkan ini kita mengerti bahwa seberapa kita itu dekatnya pada Kristus itu di sini. Semakin kita bertumbuh ke dalam kebenaran firman itu ada relasi kita semakin dekat dengan Kristus. Setiap pergumulan kita, kita arahkan ke Dia, bukan cuma ke teman doang. Tidak ada salahnya ya kalau kita ada bergumul, cerita ke teman. Tetapi ingatlah, yang paling bisa menyelesaikan masalah kita sedalam-dalamnya itu adalah Kristus sendiri.

Ada yang pernah mengatakan pakai istilah itu ya, sama seperti kalau kamu itu jatuh ke lubang, terus kamu teriak minta tolong, tolong, terus, “Oh kamu jatuh dalam lubang ya, saya tolong kamu gimana?” Ya sudah saya lompat turun itu ya ikut masuk. Kita akan bilang apa ke teman kita? “Bukan  gini dong! Tolong saya itu kamu dari atas kasih saya tali atau apa, tarik saya keluar. Bukan untuk kamu ikut turun kesini!” Makanya kita beruntung pengantara itu yang bisa menyelesaikan permasalahan kita, pergumulan kita, dan yang sanggup dan yang bukan bersama dengan kita di kubangan lubang itu. Dan bagian inilah kita mengerti Kristus itu yang sudah menang atas kejahatan atas dosa dan menang mengalahkan kuasa maut, itulah yang menjadi persandaran kita dan doa kita senantiasa.

Kita tiap bergumul itu kita utarakan nggak sih pada Kristus? Maafkan ya, saya kadang-kadang kuatir lho, kita kalau baca tulisan Calvin, Luther, dan sebegitu sukanya sampai kita gagal melihat siapa Tuhan yang diimani oleh Luther, Calvin, dan para reformator itu sendiri. Kembali lagi ya, tidak ada salahnya per se kita baca itu tapi biarlah kita ingat kita menuju pada Kristus, bukan kita jadi terpaku lihat pada orangnya. Dan sama seperti ketika hamba Tuhan memberitakan firman, tidak ada salahnya misalnya, anda misalnya apa-apa tanya pada kami dan seterusnya, dan banyak pergumulan, pertanyaan, dan seterusnya, tapi ingatlah kami cuma alat Tuhan yang sementara menghubungkan kita datang untuk lebih mengerti pada bagian-bagian yang lebih sulit dan seterusnya, tapi biarlah kita bergumul pribadi dengan Tuhan, dan Tuhan itu memang ingin kita berelasi secara pribadi tanpa calo. Ya tanpa kami, kami bukan calo. Dan di dalam banyak pemberitaan firman di dalam banyak pergumulan kita adakah kita sungguh bangkit bagi Kristus? Utarakan pada Kristus? Adakah kita bergumul dan kita itu minta tuntunan dari Dia?

Kembali lagi ya, ndak ada salahnya kadang-kadang ada yang datang, “Ko, bagaimana ya mau tahu panggilan saya?” Iya. Tapi ingat ya, pada bottom line-nya, saya tidak mengerti panggilanmu. Karena yang panggil itu ya, cara panggilan itu, saya lupa istilahnya itu, bahwa ada subjek yang memanggilnya itu siapa, ya bukan hamba Tuhan, tapi Tuhan sendiri. Saya, kami bisa memberikan guidance gitu ya, tuntunan kira-kira kamu bagaimana menggumulkan panggilan, tapi pada akhirnya panggilan kita masing-masing yang tahu adalah Tuhan dan kita sendiri. Itu kita menggumulkan panggilan kita itu relasi dengan Tuhan sendiri. Kita bergumul di hadapan Tuhan, Tuhan ingin kita dipakai seperti apa, Tuhan ingin kita dipakai melayani Dia di dalam aspek mana, di dalam scope seperti apa, di dalam bentuk seperti gimana. Memang pekerjaan kita beda dengan pelayanan gereja karena kita tidak ada memisahkan sini secara sekuler ya, tapi kembali kita dalam aspek banyak hal dan keputusan-keputusan penting  dalam kehidupan kita, ya, kembali lagi, tidak ada salahnya bertanya dengan hamba Tuhan tapi berapa banyak sih kita itu benar-benar bergumul dengan Tuhan dan menantikan jawaban dari Tuhan?

Dan dalam menantikan jawaban dari Tuhan itu, bisa mana? Dari kita merenungkan firman Tuhan secara pribadi ya, itu seperti biasa klasik lah ya di dalam kita mengerti. Kita doa itu bicara pada Tuhan lalu Tuhan berbicara pada kita melalui mana? Melalui firman. Ya. Dan itulah makanya kita mengerti ada iluminasi dari Roh Kudus, bagaimana Roh Kudus mencerahkan hati pikiran kita memberikan kita suatu kayak, ngeh gitu, nangkep, “Oh ini maksudnya bicara sini,” baik ketika kita baca renungan firman Tuhan secara pribadi maupun dalam pemberitaan firman. Itu ada banyak hal itu di dalam kami memberitakan firman kami mempersiapkan yang ada dan secara objektif bertanggung jawab ini untuk semua, tapi bagaimana Roh Kudus menginterpretasikan itu dalam pergumulan kita masing-masing itu adalah pimpinan dari Roh Kudus. Dan itu adalah kita dealing, bergumul kita kenal Tuhan nggak dari situ, kita bertumbuh semakin dekat nggak pada Kristus, semakin kita lihat bahwa Dia itu perantara kita. Dia itu perantara kita. Makanya dari ini saya berharap ini untuk mengerti ini secara dewasa. Kalau anak-anak ya kita mengerti lah kita butuh guru Sekolah Minggu misalnya, butuh hamba Tuhan, butuh pembimbingnya, butuh orang tuanya. Tapi kalau kita sudah dewasa kita, karena Kristus mati itu membuka direct access itu. Sampai kapan kita itu masih terus pakai calo, sampai kapan kita itu masih tidak mau langsung bergumul langsung dengan Tuhan? Karena Kristus sudah membuka jalan itu.

Dan kalau kita lanjut poin saya terahir bagian sini, maka kalau kita mengerti betapa pentingnya, dan seberapa mutlaknya, absolutnya eksklusifnya ini, kita jadi mengerti logisnya – kalau mau dibilang – urgensinya penginjilan dan misi itu sendiri. Karena memang tidak ada jalan keselamatan yang lain. Ini bukan agenda politik gitu. Ini bukan supaya oh iya pokoknya ini saya yakin dan supaya lebih banyak orang punya keyakinan sama seperti saya. Nggak. Tapi hanya karena statement Kristus sendiri bahwa Dialah satu-satunya jalan itu, Dia satu-satunya perantara dan tidak ada yang lain, sehingga kalau kita sadar diri kita sendiri sungguh-sungguh bahwa ya orang lain itu kalau belum mengenal Kristus, mereka tidak ada perantaranya. Jadi mereka berdoa itu tidak sampai kepada Bapa karena tidak di dalam Kristus, bukan di dalam Kristus. Terus mereka berdoa minta ampun atas kesalahannya, tanpa pengorbanan Kristus mereka tidak mendapat pengampunan. “Oh mereka ini juga menunjukkan perbuatan-perbuatan baik, mereka itu saleh,” mereka tidak bisa selamatkan itu karena hanya melalui anugerah.

Dan di bagian sini kalau kita mengerti pergumulan seberapa pentingnya kita untuk sungguh mendoakan bagaimana pekerjaan Tuhan yang ada dan bagaimana kita mengerti urgensi penginjilan itu. Dan bagaimana kita terus terlibat di dalamnya, mengerjakannya sama-sama yang kita bisa. Dan belum lagi masa-masa yang makin nyata manusia berdosa itu memang menolak firman. Kenyataannya orang berdosa itu tidak mau tunduk kepada firman. Bukan hanya tidak mampu atau tidak tahu, apalagi, tapi memang tidak mau. Dan karena itu kita perlu terus mendoakan orang yang kita injili supaya menerima Kristus. Dan di bagian itu adalah bukan karena kembali lagi ini bukan bicara kita doa lalu Tuhan bekerja gitu ya karena mengikuti kita, bukan, tapi untuk kita bisa sinkron mengerti karena ada kalanya memang Tuhan bekerja memakai sarana itu sendiri. Tuhan – kalau dalam pengakuan Westmister itu ya – Tuhan bisa bekerja melalui sarana, di atas sarana, ataupun  bertentangan dengan sarana ya.

Kalau kita lihat Kisah Para Rasul, ketika kisah tentang kapal Paulus itu akan karam, lalu dia bilang orang kalau kamu tetap stay dalam kapal ini kamu akan selamat.  Terus kita bilang, “Oh kalau Tuhan mau selamatkan saya, saya kan nggak pakai perahu juga bisa. Saya loncat aja gitu ya. Yunus kan loncat juga selamat.” Oh ndak. Itu memang Tuhan mau memakai sarana perahu itu. Sampai mereka potongan-potongan kayunya ya selamat juga sampai, sesuai memang itu. Ada kalanya Tuhan bekerja memang bentuknya pakai sarana, ada kalanya memang bertentangan dengan sarana, ada kalanya di atas sarana dan seterusnya, karena memang ada bisa pekerjaan Tuhan yang secara supranatural dan seterusnya, tapi ada banyak secara sarana itu, dan kalau memang ada Tuhan mau bekerja memakai sarana dalam doa kita, ya kita taat di dalam bagian situ. Kita tidak tahu sih sebagaimana dan kapan orang itu akan bertobat ya tapi kita tahu dalam banyak-banyak hal ada orang bertobat itu sedalam apa kisah-kisah yang sebenarnya kita dengar ya. Orang yang sudah lama tentang kekristenan, lama terus melawan Tuhan sampai waktu titik mereka bertobat itu terus ada yang ngomong mungkin papanya, mungkin saudaranya, “Saya sudah lama sekali doakan kamu. Saya bersyukur sekali. Saya bersyukur sekali akhirnya kamu percaya pada Kristus.” Terus kita jaga kontak kamu doa nggak, doa nggak? Pokoknya ini tanggalnya, lihat ini tanggalnya ya 18 Oktober ini memang tanggalnya bertobat. Dalam kedaulatan Allah di sini. Satu sisi sebetulnya makanya kedaulatan Allah tidak melepaskan tanggung jawab manusia, tapi kita mengerti karena ada sarana di situ ya kita mendoakan. Kenapa kita mendoakan? Karena kita mengerti urgensinya penginjilan itu sendiri.

Semua manusia yang lahir di dalam dunia ini itu mati di dalam dosa. Ini basic doktrin lho. Itulah kenapa in the first place, karena kita butuh anugerah itu di awal, dari awal. Karena manusia tidak bisa dalam kehendak bebasnya sendiri memilih Tuhan. Kalau bukan Tuhan yang beranugerah orang itu tidak bisa selamat dengan dirinya sendiri. Orang tidak bisa dengan pikiran dia sendiri sendiri oh ketemu Kristus gitu. Butuh anugerah. Dan itu juga tidak luputnya orang-orang sekitaran kita, anak-anak kita, orang-orang oh ini mah udah rajin, mengerti itu, orang tiap, misalnya, pemuda ini orang yang nggak pernah absen, dari dulu. Dari kecil dia di Sekolah Minggu sampai remaja, nol ga pernah absen gitu ya, selalu lengkap. Tapi kalau Tuhan tidak beranugerah pada dia, tetap mati rohani. Dan di bagian sini, berapa banyak kita mengerti kita butuh anugerah Tuhan dan kita mendoakan kalau dia tidak punya encounter – kalau kita pakai istilah itu – tidak punya pertemuan secara pribadi dengan Kristus, ya dia cuma tahu Kristus secara sejarah. Dan mengetahui menyetujui, mengakui adanya Yesus dalam sejarah itu tidak menyelamatkan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian.

Saya ulangi ya. Mengetahui, mengakui dan menyetujui ada orang bernama Yesus Kristus dalam sejarah, mati di kayu salib itu tidak menyelamatkan. Kenapa? Karena itu juga diketahui oleh orang-orang  Yahudi. Itu juga diketahui orang-orang sezamannya Yesus, dan mereka juga tidak otomatis selamat. Tapi orang yang mempercayakan hidupnya pada Kristus, sungguh beriman pada Kristus, sungguh tahu hidupnya itu bersandar pada Kristus, bahwa mengerti Kristus satu-satunya jalan untuk dia bisa diselamatkan, itulah yang diselamatkan. Jadi tidak cukup cuma batasan knowlegde.

Kita kadang itu terlalu naif gitu ya, saya nggak tahu kenapa begitu, oh ini orang sudah mengerti banyak sekali, oh otomatis selamat. Kita itu ya dalam banyak hal kalau banding orang-orang Farisi di zaman Yesus, orang Farisi lebih tahu detail-detailnya apa yang Dia kerjakan, Kristus. Mungkin ada kalimat-kalimat yang kita masih bingung, orang Farisi, “Oh sebenarnya Yesus waktu khotbah di bukit itu Dia kaitkan dengan Perjanjian Lama bagian ini. Oh Dia kaitkan dengan Taurat bagian ini. Dia kaitkan dalam ungkapan nabi bagian sini, ada Mazmur di sini.” Kita nggak tentu ngeh lho. Mereka lebih ngeh, lebih tahu. Tapi apakah mereka selamat? Nggak. Karena mereka tidak mempercayakan hidupnya pada Kristus. Mereka tidak melihat bahwa Kristuslah satu-satunya jalan untuk  mereka bisa selamat. Mereka pikir mereka bisa selamat dengan perbuatan baik mereka, dengan usaha mereka sendiri, dan dengan berbagai kesalehan-kesalehan hidupnya sendiri. Tapi kalau kita mengerti betapa kita tidak bisa selamatkan diri sendiri, maka kita tahu pentingnya penginjilan itu sendiri. Penginjilan itu sendiri.

Kita bisa belajar berbagai metode gimana untuk penginjilan, kita bisa belajar bagaimana caranya untuk kita bisa berapologetika lebih baik, tapi pada akhirnya yang menyelamatkan seseorang itu bukan argumen, tapi adalah firman itu sendiri. Kita percaya nggak sih kuasa dari firman itu sendiri? Kita beritakan, ya tentu bukan buat kita, kita lakukan yang terbaik, yang kita bisa, kalau di dalam titik itu yang terbaik yang bisa kita sampaikan itu cuma sedemikian, ya sudah sedemikian. Orang yang percaya dan percaya di saat itu, serahkan pada Tuhan. Kapan mungkin waktunya kalau Tuhan mau bekerja, ya dia akan ingat itu. “Iya ya dulu teman nongkrong saya pernah bilang gini,” itu banyak yang kayak begitu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian.  “Oh iya ya, dulu bapak tua itu saya kasih saya traktat begini, sudah berapa lama ya baru sekarang tak baca lagi,” baru dia ngeh. Dulu dianggap apa ini. Dan berbagai sarana kita ada, kita ada ringkasan khotbah, atau kita bisa pakai alat-alat tools yang lain, dan seterusnya. Kita bisa pakai tools-tools yang lain gitu ya karena penginjilan itu zaman sekarang kita ada banyak sekali sarannya gitu ya.

Tapi terus bagaimana Tuhan bekerja dalam waktu-Nya, rencana-Nya, kita nggak tahu. Itu adalah kedaulatan Allah. Tapi kalau kita benar-benar nangkap urgensinya, kita lakukan saja bagian kita. Kita lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Nanti kalau memang Tuhan bekerja dalam waktu-Nya, ya kita bersyukur, tapi karena kita mengerti memang tidak ada cara lain, karena tidak ada jalan lain, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Bahkan kalau mereka itu tidak pernah absen pun dari gereja, tapi kalau mereka  tidak punya relasi personal dengan Kristus, itu tidak bisa selamat, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Maafkan ya, jangan bilang gitu ya nanti kalau sudah di surga, apa yang bikin kamu selamat? Ini saya punya surat baptis, wih bagus, saya ada foto sama pendeta gitu ya. Itu tidak menyelamatkan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Tidak menyelamatkan. Tapi adakah kita punya relasi di dalam Kristus? Adakah kita, dan saya ngomong apa adanya, dalam keseharian kita dalam pergumulan kita riil kita bergumul dengan Dia atau tidak? Seberapa pentingkah Kristus dalam kehidupan kita? Seberapakah – kalau kita memang ngomong – Solus Christus, hanya melalui Kristus, dan memang Dialah yang mengetahui pergumulan kita sedalam-dalamnya, itulah yang kita layani, Dialah yang kita abdikan seluruh hidup kita, kepada Dialah kenapa kita memberikan persembahan kita dan semua jerih lelah kita, kita lihat itu layak kita korbankan dan serahkan semua? Karena demi kemuliaan Kristus dan demi menggenapi rencana-Nya. Sampai di sini. Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami dalam surga, kami berdoa bersyukur untuk kebenaran firman-Mu. Kami berdoa bersyukur melalui bagian kami boleh diingatkan lagi akan keutamaan Kristus dan satu-satunya perantara kami untuk datang kepada-Mu. Ampuni dosa kami Bapa apabila kami sering kali kurang mau bergumul secara pribadi dengan Engkau, ampunilah kami apabila kami masih suka memakai melalui cara sarana-sarana yang lainnya dan bukan melalui Kristus. Tapi kami bedoa ya Bapa di dalam bagian ini untuk kami boleh diingatkan bagaimana Kristus sungguh menjadi pengantara satu-satunya untuk kami boleh  datang kepada-Mu, dan kami berdoa bersyukur bahwa Kristus sungguh mau mendengarkan setiap pergumulan kami. Dan kami berdoa bersyukur meski sering kali kami gagal atau bahkan tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, tapi Roh Kuduslah yang memimpin kami untuk mengerti bagaiamana berdoa dengan tepat, seturut dengan firman-Mu, seturut dengan maksud dan rencana-Mu. Pimpin setiap kami Bapa, dan kami berdoa biarlah bagaimana Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat penebus hidup kami, sungguh bukan  sesuatu yang kami imani saja tapi boleh kembali kami bagikan kepada orang-orang sekitar kami, kepada anak-anak cucu kami, pada orang-orang generasi yang akan datang supaya mereka pun boleh mengenal Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat mereka secara pribadi. Terimakasih Bapa semua ini hanya dalam satu nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *