Soli Deo Gloria, 1 November 2020

1 Korintus 10:31; Roma 11:36

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Dalam bagian ini seperti yang saya pernah sudah sampaikan juga yang lalu, keunikan dari sebenarnya dari 5 Sola – atau kalau kita yang ikut di pembahasan kemarin itu ada ditambahkan lagi satu yaitu ada Solus Sanctus Spiritus – tapi kalau kita lihat dari keunikan dari SolaSola yang ada yang ditekankan dalam doktrin Reformed itu justru keunikannya di Sola-nya sendiri. Istilah Sola itu ‘hanya’ ya, hanya. Jadi kalau kita lihat mulai dari yang pertama itu Sola Gratia, hanya karena augerah saja, itu keunikannya. Kalau kita lihat dibandingkan dan kalau kita mau bicara secara fair apakah orang Katolik itu menolak anugerah? Nggak, mereka itu setuju, sangat penting akan adanya anugerah, tetapi bukan hanya anugerah semata. Lalu kemudian kalau kita bilang juga tentang Sola Fide melalui iman, apakah orang Katolik menolak adanya pentingnya iman? Oh nggak, mereka pasti sangat bilang harus adanya iman itu, seorang itu bisa diselamatkan oleh iman. Iya, iman itu adalah hal yang penting itu yang mereka ajarkan. Tapi bukan iman saja, plus perbuatan baik ya. Kalau dibilang Sola Gratia itu tadinya berarti mereka mengerti bukan semata-mata karena anugerah kita bisa percaya kepada Kristus tapi ada memang ada suatu andil manusia, ada suatu fondasi dasar dari manusianya yang memang keinginan atau kehendak dari manusia itu sehingga dia bisa menerima dan percaya kepada Kristus. Lalu kemudian lanjut pada Solus Christus. Apakah orang Katolik menolak akan pentingnya Kristus? Oh tidak. Mereka justru sangat meninggikan Kristus. Mereka dalam perayaan Ekaristi, di dalam misa mereka itu bahkan sampai sedemikian itu sakramennya itu mereka bilang itu menjadi tubuh dan darah Kristus. Apakah mereka menolak Kristus? Mereka menerima Kristus, tapi bukan Kristus saja. Itu yang menjadi kuncinya karena mereka akan melihat, “Oh iya selain Kristus ada perantara kita dengan Bapa, ada juga perantara-perantara lain. Ada Maria, ada santo-santa yang lainnya yang bisa menjadi perantara kita kepada Tuhan ya sehingga bukan hanya Kristus saja.”

Lalu kemudian ketika bilang Sola Scriptura, apakah orang Katolik itu menolak Alkitab? Nggak, mereka pasti menerima Alkitab, tapi bukan Alkitab saja. Ada selalu Alkitab plus tradisi ada tambahan-tambahan lain, ada suatu pengalaman-pengalaman yang lain dan seterusnya; dan akhirnya memang kuncinya terutama dalam Sola Scriptura itu salah satu perdebatannya itu adalah masalah otoritas ya. Kalau bagi orang Katolik apakah mereka melihat Alkitab itu berotoritas? Ya berotoritas tapi sebenarnya gerejalah yang menetapkan dan mengesahkan adanya Alkitab itu sendiri, sehingga ketika kemudian hari mereka mau tambahkan dengan Deuterokanonika ya tidak masalah. Karena kenyataan dari pertama, in the first place ketika dari mana kitab-kitab itu yang sah diterima menjadi bagian dari firman Tuhan itu ada pengesahan gereja, itu kata kuncinya bagi mereka, yang toh kenyataannya bagi – kalau kita bisa lihat orang Katolik atau beberapa istilahnya orthodoks akan mengatakan yang sama – kenyataannya kan dari sejarah, dari Bapa Gereja, atau dari Paus, santo mana itu yang menetapkan, mengesahkan Alkitab itu sendiri dari kanonisasi, sehingga mereka akan melihat bahwa gerejalah yang melahirkan kalau mau dibilang atau yang memberikan peneguhan, pengesahan otoritas dari Alkitab itu sendiri, bukan sebaliknya.

Kalau di dalam Reformasi, makanya kita mengerti di dalam Protestan, kita akan pakai istilah itu gereja itu menerima atau mengakui Alkitab, bukan mengesahkan. Ini bukan cuma masalah beda terminologi kata ya, tapi itu bicara otoritas siapa di atas siapa. Bagi orang Roma Katolik ya makanya tidak terlalu heran kalau kita bilang masalah Deuterokanonika, mereka akan bilang ya itu memang dikanonkan waktu Konsili Trent. “Loh itu kan kemudian hari?” Ya ndak masalah karena memang bisa berubah. Bahkan sampai terakhir ini, kalau kita mengikuti perkembangan terakhir ya ada suatu lagi gonjang ganjing dalam tubuh Roma Katolik sendiri yaitu mulai adanya seruan dari Paus itu Pope Francis itu yang mengatakan akan adanya pengesahan secara legal, istilah “Civil Union” ya, bagi orang yang homo. “Loh itu kan bertentangan dengan Alkitab atau bertentangan bahkan dengan ajaran Katolik sendiri?” Bagi mereka iya. Tapi kalau memang Paus akan tetapkan, mengesahkan legal itu ya bisa saja ya.

Dan ini tentu bicara legalnya itu bicara pengakuan dari gerejanya, kita bisa paham di sini ini bukan bicara masalah undang-undang tetapi terutama dari bagaimana posisi gereja terhadap hal itu, dan mereka berkelit kalau mau dibilang pakai main katanya karena mereka tidak bisa rubah istilah dari marriage itu pernikahan itu adalah pria dan wanita, tapi kalau untuk yang sama gitu ya, cowok dengan cowok atau cewek dengan cewek gitu ya pakai istilah Civil Union gitu. Apa itu ya, kayak penyatuan sipil kira-kira seperti itu, dan sah diakui gereja ya. Saya juga bingung besok-besok ada baptisan anak itu ini bapaknya yang mana ibunya yang mana, oh dua-duanya bapak bawa anak atau dua-duanya ibu bawa berapa anaknya gitu ya. Bisa seperti itu, dan mereka bisa menerima sakramen dan seterusnya. Kita melihat dalam masalah itu adalah itu kan bertentangan dengan Alkitab, tapi masalahnya memang kunci di otoritasnya bukan hanya Alkitab saja tapi ada Paus sebagai living voice, sebagai suara yang hidup bagi istilah mereka, yang akhirnya yang berhak dan berotoritas menerjemahkan Alkitab itu dan yang mengambil keputusan-keputusan gereja yang berdasarkan dari pimpinan yang setempat.

Di bagian ini kita lihat, jadi apakah mereka menolak ketidakbersalahan Alkitab? Mereka terima tapi bukan Alkitab saja. Plus ada yang lain ya. Dan bahkan mereka memang sebenarnya lebih menarik itu adalah mereka termasuk bisa mengatakan bahwa Paus itu ketika dia duduk di kursi Petrus ya, saya juga nggak ngerti kursinya dia dapat dari mana gitu ya, tapi pokoknya kursi Petrus itu dia ketika ex cathedra, dia mengajar seperti itu maka pengajarannya itu infallible, pengajarannya itu tidak bisa salah. Sedemikiannya lho. Satu sisi mungkin kita bisa dapat tenang pokoknya dia ngomong ini nggak mungkin salah, kita nggak keliru lagi, tapi kenyataannya adalah memang bisa ada keliru, bisa ada salah. Dan di bagian ini reformator mengatakan bukan seperti itu karena yang tidak bisa bersalah itu cuma Alkitab, manusia pengkhotbahnya sebaik apapun itu bisa keliru. Oke, lalu dari mana kita tahu dia itu benar atau salah? Ya di-cross check sesuai dengan Alkitab atau tidak. Dan bahkan dalam bagian-bagian tertentu, ini makanya mengingatkan setiap para pengkhotbah, ketika dia berkhotbah bukan hanya menyampaikan ide pikirannya tapi ada pertanyaannya apakah itu sesuai dengan Alkitab atau tidak. Dan di dalam bagian lain ketika di dalam sejauh sebatas kita bisa membahas teologi kita, kita menemukan demikian, bisa ada yang dalam satu waktu tertentu itu kita lihat ini benar ini memang menghadapi ada suatu tantangan tertentu, kita mencetuskan suatu ide-ide teologi tertentu, tapi mungkin saja dikemudian hari interpretasi itu ditemukan itu insufficient misalnya kurang cukup, atau tidak tepat atau ya harus direvisi, ya tidak apa-apa. Karena yang tidak bisa direvisi dan yang selalu cukup adalah Alkitab itu sendiri, dan itu posisinya di sana.

Saya ingat sekali di dalam bagian ini kelas yang disampaikan oleh Peter Lillback di dalam – dia itu Rektor dari Westminster dia itu professor sejarah – dia mengatakan, “History is significant but not final.” Sejarah itu signifikan tapi tidak final. Maksudnya apa? Dalam ketika kita mempelajari sejarah kenyataannya memang ada bagian-bagian tertentu ketika bahwa kalau gereja mencetuskan suatu pemikiran teologi-teologi tertentu itu sedang menghantam ada suatu bandul ekstrim yang misalnya ekstrim ke kanan gitu atau kiri kalau posisi kita lihatnya, satu ekstrim ke sini, dan lalu dia untuk imbangi hantam sebaliknya gitu. Dan bisa memang di dalam ketika dia ayun seperti ini itu bisa menjadi kebablasan, tapi memang diperlukan seperti itu supaya bisa lebih ke tengah. Kadang-kadang ada seperti itu, dan itu sebabnya kita temukan kadang-kadang ada statement dari Bapa Gereja juga agak kejauhan gitu kalau mau dibilang, karena ada mereka pun adalah anak zaman, semua orang dipengaruhi zaman, dan kemudian hari kita bisa temukan ada cacatnya, ada ketidaksempurnaannya, ada kesalahannya dalam penjelasan dia, tapi setidaknya kita nangkap waktu dia cetuskan itu, ide itu signifikan dan pengajarannya itu penting dalam sejarah itu. Tapi tidak final. Bisa direvisi masih bisa diperbaiki, masih bisa dikoreksi di kemudian hari dan bisa lebih ditempatkan, itu karena patokannya adalah Alkitab sendiri.

Dan itulah dibagian itu kita melihat Bapa-Bapa Gereja itu kita menghormati tulisan Bapa-Bapa Gereja, kita menghargainya tapi mengatakan kalau perlu kita mengulangnya ya, kita mengutip apa kata-kata mereka jika itu perlu tapi kita ingat dasarnya apa, karena itu seturut dengan Alkitab. Itu barometer, itu patokannya, tidak ada kemutlakan dari Bapa Gereja, dan karena itulah ketika merekapun mencetuskan suatu yang bisa ada kelirunya itu bisa difilter dan dipangkas lagi di berikutnya. Bagaimanapun kita jangan lupa bahwa Sola Scriptura itu bicara bahwa Alkitab itulah satu-satunya yang mutlak yang tidak bersalah, tapi interpretasi kita itu ada kekeliruannya, bisa ada kelemahannya, bisa ada cacatnya, bisa ada ketidaksempurnaan itu kita perlu ingat ya. Kita baca Alkitab itu, itu Alkitabnya apa teksnya, kita itu tidak ada orang yang pernah netral, dan karena itu juga dalam pembacaan kita itu kita bisa ada bias kita sendiri dipengaruhi juga konteks kita waktu itu lagi apa. Mungkin contoh sederhana misalnya kalau ada pemuda yang lagi patah hati pas baca kitab Ayub oh iya itu sangat menyentuh mungkin gitu ya, mungkin seperti itu. Kenapa? Ya karena memang sedang susah lagi mengerti gitu. Tapi kita bisa mengerti lebih lengkap kitab Ayub memang meng-address ada penderitaan tapi bukan bahas penderitaan tentang orang patah hati misalnya seperti itu ya. Dan ada ketidaksempurnaan interpretasi kita dan seterusnya, dan karena itu bisa dibenahi dan bisa dikoreksi dan seterusnya. Dan itu adalah bagian kita ngerti Sola Scriptura itu sendiri, dan itulah kenapa kita terus berbenah dan terus melihat terus mereformasi diri kita kalau ada memang kesalahan dan ada pengkoreksian kemudian hari. Tapi Alkitab-nya final.

Kembali lagi ya, Alkitabnya final tapi interpretasi kita tidak final. Bisa ada masih ada pengoreksian di kemudian hari dan seterusnya. Apalagi ya itu ya kalau saya lihat juga di satu sisi kadang memang di dalam menurut zamannya, statement dari Bapa Gereja itu bisa benar dan sangat penting, tapi kemudian baru nanti abad kemudian bisa seperti itu baru ketemu ada kelirunya disini. Di zaman sebelum waktu dia itu tidak diketahui kesalahannya apa, tapi memang baru kemudian baru lihat oh ini kurang tepat. Kenapa? Karena ada patokan Alkitab juga statement lain ngomong seperti ini, dan karena itu ada ketidaksempurnaannya, dan itulah sebabnya meski entah kita suka ndak suka ya kenyataannya teologi kita itu adalah rekonstruksi dari pikiran manusia, saya harap kita ndak terlalu kaget di dalam bagian ini, itu ada pikiran dari manusia, kita mencoba  menjelaskan Alkitab itu sebaik mungkin tapi tidak pernah sesempurna dan tidak pernah sedemikian mutlaknya seperti Alkitab itu sendiri.

Karena itulah sebenarnya Pak Tong dulu-dulu itu sering sekali mengatakan teologi Reformed itu adalah paling mendekati kebenaran. “Lho Pak, berarti bukan kebenaran itu sendiri?” Ya iya memang bukan. Kenapa? Karena kebenaran itu sendiri adalah Kristus. Kristus yang mengatakan, “Akulah jalan kebenaran dan hidup,” dan Alkitab itu sendiri adalah kebenaran. Tapi kemudian bangunan teologi kita itu paling mendekati, paling bisa menjelaskan terbaik apa yang disampaikan Alkitab, tapi bukan pengganti atau bukan sesuatu yang selevel dengan Alkitab itu sendiri. Ini memang beda tipis ya di dalam bagian ini, tapi dalam bagian inilah kita mengerti posisinya Reformed di situ justru ya. Beda dengan Katolik, kalau Katolik memang setara penjelasannya ini setara tradisi itu setara dan bahkan Paus itu setara. Kita juga melihat dalam itulah para pimpinan gereja kita mengerti bahwa sebaik apapun mereka tidak memiliki level kesetaraan dengan Alkitab, dan karena itu bisa direvisi dan segala sesuatunya bisa di-cross check lagi tapi berdasarkan kebenaran firman itu sendiri.

Dan karena itu di akhir dari SolaSola itu sendiri ya – atau kalau kita ikuti seminar kemarin itu ditambahkan ada Solus Sanctus Spiritus yaitu hanya melalui Allah Roh Kudus, yang bicara bahwa melalui Roh Kudus kita dipersatukan dengan Kristus, dengan Roh Kuduslah kita bisa mengerti Alkitab itu dengan tepat, ada peran Allah Roh Kudus dalam kehidupan kita yang sangat esensial, saya tidak bahas lagi ulang di sini – tapi kemudian dari semuanya itulah baru kita mengerti apa artinya Soli Deo Gloria, apa artinya Kemuliaan bagi Allah semata. Kemuliaan hanya bagi kepada Tuhan dan bukan kepada kita. Dan di bagian inilah kita, saya ketika merenungkan ini saya tidak bisa luput itu ingat bahwa apa yang ditanyakan di dalam Katekismus Singkat Westminster poin yang pertama, Katekismus Singkat Westminster dari pertanyaan pertama itu menanyakan, “Apakah tujuan utama hidup manusia? Yaitu tujuannya adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya.” Tujuan utama hidup manusia ini berarti kita megnerti hidup kita ini ada tujuannya, minimal itu pertama, itu langsung diasumsikan di sana hidup ini ada tujuannya, ada goal-nya, ada telos-nya. Dan pertanyaannya kehidupan kita ini kita ketika jalani, kita mencapai tujuan itu atau tidak? Itu lebih kuncinya pertanyaannya ketimbang kalau mau dibilang itu kita lewat rutenya mana gitu ya dalam satu artian seperti itu.

Sama seperti tadi kami datang dari Solo ke Jogja di sini. Mungkin sedikit dari kita akan tanya lewat rute mana? Meskipun sebagian besar tahu lah rutenya ya itu, ada rute yang benar. Rutenya ya itulah masa puter-puter sampai ke Semarang gitu ya kalau mau dibilang. Ya rutenya ya itu. Tapi yang lebih kunci itu ditanya sampai tujuan atau nggak? Karena goal-nya itu yang harus bisa sampai ke Jogja. Karena percuma kalau misalnya saya bilang, “Bagus kok lewat rute ini kan? Jalan ini,” misalnya tadi sudah sampai jam 9 ditanya Vikaris Leo belum datang, terus ditanya Vikaris Leo di mana? “O iya saya tahu kok jalannya lewatin jalan ini kan, rute saya bisa jelaskan dengan lengkap lho mulai jalan ini lalu itu lalu luarnya sini, beloknya sini, terus ada plang itu saya belok sini. Jalan sini, saya ketemu ada ini.” Ya pertanyaannya bukan itu, Vikaris Leo, pertanyaannya kamu sampai tujuan nggak? Sampai nggak? Kalau nggak ya percuma ngomong saya jalannya benar benar benar, sampai nggak yang kita capai? Dan di dalam bagian ini bicara memuliakan Tuhan, kita arahkan nggak hidup kita sedemikian sehingga kita memang mau mencapai tujuan itu?

Hidup yang memuliakan Tuhan – dan itu yang terus kita gumulkan, yang terus kita renungkan dalam kehidupan kita – kalau mau dalam satu artian yang saya bisa agak aksen sedikit di sini, bahkan kalau kita mau bilang kenapa kita tidak berbuat dosa itu bukan saja masalah moral, bukan saja karena memang itu mendukakan Tuhan, tapi kita mengerti itu tidak memuliakan Tuhan, dan kenyataannya memang ada kegagalan-kegagalan dan dosa-dosa tertentu akan menghambat kita sedemikian fatalnya, kalau mau dibilang, sehingga kita gagal memuliakan Tuhan. Iya kenyataannya ada seperti itu ya. Kenyataannya ada dosa-dosa yang – saya tidak bilang ada dosa lebih besar lebih kecil tapi kenyataannya secara umum – konsekuensinya jelas beda. Kalau saya misalnya satu sisi mungkin bisa bilang misalnya saya iri pada saudara saya itu ya, kenapa dia hidupnya lebih enak, mungkin misalnya seperti itu ya. Dalam satu artian, dan saya terus minta ampun pada Tuhan karena dosa itu, tapi tentu itu beda dengan misalnya saya kemudian kalau sudah iri dengan saudara saya, misalnya, lalu saya konsumsi narkoba. Oh sama-sama dosa ya sama dong? Lho nggak lho. Saya tidak ada di sini kalau saya sudah konsumsi narkoba. Kalau saya sudah kecanduan, saya sudah diikat oleh itu, ya satu saya pasti akan sudah berhenti jadi hamba Tuhan dan seterusnya, dan akhirnya bolak-balik hidupnya ya disetel oleh narkoba itu dan seterusnya. Dan akhirnya terus kita pikir kita memuliakan Tuhan, memuliakan Tuhan apa ya? Ya di panti ya, di panti rehab pelayanan di sana. Lho nggak harus begitu dong. Pelayanan di panti rehab ya pergilah ke sana, nggak harus kamu jadi pasien di situ.

Dan kita mengerti ada bagian-bagian ini dalam hidup kita, kita arahkan sedemikian bahkan ketika kita menggumulkan dosa itu, tujuan yang lebih besar, itu karena kita dikagumkan dan kita dipikat dan kita diarahkan saya mengerti tujuan utama ini adalah mau mencapai goal-nya itu kemuliaan Tuhan. Ya itu sama ketika kami dalam perjalanan, ya contoh lain ya analoginya kalau dari kami perjalanan dari Solo ke Jogja ini, boleh nggak misalnya kami mampir ternyata ada jualan sate Pak Kumis kayaknya enak? Ya bisa saja, tidak ada salahnya misalnya, sebenarnya per se kami mampir makan misalnya ya. Misalnya ya, kami sih tadi sudah makan di rumah. Tapi misalnya kami mampir ke sana, nggak ada salahnya makan sate Pak Kumis itu misalnya. Tapi kita mengerti kenapa kami nggak melakukan itu karena kalau iya ya nggak nyampe. Nggak mencapai goal-nya di sini. Bisa nangkap maksud saya ya?

Dan di dalam bagian itu kita mengerti ada hal pengertian mengenai dosa yaitu selain memang pelanggaran firman Tuhan, itu mendukakan Tuhan, dan itu adalah sebenarnya illogical di dalam banyak teolog katakan, itu merugikan diri kita sendiri, mematikan kita. Tapi kemudian yang lebih besar lagi kita terus gumulkan dan ingat ketika kita jatuh di sini, itu akhirnya kita tidak bisa dipakai memuliakan Tuhan. Jangan pakai alasan ini, “Oh saya tetapi bisa memuliakan Tuhan meskipun saya makan narkoba,” jangan pakai alasan saya tetapi bisa memuliakan Tuhan dengan ya itu saya melenceng ke hal lain, meleset dari sasaran, nanti siapa ya kalau saya nggak datang ke sini, nanti Veri gantikan saya khotbah di sini kan tetap bisa memuliakan Tuhan. Nggak bisa seperti itu. Pikirannya itu adalah dalam kehidupan kita, kita fokusnya, goal-nya seperti apa dan itu kita kerjakan nggak, kita arahkan nggak semua, seluruh daya usaha kita ke sana?

Karena ini juga kemudian poin berikutnya, kita mengerti ada hidup memuliakan Tuhan itu memang menjadi tujuan keselamatan kita. Ini menarik ya kadang-kadang orang gagal itu, saya nggak mengerti kenapa tapi kadang-kadang ada orang itu ketika mengerti doktrin Reformed atau bahkan secara umum menjadi Protestan, itu akhirnya cuma melihat urusan masalah keselamatan saja. Kembali lagi tentu doktrin keselamatan itu penting, bagaimana kita diselamatkan oleh anugerah saja, dengan melalui itu Allah beranugerah kepada kita, kita beriman kepada Kristus, dan bahkan iman itupun dari Allah, itu adalah suatu kabar sukacita keselamatan bagi kita. Dan itu kita injili orang juga menyampaikan kabar keselamatan itu tapi ingatlah bahwa setelah orang diselamatkan, bukan semata-mata untuk selamat itu tok karena kalau mau ditanya kita diselamatkan itu untuk apa? Tujuan kita selamat itu apa? Apa sih tujuan kita dipilih sebelum dunia dijadikan? Supaya saya selamat? Iya ada bagian itu, tapi terutama goal-nya ke mana? Ya goal-nya itu untuk kemuliaan Tuhan. Goal-nya itu adalah kemuliaan Allah.

Ketika kita bisa mengerti kita diselamatkan dan ada kita bisa bergumul mengerti kepastian keselamatan kita seperti apa, tapi di dalam kita bergumul itu bahwa dari Alkitab pengertian-pengertian kita bertumbuh pengertian doktrin keselamatan, adakah kita mengerti tujuannya adalah bukan cuma untuk semakin saya yakin, saya makin yakin saya pasti selamat, saya semakin yakin kalau Covd ini pun mematikan saya, saya tetap masuk surga. Satu sisi itu ada poinnya tapi ingatlah bukan itu goal-nya. Goal dari pengertian keselamatan kita adalah untuk bagaimana kita hidup memuliakan Tuhan, karena itu kalau mau detail dalam kehidupan kita ya, permisi tanya kita kalau sudah jadi Kristen sekian lama atau kita sudah jadi Reformed sekian lama, kita ada bekerja nggak, kita ada mengerti nggak kita menggenapi hidup kita ini mengerjakan untuk memuliakan Tuhan atau ndak? Ada rencana Tuhan yang kita kerjakan ndak? Kita terlibat nggak di dalam pengerjaan perluasan Kerajaan Surga itu? Dan kita involved di dalamnya? Itu pertanyaannya. Bukan cuma masalah yang penting saya selamat.

Kembali lagi saya tidak meng-underestimate ada orang masih bergumul di sana, tapi kalau kita bertumbuh dan masih berjalan berapa lama, kita itu bukan cuma mengerti yang penting saya dapat tiket selamat gitu ya. Saya dapat tiket selamat, sudah. Tapi kalau memang saya sudah dapat kepastian keselamatan dan Tuhan masih izinkan saya hidup di dunia ini dengan segala potensi talenta yang Dia berikan, dengan berbagai konteks kehidupan yang Dia izinkan terjadi dalam kehidupan kita, suka dukanya semuanya, pertanyaannya itu adalah sebenarnya Dia sedang membentuk kita untuk apa sih? Hanya untuk ini ya, pokoknya tahan tahan saja, pokoknya tahan tahan apa? Supaya sampai saya mati, masuk surga. Cuma itu. Tapi lebih luas ada kita dipakai menjadi wakil Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya.

Memuliakan Tuhan itu bukan karena Tuhan kurang mulia, tapi kita itu seperti banyak katakan itu seperti sebenarnya merefleksikan kemuliaan Tuhan itu sendiri. Sama seperti bulan itu tidak bercahaya pada dirinya sendiri tapi karena ada pantulan dari matahari itu dia merefleksikan cahayanya itu. Jadi bagian kita itu seperti ini, kita bukan memuliakan Tuhan itu seolah-olah Tuhan itu kurang mulia, bisa nangkap sini ya? Tuhan itu sudah mulia pada diri-Nya. Tapi bagaimana kita itu dipakai menjadi wakil Tuhan, sebenarnya memang tujuan pertama kita diciptakan di dunia ini sebagai gambar dan rupa Allah, sebagai image of God, menyatakan kemuliaan Tuhan itu pada sesama kita dan menyatakan bagaimana otoritas dan prinsip-prinsip kebenaran-Nya itu, kebaikan-Nya, kekudusan-Nya, kebenaran-Nya, dan seterusnya itu, kita nyatakan pada dunia ini, kepada sesama kita. Itulah artinya kita memuliakan Tuhan. Bagaimana kehendak dan rencana Allah itu terjadi dalam kehidupan kita sebagaimana dalam Doa Bapa Kami itu, “..datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga,” itu artinya kita itu memuliakan Tuhan di situ. Dan itulah sebabnya nanti kemudian ditutup terakhir setelah dari Doa Bapa Kami itu, “..karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan sampai selama-lamanya.” Itu biasanya banyak orang bilang ada penambahan closing terakhir, tapi bagian itu adalah ditutup dengan doksologi. Ditutup dengan karena segala kemuliaan itu bagi Tuhan. Segala kemuliaan itu bagi Tuhan karena Dialah, itu kalau mau pakai istilah dari Romawi itu ya Cicero, the highest good.

Kalau kita bilang apa yang baik, apa yang baik ya tiap orang bisa beda. Yang baik bagi saya mungkin beda bagi Veri, misalnya. Yang baik bagi Veri mungkin beda dengan saya. Tapi what is the highest good? Apakah kebaikan yang paling tinggi itu? Maka di bagian ini kita dan para filusuf itu bertanya-tanya apa sih kebaikan yang paling ultimate itu, paling tinggi? Dan ternyata ketika itu menjadi suatu kebaikan yang paling tinggi itu adalah yang paling mulia yang pada dirinya sendiri baik, di sinilah kita temukan jawabannya di dalam Alkitab sendiri yaitu kebaikan tertinggi adalah kemuliaan Tuhan. Karena itu ketika kita memuliakan Tuhan bukan berarti Tuhan paling egois, pokoknya Dia mulia. Bukan, karena Dialah yang supreme itu, Dialah yang paling utama, dan Dialah kebaikan itu sendiri. Ketika kita memuliakan Dia dan menikmati Dia, kalau demikian kalau dalam pertanyaan Katekismus Singkat Westmister, itu ketika kita memuliakan Dia sedemikian, di situlah kita menikmati Dia. Menikmati Dia dalam artian adalah kita menikmati relasi itu dengan Dia, kita menikmati adanya kesukaan yang sejati, bukan menurut kesukaan duniawi tapi kesukaan surgawi itu sendiri. Itulah kemuliaan Allah.

Saya pernah dalam pelayanan itu ketemu pemuda dia tanya, “Memuliakan Allah mungkin saya mengerti, Pak, tapi menikmati Allah itu gimana? Saya tahunya itu menikmati es krim. Jadi kalau saya menikmati es krim itu seperti menikmati Allah itu kayak gimana? Itu dijilat atau apa?” Ya jelas bukan. Tapi ini bicara adalah adanya aspek suatu kekaguman, adanya suatu ketakjuban, dan kita melihat kemuliaan-Nya itu sedemikian besarnya dan kita arahkan hidup kita demi Dia, kita lihat itulah highest good itu. Kita kerjakan dan di saat itulah kita mengerti apa itu menikmati Allah. Dan itulah sebabnya kalau kita temukan di dalam bagian syair-syair para pemazmur, meski mereka sebagian besar dalam konteks penganiayaan, sebagian besar dalam konteks kesulitan, mereka bisa memuji Tuhan. Ada suatu ucapan syukur, ada suatu kekaguman, ada suatu thanksgiving di sana karena mereka bukan hanya ngedumel nyatakan pergumulannya, tapi mereka Tuhan di dalam mereka pergumulan hidupnya. Dan terutama mereka merasakan kehadiran Tuhan, penyertaan Tuhan, ada rencana Tuhan yang melampaui segala pikiran mereka, dan mereka melihat kehendak Tuhan jadi. Dan itu membawa kepada mereka suatu kekaguman. Ada suatu, mungkin kalau mau bahasanya paling dekat kita hari ini itu ada suatu rasa contentment, kepenuhan, ada suatu fulfillment di sana dan kita menikmati itu karena kita tahu kita sedang menikmati Tuhan, kita sedang memuliakan Tuhan, dan itulah tujuan kita diciptakan di dunia ini.

Itulah tujuan kenapa kita mengerti doktrin keselamatan, itulah tujuannya. Bukan cuma mengerti doktrin selamat –mengapa kita diselamatkan itu sendiri. Dan kita mengerti untuk inilah kenapa Kristus itu setelah Dia sudah bangkit dari kematian-Nya dan kemudian Dia mengajar 40 hari dengan para murid lalu sebelum Dia terangkat ke surga Dia mengatakan apa? Pergilah dan jadikan semua bangsa murid-Ku. Maksudnya apa? Supaya kamu sekarang dilibatkan dalam rencana Kerajaan Surga, dan kamu dipakai juga hidup memuliakan Tuhan. Memuliakan Allah Bapa sebagaimana Kristus telah memuliakan Allah dengan menggenapi, menaati rencana-Nya. Dikatakan juga di dalam doanya Kristus, “Aku telah memuliakan Engkau dengan menjalankan apa yang Engkau ingin Aku kerjakan.” Jadi kita lihat ada kaitannya di situ ya. Bagaimana Kristus memuliakan Allah Bapa yaitu dengan menjalankan apa yang diperintahkan pada Dia, apa yang harus Dia jalankan. Dan kemudian itu dilanjutkan dipercayakan pada Tuhan. Ketika kita menjalankan perintah Tuhan, itulah kita memuliakan Dia. Dan kita mengerti memang tujuannya kita di situ.

Kalau kita melihat di dalam konteks-konteks tertentu ya, apa sih membuat kalau orang itu ya kadang-kadang, saya loncat pertanyaan yang agak sulit gitu ya, karena apa saya menghalau orang? Misalnya dia sudah sakit menderita sekali, di rumah sakit sudah sakit sudah nggak bisa ngapa-ngapain, saya sakit sekali. Gimana kalau eutanasia saja? Suntik mati saja supaya tidak menderita terus. Tapi kalau pemikiran itu, itulah nihilisme. Pikiran ‘saya percuma hidup’ karena kenapa? Saya sebenarnya cuma tunggu saya mati ketemu Tuhan. Itu doang. Saya hidup di dunia cuma tahan-tahanan doang sehingga kalau sudah susah sekali ya sudahlah suntik mati saja, toh ketemu Tuhan. Benar sih langsung ketemu Tuhan, tapi nggak mengerti kalau memang Tuhan izinkan itu terjadi, pertanyaannya sebenarnya Tuhan masih mau kita bekerja seperti apa? Kita berarti masih diberikan kesempatan memuliakan Dia dalam bentuk, konteks seperti apa? Itu pertanyaannya. Meski dalam kesulitan seperti itu, kembali lagi ya kita kalau nggak mengerti apa tujuan kita diselamatkan, akhirnya ya itu.

Dan saya masuk ke poin berikut, akhirnya sebenarnya bisa sangat-sangat Reformed di dalam doktrin keselamatannya tapi sebenarnya doktrin keselamatannya masih di dalam worldview, kalau mau dibilang, cara pandang yang antroposentris bukan teosentris. Dan ini saya masuk ke poin saya yang berikutnya yaitu sebenarnya bicara di dalam bagian ini bicara dua macam kehidupan yaitu hidup memuliakan Tuhan itu artinya berpusat kepada Tuhan begitu ya atau kalau mau pakai istilah Pak Tong itu adalah focal point-nya, poros dari kehidupan kita itu kepada Tuhan. Dan karena itulah sebenarnya dalam satu bagian kalau kita mengerti pertobatan itu apa, itu adalah decentering from ourselves to God, kalau saya mau pakai istilah itu. Itu adalah menggeser fokusnya dari tadinya ke diri sekarang putar arah mengikuti kepada fokusnya itu kepada Tuhan. Pertobatan itu shuv di dalam bahasa Ibraninya itu putar balik arah, u-turn gitu ya, tadinya saya arah sini, putar balik arah ke arah sana yang lain. Putar balik arahnya apa? Ya tadinya kepada diri, tadinya kepada dosa, dan itulah yang kita lihat di dalam kejatuhan Adam dan Hawa sejak dari taman Eden. Kejatuhannya apa? Mereka fokus kepada dirinya. Bukan lagi mengerti, itulah makanya dibilang kalau kamu makan buah itu kamu bisa menjadi seperti Tuhan, gitu ya.

Lho bukankah mereka sudah dicipta itu seperti Tuhan, dalam satu artian, ya? Karena mereka dicipta menurut gambar rupa Allah. “Kita menjadikan manusia menurut gambar rupa Kita,” gitu kan? Sudah demikian, kenapa mereka itu mau seperti Tuhan? Itu maksudnya seperti Tuhan itu kalau saya bilang kita mau bertumbuh semakin menyerupai Tuhan, kita itu kan baik, saya semakin serupa Tuhan ya baik dong, tapi Calvin di dalam komentarinya mengatakan ini masalah point of reference-nya siapa. “Saya mau seperti Tuhan,” kalimat itu sendiri pada diri sendiri baik, tapi mereka mau jadi seperti Tuhan yaitu menjadi fokusnya itu, pusatnya kepada mereka, yaitu bukan mereka bertumbuh ke atas semakin menyerupai Allah ke bawah, tapi dia mau tarik Tuhan itu ke bawah dan jadi dia sama, yaitu dia fokusnya itu kepada diri. Point of reference-nya pada dirinya sendiri. Dia mau seperti Tuhan, yaitu apa? Karena memang kenyataannya, salah satu poin di sana juga adalah Allahlah yang berhak, yang menetapkan apa yang baik apa yang jahat itu sendiri. Itu paling basic ya.

Di dalam rule, di dalam undang-undang, di dalam hukum Allah, siapa yang berhak menetapkan? Yang punya, memang yang punya legitimate, yang berotoritas di sana yaitu Allah yang bisa menetapkan apa yang baik, apa yang jahat, yaitu apa yang baik makan buah-buah yang lain, dan yang jahat sebenarnya makan satu buah yang dilarang itu, dan itu diingatkan lagi per se gitu ya, kamu jangan makan karena kalau kamu makan nanti mati. Dan itu menjadi buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu bicara apa ya? Ya itu kalau kamu mengerti, kamu makan yang lain-lain, itu adalah suatu yang baik. Kamu makan ini, jahat. Kenapa? Karena akhirnya kamu akan mati. Tapi kemudian dimakan juga, kenapa? Karena mau jadi seperti Allah, dalam artian fokus kepada dirinya. Dia bukan lagi hidup di taman Eden untuk melayani Tuhan, apa yang dia kerjakan sesuai perintah Tuhan, tapi dia mau mengikuti otonomi, kalau mau dibilang situ ya ada yang pakai juga istilah lain yaitu tadinya diberikan Theonomy, Hukum Tuhan, tapi kemudian dia mau menjadi otonomi, menjadi hukum bagi dirinya sendiri, ngatur dewe. Kalau Tuhan bilang ini ndak boleh tapi saya mau makan kenapa? Nah begitu kira-kira seperti itu ya. Ya saya atur sendiri. Karena fokusnya itu pada diri.

Dan di bagian inilah kalau saya kembali di sini ya, sehingga ini bicara dua cara pandang, yaitu kita hidup itu berfokus, berpusat kepada Tuhan memang mau memuliakan Tuhan, ataukah kita memuliakan atau menyenangkan diri, manusia. Kadang ada orang-orang yang, “Oh saya ini juga berbuat untuk banyak orang,” tapi sama saja gitu ya kalau bisa dibilang, itu juga menyenangkan manusia, bukan menyenangkan Allah. Sehingga di dalam bagian ini, pertanyaannya fokus porosnya dalam kita kerjakan segala sesuatunya itu untuk Tuhan atau untuk diri? Contoh mungkin sederhana saja, contoh sederhana ya, misal kita pelayanan, contoh misalnya, kalau kita ada pelayanan di, katakanlah pelayanan bagian musik, coba tanya kenapa kita terlibat dalam pelayanan musik? Sebagian besar kadang-kadang orang kalau ditanya, kenapa kamu terima pelayanan musik? “Iya soalnya saya senang nyanyi,” ya bagus sih, “oh saya seneng main musik, saya bisa main musik,” oke sih. Tapi dalam satu artian, ya saya ndak mau terlalu judgment di sini, tapi kalau cuma bolak-balik di situ berarti sebenarnya itu adalah antroposentris. Saya melayani karena itu yang menyenangkan bagi saya sehingga kalau suatu saat sudah tidak menyenangkan lagi, atau saya bosan, atau saya sudah rasa, “Ah eneg lah bolak-balik dikasi jadwal,” misalnya gitu atau apa gitu ya, ya saya lepasin, karena pelayanannya masih antroposentris. Pelayanannya masih berpusat kepada diri. Kembali lagi ya, kembali lagi lho ya saya juga tidak untuk kita melakukan judgement action tapi untuk kita mengintrospeksi diri kita sendiri, kalau orang pelayanan musik, kenapa pelayanan musik? “Karena saya suka musik,” suka musik pada diri sendiri itu tidak salah, tapi kalau cuma di situ akhirnya pelayanan kita itu akhirnya sebenarnya cuma melayani kesukaan kita. Sehingga tidak heran ketika mau dilibatkan pelayanan lain, atau bentuknya pelayanan lain seperti apa yang ndak suka, ndak suka, akhirnya ndak kerjakan pelayanan itu, kenapa? Ya memang saya masih melayani kesukaan saya.

Dan di dalam bagian ini apakah, adakah kita bergumul ya di dalam, dan tentu saya bilang ini untuk kita bertumbuh di sana, untuk kita crosscheck untuk kita bergumul melihat Tuhan dalam saya mengerjakan pelayanan ini, Engkau disukakan atau tidak. Bukan masalah saya suka atau tidak tapi yang terutama Engkau disukakan atau tidak. Sehingga kalaupun kadang-kadang pelayanan itu, “Oh minta ini di jadwalnya gini, aduh saya lagi ndak terlalu bisa tapi saya paksa untuk harus usahakan, atau ada musik tertentu yang saya kurang bisa nikmati,” mungkin misalnya, kadang-kadang ada pergumulan itu lho ada kesulitan mau menghayati teks lagu itu kayaknya susah dinyanyikan, kita akan lakukan juga, kenapa? Karena kita tahu ketika kita lakukan itu, seperti apa yang dikatakan Paulus dari awal di 1 Korintus 10:31 itu yaitu, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain,” termasuk menyanyi di dalam pelayanan, “lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Itu artinya. Saya lakukan ini memang susah, saya sudah mau berhenti di sini sebenarnya, tapi ya saya lakukan aja lah karena yang sejauh saya tahu ya ini menyenangkan Tuhan jadi saya kerjakan. Fokusnya di situ. Fokusnya di sana. Dan ini makanya di dalam bagian ini kita belajar itu menggeser fokusnya karena setiap kita secara nature, karena memang kita sudah jatuh dalam dosa juga apalagi, kita itu start dari menyenangkan diri kita sendiri. Ada iklan mengatakan, “Ku tahu apa yang ku mau,” tapi kita akan terus bergumul dan akan terus dalam seumur hidup kita mengerti, untuk tahu apa yang Tuhan mau. Dan itu harusnya kita arahkan fokus kita ke sana.

Lalu ada juga orang fokusnya pada dirinya itu bukan cuma masalah kesukaannya, ada juga masalah kenyamanannya. Ini nyaman atau ndak, comfort atau ndak, comfort zone-nya itu lho. Saya akan kerjakan sesuatu itu selama itu nyaman. Kalau ndak nyaman, haduh tunggu dulu dah, tunggu dulu. Di dalam bagian ini, ini terutama bagian kita bergumul pribadi di hadapan Tuhan, itu adalah kita bergumul kita ketika kerjakan sesuatu itu dalam pelayanan atau dalam pekerjaan tugas kita juga keseharian, saya akan bahas lagi itu juga di bawahnya, tapi apakah kita itu akan mengukurnya itu masalah kenyamanan kita ataukah memang kita lihat ini kehendak Tuhan atau bukan? Dan itu adalah bagian suatu yang kita bergumul juga gitu ya karena tentu kehendak Tuhan tidak 100% itu selalu kontra atau beda dengan kenyamanan kita juga gitu ya.

Bisa nangkep di sini ya misalnya, misalnya lah ya, maksud saya gini, misalnya ini kalau kita matiin semua AC, semua pada ndak nyaman kan? Ndak nyaman ya. Ok. Tapi itulah kehendak Tuhan supaya kamu ndak nyaman. Nangkap ya kita bukan mencari kehendak Tuhan kayak gitu, “Pokoknya apa yang ndak nyaman itu pasti kehendak Tuhan,” ya ndak tentu juga gitu. Kalau nggak ini semua matiin lampu, matiin AC, terus semua setrap berdiri angkat satu kaki saja. Nggak nyaman lho. Tapi bukan itu kehendak Tuhan, gitu. Kita bukan mencari kehendak Tuhan dengan cara pendekatan seperti itu tapi kita bergumul, dan kita mengerjakan kehendak Tuhan dalam tugas pekerjaan kita, dalam pelayanan kita, dalam apapun, dalam bahkan kita ibadah seperti ini, dan ketika ada gesekan dalam kenyamanan kita, adakah kita bergumul, “Waduh Tuhan ini saya nggak nyaman,” dan kita bergumul dalam doa kita, kita akui itu di hadapan Tuhan ini nggak nyaman sekali tapi saya mau melakukan kalau memang ini kehendak-Mu. Nah di situ. Di situ akhirnya kita mengerti itu kita geser dari fokus pada diri tapi kepada Tuhan karena kita mau mengerti itu menyenangkan Tuhan. Saya ndak mengerti kenapa kita harus kerjakan segala sesuatu ini bahkan di tengah tidak nyaman sekali, saya juga sulit membayangkan bagaimana misalnya anda main musik sambil sangat tidak nyaman, saya ndak mengerti seperti apa, tapi di dalam titik-titik tertentu di dalam kehidupan, karena kenyataan ya itu bisa terjadi, tapi kerjakanlah. Kerjakanlah kenap? Bukan sekedar paksa diri saya tapi ada saya mengerti ya dalam saya proses ini itu Tuhan disenangkan, dan saya bisa tetap berjalan di dalam rute itu untuk mencapai goal untuk kemuliaan Tuhan, karena itu saya kerjakan meski tidak nyaman.

Dan juga tentu ada masalah yang berikutnya juga adalah kadang-kadang dalam kehidupan ini kita apa-apa itu disetel oleh keamanan ya, sekuritas kita, dan tiap orang ada masalah di situ. Saya tidak bisa membahas lengkap semuanya tapi ada orang masalah apa-apa dia ukur itu dari keamanannya, sekuritasnya. “Kalau saya punya pekerjaan masih stabil, saya datang ibadah Pak, tapi kalau nggak, nanti lah.” Lho kalau gitu ya mau nunggu kapan? “Ya nanti, kalau sudah cukup aman atau sudah cukup nyaman, atau kalau saya suka saya datang ibadah,” dan seterusnya. Ada orang itu disetel lewat sekuritasnya, dan inilah bagian kembali lagi itu adalah suatu yang kita harus gumulkan dengan jujur di hadapan Tuhan itu kita itu disetel oleh apa, kita dipengaruhi oleh apa, dan terutama dalam diri kita itu sendiri apa yang sering kali – kalau mau bilang itu istilah psikologi itu apa what makes us tick – jadi kita aduh kenapa begitu gitu, kadang-kadang itu juga adalah faktor sekuritas, keamanan. “Waduh kalau ndak aman, ndak jadi lah.” Jadi kalau memilih pelayanan itu akhirnya ya pilih yang aman-aman. “Oh iya dong. Kenapa pilih pelayanan harus yang semuanya beresiko?” Kembali lagi kita bukan masuk ke sebaliknya, tapi ketika kita kerjakan pelayanan atau kerjakan apa-apa, biarlah kita lihat faktor penentunya bukan keamanan, tapi kita melihat ada keamanan sejati pertama-tama tentu di dalam Tuhan. Itulah makanya ada pembahasan dari Kristus sendiri bilang jangan kamu kuatir akan apa yang kamu pakai, apa yang kamu minum dan seterusnya, bahwa rambut di atas kepala pun dihitung. Itu bukan untuk kita, “Oh Tuhan tahu ya berapa jumlah rambut saya,” sampai surga kita tanya, “Tuhan, rambut saya totalnya berapa ya seumur hidup?” Bukan begitu poinnya tapi itu bicara bahkan sampai rambutmu itu yang kamu nggak tahu kapan gugur jatuhnya, Tuhan pelihara. Kalau sampai jatuh itu tidak mungkin jatuh di luar kehendak Allah. Dan itu bicara kita menyerahkan sekuritas kita, keamanan kita kepada Tuhan sehingga ketika kontra dalam kehidupan ini, kadang-kadang kita harus mengambil keputusan-keputusan yang tidak aman, tetapi kita tahu itu memang sesuai kehendak Tuhan, ya kita kerjakan juga. Ada bagian-bagian dalam kehidupan itu seperti itu.

Kembali lagi kehidupan ini tidak selalu bersahabat dengan kita. Dalam segala sesuatunya ada dalam izin kedaulatan Tuhan, dalam kedaulatan Allah Dia mengizinkan juga hal itu terjadi untuk membentuk kita. Untuk kita semakin mengerti apa sih artinya kita pelayanan itu atau apa arti kita kerjakan segala sesuatu itu untuk menyenangkan Tuhan, untuk memuliakan Dia, dan bukan sekedar mengikuti kesukaan kita, bukan sekedar mengikuti kenyamanan kita, bukan mengikuti sekedar keamanan kita. Kalau pas di saat kita lakukan ternyata kita suka, kita rasa nyaman, kita rasa aman di sana, kita bersyukur. Tapi kalau tidak ada, kita tetap kerjakan atau ndak? Nah itu pertanyaannya. Dan saya ndak tahu dalam fase-fase kehidupan kita, kita akan dihadapkan seperti apa. Tapi saya rasa terutama di dalam fase seperti kayak COVID ini memang pertanyaan-pertanyaan itu menjadi suatu yang struggle dalam kita internal, sebenarnya kita kerjakan itu adalah faktor penentunya apa sih? Apa sih faktor penentunya dalam kita melayani Tuhan.

Dan di bagian sinilah kita mengerti karena Tuhan itu adalah Alfa dan Omega dari hidup kita, Dia adalah yang awal, Dia yang ciptakan kita, Dia pemilik hidup kita, dan Dia juga yang menjadi Omega point-nya, yang menjadi titik akhir dari tujuan, goal kehidupan ini. Sehingga kita mengerti adalah kalau kita ini diciptakan Tuhan, orang bisa mengakui itu, tapi mengerti ya kita ini hidup kita ini bukan milik kita sendiri, hidup kita ini milik Tuhan. Maksud nya apa? Kalau Dia mau pakai di begini begini, ya dipakai begini begini. Lho ini kan miliknya siapa? Tapi kita tahu Tuhan kita itu bukan suka menyiksa, tapi adalah ketika Dia izinkan ada kesulitan itu adalah kenyataannya untuk melewati kesulitan itu kadang-kadang dalam kehidupan memang kita harus penderitaan, sengsara, karena memang itu yang telah diteladankan oleh Kristus sendiri. Kenyataannya Kristus mati di kayu salib itu genap, bukan aduh gagal ya, atau mungkin aduh mungkin saya terlalu keras ngomongnya kepada orang Farisi. Nggak, Dia sudah lakukan yang seharusnya. Tapi genaplah. Karena memang kadang-kadang untuk mencapai kemuliaan Tuhan itu dalam kehidupan yang memang berdosa ini, kita harus melewati jalan penderitaan. Kita harus melewati jalan penderitaan. Tapi kita mengerti ketika nanti kita kerjakan sana, bukan kita senang menderita, tapi kita mengerti ya kalau memang Tuhan tuntun dan Tuhan sertai, dan memang itu kehendak-Nya kita jalani, karena hidup kita milik Dia. Dan tujuan akhirnya adalah untuk kemuliaan Tuhan, tujuan akhirnya bukan untuk kita dinilai sesama kita. Tujuan kita bukan untuk di-applause orang, “Oh bagus kamu pelayanan gini,” tapi adalah kita melihat apakah itu berkenan di hadapan Tuhan, apakah itu sesuatu yang akhirnya sungguh memuliakan Dia.

Sebab memang segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Ini bicara adalah dari Dia, Tuhanlah yang memilih kita. Semua talenta, potensi kita, kemampuan kita, apa keberadaan diri kita sendiri semua dari Tuhan. Lalu kemudian oleh Dia ini bicara itu dari Dia yang topang, kita bisa jadi seperti ini. Dan kepada Dia, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya, berarti dalam kita mulai dari start awalnya, dalam prosesnya, dan bagaimana perjalanan waktunya sampai ke tujuan akhirnya itu adalah bagi kemuliaan Tuhan. Dan ada nggak kita lihat itu kita memang mengalami proses-proses itu di dalam kehidupan kita? Kemuliaan bagi Dia selama-lamanya. Kemuliaan bagi Dia selama-lamanya.

Bukan suatu kebetulan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian kalau kita memiliki suatu potensi talenta tertentu, bukan kebetulan. Dan pertanyaannya adalah semua potensi bakatnya itu kita akan pakai untuk memuliakan Tuhan seperti apa? Itu pertanyaannya dan itu sesuatu yang harus kita gumulkan. Dan di dalam bagian ini saya tidak mau kita luput melihat bahwa ini bukan cuma bicara aspek ibadah yang sempit dan satu artian, ibadah dalam pengertian sempit yaitu pokoknya berarti hidup saya pokoknya semua talenta saya curahkan untuk pelayanan di gerejawi saja, kalau mau dibilang, pelayanan di gereja. Jadi kalau saya ada misalnya talenta akrobat, ya jadi saya sekarang jadi pemain akrobat gitu di depan, mungkin penyambut tamu begitu. Bukan seperti itu, tapi ini bicara lebih meluas, karena kenyataannya dalam kehidupan ini kalau kita mau bilang itu Tuhan ingin kita mempersembahkan tubuh kita di Roma 12:1, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Sehingga dia bicara ibadah dalam artian yang lebih luas, bukan hanya dalam ibadah mimbar tapi dalam keseharian, dalam rutinitas kita, dalam pekerjaan kita ,adakah kita pekerjaan kita kerjakan dengan tekun dan kita mengerti kita sudah function, berfungsi, kalau mau saya pakai istilah itu, itu sudah pada tempatnya Tuhan memang ingin kita garap hal itu. Dan karena itulah kita bisa menggumulkan panggilan kita. Iya kita bisa menggumulkan panggilan kita.

Kadang-kadang ketika saya dalam beberapa kesempatan kalau pelayanan khotbah itu bicara tentang panggilan, kadang-kadang saya ketemu orang yang lebih berumur itu ngomong, “Pak itu cocoknya buat anak muda. Kalau saya mah ya sudah lah. Ngomong panggilan yaelah tunggu panggilan pulang gitu kali mungkin maksudnya.” Sinis sekali atau pesimis gitu ya. Tapi saya percaya ketika bicara panggilan, kita lihatlah para tokoh-tokoh Alkitab itu sendiri. Musa sendiri setelah 80 lho baru dapat panggilannya. Abraham itu umur 75 dapat dipanggil Tuhan keluar dari tempat kelahirannya untuk pergi ke tempat yang Tuhan tunjuk. Jadi panggilan itu tidak dibatasi usia ya, itu satu, tapi bicara dari kapan memang Tuhan panggil kita, kita mau kerjakan apa. Dan sebenarnya dalam istilah kita ketika kita sekarang kerjakan tugas kita, pekerjaan kita, kita mengerti kita sebenarnya sedang menggarap, dipakai Tuhan itu seperti apa.

Mungkin contoh sederhana saja dalam pekerjaan kita itu selain ada orang bilang artinya sempit cuma masalah, “Saya tahu Pak, saya kerja maksimal di sini, uangnya saya pakai persembahan.” Oke itu satu sisi ada poinnya. “Saya kerja bagus supaya bisa janji iman.” Oke itu ada juga bagian itu. Atau, “Saya bisa bersaksi kepada sesama saya.” Ada itu juga. Tapi dalam mana bagian pekerjaan kita, kita mengerti prinsip firman itu kita bisa praktekkan dalam aspek-aspek tertentu dan di dalam prinsip-prinsipnya, dan itu menjadi terang, garam bagi sesama kita. Ya itu senada dalam pekerjaan-pekerjaan kita misalnya kalau kita mengerti ada prinsipnya bagaimana kita berlaku pada bawahan kita, kepada sesama kita, kepada atasan dan seterusnya, adakah kita itu pakai prinsip-prinsip firman di situ? “Oh nggak selalu bisa Pak,” kalau kita di dalam konteks kantor misalnya. Tapi kita lihat itulah yang dijalankan oleh para nabi juga.

Para nabi khususnya kalau saya bilang nabi ya karena rasul agak beda konteksnya sedikit, tapi kalau kita lihat para nabi misalnya kayak Daniel, ya dia bagaimana dia memuliakan Tuhan? Ya sebagai Perdana Menteri itu. Bukan cuma bicara masalah ibadahnya tapi bagaimana dia bersaksi. Terus apakah kita bilang Nebukadnezar otomatis bertobat percaya? Ya nggak juga. Kita lihat kenyataannya nggak seperti itu. Tapi dalam aspek-aspek tertentu itu dia menggenapi rencana Tuhan di sana, dan dia dipakai bagi Tuhan untuk kemuliaan-Nya sesuai porsinya. Dalam satu bagian sebenarnya kalau kita lihat Daniel itu gimana sih dia ‘kerja’-nya? Dia di pembuangan, dan dalam seumur hidupnya dia ada bolak balik raja silih berganti, tapi dia tetap Perdana Menterinya, tapi dia nggak pernah balik ke tanah perjanjian. Ada yang mengatakan sebenarnya dalam berapa artian itu kalau lihat posisi dia dan jabatan seperti itu, itu kemungkinan besar dia menjadi sida-sida ya. Kemungkinan besar memang dia dikebiri juga karena memang itu praktek umum dalam kebiasaan orang zaman itu, dan itu bagian yang kalau kita renungkan saat itu adalah suatu yang menyedihkan dan mungkin pergumulan dalam juga karena kita tahu dalam Perjanjian Lama, sistemnya, kenyataannya adalah tanda perjanjian itu adalah sunat, dan itu seperti dihilangkan di situ. Tapi kemudian dengan kesulitan dia tetap jalankan itu, dan dia seumur hidup mungkin nggak lihat ya seperti apa hasil dalam pelayanan dia, tapi memang apa yang dia kerjakan itu dia kerjakan dengan setia saja dan nanti menjadi berkat bagi generasi selanjutnya. Kadang-kadang memang ada yang seperti itu.

Menarik ya kadang-kadang kalau kita bandingkan nabi besar, nabi kecil, itu major prophet atau minor prophet, kadang-kadang orang oh nabi besar itu seperti apa? Seperti Yesaya. Kalau kita baca baik-baik di dalam Yesaya, dia tulis banyak hal tapi dari awal panggilan Yesaya itu dikatakan ketika kamu menyampaikan kebenaran firman-Ku itu adalah mereka tidak akan melihat. Mereka mendengar tapi tidak menanggap, melihat tapi tidak memahami dan seterusnya. Ini kayak bicara khotbah kepada orang yang akhirnya tidak bertobat. Jadi seumur hidupnya Yesaya itu dalam pelayanan dia nggak lihat ada yang bertobat. Atau mungkin ada lah segelintir kecil, tapi ini dia pelayanan kepada bangsa Israel dan dia lihat bolak-balik raja Israel itu seperti apa. Tapi dia kerjakan dengan setia saja. Karena memang patokan hasilnya, result-nya itu bukan kita tapi pada Tuhan.

Sebaliknya kalau kita lihat Yunus, Yunus itu kan minor prophet secara kategori, nabi kecil. Tapi itu sebenarnya di antara semua nabi, itu yang pelayanan paling kalau mau dibilang khotbah paling besar pertobatannya ya Yunus. Tobat satu kota dari raja sampai binatangnya disuruh puasa. Ya itu mungkin pemikiran karena dari Pagan ya latar belakangnya mereka orang Niniwe, orang Asyur di situ, tapi bertobat sebesar itu. Tapi kita lihat adalah karena yang mengukur keberhasilan yang mana besar yang mana kecil yang mana yang lebih penting atau nggak, poinnya adalah menggenapi kehendak Tuhan. Entah kita langsung hasilnya depan mata atau tidak, itu bedanya Yunus dengan Yesaya di sini, tapi kita lihat adalah kita kerjakan atau nggak itu ada menyenangkan Tuhan atau nggak dalam berbagai aspek kehidupan kita. Ada di dalam kalau kita lihat dalam pelajaran dalam Alkitab itu ada silsilah yang berlanjut keturunan-keturunan itu ada berapa ya mereka lanjutkan keturunan adalah memang ya sudah memang beranak-pinak saja kayak gitu. Tetapi ternyata di dalam kehidupan mereka, mereka jalani demikian, Tuhan pakai untuk melalui silsilah itulah akhirnya ada yang dipakai bagaimana kelahiran Sang Juruselamat itu sendiri.

Nah itu lho dalam berbagai aspek kehidupan itu kita lihat di dalam pekerjaan kita kah, dalam kita pasangan kita kah, dalam konteks keluarga kita, dan kita mengatur keuangan, dalam berkreasi mungkin, dan di dalam ibadah tentu juga dalam pelayanan kita seterusnya, adakah kita itu dipakai untuk kemuliaan Tuhan atau tidak? Dan itu terus yang kita gumulkan dan itu yang kita renungkan di hadapan Tuhan. Dan kalau kita sudah mengerti memang saya sudah kerjakan ini, memang sudah panggilan saya, ya kerjakanlah dengan tekun sampai akhirnya. Kerjakan dengan tekun sampai akhirnya, sejauh mana Tuhan masih pimpin dan masih mau pakai kita. Tidak selalu bisa di tempat yang sama, bisa berpindah, bisa berupa konteks pekerjaan, tapi yang penting yang pimpin Tuhan yang sama. Itu yang terus kita kerjakan. Konteks kehidupan kita suka nggak suka itu ada perubahannya kok. Tapi pertanyaannya itu adalah kita lihat yang penting memang kita masih on track, masih dalam track rencana Tuhan ya kita kerjakan. Kita kerjakan di situ.

Dan di dalam bagian inilah kita mengerti ketika kita sampai kepada Soli Deo Gloria itu menjadi konklusi dari semua Sola yang ada, yaitu kenapa kita mengerti hanya karena anugerah, kenapa itu hanya iman, kenapa hanya melalui Kristus berdasarkan memang hanya melalui Alkitab? Karena kita mengerti dalam bagian inilah, inilah kita mengerti ini bukan masalah teologi yang rumit tapi inilah teologi yang memuliakan Tuhan. Teologi yang mau taat sepenuhnya pada apa yang diajarkan oleh Alkitab. Kalau saya mau pakai kontra yang dipakai Pendeta Romeo, dia bicara itu theology from above and theology from below. Theology from above itu teologi dari atas, itu sesuai dengan prisnip Tuhan, sesuai dengan prinsip firman, sesuai dengan apa yang Kitab Suci katakan dan kita terima, kita taati, kita akui itu, dan kita bergumul menyesuaikan dengan di atas. Bukan theology from below. Theology from below itu kita tahu sedemikian rupa ingin capai ke atas sana. Itu memang seperti bangun Menara Babel. Ahli-ahli ngomong kami bangun Menara Babel, untuk apa? Mau ketemu Tuhan di atas, tapi sebenarnya adalah hanya untuk memuliakan manusia, mencapai human achievement, pencapainan manusia.

Teologi sebagus apapun itu, yang akademis sekalipun, dibangun berdasarkan untuk kemuliaan manusia atau institusi atau orang tertentu, jabatan tertentu seperti Paus, Kardinal dan seterusnya, sebagus apapun itu kelihatannya tampak luar, menjadi berkat, banyak orang boleh dibangunkan dan seterusnya, tapi kenyataannya itu bukanlah teologi yang memuliakan Tuhan. Karena apa? Karena tidak sesuai dengan prinsip firman Tuhan. Tidak sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Bukan sesuai dengan apa yang nyatanya Tuhan katakan adalah oleh anugerah saja, bahwa melalui iman saja bukan perbuatan kita, dan bagaimana hanya melalui Kristus saja karena Dialah yang satu-satunya perantara Allah dan manusia, dan menurut otoritas dari Allah kita karena itulah yang menjadi sah, yang berhak menjadi penuntun gereja di sepanjang segala zaman baik di dalam prinsip iman maupun dalam praktek kehidupan kita. Dan ketika kita menaati itu kita mengerti ini adalah teologi yang memuliakan Tuhan.

Bagaimanakah iman kita di hari ini? Setiap orang yang sadar nggak sadar – kita mungkin kadang-kadang ada yang suka senang belajar teologi, ada yang nggak terlalu, ada yang rasa teologi itu ngomong apa sih – tapi sadar nggak sadar setiap orang punya teologinya masing-masing. Kembali lagi ya tiap orang itu sebenarnya berteologi. Entah dia bisa ungkapkan secara lengkap atau tidak, entah dia bisa jabarkan secara koheren atau tidak, tiap orang itu berteologi. Setiap orang punya worldview, setiap orang punya cara pandangnya masing-masing, punya presaposisi pandangan masing-masing, tapi kemudian pertanyaannya adalah apakah itu disusun berdasarakan Alkitab atau tidak? Dan ketika kita bergumul bagaimana mau menghidupi memuliakan Tuhan, biarlah kita mengerti inilah pergumulan yang worth it kita jalani.

Ada kesulitan? Iya ada kesulitannya. Kadang-kadang orang masih fase, “Belajarnya saja sulit Pak, apalagi gumulkan.” Saya ingat pada waktu saya masih pemuda kadnag-kadang ada teman saya juga ngomongin, “Ini kita ngerti-nya aja ngerti pembahasannya masih sulit apalagi mau lakukan. Aduh masih sulit sekali,” seperti itu. Tapi ingatlah itu adalah sesuatu yang worth it, itu sesuatu yang layak kita jalani karena kita tahu kita sedang mau sulit-sulitnya ini bukan karena sekedar mau sulit tapi ini adalah kesulitan yang harus dilalui untuk menyenangkan Tuhan, untuk memuliakan Dia. Dan ketika kita tempuh sedemikian itulah baru kita mengerti ada dalam proses itu kita bersyukur ada bagaimana Katekismus Westmister itu katakan di dalam proses kita kalau memang jalani dengan tepat, memang dipimpin Tuhan, kita bisa mengerti apa menikmati Tuhan itu. Kita bisa merasakan suatu sukacita, ada suatu kekaguman, dikatakan para pemazmur. Seperti di Mazmur 16:5-11 seperti di Kisah Rasul 14:15 dan seterusnya, kita melihat ada kekaguman yang dikatakan oleh para penulis Alkitab. Mereka memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan karena memang saling berkaitan sehingga di saat itulah kita mengerti ketika Dia memuliakan Tuhan, berfokus kepada Tuhan, dia menikmati relasi itu dengan Tuhan dan dia menikmati suatu sukacita surgawi bukan sukacita duniawi. Dan menikmati ini bukan cuma kita bisa lihat ada aspek emosi dan keinginan juga yang dikuduskan untuk yang kita bisa sungguh-sungguh tulus bagaimana menyenangkan Tuhan. Dan di bagian inilah kita mengerti bagaimana kita bertumbuh dalam aspek relasi kita, kita semakin mengenal Allah kita, dan bisa mengerti bagaimana kita mengerti seperti apakah pribadi Allah kita dan kelak kita akan bertemu Dia muka dengan muka. Adakah ini yang kita renungkan, adakah ini yang kita gumulkan, adakah ini memang terus kita doakan dan kita jalani kehidupan kita hari lepas hari? Mari kita satu dalam doa.

Bapa kami dalam surga kami berdoa bersyukur untuk firman-Mu. Kami berdoa bersyukur melalui pembahasan ini kami boleh dengarkan bagaimana hidup memuliakan Engkau, berfokus dan berpusat kepada-Mu saja. Ampunilah dosa kesalahan kam bahwa kenyataannya seringkali kami masih mengerjakan banyak hal itu dengan mengukur, memakai standar diri kami. Tapi kami berdoa kiranya Engkau ampuni kesalahan kami, dan terutama Engkau berikan kami kerendahan hati, dan berikan kami kepekaan untuk boleh melihat apa kehendak rencana-Mu untuk kami garap, untuk kami genapi, dan biarlah kehidupan ini sungguh boleh dipakai menjadi persembahan yang harum demi kemuliaan nama-Mu saja. Terima kasih Bapa semua ini. Hanya di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

 

Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah (KS)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *