Setia Menghidupi Panggilan Tuhan, 12 Mei 2019

Fil. 2:14-16

Vik. Leonardo Chandra, M.Th.

Di dalam bagian ini, kita melihat bahwa di dalam urutan Paulus membahas, dan secara umum memang dalam surat-suratnya, ada suatu bentuk adalah dia mulai dari indikatif lalu masuk ke imperative. Mulai dari ada bagian pengajaran secara iman, setelah itu dia akan masuk kepada bagian perintah. Dan di sini kita lihat bahwa hal ini itu sangat berkaitan. Terkadang orang menangkap kesan bahwa di Reformed itu sangat menekankan tentang bagian indikatif, tentang bagian iman, tentang bagian apa yang harus kita percaya. Dan memang itu betul, kita memang menekankan itu. Tapi bukan berarti, kita meniadakan atau menganggap tidak perlunya bagian kalimat perintah, bagian apa yang harus kita lakukan. Dan kadang-kadang juga orang menangkap tidak seimbang dalam hal ini, ketika misalnya orang baca, misalnya buku Katekismus. Di dalam buku Katekismus ya, terutama di dalam memang terjemahan di Indonesianya. Saya juga nggak mengerti history-nya persis kenapa. Di dalam kalau terjemahan yang di kita, di Indonesia itu, dari Momentum itu ya, yang ada dikasih commentary pembahasannya oleh G.I. Williamson, maka itu menjadi dua buku. Buku pertama itu bicara apa yang harus dipercayai, dan buku kedua itu bicara apa yang menjadi kewajiban kita, apa yang harus kita lakukan. Nah tapi itu aslinya satu buku, jadi itu nyambung, kita lihat, itu bukan dua seri. Lalu kadang-kadang orang cuma baca bagian pertamanya, tidak baca bagian keduanya. Tapi itu sangat berkaitan, karena apa yang kita percayai itu sangat berhubungan erat dengan apa yang harusnya kita lakukan, menjadi berkaitan dengan kewajiban kita. Itu sama seperti ketika misalnya kita ingin jalan menyeberang jalan, lalu ada orang teriak : “Hei, hati-hati, itu ada mobil lari dengan kencang. Hei awas, ada mobil di depan.” Kita itu kan bukan : ‘’Ooo tunggu dulu ya, saya mau lakukan atau nggak?” Orang langsung akan otomatis menghindar. Karena itu apa yang kita percaya, apa yang kita dengarkan, dan kita terima sebagai kebenaran, otomatis kita lakukan, kita responi. Dan kalau orang, “Saya masih pikir-pikir dulu,” ya ketabrak duluan.

Jadi apa yang dia percaya, apa yang dia terima, itu akan berkaitan dengan kehidupannya. Kalau orang cuma bilang, “O ini saya sungguh percaya,” tapi dia tidak lakukan, maka itu yang, saya percaya itu yang seperti pernah Pak Tong katakan, “Banyak orang Kristen itu malah menjadi atheis praktis.” Atheis praktis itu adalah secara iman, kalau ditanya : “Apa yang kamu percayai ?” Maka dia bisa jelaskan : “Ini yang saya percaya, ini yang saya percaya, ini yang saya percaya.” Tapi di dalam praktek kehidupannya, dia tidak melakukan demikian. Dan banyak kali orang itu dalam kehidupan, ketika kembali lagi ya, ketika masuk dalam pembahasan doktrinal, masuk ke dalam pembahasan iman, agama, kepercayaan, maka dia akan bisa jelaskan : “Saya percaya begini…” tapi di dalam praktek kehidupannya itu jauh sekali, dan bahkan dia tidak melihat ada kaitannya. Banyak orang akhirnya, jadi ketika melihat pembahasan tentang iman, kepercayaan : “Ooo, itu nantilah kalau di gereja, ya…. Ooo nantilah, ketika misalnya di dalam kelas seperti STRIY ataupun seperti seminar seperti ini,” tapi, seringkali kayaknya jauh dari kehidupan kita. Dan sepertinya orang malah kadang merasa, “Yah, itu ideal lah…, Idealnya itu… ya,  itu idealnya Pak. Idealnya itu kita percaya bersandar pada Tuhan, tapi nanti kalau masuk dalam prakteknya, yah ndak seperti itu.” Itu banyak orang pakai juga istilah itu: Idealnya begitu. Idealnya itu seperti itu. Saya setuju, memang Firman Tuhan itu berbicara idealnya, tapi bukan pengertian idealnya tidak bisa dipraktekkan di dalam realitanya. Seharusnya, yang ideal itu menjadi patokan standar di mana kita jalan kehidupan. Ya kan, sama seperti: “Ooo, idealnya di dalam pernikahan itu ya, satu laki-laki, satu perempuan. Ya sudah seperti itu. Ooo, itu idealnya Pak, tapi realitanya kok banyak, suami banyak istrinya, atau sebaliknya ya….ada yang istri banyak suaminya, seperti itu.” Nggak seperti itu, seharusnya seperti itu, dan kita berjuang mentaatinya dan menjalankannya, karena itu yang kita imani, dan kita dari awal, titik awal harus menjalankan demikian. Tetapi kenyataannya banyak orang nggak demikian. Kembali lagi, kalau misalnya kita, saya tanya setiap kita di sini, “Siapakah yang harusnya jadi sandaran kita ?” Kita semua pasti setuju, yang menjadi sandaran kita, itu adalah Tuhan. Tapi kenyataannya, berapa orang itu dalam kehidupannya itu lebih bersandar kepada uangnya, lebih banyak kita itu lebih bersandar kepada orang.

Lebih banyak kita itu, kalau seperti Pendeta Ivan itu ada katakan dalam pelatihan penatalayan, dia katakan, “Orang itu nggak suka dibentuk Tuhan, tapi kenyataannya, suka kalau dibentuk oleh uang ataupun orang.” Ya kan, kalau misalnya kita suruh di dalam, “Ayo kita  ibadah, kita datang dalam on time seperti ini, jam 09.00,” gitu kan, ya secara umum orang akan bilang, “Oh iya kita harus datang memang harus tepat waktu.” Tapi sekali lagi banyak yang alasan, “O idealnya memang seperti itu, tapi kenyataannya bisa lah lewat-lewat.” Kadang saya pernah alami ini sudah mau selesai khotbah baru orangnya datang. Tapi kenapa seringkali orang bilang, “Oh itu idealnya”? Sekarang saya balik, di kantor harus masuk jam 9, terus kita bilang, “Oh itu idealnya Pak, kantornya masuk jam 9 saya datangnya jam 9.30,” seperti itu? Nggak kan, kita itu harus selalu datang on-time, kenapa? Ya kalau saya nggak datang on-time saya bisa dipecat. Itulah kita itu lebih kalau dibentuk oleh uang kita itu lebih bisa seperti itu, kita akan lebih mudah taat. Atau mau ketemu dengan boss mosok saya datang boss nya sudah meeting, sudah jalan, saya baru datang, kan nggak enak. Nah kita gampang dibentuk orang tapi kita kok kayaknya susah sekali dibentuk oleh Tuhan. Ini dalam kenyataannya, kembali lagi ya, kalau kita bilang apakah kita dibentuk Tuhan? Ya pasti semua setuju. Apakah kita hidup harus bersandar kepada Tuhan? Semua pasti setuju. Tapi dalam realitanya orang nggak suka dibentuk Tuhan, dan orang banyak kali itu tidak menjalankan apa yang dipercayai dan apa yang diimani. Meski orang secara umum bisa menjelaskan apa yang dia imani, meski secara umum orang bahkan bisa membela apa yang dia percayai itu, tapi sangat kontras sekali dengan kehidupan kita. Dan ini harusnya menjadi bagian yang kita ingat, apa yang kita percayai, apa yang kita imani selama ini, pertanyaannya adalah sungguhkah kita hidupi dan terus kita hidupi, sungguh kita hidupi dan terus kita praktekkan dalam kehidupan kita? Terkadang memang tidak mudah ketika kita lihat “nggak ada penaltinya” kan? Ya kita kan tidak, “Oh ini sudah jam berapa? Bapak datang telat, nggak boleh masuk,” kita nggak begitu, kita nggak ada penaltinya untuk orang seperti itu, juga tidak dipecat, juga saya tidak bisa sebagai hamba Tuhan bagaimanapun saya tidak bisa klaim bahwa “kalau anda tidak mentaati ini, anda missed ibadah, ya sudah anda kehilangan keselamatan,” saya juga tidak bisa katakan itu, kenapa? Karena memang seturut dengan Alkitab katakan bahwa kita diselamatkan itu semata-mata anugerah, dan melalui iman saja; dan karena itulah kita tetap mengajarkan dan menjalankan seperti demikian.

Tapi kembali, biarlah kita mengingat anugerah itu bukan suatu cheap grace, bukan sesuatu anugerah yang murah yang bisa kita permainkan, yang bisa kita anggap ringan; tetapi itu sebenarnya adalah anugerah yang terlalu mahal, yang tidak bisa kita bayar dengan ketaatan kita, dan hanya bisa dibayar dengan pengorbanan darah Kristus yang digenapi melalui ketaatan-Nya seumur hidup-Nya selama pelayanan-Nya di dunia sampai kematian-Nya di kayu salib, dan juga melalui kebangkitan-Nya yang kita rayakan dalam Paskah. Dan seharusnya dalam kacamata anugerah itulah mendorong kita bagaimana seharusnya hidup bagi Tuhan Yesus. Kembali lagi, bukan karena kita takut penalti, bukan karena diancam-ancam, tapi harusnya biarlah kita ingat Tuhan itu sudah begitu besar beranugerah kepada kita kok kita ini nggak bisa membalasnya dengan lebih berjuang bagi Dia. Saya terkadang teringat dengan kisah dari seorang teman yang dalam hidupnya itu sembarangan, ya agak liar lah. Sampai suatu ketika dia sadar bahwa semua kehidupannya yang liar dan sembarangan serta berfoya-foya, dia suatu saat sadar bahwa ibunya di rumah itu bertekun, bergiat, bekerja begitu rupa itu untuk menafkahi dia, membesarkan dia. Lalu dia sadar, “saya ini hidupnya sembarangan, pakai uang sembarangan, tapi ibu saya itu berjerih lelah demi menghidupi saya.” Dia baru kayak ngeh gitu, “Masak sih saya ini sembarangan mempergunakan uang dan waktu saya dan studi saya, padahal ibu saya sudah bekerja begitu rupa untuk menghidupi saya.” Kembali, harusnya ingat pengorbanan dari orangtua dalam kehidupan kita itu biasanya mendorong kita untuk berpikir bagaimana mempergunakan kehidupan kita dengan lebih baik. Terlebih besar lagi kalau kita melihat pengorbanan Kristus.

Saya lanjut, karena itulah di dalam bagian ini Paulus mengingatkan untuk kita tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Di dalam bagian ini Gordon Fee mengatakan, istilah “tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” itu paralel dengan Israel di dalam Perjanjian Lama ketika dikatakan mereka itu  keluar dari perbudakan di Mesir, dan mereka juga kerjanya bersungut-sungut. Ya ini menarik ya, itu kita kalau melihat ya di dalam kisah itu, ketika mereka sudah keluar dari Mesir, lho bukankah itu  menjadi suatu hal yang begitu besar? Mereka tadinya diperbudak lho di Mesir itu. Diperbudak itu, budak itu, kelasnya lebih rendah dari babu, lebih rendah dari karyawan. Jongos paling rendah di zaman kita pun, budak itu lebih rendah lagi. Ya. Buruh itu, buruh pabrik sekalipun sebagaimana dipandang rendahnya secara strata perekonomian dan sosial, itu tetap lebih tinggi dari budak, kenapa? Karena buruh juga punya hak. Buruh itu punya hak. Buruh itu bisa bahkan demo. Ya ada, di waktu-waktu tertentu nanti demo. Juga ada bahkan hari raya buruh. Coba ada nggak hari raya budak? Nggak ada. Hari raya budak itu nggak ada. Budak itu  kalau diperbudak ya seperti kerjakan sesuatu dan dia kerjakan. Kerjakan terus mati-matian sampai beneran mati ya sudah dibuang gitu aja. Tidak ada hak sama sekali. Jadi mereka itu tidak punya hak. Mereka diperlakukan memang tidak berperikemanusiaan. Karena itu zaman belum  ada seperti PBB yang apa, menekankan pentingnya hak asasi manusia dan  seterusnya. Mereka diperbudak di Mesir, hidupnya kesulitan dan anaknya lahir satu-satu disuruh dibunuh dan seperti demikian. Tetapi setelah mereka dilepaskan dari perbudakan di Mesir, mereka bebas. Bayangkan ya, orang budak itu bisa menjadi orang bebas, itu suatu loncatan yang  besar sekali. Kita dari babu bisa naik pangkat menjadi manajer gitu udah lompatan yang besar sekali. Bayangkan ini loncatan lebih besar dari itu ya. Ini dari budak, orang bebas, orang bebas yang seperti apa? Orang bebas yang Allahnya menaklukkan allah-allah di Mesir itu, menaklukkan para ilah di Mesir, menaklukkan bangsa adi daya yang maha besar itu. Iya kan? Bayangkan zaman itu. Itu bagi mereka pun unthinkable, itu tak terduga. Kok bisa kita keluar. Dan bukan cuman masalah kita bebas, tapi ditunggangbalikkan itu Mesir itu. Betapa mereka itu harusnya sadar betapa luar biasanya Allah. Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Allah yang memanggil leluhur kita dan yang membebaskan kita.

Tapi saya kembali ke dalam kisah itu, yaitu setelah mereka bebas, mereka melihat begitu banyak tulah yang terjadi di Mesir. Setelah mereka pun melihat hidup mereka dipimpin dengan begitu luar biasa ya, diberi manna ya kan. Kita nggak pernah turun manna kayak gitu itu, mereka dapatkan manna dari surgawi tapi kok ternyata mereka itu bisa bersungut-sungut di padang gurun itu. Mereka malah bersungut-sungut begitu rupanya sampai terdengar kepada Musa. “Lebih baik kami kembali ke Mesir.” Itu kalau secara logika itu nggak jalan itu ya. Kamu mau kembali menjadi budak? Kamu tahu nggak dulu kamu itu disiksa? Kamu tahu nggak kamu dulu itu hidupnya menderita. Kamu tahu nggak dulu kamu itu anak-anak, cucumu, satu-satu dibunuh. Lho tahu. Tapi, ya begitulah kadang orang berdosa memang kenyataannya meski sudah  dikasih kebebasan, meski sudah dikasi keselamatan, lebih menyukai dosa itu sendiri. Lebih menyukai hidup yang lama itu. Dan kembali ya kepada pembahasan ini, Israel menjadi  peringatan bagi kita, sebagaimana Paulus katakan di dalam kitab Roma, Israel menjadi suatu peringatan bagi orang percaya. Pertanyaannya adalah sungguh ketika hidup mentaati firman Tuhan atau tidak? Jangan sampai, kita juga malah, yang sudah diberikan kebebasan yang lebih besar budak menjadi orang bebas, tetapi kita diberikan kebebasan dari orang yang dibelenggu dosa, mendapatkan keselamatan  dan bahkan mendapat hak untuk hidup di Surga, itu adalah hal yang  lebih besar. Tapi kenapa kok nyatanya kita kok balik bersungut-sungut dan berbantah-bantahan? Kenyataannya orang percaya itu nggak luput melakukan dosa dan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan orang Israel ini. Kembali lagi kalau kita baca ya bodoh banget ngapain sih mereka mau kembali ke Mesir seperti itu? Sebenarnya itu menjadi  cerminan gambaran dalam kehidupan kita. Itu lebih ke cerminan yang bukan berarti, “Oh ya saya juga akan bersungut-sungut seperti itu.” Ya nggak, celaka kita seperti itu ya. Tapi itu menjadi suatu cerminan pembelajaran bahwa kenyataannya Alkitab itu menyatakan bahwa orang percaya itu hidupnya demikian. Sudah diberikan keselamatan juga tidak tahu syukur juga, tidak tahu berterimakasih. Tidak tahu membalas budi bagaimana pengorbanan Kristus yang begitu besar, malah bersungut-sungut, dan malah berkata lebih enak kehidupan sebelumnya. Dan itu bagian sini makanya Paulus ingatkan kita janganlah kita kembali mengulang kesalahan yang sama, lakukanlah semuanya dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah.

Itu kemudian menjadi peringatan yang kita tiap kita di dalam pergumulan kita, apalagi adalah ketika kita mentaati perintah Tuhan dalam ibadah dalam pelayanan biarlah dalam banyak hal ketika kesulitan timbul, atau mungkin ada perselisihan karena satu lain hal, karena beda karakter dan yang lainnya, kita ingat lakukanlah segala sesuatunya dengan tidak bersungut-sungut dan tidak berbantah-bantah ini. Kenapa? Kembali ingat karena Tuhan sudah menyelamatkan kita dan Dia juga tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah. Kalau jadi Kristus, Dia lah justru yang paling bisa bersungut-sungut dan berbantah-bantah. Karena Dia nggak ada salahnya sama sekali lho, tapi Dia diperlakukan dengan cara tidak adil seperti itu. Dan bahkan Dia dibuang, ditolak dan ditinggalkan oleh para murid-Nya. Kita kalau jadi Kristus, kita sudah  kecewa pasti. Itu orang teriak,” Hosana! Hosana!” akhirnya teriak-teriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Kita belum pernah lho alami seperti demikian. Orang yang sorak-sorak kita, “Inilah Raja Hosana Anak Daud, Inilah anak Daud,” dielu-elukan seperti itu, massa itu bisa berbalik sedemikian, berbalik 180 derajat, malah teriak “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” meludahi Dia, hina Dia seperti demikian. Dan bahkan kita tahu di dalam peradilan, ketika Kristus di hadapan Pilatus, Pilatus sendiri mengerti ini orang nggak ada salahnya, “Ya sudahlah, supaya kamu puas kita cambuk Dia. Dihukum saja siksa tapi nggak pantas dihukum mati.” Tapi massa itu kan yang mengalami begitu banyak mujizat Yesus Kristus, yang mungkin juga pernah mencicipi ketika Kristus memberi makan kepada lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan itu. Bukankah massa itu juga yang pernah, mungkin sebagian itu juga menyembuhkan orang-orang yang sakit, orang yang mendapat karunia mujizat itu. Kembali, itu paralel di dalam Perjanjian Lama. Itu juga generasi pertama  itulah yang mengalami berbagai mujizat, menyaksikan tulah-tulah, sepuluh tulah, menyaksikan manna dari surgawi dan  tapi merekalah yang bersungut-sungut dan meminta kembali ke Mesir. Harusnya menjadi peringatan bagi kita bagaimana kita tidak mengulangi kesalahan seperti mereka.

Lanjut ke poin berikutnya, dikatakan bahwa “supaya kamu tiada bernoda dan bercela sebagai anak-anak Allah yang tidak bengkok hatinya,” dan seterusnya ini. Di sini kita diajarkan bagaimana kita menajadi anak-anak Tuhan yang  tiada beraib tiada bernoda. Sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela. Ini bagian yang menjadi target sasaran kehidupan kita, yaitu memang  kita ditarget untuk menuju kepada kesempurnaan. Setelah kita selamat itu bukan cuma ya, saya yang penting sudah  selamat seperti saya dapat tiket masuk surga. “Ya sudah saya tunggu hari ini saja, kapan saya mati ya,” bukan seperti itu. Tapi kita dipanggil, masuk ke dalam program Allah, masuk kedalam rencana Tuhan, masuk berbagian di dalam  rencana keselamatan itu. Dan kita dipanggil masuk kedalam rencana kerajaan Surga itu. Dan sudah berbagian atau tidak? Atau kita cuman pasif saja “pokoknya kita percaya sama Tuhan Yesus, saya mati masuk Surga, sudah. Saya hidup di sini hura-hura, besok mati, masuk Surga.” Nggak seperti itu. Kita  dipanggil untuk tiada beraib dan tiada bernoda. Itu berbicara mengenai kita harus sempurna sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela. Kita jangan lupa di dalam Alkitab itu, baik di dalam  Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu dikatakan bahwa “Hendaklah engkau  sempurna sebab Allah itu sempurna adanya. Sebab Bapamu yang di Surga itu sempurna adanya.” Kita memang harus men-target yang ideal itu. Men-target yang sempurna itu. Dan itu harus kita gumulkan, meski jatuh bangun tetapi kita harus bisa perjuangkan, bergerak ke arah sana. Di dalam bagian ini, tentang bagian ini, Grant Osbourne mengatakan bahwa ungkapan ini, itu sama dipakai dalam Perjanjian Lama, dalam Septuaginta ya, Perjanjian Lama di dalam bahasa Yunani, untuk mengungkapkan “yang tiada beraib dan tiada bercela” ini sebagai istilah yang sama dipakai kepada korban persembahan bagi Tuhan. Nah ini menarik ya. Jadi ketika di dalam Perjanjian Lama kita membaca itu, seringkali Israel itu mempersembahkan domba, ya kan? Domba yang tiada beraib dan tiada bernoda itu, sebagai domba yang tidak bercacat cela. Kita bisa bayangkan ya, seperti apa rasanya itu kalau kita pelihara domba harus yang seperti demikian. Pertama, dia harus domba yang sulung, terus dari lahir, dicek semuanya, wah ini tiada cacat, tiada celanya, lalu dipelihara. Dipelihara, dirawat dengan baik sedemikian rupa, mungkin dirawat lebih baik dari anak sendiri mungkin. Kenapa? Karena kalau sampai dia nanti ada jadi cacatnya, dia nggak boleh dipersembahkan. Jadi ini, dari lahir, ya kembali lagi, yaitu bisa memang ada domba lahir, ada cacatnya lah, ada mungkin wah ini tanduknya nggak bagus lah, atau matanya agak juling mungkin, atau mungkin kakinya agak bengkok, seterusnya. Tapi kalau dari awal itu dia lahirnya sempurna, dia itu tidak bercacat cela, menurut standar yang tentu dikatakan dalam Alkitab, lalu maka harus dipelihara, dijaga sedemikian untuk dia tetap tidak bercacat cela. Terus dirawat, dijaga sedemikian rupa, tiap hari digembalakan. Ini special nih, mungkin rumputnya juga beda, gitu ya. Dikasih makan khusus, seperti itu. Mungkin ya ada dietnya atau apa, saya nggak ngertilah, pokoknya dirawat khusus. Dirawat khusus karena dia lahir, dialah domba yang sulung, dan dia yang tidak ada cacat celanya. Lalu dirawat dijaga sedemikian rupa, untuk apa? Sampai terakhir malah disembelih. Jadi konsep orang Israel itu memberikan persembahan itu seperti itu. Dirawat, dijaga sedemikian rupa, untuk akhirnya malah disembelih. Di situ mereka mengerti, oh inilah persembahan yang kudus, yang tidak bercacat cela, dan itulah yang berkenan di hadapan Tuhan. Bisa nangkap konsepnya ya? Dari lahir, yang tidak cacat. Kalau ketika lahir, wah ini dombanya bulunya nggak bagus, wah ini nggak layak, ini nggak layak buat itu. Tapi dari lahir, ini yang tidak ada cacatnya, itu dipelihara dirawat sedemikian rupa ujungnya adalah cuma untuk disembelih itu, cuma untuk disembelih dimatikan. Nah itu sehingga kental sekali dalam konsep Israel bahwa, yang tapi yang seperti inilah, yang saya rawat dengan begitu, apa yang saya jaga sedemikian rupa, bahkan mungkin saya jaga lebih hati-hati daripada anak saya, ini adalah sesuatu yang berkenan di hadapan Allah.

Dan harusnya itu ketika di dalam Perjanjian Baru, kita ngerti itu, satu tentunya itu digenapi Kristus, itu digenapi makanya dalam kehidupanNya, dari kelahiranNya Dia tidak bercacat, tiada cacat, tiada bernoda. Lalu Dia menjalani kehidupan yang sempurna sampai Dia mati di kayu salib. Kita lihat juga paralel, tipologinya. Dia menjalani sudah tiada dosanya, terakhir cuma untuk disembelih seperti itu. Memang seperti itu. Tapi itu menjadi bagian setelah kita imani, kita berkaitan dengan berarti apa respon kita sebagai orang percaya. Yaitu hidup kita juga harus mengejar yang ideal itu, harus mengejar kesempurnaan itu, harus juga kita menjadi hidup, hidup yang satu kali ini biarlah itu menjadi korban persembahan bagi Tuhan. Nah itu keindahannya itu di situ. Kembali lagi ada paralelnya di sana, karena kita juga setelah ditebus kita dijadikan anak-anak Allah. Nah ini. Ini ada memang penekanan di dalam kosa katanya: Itu sebagaimana Kristus  Sang Anak Tunggal Allah itu, Dia itu ada memang Dia sepenuhnya adalah Allah, lalu Dia menjadi contoh, patron, teladan kehidupan kita sebagaimana kita, bagaimana kita hidup sebagai anak-anak Allah itu. Padanannya makanya mengikuti pada Kristus, di bagian sini.

Tapi kemudian ketika saya melanjutkan merenungkan dalam bagian ini, bagaimana kita harus menjaga kesempurnaan itu, bagaimana kita harus hidup dengan sempurna, saya teringat pada apa yang pernah dibahas oleh Arthur F. Holmes di dalam bukunya All Truth is God’s Truth. Di dalam salah satu babnya membahas tentang kekeliruan. Terus saya ingat di dalam waktu saya dulu waktu masih SMA, itu sudah banyak tahun lalu lah ya, lebih dari decade yang lalu. Itu pernah guru les Fisika saya itu tanya, bertanya pada saya. Dia tanya pada saya, “Tuhan itu kan Maha Kuasa,” lalu dia tanya begini, “kalau memang Tuhan itu Maha Kuasa, bisa nggak ya, Dia buat suatu batu itu begitu besar, besaaarr sekali sampai Dia sendiri juga nggak bisa angkat?” Dia bertanya, aneh gitu ya. Tuhan Maha Kuasa kan? Oke. Lantas Dia bisa nggak buat batu yang begitu besar, saking besarnya Dia nggak bisa angkat. Kalau kita bilang, “Bisa” – oh berarti Dia nggak Maha Kuasa, Tuhan Dia nggak bisa angkat lho. Tapi kalau Dia bisa, Dia bisa buat, ya sedemikian, yang sendiri Dia nggak bisa angkat, “Itu aja Dia nggak bisa angkat, jadi gimana?” Jadi itu kayanya, pertanyaannya itu aneh kaya gitu ya. Tapi dari dulu saya SMA, nggak ngerti ini jawabnya kek apa ya? Tapi dia memang setengah-setengah mulai ke arah ateis, gitu ya. Terus saya pikir-pikir, gitu ya. Tapi setelah semakin lama, waktu berjalan memang, itu saya akhirnya sadar bahwa konsepnya itu sendiri yang salah karena Tuhan itu bukan Maha segalanya. Kembali perhatikan ke sini ya, Tuhan itu Maha Kuasa, betul! Tapi Dia bukan Maha segalanya. Kenyataannya tidak usah, ya contoh pertanyaan aneh itu. Pertanyaannya: “Tuhan bisa bohong, nggak?”

“Nggak bisa.”

“Lho berarti Dia nggak Maha Kuasa. Dia nggak Maha segalanya.”

Ya memang, Dia memang bukan Maha segalanya. Dia itu tidak bisa berbohong, Dia tidak bisa berdosa, Dia tidak bisa bahkan menciptakan allah lain, clone-nya gitu ya, sama seperti Dia- nggak bisa! Allah sendiri tidak bisa buat ada yang selevel dengan Dia, kenapa? Dialah yang Ultimat, Dialah satu-satunya yang sempurna itu. Dan bahkan Tuhan juga tidak bisa buat, Tuhan yang menciptakan dunia ini, Dia juga tidak bisa membuat segitiga yang bentuknya kotak, misalnya. Dia juga tidak bisa membuat 1+1 = 3, misalnya dan seterusnya. Kenapa? Karena Dia adalah logos, headnya dari logika itu sendiri. Dia itu sendiri sempurna, Dia nggak bisa melakukan kesalahan itu.

Tapi ketika, dan makanya seperti van Til katakan, “Pengetahuan Allah itu adalah immediate dan instant, itu sedemikian dan seketika Dia itu tidak pernah salah.” Tapi Dialah Pencipta kita. Tapi ketika kita ngerti, kita adalah ciptaan yang terbatas, kita ini hanya derivatifnya, hanya turunannya. Dan kenyataannya manusia itu memang bisa keliru. Kembali ya, ini memang ada paradoks, tapi dalam kehidupan itu, kenyataannya di sini, kenyataannya manusia itu bisa keliru dan tidak ada satupun dari kita yang nggak pernah keliru. Kita pasti pernah melakukan kekeliruan. Bahkan seperti kalau kita lihat di dalam Kejadian 3:2, ya saya nggak bacakan lagi ayat ini, tapi kita tahu di dalam bagian ini, ketika Hawa itu dicobai untuk makan buah yang terlarang itu, buah pengetahuan yang baik dan jahat itu. Di dalam bagian ini tuh, Hawa mengatakan bahwa, “Mengenai buah itu, jangan kau makan ataupun raba buah itu.” Lho kok ada bagian: “raba” gitu ya, ini kayanya tambahan, gitu. Bagi saya sendiri, ini adalah kekeliruan di dalam Hawa menjawab. Tapi saat itu, Dia belum berdosa. Bisa nangkep ya? Dia keliru ketika Tuhan cuma bilang, “Kamu jangan makan!” Tapi dia bilang, “Kamu jangan makan, juga jangan raba.” Jadi bagi saya itu ada kekeliruan, kesalahan di dalam jawaban Hawa, tapi di bagian ini itu ada suatu kekeliruan yang bukan dosa. Tapi kemudian memang faktanya setelah manusia jatuh dalam dosa, kita lebih-lebih lagi sangat bisa keliru dan terkadang juga kekeliruan itu terjadi karena alasan-alasan pragmatis. Kita hamba Tuhan misalnya karena ada hal yang urgent, mendadak, dan harus dituntaskan, akhirnya kita melakukan tindakan, solusi yang keliru, yang salah. Karena alas an-alasan pragmatis: Kadang-kadang orang juga melakukan kekeliruan, gitu ya. Belum sempat mikir ini harusnya gimana, ya udah gini. Eh salah solusinya, seperti itu. Kenyataannya memang kita tidak luput dari kekeliruan, dan kekeliruan dan kegagalan itu tidak luput dalam kehidupan kita ini.

Kita ambil contoh saja, contoh sederhana, makanya ini juga dibahas oleh Holmes, di sini Anda seperti Ayub, mungkin. Ayub di dalam kehidupannya, dia pun bergumul dengan problematika kejahatan dan ya dia bisa keliru. Di dalam awal, pasal-pasal awal itu justru Ayubnya itu masih cukup, kalau mau dibilang itu, kuat secara teologisnya. Tapi nanti waktu debat-debat dengan temannya itu, diskusi dengan temannya, ya, auranya diskusi, lama-lama jadi ngawur, gitu ya. Ya itu ya, nggak tentu semua diskusi itu jadi bener, gitu ya. Tapi ternyata bisa jadi ngawur dan Ayub itu mulai menggumulkan: iya, kenapa dia mengalami penderitaan ini dan semuanya. Meski mula-mulanya dia sadar bahwa dalam hal ini Allah tidak bersalah dan seterusnya. Tapi dalam bagian ini, Ayub masuk kepada bagian kekeliruan. Dan coba misalnya, Anda katakan misalnya Tuhan kasih spoiler gitu pada Ayub. Dia bilang, “Yu, Yu, tenang aja, gitu ya, nanti berapa lagi neh temanmu akan datang. Tapi tenang saja, semuanya itu hanya untuk jadi bahan tulisan Alkitab.” – bagus kan? Belum ada Alkitab di zaman itu. “Itu nanti jadi tertulis. Jadi kamu tenang-tenang aja.” Dikasih spoiler, gitu ya. Saya rasa Ayub kalau dikasih seperti itu, “Oh dia tenang-tenang aja. Oh ini cuma diskusi ya, nggak menggoyahkan! nggak jadi Kitab, gitu ya.” Bahkan mungkin kitab yang paling pertama, yang tertua yang tertulis. Meskipun nulisnya bisa di kemudian hari, Ayub itu hidup zamannya itu, sekitar sezaman dengan Abraham. Sedangkan kita tahu, Alkitab kita itu ditulis di zamannya Musa. Jadi ini pembahasan kisah yang terjadi awal sekali, tetapi kenapa Allah tidak memberikan spoiler di situ, saya percaya adalah karena memang Allah itu memberi ruang kepada manusia itu untuk bergumul sih, untuk bergumul mengerti kehendak Tuhan sebenarnya apa. Karena memang Allah itu menghargai dan melihat kita itu sebagai manusia yang mempunyai kehendak dan keterbatasan berpikir, dan Dia bukan suka spoiler gitu ya, Dia memang biarkan kita itu bergumul menjalani kehidupan seperti itu dan membiarkan kita itu memikirkan kita bergumul di hadapan Tuhan apa sih kehendakNya dalam kehidupan kita, dan kita coba cari.

Dalam bagian ini itu saya teringat apa yang pernah dicetuskan oleh Peter Lillback, Profesor dari Westminster Theological Seminary. Dia mengatakan dalam salah satu kelasnya, dia bilang katakan begini, “Men loves product, God loves process,” manusia itu suka produk sudah hasil jadinya begini, ini jadinya, ini jadinya sudah, tapi Allah itu justru suka prosesnya, itu prosesnya orang sampai hasilnya itu seperti apa. Dan justru kehidupan kita di dunia ini, setelah kita diselamatkan, sebelum nantinya kita masuk surga, kita menjadi proses ini. Dan memang kenyataannya yang kita bisa temukan adalah memang Allah menyukai kita mengalami proses ini, jatuh bangunnya kita di dunia ini. Kalau Allah mau kita langsung sempurna, begitu kita titik pertama kita itu angkat tangan, altar call, itu maju ke depan, “Oh saya terima Tuhan Yesus,” langsung udah, langsung aja diangkat naik kan, selesai, langsung sempurna, selesai. Tapi ternyata memang dalam kehiudupan ini kita temukan bahkan banyak sekali ayat-ayat dari Alkitab itu kita berbicara bagaimana kita berproses di dunia yang sementara ini, dan termasuk di dalam proses itu kita bisa mengalami kekeliruan, kita bisa gagal, jatuh bangun. Dan kembali lagi, meski sulit kita pahami ya seperti itu tapi ternyata Allah prefer hal itu. Justru Allah, seperti Lillback katakan, Allah menyukai proses kita itu, karena itu nggak langsung kasih ini yang benar gini, gini, gini, ya kan? Kita kalau bergumul dalam banyak hal, atau mungkin pilih jurusanlah, atau pilih pasanganlah, atau pilih pekerjaanlah, atau pilih tempat tinggal, kita pernah salah kan? Pasti masih bisa keliru. Kembali lagi karena memang kita itu bukan Allah, meski kita tahu semua kebenaran firman Tuhan, tetap ada bagian yang tidak kita tahu. Dan apalagi dalam bidang kehidupan kita itu tidak langsung tahu, hanya Allah lah yang pengetahuanNya itu immmediate dan instan seperti yang dikatakan oleh van Til, dan memang pengetehuan kita itu derivatif, dan memang limited, terbatas. Tapi di dalam semuanya itu  justru Allah memang menghendaki kita mengalami hal-hal seperti itu. Dan di sini kita mengerti bukan Tuhan itu ingin kita itu mengalami kesalahan secara direct seperti itu ya, tapi Dia mengizinkan kekeliruan itu karena kekeliruan ataupun kegagalan masa lampau itu sebenarnya menjadi sarana, jadi sarana yang Roh Kudus pakai untuk membentuk kita sih, untuk kita belajar, untuk kita bisa menjadi lebih dewasa. Dan sebagaimana kita adanya kita hari ini itupun karena telah melewati proses kekeliruan itu. Kembali lagi, bukan membenarkan kalau kita melakukan kesalahan, tapi Allah mengizinkan demikian di dalam kedaulatanNya, dan ketika kita melakukan suatu kesalahan dan masih bisa memperbaikinya maka itu akan mempengaruhi masa depan kita, jadi pembelajaran bagi kita, maupun generasi selanjutnya.

Saya mungkin pakai satu contoh, saya ambil contoh lampu. Kita tahu nggak dulu prosesnya itu, ketika Edison konon katanya ketika Edison itu membuat lampu pertama kalinya, itu telah melewati rentetan percobaan yang ratusan kali dan bahkan legendanya sampai seribu kali gagal, baru berhasil. Lho bayangkan ya, kalo dari dulu Edison setelah gagal sekian, “Ya sudahlah, nggak bisa, berhenti,” dia berhenti mencoba, kita hari ini nggak ada dong lampu itu, ya kan? Dan bahkan bukan cuma itu, mungkin orangtua kita dulu kalo pernah patah hati, lalu dia nyerah, ya kita juga nggak ada di dunia ini. Dan dia akan mencoba lagi gitu lho, coba lagi, jatuh, ya bisa bangkit lagi ,mencoba lagi, dan singkat ceritanya kita ada. Itu memang melewati proses kekeliruan. Kenyataannya, kembali lagi, bukan kita setuju kekeliruan itu, tapi memang itulah kita terima kita itu adalah person kita itu, adalah pribadi yang memang bisa keliru, dan kita perlu menerima itu. Bahkan kita setelah dewasa ya, setelah pandai sekalipun, orang Ph.D. pun bisa melakukan kekeliruan, dan ada hal yang tetap tidak dia tahu ya. Bahkan kadang-kadang saya ingat itu dulu waktu saya awal-awal sekolah teologi, tanya professor, “Prof kalau gini gini gimana?” Kadang-kadang gitu justru yang professor itu ya dia bisa pertanyaan gitu dia jawab, “Oh saya tidak tahu,” lalu saya pikir ini kok  professor nggak tau sih, kan ya professor, dia Ph.D., masak nggak tau. Tapi makin lama saya gumulkan, mungkin ya itulah rendah hati itu sih ya, memang ada bagian yang dia nggak tahu ya lebih baik dia jawab ngggak tahu. Mungkin saya yang bikin sok tau, semua pertanyaan apapun mau dijawab. Seperti (?) pernah katakan bahwa memang kenyataannya kita justru bersyukur ada bagian pertanyaan teologis yang  kita nggak tahu, dan nggak apa-apa, kita bukan percaya  Alkitab ini menjadi kayak menjadi buku primbon bisa menjawab semua hal di dalam masalah kita, enggak, memang ada hal yang tidak kita ketahui, tapi yang kita tahu hal esensi itu diberikan oleh Alkitab dan prinsip-prinsip utama itu diberikan pada Alkitab dan itu bisa menjadi guidance dalam kehidupan kita, tapi memang tidak memberikan jawaban segala sesuatunya ini memang bukan buku pintar. Kembali ya, Alkitab sudah memberikan jawabannya, tuntunannya, pedomannya, prinsipnya, tapi ketika kita gagal menerimannya, gagal mempercayainya, gagal menghidupinya, atau interpretasi kita keliru, itu adalah kegagalan dari pihak pribadinya jangan salahkan Alkitabnya. Makanya kadang orang bilang faith and sains itu, segala sesuatunya itu adalah juga masalanya di situ. Jangan salahkan Alkitabnya, orang yang interpretasi itu bisa keliru lho.

Saya kembali di sini, dan kalau misalnya kalau kita mengerti ya kita diciptakan sebagai pribadi dan person, ya sebagai pribadi dan itulah makanya apa bedanya antara kita dengan misalnya gravitasi, hukum gravitasi misalnya, ya impersonal itu. Gravitasi nggak pernah keliru, hukum Allah itu nggak pernah keliru. Dan bahkan Alkitab itu mencatat alam itu, cakrawala itu menceritakan kemuliaan Tuhan, tapi apa bedanya kita dengan cakrawala? Perbedaaanya kita dengan alam semesta? Apa bedanya kita dengan hukum Allah yang tidak pernah keliru? Yaitu kita diberikan kehendak untuk memilih itu, kalau kemungkinan dalam keterbatasan untuk memuliakan Tuhan atau tidak, untuk kita bisa mengerti kehendak Tuhan atau tidak, dan meski kita bisa keliru di situ tetapi ketika tepat melakukannya  itu menjadi suatu yang meaningfull, menjadi suatu yang bernilai. Memang, ya ambil contoh saja ya misalnya saja besok-besok gitu ya,kalau andaikata besok-besok  kita kekurangan pemusik misalnya, ya setel saja itu player, bisa kan? Bisa loh, lebih bagus kalo di set player, dan kalo  di set player itu nggak mungkin salah, kenapa? Karena sudah di-edit gitu kan, nggak pernah salah. Tetapi kenapa ya lebih baik ada pianis ya memainkan di sini, meski kadang-kadang mereka  bisa memainkan salah? Karena Allah mau melihat kita main sih, dan itu lebih meaningfull, itu lebih bernilai ketimbang cuma set, ya nyala aja gitu, itu malah nggak bisa salah, tetapi kembali Allah mau melihat bagaimana kita menyembah Dia, beribadah kepada Dia, melayani Dia itu dengan usaha kita. Sehingga terkadang dalam kehiudpan, meski kalau kita, apa lagi kalau kita pernah lihat gitu ya, seorang anak yang dari kecil belajar main piano, ketika dia sampai dewasa dia main itu kita akan lihat, dia dulu mainnya ini beda, dulu mainnya salah, sekarang ya salahnya sedikit misalnya gitu, atau sudah nggak ada salahnya, itu lebih meaningfull daripada dari dulu dia taunya cuma pencet play, play, main terus gini, duduk aja di atas piano tapi play doang dari kecil sampai dewasa, itu nggak ada meaningfull sama sekali. Kembali lagi ya, saya bukan sedang mengatakan kekeliruan itu sebagai sesuatu yang mulia atau apa ya, tapi kita menerima itu bagian dalam kehidupan dan kita dari situlah kita belajar dan diajarkan, diperintahkan, meski jangan keliru terus menerus, tapi kita bertumbuh dari hal itu.

Dan Tuhan disukakan ketika kita tepat melakukan kehendak-Nya itu. Itu yang bedanya dan itulah kenapa Dia tidak ciptakan kita seperti robot. Kalau robot ya di-install program baru, selesai. Install software baru, ya selesai sudah. Nggak bisa keliru sudah. Ini sudah jalan dengan setting yang baru. Tapi hidup yang baru itu memang adalah Roh Kudus juga bukan merasuk kita, menguasai karakter kita dan diri kita, kita gerak, jalan ibadah sendiri, tapi Dia memimpin kita, mengarahkan hati kita bagaimana untuk mentaati kehendak Tuhan, mengarah kepada kesempurnaan itu, meski kita ini sebagai manusia yang terbatas itu tidak bisa sempurna, tapi terus mengarah ke sana, terus mengarah ke sana. Dan kembali di dalam semua jerih lelah yang kita lakukan itu, Tuhan disukakan akhirnya. Karena Dia perintahkan itu dalam firman-Nya. Tuhan tidak perlu perintahkan pada gravitasi, jangan lupa lho ya, ini kalau kertas jatuhnya ke bawah gitu. Nggak. Itu sudah jalan otomatis. Dan itu menyatakan kemuliaan-Nya, kemuliaan Tuhan itu terus menerus dan tanpa cacat cela, seperti itu, kalau mau dibilang, tidak pernah gagal. Tapi Tuhan memberikan firman-Nya itu kepada manusia, kepada kita. Bukan kepada alam ini. Kenapa? Karena memang yang ditebus kita. Alam semesta ini ketika nanti tiba penghakiman terakhir, akan dijadikan langit dan bumi yang baru. Ini langsung dirombak selesai. Selesai. Seketika langsung diubah semuanya. Tapi Allah menghendaki kita berproses ini. Dan di dalam proses ini jatuh bangunnya, kita lihat itu ada pembentukan Tuhan dalam kehidupan kita. Dan biarlah kita lihat ini adalah sesuatu yang memang Tuhan kehendaki dan Dia perintahkan dalam hidup kita.

Saya lanjut poin berikutnya, poin ketiga adalah, lalu dikatakan, diingatkan, kita harus hidup sempurna di tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini. Bagian ini saya ingatkan bahwa kita jangan lupa juga di dalam pergumulan kita berproses itu bukan saja kita bisa keliru, bukan saja kita bergumul karena keterbatasan kita secara manusia memang, dan memang dalam kehidupan kita nggak bisa sempurna, tapi kita terus bergerak menuju sana dan berusaha mengerjakannya. Tapi kita juga jangan lupa kenyataannya bahwa kita hidup di tengah dunia yang bengkok hatinya dan yang sesat ini. Yaitu kita jangan lupa kita hidup di tengah dunia yang menolak Injil. Jadi kita hidup di tengah dunia yang memang tidak bersahabat dengan nilai-nilai kerajaan sorga itu. Kita nggak bisa naif melihat dunia ini, oh semuanya oke, everything’s fine, semuanya baik. Nggak. Jangan lupa, Yesus disalibkan itu oleh orang-orang, oleh manusia juga. Dan bahkan kumpulan yang harusnya notabene itu ngerti firman Tuhan. Jadi memang itu menyatakan memang kita hidup di dunia yang tidak ideal. Kristus datang di era yang tidak ideal, dan kita lebih tidak ideal juga daripada Kristus ya. Dan sehingga itu kita jangan lupa bahwa kita hidup di tengah.. orang pilihan itu justru hidup di tengah-tengah orang bukan pilihan. Lalang dan gandum itu memang bercampur di ladang ini. Tiba waktunya baru nanti akan dipisahkan. Tapi kita jangan lupa ya, makanya kita nggak bisa naif gitu, kayaknya semua nasihat atau tarikan atau ajakan dari dunia itu mau membentuk kita taat firman Tuhan. Nggak tentu. Loh kenyataannya kadang-kadang kan juga kalau kita bekerja di suatu perusahaan, kan kadang-kadang hari Sabtu-Minggu itu dipakai training, ya kan? Dipakai latihan itu. “Loh Pak itu waktunya saya ibadah”. Pokoknya training, training, ya. Soalnya ini waktunya libur. Kenyataannya memang dunia itu tidak bersahabat dengan Injil, dan kenyataannya di dalam bagian ini kita jangan lupa itu ada satu ketegangan tersendiri. Bisa nangkap ya? Jadi ada satu tension di sini antara memang kita manusia yang tidak sempurna, bagaimana mentaati perintah Allah yang sempurna, itu ada suatu tension di situ, ada ketegangan, tapi kemudian ada tension yang lain karena kita ini mau berjuang hidup mentaati kehendak Tuhan, kita hidup di tengah dunia yang justru menolak firman Tuhan itu. Sehingga kita jangan lupa makanya ada kesulitan tersendiri ketika kita bergumul di tengah dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini. Tapi dalam bagian ini Richard (?) di dalam commentary-nya itu mengatakan bahwa, tapi demikianlah panggilan dari gereja adalah untuk menyediakan suatu gambaran yang lurus, yang benar, di tengah dunia yang sudah terdistorsi ini. Kembali kita itu bukan ngikuti, oh dunia bilangnya apa? Nggak. Dunia itu justru sedikit banyak, sadar nggak sadar, memang justru menarik kita itu keluar dari prinsip-prinsip Alkitab. Tapi justru kita yang terus harus membutuhkan untuk belajar firman Tuhan, untuk terus bersekutu dengan Tuhan, baik di dalam ibadah di dalam seminar, di dalam STRIJ, di dalam perenungan kita secara pribadi, di dalam buku-buku Kristen yang baik yang kita baca, di dalam persekutuan yang ada untuk membentuk kita, bagaimana menghadapi tarikan arus dari zaman ini. Dunia ini memang justru lebih suka kita ikuti dia kok, bukan ikuti Tuhan. Kembali lagi ya, dunia ini justru memang lebih suka untuk kita mengikuti dia, mengikuti dunia, daripada mengikuti Tuhan. Dan ini memang kontras. Kontras sekali.

Kita hidup di tengah dunia yang memang penuh ketegangan ini dan ada kesulitan yang tersendiri. Dan Alkitab sudah mengingatkan kita. Kita adalah domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Nah itu ya, kalau dibilang aja utusnya itu ya, oh ini sudah bagaimana pun pasti mati lho. Ya nggak sih? Kita itu kalau dibilang, kamu itu serigala di utus ke tengah-tengah domba, wah kita pikir wah ini berarti saya santap ini, disuruh makan semuanya. Lho nggak. Kita itu adalah domba, diutus ke kawanan serigala. Satu domba lawan satu serigala aja sudah pasti kalah. Sudah pasti kalah. Apalagi di tengah kawanan serigala. Tapi itulah mengajarkan bagian kita itu bukan untuk kita jadi pesimis ya, bukan untuk kita jadi patah semangat, tapi bagian kita ingatkan betapa kamu itu kalau di dalam pergumulan itu, kita membutuhkan topangan, pimpinan dari Roh Kudus yang akan memampukan kita menjalani kehidupan kita di tengah dunia ini. Karena dunia ini tidak bersahabat dengan Injil. Dunia ini bersahabat dengan kita selagi kita bersahabat dengan mereka. Tapi mereka tidak pernah bersahabat dengan firman Tuhan. Mereka tidak pernah suka dengan firman Tuhan. Dan itu adalah justru panggilan kita dan sadar tantangan kesulitan itu ada di sekitar kita. Dan itu disodorkan dalam berbagai aspek, baik secara langsung, eksplisit maupun implisit ya. Baik secara terang-terangan terbuka maupun secara halus melalui mungkin bentuk-bentuk seni ya, atau seperti tontonan, entertainment itu sebenarnya mencoba mendistorsi cara pikir kita melihat tentang hidup ini harusnya seperti apa. Lalu kemudian kita dipanggil hidup di tengah dunia ini bukan saja melihat, wah dunia ini ketegangannya adalah, kesulitan menghadapi mereka. Tapi kita dipanggil bercahaya di tengah-tengah mereka. Seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, di sini kita dipanggil bukan saja untuk melihat dunia yang sulit ini, lalu di tengah ketegangan yang ada lalu kita mengasingkan diri dari dunia, tapi kita dipanggil justru untuk me-redeem, untuk menebus dunia yang gelap ini, karena kita dijadikan terang bagi dunia yang gelap ini. Nah itu panggilan kita. Bisa nangkap ya ini? Ada kesulitannya dan memang, tapi di dalam bagian itu mengingatkan kita, kita hidupnya harus seperti apa.

Karena ini masuk ke poin keempat sini, bagaimana kita dipanggil hidup bercahaya di tengah dunia yang gelap itu. Yaitu kenapa? Karena Allah pun tidak membiarkan kita di tengah kesesatan kita. Allah pun pertama mulanya itu karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Ia memberikan, mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Ya itu Allah dari sudut pandang Allah melihat dunia yang gelap ini, Dia tidak membuang dunia ini, tapi malah mengutus Anak-Nya yang tunggal, yang mahal itu, yang satu-satunya itu, malah untuk akhirnya mati di kayu salib. Berarti memang itu menjadi misi Kristus dan menjadi padanan kehidupan kita juga, bermisi di dunia ini. Sebagaimana Kristus ketika melihat kegelapan dunia ini, kalau kita jadi Kristus ya, mungkin waduh, jangan lah. Lha iya to? Hadapinya ini semua serigala ini di bawah. Dan siap-siap memang sudah mau terkam gitu ya. Siap-siap akan matikan Kristus. Tapi Dia justru datang untuk menebus, memang datang untuk akhirnya mengorbankan diri-Nya. Dialah akhirnya Sang Terang yang datang pada dunia yang gelap, yang bahkan menolak Dia. Kembali lagi ya, itu ada unsur penolakan itu ada, karena memang gelap tidak suka terang. Tapi Sang Terang itu tetap datang menyinari kegelapan ini. Bukan karena oh yang kegelapan ini suka terang. Bukan. Tapi karena untuk menerangi dan membawa kebenaran firman itu, dan akhirnya memang membawa yang gelap itu akhirnya ditebus, dibawa kembali kepada terang. Dan di situ panggilan kita juga. Kembali lagi ya, di dalam kehidupan kita, kita hidup di tengah dunia yang tidak ideal, tapi kita dipanggil bukan untuk tenggelam di dalam ketidak idealan ini, bahkan di dalam kubangan dosanya, kita justru bertobat kembali taat kepada Tuhan, tapi bukan untuk menjalani hidup yang pengasingan diri, tapi untuk menjadi terang bagi lingkungan sekitar kita. Saya mungkin contoh sederhana saja dalam kehidupan kita di dalam mungkin relasi kita secara umum, kita itu sudah pernah nggak sih, dipakai itu menjadi terang bagi sekitar kita? Sederhana saja, kita pernah injili nggak orang? Atau mungkin, mungkin lebih sederhana lagi gitu ya, nggak sampai penginjilan misalnya, kita pernah nggak sih cetuskan untuk ajak orang sekitar kita misalnya, mungkin tetangga kita atau teman kuliah kita, atau rekan kerja kita itu untuk datang ke gereja misalnya. Karena itu sudah bagian untuk menebus sudah bagian untuk me-redeem, meski sedikit demi sedikit itu memang sudah bagian fungsi kita seperti itu. Misi kita di dunia itu memang untuk itu.

Kadang-kadang saya juga ketemu orang, “Oh kamu ajak ini temanmu ke gereja.” “Ah teman saya mah nggak suka ke gereja.” Terus satu sisi saya juga bingung ya kalau temanmu nggak suka ke gereja kok kamu bisa berteman dengan dia juga? Tapi kembali, kita bukan mengajak orang yang memang sudah mau ke gereja. Kita bukan mengajak orang yang memang sudah mau Reformed. Kita bukan mengajak orang yang memang suka terang. Justru memang mengajak orang yang menolaknya. Dan memang seperti mission impossible, memang itu mission impossible, tapi ini possible by the power of Holy Spirit, itu menjadi hal yang mungkin dengan kuasa dari Allah Roh Kudus yang akan mengefektifkan ketika kita menjangkau mereka, ketika kita mendoakan mereka, ketika kita gumulkan dan lihat bagaimana pimpinan Tuhan akan membukakan di dalam waktu rencanaNya juga. Panggilan kita cuma setia di dalam proses ini. Kembali lagi ya panggilan kita ini setia dalam proses ini baik di dalam doktrin keselamatan itu juga jelas Allah sudah memilih siapa yang akan diselamatkan sebelum menjadikannya itu sudah pasti. Tapi poin nya kan kita kan nggak tahu siapa yang selamat. Nah Lalu tanggung jawab kita apa? Ya menginjili, bukan untuk cari jawaban ini orang pilihan bukan, “Oh kayaknya ini bukan pilihan, oh yang ini pilihan,” bukan itu bukan panggilan kita. Panggilan kita adalah menginjili untuk berbagian di dalam rencana surga untuk memunculkan orang-orang percaya, itu bukan karena kekuatan kita tapi adalah sesuai dengan waktu dan rencana Tuhan saja, kan nanti orang itu muncul. Tapi kita dipanggil berbagian saja dan kita lihat bagaimana Tuhan bekerja menerangi mereka, meski mulanya mereka menolaknya. Karena itu juga yang dilakukan Kristus. Dia mati bagi orang hidup yang menolak Dia. Bahkan kalau kita bilang ya, di saat itu, sebelum Yesus mati yang masuk ke surga itu siapa? Cuma penjahat yang disamping-Nya itu kan. Itu juga nggak tahu samping kiri atau samping kanan ya, pokoknya disamping-Nya. Cuma salah satu lho. Dan itu levelnya kelas penjahat gitu ya. Kayaknya duh orang Kristen pertama yang masuk Firdaus itu levelnya itu bukan uskup, bukan pendeta ya, atau Paus, atau siapa kek, ini penjahat lho, penjahat kelas kakap lagi, disalibkan, yang dipermalukan seperti itu. Itu tuh terbalik, ini orang benar-benar sampah masyarakat. Kita saja, kalau ada keluarga kita masuk penjara aduh malu sekali. Coba kalau ada keluarga kita itu masuk penjara, kenapa? Oh Dia itu  korupsi. Aduh malu sekali. Ayo coba ya keluarga saya itu dia masuk penjara dan akan dihukum mati, wah kita itu akan bungkam semua, nggak ada yang ngomong. Malu kan. Bayangkan yang Kristen yang pertama itu yang kalau mau dibilang yang masuk ke dalam Firdaus yang bersama sama dengan Kristus adalah yang model begini, yang nggak masuk hitungan sama sekali. Tapi itulah yang ditebus oleh Kristus karena itu menyatakan anugerahNya yang begitu besar dan sempurna ketetapanNya di kayu salib menyelamatkan kita.

Tapi kemudian kabar keselamatan itu memang disampaikan kepada orang yang lebih banyak itu yang menolakNya. Orang-orang yang dengar injil Kristus, orang-orang yang mendapat anugerah bisa melihat mukjizat-Nya, berbagian dalam mukjizat-Nya, ada keluarganya yang disembuhkan, ada keluarganya yang dapat itu mukjizat 5 roti dan 2 ikan, tapi itulah juga yang menolak. Tapi itu kembali itulah panggilan kita. Memang untuk menggarami dunia ini. Semana garamnya fungsinya adalah untuk menahan kebusukan yang ada. John Stott berkata ketika dunia ini membusuk itu kamu jangan kamu salahkan dunia karena dunia memang busuk, tapi kamu salahkan garamnya yang tidak berfungsi untuk menahan kebusukan ini. Dan itu harusnya kita sadar panggilan kita orang Kristen disini dan disitu kita sambil berpegang teguh pada firman kehidupan, dan kita pegang teguh terus kebenaran firman. Dan di bagian sini, bahwa Kitab Suci lah yang jadi sandaran kita ,menjadi pegangan seumur hidup kita. Bahwa semua kita lakukan sembari taat terus pada firman Tuhan, taat pada firman Tuhan. Dan kita lihat firman Tuhan menjadi topangan dalam kehidupan kita dalam kita memegang firman Tuhan. Firman kehidupan itulah yang memberikan kehidupan bagi kita dan ini yang memberikan kata final dalam kehidupan kita. Di dalam kita menjalani kehidupan ini, kita bertemu dengan berbagai opini masyarakat, bertemu dengan berbagai macam pandangan, tapi kita ingat yang memberikan kata final akhirnya adalah Kitab Suci. Selalu ada Kitab Suci itulah yang memberikan kata final, memberikan kata “Apa yang harusnya Tuhan mau dan yang mutlak ada.” Di Dalam bagian ini maka di dalam iman kita itu tentu ada bagian pokok-pokok ya, saya tidak membahas ini, seperti ada dogma, ada bagian secara doktrin Trinity dalam Kekristenan, ada pengakuan iman rasuli, ada pengakuan iman kita yang dibuat gereja. Tapi pada akhirnya itu semua bermuara kepada Kitab Suci. Dan Kitab Sucilah yang memberikan pedoman yang mutlak itu. Pengajaran dan metode-metode itu terbatas dan tidak mutlak adanya, dan memang bisa berubah sewaktu-waktu, opini juga bisa berubah, karena itu area yang tidak mutlak. Tapi Alkitab itulah yang mutlak, yang harus kita pegang seumur hidup kita.

Ketika di dalam lapangannya konteksnya berbeda, kita bisa merubah teknik kita, kita bisa merubah pendekatan kita dalam penginjilan. Tapi biarlah kita ingat, yang tidak kita ubah itu adalah Kitab Sucinya. Meskipun banyak orang bisa perdebatan pikir tentang makna Alkitab yang mana, tapi saya percaya dalam Alkitab itu jelas sih. Alkitab itu bukan teka-teki, Alkitab itu bukan Tuhan itu lempar puzzle, “Nih coba baca, tidak bisa kan? Ya sudah, memang kau bodoh.” Padahal nggak. Alkitab itu mulai diberikan itu jelas. Jelas sekali sebenarnya, dan itu bukan puzzle yang dicoba dipecahkan oleh gereja. Bukan. Tetapi di dalam Kitab Suci itu diberikan jelas kepada pendengarnya yang pertama kali. Kita memang ada gap, jarak, dengan pendengar yang pertama; ada gap bahasa, gap budaya, dan seterusnya, tapi ketika kita mau mempelajari dan dengan hati yang mau sungguh-sungguh sebagaimana adanya Kitab Suci, bukan memasukkan pandangan-pandangan kita, “Oh Allah harusnya begini, harusnya gini,” tapi memang mengikuti apa yang Allah katakan tentang diriNya dalam Kitab Suci, di situ kita tau Alkitab itu jelas. Alkitab itu jelas dan dia adalah firman kehidupan ini. Hanya saja memang banyak orang bilang, “Oh nggak bisalah, Allah itu nggak begitu, Oh nggak bisalah nggak caranya begitu.” Kita itu suka memang itu melawan dalam pikiran-pikiran kita sendiri. Dan harusnya kita kembali setia pada Alkitab, dn kita melihat apa yang Allah katakan itu yang harus kita jalani. Meski terkadang dan sering sekali memang dalam kehidupan itu kontras sekali dan sepertinya ngggak bisa jalani ya. Dan memang kalau kita melihat Alkitab itu, kita baca itu, kita renungkan, kok nggak bisa jalan ya, bagian itulah kita sadar bahwa harusnya kita sadar bahwa kita itu harus berlutut, bersandar kepada Dia, minta pimpinan anugerah Tuhan supaya kita bisa jalani. Lah iya toh. Kalau kita lihat, “Oh bisa jalan pak, bisa, bisa,” ya kita nggak usah berubah lagi, kita sudah selesai. Kalau bisa kerjakan sisanya gini kok a tambah b ya Selesai. Sudah. Tapi ketika kita tahu kita tidak mampu jalankan, itulah, jadi kita tahu betapa kita di situ harus selalu bersandar kepada Dia untuk tinggal di dalam Dia. Sebagai mana Kristus katakan bahwa “apart from Me you can do nothing, bahwa di luar Aku kamu tidak bisa melakukan apa apa.

Dan di dalam pelayanan kita, di dalam ibadah kita, ketika ada kalanya kita jerih lelah dan kita kecewa, dan kita rasa nggak bisa lagi kerjakan, di bagian itulah kita belajar untuk bersandar kepada Dia. Dan minta Dia, “Tuhan, mampukan saya jalani ini karena memang di luar Kamu saya tidak bisa lakukan apa apa. Saya tidak bisa lakukan apa apa. Skill saya tidak punya, kemampuan saya tidak punya, saya butuh pertolonganMu.” Dan ketika itulah justru Tuhan disukakan. Tuhan disukakan bukan karena kita bisa tapi karena kita bergantung kepada Dia menjalankan kehendak, rencanaNya itu. Itu bedanya pelayanan dengan performs. Perform, persoalan tampil itu menampilkan kebisaannya, dan selain itu memang itu pasti dapat duit ya. Kalau orang pelayanan tidak dapat duit. Tapi dapat caci maki, “Kenapa ini nggak bener.” Selalu dapat komplain aja. Kalau semua jalan mulus nggak komplain, nggak ada pujian. Ada yang salah dapat komplain. Memang itu makanan umum ya bagi pelayanan. Tapi kita lihat itu dalam kehidupan itu. Itulah bedanya antara pelayanan dengan performances itu. Performances itu cuma tampil dan dapat untung sudah. Tapi di dalam pelayanan kita lihat itu bukan tampil itu dengan kebiasaan kita tapi dengan anugerah pertolongan dari Allah Roh Kudus, memampukan kita untuk mengerjakan semua ini, mengerjakan apa yang Tuhan mau, ini karena kita lihat kita bukan menjalani menurut kemauan kita tapi menurut kehendak Tuhan. Sehingga di situlah kita melihat apa artinya kita hidup memuliakan Tuhan. Sehingga di dalam kehidupan ini dan dengan dasar kita kembali  kita ingat bahwa tidak lepas karena Tuhan sudah begitu mengasihi kita. Dia memberikan dan mempercayakan kita pelayanan ini. Biarlah kita kerjakan dengan sungguh-sungguh. Dan Dia sudah memberikan kita firmanNya yang menjadi pedoman kita, guide kita untuk menjalani kehidupan ini dalam mengerjakan bagian kita. Namun adakah kita mengerjakannya dengan tidak bersungut sungut?

[Transkrip Khotbah belum diperiksa oleh Pengkhotbah]

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *